tedjaya. Diberdayakan oleh Blogger.

kitab dan kidung_jawa_yang_mulai_dimarginalkan


by wayang in Falsafah Wayang, Kitab & Kidung Berasal dari kata Asto atau Hasto yang artinya delapan, kemudian Baroto yang artinya laku atau perbuatan. Jadi ASTHA BRATA atau Hasto Broto berati delapan laku atau delapan perbuatan. ASTHA BRATA terdapat dalam Sarga XXIV dari wejangan Ramayana kepada Gunawan Wibisono, juga Sri Kresna kepada Arjuna. Diterangkan bahwa seseorang yang ditakdirkan untuk menjadi pemimpin atau raja adalah dalam jiwanya terdapat delapan macam sifat kedewasaan atau delapan macam watak-watak delapan dewa. Kewajiban seorang pemimpin harus selalu mencerminkan sifat dan sikap: 1. Dewa Surya atau Watak Matahari Menghisap air dengan sifat panas secara perlahan serta memberi sarana hidup. Pemimpin harus selalu mencerminkan sifat dan sikap semangat kehidupan dan energi untuk mencapai tujuan dengan didasari pikiran yang matang dan teliti serta pertimbangan baik buruknya juga kesabaran dan kehati-hatian. 2. Dewa Chandra atau Watak Bulan Yang memberi kesenangan dan penerangan dengan sinarnya yang lembut. Seorang pemimpin bertindak halus dengan penuh kasih sayang dengan tidak meninggalkan kedewasaannya. 3. Dewa Yama atau Watak Bintang Yang indah dan terang sebagai perhiasan dan yang menjadi pedoman dan bertanggung jawab atas keamanan anak buah, wilayah kekuasaannya. 4. Dewa Bayu atau Watak Angin Yang mengisi tiap ruang kosong. Pemimpin mengetahui dan menanggapi keadaan negeri dan seluruh rakyat secara teliti. 5. Dewa Indra atau Watak Mendung Yang menakutkan (berwibawa) tetapi kemudian memberikan manfaat dan menghidupkan, maka pemimpin harus berwibawa murah hati dan dalam tindakannya bermanfaat bagi anak buahnya. 6. Dewa Agni atau Watak Api Yang mempunyai sifat tegak, dapat membakar dan membinasakan lawan. Pemimpin harus berani dan tegas serta adil, mempunyai prinsip sendiri, tegak dengan berpijak pada kebenaran dan kesucian hati. 7. Dewa Baruna atau Watak Samudra Sebagai simbol kekuatan yang mengikat. Pemimpin harus mampu menggunakan kekuatan dan kekuasaannya untuk menjaga keseluruhan dan keutuhan rakyat serta melindungi rakyat dari segala kekuatan lain yang mengganggu ketentraman dan keamanan secara luas dan merata. 8. Dewa Kuwera atau Watak Kekayaan atau Watak Bumi Yang sentosa, makmur dengan kesucian rohani dan jasmani. Pemimpin harus mampu mengendalikan dirinya karena harus memperhatikan rakyat, yang memerlukan bantuan yang mencerminkan sentosa budi pekertinya dan kejujuran terhadap kenyataan yang ada. Sumber Penulisan : BUKU WYATA PRAJA, STPDN untuk Angkatan XIII Tahun 2005. Babad Nitik by wayang in Kitab & Kidung Naskah asli Babad Nitik tersimpan di Perpustakaan (Widyabudaya) keraton Yogyakarta. Babad ini ditulis di atas kertas berukuran folio, dengan tinda hitam, berhuruf Jawa dengan bahasa Jawa Bercampur Kawi, digubah dalam bentuk tembang macapat. Penulisnya tidak diketahui, tetapi diterangkan bahwa ditulis atas perintah Sultan Hamengku Buwono VII. Waktu penulisannya disebutkan dengan Sengkalan “Resi nembah ngesthi tunggal” (1867 Jw/1936 M). Babad Nitik (Sultan Agung) yang seluruhnya terdiri dari tiga puluh lima pupuh tembang itu berisikan pengalaman Sultan Agung sejak masih menjadi putera mahkota, pelantikannya sebagai Sultan dan masa pemerintahannya yang berpusat di keraton Kerto. Diceritakan bahwa sewaktu masih menjadi putera mahkota, beliau mengadakan perjalanan ke seluruh Jawa, Asia Tenggara, Timur Tengah, bahkan ke dasar laut dan alam kedewataan. Semua perjalanan itu dilaksanakan secara gaib. Seperti kita ketahui pada zaman dahulu keyakinan yang hidup dalam masyarakat kita bahwa raja itu bukan manusia biasa, melainkan manusia dewa yang memiliki kelebihan-kelebihan dari manusia biasa. Pada zaman Sultan Agung berkuasa, agama Islam sedang berkembang pesat di atas dasar budaya Jawa sebelum itu. Seorang raja yang berwibawa dan berpredikat “Gung Binathara” adalah raja yang berkualitas manusia-dewa sekaligus Khalifatullah. Dalam babad tersebut diceritakan bahwa Sultan Agung pergi ke Mekkah untuk minta pengakuan sebagai Khalifatullah. Perjalanan putera mahkota Mataram (sebelum dinobatkan) ke seluruh Nusantara dan Asia Tenggara dalam rangka “nitik” atau menjajagi keadaan daerah yang dikunjungi tersebut, dalam upaya pengembangan kekuasaan kelak jika telah memegang tampuk pemerintahan. Rupanya dengan alasan itulah maka babad ini dinamakan Babad Nitik. Sang putera mahkota Mataram yang bergelar Pangeran Adipati itu selalu mampu menundukkan negara-negara yang dikunjungi dengan kesaktiannya sendiri. Kemudian raja dan rakyat dari negara yang sudah tunduk itu bersedia masuk Islam. Cerita ini mirip dengan hikayat Amir Hamzah (di Jawa terkenal dengan nama Wong Agung Menak) dalam menyebar atau mengembangkan Islam. Hal ini untuk membuktikan atau menunjukkan bahwa Sultan Agung adalah Khalifatullah. Di samping itu Babad Nitik juga berisi hal-hal yang berbau mistik, seperti: Sulatan Agung kawin dengan Dewi Ratu Kidul. Begitu juga Sultan dapat terbang ke Kadewataan (Surga) dan bertemu dengan tokoh-tokoh dari dunia pewayangan, yakni Pandawa yang dipandang sebagai leluhur. Pergi ke Mekkah hanya dalam beberapa menit dan sebagainya. Hal itu semuanya untuk menunjukkan bahwa beliau berkualitas Raja-Dewa-Khalifatullah. Biasanya Babad memang diwarnai oleh hal-hal yang berbau mistik seperti itu. Babad Nitik juga sebenarnya banyak berisi informasi kebudayaan dan kesejarahan. Akan tetapi informasi kesejarahan yang terdapat dalam babad harus diuji betul-betul kebenarannya, dengan cara membandingkan dengan sumber-sumber lain sebab dalam babad banyak sekali hal-hal yang bersifat fiktif. Beberapa informasi yang dapat dipertimbangkan untuk dikaji lebih jauh sebagai data sejarah dan kebudayaan, diantaranya: 1. Tentang sifat seorang raja yang baik adalah: (a) pandai memikat para prajurit dengan penghasilan yang cukup, dan tidak menyakiti hatinya; (b) tidak membuat sakit hati rakyat; (c) bijaksana, hati-hati, cepat dalam mengambil keputusan; (d) pandai mendidik rakyat; (e) selalu waspada terhadap tingkah laku rakyatnya; (f) bertanggung jawab; (g) berbudi halus dan luhur; (h) taat beragama dan beribadah; (i) sabar berdasarkan kearifan huum; (k) teguh pendirian; (l) dapat mengelakkan segala godaan; dan (m) menyebarluaskan agama. 2. Sebagai seorang seniman, beliau menciptakan: (a) tari serimpi; (b) menyempurnakan gamelan dengan menambah instrumen bedug dan saron ricikan; (c) menciptakan gending Andong-andong, Madubrata, Kodok Ngore dan Monggang; dan (d) menciptakan Wayang Gedhog dalam cerita siklus Panji. 3. Sultan Agung naik tahta tahun 1617. Dalam catatan sejarah, Sultan Agung naik tahta pada tahun 1613, tetapi menurut Babad Nitik baru tahun 1617 karena pada waktu Prabu Hanyakrawati (Raja Mataram II) mangkat belitu tidak ada di tempat dan tidak diketahui sedang berada di mana. Oleh karena itu diangkatlah adiknya yang bernama Pangeran Martopuro. Baru pada tahun 1617 beliau muncul. Pangeran Martopuro turun tahta, lalu pergi ke Bagelen, tidak lama mangkat dan dimakamkan di bukit Sela Bagelen. 4. Semasa pemerintahannya, beberapa kali ganti pejabat tinggi: (a) Patih: Tumenggung Mandaraka (1617-1623), Tumenggung Singaranu (1623-1645); (b) Pengulu: Wanatara (1617-1619), Pangeran Kepodang (1619-1620), Kyai Serang (1620-1622), Ahmad Kategan (1622-1645); (c) Jaksa: Juru Mayemditi (1617-1623), Kyai Mas Sutamarta (1623-1645). 5. Sultan Agung memugar makam Tembayat. Pada tahun 1620 Sultan Agung memugar pemakaman Tembayat (Kabupaten Klaten) di mana terdapat makam Pangeran Pandanaran yang telah mengajar Ilmu Paramawidya kepada Sultan Agung dan menjadikan daerah Tembayat bebas pajak (perdikan). 6. Membangun pemakaman Imagiri. Sultan Agung membangun pemakaman untuk dirinya di bukit Girilaya, sebelah utara-timur Imagiri. Sewaktu pembangunan makam belum selesai Pangeran Juminah (pamannya) meninggal di tempat itu dan dimakamkan di tempat itu juga. Kemudian Sultan Agung membangun pemakaman Imagiri seperti yang masih ada sampai sekarang. 7. Sultan Agung tidak gagal menyerang Kumpeni. Hasil utamanya adalah semangat juang yang terus berkobar. 8. Keraton Sultan Agung di Kerto menjadi model. Sultan Agung setelah naik tahta memindahkan keratonnya ke Kerta (sebelah selatan Yogyakarta), keraton itu bagus tetapi tidak berpagar benteng, melainkan hanya berpagar korden dari kain sutera karena Sultan merasa tidak perlu, tidak ada orang yang berani mengganggu keraton raja yang sakti itu. Kiranya Keraton Kerto inilah yang menjadi model Keraton Surakarta dan Yogyakarta yang masih ada hingga sekarang ini, kecuali bentengnya. Sumber: Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1991. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara II. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Serat Salokatama by wayang in Kitab & Kidung Naskah Serat Salokatama dikarang oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ariya Mangku Nagara IV pada 1799 Jawa atau 1870 M. Serat Salokatama dikarang dalam bentuk tembang mijil, seluruhnya ada 31 “pada” (bait), sudah pernah diterbitkan oleh Nurhipkolep Jakarta 1953 dengan huruf Jawa. Saloka berarti perumpamaan atau ceritera sedang tama berarti utama atau baik. Salokatama berarti perumpamaan atau ceritera yang utama atau yang baik. Ini terungkap pada bait terakhir dari tembang tersebut yang berbunyi: Itij panawunging ruwiyadi yang artinya: telah selesai uraian ceritera yang baik. Isi Serat Salokatama Adapun intisari isi Serat Salokatama selengkapnya seperti pemaparan berikut ini. Yang dilihat oleh pengarang adalah sesuatu yang tidak pada tempatnya dan selalu mengganggu pikirannya. Umumnya orang yang punya kemauan sering tidak mawas diri, berbuat tak terkendali dan akhirnya mendapatkan “nistha”. Orang muda suka menonjolkan dirinya agar orang lain takut dan menghargai. Mereka tidak tahu bahwa perbuatannya itu banyak yang menertawakan, membuat orang lain tidak senang dan musuhnya menjadi bersyukur karenanya. Tampaknya seperti seorang pemberani, tingkah lakunya dibuat-buat, sehingga tampak seperti seorang jahil atau penjahat. Kelak ika mereka telah berhenti dari perbuatan itu, orang tetap tidak percaya bahwa mereka orang baik-baik. Andai kata orang hidup itu dua kali, tidak ada orang takut mati serta tak ada orang yang kecewa. Tetapi karena hidup hanya satu kali, banyak yang kecewa hidupnya, sehingga kadang-kadang ingin bunuh diri. Tetapi bunuh diri sebenarnya lebih sengsar, makamnya tidak boleh dicampur dengan leluhur dan orang banyak. Orang yang membunuh orang dosanya amat besar, tetapi masih lebih besar dosa orang yang bunuh diri, sehingga “nistha” melebihi matinya lutung atau kera. Membersihkan dosa tidak ada cara lain kecuali minta maaf kepada semua yang disakiti hatinya. Jika lebih tua dan lebih tinggi berbaktilah. Jika lebih muda tetapi lebih tinggi, dengan salam takzim dan bahasa yang halus. Semuanya adalah usaha untuk menghilangkan kemarahan. Jika malu dengan berkata langsung, tulislah surat yang manis. Kemudian minta maaf dan bertobat kepada Tuhan. Juga jangan lupa menghormati leluhur agar tidak mendapatkan dosa dari padanya. memang orang berbuat baik itu berat, berbeda dengan orang yang akan berbuat jelek selalu lebih mudah. Umumnya orang di dunia ini, baik yang tinggi maupun yang rendah martabatnya tidak suka mengalah meskipun bukan berarti kalah yang sebenarnya. Dan lagi pada umumnya orang jika dipuji dan didukung pendapatnya akan suka hatinya serta jauh dari sakit hati. Umumnya orang yang tidak tahu akan budi baik, jika ada sesuatu hal yang diceriterakan yang buruk dahulu, sebabnya memang tidak sampai pemikirannya. Jika kita ingin mendapatkan kemuliaan agar terlaksana kita harus berani rendah hati, minta pertolongan dan doa restu. Jika suatu ketika cita-cita kita gagal, jangan terkejut dan lalu menyalahkan dirinya sendiri sejadi-jadinya. Mohonlah petunjuk kepada Tuhan, rasakan apa kekurangan kita. Karena Manusia ini semuanya kekasih Tuhan, Jika mempunyai cita-cita, mohonlah kepada Tuhan, pasti akan dikabulkan. Jika belum berhasil, barangkali memang belum waktunya. Ibaratnya buah durian muda jika dipanjat sukar memetiknya, dan jika sudah dipetik tidak dapat dimakan, padahal usahanya mati-matian. Lain halnya jika sedikit demi sedikit, sabar menunggu, jika sudah waktunya akan jatuh sendiri, mudah memetiknya dan enak dimakan. Demikian juga orang mencari kemuliaan, Jika terlalu dipaksakan kadang-kadang sampai kehabisan akal, segala jalan ditempuh dan tidak segan-segan menggunakan cara yang tidak baik, misalnya dengan menggunakan magis. Jika berhasil, umumnya kurang baik, tidak tahan lama dan tidak lestari. Ini persamaannya seperti memetik durian muda tadi. Lain halnya dengan orang yang berusaha dengan jalan yang baik. Pada malam hari selalu memohon kepada Tuhan. Sehari-harinya tingkah lakunya baik, rajin, jujur, rendah hati, bicara manis, patuh pada atasan, cinta kepada sesama. Umumnya yang melaksanakan seperti itu, sudah selayaknya jika yang dicita-citakan berhasil. Hal itu anugerah nyata dari Tuhan. Kehidupanya selamat tidak dirundung kesusahan dan kadang-kadang dapat menurun ke anak-cucu. Ibarat ingin memetik buah durian yang masak di pohon, jika mempunyai cita-cita harus ada usahanya tidak cukup hanya dipikir saja. Tuhan tidak akan mengabulkan bagi yang tidak berusaha. Sumber: Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1993. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara V. Jakarta: Depdikbud. Serat Salokatama by wayang in Kitab & Kidung Naskah Serat Salokatama dikarang oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ariya Mangku Nagara IV pada 1799 Jawa atau 1870 M. Serat Salokatama dikarang dalam bentuk tembang mijil, seluruhnya ada 31 “pada” (bait), sudah pernah diterbitkan oleh Nurhipkolep Jakarta 1953 dengan huruf Jawa. Saloka berarti perumpamaan atau ceritera sedang tama berarti utama atau baik. Salokatama berarti perumpamaan atau ceritera yang utama atau yang baik. Ini terungkap pada bait terakhir dari tembang tersebut yang berbunyi: Itij panawunging ruwiyadi yang artinya: telah selesai uraian ceritera yang baik. Isi Serat Salokatama Adapun intisari isi Serat Salokatama selengkapnya seperti pemaparan berikut ini. Yang dilihat oleh pengarang adalah sesuatu yang tidak pada tempatnya dan selalu mengganggu pikirannya. Umumnya orang yang punya kemauan sering tidak mawas diri, berbuat tak terkendali dan akhirnya mendapatkan “nistha”. Orang muda suka menonjolkan dirinya agar orang lain takut dan menghargai. Mereka tidak tahu bahwa perbuatannya itu banyak yang menertawakan, membuat orang lain tidak senang dan musuhnya menjadi bersyukur karenanya. Tampaknya seperti seorang pemberani, tingkah lakunya dibuat-buat, sehingga tampak seperti seorang jahil atau penjahat. Kelak ika mereka telah berhenti dari perbuatan itu, orang tetap tidak percaya bahwa mereka orang baik-baik. Andai kata orang hidup itu dua kali, tidak ada orang takut mati serta tak ada orang yang kecewa. Tetapi karena hidup hanya satu kali, banyak yang kecewa hidupnya, sehingga kadang-kadang ingin bunuh diri. Tetapi bunuh diri sebenarnya lebih sengsar, makamnya tidak boleh dicampur dengan leluhur dan orang banyak. Orang yang membunuh orang dosanya amat besar, tetapi masih lebih besar dosa orang yang bunuh diri, sehingga “nistha” melebihi matinya lutung atau kera. Membersihkan dosa tidak ada cara lain kecuali minta maaf kepada semua yang disakiti hatinya. Jika lebih tua dan lebih tinggi berbaktilah. Jika lebih muda tetapi lebih tinggi, dengan salam takzim dan bahasa yang halus. Semuanya adalah usaha untuk menghilangkan kemarahan. Jika malu dengan berkata langsung, tulislah surat yang manis. Kemudian minta maaf dan bertobat kepada Tuhan. Juga jangan lupa menghormati leluhur agar tidak mendapatkan dosa dari padanya. memang orang berbuat baik itu berat, berbeda dengan orang yang akan berbuat jelek selalu lebih mudah. Umumnya orang di dunia ini, baik yang tinggi maupun yang rendah martabatnya tidak suka mengalah meskipun bukan berarti kalah yang sebenarnya. Dan lagi pada umumnya orang jika dipuji dan didukung pendapatnya akan suka hatinya serta jauh dari sakit hati. Umumnya orang yang tidak tahu akan budi baik, jika ada sesuatu hal yang diceriterakan yang buruk dahulu, sebabnya memang tidak sampai pemikirannya. Jika kita ingin mendapatkan kemuliaan agar terlaksana kita harus berani rendah hati, minta pertolongan dan doa restu. Jika suatu ketika cita-cita kita gagal, jangan terkejut dan lalu menyalahkan dirinya sendiri sejadi-jadinya. Mohonlah petunjuk kepada Tuhan, rasakan apa kekurangan kita. Karena Manusia ini semuanya kekasih Tuhan, Jika mempunyai cita-cita, mohonlah kepada Tuhan, pasti akan dikabulkan. Jika belum berhasil, barangkali memang belum waktunya. Ibaratnya buah durian muda jika dipanjat sukar memetiknya, dan jika sudah dipetik tidak dapat dimakan, padahal usahanya mati-matian. Lain halnya jika sedikit demi sedikit, sabar menunggu, jika sudah waktunya akan jatuh sendiri, mudah memetiknya dan enak dimakan. Demikian juga orang mencari kemuliaan, Jika terlalu dipaksakan kadang-kadang sampai kehabisan akal, segala jalan ditempuh dan tidak segan-segan menggunakan cara yang tidak baik, misalnya dengan menggunakan magis. Jika berhasil, umumnya kurang baik, tidak tahan lama dan tidak lestari. Ini persamaannya seperti memetik durian muda tadi. Lain halnya dengan orang yang berusaha dengan jalan yang baik. Pada malam hari selalu memohon kepada Tuhan. Sehari-harinya tingkah lakunya baik, rajin, jujur, rendah hati, bicara manis, patuh pada atasan, cinta kepada sesama. Umumnya yang melaksanakan seperti itu, sudah selayaknya jika yang dicita-citakan berhasil. Hal itu anugerah nyata dari Tuhan. Kehidupanya selamat tidak dirundung kesusahan dan kadang-kadang dapat menurun ke anak-cucu. Ibarat ingin memetik buah durian yang masak di pohon, jika mempunyai cita-cita harus ada usahanya tidak cukup hanya dipikir saja. Tuhan tidak akan mengabulkan bagi yang tidak berusaha. Sumber: Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1993. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara V. Jakarta: Depdikbud. Serat Darmo Wasito by wayang in Kitab & Kidung Nenek moyang kita banyak memberikan ajaran-ajaran luhur yang tidak hanya diwariskan dalam tradisi lisan seperti ungkapan dan dongeng, tetapi ada pula yang dituangkan dalam karya tulis berbentuk “tembang macapat”. Ajaran-ajaran luhur tersebut pada zamannya banyak dikaji, dihayati dan diamalkan sebagai pedoman hidup. Salah satu dari karya tulis yang dituangkan dalam bentuk tembang macapat adalah Serat Darmo Wasito yang dikarang pada tahun 1878 M oleh KGPAA Mangku Negara IV. Serat Darmo Wasito terdiri dari: 12 pada (bait) Dhandhanggula, 10 pada Kinanthi, dan 20 pada Mijil. Sebagai catatan, serat ini pernah diterbitkan dalam huruf Jawa oleh Nurhopkelop Jakarta pada tahun 1953. Isi Serat Darmo Wasito Secara ringkas isi serat Darmo Wasito dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu: 1. Ajaran agar Hidup Sukses Dalam Serat Darmo Wasito, apabila orang ingin hidup sukses, maka ia harus: (a) menikah, sebagai sarana untuk melestarikan kehidupan; (b) melaksanakan asthagina, yaitu: nut ing jaman kelakone (harus pandai menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi yang sedang dihadapi), rigen (pandai bekerja dengan efektif dan efisien), gemi (hemat), weruh etung (selalu penuh perhitungan dalam memanfaatkan penghasilannya untuk waktu sekarang, maupun yang akan datang), taberi tatanya (rajin bertanya sehingga pengetahuannya selalu bertambah), nyengah kayun (dapat mengendalikan diri sehingga tidak banyak berbuat kesalahan), dan nemen ing sedya (bila mempunyai niat harus dilakukan secara sungguh-sungguh); (c) jangan suka utang, sebab akan turun wibawanya; (d) jangan menjadi orang miskin, sebab orang miskin akan banyak mengalami kesusahan dan kurang dihargai dalam pergaulan; (e) jangan malas bekerja agar dijauhkan dari kesusahan; (f) melaksanakan sikap-sikap utama, yaitu: luruh (pandangan mata tidak liar dan hanya melihat seperlunya), trapsila (selalu bersikap sopan), mardawa (selalu ramah terhadap orang lain dan berbicara dengan lemah lembut); manut mring caraning bangsa (tindakan seharusnya selalu berwawasan kebangsaan dan tidak berdasarkan atas suku bangsanya sendiri), andhap asor (selalu bersikap rendah hati), meneng (tidak banyak berbicara atau mengobral bualan), prasaja (penampilan harus wajar dan tidak berlebih-lebihan), tepa selira (memiliki tenggang rasa yang tinggi), eling (selalu ingat akan baik-buruk, ingat kepada kedudukan, ingat kepada dirinya sebagai makhluk Tuhan), dan ulat batin (melakukan kegiatan pembinaan rohani agar mendapatkan jalan keutamaan); dan (g) melaksanakan catur upaya, yaitu: anirua kang becik (meniru hal-hal yang baik dan jauhkan yang buruk); nuruta ngguua kang nyata (percaya kepada kenyataan), dan miliha kang pakoleh (memilih hal-hal yang tepat dan menguntungkan). 2. Ajaran agar Menjadi Abdi (Negara) yang Baik Untuk menjadi abdi (negara) yang baik, maka seseorang harus memiliki sifat-sifat, seperti: sregep (rajin dan tidak membuat kecewa yang memberi tugas), pethel (suka bekerja), tegen (ulet bekerja dan telaten sehingga membuat puas orang yang menyuruh), wekel (bekerja dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab), dan ngati-ati (bekerja secara berhati-hati). 3. Ajaran agar Menjadi Isteri yang Baik Ajaran-ajaran dalam Serat Darmo Wasito untuk seorang isteri adalah: (1) agar menjadi seorang isteri yang dihargai dan dicintai oleh suaminya, maka ia harus: nurut (apa yang dikehendaki oleh suami dilakukan dengan penuh kesabaran dan dapat menyelesaikannya dengan baik), condhong (kehendak suami harus didukung, merawat apa kesukaannya dan tidak membicarakan kejelekannya di muka umum), reksa (menjaga segala milik suami dan tahu jumlah serta rinciannya), nastiti (tahu asal muasal sebuah barang dan kegunaannya serta dapat menggunakan dengan baik nafkah yang diberikan oleh suami), nyimpen wadi (pandai menyimpan rahasia suami dan keluarga); (2) agar dapat berhasil dalam hidup berumah tangga, seorang isteri hendaknya bersikap: berhati-hati dalam segala hal, mengenal sifat-sifat keluarga dan famili sehingga dapat menyesuaikan diri, mengerti acara suami sehari-hari dan dapat membantu jika diperlukan, jika memberi saran atau mengemukakan pendapat harus mencari waktu yang tepat, paham akan tugasnya sebagai seorang isteri, jangan menggunakan atau memanfaatkan barang-barang milik suami tanpa seizinnya, pandai merawat barang-barang milik suami, dan meskipun suami memberi keleluasaan, tetapi tetap melakukan segala hal sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Sumber: Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1995. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara VI. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Serat Makutha Raja by wayang in Kitab & Kidung Para cendekiawan pada zaman dahulu menyadari bahwa seorang pemimpin, mulai dari tataran yang terendah sampai yang tertinggi, harus memiliki kemampuan memimpin yang baik. Di antara para cendekiawan pada waktu itu yang memperhatikan masalah kepemimpinan ini ialah Pangeran Buminata dari Keraton Yogyakarta. Ia berhasil membuat kitab yang diberi judul Makutha Raja, untuk memberi tuntunan kepada para pemimpin, terutama raja agar dapat menjadi pemimpin yang baik dan disenangi oleh rakyatnya. Isi Serat Secara ringkas Serat Makutha Raja berisi tentang bagaimana sikap yang seharusnya dilakukan oleh seorang pemimpin/raja. Dalam serat ini seseorang yang sedang memegang kendali kepemimpinan diibaratkan sebagai orang yang sedang mengendalikan kuda. Kuda, walaupun hanya seekor binatang, ternyata harus didekati dengan cara-cara tertentu agar dapat dengan mudah dinaiki dan dikendalikan. Oleh karena kekhasan sifat yang dimiliki oleh seekor kuda ini, maka Pangeran Buminata mengibaratkannya lagi dengan seorang gadis. Sulitnya membuka tali kekang kuda adalah sama dengan sulitnya mendekati seorang gadis. Untuk mendekati seorang gadis, tentunya diperlukan budi yang halus, kata-kata yang manis dan lembut agar mau menerima dengan senang hati. Apabila pendekatan dilakukan dengan cara yang kasar dan tergesa-gesa, maka kemungkinan besar si gadis akan menolak. Apabila hal ini diterapkan untuk menaklukkan seekor kuda, maka seseorang harus menggunakan akalnya dan harus memperhatikan saat yang tepat untuk mendekati kuda itu. Ia pun sebaiknya menguasai hal ikhwal tentang piranti tali kekang yang digunakan sebagai sarana menaklukkan kuda. Dalam konteks ini, pengertian memahami tali kekang kuda bukanlah tali kekang yang sebenarnya, melainkan memahami segala permasalahan kuda, termasuk faktor dalam atau faktor kejiwaan dari kuda itu. Sebagai ilustrasi yang lebih konkret, dalam Serat Makutha Raja juga dikemukakan cara-cara mengatasi kebinalan seekor kuda secara bijaksana yang dilakukan oleh Pangeran Mangkubumi dan Syekh Janah Katib. Pangeran Mangkubumi menggunakan cara yang disebut anyana mandra. Dengan cara ini si penunggang kuda selain harus waspada dan berhati-hati, juga dituntut untuk bersikap luwes. Luwes dalam pengertian ini ialah menuruti kehendak kuda. Jika kuda meronta, si penunggang kuda hendaknya bersikap bijaksana sehingga kuda tunduk secara perlahan-lahan dan mengikuti segala perintah si penunggang. Sedangkan, Syekh Janah Katib menggunakan cara yang disebut anyana sanga. Cara yang digunakan oleh Syekh Janah Katib ini lebih mengarah ke jalan makrifat. Dalam Serat Makutha Raja juga dikisahkan cerita tentang Mas Ketib Anom yang menerapkan ajaran “mengendalikan kuda secara arif, luwes dan lemah lembut” untuk memecahkan masalah kerajaan. Waktu itu, pada masa pemerintahan Sunan Paku Buwana terjadi suatu peristiwa yang berkaitan dengan Kyai Cebolek atau Kyai Haji Ahmat Muntamangkin. Kyai Cebolek dianggap telah salah menafsirkan inti dari cerita “Bimasuci” yang mengakibatkan keresahan di kalangan ulama kerajaan. Mereka (para ulama) kemudian melaporkan hal ini kepada Raden Demang Urawan (seorang punggawa keraton). Dan, sebagai seorang bawahan Raden Demang Urawan lalu meneruskan laporan itu kepada raja. Menanggapi laporan itu, raja memutuskan bahwa Kyai Cebolek tidak bersalah. Ia hanya dianggap salah menafsirkan makna tamsil dalam cerita “Bimasuci”. Keputusan raja yang menganggap Kyai Cebolek tidak bersalah itu mendapat sanggahan dari seorang ulama Kudus, yakni Mas Ketib Anom. Sanggahan ulama itu sempat sejenak menggegerkan istana. Namun, Mas Ketib Anom menegaskan bahwa keberaniannya menyanggah keputusan raja adalah semata dilakukan demi kewibawaan raja sendiri. Sebagai jalan keluar mengatasi permasalahan ini, Mas Ketib Anom mengusulkan agar Kyai Cebolek atau Kyai Haji Ahmat Muntamangkin tidak dihukum secara fisik, melainkan diberi kesempatan untuk mengubah sikapnya. Menurut Mas Ketib Anom, hukuman fisik tidak ada gunanya, baik bagi yang bersangkutan maupun bagi khalayak umum. Sebagai contoh, dikemukakan pemberian hukuman kepada Syeh Siti Jenar (hukuman pancung), Pangeran Panggung di Pajang (bakar) dan terhadap Kyai Amongraga (dibuang ke laut). Semuanya itu ternyata tidak bermanfaat karena yang dihukum hanya fisik, sedangkan ideologi yang dianut tetap lestari. Tampak di sini bahwa Mas Ketib Anom dengan bijaksana telah menerapkan ajaran “mengendalikan kuda secara arif, luwes dan lemah lembut”. Sumber: Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1992. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara IV. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Serat Chentini by wayang in Kitab & Kidung Ing ngandhap punika ka-aturaken tetedhakan purwakanipun Serat Centhini, sinawung ing sekar Sinom 1. Sri Narpatmaja Sudibya, talatahingnusma Jawi, Surakarta Hadiningrat, hagnya ring kang wadu Carik, Sutrasna kang kinanthi, mangunreh cariteng dangu, sanggyaning kawruh Jawa, hingimpun tumrap kakawin, mrih tan kemba karya dhangan kang miyarsa. 2. Lajere kang cinarita, laksananing Jayengresmi, ya She Adi Amongrogo, atmajeng njeng Sunan Giri, kontap janma linuwih, Oliya Wali Mujedub, peparenganing jaman, njeng Sultan Agung Matawis, tinengeran Serat Suluk tambangraras. 3. Karsaning Sang Narpatmaja, babon pangawikan jawi, jinereng dadya carita, sampating karsa marengi, Nemlikur Saptu Paing, lek Mukharam je warseku, mrakeh Hyang Surenggana, Bathara Yama Dewari, amawulu wogan su-ajag sumengka. 4. Panca-sudaning Satriya, wibawa lakuning geni, windu adi mangsa sapta, sangkala angkaning warsi, paksa suci sabda ji ( 1742 ) ingkang pinurwa ing kidung, duk Keraton Majalengka, Sri Brawijaya mungkasi, wonten Maolana saking nagri Jedah. 5. Panengran She walilanang, praptanira tanah jawi, kang jinujug Ngampeldenta, pinanggih sang maha resi, areraosan ngelmi, sarak sarengat njeng rosul, nanging tan ngantya lam, linggar saking Ngampelgadhing, ngidul ngetan anjog Nagri Belambangan. Serat Centini Serat Centhini, sebagaimana kita tahu, ditulis oleh sejumlah pujangga di lingkungan Keraton Surakarta yang diketuai oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amengkunagara III, putra mahkota Sunan Pakubuwana IV. Karya yang terkenal dengan sebutan Serat Centhini atau Suluk Tambangraras- Amongraga ini ditulis pada tahun 1742 dalam penanggalan Jawa, atau 1814 dalam tahun Masehi. Karya ini boleh dikatakan sebagai semacam ensiklopedi mengenai dunia dalam masyarakat Jawa. Sebagaimana tercermin dalam bait-bait awal, serat ini ditulis memang dengan ambisi sebagai perangkum baboning pangawikan Jawi, atau katakanlah semacam database pengetahuan Jawa. Jumlah keseluruhan serat ini adalah 12 jilid. Aspek-aspek ngelmu yang dicakup dalam serat ini meliputi persoalan agama, kebatinan, kekebalan, dunia keris, kerawitan dan tari, tata cara membangun rumah, pertanian, primbon atau horoskop, soal makanan dan minuman, adat istiadat, cerita-cerita kuna mengenai tanah Jawa dan lain-lainnya. Yang ingin ditunjukkan dalam tulisan ini adalah bagaimana Islam menjadi elemen pokok yang mendasari seluruh kisah dalam buku ini, tetapi ia telah mengalami “pembacaan” ulang melalui optik pribumi yang sudah tentu berlainan dengan Islam standar. Islam tidak lagi tampil sebagai “teks besar” yang “membentuk” kembali kebudayaan setempat sesuai dengan kanon ortodokasi yang standar. Sebaliknya, dalam Serat Centhini, kita melihat justru kejawaan bertindak secara leluasa untuk “membaca kembali” Islam dalam konteks setempat, tanpa ada semacam kekikukan dan kecemasan karena “menyeleweng” dari kanon resmi. Nada yang begitu menonjol di sana adalah sikap yang wajar dalam melihat hubungan antara Islam dan kejawaan, meskipun yang terakhir ini sedang melakukan suatu tindakan “resistensi”. Penolakan tampil dalam nada yang “subtil”, dan sama sekali tidak mengesankan adanya “heroisme” dalam mempertahankan kebudayaan Jawa dari penetrasi luar. Barangkali, Serat Centhini bisa kita anggap sebagai cerminan dari suatu periode di mana hubungan antara Islam dan kejawaan masih berlangsung dalam watak yang saling mengakomodasikan, dan tidak terjadi kontestasi antara keduanya secara keras dan blatant. Sebagaimana kita tahu, dalam perkembangan pasca-kemerdekaan, identitas kejawaan makin mengalami “politisasi” dalam menghadapi naiknya kekuatan Islam yang cenderung “puritan” dalam kancah politik. Dalam konteks semacam ini, antara kedua identitas ini (Islam dan Jawa), terdapat hubungan yang tegang dan penuh prasangka. Ketegangan ini terus berlanjut hingga dalam pemerintahan Orba. Serat disusun berdasarkan kisah perjalanan putra-putri Sunan Giri setelah dikalahkan oleh Pangeran Pekik dari Surabaya, ipar Sultan Agung dari Kerajaan Mataram. Kisah dimulai setelah tiga putra Sunan Giri berpencar meninggalkan tanah mereka untuk melakukan perkelanaan, karena kekuasaan Giri telah dihancurkan oleh Mataram. Mereka adalah Jayengresmi, Jayengraga, dan seorang putri bernama Rancangkapti. Dengan diikuti oleh dua santri, Gathak dan Gathuk, Jayengresmi melakukan “perjalanan spiritual” ke sekitar keraton Majapahit, Blitar, Gamprang, hutan Lodhaya, Tuban, Bojanagara, hutan Bagor, Gambiralaya, Gunung Pandhan, desa Dhandher, Kasanga, Sela, Gubug Merapi, Gunung Prawata, Demak, Gunung Muria, Pekalongan, Gunung Panegaran, Gunung Mandhalawangi, Tanah Pasundan, Bogor, bekas keraton Pajajaran, Gunung Salak, dan kemudian tiba di Karang. Dalam perjalanan ini, Jayengresmi seperti mengalami “pendewasaan spiritual”, karena bertemu dengan sejumlah guru, tokoh-tokoh gaib dalam mitos Jawa kuna, dan sejumlah juru kunci makam-makam keramat di tanah Jawi. Dalam pertemuan dengan tokoh-tokoh itu, dia belajar mengenai segala macam pengetahuan dalam khazanah kebudayaan Jawa, mulai dari candi, alamat bunyi burung gagak dan prenjak, khasiat burung pelatuk, petunjuk pembuatan kain lurik, pilihan waktu bersanggama, perhitungan tanggal, hingga ke kisah Syeh Siti Jenar. Jayengsari dan Rancangkapti berkelana dengan diiringi oleh santri Buras ke Sidacerma, Pasuruhan, Ranu Grati, Banyubiru, kaki Gunung Tengger, Malang, Baung, Singasari, Sanggariti, Tumpang, Kidhal, Pasrepan, Tasari, Gunung Brama, Ngadisari, Klakah, Kandhangan, Argapura, Gunung Rawun, Banyuwangi, terus ke Pekalongan, Gunung Perau, Dieng, sampai ke Sokayasa di kaki Gunung Bisma Banyumas. Dalam perjalanan itu, mereka berdua mendapatkan pengetahuan mengenai adat-istiadat tanah Jawi, syariat para nabi, kisah Sri Sadana, pengetahuan mengenai wudlu, shalat, pengetahuan (yang terkesan agak bertakik-takik dan njlimet) mengenai dzat Allah, sifat, asma dan afngal-Nya, sifat dua puluh, Hadis Markum, perhitungan selamatan orang meninggal dunia, serta perwatakan Kurawa dan Pandawa. Melihat luasnya daerah serta lingkup pengetahuan yang dipelajari ketiga putra-putri Giri itu, tampak sekali ambisi penggubah kisah dalam Serat Centhini ini untuk “menerangkan” secara menyeluruh “dunia dalam” orang Jawa. Dengan demikian, serat ini juga bisa digunakan sebagai titik masuk untuk mengetahui bagaimana dunia Jawa “plausible” dan bermakna buat orang-orang Jawa sendiri. Sekaligus juga adalah bagaimana Islam “bermakna” dalam konteks tatanan kosmik mereka. Melihat jenis-jenis pengetahuan yang dipelajari oleh ketiga putra-putri Giri tersebut, tampak dengan jelas unsur-unsur Islam yang “ortodoks” bercampur baur dengan mitos-mitos di tanah Jawa. Ajaran Islam yang ortodoks mengenai sifat Allah yang dua puluh, misalnya, diterima begitu saja, tanpa harus membebani para penggubah ini untuk mempertentangkan ortodoksi itu dengan mitos-mitos dalam khazanah kebudayaan Jawa. Dua-duanya disandingkan begitu saja secara “sinkretik”, seolah antara alam “monoteisme” dengan “paganisme”/”animisme” Jawa tidak terdapat pertentangan yang merisaukan. Seperti telah dikemukakan di atas, dalam serat ini, Islam memang tidak dipandang semata-mata sebagai unsur eksternal yang “membebani” unsur lokal, bahkan pertentangan (katakan saja) weltanschauung antara kedua dunia itu (Islam dan Jawa) sama sekali tidak dipersoalkan. Begitu saja diandaikan bahwa keduanya commensurable dan saling bisa bertukar tempat. Tetapi, anehnya, dengan cara seperti inilah Jawa (sebagaimana ditampilkan oleh serat ini) melakukan “resistensi” (atau “domestifikasi”, dalam istilah Benda) atas Islam. Penggubah serat ini seolah-olah tidak mau tahu bahwa Islam sebagaimana tampil dalam korpus standar membawa sejumlah “efek ikonoklastik” atas kepercayaan setempat. Pasca-Centhini: Jawa “baru”? Bagaimana orang-orang Jawa pada periode-katakan saja-”pasca-Centhini” memahami hubungan antara Islam dan kejawaan? Adakah perubahan yang mendasar dalam pandangan-pandangan yang sebelumnya bernada sinkretis itu? Sebuah kesaksian kontemporer dari keluarga Jawa sebagaimana dituturkan oleh Hersri, layak dikutip di sini (saya ambil dari tulisan Hersri Between the Bars yang dimuat dalam buku Silenced Voices suntingan John H McGlynn yang terbit baru-baru ini). Cerita Hersri ini mewakili semacam corak yang umum dalam keluarga Jawa dari kelas bawah. Cerita ini terjadi di tahun 1947/1948. Hersri adalah orang yang tumbuh dalam keluarga abangan dan tidak mengenal “kesetiaan” yang fanatik terhadap agama-agama resmi. Sikap yang longgar ini tercermin dalam jawabannya ketika suatu ketika ia ditanya oleh gurunya di kelas, “Apa agamamu?” Ia kebingungan, karena di rumah tidak pernah memperoleh pengajaran mengenai kesetiaan yang eksklusif terhadap agama tertentu. Kakaknya yang sulung dikirim oleh ayahnya ke Sekolah Katolik di Muntilan, bukan dengan kesadaran mendalam agar anaknya belajar agama itu. Tetapi, Sekolah Katolik di daerahnya lebih menerapkan disiplin yang keras ketimbang sekolah lain, sehingga dengan demikian ayahnya berharap agar kakaknya yang ndablek itu bisa dijinakkan. Kakaknya yang lain belajar di Sekolah Taman Siswa. Sementara kakaknya yang nomor tiga dikirim ke Sekolah Muhammadiyah, juga bukan dengan alasan agar belajar Islam dengan baik, tetapi karena kakaknya yang satu ini tidak diterima baik di sekolah umum atau Protestan. Bapaknya sendiri selalu berkata bahwa semua agama adalah baik, dan sering ikut dalam acara selamatan desa yang biasanya juga menggunakan sejumlah ritual Islam (seperti tahlil, misalnya). Tetapi ia tidak pernah menjadi Muslim. Terhadap pertanyaan yang membingungkan dari gurunya itu, Hersri akhirnya menjawab, “Saya mengikuti semua agama yang ada.” Seluruh murid di kelasnya tertawa. Apakah ini cerminan dari sinkretisme seperti yang disebut di muka? Boleh jadi. Tetapi sikap permisif secara “teologis” ini lama-lama makin pudar, karena proses yang lain juga sedang berlangsung, yaitu apa yang sering disebut sebagai “santri-isasi” orang Jawa. Saya pernah mendengar cerita seorang jemaat Gereja Kristen di kawasan Pulo Mas mengenai proses “baru” yang sedang berlangsung dalam masyarakat Jawa itu. Dahulu, cerita si jemaat ini, jika ada jenazah di desanya (di Madiun), sudah menjadi adat yang lazim bahwa seluruh warga desa dari agama apa pun akan mengurusnya. Sekarang, setelah sejumlah fatwa MUI dikeluarkan mengenai larangan orang Islam terlibat dalam ritual agama lain (termasuk seremoni kematian, tentunya), pelan-pelan orang makin sadar akan “identitasnya” sebagai orang Muslim atau Kristen atau yang lain. Orang Jawa makin menyadari bahwa ada gejala lain yang muncul ke permukaan: gejala untuk menganggap sikap “permisif” secara teologis sebagai hal yang tidak lagi wajar. Proses ini, tampaknya sudah berlangsung sejak lama, meskipun resonansinya baru tampak dengan “keras” akhir-akhir ini. GWJ Drewes (dalam artikel berjudul Indonesia: Mysticism and Activism, yang dimuat dalam buku suntingan Gustave von Grunebaum, Unity and Variety in Muslim Civilization, [1955]), pernah mengemukakan pengamatannya di tahun 50-an mengenai proses Islamisasi di tanah Jawa. Ia mengatakan bahwa, [T]he Islamization of Indonesia is still in progress, not only in the sense that Islam is still spreading among pagan tribes, but also in that peoples who went over to Islam centuries ago are living up more and more to the standard of Muslim orthodoxy. Kecenderungan yang kita lihat akhir-akhir ini tampaknya memang makin cenderung membenarkan apa yang dikatakan oleh Drewes itu. Tetapi semacam caveat tetap harus dikemukakan di sini. Jika kecenderungan makin “ortodoks” di kalangan masyarakat Jawa seperti dikemukakan oleh Drewes itu benar-benar terjadi, maka harus pula dipertimbangkan kenyataan bahwa dalam pemilu tahun lalu, partai- partai Islam mengalami kekalahan yang dramatis. PDI-P yang mempunyai basis luas di kalangan masyarakat Jawa yang abangan, memperoleh suara yang besar. Apakah yang bisa kita simpulkan dari perkembangan baru ini? Tampaknya memang Jawa-Serat-Centhini belum menunjukkan tanda-tanda kepudaran, bahkan mungkin semacam resiliensi baru mulai dikembangkan. Meskipun perkembangan-perkembangan baru yang menuju ke arah Jawa-pasca- Centhini juga mulai memperlihatkan gejalanya. ============ Pethikan “Centhini” pupuh 37. Dhandhanggula, gatra 37 – 49 37 duk uripe neng dunya puniki sadina dina pan wis sakarat miwah sawengi wengine manggung sakaratipun melek turu sakarat ugi mila ngaran sakarat wong neng dunya iku dene ta ing salaminya urip iku neng dunya tan pegat dening layar segara rahmat 39. Ing tepine graitanen ugi dene wus aran iku sagara tanpa tepi supradene kaya na tepinipun ngengkol temen basa puniki kepriye yen kenaa kinira ing kalbu dinuga duga watara saking kira kira mapan datan keni kajaba kang wus wikan 40. Ing tepining ingkang jalanidhi. sagara rahmat kang tanpa ombak nanging gumleger alune samun lamun kadulu sawangane resik tur wening mila kang sami layar tan nganggo parau nyana tan na pakewuhnya yen tinrajang telenge keh parang curi mila arang kang prapta 42. Mampan arang iya angrawuhi ing warnane ya sagara rahmat tur sadina sawengine wong aneng dunya iku alalangen aneng jaladri jroning sagara rahmat prandene arang wruh saking kalingan ing tingal kalimput ing pancabayaning ngaurip mila arang waspada 43. Yen arsa layar maring jaladri sagara rahmat mawia palwa sarta lawan kamudhine pandoman sampun kantun myang layare dipun abecik miwah sanguning marga ywa kirang den agung yen tan mangkono tan prapta ing tepine iya sagara rahmati pan mundhak akangelan 44. Baitane pan eninging galih kemudhine pan anteping tekat sucining kalbu layare pandomanipun iku pituduhe guru sayekti sangune ngelmu rasa lakune parau kalawabn murahing Edat yen tumeka aneng tepining jaladri uga sagara rahmat (badhe kalajengaken menawi taksih wonten ingkang ngersaaken..) Kapethik saking “serat centhini latin 1 Yasandalem kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangkurat III (Ingkang Sinuhun Paku Buwana V) jumeneng ing Surakarta ( 1820 – - 1823 M) kalatinaken miturut aslinipun dening Karkana Kamajaya, Penerbit yayasan Centhini, Yogyakarta, 1991 Serat Chentini by wayang in Kitab & Kidung Ing ngandhap punika ka-aturaken tetedhakan purwakanipun Serat Centhini, sinawung ing sekar Sinom 1. Sri Narpatmaja Sudibya, talatahingnusma Jawi, Surakarta Hadiningrat, hagnya ring kang wadu Carik, Sutrasna kang kinanthi, mangunreh cariteng dangu, sanggyaning kawruh Jawa, hingimpun tumrap kakawin, mrih tan kemba karya dhangan kang miyarsa. 2. Lajere kang cinarita, laksananing Jayengresmi, ya She Adi Amongrogo, atmajeng njeng Sunan Giri, kontap janma linuwih, Oliya Wali Mujedub, peparenganing jaman, njeng Sultan Agung Matawis, tinengeran Serat Suluk tambangraras. 3. Karsaning Sang Narpatmaja, babon pangawikan jawi, jinereng dadya carita, sampating karsa marengi, Nemlikur Saptu Paing, lek Mukharam je warseku, mrakeh Hyang Surenggana, Bathara Yama Dewari, amawulu wogan su-ajag sumengka. 4. Panca-sudaning Satriya, wibawa lakuning geni, windu adi mangsa sapta, sangkala angkaning warsi, paksa suci sabda ji ( 1742 ) ingkang pinurwa ing kidung, duk Keraton Majalengka, Sri Brawijaya mungkasi, wonten Maolana saking nagri Jedah. 5. Panengran She walilanang, praptanira tanah jawi, kang jinujug Ngampeldenta, pinanggih sang maha resi, areraosan ngelmi, sarak sarengat njeng rosul, nanging tan ngantya lam, linggar saking Ngampelgadhing, ngidul ngetan anjog Nagri Belambangan. Serat Centini Serat Centhini, sebagaimana kita tahu, ditulis oleh sejumlah pujangga di lingkungan Keraton Surakarta yang diketuai oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amengkunagara III, putra mahkota Sunan Pakubuwana IV. Karya yang terkenal dengan sebutan Serat Centhini atau Suluk Tambangraras- Amongraga ini ditulis pada tahun 1742 dalam penanggalan Jawa, atau 1814 dalam tahun Masehi. Karya ini boleh dikatakan sebagai semacam ensiklopedi mengenai dunia dalam masyarakat Jawa. Sebagaimana tercermin dalam bait-bait awal, serat ini ditulis memang dengan ambisi sebagai perangkum baboning pangawikan Jawi, atau katakanlah semacam database pengetahuan Jawa. Jumlah keseluruhan serat ini adalah 12 jilid. Aspek-aspek ngelmu yang dicakup dalam serat ini meliputi persoalan agama, kebatinan, kekebalan, dunia keris, kerawitan dan tari, tata cara membangun rumah, pertanian, primbon atau horoskop, soal makanan dan minuman, adat istiadat, cerita-cerita kuna mengenai tanah Jawa dan lain-lainnya. Yang ingin ditunjukkan dalam tulisan ini adalah bagaimana Islam menjadi elemen pokok yang mendasari seluruh kisah dalam buku ini, tetapi ia telah mengalami “pembacaan” ulang melalui optik pribumi yang sudah tentu berlainan dengan Islam standar. Islam tidak lagi tampil sebagai “teks besar” yang “membentuk” kembali kebudayaan setempat sesuai dengan kanon ortodokasi yang standar. Sebaliknya, dalam Serat Centhini, kita melihat justru kejawaan bertindak secara leluasa untuk “membaca kembali” Islam dalam konteks setempat, tanpa ada semacam kekikukan dan kecemasan karena “menyeleweng” dari kanon resmi. Nada yang begitu menonjol di sana adalah sikap yang wajar dalam melihat hubungan antara Islam dan kejawaan, meskipun yang terakhir ini sedang melakukan suatu tindakan “resistensi”. Penolakan tampil dalam nada yang “subtil”, dan sama sekali tidak mengesankan adanya “heroisme” dalam mempertahankan kebudayaan Jawa dari penetrasi luar. Barangkali, Serat Centhini bisa kita anggap sebagai cerminan dari suatu periode di mana hubungan antara Islam dan kejawaan masih berlangsung dalam watak yang saling mengakomodasikan, dan tidak terjadi kontestasi antara keduanya secara keras dan blatant. Sebagaimana kita tahu, dalam perkembangan pasca-kemerdekaan, identitas kejawaan makin mengalami “politisasi” dalam menghadapi naiknya kekuatan Islam yang cenderung “puritan” dalam kancah politik. Dalam konteks semacam ini, antara kedua identitas ini (Islam dan Jawa), terdapat hubungan yang tegang dan penuh prasangka. Ketegangan ini terus berlanjut hingga dalam pemerintahan Orba. Serat disusun berdasarkan kisah perjalanan putra-putri Sunan Giri setelah dikalahkan oleh Pangeran Pekik dari Surabaya, ipar Sultan Agung dari Kerajaan Mataram. Kisah dimulai setelah tiga putra Sunan Giri berpencar meninggalkan tanah mereka untuk melakukan perkelanaan, karena kekuasaan Giri telah dihancurkan oleh Mataram. Mereka adalah Jayengresmi, Jayengraga, dan seorang putri bernama Rancangkapti. Dengan diikuti oleh dua santri, Gathak dan Gathuk, Jayengresmi melakukan “perjalanan spiritual” ke sekitar keraton Majapahit, Blitar, Gamprang, hutan Lodhaya, Tuban, Bojanagara, hutan Bagor, Gambiralaya, Gunung Pandhan, desa Dhandher, Kasanga, Sela, Gubug Merapi, Gunung Prawata, Demak, Gunung Muria, Pekalongan, Gunung Panegaran, Gunung Mandhalawangi, Tanah Pasundan, Bogor, bekas keraton Pajajaran, Gunung Salak, dan kemudian tiba di Karang. Dalam perjalanan ini, Jayengresmi seperti mengalami “pendewasaan spiritual”, karena bertemu dengan sejumlah guru, tokoh-tokoh gaib dalam mitos Jawa kuna, dan sejumlah juru kunci makam-makam keramat di tanah Jawi. Dalam pertemuan dengan tokoh-tokoh itu, dia belajar mengenai segala macam pengetahuan dalam khazanah kebudayaan Jawa, mulai dari candi, alamat bunyi burung gagak dan prenjak, khasiat burung pelatuk, petunjuk pembuatan kain lurik, pilihan waktu bersanggama, perhitungan tanggal, hingga ke kisah Syeh Siti Jenar. Jayengsari dan Rancangkapti berkelana dengan diiringi oleh santri Buras ke Sidacerma, Pasuruhan, Ranu Grati, Banyubiru, kaki Gunung Tengger, Malang, Baung, Singasari, Sanggariti, Tumpang, Kidhal, Pasrepan, Tasari, Gunung Brama, Ngadisari, Klakah, Kandhangan, Argapura, Gunung Rawun, Banyuwangi, terus ke Pekalongan, Gunung Perau, Dieng, sampai ke Sokayasa di kaki Gunung Bisma Banyumas. Dalam perjalanan itu, mereka berdua mendapatkan pengetahuan mengenai adat-istiadat tanah Jawi, syariat para nabi, kisah Sri Sadana, pengetahuan mengenai wudlu, shalat, pengetahuan (yang terkesan agak bertakik-takik dan njlimet) mengenai dzat Allah, sifat, asma dan afngal-Nya, sifat dua puluh, Hadis Markum, perhitungan selamatan orang meninggal dunia, serta perwatakan Kurawa dan Pandawa. Melihat luasnya daerah serta lingkup pengetahuan yang dipelajari ketiga putra-putri Giri itu, tampak sekali ambisi penggubah kisah dalam Serat Centhini ini untuk “menerangkan” secara menyeluruh “dunia dalam” orang Jawa. Dengan demikian, serat ini juga bisa digunakan sebagai titik masuk untuk mengetahui bagaimana dunia Jawa “plausible” dan bermakna buat orang-orang Jawa sendiri. Sekaligus juga adalah bagaimana Islam “bermakna” dalam konteks tatanan kosmik mereka. Melihat jenis-jenis pengetahuan yang dipelajari oleh ketiga putra-putri Giri tersebut, tampak dengan jelas unsur-unsur Islam yang “ortodoks” bercampur baur dengan mitos-mitos di tanah Jawa. Ajaran Islam yang ortodoks mengenai sifat Allah yang dua puluh, misalnya, diterima begitu saja, tanpa harus membebani para penggubah ini untuk mempertentangkan ortodoksi itu dengan mitos-mitos dalam khazanah kebudayaan Jawa. Dua-duanya disandingkan begitu saja secara “sinkretik”, seolah antara alam “monoteisme” dengan “paganisme”/”animisme” Jawa tidak terdapat pertentangan yang merisaukan. Seperti telah dikemukakan di atas, dalam serat ini, Islam memang tidak dipandang semata-mata sebagai unsur eksternal yang “membebani” unsur lokal, bahkan pertentangan (katakan saja) weltanschauung antara kedua dunia itu (Islam dan Jawa) sama sekali tidak dipersoalkan. Begitu saja diandaikan bahwa keduanya commensurable dan saling bisa bertukar tempat. Tetapi, anehnya, dengan cara seperti inilah Jawa (sebagaimana ditampilkan oleh serat ini) melakukan “resistensi” (atau “domestifikasi”, dalam istilah Benda) atas Islam. Penggubah serat ini seolah-olah tidak mau tahu bahwa Islam sebagaimana tampil dalam korpus standar membawa sejumlah “efek ikonoklastik” atas kepercayaan setempat. Pasca-Centhini: Jawa “baru”? Bagaimana orang-orang Jawa pada periode-katakan saja-”pasca-Centhini” memahami hubungan antara Islam dan kejawaan? Adakah perubahan yang mendasar dalam pandangan-pandangan yang sebelumnya bernada sinkretis itu? Sebuah kesaksian kontemporer dari keluarga Jawa sebagaimana dituturkan oleh Hersri, layak dikutip di sini (saya ambil dari tulisan Hersri Between the Bars yang dimuat dalam buku Silenced Voices suntingan John H McGlynn yang terbit baru-baru ini). Cerita Hersri ini mewakili semacam corak yang umum dalam keluarga Jawa dari kelas bawah. Cerita ini terjadi di tahun 1947/1948. Hersri adalah orang yang tumbuh dalam keluarga abangan dan tidak mengenal “kesetiaan” yang fanatik terhadap agama-agama resmi. Sikap yang longgar ini tercermin dalam jawabannya ketika suatu ketika ia ditanya oleh gurunya di kelas, “Apa agamamu?” Ia kebingungan, karena di rumah tidak pernah memperoleh pengajaran mengenai kesetiaan yang eksklusif terhadap agama tertentu. Kakaknya yang sulung dikirim oleh ayahnya ke Sekolah Katolik di Muntilan, bukan dengan kesadaran mendalam agar anaknya belajar agama itu. Tetapi, Sekolah Katolik di daerahnya lebih menerapkan disiplin yang keras ketimbang sekolah lain, sehingga dengan demikian ayahnya berharap agar kakaknya yang ndablek itu bisa dijinakkan. Kakaknya yang lain belajar di Sekolah Taman Siswa. Sementara kakaknya yang nomor tiga dikirim ke Sekolah Muhammadiyah, juga bukan dengan alasan agar belajar Islam dengan baik, tetapi karena kakaknya yang satu ini tidak diterima baik di sekolah umum atau Protestan. Bapaknya sendiri selalu berkata bahwa semua agama adalah baik, dan sering ikut dalam acara selamatan desa yang biasanya juga menggunakan sejumlah ritual Islam (seperti tahlil, misalnya). Tetapi ia tidak pernah menjadi Muslim. Terhadap pertanyaan yang membingungkan dari gurunya itu, Hersri akhirnya menjawab, “Saya mengikuti semua agama yang ada.” Seluruh murid di kelasnya tertawa. Apakah ini cerminan dari sinkretisme seperti yang disebut di muka? Boleh jadi. Tetapi sikap permisif secara “teologis” ini lama-lama makin pudar, karena proses yang lain juga sedang berlangsung, yaitu apa yang sering disebut sebagai “santri-isasi” orang Jawa. Saya pernah mendengar cerita seorang jemaat Gereja Kristen di kawasan Pulo Mas mengenai proses “baru” yang sedang berlangsung dalam masyarakat Jawa itu. Dahulu, cerita si jemaat ini, jika ada jenazah di desanya (di Madiun), sudah menjadi adat yang lazim bahwa seluruh warga desa dari agama apa pun akan mengurusnya. Sekarang, setelah sejumlah fatwa MUI dikeluarkan mengenai larangan orang Islam terlibat dalam ritual agama lain (termasuk seremoni kematian, tentunya), pelan-pelan orang makin sadar akan “identitasnya” sebagai orang Muslim atau Kristen atau yang lain. Orang Jawa makin menyadari bahwa ada gejala lain yang muncul ke permukaan: gejala untuk menganggap sikap “permisif” secara teologis sebagai hal yang tidak lagi wajar. Proses ini, tampaknya sudah berlangsung sejak lama, meskipun resonansinya baru tampak dengan “keras” akhir-akhir ini. GWJ Drewes (dalam artikel berjudul Indonesia: Mysticism and Activism, yang dimuat dalam buku suntingan Gustave von Grunebaum, Unity and Variety in Muslim Civilization, [1955]), pernah mengemukakan pengamatannya di tahun 50-an mengenai proses Islamisasi di tanah Jawa. Ia mengatakan bahwa, [T]he Islamization of Indonesia is still in progress, not only in the sense that Islam is still spreading among pagan tribes, but also in that peoples who went over to Islam centuries ago are living up more and more to the standard of Muslim orthodoxy. Kecenderungan yang kita lihat akhir-akhir ini tampaknya memang makin cenderung membenarkan apa yang dikatakan oleh Drewes itu. Tetapi semacam caveat tetap harus dikemukakan di sini. Jika kecenderungan makin “ortodoks” di kalangan masyarakat Jawa seperti dikemukakan oleh Drewes itu benar-benar terjadi, maka harus pula dipertimbangkan kenyataan bahwa dalam pemilu tahun lalu, partai- partai Islam mengalami kekalahan yang dramatis. PDI-P yang mempunyai basis luas di kalangan masyarakat Jawa yang abangan, memperoleh suara yang besar. Apakah yang bisa kita simpulkan dari perkembangan baru ini? Tampaknya memang Jawa-Serat-Centhini belum menunjukkan tanda-tanda kepudaran, bahkan mungkin semacam resiliensi baru mulai dikembangkan. Meskipun perkembangan-perkembangan baru yang menuju ke arah Jawa-pasca- Centhini juga mulai memperlihatkan gejalanya. ============ Pethikan “Centhini” pupuh 37. Dhandhanggula, gatra 37 – 49 37 duk uripe neng dunya puniki sadina dina pan wis sakarat miwah sawengi wengine manggung sakaratipun melek turu sakarat ugi mila ngaran sakarat wong neng dunya iku dene ta ing salaminya urip iku neng dunya tan pegat dening layar segara rahmat 39. Ing tepine graitanen ugi dene wus aran iku sagara tanpa tepi supradene kaya na tepinipun ngengkol temen basa puniki kepriye yen kenaa kinira ing kalbu dinuga duga watara saking kira kira mapan datan keni kajaba kang wus wikan 40. Ing tepining ingkang jalanidhi. sagara rahmat kang tanpa ombak nanging gumleger alune samun lamun kadulu sawangane resik tur wening mila kang sami layar tan nganggo parau nyana tan na pakewuhnya yen tinrajang telenge keh parang curi mila arang kang prapta 42. Mampan arang iya angrawuhi ing warnane ya sagara rahmat tur sadina sawengine wong aneng dunya iku alalangen aneng jaladri jroning sagara rahmat prandene arang wruh saking kalingan ing tingal kalimput ing pancabayaning ngaurip mila arang waspada 43. Yen arsa layar maring jaladri sagara rahmat mawia palwa sarta lawan kamudhine pandoman sampun kantun myang layare dipun abecik miwah sanguning marga ywa kirang den agung yen tan mangkono tan prapta ing tepine iya sagara rahmati pan mundhak akangelan 44. Baitane pan eninging galih kemudhine pan anteping tekat sucining kalbu layare pandomanipun iku pituduhe guru sayekti sangune ngelmu rasa lakune parau kalawabn murahing Edat yen tumeka aneng tepining jaladri uga sagara rahmat (badhe kalajengaken menawi taksih wonten ingkang ngersaaken..) Kapethik saking “serat centhini latin 1 Yasandalem kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangkurat III (Ingkang Sinuhun Paku Buwana V) jumeneng ing Surakarta ( 1820 – - 1823 M) kalatinaken miturut aslinipun dening Karkana Kamajaya, Penerbit yayasan Centhini, Yogyakarta, 1991 Kitab Pararaton : Kitab Para Datu / Kisah Ken Angrok by wayang in Kitab & Kidung Tuhan, Pencipta, Pelindung dan Pengakhir Alam, Semoga tak ada halangan, Sudjudku sesempurna sempurnanya. I. Demikian inilah kisah Ken Angrok. Asal mulanja, ia didjadikan manusia: Adalah seorang anak janda di Jiput, bertingkah laku tak baik, memutus – mutus tali kekang kesusilaan, menjadi gangguan Hyang yang bersifat gaib; pergilah ia dari Jiput, mengungsi ke daerah Bulalak. Nama yang dipertuan di Bulalak itu: Mpu Tapawangkeng, ia sedang membuat pintu gerbang asramanya, dimintai seekor kambing merah jantan oleh roh pintu. Kata Tapawangkèng: “Tak akan berhasil berpusing kepala, akhirnya ini akan menjebabkan diriku jatuh kedalam dosa, kalau sampai terjadi aku membunuh manusia, tak akan ada yang dapat menyelesaikan permintaan korban kambing merah itu.” Kemudian orang yang memutus mutus tali kekang kesusilaan tadi berkata, sanggup mejadi korban pintu Mpu Tapawangkeng, sungguh ia bersedia dijadikan korban, agar ini dapat menjadi lantaran untuk dapat kembali ke surga dewa Wisnu dan menjelma lagi didalam kelahiran mulia, ke alam tengah lagi, demikianlah permintaannya. Demikianlah ketika ia direstui oleh Mpu Tapawangkeng, agar dapat menjelma, disetujui inti sari kematiannya, akan menikmati tujuh daerah. Sesudah mati, maka ia dijadikan korban oleh Mpu Tapawangkeng. Selesai itu, ia terbang ke surga Wisnu, dan tidak bolak inti perjanjian yang dijadikan korban, ia meminta untuk dijelmakan di sebelah timur Kawi. Dewa Brahma melihat lihat siapa akan dijadikan temanya bersepasang. Sesudah demikian itu, adalah mempelai baru, sedang cinta mencintai, yang laki laki bernama Gajahpara, yang perempuan bernama Ken Endok, mereka ini bercocok tanam. Ken Endok pergi ke sawah, mengirim suaminya, yalah: si Gadjahpara; nama sawah tempat ia: mengirim : Ayuga; desa Ken Endok bernama Pangkur. Dewa Brahma turun kesitu, bertemu dengan Ken Endok, pertemuan mereka kedua ini terdjadi di ladang Lalaten; dewa Brahma mengenakan perjanjian kepada isteri itu: “Jangan kamu bertemu dengan lakimu lagi, kalau kamu bertemu dengan suamimu, ia akan mati, lagi pula akan tercampur anakku itu, nama anakku itu: Ken Angrok, dialah yang kelak akan memerintah tanah Jawa”. Dewa Brahma lalu menghilang. Ken Endok lalu ke sawah, berjumpa dengan Gajahpara. Kata Ken Endok: “Kakak Gajahpara, hendaknyalah maklumi, saya ditemani didalam pertemuan oleh Hyang yang tidak tampak di ladang Lalateng, pesan beliau kepadaku: jangan tidur dengan lakimu lagi, akan matilah lakimu, kalau ia memaksa tidur dengan kamu, dan akan tercampurlah anakku itu. Lalu pulanglah Gajahpara, sesampainya di rumah Ken Endok diajak tidur, akan ditemani didalam pertemuan lagi. Ken Endok segan terhadap Gajahpara. “Wahai, kakak Gajahpara putuslah perkawinanku dengan kakak, saya takut kepada perkataan Sang Hyang. Ia tidak mengijinkan aku berkumpul dengan kakak lagi.” Kata Gadjahpara: “Adik, bagaimana ini, apa yang harus kuperbuat, nah tak berkeberatan saya, kalau saya harus bercerai dengan kamu; adapun harta benda pembawaanmu kembali kepadamu lagi, adik, harta benda milikku kembali pula kepadaku lagi”. Sesudah itu Ken Endok pulang ke Pangkur di seberang utara, dan Gajahpara tetap bertempat tinggal di Campara di seberang selatan. Belum genap sepekan kemudian matilah Gajahpara. Kata orang yang mempercakapkan: “Luar biasa panas anak didalam kandungan itu, belum seberapa lama perceraian orang tua laki laki perempuan sudah diikuti, orang tua laki laki segera meninggal dunia”. Akhirnja sesudah genap bulannya, lahirlah seorang anak laki-laki, dibuang di kuburan kanak kanak oleh Ken Endok. Selanjutnya ada seorang pencuri, bernama Lembong, tersesat di kuburan anak anak itu, melihat benda bernyala, didatangi oleh Lembong, mendengar anak menangis, setelah didekati oleh Lembong itu, nyatalah yang menyala itu anak yang menangis tadi, diambil diambin dan dibawa pulang diaku anak oleh Lembong. Ken Endok mendengar, bahwa Lembong memungut seorang anak, teman Lembonglah yang memberitakan itu dengan menyebut nyebut anak, yang didapatinya di kuburan kanak kanak, tampak bernyala pada waktu malam hari. Lalu Ken Endok datang kepadanya, sungguhlah itu anaknya sendiri. Kata Ken Endok: “Kakak Lembong, kiranya tuan tidak tahu tentang anak yang tuan dapat itu, itu adalah anak saya, kakak, jika kakak ingin tahu riwayatnya, demikianlah: Dewa Brahma bertemu dengan saya, jangan tuan tidak memuliakan anak itu, karena dapat diumpamakan, anak itu beribu dua berayah satu, demikian persamaannya.” Lembong beserta keluarganya semakin cinta dan senang, lambat laun anak itu akhirnya menjadi besar, dibawa pergi mencuri oleh Lembong. Setelah mencapai usia sebaya dengan anak gembala, Ken Angrok bertempat tinggal di Pangkur. Habislah harta benda Ken Endok dan harta benda Lembong, habis dibuat taruhan oleh Ken Angrok. Kemudian ia menjadi anak gembala pada yang dipertuan di Lebak, menggembalakan sepasang kerbau, lama kelamaan kerbau yang digembalakan itu hilang, kerbau sepasang diberi harga delapan ribu oleh yang dipertuan di Lebak, Ken Angrok sekarang dimarahi oleh orang tua laki laki dan perempuan, kedua duanya: “Nah buyung, kami berdua mau menjadi hamba tanggungan, asal kamu tidak pergi saja, kami sajalah yang akan menjalani, menjadi budak tanggungan pada yang dipertuan di Lebak”. Akhirnya tidak dihiraukan, Ken Angrok pergi, kedua orang tuanya ditinggalkan di Campara dan di Pangkur. Lalu Ken Angrok pergi mencari perlindungan di Kapundungan; Orang yang diungsi dan dimintai tempat berlindung tak menaruh belas kasihan. Ada seorang penjudi permainan Saji berasal dari Karuman, bernama Bango Samparan, kalah bertaruhan dengan seorang bandar judi di Karuman, ditagih tak dapat membayar uang, Bango Samparan itu pergi dari Karuman, berjiarah ke tempat keramat Rabut Jalu, mendengar kata dari angkasa, disuruh pulang ke Karuman lagi. “Kami mempunyai anak yang akan dapat menyelesaikan hutangmu ia bernama Ken Angrok.” Pergilah Bango Samparan dari Rabut Jalu, berjalan pada waktu malam, akhirnya menjumpai seorang anak, dicocokkan oleh Bango Samparan dengan petunjuk Hyang, sungguhlah itu Ken Angrok, dibawa puIang ke Karuman, diaku anak oleh Bango Samparan. Dia itu lalu ketempat berjudi, bandar judi ditemui oleh Bango Samparan dilawan berjudi, kalahlah bandar itu, kembali kekalahan Bango Samparan, memang betul petunjuk Hyang itu, Bango Samparan pulang, Ken Angrok dibawa pulang oleh Bango Samparan. Bango Samparan berbayuh dua orang bersaudara, Genuk Buntu nama istri tuanja. dan Tirtaya nama isteri mudanja. Adapun nama anak anaknya dari isteri muda, yalah Panji Bawuk, anak tengah Panji Kuncang, adiknya ini Panji Kunal dan Panji Kenengkung, bungsu seorang anak perempuan bernama Cucu Puranti. Ken Angrok diambil anak oleh Genuk Buntu. Lama ia berada di Karuman, tidak dapat sehati dengan semua para Panji itu, Ken Angrok berkehendak pergi dari Karuman. Lalu ia ke Kapundungan bertermu dengan seorang anak gembala anak tuwan Sahaja, kepala desa tertua di Sagenggeng, bernama Tuwan Tita; ia bersahabat karib dengan Ken Angrok. Tuwan Tita dan Ken Angrok sangat cinta mencinta, selanjutnya Ken Angrok bertermpat tinggal pada Tuwan Sahaja, tak pernah berpisahlah Ken Angrok dan Tuwan Sahaja itu, mereka ingin tahu tentang bentuk huruf huruf, pergilah ke seorang guru di Sagenggeng, sangat ingin menjadi murid, minta diajar sastera. Mereka diberi pelajaran tentang bentuk bentuk bentuk dan penggunaan pengetahuan tentang huruf huruf hidup dan huruf huruf mati, semua perobahan huruf, juga diajar tentang sengkalan, perincian hari tengah bulan, bulan, tahun Saka, hari enam, hari lima, hari tujuh, hari tiga, hari dua, hari sembilan, nama nama minggu. Ken Angrok dan Tuwan Tita kedua duanya pandai diajar pengetahuan oleh Guru. Ada tanaman guru, menjadi hiasan halaman, berupa pohon jambu, yang ditanamnya sendiri. Buahnya sangat lebat, sungguh padat karena sedang musimnya, dijaga baik tak ada yang diijinkan memetik, tak ada yang berani mengambil buah jambu itu. Kata guru: “Jika sudah masak jambu itu, petiklah”. Ken Angrok sangat ingin, melihat buah jambu itu, sangat dikenang kenangkan buah jambu tadi. Setelah malam tiba waktu orang tidur sedang nyenyak nyenyaknya, Ken Angrok tidur, kini keluarlah kelelawar dari ubun ubun Ken Angrok, berbondong bondong tak ada putusnya, semalam malaman makan buah jambu sang guru. Pada waktu paginya buah jambu tampak berserak serak di halaman, diambil oleh pengiring guru. Ketika guru melihat buah jambu rusak berserakan di halaman itu, maka rnendjadi susah. Kata guru kepada murid murid: “Apakah sebabnya maka jambu itu rusak.” Menjawablah pengiring guru: “Tuanku rusaklah itu, karena bekas kelelawar makan jambu itu”. Kemudian guru mengambil duri rotan untuk mengurung jambunya dan dijaga semalam malaman. Ken Angrok tidur lagi diatas balai balai sebelah selatan, dekat tempat daun ilalang kering, di tempat ini guru biasanya menganyam atap. Menurut penglihatan, guru melihat kelelawar penuh sesak berbondong bondong, keluar dari ubun ubun Ken Angrok, semuanya makan buah jambu guru, bingunglah hati guru itu, merasa tak berdaya mengusir kelelawar yang banyak dan memakan jambunya, marahlah guru itu, Ken Angrok diusir oleh guru, kira kira pada waktu tengah malam guru rnengusirnya. Ken Angrok terperanjat, bangun terhuyung huyung, lalu keluar, pergi tidur di tempat ilalang di luar. Ketika guru menengoknya keluar, ia melihat ada benda menyala di tengah ilalang, guru terperanjat mengira kebakaran, setelah diperiksa yang tampak menyala itu adalah Ken Angrok, ia disuruh bangun, dan pulang, diajak tidur di dalam rumah lagi, menurutlah Ken Angrok pergi tidur di ruang tengah lagi. Pagi paginya ia disuruh mengambil buah jambu oleh guru, Ken Angrok senang. katanya : “Aku mengharap semoga aku menjadi orang, aku akan membalas budi kepada guru.” Lama kelamaan Ken Angrok telah menjadi dewasa, menggembala dengan Tuwan Tita, membuat pondok, bertempat di sebelah timur Sagenggeng, di ladang Sanja, dijadikan tempatnya untuk menghadang orang yang lalu lintas di jalan, dengan Tuwan Titalah temannya. Adalah seorang penyadap enau di hutan orang Kapundungan, mempunyai seorang anak perempuan cantik, ikut serta pergi ke hutan, dipegang oleh Ken Angrok, ditemani didalam pertemuan didalam hutan, hutan itu bernama Adiyuga. Makin lama makin berbuat rusuhlah Ken Angrok, kemudian ia memperkosa orang yang melalui jalan, hal ini diberitakan sampai di negara Daha, bahwasanya Ken Angrok berbuat rusuh itu, maka ia ditindak untuk dilenyapkan oleh penguasa daerah yang berpangkat akuwu, bernama Tunggul Ametung. Pergilah Ken Angrok dari Sagenggêng, mengungsi ke tempat keramat. Rabut Gorontol. “Semoga tergenang didalam air, orang yang akan melenyapkan saya” kutuk Ken Angrok, semoga keluar air dan tidak ada, sehingga terdjadilah tahun tak ada kesukaran di Jawa.” Ia pergi dari Rabut Gorontol, mengungsi ke Wayang, ladang di Sukamanggala. Ada seorang pemikat burung pitpit, ia memperkosa orang yang sedang rnemanggil manggil burung itu, lalu menuju ke tempat keramat Rabut Katu. Ia heran, melihat tumbuh tumbuhan katu sebesar beringin, dari situ lari mengungsi ke Jun Watu, daerah orang sempurna, mengungsi ke Lulumbang, bertempat tinggal pada penduduk desa, keturunan golongan tentara, bernana Gagak Uget. Lamalah ia bertempat tinggal disitu, memerkosa orang yang sedang rnelalui jalan. Ia lalu pergi ke Kapundungan, mencuri di Pamalantenan, ketahuanlah ia, dikejar dikepung, tak tahu kemana ia akan mengungsi, ia memanjat pohon tal, di tepi sungai, setelah siang, diketahui, bahwasanya ia memanjat pohon tal itu, ditunggu orang Kepundungan dibawah, sambil dipukulkan canang, Pohon tal itu ditebang oleh orang-orang yang mengejarnya. Sekarang hi menangis, menyebut nyebut Sang Pentjipta Kebaikan atas dirinya, akhirnya ia mendengar sabda dari angkasa, ia disuruh memotong daun tal, untuk didjadikan sayapnya kiri kanan, agar supaya dapat melayang ke seberang timur, mustahil ia akan mati, lalu ia memotong daun tal mendapat dua helai, dijadikan sayapnya kiri kanan, ia melayang keseberang timur, dan mengungsi ke Nagamasa, diikuti dikejar, mengungsilah ia kedaerah Oran masih juga dikejar diburu, lari mengungsi ke daerah Kapundungan, yang dipertuan di daerah Kapundungan didapatinya sedang bertanam, Ken Angrok ditutupi dengan cara diaku anak oleh yang dipertuan itu. Anak yang dipertuan di daerah itu sedang bertanam, banyaknya enam orang, kebetulan yang seoarang sedang pergi mengeringkan empangan, tinggal 1ima orang; yang sedang pergi itu diganti menanam oleh ken Angrok, datanglah yang mengejarnya, seraya berkata kepada penguasa daerah: “Wahai, tuan kepala daerah, ada seorang perusuh yang kami kejar, tadi mengungsi kemari.” meanjawablah penguasa daerah itu: “Tuan tuan, kami tidak sungguh bohong kami tuan, ia tidak disini; anak kami enam orang, yang sedang bertanam ini genap enam orang, hitunglah sendiri saja, jika lebih dari enam orang tentu ada orang lain disini” Kata orang-orang yang mengejar: “Memang sungguh, anak penguasa daerah enam orang, betul juga yang bertanam itu ada enam orang.” Segera pergilah yang mengejar. Kata penguasa daerah kepada ken Angrok: “Pergilah kamu, buyung, jangan jangan kembali yang mengejar kamu, kalau kalau ada yang membicarakan kata kataku tadi, akan sia sia kamu berlindung kepadaku, pergilah mengungsi ke hutan”. Maka kata ken Angrok: “Semoga berhenti lagilah yang mengejar, itulah sebabnya maka Ken Angrok bersembunyi di dalam hutan, Patangtangan nama hutan itu. Selanjutnya ia mengungsi ke Ano, pergi ke hutan Terwag. ia semakin merusuh. Adalah seorang kepala lingkungan daerah Luki akan melakukan pekerjaan membajak tanah, berangkatlah ia membajak ladang, mempesiapkan. tanahnya untuk ditanami kacang, membawa nasi untuk anak yang menggembalakan lembu kepala Lingkungan itu, dimasukkin kedalam tabung bambu, diletakkan diatas onggokan; sangat asyiklah kepala Lingkungan itu, selalu membajak ladang kacang saja, maka dirunduk diambil dan dicari nasinya oleh Ken Angrok, tiap tiap hari terdjadi demikian itu, kepala Lingkungan bingunglah, karena tiap tiap hari kehilangan nasi untuk anak gembalanya, kata kepala Lingkungan: “Apakah sebabnya maka nasi itu hilang”. Sekarang nasi anak gembala kepala Lingkungan di tempat membajak itu diintai, dengan bersembunyi, anak gembalanya disuruh membajak, tak lama kemudian Ken Angrok datang dari dalam hutan, maksud Ken Angrok akan mengambil nasi, ditegor oleh kepala lingkungan: “Terangnya, kamulah, buyung, yang nengambil nasi anak gembalaku tiap tiap hari itu,” Ken Angrok menjawab: “Betullah tuan kepala lingkungan, saya inilah yang mengambil nasi anak gembala tuan tiap-tiap hari, karena saya lapar, tak ada yang kumakan..” Kata kepala Lingkungan: “Nah buyung. datanglah ke asramaku, kalau kamu lapar, mintalah nasi tiap tiap hari, memang saya tiap tiap hari mengharap ada tamu datang”. Lalu Ken Angrok diajak pergi ke rumah tempat tinggal kepala lingkungan itu, dijamu dengan nasi dan lauk pauk. Kata kepala lingkungan kepada isterinya: “Nini batari, saya berpesan kepadamu, kalau Ken Angrok datang kemari, meskipun saya tak ada di rumah juga, lekas lekas terima sebagai keluarga, kasihanilah ia” diceriterakan, Ken Angrok tiap tiap hari datang, seperginya dari situ menuju ke Lulumbang, ke banjar Kocapet. Ada seorang kepala lingkungan daerah Turyantapada, ia pulang dari Kebalon, bernama Mpu Palot, ia adalah tukang emas, berguru kepada kepala desa tertua di Kebalon yang seakan akan sudah berbadankan kepandaian membuat barang barang emas dengan sesempurna sesempurnanya, sungguh ia telah sempurna tak bercacad, Mpu Palot pulang dari Kebalon, membawa beban seberat lima tahil, berhenti di Lulumbang, Mpu Palot itu takut akan pulang sendirian ke Turyantapada, karena ada orang dikhabarkan melakukan perkosaan di jalan, bernama Ken Angrok. Mpu Palot tidak melihat orang lain, ia berjumpa dengan Ken Angrok di tempat beristirahat. Kata ken Angrok kepada Mpu Palot: ,,Wahai, akan pergi kemanakah tuanku ini,” Kata Mpu, menjawabnya: “Saya sedang bepergian dari Kebalon, buyung, akan pulang ke Turyantapada, saya takut di jalan, memikir mikir ada orang yang melakukan perkosaan dijalan, bernama Ken Angrok”. Tersenyumlah Ken Angrok: “Nah Tuan, anaknda ini akan menghantarkan pulang tuan, anaknda nanti yang akan melawan kalau sampai terdjadi berjumpa dengan orang yang bernama ken Angrok itu, laju sajalah tuan pulang ke Turyantapada, jangan khawatir.” Mpu di Tuyantapada itu merasa berhutang budi mendengar kesanggupan Ken Angrok. Setelah datang di Turyantapada, Ken Angrok diajar ilmu kepandaian membuat barang barang emas, lekas pandai, tak kalah kalau kesaktiannya dibandingkan dengan Mpu Palot, selanjutnya Ken Angrok diaku anak oleh Mpu Palot, itulah sebabnya asrama Turyantapada dinamakan daerah Bapa. Demikianlah Ken Angrok mengaku ayah kepada Mpu Palot, karena masih ada kekurangan Mpu Palot itu, maka Ken Angrok disuruhi pergi ke Kebalon oleh Mpu Palot, disuruh menyempurnakan kepandaiaan membuat barang barang emas pada orang tertua di Kebalon, agar dapat menyelesaikan bahan yang ditinggalkan oleh bapak kepala lingkungan. Ken Angrok berangkat menuju ke Kebalon, tidak dipercaya Ken Angrok itu oleh penduduk di Kebalon. Ken Angrok lalu marah : “Semoga ada lobang di tempat orang yang hidup menepi ini,” Ken Angrok menikam, orang lari mengungsi kepada kepala desa tertua di Kebalon, dipanggil berkumpul petapa petapa yang berada di Kebalon semua, para guru Hyang, sampai pada para punta, semuanya keluar, membawa pukul perunggu, bersama sama mengejar dan memukul Ken Angrok dengan pukulan perunggu itu, maksud para petapa itu akan memperlihatkan kehendaknya untuk membunuh Ken Angrok. Segera mendengar suara dari angkasa: “Jangan kamu bunuh orang itu, wahai para petapa, anak itu adalah anakku, masih jauh tugasnya di alam tengah ini.” Demikan1ah suara dari angkasa, terdengar oleh para petapa. Maka ditolong Ken Angrok, bangun seperti sedia kala. Ken Angrok lalu mengenakan kutuk: “Semoga tak ada petapa di sebelah timur Kawi yang tidak sempurna kepandaianya membuat benda-benda emas”. Ken Angrok pergi dari Kebalon, mengungsi ke Turyantapada, ke daerah lingkungan Bapa; sempurnalah kepandaiannya tentang emas. Ken Angrok pergi dari lingkungan Bapa menuju ke daerah desa Tugaran, Kepala tertua di Tugaran tidak menaruh belas digangguilah orang Tugaran oleh Ken Angrok, arca penjaga pintu gerbangnya didukung diletakkan di daerah lingkungan Bapa, kemudian dijumpai anak perempuan kepala tertua di Tugaran itu, sedang menanam kacang di sawah kering. Gadis ini lalu ditemani didalam pertemuan oleh Ken Angrok, lama kelamaan tanaman kacang menghasilkan berkampit kampit; inilah sebabnya pula maka kacang Tugaran benihnya mengkilat besar dan gurih. Ia pergi dari Tugaran pulang ke daerah Bapa lagi. Kata ken Angrok: “Kalau saja kelak menjadi orang, saya akan memberi perak kepada yang dipertuan di daerah Bapa ini. Di kota Daha dikabarkan tentang Ken Angrok, bahwa ia merusuh dan bersembunyi di Turyantapada, dan Daha, Diadakan tindakan untuk melenyapkannya, ia dicari oleh orang orang Daha, pergilah dari daerah Bapa menuju ke gunung Pustaka. Ia pergi dari situ, mengungsi ke Limbehan, kepala tertua di Limbehan menaruh belas kasihanlah dimintai perlindungan oleh Ken Angrok itu, akhirnya Ken Angrok berjiarah ke tempat keramat Rabut Gunung Panitikan. Kepadanya turun petunjuk dewa, disuruh pergi ke Rabut Gunung Lejar pada hari Rebo Wage, minggu Wariga pertama, para dewa bermusyawarah berrapat; Demikian ini kata seorang nenek kebayan di Panitikan: “Saya akan membantu menyembunyikan kamu, buyung, agar supaya tak ada yang akan tahu, saya akan menyapu di Gunung Lejar pada waktu semua dewa dewa bermusyawarah.” Demikian kata nenek kebayan di Panitikan itu. Ken Angrok lari menuju ke Gunung Lejar, hari Rebo Wage, minggu Wariga pertama tiba, ia pergi ke tempat musyawarah. Ia bersembunyi di tempat sampah ditimbuni dengan semak belukar oleh nenek kebayan Panitikan. Lalu berbunyilah suara tujuh nada, guntur, petir, gempa guruh, kilat, taufan, angin ribut, hujan bukan masanya, tak ada selatnya sinar dan cahaya, maka demikian itu ia mendengar suara tak ada hentinya, berdengung dengung bergemuruh. Adapun inti musyawarah para dewa: “Yang rnemperkokoh nusa Jawa, daerah manalah mestinya.” Demikianlah kata para dewa, saling mengemukakan pembicaraan: “Siapakah yang pantas menjadi raja di pulau Jawa,” demikian pertanyaan para dewa semua. Menjawablah dewa Guru: “Ketahuilah dewa dewa semua, adalah anakku, seorang manusia yang lahir dari orang Pangkur, itulah yang memperkokoh tanah Jawa.” Kini keluarlah Ken Angrok dari tempat sampah, dilihat, oleh para dewa; semua dewa menjetujui, ia direstui bernama nobatan Batara Guru, demikian itu pujian dari dewa dewa, yang bersorak sorai riuh rendah. Diberi petunjuklah Ken Angrok agar mengaku ayah kepada seorang brahmana yang bernama Sang Hyang Lohgawe. dia ini baru saja dari Jambudipa, disuruh menemuinya di Taloka. Itulah asal mulanja ada brahmana di sebelah timur Kawi. Pada waktu ia menuju ke Jawa, tidak berperahu. hanya menginjak rumput kekatang tiga potong, setelah mendarat dari air, lalu menuju ke daerah Taloka, dang Hyang Lohgawe berkeliling mencari Ken Angrok. Kata Dang Hyang Lohgawe: “Ada seorang anak, panjang tangannya melampaui lutut, tulis tangan kanannya cakera dan yang kiri sangka, bernana Ken Angrok. Ia tampak pada waktu aku memuja, ia adalah penjelmaan Dewa Wisnu, pemberitahuannya dahulu di Jambudwipa, demikian: “Wahai Dang Hyang Lohgawe, hentikan kamu memuja arca Wisnu, aku telah tak ada disini, aku telah menjelma pada orang di Jawa, hendaknya kamu mengikuti aku di tempat perjudian.” Tak lama kemudian Ken Angrok didapati di tempat perjudian, diamat amati dengan baik baik, betul ia adalah orang yang tampak pada Dang Hyang Lohgawe sewaktu ia memuja. Maka ia ditanyai. Kata Dang Hyang Lohgawe: “Tentu buyunglah yang bernama Ken Angrok, adapun sebabnya aku tahu kepadamu, karena kamu tampak padaku pada waktu aku memuja”. Menjawablah Ken Angrok: “Betul tuan, anaknda bernama Ken Angrok.” Dipeluklah ia oleh brahmana itu. Kata Dang Hyang Lohgawe: “Kamu saya aku anak, buyung, kutemani pada waktu kesusahan dan kuasuh kemana saja kamu pergi.” Ken Angrok pergi dari Taloka, menuju ke Tumapel, ikut pula brahmana itu. Setelah ia datang di Tumapel, tibalah saat yang sangat tepat, ia sangat ingin menghamba pada akuwu. kepala daerah di Tumapel yang bernama Tunggul Ametung. Dijumpainya dia itu, sedang dihadap oleh hamba hambanya, Kata Tunggul Ametung: “Selamatlah tuanku brahmana, dimana tempat asal tuan, saya baru kali ini melihat tuan.” Menjawablah Dang Hyang Lohgawe: Tuan Sang Akuwu, saya baru saja datang dari seberang, saja ini sangat ingin menghamba kepada sang akuwu”. Menjawablah Tunggul Ametung: “Nah, senanglah saya, kalau tuan Dang Hyang dapat bertempat tinggal dengan tenteram pada anaknda ini”. Demikianlah kata Tunggul Ametung. Lamalah Ken Angrok menghamba kepada Tunggul Ametung yang berpangkat akuwu di Tumapel itu, Kemudian adalah seorang pujangga, pemeluk agama Budha, menganut aliran Mahayana, bertapa di ladang orang Panawijen, bernama Mpu Purwa. Ia mempunyai seorang anak perempuan tunggal, pada waktu ia belum menjadi pendeta Mahayana. Anak perempuan itu luar biasa cantik moleknja bernama Ken Dedes. Dikabarkan, bahwa ia ayu, tak ada yang menyamai kecantikannya itu, termasyur di sebelah timur Kawi sampai Tumapel. Tunggul Ametung mendengar itu, lalu datang di Panawijen, langsung menuju ke desa Mpu Purwa, bertemu dengan Ken Dedes; Tunggul Ametung sangat senang melihat gads cantik itu. Kebetulan Mpu Purwa tak ada di pertapaannya, sekarang Ken Dedes sekonyong konyong dilarikan oleh Tunggu1 Ametung. Setelah Mpu Purwa pulang dari bepergian, ia tidak rnenjumpai anaknya, sudah dilarikan oleh Akuwu di Tumapel; ia tidak tahu soal yang sebenarnya, maka Mpu Purwa menjatuhkan serapah yang tidak baik: “Nah, semoga yang melarikan anakku tidak lanjut mengenyam kenikmatan, semoga ia ditusuk keris dan diambil isterinya, demikian juga orang orang di Panawidjen ini, semoga menjadi kering tempat mereka mengambil air, semoga tak keluar air kolamnya ini, dosanya: mereka tak mau memberitahu, bahwa anakku dilarikan orang dengan paksaan. Demikian kata Mpu Purwa: ,,Adapun anakku yang menyebabkan gairat dan bercahaya terang, kutukku kepadanya, hanya: semoga ia mendapat keselamatan dan kebahagiaan besar.” Demikian kutuk pendeta Mahayana di Panawidjen. Setelah datang di Tumapel, ken Dedes ditemani seperaduar oleh Tunggul Ametung, Tunggul Ametung tak terhingga cinta kasihnya, baharu saja Ken Dedes menampakkan gejala gejala mengandung, Tunggul Ametung pergi bersenang senang, bercengkerama berserta isterinya ke taman Boboji; Ken Dedes turun dari kereta kebetulan disebabkan karena nasib, tersingkap betisnya, terbuka sampai rahasianya, lalu kelihatan bernyala oleh Ken Angrok, terpesona ia melihat, tambahan pula kecantikannya memang sempurna, tak ada yang menyamai kecantikannya itu, jatuh cintalah Ken Angrok, tak tahu apa yang akan diperbuat. Setelah Tunggul Ametung pulang dari bercengkerama itu, Ken Angrok memberitahu kepada Dang Hyang Lohgawe, berkata: “Bapa Dang Hyang, ada seorang perempuan bernyala rahasianya, tanda perempuan yang bagaimanakah demikian itu, tanda buruk atau tanda baikkah itu”. Dang Hyang menjawab: ” Siapa itu, buyung”. Kata Ken Angrok: ” Bapa, memang ada seorang perempuan, yang kelihatan rahasianya oleh hamba”. Kata Dang Hyang: “Jika ada perempuan yang demikian, buyung, perempuan itu namanya: Nawiswari, ia adalah perempuan yang paling utama, buyung, berdosa, jika memperisteri perempuan itu, akan menjadi maharaja.” Ke Angrok diam, akhirnya berkata: “Bapa Dang Hyang, perempuan yang bernyala rahasianya itu yalah isteri sang akuwu di Tumapel, jika demikian akuwu, saya akan bunuh dan saya ambil isterinya, tentu ia akan mati, itu kalau tuan mengijinkan.” Jawab Dang Hyang: ” Ya, tentu matilah, buyung, Tunggul Ametung olehmu, hanya saja tidak pantas memberi ijin itu kepadamu, itu bukan tindakan seorang pendeta, batasnya adalah kehendakmu sendiri.” Kata Ken Angrok: “Jika demikian, Bapa, hamba memohon diri kepada tuan.” Sang Brahmana menjawab: “Akan kemana kamu buyung?” Ken Angrok menjawab: ” Hamba pergi ke Karuman, ada seorang penjudi yang mengaku anak kepada hamba bernama Bango Samparan, ia cinta kepada hamba, dialah yang akan hamba mintai pertimbangan, mungkin ia akan menyetujuinya.” Kata Dang Hyang: “Baiklah kalau demikian, kamu jangan tinggal terlalu lama di Karuman, buyung.” Kata Ken Angrok: “Apakah perlunya hamba lama disana.” Ken Angrok pergi dari Tumapel, sedatangnya Karuman, bertemu dengan Bango Samparan. “Kamu ini keluar dari mana, lama tidak datang kepadaku, seperti didalam impian saja bertemu dengan kamu ini, lama betul kamu pergi.” Ken Angrok menjawab: “Hamba berada di Tumapel, Bapa, menghamba pada sang akuwu. Adapun sebabnya hamba datang kepada tuan, adalah seorang isteri akuwu, turun dari kereta, tersingkap rahasianya, kelihatan bernyala oleh hamba. Ada seorang brahmana yang baru saja datang di Jawa, bernama Dang Hyang Lohgawe, ia mengaku anak kepada hamba, hamba bertanya kepadanya: “Apakah nama seorang perempuan yang menyala rahasianya itu.” Kata Sang Brahmana: “Itu yang disebut seorang perempuan ardana reswari, sungguh baik tanda itu, karena siapa saja yang memperisterinya, akan dapat menjadi maharaja.” Bapa Bango, hamba ingin menjadi raja, Tunggul Ametung akan hamba bunuh, isterinya akan hamba ambil, agar supaya anaknda menjadi raja, hamba minta persetujuan Bapa Dang Hyang, Kata Dang Hyang: “Buyung Angrok, tidak dapat seorang brahmana memberi persetujuan kepada orang yang mengambil isteri orang lain, adapun batasnya kehendakmu sendiri.” Itulah sebabnya hamba pergi ke Bapa Bango, untuk meminta ijin kepada bapa, sang akuwu akan hamba bunuh dengan rahasia, tentu akuwu mati oleh hamba.” Menjawablah Bango Samparan: “Nah, baiklah kalau demikian, saya memberi ijin, bahwa kamu akan menusuk keris kepada Tunggul Ametung dan mengambil isterinya itu, tetapi hanya saja, buyung Angrok, akuwu itu sakti, mungkin tidak dapat luka, jika kamu tusuk keris yang kurang bertuah. Saya ada seorang teman, seorang pandai keris di Lulumbang, bernama Mpu Gandring, keris buatannya bertuah, tak ada orang sakti terhadap buatannya, tak perlu dua kali ditusukkan, hendaknyalah kamu menyuruh membuat keris kepadanya, jikalau keris ini sudah selesai dengan itulah hendaknya kamu membunuh Tunggul Ametung secara rahasia.” Demikian pesan Bango Samparan kepada Ken Angrok. kata Ken Angrok: “Hamba memohon diri, Bapa, akan pergi ke Lulumbang.” Ia pergi dari Karuman, lalu ke Lulumbang, bertemu dengan Gandring yang sedang bekerja di tempat membuat keris. Ken Angrok datang lalu bertanya: “Tuankah barangkali yang bernama Gandring itu, hendaknyalah hamba dibuatkan sebilah keris yang dapat selesai didalam waktu lima bulan, akan datang keperluan yang harus hamba lakukan.” Kata Mpu Gandring: “Jangan lima bulan itu, kalau kamu menginginkan yang baik, kira – kira setahun baru selesai, akan baik dan matang tempaannya,” Ken Angrok berkata: “Nah, biar bagaimana mengasahnya, hanya saja, hendaknya selesai didalam lima bulan.” Ken Angrok pergi dari Lulumbang, ke Tumapel bertemu dengan Dang Hyang Lohgawe yang bertanya kepada Ken Angrok: “Apakah sebabnya kamu lama di Tumapel itu.” Sesudah genap lima bulan, ia ingat kepada perjanjiannya, bahwa ia menyuruh membuatkan keris kepada Mpu Gandring. Pergilah ia ke Lulumbang, bertemu dengan Mpu Gandring yang sedang mengasah dan memotong motong keris pesanan Ken Angrok. Kata Ken Angrok: “Manakah pesanan hamba kepada tuan Gandring.” Menjawablah Gandring itu: “Yang sedang saya asah ini, buyung Angrok.” Keris diminta untuk dilihat oleh Ken Angrok. Katanya dengan agak marah: “Ah tak ada gunanya aku menyuruh kepada tuan Gandring ini, bukankah belum selesai diasah keris ini, memang celaka, inikah rupanya yang tuan kerjakan selama lima bulan itu.” Menjadi panas hati Ken Angrok, akhirnya ditusukkan kepada Gandring keris buatan Gandring itu. Lalu diletakkan pada lumpang batu tempat air asahan, lumpang berbelah menjadi dua, diletakkan pada landasan penempa, juga ini berbelah menjadi dua. Kini Gandring berkata: “Buyung Angrok, kelak kamu akan mati oleh keris itu, anak cucumu akan mati karena keris itu juga, tujuh orang raja akan mati karena keris itu.” Sesudah Gandring berkata demikian lalu meninggal. Sekarang Ken Angrok tampak menyesal karena Gandring meninggal itu, kata Ken Angrok: “Kalau aku menjadi orang, semoga kemulianku melimpah, juga kepada anak cucu pandai keris di Lulumbang.” Lalu pulanglah Ken Angrok ke Tumapel. Ada seorang kekasih Tunggul Ametung, bernama Kebo Hijo, bersahabat dengan Ken Angrok, cinta mencintai. Pada waktu itu Kebo Hijo melihat bahwa Ken Angrok menyisip keris baru, berhulu kayu cangkring masih berduri, belum diberi perekat, masih kasar, senanglah Kebo Hijo melihat itu. Ia berkata kepada Ken Angrok: ” Wahai kakak, saya pinjam keris itu.” Diberikan oleh Ken Angrok, terus dipakai oleh Kebo Hijo, karena senang memakai melihatnya itu. Lamalah keris Ken Angrok dipakai oleh Kebo Hijo, tidak orang Tumapel yang tidak pernah melihat Kebo Hijo menyisip keris baru dipinggangnya. Tak lama kemudian keris itu dicuri oleh Ken Angrok dan dapat diambil oleh yang mencuri itu. Selanjutnya Ken Angrok pada waktu malam hari pergi kedalam rumah akuwu, saat itu baik, sedang sunyi dan orang orang tidur, kebetulan juga disertai nasib baik , ia menuju ke peraduan Tunggul Ametung, tidak terhalang perjalanannya, ditusuklah Tunggul Ametung oleh Ken Angrok, tembus jantung Tunggul Ametung, mati seketika itu juga. Keris buatan Gandring ditinggalkan dengan sengaja. Sekarang sesudah pagi pagi keris yang tertanam didada Tunggul Ametung diamat amati orang, dan oleh orang yang tahu keris itu dikenal keris Kebo Hijo yang biasa dipakai tiap tiap hari kerja. Kata orang Tumapel semua: “Terangnya Kebo Hijolah yang membunuh Tunggul Ametung dengan secara rahasia, karena memang nyata kerisnya masih tertanam didada sang akuwu di Tumapel. Kini Kebo Hijo ditangkap oleh keluarga Tunggul Ametung, ditusuk dengan keris buatan Gandring, meninggallah Kebo Hijo. Kebo Hijo mempunyai seorang anak, bernama Mahisa Randi, sedih karena ayahnya meninggal, Ken Angrok menaruh belas kasihan kepadanya, kemana mana anak ini dibawa, karena Ken Angrok luar biasa kasih sayangnya terhadap Mahisa Randi. Selanjutnya Dewa memang telah menghendaki, bahwasanya Ken Angrok memang sungguh sungguh menjadi jodoh Ken Dedes, lamalah sudah mereka saling hendak menghendaki, tak ada orang Tumapel yang berani membicarakan semua tingkah laku Ken Angrok, demikian juga semua keluarga Tunggul Ametung diam, tak ada yang berani mengucap apa apa, akhirnya Ken Angrok kawin dengan Ken Dedes. Pada waktu ditinggalkan oleh Tunggul Ametung, dia ini telah mengandung tiga bulan, lalu dicampuri oleh Ken Angrok. Ken Angrok dan Ken Dedes sangat cinta mencintai. Telah lama perkawinannya. Setelah genap bulannya Ken Dedes melahirkan seorang anak laki laki, lahir dari ayah Tunggul Ametung, diberi nama Sang Anusapati dan nama kepanjangannya kepanjiannya Sang Apanji Anengah. Setelah lama perkawinan Ken Angrok dan Ken Dedes itu, maka Ken Dedes dari Ken Angrok melahirkan anak laki laki, bernama Mahisa Wonga Teleng, dan adik Mahisa Wonga Teleng bernama Sang Apanji Saprang, adik panji Saprang juga laki laki bernama Agnibaya, adik Agnibaya perempuan bernama Dewi Rimbu, Ken Angrok dan Ken Dedes mempunyai empat orang anak. Ken Angrok mempunyai isteri muda bernama Ken Umang, ia melahirkan anak laki laki bernama panji Tohjaya, adik panji Tohjaya, bernama Twan Wregola, adik Twan Wregola perempuan bernama Dewi Rambi. Banyaknya anak semua ada 9 orang, laki laki 7 orang, perempuan 2 orang. Sudah dikuasailah sebelah timur Kawi, bahkan seluruh daerah sebelah timur Kawi itu, semua takut terhadap Ken Angrok, mulailah Ken Angrok menampakkan keinginannya untuk menjadi raja, orang orang Tumapel semua senang, kalau Ken Angrok menjadi raja itu. Kebetulan disertai kehendak nasib, raja Daha, yalah raja Dandhang Gendis, berkata kepada para bujangga yang berada di seluruh wilayah Daha, katanya: “Wahai, tuan tuan bujangga pemeluk agama Siwa dan agama Budha, apakah sebabnya tuan tuan tidak menyembah kepada kami, bukanlah kami ini semata mata Batara Guru.” Menjawablah para bujangga di seluruh daerah negara Daha: “Tuanku, semenjak jaman dahulu kala tak ada bujangga yang menyembah raja.” demikianlah kata bujangga semua. Kata Raja Dandhang Gendis: “Nah, jika semenjak dahulu kala tak ada yang menyembah, sekarang ini hendaknyalah kami tuan sembah, jika tuan tuan tidak tahu kesaktian kami, sekarang akan kami beri buktinya.” Kini Raja Dandhang Gendis mendirikan tombak, batang tombak itu dipancangkan kedalam tanah, ia duduk di ujung tombak, seraya berkata: “Nah, tuan tuan bujangga, lihatlah kesaktian kami.” Ia tampak berlengan empat, bermata tiga, semata mata Batara Guru perwujudannya, para bujangga di seluruh daerah Daha diperintahkan menyembah, semua tidak ada yang mau, bahkan menentang dan mencari perlindungan ke Tumapel, menghamba kepada Ken Angrok. Itulah asal mulanya Tumapel tak mau tahu negara Daha. Tak lama sesudah itu Ken Angrok direstui menjadi raja di Tumapel, negaranya bernama Singasari, nama nobatannya Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi, disaksikan oleh para bujangga pemeluk agama Siwa dan Budha yang berasal dari Daha, terutama Dang Hyang Lohgawe, ia diangkat menjadi pendeta istana, adapun mereka yang menaruh belas kasihan kepada Ken Angrok, dahulu sewaktu ia sedang menderita, semua dipanggil, diberi perlindungan dan diberi belas balasan atas budi jasanya, misalnya Bango Samparan, tidak perlu dikatakan tentang kepala lingkungan Turyantapada, dan anak anak pandai besi Lulumbang yang bernama Mpu Gandring, seratus pandai besi di Lulumbang itu diberi hak istimewa di dalam lingkungan batas jejak bajak beliung cangkulnya. Adapun anak Kebo Hijo disamakan haknya dengan anak Mpu Gandring. Anak laki laki Dang Hyang Lohgawe, bernama Wangbang Sadang, lahir dari ibu pemeluk agama Wisnu, dikawinkan dengan anak Bapa Bango yang bernama Cucu Puranti, demikianlah inti keutamaan Sang Amurwabumi. Sangat berhasillah negara Singasari, sempurna tak ada halangan. Telah lama terdengar berita, bahwa Ken Angrok sudah menjadi raja, diberitahulah raja Dandhang Gendis, bahwa Ken Angrok bermaksud akan menyerang Daha. Kata Raja Dandhang Gendis: “Siapakah yang akan mengalahkan negara kami ini, barangkali baru kalah, kalau Batara Guru turun dari angkasa, mungkin baru kalah.” Diberi tahulah Ken Angrok, bahwa raja Dandhang Gedis berkata demikian. Kata Sang Amurwabumi: “Wahai, para bujangga pemeluk Siwa dan Budha, restuilah kami mengambil nama nobatan Batara Guru.” Demikianlah asal mulanya ia bernama nobatan Batara Guru, direstui oleh bujangga brahmana dan resi. Selanjutnya ia lalu pergi menyerang Daha. Raja Dandhang Gendis mendengar, bahwa Sang Amurwabumi di Tumapel datang menyerang Daha, Dandhang Gendis berkata: “Kami akan kalah, karena Ken Angrok sedang dilindungi Dewa.” Sekarang tentara Tumapel bertempur melawan tentara Daha, berperang disebelah utara Ganter, bertemu sama sama berani, bunuh membunuh, terdesaklah tentara Daha. Adik Raja Dandhang Gendis gugur sebagai pahlawan, ia bernama Mahisa Walungan, bersama sama dengan menterinya yang perwira, bernama Gubar Baleman. Adapun sebabnya itu gugur, karena diserang bersama sama oleh tentara Tumapel, yang berperang laksana banjir dari gunung. Sekarang tentara Daha terpaksa lari, karena yang menjadi inti kekuatan perang telah kalah. Maka tentara Daha bubar seperti lebah, lari terbirit birit meninggalkan musuh seperti kambing, mencabut semua payung payungnya, tak ada yang mengadakan perlawanan lagi. Maka Raja Dandhang Gendis mundur dari pertempuran, mengungsi ke alam dewa, bergantung gantung di angkasa, beserta dengan kuda, pengiring kuda, pembawa payung, dan pembawa tempat sirih, tempat air minum, tikar, semuanya naik ke angkasa. Sungguh kalah Daha oleh Ken Angrok. Dan adik adik Sang Dandhang Gendis, yalah: Dewi Amisam, Dewi Hasin, dan Dewi Paja diberi tahu, bahwa raja Dandhang Gendis kalah berperang, dan terdengar, ia telah di alam dewa, bergantung gantung di angkasa, maka tuan dewi ketiga tiganya itu menghilang bersama sama dengan istananya juga. Sesudah Ken Angrok menang terhadap musuh, lalu pulang ke Tumapel, dikuasailah tanah Jawa olehnya, ia sebagai raja telah berhasil mengalahkan Daha pada tahun saka : 1144. Lama kelamaan ada berita, bahwa sang Anusapati, anak tunggal Tunggul Ametung bertanya tanya kepada pengasuhnya. “Hamba takut terhadap ayah tuan”, demikian kata pengasuh itu: “Lebih baik tuan berbicara dengan ibu tuan”. Karena tidak mendapat keterangan, Nusapati bertanya kepada ibunya: “Ibu, hamba bertanya kepada tuan, bagaimanakah jelasnya ini?” Kalau ayah melihat hamba, berbeda pandangannya dengan kalau ia melihat anak anak ibu muda, semakin berbeda pandangan ayah itu.” Sungguh sudah datang saat Sang Amurwabumi. Jawab Ken Dedes: “Rupa rupanya telah ada rasa tidak percaya, nah, kalau buyung ingin tahu, ayahmu itu bernama Tunggul Ametung, pada waktu ia meninggal, saya telah mengandung tiga bulan, lalu saya diambil oleh Sang Amurwabumi.: Kata Nusapati: “Jadi terangnya, ibu, Sang Amurwabumi itu bukan ayah hamba, lalu bagaimana tentang meninggalnya ayah itu?” “Sang Amurwabumi buyung yang membunuhnya.” Diamlah Ken Dedes, tampak merasa membuat kesalahan karena memberi tahu soal yang sebenarnya kepada anaknya. Kata Nusapati: “Ibu, ayah mempunyai keris buatan Gandring. itu hamba pinta, ibu.” Diberikan oleh Ken Dedes. Sang Anusapati memohon diri pulang ke tempat tinggalnya. Adalah seorang hambanya berpangkat pengalasan di Batil, dipanggil oleh Nusapati, disuruh membunuh Ken Angrok, diberi keris buatan Gandring, agar supaya dipakainya untuk membunuh Sang Amurwabumi, orang di Batil itu disanggupi akan diberi upah oleh Nusapati. Berangkatlah orang Batil masuk kedalam istana, dijumpai Sang Amurwabumi sedang bersantap, ditusuk dengan segera oleh orang Batil. Waktu ia dicidera, yalah: Pada hari Kamis Pon, minggu Landhep, saat ia sedang makan, pada waktu senjakala, matahari telah terbenam, orang telah menyiapkan pelita pada tempatnya. Sesudah Sang Amurwabumi mati, maka larilah orang Batil, mencari perlindungan pada Sang Anusapati, kata orang Batil: “Sudah wafatlah ayah tuan oleh hamba.” Segera orang Batil ditusuk oleh Nusapati. Kata orang Tumapel: “Ah, Batara diamuk oleh pengalasan di Batil, Sang Amurwabumi wafat pada tahun saka 1168, dicandikan di Kagenengan. Sesudah demikian, sang Anusapati mengganti menjadi raja, ia menjadi raja pada tahun Saka 1170. Lama kelamaan diberitakan kepada Raden Tohjaya, anak Ken Angrok dari isteri muda, sehingga ia mendengar segala tindakan Anusapati, yang mengupahkan pembunuhan Sang Amurwabumi kepada orang Batil. Sang Apanji Tohjaya tidak senang tentang kematian ayahnya itu, meikir mikir mencari cara untuk membalas, agar supaya ia dapat membunuh Anusapati. Anusapati tahu, bahwasanya ia sedang direncana oleh Panji Tohjaya, berhati hatilah Sang Anusapati, tempat tidurnya dikelilingi kolam, dan pintunya selalu dijaga orang, sentosa dan teratur. Setelah lama kemudian Sang Apanji Tohjaya datang menghadap dengan membawa ayam jantan pada Batara Anuspati. Kata Apanji Tohjaya: “Kakak, ada keris ayah buatan Gandring, itu hamba pinta dari tuan.” Sungguh sudah tiba saat Batara Anuspati. Diberikan keris buatan Gandring oleh Sang Anusapati, diterima oleh Apanji Tohjaya, disisipkan dipinggangnya, lalu kerisnya yang dipakai semula, diberikan kepada hambanya. Kata Apanji Tohjaya: “Baiklah, kakak mari kita menyiapkan ayam jantan untuk segera kita ajukan di gelanggang.” Menjawablah Sang Adipati: “Baiklah, adik.” Selanjutnya ia menyuruh kepada hamba pemelihara ayam mengambil ayam jantan, kata Anusapati: “Nah, adik mari mari kita sabung segera.”, “Baiklah” kata Apanji Tohjaya. Mereka bersama sama memasang taji sendiri – sendiri, telah sebanding, Sang Anusapati asyik sekali. Sungguh telah datang saat berakhirnya, lupa diri, karena selalu asyik menyabung ayamnya, ditusuk keris oleh Apanji Tohjaya. Sang Anusapati wafat pada tahun Saka 1171, dicandikan di Kidal. III. Apanji Tohjaya menjadi raja di Tumapel. Sang Anusapati mempunyai seorang anak laki laki bernama Ranggawuni, hubungan keluarganya dengan Apanji Tohjaya adalah kemenakan. Mahisa Wonga Teleng, saudara Apanji Tohjaya, sama ayah lain ibu, mempunyai anak laku laki, yalah: Mahisa Campaka, hubungan keluarganya dengan Apanji Tohjaya adalah kemenakan juga. Pada waktu Apanji Tohjaya duduk diatas tahta, disaksikan oleh orang banyak, dihadap oleh menteri menteri, semua terutama Pranaraja, Ranggawuni beserta Kebo Campak juga menghadap. Kata Apanji Tohjaya: “Wahai, menteri menteri semua, terutama Pranaraja, lihatlah kemenakanku ini, luar biasa bagus dan tampan badannya. Bagaimana rupa musuhku diluar Tumapel ini, kalau dibandingkan dengan orang dua itu, bagaimanakah mereka, wahai Pranaraja.” Pranaraja menjawab sambil menyembah: “Betul tuanku, seperti titah tuanku itu, bagus rupanya dan sama sama berani mereka berdua, hanya saja tuanku, mereka dapat diumpamakan sebagai bisul di pusat perut tak urung akan menyebabkan mati akhirnya.” Paduka batara itu lalu diam, sembah Pranaraja makin terasa, Apanji Tohjaya menjadi marah, lalu ia memanggil Lembu Ampal, diberi perintah untuk melenyapkan kedua bangsawan itu. Kata Apanji Tohjaya kepada Lembu Ampal: “Jika kamu tidak berhasil melenyapkan dua orang kesatriya itu, kamulah yang akan kulenyapkan.” Pada waktu Apanji Tohjaya, memberi perintah kepada Lembu Ampal melenyapkan dua bangsawan itu, ada seorang brahmana yang sedang melakukan upacara agama sebagai pendeta istana untuk Apanji Tohjaya. Dang Hyang itu mendengar, bahwa kedua bangsawan itu disuruh melenyapkan. Sang Brahmana menaruh belas kasihan kepada dua bangsawan, lalu memberi tahu: “Lembu Ampal diberi perintah untuk melenyapkan tuan berdua, kalau tuan kalian dapat lepas dari Lembu Ampal ini, maka Lembu Ampallah yang akan dilenyapkan oleh Seri Maharaja.” Kedua bangsawan itu berkata: “Wahai Dang Hyang, bukanlah kami tidak berdosa.” Sang Brahmana menjawab: “Lebih baik tuan bersembunyi dahulu.” Karena masih dibimbangkan, kalau kalau brahmana itu bohong, maka kedua bangsawan itu pergi ke Apanji Patipati. Kata bangsawan itu: “Panji Patipati, kami bersembunyi di dalam rumahmu, kami mengira, bahwa kami akan dilenyapkan oleh Batara, kalau memang akan terjadi kami dilenyapkan itu, kami tidak ada dosa.” Setelah itu maka Apanji Patipati mencoba mendengar dengarkan: “Tuan, memang betul, tuan akan dilenyapkan, Lembu Ampal lah yang mendapat tugas.” Keduanya makin baik cara bersembunyi, dicari, kedua duanya tak dapat diketemukan. Didengar dengarkan, kemana gerangan mereka pergi, tak juga dapat terdengar. Maka Lembu Ampal didakwa bersekutu dengan kedua bangsawan itu oleh Batara. Sekarang Lembu Ampal ditindak untuk dilenyapkan, larilah ia, bersembunyi di dalam rumah tetangga Apanji Patipati. Lembu Ampal mendengar, bahwa kedua bangsawan berada di tempat tinggal Apanji Pati Pati. Lembu Ampal pergi menghadap kedua bangsawan, kata Lembu Ampal kepada kedua bangsawan itu: “Hamba berlindung kepada tuan hamba, dosa hamba: disuruh melenyapkan tuan oleh Batara. Sekarang hamba minta disumpah, kalau tuan tidak percaya, agar supaya hamba dapat menghamba paduka tuan dengan tenteram.” Setelah disumpah dua hari kemudian Lembu Ampal menghadap kepada kedua bangsawan itu: “Bagaimanakah akhirnya tuan, tak ada habis habisnya terus menerus bersembunyi ini, sebaiknya hamba akan menusuk orang Rajasa, nanti kalau mereka sedang pergi kesungai.” Pada waktu sore Lembu Ampal menusuk orang Rajasa, ketika orang berteriak, ia lari kepada orang Sinelir. Kata orang Rajasa: “Orang Sinelir menusuk orang Rajasa. Kata orang Sinelir: “Orang Rajasa menusuk orang Sinelir.” Akhirnya orang orang Rajasa dan orang orang Sinelir itu berkelahi, bunuh membunuh sangat ramainya, dipisah orang dari istana, tidak mau memperhatikan. Apanji Tohjaya marah, dari kedua golongan ada yang dihukum mati. Lembu Ampal mendengar, bahwa dari kedua belah pihak ada yang dilenyapkan, maka Lembu Ampal pergi ke Orang Rajasa. Kata Lembu Ampal: “Kalau kamu ada yang akan dilenyapkan hendaknyalah kamu mengungsi kepada kedua bangsawan, karena kedua bangsawan itu masih ada.” Orang orang Rajasa menyatakan kesanggupannya: “Nah, bawalah kami hamba hamba ini menghadapnya, wahai Lembu Ampal.” Maka ketua orang Rajasa dibawa menghadap kepada kedua bangsawan. Kata orang Rajasa itu: “Tuanku, hendaknyalah tuan lindungi hamba hamba Rajasa ini, apa saja yang menjadi tuan titah, hendaknyalah hamba tuan sumpah, kalau kalau tidak sungguh sungguh kami menghamba ini, kalau tidak jujur penghambaan kami ini.” Demikian pula orang Sinelir, dipanggilah ketuanya, sama kesanggupannya dengan orang Rajasa, selanjutnya kedua belah pihak telah didamaikan dan telah disumpah semua, lalu dipesan: “Nanti sore hendaknya kamu datang kemari, dan bawalah temanmu masing masing, hendaknyalah kamu memberontak meluka lukai di dalam istana.” Orang Sinelir dan orang Rajasa bersama sama memohon diri. Setelah sore hari orang orang dari kedua belah pihak datang membawa teman temannya, bersama sama menghadap kepada kedua bangsawan, mereka keduanya saling mengucap selamat datang, lalu berangkat menyerbu kedalam istana. Apanji Tohjaya sangat terperanjat, lari terpisah, sekali gus kena tombak. Sesudah huru hara berhenti, ia dicari oleh hamba hambanya, diusung dan dibawa lari ke Katanglumbang. Orang yang mengusung lepas cawatnya, tampak belakangnya. Kata Apanji Tohjaya kepada orang yang memikul itu: “Perbaikilah cawatmu, karena tampak belakangmu.” Adapun sebabnya ia tidak lama menjadi raja itu, karena pantat itu. Setelah datang di Lumbangkatang, wafatlah ia, lalu dicandikan di Katanglumbang, ia wafat pada tahun Saka 1172. IV. Kemudian Ranggawuni menjadi raja, ia dengan Mahisa Campaka dapat diumpamakan seperti dua ular naga didalam satu liang. Ranggawuni bernama nobatan Wisnuwardana, demikanlah namanya sebagai raja, Mahisa Campaka menjadi Ratu Angabhaya, bernama nobatan Batara Narasinga. Sangat rukunlah mereka, tak pernah berpisah. Batara Wisnuwardana mendirikan benteng di Canggu sebelah utara pada tahun Saka 1193. Ia berangkat menyerang Mahibit, untuk melenyapkan Sang Lingganing Pati. Adapun sebabnya Mahibit kalah, karena kemasukkan orang yang bernama Mahisa Bungalan. Sri Ranggawuni menjadi raja lamanya 14 tahun, ia wafat pada tahun 1194, dicandikan di Jajagu. Mahisa Campaka wafat, dicandikan di Kumeper, sebagian abunya dicandikan di Wudi Kuncir. V. Sri Ranggawuni meninggalkan seorang anak laki laki, bernama Sri Kertanegara, Mahisa Campaka meninggalkan seorang anak laki laki juga, bernama Raden Wijaya. Kertanegara menjadi Raja, bernama nobatan Batara Siwabuda. Adalah seorang hambanya, keturunan orang tertua di Nangka, bernama Banyak Wide, diberi sebutan Arya Wiraraja, rupa rupanya tidak dipercaya, dijatuhkan, disuruh menjadi Adipati di Sungeneb, bertempat tinggal di Madura sebelah timur. Ada Patihnya, pada waktu ia baru saja naik keatas tahta kerajaan, bernama Mpu Raganata, ini selalu memberi nasehat untuk keselamatan raja, ia tidak dihiraukan oleh Sri Kertanegara, karenanya itu Mpu Raganata lalu meletakkan jabatan tak lagi menjadi Patih, diganti oleh Kebo Tengah Sang Apanji Aragani. Mpu Raganata lalu menjadi Adiyaksa di Tumapel. Sri Kertanegara pada waktu memerintah, melenyapkan seorang kelana bernama Baya. Sesudah kelana itu mati, ia memberi perintah kepada hamba rakyatnya, untuk pergi menyerang Melayu. Apanji Aragani menghantarkan, sampai di Tuban ia kembali, sedatangnya di Tumapel Sang Apanji Aragani mempersembahkan makanan tiap tiap hari, raja Kertanegara bersenang senang. Ada perselisihannya dengan raja Jaya Katong, raja di Daha, ini menjadi musuh raja Kertanegara, karena lengah terhadap usaha musuh yang sedang mencari kesempatan dan ketepatan waktu, ia tidak memikir kesalahannya. Banyak Wide berumur 40 tahun pada peristiwa penyerangan Melayu itu, ia berteman dengan raja Jaya Katong, Banyak Wide yang bergelar Arya Wiraraja itu dari Madura, mengadakan hubungan dan berkirim utusan. Demikian juga raja Jaya Katong berkirim utusan ke Madura. Wiraraja berkirim surat kepada raja Jaya Katong, bunyi surat: “Tuanku, patik baginda bersembah kepada paduka raja, jika paduka raja bermaksud akan berburu di tanah lapang lama, hendaknyalah paduka raja sekarang pergi berburu, ketepatan dan kesempatan adalah baik sekali, tak ada bahaya, tak ada harimau, tak ada banteng, dan ularnya, durinya, ada harimau, tetapi tak bergigi.” Patih tua Raganata itu yang dinamakan harimau tak bergigi, karena sudah tua. Sekarang raja Jaya Katong berangkat menyerang Tumapel. Tentaranya yang datang dari sebelah utara Tumapel terdiri dari orang orang yang tidak baik, bendera dan bunyi bunyian penuh, rusaklah daerah sebelah utara Tumapel, mereka yang melawan banyak yang menderita luka. Tentara Daha yang melalui jalan utara itu berhenti di Memeling. Batara Siwa Buda senantiasa minum minuman keras, diberi tahu bahwa diserang dari Daha, ia tidak percaya, selalu mengucapkan kata: “Bagaimana dapat raja Jaya Katong demikian terhadap kami, bukanlah ia telah baik dengan kami.” Setelah orang membawa yang menderita luka, barulah ia percaya. Sekarang Raden Wijaya ditunjuk untuk berperang melawan tentara yang datang dari sebelah utara Tumapel, disertai oleh para arya terkemuka: Banyak Kapuk, Rangga Lawe, Pedang Sora, Dangdi Gajah Pangon, anak Wiraraja yang bernama Nambi, Peteng dan Wirot, semua prajurit baik, melawan tentara Daha di bagian utara itu, dikejar diburu oleh Raden Wijaya. Kemudian turunlah tentara besar besar dari Daha yang datang dari tepi sungai Aksa, menuju ke Lawor, mereka ini tak diperbolehkan membikin gaduh, tidak membawa bendera, apalagi bunyi bunyian, sedatangnya di Sidabawana langsung menuju Singasari. Yang menjadi prajurit utama dari tentara Daha sebelah selatan ini, yalah: Patih Daha Kebo Mundarang, Pudot dan Bowong. Ketika Batara Siwa Buda sedang minum minuman keras bersama sama dengan patih, maka pada waktu itu ia dikalahkan, semua gugur, Kebo Tengah yang melakukan pembalasan, meninggal di Manguntur. VI. Raden Wijaya yang diceritakan ke utara tersebut diberi tahu, bahwa Batara Siwa Buda wafat, karena tentara Daha turun dari selatan, patih tua juga telah gugur, semua mengikuti jejak batara. Segera Raden Wijaya kembali, beserta hamba hambanya, berlari lari ke Tumapel, melakukan pembalasan, tidak berhasil, bahkan terbalik, dikejar, diburu oleh Kebo Mundarang, Raden Wijaya naik keatas, mengungsi di Sawah Miring, maksud Kebo Mundarang akan menusuknya dengan tombak, Raden Wijaya menyepak tanah bekas di tenggala, dada Kebo Mundarang sampai mulanya penuh lumpur, ia mundur sambil berkata: “Aduh, memang sungguh dewalah tuanku ini.” Sekarang Raden Wijaya membagi bagi cawat kain ikat berwarna merah, diberikan kepada hamba hambanya, masing masing orang mendapat sehelai, ia bertekad untuk mengamuk. Yang mendapat bagian, yalah: Sora, Rangga Lawe, Pedang, Dangdi dan Gajah Sora, segera menyerang, banyak orang Daha yang mati. Kata Sora: “Sekarang ini, tuan, hendaknyalah menyerang, sekarang baik kesempatan dan saatnya.” Raden Wijaya lekas lekas menyerang, semakin banyak orang Daha yang mati, mereka lalu mundur, diliputi malam, akhirnya berkubu. Pada waktu sunyi orang telah tidur, dikejar dan diamuk lagi oleh Raden Wijaya, sekarang orang orang Daha bubar, banyak yang tertusuk oleh tombak temannya sendiri, repotlah orang prang Daha itu larinya. Batara Siwa Buda mempunyai dua orang anak perempuan, mereka ini akan dikawinkan dengan Raden Wijaya, demikianlah maksud Batara Siwa Buda itu, kedua duanya ditawan oleh orang Daha, puteri yang muda berpisah dengan puteri yang tua, tidak menjadi satu arah larinya, berhubung dengan kerepotan orang Daha, disebabkan Raden Wijaya mengamuk itu. Pada waktu malam tampak api unggun orang Daha bernyala dan oleh Raden Wijaya, yang segera dikenal, bahwa itu adalah puteri yang tua. Lekas lekaslah diambil oleh Raden Wijaya, lalu berkata: “Nah, Sora, marilah mendesak mengamuk lagi, agar dapat bertemu dengan puteri muda.” Sora berkata: “Janganlah tuan, bukankah adik tuan yang tua sudah tuan temukan, berapakah jumlah hamba tuanku sekarang ini.” Jawab Raden Wijaya: “Justru karena itu.” Maka Sora berkata lagi: “Lebih baik tuanku mundur saja, karena kalau memaksa mengamuk, seandainya berhasil itu baik, kalau adik tuanku yang muda dapat ditemukan, kalau tidak dapat ditemukan, kita akan seperti anai anai menyentuh pelita.” Sekarang mereka mundur, puteri bangsawan didukung, semalam malaman mereka berjalan ke utara, keesokan harinya dikejar oleh orang Daha, terkejar disebelah selatan Talaga Pager. Orang orangnya ganti berganti tinggal dibelakang, untuk berperang, menghentikan orang Daha. Gajah Pagon kena tombak tembus pahanya, tetapi masih dapat berjalan. Kata Raden Wijaya: “Gajah Pagon, masih dapatkah kamu berjalan, kalau tidak dapat, mari kita bersama sama mengamuk.” “masih dapatlah hamba, tuanku, hanya saja hendaknya perlahan lahan.” Orang orang Daha tidak begitu giat mengejarnya, kemudian mereka kembali di Talaga Pager. Raden Wijaya masuk belukar, keluar belukar seperti ayam hutan, dan hamba hambanya yang mengiring semua, ganti berganti mendukung puteri bangsawan. Akhirnya hamba hambanya bermusyawarah, membicarakan tentang keadaan Raden Wijaya. Setelah putus pembicaraannya, semuanya bersama sama berkata: “Tuanku, sembah hamba hamba tuanku semua ini, bagaimana akhir tuanku yang masuk belukar dan keluar belukar seperti ayam hutan itu, pendapat hamba semua, lebih baik tuanku pergi ke Madura Timur, hendaknyalah tuanku mengungsi kepada Wiraraja, dengan pengharapan agar ia dapat dimintai bantuan, mustahil ia tidak menaruh belas kasihan, bukankah ia dapat menjadi besar itu karena ayah tuanku almarhum yang menjadi lantarannya.” Kata Raden: “Itu baik, kalau ia menaruh belas kasihan, kalau tidak, saya akan sangat malu.” Jawab Sora, Rangga Lawe dan Nambi serentak dengan suara bersama: “Bagaimana dapat Wiraraja melengos terhadap tuanku.” Itulah sebabnya Raden Wijaya menurut kata kata hambanya. Mereka keluar dari dalam hutan, datang di Pandakan, menuju ke orang tertua di Pandakan, bernama Macankuping. Raden Wijaya minta diberi kelapa muda, setelah diberi, diminum airnya, ketika dibelah, ternyata berisi nasi putih. Heranlah yang melihat itu. Kata orang: “Ajaib benar, memang belum pernah ada kelapa muda berisi nasi.” Gajah Pagon tak dapat berjalan lagi, kata Raden Wijaya: “Orang tua di Pandakan, saya menitipkan satu orang, Gajah Pagon ini tidak dapat berjalan, hendaknyalah ia tinggal di tempatmu.” Kata orang Pandakan: ” Aduh, tuanku. itu akan tidak baik kalau sampai terjadi Gajah Pagon didapati disini, mustahil akan ada hamba yang menyetujui di Pandakan, kehendak hamba, biarlah ia berada di dalam pondok di hutan saja, di ladang tempat orang menyabit ilalang, di tengah tengahnya setelah dibersihkan, dibuatkan sebuah dangau, sunyi, tad ada seorang hamba yang mengetahui, hamba di Pandakan nanti yang akan memberi makan tiap tiap hari.” Gajah Pagon lalu ditinggalkan, Raden Wijaya selanjutnya menuju ke Datar, pada waktu malam hari. Sesampainya di Datar, lalu naik perahu. Tentara Daha lalu kembali pulang. Puteri yang muda masih terus ditawan, dibawa ke Daha, dipersembahkan kepada raja Jaya Katong. Ia senang diberi tahu tentang Batara Siwa Buda wafat. Raden Wijaya menyeberang ke Utara, turun di daerah perbatasan Sungeneb, bermalam di tengah tengah sawah yang baru saja habis disikat, pematangnya tipis. Sora lalu berbaring meniarap, Raden Wijaya dan puteri bangsawan itu duduk diatasnya. Pagi harinya melanjutkan perjalanannya ke Sungeneb, beristirahat di dalam sebuah balai panjang. hamba hamba disuruh melihat lihat, kalau kalau Wiraraja sedang duduk dihadap hamba hambanya. Kembalilah mereka yang disuruh itu, memang Wiraraja sedang dihadap. Berangkatlah raden Wijaya menuju tempat Wiraraja dihadap, terperanjatlah Wiraraja melihat Raden itu, Wiraraja turun, lalu masuk kedalam rumah, bubarlah yang menghadap. Terhenti hati Raden Wijaya, berkata kepada Sora dan Ranggalawe: “nah, apakah kataku, saya sangat malu, lebih baik aku mati pada waktu aku mengamuk dahulu itu.” Maka ia kembali ke balai panjang, kemudian Wiraraja datang menghadap, berbondong bondong dengan seisi rumah, terutama isterinya, bersama sama membawa sirih dan pinang. Kata Ranggalawe: “Nah, tuanku, bukankah itu Wiraraja yang datang menghadap kemari.” Maka senanglah hati Raden Wijaya. Isteri Adipati mempersembahkan sirih kepada Raden Wijaya. Wiraraja itu meminta, agar Raden Wijaya masuk di perumahan Adipati. Sang puteri bangsawan naik kereta, isteri Wiraraja semua berjalan kaki, mengiring puteri bangsawan itu, dan Wiraraja mengiring Raden Wijaya. Setelah datang di rumah tempat Wiraraja tidur. Raden Wijaya dihadap didalam balai nomor dua sebelah luar, ia menceriterakan riwayat bagaimana sang batara yang gugur ditengah tengah minum minuman keras itu meninggal dunia, juga menceriterakan bagaimana ia mengamuk orang Daha. Berkatalah Wiraraja: “Sekarang ini, apakah yang menjadi kehendak tuan.” Raden Wijaya menjawab: “Saya minta persekutuanmu, jika sekiranya ada belas kasihanmu.” Sembah Wiraraja: “Janganlah tuanku khawatir, hanya saja hendaknya tuan bertindak perlahan lahan.” Selanjutnya Wiraraja mempersembahkan kain, sabuk dan kain bawah, semuanya dibawa oleh isteri isterinya, terutama isteri pertamanya. Kata Raden: “Bapa Wiraraja, sangat besar hutangku kepadamu, jika tercapailah tujuanku, akan kubagi menjadi dua tanah Jawa nanti, hendaknyalah kamu menikmati seperduanya, saya seperdua.” Kata Wiraraja: “bagaimana saja, tuanku, asal tuanku dapat menjadi raja saja.” Demikianlah janji Raden Wijaya kepada Wiraraja. Luar biasa pelayanan Wiraraja terhadap Raden Wijaya, tiap tiap hari mempersembahkan makanan, tak usah dikatakan tentang ia mempersembahkan minuman keras. Lamalah Raden Wijaya bertempat tinggal di Sungeneb. Disitu Arya Wiraraja berkata: “Tuanku hamba mengambil muslihat, hendaknya tuanku pergi menghamba kepada raja Jaya Katong, hendaknyalah tuan seakan akan minta maaf dengan kata kata yang mengandung arti tunduk, kalau sekiranya raja Jaya Katong tak berkeberatan, tuan menghamba itu, hendaknyalah tuan lekas lekas pindah bertempat tinggal di Daha, kalau rupanya sudah dipercaya, hendaknyalah tuan memohon hutan orang Terik kepada raja Jaya Katong, hendaknyalah tuan membuat desa disitu, hamba hamba Maduralah yang akan menebang hutan untuk dijadikan desa, tempat hamba hamba Madura yang menghadap tuanku dekat. Adapun maksud tuanku menghamba itu, agar supaya tuan dapat melihat lihat orang orang raja Jaya Katong, siapa yang setia, yang berani, yang penakut, yang pandai, terutama juga hendaknyalah tuan ketahui sifat sifat Kebo Mundarang, sesudah itu semua dapat diukur, hendaknyalah tuanku memohon diri pindah ke hutan orang Terik yang sudah dirubah menjadi desa oleh hamba hamba Madura itu, masih ada perlunya lagi, yalah: “Jika ada hamba hamba tuanku yang berasal dari Tumapel ingin kembali menghamba lagi kepada tuan, hendaknyalah tuan terima, meskipun hamba hamba dari Daha juga, jika mereka ingin mencari perlindungan kepada tuan, hendaknyalah tuan lindungi, jika semua itu sudah, maka tentara Daha tentu terkuasai oleh tuanku. Sekarang hamba akan berkirim surat kepada raja Jaya Katong.” Berangkatlah orang yang disuruh mengantarkan surat, menyeberang ke selatan, menghadap raja Jaya Katong, mempersembahkan surat itu. Adapun bunyi surat: “Tuanku, patik baginda memberi tahu, bahwa cucu paduka baginda mohon ampun, ingin takluk kepada paduka baginda, hendaknyalah paduka baginda maklum, terserah apakah itu diperkenankan atau tidak diperkenankan oleh paduka tuan.” Kata Raja Jaya Katong: “Mengapa kami tidak senang, kalau buyung Arsa Wijaya akan menghamba kepada kami.” Selanjutnya disuruh kembalilah utusan itu untuk menyampaikan kata katanya. Setelah utusan datang lalu menyampaikan perintah. Surat telah dibaca dimuka Raden Wijaya dan dimuka dimuka Wiraraja. Wiraraja senang. Segera Raden Wijaya kembali ke Pulau Jawa, diiring oleh hamba hambanya, dihantarkan oleh orang orang Madura, dan Wiraraja juga menghantarkan kembali di Terung. Setelah datang di Daha, ia dengan tenteram dapat menghadap raja Jaya Katong, sangat dicintai. Ketika ia datang di Daha, kebetulan tepat pada hari raya Galungan, hamba hambanya disuruh oleh raja untuk mengambil bagian didalam pertandingan, menteri menteri Daha sangat heran, karena orang orang itu baik semua, terutama Sora, Rangga Lawe, Nambi, Pedang dan Dangdi, mereka bersama sama lari ketempat pertandingan di Manguntur negara Daha. Bergantilah menteri menteri Daha lari, diantaranya yang merupakan perjurit utama, yalah: Panglet, Mahisa Rubuh dan Patih Kebo Mundarang, mereka ketiga tiganya kalah cepat larinya dengan Rangga Lawe dan Sora. Lama kelamaan Raja Jaya Katong mengadakan pertandingan tusuk menusuk, “Puteraku Arsa Wijaya, hendaknyalah kamu ikut bermain tusuk menusuk, kami ingin melihat, menteri menteri kamilah yang akan menjadi lawanmu.” Jawab Raden Wijaya: “Baiklah tuanku.” Bertandinglah mereka tusuk menusuk itu, riuh rendah suara bunyi bunyian, orang yang melihat penuh tak ada selatnya, orang orang raja Jaya Katong sering kali terpaksa lari. Kata raja Jaya Katong: “Pintalah buyung Arsa Wijaya, jangan ikut serta, siapakah yang berani melawan tuannya.” Raden Wijaya berhenti, kini sepadanlah pertandingan tusuk menusuk itu, kejar mengejar, kemudian Sora menuju ke arah Kebo Mundarang, Rangga Lawe menuju Panglet dan Nambi menuju ke Mahisa Rubuh, akhirnya terpaksa lari menteri menteri Daha itu menghadapi orang orang Raden Wijaya, tak ada yang mengadakan pembalasan, lalu bubar. Sekarang Raden Wijaya telah melihat, bahwa menteri menteri Daha dikalahkan oleh orang orangnya. Lalu ia berkirim surat kepada Wiraraja, selanjutnya Wiraraja menyampaikan pesan, agar Raden Wijaya memohon hutan orang Terik. Raja Jaya Katong memperkenankan. Inilah asal usul orang mendirikan desa di hutan orang Terik. Ketika desa sedang dibuat oleh orang orang Madura, ada orang yang lapar karena kurang bekalnya pada waktu ia menebang hutan, ia makan buah maja, merasa pahit, semua dibuanglah buah maja yang diambilnya itu, terkenal ada buah maja pahit rasanya, tempat itu lalu diberi nama Majapahit. Raden Wijaya telah dapat memperhitungkan keadaan Daha. Majapahit telah berupa desa. Orang orang Wiraraja yang mengadakan hubungan dengan Daha, beristirahat di Majapahit. Wiraraja berkirim pesan kepada Raden Wijaya, bagaimana caranya memohon diri kepada raja Jaya Katong. Sekarang Raden Wijaya meminta ijin pindah ke Majapahit. Raja Jaya Katong memperkenankannya, lengah karena rasa sayang dan karena kepandaian Raden Wijaya menghamba itu, seperti sungguh sungguh. Setelah Raden Wijaya pindah ke Majapahit, lalu memberi tahu kepada Wiraraja, bahwa menteri menteri Daha telah dapat dikuasai olehnya dan oleh hamba hambanya semua. Raden Wijaya mengajak Wiraraja menyerang Daha, Wiraraja menahan, berkata kepada utusannya: “Jangan tergesa gesa, masih ada muslihat saya lagi, hendaknyalah kamu wahai utusan, bersembah kepada tuanmu, saya ini berteman dengan raja Tatar, itu akan kutawari puteri bangsawan, hendaknyalah kamu utusan, pulang ke Majapahit sekarang. Sepergimu saya akan berkirim surat ke Tatar. Ada perahuku, itu akan saya suruh ikut serta ke Tatar, agar supaya menyampaikan ajakan menyerang Daha. Jika raja Daha telah kalah, maka seluruh pulau Jawa tak ada yang menyamai, itu nanti dapat dimiliki oleh raja Tatar, demikian itu penipuanku terhadap raja Tatar. Hendaknyalah kamu memberi tahu kepada Sang Pangeran, bahwasanya ini agar supaya raja itu mau ikut serta mengalahkan Daha.” Utusan pulang kembali ke Majapahit, Raden Wijaya senang diberi tahu semua pesan Wiraraja itu. Sesudah utusan kembali, Wiraraja lalu berkirim utusan ke Tatar. Wiraraja pindah ke Majapahit, seisi rumah dan membawa tentara dari Madura, yalah semua orang Madura yang baik dibawa beserta senjatanya. Setelah utusan datang dari Tatar, lalu menyerang Daha. Tentara Tatar keluar dari sebelah utara, tentara Madura dan Majapahit keluar dari timur, Raja Katong bingung, tak tahu mana yang harus dijaga. Kemudian diserang dengan hebat dari utara oleh tentara Tatar. Kebo Mundarang, Panglet dan Mahisa Rubuh menjaga tentara dari timur. Panglet mati oleh Sora, Kebo rubuh mati oleh Nambi, Kebo Mundarang bertemu dengan Rangga Lawe, terpaksa larilah Kebo Mundarang, dapat dikejar di lembah Trinipati, akhirnya mati oleh Rangga Lawe, Kebo Mundarang berpesan kepada Rangga Lawe: “Wahai Rangga Lawe, saya mempunyai seorang anak perempuan, hendaknyalah itu diambil oleh Ki Sora sebagai anugerah atas keberaniannya.” Raja Jaya Katong yang bertempur ke Utara, bersenjatakan perisai, diserang bersama sama oleh orang orang Tatar, akhirnya tertangkap dan dipenjara oleh orang Tatar. Raden Wijaya lekas lekas masuk kedalam istana Daha, untuk melarikan puteri bangsawan yang muda, lalu dibawa ke Majapahit, sedatangnya di Majapahit orang orang Tatar datang untuk meminta puteri puteri bangsawan, karena Wiraraja telah menyanggupkan itu, jika Daha telah kalah, akan memberikan dua orang puteri bangsawan yang berasal dari Tumapel, kedua duanya semua. Maka bingunglah para menteri semua, mencari cari kesanggupan lain, Sora berkata: “Nah, saya saja yang akan mengamuk bilamana orang orang Tatar datang kemari.” Arya Wiraraja menjawab: “Sesungguhnya, wahai buyung Sora, masih ada muslihatku lagi.” Maka dicari dicarilah kesanggupan kesanggupan. Itulah yang dimusyawarahkan oleh menteri menteri. Sora menyatakan kesanggupannya: ” Tak seberapa kalau saya mengamuk orang orang Tatar.” Pada waktu sore hari, waktu matahari sudah condong ke barat, orang orang Tatar datang meminta puteri puteri bangsawan. Wiraraja menjawab: “Wahai, orang orang Tatar semua, janganlah kamu kalian tergesa gesa, puteri puteri raja itu sedang sedih, karena telah cemas melihat tentara tentara pada waktu Tumapel kalah, lebih lebih ketika Daha kalah, sangat takut melihat segala yang serba tajam. Besok pagi saja mereka akan diserahkan kepada kamu, ditempatkan kedalam kotak, diusung, dihias dengan kain kain, dihantarkan ke perahumu, sebabnya mereka ditempatkan didalam peti itu, karena mereka segan melihat barang barang yang tajam, dan yang menerimanya puteri puteri bangsawan itu, hendaknyalah jangan orang Tatar yang jelek, tetapi orang orang yang bagus jangan membawa teman, karena janji puteri puteri bangsawan itu, kalau sampai terjadi melihat yang serba tajam, meskipun sudah tiba diatas perahu, mereka akan terjun kedalam air, bukankah akan sia sia saja, bahwasanya kalian telah mempertaruhkan jiwa itu, jika puteri puteri bangsawan ini sampai terjadi terjun kedalam air.” Percayalah orang orang Tatar, ditipu itu. Kata seorang Tatar: “Sangat betul perkataan tuan.” Sesudah datang saat perjanjian menyerahkan puteri puteri bangsawan itu, orang orang Tatar datang berbondong bondong meminta puteri puteri bangsawan, semua tak ada yang membawa senjata tajam. Setelah mereka masuk kedalam pintu Bayangkara, orang orang Tatar itu ditutupi pintu, dikunci dari luar dan dari dalam, Sora telah menyisipkan keris pada pahanya. Sekonyong konyong orang orang Tatar diamuk oleh Sora, habis, mati semua. Ranggalawe mengamuk kepada mereka yang berada di luar balai tempat orang menghadap, dikejar sampai ketempat kemana saja mereka lari, kemuara Canggu, diikuti dan dibunuh. Kira kira sepuluh hari kemudian, mereka yang pergi berperang, datang dari Malayu, mendapat dua orang puteri, yang seorang dikawin oleh Raden Wijaya, yalah yang bernama Raden Dara Pethak, adapun yang tua bernama Dara Jingga, kawin dengan seorang Dewa, melahirkan seorang anak laki laki menjadi raja di Malayu, bernama Tuhan Janaka, nama nobatannya: Sri Warmadewa alias Raja Mantrolot. Peristiwa Malayu dan Tumapel itu bersamaan waktunya pada tahun Saka: Pendeta Sembilan Bersamadi atau 1197. Raja Katong naik diatas tahta kerajaan di Daha pada tahun Saka: Ular Muka Dara Tunggal atau 1198. Setelah Raka Katong datang di Junggaluh ia mengarang kidung: Wukir Polaman, selesai mengarang kidung ia wafat. VII. Sekarang Raden Wijaya menjadi raja pada tahun Saka: Rasa Rupa Dua Bulan atau 1216. Kemudian ia mempunyai seorang anak laki laki dari Dara Pethak, nama kesatriyannya: Raden Kalagemet. Adapun dua orang anak perempuan Batara Siwa Buda, yang dibayang bayangkan kepada orang Tatar, keduanya itu juga dikawin oleh Raden Wijaya, yang tua menjadi ratu di Kahuripan, yang muda menjadi ratu di Daha. Nama nobatan Raden Wijaya pada waktu menjadi raja: Sri Kertarajasa. Didalam tahun pemerintahannya ia mendapat penyakit bisul berbengkak. Ia wafat di Antapura, wafat pada tahun 1257. VIII. Raden Kalagemet menggantikannya menjadi raja, nama nobatannya: Batara Jayanagara. Sri Siwa Buda dicandikan di Tumapel, nama resmi candi: Purwa Patapan. Berdiri candi itu berselat 17 tahun dengan peristiwa Ranggalawe. Ranggalawe akan dijadikan patih, tetapi urung, itulah sebabnya maka ia mengadakan pemberontakan di Tuban, dan mengadakan perserikatan dengan kawan kawannya. Telah terjadi orang orang Tuban di gunung sebelah utara dimasukkan didalam perserikatannya , mereka itu semua menaruh perhatian kepada Ranggalawe. Nama orang orang yang menyetujuinya, yalah: Panji Marajaya, Ra Jaran Waha, Ra Arya Sidi, Ra Lintang, Ra Tosan, Ra Galatik, Ra Tati, mereka itu teman teman Ranggalawe pada waktu berontak. Adapun sebabnya ia pergi dari Majapahit itu, merebut kedudukan, Mahapati menjalankan fitnah dengan bahan kata kata Ranggalawe: “Jangan banyak bicara, didalam kitab Partayadnya ada tempat untuk penakut penakut.” Setelah terdengar, bahwa Ranggalawe berontak, Mahapatih-lah yang memberi memberi tahu hal itu, maka raja Jayanagara marah, semua teman teman Ranggalawe didalam pemberontakan itu mati, hanya Ra Gelatik yang masih hidup, karena ia disuruh berbalik hati. Peristiwa Ranggalawe itu pada tahun saka: Kuda Bumi Sayap Orang, atau 1217. Wiraraja memohon diri untuk bertempat tinggal di Lamajang, yang luasnya tiga daerah juru, karena Raden Wijaya telah berjanji akan membagi dua Pulau Jawa, dan akan menganugerahkan daerah lembah Lumajang sebelah selatan dan utara beserta daerah tiga juru. Telah lama itu dinikmati oleh Wiraraja, Nambi masih menjadi patih, Sora menjadi Demung dan Tipar menjadi Tumenggung. Tumenggung pada waktu itu lebih rendah dari pada Demung. Wiraraja tidak kembali ke Majapahit, ia tidak mau menghamba. Setelah berselat tiga tahun dari peristiwa Ranggalawe maka terjadilah peristiwa Sora. Sora difitnah oleh Mahapati, dan Sora ini dapat dilenyapkan, dibunuh oleh Kebo Mundarang, pada tahun saka: Baba Tangan Orang atau 1222. Juga Nambi difitnah oleh Mahapati, jasa jasa perangnya tidak diperhatikan, pada waktu ia melihat saat yang tepat dan baik, ia memohon diri untuk meninjau Wiraraja yang menderita sakit. Sri Jayanagara memberi ijin, hanya saja tidak diperkenankan pergi lama lama. Nambi tak datang kembali, menetap di Lembah, mendirikan benteng, menyiapkan tentara. Wiraraja meninggal dunia. Sri Jayanagara menjadi raja, lamanya dua tahun. Ada peristiwa gunung meletus, yalah gunung Lungge pada tahun saka: Api Api Tangan Satu atau : 1233. Selanjutnya terjadi peristiwa Juru Demung, berselat dua tahun dengan peristiwa Sora. Juru Demung mati pada tahun saka: Keinginan Sifat Sayap Orang, atau: 1235. Lalu terjadi peristiwa Gajah Biru pada tahun saka: Rasa Sifat Sayap Orang atau: 1236. Selanjutnya terjadi peristiwa Mandana, Jayanagara berangkat sendiri untuk melenyapkan orang orang Mandana. Sesudah itu ia pergi ke timur untuk melenyapkan Nambi. Nambi diberi tahu, bahwa Juru Demung sudah mati, demikian pula patih pengasuh, Tumenggung Jaran Lejong, menteri menteri pemberani semua sudah mati, gugur di medan perang. Nambi berkata: “Kakak Samara, Ki Derpana, Ki Teguh, Paman Jaran Bangkal, Ki Wirot, Ra Windan, Ra Jangkung, jika dibanding banding, orang orang disebelah timur ini, tak akan kalah, apalagi setelah mereka sudah rusak itu, siapa lagi yang menjadi teras orang orang sebelah barat, apakah Jabung Terewes, Lembu Peteng atau Ikal Ikalan Bang, saja tak akan gentar, biar selaksa semacam itu didepan dan dibelakang, akan kuhadapi pula seperti perang di Bubat.” Setelah orang orang Majapahit datang, dan Nambi pergi ke selatan, maka Ganding rusak, piyagamnya dapat dirampas, Nambi dikejar kejar dan didesak, Derpana, Samara, Wirot Made, Windan, Jangkung mulai bertindak, terutama Nambi, ia mengadakan serangan pertama tama. seakan akan tercabutlah orang orang Majapahit, tak ada yang mengadakan perlawanan. Jabung Terewes, Lembu Peteng dan Ikal Ikalan Bang lalu bersama sama menyerang Nambi, Nambi gugur, demikian pula teman teman Nambi yang menyerang tadi gugur semua, patahlah perlawanan di Rabut Buhayabang, orang orang disebelah timur itu mencabut payung kebesarannya, daerah Lumajang kalah pada tahun saka: Ular Menggigit Bulan, atau: 1238. Peristiwa Wagal dan Mandana itu bersamaan waktunya. Berselat dua tahun Peristiwa Wagal dengan peristiwa Lasem. Semi dibunuh, ia mati dibawah pohon kapuk, pada tahun saka: Bukan Kitab Suci Sayap Orang, atau: 1240. Sesudah itu terjadi peristiwa Ra Kuti. Ada dua golongan Darmaputra Raja, mereka ini dahulunya adalah pejabat pejabat yang diberi anugerah raja, banyaknya tujuh orang, bernama: Kuti, Ra Pangsa, Ra Wedeng, Ra Yuyu, Ra Tanca dan Ra Banyak. Ra Kuti dan Ra Semi dibunuh, karena difitnah oleh Mahapati, akhirnya Mahapati diketahui melakukan fitnahan, ia ditangkap, dan dibunuh seperti seekor babi hutan, dosanya akan pergi sendiri ke Bedander. Ia pergi pada waktu malam, tak ada orang tahu, hanya orang orang Bayangkara mengiringkannya, semua yang kebetulan mendapat giliran menjaga pada waktu raja pergi itu, banyaknya 15 orang, pada waktu itu Gajah Mada menjadi Kepala Bayangkara dan kebetulan juga sedang menerima giliran menjaga, itulah sebabnya ia mengiring raja pada waktu raja pergi dengan menyamar itu. Lamalah raja tinggal di Bedander. Adalah seorang pejabat, ia memohon ijin akan pulang kerumahnya, tidak diperbolehkan oleh Gajah Mada, karena jumlah orang yang mengiring raja hanya sedikit, ia memaksa akan pulang, lalu ditusuk oleh Gajah Mada, maksud ia menusuk itu, yalah: “jangan jangan ia nanti memberi tahu, bahwa raja bertempat tinggal dirumah kepala desa Bedander, sehingga Ra Kuti, sehingga Ra Kuti dapat mengetahuinya. Kira kira lima hari kemudiannya Gajah Mada memohon ijin untuk pergi ke Majapahit. Sedatangnya di Majapahit, Gajah Mada ditanyai oleh para Amanca Negara tentang tempat raja, ia mengatakan, bahwa raja telah diambil oleh teman teman Kuti. Orang orang yang diberi tahu semuanya menangis, Gajah Mada berkata: “Janganlah menangis, apakah tuan tuan tidak ingin menghamba kepada Ra Kuti.” Menjawablah yang diajak berbicara itu: “Apakah kata tuan itu, Ra Kuti bukan tuan kami.” Akhirnya Gajah Mada memberi tahu bahwa raja berada di Bedander, Gajah Mada lalu mengadakan persetujuan dengan para menteri, mereka semua sanggup membunuh Ra Kuti, dan Ra Kuti mati dibunuh. Raja pulang dari Bedander, kepala desa ditinggalkan, selanjutnya ia menjadi orang yang terkenal pada waktu itu. Sesudah raja pulang, maka Gajah Mada tak lagi menjadi Kepala orang orang Bayangkara, dua bulan lamanya ia mendapat cuti dibebaskan dari kewajiban, ia dipindah menjadi Patih di Kahuripan, dua tahun lamanya menjadi patih itu. Sang Arya Tilam, patih di Daha meninggal dunia, Gajah Mada menggantinya, ditempatkan menjadi patih di Daha, patih Mangkubumi Sang Arya Tadah menyetujui, ialah yang menyokong Gajah Mada menjadi patih di Daha itu. Raja Jayanagara mempunyai dua orang saudara perempuan, lain ibu, mereka tak diperbolehkan kawin dengan orang lain, akan diambil sendiri. Pada waktu itu tak ada kesatriya di Majapahit, tiap tiap kesatriya yang tampak lalu dilenyapkan, jangan jangan ada yang mengingini adiknya itu, itulah sebabnya maka kesatriya kesatriya bersembunyi tidak keluar. Isteri Tanca menyiarkan berita, bahwa ia diperlakukan tidak baik oleh raja. Tanca dituntut oleh Gajah Mada. Kebetulan raja Jayanegara menderita sakit bengkak, tak dapat pergi keluar, Tanca mendapat perintah untuk melakukan pembedahan dengan taji, ia menghadap didekat tempat tidur. Raja ditusuk oleh Tanca dengan taji sekali dua kali, tidak makan tajinya, lalu raja diminta agar supaya meletakkan jimatnya, ia meletakkan jimatnya didekat tempat tidur, ditusuk oleh Tanca, tajinya makan, diteruskan ditusuk oleh Tanca, sehingga mati ditempat tidur itu. Tanca segera dibunuh oleh Gajah Mada, matilah Tanca. Berselat sembilan tahunlah peristiwa Kuti dan peristiwa Tanca itu, pada tahun saka: Abu Unsur memukul Raja atau: 1250. Raja dicandikan di Kapopongan, nama resmi candi itu: Srenggapura, arcanya di Antawulan. Pada waktu itu para kesatriya menginjakkan kaki di Majapahit lagi. Raden Cakradara dipilih pada sayembara menjadi suami seri ratu di Kahuripan. Raden Kuda Merta kawin dengan seri ratu di Daha. Raden Kuda Merta menjadi raja di Wengker, Sri Paduka Prameswara di Pamotan, nama nobatannya: Sri Wijayarajasa. Adalah anak Raden Cakradara, menjadi raja di Tumapel, nama nobatannya Sri Kertawardana. IX. Sri Ratu di kahuripan menjadi raja pada tahun saka: Sunyi Keinginan Sayap Bumi, atau: 1250. Seri Ratu di Kahuripan itu mempunyai tiga orang anak, yalah: Batara Prabu, panggilannya Seri Hayam Wuruk, Raden tetep, sebutannya jika ia bermain kedok: Dalang Tritaraju, jika ia bermain wayang dan melawak: Gagak Ketawang, di kalangan pemeluk agama Siwa: Mpu Janeswara, nama nobatannya Seri Rajasa Nagara, sebagai Prabu: Seri Baginda Sang Hyang Wekasing Suka. Adiknya perempuan kawin dengan raden Larang, yang juga disebut Baginda di Matahun, tidak mempunyai anak, adiknya yang bungsu, yalah: Seri ratu di Pajang, kawin dengan Raden Sumana, yang juga disebut Baginda di Paguhan, ini adalah saudara sepupu Seri Ratu di Kahuripan. Isteri Baginda di Gundal, dicandikan di Sajabung, nama resmi candi itu: Bajra Jina Parimita Pura. Selanjutnya terjadi peristiwa Sadeng. Tadah yang menjadi patih Mangkubumi menderita sakit, sering sekonyong konyong tak berkuasa menghadap, memajukan permohonan kehadapan Paduka batara untuk diijinkan berhenti, tidak dikabulkan oleh Seri Ratu di Kahuripan, Sang Arya Tadah kembali pulang, memanggil Gajah Mada, mengadakan pembicaraan di ruang tengah, Gajah Mada diminta menjadi Patih di Majapahit, meskipun tidak berpangkat Mangkubumi: “Saya akan membantu didalam soal soal yang luar biasa,” Gajah Mada berkata: ” Anaknda tidak sanggup jika menjadi patih sekarang ini, jika sudah kembali dari Sadeng, hamba mau menjadi patih, itupun jika tuan suka memaafkan segala kekurangan kemampuan anaknda ini.” “Nah, buyung, saya akan membantu didalam segala kesukaran, dan didalam soal soal yang luar biasa.” Sekarang besarlah hati Gajah Mada, mendengar kesanggupan sang Arya Tadah itu. kini ia berangkat ke Sadeng. Para menteri araraman dibohongi, juga patih Mangkubumi juga kena tipu, bahwasanya Kembar telah lebih dahulu mengepung Sadeng. Mangkubumi marah, memberi perintah kepada menteri luar, banyak mereka yang berangkat lima satuan, dikepalai oleh bekel, masing masing satuan terdiri dari lima orang. Kembar dijumpai didalam hutan, mereka berdiri diatas pohon yang roboh, berayun ayun seperti orang naik kuda sambil melambai lambaikan cambuk kepada mereka yang menyuruh agar Kembar kembali dan tidak melanjutkan perjalanan. Disampaikanlah pesan dari para menteri semua, terutama juga dari gusti patih Mangkubumi, menyuruh agar Kembar kembali, karena dikhabarkan mendahului mengepung orang orang Sadeng. Dicambuklah muka orang yang menyuruh kembali, tidak kena karena berlindung dibalik pohon, Kembar lalu berkata: “Tidak ada orang yang diindahkan oleh Kembar ini, didalam perang saja tidak mau mengindahkan tuanmu itu.” Pergilah yang mendapat perintah untuk menyuruh kembali tadi, dan memberi tahu semua yang dikatakan oleh Kembar. Gajah Mada diam, merasa sangat diperolok olok, orang orang Sadeng dikepung, Tuhan Waruju seorang Dewa Putera dari Pamelekahan, jikalau membunyikan cambuk, terdengar di ruang angkasa, terperanjat orang Majapahit. Segera Sang Sinuhun tadi datang, mengalahkan Sadeng. Peristiwa Tanca dan Sadeng itu berselat tiga tahun, pada tahun saka: Tindakan Unsur Lihat Daging, atau: 1256. Setelah Kembar kembali dari Sadeng, lalu menjadi bekel araman, Gajah Mada menjadi Angabehi, Jaran Baya, Jalu, Demang Bucang, Gagak Nunge, Jenar dan Arya Rahu mendapat pangkat, Lembu Peteng menjadi Tumenggung. Gajah Mada menjadi patih Mangkubumi, tidak mau mengambil istirahat, Gajah Mada berkata: “Jika pulau pulau diluar Majapahit sudah kalah, saya akan istirahat, nanti kalau sudah kalah Gurun, Seran, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, barulah saya menikmati masa istirahat.” Pada waktu itu para menteri sedang lengkap duduk menghadap di balai penghadapan. Kembar memperolok olok Gajah Mada dengan menyebut kesalahan kesalahan dan kekurangan kekurangannya, dan menumpahkan telempak, Ra banyak ikut serta menambah mengemukakan celaan celaan. Jabung Terewes, Lembu Peteng tertawa. lalu Gajah Mada turun mengadukan soal itu kehadapan batara di Koripan, baginda marah, kemarahan dan penghinaan ini disampaikan kepada Arya Tadah. Dosa Kembar telah banyak, Warak dilenyapkan, tak dikatakan pada Kembar, mereka mati semua. X. Selanjutnya terjadi peristiwa orang orang Sunda di Bubat. Seri Baginda Prabu mengingini puteri Sunda. Patih Madu mendapat perintah menyampaikan permintaan kepada orang Sunda, orang Sunda tidak berkeberatan mengadakan pertalian perkawinan. Raja Sunda datang di Majapahit, yalah Sang Baginda Maharaja, tetapi ia tidak mempersembahkan puterinya. Orang Sunda bertekad berperang, itulah sikap yang telah mendapat sepakat, karena Patih Majapahit keberatan jika perkawinan dilakukan dengan perayaan resmi, kehendaknya yalah agar puteri Sunda itu dijadikan persembahan. Orang Sunda tidak setuju. Gajah Mada melaporkan sikap orang orang Sunda. Baginda di Wengker menyatakan kesanggupan: “jangan khawatir, kakak Baginda, sayalah yang akan melawan berperang.” Gajah Mada memberitahu tentang sikap orang Sunda. Lalu orang Majapahit berkumpul, mengepung orang Sunda. Orang Sunda akan mempersembahkan puteri raja, tetapi tidak diperkenankan oleh bangsawan bangsawannya, mereka ini sanggup gugur dimedan perang di Bubat, tak akan menyerah, akan mempertaruhkan darahnya. Kesanggupan bangsawan bangsawan itu mengalirkan darah, para terkemuka pada fihak Sunda yang bersemangat, yalah: Larang Agung, Tuhan Sohan, Tuhan Gempong, Panji Melong, orang orang dari Tobong Barang, Rangga Cahot, Tuhan Usus, Tuhan Sohan, Orang Pangulu, Orang Saja, Rangga Kaweni, Orang Siring, Satrajali, Jagadsaja, semua rakyat Sunda bersorak. Bercampur dengan bunyi bende, keriuhan sorak tadi seperti guruh. Sang Prabu Maharaja telah mendahului gugur, jatuh bersama sama dengan Tuhan Usus. Seri Baginda Parameswara menuju ke Bubat, ia tidak tahu bahwa orang orang Sunda masih banyak yang belum gugur, bangsawan bangsawan, mereka yang terkemuka lalu menyerang, orang Majapahit rusak. Adapun yang mengadakan perlawanan dan melakukan pembalasan, yalah: Arya Sentong, Patih Gowi, Patih Marga Lewih, Patih Teteg, dan Jaran Baya. Semua menteri araman itu berperang dengan naik kuda, terdesaklah orang Sunda, lalu mengadakan serangan ke selatan dan ke barat, menuju tempat Gajah Mada, masing masing orang Sunda yang tiba dimuka kereta, gugur, darah seperti lautan, bangkai seperti gunung, hancurlah orang orang Sunda, tak ada yang ketinggalan, pada tahun saka: Sembilan Kuda Sayap Bumi, atau: 1279. Peristiwa Sunda itu bersama sama dengan peristiwa Dompo. Sekarang Gajah Mada menikmati masa istirahat, sebelas tahun ia menjadi Mangkubumi. Berhubung dengan puteri Sunda itu mati, maka Batara Prabu lalu kawin dengan anak perempuan Baginda Prameswara, yalah: Paduka Sori, dari perkawinan itu lahirlah seorang anak perempuan, yalah Seri Ratu di Lasem Sang Ayu, dari perkawinannya dengan isteri lain, lahirlah baginda di Wirabumi, yang diambil menjadi anak angkat Seri Ratu di Daha. Seri ratu di Pajang mempunyai tiga orang anak: Seri Baginda Hyang Wisesa, nama kesatriyannya Raden Gagak Sali, namanya sebagai Raja Aji Wikrama, kawin dengan Seri Ratu di Lasem yalah: Sang Ayu, lalu mempunyai seorang anak, yalah: Seri Baginda Wekasing Suka, anak yang kedua perempuan, yalah: Seri Ratu di Lasem Sang Alemu, kawin dengan baginda di Wirabumi, adapun anak yang ketiga juga perempuan, menjadi Seri ratu di Kahuripan. Ada lagi anak Baginda di Tumapel, nama kesatriyannya Raden Sotor, menjadi hino di Koripan, lalu pindah menjadi hino di Daha, selanjutnya menjadi hino di Majapahit, ini mempunyai seorang anak laki laki, yalah: Raden Sumirat, kawin dengan Seri Ratu di Kahuripan dan menjadi raja dengan sebutan Baginda di Pandan Salas. Lalu terjadi peristiwa upacara selamatan roh nenek moyang yang dinamakan Srada Agung, pada tahun saka: Empat Ular Dua Tunggal, atau: 1284. Sang Patih Gajah Mada wafat pada tahun saka: Langit Muka Mata Bulan, atau 1290, tiga tahun lamanya tak ada yang mengganti menjadi patih. Gajah Enggon menjadi patih pada tahun saka: Sifat Sembilan Sayap Orang, atau: 1293. Seri Ratu di Daha wafat, dicandikan di Adilangu, nama resmi candi itu Gunung Purwawisesa. Seri Ratu di kahuripan wafat, dicandikan di Panggih, nama resmi candinya Gunung Pantarapura. Selanjutnya terjadi peristiwa gunung baru pada tahun saka: Ular Liang Telinga Orang, atau: 1208. Lalu terjadi peristiwa gunung meletus, pada minggu Madasia, tahun saka: Pendeta Sunyi Sifat Tunggal, atau: 1307. Baginda di Tumapel wafat, ia wafat di Suniyalaya pada tahun saka: Gajah Sunyi Tindakan Ekor, atau” 1308, dicandikan di Japan, nama resmi candi itu Sarwa Jaya Purwa. Baginda Hyang Wisesa mempunyai anak, (1) Seri Baginda di Tumapel (2) Perempuan, yalah: Seri Ratu Prabu-stri, yang lalu mempunyai nama nobatan: Dewi Suhita (3) Bungsu laki laki, yalah: Baginda di Tumapel alias Sri Kerta Rajasa Baginda di Pandan Salas mempunyai anak (1) Baginda di Koripan, alias Baginda Hyang Prameswara, nama nobatannya Aji Ratna Pangkaja, kawin dengan Seri Ratu Prabu-stri, tidak berputera (2) Perempuan, Sang ratu Ratu di Mataram, yang kawin dengan Baginda Hyang Wisesa (3) Perempuan, Sang ratu di Lasem, yang kawin dengan Baginda di Tumapel (4) Perempuan lagi, Sang Ratu di Matahun. Baginda di Tumapel mempunyai anak laki laki, menjadi raja di Wengker, kawin dengan Seri ratu di Matahun, anak kedua menjadi raja di Paguhan, anak ketiga lahir dari isteri muda, perempuan, yalah: Seri Ratu di Jagaraga, kawin dengan Baginda Parameswara, tidak beranak, anak kelima, yalah: Sang ratu di Pajang, juga kawin dengan Baginda di Paguhan, jadi dibayuh sama sama saudara, tidak mempunyai anak. Baginda di Keling kawin dengan Seri ratu di Kembang Jenar. Anak laki laki Baginda di Wengker, yalah Baginda di Kabalan. Baginda di Paguhan mempunyai anak dari isteri kelahiran golongan kesatriya, perempuan yalah: Sang ratu di Singapura, kawin dengan Baginda di Pandan Salas. Baginda Prameswara di Pamotan, wafat pada tahun saka: Langit Rupa Menggigit Bulan, atau: 1310, ia dicandikan di Manyar, nama resmi candinya Wisnu Bawana Pura. Seri ratu di Matahun wafat, dicandikan di Tiga Wangi, nama resmi candi itu Kusuma Pura. Paduka Sori wafat. Sang ratu di Pajang wafat, dicandikan di Embul, nama resmi candi Girindra Pura. Baginda di Paguhan wafat, dicandikan di Lobencal, nama resmi candi Parwa Tiga Pura. Baginda Hyang Wekasing Suka, wafat pada tahun saka: Bumi Rupa Ayah Ibu, atau 1311. XI. Baginda Hyang Wisesa dinobatkan menjadi raja. Lalu terjadi peristiwa gunung meletus didalam minggu Prangbakat, pada tahun saka: Muka Orang Tindakan Ular, atau : 1317. Selanjutnya Gajah Enggon meninggal dunia pada tahun saka: Sunyi Sayap Tindakan Orang, atau: 1320. ia menjadi patih 27 tahun lamanya. Baginda Hyang Wekasing Suka mengangkat Gajah Manguri menjadi patih. Baginda Hyang Wekasing Suka wafat, ia wafat di Indra Bawana, pada tahun saka: Orang Mata Api Bulan, atau 1321, dicandikan di Tanjung, nama resmi candi Parama Suka Pura. Baginda Hyang Wisesa menjadi pendeta pada tahun saka: Mata Sayap api Bulan, atau: 1322. XII. Seri Ratu Batara Isteri dinobatkan menjadi Raja. Sang ratu di Lasem wafat di Kawidyadaren, dicandikan di Pabangan, nama resmi candi: Laksmi Pura. Sang Ratu di Kahuripan wafat. Sang Ratu di Lasem yalah Sang ratu Gemuk wafat. Baginda di Pandan Salas wafat, dicandikan di Jinggan, nama resmi candi Sri Wisnu Pura. Baginda Hyang Wisesa bercekcok dengan Baginda Wirabumi, mereka segan bersama sama berbicara, saling diam mendiamkan, akhirnya berpisah sampai itu terjadi pada tahun saka 1323. Tiga tahun kemudian lalu terjadi lagi huru hara. Kedua duanya mengumpulkan orang orangnya, Baginda di Tumapel dan baginda Hyang Prameswara diminta datang. “Siapakah yang harus kami ikuti.” maka terjadilah perang malang. Ia masgul dan bertekad akan pergi. Baginda “jangan tergesa gesa pergi, sayalah yang akan melawan.” Baginda Hyang Wisnu menurut dan mengumpulkan orang orangnya lagi, dihulubalangi oleh Baginda di Tumapel. di daha diambil oleh baginda Hyang Wisesa, dibawa keatas perahu, dikejar oleh Raden Gajah yang mempunyai nama nobatan Ratu Angabaya, baginda Narapati. Terkejar didalam perahu, dibunuh, dipenggal kepalanya, dibawa ke Majapahit, dicandikan di Lung, nama resmi candinya Gorisa, pada tahun saka: Ular Sifat Menggigit Bulan, atau: 1328, pada tahun itu terjadi huru hara ini. Empat tahun kemudiannya Gajah Manguri meninggal dunia pada tahun saka: Sayap Sifat Tindakan Orang, atau : 1332. Gajah Lembaga menjadi patih, lamanya 12 tahun. Selanjutnya terjadi peristiwa gunung meletus didalam minggu Julung Pujut, pada tahun saka: Tindakan Kitab Suci Sifat Orang, atau: 1343. Gajah Lembana meninggal dunia pada tahun saka: Api Api Tindakan Bumi, atau: 1335. Tuhan Kanaka menjadi patih lamanya 3 tahun. Seri Ratu di Daha wafat, Seri Ratu di Matahun wafat, Seri Ratu di Mataram wafat. Selanjutnya terjadi masa kekurangan makan yang sangat lama pada tahun saka: Ular Jaman Menggigit Orang, atau : 1348. Baginda di Tumapel wafat pada tahun saka: Sembilan Jaman Tindakan Orang, atau: 1349, dicandikan di Lokerep, nama candinya Asmarasaba. Baginda di Wengker wafat, dicandikan di Sumengka. XIII. Tuhan Kanaka meninggal dunia pada tahun saka: Sayap Luka Sifat Orang, atau : 1363. Tujuh belas tahun lamanya menjadi patih. Seri ratu di Lasem wafat di Jinggan. Baginda di Pandan Salas wafat. Raden Jagulu, Raden Gajah dilenyapkan, karena dianggap melakukan dosa, yalah: memenggal kepala Baginda di Wirabumi, pada tahun saka: Unsur Memanah Telur Tunggal, atau: 1355. Seri Ratu di Daha menjadi raja pada tahun saka: Sembilan lima api bulan, atau 1359. Baginda Parameswara wafat, ia wafat di Wisnu Bawana, pada tahun saka: Ular Golongan Api Bulan, atau tahun: 1359, dicandikan di Singajaya. Baginda Keling wafat, dicandikan di Apa Apa. Seri Ratu Prabu-stri wafat pada tahun saka: Sembilan Rasa Api Bulan, atau: 1369, dicandikan di Singajaya. XIV. Lalu Baginda Tumapel mengganti menjadi raja. Baginda di Paguhan melenyapkan orang orang di Tidung Galating, dan ini dilaporkan ke Majapahit. Lalu terjadi gempa bumi pada tahun saka: Sayap Golongan Menggigit Bulan, atau: 1372. Baginda di Paguhan wafat di Canggu, dicandikan di Sabyantara. Baginda Hyang wafat, dicandikan di Puri. Baginda di Jagaraga wafat. Seri Ratu di Kabalan wafat, dicandikan di Pajang Wafat, dicandikan menjadi satu di Sabyantara. Lalu terjadi gunung meletus didalam minggu Kuningan, pada tahun saka: Belut Pendeta Menggigit Bulan, atau: 1373. Baginda Prabu wafat pada tahun saka: Api Gunung Tindakan Ekor, atau: 1373, nama resmi candinya Kerta Wijaya Pura. XV. Baginda di Pamotan menjadi raja di Pamotan menjadi raja di Keling, Kahuripan, nama nobatannya Sri Rajasawardana. Sang Sinagara, dicandikan di Sepang pada tahun saka: Keinginan Kuda menggigit Orang, atau: 1375. XVI. Tiga tahun lamanya tidak ada raja. XVII. Lalu Baginda di Wengker menjadi raja, nama nobatannya Baginda Hyang Purwa Wisesa, pada tahun saka: Pendeta Tujuh Api Menggigit Bulan, atau: 1378. Lalu terjadi peristiwa gunung meletus didalam minggu Landep, pada tahun saka: Empat Ular Tiga Pohon, atau: 1384. Baginda di Daha wafat pada tahun saka: Golongan Pendeta Api Tunggal, atau: 1386. Baginda Hyang Purwa Wisesa wafat, dicandikan di Puri, pada tahun saka: Pendeta Ular Api Bulan, atau: 1388. Lalu Baginda di Jagaraga wafat. XVIII. Baginda di Pandan Salas menjadi raja di Tumapel, lalu menjadi Baginda Prabu pada tahun saka: Pendeta Ular Tindakan Tunggal, atau: 1388. Ia menjadi Prabu dua tahun lamanya. Selanjutnya pergi dari istana. Anak anak sang Sinaraga yalah: Baginda di Kahuripan, Baginda di Mataram, baginda di Pamotan dan yang bungsu yalah: baginda Kertabumi, ini adalah paman baginda yang wafat didalam kedatuan pada tahun saka: Sunyi Tidak Jaman Orang, atau: 1400. Lalu terjadi peristiwa gunung meletus, didalam minggu Watu Gunung pada tahun saka: Tindakan Angkasa Laut Ekor, atau: 1403. Demikian itulah kitab tentang para datu. Selesai ditulis di Itcasada di desa Sela Penek, pada tahun saka: Keinginginan Sifat Angin Orang, atau: 1535. Diselesaikan ditulis hari Pahing, Sabtu, minggu Warigadyan, tanggal dua, tengah bulan menghitam, bulan kedua. Semoga ini diterima baik oleh yang berkenan membaca, banyak kekurangan dan kelebihan huruf hurufnya, sukar dinikmati, tak terkatakan berapa banyaknya memang rusak, memang ini adalah hasil dari kebodohan yang meluap luap berhubung baharu saja belajar. Semoga panjang umur, mudah mudahan demikian hendaknya, demikianlah, semoga selamat bahagia, juga sipenulis ini. Salahsatunggaling Falsafah Kuno Hanacaraka 06 Mar 2010 Leave a Comment by wayang in Kitab & Kidung Pustaka Wedha Sasangka Kababar Dening : Kanjeng Gusti Bendara Raden Adjeng Dhenok Surjaningsih (Ngeksiganda Nagri 1643) Rinukti Saha Rinumpaka Dening : Sesanggawirja Sengkalaning Tjandra Sapta Rasa Malebeng Pertiwi Utawi Wiwaraning Tjepuri Hesthining Djagad (Tahun Masehi 1967 utawi Tahun Saka 1988) Wedha Ageng Surasa. Karangan Angka 1 saking : Wirid Wedha Tjarita lan Djangka : Bagijan Kaping Kalih, Ngagem Tjarios : ARGA BAWERA Punapa ta tegesipun Arga Bawera ? Arga sami kalijan giri, prawata, prabata, ardi, redi, gunung. Bawera sami kalijan djembar, omber, kobet, mboten tjupet, mboten kaling-kalingan, tanpa wangenan, tanpa wates. Dados Arga Bawera ateges : Gunung kang djembar omber, mboten kaling-kalingan, padhang trawangan. Suraosipun: Pralampampitaning kawitjaksananipun Sang Lokaprana, ingkang tuhu limpad, bontos, djembar, omber, tanpa wangenan, sarwi padhang datan kewran nembus sagung aling-aling (warana). Dumunung ing puntjaking Arga ingkang Bawera, panggenan ingkang inggil pijambak, limrahipun sok kawastanan : Guruloka. Tumrap blegering manungsa dumunung wonten ing sirah (mustaka). Katjarijos Sang Prabu Brawidjaja ingkang kaping II inggih Raden Djaka Lawung, ingkang sakelangkung lingsem ing penggalih, sebab sanget kaesi-esi dening ingkang garwa Dewi Retna Sekar dalah ingkang rama marasepuh Adipati Tjiung Gupita, sesampunipun masrahaken pusaraning pradja Madjapait dhateng ingkang raji Pangeran Anom Minak Pijungan, ingkang ladjeng adjedjuluk Prabu Brawidjaja ingkang kaping III. Ladjeng djengkar saking kedhaton, tindakipun mendhem kula, nimpal keli, tanpa kendel tumoleh, ngener mangidul, kesupen dhateng ingkang katilar, nering karsa sumedija nindakake dhawuhing ingkang ibu swargi. Ing sakmargi-margi tansah ngawuningani alam gumelar ingkang sarwi elok, edi, asri, nengsemaken. Penggalihipun Sang Prabu kasengsem sanget, kadudut, kapiluja pirsa kawontenan mekaten wau punika. Ing salebeting kalbu rumaos kagigah, binuka saja kentjeng sedijanipun. Thukuling raos ladjeng tansah kagungan tresna ing sesamining tumitah, mboten mbedak-ambedakaken; malah saja ngrembaka, ing wasana mahanani santosaning penggalih anggonipun badhe mangudi dhateng kaluhuran. Saja malih menawi emut nalika taksih wonten ing salebeting kedhaton, tansah dipun tjampahi, dipun tjamah dening ingkang garwa punapa dene dipun sepelekaken. Inggih ing salebeting kawontenan punika Sang Prabu rumaos, bilih penggalihipun kirang santosa, mijar-mijur, gampil kapikut tuwin kapikat dening pakartining pantja drija ingkang damelipun namung adjak-adjak risak thok kemawon. Pramila sadaja kala wau ladjeng anambahi santosaning penggalih, kentjeng sedijaning tijas; ingkang mekaten kala wau andjalari tindaking Sang Prabu saja mantep, madhep, terus tanpa kendel, tan ngetang tansajaning marga, mboten kepengin dhahar, ngundjuk punapa dene sare, ngantos sariranipun katingal kera aking persasat namung kantun gagra kusika. Benter soroting Hijang Bagaskara ing wantji tengange lan asreping hawa ing wantji abijoring Sang Kartika, babar pisan mboten karaos, ing salebeting tyas namun tansah kumedah-kedah inggal saged mangertosi punapa sedjatosipun ingkang dinawuhaken rama ibunipun swargi kok wanter sanget. Mboten kepetang pinten dangunipun anggenipun tindak nilar kedhaton, sampun dumugi ing pinggiring bengawan Brantas ingkang sisih ler. Ing papan ngriku Sang Prabu sumedija aso sawatawis, kedjawi kalijan ngentosi tuntasing riwe sarta sajahing sarira, ing salebeting ngaso kala wau, Sang Prabu emut dhateng panguwuhing garwa dalasan mara-sepuh, ingkang kalih-kalihipun sampun sami kaperdjaja, bab anggenipun tansah damel sisiping rembag, ing wusana nuwuhaken risaking kawontenan. Wekasan Sang Prabu ladjeng ngupadi palenggahan ingkang prajogi, inggih punika sendhe-sendhe ing kadjeng ageng sapinggiring bengawan Brantas kala wau. Amargi kenging siliring Hijang Samirana, sarira keraos seger, ngantos mboten kraos lijer-lijer, wekasan ngantos sare kepatos. Ing wusana tengah-tengahing sare Sang Prabu njumpena kados-kados rinawuhan ingkang rama kanthi paring dhawuh mekaten: “Ngger Djaka Lawung putraningsun pribadi, kaja ing wektu dina samengko, sira wus karasa lan ngrumangsani sekabehaning kaluputanmu, dhek nalika sira ngasta pusaraning pradja Madjapait. Kaja nalika ingsun bakal surud wus paring uninga marang sira, jen sira kudu wasis djumeneng dadi pengembaning negara Madjapait. Ora kena mbedak-mbedakake marang sidji lan sidjining kawula, paribasane mban tjinde mban siladan, lan tansah kudu tresna lahir trusing batin tumrap marang sekabehaning para kawula. Kudu wani sengsem marang tumindak kautaman, ninggal marang sekabehaning tumindak kelahiran, ja ing alam kanisthan. Nanging djebul kosokbaline, sira lena marang sekabehing piwelingingsun apadene piweling ibunira. Wekasan sira mung tansah ngumbar hardaning kamurkan, ora kersa sumungkem dalasan manembah ing ngersaning Hijang Bagas Puruwa, malah ngungkurake. Wekasan sira gampang kapikut marang bebudjukane si Adipati Tjiung Gupita lan anake si Retna Sekar. Sira tansah kelu marang gebijaring kadonjan, datan kersa ngemuti jen ta kahanane djagad raja mangkene tansah owah lan gingsir. Mengertija ngger, jen sira ana ing sadjeroning lali, kuwi kang ana kabeh mung marang nistha, jen sira dumunung ana ing sakdjerone eling, kabeh kuwi mau sedjatine dalan kang tumudju marang kaluhuran. Mula saka kuwi jen pantjen ing wektu dina iki sira wus wiwit binuka rasanira, elinga marang djedjering djagad, ja djagad gedhe kang den arani djagad raja, utawa ja djagadira pribadi kang den arani bawana setra. Lan jen pantjen sira njata-njata temen sumedija tumindak kang tumudju marang kaluhuran djati, pirsa marang asal mulanira, weruh marang sedjatine djiwangga, mara noleha mangidul, delengen ing puntjaking gunung Ardjuna kae, sira sedjatine ja wus dumunung ing kana.” Sinareng Sang Prabu noleh mangidul, ladjeng anedija mirsani puntjaking redi Ardjuna, katingal tjahja manther saksada lanang ngantos sundhul ngawijat. Dene Sang Prabu rumaos kados-kados sampun lenggah dumunung ing puntjaking Arga Ardjuna ngriku. Sareng Sang Prabu mirsani kanan kering, tjetha sanget bilih arga punika ingkang winastanan arga bawera. Ing sisih ler katingal pradja Madjapait kanthi wela-wela, ing sisih wetan katingal pareden bebandjengan, sisih kidul katingal pesabinan idjem rojo-rojo. Saja kraos wonten ing puntjaking redi kasebat. Wosipun saged amirsani kanthi tjetha wela-wela lan mboten kaling-kalingan punapa-punapa, inggih punika kang den wastani tanpa warana. Ing saladjengipun ingkang rama paring dhawuh malih, mekaten: “Mangertija ngger, jen sedjatine ing putjuking gunung Ardjuna kana kae, papane ramanira dhek djaman kala semana mesu brata, mangesthi ing Hijang Bagas Puruwa, mudja lan mudji akanthi nindakake talak brata, datan sare, datan dhahar, mung tansah mindeng madijaning Guwa Laja, njenjuwun supaja bisa pinaringan turun kang ing tembe saged gumanti kepraboning pradja Madjapait, jen wus tumeka titi wantji ramanira kundur ana ing Hindrabawana. Awit wus sawatara warsa anggeningsun palakrama kelawan ibunira, nanging meksa isih durung pinaringan turun. Kang mengkono mau rama rumaos ketjalan lari tumrap pamangkuning negara, jen ta tumeka kukuting angganingsun isih durung pinaringan putra. Ja sanadijan abot dikaja apa, djer kanggo kamuljaning putra wajah, mula ramanira ja ora kagungan pangresula, djer kuwi wus dadi kuwadjibane ramanira pribadi. Apadene lelakone ibunira, dhek nalikane ingsun tinggal ana ing kedhaton, sakperlu andjaga keputren, lan isen-isening kraton kabeh, ing wusana marga saka pokale si Darmawangsa, ibunira djengkar lolos saka keputren, parane mangulon, perlu ngupaja anane si Handaja Pati, ja kuwi warangka dalem ing Madjapait, kang ing wektu semana lagi ingsun utus mbedah tanah Djawa Tengah, perlu jasa pelabuhan ing Semarang. Dene tindake ibunira kalunta-lunta, nusup-nusup angajam wana, munggah gunung medhun djurang, nganti tumeka ing lelengkehing gunung Lawu sisih wetan. Mangertia ngger, merga saja anggone nusup-nusup mau ilang sipating prameswarining Naga Binathara, malah kaja wus ilang trap-susilaning wanodija kang andana warih, pada bae karo wong tjilik kang datan kambah ing wulang wuruk. Kahanan kang mangkono mau kabeh disangga dening ibunira kanthi sabar nrima, sareh pikoleh, datan asesambat utawa angresula, kang ana mung emut, lan ateges ora lali marang kaluhuran lan emut jen ing djagad gumelar mono asipat owah miwah gingsir, malah penjungkeme tumrap Hijang Bagas Puruwa ditemeni, ora nglirwakake, rumaos ibunira, kaja wus utjul saka blengguning kanisthan. Sakbandjure ibunira tansah emut marang ingsun, ija ramaneki pribadi, kang lagi mesu brata kanggo keperluane negara lan kawula. Mulane sanadijan abot dikaja ngapa ibunira datan wigih nanggulangi rubedaning salira, djer kuwi kenaa kanggo panebusing putra wajah ing mbesuke. Nanging bareng sire dhewe ngger, banget anggenira nglirwakake piwelingingsun, apadene piwelinge ibunira kang tansah nandhang papa tjintraka. Djebul tibame marang sira kosok balen banget. Dupeh sira wus darbe panguwasa, dupeh sira wus adarbe wenang tumrap negara lan kawula, ing wekasan mung anduweni sipat adigang, adigung adiguna, lali marang laku kautaman, ngumbar hardaning kamurkan, nggugu sakarepe dhewe, gampang kelu marang gebijaring djagad gumelar, suthik marang tetulung, adoh marang pamesu brata, ninggalake marang djedjering wong tuwa, apa rumangsanira dupeh wong atuwanira wus padha sirna. Ing satemah nampa pawelehing Hijang Sasangka Djati, sira ingatasing Nalendra Gung mung ditjamah dening garwanira tedhaking sudra. Rumangsanira wus kinadjenan lan kineringan dening sakpadha-pdha, lali jen kuwi mono kabeh mung dumunung ing alam kanisthan. Mula jen tjetha-tjetha sira wus ngrumangsani kabeh kaluputanira kanthi rasa kang djudjur, mara sawangen kae ing putjuking gunung. Wis ja ngger samene bae, adja kongsi sira lali maneh sekabehing piwelingingsun iki, jen pantjen sira kepengin muljakake turun-turunira kabeh nganti tumeka pungkasaning djaman.” Sakrampungipun dhawuhipun ingkang rama, Djaka Lawung inggih Prabu Brawidjaja ingkang kaping kalih, sampun rumaos lenggah wonten ing putjuking redi Ardjuna madjeng mangaler. Nanging sanget andadosaken kedjoting penggalih, sareng mirsani sariranipun ageng inggil, asta dalasan ampejanipun sarwi ageng kebak rikma, kenakanipun pandjang-pandjang, rikma gimbal, djenggot miwah rawisipun pandjang. Persasat denawa (raseksa) ingkang anggegirisi. Rumaos ngagem agem-ageman sarwi pethak, kados pangagemaning para pandhita. Ing salebeting penggalih sanget lingsem dhateng Hijang Bagaskara, dene ingatasing putra Nalendra kok ladjeng saged mawujud denawa ingkang anggegirisi sanget. Mekaten kala wau kawontenanipun Sang Prabu Brawidjaja, ingkang nembe tapa njingkiri papan keramenan, nanging kados-kados klentu marginipun, awit anggenipun gantos wewudjudanipun anggegirisi. Punika sedaja nelakaken, bilih satunggaling djanma ingkang nembe tumindak nilar dhateng kaluhuran, tansah ngumbar hardaning kamurkan, wusana ladjeng tebat dhateng Hijang Bagas Puruwa. Senadijan tata lahiripun sampun miwiti pamesu bratanipun, namung saking dajaning kamurkan ingkang babar pisan dereng uwal saking kuwandhanipun, ateges taksih kelet kumanthil, wusana saged mahanani wewudjudan ingkang anggegirisi kala wau. Inggih mekaten punika tumindaking sebagian ageng para djanma manungsa, ingkang namung tansah ngumbar hardaning kanepson, pepenginan, angkara murka, gampil kapikut ing gebijaring djagad gumelar, ingkang mboten aseli, mboten sedjati, ingkang ateges sedaja kala wau palsu. Pramila Djaka Lawung saja kentjeng anggenipun badhe nindakaken pamesu bratanipun, mboten badhe kundur jen dereng angsal wangsiting Hijang Sasangka Djati. Katjarios sesampunipun Djaka Lawung radi dangu anggenipun mesu raga wonten ing putjuking redi Ardjuna, ing satunggaling wekdal, ing tengah dalu, nalika Djaka Lawung nembe nindakaken pakarjaning pasemeden, wusana mboten kanthi kanjana-njana lan mboten kagraita, wonten satunggaling peksi emprit mentjok ing bau kiwaning Djaka Lawung. Ing salebeting anggalih Djaka Lawung ngungun ketjampuran kaget, kok wonten kedadosan ingkang nganeh-anehi. Ingatasing peksi emprit ing wantji tengah dalu, kok mentjok ing pundhak kiwanipun. Punika genah sanes sabaenipun peksi, mesthi badhe wonten kedadosan-kedadosan ingkang elok. Ing salebeting tijas Djaka Lawung anggraita: “Iki kok ndadak ana kedadean aneh maneh, ingatase manuk emprit ing wajah bengi kathik tengah wengi sisan, wani mentjok ing bau kiwaku, iki genah ana apa-apa kaja dene pengalaman kang uwis-uwis”. Wusana pepuntening batos ladjeng kepengin ndangu dhateng pun emprit kala wau. Dhawuhipun mekaten: “E, emprit iki kok elek banget, ingatase kowe mung asipat manuk, kok wani mentjok ing bauku kang kiwa, kang sedjatine aku iki lagi nengah-nengahi pakarjaning pasemeden. Apa kowe ja bisa tata djanma, mara terangna kang tjetha”. Peksi emprit: “E, kowe lali ngger karo aku, nanging ja wus sakmesthine, lha wong njatane aku saiki saling wewudjudan. Mangertia ngger, sedjatine aku iki rak ja wong ngatuwamu dhewe ta. Elinga dhek djaman kala samana, nalikane ibumu keplaju-plaju nganti tekan ing sakngisoring gunung Lawu kang kapara rada sisih lor, ing kono ibumu rak mampir ana ing sawidjining omahing mbok randha, kang aran mbok Saraagi ta. Dene djalarane ibumu nganti keplaju kuwi mung merga saka pokale si Darmawangsa. Mula ngger, kowe ngugua karo omongku, sedjatine kowe rak wus tak jasakake kedhaton kang gedhe banget ana ing tengah-tengahe Bengawan Brantas, ja kuwi nalikane kowe ngaso bijen kae. Aku mung andjaga murih kepenakmu ing tembe mburi, mula tak djaluk kanthi banget kowe inggala andjegur ing bengawan Brantas kana, mengko ndak papag. Perlune kowe bisa djumeneng Nata Binathara kang ing pungkasane bakal bisa andhepani djagad, dadi ratu kadjen keringan”. Djaka Lawung: “Mengko ta dhisik, kuwi nalare keprije, ingatase kowe ki manuk, lha kok bisa tata djanma kathik ngaku wong tuwaku pisan, mara terangna kang tjetha”. Emprit: “We lha, rupane kowe isih durung mudheng wae marang kandhaku, aku rak wis omong ta, jen aku iki sedjatine rak ja ibumu dhewe kang wus swargi, ja saiki iki aku awudjud emprit kang dadi jitmane ibumu. Mulane adja kesuwen mengko mundhak selak ora karu-karuan kedadeane. Wis ja, mung welingku bae inggal tindakna, andjegura ing tengahing bengawan Brantas, aku wus sumadija ing kana. Aku tak budhal andhisiki”. Djaka Lawung: “Ija,, mengko inggal-inggal taklakonane.”. Katjarios Prabu Brawidjaja I ingkang sampun swargi, sampun dumunung wonten ing Hasta Warana, papan ingkang wijar, omber lan bawera. Mboten kewran mirsani kawontenan ingkang mekaten kala wau. Djalaran priksa sedaja kawontenan ingkang sampun lan ingkang dereng kedadosan. Nering penggalih dereng saged negakaken dhateng ingkang putra. Pramila pandjenenganipun sanalika tumurun njelaki ingkang putra, kanthi paring sabda mekaten: “Ngger Djaka Lawung, teka kebangeten temen, durung sepira suwene ingsun paring dhawuh marang sira, poma di poma sing ngati-ati, djebul lagi kena omonge si emprit bae wis kelu, kepikut, tandha jekti jen sira durung mumpuni anggonira nindakake pamesu bratanira. Isih gampang ginodha dening sapa bae, kang ateges sira durung anduweni prajitna, ja kuwi durung nganggo wewaton PANTJA WEDHA. Mangertija ngger, jen sedjatine kang awudjud emprit iki mau dudu wong atuwamu, nanging kuwi jitmane si Djaja Katiwang. Elinga dhek nalikane sira isih djedjaka, dhemen ambebedhag, sira rak wus tau tate djemparing ajam wana kang wusana bisa kena, ing kono getihe si ajam wana nganti amber ambalabar, bisane sat marga sira dhewe kang nambak. Ing sakwise bandjur ana swara, ngaku jen sedjatine kuwi jitmane si Djaja Katiwang. Nganti sira ngojak-ojak tekan sakwetane bengawan Madijun. Mula ngger adja sira gampang utawa kelu marang gebjaring kahanan, kuwi mono mung wudjud pengitjuk-itjuk, supaja sira lena, ing wekasan badhar pamesunira. Wis ja ngger, sing ngati-ati, Rama bakal kundur.” Sakontjating ramanipun saking panduluning pamesu bratanipun Djaka Lawung, ing wusana ladjeng gumregah wungu saking anggenipun mesu raga, ing salebeting tijas namung tansah angrumaosi, bilih tumindakipun taksih tansah dereng tumata, dereng titis, tandha jekti taksih gampil ginodha ing kawontenan sanes, ingkang sedajanipun namung badhe andjelemprengaken kemawon. Ingkang mekaten wau ing salebeting penggalih sanget matur nuwun dhateng ingkang rama dene kok tansah kadjangkung, kapirsanan, anggenipun tansah tumindak kirang leres wau. Ugi ngrumaosi bilih anggenipun talak brata dereng sampurna, lan kedah saja dipun prajitnani, sageda anggenipun mesu brata inggal katarimah ing Djawata, sarta sedaja kalepatanipun inggala saged kalebur sadaja. Ing wusana nering tjipta menawi sedaja sampun sami resik, wusana badhe djumeneng Nalendra Pandhita ingkang sidik ing kawruhing budhi. Sesampunipun Djaka Lawung saja mantep, madhep anggenipun sumedija nindakaken pamesubratanipun, awit rumaos saja padhang, saja terwatja, saja gamblang lampahing kawontenan ing Djagad gumelar punika. Nering sedija mboten badhe keguh utawi kelu sarta kepintjut dhateng gebijaring kawontenan, sarta mboten balereng mirsani soroting Hijang Bagaskara, namung tansah kondjem ing bantala, sumungkem wonten ngersaning Hijang Bagas Puruwa, nindakaken sedaja dhawuhing rama ibu ingkang njata-njata tumudju dhateng kaluhuran djati. Wekasan sanget andadosaken kedjoting penggalih, dene sareng mirsani angganipun, pulih duk ing nguni, kados nalikanipun dereng wudjud denawa, inggih punika wudjud Djaka Lawung ingkang bagus ing rupi. Ewahing rerupen kala wau mertandhani, bilih dajaning angkara murka ingkang tumumplek ing angganipun Djaka Lawung sampun sirna sedajanipun, ingkang wonten namung sutji, resik, padhang suminar, amargi sedija ingkang sampun kawetja wau. Inggih mekaten punika wohing lampah ingkang tumudju dhateng kaluhuran djati, mboten maelu dhateng kelahiran. Wudjuding satrija anggambaraken sipating kautaman, dene wudjuding denawa anggambaraken sipating Angkara Murka. Mangkana ta wau, bawane Nalendra kang sampun gentur tapane, mahanani tjahja gumebjar ing saknginggiling redi Ardjuna, lir soroting Hijang Tjandra ingkang badhe midjil saking lengkehing bawana. Sumilak sumamburat ngebaki dirgantara. Kathah ingkang samia arerepen, kathah ingkang samia amemuhun, mratjihnani wonten ndaru ingkang lumengser saking gedhong kaendran, andhawahi redi Ardjuna. Gotheking ngakathah sami suka-suka pari suka, bilih badhe wonten Pandhita Nalendra, ingkang badhe adamel kuntjarining negari miwah kawula. Tjahja saja dangu saja katingal sirna, wekasan sirna babar pisan. Sinten ta ingkang nampi pulunging pandhita ? Sak sirnaning tjahja, ingkang lagija teteki ing putjuking arga Ardjuna, inggih Prabu Brawidjaja kaping II ugi peparab Djaka Lawung, karawuhan satunggaling begawan ingkang sampun ketingal sepuh, ketingal mesem gumudjeng, sedaja polahipun tansah adamel renaning sanes. Glomah-glameh pangandikanipun, nanging mranani, mertandhani begawan ingkang pantjen sampun kawisudha bontos ing kawruh budhi menggah ngelmu dalasan lakunipun. Ing wusana begawan sepuh ladjeng ngendika : “Ngger Djaka Lawung, ingsun rawuh ngger, mara prajogakna lenggahira, adja sira kleru ing panampa lan uga sira adja kagungan raos adjrih, ingsun mene ja Ejangira dhewe djare. Kira-kira sira lali marang ingsun, awit ja mangkene kuwi kahanan ing donja, bisane mung tansah gawe lali, nanging arang-arang bisa gawe eling. Mula rawuhingsun iki kepengin gawe eling marang sira. Mangertia ngger jen ingsun iki sedjatine ja Hijang Bagas Puruwa kang bakal paring wangsit marang djeneng sira, kang lagija teteki sak perlu njuwun ngapura sekabehing kaluputanira. Miturut tata lahir kaja-kaja ora tinemu ing akal jen ta ingsun ing wektu dina samengko bisa wawan sabda kelawan djeneng sira. Mangertia ngger, kedjaba ingsun iki ja Hijang Bagas Puruwa, nanging ja emuta, nalikane sira isih ana ing sakdjeroning kandhungane ibunira, ingsun ja wus ana ing kono ngger, adjedjuluk Begawan Manik Sidhi, mula ingsun iki ja kena diarani Begawan Manik Sidhi. Elinga nalika isih djumeneng ana ing sadjeroning kandhungan, sira wikan, waskitha, witjaksana, djalaran durung ketaman ing kahanan kelahiran, ja kahanan kang tansah gawe lalinira wau. Sira wis bisa mangerteni marang sekabehing kahanan kang sira lakoni ing mbesuke, lan sira ja wus mangerteni asal mulanira kabeh, nanging bareng sira wus mijos saka guwa garbane ibunira, bandjur salin slaga, awit anggonira mojos mau metu sawidjining marga kang ala dinulu, ja kuwi kang aran Marga Sara Ina. Bareng sira wus wiwit lelumban ing madijaning djagad gumelar, apa maneh marang asalira, marang marganira kang lagi diliwati bae wis kesupen kabeh. Mula ngger, poma dipoma tansah elinga marang mula bukanira, marganira lan sakpanunggale, kanggo gegondhelan aja sira kongsi gampang ketaman bebendune ejangira dhewe, ja kuwi ingsun iki, djalaran babar pisan sira nglalekake, dadi kang tjetha sakiki ja ngger, jen ingsun iki sedjatine ja djeneng sira pribadi nalikane sira isih lenggah ing madijaning kesutjen, ja alam purwaka. Tjethane jen ingsun iki ja sira, ateges ingsun sumimpen ana ing sira, ateges ingsun sumingid ana ing sira, ateges ingsun njamadi marang sira, ateges ingsun nguripi marang sira, ateges ingsun kang agawe kekuatan marang sira, lan ateges pribadiningsun, ja pribadinira. Mula saka kuwi ngger, elinga sira marang ingsun, uga ingsun tansah makarti tumrap sira. Jen sira lali, ateges datan maelu marang ingsun, ingsun mesthi bae ora saged tumindak, djalaran katutup dening pakartining kuwadhaganira. Dene kuwadhaganira dipandhegani si Lokaprana, ja kuwi kang tansah ngaling-ngalingi sira, jen ta sira kepengin emut marang ingsun. Kang mangkono mau jen sira wus widjang-widjang panampanira, kaja samubarang lir wus ora bakal tumpang suh ja senadijan ngenani djagad gumelar apadene ngenani bawana setranira dhewe, kanggo saiki ja kanggo ing mbesuke, jen sira wus tumeka ing djandji bisaa bali, kaja dene Tapaking Garuda Jeksa kang sinamber gelap, sirna sakpandurat lir katijup ing maruta sakethi.. Semene dhisik ngger, poma tansah EMUT.” Djaka Lawung: “Kandjeng Ejang Begawan, sareng ingkang wajah nampi wedjangan sawatawis saking pandjenenganipun Ejang, kados siniram toja gesang raosing manah, kenging kawastanan, kalis saking sedaja rubeda. Pramila namung sagung pangaksami ingkang tansah kula suwun, kersaa Ejang paring sih kawelasan dhateng djasat kula, ingkang namung tansah katutup ing warananing gumelar, nilar dhawuhing rama ibu. Punapa dene sareng Ejang andhawuhaken, bilih inggih Ejang punika djasat kula, nalika kula taksih wonten ing guwa garbaning ibu, nindakaken tapa, kenging kawastanan mboten tumama ing bentjana, mboten ketaman gebijaring kelahiran ing wusana sareng kula midjil saking wewengkoning ibu ing wekasan kula tumindak mboten sakmesthinipun, ingkang ateges namung tansah ngumbar ubaling pantjadrija, kesupen dhateng duk asal kula, lan dhateng pundi purug kula ing bendjingipun.” Begawan Manik Sidhi: “Wis ora maido ngger, apa maneh sira kang pantjen durung titi wantji ngawruhi sedjatining kahanan, ja kahanan ing nalika semana apa dene kahanan ing mbesuke, selagine para djanma kang ngrumangsani wus bontos mungguh ing kawruh sangkan paraning dumadi bae isih akeh kang padha nglenggana, amarga pantjen durung pinareng lan antuk wangsiting Hijang Sasangka Djati. Maknane ja saka pepadange dhewe kang ateges pribadi, ja kang den arani gurunira sedjati. Ja amarga saka kahanan kang mangkono mau ingsun kepara wani rawuh andhisiki ana ngersanira, djer kabeh mau wus katata, katiti lan ora ana barang kang luput saka sedijane, sakuger kabeh ditindakake kanthi temen-temen lan djudjur. Mula saka kuwi ngger, pamundhutingsun, adja sira gampang mitajani marang rembuge sapa bae, kang nyata-nyata durung bisa minangkani, apa ta sedjatine kang diarani Guru Sedjati kuwi. Mangka ing wektu dina saiki, kaja sira wus bisa wawan sabda karo Guru Sedjati, ora lija ja ingsun pribadi iki, ateges ja pribadinira dhewe. Kanggo kagambarake dhek nalikane sira isih djumeneng ing sadjeroning guwa garbaning ibunira.” Djaka Lawung: “Saja padhang raosing manah kula Ejang sareng tampi dhawuh punika wau. Kepareng ingkang wajah ladjeng njuwun priksa kados pundi ing saknjataning gumelar punika, lan kados pundi tumrap ing wekdal sakpunika, punapa inggih namung kedah mekaten kemawon, ingatasing kula punika anggadhahi kuwadjiban mengku negari dalasan sak-isinipun, ingkang ing wekdal sapunika kula pasrahaken dhateng dimas Minak Pijungan. Awit saksirnaning rama ibu ingkang sampun swargi, paring piweling, menawi bendjingipun negari Madjapait punika badhe angalami kawontenan ingkang sakelangkung awrat sanggenipun, ingkang wosipun supados kula waspada sedaja tindak tanduk kula.” Begawan Manik Sidhi: “Ngger, bener banget pitakenira iku. Mula ngger sedjatine dhek nalikane sira isih djumeneng ana ing guwa garbaning ibunira, kabeh mau wus kawetja, tandha jektine ingsun ing wektu dina iki bisa anggelar sakabehing kahananira dhek samana, wong sedjatine sira ing kala samana ja ingsun iki, dadi kabeh iki wus katata lan katiti, marga saka kawitjaksanira ing dhek djaman kala sama, ja ateges kawitjaksananingsun ing sak-iki iki. Bab pangembataning pradja sedjatine ora kepareng sira aturake tumrap marang ingsun, djalaran tundone bandjur tumudju marang gebijaring kelahiran. Ewa semono jen pantjen temen-temen kabeh iku mau ora mung kanggo keperluanira dhewe, kaja dhek nalikane sira isih ngasta pusaraning pradja, Ejang ija mrajogakake. Mangertia ngger, anggenira nindakake tapa brata seprana-seprene kae kudu katudjokake marang kabeh para kawula, utawa ing besuk jen wus tumeka redjaning djaman. Mula saka kuwi ngger piwelingingsun, sakpungkuringsun iki mengko, sira kepareng nilar putjuking gunung Ardjuna kene, lan andjudjuga ing sadjeroning dhatulaja Madjapait, nemonana adinira si Minak Pijungan. Sira wadjib mendha-mendha kaja wong miskin kang panggaweane mung andjedjaluk. Ing wusana kanggo mangerteni lan andjadjagi sepira saktemene penggalihe adinira lan keprije pangrengkuhe. Jen pantjen adinira apik tengkepe lan pangrengkuhe marang sira lan mangerteni sedjatine sira kuwi sapa, wusana bandjur mundhuta pamit, dene bab ruwet rentenging negara tetep pasrahna marang adinira. Nanging jen pangrengkuh kuwi mau nganggo tjara kang deksura, dakwenang utawa munasika, kersaa sira bandjur gawe ontran-ontran. Mundhuta siti sak-gegem, bandjur sabdanen dadi kentjana. Ing kono sira bandjur njenjuwun marang Hijang Bagas Puruwa, supaja pengagem tjara Nelendra, kaja nalikane sira djumeneng bijen. Jen Minak Pijungan wus ngrumangsani kaluputane, negara apa dene isen-isene kabeh pasrahna, nanging mawa perdjandjen, adja kongsi negara kapasrahake marang putrane Minak Pijungan, awit putrane Minak Pijungan ora anduweni wenang mangku negara Madjapait, dene kang wenang ja putranira dhewe. Bab srah-srahaning pradja ngenteni jen putranira wus midjil saka garwanira padmi.” Djaka Lawung: “Nalaripun kados pundi Ejang, djalaran ngantos wekdal sapunika ingkang wajah dereng anggadhahi garwa utami padmi.” Begawan Manik Sidhi: “Ngene ngger, jen sira wus masrahake negara marang adinira, sira kudu djengkar saka kedhaton, lakunira ngidul terus mangulan bener. Jen sira wus tumeka ing sakwetane gunung Lawu, ing kono sira bakal mirsani ana sela gedhe nanging rata, lan ing kono ana tjarakan Djawa, tinggalane Ejangira dhewe kang aran Begawan utawa Empu Galihan. Ja marga anggonira bisa matja tjaraka mau, ateges sira wus mangerteni marang asal mulanira apa dene marang paranira. Sakwise sira bandjur djumeneng ana ing sak tjedhaking sela kono, dadi Pandhita Nalendra adjedjuluk Begawan Dwiasmara. Tetekia kongsi djangkep sapta warsa lan adja sira kundur jen durung pepanggihan karo Pandhita Wanodija kang asma Resi Trembini. Ja Resi Trembini kuwi kang bakal dadi garwanira. Dene asma kang saktemene ja kuwi Dewi Lawung Wati Sri Wardani. Ja ing kono sira bakal kagungan putra kakung gumanti keprabon Madjapait, kang aran Raden Prijangga Lawung. Dene Dewi Lawungwati Sri Wardani kuwi putri saka negara Djenggala kang kebhedhah dening Djaja Katiwang dhek djaman kala samana. Nanging mangertija jen Dewi Lawungwati Sriwardani kuwi juswane kira-kira ja wus sepuh, nanging ja ing kono si Prijangga Lawung bakal mretapa, tjalon djumeneng nata Madjapait Prabu Hajam Wuruk, ja Prabu Brawidjaja Kalamurti Tjakrabuwana kang kaping IV.” Djaka Lawung: “Sesampunipun mekaten ladjeng kados pundi Ejang, punapa ingkang wajah tetep wonten pertapan ?” Begawan Manik Sidhi: “We lha ora ngger, sira lan garwanira kudu wani tumindak kaja dene kawula tjilik, idhep-idhep mirsani keprije sedjatine kahanan negara kuwi, sira kudu laku tetanen, ngupakara tanem tuwuh, utawa kasile bandjur diedol menjang negara. Anggone ngedol ana ing sadjerone pasar, ja garwanira sing nggendhong, lha sira dewe sing njunggi, sarta ana ing dalemira kudu tlaten ngopeni sato iwen, upamane pitik, bebek, menthog lan lija-lijane. Dadi tjekak tjukupe kudu bisa urip kaja dene wong tani kae. Ing kono babar pisan sira ora kepareng ngatonanke jen sira mono sedjatine Nalendra. Jen ing wajah bengi sing wadjib mulang-muruk bab tjarakan Djawa marang sapa bae, utawa kabeh ija uga bab kawruh sangkan paraning dumadi. Djer mengko kena kanggo pantjadan sira djumeneng nalendra kang witjaksana ambek adil paramarta, asih ing sesamaning dumadi. Bisa angrasakake keprije dadi kawula kuwi, dadi ora mung waton paring dhawuh thok bae.” Saka panuwune Ejang, sira adhedhukuh ing pedhukuhan kang diarani Madjalangu, kang ora adoh saka Talok Langu, ja kuwi ngger sedjatine kang aran Negara Madjapait, asal saka padhukuhan kang sira dunungi mau. Dene madja ateges manunggaling djagad, pait tegese paekaning tumitah kang tjidra. Dadi ing mbesuke Negaranira bakal rusak marga saka pokale turunira dhewe, nanging ing titi mangsa kala bakal mudjudake Negara kang bisa agawe manunggaling djagad, kaloka kadjana prija, kondhang ing Bawana mantja. Ja ing kono negaranira bakal dadi negara gedhe kang katelu lan anduweni tjahja kang sumorot madhanigi ngawijat. Ing sakwise mamgkono sira kudu wani nandur empon-empon tolaking wong sak Negara, dene papan kang betjik ing tlatah wetan, ja kuwi ing sakwetane Semeru. Ing kana sira bakal kagungan garwa ampejan asma Dewi Wiraksini Prabawulan. Wus samene bae ngger piwelingingsun, lan inggal ajatana adja kongsi katalompen, lan sakpungkuringsun terus tindaka mlebu marang dhatulaja.” Djaka Lawung: “Sanget kapundhi dhawuh pengandikanipun Ejang lan ingkang wajah namung tansah njuwun tambahing pangestu, pinaringan kijat lan emut, sarta mboten badhe tumpang suh anggen kula nindakaken”. Sakpandurat Begawan Manik Sidhi sampun mboten katingal ing pandulu, mlebet ing madijaning Guwalajanipun Djaka Lawung. Saja adamel teguh sedijaning Djaka Lawung anggenipun badhe nindhakaken pakarjan utami kalawau. Wekasan Djaka Lawung ugi mandhap saking petapan redi Ardjuna, terus ngener dhateng kedhaton negari Madjapait, Kanthi mengagem ingkang sarwa rompang-ramping, tumindak kados dene tijang ngemis, terus mandjing ing salebeting dhatulaja. Kaleresan Sang Nalendra inggih Minak Pijungan pinudju lenggah ingadhep andher para abdi dalem seba tjaos, ngendikan bab anggenipun ngasta pusaraning pradja. Ketingal rena ing penggalih, katandha anggenipun ngendika kinanthenan gudjeng ingkang renjah, adamel renaning para ingkang sami seba tjaos. Dereng dangu anggenipun sami imbal watjana, katungka sowanipun abdi dalem djagi, ngaturi uninga bilih ing srambining dhatulaja wonten satunggaling tijang ngemis ingkang kepengin mundjuk atur ing ngersaning nata. Sang Nalendra marengaken supados tijang ngemis wau sowan ing ngarsa nata. Sareng sampun katingal sowan, sanget andadosaken dukaning ingkang Sinuhun, teka wudjudipun tijang ngemis kemawon udjug-udjug wantun lenggah ing kursi andjadjari ingkang Sinuhun. Sang Nata ladjeng utusan abdidalem supados tijang ngemis kalarak medal pinaringan pidana sakmurwatipun. Nanging sareng tijang ngemis badhe kalarak ladjeng njirnani, ing wusana adamel ontran-ontan, mundhut siti sakgegem, pinudja dados kentjana. Wusana Sang Prabu kepareng nimbali tijang ngemis wau, sanget kedjotipun malih, bilih sirna wudjuding tijang ngemis, nanging gantos wudjud ingkang raka, inggih Sang Prabu Brawidjaja kaping II, ngagem busana kanalendran. Dhawuhipun Sang Prabu (Brawidjaja II): “Jaji Prabu, durung sapira lawase sira ngasta pusaraning pradja djumeneng nata wus tumindak sija marang sakpadha-padhaning tumitah. Ja kebeneran iku kang mandjilma djenengingsun pribadi, upamane wong ngemis temenan, kira-kira ja sira patrapi paukuman, senadijan wong ngemis iku tanpa dosa lan perkara, mung marga saka wani lungguh kursi djadjar sira. Kang mengkono mau jaji, andadekna ing pangeling-elingira ing salawas-lawase”. Minak Pijungan: “Dhuh kakangmas, pantjen ingkang raji kirang waspada, mertandhani bilih ingkang raji dereng saged djumeneng nata gung binathara, ingkang mekaten kala wau prajoginipun sedaja panguwaosing ratu kula kunduraken ing ngersa paduka kakangmas. Dene sedaja kalepatanipun ingkang raji,kersaa paring gunging pangaksami”. Sang Prabu: “Wus ora dadi ngapa jaji, jen tumindakingsun iku sedjatine kanggo andjadjagi penggalihira, wus kuwat apa durung djumeneng Nalendra, nanging sepisan iki ora dadi baja pengapaa, muga-muga ing sateruse adja kongsi sira ambaleni maneh tumindak kang keleru mau. Dene bab pradja tetap ingsun pasrahake marang sira. Nanging poma dipoma, adja kongsi dipasrahake sapa bae jen ingsun durung kundur, djalaran mangertia jaji, jen kang andarbeni wenang nglengser keprabon ing mbesuke dudu saka turasira, nanging midjil saka turasingsun”. Minak Pijungan: “Nuwun dhawuh sendika kakangmas. Sedaja badhe kula estokaken, ladjeng kakangmas badhe ngersakaken djengkar negari malih punika nalaripun kados pundi, sarta tindakipun dhateng pundi utawi pinten warsa dangunipun ?”. Sang Prabu: “Bab djengkaringsun sira ora perlu mangerteni, kabeh mau dadi reregemaningsun. Wus jaji, karia slamet basuki tumeka ing besuke”. Sang Prabu Brawidjaja kaping II inggih Djaka Lawung kanthi mengagem tjara limrah terus ontjat saking dhatulaja, tindakipun ngener redi Lawu ingkang sisih wetan. mboten Katjarios tindakipun ing samadijaning marga Djaka Lawung andhedherek dhawuhipun Begawan Manik Sidhi, terus andjedjak ing papan ingkang sampun kapratelakaken dening Begawan Manik Sidhi kasebat, inggih punika njata wonten ing lelengkehing redi Lawu ingkang sisih wetan, katingal sela ageng wradin. Inggal-inggal Djaka Lawung minggah dhateng sela kala wau, sareng sampun dumugi ing nginggil, pranjata wonten seratanipun Djawa Kina, inggih punika ingkang sinebat Tjarakan Djawa. Djaka Lawung sakelangkung ngunguning penggalih mirsani tjarakan Djawa kala wau kalijan ngumandika, iki bandjur keprije tjarane aku bisa matja. mboten dangu Begawan Manik Sidhi sampun katingal rawuh ing ngersaning sinatrija, ladjeng paring pitedah bab pemaosing tjarakan Djawa wau, dhawuhira: “Ngger Djaka Lawung, tumungkula ngger, lan rungokna dhawuhingsun tumrap pematjaning tjarakan iki: “Hingsun Nitahake Tjahja Rasa Karsa” “Dumadi Titising Sarira Wandija Laksana” “Pantya Dhawuhing Djagad Jekti Ngawidji” “Marmane Gantya Binuka Thukul ing Ngakasa” Kuwi ngono anggambarake kahanan ingsun apadene sira dhek djaman kala samana, sakdurunge mawudjud kaja ngene ini. Mungguh keterangane mangkene: Hingsun kuwi katjekak Ha, tegese ana, wudjud, wiwitan, ja kuwi kang den sebut Hijang Bagas Puruwa, lenggahe ana ing alam Puruwa, ya alam Wasana, kena diarani Sirna nanging Neka, utawa datan kena kinaja ngapa. Nitahake, jen katjekak Na tegese, ndhawuhake, njabda, nganakake, andjumenengake, mudjudake. Dadi Hijang Bagas Puruwa wus andhawuhake. Tjahja, jen katjekak Tja tegese, Sorot, pepadhang, sunar kang tanpa wewajangan. Ja kuwi tjahjaning Hijang Bagas Puruwa pribadi. Rasa, jen katjekak Ra tegese, ja rasane Hijang Bagas Puruwa pribadi kang wus kadhawuhake utawa katitahake. Karsa, jen katjekak Ka tegese karep, ja karepe (karsane) Hijang Bagas Puruwa dhewe (pribadi). Dadi: HA, NA, TJA, RA, KA, tegese, Hijang Bagas Puruwa wus aparing dhawuh marang tjahja, rasa lan karsane pribadi, kang supaja tumitis utawa tumurun, tegese turun saka pribadine Hijang Bagas Puruwa dhewe. Dene Hijang Bagas Puruwa kuwi kena diarani Sang Hijang Huna, tegese Swara, Pangandika kang tanpa lesan. Dene lesan ing kene ateges piranti. Bandjur sakteruse : Dumadi, jen katjekak Da,tegese wis dadi, mawudjud, gatra wis ana, nanging wudjud utawa gatra kang isih samar. Tegese ora bisa dipirsani nganggo pirantining pantjadrija. Titising, jen ditjekak Ta, tegese tetesing sabda, dhawuh, pangadika mau. Sarira, jen ditjekak Sa, tegese Sarining Rasa, ja rasane Hijang Bagas Puruwa kasebut. Wandija, jen katjekak Wa, tegesa wahana kang winadi, utawa wola-wali (ora mung sepisan), dadi wahana kang winadi kuwi sedjatine ja kang diarani ora mung sepisan kuwi. Laksana, jen katjekak La, tegese tumindak utawa ditindakake, lumaris, lumaku, makarti. Ja marga pakarti, tumindak lan laku mau, bandjur bisa mawudjud wela-wela. Dadi: DA, TA, SA, WA, LA, tegese Ana Tetesing Rasa Kang Wola-Wali Pakartine, tjetha jen kabeh kuwi ora mung sepisan gawe, kang ateges marambah-rambah nganti kena diarani datan ana pedhote, utawa langgeng, tetep, adjeg, kaja dene getere djedjantungira. Pantya, jen katjekak Pa, tegese papan, wadhah, panggonan, bolongan, guwa, utawi sipat. Dhawuhing, jen katjekak Dha, tegese perintahe, pakone, kongkonane, utusane. Djagad, jen katjekak Dja, tegese djagad, bumi, bawana, kelaswara, tijambita, wewengkon, ringkese diarani panguwasa. Jekti, jen katjekak Ja, tegese sajekti, sedjati, temenan, ora goroh, sampurna, pepak, djangkep ora kurang. Ngawidji, jen katjekak Nga, tegese manunggal, kumpul, ora pisah, samad sinamadan, limput linimputan. Dadi: PA, DHA, DJA, JA, NJA, anduweni teges: Wadhah Kanggo Papane Dhawuh Kang Wus Manunggal Kalawan Bumi, tegese wadhah lan isine ora bisa pisah, utawa sing andhawuhi lan sing diparingi dhawuh wus njawidji (manunggal). Marmane, jen katjekak Ma, tegese mulane, sanjatane, akibate, kedadeane. Gantya, jen katjekak Ga, tegese ganti, berobah, ewah sipate, owah wewudjudane, owah kahanane. Binuka, jen katjekak Ba, tegese kabukak, menga, diweruhi, kaweruhan, katon, mangerti, karasa, kasat ing mata. Thukul ing, jen katjekak Tha, tegese wutuh, semi, modot, berobah saka asale, pindhah saka papane. Ngakasa, jen katjekak Nga, tegese ngawijat, dirgantara, awang-awang, ndhuwur, ngantariksa. Dadi: MA, GA, BA, THA, NGA anduweni teges: Mulane Bandjur Owah Wewudjudane lan Bandjur Thukul Ing Awang-awang, tegese ana nanging durung kasat mata, ja pirantine si pantjadrija. Semene ngger, luhuring tilarane ejangira dhewe ja Empu Galihan, anggone paring tetilaran marang putra wajahe, kedjaba bakal kena kanggo sesambungane pangandikan tumrap sidji lan sidjine, djebul ngemu surasa nalika sira isih ana ing djaman ketentreman, ja djaman kang wiwitan. Kawruh iku mau sedjatine durung tutug, djalaran kedjaba ana aksara Djawa, uga ana sandhangan, tegese sakwise sira bleger awudjud kaja saiki iki bisa njandhang, ngrasakake. Dadi sandhangan dudu panggango, nanging Rasane. Tjatjahe sandhangan iku mau ana 12 idji, dene aksarane ana 20, mulane aksara Djawa iku kabeh ana 32. Telu ateges asalira, rasaning bapa, rasaning bijung lan titising Hijang Djagad Pratingkah, dene loro kuwi tegese wadhah lan isine. Kawruh kang kaja mangkene iki sebarna marang kabeh para kawula, kareben padha mangerti marang asale dhewe-dhewe, kang ateges ora gampang ngumbar hardaning kamurkan. Kaja wus tjukup samene ngger piwelingingsun bab tilarane ejangira Empu Galihan, wus ngger karia basuki”. Saknalika Begawan Manik Sidhi enja saking pandulu, dene Djaka Lawung saja mantep, madhep lan rumaos rena sanget panggalihipun, dene wonten kedadosan ingkang saged maringi pepadhang ngantos dumugi sakputra wajahipun sedaja bendjing ugi badhe sanget mangertosi, ingkang ateges mboten itjal larinipun. Pamesubratanipun kaladjengaken terus ngantos pinten-pinten warsa. Ing ngriku Djaka Lawung djumeneng Pandhita Nalendra, adjedjuluk Pandhita Dwiasmara, ugi Pandhita Katong. mboten karontje kawontenanipun Sang Pandhita, anudju ing satunggaling dinten, Sang Pandhita lenggah ing srambining Sanggar Palanggatan, ingadhep sedaja para tjantrik, ingkang karembag inggih namun tambahing kawruh budhi, ingkang tumudju dhateng kaluhuran djati. Dereng dangu anggenipun sami asung pangandika, katungka aturipun tjantrik, bilih ing ndjawi wonten satunggaling wanodija ingkang kepengin sowan ing ngarsa resi. Sang Pandhita ugi ladjeng marengaken. Sesampuning wanodija sowan, Sang Pandhita mundhut priksa: “Sampejan saking pundi mbakju, dene nami sampejan sinten, kok keraja-raja tekan padhepokan ngriki, napa baja wonten perlu.” Wanodija: “Inggih Sang Pandhita, kula punika asal saking negari Djenggala, ladjeng kepladjeng nalika negari Djenggala binedhah dening Ratu Angkara, ingkang nama Prabu Djaja Katiwang. Sampun dangu anggen kula ngumbara kalunta-lunta, perlu ngangsu kawruh Kejaten, inggih kawruh kasunjatan. Ing wusana salebeting kula ngumbara tanpa prana, mireng rawat-rawat bakul sinambi wara, bilih ing ngriki wonten pandhita kang sidik, asma Pandhita Dwiasmara, punapa inggih pandjenengan Sang Pandhita ? Dene peparab Kula Resi Lawung Wati, nami kula pijambak Lawung Wati Sri Wardani, putra ratu ing Djenggala duk samanten.” Sareng Sang Pandhita mireng aturipun wanodija kala wau, saknalika emut dhateng dhawuhing Begawan Manik Sidhi, menawi wanodija punika njata-njata tjalon garwanipun, pramila mboten saranta Sang Pandhita ladjeng aparing dhawuh kanthi trang terwatja: “Diadjeng, kaja wus tumeka ing titi wantji, jen sira bakal dadi tetimbanganingsun. Awit Hijang Bagas Puruwa wus paring uninga marang djeneng ingsun, jen sedjatine ja sira kuwi kang pantes ingsun garwa kinarja sarana margane ingsun adarbe turun tjalon gumanti keprabon ing negara Madjapait. Mula dhiadjeng, adja kongsi sira andarbeni pangira-ira kang ora bener, awit kabeh mau kaja wus kinarsakake mring Djawata, dadi jen pantjen sira kepengin njuwita ing padhepokan kene, kaja ja wus prajoga banget, malah sakwise iki sira bakal ingsun bojong tindak anjedhaki pradja, sakperlu mirsani kahananing negara, awit negara ing wektu dina samengko ingsun pasrahake marang adhiningsun si Minak Pijungan. Ing kana ingsun bakal andjudjug ing padhepokan Madjalangu lan ingsun wadjib agawe karang kitri, laku tetanen, sira mengkono uga dhiadjeng.” Wanodija: “Dhuh sang Pandhita, sanget andadosaken ngradatosing manah kula sareng nampi dhawuh pandjenengan ingkang kados mekaten punika. mboten kanjana-njana menawi kula badhe kedhawahan pulung ingkang tanpa upami agengipun, bebasan lumpuh kang saged lumaris. Sang pandhita, menawi pantjen Sang Pandhita sudi dhateng djasat kula, badhe anggarwa dhateng kula, punapa mboten getun ing pawingkingipun, awit Sang Pandhita katingal taksih mudha, ing mangka kula sampun sepuh kados mekaten wudjudipun, Sang Pandhita. Punapa malih sareng kula mireng, bilih Sang Pandhita punika Nalendra ing Madjapait, punapa inggih pantes menawi kula angrenggani keputren, kinarja garwa prameswari.” Sang Pandhita: “Wis ta dhiadjeng adja sira kakehan ing pangudasmara, djer kabeh kuwi wus kinarsakake ing Djawata, dadi ingsun apadene sira mung kari nindakake.” mboten katjarios Sang Pandhita kalijan Dewi Lawung Wati Sriwardani sampun sami sih-sinisihan, lir saklimrahing djanma, ing wusana sang Dewi sampun katingal anggarbini timur. Ing salebeting anggarbini kala wau, Sang Dewi sanget anggenipun kagungan pepinginan dhahar ulam ajam sawung, ingkang ulesipun wiring kuning tjampur wido djengger lan sukunipun pethak memplak. Panuwunipun dhateng ingkang garwa mboten kenging kaampah, kumetjer ngiler. Sang Pandhita mboten kirang weweka, sedaja panjuwunipun ingkang garwa inggal kaupadi, wekasan pikantuk satunggiling sawung tjeples ingkang dados panjuwunipun ingkang garwa. Sawung ladjeng kapragat, ulamipun kadhahar sedaja kanthi nikmating raos. Inggih sawung punika sedjatosipun ingkang badhe djumeneng wonten ing guwa garbaning Sang Dewi, ingkang ing tembe badhe mijos kakung tjalon gumantos Kepraboning negari Madjapait, adjedjuluk Raden Prijangga Lawung. Sang Pandhita ingkang tansah emut dhateng dhawuhing Begawan Manik Sidhi, sesampuning ingkang garwa anggarbini sawatawis tjandra, ladjeng kabojong dhateng padhepokan ing Madja Langu ing satjelakipun Negari Talek Langu, ing sisih ler kilenipun. Wonten ing padhepokan ngriku, Sang Pandhita inggal mbangun teki, jasa dalem sakmurwatipun, nindakaken tetanen, nginguh sato iwen, ingkang wosipun sedaja wau sami tumut amiturut dhawuhing Begawan Manik Sidhi. mboten katjarios Sang Dewi sampun ambabaraken putra kakung, bagus ing warni, kimplah-kimplah pindha tojaning tlaga Arga Sonja. Djabang baji senadijan saweg juswa 2 warsa, namung sampun katingal pamering ngaluhur, pantjen inggih trahing kesuma dhasar tedhaking mara tapa. Sang Bagus pinaringan asma Raden Prijangga Lawung. Kotjapa sareng Raden Prijangga Lawung sampun djangkep juswa 17 warsa, saja tjetha pamoripun, gumebijar mentjorong, mertandhani tjalon Nalendra Binathara. Remenipun namung tansah ulah kridaning dedamel, tetes, merak ati, ngabekti dhateng rama ibu, lembah manah, nanging kendel, datan adjrih dhateng punapa kemawon. Landheping panggraitanipun ngedab-edabi, persasat pirsa dhateng sedaja kawontenan, senadijan dereng winarah nanging dipun tresnani dhateng kantja-kantjanipun ing kiwa tengening padhepokan ngriku. Remen weweh dhateng sesami, asih lan andhap asor, ngertos dhateng susila, mboten ngluhur-ngluhuraken, tindakipun sami kemawon kalijan lare padhusunan, persasat mboten mantra-mantra menawi punika sedjatosipun putraning Nalendra. Ing wantji senggang ingkang rama kepareng nimbali ingkang putra, dhawuhipun: “Ngger Prijangga Lawung, sira ingsun paringi pirsa ngger, nanging adja kaget atinira, lan bandjur adja kegedhen ing rumangsa. Mengkene ngger, sedjatine wong atuwanira iku ja ingsun iki dudu kawula tani kang mengkene iki. Ingsun sedjatine Nalendra Madjapait. Kala samana nalika rama isih djumeneng, akeh banget penggodhane. Mula rama bandjur kepengin gesang kaja dene kawula ing nganti seprene. Dene negara ingsun pasrahake marang pamanira dhewe, ja kuwi si Pangeran Anom Minak Pijungan lan sakiki djumeneng Nalendra adjedjuluk Prabu Brawidjaja Kalamurti Tjakra Buwana kang kaping III. Dene ingsun wus paring dhawuh marang pamanira, adja kongsi negara dipasrahake marang sapa bae, jen ingsun durung kundur ngedhaton. Ing wusana wektu dina samengko kaja wus tumeka titi wantji ingsun andjabel panguwasane Minak Pijungan, djalaran ingsun wus rumangsa kagungan putra kang wenang nglenggahi dhamparing keprabon, ja kuwi sira ngger. Jen ingsun waspadakake, kaja sira wus andungkap diwasa, kaja wus pantes jen ta ngrenggani negara Madjapait. Mangertia ngger, sedjatine ibunira iku putri saka Djenggala, dadi wus pantes jen djumeneng prameswarining Nata. Mula sira ja wus wenang banget nglintir keprabon. Mula saka kuwi ngger, poma dipoma tansah sumungkema ing ejangira kang wus swargi, kang bakal andjangkung pangastanira djumeneng Nata ing pradja Madjapait.” Raden Prijangga Lawung: “Kandjeng Rama sesembahan kula, sanget ing pamundhi dhawuhipun rama, ingkang putra namung andhedherek sedaja dhawuh, mboten badhe ambadal kersa. Sedaja namung tansah sumarah ing ngarsa rama dalasan ibu, ingkang kula bekteni lahir trusing batos, inggih wakiling Hijang Bagas Puruwa.” Sang Pandhita lega sanget ing penggalihipun, dene ingkang putra tansah andherek dhawuning rama. Sang Pandhita paring dhawuh malih: “Nanging mangertia ngger, jen djumenengira dadi nalendra kuwi kudu ngenteni jen sira wus juswa 25 warsa, dadi kurang 8 warsa. Ing sadjeroning 8 warsa mau, kang 7 warsa anggonen ngulandara, lelana kang sakperlu ngudi kawruh budhi kang sedjati, anggladhi marang katijasaning sariranira, kudu wani pait getir, makarja kang abot, nindakake talak brata, pirsa marang kasengsaraning kawula, pirsa marang kawula kang dhemen nindakake djubrija, tjidra, durdjana lan kudu wani nanggulangi. Adja sira kundur jen sira durung ngleksanani pamundhute rama. Awit sira wadjib sudjana marang kedadean ing tembe mburi, emut marang anak turunira, andjaga katentremane djagad sak isine kabeh. Jen kurang sakwarsa djandji sira wus bisa ngleksanani pamundhute rama, sira kepareng kundur. Ing kono sira ingsun sengkakake ngaluhur djumeneng Adipati Anom. Dene bab jasa kraton ora perlu bojong menjang Talok Langu, tjukup padhukuhan kene bae kanggo kraton. Katimbang ngusir si Minak Pijungan mesakake, aluwung ingsun kang ngalah. Wis ngger djengkara saka kene, ingsun tunggu ing padhepokan kongsi sakrawuhira ngger. Ora liwat rama mung bisa paring pudja-pudji pangestu, rahaju, widada ing saklawas-lawase.” Raden Prijangga Lawung: “mboten langkung rama, ingkang putra namung njuwun tambahaing pangestu, tinebihna ing rubeda, tjinelakna ing karahajon. Sampun rama, sembah sungkem kundjuk ing ngersa rama miwah ibu.” Raden Prijangga Lawung nilar padhepokan sumedia nindakaken dhawuhing rama, dene Sang Pandhita miwah garwa sami nengga ingkang putra kanthi raos prihatos, sarta tansah njenjuwun ing Djawata, sageda ingkang putra tansah pinajungan karahajon. Kekawin Sutasoma by wayang in Kitab & Kidung Karya Empu Tantular Ah naranya: vijil nin bdyu sanke sarlra, ah sabdanya, muksa rik sarlra, candrarüpa ikan sarlra ri muksa nin bdyu rin sarlra, saumyalilan ahënin ikan sarlra vëkasan, sdnta-candra naran ikd, sdnta-smrti naran vaneh. Ri hana nin smrti-sürya sdnta-candra dadi tak advaya-jndna. Patëmu nin advaya mvan advaya-jndna, ya tandadyakën Divarüpa, (b 42) avd sadd-kdla, ahënin nir-dvarana kadi te ja nin manik, apadan rahina sadd, sugandha tan gavai-gavai, surüpa tan gavai-gavai; surasa tan gavai-gavai sira katon denta. Ikan am ah yatikd sinangah sak hyan advaya naran ira, bapa sira de bhatdra hyan Buddha. Ikan jndna vruh tan vikalpa humidëk nir-dkdra, yatika sinangah san hyan advaya-jndna naran ira. San hyan advayajndna sira ta devï bhardlï Prajndpdramitd naran ira, sira ta ibu de bhatdra hyan Buddha. San hyan Divarüpa sira ta bhatdra hyan Buddha naran ira. Metre sragdhara Srï Bajrajndna sünyatmaka parama sirdnindya rin rat visesa, lila suddhdpratisthên hrdaya jayajayankën mahd-svarga-loka, eka-cchattrên sarïranhuripi sahana nin bhür bhuvah svah prakïrna, sdksat candrarka pürnadbhuta ri vijil iran sanka rin boddhi-citta. Singih yan siddha-yogïsvara vekas ira san sdtmya Idvan Bhatdra, sarva-jnamürti sünyaganal alit inucap musti nin dharma-tattva. Tantular, Sutasoma Kakavin 38.1—42.4. 38. Metre praharsinï 1. Satvendröraga tika mukya Hastivaktra, bhakty arianjali ri sira n narêndra-putra, kapvaminta vinarah in mahopadesa, dvaranun tuten in a-cintya-sünya-dharma. 2. Apan kveh i manah i san mahati-yogi, wanten nirmala-bhava moksakan ginön tvas, len tan tyaga pëjah anun yathêsta-dharma, panlingan nrpa-suta nasta mankya mülya. 3. Sansiptan lëvih ikanan paratra-marga, sankên moksaka ri hidëp patik nararya, dü bhagyadhika panucapta sadhu rin rat, adya nvaii majara masaksya san rësindra. 4. Sirigih linta parama-moksa-marga dibya, de nih rat kunan ika san mahati-vidvan, tan moksahga juga visesa-dharma-marga, matyasin saparaga nin kabodhisattvan. 5. Pöh nin sastra tëkap i san visesa-sadhu, yadyan panlëha suka yan parartha donya, durrlaksmyathava sugihêki tan vikalpa, mon matyahuripa lamun jagad-dhitartha. 6. Nhih têkan parama-nirasrayêki gönën, rin jfianadhika vëkas in maha-visesa, tan svargabhyudaya kitan panekacitta, yêkande sasar ikanan paratra-marga. 7. Toh ndyanun vivitan ike linanta manko, vidyadi-krama ginëlar tëkap Bhatara, dharmadharma tuvuh ikan samasta-bhümi, mati mvan mahurip aneka srsti nin wan. 8. Püja yoga japa samadhi dana punya, len têkah brata suci paksa Bhairavatva, salvirnyêii asubha-subha pravrtti rin rat, jnanavesa milu tumut punarbhavêka. 39. Metre sikharini 1. Kunan san wan nissreyasa sira tatan siddhi rin ulah, ndatan püja tan yoga rinëgëp iran nisbhava sada, luput sankên bhava-krama pati hurip tan panavara, apan saksat sankan paran ika sira-cintya-bhavana. 2. Sirêkadrëvya jnana tiga hurip in bhümi sahana, banun bhayên way tan milu banu sirên duhka suka len, gunanekalit tan lëga masëk in alvadbhuta tëmën, göh tan mopëk yan mafijih in ahët ikasüksma sumilib. 3. Kalïnanyêvëh san vinuvus i vuvus nin wan amuvus, apan rakvêki tan vënaii inubhayan pan sira mucap, siranon tan katon sira juga manon pan sira manon, adoh tan düra nke sira ta maparëk tan kaparëkan. 4. Yateka pinrih nin viku ri tëka nin dharma kapatin, savan kris sah sankên sarunan inunus tan kahavaran, tëkap nin trinyarok rva pinasah irên jnana vimala, vidagdhaninkab roma salaya tinut nin nirupama. 5. A-cintyanumpak rin taya matapakan bhaskara vulan, ika lvir san llnadhika sama lavan moksa-karana, nda sansiptan sin solaha juga lamun nirmala sada, prasiddhamor in tan hana kaluput in vahya-vibhava. 40. Metre 1. Nahan lin Jina-mürti majar i kadibyan in patipati, mvan tan moksaka-marga kempen i vuvus niran pavacana, ndan san Samajavaktra naga-pati satva-natha karuna, bhakty ananjali jöh niramalaku sih nirêki tulusa. 2. De nin yoga samadhi tan hana ri san nir-asraya-yati, nis tan marga visesa rakva ri hidëp patik nrpa-suta, siddhan yoga yan arddha liii nira nir-asrayêki kahidëp, nëm kvehnyadhika rin sivatva ya rënön mahottama tëmën, 3. Pratyahara naranya kalapan in indriyêka vinalat, sankên artha jugêka rakva makamarga buddhi vimala, nyan dhyanadhika dhïra yoga humidëp sva-sadhya mapagëh, nir-byamoha taman kasambi rin ulah prapanca satata. 4. Pranayama naranya bayu vinatëk marêii hulu tënah, sarva-dvara minëb tëkapnya tinut in visesa katëmu, omkara pranavêki murigu ri dalëm tvas arddha ya kasök, vet nin tattva Sivatva dharana naranya yoga saphala. 5. Len tan tarka naranya yoga gaganöpama n manah ava, hhih tan vak-dhara rakva len ika sakêrikan avanavan, mvan tan jnana vikalpa tarja malilan vi-sadhya pinëlën, nis-sandeha samadhi yoga panaranya moksa-karana. 6. Tandvan asta-gunan kapangiha tëkapnya rakva rumuhun, drsyadrsya vasitva rih bhuvana Rudra-mürti sa-kala, yekan bvat i manah nira n parama-santikarya nipuna, kempër yan rusit in jitêndriya juran niii ambëk ahajön. 7. Yapvan dhïra manah katungën ikanan sva-citta mabënër, tan kevö tëkap in trikaya vala siddhi sarva-karana, kevëh nin tri-gunatmakarddha ya huvus kasimpën amatëh, nka rakvan sira sünya-rüpa paramartha-tattva kahidëp. 41. Metre sardülavikrïdita 1. Nahan tinkah ikah Sivatva ri sira n Saiva-sva-paksadhika, bheda mvan Jina-tattva têki ri sira n Bauddhaprameyêh jagat, san hyan Hadvaya-yoga-sandhi pinakesti dvara san bhiksuka, arn ah sabda nikan sva-bayu ri dalëm kantha prasiddhafihayu. 2. Rep prapta n ravi soma denya sumaput rin deha suddhakrti, mvan tan Hadvaya-citta divya mapageh ftkanê manah nirnaya, pöh nin rvanupamati-sïghra ri vijil hyah Buddha tan kavaran, sünyakara divanga nir-mala siran nirbana nir-laksana. 3. Apan tan siva tan Mahesvara sira n tan Brahma tan Kesava, tan san hyah paramesthi Rudra tuduhën düran kavastvêrika, singih yan Paramartha-Buddha tëmahan san siddha-yogisvara, iccha nora kasansayaganal alit tan matra matrên jagat. 4. Nahan hetu bhatara Buddha kahidëp putraprameyên jagat, san hyah Hadvaya rama tattva nira de san panditanhayvani, Prajnaparimitêbu tan sah i sëdën nin yoga sanusmrti, tan ragodaya bhinna rakva kalavan hyah Durmukhên atmaja. 5. Mahka sïla nirêh mahayana vëkas nih Bodhisattvan laku, vet nih tattva visesa tan huniha rih Hastesvaranindita, yavat preksaka rakva tavat ikanah nissreyasêvëh pinet, nahan hetu ni sah Sivatva makadat muhsy amrihên sünyata. 42. Metre vasantatilaka 1. Sahsipta têki bapa sah Gajavaktrarüpa, mvah naga-raja karuhun vara-sattva-natha, prih hayva tan dugadugê vuvus in kadi hvah, Buddhopadesa tëka rih Siva-tattva-yoga. 2. Apan tivas juga sira h muni Bauddha-paksa, yan tan vruh ih parama-tattva-Sivatva-marga, mahka h munindra sah apaksa sivatva-yoga, yan tan vruh ih parama-tattva Jinatva-manda. 3. Na de nirahucapakën vacanöpadesa, tan lambalamba tuhu yan Jina-mürti saksat, Durvaktra naga-pati satva-pati pranamya, bhakty ati-bhakti manadah vacanati-guhya. 4. Sampun matêki ya kinon ira bhiksva vikva, yan ksetra sindhu giri sohgvanan ih mayoga, hhih tan pakarvana tapo-vana hayva mahka, yan mahkanêki gati sah viku Bauddha-paksa. Babad Caringan by wayang in Kitab & Kidung Sebelas Sarasilah dan Babad Caringin Dengan rakhmat Tuhan Yang Maha Esa dan Atas nama Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang Semoga para leluhur memperoleh keselamatan dan anugerah dan semoga kami pantas untuk mengemban segala warisannya Sarasilah Caringin Ini adalah trah dan sarasilah para leluhur di kawasan Caringin yang sejarahnya telah mewarnai corak kehidupan di tempat ini dan kehadirannya dirasakan melalui pengucapan nama penuh hormat serta diketahui melalui segala petilasan peninggalan mereka Berbagai tokoh dan nama keturunan telah hadir di Caringin baik ulama maupun prajurit, orang saleh maupun jawara dari trah Kalijaga dan Ngampel Denta, juga dari darah agung Siliwangi dan tidak ketinggalan pula para pahlawan perkasa dari Mataram disertai dengan banyak para tokoh dari wetan lainnya Mereka semua telah meninggalkan jejaknya di Bumi Caringin yaitu jejak dan tapak yang pantas dipelihara dan diikuti Demikianlah kini akan diuraikan secara rapi berurutan para nenek moyang yang dahulu telah membuat sejarah di kecamatan ini. Dari trah Kalijaga datanglah Eyang Sapujagad, yaitu Kyai Langlangbuwana yang menikah dengan Setiyadiningsih atau Hadityaningsih yaitu putri yang di petilasan Cileungsi disebut Kembang Cempaka Putih dan pada petilasan Babakan diberi gelar Dewi Kembang Kuning maka kedua suami istri inilah yang telah menurunkan Kyai Elang Bangalan yang telah datang dan seterusnya menetap di daerah Lemah Duhur. Kemudian daripada itu Elang Bangalanpun menurunkan empat orang anak yang tertua adalah Arya Sancang di Garut-Pameungpeuk diikuti oleh Eyang Badigul Jaya Pancawati, Ayah Ursi Pancawati dan Eyang Ragil Pancawati maka ketiga anak yang lebih muda itu turut menjadi cikal bakal Caringin serta meninggalkan kenangan di Pasir Karamat yang diluhurkan. Anak tertua Eyang Badigul Jaya adalah Ayah Iming, yaitu Kyai Haji Sulaiman yang makamnya masih dapat ditemukan di Kebun Tajur Anak yang kedua dinamakan Umaenah, yaitu istri Eyang Ranggawulung atau Rangga Agung maka suaminya itulah yang menjadi leluhur di Cimande-Tarik Kolot Anak yang ketiga dinamakan Romiah yang dinikahi oleh Eyang Buyut Umang, yaitu sebagaimana ia disebut di Caringin, karena di Cinagara ia disebut Aki Degle adapun Eyang Buyut Umang itu adalah putra Ki Kastiwa, cucu Ki Kaswita, cicit Suwita, dan turunan pahlawan Jaka Sembung, yaitu suami Roijah gelar Bajing Ireng sedangkan Eyang Buyut Umang sendiri juga telah menurunkan dua orang anak, yaitu Aki Eming yang dipusarakan di makam Gede di Tonggoh dan Aki yang dipusarakan di Cipopokol Hilir, Pasir Muncang Selanjutnya, anak keempat Badigul Jaya adalah Samsiah, yang menikah dengan Aki Kartijan dan anak kelima adalah Amsiah yang menikah dengan Bayureksa yang disebut juga Reksabuwana, yaitu putra Radyaksa, cucu Jayadiningrat dari Mataram ialah pahlawan perkasa yang petilasannya terdapat di Tanjakan Ciherang maka Bayureksa dan Amsiah menurunkan Ki Ranggagading dan Ki Kumpi yang kedua-duanya dimakamkan di kawasan Cigintung-Caringin Akhirnya, anak kelima Aki Badigul Jaya adalah ibu Esah, yang menikah dengan Aki Bangala yaitu putra Aki Jepra atau Ki Kartaran, dan cucu Aki Kahir, tokoh dunia persilatan. Selanjutnya, dari trah Raden Rakhmatullah Sunan Ngampel Denta diturunkanlah Ki Karmagada yang menurunkan Ki Karmajaya, yaitu ayahanda Ki Kartawirya yang berasal dari Jampang-Surade dan telah datang ke Lemah Duhur, untuk menetap di Legok Antrem adapun Ki Kartawirya itu disebut pula Haji Akbar ia menurunkan Marunda dan Marunda menurunkan Murtani dan seterusnya Murtani menurunkan Pitung, jago silat dari Rawa Belong. Diriwayatkan pula bahwa Ki Kartawirya memiliki istri bernama Nyi Antrem yang namanya telah diabadikan dalam nama Legok Antrem sasaka kami Maka Nyi Antrem itu pun berasal dari satu keturunan dengan suaminya sebab leluhurnya, yaitu Sekh Japarudin, juga berasal dari trah Ngampel Denta Sekh Japarudin menurunkan Ki Kartaji dan Ki Kartaji menurunkan Aji Tapak Ireng selanjutnya Aji Tapak Ireng menurunkan lima orang anak Pertama adalah Aji Wisa Ireng yang juga disebut Haji Aleman Kedua Aji Wisa Kuning, ketiga mbah Ambani, keempat Ki Anom dan kelima ibu Ucu yang diperistri oleh Ayah Haji Abdul Somad, leluhur di Cimande-Tarik Kolot Keluarga dan turunan inilah yang menjadi asal-usul masyarakat di Curuk Dengdeng maka dari Aji Wisa Irenglah ibu Antrem diturunkan ke dunia yaitu ibu Antrem yang telah dipusarakan di kawasan Legok Antrem. Adapun Ki Karmagada juga menurunkan anak lelaki adik Ki Karmajaya yang kemudian menurunkan Ki Jaka Kadir, yaitu tokoh yang dipusarakan di Leuweung Ki Maun, yang terletak di atas Legok Antrem Seterusnya Ki Jaka Kadir menurunkan Ki Jaka Bledek, leluhur kampung Bendungan di Kampung Tajur Demikianlah itu tentang para leluhur dan pendahulu yaitu mereka semua yang berasal dari trah Ngampel Denta. Seterusnya sebagaimana diriwayatkan oleh mereka yang mengerti sejarah mengalir pula darah leluhur Siliwangi pada diri para leluhur di Caringin mewarnai jalan kehidupan masyarakat dan memancarkan kesejatian rasa membangkitkan kesucian sikap dan menaikkan kebajikan laku Maka inilah keluarga para jawara yang menghubungkan Siliwangi dan Caringin menghubungkan masa lalu dan masa kini serta mengarahkan masa depan. Sang Ratu Jaya Dewata Prabu Siliwangi menikah dengan Nyi Ratu Subangkarancang dan menurunkan tiga orang anak, yaitu dua orang lelaki dan seorang wanita anak yang tertua adalah Pangeran Arya Santang, Panembahan Cakrabuwana anak yang kedua adalah Nyi Rara Santang ibunda Syarif Hidayatulah dan anak yang ketiga adalah Kian Santang atau Prabu Sagara atau Sunan Rakhmat Suci di gunung Godog yang disebut Sekh Kuncung Putih di Cibadak-Pangasahan maka ia itulah leluhur seorang tokoh bernama Elang Sutawinata. Adapun Elang Sutawinata yang disebut di atas menurunkan tujuh orang anak pertama adalah Jaka Sembung yang menikah dengan Roijah gelar Bajing Ireng kedua adalah Jaya Perkosa yang menjadi patih Prabu Geusan Ulun di Sumedang Larang seorang istrinya bernama Mulantri dan salah seorang anaknya pernah hadir di Caringin yaitu yang disebut Aki Palasara, disebut Aki Kabayan, disebut Ki Jambrong yang memiliki petilasan di Kebon Tajur, di atas Legok Antrem, lalu di Legok Jambrong dan juga memiliki petilasan di Legok Batang, di kawasan Citaman, di desa Tangkil Selanjutnya anak ketiga Elang Sutawinata adalah Aki Kahir yang nama-nama dan petilasan-petilasannya akan diuraikan di bawah anak keempat adalah Eyang Ranggawulung leluhur di Tarik Kolot anak kelima Aki Dato di Bantar Jati dan Pondok Pinang anak keenam Sekh Sake di petilasan di Citeureup dan anak ketujuh Pangeran Papag yang menikah dengan Sari(w)uni, putri Ki Hambali. Sembilan nama dan sembilan petilasan dimiliki anak ketiga Elang Sutawinata Aki Kahir di Bogor-Tanah Sareal, Sekh Majagung di Cirebon Pangeran Jayasakti di Batu Tulis, Gentar Bumi di Pelabuhan Ratu Aki Euneur di Pangasahan, Cikidang, Cipetir dan Eyang Kartasinga-Wirasinga di Tarik Kolot Aki Dalem Macan di Citeureup, Eyang Pasareyan di Cidahu, Cibening, Ciampea dan yang kesembilan dan terakhir adalah Ki Jambrong di Cirebon. Maka Aki Kahir menurunkan anak lelaki bernama Ki Kartaran yang berganti sebutan menjadi Ki Jepra sekembalinya dari pertempuran di Tegal Jepara ia dipusarakan pada dua petilasan di dua tempat sebuah di Kebun Raya Bogor dan sebuah lagi berupa makam putih di Cimande Hilir Ia menurunkan empat orang anak, seorang lelaki dan tiga orang wanita yang tertua adalah Aki Bangala yang menikah dengan uwak Esah yang kedua dalah Nini Sarinem di Ciherang-Limus Nunggal disebut Sri Asih di Cirebon dan Nini Sarem di Cileungsi suaminya adalah Kyai Ajiwijaya dari Plered-Purwakarta yang ketiga adalah Nini Sayem di Ciherang-Limus Nunggal yang menikah dengan Ki Puspa dari Cirebon yaitu tokoh yang dihubungkan dengan Kuda Puspagati dari petilasan Pasir Kuda di Lemah Duhur dan yang keempat adalah Nini Sarimpen di Garut yaitu istri Banaspati, seorang panglima Panembahan Sabakingkin dari Banten. Selanjutnya dikisahkan pula bahwa Rangga Wulung, anak keempat Elang Sutawinata menurunkan lima orang anak yang masing-masing disebut sebagai berikut: Aki Ondang, Aki Buyut, Aki Anom, Aki Suma dan Aki Ace dan diriwayatkan pula bahwa ketika Eyang Rangga Wulung memasuki Caringin ia diiringi oleh Ajengan Kuningan dan Ki Age yang keduanya dimakamkan di Kebun Tajur, di sebelah atas Legok Antrem Kemudian daripada itu berniatlah kami kini untuk mengurutkan garis keturunan Arifin yaitu seorang rekan pengawas di Bina Kertajaga Siliwangi Anom baik dari garis ayahnya maupun dari garis ibundanya. Para leluhur dari pihak ibunya adalah sebagai berikut: Elang Sutawinata menurunkan Ranggawulung, yang menurunkan Ki Ace, yang kemudian menurunkan Ayah Haji Abdul Somad, yang kemudian menurunkan Haji Ajid, yang menurunkan Hajjah Kuraisin, istri Ki Lurah Uji, yang menurunkan ibu Enen, anak angkat Haji Atap, istri bapak Ubeh Subandi. Sedangkan para leluhur dari pihak ayahnya adalah sebagai berikut: Elang Sutawinata menurunkan Aki Kahir, yang menurunkan Ki Jepra, yang kemudian menurunkan Nini Sayem di Limus Nunggal Selanjutnya Nini Sayem menurunkan Ki Rasiun, yang menurunkan Ki Sarian, yang menurunkan Ki Jaian dan Ki Jaiin Seterusnya Ki Jaiin menurunkan Ki Haji Muat yang menurunkan Ki Kaeji Haji Akhmali, yang dahulu memiliki Legok Antrem dan juga mendirikan persatuan pencak silat Hibar Karuhun Maka Haji Akhmali itu dahululah yang membawa pengaruh Tarik Kolot ke sekitar desa Cikalang dan dia adalah ayah Ki Haji Barnas, bapak Ubeh Subandi dan adik-adiknya Selanjutnya, dari Cikalang di desa Caringin kami mengalihkan uraian ke pemakaman tua di desa Cinagara, yang terletak dibawah pohon rindang di situ disemayamkan Mbah Dalem Cinagara dan Mbah Dalem Asihan, istrinya Seseorang meriwayatkan kepada kami tentang Mbah Dalem yang dikatakan berasal dari Jawa Timur dan disebut dengan nama Eyang Adeg Daha tetapi seseorang lainnya mengisahkan silsilah Mbah Dalem sebagai berikut: Dari trah Brawijaya, melalui trah Kalijaga diturunkan Raden Tresna yang disebut juga Pandewulung dari Kudus Ia menurunkan Sekh Japarudin dari Mataram yang menurunkan Sekh Sekh Abdul Muhi dari Pamijahan yang selanjutnya menurunkan Sekh Mohammad Abdul Sobirin, yaitu Mbah Dalem Cinagara pepunden masyarakat di Dukuh Kawung. Demikianlah itu Sarasilah Caringin sebagaimana telah diuraikan oleh Ki Jumanta dari Cikodok, yang sangat tekun mendalami sejarah sekarang diurutkan pula nama-nama tempat dan desa tempat para Karuhun di pusarakan dalam damai. Di Lemah Duhur dan Pancawati: Eyang Kartasinga, Ki Sarian dan Ki Rasiun di Tarik Kolot. Eyang Ranggawulung dan putra-putranya, beserta ayah Haji Abdul Somad di Tarik Kolot. Eyang Badigul Jaya, ayah Ursi dan Eyang Ragil di Pancawati. Eyang Rasiyem di Legok Mahmud. Aki Anyar dan Nini Siti Mastiyah di Tanjakan Saodah. Pangeran Jayakarta, putra Wijayakrama, yang memiliki petilasan di Pulo Gadung, berputra Eyang. Sagiri, yang petilasannya terdapat di Bojong Katon. Eyang Bangalan di Cikodok, Kampung Legok. Ki Jaka Kadir dan Ki Jaka Bledek di Legok Antrem. Nyi Antrem dan Ki Kartawirya di Legok Jambrong. Ajengan Kuningan, Haji Sulaiman ayah Iming, uwak Esah anak Badigul Jaya, Aki Age, Setyawati Kusumah dari Mataram dan Ki Jambrong anak Jaya Perkosa, semuanya di Kebun Tanjur. Di Cimahi Jaya: Tidak ada yang tercatat telah dipusarakan di tempat ini. Di Pancawati: Aki Ariyam dan Ki Suwita di Legok Nyenang. Di Ciherang Pondok: Nini Amsiah di tengah kawasan desa. Haji Abdul Kohar atau Mbah Ageng di perbatasan Ciawi. Nini Sarinem di Blitung-Cikeretek. Hadikusuma, putra Tubagus Gelondong di Cibolang. Di Muara Jaya: Batara Kresna, Aki Arya Kusuma di Rawayan. Adipati Wirasembada di Kampung Nyenang, dan mbah Muhi. Di Pasir Muncang: Aki Wirakerta dari Kuningan, Nini Antri, putri Ki Anyar, cucu Sekh Asnawi di Cipopokol Girang. Aki Aliyun di Cipopokol Hilir. Suryadiningrat, cucu Sekh Malik Ibrahim di Ciburial. Di Cinagara: Raden Suryapadang di Kampung Curuk Kalong. Mbah Dalem Cinagara dan Mbah Dalem Asihan di Dukuh Kawung. Di Tangkil: Aki Degel, Haji Muid, dan Ni Jabon, istri Suryadiningrat di Kampung Loji. Nini Rasa dan Ki Jambrong di Legok Batong, yang juga disebut Aki Palasara. Di Pasir Buncir: Batara Karang atau Pangeran Jayataruna dari Ponorogo. Di Ciderum: Bango Samparan dari Ponorogo, kakak dalang Asmorondono, dan Ki Kastiwa. Di Caringin: Galuh Pakuan atau Walasungsang atau Cakrabuwana; Ki Kartaji; Aji Tapak Ireng; Aji Wisa Ireng, dan Aji Wisa Kuning di Kampung Curuk Dendeng. Ki Umang, Aki Ranggading, dan Ki Kumpi di Cigintung. Di Cimande Hilir: Reksabuwana atau Bayureksa di tanjakan Ciberang, dan Eyang Bangala. Demikianlah selesai kami urutkan sarasilah, nama tokoh dan petilasan di Caringin Babad Caringin Ucapkanlah Asma Yang Maha Agung di Pasir Karamat kagumilah alam pada batu besar di Pancawati hormatilah peninggalan yang sangat tua di Pasir Kuda bersemadilah pada goa dengan air terjun di jurang Citaman pergilah menapak tilas kelima tempat Siliwangi di sepanjang Cisalada hingga ke Curuk Merot pelajarilah warisan Cimande pada guru yang rendah hati Kunjungilah Bumi Kawastu untuk merundingkan perjuangan datanglah ke Legok Antrem untuk mempererat persaudaraan dan dengarkanlah dengan teliti isi kisah babad Caringin yaitu Caringin Kurung dari masa lalu dan Caringin Kurung dari masa yang akan datang Kemudian dengan tekad membaja dan semangat membantu negara bersama-sama mengucapkan manggala, sebagaimana telah disusun di Sasaka Antrem: “Kertajaga Bumi Kawastu, Mugi rahayu di Legok Antrem, Mugi jaya di Tegal Laga, Mejangkeun teras hibar Karuhun” Semoga semua rela menata dengan jujur, Semoga memperoleh harta rohani dalam bejana budi pekerti yang mendatangkan ketentraman, yang mendatangkan kesejahteraan. Inilah riwayat babad Caringin, babad yang telah disampaikan dari yang tua kepada yang muda: Dari ketinggian di Sasaka Jati Pasir Karamat memandang ke bumi Pakuan memohon dan memperoleh terang batin: “Surya Padang Caang Narawangan” menghargai dengan hormat Bukit Baduga di Rancamaya menyaksikan dengan kagum Mandala Keratuan di Batu Tulis melayangkan pikiran ke Watu Gigilang, yang kini terletak di negeri Banten meneliti perjalanan sejarah di dataran yang berada di antara kedua gunung. Di sini pernah terjadi gejolak dan gemuruh peperangan ketika terdengar kabar berlangsungnya perang antara Pajajaran dan Banten juga ketika kemudian tentara Banten meliwati daerah menuju Cikundul untuk menyerbu Begitu pula para prajurit, perwira dan tokoh-tokoh persilatan yang turut mengalami api perubahan jaman dan bergantinya masa; seterusnya menanamkan ciri dan corak keperkasaan ketika bermukim di Caringin membanggakan keberanian dan kejantanan di samping ketakwaan dan kesalehan yaitu semangat keprajuritan sebagaimana terkandung dalam sasmita-kata: “Bojong Katon Pasir Bedil Lemah Duhur Pangapungan Pancawati Denda” Ratusan tahun yang lalu berdiri sebuah tangsi tentara Mataram yaitu di tempat yang sekarang disebut Pasar Caringin yaitu pada jalan yang menuju ke Maseng, Pasir Bogor, lalu Cihideung dan Kota Bogor Jauh sebelum jalan mulai menanjak dan berbelok-belok di situlah bersemayam Tumenggung Wiranegara pemimpin pasukan dari wetan yang gagah perkasa yang sedang berusaha keras menahan pengaruh dari kota di utara sebagai perwira Mataram dan sebagai kusuma bangsa sebagai tokoh perjuangan yang tak lelah berkarya. Kapan dan bagaimana para perwira Mataram tiba tentunya ditanyakan peristiwanya oleh banyak orang walaupun benar dan tidaknya itu masih sulit ditentukan tetapi beberapa bukti menunjukkannya sebagai kemungkinan. Pada tahun 1628 dan 1629 tentara Mataram dan Sunda datang menyerbu kedudukan Belanda di Negeri Betawi pada kedua peristiwa itu mereka akhirnya dipukul mundur Karena kalahnya persenjataan dan terbakarnya gudang-gudang makanan ingin kembali ke timur jalan laut terhalang armada kompeni maka terpaksa mengambil jalan darat di sepanjang pegunungan tengah pada peristiwa itulah mereka meninggalkan nama dan bekas. Rawa Bangke tempat gugurnya ribuan pasukan Matraman tempat mereka bermukim beberapa lama Ragunan yang bukan tidak mungkin berasal dari nama Wiragunan lalu adanya beberapa makam dan petilasan Kuno di Caringin seperti Bayurekso-Reksobuwono di tanjakan Ciherang ia di pusarakan dan ia disebut sebagai anak Radyaksa, cucu Jayadiningrat dari Kartasura. Kembali kepada periwayatan babad Caringin Kurung katanya tangsi tentara Mataram itu dikurung tembok dan di dalamnya ditanam pohon Caringin atau Beringin yang dengan demikian melahirkan nama Caringin Kurung Menurut kisahnya tempat itu pernah digadaikan kepada Belanda yang menolak untuk menyerahkan kembali ketika hendak ditebus karena itu muncul sengketa yang berkepanjangan yang akhirnya pecah menjadi suatu pertempuran panjang. Semua kekuatan pribumi baik yang gaib maupun nyata dikerahkan untuk merebut Caringin Kurung dan mengembalikan hak Wiranegara dari kampung Gembrong di belakang Maseng Arya Wiryakusuma membantu juga Suryakancana yang di luhurkan di kabupatian Bogor di Pasir Muncang-Muara Jaya tegak berdiri Batara Kresna Ki Kartaji, Aji Tapak Ireng dan Aji Wisa Ireng di Curuk Dengdeng tidak ketinggalan pula Galuh Pakuan yang dihadirkan untuk memperkuat seluruh pasukan-pasukan pribumi Jaka Kadir dan Jaka Bledek menahan jalan di Legok Antrem Eyang Bangala di Cimande Hilir, Ranggawulung di Pancawati serta Aki Ranggagading dan Ki Kumpi di Cigintung-Caringin hanya satu tokoh pribumi memilih untuk memihak Belanda yaitu Hadikusuma, putra Tubagus Gelondong, di Cikeretek-Cibolang Dalam adu senjata di hibar Caringin pada medan laga di bumi Pakuan itu karena kehendak Yang Maha Kuasa pasukan pribumi tak berhasil mencapai maksudnya Bersama dengan perjalanan waktu yang mengikis dunia kebendaan lenyap pula tempat dilingkup tembok dimana terdapat pohon beringin itu tetapi rupanya tetap dikenang lalu dilontarkan ke masa depan dijadikan ramalan melalui kata-kata orang tua : “Lamun geus ngadeg Caringin Kurung, didieu bakal rame, didieu bakal makmur” Demikianlah babad Caringin Kurung menurut penuturan Ki Jumanta benar tidaknya kiranya hanyalah Tuhan yang mengetahui tetapi satu hal saja hendaknya jangan dilupakan oleh para pewaris ini adalah tanah perjuangan, tanah keperwiraan dan tanah keperkasaan Ini adalah tanah orang yang beribadah, bekerja keras dan membangun kemuliaan Karena itu bangkitlah untuk Caringin, untuk tanah air dan untuk masa depan. 23 Jul 2010 2 Comments by wayang in Falsafah Wayang, Kitab & Kidung Berasal dari kata Asto atau Hasto yang artinya delapan, kemudian Baroto yang artinya laku atau perbuatan. Jadi ASTHA BRATA atau Hasto Broto berati delapan laku atau delapan perbuatan. ASTHA BRATA terdapat dalam Sarga XXIV dari wejangan Ramayana kepada Gunawan Wibisono, juga Sri Kresna kepada Arjuna. Diterangkan bahwa seseorang yang ditakdirkan untuk menjadi pemimpin atau raja adalah dalam jiwanya terdapat delapan macam sifat kedewasaan atau delapan macam watak-watak delapan dewa. Kewajiban seorang pemimpin harus selalu mencerminkan sifat dan sikap: 1. Dewa Surya atau Watak Matahari Menghisap air dengan sifat panas secara perlahan serta memberi sarana hidup. Pemimpin harus selalu mencerminkan sifat dan sikap semangat kehidupan dan energi untuk mencapai tujuan dengan didasari pikiran yang matang dan teliti serta pertimbangan baik buruknya juga kesabaran dan kehati-hatian. 2. Dewa Chandra atau Watak Bulan Yang memberi kesenangan dan penerangan dengan sinarnya yang lembut. Seorang pemimpin bertindak halus dengan penuh kasih sayang dengan tidak meninggalkan kedewasaannya. 3. Dewa Yama atau Watak Bintang Yang indah dan terang sebagai perhiasan dan yang menjadi pedoman dan bertanggung jawab atas keamanan anak buah, wilayah kekuasaannya. 4. Dewa Bayu atau Watak Angin Yang mengisi tiap ruang kosong. Pemimpin mengetahui dan menanggapi keadaan negeri dan seluruh rakyat secara teliti. 5. Dewa Indra atau Watak Mendung Yang menakutkan (berwibawa) tetapi kemudian memberikan manfaat dan menghidupkan, maka pemimpin harus berwibawa murah hati dan dalam tindakannya bermanfaat bagi anak buahnya. 6. Dewa Agni atau Watak Api Yang mempunyai sifat tegak, dapat membakar dan membinasakan lawan. Pemimpin harus berani dan tegas serta adil, mempunyai prinsip sendiri, tegak dengan berpijak pada kebenaran dan kesucian hati. 7. Dewa Baruna atau Watak Samudra Sebagai simbol kekuatan yang mengikat. Pemimpin harus mampu menggunakan kekuatan dan kekuasaannya untuk menjaga keseluruhan dan keutuhan rakyat serta melindungi rakyat dari segala kekuatan lain yang mengganggu ketentraman dan keamanan secara luas dan merata. 8. Dewa Kuwera atau Watak Kekayaan atau Watak Bumi Yang sentosa, makmur dengan kesucian rohani dan jasmani. Pemimpin harus mampu mengendalikan dirinya karena harus memperhatikan rakyat, yang memerlukan bantuan yang mencerminkan sentosa budi pekertinya dan kejujuran terhadap kenyataan yang ada. Sumber Penulisan : BUKU WYATA PRAJA, STPDN untuk Angkatan XIII Tahun 2005. Babad Nitik 06 Mar 2010 Leave a Comment by wayang in Kitab & Kidung Naskah asli Babad Nitik tersimpan di Perpustakaan (Widyabudaya) keraton Yogyakarta. Babad ini ditulis di atas kertas berukuran folio, dengan tinda hitam, berhuruf Jawa dengan bahasa Jawa Bercampur Kawi, digubah dalam bentuk tembang macapat. Penulisnya tidak diketahui, tetapi diterangkan bahwa ditulis atas perintah Sultan Hamengku Buwono VII. Waktu penulisannya disebutkan dengan Sengkalan “Resi nembah ngesthi tunggal” (1867 Jw/1936 M). Babad Nitik (Sultan Agung) yang seluruhnya terdiri dari tiga puluh lima pupuh tembang itu berisikan pengalaman Sultan Agung sejak masih menjadi putera mahkota, pelantikannya sebagai Sultan dan masa pemerintahannya yang berpusat di keraton Kerto. Diceritakan bahwa sewaktu masih menjadi putera mahkota, beliau mengadakan perjalanan ke seluruh Jawa, Asia Tenggara, Timur Tengah, bahkan ke dasar laut dan alam kedewataan. Semua perjalanan itu dilaksanakan secara gaib. Seperti kita ketahui pada zaman dahulu keyakinan yang hidup dalam masyarakat kita bahwa raja itu bukan manusia biasa, melainkan manusia dewa yang memiliki kelebihan-kelebihan dari manusia biasa. Pada zaman Sultan Agung berkuasa, agama Islam sedang berkembang pesat di atas dasar budaya Jawa sebelum itu. Seorang raja yang berwibawa dan berpredikat “Gung Binathara” adalah raja yang berkualitas manusia-dewa sekaligus Khalifatullah. Dalam babad tersebut diceritakan bahwa Sultan Agung pergi ke Mekkah untuk minta pengakuan sebagai Khalifatullah. Perjalanan putera mahkota Mataram (sebelum dinobatkan) ke seluruh Nusantara dan Asia Tenggara dalam rangka “nitik” atau menjajagi keadaan daerah yang dikunjungi tersebut, dalam upaya pengembangan kekuasaan kelak jika telah memegang tampuk pemerintahan. Rupanya dengan alasan itulah maka babad ini dinamakan Babad Nitik. Sang putera mahkota Mataram yang bergelar Pangeran Adipati itu selalu mampu menundukkan negara-negara yang dikunjungi dengan kesaktiannya sendiri. Kemudian raja dan rakyat dari negara yang sudah tunduk itu bersedia masuk Islam. Cerita ini mirip dengan hikayat Amir Hamzah (di Jawa terkenal dengan nama Wong Agung Menak) dalam menyebar atau mengembangkan Islam. Hal ini untuk membuktikan atau menunjukkan bahwa Sultan Agung adalah Khalifatullah. Di samping itu Babad Nitik juga berisi hal-hal yang berbau mistik, seperti: Sulatan Agung kawin dengan Dewi Ratu Kidul. Begitu juga Sultan dapat terbang ke Kadewataan (Surga) dan bertemu dengan tokoh-tokoh dari dunia pewayangan, yakni Pandawa yang dipandang sebagai leluhur. Pergi ke Mekkah hanya dalam beberapa menit dan sebagainya. Hal itu semuanya untuk menunjukkan bahwa beliau berkualitas Raja-Dewa-Khalifatullah. Biasanya Babad memang diwarnai oleh hal-hal yang berbau mistik seperti itu. Babad Nitik juga sebenarnya banyak berisi informasi kebudayaan dan kesejarahan. Akan tetapi informasi kesejarahan yang terdapat dalam babad harus diuji betul-betul kebenarannya, dengan cara membandingkan dengan sumber-sumber lain sebab dalam babad banyak sekali hal-hal yang bersifat fiktif. Beberapa informasi yang dapat dipertimbangkan untuk dikaji lebih jauh sebagai data sejarah dan kebudayaan, diantaranya: 1. Tentang sifat seorang raja yang baik adalah: (a) pandai memikat para prajurit dengan penghasilan yang cukup, dan tidak menyakiti hatinya; (b) tidak membuat sakit hati rakyat; (c) bijaksana, hati-hati, cepat dalam mengambil keputusan; (d) pandai mendidik rakyat; (e) selalu waspada terhadap tingkah laku rakyatnya; (f) bertanggung jawab; (g) berbudi halus dan luhur; (h) taat beragama dan beribadah; (i) sabar berdasarkan kearifan huum; (k) teguh pendirian; (l) dapat mengelakkan segala godaan; dan (m) menyebarluaskan agama. 2. Sebagai seorang seniman, beliau menciptakan: (a) tari serimpi; (b) menyempurnakan gamelan dengan menambah instrumen bedug dan saron ricikan; (c) menciptakan gending Andong-andong, Madubrata, Kodok Ngore dan Monggang; dan (d) menciptakan Wayang Gedhog dalam cerita siklus Panji. 3. Sultan Agung naik tahta tahun 1617. Dalam catatan sejarah, Sultan Agung naik tahta pada tahun 1613, tetapi menurut Babad Nitik baru tahun 1617 karena pada waktu Prabu Hanyakrawati (Raja Mataram II) mangkat belitu tidak ada di tempat dan tidak diketahui sedang berada di mana. Oleh karena itu diangkatlah adiknya yang bernama Pangeran Martopuro. Baru pada tahun 1617 beliau muncul. Pangeran Martopuro turun tahta, lalu pergi ke Bagelen, tidak lama mangkat dan dimakamkan di bukit Sela Bagelen. 4. Semasa pemerintahannya, beberapa kali ganti pejabat tinggi: (a) Patih: Tumenggung Mandaraka (1617-1623), Tumenggung Singaranu (1623-1645); (b) Pengulu: Wanatara (1617-1619), Pangeran Kepodang (1619-1620), Kyai Serang (1620-1622), Ahmad Kategan (1622-1645); (c) Jaksa: Juru Mayemditi (1617-1623), Kyai Mas Sutamarta (1623-1645). 5. Sultan Agung memugar makam Tembayat. Pada tahun 1620 Sultan Agung memugar pemakaman Tembayat (Kabupaten Klaten) di mana terdapat makam Pangeran Pandanaran yang telah mengajar Ilmu Paramawidya kepada Sultan Agung dan menjadikan daerah Tembayat bebas pajak (perdikan). 6. Membangun pemakaman Imagiri. Sultan Agung membangun pemakaman untuk dirinya di bukit Girilaya, sebelah utara-timur Imagiri. Sewaktu pembangunan makam belum selesai Pangeran Juminah (pamannya) meninggal di tempat itu dan dimakamkan di tempat itu juga. Kemudian Sultan Agung membangun pemakaman Imagiri seperti yang masih ada sampai sekarang. 7. Sultan Agung tidak gagal menyerang Kumpeni. Hasil utamanya adalah semangat juang yang terus berkobar. 8. Keraton Sultan Agung di Kerto menjadi model. Sultan Agung setelah naik tahta memindahkan keratonnya ke Kerta (sebelah selatan Yogyakarta), keraton itu bagus tetapi tidak berpagar benteng, melainkan hanya berpagar korden dari kain sutera karena Sultan merasa tidak perlu, tidak ada orang yang berani mengganggu keraton raja yang sakti itu. Kiranya Keraton Kerto inilah yang menjadi model Keraton Surakarta dan Yogyakarta yang masih ada hingga sekarang ini, kecuali bentengnya. Sumber: Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1991. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara II. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Serat Salokatama 06 Mar 2010 Leave a Comment by wayang in Kitab & Kidung Naskah Serat Salokatama dikarang oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ariya Mangku Nagara IV pada 1799 Jawa atau 1870 M. Serat Salokatama dikarang dalam bentuk tembang mijil, seluruhnya ada 31 “pada” (bait), sudah pernah diterbitkan oleh Nurhipkolep Jakarta 1953 dengan huruf Jawa. Saloka berarti perumpamaan atau ceritera sedang tama berarti utama atau baik. Salokatama berarti perumpamaan atau ceritera yang utama atau yang baik. Ini terungkap pada bait terakhir dari tembang tersebut yang berbunyi: Itij panawunging ruwiyadi yang artinya: telah selesai uraian ceritera yang baik. Isi Serat Salokatama Adapun intisari isi Serat Salokatama selengkapnya seperti pemaparan berikut ini. Yang dilihat oleh pengarang adalah sesuatu yang tidak pada tempatnya dan selalu mengganggu pikirannya. Umumnya orang yang punya kemauan sering tidak mawas diri, berbuat tak terkendali dan akhirnya mendapatkan “nistha”. Orang muda suka menonjolkan dirinya agar orang lain takut dan menghargai. Mereka tidak tahu bahwa perbuatannya itu banyak yang menertawakan, membuat orang lain tidak senang dan musuhnya menjadi bersyukur karenanya. Tampaknya seperti seorang pemberani, tingkah lakunya dibuat-buat, sehingga tampak seperti seorang jahil atau penjahat. Kelak ika mereka telah berhenti dari perbuatan itu, orang tetap tidak percaya bahwa mereka orang baik-baik. Andai kata orang hidup itu dua kali, tidak ada orang takut mati serta tak ada orang yang kecewa. Tetapi karena hidup hanya satu kali, banyak yang kecewa hidupnya, sehingga kadang-kadang ingin bunuh diri. Tetapi bunuh diri sebenarnya lebih sengsar, makamnya tidak boleh dicampur dengan leluhur dan orang banyak. Orang yang membunuh orang dosanya amat besar, tetapi masih lebih besar dosa orang yang bunuh diri, sehingga “nistha” melebihi matinya lutung atau kera. Membersihkan dosa tidak ada cara lain kecuali minta maaf kepada semua yang disakiti hatinya. Jika lebih tua dan lebih tinggi berbaktilah. Jika lebih muda tetapi lebih tinggi, dengan salam takzim dan bahasa yang halus. Semuanya adalah usaha untuk menghilangkan kemarahan. Jika malu dengan berkata langsung, tulislah surat yang manis. Kemudian minta maaf dan bertobat kepada Tuhan. Juga jangan lupa menghormati leluhur agar tidak mendapatkan dosa dari padanya. memang orang berbuat baik itu berat, berbeda dengan orang yang akan berbuat jelek selalu lebih mudah. Umumnya orang di dunia ini, baik yang tinggi maupun yang rendah martabatnya tidak suka mengalah meskipun bukan berarti kalah yang sebenarnya. Dan lagi pada umumnya orang jika dipuji dan didukung pendapatnya akan suka hatinya serta jauh dari sakit hati. Umumnya orang yang tidak tahu akan budi baik, jika ada sesuatu hal yang diceriterakan yang buruk dahulu, sebabnya memang tidak sampai pemikirannya. Jika kita ingin mendapatkan kemuliaan agar terlaksana kita harus berani rendah hati, minta pertolongan dan doa restu. Jika suatu ketika cita-cita kita gagal, jangan terkejut dan lalu menyalahkan dirinya sendiri sejadi-jadinya. Mohonlah petunjuk kepada Tuhan, rasakan apa kekurangan kita. Karena Manusia ini semuanya kekasih Tuhan, Jika mempunyai cita-cita, mohonlah kepada Tuhan, pasti akan dikabulkan. Jika belum berhasil, barangkali memang belum waktunya. Ibaratnya buah durian muda jika dipanjat sukar memetiknya, dan jika sudah dipetik tidak dapat dimakan, padahal usahanya mati-matian. Lain halnya jika sedikit demi sedikit, sabar menunggu, jika sudah waktunya akan jatuh sendiri, mudah memetiknya dan enak dimakan. Demikian juga orang mencari kemuliaan, Jika terlalu dipaksakan kadang-kadang sampai kehabisan akal, segala jalan ditempuh dan tidak segan-segan menggunakan cara yang tidak baik, misalnya dengan menggunakan magis. Jika berhasil, umumnya kurang baik, tidak tahan lama dan tidak lestari. Ini persamaannya seperti memetik durian muda tadi. Lain halnya dengan orang yang berusaha dengan jalan yang baik. Pada malam hari selalu memohon kepada Tuhan. Sehari-harinya tingkah lakunya baik, rajin, jujur, rendah hati, bicara manis, patuh pada atasan, cinta kepada sesama. Umumnya yang melaksanakan seperti itu, sudah selayaknya jika yang dicita-citakan berhasil. Hal itu anugerah nyata dari Tuhan. Kehidupanya selamat tidak dirundung kesusahan dan kadang-kadang dapat menurun ke anak-cucu. Ibarat ingin memetik buah durian yang masak di pohon, jika mempunyai cita-cita harus ada usahanya tidak cukup hanya dipikir saja. Tuhan tidak akan mengabulkan bagi yang tidak berusaha. Sumber: Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1993. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara V. Jakarta: Depdikbud. Serat Salokatama 06 Mar 2010 Leave a Comment by wayang in Kitab & Kidung Naskah Serat Salokatama dikarang oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ariya Mangku Nagara IV pada 1799 Jawa atau 1870 M. Serat Salokatama dikarang dalam bentuk tembang mijil, seluruhnya ada 31 “pada” (bait), sudah pernah diterbitkan oleh Nurhipkolep Jakarta 1953 dengan huruf Jawa. Saloka berarti perumpamaan atau ceritera sedang tama berarti utama atau baik. Salokatama berarti perumpamaan atau ceritera yang utama atau yang baik. Ini terungkap pada bait terakhir dari tembang tersebut yang berbunyi: Itij panawunging ruwiyadi yang artinya: telah selesai uraian ceritera yang baik. Isi Serat Salokatama Adapun intisari isi Serat Salokatama selengkapnya seperti pemaparan berikut ini. Yang dilihat oleh pengarang adalah sesuatu yang tidak pada tempatnya dan selalu mengganggu pikirannya. Umumnya orang yang punya kemauan sering tidak mawas diri, berbuat tak terkendali dan akhirnya mendapatkan “nistha”. Orang muda suka menonjolkan dirinya agar orang lain takut dan menghargai. Mereka tidak tahu bahwa perbuatannya itu banyak yang menertawakan, membuat orang lain tidak senang dan musuhnya menjadi bersyukur karenanya. Tampaknya seperti seorang pemberani, tingkah lakunya dibuat-buat, sehingga tampak seperti seorang jahil atau penjahat. Kelak ika mereka telah berhenti dari perbuatan itu, orang tetap tidak percaya bahwa mereka orang baik-baik. Andai kata orang hidup itu dua kali, tidak ada orang takut mati serta tak ada orang yang kecewa. Tetapi karena hidup hanya satu kali, banyak yang kecewa hidupnya, sehingga kadang-kadang ingin bunuh diri. Tetapi bunuh diri sebenarnya lebih sengsar, makamnya tidak boleh dicampur dengan leluhur dan orang banyak. Orang yang membunuh orang dosanya amat besar, tetapi masih lebih besar dosa orang yang bunuh diri, sehingga “nistha” melebihi matinya lutung atau kera. Membersihkan dosa tidak ada cara lain kecuali minta maaf kepada semua yang disakiti hatinya. Jika lebih tua dan lebih tinggi berbaktilah. Jika lebih muda tetapi lebih tinggi, dengan salam takzim dan bahasa yang halus. Semuanya adalah usaha untuk menghilangkan kemarahan. Jika malu dengan berkata langsung, tulislah surat yang manis. Kemudian minta maaf dan bertobat kepada Tuhan. Juga jangan lupa menghormati leluhur agar tidak mendapatkan dosa dari padanya. memang orang berbuat baik itu berat, berbeda dengan orang yang akan berbuat jelek selalu lebih mudah. Umumnya orang di dunia ini, baik yang tinggi maupun yang rendah martabatnya tidak suka mengalah meskipun bukan berarti kalah yang sebenarnya. Dan lagi pada umumnya orang jika dipuji dan didukung pendapatnya akan suka hatinya serta jauh dari sakit hati. Umumnya orang yang tidak tahu akan budi baik, jika ada sesuatu hal yang diceriterakan yang buruk dahulu, sebabnya memang tidak sampai pemikirannya. Jika kita ingin mendapatkan kemuliaan agar terlaksana kita harus berani rendah hati, minta pertolongan dan doa restu. Jika suatu ketika cita-cita kita gagal, jangan terkejut dan lalu menyalahkan dirinya sendiri sejadi-jadinya. Mohonlah petunjuk kepada Tuhan, rasakan apa kekurangan kita. Karena Manusia ini semuanya kekasih Tuhan, Jika mempunyai cita-cita, mohonlah kepada Tuhan, pasti akan dikabulkan. Jika belum berhasil, barangkali memang belum waktunya. Ibaratnya buah durian muda jika dipanjat sukar memetiknya, dan jika sudah dipetik tidak dapat dimakan, padahal usahanya mati-matian. Lain halnya jika sedikit demi sedikit, sabar menunggu, jika sudah waktunya akan jatuh sendiri, mudah memetiknya dan enak dimakan. Demikian juga orang mencari kemuliaan, Jika terlalu dipaksakan kadang-kadang sampai kehabisan akal, segala jalan ditempuh dan tidak segan-segan menggunakan cara yang tidak baik, misalnya dengan menggunakan magis. Jika berhasil, umumnya kurang baik, tidak tahan lama dan tidak lestari. Ini persamaannya seperti memetik durian muda tadi. Lain halnya dengan orang yang berusaha dengan jalan yang baik. Pada malam hari selalu memohon kepada Tuhan. Sehari-harinya tingkah lakunya baik, rajin, jujur, rendah hati, bicara manis, patuh pada atasan, cinta kepada sesama. Umumnya yang melaksanakan seperti itu, sudah selayaknya jika yang dicita-citakan berhasil. Hal itu anugerah nyata dari Tuhan. Kehidupanya selamat tidak dirundung kesusahan dan kadang-kadang dapat menurun ke anak-cucu. Ibarat ingin memetik buah durian yang masak di pohon, jika mempunyai cita-cita harus ada usahanya tidak cukup hanya dipikir saja. Tuhan tidak akan mengabulkan bagi yang tidak berusaha. Sumber: Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1993. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara V. Jakarta: Depdikbud. Serat Darmo Wasito 06 Mar 2010 Leave a Comment by wayang in Kitab & Kidung Nenek moyang kita banyak memberikan ajaran-ajaran luhur yang tidak hanya diwariskan dalam tradisi lisan seperti ungkapan dan dongeng, tetapi ada pula yang dituangkan dalam karya tulis berbentuk “tembang macapat”. Ajaran-ajaran luhur tersebut pada zamannya banyak dikaji, dihayati dan diamalkan sebagai pedoman hidup. Salah satu dari karya tulis yang dituangkan dalam bentuk tembang macapat adalah Serat Darmo Wasito yang dikarang pada tahun 1878 M oleh KGPAA Mangku Negara IV. Serat Darmo Wasito terdiri dari: 12 pada (bait) Dhandhanggula, 10 pada Kinanthi, dan 20 pada Mijil. Sebagai catatan, serat ini pernah diterbitkan dalam huruf Jawa oleh Nurhopkelop Jakarta pada tahun 1953. Isi Serat Darmo Wasito Secara ringkas isi serat Darmo Wasito dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu: 1. Ajaran agar Hidup Sukses Dalam Serat Darmo Wasito, apabila orang ingin hidup sukses, maka ia harus: (a) menikah, sebagai sarana untuk melestarikan kehidupan; (b) melaksanakan asthagina, yaitu: nut ing jaman kelakone (harus pandai menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi yang sedang dihadapi), rigen (pandai bekerja dengan efektif dan efisien), gemi (hemat), weruh etung (selalu penuh perhitungan dalam memanfaatkan penghasilannya untuk waktu sekarang, maupun yang akan datang), taberi tatanya (rajin bertanya sehingga pengetahuannya selalu bertambah), nyengah kayun (dapat mengendalikan diri sehingga tidak banyak berbuat kesalahan), dan nemen ing sedya (bila mempunyai niat harus dilakukan secara sungguh-sungguh); (c) jangan suka utang, sebab akan turun wibawanya; (d) jangan menjadi orang miskin, sebab orang miskin akan banyak mengalami kesusahan dan kurang dihargai dalam pergaulan; (e) jangan malas bekerja agar dijauhkan dari kesusahan; (f) melaksanakan sikap-sikap utama, yaitu: luruh (pandangan mata tidak liar dan hanya melihat seperlunya), trapsila (selalu bersikap sopan), mardawa (selalu ramah terhadap orang lain dan berbicara dengan lemah lembut); manut mring caraning bangsa (tindakan seharusnya selalu berwawasan kebangsaan dan tidak berdasarkan atas suku bangsanya sendiri), andhap asor (selalu bersikap rendah hati), meneng (tidak banyak berbicara atau mengobral bualan), prasaja (penampilan harus wajar dan tidak berlebih-lebihan), tepa selira (memiliki tenggang rasa yang tinggi), eling (selalu ingat akan baik-buruk, ingat kepada kedudukan, ingat kepada dirinya sebagai makhluk Tuhan), dan ulat batin (melakukan kegiatan pembinaan rohani agar mendapatkan jalan keutamaan); dan (g) melaksanakan catur upaya, yaitu: anirua kang becik (meniru hal-hal yang baik dan jauhkan yang buruk); nuruta ngguua kang nyata (percaya kepada kenyataan), dan miliha kang pakoleh (memilih hal-hal yang tepat dan menguntungkan). 2. Ajaran agar Menjadi Abdi (Negara) yang Baik Untuk menjadi abdi (negara) yang baik, maka seseorang harus memiliki sifat-sifat, seperti: sregep (rajin dan tidak membuat kecewa yang memberi tugas), pethel (suka bekerja), tegen (ulet bekerja dan telaten sehingga membuat puas orang yang menyuruh), wekel (bekerja dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab), dan ngati-ati (bekerja secara berhati-hati). 3. Ajaran agar Menjadi Isteri yang Baik Ajaran-ajaran dalam Serat Darmo Wasito untuk seorang isteri adalah: (1) agar menjadi seorang isteri yang dihargai dan dicintai oleh suaminya, maka ia harus: nurut (apa yang dikehendaki oleh suami dilakukan dengan penuh kesabaran dan dapat menyelesaikannya dengan baik), condhong (kehendak suami harus didukung, merawat apa kesukaannya dan tidak membicarakan kejelekannya di muka umum), reksa (menjaga segala milik suami dan tahu jumlah serta rinciannya), nastiti (tahu asal muasal sebuah barang dan kegunaannya serta dapat menggunakan dengan baik nafkah yang diberikan oleh suami), nyimpen wadi (pandai menyimpan rahasia suami dan keluarga); (2) agar dapat berhasil dalam hidup berumah tangga, seorang isteri hendaknya bersikap: berhati-hati dalam segala hal, mengenal sifat-sifat keluarga dan famili sehingga dapat menyesuaikan diri, mengerti acara suami sehari-hari dan dapat membantu jika diperlukan, jika memberi saran atau mengemukakan pendapat harus mencari waktu yang tepat, paham akan tugasnya sebagai seorang isteri, jangan menggunakan atau memanfaatkan barang-barang milik suami tanpa seizinnya, pandai merawat barang-barang milik suami, dan meskipun suami memberi keleluasaan, tetapi tetap melakukan segala hal sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Sumber: Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1995. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara VI. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Serat Makutha Raja 06 Mar 2010 Leave a Comment by wayang in Kitab & Kidung Para cendekiawan pada zaman dahulu menyadari bahwa seorang pemimpin, mulai dari tataran yang terendah sampai yang tertinggi, harus memiliki kemampuan memimpin yang baik. Di antara para cendekiawan pada waktu itu yang memperhatikan masalah kepemimpinan ini ialah Pangeran Buminata dari Keraton Yogyakarta. Ia berhasil membuat kitab yang diberi judul Makutha Raja, untuk memberi tuntunan kepada para pemimpin, terutama raja agar dapat menjadi pemimpin yang baik dan disenangi oleh rakyatnya. Isi Serat Secara ringkas Serat Makutha Raja berisi tentang bagaimana sikap yang seharusnya dilakukan oleh seorang pemimpin/raja. Dalam serat ini seseorang yang sedang memegang kendali kepemimpinan diibaratkan sebagai orang yang sedang mengendalikan kuda. Kuda, walaupun hanya seekor binatang, ternyata harus didekati dengan cara-cara tertentu agar dapat dengan mudah dinaiki dan dikendalikan. Oleh karena kekhasan sifat yang dimiliki oleh seekor kuda ini, maka Pangeran Buminata mengibaratkannya lagi dengan seorang gadis. Sulitnya membuka tali kekang kuda adalah sama dengan sulitnya mendekati seorang gadis. Untuk mendekati seorang gadis, tentunya diperlukan budi yang halus, kata-kata yang manis dan lembut agar mau menerima dengan senang hati. Apabila pendekatan dilakukan dengan cara yang kasar dan tergesa-gesa, maka kemungkinan besar si gadis akan menolak. Apabila hal ini diterapkan untuk menaklukkan seekor kuda, maka seseorang harus menggunakan akalnya dan harus memperhatikan saat yang tepat untuk mendekati kuda itu. Ia pun sebaiknya menguasai hal ikhwal tentang piranti tali kekang yang digunakan sebagai sarana menaklukkan kuda. Dalam konteks ini, pengertian memahami tali kekang kuda bukanlah tali kekang yang sebenarnya, melainkan memahami segala permasalahan kuda, termasuk faktor dalam atau faktor kejiwaan dari kuda itu. Sebagai ilustrasi yang lebih konkret, dalam Serat Makutha Raja juga dikemukakan cara-cara mengatasi kebinalan seekor kuda secara bijaksana yang dilakukan oleh Pangeran Mangkubumi dan Syekh Janah Katib. Pangeran Mangkubumi menggunakan cara yang disebut anyana mandra. Dengan cara ini si penunggang kuda selain harus waspada dan berhati-hati, juga dituntut untuk bersikap luwes. Luwes dalam pengertian ini ialah menuruti kehendak kuda. Jika kuda meronta, si penunggang kuda hendaknya bersikap bijaksana sehingga kuda tunduk secara perlahan-lahan dan mengikuti segala perintah si penunggang. Sedangkan, Syekh Janah Katib menggunakan cara yang disebut anyana sanga. Cara yang digunakan oleh Syekh Janah Katib ini lebih mengarah ke jalan makrifat. Dalam Serat Makutha Raja juga dikisahkan cerita tentang Mas Ketib Anom yang menerapkan ajaran “mengendalikan kuda secara arif, luwes dan lemah lembut” untuk memecahkan masalah kerajaan. Waktu itu, pada masa pemerintahan Sunan Paku Buwana terjadi suatu peristiwa yang berkaitan dengan Kyai Cebolek atau Kyai Haji Ahmat Muntamangkin. Kyai Cebolek dianggap telah salah menafsirkan inti dari cerita “Bimasuci” yang mengakibatkan keresahan di kalangan ulama kerajaan. Mereka (para ulama) kemudian melaporkan hal ini kepada Raden Demang Urawan (seorang punggawa keraton). Dan, sebagai seorang bawahan Raden Demang Urawan lalu meneruskan laporan itu kepada raja. Menanggapi laporan itu, raja memutuskan bahwa Kyai Cebolek tidak bersalah. Ia hanya dianggap salah menafsirkan makna tamsil dalam cerita “Bimasuci”. Keputusan raja yang menganggap Kyai Cebolek tidak bersalah itu mendapat sanggahan dari seorang ulama Kudus, yakni Mas Ketib Anom. Sanggahan ulama itu sempat sejenak menggegerkan istana. Namun, Mas Ketib Anom menegaskan bahwa keberaniannya menyanggah keputusan raja adalah semata dilakukan demi kewibawaan raja sendiri. Sebagai jalan keluar mengatasi permasalahan ini, Mas Ketib Anom mengusulkan agar Kyai Cebolek atau Kyai Haji Ahmat Muntamangkin tidak dihukum secara fisik, melainkan diberi kesempatan untuk mengubah sikapnya. Menurut Mas Ketib Anom, hukuman fisik tidak ada gunanya, baik bagi yang bersangkutan maupun bagi khalayak umum. Sebagai contoh, dikemukakan pemberian hukuman kepada Syeh Siti Jenar (hukuman pancung), Pangeran Panggung di Pajang (bakar) dan terhadap Kyai Amongraga (dibuang ke laut). Semuanya itu ternyata tidak bermanfaat karena yang dihukum hanya fisik, sedangkan ideologi yang dianut tetap lestari. Tampak di sini bahwa Mas Ketib Anom dengan bijaksana telah menerapkan ajaran “mengendalikan kuda secara arif, luwes dan lemah lembut”. Sumber: Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1992. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara IV. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Serat Chentini 06 Mar 2010 Leave a Comment by wayang in Kitab & Kidung Ing ngandhap punika ka-aturaken tetedhakan purwakanipun Serat Centhini, sinawung ing sekar Sinom 1. Sri Narpatmaja Sudibya, talatahingnusma Jawi, Surakarta Hadiningrat, hagnya ring kang wadu Carik, Sutrasna kang kinanthi, mangunreh cariteng dangu, sanggyaning kawruh Jawa, hingimpun tumrap kakawin, mrih tan kemba karya dhangan kang miyarsa. 2. Lajere kang cinarita, laksananing Jayengresmi, ya She Adi Amongrogo, atmajeng njeng Sunan Giri, kontap janma linuwih, Oliya Wali Mujedub, peparenganing jaman, njeng Sultan Agung Matawis, tinengeran Serat Suluk tambangraras. 3. Karsaning Sang Narpatmaja, babon pangawikan jawi, jinereng dadya carita, sampating karsa marengi, Nemlikur Saptu Paing, lek Mukharam je warseku, mrakeh Hyang Surenggana, Bathara Yama Dewari, amawulu wogan su-ajag sumengka. 4. Panca-sudaning Satriya, wibawa lakuning geni, windu adi mangsa sapta, sangkala angkaning warsi, paksa suci sabda ji ( 1742 ) ingkang pinurwa ing kidung, duk Keraton Majalengka, Sri Brawijaya mungkasi, wonten Maolana saking nagri Jedah. 5. Panengran She walilanang, praptanira tanah jawi, kang jinujug Ngampeldenta, pinanggih sang maha resi, areraosan ngelmi, sarak sarengat njeng rosul, nanging tan ngantya lam, linggar saking Ngampelgadhing, ngidul ngetan anjog Nagri Belambangan. Serat Centini Serat Centhini, sebagaimana kita tahu, ditulis oleh sejumlah pujangga di lingkungan Keraton Surakarta yang diketuai oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amengkunagara III, putra mahkota Sunan Pakubuwana IV. Karya yang terkenal dengan sebutan Serat Centhini atau Suluk Tambangraras- Amongraga ini ditulis pada tahun 1742 dalam penanggalan Jawa, atau 1814 dalam tahun Masehi. Karya ini boleh dikatakan sebagai semacam ensiklopedi mengenai dunia dalam masyarakat Jawa. Sebagaimana tercermin dalam bait-bait awal, serat ini ditulis memang dengan ambisi sebagai perangkum baboning pangawikan Jawi, atau katakanlah semacam database pengetahuan Jawa. Jumlah keseluruhan serat ini adalah 12 jilid. Aspek-aspek ngelmu yang dicakup dalam serat ini meliputi persoalan agama, kebatinan, kekebalan, dunia keris, kerawitan dan tari, tata cara membangun rumah, pertanian, primbon atau horoskop, soal makanan dan minuman, adat istiadat, cerita-cerita kuna mengenai tanah Jawa dan lain-lainnya. Yang ingin ditunjukkan dalam tulisan ini adalah bagaimana Islam menjadi elemen pokok yang mendasari seluruh kisah dalam buku ini, tetapi ia telah mengalami “pembacaan” ulang melalui optik pribumi yang sudah tentu berlainan dengan Islam standar. Islam tidak lagi tampil sebagai “teks besar” yang “membentuk” kembali kebudayaan setempat sesuai dengan kanon ortodokasi yang standar. Sebaliknya, dalam Serat Centhini, kita melihat justru kejawaan bertindak secara leluasa untuk “membaca kembali” Islam dalam konteks setempat, tanpa ada semacam kekikukan dan kecemasan karena “menyeleweng” dari kanon resmi. Nada yang begitu menonjol di sana adalah sikap yang wajar dalam melihat hubungan antara Islam dan kejawaan, meskipun yang terakhir ini sedang melakukan suatu tindakan “resistensi”. Penolakan tampil dalam nada yang “subtil”, dan sama sekali tidak mengesankan adanya “heroisme” dalam mempertahankan kebudayaan Jawa dari penetrasi luar. Barangkali, Serat Centhini bisa kita anggap sebagai cerminan dari suatu periode di mana hubungan antara Islam dan kejawaan masih berlangsung dalam watak yang saling mengakomodasikan, dan tidak terjadi kontestasi antara keduanya secara keras dan blatant. Sebagaimana kita tahu, dalam perkembangan pasca-kemerdekaan, identitas kejawaan makin mengalami “politisasi” dalam menghadapi naiknya kekuatan Islam yang cenderung “puritan” dalam kancah politik. Dalam konteks semacam ini, antara kedua identitas ini (Islam dan Jawa), terdapat hubungan yang tegang dan penuh prasangka. Ketegangan ini terus berlanjut hingga dalam pemerintahan Orba. Serat disusun berdasarkan kisah perjalanan putra-putri Sunan Giri setelah dikalahkan oleh Pangeran Pekik dari Surabaya, ipar Sultan Agung dari Kerajaan Mataram. Kisah dimulai setelah tiga putra Sunan Giri berpencar meninggalkan tanah mereka untuk melakukan perkelanaan, karena kekuasaan Giri telah dihancurkan oleh Mataram. Mereka adalah Jayengresmi, Jayengraga, dan seorang putri bernama Rancangkapti. Dengan diikuti oleh dua santri, Gathak dan Gathuk, Jayengresmi melakukan “perjalanan spiritual” ke sekitar keraton Majapahit, Blitar, Gamprang, hutan Lodhaya, Tuban, Bojanagara, hutan Bagor, Gambiralaya, Gunung Pandhan, desa Dhandher, Kasanga, Sela, Gubug Merapi, Gunung Prawata, Demak, Gunung Muria, Pekalongan, Gunung Panegaran, Gunung Mandhalawangi, Tanah Pasundan, Bogor, bekas keraton Pajajaran, Gunung Salak, dan kemudian tiba di Karang. Dalam perjalanan ini, Jayengresmi seperti mengalami “pendewasaan spiritual”, karena bertemu dengan sejumlah guru, tokoh-tokoh gaib dalam mitos Jawa kuna, dan sejumlah juru kunci makam-makam keramat di tanah Jawi. Dalam pertemuan dengan tokoh-tokoh itu, dia belajar mengenai segala macam pengetahuan dalam khazanah kebudayaan Jawa, mulai dari candi, alamat bunyi burung gagak dan prenjak, khasiat burung pelatuk, petunjuk pembuatan kain lurik, pilihan waktu bersanggama, perhitungan tanggal, hingga ke kisah Syeh Siti Jenar. Jayengsari dan Rancangkapti berkelana dengan diiringi oleh santri Buras ke Sidacerma, Pasuruhan, Ranu Grati, Banyubiru, kaki Gunung Tengger, Malang, Baung, Singasari, Sanggariti, Tumpang, Kidhal, Pasrepan, Tasari, Gunung Brama, Ngadisari, Klakah, Kandhangan, Argapura, Gunung Rawun, Banyuwangi, terus ke Pekalongan, Gunung Perau, Dieng, sampai ke Sokayasa di kaki Gunung Bisma Banyumas. Dalam perjalanan itu, mereka berdua mendapatkan pengetahuan mengenai adat-istiadat tanah Jawi, syariat para nabi, kisah Sri Sadana, pengetahuan mengenai wudlu, shalat, pengetahuan (yang terkesan agak bertakik-takik dan njlimet) mengenai dzat Allah, sifat, asma dan afngal-Nya, sifat dua puluh, Hadis Markum, perhitungan selamatan orang meninggal dunia, serta perwatakan Kurawa dan Pandawa. Melihat luasnya daerah serta lingkup pengetahuan yang dipelajari ketiga putra-putri Giri itu, tampak sekali ambisi penggubah kisah dalam Serat Centhini ini untuk “menerangkan” secara menyeluruh “dunia dalam” orang Jawa. Dengan demikian, serat ini juga bisa digunakan sebagai titik masuk untuk mengetahui bagaimana dunia Jawa “plausible” dan bermakna buat orang-orang Jawa sendiri. Sekaligus juga adalah bagaimana Islam “bermakna” dalam konteks tatanan kosmik mereka. Melihat jenis-jenis pengetahuan yang dipelajari oleh ketiga putra-putri Giri tersebut, tampak dengan jelas unsur-unsur Islam yang “ortodoks” bercampur baur dengan mitos-mitos di tanah Jawa. Ajaran Islam yang ortodoks mengenai sifat Allah yang dua puluh, misalnya, diterima begitu saja, tanpa harus membebani para penggubah ini untuk mempertentangkan ortodoksi itu dengan mitos-mitos dalam khazanah kebudayaan Jawa. Dua-duanya disandingkan begitu saja secara “sinkretik”, seolah antara alam “monoteisme” dengan “paganisme”/”animisme” Jawa tidak terdapat pertentangan yang merisaukan. Seperti telah dikemukakan di atas, dalam serat ini, Islam memang tidak dipandang semata-mata sebagai unsur eksternal yang “membebani” unsur lokal, bahkan pertentangan (katakan saja) weltanschauung antara kedua dunia itu (Islam dan Jawa) sama sekali tidak dipersoalkan. Begitu saja diandaikan bahwa keduanya commensurable dan saling bisa bertukar tempat. Tetapi, anehnya, dengan cara seperti inilah Jawa (sebagaimana ditampilkan oleh serat ini) melakukan “resistensi” (atau “domestifikasi”, dalam istilah Benda) atas Islam. Penggubah serat ini seolah-olah tidak mau tahu bahwa Islam sebagaimana tampil dalam korpus standar membawa sejumlah “efek ikonoklastik” atas kepercayaan setempat. Pasca-Centhini: Jawa “baru”? Bagaimana orang-orang Jawa pada periode-katakan saja-”pasca-Centhini” memahami hubungan antara Islam dan kejawaan? Adakah perubahan yang mendasar dalam pandangan-pandangan yang sebelumnya bernada sinkretis itu? Sebuah kesaksian kontemporer dari keluarga Jawa sebagaimana dituturkan oleh Hersri, layak dikutip di sini (saya ambil dari tulisan Hersri Between the Bars yang dimuat dalam buku Silenced Voices suntingan John H McGlynn yang terbit baru-baru ini). Cerita Hersri ini mewakili semacam corak yang umum dalam keluarga Jawa dari kelas bawah. Cerita ini terjadi di tahun 1947/1948. Hersri adalah orang yang tumbuh dalam keluarga abangan dan tidak mengenal “kesetiaan” yang fanatik terhadap agama-agama resmi. Sikap yang longgar ini tercermin dalam jawabannya ketika suatu ketika ia ditanya oleh gurunya di kelas, “Apa agamamu?” Ia kebingungan, karena di rumah tidak pernah memperoleh pengajaran mengenai kesetiaan yang eksklusif terhadap agama tertentu. Kakaknya yang sulung dikirim oleh ayahnya ke Sekolah Katolik di Muntilan, bukan dengan kesadaran mendalam agar anaknya belajar agama itu. Tetapi, Sekolah Katolik di daerahnya lebih menerapkan disiplin yang keras ketimbang sekolah lain, sehingga dengan demikian ayahnya berharap agar kakaknya yang ndablek itu bisa dijinakkan. Kakaknya yang lain belajar di Sekolah Taman Siswa. Sementara kakaknya yang nomor tiga dikirim ke Sekolah Muhammadiyah, juga bukan dengan alasan agar belajar Islam dengan baik, tetapi karena kakaknya yang satu ini tidak diterima baik di sekolah umum atau Protestan. Bapaknya sendiri selalu berkata bahwa semua agama adalah baik, dan sering ikut dalam acara selamatan desa yang biasanya juga menggunakan sejumlah ritual Islam (seperti tahlil, misalnya). Tetapi ia tidak pernah menjadi Muslim. Terhadap pertanyaan yang membingungkan dari gurunya itu, Hersri akhirnya menjawab, “Saya mengikuti semua agama yang ada.” Seluruh murid di kelasnya tertawa. Apakah ini cerminan dari sinkretisme seperti yang disebut di muka? Boleh jadi. Tetapi sikap permisif secara “teologis” ini lama-lama makin pudar, karena proses yang lain juga sedang berlangsung, yaitu apa yang sering disebut sebagai “santri-isasi” orang Jawa. Saya pernah mendengar cerita seorang jemaat Gereja Kristen di kawasan Pulo Mas mengenai proses “baru” yang sedang berlangsung dalam masyarakat Jawa itu. Dahulu, cerita si jemaat ini, jika ada jenazah di desanya (di Madiun), sudah menjadi adat yang lazim bahwa seluruh warga desa dari agama apa pun akan mengurusnya. Sekarang, setelah sejumlah fatwa MUI dikeluarkan mengenai larangan orang Islam terlibat dalam ritual agama lain (termasuk seremoni kematian, tentunya), pelan-pelan orang makin sadar akan “identitasnya” sebagai orang Muslim atau Kristen atau yang lain. Orang Jawa makin menyadari bahwa ada gejala lain yang muncul ke permukaan: gejala untuk menganggap sikap “permisif” secara teologis sebagai hal yang tidak lagi wajar. Proses ini, tampaknya sudah berlangsung sejak lama, meskipun resonansinya baru tampak dengan “keras” akhir-akhir ini. GWJ Drewes (dalam artikel berjudul Indonesia: Mysticism and Activism, yang dimuat dalam buku suntingan Gustave von Grunebaum, Unity and Variety in Muslim Civilization, [1955]), pernah mengemukakan pengamatannya di tahun 50-an mengenai proses Islamisasi di tanah Jawa. Ia mengatakan bahwa, [T]he Islamization of Indonesia is still in progress, not only in the sense that Islam is still spreading among pagan tribes, but also in that peoples who went over to Islam centuries ago are living up more and more to the standard of Muslim orthodoxy. Kecenderungan yang kita lihat akhir-akhir ini tampaknya memang makin cenderung membenarkan apa yang dikatakan oleh Drewes itu. Tetapi semacam caveat tetap harus dikemukakan di sini. Jika kecenderungan makin “ortodoks” di kalangan masyarakat Jawa seperti dikemukakan oleh Drewes itu benar-benar terjadi, maka harus pula dipertimbangkan kenyataan bahwa dalam pemilu tahun lalu, partai- partai Islam mengalami kekalahan yang dramatis. PDI-P yang mempunyai basis luas di kalangan masyarakat Jawa yang abangan, memperoleh suara yang besar. Apakah yang bisa kita simpulkan dari perkembangan baru ini? Tampaknya memang Jawa-Serat-Centhini belum menunjukkan tanda-tanda kepudaran, bahkan mungkin semacam resiliensi baru mulai dikembangkan. Meskipun perkembangan-perkembangan baru yang menuju ke arah Jawa-pasca- Centhini juga mulai memperlihatkan gejalanya. ============ Pethikan “Centhini” pupuh 37. Dhandhanggula, gatra 37 – 49 37 duk uripe neng dunya puniki sadina dina pan wis sakarat miwah sawengi wengine manggung sakaratipun melek turu sakarat ugi mila ngaran sakarat wong neng dunya iku dene ta ing salaminya urip iku neng dunya tan pegat dening layar segara rahmat 39. Ing tepine graitanen ugi dene wus aran iku sagara tanpa tepi supradene kaya na tepinipun ngengkol temen basa puniki kepriye yen kenaa kinira ing kalbu dinuga duga watara saking kira kira mapan datan keni kajaba kang wus wikan 40. Ing tepining ingkang jalanidhi. sagara rahmat kang tanpa ombak nanging gumleger alune samun lamun kadulu sawangane resik tur wening mila kang sami layar tan nganggo parau nyana tan na pakewuhnya yen tinrajang telenge keh parang curi mila arang kang prapta 42. Mampan arang iya angrawuhi ing warnane ya sagara rahmat tur sadina sawengine wong aneng dunya iku alalangen aneng jaladri jroning sagara rahmat prandene arang wruh saking kalingan ing tingal kalimput ing pancabayaning ngaurip mila arang waspada 43. Yen arsa layar maring jaladri sagara rahmat mawia palwa sarta lawan kamudhine pandoman sampun kantun myang layare dipun abecik miwah sanguning marga ywa kirang den agung yen tan mangkono tan prapta ing tepine iya sagara rahmati pan mundhak akangelan 44. Baitane pan eninging galih kemudhine pan anteping tekat sucining kalbu layare pandomanipun iku pituduhe guru sayekti sangune ngelmu rasa lakune parau kalawabn murahing Edat yen tumeka aneng tepining jaladri uga sagara rahmat (badhe kalajengaken menawi taksih wonten ingkang ngersaaken..) Kapethik saking “serat centhini latin 1 Yasandalem kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangkurat III (Ingkang Sinuhun Paku Buwana V) jumeneng ing Surakarta ( 1820 – - 1823 M) kalatinaken miturut aslinipun dening Karkana Kamajaya, Penerbit yayasan Centhini, Yogyakarta, 1991 Serat Chentini 06 Mar 2010 Leave a Comment by wayang in Kitab & Kidung Ing ngandhap punika ka-aturaken tetedhakan purwakanipun Serat Centhini, sinawung ing sekar Sinom 1. Sri Narpatmaja Sudibya, talatahingnusma Jawi, Surakarta Hadiningrat, hagnya ring kang wadu Carik, Sutrasna kang kinanthi, mangunreh cariteng dangu, sanggyaning kawruh Jawa, hingimpun tumrap kakawin, mrih tan kemba karya dhangan kang miyarsa. 2. Lajere kang cinarita, laksananing Jayengresmi, ya She Adi Amongrogo, atmajeng njeng Sunan Giri, kontap janma linuwih, Oliya Wali Mujedub, peparenganing jaman, njeng Sultan Agung Matawis, tinengeran Serat Suluk tambangraras. 3. Karsaning Sang Narpatmaja, babon pangawikan jawi, jinereng dadya carita, sampating karsa marengi, Nemlikur Saptu Paing, lek Mukharam je warseku, mrakeh Hyang Surenggana, Bathara Yama Dewari, amawulu wogan su-ajag sumengka. 4. Panca-sudaning Satriya, wibawa lakuning geni, windu adi mangsa sapta, sangkala angkaning warsi, paksa suci sabda ji ( 1742 ) ingkang pinurwa ing kidung, duk Keraton Majalengka, Sri Brawijaya mungkasi, wonten Maolana saking nagri Jedah. 5. Panengran She walilanang, praptanira tanah jawi, kang jinujug Ngampeldenta, pinanggih sang maha resi, areraosan ngelmi, sarak sarengat njeng rosul, nanging tan ngantya lam, linggar saking Ngampelgadhing, ngidul ngetan anjog Nagri Belambangan. Serat Centini Serat Centhini, sebagaimana kita tahu, ditulis oleh sejumlah pujangga di lingkungan Keraton Surakarta yang diketuai oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amengkunagara III, putra mahkota Sunan Pakubuwana IV. Karya yang terkenal dengan sebutan Serat Centhini atau Suluk Tambangraras- Amongraga ini ditulis pada tahun 1742 dalam penanggalan Jawa, atau 1814 dalam tahun Masehi. Karya ini boleh dikatakan sebagai semacam ensiklopedi mengenai dunia dalam masyarakat Jawa. Sebagaimana tercermin dalam bait-bait awal, serat ini ditulis memang dengan ambisi sebagai perangkum baboning pangawikan Jawi, atau katakanlah semacam database pengetahuan Jawa. Jumlah keseluruhan serat ini adalah 12 jilid. Aspek-aspek ngelmu yang dicakup dalam serat ini meliputi persoalan agama, kebatinan, kekebalan, dunia keris, kerawitan dan tari, tata cara membangun rumah, pertanian, primbon atau horoskop, soal makanan dan minuman, adat istiadat, cerita-cerita kuna mengenai tanah Jawa dan lain-lainnya. Yang ingin ditunjukkan dalam tulisan ini adalah bagaimana Islam menjadi elemen pokok yang mendasari seluruh kisah dalam buku ini, tetapi ia telah mengalami “pembacaan” ulang melalui optik pribumi yang sudah tentu berlainan dengan Islam standar. Islam tidak lagi tampil sebagai “teks besar” yang “membentuk” kembali kebudayaan setempat sesuai dengan kanon ortodokasi yang standar. Sebaliknya, dalam Serat Centhini, kita melihat justru kejawaan bertindak secara leluasa untuk “membaca kembali” Islam dalam konteks setempat, tanpa ada semacam kekikukan dan kecemasan karena “menyeleweng” dari kanon resmi. Nada yang begitu menonjol di sana adalah sikap yang wajar dalam melihat hubungan antara Islam dan kejawaan, meskipun yang terakhir ini sedang melakukan suatu tindakan “resistensi”. Penolakan tampil dalam nada yang “subtil”, dan sama sekali tidak mengesankan adanya “heroisme” dalam mempertahankan kebudayaan Jawa dari penetrasi luar. Barangkali, Serat Centhini bisa kita anggap sebagai cerminan dari suatu periode di mana hubungan antara Islam dan kejawaan masih berlangsung dalam watak yang saling mengakomodasikan, dan tidak terjadi kontestasi antara keduanya secara keras dan blatant. Sebagaimana kita tahu, dalam perkembangan pasca-kemerdekaan, identitas kejawaan makin mengalami “politisasi” dalam menghadapi naiknya kekuatan Islam yang cenderung “puritan” dalam kancah politik. Dalam konteks semacam ini, antara kedua identitas ini (Islam dan Jawa), terdapat hubungan yang tegang dan penuh prasangka. Ketegangan ini terus berlanjut hingga dalam pemerintahan Orba. Serat disusun berdasarkan kisah perjalanan putra-putri Sunan Giri setelah dikalahkan oleh Pangeran Pekik dari Surabaya, ipar Sultan Agung dari Kerajaan Mataram. Kisah dimulai setelah tiga putra Sunan Giri berpencar meninggalkan tanah mereka untuk melakukan perkelanaan, karena kekuasaan Giri telah dihancurkan oleh Mataram. Mereka adalah Jayengresmi, Jayengraga, dan seorang putri bernama Rancangkapti. Dengan diikuti oleh dua santri, Gathak dan Gathuk, Jayengresmi melakukan “perjalanan spiritual” ke sekitar keraton Majapahit, Blitar, Gamprang, hutan Lodhaya, Tuban, Bojanagara, hutan Bagor, Gambiralaya, Gunung Pandhan, desa Dhandher, Kasanga, Sela, Gubug Merapi, Gunung Prawata, Demak, Gunung Muria, Pekalongan, Gunung Panegaran, Gunung Mandhalawangi, Tanah Pasundan, Bogor, bekas keraton Pajajaran, Gunung Salak, dan kemudian tiba di Karang. Dalam perjalanan ini, Jayengresmi seperti mengalami “pendewasaan spiritual”, karena bertemu dengan sejumlah guru, tokoh-tokoh gaib dalam mitos Jawa kuna, dan sejumlah juru kunci makam-makam keramat di tanah Jawi. Dalam pertemuan dengan tokoh-tokoh itu, dia belajar mengenai segala macam pengetahuan dalam khazanah kebudayaan Jawa, mulai dari candi, alamat bunyi burung gagak dan prenjak, khasiat burung pelatuk, petunjuk pembuatan kain lurik, pilihan waktu bersanggama, perhitungan tanggal, hingga ke kisah Syeh Siti Jenar. Jayengsari dan Rancangkapti berkelana dengan diiringi oleh santri Buras ke Sidacerma, Pasuruhan, Ranu Grati, Banyubiru, kaki Gunung Tengger, Malang, Baung, Singasari, Sanggariti, Tumpang, Kidhal, Pasrepan, Tasari, Gunung Brama, Ngadisari, Klakah, Kandhangan, Argapura, Gunung Rawun, Banyuwangi, terus ke Pekalongan, Gunung Perau, Dieng, sampai ke Sokayasa di kaki Gunung Bisma Banyumas. Dalam perjalanan itu, mereka berdua mendapatkan pengetahuan mengenai adat-istiadat tanah Jawi, syariat para nabi, kisah Sri Sadana, pengetahuan mengenai wudlu, shalat, pengetahuan (yang terkesan agak bertakik-takik dan njlimet) mengenai dzat Allah, sifat, asma dan afngal-Nya, sifat dua puluh, Hadis Markum, perhitungan selamatan orang meninggal dunia, serta perwatakan Kurawa dan Pandawa. Melihat luasnya daerah serta lingkup pengetahuan yang dipelajari ketiga putra-putri Giri itu, tampak sekali ambisi penggubah kisah dalam Serat Centhini ini untuk “menerangkan” secara menyeluruh “dunia dalam” orang Jawa. Dengan demikian, serat ini juga bisa digunakan sebagai titik masuk untuk mengetahui bagaimana dunia Jawa “plausible” dan bermakna buat orang-orang Jawa sendiri. Sekaligus juga adalah bagaimana Islam “bermakna” dalam konteks tatanan kosmik mereka. Melihat jenis-jenis pengetahuan yang dipelajari oleh ketiga putra-putri Giri tersebut, tampak dengan jelas unsur-unsur Islam yang “ortodoks” bercampur baur dengan mitos-mitos di tanah Jawa. Ajaran Islam yang ortodoks mengenai sifat Allah yang dua puluh, misalnya, diterima begitu saja, tanpa harus membebani para penggubah ini untuk mempertentangkan ortodoksi itu dengan mitos-mitos dalam khazanah kebudayaan Jawa. Dua-duanya disandingkan begitu saja secara “sinkretik”, seolah antara alam “monoteisme” dengan “paganisme”/”animisme” Jawa tidak terdapat pertentangan yang merisaukan. Seperti telah dikemukakan di atas, dalam serat ini, Islam memang tidak dipandang semata-mata sebagai unsur eksternal yang “membebani” unsur lokal, bahkan pertentangan (katakan saja) weltanschauung antara kedua dunia itu (Islam dan Jawa) sama sekali tidak dipersoalkan. Begitu saja diandaikan bahwa keduanya commensurable dan saling bisa bertukar tempat. Tetapi, anehnya, dengan cara seperti inilah Jawa (sebagaimana ditampilkan oleh serat ini) melakukan “resistensi” (atau “domestifikasi”, dalam istilah Benda) atas Islam. Penggubah serat ini seolah-olah tidak mau tahu bahwa Islam sebagaimana tampil dalam korpus standar membawa sejumlah “efek ikonoklastik” atas kepercayaan setempat. Pasca-Centhini: Jawa “baru”? Bagaimana orang-orang Jawa pada periode-katakan saja-”pasca-Centhini” memahami hubungan antara Islam dan kejawaan? Adakah perubahan yang mendasar dalam pandangan-pandangan yang sebelumnya bernada sinkretis itu? Sebuah kesaksian kontemporer dari keluarga Jawa sebagaimana dituturkan oleh Hersri, layak dikutip di sini (saya ambil dari tulisan Hersri Between the Bars yang dimuat dalam buku Silenced Voices suntingan John H McGlynn yang terbit baru-baru ini). Cerita Hersri ini mewakili semacam corak yang umum dalam keluarga Jawa dari kelas bawah. Cerita ini terjadi di tahun 1947/1948. Hersri adalah orang yang tumbuh dalam keluarga abangan dan tidak mengenal “kesetiaan” yang fanatik terhadap agama-agama resmi. Sikap yang longgar ini tercermin dalam jawabannya ketika suatu ketika ia ditanya oleh gurunya di kelas, “Apa agamamu?” Ia kebingungan, karena di rumah tidak pernah memperoleh pengajaran mengenai kesetiaan yang eksklusif terhadap agama tertentu. Kakaknya yang sulung dikirim oleh ayahnya ke Sekolah Katolik di Muntilan, bukan dengan kesadaran mendalam agar anaknya belajar agama itu. Tetapi, Sekolah Katolik di daerahnya lebih menerapkan disiplin yang keras ketimbang sekolah lain, sehingga dengan demikian ayahnya berharap agar kakaknya yang ndablek itu bisa dijinakkan. Kakaknya yang lain belajar di Sekolah Taman Siswa. Sementara kakaknya yang nomor tiga dikirim ke Sekolah Muhammadiyah, juga bukan dengan alasan agar belajar Islam dengan baik, tetapi karena kakaknya yang satu ini tidak diterima baik di sekolah umum atau Protestan. Bapaknya sendiri selalu berkata bahwa semua agama adalah baik, dan sering ikut dalam acara selamatan desa yang biasanya juga menggunakan sejumlah ritual Islam (seperti tahlil, misalnya). Tetapi ia tidak pernah menjadi Muslim. Terhadap pertanyaan yang membingungkan dari gurunya itu, Hersri akhirnya menjawab, “Saya mengikuti semua agama yang ada.” Seluruh murid di kelasnya tertawa. Apakah ini cerminan dari sinkretisme seperti yang disebut di muka? Boleh jadi. Tetapi sikap permisif secara “teologis” ini lama-lama makin pudar, karena proses yang lain juga sedang berlangsung, yaitu apa yang sering disebut sebagai “santri-isasi” orang Jawa. Saya pernah mendengar cerita seorang jemaat Gereja Kristen di kawasan Pulo Mas mengenai proses “baru” yang sedang berlangsung dalam masyarakat Jawa itu. Dahulu, cerita si jemaat ini, jika ada jenazah di desanya (di Madiun), sudah menjadi adat yang lazim bahwa seluruh warga desa dari agama apa pun akan mengurusnya. Sekarang, setelah sejumlah fatwa MUI dikeluarkan mengenai larangan orang Islam terlibat dalam ritual agama lain (termasuk seremoni kematian, tentunya), pelan-pelan orang makin sadar akan “identitasnya” sebagai orang Muslim atau Kristen atau yang lain. Orang Jawa makin menyadari bahwa ada gejala lain yang muncul ke permukaan: gejala untuk menganggap sikap “permisif” secara teologis sebagai hal yang tidak lagi wajar. Proses ini, tampaknya sudah berlangsung sejak lama, meskipun resonansinya baru tampak dengan “keras” akhir-akhir ini. GWJ Drewes (dalam artikel berjudul Indonesia: Mysticism and Activism, yang dimuat dalam buku suntingan Gustave von Grunebaum, Unity and Variety in Muslim Civilization, [1955]), pernah mengemukakan pengamatannya di tahun 50-an mengenai proses Islamisasi di tanah Jawa. Ia mengatakan bahwa, [T]he Islamization of Indonesia is still in progress, not only in the sense that Islam is still spreading among pagan tribes, but also in that peoples who went over to Islam centuries ago are living up more and more to the standard of Muslim orthodoxy. Kecenderungan yang kita lihat akhir-akhir ini tampaknya memang makin cenderung membenarkan apa yang dikatakan oleh Drewes itu. Tetapi semacam caveat tetap harus dikemukakan di sini. Jika kecenderungan makin “ortodoks” di kalangan masyarakat Jawa seperti dikemukakan oleh Drewes itu benar-benar terjadi, maka harus pula dipertimbangkan kenyataan bahwa dalam pemilu tahun lalu, partai- partai Islam mengalami kekalahan yang dramatis. PDI-P yang mempunyai basis luas di kalangan masyarakat Jawa yang abangan, memperoleh suara yang besar. Apakah yang bisa kita simpulkan dari perkembangan baru ini? Tampaknya memang Jawa-Serat-Centhini belum menunjukkan tanda-tanda kepudaran, bahkan mungkin semacam resiliensi baru mulai dikembangkan. Meskipun perkembangan-perkembangan baru yang menuju ke arah Jawa-pasca- Centhini juga mulai memperlihatkan gejalanya. ============ Pethikan “Centhini” pupuh 37. Dhandhanggula, gatra 37 – 49 37 duk uripe neng dunya puniki sadina dina pan wis sakarat miwah sawengi wengine manggung sakaratipun melek turu sakarat ugi mila ngaran sakarat wong neng dunya iku dene ta ing salaminya urip iku neng dunya tan pegat dening layar segara rahmat 39. Ing tepine graitanen ugi dene wus aran iku sagara tanpa tepi supradene kaya na tepinipun ngengkol temen basa puniki kepriye yen kenaa kinira ing kalbu dinuga duga watara saking kira kira mapan datan keni kajaba kang wus wikan 40. Ing tepining ingkang jalanidhi. sagara rahmat kang tanpa ombak nanging gumleger alune samun lamun kadulu sawangane resik tur wening mila kang sami layar tan nganggo parau nyana tan na pakewuhnya yen tinrajang telenge keh parang curi mila arang kang prapta 42. Mampan arang iya angrawuhi ing warnane ya sagara rahmat tur sadina sawengine wong aneng dunya iku alalangen aneng jaladri jroning sagara rahmat prandene arang wruh saking kalingan ing tingal kalimput ing pancabayaning ngaurip mila arang waspada 43. Yen arsa layar maring jaladri sagara rahmat mawia palwa sarta lawan kamudhine pandoman sampun kantun myang layare dipun abecik miwah sanguning marga ywa kirang den agung yen tan mangkono tan prapta ing tepine iya sagara rahmati pan mundhak akangelan 44. Baitane pan eninging galih kemudhine pan anteping tekat sucining kalbu layare pandomanipun iku pituduhe guru sayekti sangune ngelmu rasa lakune parau kalawabn murahing Edat yen tumeka aneng tepining jaladri uga sagara rahmat (badhe kalajengaken menawi taksih wonten ingkang ngersaaken..) Kapethik saking “serat centhini latin 1 Yasandalem kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangkurat III (Ingkang Sinuhun Paku Buwana V) jumeneng ing Surakarta ( 1820 – - 1823 M) kalatinaken miturut aslinipun dening Karkana Kamajaya, Penerbit yayasan Centhini, Yogyakarta, 1991 Kitab Pararaton : Kitab Para Datu / Kisah Ken Angrok 06 Mar 2010 Leave a Comment by wayang in Kitab & Kidung Tuhan, Pencipta, Pelindung dan Pengakhir Alam, Semoga tak ada halangan, Sudjudku sesempurna sempurnanya. I. Demikian inilah kisah Ken Angrok. Asal mulanja, ia didjadikan manusia: Adalah seorang anak janda di Jiput, bertingkah laku tak baik, memutus – mutus tali kekang kesusilaan, menjadi gangguan Hyang yang bersifat gaib; pergilah ia dari Jiput, mengungsi ke daerah Bulalak. Nama yang dipertuan di Bulalak itu: Mpu Tapawangkeng, ia sedang membuat pintu gerbang asramanya, dimintai seekor kambing merah jantan oleh roh pintu. Kata Tapawangkèng: “Tak akan berhasil berpusing kepala, akhirnya ini akan menjebabkan diriku jatuh kedalam dosa, kalau sampai terjadi aku membunuh manusia, tak akan ada yang dapat menyelesaikan permintaan korban kambing merah itu.” Kemudian orang yang memutus mutus tali kekang kesusilaan tadi berkata, sanggup mejadi korban pintu Mpu Tapawangkeng, sungguh ia bersedia dijadikan korban, agar ini dapat menjadi lantaran untuk dapat kembali ke surga dewa Wisnu dan menjelma lagi didalam kelahiran mulia, ke alam tengah lagi, demikianlah permintaannya. Demikianlah ketika ia direstui oleh Mpu Tapawangkeng, agar dapat menjelma, disetujui inti sari kematiannya, akan menikmati tujuh daerah. Sesudah mati, maka ia dijadikan korban oleh Mpu Tapawangkeng. Selesai itu, ia terbang ke surga Wisnu, dan tidak bolak inti perjanjian yang dijadikan korban, ia meminta untuk dijelmakan di sebelah timur Kawi. Dewa Brahma melihat lihat siapa akan dijadikan temanya bersepasang. Sesudah demikian itu, adalah mempelai baru, sedang cinta mencintai, yang laki laki bernama Gajahpara, yang perempuan bernama Ken Endok, mereka ini bercocok tanam. Ken Endok pergi ke sawah, mengirim suaminya, yalah: si Gadjahpara; nama sawah tempat ia: mengirim : Ayuga; desa Ken Endok bernama Pangkur. Dewa Brahma turun kesitu, bertemu dengan Ken Endok, pertemuan mereka kedua ini terdjadi di ladang Lalaten; dewa Brahma mengenakan perjanjian kepada isteri itu: “Jangan kamu bertemu dengan lakimu lagi, kalau kamu bertemu dengan suamimu, ia akan mati, lagi pula akan tercampur anakku itu, nama anakku itu: Ken Angrok, dialah yang kelak akan memerintah tanah Jawa”. Dewa Brahma lalu menghilang. Ken Endok lalu ke sawah, berjumpa dengan Gajahpara. Kata Ken Endok: “Kakak Gajahpara, hendaknyalah maklumi, saya ditemani didalam pertemuan oleh Hyang yang tidak tampak di ladang Lalateng, pesan beliau kepadaku: jangan tidur dengan lakimu lagi, akan matilah lakimu, kalau ia memaksa tidur dengan kamu, dan akan tercampurlah anakku itu. Lalu pulanglah Gajahpara, sesampainya di rumah Ken Endok diajak tidur, akan ditemani didalam pertemuan lagi. Ken Endok segan terhadap Gajahpara. “Wahai, kakak Gajahpara putuslah perkawinanku dengan kakak, saya takut kepada perkataan Sang Hyang. Ia tidak mengijinkan aku berkumpul dengan kakak lagi.” Kata Gadjahpara: “Adik, bagaimana ini, apa yang harus kuperbuat, nah tak berkeberatan saya, kalau saya harus bercerai dengan kamu; adapun harta benda pembawaanmu kembali kepadamu lagi, adik, harta benda milikku kembali pula kepadaku lagi”. Sesudah itu Ken Endok pulang ke Pangkur di seberang utara, dan Gajahpara tetap bertempat tinggal di Campara di seberang selatan. Belum genap sepekan kemudian matilah Gajahpara. Kata orang yang mempercakapkan: “Luar biasa panas anak didalam kandungan itu, belum seberapa lama perceraian orang tua laki laki perempuan sudah diikuti, orang tua laki laki segera meninggal dunia”. Akhirnja sesudah genap bulannya, lahirlah seorang anak laki-laki, dibuang di kuburan kanak kanak oleh Ken Endok. Selanjutnya ada seorang pencuri, bernama Lembong, tersesat di kuburan anak anak itu, melihat benda bernyala, didatangi oleh Lembong, mendengar anak menangis, setelah didekati oleh Lembong itu, nyatalah yang menyala itu anak yang menangis tadi, diambil diambin dan dibawa pulang diaku anak oleh Lembong. Ken Endok mendengar, bahwa Lembong memungut seorang anak, teman Lembonglah yang memberitakan itu dengan menyebut nyebut anak, yang didapatinya di kuburan kanak kanak, tampak bernyala pada waktu malam hari. Lalu Ken Endok datang kepadanya, sungguhlah itu anaknya sendiri. Kata Ken Endok: “Kakak Lembong, kiranya tuan tidak tahu tentang anak yang tuan dapat itu, itu adalah anak saya, kakak, jika kakak ingin tahu riwayatnya, demikianlah: Dewa Brahma bertemu dengan saya, jangan tuan tidak memuliakan anak itu, karena dapat diumpamakan, anak itu beribu dua berayah satu, demikian persamaannya.” Lembong beserta keluarganya semakin cinta dan senang, lambat laun anak itu akhirnya menjadi besar, dibawa pergi mencuri oleh Lembong. Setelah mencapai usia sebaya dengan anak gembala, Ken Angrok bertempat tinggal di Pangkur. Habislah harta benda Ken Endok dan harta benda Lembong, habis dibuat taruhan oleh Ken Angrok. Kemudian ia menjadi anak gembala pada yang dipertuan di Lebak, menggembalakan sepasang kerbau, lama kelamaan kerbau yang digembalakan itu hilang, kerbau sepasang diberi harga delapan ribu oleh yang dipertuan di Lebak, Ken Angrok sekarang dimarahi oleh orang tua laki laki dan perempuan, kedua duanya: “Nah buyung, kami berdua mau menjadi hamba tanggungan, asal kamu tidak pergi saja, kami sajalah yang akan menjalani, menjadi budak tanggungan pada yang dipertuan di Lebak”. Akhirnya tidak dihiraukan, Ken Angrok pergi, kedua orang tuanya ditinggalkan di Campara dan di Pangkur. Lalu Ken Angrok pergi mencari perlindungan di Kapundungan; Orang yang diungsi dan dimintai tempat berlindung tak menaruh belas kasihan. Ada seorang penjudi permainan Saji berasal dari Karuman, bernama Bango Samparan, kalah bertaruhan dengan seorang bandar judi di Karuman, ditagih tak dapat membayar uang, Bango Samparan itu pergi dari Karuman, berjiarah ke tempat keramat Rabut Jalu, mendengar kata dari angkasa, disuruh pulang ke Karuman lagi. “Kami mempunyai anak yang akan dapat menyelesaikan hutangmu ia bernama Ken Angrok.” Pergilah Bango Samparan dari Rabut Jalu, berjalan pada waktu malam, akhirnya menjumpai seorang anak, dicocokkan oleh Bango Samparan dengan petunjuk Hyang, sungguhlah itu Ken Angrok, dibawa puIang ke Karuman, diaku anak oleh Bango Samparan. Dia itu lalu ketempat berjudi, bandar judi ditemui oleh Bango Samparan dilawan berjudi, kalahlah bandar itu, kembali kekalahan Bango Samparan, memang betul petunjuk Hyang itu, Bango Samparan pulang, Ken Angrok dibawa pulang oleh Bango Samparan. Bango Samparan berbayuh dua orang bersaudara, Genuk Buntu nama istri tuanja. dan Tirtaya nama isteri mudanja. Adapun nama anak anaknya dari isteri muda, yalah Panji Bawuk, anak tengah Panji Kuncang, adiknya ini Panji Kunal dan Panji Kenengkung, bungsu seorang anak perempuan bernama Cucu Puranti. Ken Angrok diambil anak oleh Genuk Buntu. Lama ia berada di Karuman, tidak dapat sehati dengan semua para Panji itu, Ken Angrok berkehendak pergi dari Karuman. Lalu ia ke Kapundungan bertermu dengan seorang anak gembala anak tuwan Sahaja, kepala desa tertua di Sagenggeng, bernama Tuwan Tita; ia bersahabat karib dengan Ken Angrok. Tuwan Tita dan Ken Angrok sangat cinta mencinta, selanjutnya Ken Angrok bertermpat tinggal pada Tuwan Sahaja, tak pernah berpisahlah Ken Angrok dan Tuwan Sahaja itu, mereka ingin tahu tentang bentuk huruf huruf, pergilah ke seorang guru di Sagenggeng, sangat ingin menjadi murid, minta diajar sastera. Mereka diberi pelajaran tentang bentuk bentuk bentuk dan penggunaan pengetahuan tentang huruf huruf hidup dan huruf huruf mati, semua perobahan huruf, juga diajar tentang sengkalan, perincian hari tengah bulan, bulan, tahun Saka, hari enam, hari lima, hari tujuh, hari tiga, hari dua, hari sembilan, nama nama minggu. Ken Angrok dan Tuwan Tita kedua duanya pandai diajar pengetahuan oleh Guru. Ada tanaman guru, menjadi hiasan halaman, berupa pohon jambu, yang ditanamnya sendiri. Buahnya sangat lebat, sungguh padat karena sedang musimnya, dijaga baik tak ada yang diijinkan memetik, tak ada yang berani mengambil buah jambu itu. Kata guru: “Jika sudah masak jambu itu, petiklah”. Ken Angrok sangat ingin, melihat buah jambu itu, sangat dikenang kenangkan buah jambu tadi. Setelah malam tiba waktu orang tidur sedang nyenyak nyenyaknya, Ken Angrok tidur, kini keluarlah kelelawar dari ubun ubun Ken Angrok, berbondong bondong tak ada putusnya, semalam malaman makan buah jambu sang guru. Pada waktu paginya buah jambu tampak berserak serak di halaman, diambil oleh pengiring guru. Ketika guru melihat buah jambu rusak berserakan di halaman itu, maka rnendjadi susah. Kata guru kepada murid murid: “Apakah sebabnya maka jambu itu rusak.” Menjawablah pengiring guru: “Tuanku rusaklah itu, karena bekas kelelawar makan jambu itu”. Kemudian guru mengambil duri rotan untuk mengurung jambunya dan dijaga semalam malaman. Ken Angrok tidur lagi diatas balai balai sebelah selatan, dekat tempat daun ilalang kering, di tempat ini guru biasanya menganyam atap. Menurut penglihatan, guru melihat kelelawar penuh sesak berbondong bondong, keluar dari ubun ubun Ken Angrok, semuanya makan buah jambu guru, bingunglah hati guru itu, merasa tak berdaya mengusir kelelawar yang banyak dan memakan jambunya, marahlah guru itu, Ken Angrok diusir oleh guru, kira kira pada waktu tengah malam guru rnengusirnya. Ken Angrok terperanjat, bangun terhuyung huyung, lalu keluar, pergi tidur di tempat ilalang di luar. Ketika guru menengoknya keluar, ia melihat ada benda menyala di tengah ilalang, guru terperanjat mengira kebakaran, setelah diperiksa yang tampak menyala itu adalah Ken Angrok, ia disuruh bangun, dan pulang, diajak tidur di dalam rumah lagi, menurutlah Ken Angrok pergi tidur di ruang tengah lagi. Pagi paginya ia disuruh mengambil buah jambu oleh guru, Ken Angrok senang. katanya : “Aku mengharap semoga aku menjadi orang, aku akan membalas budi kepada guru.” Lama kelamaan Ken Angrok telah menjadi dewasa, menggembala dengan Tuwan Tita, membuat pondok, bertempat di sebelah timur Sagenggeng, di ladang Sanja, dijadikan tempatnya untuk menghadang orang yang lalu lintas di jalan, dengan Tuwan Titalah temannya. Adalah seorang penyadap enau di hutan orang Kapundungan, mempunyai seorang anak perempuan cantik, ikut serta pergi ke hutan, dipegang oleh Ken Angrok, ditemani didalam pertemuan didalam hutan, hutan itu bernama Adiyuga. Makin lama makin berbuat rusuhlah Ken Angrok, kemudian ia memperkosa orang yang melalui jalan, hal ini diberitakan sampai di negara Daha, bahwasanya Ken Angrok berbuat rusuh itu, maka ia ditindak untuk dilenyapkan oleh penguasa daerah yang berpangkat akuwu, bernama Tunggul Ametung. Pergilah Ken Angrok dari Sagenggêng, mengungsi ke tempat keramat. Rabut Gorontol. “Semoga tergenang didalam air, orang yang akan melenyapkan saya” kutuk Ken Angrok, semoga keluar air dan tidak ada, sehingga terdjadilah tahun tak ada kesukaran di Jawa.” Ia pergi dari Rabut Gorontol, mengungsi ke Wayang, ladang di Sukamanggala. Ada seorang pemikat burung pitpit, ia memperkosa orang yang sedang rnemanggil manggil burung itu, lalu menuju ke tempat keramat Rabut Katu. Ia heran, melihat tumbuh tumbuhan katu sebesar beringin, dari situ lari mengungsi ke Jun Watu, daerah orang sempurna, mengungsi ke Lulumbang, bertempat tinggal pada penduduk desa, keturunan golongan tentara, bernana Gagak Uget. Lamalah ia bertempat tinggal disitu, memerkosa orang yang sedang rnelalui jalan. Ia lalu pergi ke Kapundungan, mencuri di Pamalantenan, ketahuanlah ia, dikejar dikepung, tak tahu kemana ia akan mengungsi, ia memanjat pohon tal, di tepi sungai, setelah siang, diketahui, bahwasanya ia memanjat pohon tal itu, ditunggu orang Kepundungan dibawah, sambil dipukulkan canang, Pohon tal itu ditebang oleh orang-orang yang mengejarnya. Sekarang hi menangis, menyebut nyebut Sang Pentjipta Kebaikan atas dirinya, akhirnya ia mendengar sabda dari angkasa, ia disuruh memotong daun tal, untuk didjadikan sayapnya kiri kanan, agar supaya dapat melayang ke seberang timur, mustahil ia akan mati, lalu ia memotong daun tal mendapat dua helai, dijadikan sayapnya kiri kanan, ia melayang keseberang timur, dan mengungsi ke Nagamasa, diikuti dikejar, mengungsilah ia kedaerah Oran masih juga dikejar diburu, lari mengungsi ke daerah Kapundungan, yang dipertuan di daerah Kapundungan didapatinya sedang bertanam, Ken Angrok ditutupi dengan cara diaku anak oleh yang dipertuan itu. Anak yang dipertuan di daerah itu sedang bertanam, banyaknya enam orang, kebetulan yang seoarang sedang pergi mengeringkan empangan, tinggal 1ima orang; yang sedang pergi itu diganti menanam oleh ken Angrok, datanglah yang mengejarnya, seraya berkata kepada penguasa daerah: “Wahai, tuan kepala daerah, ada seorang perusuh yang kami kejar, tadi mengungsi kemari.” meanjawablah penguasa daerah itu: “Tuan tuan, kami tidak sungguh bohong kami tuan, ia tidak disini; anak kami enam orang, yang sedang bertanam ini genap enam orang, hitunglah sendiri saja, jika lebih dari enam orang tentu ada orang lain disini” Kata orang-orang yang mengejar: “Memang sungguh, anak penguasa daerah enam orang, betul juga yang bertanam itu ada enam orang.” Segera pergilah yang mengejar. Kata penguasa daerah kepada ken Angrok: “Pergilah kamu, buyung, jangan jangan kembali yang mengejar kamu, kalau kalau ada yang membicarakan kata kataku tadi, akan sia sia kamu berlindung kepadaku, pergilah mengungsi ke hutan”. Maka kata ken Angrok: “Semoga berhenti lagilah yang mengejar, itulah sebabnya maka Ken Angrok bersembunyi di dalam hutan, Patangtangan nama hutan itu. Selanjutnya ia mengungsi ke Ano, pergi ke hutan Terwag. ia semakin merusuh. Adalah seorang kepala lingkungan daerah Luki akan melakukan pekerjaan membajak tanah, berangkatlah ia membajak ladang, mempesiapkan. tanahnya untuk ditanami kacang, membawa nasi untuk anak yang menggembalakan lembu kepala Lingkungan itu, dimasukkin kedalam tabung bambu, diletakkan diatas onggokan; sangat asyiklah kepala Lingkungan itu, selalu membajak ladang kacang saja, maka dirunduk diambil dan dicari nasinya oleh Ken Angrok, tiap tiap hari terdjadi demikian itu, kepala Lingkungan bingunglah, karena tiap tiap hari kehilangan nasi untuk anak gembalanya, kata kepala Lingkungan: “Apakah sebabnya maka nasi itu hilang”. Sekarang nasi anak gembala kepala Lingkungan di tempat membajak itu diintai, dengan bersembunyi, anak gembalanya disuruh membajak, tak lama kemudian Ken Angrok datang dari dalam hutan, maksud Ken Angrok akan mengambil nasi, ditegor oleh kepala lingkungan: “Terangnya, kamulah, buyung, yang nengambil nasi anak gembalaku tiap tiap hari itu,” Ken Angrok menjawab: “Betullah tuan kepala lingkungan, saya inilah yang mengambil nasi anak gembala tuan tiap-tiap hari, karena saya lapar, tak ada yang kumakan..” Kata kepala Lingkungan: “Nah buyung. datanglah ke asramaku, kalau kamu lapar, mintalah nasi tiap tiap hari, memang saya tiap tiap hari mengharap ada tamu datang”. Lalu Ken Angrok diajak pergi ke rumah tempat tinggal kepala lingkungan itu, dijamu dengan nasi dan lauk pauk. Kata kepala lingkungan kepada isterinya: “Nini batari, saya berpesan kepadamu, kalau Ken Angrok datang kemari, meskipun saya tak ada di rumah juga, lekas lekas terima sebagai keluarga, kasihanilah ia” diceriterakan, Ken Angrok tiap tiap hari datang, seperginya dari situ menuju ke Lulumbang, ke banjar Kocapet. Ada seorang kepala lingkungan daerah Turyantapada, ia pulang dari Kebalon, bernama Mpu Palot, ia adalah tukang emas, berguru kepada kepala desa tertua di Kebalon yang seakan akan sudah berbadankan kepandaian membuat barang barang emas dengan sesempurna sesempurnanya, sungguh ia telah sempurna tak bercacad, Mpu Palot pulang dari Kebalon, membawa beban seberat lima tahil, berhenti di Lulumbang, Mpu Palot itu takut akan pulang sendirian ke Turyantapada, karena ada orang dikhabarkan melakukan perkosaan di jalan, bernama Ken Angrok. Mpu Palot tidak melihat orang lain, ia berjumpa dengan Ken Angrok di tempat beristirahat. Kata ken Angrok kepada Mpu Palot: ,,Wahai, akan pergi kemanakah tuanku ini,” Kata Mpu, menjawabnya: “Saya sedang bepergian dari Kebalon, buyung, akan pulang ke Turyantapada, saya takut di jalan, memikir mikir ada orang yang melakukan perkosaan dijalan, bernama Ken Angrok”. Tersenyumlah Ken Angrok: “Nah Tuan, anaknda ini akan menghantarkan pulang tuan, anaknda nanti yang akan melawan kalau sampai terdjadi berjumpa dengan orang yang bernama ken Angrok itu, laju sajalah tuan pulang ke Turyantapada, jangan khawatir.” Mpu di Tuyantapada itu merasa berhutang budi mendengar kesanggupan Ken Angrok. Setelah datang di Turyantapada, Ken Angrok diajar ilmu kepandaian membuat barang barang emas, lekas pandai, tak kalah kalau kesaktiannya dibandingkan dengan Mpu Palot, selanjutnya Ken Angrok diaku anak oleh Mpu Palot, itulah sebabnya asrama Turyantapada dinamakan daerah Bapa. Demikianlah Ken Angrok mengaku ayah kepada Mpu Palot, karena masih ada kekurangan Mpu Palot itu, maka Ken Angrok disuruhi pergi ke Kebalon oleh Mpu Palot, disuruh menyempurnakan kepandaiaan membuat barang barang emas pada orang tertua di Kebalon, agar dapat menyelesaikan bahan yang ditinggalkan oleh bapak kepala lingkungan. Ken Angrok berangkat menuju ke Kebalon, tidak dipercaya Ken Angrok itu oleh penduduk di Kebalon. Ken Angrok lalu marah : “Semoga ada lobang di tempat orang yang hidup menepi ini,” Ken Angrok menikam, orang lari mengungsi kepada kepala desa tertua di Kebalon, dipanggil berkumpul petapa petapa yang berada di Kebalon semua, para guru Hyang, sampai pada para punta, semuanya keluar, membawa pukul perunggu, bersama sama mengejar dan memukul Ken Angrok dengan pukulan perunggu itu, maksud para petapa itu akan memperlihatkan kehendaknya untuk membunuh Ken Angrok. Segera mendengar suara dari angkasa: “Jangan kamu bunuh orang itu, wahai para petapa, anak itu adalah anakku, masih jauh tugasnya di alam tengah ini.” Demikan1ah suara dari angkasa, terdengar oleh para petapa. Maka ditolong Ken Angrok, bangun seperti sedia kala. Ken Angrok lalu mengenakan kutuk: “Semoga tak ada petapa di sebelah timur Kawi yang tidak sempurna kepandaianya membuat benda-benda emas”. Ken Angrok pergi dari Kebalon, mengungsi ke Turyantapada, ke daerah lingkungan Bapa; sempurnalah kepandaiannya tentang emas. Ken Angrok pergi dari lingkungan Bapa menuju ke daerah desa Tugaran, Kepala tertua di Tugaran tidak menaruh belas digangguilah orang Tugaran oleh Ken Angrok, arca penjaga pintu gerbangnya didukung diletakkan di daerah lingkungan Bapa, kemudian dijumpai anak perempuan kepala tertua di Tugaran itu, sedang menanam kacang di sawah kering. Gadis ini lalu ditemani didalam pertemuan oleh Ken Angrok, lama kelamaan tanaman kacang menghasilkan berkampit kampit; inilah sebabnya pula maka kacang Tugaran benihnya mengkilat besar dan gurih. Ia pergi dari Tugaran pulang ke daerah Bapa lagi. Kata ken Angrok: “Kalau saja kelak menjadi orang, saya akan memberi perak kepada yang dipertuan di daerah Bapa ini. Di kota Daha dikabarkan tentang Ken Angrok, bahwa ia merusuh dan bersembunyi di Turyantapada, dan Daha, Diadakan tindakan untuk melenyapkannya, ia dicari oleh orang orang Daha, pergilah dari daerah Bapa menuju ke gunung Pustaka. Ia pergi dari situ, mengungsi ke Limbehan, kepala tertua di Limbehan menaruh belas kasihanlah dimintai perlindungan oleh Ken Angrok itu, akhirnya Ken Angrok berjiarah ke tempat keramat Rabut Gunung Panitikan. Kepadanya turun petunjuk dewa, disuruh pergi ke Rabut Gunung Lejar pada hari Rebo Wage, minggu Wariga pertama, para dewa bermusyawarah berrapat; Demikian ini kata seorang nenek kebayan di Panitikan: “Saya akan membantu menyembunyikan kamu, buyung, agar supaya tak ada yang akan tahu, saya akan menyapu di Gunung Lejar pada waktu semua dewa dewa bermusyawarah.” Demikian kata nenek kebayan di Panitikan itu. Ken Angrok lari menuju ke Gunung Lejar, hari Rebo Wage, minggu Wariga pertama tiba, ia pergi ke tempat musyawarah. Ia bersembunyi di tempat sampah ditimbuni dengan semak belukar oleh nenek kebayan Panitikan. Lalu berbunyilah suara tujuh nada, guntur, petir, gempa guruh, kilat, taufan, angin ribut, hujan bukan masanya, tak ada selatnya sinar dan cahaya, maka demikian itu ia mendengar suara tak ada hentinya, berdengung dengung bergemuruh. Adapun inti musyawarah para dewa: “Yang rnemperkokoh nusa Jawa, daerah manalah mestinya.” Demikianlah kata para dewa, saling mengemukakan pembicaraan: “Siapakah yang pantas menjadi raja di pulau Jawa,” demikian pertanyaan para dewa semua. Menjawablah dewa Guru: “Ketahuilah dewa dewa semua, adalah anakku, seorang manusia yang lahir dari orang Pangkur, itulah yang memperkokoh tanah Jawa.” Kini keluarlah Ken Angrok dari tempat sampah, dilihat, oleh para dewa; semua dewa menjetujui, ia direstui bernama nobatan Batara Guru, demikian itu pujian dari dewa dewa, yang bersorak sorai riuh rendah. Diberi petunjuklah Ken Angrok agar mengaku ayah kepada seorang brahmana yang bernama Sang Hyang Lohgawe. dia ini baru saja dari Jambudipa, disuruh menemuinya di Taloka. Itulah asal mulanja ada brahmana di sebelah timur Kawi. Pada waktu ia menuju ke Jawa, tidak berperahu. hanya menginjak rumput kekatang tiga potong, setelah mendarat dari air, lalu menuju ke daerah Taloka, dang Hyang Lohgawe berkeliling mencari Ken Angrok. Kata Dang Hyang Lohgawe: “Ada seorang anak, panjang tangannya melampaui lutut, tulis tangan kanannya cakera dan yang kiri sangka, bernana Ken Angrok. Ia tampak pada waktu aku memuja, ia adalah penjelmaan Dewa Wisnu, pemberitahuannya dahulu di Jambudwipa, demikian: “Wahai Dang Hyang Lohgawe, hentikan kamu memuja arca Wisnu, aku telah tak ada disini, aku telah menjelma pada orang di Jawa, hendaknya kamu mengikuti aku di tempat perjudian.” Tak lama kemudian Ken Angrok didapati di tempat perjudian, diamat amati dengan baik baik, betul ia adalah orang yang tampak pada Dang Hyang Lohgawe sewaktu ia memuja. Maka ia ditanyai. Kata Dang Hyang Lohgawe: “Tentu buyunglah yang bernama Ken Angrok, adapun sebabnya aku tahu kepadamu, karena kamu tampak padaku pada waktu aku memuja”. Menjawablah Ken Angrok: “Betul tuan, anaknda bernama Ken Angrok.” Dipeluklah ia oleh brahmana itu. Kata Dang Hyang Lohgawe: “Kamu saya aku anak, buyung, kutemani pada waktu kesusahan dan kuasuh kemana saja kamu pergi.” Ken Angrok pergi dari Taloka, menuju ke Tumapel, ikut pula brahmana itu. Setelah ia datang di Tumapel, tibalah saat yang sangat tepat, ia sangat ingin menghamba pada akuwu. kepala daerah di Tumapel yang bernama Tunggul Ametung. Dijumpainya dia itu, sedang dihadap oleh hamba hambanya, Kata Tunggul Ametung: “Selamatlah tuanku brahmana, dimana tempat asal tuan, saya baru kali ini melihat tuan.” Menjawablah Dang Hyang Lohgawe: Tuan Sang Akuwu, saya baru saja datang dari seberang, saja ini sangat ingin menghamba kepada sang akuwu”. Menjawablah Tunggul Ametung: “Nah, senanglah saya, kalau tuan Dang Hyang dapat bertempat tinggal dengan tenteram pada anaknda ini”. Demikianlah kata Tunggul Ametung. Lamalah Ken Angrok menghamba kepada Tunggul Ametung yang berpangkat akuwu di Tumapel itu, Kemudian adalah seorang pujangga, pemeluk agama Budha, menganut aliran Mahayana, bertapa di ladang orang Panawijen, bernama Mpu Purwa. Ia mempunyai seorang anak perempuan tunggal, pada waktu ia belum menjadi pendeta Mahayana. Anak perempuan itu luar biasa cantik moleknja bernama Ken Dedes. Dikabarkan, bahwa ia ayu, tak ada yang menyamai kecantikannya itu, termasyur di sebelah timur Kawi sampai Tumapel. Tunggul Ametung mendengar itu, lalu datang di Panawijen, langsung menuju ke desa Mpu Purwa, bertemu dengan Ken Dedes; Tunggul Ametung sangat senang melihat gads cantik itu. Kebetulan Mpu Purwa tak ada di pertapaannya, sekarang Ken Dedes sekonyong konyong dilarikan oleh Tunggu1 Ametung. Setelah Mpu Purwa pulang dari bepergian, ia tidak rnenjumpai anaknya, sudah dilarikan oleh Akuwu di Tumapel; ia tidak tahu soal yang sebenarnya, maka Mpu Purwa menjatuhkan serapah yang tidak baik: “Nah, semoga yang melarikan anakku tidak lanjut mengenyam kenikmatan, semoga ia ditusuk keris dan diambil isterinya, demikian juga orang orang di Panawidjen ini, semoga menjadi kering tempat mereka mengambil air, semoga tak keluar air kolamnya ini, dosanya: mereka tak mau memberitahu, bahwa anakku dilarikan orang dengan paksaan. Demikian kata Mpu Purwa: ,,Adapun anakku yang menyebabkan gairat dan bercahaya terang, kutukku kepadanya, hanya: semoga ia mendapat keselamatan dan kebahagiaan besar.” Demikian kutuk pendeta Mahayana di Panawidjen. Setelah datang di Tumapel, ken Dedes ditemani seperaduar oleh Tunggul Ametung, Tunggul Ametung tak terhingga cinta kasihnya, baharu saja Ken Dedes menampakkan gejala gejala mengandung, Tunggul Ametung pergi bersenang senang, bercengkerama berserta isterinya ke taman Boboji; Ken Dedes turun dari kereta kebetulan disebabkan karena nasib, tersingkap betisnya, terbuka sampai rahasianya, lalu kelihatan bernyala oleh Ken Angrok, terpesona ia melihat, tambahan pula kecantikannya memang sempurna, tak ada yang menyamai kecantikannya itu, jatuh cintalah Ken Angrok, tak tahu apa yang akan diperbuat. Setelah Tunggul Ametung pulang dari bercengkerama itu, Ken Angrok memberitahu kepada Dang Hyang Lohgawe, berkata: “Bapa Dang Hyang, ada seorang perempuan bernyala rahasianya, tanda perempuan yang bagaimanakah demikian itu, tanda buruk atau tanda baikkah itu”. Dang Hyang menjawab: ” Siapa itu, buyung”. Kata Ken Angrok: ” Bapa, memang ada seorang perempuan, yang kelihatan rahasianya oleh hamba”. Kata Dang Hyang: “Jika ada perempuan yang demikian, buyung, perempuan itu namanya: Nawiswari, ia adalah perempuan yang paling utama, buyung, berdosa, jika memperisteri perempuan itu, akan menjadi maharaja.” Ke Angrok diam, akhirnya berkata: “Bapa Dang Hyang, perempuan yang bernyala rahasianya itu yalah isteri sang akuwu di Tumapel, jika demikian akuwu, saya akan bunuh dan saya ambil isterinya, tentu ia akan mati, itu kalau tuan mengijinkan.” Jawab Dang Hyang: ” Ya, tentu matilah, buyung, Tunggul Ametung olehmu, hanya saja tidak pantas memberi ijin itu kepadamu, itu bukan tindakan seorang pendeta, batasnya adalah kehendakmu sendiri.” Kata Ken Angrok: “Jika demikian, Bapa, hamba memohon diri kepada tuan.” Sang Brahmana menjawab: “Akan kemana kamu buyung?” Ken Angrok menjawab: ” Hamba pergi ke Karuman, ada seorang penjudi yang mengaku anak kepada hamba bernama Bango Samparan, ia cinta kepada hamba, dialah yang akan hamba mintai pertimbangan, mungkin ia akan menyetujuinya.” Kata Dang Hyang: “Baiklah kalau demikian, kamu jangan tinggal terlalu lama di Karuman, buyung.” Kata Ken Angrok: “Apakah perlunya hamba lama disana.” Ken Angrok pergi dari Tumapel, sedatangnya Karuman, bertemu dengan Bango Samparan. “Kamu ini keluar dari mana, lama tidak datang kepadaku, seperti didalam impian saja bertemu dengan kamu ini, lama betul kamu pergi.” Ken Angrok menjawab: “Hamba berada di Tumapel, Bapa, menghamba pada sang akuwu. Adapun sebabnya hamba datang kepada tuan, adalah seorang isteri akuwu, turun dari kereta, tersingkap rahasianya, kelihatan bernyala oleh hamba. Ada seorang brahmana yang baru saja datang di Jawa, bernama Dang Hyang Lohgawe, ia mengaku anak kepada hamba, hamba bertanya kepadanya: “Apakah nama seorang perempuan yang menyala rahasianya itu.” Kata Sang Brahmana: “Itu yang disebut seorang perempuan ardana reswari, sungguh baik tanda itu, karena siapa saja yang memperisterinya, akan dapat menjadi maharaja.” Bapa Bango, hamba ingin menjadi raja, Tunggul Ametung akan hamba bunuh, isterinya akan hamba ambil, agar supaya anaknda menjadi raja, hamba minta persetujuan Bapa Dang Hyang, Kata Dang Hyang: “Buyung Angrok, tidak dapat seorang brahmana memberi persetujuan kepada orang yang mengambil isteri orang lain, adapun batasnya kehendakmu sendiri.” Itulah sebabnya hamba pergi ke Bapa Bango, untuk meminta ijin kepada bapa, sang akuwu akan hamba bunuh dengan rahasia, tentu akuwu mati oleh hamba.” Menjawablah Bango Samparan: “Nah, baiklah kalau demikian, saya memberi ijin, bahwa kamu akan menusuk keris kepada Tunggul Ametung dan mengambil isterinya itu, tetapi hanya saja, buyung Angrok, akuwu itu sakti, mungkin tidak dapat luka, jika kamu tusuk keris yang kurang bertuah. Saya ada seorang teman, seorang pandai keris di Lulumbang, bernama Mpu Gandring, keris buatannya bertuah, tak ada orang sakti terhadap buatannya, tak perlu dua kali ditusukkan, hendaknyalah kamu menyuruh membuat keris kepadanya, jikalau keris ini sudah selesai dengan itulah hendaknya kamu membunuh Tunggul Ametung secara rahasia.” Demikian pesan Bango Samparan kepada Ken Angrok. kata Ken Angrok: “Hamba memohon diri, Bapa, akan pergi ke Lulumbang.” Ia pergi dari Karuman, lalu ke Lulumbang, bertemu dengan Gandring yang sedang bekerja di tempat membuat keris. Ken Angrok datang lalu bertanya: “Tuankah barangkali yang bernama Gandring itu, hendaknyalah hamba dibuatkan sebilah keris yang dapat selesai didalam waktu lima bulan, akan datang keperluan yang harus hamba lakukan.” Kata Mpu Gandring: “Jangan lima bulan itu, kalau kamu menginginkan yang baik, kira – kira setahun baru selesai, akan baik dan matang tempaannya,” Ken Angrok berkata: “Nah, biar bagaimana mengasahnya, hanya saja, hendaknya selesai didalam lima bulan.” Ken Angrok pergi dari Lulumbang, ke Tumapel bertemu dengan Dang Hyang Lohgawe yang bertanya kepada Ken Angrok: “Apakah sebabnya kamu lama di Tumapel itu.” Sesudah genap lima bulan, ia ingat kepada perjanjiannya, bahwa ia menyuruh membuatkan keris kepada Mpu Gandring. Pergilah ia ke Lulumbang, bertemu dengan Mpu Gandring yang sedang mengasah dan memotong motong keris pesanan Ken Angrok. Kata Ken Angrok: “Manakah pesanan hamba kepada tuan Gandring.” Menjawablah Gandring itu: “Yang sedang saya asah ini, buyung Angrok.” Keris diminta untuk dilihat oleh Ken Angrok. Katanya dengan agak marah: “Ah tak ada gunanya aku menyuruh kepada tuan Gandring ini, bukankah belum selesai diasah keris ini, memang celaka, inikah rupanya yang tuan kerjakan selama lima bulan itu.” Menjadi panas hati Ken Angrok, akhirnya ditusukkan kepada Gandring keris buatan Gandring itu. Lalu diletakkan pada lumpang batu tempat air asahan, lumpang berbelah menjadi dua, diletakkan pada landasan penempa, juga ini berbelah menjadi dua. Kini Gandring berkata: “Buyung Angrok, kelak kamu akan mati oleh keris itu, anak cucumu akan mati karena keris itu juga, tujuh orang raja akan mati karena keris itu.” Sesudah Gandring berkata demikian lalu meninggal. Sekarang Ken Angrok tampak menyesal karena Gandring meninggal itu, kata Ken Angrok: “Kalau aku menjadi orang, semoga kemulianku melimpah, juga kepada anak cucu pandai keris di Lulumbang.” Lalu pulanglah Ken Angrok ke Tumapel. Ada seorang kekasih Tunggul Ametung, bernama Kebo Hijo, bersahabat dengan Ken Angrok, cinta mencintai. Pada waktu itu Kebo Hijo melihat bahwa Ken Angrok menyisip keris baru, berhulu kayu cangkring masih berduri, belum diberi perekat, masih kasar, senanglah Kebo Hijo melihat itu. Ia berkata kepada Ken Angrok: ” Wahai kakak, saya pinjam keris itu.” Diberikan oleh Ken Angrok, terus dipakai oleh Kebo Hijo, karena senang memakai melihatnya itu. Lamalah keris Ken Angrok dipakai oleh Kebo Hijo, tidak orang Tumapel yang tidak pernah melihat Kebo Hijo menyisip keris baru dipinggangnya. Tak lama kemudian keris itu dicuri oleh Ken Angrok dan dapat diambil oleh yang mencuri itu. Selanjutnya Ken Angrok pada waktu malam hari pergi kedalam rumah akuwu, saat itu baik, sedang sunyi dan orang orang tidur, kebetulan juga disertai nasib baik , ia menuju ke peraduan Tunggul Ametung, tidak terhalang perjalanannya, ditusuklah Tunggul Ametung oleh Ken Angrok, tembus jantung Tunggul Ametung, mati seketika itu juga. Keris buatan Gandring ditinggalkan dengan sengaja. Sekarang sesudah pagi pagi keris yang tertanam didada Tunggul Ametung diamat amati orang, dan oleh orang yang tahu keris itu dikenal keris Kebo Hijo yang biasa dipakai tiap tiap hari kerja. Kata orang Tumapel semua: “Terangnya Kebo Hijolah yang membunuh Tunggul Ametung dengan secara rahasia, karena memang nyata kerisnya masih tertanam didada sang akuwu di Tumapel. Kini Kebo Hijo ditangkap oleh keluarga Tunggul Ametung, ditusuk dengan keris buatan Gandring, meninggallah Kebo Hijo. Kebo Hijo mempunyai seorang anak, bernama Mahisa Randi, sedih karena ayahnya meninggal, Ken Angrok menaruh belas kasihan kepadanya, kemana mana anak ini dibawa, karena Ken Angrok luar biasa kasih sayangnya terhadap Mahisa Randi. Selanjutnya Dewa memang telah menghendaki, bahwasanya Ken Angrok memang sungguh sungguh menjadi jodoh Ken Dedes, lamalah sudah mereka saling hendak menghendaki, tak ada orang Tumapel yang berani membicarakan semua tingkah laku Ken Angrok, demikian juga semua keluarga Tunggul Ametung diam, tak ada yang berani mengucap apa apa, akhirnya Ken Angrok kawin dengan Ken Dedes. Pada waktu ditinggalkan oleh Tunggul Ametung, dia ini telah mengandung tiga bulan, lalu dicampuri oleh Ken Angrok. Ken Angrok dan Ken Dedes sangat cinta mencintai. Telah lama perkawinannya. Setelah genap bulannya Ken Dedes melahirkan seorang anak laki laki, lahir dari ayah Tunggul Ametung, diberi nama Sang Anusapati dan nama kepanjangannya kepanjiannya Sang Apanji Anengah. Setelah lama perkawinan Ken Angrok dan Ken Dedes itu, maka Ken Dedes dari Ken Angrok melahirkan anak laki laki, bernama Mahisa Wonga Teleng, dan adik Mahisa Wonga Teleng bernama Sang Apanji Saprang, adik panji Saprang juga laki laki bernama Agnibaya, adik Agnibaya perempuan bernama Dewi Rimbu, Ken Angrok dan Ken Dedes mempunyai empat orang anak. Ken Angrok mempunyai isteri muda bernama Ken Umang, ia melahirkan anak laki laki bernama panji Tohjaya, adik panji Tohjaya, bernama Twan Wregola, adik Twan Wregola perempuan bernama Dewi Rambi. Banyaknya anak semua ada 9 orang, laki laki 7 orang, perempuan 2 orang. Sudah dikuasailah sebelah timur Kawi, bahkan seluruh daerah sebelah timur Kawi itu, semua takut terhadap Ken Angrok, mulailah Ken Angrok menampakkan keinginannya untuk menjadi raja, orang orang Tumapel semua senang, kalau Ken Angrok menjadi raja itu. Kebetulan disertai kehendak nasib, raja Daha, yalah raja Dandhang Gendis, berkata kepada para bujangga yang berada di seluruh wilayah Daha, katanya: “Wahai, tuan tuan bujangga pemeluk agama Siwa dan agama Budha, apakah sebabnya tuan tuan tidak menyembah kepada kami, bukanlah kami ini semata mata Batara Guru.” Menjawablah para bujangga di seluruh daerah negara Daha: “Tuanku, semenjak jaman dahulu kala tak ada bujangga yang menyembah raja.” demikianlah kata bujangga semua. Kata Raja Dandhang Gendis: “Nah, jika semenjak dahulu kala tak ada yang menyembah, sekarang ini hendaknyalah kami tuan sembah, jika tuan tuan tidak tahu kesaktian kami, sekarang akan kami beri buktinya.” Kini Raja Dandhang Gendis mendirikan tombak, batang tombak itu dipancangkan kedalam tanah, ia duduk di ujung tombak, seraya berkata: “Nah, tuan tuan bujangga, lihatlah kesaktian kami.” Ia tampak berlengan empat, bermata tiga, semata mata Batara Guru perwujudannya, para bujangga di seluruh daerah Daha diperintahkan menyembah, semua tidak ada yang mau, bahkan menentang dan mencari perlindungan ke Tumapel, menghamba kepada Ken Angrok. Itulah asal mulanya Tumapel tak mau tahu negara Daha. Tak lama sesudah itu Ken Angrok direstui menjadi raja di Tumapel, negaranya bernama Singasari, nama nobatannya Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi, disaksikan oleh para bujangga pemeluk agama Siwa dan Budha yang berasal dari Daha, terutama Dang Hyang Lohgawe, ia diangkat menjadi pendeta istana, adapun mereka yang menaruh belas kasihan kepada Ken Angrok, dahulu sewaktu ia sedang menderita, semua dipanggil, diberi perlindungan dan diberi belas balasan atas budi jasanya, misalnya Bango Samparan, tidak perlu dikatakan tentang kepala lingkungan Turyantapada, dan anak anak pandai besi Lulumbang yang bernama Mpu Gandring, seratus pandai besi di Lulumbang itu diberi hak istimewa di dalam lingkungan batas jejak bajak beliung cangkulnya. Adapun anak Kebo Hijo disamakan haknya dengan anak Mpu Gandring. Anak laki laki Dang Hyang Lohgawe, bernama Wangbang Sadang, lahir dari ibu pemeluk agama Wisnu, dikawinkan dengan anak Bapa Bango yang bernama Cucu Puranti, demikianlah inti keutamaan Sang Amurwabumi. Sangat berhasillah negara Singasari, sempurna tak ada halangan. Telah lama terdengar berita, bahwa Ken Angrok sudah menjadi raja, diberitahulah raja Dandhang Gendis, bahwa Ken Angrok bermaksud akan menyerang Daha. Kata Raja Dandhang Gendis: “Siapakah yang akan mengalahkan negara kami ini, barangkali baru kalah, kalau Batara Guru turun dari angkasa, mungkin baru kalah.” Diberi tahulah Ken Angrok, bahwa raja Dandhang Gedis berkata demikian. Kata Sang Amurwabumi: “Wahai, para bujangga pemeluk Siwa dan Budha, restuilah kami mengambil nama nobatan Batara Guru.” Demikianlah asal mulanya ia bernama nobatan Batara Guru, direstui oleh bujangga brahmana dan resi. Selanjutnya ia lalu pergi menyerang Daha. Raja Dandhang Gendis mendengar, bahwa Sang Amurwabumi di Tumapel datang menyerang Daha, Dandhang Gendis berkata: “Kami akan kalah, karena Ken Angrok sedang dilindungi Dewa.” Sekarang tentara Tumapel bertempur melawan tentara Daha, berperang disebelah utara Ganter, bertemu sama sama berani, bunuh membunuh, terdesaklah tentara Daha. Adik Raja Dandhang Gendis gugur sebagai pahlawan, ia bernama Mahisa Walungan, bersama sama dengan menterinya yang perwira, bernama Gubar Baleman. Adapun sebabnya itu gugur, karena diserang bersama sama oleh tentara Tumapel, yang berperang laksana banjir dari gunung. Sekarang tentara Daha terpaksa lari, karena yang menjadi inti kekuatan perang telah kalah. Maka tentara Daha bubar seperti lebah, lari terbirit birit meninggalkan musuh seperti kambing, mencabut semua payung payungnya, tak ada yang mengadakan perlawanan lagi. Maka Raja Dandhang Gendis mundur dari pertempuran, mengungsi ke alam dewa, bergantung gantung di angkasa, beserta dengan kuda, pengiring kuda, pembawa payung, dan pembawa tempat sirih, tempat air minum, tikar, semuanya naik ke angkasa. Sungguh kalah Daha oleh Ken Angrok. Dan adik adik Sang Dandhang Gendis, yalah: Dewi Amisam, Dewi Hasin, dan Dewi Paja diberi tahu, bahwa raja Dandhang Gendis kalah berperang, dan terdengar, ia telah di alam dewa, bergantung gantung di angkasa, maka tuan dewi ketiga tiganya itu menghilang bersama sama dengan istananya juga. Sesudah Ken Angrok menang terhadap musuh, lalu pulang ke Tumapel, dikuasailah tanah Jawa olehnya, ia sebagai raja telah berhasil mengalahkan Daha pada tahun saka : 1144. Lama kelamaan ada berita, bahwa sang Anusapati, anak tunggal Tunggul Ametung bertanya tanya kepada pengasuhnya. “Hamba takut terhadap ayah tuan”, demikian kata pengasuh itu: “Lebih baik tuan berbicara dengan ibu tuan”. Karena tidak mendapat keterangan, Nusapati bertanya kepada ibunya: “Ibu, hamba bertanya kepada tuan, bagaimanakah jelasnya ini?” Kalau ayah melihat hamba, berbeda pandangannya dengan kalau ia melihat anak anak ibu muda, semakin berbeda pandangan ayah itu.” Sungguh sudah datang saat Sang Amurwabumi. Jawab Ken Dedes: “Rupa rupanya telah ada rasa tidak percaya, nah, kalau buyung ingin tahu, ayahmu itu bernama Tunggul Ametung, pada waktu ia meninggal, saya telah mengandung tiga bulan, lalu saya diambil oleh Sang Amurwabumi.: Kata Nusapati: “Jadi terangnya, ibu, Sang Amurwabumi itu bukan ayah hamba, lalu bagaimana tentang meninggalnya ayah itu?” “Sang Amurwabumi buyung yang membunuhnya.” Diamlah Ken Dedes, tampak merasa membuat kesalahan karena memberi tahu soal yang sebenarnya kepada anaknya. Kata Nusapati: “Ibu, ayah mempunyai keris buatan Gandring. itu hamba pinta, ibu.” Diberikan oleh Ken Dedes. Sang Anusapati memohon diri pulang ke tempat tinggalnya. Adalah seorang hambanya berpangkat pengalasan di Batil, dipanggil oleh Nusapati, disuruh membunuh Ken Angrok, diberi keris buatan Gandring, agar supaya dipakainya untuk membunuh Sang Amurwabumi, orang di Batil itu disanggupi akan diberi upah oleh Nusapati. Berangkatlah orang Batil masuk kedalam istana, dijumpai Sang Amurwabumi sedang bersantap, ditusuk dengan segera oleh orang Batil. Waktu ia dicidera, yalah: Pada hari Kamis Pon, minggu Landhep, saat ia sedang makan, pada waktu senjakala, matahari telah terbenam, orang telah menyiapkan pelita pada tempatnya. Sesudah Sang Amurwabumi mati, maka larilah orang Batil, mencari perlindungan pada Sang Anusapati, kata orang Batil: “Sudah wafatlah ayah tuan oleh hamba.” Segera orang Batil ditusuk oleh Nusapati. Kata orang Tumapel: “Ah, Batara diamuk oleh pengalasan di Batil, Sang Amurwabumi wafat pada tahun saka 1168, dicandikan di Kagenengan. Sesudah demikian, sang Anusapati mengganti menjadi raja, ia menjadi raja pada tahun Saka 1170. Lama kelamaan diberitakan kepada Raden Tohjaya, anak Ken Angrok dari isteri muda, sehingga ia mendengar segala tindakan Anusapati, yang mengupahkan pembunuhan Sang Amurwabumi kepada orang Batil. Sang Apanji Tohjaya tidak senang tentang kematian ayahnya itu, meikir mikir mencari cara untuk membalas, agar supaya ia dapat membunuh Anusapati. Anusapati tahu, bahwasanya ia sedang direncana oleh Panji Tohjaya, berhati hatilah Sang Anusapati, tempat tidurnya dikelilingi kolam, dan pintunya selalu dijaga orang, sentosa dan teratur. Setelah lama kemudian Sang Apanji Tohjaya datang menghadap dengan membawa ayam jantan pada Batara Anuspati. Kata Apanji Tohjaya: “Kakak, ada keris ayah buatan Gandring, itu hamba pinta dari tuan.” Sungguh sudah tiba saat Batara Anuspati. Diberikan keris buatan Gandring oleh Sang Anusapati, diterima oleh Apanji Tohjaya, disisipkan dipinggangnya, lalu kerisnya yang dipakai semula, diberikan kepada hambanya. Kata Apanji Tohjaya: “Baiklah, kakak mari kita menyiapkan ayam jantan untuk segera kita ajukan di gelanggang.” Menjawablah Sang Adipati: “Baiklah, adik.” Selanjutnya ia menyuruh kepada hamba pemelihara ayam mengambil ayam jantan, kata Anusapati: “Nah, adik mari mari kita sabung segera.”, “Baiklah” kata Apanji Tohjaya. Mereka bersama sama memasang taji sendiri – sendiri, telah sebanding, Sang Anusapati asyik sekali. Sungguh telah datang saat berakhirnya, lupa diri, karena selalu asyik menyabung ayamnya, ditusuk keris oleh Apanji Tohjaya. Sang Anusapati wafat pada tahun Saka 1171, dicandikan di Kidal. III. Apanji Tohjaya menjadi raja di Tumapel. Sang Anusapati mempunyai seorang anak laki laki bernama Ranggawuni, hubungan keluarganya dengan Apanji Tohjaya adalah kemenakan. Mahisa Wonga Teleng, saudara Apanji Tohjaya, sama ayah lain ibu, mempunyai anak laku laki, yalah: Mahisa Campaka, hubungan keluarganya dengan Apanji Tohjaya adalah kemenakan juga. Pada waktu Apanji Tohjaya duduk diatas tahta, disaksikan oleh orang banyak, dihadap oleh menteri menteri, semua terutama Pranaraja, Ranggawuni beserta Kebo Campak juga menghadap. Kata Apanji Tohjaya: “Wahai, menteri menteri semua, terutama Pranaraja, lihatlah kemenakanku ini, luar biasa bagus dan tampan badannya. Bagaimana rupa musuhku diluar Tumapel ini, kalau dibandingkan dengan orang dua itu, bagaimanakah mereka, wahai Pranaraja.” Pranaraja menjawab sambil menyembah: “Betul tuanku, seperti titah tuanku itu, bagus rupanya dan sama sama berani mereka berdua, hanya saja tuanku, mereka dapat diumpamakan sebagai bisul di pusat perut tak urung akan menyebabkan mati akhirnya.” Paduka batara itu lalu diam, sembah Pranaraja makin terasa, Apanji Tohjaya menjadi marah, lalu ia memanggil Lembu Ampal, diberi perintah untuk melenyapkan kedua bangsawan itu. Kata Apanji Tohjaya kepada Lembu Ampal: “Jika kamu tidak berhasil melenyapkan dua orang kesatriya itu, kamulah yang akan kulenyapkan.” Pada waktu Apanji Tohjaya, memberi perintah kepada Lembu Ampal melenyapkan dua bangsawan itu, ada seorang brahmana yang sedang melakukan upacara agama sebagai pendeta istana untuk Apanji Tohjaya. Dang Hyang itu mendengar, bahwa kedua bangsawan itu disuruh melenyapkan. Sang Brahmana menaruh belas kasihan kepada dua bangsawan, lalu memberi tahu: “Lembu Ampal diberi perintah untuk melenyapkan tuan berdua, kalau tuan kalian dapat lepas dari Lembu Ampal ini, maka Lembu Ampallah yang akan dilenyapkan oleh Seri Maharaja.” Kedua bangsawan itu berkata: “Wahai Dang Hyang, bukanlah kami tidak berdosa.” Sang Brahmana menjawab: “Lebih baik tuan bersembunyi dahulu.” Karena masih dibimbangkan, kalau kalau brahmana itu bohong, maka kedua bangsawan itu pergi ke Apanji Patipati. Kata bangsawan itu: “Panji Patipati, kami bersembunyi di dalam rumahmu, kami mengira, bahwa kami akan dilenyapkan oleh Batara, kalau memang akan terjadi kami dilenyapkan itu, kami tidak ada dosa.” Setelah itu maka Apanji Patipati mencoba mendengar dengarkan: “Tuan, memang betul, tuan akan dilenyapkan, Lembu Ampal lah yang mendapat tugas.” Keduanya makin baik cara bersembunyi, dicari, kedua duanya tak dapat diketemukan. Didengar dengarkan, kemana gerangan mereka pergi, tak juga dapat terdengar. Maka Lembu Ampal didakwa bersekutu dengan kedua bangsawan itu oleh Batara. Sekarang Lembu Ampal ditindak untuk dilenyapkan, larilah ia, bersembunyi di dalam rumah tetangga Apanji Patipati. Lembu Ampal mendengar, bahwa kedua bangsawan berada di tempat tinggal Apanji Pati Pati. Lembu Ampal pergi menghadap kedua bangsawan, kata Lembu Ampal kepada kedua bangsawan itu: “Hamba berlindung kepada tuan hamba, dosa hamba: disuruh melenyapkan tuan oleh Batara. Sekarang hamba minta disumpah, kalau tuan tidak percaya, agar supaya hamba dapat menghamba paduka tuan dengan tenteram.” Setelah disumpah dua hari kemudian Lembu Ampal menghadap kepada kedua bangsawan itu: “Bagaimanakah akhirnya tuan, tak ada habis habisnya terus menerus bersembunyi ini, sebaiknya hamba akan menusuk orang Rajasa, nanti kalau mereka sedang pergi kesungai.” Pada waktu sore Lembu Ampal menusuk orang Rajasa, ketika orang berteriak, ia lari kepada orang Sinelir. Kata orang Rajasa: “Orang Sinelir menusuk orang Rajasa. Kata orang Sinelir: “Orang Rajasa menusuk orang Sinelir.” Akhirnya orang orang Rajasa dan orang orang Sinelir itu berkelahi, bunuh membunuh sangat ramainya, dipisah orang dari istana, tidak mau memperhatikan. Apanji Tohjaya marah, dari kedua golongan ada yang dihukum mati. Lembu Ampal mendengar, bahwa dari kedua belah pihak ada yang dilenyapkan, maka Lembu Ampal pergi ke Orang Rajasa. Kata Lembu Ampal: “Kalau kamu ada yang akan dilenyapkan hendaknyalah kamu mengungsi kepada kedua bangsawan, karena kedua bangsawan itu masih ada.” Orang orang Rajasa menyatakan kesanggupannya: “Nah, bawalah kami hamba hamba ini menghadapnya, wahai Lembu Ampal.” Maka ketua orang Rajasa dibawa menghadap kepada kedua bangsawan. Kata orang Rajasa itu: “Tuanku, hendaknyalah tuan lindungi hamba hamba Rajasa ini, apa saja yang menjadi tuan titah, hendaknyalah hamba tuan sumpah, kalau kalau tidak sungguh sungguh kami menghamba ini, kalau tidak jujur penghambaan kami ini.” Demikian pula orang Sinelir, dipanggilah ketuanya, sama kesanggupannya dengan orang Rajasa, selanjutnya kedua belah pihak telah didamaikan dan telah disumpah semua, lalu dipesan: “Nanti sore hendaknya kamu datang kemari, dan bawalah temanmu masing masing, hendaknyalah kamu memberontak meluka lukai di dalam istana.” Orang Sinelir dan orang Rajasa bersama sama memohon diri. Setelah sore hari orang orang dari kedua belah pihak datang membawa teman temannya, bersama sama menghadap kepada kedua bangsawan, mereka keduanya saling mengucap selamat datang, lalu berangkat menyerbu kedalam istana. Apanji Tohjaya sangat terperanjat, lari terpisah, sekali gus kena tombak. Sesudah huru hara berhenti, ia dicari oleh hamba hambanya, diusung dan dibawa lari ke Katanglumbang. Orang yang mengusung lepas cawatnya, tampak belakangnya. Kata Apanji Tohjaya kepada orang yang memikul itu: “Perbaikilah cawatmu, karena tampak belakangmu.” Adapun sebabnya ia tidak lama menjadi raja itu, karena pantat itu. Setelah datang di Lumbangkatang, wafatlah ia, lalu dicandikan di Katanglumbang, ia wafat pada tahun Saka 1172. IV. Kemudian Ranggawuni menjadi raja, ia dengan Mahisa Campaka dapat diumpamakan seperti dua ular naga didalam satu liang. Ranggawuni bernama nobatan Wisnuwardana, demikanlah namanya sebagai raja, Mahisa Campaka menjadi Ratu Angabhaya, bernama nobatan Batara Narasinga. Sangat rukunlah mereka, tak pernah berpisah. Batara Wisnuwardana mendirikan benteng di Canggu sebelah utara pada tahun Saka 1193. Ia berangkat menyerang Mahibit, untuk melenyapkan Sang Lingganing Pati. Adapun sebabnya Mahibit kalah, karena kemasukkan orang yang bernama Mahisa Bungalan. Sri Ranggawuni menjadi raja lamanya 14 tahun, ia wafat pada tahun 1194, dicandikan di Jajagu. Mahisa Campaka wafat, dicandikan di Kumeper, sebagian abunya dicandikan di Wudi Kuncir. V. Sri Ranggawuni meninggalkan seorang anak laki laki, bernama Sri Kertanegara, Mahisa Campaka meninggalkan seorang anak laki laki juga, bernama Raden Wijaya. Kertanegara menjadi Raja, bernama nobatan Batara Siwabuda. Adalah seorang hambanya, keturunan orang tertua di Nangka, bernama Banyak Wide, diberi sebutan Arya Wiraraja, rupa rupanya tidak dipercaya, dijatuhkan, disuruh menjadi Adipati di Sungeneb, bertempat tinggal di Madura sebelah timur. Ada Patihnya, pada waktu ia baru saja naik keatas tahta kerajaan, bernama Mpu Raganata, ini selalu memberi nasehat untuk keselamatan raja, ia tidak dihiraukan oleh Sri Kertanegara, karenanya itu Mpu Raganata lalu meletakkan jabatan tak lagi menjadi Patih, diganti oleh Kebo Tengah Sang Apanji Aragani. Mpu Raganata lalu menjadi Adiyaksa di Tumapel. Sri Kertanegara pada waktu memerintah, melenyapkan seorang kelana bernama Baya. Sesudah kelana itu mati, ia memberi perintah kepada hamba rakyatnya, untuk pergi menyerang Melayu. Apanji Aragani menghantarkan, sampai di Tuban ia kembali, sedatangnya di Tumapel Sang Apanji Aragani mempersembahkan makanan tiap tiap hari, raja Kertanegara bersenang senang. Ada perselisihannya dengan raja Jaya Katong, raja di Daha, ini menjadi musuh raja Kertanegara, karena lengah terhadap usaha musuh yang sedang mencari kesempatan dan ketepatan waktu, ia tidak memikir kesalahannya. Banyak Wide berumur 40 tahun pada peristiwa penyerangan Melayu itu, ia berteman dengan raja Jaya Katong, Banyak Wide yang bergelar Arya Wiraraja itu dari Madura, mengadakan hubungan dan berkirim utusan. Demikian juga raja Jaya Katong berkirim utusan ke Madura. Wiraraja berkirim surat kepada raja Jaya Katong, bunyi surat: “Tuanku, patik baginda bersembah kepada paduka raja, jika paduka raja bermaksud akan berburu di tanah lapang lama, hendaknyalah paduka raja sekarang pergi berburu, ketepatan dan kesempatan adalah baik sekali, tak ada bahaya, tak ada harimau, tak ada banteng, dan ularnya, durinya, ada harimau, tetapi tak bergigi.” Patih tua Raganata itu yang dinamakan harimau tak bergigi, karena sudah tua. Sekarang raja Jaya Katong berangkat menyerang Tumapel. Tentaranya yang datang dari sebelah utara Tumapel terdiri dari orang orang yang tidak baik, bendera dan bunyi bunyian penuh, rusaklah daerah sebelah utara Tumapel, mereka yang melawan banyak yang menderita luka. Tentara Daha yang melalui jalan utara itu berhenti di Memeling. Batara Siwa Buda senantiasa minum minuman keras, diberi tahu bahwa diserang dari Daha, ia tidak percaya, selalu mengucapkan kata: “Bagaimana dapat raja Jaya Katong demikian terhadap kami, bukanlah ia telah baik dengan kami.” Setelah orang membawa yang menderita luka, barulah ia percaya. Sekarang Raden Wijaya ditunjuk untuk berperang melawan tentara yang datang dari sebelah utara Tumapel, disertai oleh para arya terkemuka: Banyak Kapuk, Rangga Lawe, Pedang Sora, Dangdi Gajah Pangon, anak Wiraraja yang bernama Nambi, Peteng dan Wirot, semua prajurit baik, melawan tentara Daha di bagian utara itu, dikejar diburu oleh Raden Wijaya. Kemudian turunlah tentara besar besar dari Daha yang datang dari tepi sungai Aksa, menuju ke Lawor, mereka ini tak diperbolehkan membikin gaduh, tidak membawa bendera, apalagi bunyi bunyian, sedatangnya di Sidabawana langsung menuju Singasari. Yang menjadi prajurit utama dari tentara Daha sebelah selatan ini, yalah: Patih Daha Kebo Mundarang, Pudot dan Bowong. Ketika Batara Siwa Buda sedang minum minuman keras bersama sama dengan patih, maka pada waktu itu ia dikalahkan, semua gugur, Kebo Tengah yang melakukan pembalasan, meninggal di Manguntur. VI. Raden Wijaya yang diceritakan ke utara tersebut diberi tahu, bahwa Batara Siwa Buda wafat, karena tentara Daha turun dari selatan, patih tua juga telah gugur, semua mengikuti jejak batara. Segera Raden Wijaya kembali, beserta hamba hambanya, berlari lari ke Tumapel, melakukan pembalasan, tidak berhasil, bahkan terbalik, dikejar, diburu oleh Kebo Mundarang, Raden Wijaya naik keatas, mengungsi di Sawah Miring, maksud Kebo Mundarang akan menusuknya dengan tombak, Raden Wijaya menyepak tanah bekas di tenggala, dada Kebo Mundarang sampai mulanya penuh lumpur, ia mundur sambil berkata: “Aduh, memang sungguh dewalah tuanku ini.” Sekarang Raden Wijaya membagi bagi cawat kain ikat berwarna merah, diberikan kepada hamba hambanya, masing masing orang mendapat sehelai, ia bertekad untuk mengamuk. Yang mendapat bagian, yalah: Sora, Rangga Lawe, Pedang, Dangdi dan Gajah Sora, segera menyerang, banyak orang Daha yang mati. Kata Sora: “Sekarang ini, tuan, hendaknyalah menyerang, sekarang baik kesempatan dan saatnya.” Raden Wijaya lekas lekas menyerang, semakin banyak orang Daha yang mati, mereka lalu mundur, diliputi malam, akhirnya berkubu. Pada waktu sunyi orang telah tidur, dikejar dan diamuk lagi oleh Raden Wijaya, sekarang orang orang Daha bubar, banyak yang tertusuk oleh tombak temannya sendiri, repotlah orang prang Daha itu larinya. Batara Siwa Buda mempunyai dua orang anak perempuan, mereka ini akan dikawinkan dengan Raden Wijaya, demikianlah maksud Batara Siwa Buda itu, kedua duanya ditawan oleh orang Daha, puteri yang muda berpisah dengan puteri yang tua, tidak menjadi satu arah larinya, berhubung dengan kerepotan orang Daha, disebabkan Raden Wijaya mengamuk itu. Pada waktu malam tampak api unggun orang Daha bernyala dan oleh Raden Wijaya, yang segera dikenal, bahwa itu adalah puteri yang tua. Lekas lekaslah diambil oleh Raden Wijaya, lalu berkata: “Nah, Sora, marilah mendesak mengamuk lagi, agar dapat bertemu dengan puteri muda.” Sora berkata: “Janganlah tuan, bukankah adik tuan yang tua sudah tuan temukan, berapakah jumlah hamba tuanku sekarang ini.” Jawab Raden Wijaya: “Justru karena itu.” Maka Sora berkata lagi: “Lebih baik tuanku mundur saja, karena kalau memaksa mengamuk, seandainya berhasil itu baik, kalau adik tuanku yang muda dapat ditemukan, kalau tidak dapat ditemukan, kita akan seperti anai anai menyentuh pelita.” Sekarang mereka mundur, puteri bangsawan didukung, semalam malaman mereka berjalan ke utara, keesokan harinya dikejar oleh orang Daha, terkejar disebelah selatan Talaga Pager. Orang orangnya ganti berganti tinggal dibelakang, untuk berperang, menghentikan orang Daha. Gajah Pagon kena tombak tembus pahanya, tetapi masih dapat berjalan. Kata Raden Wijaya: “Gajah Pagon, masih dapatkah kamu berjalan, kalau tidak dapat, mari kita bersama sama mengamuk.” “masih dapatlah hamba, tuanku, hanya saja hendaknya perlahan lahan.” Orang orang Daha tidak begitu giat mengejarnya, kemudian mereka kembali di Talaga Pager. Raden Wijaya masuk belukar, keluar belukar seperti ayam hutan, dan hamba hambanya yang mengiring semua, ganti berganti mendukung puteri bangsawan. Akhirnya hamba hambanya bermusyawarah, membicarakan tentang keadaan Raden Wijaya. Setelah putus pembicaraannya, semuanya bersama sama berkata: “Tuanku, sembah hamba hamba tuanku semua ini, bagaimana akhir tuanku yang masuk belukar dan keluar belukar seperti ayam hutan itu, pendapat hamba semua, lebih baik tuanku pergi ke Madura Timur, hendaknyalah tuanku mengungsi kepada Wiraraja, dengan pengharapan agar ia dapat dimintai bantuan, mustahil ia tidak menaruh belas kasihan, bukankah ia dapat menjadi besar itu karena ayah tuanku almarhum yang menjadi lantarannya.” Kata Raden: “Itu baik, kalau ia menaruh belas kasihan, kalau tidak, saya akan sangat malu.” Jawab Sora, Rangga Lawe dan Nambi serentak dengan suara bersama: “Bagaimana dapat Wiraraja melengos terhadap tuanku.” Itulah sebabnya Raden Wijaya menurut kata kata hambanya. Mereka keluar dari dalam hutan, datang di Pandakan, menuju ke orang tertua di Pandakan, bernama Macankuping. Raden Wijaya minta diberi kelapa muda, setelah diberi, diminum airnya, ketika dibelah, ternyata berisi nasi putih. Heranlah yang melihat itu. Kata orang: “Ajaib benar, memang belum pernah ada kelapa muda berisi nasi.” Gajah Pagon tak dapat berjalan lagi, kata Raden Wijaya: “Orang tua di Pandakan, saya menitipkan satu orang, Gajah Pagon ini tidak dapat berjalan, hendaknyalah ia tinggal di tempatmu.” Kata orang Pandakan: ” Aduh, tuanku. itu akan tidak baik kalau sampai terjadi Gajah Pagon didapati disini, mustahil akan ada hamba yang menyetujui di Pandakan, kehendak hamba, biarlah ia berada di dalam pondok di hutan saja, di ladang tempat orang menyabit ilalang, di tengah tengahnya setelah dibersihkan, dibuatkan sebuah dangau, sunyi, tad ada seorang hamba yang mengetahui, hamba di Pandakan nanti yang akan memberi makan tiap tiap hari.” Gajah Pagon lalu ditinggalkan, Raden Wijaya selanjutnya menuju ke Datar, pada waktu malam hari. Sesampainya di Datar, lalu naik perahu. Tentara Daha lalu kembali pulang. Puteri yang muda masih terus ditawan, dibawa ke Daha, dipersembahkan kepada raja Jaya Katong. Ia senang diberi tahu tentang Batara Siwa Buda wafat. Raden Wijaya menyeberang ke Utara, turun di daerah perbatasan Sungeneb, bermalam di tengah tengah sawah yang baru saja habis disikat, pematangnya tipis. Sora lalu berbaring meniarap, Raden Wijaya dan puteri bangsawan itu duduk diatasnya. Pagi harinya melanjutkan perjalanannya ke Sungeneb, beristirahat di dalam sebuah balai panjang. hamba hamba disuruh melihat lihat, kalau kalau Wiraraja sedang duduk dihadap hamba hambanya. Kembalilah mereka yang disuruh itu, memang Wiraraja sedang dihadap. Berangkatlah raden Wijaya menuju tempat Wiraraja dihadap, terperanjatlah Wiraraja melihat Raden itu, Wiraraja turun, lalu masuk kedalam rumah, bubarlah yang menghadap. Terhenti hati Raden Wijaya, berkata kepada Sora dan Ranggalawe: “nah, apakah kataku, saya sangat malu, lebih baik aku mati pada waktu aku mengamuk dahulu itu.” Maka ia kembali ke balai panjang, kemudian Wiraraja datang menghadap, berbondong bondong dengan seisi rumah, terutama isterinya, bersama sama membawa sirih dan pinang. Kata Ranggalawe: “Nah, tuanku, bukankah itu Wiraraja yang datang menghadap kemari.” Maka senanglah hati Raden Wijaya. Isteri Adipati mempersembahkan sirih kepada Raden Wijaya. Wiraraja itu meminta, agar Raden Wijaya masuk di perumahan Adipati. Sang puteri bangsawan naik kereta, isteri Wiraraja semua berjalan kaki, mengiring puteri bangsawan itu, dan Wiraraja mengiring Raden Wijaya. Setelah datang di rumah tempat Wiraraja tidur. Raden Wijaya dihadap didalam balai nomor dua sebelah luar, ia menceriterakan riwayat bagaimana sang batara yang gugur ditengah tengah minum minuman keras itu meninggal dunia, juga menceriterakan bagaimana ia mengamuk orang Daha. Berkatalah Wiraraja: “Sekarang ini, apakah yang menjadi kehendak tuan.” Raden Wijaya menjawab: “Saya minta persekutuanmu, jika sekiranya ada belas kasihanmu.” Sembah Wiraraja: “Janganlah tuanku khawatir, hanya saja hendaknya tuan bertindak perlahan lahan.” Selanjutnya Wiraraja mempersembahkan kain, sabuk dan kain bawah, semuanya dibawa oleh isteri isterinya, terutama isteri pertamanya. Kata Raden: “Bapa Wiraraja, sangat besar hutangku kepadamu, jika tercapailah tujuanku, akan kubagi menjadi dua tanah Jawa nanti, hendaknyalah kamu menikmati seperduanya, saya seperdua.” Kata Wiraraja: “bagaimana saja, tuanku, asal tuanku dapat menjadi raja saja.” Demikianlah janji Raden Wijaya kepada Wiraraja. Luar biasa pelayanan Wiraraja terhadap Raden Wijaya, tiap tiap hari mempersembahkan makanan, tak usah dikatakan tentang ia mempersembahkan minuman keras. Lamalah Raden Wijaya bertempat tinggal di Sungeneb. Disitu Arya Wiraraja berkata: “Tuanku hamba mengambil muslihat, hendaknya tuanku pergi menghamba kepada raja Jaya Katong, hendaknyalah tuan seakan akan minta maaf dengan kata kata yang mengandung arti tunduk, kalau sekiranya raja Jaya Katong tak berkeberatan, tuan menghamba itu, hendaknyalah tuan lekas lekas pindah bertempat tinggal di Daha, kalau rupanya sudah dipercaya, hendaknyalah tuan memohon hutan orang Terik kepada raja Jaya Katong, hendaknyalah tuan membuat desa disitu, hamba hamba Maduralah yang akan menebang hutan untuk dijadikan desa, tempat hamba hamba Madura yang menghadap tuanku dekat. Adapun maksud tuanku menghamba itu, agar supaya tuan dapat melihat lihat orang orang raja Jaya Katong, siapa yang setia, yang berani, yang penakut, yang pandai, terutama juga hendaknyalah tuan ketahui sifat sifat Kebo Mundarang, sesudah itu semua dapat diukur, hendaknyalah tuanku memohon diri pindah ke hutan orang Terik yang sudah dirubah menjadi desa oleh hamba hamba Madura itu, masih ada perlunya lagi, yalah: “Jika ada hamba hamba tuanku yang berasal dari Tumapel ingin kembali menghamba lagi kepada tuan, hendaknyalah tuan terima, meskipun hamba hamba dari Daha juga, jika mereka ingin mencari perlindungan kepada tuan, hendaknyalah tuan lindungi, jika semua itu sudah, maka tentara Daha tentu terkuasai oleh tuanku. Sekarang hamba akan berkirim surat kepada raja Jaya Katong.” Berangkatlah orang yang disuruh mengantarkan surat, menyeberang ke selatan, menghadap raja Jaya Katong, mempersembahkan surat itu. Adapun bunyi surat: “Tuanku, patik baginda memberi tahu, bahwa cucu paduka baginda mohon ampun, ingin takluk kepada paduka baginda, hendaknyalah paduka baginda maklum, terserah apakah itu diperkenankan atau tidak diperkenankan oleh paduka tuan.” Kata Raja Jaya Katong: “Mengapa kami tidak senang, kalau buyung Arsa Wijaya akan menghamba kepada kami.” Selanjutnya disuruh kembalilah utusan itu untuk menyampaikan kata katanya. Setelah utusan datang lalu menyampaikan perintah. Surat telah dibaca dimuka Raden Wijaya dan dimuka dimuka Wiraraja. Wiraraja senang. Segera Raden Wijaya kembali ke Pulau Jawa, diiring oleh hamba hambanya, dihantarkan oleh orang orang Madura, dan Wiraraja juga menghantarkan kembali di Terung. Setelah datang di Daha, ia dengan tenteram dapat menghadap raja Jaya Katong, sangat dicintai. Ketika ia datang di Daha, kebetulan tepat pada hari raya Galungan, hamba hambanya disuruh oleh raja untuk mengambil bagian didalam pertandingan, menteri menteri Daha sangat heran, karena orang orang itu baik semua, terutama Sora, Rangga Lawe, Nambi, Pedang dan Dangdi, mereka bersama sama lari ketempat pertandingan di Manguntur negara Daha. Bergantilah menteri menteri Daha lari, diantaranya yang merupakan perjurit utama, yalah: Panglet, Mahisa Rubuh dan Patih Kebo Mundarang, mereka ketiga tiganya kalah cepat larinya dengan Rangga Lawe dan Sora. Lama kelamaan Raja Jaya Katong mengadakan pertandingan tusuk menusuk, “Puteraku Arsa Wijaya, hendaknyalah kamu ikut bermain tusuk menusuk, kami ingin melihat, menteri menteri kamilah yang akan menjadi lawanmu.” Jawab Raden Wijaya: “Baiklah tuanku.” Bertandinglah mereka tusuk menusuk itu, riuh rendah suara bunyi bunyian, orang yang melihat penuh tak ada selatnya, orang orang raja Jaya Katong sering kali terpaksa lari. Kata raja Jaya Katong: “Pintalah buyung Arsa Wijaya, jangan ikut serta, siapakah yang berani melawan tuannya.” Raden Wijaya berhenti, kini sepadanlah pertandingan tusuk menusuk itu, kejar mengejar, kemudian Sora menuju ke arah Kebo Mundarang, Rangga Lawe menuju Panglet dan Nambi menuju ke Mahisa Rubuh, akhirnya terpaksa lari menteri menteri Daha itu menghadapi orang orang Raden Wijaya, tak ada yang mengadakan pembalasan, lalu bubar. Sekarang Raden Wijaya telah melihat, bahwa menteri menteri Daha dikalahkan oleh orang orangnya. Lalu ia berkirim surat kepada Wiraraja, selanjutnya Wiraraja menyampaikan pesan, agar Raden Wijaya memohon hutan orang Terik. Raja Jaya Katong memperkenankan. Inilah asal usul orang mendirikan desa di hutan orang Terik. Ketika desa sedang dibuat oleh orang orang Madura, ada orang yang lapar karena kurang bekalnya pada waktu ia menebang hutan, ia makan buah maja, merasa pahit, semua dibuanglah buah maja yang diambilnya itu, terkenal ada buah maja pahit rasanya, tempat itu lalu diberi nama Majapahit. Raden Wijaya telah dapat memperhitungkan keadaan Daha. Majapahit telah berupa desa. Orang orang Wiraraja yang mengadakan hubungan dengan Daha, beristirahat di Majapahit. Wiraraja berkirim pesan kepada Raden Wijaya, bagaimana caranya memohon diri kepada raja Jaya Katong. Sekarang Raden Wijaya meminta ijin pindah ke Majapahit. Raja Jaya Katong memperkenankannya, lengah karena rasa sayang dan karena kepandaian Raden Wijaya menghamba itu, seperti sungguh sungguh. Setelah Raden Wijaya pindah ke Majapahit, lalu memberi tahu kepada Wiraraja, bahwa menteri menteri Daha telah dapat dikuasai olehnya dan oleh hamba hambanya semua. Raden Wijaya mengajak Wiraraja menyerang Daha, Wiraraja menahan, berkata kepada utusannya: “Jangan tergesa gesa, masih ada muslihat saya lagi, hendaknyalah kamu wahai utusan, bersembah kepada tuanmu, saya ini berteman dengan raja Tatar, itu akan kutawari puteri bangsawan, hendaknyalah kamu utusan, pulang ke Majapahit sekarang. Sepergimu saya akan berkirim surat ke Tatar. Ada perahuku, itu akan saya suruh ikut serta ke Tatar, agar supaya menyampaikan ajakan menyerang Daha. Jika raja Daha telah kalah, maka seluruh pulau Jawa tak ada yang menyamai, itu nanti dapat dimiliki oleh raja Tatar, demikian itu penipuanku terhadap raja Tatar. Hendaknyalah kamu memberi tahu kepada Sang Pangeran, bahwasanya ini agar supaya raja itu mau ikut serta mengalahkan Daha.” Utusan pulang kembali ke Majapahit, Raden Wijaya senang diberi tahu semua pesan Wiraraja itu. Sesudah utusan kembali, Wiraraja lalu berkirim utusan ke Tatar. Wiraraja pindah ke Majapahit, seisi rumah dan membawa tentara dari Madura, yalah semua orang Madura yang baik dibawa beserta senjatanya. Setelah utusan datang dari Tatar, lalu menyerang Daha. Tentara Tatar keluar dari sebelah utara, tentara Madura dan Majapahit keluar dari timur, Raja Katong bingung, tak tahu mana yang harus dijaga. Kemudian diserang dengan hebat dari utara oleh tentara Tatar. Kebo Mundarang, Panglet dan Mahisa Rubuh menjaga tentara dari timur. Panglet mati oleh Sora, Kebo rubuh mati oleh Nambi, Kebo Mundarang bertemu dengan Rangga Lawe, terpaksa larilah Kebo Mundarang, dapat dikejar di lembah Trinipati, akhirnya mati oleh Rangga Lawe, Kebo Mundarang berpesan kepada Rangga Lawe: “Wahai Rangga Lawe, saya mempunyai seorang anak perempuan, hendaknyalah itu diambil oleh Ki Sora sebagai anugerah atas keberaniannya.” Raja Jaya Katong yang bertempur ke Utara, bersenjatakan perisai, diserang bersama sama oleh orang orang Tatar, akhirnya tertangkap dan dipenjara oleh orang Tatar. Raden Wijaya lekas lekas masuk kedalam istana Daha, untuk melarikan puteri bangsawan yang muda, lalu dibawa ke Majapahit, sedatangnya di Majapahit orang orang Tatar datang untuk meminta puteri puteri bangsawan, karena Wiraraja telah menyanggupkan itu, jika Daha telah kalah, akan memberikan dua orang puteri bangsawan yang berasal dari Tumapel, kedua duanya semua. Maka bingunglah para menteri semua, mencari cari kesanggupan lain, Sora berkata: “Nah, saya saja yang akan mengamuk bilamana orang orang Tatar datang kemari.” Arya Wiraraja menjawab: “Sesungguhnya, wahai buyung Sora, masih ada muslihatku lagi.” Maka dicari dicarilah kesanggupan kesanggupan. Itulah yang dimusyawarahkan oleh menteri menteri. Sora menyatakan kesanggupannya: ” Tak seberapa kalau saya mengamuk orang orang Tatar.” Pada waktu sore hari, waktu matahari sudah condong ke barat, orang orang Tatar datang meminta puteri puteri bangsawan. Wiraraja menjawab: “Wahai, orang orang Tatar semua, janganlah kamu kalian tergesa gesa, puteri puteri raja itu sedang sedih, karena telah cemas melihat tentara tentara pada waktu Tumapel kalah, lebih lebih ketika Daha kalah, sangat takut melihat segala yang serba tajam. Besok pagi saja mereka akan diserahkan kepada kamu, ditempatkan kedalam kotak, diusung, dihias dengan kain kain, dihantarkan ke perahumu, sebabnya mereka ditempatkan didalam peti itu, karena mereka segan melihat barang barang yang tajam, dan yang menerimanya puteri puteri bangsawan itu, hendaknyalah jangan orang Tatar yang jelek, tetapi orang orang yang bagus jangan membawa teman, karena janji puteri puteri bangsawan itu, kalau sampai terjadi melihat yang serba tajam, meskipun sudah tiba diatas perahu, mereka akan terjun kedalam air, bukankah akan sia sia saja, bahwasanya kalian telah mempertaruhkan jiwa itu, jika puteri puteri bangsawan ini sampai terjadi terjun kedalam air.” Percayalah orang orang Tatar, ditipu itu. Kata seorang Tatar: “Sangat betul perkataan tuan.” Sesudah datang saat perjanjian menyerahkan puteri puteri bangsawan itu, orang orang Tatar datang berbondong bondong meminta puteri puteri bangsawan, semua tak ada yang membawa senjata tajam. Setelah mereka masuk kedalam pintu Bayangkara, orang orang Tatar itu ditutupi pintu, dikunci dari luar dan dari dalam, Sora telah menyisipkan keris pada pahanya. Sekonyong konyong orang orang Tatar diamuk oleh Sora, habis, mati semua. Ranggalawe mengamuk kepada mereka yang berada di luar balai tempat orang menghadap, dikejar sampai ketempat kemana saja mereka lari, kemuara Canggu, diikuti dan dibunuh. Kira kira sepuluh hari kemudian, mereka yang pergi berperang, datang dari Malayu, mendapat dua orang puteri, yang seorang dikawin oleh Raden Wijaya, yalah yang bernama Raden Dara Pethak, adapun yang tua bernama Dara Jingga, kawin dengan seorang Dewa, melahirkan seorang anak laki laki menjadi raja di Malayu, bernama Tuhan Janaka, nama nobatannya: Sri Warmadewa alias Raja Mantrolot. Peristiwa Malayu dan Tumapel itu bersamaan waktunya pada tahun Saka: Pendeta Sembilan Bersamadi atau 1197. Raja Katong naik diatas tahta kerajaan di Daha pada tahun Saka: Ular Muka Dara Tunggal atau 1198. Setelah Raka Katong datang di Junggaluh ia mengarang kidung: Wukir Polaman, selesai mengarang kidung ia wafat. VII. Sekarang Raden Wijaya menjadi raja pada tahun Saka: Rasa Rupa Dua Bulan atau 1216. Kemudian ia mempunyai seorang anak laki laki dari Dara Pethak, nama kesatriyannya: Raden Kalagemet. Adapun dua orang anak perempuan Batara Siwa Buda, yang dibayang bayangkan kepada orang Tatar, keduanya itu juga dikawin oleh Raden Wijaya, yang tua menjadi ratu di Kahuripan, yang muda menjadi ratu di Daha. Nama nobatan Raden Wijaya pada waktu menjadi raja: Sri Kertarajasa. Didalam tahun pemerintahannya ia mendapat penyakit bisul berbengkak. Ia wafat di Antapura, wafat pada tahun 1257. VIII. Raden Kalagemet menggantikannya menjadi raja, nama nobatannya: Batara Jayanagara. Sri Siwa Buda dicandikan di Tumapel, nama resmi candi: Purwa Patapan. Berdiri candi itu berselat 17 tahun dengan peristiwa Ranggalawe. Ranggalawe akan dijadikan patih, tetapi urung, itulah sebabnya maka ia mengadakan pemberontakan di Tuban, dan mengadakan perserikatan dengan kawan kawannya. Telah terjadi orang orang Tuban di gunung sebelah utara dimasukkan didalam perserikatannya , mereka itu semua menaruh perhatian kepada Ranggalawe. Nama orang orang yang menyetujuinya, yalah: Panji Marajaya, Ra Jaran Waha, Ra Arya Sidi, Ra Lintang, Ra Tosan, Ra Galatik, Ra Tati, mereka itu teman teman Ranggalawe pada waktu berontak. Adapun sebabnya ia pergi dari Majapahit itu, merebut kedudukan, Mahapati menjalankan fitnah dengan bahan kata kata Ranggalawe: “Jangan banyak bicara, didalam kitab Partayadnya ada tempat untuk penakut penakut.” Setelah terdengar, bahwa Ranggalawe berontak, Mahapatih-lah yang memberi memberi tahu hal itu, maka raja Jayanagara marah, semua teman teman Ranggalawe didalam pemberontakan itu mati, hanya Ra Gelatik yang masih hidup, karena ia disuruh berbalik hati. Peristiwa Ranggalawe itu pada tahun saka: Kuda Bumi Sayap Orang, atau 1217. Wiraraja memohon diri untuk bertempat tinggal di Lamajang, yang luasnya tiga daerah juru, karena Raden Wijaya telah berjanji akan membagi dua Pulau Jawa, dan akan menganugerahkan daerah lembah Lumajang sebelah selatan dan utara beserta daerah tiga juru. Telah lama itu dinikmati oleh Wiraraja, Nambi masih menjadi patih, Sora menjadi Demung dan Tipar menjadi Tumenggung. Tumenggung pada waktu itu lebih rendah dari pada Demung. Wiraraja tidak kembali ke Majapahit, ia tidak mau menghamba. Setelah berselat tiga tahun dari peristiwa Ranggalawe maka terjadilah peristiwa Sora. Sora difitnah oleh Mahapati, dan Sora ini dapat dilenyapkan, dibunuh oleh Kebo Mundarang, pada tahun saka: Baba Tangan Orang atau 1222. Juga Nambi difitnah oleh Mahapati, jasa jasa perangnya tidak diperhatikan, pada waktu ia melihat saat yang tepat dan baik, ia memohon diri untuk meninjau Wiraraja yang menderita sakit. Sri Jayanagara memberi ijin, hanya saja tidak diperkenankan pergi lama lama. Nambi tak datang kembali, menetap di Lembah, mendirikan benteng, menyiapkan tentara. Wiraraja meninggal dunia. Sri Jayanagara menjadi raja, lamanya dua tahun. Ada peristiwa gunung meletus, yalah gunung Lungge pada tahun saka: Api Api Tangan Satu atau : 1233. Selanjutnya terjadi peristiwa Juru Demung, berselat dua tahun dengan peristiwa Sora. Juru Demung mati pada tahun saka: Keinginan Sifat Sayap Orang, atau: 1235. Lalu terjadi peristiwa Gajah Biru pada tahun saka: Rasa Sifat Sayap Orang atau: 1236. Selanjutnya terjadi peristiwa Mandana, Jayanagara berangkat sendiri untuk melenyapkan orang orang Mandana. Sesudah itu ia pergi ke timur untuk melenyapkan Nambi. Nambi diberi tahu, bahwa Juru Demung sudah mati, demikian pula patih pengasuh, Tumenggung Jaran Lejong, menteri menteri pemberani semua sudah mati, gugur di medan perang. Nambi berkata: “Kakak Samara, Ki Derpana, Ki Teguh, Paman Jaran Bangkal, Ki Wirot, Ra Windan, Ra Jangkung, jika dibanding banding, orang orang disebelah timur ini, tak akan kalah, apalagi setelah mereka sudah rusak itu, siapa lagi yang menjadi teras orang orang sebelah barat, apakah Jabung Terewes, Lembu Peteng atau Ikal Ikalan Bang, saja tak akan gentar, biar selaksa semacam itu didepan dan dibelakang, akan kuhadapi pula seperti perang di Bubat.” Setelah orang orang Majapahit datang, dan Nambi pergi ke selatan, maka Ganding rusak, piyagamnya dapat dirampas, Nambi dikejar kejar dan didesak, Derpana, Samara, Wirot Made, Windan, Jangkung mulai bertindak, terutama Nambi, ia mengadakan serangan pertama tama. seakan akan tercabutlah orang orang Majapahit, tak ada yang mengadakan perlawanan. Jabung Terewes, Lembu Peteng dan Ikal Ikalan Bang lalu bersama sama menyerang Nambi, Nambi gugur, demikian pula teman teman Nambi yang menyerang tadi gugur semua, patahlah perlawanan di Rabut Buhayabang, orang orang disebelah timur itu mencabut payung kebesarannya, daerah Lumajang kalah pada tahun saka: Ular Menggigit Bulan, atau: 1238. Peristiwa Wagal dan Mandana itu bersamaan waktunya. Berselat dua tahun Peristiwa Wagal dengan peristiwa Lasem. Semi dibunuh, ia mati dibawah pohon kapuk, pada tahun saka: Bukan Kitab Suci Sayap Orang, atau: 1240. Sesudah itu terjadi peristiwa Ra Kuti. Ada dua golongan Darmaputra Raja, mereka ini dahulunya adalah pejabat pejabat yang diberi anugerah raja, banyaknya tujuh orang, bernama: Kuti, Ra Pangsa, Ra Wedeng, Ra Yuyu, Ra Tanca dan Ra Banyak. Ra Kuti dan Ra Semi dibunuh, karena difitnah oleh Mahapati, akhirnya Mahapati diketahui melakukan fitnahan, ia ditangkap, dan dibunuh seperti seekor babi hutan, dosanya akan pergi sendiri ke Bedander. Ia pergi pada waktu malam, tak ada orang tahu, hanya orang orang Bayangkara mengiringkannya, semua yang kebetulan mendapat giliran menjaga pada waktu raja pergi itu, banyaknya 15 orang, pada waktu itu Gajah Mada menjadi Kepala Bayangkara dan kebetulan juga sedang menerima giliran menjaga, itulah sebabnya ia mengiring raja pada waktu raja pergi dengan menyamar itu. Lamalah raja tinggal di Bedander. Adalah seorang pejabat, ia memohon ijin akan pulang kerumahnya, tidak diperbolehkan oleh Gajah Mada, karena jumlah orang yang mengiring raja hanya sedikit, ia memaksa akan pulang, lalu ditusuk oleh Gajah Mada, maksud ia menusuk itu, yalah: “jangan jangan ia nanti memberi tahu, bahwa raja bertempat tinggal dirumah kepala desa Bedander, sehingga Ra Kuti, sehingga Ra Kuti dapat mengetahuinya. Kira kira lima hari kemudiannya Gajah Mada memohon ijin untuk pergi ke Majapahit. Sedatangnya di Majapahit, Gajah Mada ditanyai oleh para Amanca Negara tentang tempat raja, ia mengatakan, bahwa raja telah diambil oleh teman teman Kuti. Orang orang yang diberi tahu semuanya menangis, Gajah Mada berkata: “Janganlah menangis, apakah tuan tuan tidak ingin menghamba kepada Ra Kuti.” Menjawablah yang diajak berbicara itu: “Apakah kata tuan itu, Ra Kuti bukan tuan kami.” Akhirnya Gajah Mada memberi tahu bahwa raja berada di Bedander, Gajah Mada lalu mengadakan persetujuan dengan para menteri, mereka semua sanggup membunuh Ra Kuti, dan Ra Kuti mati dibunuh. Raja pulang dari Bedander, kepala desa ditinggalkan, selanjutnya ia menjadi orang yang terkenal pada waktu itu. Sesudah raja pulang, maka Gajah Mada tak lagi menjadi Kepala orang orang Bayangkara, dua bulan lamanya ia mendapat cuti dibebaskan dari kewajiban, ia dipindah menjadi Patih di Kahuripan, dua tahun lamanya menjadi patih itu. Sang Arya Tilam, patih di Daha meninggal dunia, Gajah Mada menggantinya, ditempatkan menjadi patih di Daha, patih Mangkubumi Sang Arya Tadah menyetujui, ialah yang menyokong Gajah Mada menjadi patih di Daha itu. Raja Jayanagara mempunyai dua orang saudara perempuan, lain ibu, mereka tak diperbolehkan kawin dengan orang lain, akan diambil sendiri. Pada waktu itu tak ada kesatriya di Majapahit, tiap tiap kesatriya yang tampak lalu dilenyapkan, jangan jangan ada yang mengingini adiknya itu, itulah sebabnya maka kesatriya kesatriya bersembunyi tidak keluar. Isteri Tanca menyiarkan berita, bahwa ia diperlakukan tidak baik oleh raja. Tanca dituntut oleh Gajah Mada. Kebetulan raja Jayanegara menderita sakit bengkak, tak dapat pergi keluar, Tanca mendapat perintah untuk melakukan pembedahan dengan taji, ia menghadap didekat tempat tidur. Raja ditusuk oleh Tanca dengan taji sekali dua kali, tidak makan tajinya, lalu raja diminta agar supaya meletakkan jimatnya, ia meletakkan jimatnya didekat tempat tidur, ditusuk oleh Tanca, tajinya makan, diteruskan ditusuk oleh Tanca, sehingga mati ditempat tidur itu. Tanca segera dibunuh oleh Gajah Mada, matilah Tanca. Berselat sembilan tahunlah peristiwa Kuti dan peristiwa Tanca itu, pada tahun saka: Abu Unsur memukul Raja atau: 1250. Raja dicandikan di Kapopongan, nama resmi candi itu: Srenggapura, arcanya di Antawulan. Pada waktu itu para kesatriya menginjakkan kaki di Majapahit lagi. Raden Cakradara dipilih pada sayembara menjadi suami seri ratu di Kahuripan. Raden Kuda Merta kawin dengan seri ratu di Daha. Raden Kuda Merta menjadi raja di Wengker, Sri Paduka Prameswara di Pamotan, nama nobatannya: Sri Wijayarajasa. Adalah anak Raden Cakradara, menjadi raja di Tumapel, nama nobatannya Sri Kertawardana. IX. Sri Ratu di kahuripan menjadi raja pada tahun saka: Sunyi Keinginan Sayap Bumi, atau: 1250. Seri Ratu di Kahuripan itu mempunyai tiga orang anak, yalah: Batara Prabu, panggilannya Seri Hayam Wuruk, Raden tetep, sebutannya jika ia bermain kedok: Dalang Tritaraju, jika ia bermain wayang dan melawak: Gagak Ketawang, di kalangan pemeluk agama Siwa: Mpu Janeswara, nama nobatannya Seri Rajasa Nagara, sebagai Prabu: Seri Baginda Sang Hyang Wekasing Suka. Adiknya perempuan kawin dengan raden Larang, yang juga disebut Baginda di Matahun, tidak mempunyai anak, adiknya yang bungsu, yalah: Seri ratu di Pajang, kawin dengan Raden Sumana, yang juga disebut Baginda di Paguhan, ini adalah saudara sepupu Seri Ratu di Kahuripan. Isteri Baginda di Gundal, dicandikan di Sajabung, nama resmi candi itu: Bajra Jina Parimita Pura. Selanjutnya terjadi peristiwa Sadeng. Tadah yang menjadi patih Mangkubumi menderita sakit, sering sekonyong konyong tak berkuasa menghadap, memajukan permohonan kehadapan Paduka batara untuk diijinkan berhenti, tidak dikabulkan oleh Seri Ratu di Kahuripan, Sang Arya Tadah kembali pulang, memanggil Gajah Mada, mengadakan pembicaraan di ruang tengah, Gajah Mada diminta menjadi Patih di Majapahit, meskipun tidak berpangkat Mangkubumi: “Saya akan membantu didalam soal soal yang luar biasa,” Gajah Mada berkata: ” Anaknda tidak sanggup jika menjadi patih sekarang ini, jika sudah kembali dari Sadeng, hamba mau menjadi patih, itupun jika tuan suka memaafkan segala kekurangan kemampuan anaknda ini.” “Nah, buyung, saya akan membantu didalam segala kesukaran, dan didalam soal soal yang luar biasa.” Sekarang besarlah hati Gajah Mada, mendengar kesanggupan sang Arya Tadah itu. kini ia berangkat ke Sadeng. Para menteri araraman dibohongi, juga patih Mangkubumi juga kena tipu, bahwasanya Kembar telah lebih dahulu mengepung Sadeng. Mangkubumi marah, memberi perintah kepada menteri luar, banyak mereka yang berangkat lima satuan, dikepalai oleh bekel, masing masing satuan terdiri dari lima orang. Kembar dijumpai didalam hutan, mereka berdiri diatas pohon yang roboh, berayun ayun seperti orang naik kuda sambil melambai lambaikan cambuk kepada mereka yang menyuruh agar Kembar kembali dan tidak melanjutkan perjalanan. Disampaikanlah pesan dari para menteri semua, terutama juga dari gusti patih Mangkubumi, menyuruh agar Kembar kembali, karena dikhabarkan mendahului mengepung orang orang Sadeng. Dicambuklah muka orang yang menyuruh kembali, tidak kena karena berlindung dibalik pohon, Kembar lalu berkata: “Tidak ada orang yang diindahkan oleh Kembar ini, didalam perang saja tidak mau mengindahkan tuanmu itu.” Pergilah yang mendapat perintah untuk menyuruh kembali tadi, dan memberi tahu semua yang dikatakan oleh Kembar. Gajah Mada diam, merasa sangat diperolok olok, orang orang Sadeng dikepung, Tuhan Waruju seorang Dewa Putera dari Pamelekahan, jikalau membunyikan cambuk, terdengar di ruang angkasa, terperanjat orang Majapahit. Segera Sang Sinuhun tadi datang, mengalahkan Sadeng. Peristiwa Tanca dan Sadeng itu berselat tiga tahun, pada tahun saka: Tindakan Unsur Lihat Daging, atau: 1256. Setelah Kembar kembali dari Sadeng, lalu menjadi bekel araman, Gajah Mada menjadi Angabehi, Jaran Baya, Jalu, Demang Bucang, Gagak Nunge, Jenar dan Arya Rahu mendapat pangkat, Lembu Peteng menjadi Tumenggung. Gajah Mada menjadi patih Mangkubumi, tidak mau mengambil istirahat, Gajah Mada berkata: “Jika pulau pulau diluar Majapahit sudah kalah, saya akan istirahat, nanti kalau sudah kalah Gurun, Seran, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, barulah saya menikmati masa istirahat.” Pada waktu itu para menteri sedang lengkap duduk menghadap di balai penghadapan. Kembar memperolok olok Gajah Mada dengan menyebut kesalahan kesalahan dan kekurangan kekurangannya, dan menumpahkan telempak, Ra banyak ikut serta menambah mengemukakan celaan celaan. Jabung Terewes, Lembu Peteng tertawa. lalu Gajah Mada turun mengadukan soal itu kehadapan batara di Koripan, baginda marah, kemarahan dan penghinaan ini disampaikan kepada Arya Tadah. Dosa Kembar telah banyak, Warak dilenyapkan, tak dikatakan pada Kembar, mereka mati semua. X. Selanjutnya terjadi peristiwa orang orang Sunda di Bubat. Seri Baginda Prabu mengingini puteri Sunda. Patih Madu mendapat perintah menyampaikan permintaan kepada orang Sunda, orang Sunda tidak berkeberatan mengadakan pertalian perkawinan. Raja Sunda datang di Majapahit, yalah Sang Baginda Maharaja, tetapi ia tidak mempersembahkan puterinya. Orang Sunda bertekad berperang, itulah sikap yang telah mendapat sepakat, karena Patih Majapahit keberatan jika perkawinan dilakukan dengan perayaan resmi, kehendaknya yalah agar puteri Sunda itu dijadikan persembahan. Orang Sunda tidak setuju. Gajah Mada melaporkan sikap orang orang Sunda. Baginda di Wengker menyatakan kesanggupan: “jangan khawatir, kakak Baginda, sayalah yang akan melawan berperang.” Gajah Mada memberitahu tentang sikap orang Sunda. Lalu orang Majapahit berkumpul, mengepung orang Sunda. Orang Sunda akan mempersembahkan puteri raja, tetapi tidak diperkenankan oleh bangsawan bangsawannya, mereka ini sanggup gugur dimedan perang di Bubat, tak akan menyerah, akan mempertaruhkan darahnya. Kesanggupan bangsawan bangsawan itu mengalirkan darah, para terkemuka pada fihak Sunda yang bersemangat, yalah: Larang Agung, Tuhan Sohan, Tuhan Gempong, Panji Melong, orang orang dari Tobong Barang, Rangga Cahot, Tuhan Usus, Tuhan Sohan, Orang Pangulu, Orang Saja, Rangga Kaweni, Orang Siring, Satrajali, Jagadsaja, semua rakyat Sunda bersorak. Bercampur dengan bunyi bende, keriuhan sorak tadi seperti guruh. Sang Prabu Maharaja telah mendahului gugur, jatuh bersama sama dengan Tuhan Usus. Seri Baginda Parameswara menuju ke Bubat, ia tidak tahu bahwa orang orang Sunda masih banyak yang belum gugur, bangsawan bangsawan, mereka yang terkemuka lalu menyerang, orang Majapahit rusak. Adapun yang mengadakan perlawanan dan melakukan pembalasan, yalah: Arya Sentong, Patih Gowi, Patih Marga Lewih, Patih Teteg, dan Jaran Baya. Semua menteri araman itu berperang dengan naik kuda, terdesaklah orang Sunda, lalu mengadakan serangan ke selatan dan ke barat, menuju tempat Gajah Mada, masing masing orang Sunda yang tiba dimuka kereta, gugur, darah seperti lautan, bangkai seperti gunung, hancurlah orang orang Sunda, tak ada yang ketinggalan, pada tahun saka: Sembilan Kuda Sayap Bumi, atau: 1279. Peristiwa Sunda itu bersama sama dengan peristiwa Dompo. Sekarang Gajah Mada menikmati masa istirahat, sebelas tahun ia menjadi Mangkubumi. Berhubung dengan puteri Sunda itu mati, maka Batara Prabu lalu kawin dengan anak perempuan Baginda Prameswara, yalah: Paduka Sori, dari perkawinan itu lahirlah seorang anak perempuan, yalah Seri Ratu di Lasem Sang Ayu, dari perkawinannya dengan isteri lain, lahirlah baginda di Wirabumi, yang diambil menjadi anak angkat Seri Ratu di Daha. Seri ratu di Pajang mempunyai tiga orang anak: Seri Baginda Hyang Wisesa, nama kesatriyannya Raden Gagak Sali, namanya sebagai Raja Aji Wikrama, kawin dengan Seri Ratu di Lasem yalah: Sang Ayu, lalu mempunyai seorang anak, yalah: Seri Baginda Wekasing Suka, anak yang kedua perempuan, yalah: Seri Ratu di Lasem Sang Alemu, kawin dengan baginda di Wirabumi, adapun anak yang ketiga juga perempuan, menjadi Seri ratu di Kahuripan. Ada lagi anak Baginda di Tumapel, nama kesatriyannya Raden Sotor, menjadi hino di Koripan, lalu pindah menjadi hino di Daha, selanjutnya menjadi hino di Majapahit, ini mempunyai seorang anak laki laki, yalah: Raden Sumirat, kawin dengan Seri Ratu di Kahuripan dan menjadi raja dengan sebutan Baginda di Pandan Salas. Lalu terjadi peristiwa upacara selamatan roh nenek moyang yang dinamakan Srada Agung, pada tahun saka: Empat Ular Dua Tunggal, atau: 1284. Sang Patih Gajah Mada wafat pada tahun saka: Langit Muka Mata Bulan, atau 1290, tiga tahun lamanya tak ada yang mengganti menjadi patih. Gajah Enggon menjadi patih pada tahun saka: Sifat Sembilan Sayap Orang, atau: 1293. Seri Ratu di Daha wafat, dicandikan di Adilangu, nama resmi candi itu Gunung Purwawisesa. Seri Ratu di kahuripan wafat, dicandikan di Panggih, nama resmi candinya Gunung Pantarapura. Selanjutnya terjadi peristiwa gunung baru pada tahun saka: Ular Liang Telinga Orang, atau: 1208. Lalu terjadi peristiwa gunung meletus, pada minggu Madasia, tahun saka: Pendeta Sunyi Sifat Tunggal, atau: 1307. Baginda di Tumapel wafat, ia wafat di Suniyalaya pada tahun saka: Gajah Sunyi Tindakan Ekor, atau” 1308, dicandikan di Japan, nama resmi candi itu Sarwa Jaya Purwa. Baginda Hyang Wisesa mempunyai anak, (1) Seri Baginda di Tumapel (2) Perempuan, yalah: Seri Ratu Prabu-stri, yang lalu mempunyai nama nobatan: Dewi Suhita (3) Bungsu laki laki, yalah: Baginda di Tumapel alias Sri Kerta Rajasa Baginda di Pandan Salas mempunyai anak (1) Baginda di Koripan, alias Baginda Hyang Prameswara, nama nobatannya Aji Ratna Pangkaja, kawin dengan Seri Ratu Prabu-stri, tidak berputera (2) Perempuan, Sang ratu Ratu di Mataram, yang kawin dengan Baginda Hyang Wisesa (3) Perempuan, Sang ratu di Lasem, yang kawin dengan Baginda di Tumapel (4) Perempuan lagi, Sang Ratu di Matahun. Baginda di Tumapel mempunyai anak laki laki, menjadi raja di Wengker, kawin dengan Seri ratu di Matahun, anak kedua menjadi raja di Paguhan, anak ketiga lahir dari isteri muda, perempuan, yalah: Seri Ratu di Jagaraga, kawin dengan Baginda Parameswara, tidak beranak, anak kelima, yalah: Sang ratu di Pajang, juga kawin dengan Baginda di Paguhan, jadi dibayuh sama sama saudara, tidak mempunyai anak. Baginda di Keling kawin dengan Seri ratu di Kembang Jenar. Anak laki laki Baginda di Wengker, yalah Baginda di Kabalan. Baginda di Paguhan mempunyai anak dari isteri kelahiran golongan kesatriya, perempuan yalah: Sang ratu di Singapura, kawin dengan Baginda di Pandan Salas. Baginda Prameswara di Pamotan, wafat pada tahun saka: Langit Rupa Menggigit Bulan, atau: 1310, ia dicandikan di Manyar, nama resmi candinya Wisnu Bawana Pura. Seri ratu di Matahun wafat, dicandikan di Tiga Wangi, nama resmi candi itu Kusuma Pura. Paduka Sori wafat. Sang ratu di Pajang wafat, dicandikan di Embul, nama resmi candi Girindra Pura. Baginda di Paguhan wafat, dicandikan di Lobencal, nama resmi candi Parwa Tiga Pura. Baginda Hyang Wekasing Suka, wafat pada tahun saka: Bumi Rupa Ayah Ibu, atau 1311. XI. Baginda Hyang Wisesa dinobatkan menjadi raja. Lalu terjadi peristiwa gunung meletus didalam minggu Prangbakat, pada tahun saka: Muka Orang Tindakan Ular, atau : 1317. Selanjutnya Gajah Enggon meninggal dunia pada tahun saka: Sunyi Sayap Tindakan Orang, atau: 1320. ia menjadi patih 27 tahun lamanya. Baginda Hyang Wekasing Suka mengangkat Gajah Manguri menjadi patih. Baginda Hyang Wekasing Suka wafat, ia wafat di Indra Bawana, pada tahun saka: Orang Mata Api Bulan, atau 1321, dicandikan di Tanjung, nama resmi candi Parama Suka Pura. Baginda Hyang Wisesa menjadi pendeta pada tahun saka: Mata Sayap api Bulan, atau: 1322. XII. Seri Ratu Batara Isteri dinobatkan menjadi Raja. Sang ratu di Lasem wafat di Kawidyadaren, dicandikan di Pabangan, nama resmi candi: Laksmi Pura. Sang Ratu di Kahuripan wafat. Sang Ratu di Lasem yalah Sang ratu Gemuk wafat. Baginda di Pandan Salas wafat, dicandikan di Jinggan, nama resmi candi Sri Wisnu Pura. Baginda Hyang Wisesa bercekcok dengan Baginda Wirabumi, mereka segan bersama sama berbicara, saling diam mendiamkan, akhirnya berpisah sampai itu terjadi pada tahun saka 1323. Tiga tahun kemudian lalu terjadi lagi huru hara. Kedua duanya mengumpulkan orang orangnya, Baginda di Tumapel dan baginda Hyang Prameswara diminta datang. “Siapakah yang harus kami ikuti.” maka terjadilah perang malang. Ia masgul dan bertekad akan pergi. Baginda “jangan tergesa gesa pergi, sayalah yang akan melawan.” Baginda Hyang Wisnu menurut dan mengumpulkan orang orangnya lagi, dihulubalangi oleh Baginda di Tumapel. di daha diambil oleh baginda Hyang Wisesa, dibawa keatas perahu, dikejar oleh Raden Gajah yang mempunyai nama nobatan Ratu Angabaya, baginda Narapati. Terkejar didalam perahu, dibunuh, dipenggal kepalanya, dibawa ke Majapahit, dicandikan di Lung, nama resmi candinya Gorisa, pada tahun saka: Ular Sifat Menggigit Bulan, atau: 1328, pada tahun itu terjadi huru hara ini. Empat tahun kemudiannya Gajah Manguri meninggal dunia pada tahun saka: Sayap Sifat Tindakan Orang, atau : 1332. Gajah Lembaga menjadi patih, lamanya 12 tahun. Selanjutnya terjadi peristiwa gunung meletus didalam minggu Julung Pujut, pada tahun saka: Tindakan Kitab Suci Sifat Orang, atau: 1343. Gajah Lembana meninggal dunia pada tahun saka: Api Api Tindakan Bumi, atau: 1335. Tuhan Kanaka menjadi patih lamanya 3 tahun. Seri Ratu di Daha wafat, Seri Ratu di Matahun wafat, Seri Ratu di Mataram wafat. Selanjutnya terjadi masa kekurangan makan yang sangat lama pada tahun saka: Ular Jaman Menggigit Orang, atau : 1348. Baginda di Tumapel wafat pada tahun saka: Sembilan Jaman Tindakan Orang, atau: 1349, dicandikan di Lokerep, nama candinya Asmarasaba. Baginda di Wengker wafat, dicandikan di Sumengka. XIII. Tuhan Kanaka meninggal dunia pada tahun saka: Sayap Luka Sifat Orang, atau : 1363. Tujuh belas tahun lamanya menjadi patih. Seri ratu di Lasem wafat di Jinggan. Baginda di Pandan Salas wafat. Raden Jagulu, Raden Gajah dilenyapkan, karena dianggap melakukan dosa, yalah: memenggal kepala Baginda di Wirabumi, pada tahun saka: Unsur Memanah Telur Tunggal, atau: 1355. Seri Ratu di Daha menjadi raja pada tahun saka: Sembilan lima api bulan, atau 1359. Baginda Parameswara wafat, ia wafat di Wisnu Bawana, pada tahun saka: Ular Golongan Api Bulan, atau tahun: 1359, dicandikan di Singajaya. Baginda Keling wafat, dicandikan di Apa Apa. Seri Ratu Prabu-stri wafat pada tahun saka: Sembilan Rasa Api Bulan, atau: 1369, dicandikan di Singajaya. XIV. Lalu Baginda Tumapel mengganti menjadi raja. Baginda di Paguhan melenyapkan orang orang di Tidung Galating, dan ini dilaporkan ke Majapahit. Lalu terjadi gempa bumi pada tahun saka: Sayap Golongan Menggigit Bulan, atau: 1372. Baginda di Paguhan wafat di Canggu, dicandikan di Sabyantara. Baginda Hyang wafat, dicandikan di Puri. Baginda di Jagaraga wafat. Seri Ratu di Kabalan wafat, dicandikan di Pajang Wafat, dicandikan menjadi satu di Sabyantara. Lalu terjadi gunung meletus didalam minggu Kuningan, pada tahun saka: Belut Pendeta Menggigit Bulan, atau: 1373. Baginda Prabu wafat pada tahun saka: Api Gunung Tindakan Ekor, atau: 1373, nama resmi candinya Kerta Wijaya Pura. XV. Baginda di Pamotan menjadi raja di Pamotan menjadi raja di Keling, Kahuripan, nama nobatannya Sri Rajasawardana. Sang Sinagara, dicandikan di Sepang pada tahun saka: Keinginan Kuda menggigit Orang, atau: 1375. XVI. Tiga tahun lamanya tidak ada raja. XVII. Lalu Baginda di Wengker menjadi raja, nama nobatannya Baginda Hyang Purwa Wisesa, pada tahun saka: Pendeta Tujuh Api Menggigit Bulan, atau: 1378. Lalu terjadi peristiwa gunung meletus didalam minggu Landep, pada tahun saka: Empat Ular Tiga Pohon, atau: 1384. Baginda di Daha wafat pada tahun saka: Golongan Pendeta Api Tunggal, atau: 1386. Baginda Hyang Purwa Wisesa wafat, dicandikan di Puri, pada tahun saka: Pendeta Ular Api Bulan, atau: 1388. Lalu Baginda di Jagaraga wafat. XVIII. Baginda di Pandan Salas menjadi raja di Tumapel, lalu menjadi Baginda Prabu pada tahun saka: Pendeta Ular Tindakan Tunggal, atau: 1388. Ia menjadi Prabu dua tahun lamanya. Selanjutnya pergi dari istana. Anak anak sang Sinaraga yalah: Baginda di Kahuripan, Baginda di Mataram, baginda di Pamotan dan yang bungsu yalah: baginda Kertabumi, ini adalah paman baginda yang wafat didalam kedatuan pada tahun saka: Sunyi Tidak Jaman Orang, atau: 1400. Lalu terjadi peristiwa gunung meletus, didalam minggu Watu Gunung pada tahun saka: Tindakan Angkasa Laut Ekor, atau: 1403. Demikian itulah kitab tentang para datu. Selesai ditulis di Itcasada di desa Sela Penek, pada tahun saka: Keinginginan Sifat Angin Orang, atau: 1535. Diselesaikan ditulis hari Pahing, Sabtu, minggu Warigadyan, tanggal dua, tengah bulan menghitam, bulan kedua. Semoga ini diterima baik oleh yang berkenan membaca, banyak kekurangan dan kelebihan huruf hurufnya, sukar dinikmati, tak terkatakan berapa banyaknya memang rusak, memang ini adalah hasil dari kebodohan yang meluap luap berhubung baharu saja belajar. Semoga panjang umur, mudah mudahan demikian hendaknya, demikianlah, semoga selamat bahagia, juga sipenulis ini. Salahsatunggaling Falsafah Kuno Hanacaraka 06 Mar 2010 Leave a Comment by wayang in Kitab & Kidung Pustaka Wedha Sasangka Kababar Dening : Kanjeng Gusti Bendara Raden Adjeng Dhenok Surjaningsih (Ngeksiganda Nagri 1643) Rinukti Saha Rinumpaka Dening : Sesanggawirja Sengkalaning Tjandra Sapta Rasa Malebeng Pertiwi Utawi Wiwaraning Tjepuri Hesthining Djagad (Tahun Masehi 1967 utawi Tahun Saka 1988) Wedha Ageng Surasa. Karangan Angka 1 saking : Wirid Wedha Tjarita lan Djangka : Bagijan Kaping Kalih, Ngagem Tjarios : ARGA BAWERA Punapa ta tegesipun Arga Bawera ? Arga sami kalijan giri, prawata, prabata, ardi, redi, gunung. Bawera sami kalijan djembar, omber, kobet, mboten tjupet, mboten kaling-kalingan, tanpa wangenan, tanpa wates. Dados Arga Bawera ateges : Gunung kang djembar omber, mboten kaling-kalingan, padhang trawangan. Suraosipun: Pralampampitaning kawitjaksananipun Sang Lokaprana, ingkang tuhu limpad, bontos, djembar, omber, tanpa wangenan, sarwi padhang datan kewran nembus sagung aling-aling (warana). Dumunung ing puntjaking Arga ingkang Bawera, panggenan ingkang inggil pijambak, limrahipun sok kawastanan : Guruloka. Tumrap blegering manungsa dumunung wonten ing sirah (mustaka). Katjarijos Sang Prabu Brawidjaja ingkang kaping II inggih Raden Djaka Lawung, ingkang sakelangkung lingsem ing penggalih, sebab sanget kaesi-esi dening ingkang garwa Dewi Retna Sekar dalah ingkang rama marasepuh Adipati Tjiung Gupita, sesampunipun masrahaken pusaraning pradja Madjapait dhateng ingkang raji Pangeran Anom Minak Pijungan, ingkang ladjeng adjedjuluk Prabu Brawidjaja ingkang kaping III. Ladjeng djengkar saking kedhaton, tindakipun mendhem kula, nimpal keli, tanpa kendel tumoleh, ngener mangidul, kesupen dhateng ingkang katilar, nering karsa sumedija nindakake dhawuhing ingkang ibu swargi. Ing sakmargi-margi tansah ngawuningani alam gumelar ingkang sarwi elok, edi, asri, nengsemaken. Penggalihipun Sang Prabu kasengsem sanget, kadudut, kapiluja pirsa kawontenan mekaten wau punika. Ing salebeting kalbu rumaos kagigah, binuka saja kentjeng sedijanipun. Thukuling raos ladjeng tansah kagungan tresna ing sesamining tumitah, mboten mbedak-ambedakaken; malah saja ngrembaka, ing wasana mahanani santosaning penggalih anggonipun badhe mangudi dhateng kaluhuran. Saja malih menawi emut nalika taksih wonten ing salebeting kedhaton, tansah dipun tjampahi, dipun tjamah dening ingkang garwa punapa dene dipun sepelekaken. Inggih ing salebeting kawontenan punika Sang Prabu rumaos, bilih penggalihipun kirang santosa, mijar-mijur, gampil kapikut tuwin kapikat dening pakartining pantja drija ingkang damelipun namung adjak-adjak risak thok kemawon. Pramila sadaja kala wau ladjeng anambahi santosaning penggalih, kentjeng sedijaning tijas; ingkang mekaten kala wau andjalari tindaking Sang Prabu saja mantep, madhep, terus tanpa kendel, tan ngetang tansajaning marga, mboten kepengin dhahar, ngundjuk punapa dene sare, ngantos sariranipun katingal kera aking persasat namung kantun gagra kusika. Benter soroting Hijang Bagaskara ing wantji tengange lan asreping hawa ing wantji abijoring Sang Kartika, babar pisan mboten karaos, ing salebeting tyas namun tansah kumedah-kedah inggal saged mangertosi punapa sedjatosipun ingkang dinawuhaken rama ibunipun swargi kok wanter sanget. Mboten kepetang pinten dangunipun anggenipun tindak nilar kedhaton, sampun dumugi ing pinggiring bengawan Brantas ingkang sisih ler. Ing papan ngriku Sang Prabu sumedija aso sawatawis, kedjawi kalijan ngentosi tuntasing riwe sarta sajahing sarira, ing salebeting ngaso kala wau, Sang Prabu emut dhateng panguwuhing garwa dalasan mara-sepuh, ingkang kalih-kalihipun sampun sami kaperdjaja, bab anggenipun tansah damel sisiping rembag, ing wusana nuwuhaken risaking kawontenan. Wekasan Sang Prabu ladjeng ngupadi palenggahan ingkang prajogi, inggih punika sendhe-sendhe ing kadjeng ageng sapinggiring bengawan Brantas kala wau. Amargi kenging siliring Hijang Samirana, sarira keraos seger, ngantos mboten kraos lijer-lijer, wekasan ngantos sare kepatos. Ing wusana tengah-tengahing sare Sang Prabu njumpena kados-kados rinawuhan ingkang rama kanthi paring dhawuh mekaten: “Ngger Djaka Lawung putraningsun pribadi, kaja ing wektu dina samengko, sira wus karasa lan ngrumangsani sekabehaning kaluputanmu, dhek nalika sira ngasta pusaraning pradja Madjapait. Kaja nalika ingsun bakal surud wus paring uninga marang sira, jen sira kudu wasis djumeneng dadi pengembaning negara Madjapait. Ora kena mbedak-mbedakake marang sidji lan sidjining kawula, paribasane mban tjinde mban siladan, lan tansah kudu tresna lahir trusing batin tumrap marang sekabehaning para kawula. Kudu wani sengsem marang tumindak kautaman, ninggal marang sekabehaning tumindak kelahiran, ja ing alam kanisthan. Nanging djebul kosokbaline, sira lena marang sekabehing piwelingingsun apadene piweling ibunira. Wekasan sira mung tansah ngumbar hardaning kamurkan, ora kersa sumungkem dalasan manembah ing ngersaning Hijang Bagas Puruwa, malah ngungkurake. Wekasan sira gampang kapikut marang bebudjukane si Adipati Tjiung Gupita lan anake si Retna Sekar. Sira tansah kelu marang gebijaring kadonjan, datan kersa ngemuti jen ta kahanane djagad raja mangkene tansah owah lan gingsir. Mengertija ngger, jen sira ana ing sadjeroning lali, kuwi kang ana kabeh mung marang nistha, jen sira dumunung ana ing sakdjerone eling, kabeh kuwi mau sedjatine dalan kang tumudju marang kaluhuran. Mula saka kuwi jen pantjen ing wektu dina iki sira wus wiwit binuka rasanira, elinga marang djedjering djagad, ja djagad gedhe kang den arani djagad raja, utawa ja djagadira pribadi kang den arani bawana setra. Lan jen pantjen sira njata-njata temen sumedija tumindak kang tumudju marang kaluhuran djati, pirsa marang asal mulanira, weruh marang sedjatine djiwangga, mara noleha mangidul, delengen ing puntjaking gunung Ardjuna kae, sira sedjatine ja wus dumunung ing kana.” Sinareng Sang Prabu noleh mangidul, ladjeng anedija mirsani puntjaking redi Ardjuna, katingal tjahja manther saksada lanang ngantos sundhul ngawijat. Dene Sang Prabu rumaos kados-kados sampun lenggah dumunung ing puntjaking Arga Ardjuna ngriku. Sareng Sang Prabu mirsani kanan kering, tjetha sanget bilih arga punika ingkang winastanan arga bawera. Ing sisih ler katingal pradja Madjapait kanthi wela-wela, ing sisih wetan katingal pareden bebandjengan, sisih kidul katingal pesabinan idjem rojo-rojo. Saja kraos wonten ing puntjaking redi kasebat. Wosipun saged amirsani kanthi tjetha wela-wela lan mboten kaling-kalingan punapa-punapa, inggih punika kang den wastani tanpa warana. Ing saladjengipun ingkang rama paring dhawuh malih, mekaten: “Mangertija ngger, jen sedjatine ing putjuking gunung Ardjuna kana kae, papane ramanira dhek djaman kala semana mesu brata, mangesthi ing Hijang Bagas Puruwa, mudja lan mudji akanthi nindakake talak brata, datan sare, datan dhahar, mung tansah mindeng madijaning Guwa Laja, njenjuwun supaja bisa pinaringan turun kang ing tembe saged gumanti kepraboning pradja Madjapait, jen wus tumeka titi wantji ramanira kundur ana ing Hindrabawana. Awit wus sawatara warsa anggeningsun palakrama kelawan ibunira, nanging meksa isih durung pinaringan turun. Kang mengkono mau rama rumaos ketjalan lari tumrap pamangkuning negara, jen ta tumeka kukuting angganingsun isih durung pinaringan putra. Ja sanadijan abot dikaja apa, djer kanggo kamuljaning putra wajah, mula ramanira ja ora kagungan pangresula, djer kuwi wus dadi kuwadjibane ramanira pribadi. Apadene lelakone ibunira, dhek nalikane ingsun tinggal ana ing kedhaton, sakperlu andjaga keputren, lan isen-isening kraton kabeh, ing wusana marga saka pokale si Darmawangsa, ibunira djengkar lolos saka keputren, parane mangulon, perlu ngupaja anane si Handaja Pati, ja kuwi warangka dalem ing Madjapait, kang ing wektu semana lagi ingsun utus mbedah tanah Djawa Tengah, perlu jasa pelabuhan ing Semarang. Dene tindake ibunira kalunta-lunta, nusup-nusup angajam wana, munggah gunung medhun djurang, nganti tumeka ing lelengkehing gunung Lawu sisih wetan. Mangertia ngger, merga saja anggone nusup-nusup mau ilang sipating prameswarining Naga Binathara, malah kaja wus ilang trap-susilaning wanodija kang andana warih, pada bae karo wong tjilik kang datan kambah ing wulang wuruk. Kahanan kang mangkono mau kabeh disangga dening ibunira kanthi sabar nrima, sareh pikoleh, datan asesambat utawa angresula, kang ana mung emut, lan ateges ora lali marang kaluhuran lan emut jen ing djagad gumelar mono asipat owah miwah gingsir, malah penjungkeme tumrap Hijang Bagas Puruwa ditemeni, ora nglirwakake, rumaos ibunira, kaja wus utjul saka blengguning kanisthan. Sakbandjure ibunira tansah emut marang ingsun, ija ramaneki pribadi, kang lagi mesu brata kanggo keperluane negara lan kawula. Mulane sanadijan abot dikaja ngapa ibunira datan wigih nanggulangi rubedaning salira, djer kuwi kenaa kanggo panebusing putra wajah ing mbesuke. Nanging bareng sire dhewe ngger, banget anggenira nglirwakake piwelingingsun, apadene piwelinge ibunira kang tansah nandhang papa tjintraka. Djebul tibame marang sira kosok balen banget. Dupeh sira wus darbe panguwasa, dupeh sira wus adarbe wenang tumrap negara lan kawula, ing wekasan mung anduweni sipat adigang, adigung adiguna, lali marang laku kautaman, ngumbar hardaning kamurkan, nggugu sakarepe dhewe, gampang kelu marang gebijaring djagad gumelar, suthik marang tetulung, adoh marang pamesu brata, ninggalake marang djedjering wong tuwa, apa rumangsanira dupeh wong atuwanira wus padha sirna. Ing satemah nampa pawelehing Hijang Sasangka Djati, sira ingatasing Nalendra Gung mung ditjamah dening garwanira tedhaking sudra. Rumangsanira wus kinadjenan lan kineringan dening sakpadha-pdha, lali jen kuwi mono kabeh mung dumunung ing alam kanisthan. Mula jen tjetha-tjetha sira wus ngrumangsani kabeh kaluputanira kanthi rasa kang djudjur, mara sawangen kae ing putjuking gunung. Wis ja ngger samene bae, adja kongsi sira lali maneh sekabehing piwelingingsun iki, jen pantjen sira kepengin muljakake turun-turunira kabeh nganti tumeka pungkasaning djaman.” Sakrampungipun dhawuhipun ingkang rama, Djaka Lawung inggih Prabu Brawidjaja ingkang kaping kalih, sampun rumaos lenggah wonten ing putjuking redi Ardjuna madjeng mangaler. Nanging sanget andadosaken kedjoting penggalih, sareng mirsani sariranipun ageng inggil, asta dalasan ampejanipun sarwi ageng kebak rikma, kenakanipun pandjang-pandjang, rikma gimbal, djenggot miwah rawisipun pandjang. Persasat denawa (raseksa) ingkang anggegirisi. Rumaos ngagem agem-ageman sarwi pethak, kados pangagemaning para pandhita. Ing salebeting penggalih sanget lingsem dhateng Hijang Bagaskara, dene ingatasing putra Nalendra kok ladjeng saged mawujud denawa ingkang anggegirisi sanget. Mekaten kala wau kawontenanipun Sang Prabu Brawidjaja, ingkang nembe tapa njingkiri papan keramenan, nanging kados-kados klentu marginipun, awit anggenipun gantos wewudjudanipun anggegirisi. Punika sedaja nelakaken, bilih satunggaling djanma ingkang nembe tumindak nilar dhateng kaluhuran, tansah ngumbar hardaning kamurkan, wusana ladjeng tebat dhateng Hijang Bagas Puruwa. Senadijan tata lahiripun sampun miwiti pamesu bratanipun, namung saking dajaning kamurkan ingkang babar pisan dereng uwal saking kuwandhanipun, ateges taksih kelet kumanthil, wusana saged mahanani wewudjudan ingkang anggegirisi kala wau. Inggih mekaten punika tumindaking sebagian ageng para djanma manungsa, ingkang namung tansah ngumbar hardaning kanepson, pepenginan, angkara murka, gampil kapikut ing gebijaring djagad gumelar, ingkang mboten aseli, mboten sedjati, ingkang ateges sedaja kala wau palsu. Pramila Djaka Lawung saja kentjeng anggenipun badhe nindakaken pamesu bratanipun, mboten badhe kundur jen dereng angsal wangsiting Hijang Sasangka Djati. Katjarios sesampunipun Djaka Lawung radi dangu anggenipun mesu raga wonten ing putjuking redi Ardjuna, ing satunggaling wekdal, ing tengah dalu, nalika Djaka Lawung nembe nindakaken pakarjaning pasemeden, wusana mboten kanthi kanjana-njana lan mboten kagraita, wonten satunggaling peksi emprit mentjok ing bau kiwaning Djaka Lawung. Ing salebeting anggalih Djaka Lawung ngungun ketjampuran kaget, kok wonten kedadosan ingkang nganeh-anehi. Ingatasing peksi emprit ing wantji tengah dalu, kok mentjok ing pundhak kiwanipun. Punika genah sanes sabaenipun peksi, mesthi badhe wonten kedadosan-kedadosan ingkang elok. Ing salebeting tijas Djaka Lawung anggraita: “Iki kok ndadak ana kedadean aneh maneh, ingatase manuk emprit ing wajah bengi kathik tengah wengi sisan, wani mentjok ing bau kiwaku, iki genah ana apa-apa kaja dene pengalaman kang uwis-uwis”. Wusana pepuntening batos ladjeng kepengin ndangu dhateng pun emprit kala wau. Dhawuhipun mekaten: “E, emprit iki kok elek banget, ingatase kowe mung asipat manuk, kok wani mentjok ing bauku kang kiwa, kang sedjatine aku iki lagi nengah-nengahi pakarjaning pasemeden. Apa kowe ja bisa tata djanma, mara terangna kang tjetha”. Peksi emprit: “E, kowe lali ngger karo aku, nanging ja wus sakmesthine, lha wong njatane aku saiki saling wewudjudan. Mangertia ngger, sedjatine aku iki rak ja wong ngatuwamu dhewe ta. Elinga dhek djaman kala samana, nalikane ibumu keplaju-plaju nganti tekan ing sakngisoring gunung Lawu kang kapara rada sisih lor, ing kono ibumu rak mampir ana ing sawidjining omahing mbok randha, kang aran mbok Saraagi ta. Dene djalarane ibumu nganti keplaju kuwi mung merga saka pokale si Darmawangsa. Mula ngger, kowe ngugua karo omongku, sedjatine kowe rak wus tak jasakake kedhaton kang gedhe banget ana ing tengah-tengahe Bengawan Brantas, ja kuwi nalikane kowe ngaso bijen kae. Aku mung andjaga murih kepenakmu ing tembe mburi, mula tak djaluk kanthi banget kowe inggala andjegur ing bengawan Brantas kana, mengko ndak papag. Perlune kowe bisa djumeneng Nata Binathara kang ing pungkasane bakal bisa andhepani djagad, dadi ratu kadjen keringan”. Djaka Lawung: “Mengko ta dhisik, kuwi nalare keprije, ingatase kowe ki manuk, lha kok bisa tata djanma kathik ngaku wong tuwaku pisan, mara terangna kang tjetha”. Emprit: “We lha, rupane kowe isih durung mudheng wae marang kandhaku, aku rak wis omong ta, jen aku iki sedjatine rak ja ibumu dhewe kang wus swargi, ja saiki iki aku awudjud emprit kang dadi jitmane ibumu. Mulane adja kesuwen mengko mundhak selak ora karu-karuan kedadeane. Wis ja, mung welingku bae inggal tindakna, andjegura ing tengahing bengawan Brantas, aku wus sumadija ing kana. Aku tak budhal andhisiki”. Djaka Lawung: “Ija,, mengko inggal-inggal taklakonane.”. Katjarios Prabu Brawidjaja I ingkang sampun swargi, sampun dumunung wonten ing Hasta Warana, papan ingkang wijar, omber lan bawera. Mboten kewran mirsani kawontenan ingkang mekaten kala wau. Djalaran priksa sedaja kawontenan ingkang sampun lan ingkang dereng kedadosan. Nering penggalih dereng saged negakaken dhateng ingkang putra. Pramila pandjenenganipun sanalika tumurun njelaki ingkang putra, kanthi paring sabda mekaten: “Ngger Djaka Lawung, teka kebangeten temen, durung sepira suwene ingsun paring dhawuh marang sira, poma di poma sing ngati-ati, djebul lagi kena omonge si emprit bae wis kelu, kepikut, tandha jekti jen sira durung mumpuni anggonira nindakake pamesu bratanira. Isih gampang ginodha dening sapa bae, kang ateges sira durung anduweni prajitna, ja kuwi durung nganggo wewaton PANTJA WEDHA. Mangertija ngger, jen sedjatine kang awudjud emprit iki mau dudu wong atuwamu, nanging kuwi jitmane si Djaja Katiwang. Elinga dhek nalikane sira isih djedjaka, dhemen ambebedhag, sira rak wus tau tate djemparing ajam wana kang wusana bisa kena, ing kono getihe si ajam wana nganti amber ambalabar, bisane sat marga sira dhewe kang nambak. Ing sakwise bandjur ana swara, ngaku jen sedjatine kuwi jitmane si Djaja Katiwang. Nganti sira ngojak-ojak tekan sakwetane bengawan Madijun. Mula ngger adja sira gampang utawa kelu marang gebjaring kahanan, kuwi mono mung wudjud pengitjuk-itjuk, supaja sira lena, ing wekasan badhar pamesunira. Wis ja ngger, sing ngati-ati, Rama bakal kundur.” Sakontjating ramanipun saking panduluning pamesu bratanipun Djaka Lawung, ing wusana ladjeng gumregah wungu saking anggenipun mesu raga, ing salebeting tijas namung tansah angrumaosi, bilih tumindakipun taksih tansah dereng tumata, dereng titis, tandha jekti taksih gampil ginodha ing kawontenan sanes, ingkang sedajanipun namung badhe andjelemprengaken kemawon. Ingkang mekaten wau ing salebeting penggalih sanget matur nuwun dhateng ingkang rama dene kok tansah kadjangkung, kapirsanan, anggenipun tansah tumindak kirang leres wau. Ugi ngrumaosi bilih anggenipun talak brata dereng sampurna, lan kedah saja dipun prajitnani, sageda anggenipun mesu brata inggal katarimah ing Djawata, sarta sedaja kalepatanipun inggala saged kalebur sadaja. Ing wusana nering tjipta menawi sedaja sampun sami resik, wusana badhe djumeneng Nalendra Pandhita ingkang sidik ing kawruhing budhi. Sesampunipun Djaka Lawung saja mantep, madhep anggenipun sumedija nindakaken pamesubratanipun, awit rumaos saja padhang, saja terwatja, saja gamblang lampahing kawontenan ing Djagad gumelar punika. Nering sedija mboten badhe keguh utawi kelu sarta kepintjut dhateng gebijaring kawontenan, sarta mboten balereng mirsani soroting Hijang Bagaskara, namung tansah kondjem ing bantala, sumungkem wonten ngersaning Hijang Bagas Puruwa, nindakaken sedaja dhawuhing rama ibu ingkang njata-njata tumudju dhateng kaluhuran djati. Wekasan sanget andadosaken kedjoting penggalih, dene sareng mirsani angganipun, pulih duk ing nguni, kados nalikanipun dereng wudjud denawa, inggih punika wudjud Djaka Lawung ingkang bagus ing rupi. Ewahing rerupen kala wau mertandhani, bilih dajaning angkara murka ingkang tumumplek ing angganipun Djaka Lawung sampun sirna sedajanipun, ingkang wonten namung sutji, resik, padhang suminar, amargi sedija ingkang sampun kawetja wau. Inggih mekaten punika wohing lampah ingkang tumudju dhateng kaluhuran djati, mboten maelu dhateng kelahiran. Wudjuding satrija anggambaraken sipating kautaman, dene wudjuding denawa anggambaraken sipating Angkara Murka. Mangkana ta wau, bawane Nalendra kang sampun gentur tapane, mahanani tjahja gumebjar ing saknginggiling redi Ardjuna, lir soroting Hijang Tjandra ingkang badhe midjil saking lengkehing bawana. Sumilak sumamburat ngebaki dirgantara. Kathah ingkang samia arerepen, kathah ingkang samia amemuhun, mratjihnani wonten ndaru ingkang lumengser saking gedhong kaendran, andhawahi redi Ardjuna. Gotheking ngakathah sami suka-suka pari suka, bilih badhe wonten Pandhita Nalendra, ingkang badhe adamel kuntjarining negari miwah kawula. Tjahja saja dangu saja katingal sirna, wekasan sirna babar pisan. Sinten ta ingkang nampi pulunging pandhita ? Sak sirnaning tjahja, ingkang lagija teteki ing putjuking arga Ardjuna, inggih Prabu Brawidjaja kaping II ugi peparab Djaka Lawung, karawuhan satunggaling begawan ingkang sampun ketingal sepuh, ketingal mesem gumudjeng, sedaja polahipun tansah adamel renaning sanes. Glomah-glameh pangandikanipun, nanging mranani, mertandhani begawan ingkang pantjen sampun kawisudha bontos ing kawruh budhi menggah ngelmu dalasan lakunipun. Ing wusana begawan sepuh ladjeng ngendika : “Ngger Djaka Lawung, ingsun rawuh ngger, mara prajogakna lenggahira, adja sira kleru ing panampa lan uga sira adja kagungan raos adjrih, ingsun mene ja Ejangira dhewe djare. Kira-kira sira lali marang ingsun, awit ja mangkene kuwi kahanan ing donja, bisane mung tansah gawe lali, nanging arang-arang bisa gawe eling. Mula rawuhingsun iki kepengin gawe eling marang sira. Mangertia ngger jen ingsun iki sedjatine ja Hijang Bagas Puruwa kang bakal paring wangsit marang djeneng sira, kang lagija teteki sak perlu njuwun ngapura sekabehing kaluputanira. Miturut tata lahir kaja-kaja ora tinemu ing akal jen ta ingsun ing wektu dina samengko bisa wawan sabda kelawan djeneng sira. Mangertia ngger, kedjaba ingsun iki ja Hijang Bagas Puruwa, nanging ja emuta, nalikane sira isih ana ing sakdjeroning kandhungane ibunira, ingsun ja wus ana ing kono ngger, adjedjuluk Begawan Manik Sidhi, mula ingsun iki ja kena diarani Begawan Manik Sidhi. Elinga nalika isih djumeneng ana ing sadjeroning kandhungan, sira wikan, waskitha, witjaksana, djalaran durung ketaman ing kahanan kelahiran, ja kahanan kang tansah gawe lalinira wau. Sira wis bisa mangerteni marang sekabehing kahanan kang sira lakoni ing mbesuke, lan sira ja wus mangerteni asal mulanira kabeh, nanging bareng sira wus mijos saka guwa garbane ibunira, bandjur salin slaga, awit anggonira mojos mau metu sawidjining marga kang ala dinulu, ja kuwi kang aran Marga Sara Ina. Bareng sira wus wiwit lelumban ing madijaning djagad gumelar, apa maneh marang asalira, marang marganira kang lagi diliwati bae wis kesupen kabeh. Mula ngger, poma dipoma tansah elinga marang mula bukanira, marganira lan sakpanunggale, kanggo gegondhelan aja sira kongsi gampang ketaman bebendune ejangira dhewe, ja kuwi ingsun iki, djalaran babar pisan sira nglalekake, dadi kang tjetha sakiki ja ngger, jen ingsun iki sedjatine ja djeneng sira pribadi nalikane sira isih lenggah ing madijaning kesutjen, ja alam purwaka. Tjethane jen ingsun iki ja sira, ateges ingsun sumimpen ana ing sira, ateges ingsun sumingid ana ing sira, ateges ingsun njamadi marang sira, ateges ingsun nguripi marang sira, ateges ingsun kang agawe kekuatan marang sira, lan ateges pribadiningsun, ja pribadinira. Mula saka kuwi ngger, elinga sira marang ingsun, uga ingsun tansah makarti tumrap sira. Jen sira lali, ateges datan maelu marang ingsun, ingsun mesthi bae ora saged tumindak, djalaran katutup dening pakartining kuwadhaganira. Dene kuwadhaganira dipandhegani si Lokaprana, ja kuwi kang tansah ngaling-ngalingi sira, jen ta sira kepengin emut marang ingsun. Kang mangkono mau jen sira wus widjang-widjang panampanira, kaja samubarang lir wus ora bakal tumpang suh ja senadijan ngenani djagad gumelar apadene ngenani bawana setranira dhewe, kanggo saiki ja kanggo ing mbesuke, jen sira wus tumeka ing djandji bisaa bali, kaja dene Tapaking Garuda Jeksa kang sinamber gelap, sirna sakpandurat lir katijup ing maruta sakethi.. Semene dhisik ngger, poma tansah EMUT.” Djaka Lawung: “Kandjeng Ejang Begawan, sareng ingkang wajah nampi wedjangan sawatawis saking pandjenenganipun Ejang, kados siniram toja gesang raosing manah, kenging kawastanan, kalis saking sedaja rubeda. Pramila namung sagung pangaksami ingkang tansah kula suwun, kersaa Ejang paring sih kawelasan dhateng djasat kula, ingkang namung tansah katutup ing warananing gumelar, nilar dhawuhing rama ibu. Punapa dene sareng Ejang andhawuhaken, bilih inggih Ejang punika djasat kula, nalika kula taksih wonten ing guwa garbaning ibu, nindakaken tapa, kenging kawastanan mboten tumama ing bentjana, mboten ketaman gebijaring kelahiran ing wusana sareng kula midjil saking wewengkoning ibu ing wekasan kula tumindak mboten sakmesthinipun, ingkang ateges namung tansah ngumbar ubaling pantjadrija, kesupen dhateng duk asal kula, lan dhateng pundi purug kula ing bendjingipun.” Begawan Manik Sidhi: “Wis ora maido ngger, apa maneh sira kang pantjen durung titi wantji ngawruhi sedjatining kahanan, ja kahanan ing nalika semana apa dene kahanan ing mbesuke, selagine para djanma kang ngrumangsani wus bontos mungguh ing kawruh sangkan paraning dumadi bae isih akeh kang padha nglenggana, amarga pantjen durung pinareng lan antuk wangsiting Hijang Sasangka Djati. Maknane ja saka pepadange dhewe kang ateges pribadi, ja kang den arani gurunira sedjati. Ja amarga saka kahanan kang mangkono mau ingsun kepara wani rawuh andhisiki ana ngersanira, djer kabeh mau wus katata, katiti lan ora ana barang kang luput saka sedijane, sakuger kabeh ditindakake kanthi temen-temen lan djudjur. Mula saka kuwi ngger, pamundhutingsun, adja sira gampang mitajani marang rembuge sapa bae, kang nyata-nyata durung bisa minangkani, apa ta sedjatine kang diarani Guru Sedjati kuwi. Mangka ing wektu dina saiki, kaja sira wus bisa wawan sabda karo Guru Sedjati, ora lija ja ingsun pribadi iki, ateges ja pribadinira dhewe. Kanggo kagambarake dhek nalikane sira isih djumeneng ing sadjeroning guwa garbaning ibunira.” Djaka Lawung: “Saja padhang raosing manah kula Ejang sareng tampi dhawuh punika wau. Kepareng ingkang wajah ladjeng njuwun priksa kados pundi ing saknjataning gumelar punika, lan kados pundi tumrap ing wekdal sakpunika, punapa inggih namung kedah mekaten kemawon, ingatasing kula punika anggadhahi kuwadjiban mengku negari dalasan sak-isinipun, ingkang ing wekdal sapunika kula pasrahaken dhateng dimas Minak Pijungan. Awit saksirnaning rama ibu ingkang sampun swargi, paring piweling, menawi bendjingipun negari Madjapait punika badhe angalami kawontenan ingkang sakelangkung awrat sanggenipun, ingkang wosipun supados kula waspada sedaja tindak tanduk kula.” Begawan Manik Sidhi: “Ngger, bener banget pitakenira iku. Mula ngger sedjatine dhek nalikane sira isih djumeneng ana ing guwa garbaning ibunira, kabeh mau wus kawetja, tandha jektine ingsun ing wektu dina iki bisa anggelar sakabehing kahananira dhek samana, wong sedjatine sira ing kala samana ja ingsun iki, dadi kabeh iki wus katata lan katiti, marga saka kawitjaksanira ing dhek djaman kala sama, ja ateges kawitjaksananingsun ing sak-iki iki. Bab pangembataning pradja sedjatine ora kepareng sira aturake tumrap marang ingsun, djalaran tundone bandjur tumudju marang gebijaring kelahiran. Ewa semono jen pantjen temen-temen kabeh iku mau ora mung kanggo keperluanira dhewe, kaja dhek nalikane sira isih ngasta pusaraning pradja, Ejang ija mrajogakake. Mangertia ngger, anggenira nindakake tapa brata seprana-seprene kae kudu katudjokake marang kabeh para kawula, utawa ing besuk jen wus tumeka redjaning djaman. Mula saka kuwi ngger piwelingingsun, sakpungkuringsun iki mengko, sira kepareng nilar putjuking gunung Ardjuna kene, lan andjudjuga ing sadjeroning dhatulaja Madjapait, nemonana adinira si Minak Pijungan. Sira wadjib mendha-mendha kaja wong miskin kang panggaweane mung andjedjaluk. Ing wusana kanggo mangerteni lan andjadjagi sepira saktemene penggalihe adinira lan keprije pangrengkuhe. Jen pantjen adinira apik tengkepe lan pangrengkuhe marang sira lan mangerteni sedjatine sira kuwi sapa, wusana bandjur mundhuta pamit, dene bab ruwet rentenging negara tetep pasrahna marang adinira. Nanging jen pangrengkuh kuwi mau nganggo tjara kang deksura, dakwenang utawa munasika, kersaa sira bandjur gawe ontran-ontran. Mundhuta siti sak-gegem, bandjur sabdanen dadi kentjana. Ing kono sira bandjur njenjuwun marang Hijang Bagas Puruwa, supaja pengagem tjara Nelendra, kaja nalikane sira djumeneng bijen. Jen Minak Pijungan wus ngrumangsani kaluputane, negara apa dene isen-isene kabeh pasrahna, nanging mawa perdjandjen, adja kongsi negara kapasrahake marang putrane Minak Pijungan, awit putrane Minak Pijungan ora anduweni wenang mangku negara Madjapait, dene kang wenang ja putranira dhewe. Bab srah-srahaning pradja ngenteni jen putranira wus midjil saka garwanira padmi.” Djaka Lawung: “Nalaripun kados pundi Ejang, djalaran ngantos wekdal sapunika ingkang wajah dereng anggadhahi garwa utami padmi.” Begawan Manik Sidhi: “Ngene ngger, jen sira wus masrahake negara marang adinira, sira kudu djengkar saka kedhaton, lakunira ngidul terus mangulan bener. Jen sira wus tumeka ing sakwetane gunung Lawu, ing kono sira bakal mirsani ana sela gedhe nanging rata, lan ing kono ana tjarakan Djawa, tinggalane Ejangira dhewe kang aran Begawan utawa Empu Galihan. Ja marga anggonira bisa matja tjaraka mau, ateges sira wus mangerteni marang asal mulanira apa dene marang paranira. Sakwise sira bandjur djumeneng ana ing sak tjedhaking sela kono, dadi Pandhita Nalendra adjedjuluk Begawan Dwiasmara. Tetekia kongsi djangkep sapta warsa lan adja sira kundur jen durung pepanggihan karo Pandhita Wanodija kang asma Resi Trembini. Ja Resi Trembini kuwi kang bakal dadi garwanira. Dene asma kang saktemene ja kuwi Dewi Lawung Wati Sri Wardani. Ja ing kono sira bakal kagungan putra kakung gumanti keprabon Madjapait, kang aran Raden Prijangga Lawung. Dene Dewi Lawungwati Sri Wardani kuwi putri saka negara Djenggala kang kebhedhah dening Djaja Katiwang dhek djaman kala samana. Nanging mangertija jen Dewi Lawungwati Sriwardani kuwi juswane kira-kira ja wus sepuh, nanging ja ing kono si Prijangga Lawung bakal mretapa, tjalon djumeneng nata Madjapait Prabu Hajam Wuruk, ja Prabu Brawidjaja Kalamurti Tjakrabuwana kang kaping IV.” Djaka Lawung: “Sesampunipun mekaten ladjeng kados pundi Ejang, punapa ingkang wajah tetep wonten pertapan ?” Begawan Manik Sidhi: “We lha ora ngger, sira lan garwanira kudu wani tumindak kaja dene kawula tjilik, idhep-idhep mirsani keprije sedjatine kahanan negara kuwi, sira kudu laku tetanen, ngupakara tanem tuwuh, utawa kasile bandjur diedol menjang negara. Anggone ngedol ana ing sadjerone pasar, ja garwanira sing nggendhong, lha sira dewe sing njunggi, sarta ana ing dalemira kudu tlaten ngopeni sato iwen, upamane pitik, bebek, menthog lan lija-lijane. Dadi tjekak tjukupe kudu bisa urip kaja dene wong tani kae. Ing kono babar pisan sira ora kepareng ngatonanke jen sira mono sedjatine Nalendra. Jen ing wajah bengi sing wadjib mulang-muruk bab tjarakan Djawa marang sapa bae, utawa kabeh ija uga bab kawruh sangkan paraning dumadi. Djer mengko kena kanggo pantjadan sira djumeneng nalendra kang witjaksana ambek adil paramarta, asih ing sesamaning dumadi. Bisa angrasakake keprije dadi kawula kuwi, dadi ora mung waton paring dhawuh thok bae.” Saka panuwune Ejang, sira adhedhukuh ing pedhukuhan kang diarani Madjalangu, kang ora adoh saka Talok Langu, ja kuwi ngger sedjatine kang aran Negara Madjapait, asal saka padhukuhan kang sira dunungi mau. Dene madja ateges manunggaling djagad, pait tegese paekaning tumitah kang tjidra. Dadi ing mbesuke Negaranira bakal rusak marga saka pokale turunira dhewe, nanging ing titi mangsa kala bakal mudjudake Negara kang bisa agawe manunggaling djagad, kaloka kadjana prija, kondhang ing Bawana mantja. Ja ing kono negaranira bakal dadi negara gedhe kang katelu lan anduweni tjahja kang sumorot madhanigi ngawijat. Ing sakwise mamgkono sira kudu wani nandur empon-empon tolaking wong sak Negara, dene papan kang betjik ing tlatah wetan, ja kuwi ing sakwetane Semeru. Ing kana sira bakal kagungan garwa ampejan asma Dewi Wiraksini Prabawulan. Wus samene bae ngger piwelingingsun, lan inggal ajatana adja kongsi katalompen, lan sakpungkuringsun terus tindaka mlebu marang dhatulaja.” Djaka Lawung: “Sanget kapundhi dhawuh pengandikanipun Ejang lan ingkang wajah namung tansah njuwun tambahing pangestu, pinaringan kijat lan emut, sarta mboten badhe tumpang suh anggen kula nindakaken”. Sakpandurat Begawan Manik Sidhi sampun mboten katingal ing pandulu, mlebet ing madijaning Guwalajanipun Djaka Lawung. Saja adamel teguh sedijaning Djaka Lawung anggenipun badhe nindhakaken pakarjan utami kalawau. Wekasan Djaka Lawung ugi mandhap saking petapan redi Ardjuna, terus ngener dhateng kedhaton negari Madjapait, Kanthi mengagem ingkang sarwa rompang-ramping, tumindak kados dene tijang ngemis, terus mandjing ing salebeting dhatulaja. Kaleresan Sang Nalendra inggih Minak Pijungan pinudju lenggah ingadhep andher para abdi dalem seba tjaos, ngendikan bab anggenipun ngasta pusaraning pradja. Ketingal rena ing penggalih, katandha anggenipun ngendika kinanthenan gudjeng ingkang renjah, adamel renaning para ingkang sami seba tjaos. Dereng dangu anggenipun sami imbal watjana, katungka sowanipun abdi dalem djagi, ngaturi uninga bilih ing srambining dhatulaja wonten satunggaling tijang ngemis ingkang kepengin mundjuk atur ing ngersaning nata. Sang Nalendra marengaken supados tijang ngemis wau sowan ing ngarsa nata. Sareng sampun katingal sowan, sanget andadosaken dukaning ingkang Sinuhun, teka wudjudipun tijang ngemis kemawon udjug-udjug wantun lenggah ing kursi andjadjari ingkang Sinuhun. Sang Nata ladjeng utusan abdidalem supados tijang ngemis kalarak medal pinaringan pidana sakmurwatipun. Nanging sareng tijang ngemis badhe kalarak ladjeng njirnani, ing wusana adamel ontran-ontan, mundhut siti sakgegem, pinudja dados kentjana. Wusana Sang Prabu kepareng nimbali tijang ngemis wau, sanget kedjotipun malih, bilih sirna wudjuding tijang ngemis, nanging gantos wudjud ingkang raka, inggih Sang Prabu Brawidjaja kaping II, ngagem busana kanalendran. Dhawuhipun Sang Prabu (Brawidjaja II): “Jaji Prabu, durung sapira lawase sira ngasta pusaraning pradja djumeneng nata wus tumindak sija marang sakpadha-padhaning tumitah. Ja kebeneran iku kang mandjilma djenengingsun pribadi, upamane wong ngemis temenan, kira-kira ja sira patrapi paukuman, senadijan wong ngemis iku tanpa dosa lan perkara, mung marga saka wani lungguh kursi djadjar sira. Kang mengkono mau jaji, andadekna ing pangeling-elingira ing salawas-lawase”. Minak Pijungan: “Dhuh kakangmas, pantjen ingkang raji kirang waspada, mertandhani bilih ingkang raji dereng saged djumeneng nata gung binathara, ingkang mekaten kala wau prajoginipun sedaja panguwaosing ratu kula kunduraken ing ngersa paduka kakangmas. Dene sedaja kalepatanipun ingkang raji,kersaa paring gunging pangaksami”. Sang Prabu: “Wus ora dadi ngapa jaji, jen tumindakingsun iku sedjatine kanggo andjadjagi penggalihira, wus kuwat apa durung djumeneng Nalendra, nanging sepisan iki ora dadi baja pengapaa, muga-muga ing sateruse adja kongsi sira ambaleni maneh tumindak kang keleru mau. Dene bab pradja tetap ingsun pasrahake marang sira. Nanging poma dipoma, adja kongsi dipasrahake sapa bae jen ingsun durung kundur, djalaran mangertia jaji, jen kang andarbeni wenang nglengser keprabon ing mbesuke dudu saka turasira, nanging midjil saka turasingsun”. Minak Pijungan: “Nuwun dhawuh sendika kakangmas. Sedaja badhe kula estokaken, ladjeng kakangmas badhe ngersakaken djengkar negari malih punika nalaripun kados pundi, sarta tindakipun dhateng pundi utawi pinten warsa dangunipun ?”. Sang Prabu: “Bab djengkaringsun sira ora perlu mangerteni, kabeh mau dadi reregemaningsun. Wus jaji, karia slamet basuki tumeka ing besuke”. Sang Prabu Brawidjaja kaping II inggih Djaka Lawung kanthi mengagem tjara limrah terus ontjat saking dhatulaja, tindakipun ngener redi Lawu ingkang sisih wetan. mboten Katjarios tindakipun ing samadijaning marga Djaka Lawung andhedherek dhawuhipun Begawan Manik Sidhi, terus andjedjak ing papan ingkang sampun kapratelakaken dening Begawan Manik Sidhi kasebat, inggih punika njata wonten ing lelengkehing redi Lawu ingkang sisih wetan, katingal sela ageng wradin. Inggal-inggal Djaka Lawung minggah dhateng sela kala wau, sareng sampun dumugi ing nginggil, pranjata wonten seratanipun Djawa Kina, inggih punika ingkang sinebat Tjarakan Djawa. Djaka Lawung sakelangkung ngunguning penggalih mirsani tjarakan Djawa kala wau kalijan ngumandika, iki bandjur keprije tjarane aku bisa matja. mboten dangu Begawan Manik Sidhi sampun katingal rawuh ing ngersaning sinatrija, ladjeng paring pitedah bab pemaosing tjarakan Djawa wau, dhawuhira: “Ngger Djaka Lawung, tumungkula ngger, lan rungokna dhawuhingsun tumrap pematjaning tjarakan iki: “Hingsun Nitahake Tjahja Rasa Karsa” “Dumadi Titising Sarira Wandija Laksana” “Pantya Dhawuhing Djagad Jekti Ngawidji” “Marmane Gantya Binuka Thukul ing Ngakasa” Kuwi ngono anggambarake kahanan ingsun apadene sira dhek djaman kala samana, sakdurunge mawudjud kaja ngene ini. Mungguh keterangane mangkene: Hingsun kuwi katjekak Ha, tegese ana, wudjud, wiwitan, ja kuwi kang den sebut Hijang Bagas Puruwa, lenggahe ana ing alam Puruwa, ya alam Wasana, kena diarani Sirna nanging Neka, utawa datan kena kinaja ngapa. Nitahake, jen katjekak Na tegese, ndhawuhake, njabda, nganakake, andjumenengake, mudjudake. Dadi Hijang Bagas Puruwa wus andhawuhake. Tjahja, jen katjekak Tja tegese, Sorot, pepadhang, sunar kang tanpa wewajangan. Ja kuwi tjahjaning Hijang Bagas Puruwa pribadi. Rasa, jen katjekak Ra tegese, ja rasane Hijang Bagas Puruwa pribadi kang wus kadhawuhake utawa katitahake. Karsa, jen katjekak Ka tegese karep, ja karepe (karsane) Hijang Bagas Puruwa dhewe (pribadi). Dadi: HA, NA, TJA, RA, KA, tegese, Hijang Bagas Puruwa wus aparing dhawuh marang tjahja, rasa lan karsane pribadi, kang supaja tumitis utawa tumurun, tegese turun saka pribadine Hijang Bagas Puruwa dhewe. Dene Hijang Bagas Puruwa kuwi kena diarani Sang Hijang Huna, tegese Swara, Pangandika kang tanpa lesan. Dene lesan ing kene ateges piranti. Bandjur sakteruse : Dumadi, jen katjekak Da,tegese wis dadi, mawudjud, gatra wis ana, nanging wudjud utawa gatra kang isih samar. Tegese ora bisa dipirsani nganggo pirantining pantjadrija. Titising, jen ditjekak Ta, tegese tetesing sabda, dhawuh, pangadika mau. Sarira, jen ditjekak Sa, tegese Sarining Rasa, ja rasane Hijang Bagas Puruwa kasebut. Wandija, jen katjekak Wa, tegesa wahana kang winadi, utawa wola-wali (ora mung sepisan), dadi wahana kang winadi kuwi sedjatine ja kang diarani ora mung sepisan kuwi. Laksana, jen katjekak La, tegese tumindak utawa ditindakake, lumaris, lumaku, makarti. Ja marga pakarti, tumindak lan laku mau, bandjur bisa mawudjud wela-wela. Dadi: DA, TA, SA, WA, LA, tegese Ana Tetesing Rasa Kang Wola-Wali Pakartine, tjetha jen kabeh kuwi ora mung sepisan gawe, kang ateges marambah-rambah nganti kena diarani datan ana pedhote, utawa langgeng, tetep, adjeg, kaja dene getere djedjantungira. Pantya, jen katjekak Pa, tegese papan, wadhah, panggonan, bolongan, guwa, utawi sipat. Dhawuhing, jen katjekak Dha, tegese perintahe, pakone, kongkonane, utusane. Djagad, jen katjekak Dja, tegese djagad, bumi, bawana, kelaswara, tijambita, wewengkon, ringkese diarani panguwasa. Jekti, jen katjekak Ja, tegese sajekti, sedjati, temenan, ora goroh, sampurna, pepak, djangkep ora kurang. Ngawidji, jen katjekak Nga, tegese manunggal, kumpul, ora pisah, samad sinamadan, limput linimputan. Dadi: PA, DHA, DJA, JA, NJA, anduweni teges: Wadhah Kanggo Papane Dhawuh Kang Wus Manunggal Kalawan Bumi, tegese wadhah lan isine ora bisa pisah, utawa sing andhawuhi lan sing diparingi dhawuh wus njawidji (manunggal). Marmane, jen katjekak Ma, tegese mulane, sanjatane, akibate, kedadeane. Gantya, jen katjekak Ga, tegese ganti, berobah, ewah sipate, owah wewudjudane, owah kahanane. Binuka, jen katjekak Ba, tegese kabukak, menga, diweruhi, kaweruhan, katon, mangerti, karasa, kasat ing mata. Thukul ing, jen katjekak Tha, tegese wutuh, semi, modot, berobah saka asale, pindhah saka papane. Ngakasa, jen katjekak Nga, tegese ngawijat, dirgantara, awang-awang, ndhuwur, ngantariksa. Dadi: MA, GA, BA, THA, NGA anduweni teges: Mulane Bandjur Owah Wewudjudane lan Bandjur Thukul Ing Awang-awang, tegese ana nanging durung kasat mata, ja pirantine si pantjadrija. Semene ngger, luhuring tilarane ejangira dhewe ja Empu Galihan, anggone paring tetilaran marang putra wajahe, kedjaba bakal kena kanggo sesambungane pangandikan tumrap sidji lan sidjine, djebul ngemu surasa nalika sira isih ana ing djaman ketentreman, ja djaman kang wiwitan. Kawruh iku mau sedjatine durung tutug, djalaran kedjaba ana aksara Djawa, uga ana sandhangan, tegese sakwise sira bleger awudjud kaja saiki iki bisa njandhang, ngrasakake. Dadi sandhangan dudu panggango, nanging Rasane. Tjatjahe sandhangan iku mau ana 12 idji, dene aksarane ana 20, mulane aksara Djawa iku kabeh ana 32. Telu ateges asalira, rasaning bapa, rasaning bijung lan titising Hijang Djagad Pratingkah, dene loro kuwi tegese wadhah lan isine. Kawruh kang kaja mangkene iki sebarna marang kabeh para kawula, kareben padha mangerti marang asale dhewe-dhewe, kang ateges ora gampang ngumbar hardaning kamurkan. Kaja wus tjukup samene ngger piwelingingsun bab tilarane ejangira Empu Galihan, wus ngger karia basuki”. Saknalika Begawan Manik Sidhi enja saking pandulu, dene Djaka Lawung saja mantep, madhep lan rumaos rena sanget panggalihipun, dene wonten kedadosan ingkang saged maringi pepadhang ngantos dumugi sakputra wajahipun sedaja bendjing ugi badhe sanget mangertosi, ingkang ateges mboten itjal larinipun. Pamesubratanipun kaladjengaken terus ngantos pinten-pinten warsa. Ing ngriku Djaka Lawung djumeneng Pandhita Nalendra, adjedjuluk Pandhita Dwiasmara, ugi Pandhita Katong. mboten karontje kawontenanipun Sang Pandhita, anudju ing satunggaling dinten, Sang Pandhita lenggah ing srambining Sanggar Palanggatan, ingadhep sedaja para tjantrik, ingkang karembag inggih namun tambahing kawruh budhi, ingkang tumudju dhateng kaluhuran djati. Dereng dangu anggenipun sami asung pangandika, katungka aturipun tjantrik, bilih ing ndjawi wonten satunggaling wanodija ingkang kepengin sowan ing ngarsa resi. Sang Pandhita ugi ladjeng marengaken. Sesampuning wanodija sowan, Sang Pandhita mundhut priksa: “Sampejan saking pundi mbakju, dene nami sampejan sinten, kok keraja-raja tekan padhepokan ngriki, napa baja wonten perlu.” Wanodija: “Inggih Sang Pandhita, kula punika asal saking negari Djenggala, ladjeng kepladjeng nalika negari Djenggala binedhah dening Ratu Angkara, ingkang nama Prabu Djaja Katiwang. Sampun dangu anggen kula ngumbara kalunta-lunta, perlu ngangsu kawruh Kejaten, inggih kawruh kasunjatan. Ing wusana salebeting kula ngumbara tanpa prana, mireng rawat-rawat bakul sinambi wara, bilih ing ngriki wonten pandhita kang sidik, asma Pandhita Dwiasmara, punapa inggih pandjenengan Sang Pandhita ? Dene peparab Kula Resi Lawung Wati, nami kula pijambak Lawung Wati Sri Wardani, putra ratu ing Djenggala duk samanten.” Sareng Sang Pandhita mireng aturipun wanodija kala wau, saknalika emut dhateng dhawuhing Begawan Manik Sidhi, menawi wanodija punika njata-njata tjalon garwanipun, pramila mboten saranta Sang Pandhita ladjeng aparing dhawuh kanthi trang terwatja: “Diadjeng, kaja wus tumeka ing titi wantji, jen sira bakal dadi tetimbanganingsun. Awit Hijang Bagas Puruwa wus paring uninga marang djeneng ingsun, jen sedjatine ja sira kuwi kang pantes ingsun garwa kinarja sarana margane ingsun adarbe turun tjalon gumanti keprabon ing negara Madjapait. Mula dhiadjeng, adja kongsi sira andarbeni pangira-ira kang ora bener, awit kabeh mau kaja wus kinarsakake mring Djawata, dadi jen pantjen sira kepengin njuwita ing padhepokan kene, kaja ja wus prajoga banget, malah sakwise iki sira bakal ingsun bojong tindak anjedhaki pradja, sakperlu mirsani kahananing negara, awit negara ing wektu dina samengko ingsun pasrahake marang adhiningsun si Minak Pijungan. Ing kana ingsun bakal andjudjug ing padhepokan Madjalangu lan ingsun wadjib agawe karang kitri, laku tetanen, sira mengkono uga dhiadjeng.” Wanodija: “Dhuh sang Pandhita, sanget andadosaken ngradatosing manah kula sareng nampi dhawuh pandjenengan ingkang kados mekaten punika. mboten kanjana-njana menawi kula badhe kedhawahan pulung ingkang tanpa upami agengipun, bebasan lumpuh kang saged lumaris. Sang pandhita, menawi pantjen Sang Pandhita sudi dhateng djasat kula, badhe anggarwa dhateng kula, punapa mboten getun ing pawingkingipun, awit Sang Pandhita katingal taksih mudha, ing mangka kula sampun sepuh kados mekaten wudjudipun, Sang Pandhita. Punapa malih sareng kula mireng, bilih Sang Pandhita punika Nalendra ing Madjapait, punapa inggih pantes menawi kula angrenggani keputren, kinarja garwa prameswari.” Sang Pandhita: “Wis ta dhiadjeng adja sira kakehan ing pangudasmara, djer kabeh kuwi wus kinarsakake ing Djawata, dadi ingsun apadene sira mung kari nindakake.” mboten katjarios Sang Pandhita kalijan Dewi Lawung Wati Sriwardani sampun sami sih-sinisihan, lir saklimrahing djanma, ing wusana sang Dewi sampun katingal anggarbini timur. Ing salebeting anggarbini kala wau, Sang Dewi sanget anggenipun kagungan pepinginan dhahar ulam ajam sawung, ingkang ulesipun wiring kuning tjampur wido djengger lan sukunipun pethak memplak. Panuwunipun dhateng ingkang garwa mboten kenging kaampah, kumetjer ngiler. Sang Pandhita mboten kirang weweka, sedaja panjuwunipun ingkang garwa inggal kaupadi, wekasan pikantuk satunggiling sawung tjeples ingkang dados panjuwunipun ingkang garwa. Sawung ladjeng kapragat, ulamipun kadhahar sedaja kanthi nikmating raos. Inggih sawung punika sedjatosipun ingkang badhe djumeneng wonten ing guwa garbaning Sang Dewi, ingkang ing tembe badhe mijos kakung tjalon gumantos Kepraboning negari Madjapait, adjedjuluk Raden Prijangga Lawung. Sang Pandhita ingkang tansah emut dhateng dhawuhing Begawan Manik Sidhi, sesampuning ingkang garwa anggarbini sawatawis tjandra, ladjeng kabojong dhateng padhepokan ing Madja Langu ing satjelakipun Negari Talek Langu, ing sisih ler kilenipun. Wonten ing padhepokan ngriku, Sang Pandhita inggal mbangun teki, jasa dalem sakmurwatipun, nindakaken tetanen, nginguh sato iwen, ingkang wosipun sedaja wau sami tumut amiturut dhawuhing Begawan Manik Sidhi. mboten katjarios Sang Dewi sampun ambabaraken putra kakung, bagus ing warni, kimplah-kimplah pindha tojaning tlaga Arga Sonja. Djabang baji senadijan saweg juswa 2 warsa, namung sampun katingal pamering ngaluhur, pantjen inggih trahing kesuma dhasar tedhaking mara tapa. Sang Bagus pinaringan asma Raden Prijangga Lawung. Kotjapa sareng Raden Prijangga Lawung sampun djangkep juswa 17 warsa, saja tjetha pamoripun, gumebijar mentjorong, mertandhani tjalon Nalendra Binathara. Remenipun namung tansah ulah kridaning dedamel, tetes, merak ati, ngabekti dhateng rama ibu, lembah manah, nanging kendel, datan adjrih dhateng punapa kemawon. Landheping panggraitanipun ngedab-edabi, persasat pirsa dhateng sedaja kawontenan, senadijan dereng winarah nanging dipun tresnani dhateng kantja-kantjanipun ing kiwa tengening padhepokan ngriku. Remen weweh dhateng sesami, asih lan andhap asor, ngertos dhateng susila, mboten ngluhur-ngluhuraken, tindakipun sami kemawon kalijan lare padhusunan, persasat mboten mantra-mantra menawi punika sedjatosipun putraning Nalendra. Ing wantji senggang ingkang rama kepareng nimbali ingkang putra, dhawuhipun: “Ngger Prijangga Lawung, sira ingsun paringi pirsa ngger, nanging adja kaget atinira, lan bandjur adja kegedhen ing rumangsa. Mengkene ngger, sedjatine wong atuwanira iku ja ingsun iki dudu kawula tani kang mengkene iki. Ingsun sedjatine Nalendra Madjapait. Kala samana nalika rama isih djumeneng, akeh banget penggodhane. Mula rama bandjur kepengin gesang kaja dene kawula ing nganti seprene. Dene negara ingsun pasrahake marang pamanira dhewe, ja kuwi si Pangeran Anom Minak Pijungan lan sakiki djumeneng Nalendra adjedjuluk Prabu Brawidjaja Kalamurti Tjakra Buwana kang kaping III. Dene ingsun wus paring dhawuh marang pamanira, adja kongsi negara dipasrahake marang sapa bae, jen ingsun durung kundur ngedhaton. Ing wusana wektu dina samengko kaja wus tumeka titi wantji ingsun andjabel panguwasane Minak Pijungan, djalaran ingsun wus rumangsa kagungan putra kang wenang nglenggahi dhamparing keprabon, ja kuwi sira ngger. Jen ingsun waspadakake, kaja sira wus andungkap diwasa, kaja wus pantes jen ta ngrenggani negara Madjapait. Mangertia ngger, sedjatine ibunira iku putri saka Djenggala, dadi wus pantes jen djumeneng prameswarining Nata. Mula sira ja wus wenang banget nglintir keprabon. Mula saka kuwi ngger, poma dipoma tansah sumungkema ing ejangira kang wus swargi, kang bakal andjangkung pangastanira djumeneng Nata ing pradja Madjapait.” Raden Prijangga Lawung: “Kandjeng Rama sesembahan kula, sanget ing pamundhi dhawuhipun rama, ingkang putra namung andhedherek sedaja dhawuh, mboten badhe ambadal kersa. Sedaja namung tansah sumarah ing ngarsa rama dalasan ibu, ingkang kula bekteni lahir trusing batos, inggih wakiling Hijang Bagas Puruwa.” Sang Pandhita lega sanget ing penggalihipun, dene ingkang putra tansah andherek dhawuning rama. Sang Pandhita paring dhawuh malih: “Nanging mangertia ngger, jen djumenengira dadi nalendra kuwi kudu ngenteni jen sira wus juswa 25 warsa, dadi kurang 8 warsa. Ing sadjeroning 8 warsa mau, kang 7 warsa anggonen ngulandara, lelana kang sakperlu ngudi kawruh budhi kang sedjati, anggladhi marang katijasaning sariranira, kudu wani pait getir, makarja kang abot, nindakake talak brata, pirsa marang kasengsaraning kawula, pirsa marang kawula kang dhemen nindakake djubrija, tjidra, durdjana lan kudu wani nanggulangi. Adja sira kundur jen sira durung ngleksanani pamundhute rama. Awit sira wadjib sudjana marang kedadean ing tembe mburi, emut marang anak turunira, andjaga katentremane djagad sak isine kabeh. Jen kurang sakwarsa djandji sira wus bisa ngleksanani pamundhute rama, sira kepareng kundur. Ing kono sira ingsun sengkakake ngaluhur djumeneng Adipati Anom. Dene bab jasa kraton ora perlu bojong menjang Talok Langu, tjukup padhukuhan kene bae kanggo kraton. Katimbang ngusir si Minak Pijungan mesakake, aluwung ingsun kang ngalah. Wis ngger djengkara saka kene, ingsun tunggu ing padhepokan kongsi sakrawuhira ngger. Ora liwat rama mung bisa paring pudja-pudji pangestu, rahaju, widada ing saklawas-lawase.” Raden Prijangga Lawung: “mboten langkung rama, ingkang putra namung njuwun tambahaing pangestu, tinebihna ing rubeda, tjinelakna ing karahajon. Sampun rama, sembah sungkem kundjuk ing ngersa rama miwah ibu.” Raden Prijangga Lawung nilar padhepokan sumedia nindakaken dhawuhing rama, dene Sang Pandhita miwah garwa sami nengga ingkang putra kanthi raos prihatos, sarta tansah njenjuwun ing Djawata, sageda ingkang putra tansah pinajungan karahajon. ral and Intangible Heritage of Humanity • Home • About • Museum • Pustaka • W.O.Bharata Kekawin Sutasoma 06 Mar 2010 Leave a Comment by wayang in Kitab & Kidung Karya Empu Tantular Ah naranya: vijil nin bdyu sanke sarlra, ah sabdanya, muksa rik sarlra, candrarüpa ikan sarlra ri muksa nin bdyu rin sarlra, saumyalilan ahënin ikan sarlra vëkasan, sdnta-candra naran ikd, sdnta-smrti naran vaneh. Ri hana nin smrti-sürya sdnta-candra dadi tak advaya-jndna. Patëmu nin advaya mvan advaya-jndna, ya tandadyakën Divarüpa, (b 42) avd sadd-kdla, ahënin nir-dvarana kadi te ja nin manik, apadan rahina sadd, sugandha tan gavai-gavai, surüpa tan gavai-gavai; surasa tan gavai-gavai sira katon denta. Ikan am ah yatikd sinangah sak hyan advaya naran ira, bapa sira de bhatdra hyan Buddha. Ikan jndna vruh tan vikalpa humidëk nir-dkdra, yatika sinangah san hyan advaya-jndna naran ira. San hyan advayajndna sira ta devï bhardlï Prajndpdramitd naran ira, sira ta ibu de bhatdra hyan Buddha. San hyan Divarüpa sira ta bhatdra hyan Buddha naran ira. Metre sragdhara Srï Bajrajndna sünyatmaka parama sirdnindya rin rat visesa, lila suddhdpratisthên hrdaya jayajayankën mahd-svarga-loka, eka-cchattrên sarïranhuripi sahana nin bhür bhuvah svah prakïrna, sdksat candrarka pürnadbhuta ri vijil iran sanka rin boddhi-citta. Singih yan siddha-yogïsvara vekas ira san sdtmya Idvan Bhatdra, sarva-jnamürti sünyaganal alit inucap musti nin dharma-tattva. Tantular, Sutasoma Kakavin 38.1—42.4. 38. Metre praharsinï 1. Satvendröraga tika mukya Hastivaktra, bhakty arianjali ri sira n narêndra-putra, kapvaminta vinarah in mahopadesa, dvaranun tuten in a-cintya-sünya-dharma. 2. Apan kveh i manah i san mahati-yogi, wanten nirmala-bhava moksakan ginön tvas, len tan tyaga pëjah anun yathêsta-dharma, panlingan nrpa-suta nasta mankya mülya. 3. Sansiptan lëvih ikanan paratra-marga, sankên moksaka ri hidëp patik nararya, dü bhagyadhika panucapta sadhu rin rat, adya nvaii majara masaksya san rësindra. 4. Sirigih linta parama-moksa-marga dibya, de nih rat kunan ika san mahati-vidvan, tan moksahga juga visesa-dharma-marga, matyasin saparaga nin kabodhisattvan. 5. Pöh nin sastra tëkap i san visesa-sadhu, yadyan panlëha suka yan parartha donya, durrlaksmyathava sugihêki tan vikalpa, mon matyahuripa lamun jagad-dhitartha. 6. Nhih têkan parama-nirasrayêki gönën, rin jfianadhika vëkas in maha-visesa, tan svargabhyudaya kitan panekacitta, yêkande sasar ikanan paratra-marga. 7. Toh ndyanun vivitan ike linanta manko, vidyadi-krama ginëlar tëkap Bhatara, dharmadharma tuvuh ikan samasta-bhümi, mati mvan mahurip aneka srsti nin wan. 8. Püja yoga japa samadhi dana punya, len têkah brata suci paksa Bhairavatva, salvirnyêii asubha-subha pravrtti rin rat, jnanavesa milu tumut punarbhavêka. 39. Metre sikharini 1. Kunan san wan nissreyasa sira tatan siddhi rin ulah, ndatan püja tan yoga rinëgëp iran nisbhava sada, luput sankên bhava-krama pati hurip tan panavara, apan saksat sankan paran ika sira-cintya-bhavana. 2. Sirêkadrëvya jnana tiga hurip in bhümi sahana, banun bhayên way tan milu banu sirên duhka suka len, gunanekalit tan lëga masëk in alvadbhuta tëmën, göh tan mopëk yan mafijih in ahët ikasüksma sumilib. 3. Kalïnanyêvëh san vinuvus i vuvus nin wan amuvus, apan rakvêki tan vënaii inubhayan pan sira mucap, siranon tan katon sira juga manon pan sira manon, adoh tan düra nke sira ta maparëk tan kaparëkan. 4. Yateka pinrih nin viku ri tëka nin dharma kapatin, savan kris sah sankên sarunan inunus tan kahavaran, tëkap nin trinyarok rva pinasah irên jnana vimala, vidagdhaninkab roma salaya tinut nin nirupama. 5. A-cintyanumpak rin taya matapakan bhaskara vulan, ika lvir san llnadhika sama lavan moksa-karana, nda sansiptan sin solaha juga lamun nirmala sada, prasiddhamor in tan hana kaluput in vahya-vibhava. 40. Metre 1. Nahan lin Jina-mürti majar i kadibyan in patipati, mvan tan moksaka-marga kempen i vuvus niran pavacana, ndan san Samajavaktra naga-pati satva-natha karuna, bhakty ananjali jöh niramalaku sih nirêki tulusa. 2. De nin yoga samadhi tan hana ri san nir-asraya-yati, nis tan marga visesa rakva ri hidëp patik nrpa-suta, siddhan yoga yan arddha liii nira nir-asrayêki kahidëp, nëm kvehnyadhika rin sivatva ya rënön mahottama tëmën, 3. Pratyahara naranya kalapan in indriyêka vinalat, sankên artha jugêka rakva makamarga buddhi vimala, nyan dhyanadhika dhïra yoga humidëp sva-sadhya mapagëh, nir-byamoha taman kasambi rin ulah prapanca satata. 4. Pranayama naranya bayu vinatëk marêii hulu tënah, sarva-dvara minëb tëkapnya tinut in visesa katëmu, omkara pranavêki murigu ri dalëm tvas arddha ya kasök, vet nin tattva Sivatva dharana naranya yoga saphala. 5. Len tan tarka naranya yoga gaganöpama n manah ava, hhih tan vak-dhara rakva len ika sakêrikan avanavan, mvan tan jnana vikalpa tarja malilan vi-sadhya pinëlën, nis-sandeha samadhi yoga panaranya moksa-karana. 6. Tandvan asta-gunan kapangiha tëkapnya rakva rumuhun, drsyadrsya vasitva rih bhuvana Rudra-mürti sa-kala, yekan bvat i manah nira n parama-santikarya nipuna, kempër yan rusit in jitêndriya juran niii ambëk ahajön. 7. Yapvan dhïra manah katungën ikanan sva-citta mabënër, tan kevö tëkap in trikaya vala siddhi sarva-karana, kevëh nin tri-gunatmakarddha ya huvus kasimpën amatëh, nka rakvan sira sünya-rüpa paramartha-tattva kahidëp. 41. Metre sardülavikrïdita 1. Nahan tinkah ikah Sivatva ri sira n Saiva-sva-paksadhika, bheda mvan Jina-tattva têki ri sira n Bauddhaprameyêh jagat, san hyan Hadvaya-yoga-sandhi pinakesti dvara san bhiksuka, arn ah sabda nikan sva-bayu ri dalëm kantha prasiddhafihayu. 2. Rep prapta n ravi soma denya sumaput rin deha suddhakrti, mvan tan Hadvaya-citta divya mapageh ftkanê manah nirnaya, pöh nin rvanupamati-sïghra ri vijil hyah Buddha tan kavaran, sünyakara divanga nir-mala siran nirbana nir-laksana. 3. Apan tan siva tan Mahesvara sira n tan Brahma tan Kesava, tan san hyah paramesthi Rudra tuduhën düran kavastvêrika, singih yan Paramartha-Buddha tëmahan san siddha-yogisvara, iccha nora kasansayaganal alit tan matra matrên jagat. 4. Nahan hetu bhatara Buddha kahidëp putraprameyên jagat, san hyah Hadvaya rama tattva nira de san panditanhayvani, Prajnaparimitêbu tan sah i sëdën nin yoga sanusmrti, tan ragodaya bhinna rakva kalavan hyah Durmukhên atmaja. 5. Mahka sïla nirêh mahayana vëkas nih Bodhisattvan laku, vet nih tattva visesa tan huniha rih Hastesvaranindita, yavat preksaka rakva tavat ikanah nissreyasêvëh pinet, nahan hetu ni sah Sivatva makadat muhsy amrihên sünyata. 42. Metre vasantatilaka 1. Sahsipta têki bapa sah Gajavaktrarüpa, mvah naga-raja karuhun vara-sattva-natha, prih hayva tan dugadugê vuvus in kadi hvah, Buddhopadesa tëka rih Siva-tattva-yoga. 2. Apan tivas juga sira h muni Bauddha-paksa, yan tan vruh ih parama-tattva-Sivatva-marga, mahka h munindra sah apaksa sivatva-yoga, yan tan vruh ih parama-tattva Jinatva-manda. 3. Na de nirahucapakën vacanöpadesa, tan lambalamba tuhu yan Jina-mürti saksat, Durvaktra naga-pati satva-pati pranamya, bhakty ati-bhakti manadah vacanati-guhya. 4. Sampun matêki ya kinon ira bhiksva vikva, yan ksetra sindhu giri sohgvanan ih mayoga, hhih tan pakarvana tapo-vana hayva mahka, yan mahkanêki gati sah viku Bauddha-paksa. Babad Caringan 06 Mar 2010 Leave a Comment by wayang in Kitab & Kidung Sebelas Sarasilah dan Babad Caringin Dengan rakhmat Tuhan Yang Maha Esa dan Atas nama Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang Semoga para leluhur memperoleh keselamatan dan anugerah dan semoga kami pantas untuk mengemban segala warisannya Sarasilah Caringin Ini adalah trah dan sarasilah para leluhur di kawasan Caringin yang sejarahnya telah mewarnai corak kehidupan di tempat ini dan kehadirannya dirasakan melalui pengucapan nama penuh hormat serta diketahui melalui segala petilasan peninggalan mereka Berbagai tokoh dan nama keturunan telah hadir di Caringin baik ulama maupun prajurit, orang saleh maupun jawara dari trah Kalijaga dan Ngampel Denta, juga dari darah agung Siliwangi dan tidak ketinggalan pula para pahlawan perkasa dari Mataram disertai dengan banyak para tokoh dari wetan lainnya Mereka semua telah meninggalkan jejaknya di Bumi Caringin yaitu jejak dan tapak yang pantas dipelihara dan diikuti Demikianlah kini akan diuraikan secara rapi berurutan para nenek moyang yang dahulu telah membuat sejarah di kecamatan ini. Dari trah Kalijaga datanglah Eyang Sapujagad, yaitu Kyai Langlangbuwana yang menikah dengan Setiyadiningsih atau Hadityaningsih yaitu putri yang di petilasan Cileungsi disebut Kembang Cempaka Putih dan pada petilasan Babakan diberi gelar Dewi Kembang Kuning maka kedua suami istri inilah yang telah menurunkan Kyai Elang Bangalan yang telah datang dan seterusnya menetap di daerah Lemah Duhur. Kemudian daripada itu Elang Bangalanpun menurunkan empat orang anak yang tertua adalah Arya Sancang di Garut-Pameungpeuk diikuti oleh Eyang Badigul Jaya Pancawati, Ayah Ursi Pancawati dan Eyang Ragil Pancawati maka ketiga anak yang lebih muda itu turut menjadi cikal bakal Caringin serta meninggalkan kenangan di Pasir Karamat yang diluhurkan. Anak tertua Eyang Badigul Jaya adalah Ayah Iming, yaitu Kyai Haji Sulaiman yang makamnya masih dapat ditemukan di Kebun Tajur Anak yang kedua dinamakan Umaenah, yaitu istri Eyang Ranggawulung atau Rangga Agung maka suaminya itulah yang menjadi leluhur di Cimande-Tarik Kolot Anak yang ketiga dinamakan Romiah yang dinikahi oleh Eyang Buyut Umang, yaitu sebagaimana ia disebut di Caringin, karena di Cinagara ia disebut Aki Degle adapun Eyang Buyut Umang itu adalah putra Ki Kastiwa, cucu Ki Kaswita, cicit Suwita, dan turunan pahlawan Jaka Sembung, yaitu suami Roijah gelar Bajing Ireng sedangkan Eyang Buyut Umang sendiri juga telah menurunkan dua orang anak, yaitu Aki Eming yang dipusarakan di makam Gede di Tonggoh dan Aki yang dipusarakan di Cipopokol Hilir, Pasir Muncang Selanjutnya, anak keempat Badigul Jaya adalah Samsiah, yang menikah dengan Aki Kartijan dan anak kelima adalah Amsiah yang menikah dengan Bayureksa yang disebut juga Reksabuwana, yaitu putra Radyaksa, cucu Jayadiningrat dari Mataram ialah pahlawan perkasa yang petilasannya terdapat di Tanjakan Ciherang maka Bayureksa dan Amsiah menurunkan Ki Ranggagading dan Ki Kumpi yang kedua-duanya dimakamkan di kawasan Cigintung-Caringin Akhirnya, anak kelima Aki Badigul Jaya adalah ibu Esah, yang menikah dengan Aki Bangala yaitu putra Aki Jepra atau Ki Kartaran, dan cucu Aki Kahir, tokoh dunia persilatan. Selanjutnya, dari trah Raden Rakhmatullah Sunan Ngampel Denta diturunkanlah Ki Karmagada yang menurunkan Ki Karmajaya, yaitu ayahanda Ki Kartawirya yang berasal dari Jampang-Surade dan telah datang ke Lemah Duhur, untuk menetap di Legok Antrem adapun Ki Kartawirya itu disebut pula Haji Akbar ia menurunkan Marunda dan Marunda menurunkan Murtani dan seterusnya Murtani menurunkan Pitung, jago silat dari Rawa Belong. Diriwayatkan pula bahwa Ki Kartawirya memiliki istri bernama Nyi Antrem yang namanya telah diabadikan dalam nama Legok Antrem sasaka kami Maka Nyi Antrem itu pun berasal dari satu keturunan dengan suaminya sebab leluhurnya, yaitu Sekh Japarudin, juga berasal dari trah Ngampel Denta Sekh Japarudin menurunkan Ki Kartaji dan Ki Kartaji menurunkan Aji Tapak Ireng selanjutnya Aji Tapak Ireng menurunkan lima orang anak Pertama adalah Aji Wisa Ireng yang juga disebut Haji Aleman Kedua Aji Wisa Kuning, ketiga mbah Ambani, keempat Ki Anom dan kelima ibu Ucu yang diperistri oleh Ayah Haji Abdul Somad, leluhur di Cimande-Tarik Kolot Keluarga dan turunan inilah yang menjadi asal-usul masyarakat di Curuk Dengdeng maka dari Aji Wisa Irenglah ibu Antrem diturunkan ke dunia yaitu ibu Antrem yang telah dipusarakan di kawasan Legok Antrem. Adapun Ki Karmagada juga menurunkan anak lelaki adik Ki Karmajaya yang kemudian menurunkan Ki Jaka Kadir, yaitu tokoh yang dipusarakan di Leuweung Ki Maun, yang terletak di atas Legok Antrem Seterusnya Ki Jaka Kadir menurunkan Ki Jaka Bledek, leluhur kampung Bendungan di Kampung Tajur Demikianlah itu tentang para leluhur dan pendahulu yaitu mereka semua yang berasal dari trah Ngampel Denta. Seterusnya sebagaimana diriwayatkan oleh mereka yang mengerti sejarah mengalir pula darah leluhur Siliwangi pada diri para leluhur di Caringin mewarnai jalan kehidupan masyarakat dan memancarkan kesejatian rasa membangkitkan kesucian sikap dan menaikkan kebajikan laku Maka inilah keluarga para jawara yang menghubungkan Siliwangi dan Caringin menghubungkan masa lalu dan masa kini serta mengarahkan masa depan. Sang Ratu Jaya Dewata Prabu Siliwangi menikah dengan Nyi Ratu Subangkarancang dan menurunkan tiga orang anak, yaitu dua orang lelaki dan seorang wanita anak yang tertua adalah Pangeran Arya Santang, Panembahan Cakrabuwana anak yang kedua adalah Nyi Rara Santang ibunda Syarif Hidayatulah dan anak yang ketiga adalah Kian Santang atau Prabu Sagara atau Sunan Rakhmat Suci di gunung Godog yang disebut Sekh Kuncung Putih di Cibadak-Pangasahan maka ia itulah leluhur seorang tokoh bernama Elang Sutawinata. Adapun Elang Sutawinata yang disebut di atas menurunkan tujuh orang anak pertama adalah Jaka Sembung yang menikah dengan Roijah gelar Bajing Ireng kedua adalah Jaya Perkosa yang menjadi patih Prabu Geusan Ulun di Sumedang Larang seorang istrinya bernama Mulantri dan salah seorang anaknya pernah hadir di Caringin yaitu yang disebut Aki Palasara, disebut Aki Kabayan, disebut Ki Jambrong yang memiliki petilasan di Kebon Tajur, di atas Legok Antrem, lalu di Legok Jambrong dan juga memiliki petilasan di Legok Batang, di kawasan Citaman, di desa Tangkil Selanjutnya anak ketiga Elang Sutawinata adalah Aki Kahir yang nama-nama dan petilasan-petilasannya akan diuraikan di bawah anak keempat adalah Eyang Ranggawulung leluhur di Tarik Kolot anak kelima Aki Dato di Bantar Jati dan Pondok Pinang anak keenam Sekh Sake di petilasan di Citeureup dan anak ketujuh Pangeran Papag yang menikah dengan Sari(w)uni, putri Ki Hambali. Sembilan nama dan sembilan petilasan dimiliki anak ketiga Elang Sutawinata Aki Kahir di Bogor-Tanah Sareal, Sekh Majagung di Cirebon Pangeran Jayasakti di Batu Tulis, Gentar Bumi di Pelabuhan Ratu Aki Euneur di Pangasahan, Cikidang, Cipetir dan Eyang Kartasinga-Wirasinga di Tarik Kolot Aki Dalem Macan di Citeureup, Eyang Pasareyan di Cidahu, Cibening, Ciampea dan yang kesembilan dan terakhir adalah Ki Jambrong di Cirebon. Maka Aki Kahir menurunkan anak lelaki bernama Ki Kartaran yang berganti sebutan menjadi Ki Jepra sekembalinya dari pertempuran di Tegal Jepara ia dipusarakan pada dua petilasan di dua tempat sebuah di Kebun Raya Bogor dan sebuah lagi berupa makam putih di Cimande Hilir Ia menurunkan empat orang anak, seorang lelaki dan tiga orang wanita yang tertua adalah Aki Bangala yang menikah dengan uwak Esah yang kedua dalah Nini Sarinem di Ciherang-Limus Nunggal disebut Sri Asih di Cirebon dan Nini Sarem di Cileungsi suaminya adalah Kyai Ajiwijaya dari Plered-Purwakarta yang ketiga adalah Nini Sayem di Ciherang-Limus Nunggal yang menikah dengan Ki Puspa dari Cirebon yaitu tokoh yang dihubungkan dengan Kuda Puspagati dari petilasan Pasir Kuda di Lemah Duhur dan yang keempat adalah Nini Sarimpen di Garut yaitu istri Banaspati, seorang panglima Panembahan Sabakingkin dari Banten. Selanjutnya dikisahkan pula bahwa Rangga Wulung, anak keempat Elang Sutawinata menurunkan lima orang anak yang masing-masing disebut sebagai berikut: Aki Ondang, Aki Buyut, Aki Anom, Aki Suma dan Aki Ace dan diriwayatkan pula bahwa ketika Eyang Rangga Wulung memasuki Caringin ia diiringi oleh Ajengan Kuningan dan Ki Age yang keduanya dimakamkan di Kebun Tajur, di sebelah atas Legok Antrem Kemudian daripada itu berniatlah kami kini untuk mengurutkan garis keturunan Arifin yaitu seorang rekan pengawas di Bina Kertajaga Siliwangi Anom baik dari garis ayahnya maupun dari garis ibundanya. Para leluhur dari pihak ibunya adalah sebagai berikut: Elang Sutawinata menurunkan Ranggawulung, yang menurunkan Ki Ace, yang kemudian menurunkan Ayah Haji Abdul Somad, yang kemudian menurunkan Haji Ajid, yang menurunkan Hajjah Kuraisin, istri Ki Lurah Uji, yang menurunkan ibu Enen, anak angkat Haji Atap, istri bapak Ubeh Subandi. Sedangkan para leluhur dari pihak ayahnya adalah sebagai berikut: Elang Sutawinata menurunkan Aki Kahir, yang menurunkan Ki Jepra, yang kemudian menurunkan Nini Sayem di Limus Nunggal Selanjutnya Nini Sayem menurunkan Ki Rasiun, yang menurunkan Ki Sarian, yang menurunkan Ki Jaian dan Ki Jaiin Seterusnya Ki Jaiin menurunkan Ki Haji Muat yang menurunkan Ki Kaeji Haji Akhmali, yang dahulu memiliki Legok Antrem dan juga mendirikan persatuan pencak silat Hibar Karuhun Maka Haji Akhmali itu dahululah yang membawa pengaruh Tarik Kolot ke sekitar desa Cikalang dan dia adalah ayah Ki Haji Barnas, bapak Ubeh Subandi dan adik-adiknya Selanjutnya, dari Cikalang di desa Caringin kami mengalihkan uraian ke pemakaman tua di desa Cinagara, yang terletak dibawah pohon rindang di situ disemayamkan Mbah Dalem Cinagara dan Mbah Dalem Asihan, istrinya Seseorang meriwayatkan kepada kami tentang Mbah Dalem yang dikatakan berasal dari Jawa Timur dan disebut dengan nama Eyang Adeg Daha tetapi seseorang lainnya mengisahkan silsilah Mbah Dalem sebagai berikut: Dari trah Brawijaya, melalui trah Kalijaga diturunkan Raden Tresna yang disebut juga Pandewulung dari Kudus Ia menurunkan Sekh Japarudin dari Mataram yang menurunkan Sekh Sekh Abdul Muhi dari Pamijahan yang selanjutnya menurunkan Sekh Mohammad Abdul Sobirin, yaitu Mbah Dalem Cinagara pepunden masyarakat di Dukuh Kawung. Demikianlah itu Sarasilah Caringin sebagaimana telah diuraikan oleh Ki Jumanta dari Cikodok, yang sangat tekun mendalami sejarah sekarang diurutkan pula nama-nama tempat dan desa tempat para Karuhun di pusarakan dalam damai. Di Lemah Duhur dan Pancawati: Eyang Kartasinga, Ki Sarian dan Ki Rasiun di Tarik Kolot. Eyang Ranggawulung dan putra-putranya, beserta ayah Haji Abdul Somad di Tarik Kolot. Eyang Badigul Jaya, ayah Ursi dan Eyang Ragil di Pancawati. Eyang Rasiyem di Legok Mahmud. Aki Anyar dan Nini Siti Mastiyah di Tanjakan Saodah. Pangeran Jayakarta, putra Wijayakrama, yang memiliki petilasan di Pulo Gadung, berputra Eyang. Sagiri, yang petilasannya terdapat di Bojong Katon. Eyang Bangalan di Cikodok, Kampung Legok. Ki Jaka Kadir dan Ki Jaka Bledek di Legok Antrem. Nyi Antrem dan Ki Kartawirya di Legok Jambrong. Ajengan Kuningan, Haji Sulaiman ayah Iming, uwak Esah anak Badigul Jaya, Aki Age, Setyawati Kusumah dari Mataram dan Ki Jambrong anak Jaya Perkosa, semuanya di Kebun Tanjur. Di Cimahi Jaya: Tidak ada yang tercatat telah dipusarakan di tempat ini. Di Pancawati: Aki Ariyam dan Ki Suwita di Legok Nyenang. Di Ciherang Pondok: Nini Amsiah di tengah kawasan desa. Haji Abdul Kohar atau Mbah Ageng di perbatasan Ciawi. Nini Sarinem di Blitung-Cikeretek. Hadikusuma, putra Tubagus Gelondong di Cibolang. Di Muara Jaya: Batara Kresna, Aki Arya Kusuma di Rawayan. Adipati Wirasembada di Kampung Nyenang, dan mbah Muhi. Di Pasir Muncang: Aki Wirakerta dari Kuningan, Nini Antri, putri Ki Anyar, cucu Sekh Asnawi di Cipopokol Girang. Aki Aliyun di Cipopokol Hilir. Suryadiningrat, cucu Sekh Malik Ibrahim di Ciburial. Di Cinagara: Raden Suryapadang di Kampung Curuk Kalong. Mbah Dalem Cinagara dan Mbah Dalem Asihan di Dukuh Kawung. Di Tangkil: Aki Degel, Haji Muid, dan Ni Jabon, istri Suryadiningrat di Kampung Loji. Nini Rasa dan Ki Jambrong di Legok Batong, yang juga disebut Aki Palasara. Di Pasir Buncir: Batara Karang atau Pangeran Jayataruna dari Ponorogo. Di Ciderum: Bango Samparan dari Ponorogo, kakak dalang Asmorondono, dan Ki Kastiwa. Di Caringin: Galuh Pakuan atau Walasungsang atau Cakrabuwana; Ki Kartaji; Aji Tapak Ireng; Aji Wisa Ireng, dan Aji Wisa Kuning di Kampung Curuk Dendeng. Ki Umang, Aki Ranggading, dan Ki Kumpi di Cigintung. Di Cimande Hilir: Reksabuwana atau Bayureksa di tanjakan Ciberang, dan Eyang Bangala. Demikianlah selesai kami urutkan sarasilah, nama tokoh dan petilasan di Caringin Babad Caringin Ucapkanlah Asma Yang Maha Agung di Pasir Karamat kagumilah alam pada batu besar di Pancawati hormatilah peninggalan yang sangat tua di Pasir Kuda bersemadilah pada goa dengan air terjun di jurang Citaman pergilah menapak tilas kelima tempat Siliwangi di sepanjang Cisalada hingga ke Curuk Merot pelajarilah warisan Cimande pada guru yang rendah hati Kunjungilah Bumi Kawastu untuk merundingkan perjuangan datanglah ke Legok Antrem untuk mempererat persaudaraan dan dengarkanlah dengan teliti isi kisah babad Caringin yaitu Caringin Kurung dari masa lalu dan Caringin Kurung dari masa yang akan datang Kemudian dengan tekad membaja dan semangat membantu negara bersama-sama mengucapkan manggala, sebagaimana telah disusun di Sasaka Antrem: “Kertajaga Bumi Kawastu, Mugi rahayu di Legok Antrem, Mugi jaya di Tegal Laga, Mejangkeun teras hibar Karuhun” Semoga semua rela menata dengan jujur, Semoga memperoleh harta rohani dalam bejana budi pekerti yang mendatangkan ketentraman, yang mendatangkan kesejahteraan. Inilah riwayat babad Caringin, babad yang telah disampaikan dari yang tua kepada yang muda: Dari ketinggian di Sasaka Jati Pasir Karamat memandang ke bumi Pakuan memohon dan memperoleh terang batin: “Surya Padang Caang Narawangan” menghargai dengan hormat Bukit Baduga di Rancamaya menyaksikan dengan kagum Mandala Keratuan di Batu Tulis melayangkan pikiran ke Watu Gigilang, yang kini terletak di negeri Banten meneliti perjalanan sejarah di dataran yang berada di antara kedua gunung. Di sini pernah terjadi gejolak dan gemuruh peperangan ketika terdengar kabar berlangsungnya perang antara Pajajaran dan Banten juga ketika kemudian tentara Banten meliwati daerah menuju Cikundul untuk menyerbu Begitu pula para prajurit, perwira dan tokoh-tokoh persilatan yang turut mengalami api perubahan jaman dan bergantinya masa; seterusnya menanamkan ciri dan corak keperkasaan ketika bermukim di Caringin membanggakan keberanian dan kejantanan di samping ketakwaan dan kesalehan yaitu semangat keprajuritan sebagaimana terkandung dalam sasmita-kata: “Bojong Katon Pasir Bedil Lemah Duhur Pangapungan Pancawati Denda” Ratusan tahun yang lalu berdiri sebuah tangsi tentara Mataram yaitu di tempat yang sekarang disebut Pasar Caringin yaitu pada jalan yang menuju ke Maseng, Pasir Bogor, lalu Cihideung dan Kota Bogor Jauh sebelum jalan mulai menanjak dan berbelok-belok di situlah bersemayam Tumenggung Wiranegara pemimpin pasukan dari wetan yang gagah perkasa yang sedang berusaha keras menahan pengaruh dari kota di utara sebagai perwira Mataram dan sebagai kusuma bangsa sebagai tokoh perjuangan yang tak lelah berkarya. Kapan dan bagaimana para perwira Mataram tiba tentunya ditanyakan peristiwanya oleh banyak orang walaupun benar dan tidaknya itu masih sulit ditentukan tetapi beberapa bukti menunjukkannya sebagai kemungkinan. Pada tahun 1628 dan 1629 tentara Mataram dan Sunda datang menyerbu kedudukan Belanda di Negeri Betawi pada kedua peristiwa itu mereka akhirnya dipukul mundur Karena kalahnya persenjataan dan terbakarnya gudang-gudang makanan ingin kembali ke timur jalan laut terhalang armada kompeni maka terpaksa mengambil jalan darat di sepanjang pegunungan tengah pada peristiwa itulah mereka meninggalkan nama dan bekas. Rawa Bangke tempat gugurnya ribuan pasukan Matraman tempat mereka bermukim beberapa lama Ragunan yang bukan tidak mungkin berasal dari nama Wiragunan lalu adanya beberapa makam dan petilasan Kuno di Caringin seperti Bayurekso-Reksobuwono di tanjakan Ciherang ia di pusarakan dan ia disebut sebagai anak Radyaksa, cucu Jayadiningrat dari Kartasura. Kembali kepada periwayatan babad Caringin Kurung katanya tangsi tentara Mataram itu dikurung tembok dan di dalamnya ditanam pohon Caringin atau Beringin yang dengan demikian melahirkan nama Caringin Kurung Menurut kisahnya tempat itu pernah digadaikan kepada Belanda yang menolak untuk menyerahkan kembali ketika hendak ditebus karena itu muncul sengketa yang berkepanjangan yang akhirnya pecah menjadi suatu pertempuran panjang. Semua kekuatan pribumi baik yang gaib maupun nyata dikerahkan untuk merebut Caringin Kurung dan mengembalikan hak Wiranegara dari kampung Gembrong di belakang Maseng Arya Wiryakusuma membantu juga Suryakancana yang di luhurkan di kabupatian Bogor di Pasir Muncang-Muara Jaya tegak berdiri Batara Kresna Ki Kartaji, Aji Tapak Ireng dan Aji Wisa Ireng di Curuk Dengdeng tidak ketinggalan pula Galuh Pakuan yang dihadirkan untuk memperkuat seluruh pasukan-pasukan pribumi Jaka Kadir dan Jaka Bledek menahan jalan di Legok Antrem Eyang Bangala di Cimande Hilir, Ranggawulung di Pancawati serta Aki Ranggagading dan Ki Kumpi di Cigintung-Caringin hanya satu tokoh pribumi memilih untuk memihak Belanda yaitu Hadikusuma, putra Tubagus Gelondong, di Cikeretek-Cibolang Dalam adu senjata di hibar Caringin pada medan laga di bumi Pakuan itu karena kehendak Yang Maha Kuasa pasukan pribumi tak berhasil mencapai maksudnya Bersama dengan perjalanan waktu yang mengikis dunia kebendaan lenyap pula tempat dilingkup tembok dimana terdapat pohon beringin itu tetapi rupanya tetap dikenang lalu dilontarkan ke masa depan dijadikan ramalan melalui kata-kata orang tua : “Lamun geus ngadeg Caringin Kurung, didieu bakal rame, didieu bakal makmur” Demikianlah babad Caringin Kurung menurut penuturan Ki Jumanta benar tidaknya kiranya hanyalah Tuhan yang mengetahui tetapi satu hal saja hendaknya jangan dilupakan oleh para pewaris ini adalah tanah perjuangan, tanah keperwiraan dan tanah keperkasaan Ini adalah tanah orang yang beribadah, bekerja keras dan membangun kemuliaan Karena itu bangkitlah untuk Caringin, untuk tanah air dan untuk masa depan. Ajaran Ranggawarsita 06 Mar 2010 Leave a Comment by wayang in Kitab & Kidung Pembukaan : Amenangi jaman edan ewuh aya ing pambudi Melu edan nora tahan yen tan melu anglakoni boya kaduman melik Kaliren wekasanipun Dilalah karsa Allah Begja-begjane kang lali luwih begja kang eling lawan waspada” (pupuh 7, Sent Kalatidha) Terjemahan : Mengalami jaman gila sukar sulit (dalam) akal ikhtiar Turut gila tidak tahan kalau tak turut menjalaninya tidak kebagian milik kelaparanlah akhirnya Takdir kehendak Allah sebahagia-bahagianya yang lupa lebih berbahagia yang sadar serta waspada”. - Syair jaman edan, dimana manusia kehilangan dasar sikap dan perilaku yang benar. - Di dalam Serat Kalatidha, Sabda Pranawa Jati Ki pujangga melihat kesusahan yang terjadi pada jaman itu . . . Rajanya utama, patihnya pandai dan menteri-menterinya mencita-citakan kesejahteraan rakyat serta semua pegawai-pegawainya cakap. Akan tetapi banyak kesukaran-kesukaran menimpa negeri; orang bingung, resah dan sedih pilu, serta dipenuhi rasa kuatir dan takut. Banyak orang pandai dan berbudi luhur jatuh dari kedudukannya. Banyak pula yang sengaja menempuh jalan salah . . . harga diri turun . . . akhlak merosot. Pada waktu-waktu seperti itu berbahagialah mereka yang sadar/ingat dan waspada. - Menghadapi jaman seperti itu Ki Ronggowarsito memberikan petuah-petuahnya, yaitu yang dapat disebut sebagai empat pedoman hidup. I. Tawakal marang Hyang Gusti - Pedoman yang pertama; yaitu kepercayaan iman dan pengharapan kepada Tuhan. - Pedoman inilah yang menjadi dasar hidup, perilaku dan karya manusia. 1. “Mupus papasthening takdir, puluh-puluh anglakoni kaelokan” (pupuh 6, Kalatidha). Arti : Menyadari ketentuan takdir, apa boleh buat (harus) mengalami keajaiban. Manusia hidup harus menerima keputusan Tuhan. 2. “Dialah karsa Allah, begja-begjane kang lali, luwih becik eling lawan waspada” (pupuh 7, Kalatidha) Arti : - Memanglah kehendak Allah, sebahagia-babagianya yang lupa, lebih bahagia yang sadar ingat dan waspada. - Manusia harus selalu menggantungkan diri kepada kehendak (karsa) Allah. - Karsa atau kehendak Allah itu seperti yang tersirat dalam ajaran agama, kitab suci, hukum-hukum alam, adat istiadat dan ajaran leluhur. 3. Muhung mahasing ngasepi, supaya antuk parimirmaning Hyang suksma. (pupuh 8, Kalatidha) Arti: Sebaiknya hanya menjauhkan diri dari keduniawian, supaya mendapat kasih sayang Tuhan. - Di kala ingin mendekatkan jiwa pada Tuhan, memang pikiran dan nafsu harus terlepas dari hal keduniawian. - Supayantuk: Supaya dilimpahi Parimirmaning Hyang suksma; Kasih sayang Tuhan. 4. Saking mangunah prapti, Pangeran paring pitulung. (pupuh 9, Kalatidha) Arti : Pertolongan datang dari Tuhan, Tuhan melimpahkan pertolongan. - Hanya Dia, Puji sekalian alam, Gembala yang baik, yang dapat menolong manusia dalam kesusahannya. - Mangunah : Pertolongan Tuhan Prapti : Datang. 5. Kanthi awas lawan eling, kang kaesthi antuka parmaning suksma. (pupuh 10, Kalatidha) Arti: Disertai dasar/awas dan ingat, bertujuan mendapatkan kasih sayang Tuhan. 6. Ya Allah ya Rasululah kang sifat murah lan asih. (pupuh 11, Kalatidha) Arti : Ya Allah ya nabi yang pemurah dan pengasih. 7. Badharing sapudendha, antuk mayar sawatawis, borong angga suwarga mesti martaya. (pupuh 12, Kalatidha) Arti (Untuk) urungnya siksaan (Tuhan), mendapat keringanan sekedarnya, (sang pujangga) berserah diri (memohon) sorga berisi kelanggengan. - Pengakuan kepercayaan bahwa pada Tuhanlah letak kesalamatan manusia. Pupuh-pupuh tambahan: 8. Setyakenang naya atoh pati, yeka palayaraning atapa, gunung wesi wasitane tan kedap ing pan dulu ning dumadi dadining bumi, akasa mwang; riya sasania paptanipun, jatining purba wisesa, tan ana lara pati kalawan urip, uripe tansah tungga”. (pupuh 88, Nitisruti) Arti: Bersumpahlah diri dengan niat memakai tuntunan (akan) mempertaruhkan nyawa, yaitulah laku orang bertapa di (atas) gunung besi (peperangan) menurut bunyi petuah. Tak akan salah pandangannya terhadap segala makhluk dan terjadinya bumi dan langit serta segala isinya. Sekaliannya itu sifat Tuhan; tak ada mati, hiduppun tiada, hidupnya sudah satu dengan yang Maha suci. - Karya sastra Nitisruti ditulis oleh Pangeran di Karangayam (Pajang), pada tahun saka atau 1591 M. - Mengenai tekad untuk mengenal Tuhan dan rahasiaNya. - Mengenal kekuasaan di balik ciptaan-Nya, karena sudah bersatu dengan Gusti-Nya. 9. Sinaranan mesu budya, dadya sarananing urip, ambengkas harda rubeda, binudi kalayan titi, sumingkir panggawe dudu, dimene katarbuka, kakenan gaibing widi. (Dari serat Pranawajati) Arti: Syaratnya ialah memusatkan jiwa, itulah jalannya di dalam hidup, menindas angkara yang mengganggu, diusahakan dengan teliti, tersingkirkanlah perbuatan salah, supaya terbukalah mengetahui rahasia Tuhan. - Serat Pranawajati ditulis oleh Ki R.anggawarsita - Pupuh ini menjelaskan jalan kebatinan untuk mencapai (rahasia) Tuhan. 10. Pamanggone aneng pangesthi rahayu, angayomi ing tyas wening, heninging ati kang suwung, nanging sejatine isi, isine cipta kang yektos”. (Dari serat Sabda Jati) Arti: Tempatnya ialah di dalam cita-cita sejahtera, meliputi hati yang terang, hati yang suci kosong, tapi sesungguhnya berisi, isinya cipta sejati. 11. Demikianlah orang yang dikasihi Tuhan, yang selalu mencari-Nya untuk memuaskan dahaga batin. Ia akan berbahagia dan merasa tentram sejahtera; sadar akan arti hidup maupun tujuan hidup manusia. Pembawaannya rela, jujur dan sabar; pasrah, sumarah lan nanima, berbudi luhur dan teguh dihati. II. Eling lawan Waspada - Pedoman yang kedua; yaitu sikap hidup yang selalu sadar-ingat dan waspada. - Pedoman inilah yang menjaga manusia hingga tidak terjerumus ke dalam lembah kehinaan dan malapetaka. Pupuh-pupuh : 1. Dilalah karsa Allah, begja-begjane kang lali luwih becik kang eling lawan waspada. (Pupuh 1, Kalatidha) Arti : akdir kehendak Allah, sebahagia-bahagianya yang lupa, lebih bahagia yang sadar / ingat dan waspada. 2. Yen kang uning marang sejatining kawruh, kewuhan sajroning ati, yen tan niru nora arus, uripe kaesi-esi, yen niruwa dadi asor. (Pupuh 8, Sabda Jati) Arti: Bagi yang tidak mengetahui ilmu sejati bimbanglah di dalam hatinya, kalau tidak meniru (perbuatan salah) tidak pantas, hidupnya diejek-ejek, kalau meniru (hidupnya} menjadi rendah. 3. Nora ngandel marang gaibing Hyang Agung, anggelar sekalir-kalir, kalamun temen tinemu, kabegjane anekani, kamurahaning Hyang Monon”. (Pupuh 9, Sabda Jati) Arti : Tidak percaya kepada gaib Tuhan, yang membentangkan seluruh alam, kalau benar-benar usahanya, mestilah tercapai cita-citanya, kebabagiaannya datang, itulah kemurahan Tuhan. - Serat Sabda Jati adalah juga ditulis oleh pujangga Ki Ranggawarsita. - Pupuh 8 membicarakan keragu-raguan hati karena melihat banyak orang menganggap perbuatan salah sebagai sesuatu yang wajar. - Akan tetapi bagi yang sadar/ingat dan waspada, tuntunan Tuhan akan datang membawa kebahagiaan batin. 4. Mangka kanthining tumuwuh, salami mung awas eling, eling lukitaning alam, dadi wiryaning dumadi, supadi nir ing Sangsaya, yeku pangreksaning urip. (Pupuh 83, Wedhatama) Arti : Untuk kawan hidup, selamanya hanyalah awas dan ingat ingat akan sasmita alam, menjadi selamatlah hidupnya, supaya bebas dari kesukaran, itulah yang menjaga kesejahteraan hidup. 5. Dene awas tegesipun, weruh warananing urip, miwah wisesaning Tunggal, kang atunggil rina wengi, kang makitun ing sakarsa, gumelar ngalam sekalir. (Pupuh 86, Wedhatama) Arti : Adapun awas artinya, tahu akan tabir di dalam hidup, dan kekuasaan Hyang Maha Tunggal, yang bersatu dengan dirinya siang malam, yang meliputi segala kehendak, disegenap alam seluruhnya. - Wedhatama ditulis oleh Pangeran Mangkunegara IV. 6. Demikianlah sikap hidup yang berdasarkan “Eling lawan waspada”; yaitu selalu mengingat kehendak Tuhan sehingga tetap waspada dalam berbuat; untuk tidak mendatangkan celaka. Kehendak Tuhan mendapat dicari/ditemukan di dalam hukum alam, wahyu jatmika yang tertulis dalam kitab suci maupun karya sastra, adat-istiadat, nasehat leluhur/orang tua dan cita-cita masyarakat. 7. Eling” juga berarti selalu mengingat perbuatan yang telah dilakukan, baik maupun buruk, agar “waspada” dalam berbuat. Berkat sikap “eling lawan waspada” ini, terasalah ada kepastian dalam langkah-langkah hidup. III. Rame ing gawe. - Pedoman hidup yang ketiga, yaitu hidup manusia yang dihiasi daya-upaya dan kerja keras. - Menggantungkan diri pada wasesa dan karsa Hyang Gusti adalah sama dengan menerima takdir. Karena siapakah yang dapat meriolak kehendak Nya? 1. Ada tertulis: Tidak ada sahabat yang melebihi (ilmu) pengetahuan Tidak ada musuh yang berbahaya dan pada nafsu jahat dalam hati sendiri Tidak ada cinta melebihi cinta orang tua kepada anak-anaknya Tidak ada kekuatan yang menyamai nasib, karena kekuatan nasib tidak tertahan oleh siapapun”. (Ayat 5, Bagian II Kitab Nitiyastra). 2. Tetapi apakah kekuatiran atau ketakutan akan nasib menjadi akhir dan pada usaha atau daya upaya manusia? Berhentikah manusia berupaya apabila kegagalan menghampiri kerjanya? 3. …. Karana riwayat muni, ikhtiar iku yekti, pamilihe reh rahayu, sinambi budi daya, kanthi awas lawan eling, kang kaesthi antuka parmaning suksma. (Pupuh 10, Kalatidha) Arti : …. Karena cerita orang tua mengatakan, ikhtiar itu sungguh-sungguh, pemilih jalan keselamatan, sambil berdaya upaya disertai awas dan ingat, yang dimaksudkan mendapat kasih sayang Tuhan. - Menerima takdir sebagai keputusan terakhir, tidak berarti mengesampingkan ikhtiar sebagai permulaan daripada usaha. 4. Kuneng lingnya Ramadayapati, angandika Sri Rama Wijaya, heh bebakal sira kiye, gampang kalawan ewuh, apan aria ingkang akardi, yen waniya ing gampang, wediya ing kewuh, sabarang nora tumeka, yen antepen gampang ewuh dadi siji, ing purwa nora ana. (Tembang Dandanggula, Serat Rama) Arti : Haria sehabis haturnya Ramadayapati (Hanoman), bersabdalah Sri Rama : Hai, kau itu dalam permulaan melakukan kewajiban, ada gampang dan ada sukar, itu adalah (Tuhan) yang membuat. Kalau berani akan gampang; takut akan yang sukar, segala sesuatu tidak akan tercapai. Bila kau perteguh hatimu, gampang dan sukar menjadi satu, (itu) tidak ada, tidak dikenal dalam permulaan (usaha). 5. Demikianlah, takdir yang akan datang kelak tidak seharusnya menghentikan usaha manusia. Niat yang tidak baik adalah niat “mencari yang mudah, menghindari yang sukar”. Semua kesukaran atau tugas harus dihadapi dengan keteguhan hati. “Rame ing gawe” dan “Rawe-rawe rantas malang-malang putung” adalah semangat usaha yang lahir dari keteguhan hati itu. Catatan: Pupuh ke empat adalah cuplikan dari serat Rama, yang ditulis oleh Ki Yosadipura. (1729 – 1801 M) IV. Mawasdiri: - Pedoman hidup yang keempat, yaitu perihal mempelajari pribadi dan jiwa sendiri; yang merupakan tugas semua mamusia hidup. Pupuh-pupuh: 1. Wis tua arep apa, muhung mahasing ngasepi, supayantuk parimirmaning Hyang Suksma. (Pupuh 8, Kalatidha) Arti : Sudah tim mau apa, sebaiknya hanya menjauhkan diri dari keduniawian, supaya mendapat/kasih sayang Tuhan. - Nasehat agar tingkat orang yang telah berumur menunjukkan martabat. 2. Jinejer neng wedhatama, mrih tan kemba kembenganing pambudi, sanadyan ta tuwa pikun, yen tan mikani rasa, yekti sepi asepi lir sepah samun, samangsaning pakumpulan, gonyak-ganyuk ngliling semi. (Pupuh 2, Pangkur, Wedhatama) Arti: Ajarannya termuat dalam Wedhatama, agar supaya tak kendor hasrat usahanya memberi nasehat, (sebab) meskipun sudah tua bangka, kalau tak ketahuan kebatinan, tentulah sepi hambar bagaikan tak berjiwa, pada waktu di dalam pergaulan, kurang adat memalukan. 3. …. Pangeran Mangkubumi ing pambekanipun. Kang tinulad lan tinuri-luri, lahir prapteng batos, kadi nguni ing lelampahane, eyang tuwan kan jeng senopati, karem mawas diri, mrih sampurneng kawruh.Kawruh marang wekasing dumadi, dadining lalakon, datan samar purwa wasanane, saking dahat waskitaning galih, yeku ing ngaurip, ran manungsa punjul. (Dari babad Giyanti) Arti : ….Pangeran Mangkubumi budi pekertinya. Yang ditiru dan dijunjung tinggi, lahir sampai batin, seperti dahulu sejarahnya, nenek tuan kanjeng senopati gemar mawas diri untuk kesempumaan ilmunya. Ilmu tentang kesudahan hidup, jadinya lelakon, tidak ragu akan asal dan kesudahannya (hidup), karena amat waspada di dalam hatinya, itulah hidup, disebut manusia lebih (dari sesamanya). - Babad Giyanti ditulis oleh pujangga Yasadipura I. Isinya memberi contoh tentang seseorang yang selalu mawas diri, yaitu Panembahan Senopati. 4. Mawas diri adalah usaha meneropong diri sendiri dan dengan penuh keberanian mengubah pribadinya. Maka inilah asal dan akhir dari pada keteguhan lahir dan batin. 5. Laku lahir lawan batin, yen sampun gumolong, janma guna utama arane, dene sampun amengku mengkoni, kang cinipta dadi, kang sinedya rawuh”. (Dari babad Giyanti) Arti : Amalan lahir dan batin, bilamana sudah bersatu dalam dirinya, yang demikian itu disebut manusia pandai dan utama, karena ia sudah menguasai dan meliputi, maka yang dimaksudkan tercapai, yang dicita-citakan terkabul. 6. Nadyan silih prang ngideri bumi, mungsuhira ewon, lamun angger mantep ing idhepe, pasrah kumandel marang Hyang Widi, gaman samya ngisis, dadya teguh timbul).” (Tembung Mijil, Dari babad Giyanti) Arti : Meski sekalipun perang mengitari jagad, musuhnya ribuan, tetapi asal anda tetap di dalam hati, berserah diri percaya kepada Tuhan, semua senjata tersingkirkan, menjadi teguh kebal. 7. Demikianlah ajaran Ki Ranggawarsita, yaitu mengenai empat pedoman hidup. Begitulah orang yang menggantungkan dirinya kepada kekuasaan Tuhan dan menerima tuntunan-Nya. Ia akan memiliki kepercayaan pada diri sendiri, tetapi tanpa disertai kesombongan maupun keangkaraan. Cita-cita kemasyarakatan. 1. Ki pujangga Ranggawarsito mencita-citakan pula datangnya jaman Kalasuba, yaitu jaman pemerintahan Ratu Adil Herucakra. Karena itu beliau merupakan seorang penyambung lidah rakyatnya, yang menciptakan masyarakat “panjang punjung tata karta raharja” …. “gemah ripah loh jinawi” ….loh subur kang sarwa tinandur” dimana “wong cilik bakal gumuyu. 2. Tiga hal yang pantas diperjuangkan, untuk menegakkan pemerintahan Ratu Adil; yaitu: Bila semua meninggalkan perbuatan buruk, bila ada persatuan dan bila hadir pemimpin-pemimpin negara yang tidak tercela lahir batinnya. 3. Dengarlah! 4. Ninggal marang pakarti tan yukti, teteg tata ngastuti parentah, tansah saregep ing gawe, ngandhap lan luhur jumbuh, oaya ana cengil-cengil, tut runtut golong karsa, sakehing tumuwuh, wantune wus katarbuka, tyase wong sapraya kabeh mung haryanti, titi mring reh utama. (Dari Serat Sabdapranawa) Arti : Meninggalkan perbuatan buruk, tetap teratur tunduk perintah, selalu rajin bekerja, bawahan dan atasan cocok-sesuai tak ada persengketaan, seia sekata bersatu kemauan, dari segala makhluk, sebab telah terbukalah, tujuan orang seluruh negara hanyalah kesejahteraan, faham akan arti ulah keutamaan. 5. Ngarataning mring saidenging bumi, kehing para manggalaningpraya, nora kewuhan nundukake, pakarti agal lembut, pulih kadi duk jaman nguni, tyase wong sanagara, teteg teguh, tanggon sabarang sinedya, datan pisan nguciwa ing lahir batin, kang kesthi mung reh tama. (Tembang Dandanggula, Serat Sabdapranawa) Arti: Merata keseluruh dunia; sebanyak-banyak pemimpin negara tak kesukaran menjalankan perbuatan kasar-halus; kembalilah seperti dahulu kala, tujuan orang seluruh negara, tetap berani sungguh, boleh dipercaya segala maksudnya, tak sekali-kali tercela lahir batinnya, yang dituju hanyalah selamat sejahtera. 6. Demikianlah yang dicita-citakan pujangga agung Ranggawarsita. Ajaran Sri Rama 06 Mar 2010 Leave a Comment by wayang in Kitab & Kidung Berdasarkan “Serat Rama” atau Ramayana Kakawin, yang disadur oleh pujangga Yasadipura I dan diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia oleh Kamajaya. BARATA BERTAKHTA SEBAGAI RAJA AYODYANEGARA MELAKSANAKAN AMANAT DAN AJARAN SANG BIJAKSANA RAMAWIJAYA “Ketahuilah adinda, bahwa raja yang memimpin negara adalah pemimpin masyarakat dan sekaligus rakyatnya. Raja berkewajiban pula menjaga seluruh dunia. Pedoman sebagai pegangan raja menjalankan kebijaksanaan adalah sebagai berikut: 1. Perhatikan dan ikutilah ajaran-ajaran kesatriaan. Peganglah sebagai pedoman kitab-kitab suci dan ikutilah perintah dalam kitab-kitab agama. Dengan berbuat demikian, niscaya akan datang kebahagiaan kepadamu. 2. Peliharalah rumah-rumah Dewa (agama), yang suci, rumah-rumah sakit dan tanah milik bangunan suci. 3. Peliharalah biara-biara dan perhatikanlah tempat-tempat suci dan rumah pedewaan. Jalan, pasanggrahan, air mancur, telaga, empang, tambak, pasar, jembatan dan segala apapun juga yang dapat membawa kesejahteraan rakyat, itu wajib adinda selenggarakan. 4. Pertanian wajib dikerjakan oleh raja dengan penuh perhatian terus-menerus. Dari pertanian ini datanglah segala macam bahan pangan yang sangat penting untuk negara. 5. Perbesarlah jumlah emas (harta) untuk biaya yang menuju kearah terjaminnya kebahagiaan. Adinda dapat mengeluarkan emas dan harta sesuka hatimu, asal saja untuk kebahagiaan rakyatmu. Ini berarti, bahwa dengan menjalankan darma (amal perbuatan), adinda juga membawa kebahagiaan untuk orang lain agar mengecap kenikmatan bersama. 6. Raja yang dihormati rakyat ialah raja yang tahu suka duka rakyatnya dengan sempurna dan terus menerus, begitu pula usahanya untuk mendengarkan kesusahan yang diderita oleh seluruh rakyat di negaranya. Sebab inilah kewajiban abadi seorang raja. 7. Tolonglah setiap orang diantara rakyatmu yang mengajukan keluh kesahnya dan janganlah diam. Adinda tidak boleh menghina siapapun juga, bahkan terhadap seseorang yang rendah sekalipun. Jangan menghina mereka yang minta pertolongan. 8. Cobalah untuk menjalankan kebijaksanaan pemerintahan yang baik, wahai adinda. Pertajamlah hatimu dan jadikanlah hal ini sebagian dari kebijaksanaanmu. 9. Susunlah rencanamu untuk waktu yang akan datang guna memelihara dunia dan menjamin berlangsungnya keamanan dan ketertiban. 10. Periksalah angkatan perangmu dan berilah latihan kepada tentaramu dan perhatikantah tentang kemahirannya. Siapa diantara mereka yang memperlihatkan kecakapan yang lebih dari yang lain, ia wajib dinaikkan pangkatnya. Sebaliknya yang memperlihatkan kekurangannya, wajib dilatih lebih mendalam. 11. Latihlah gajah, kereta perang, begitu pula kuda dan siapkanlah itu untuk menyerang. 12. Masukkanlah musuhmu dalam perangkap dan binasakanlah mereka itu dengan tali pemukulmu, sehingga mereka itu binasa seperti air yang mengering. Seranglah musuhmu dengan segala jalan dan segala perhitungan. Janganlah kamu tunda pembasmian orang-orang jahat. 13. Pahlawan yang dikatakan tidak ada bandingannya ialah apabila ia memiliki kekuatan seperti singa yang ditakuti dan apabila ia membunuh musuh dengan tepat. 14. Jauhkanlah dirimu dari orang-orang yang mempunyai perangai jahat, karena mereka itu menimbulkan kerusakan dan menyebabkan negara menjadi mundur. Bila adinda bersama mereka, maka pegawai yang baik menjauhimu, sedangkan teman-temanmu makin jauh dan musuhmulah yang dekat kepadamu. 15. Seorang pegawai itu buruk apabila ia acuh. Dengan demikian ia tak tahu hormat dan melanggar sopan santun. Ia dapat diumpamakan sebagai kambing yang takut dan hormat kepada pohon yang miring, ia dengan gembira memanjatnya dan dengan seenaknya serta tidak ragu-ragu berlari-lari diatas batangnya. Pegawai jahat niscaya akan kelihatan dan jangan menaruh kepercayaan kepadanya. 16. Perhatikanlah gerak-genik mereka yang mengabdi kepadamu sebagai pegawal. Selidikilah tentang kepandaiannya dan kesetiaan mereka terhadap kamu. Apabila ia bertabiat baik dan memiliki sifat-sifat baik, ia harus kamu hargai, sekalipun ia masuk keturunan rendah. Lebih utama apabila kamu terima seorang dan keturunan baik-baik. 17. Perhatikan dan selidikilah sikap segala pegawaimu apakah mereka itu berpengetahuan dan tahu tentang kenegaraan dan pemerintahan, patuh dan berkelakuan baik, apakah tidak bohong dan berbakti serta taat dalam pengabdiannya kepadamu, kepada negara, dan apakah mereka tidak jahat?. Dalam hal ini adinda harus mengetahui apa yang buruk dan apa yang baik. Adinda dapat mencegah mereka dari perbuatan yang menyesatkan. 18. Setiap orang pegawal wajib tahu tentang kepegawaiannya dan ia harus setia kepada pemerintahnya. Begitu pula ia harus tahu tentang pekerjaannya dan tidak segan untuk membuat pekerjaan baik. 19. Janganlah lekas-lekas memberi hadiah kepada pegawai, sebelum adinda menyelidikinya. Apabila adinda memberi sesuatu kepadanya, berikanlah kepadanya lebih dahulu suatu tugas, sehingga mencapai hasil. Jika terbukti, bahwa ia tetap pendiriannya untuk mengabdikan dirinya kepadamu, ini berarti bahwa adinda disegani dan rakyatmu mencintaimu sebagai manikam yang sakti dan membawa kebahagiaan. 20. Apabila adinda tahu sungguh-sungguh yang adinda kerjakan, dapat dikatakan adinda memiliki pepengetahuan yang sempurna seperti Dewa-dewa. Siapa yang tahu tentang kepandaian, ialah yang disebut serba tahu. 21. Bebaskanlah diri dari hawa nafsu dan kedengkian. Jauhkanlah darimu dari kecemburuan dan bersihkanlah dirimu. Dengan jalan itu adinda akan di segani. Ketahuilah, bahwa raja yang memperlihatkan keangkuhan akan kehilangan kewibawaannya karena ditinggalkan oleh wahyunya. 22. Angkara murka wajib diberantas; demikian pula perbuatan tercela haus dibasmi. 23. Kekayaan lahiriah, harta, benda dan pangkat tidak boleh menimbulkan kemabukan lupa daratan. Semua itu boleh mendatangkan kesenangan yang terbatas. 24. Ajaran kitab-kitab Sastra harus dijalankan dengan tidak henti-hentinya. Sekalipun itu sukar dilaksanakan, namun setiap orang harus mentaatinya. Bilamana banyak orang taat dan tahu akan ajaran kitab-kitab suci serta berpegang kepadanya, maka mereka akan melahirkan pedoman kebenaran. 25. Tunjukkanlah keikhlasan hatimu apabila memberi hadiah kepada orang-orang brahmana dan pendeta yang terkemuka. 26. Cobalah selalu tenang dan berbelas kasihan dan janganlah menunjukkan ketakutan kepada apa dan siapa yang adinda takuti. 27. Jangan berdusta, sebab dusta menyebabkan kejahatan. Dengan demikian adinda akan menghadapi malapetaka dan akan dicela. 28. Apabila adinda mencela seseorang, kerjakan sendiri yang tepat dan janganlah adinda terlalu dikuasai oleh hawa nafsu. Sabda raja harus sesuai dengan perbuatannya. Perjudian dan perbuatan hina jangan adinda kerjakan. 29. Basmilah kemabukan pikiran yang angkuh; hilangkanlah itu dari hatimu, sebab keangkuhan itu mencemarkan dan menyuramkan penglihatan. 30. Kesaktian dan kepandaian menyebabkan kebahagiaan dan kenikmatan. Untuk memiliki kedua hal itu bukanlah ringan. Orang-orang baik yang berpengetahuan dan faham tentang kitab-kitab ini patut adinda hargai. Apabila adinda memiliki beberapa macam kepandaian, pastilah rakyat mencintaimu. Jauhilah perbuatan mengadu domba dan pujian yang menyesatkan. 31. Apabila sesuatu kejahatan telah jelas bentuknya, bertindaklah apabila perbuatan itu memang salah, Binasakanlah orang yang berdosa. Akan tetapi selidikilah hal ini dengan sungguh-sungguh. Sebaliknya apabila ia berjasa, berikan kepadanya hadiah dan kepuasan. Inilah hak raja untuk memberi anugerah atau memberi hukuman. 32. Ada lima macam bahaya yang sungguh mengancam ialah: 1. Apabila ada pegawai yang dalam menunaikan tugas di daerah menderita karena terik matahari. 2. Adanya sejumlah banyak pencuri; 3. Apabila kekacauan dan kejahatan merajalela; 4. Adanya orang-orang yang menjadi dan dijadikan “anak emas” pembesar. Kejadian seperti itu dapat dianggap sebagai kejahatan; dan 5. Keangkara-murkaan raja. Lima macam bahaya itu harus dibasmi atau dicegah sebelum timbul dan merajalela 33. Ketahuilah adinda Barata, bahwa raja dapat diumpamakan batara Surya yang memanasi dunia oleh sifatnya. Demikianlah halnya dengan seorang raja yang membinasakan orang jahat. Bulan memberikan rasa cinta dan disegani oleh seluruh dunia Begitulah juga hendaknya perbuatan raja dalam memperhatikan dan memelihara rakyatnya. 34. Sebagai raja adinda dapat disamakan dengan sebuah bukit, sedangkan rakyatmu diumpamakan pohon- pohonan yang tumbuh di lerengnya. Pohon-pohon itu hidup dan dijamin hidupnya oleh bukit. 35. Adindaku Barata yang tercinta, itulah sesama kewajiban adinda sebagai raja yang berusaha menjaga keselamatan dunia yang bahagia. Adinda wajib mempertinggi perhatian kepada orang lain dan menaruh belas kasihan kepada rakyatmu, dan seluruh kesukaran duniapun harus adinda perhatikan. Demikianlah nasihat wejangan sang bijaksana Ramabadra kepada adinda Barata yang direstuinya duduk di atas takhta Ayodyanegara sebagai raja memimpin tampuk pemerintahan, memimpin masyarakat dan rakyatnya. Setelah bersembah sujud dengan khidmat kepada Rama dan Sinta, dan setelah satria Laksmana menyembah Barata, maka dengan ijin dan restu serta puji jaya-jaya dan kakandanya sang Ramawijaya, Barata dengan segenap pengiringnya turun dan bukit Citrakuta, kemudian berangkatlah meninggalkan hutan menuju ke ibukota Ayodya. Kewajiban sebagai raja telah menantinya. Dengan merayakan “terompah sang Rama” dan menerapkan ajaran sang bijaksana, maka aman sentosa sejahteralah Ayodyanegara dibawah pemerintahan raja Barata. Aji Pamasa 06 Mar 2010 Leave a Comment by wayang in Kitab & Kidung Wedharing wyata mirid gempilaning piwucal Aji Pamasa DHANDHANGGULA 1. Mangkya nenggih sastradu nayadhi, tinilingna walering darana, ywa sisip ing pangertiné, janma kudu mituhu, pratélané sapta pracèki, lamun dipun upaya kinemat ing kalbu, samubarang kang linakya, sarwi mapan nora badhé damel tuni, suka tentreming rahsa. 2. Kang ginelar wyataning suyati, tlatènana kang pitung prakara, amrih dadi lantarané, datan gampil kinelun kalulun ing wawatak nisthip, linepat king deksura tinebih panyaru, tan damel pilalaning lyan, kosok-wangsul wèh ayem dasih sadyèki, temah manggih raharja. 3. Apa baya kang pitung prakawis, sinirika cidra lan pitenah, yèku warah kapisané, kaping kalih puniku, dyan sentana ywa dèn alingi, sagung tumindak lupa winastanan luput, ping tiga ywa mawang kadang, pangadilan jinejegna kanthi titi, tan pilih-pilih janma. 4. Catur angger ugering prarepi, tan mélik mèt artaning punggawa, dalah mundhut putrèstriné, dé kaping gangsalipun, aywa nganti anglalarangi, olah pangupajiwa sasamining manu, songgarunggi mring kawula, dèn ugemi pitutur kaping sat niki, pinuntua ing driya. 5. Kang wusana pitutur saptèki, lamun ngambah margining utama, udinen mrih lestariné, nora gampil kayungyun, kapiluyu lampah basiwit, tan remen cacaketan klayan watak margu, sirik cengil pasulayan, anebihi gegelah regeding bumi, nging pedak kautaman. 6. Mangkya kiyé gelaring pangerti, paugeran kang pitung prakara, istingarah munpangaté, piguna mring kang ngluru, dadya tales tanduking karti, prenah prandéné laras salir tindakipun, mahanani kasudibyan, temah kalis watak umbag klawan edir, sinantun paramarta. 7. Pradikané wawaler pratami, kang sinebat cidra lan pitenah, winedhar wiyar tebané, suka serep ing semu, seserepan wiraos prati, damel padhanging prana nebihken bebendu, nuntun mring lempenging lana, istingarah kang tinuju tan nalisir, nalusur woting darma. 8. Pracékané janma luhur kaki, datan arsa guna pasang kala, njijiret sapapadhané, tan bungah lamun nemu, siku dhendha nlikung sasami, nora ngungalken jaja yèn asanès lesu, datan asurak susuka dupi miyat panandhanging sapadhèki, luluh welas nalangsa. 9. Tembung cidra sinawung punagi, ngandhar-andhar winuwus nglengkara, péndah madu mamanisé, nging sapawingkingipun, nggémbol upas kang niniwasi, nukulaken panandhang tuwin tilar latu, raos bentèr nguntar-untar, wisayané karaos awrat ngantebi, lir kanteban antaka. 10. Ywan wus wani nglairken prajangji, poma-poma dipun tetepana, netes sagung pangucapé, nora lèmèr ing wuwus, nguwus-uwus tan ana dadi, tetembungan dèn arah jumbuh kang sinaguh, tumapak ing lalampahan, datan lumpuh karana kaot sinanggi, wèh sengsem mring tyasing lyan. 11. Lamun sumanggem tanduking gati, dipun éling niyat kang utama, pinurih saged rampungé, tékad kang wus pinuntu, aywa wudhar tanpa pangaji, wawataking satriya sirik colong playu, datan ngucirèng ngayuda, andhepipis ndhelik winengku raos jrih, nilaraken palagan. 12. Panjangka kang dadya lenging ati, antepana minangka ubaya, pinétang utang èstinè, lamun maksih linuru, kaanggepa dèrèng nglunasi, siyang-ratri tan kendhat nggènipun dhedheku, nunuwun Hyang Murbèng Suksma, istingarah gung pangajab temah dadi, tan cidra ing ubaya. 13. Jejering titah sawantah kaki, mokal lamun kalis ing sasanggan, kang wus dadi pepesthèné, milaur urip iku, amituhu kanthi taliti, tegen rigen pralaga tlatèn miwah tekun, tan bosenan nora wegah, angugemi pakaryan kanthi permati, teguh maring bebahan. 14. Lamun sirik watak ngadi-adi, tlunyar-tlunyur miwah lèlèmèran, dhemenyar pepénginané, tan kablithuk pandulu, gampil sengsem kang katon èdi, nanging mugen manunggal genah kang tinuju, nering laku nora léngah, istingarah andika manggih basuki, linepat saking papa. 15. Kénging winastanan cidra ugi, karem donya wah malih pangwasa, nanging mamak wawatesé, tan darbya raos rigung, kanthi nranyak ngrabasa gahi, nyahak wewenanging lyan kécalan pakéwuh, kang dèn bujung pakareman, watanira suker tan béda wewerri, buteng ribeng krodhanya. 16. Paran nggènira nyepeng sumangi, setya tuhu bekti mring Hyang Murba, ywa cidra gung pepecehé, prancana tan dèn ugung, temah ndadra misésa wathi, tundhonipun nalangsa nalisir king wangsu, tilar salir manah sonta, kusung-kusung kemrungsung kécalan santi, angulari papaka. 17. Dipun tlatèn samya angulari, murih dadya manuswa bisama, ywa gampil mupus tekadé, ywan rumpil lampahipun, upayanen kanthi sasmreti, saswih maring Hyang Murba tumus sanggya manu, tebih saking tutur cidra, nging maujud datan mandheg katamarti, satemah pinitaya. 18. Menggah tuduh ingkang gung utami, kanthi wijang kawrat sastracetha, tumètès kadya kusaré, rinumpaka ing tembung, basagita adi wigati, susmaya prabaning Hyang abyor cahya kitu, kang anecep wurukira, dhépé-dhépé gilig ing prana maniwi, kasmala binirata. 19. Poma éling swawi dipun luri, pranahara jatining manuswa, titah sawantah jejeré, cidra mring karsèng Ulun, iku teges nggénjah papati, apesé ngemping lara nyanyadhang bebendu, datan uwal king cintaka, ngundhuh wusa wisaya dadya mangangi, gesang datan piguna. 20. Sasing janmi swawi angupadi, dimèn pana tuduhing Hyang Suksma, aywa mblasar tumindaké, tan kéragan mring napsu, temah dyusdha niyak wastuti, nginger-inger wawaler mamada sastradu, leheng meleng mring pranamya, angulati bebener ingkang nayadhi, tumus dugèng dalaha. 21. Mangkya cidra tumraping akrami, jalu gini datan ana béda, kénging winastan pracoré, lampahnya pindha margu, undhuhané mrawata wèsdhi, basan pranamèng kapi wruh rukem kayungyun, lupa upasing walika, ngindhik-indhik pamrihé damel papati, mamanisé wisasa. 22. Wanti-wanti peceh parahati, pisan cidra angèl anguwalna, kumudu kang kapindhoné, katri wus kadi wuru, temah wasa nering prajangji, sengkeraning pralaga datan ana wèstu, parnoh sagung tindakira, kang dèn uja tan liya dityasmaraji, rongèh tansah walisah. 23. Wawaler tumrap sanggya pawèstri, ngumbar gujeng kucah liring nétra, adol ati sapa baé, dhadasar badan lugu, dupèh èdi ngelam-elami, kasukan kang binujung atilar pakéwuh, tan mangabisatya mring raka, lamun limpé ngaluyur ramban taruni, angrarantam pracéka. 24. Pan wus dadi sasakiding parwi, cegah hawa tahen ring prancana, rumaket-raket sasambé, was maring kakung tuhu, abiwadha setya hastuti, dyatmika neng nayadhi nging sirik salingkuh, tutura angarah-arah, ririh raras sinuprih katon mrak-ati, tansah saswih ring garwa. 25. Nora béda waler ingkang sami, tumrap priya kang wus balé wisma, burusa lair batiné, asisipat memengku, lubèr ing sih sarwi ngayomi, dadya gapiting braya ywa mingkuh pakéwuh, pantang pepes batosira, lamun manggya kèh sambé-kalaning margi, jroning gesang punika. 26. Dipun èmut ma nenem puniki, dhihin mantep ing pamilihira, ping kalih madhep atiné, katri marem mring jatu, kaping paté mawang ring rabi, pinindhakna wawadhah ringkih kaotipun, kalima mangabiwadha, garwanira dèn papanken rowang padmi, kanem mardawèng budya. 27. Poma-poma kenceng dèn cepengi, traping laku minongka manggala, catur wala pepindhané, sona ing setyanipun, myang turangga cukat ing karti, dwipangga datan kéguh saguh kang ginayuh, brekiti ing sregepira, siyang-ratri makarya tan wènten sepi, swawi dipun tuladha. 28. Aywa pisan cidra ing prajangji, tilar garwa kapéncut ing liya, awit awon pinanggihé, manah gampil kayungyun, kasulistyan aniniwasi, adhakan dadya tuman angèl mantunipun, lamun dipun turutana, amengangah ngangah-angah saya ndadi, becik dèn singkirana. 29. Kakaroné kasengsem tataki, tuhu bekti nggigilut wiyata, murih dadi lantarané, tentrem ing brayatipun, tumus harja miwah basuki, sumrambah tedhak-turun sapawingkingipun, sadaya samya pinerdya, dimèn pana warahing luluhur yekti, temah kalis rubéda. 30. Sabanjuré winedhar sastradi, apan baya winastan pitenah, nyarwètèh kedaling lambé, ngrarakit tembung lunyu, amemada sarta ngadili, ngumbar panyatur ala kèh panacadipun, alaning liyan dèn andhar, kaya-kaya beciké tan ana sami, klayan dhiri pribadya. 31. Tyang kang remen mbèbèrken wawadi, lir karaba muleg ing akasa, anguwus-uwus wuwusé, basda winewah bumbu, pamurihé saya wigati, sanès kinarya lalap uraping panyatur, nukulken wijining tikbra, dyan pracara ukara datanpa bukti, iku watak katbuta. 32. Tembung sisip sinusup kasisip, murih bisa sasap ing sasama, samakéyan sasolahé, kudu unggul binuru, nora ngétang katala sami, lumuh lamun prawadha kalindhih ing semu, mangungsir mrih kasumbaga, ancik-ancik kunarpanirèng sasami, jail lampah candhala. 33. Amemada sisiping sasami, nora béda gandaning kusana, lir bathang ingkang wus lungsé, bacin lamun dèn ambu, anderbala mbabar wewerri, parandéné si punggung pambeg wah kumingsun, kadi hakim kusalanya, angadili sapa-sapa ingkang wèsdhi, kasereng lir katwara. 34. Dipun émut ywan namung sawiji, ingkang yasa sanggyaning prarepa, tuwin jumeneng hakimé, tan liya mung Hyang Agung, kang kagungan gung kasugatin, misésa palimirma miwah paring bendu, dé manuswa iku sapa, kumawani kumlungkung ngadil-adili, tumanduk ring papadha. 35. Poma bisa mapanaken lathi, datan lèmèr ngumbar-umbar kata, kanthi permati empané, wit kasunyatanipun, ilat iku lir wisa mandi, dhahat karya sangsaya punapi kasumbung, lamun kalintu trepira, ing kawurya pranama adamel tuni, katiwang ing papaka. 36. Èmperipun kendhali turanggi, dipun trapken jroning cangkemira, sanadyan alit wujudé, ywan pinekak satuhu, temah gampil dèn kemudhèni, tumrah badan sakojur tan liya mung manut, makaten lidhah sanyata, dyan mujudken pérangan badan kang lengit, nging misésa mring janma. 37. Kadi latu nyalat wreksa langking, dyan sapletik bisa ngambra-ambra, temah mbesmi alas gedhé, makantar urubipun, ngalad-alad ambilaèni, ilat iku tan béda kadya hagni tuhu, lir jagading kadurakan, kang dumunung jro jiwa-raganirèki, dadya sangarakalya. 38. Angrèh sato teka langkung gampil, buron wana peksi raja-kaya, dalasan saisining wé, saged kadamel lulut, tan mangkono ilatirèki, nyata kalangkung lungit ywan kinarya tutut, pindha krodhaning denawa, nyembur wisa wisaya aniniwasi, surata siya-siya. 39. Klawan ilat padha muji Gusti, ngidung dhikir ing sawayah-wayah, kadi brahmana anggepé, kaya-kaya manekung, angèmperi panatagami, nging klawan lidhah ugi nyupatani manu, mijil king tutuk sajuga, ipat-ipat punapa déné wastuti, muspra datanpa guna. 40. Jihwa pindha landheping bedhami, lamun linga muwus ngayawara, pasulayan undhuhané, nyebar wijining tatu, datan mokal wawalar ndadi, nora gampil pineper kalamun katrucut, andhatengaken braminta, saraga gung ngebeki jro tyasirèki, lengka kang rinaosna. 41. Lir kusara mrentul wanci énjing, sumberipun saking alam raya, sung seger tanem-tuwuhé, watak asih tan sengkung, dadya daya ingkang nguripi, makaten imbanipun lidhah ingkang wèstu, nètèsken sarkara soba, sarasati binawa amangastuti, ngenut pangrèhing suksma. 42. Nadyan namung pérangan kang lengit, lamun mogèl mobah jroning latha, ananawur sarawa gé, kang dados panènipun, sakelangkung anggigirisi, waged dados kabegjan kalamun pituhu, nanging kosok-wangsulira, amangangi kalamun nyenyebar branti, pramila kang bisama. 43. Kang wasisdha tansah angulati, mring bebener wucaling bremana, sinartan manah kang sarjé, kasantyan kang dèn bujung, mekak hawa laksita juti, lidhah dipun kendhali tutur tan kalantur, sumimpang sagung pitenah, awiwéka mrih dadya harjaning janmi, yèku manuswa tama. 44. Salir wawengkaning janma singgih, tinalesken wisiking Hyang Suksma, kang kaajab mung bahagé, rurumpakaning wuwus, was winawas kanthi premati, leget mring kautaman priyatna ing tembung, wèh sarsa maring sasama, sèstu soba suka wicaga ring dasih, dharaka pramusita. 45. Pan wus langkep lingkabing pramodi, menggah warah cidra lan pitenah, dipun ening panampiné, lebetna manjing kalbu, dimèn menep jro sarasati, dadya daya paraya salir dhasdhi langut, langet langkananing lana, leng lumingling ngluluri pranamya dhani, ngulari rèh sampurna. 46. Mangkya dungkap warah kaping kalih, ywa ngalingi luputing sentana, awit ageng durakané, babasan ngingu-ingu, pringga dhusdha mutawatosi, walagang nggènnya lumung ywan datan kapugut, ngreregedi janaloka, wusna anjrah sulurnya angririsaki, wohira gung rudita. 47. Lumingkabing wawaler puniki, wus winedhar déning pramudika, tilingna kanthi luménggé, resepna kang satuhu, temah dadya daya basuki, ukara rinumpaka jroning sekar Pangkur, prihé sami pinungkurna, sagung trékah kang cengkah klayan prarepi, swawi dipun gatosna. P A N G K U R 48. Murih harjaning puraya, poma-poma wicaga dèn ugemi, cepengana ingkang wastu, langkana tan wrin godha, upayanen paugeran priha tan wur, lumèng prabaning nagara, sumrambah kawula dasih. 49. Ywan pramoda dadya wasa, wit tan lengkep manira angluluri, dadya ura jroning dhatu, paraha sanagara, temah sisah lamun katala wus kusup, angèl dipun dandosana, jugar wigar kang kawuri. 50. Lamun ginadhuh wisésa, aywa gampil atilar silastuti, sanadyan tumrah ing bandhu, pakeken datan lirwa, nora ngugung dupèh sentananing ratu, dhusdha pinaring papaka, dharaka manggih astuti. 51. Kang wasisdha angrèh praja, gegebengan pradika gegyan adi, ywa parasama ring manu, linenggahna sapadha, siningkirna sagung dhasdhi angriridhu, murih kalis king dhuskarta, satemah lulus basuki. 52. Pirengwa dipun landhepna, piyarsakna gung pasambating kasi, kalamun datan pakantuk, kaadilan kang santya, sanadyanta dudu tuturasing ratu, ywan gesangipun kastura, tikbranira dipun sanggi. 53. Tumarah para sentana, kang gumendhung morang kèhing kintaki, kang dadya ugering dhatu, remen anunggyangtaya, amikara dupèh maksih tedhak luhur, aywa mangu pinidana, ngetrepi jejeging adil. 54. Aywa pisan darbé sedya, angalingi klepataning sentani, lampahnya aywa dèn ugung, niyak sagung prarepa, saya ndadi dhumateng wisésa wuru, nora idhep mring dadalan, muksapada kang linari. 55. Masiya maksih sudara, nanging remen miyala sasing janmi, becik tinerapan siku, dinendha sawatara, ingkang murwat klayan kalepatanipun, pamurih rèh jinejegna, ywa nganti amémérangi. 56. Nilep lepating sentana, paribasa babathang dèn kemuli, sanadyanta nganti brukut, wus datan kawistara, mongka sutra ingkang kinarya salimut, tetep dugi titi mangsa, kinuswa gandaning pati. 57. Aja dupèh kadang raja, tandang-tanduk sarwi ngéwan-éwani, panganggepipun kalantur, kascar-yan kalenggahan, kasyang asih kibir edir lawan umuk, apracara sagendhingnya, tyang alit tan ana wani. 58. Awasna pamawasira, wirahsané bebener duk inguni, basan badrak badan kramu, langking tan ana rega, nora bener kalamun tan dèn paèlu, sinikara siya-siya, kawuri amamalati. 59. Prayojana ingkang prama, nora gingsir kalindhih sagung pamrih, ngudi cantya aji mumpung, sentana dadya bala, tan nayuti sanadyanta tindak luput, binari asuka-suka, tundhoné angundhuh tuni. 60. Aywa wuru mring sarkara, mamanisé wisésa pinracadi, dupèh lelenggah ngaluhur, sanak kadang dèn uja, pinaringan wengan awawatak diyu, kethaha mring donya brana, prana winengku ing moksil. 61. Pan wus jamaking manuswa, lamun mukti padatan dadya lali, mring pangwasa kapiluyu, ical landheping rahsa, andrawili kasukan ingkang kabujung, mring dasih suka andaha, trékahnya anjurbalani. 62. Suka-suka parisuka, ngajak-ajak tingkahipun nyrambahi, dhateng sanak-kadangipun, jinarken ngambra-ambra, lamun lepat sengadi datan anahu, kupiya ywa kawistara, pinurih tiningal èdi. 63. Nggagadhang éndrasangsara, mring sentana mirah nggènnya andani, sinarujuk dyana luput, lumuh pènget myang warah, wit misésa datan wènten tembung klintu, samudaya kaleresna, tyang andèh tan ana wani. 64. Lamun kaladuk énaka, mangka murba wewenang angrèh kasi, tedhak turun dipun ugung, acongkak sosongaran, angandelken maksih dharahing ngaluhur, andé sangsaraning praja, anjuk risaking nagari. 65. Poma dipun waspadakna, ywan amengku wisésa nyakrawati, aywa kalulun ing napsu, tyas ura nir waskitha, kang satiti mulat sisiping tumanduk, nadyanta alit kéwala, bisa akarya papaki. 66. Kalamun dadi pramuka, pinitaya mangrèh jantraning nagri, andurasa labetipun, mélik dèn anjuk tebya, sung ancuta mring bebener datan indung, sirik nyilibken piala, pracékaning sentanèki. 67. Bangkit nahen sagung hawa, kaadilan tan kendhat dipun udi, tumrah kawula sadarum, tan ana béda-béda, wus samesthi kang lepat pinaring bendu, dadya pangungsèn sanyata, tumrap kang sami andasih. 68. Becik lamun paramarta, sung apura kawula ingkang lali, niyak gegebengan luhur, wus mratobat sanyata, nanging baya aywa kalimput ing semu, katalya ing panggraita, lampah dora datan maksi. 69. Mangkana traping trapsila, samektakna manah kadya udadi, nalar mulur tan kalantur, dyan loma pangapura, aywa mamang matrapi ingkang kalintu, pinta-pinta paneraknya, kadang kawula pan sami. 70. Utana lestari begja, titis mawas gelitaning prakawis, nora nilarken papacuh, ambuburu angkara, dupèh lagya ginadhuhan sendhang madu, mring asanès siya-siya, lepating kadang siningid. 71. Angunguja karsèng driya, catur wengis tumanduk ing sasami, basan tatanem gugrumbul, kemarung bobondhotan, undhuhané prahara gung sakelang-kung, waris sentana dèn uja, tan ana nohan nuhoni. 72. Kèh tyang sudra ananantya, tinilingna pasambat kawlasarsi, nora luwèh mring panglawung, dupèh sanès sentana, iku dudu wawantuning pangrèh luhur, luput winastan waskitha, kekeling kang dipunnèni. 73. Urip muspra nir sarkara, kakarèné tan liya sarwi rungsit, nglangut nenga namu-namu, ical jatining rahsa, dadya linglung nunjang palang kadé diyu, risak sakèhing ukara, wus tan wènten silastuti. 74. Latah remen andurkara, kibir edir jubriya sagung janmi, mring bebecik tan anaur, malah mamales ala, kosok-wangsul mring sanak-kadang sadarum, panyaruwé tan pinanggya, jinarken amurang tatir. 75. Makaten kababarira, ywan kaandhar pepeceh kang kaping dwi, andungkap warah katelu, yèku amawang kadang, nora béda klayan piwucal karuhun, menggah lengkeping ukara, sinekar Asmaradani. ASMARADANA 76. Tanasing janma utami, ingkang tumrah gesangira, mring pakeken datan andor, ngugemi sagung wiyata, winedhar sang twijara, mahnani gancaring laku, linepat salir rencana. 77. Aywa nganti atatawing, ngandelken kadang sentana, dupèh maksih dharah dhéwé, nanging pasemoning nitya, tan kénging pinitaya, rongèh jlalatan ing semu, tan pantes sinung kawiryan. 78. Dyan kadang lamun tan becik, nora untung rinaketan, bisa dadi kajalomprong, angajak-ajak sangsara, tiwas tuwas wuntatnya, wasna kaduwung ing kalbu, nanantya datan piguna. 79. Ruruh rentahing andani, pinaringken ring sasama, kang amiji karsèng Katong, tuturasing kretiyasa, pantes dèn pedakana, tulakang dadya babayu, kukuwating anggyanira. 80. Saking pasemon wus kèksi, wawantuning taluwanwa, remen narajang papakon, polah-tingkah sarawéyan, tan jetmika ing budya, gumuyu rasan sarwa sru, raos lingsem datan darbya. 81. Boten wurung tumut isin, winirang lampah dursila, nir kretyawan datan kalok, kèmbèt awoning sentana, murang kèhing pranata, kawurya tilar talutuh, temah angundhuh cintraka. 82. Alelengis sarwi rukmi, busana mawa lengkawa, pambeg ladak lumuh anor, rumaos trahing kusuma, pantes sinudarsana, iku wateké wong kumprung, kapengkok nora sembada. 83. Lamun ngrentahken paparing, kukucah gung kamirahan, jroning tyas adil kang dumon, nora mawang béda-béda, dharah punapi liya, piniji ingkang tuwajuh, bangkit angéntasken karya. 84. Lumingling sagung kajatin, datan kalèntu garjita, patitis salir pepunton, nora kawuh ing pangrasa, tulya kujanapapa, sung kawiryan maring bandhu, mongka lengka twasanira. 85. Dyan sanès darbé kawanin, tangginas ngrampungi karya, lumrah pinaring pambombong, sokur bagé linubèran, sarna donya sosoba, swawara asih sawegung, kadang konang binucala. 86. Ywa karya tyasing lyan kanin, wit paparing tan warata, pilih-pilih ingkang kanon, singa celak kang kadrasa, tebih nora tinenga, iku patrapé wong pengung, ngembrah dadi taluwanwa. 87. Sumimpanga king durniti, dumarusa myang diggama, bubujeng pamurih kalok, kakadang dinadya bala, asanès winiruda, daridya undhuhanipun, pawingking manggih katala. 88. Kalamun datan sawawi, bisa mengku saniskara, manah rupak nora kamot, teges sanès trah ngawirya, becik lamun rumasa, ngembat wisésa tan saguh, milaur mundur kéwala. 89. Dipun émut aja dumi, lagya darbé pangawasa, dériti marang sakèhing wong, nanging sanak-kadangira, dèn papanken ing ngarsa, mongka tan pengkuh ing kéwuh, makarya nora kawaba. 90. Tilingna ning ing kawathi, patitis pamawasira, gatosna ingkang sayektos, lamun paparing wisésa, aywa mawang sentana, kawanin suba tan sengkung, iku dinadya pramoda. 91. Kathah-kathahipun janmi, twasa kalimput dureta, wuru dhumateng pangwaos, mumpung maksih amisésa, morang sakèhing tata, sanak-kadang mitra-karuh, linenggahken papan éca. 92. Boten lingsem ing durniti, jirèh ingangkat kretyawan, lenggah twijara tyang parnoh, pandhir dinadya pangarsa, pingging sinuba dwija, ngangsu kawruh mring tyang blilu, mung krana maksih sentana. 93. Lagya kalampah samangkin, ing jaman kala katwara, mundhak-mundhak ing pakéwoh, néréndra nir ring sudarsa, bucal lampah tatakya, rèh praja déning babandhu, tilar warahing pujangga. 94. Darbéning lyan dèn talappi, kasereng nunten kawirya, sareng sentana sapunton, sarujuk jajarah samya, daruti semunira, tan béda bebegal lamun, naracak miwah ngrabasa. 95. Èwon-èwoning wong drengki, guyub ngambah durniminta, sugal diksura dèn soroh, sakadang cepeng wisésa, praja dadya puwara, garwakara sugih galu, kang nandhang wong sanagara. 96. Ywan wus kukumpul nyawiji, dundum brana duratmaka, béda apa tiyang awon, suka-suka sagendhingnya, nétra kawuh tan menga, suthik wruh roganing manu, tinengen mung kasukannya. 97. Dudu patraping wong singgih, mirungga maring sentana, mawang kadang lamun andon, suka dalajat pangkatnya, tanpa panitipriksa, kang winiyat dupèh bandhu, sanadyan sisipat dura. 98. Lamun mangsa kala dugi, jugar tataning puraya, gesang saraga wah kasor, drasa kaleban kasmala, kawurya dadya ura, ririsak datarpa duwus, katala katiwang marga. 99. Mring sasama gardhawari, aywa pilih-pilih jalma, sadaya titahing Manon, datan remen karya pringga, nging pinurih énaka, kasaénan amemengku, kawaba nandukken dardya. 100. Lamun becik mring sawiji, mongka gething dhateng liya, iku winih ingkang awon, remen anyelir sentana, mring asanès durcara, raos mèri ingkang thukul, tulakang panèn kasmala. 101. Nandukna bebener ugi, boten kénging kawa-kawa, tan mingkuh saking wawaton, miling-miling dupèh mitra, lilingen kang prakara, linimbang-limbang satuhu, kanthi lungiting pangrasa. 102. Nadyan tedhaking acedhis, nanging bener pratikelnya, pantes kalamun linakon, kosok wangsul dyan sentana, nging kasingsal ing budya, tinurut temah kalintu, nyimpang margining utama. 103. Mlarat donya datan pasti, asor ing bubudènira, makatena tiyang kalok, tan wastu luhur ing nala, becik lamun saranta, tinaliti kanthi turut, patitis pamawasira. 104. Pétanana kang priyatni, pundi titiyang pranamya, pratingkahipun tan parnoh, paraya anteng garjita, prayoga purugana, nora krana maksih bandhu, nging pradana pangawruhnya. 105. Miyat sudraning sasami, marma manah tinarbuka, thukul welas tan pitakon, maksih kèmbèt apa liya, iku nora prayoga, becik legawa tutulung, lila mardawa ing budya. 106. Wageda dadya palupi, jumbuh turasing ngawirya, nuhoni jejeging pakon, papakeming puruhita, janma paramatatya, madhangi kang puru-puru, ngruwat sanggyaning piroga. 107. Lakon jaman kalasrenggi, trékahé tiyang candhala, kadi réwanda saranggon, gendhon rukon tindak dhusta, tan ana jrih duraka, ywan lepat tutup tinutup, pinurih tan kawistara. 108. Wus sinerat jro pepesthi, tekané jaman drubiksa, nora maèlu piawon, sanak kadang dalah yoga, wuru kayungyun arta, wengis mamalak ing pémut, suthik nilingken wasita. 109. Mengker mangsa danawa ji, maksih tilar wawantunya, tan gampil luntur winasoh, santun ingkang baureksa, tindakira tan béda, srakah kethaha lestantun, ngungumbar saliting hawa. 110. Saking iring wétan semi, muncar-muncar poladannya, nging paéka kang dèn gémbol, ngimpun-impun sanggya mitra, sarana suka purba, cinegah lumawan sampun, ngogak-ogak pangu-wasa. 111. Kinarya kudhung agami, mangka wawaton dèn prusa, iku nyanyadhang pakéwoh, kang nunggil winastan bala, béda dèn anggep mala, temah puraya tan wèstu, dredah bangsa padha bangsa. 112. Tyang pengung mangrèh nagari, tindakipun dumarusa, nora jejeg mring wawaton, wit tan jajag rèh waskitha, mung bubujung hartaka, kaleng-gahan miwah dhatu, tilar waspaosing prana. 113. Pasemonnya ladak edir, mangathik kadang myang mitra, lirwa wisiking Hyang Manon, supé harjaning kawula, remen lamun pinuja, pangiring samya anglulu, pamrih antuk kang dèn sedya. 114. Pungkasing jaman dériti, lamun bénjang ana janma, mijil saking jro wewengkon, sudarpa asidikara, wadana ning susmaya, tan mawang kadang satuhu, adil tuwin paramarta. 115. Tyang kang mlarat datan langking, sugih tan mangéran bandha, migati mring sakèhing wong, suthik nenengen sudara, adil sagung prakara, tebih mélik cegah napsu, mungkul mring Hyang Widi-wasa. 116. Wus tan kapéncut ing daging, alus sakelangkung lembat, agal donya datan kamot, sasat Pangéran maraga, ngrucat salir angkara, jro riribed sonya tuhu, pupuja ngéntasi karya. 117. Meleng gilig kang dèn udi, harjaning rastala samya, datan kasengsem pambombong, kang damel rupaking jangka, nora mangathik jana, priha tindak tan kalintu, lepat boten kawistara. 118. Dungkap pungkasing wigati, wawarah mangrèh puraya, mirid karsaning Hyang Katong, sinambet wedharing weca, gelaring tanah Jawa, dyan mung samrica binubut, pantang lamun dèn badala. 119. Sinuprih tan morang margi, uwal saking lenging widya, suka pémut mring kang mirong, nyinyingkur aji pamasa, angedirken pangwasa, jinugag lingkabing wahyu, sambet wyataning twijara. 120. Piwucal catur puniki, prakawis mèt donya brana, kalayan angudi wadon, gegaran wenang misésa, tan luput ginayuha, mring panguwaos gumendhung, sapa wani mancasana. 121. Asring dadya ciri wanci, ingkang lagya amisésa, pongah awawatak rimong, nubruk buron ingkang ringkya, minongka tatadhahnya, makaten tyang alit iku, dèn mangsa nora suwala. 122. Menggah lengkeping kintaki, kacetha pupuh lajengnya, rinumpaka sekar Sinom, dyan kawedhar sakadarnya, manut gaduking nala, paripaos timun wungkuk, kinarya imbet kéwala. S I N O M 123. Wus dadi jamaking janma, jro jaman mengeng puniki, ngasil-asil donya brana, raos lingsem wus kawuri, tebih tataning nagri, mring gebyar samya kayungyun, tur ginadhuh wisésa, saya wantun nerak margi, kang dèn bujung tan liya mung kasukannya. 124. Raos tuwuk tan kadarbya, sasat genthong ingkang ciri, masiya dipun grujuga, toya sablumbang saari, panggah datanpa isi, ngowos-owos maksih suwung, tangèh lamun marema, antuk leksa kurang kethi, puluh-puluh iku wataking drubiksa. 125. Becik wantuning walika, anguntal mangsanirèki, sapisan tumunten néndra, tan mosik nganti sasasi, kadya lampah tataki, nenedha sacekapipun, nora kaladuk hawa, ngangah-angah jroning budi, béda janma ingkang wuru mring pangwasa. 126. Mangiwut tatandho arta, bikut gènira nalapi, wus ical éwuhing rahsa, prawira datan kadarbi, mamak dhumateng gahi, waton antuk kang dèn bujung, dyan ngrebat uriping lyan, tegel tan èwed papati, welasarsa wus tebih saking pangrasa. 127. Tyang alit kadamel tumbal, dadya wadaling durniti, ringkih dipun kaniaya, kinarya ompaking wisdhi, pangadhuh tan praduli, nganung-anung aji pum-pung, murba gunging wisésa, kang badal dipun sirnani, songar dupèh tan ana wantun mamada. 128. Remen angalap ruruba, punapa déné upeti, mundhut lebon king punggawa, wah malih kawula sami, pangarem-arem mili, temah gesang tansah kogung, kecèh wang paribasa, tan nenga gegesing dasih, kang tinengen karemenaning pribadya. 129. Urip dadi salah kaprah, akarya ngungun ing ati, élok lamun rinasakna, nora barès malah mukti, nasar antuk astuti, kang jujur nandhang kalantur, blaka manggih antaka, resik winada tan wasis, puluh-puluh wus dugi lengkeping jangka. 130. Pawingking ngundhuh dahana, ingkang ngririsak nagari, karya uraning pranata, tumus gesangirèng dasih, bebener dèn tebihi, wusna samya andon napsu, lupa rèhing prawira, bubujung mulading kapti, praja jugar kawula buyar wuntatnya. 131. Ywan lepat gènnya mranata, musna lestarining nagri, wengkon samya ambalila, crah adredah rebat mukti, tilar tepaning sami, padha bangsa samya campuh, mangsah prang mumungsuhan, tan ènget raos manunggil, lamun kadhung kaduwung datan piguna. 132. Ical kuncaraning praja, puwara kasub jinawi, surem madyaning buwana, tan pinétang nagara ji, rinèmèh jro papaki, masgul wit datan pinunjul, gung asor dalajatnya, kondhang bangsa ingkang wengis, nora idhep tataning janma utama. 133. Prihatos lamun uninga, trékahing umat puniki, téga roga-ning sasama, béda gama dèn cengili, séjé bangsa sinengit, kadya wawantuning diyu, jro liliwunging wana, bubujeng buron kang ringkih, pinrawasa dèn gaglag kanthi kethaha. 134. Tebih saking asih darma, welas-arsa pan wus sepi, tan éman patining liya, dingkik-diningkik sasami, sak-serik saya ndadi, miruda padhaning manu, tyang mursid sampun sirna, saking lebeting nagari, kang tinengen duraka klayan dursila. 135. Tangané padha candhala, narajang sagung papali, agahan karem mring donya, kala jiret dèn pasangi, samya ngarah papati, panguwasa soroh napsu, munasika kawula, hakim remen wang upeti, pra pangarsa mutusi sukèng tyasira. 136. Angger-angger sinélakan, tinekuk-tekuk sakarsi, miturut kang asung arta, wus supé jejeging adil, babasan grumbul eri, ngrèrèndhèt ambancang laku, kemarung pindhanira, mitra tegel angapusi, wus tan ana kang kénging dipun pracaya. 137. Aja pasrah marang kanca, punapa déné pawèstri, ngalèyèh ing pangkonira, tan jejeg kedaling lathi, langkung kathah mapali, mantu lumawan si biyung, anak lanang tan bektya, marang bapa mamancahi, dugèng jangka jaman babaya cintraka. 138. Kalakyan ing jaman ika, tyang sugih remen ngapusi, kang mlarat tan pinracaya, dora cidra salir janmi, wawaler dèn campahi, nenedha tangèh atuwuk, padharan tansah luwya, sisimpen datan gadhahi, nyebar wiji tangèh angundhuh wohira. 139. Ngombéya maksih dahaga, tatamba panggah sakit, linipur saya dhuhkita, dèn nepken mubal andadi, éwuhaya ing budi, sinabarna dadya gugup, arsa aso kang sayah, langkung kesel kang pinanggih, lamun léna sungkawa nora kuwawa. 140. Atatandho rajabrana, asalipun king durniti, takeran sami dèn suda, traju ginanjel tan wèsti, watu timbangan cicir, kabèh pokal tangèh lugu, temahan kénging walat, ipat-ipating Hyang Widi, tan sempulur ginawa dugèng pralaya. 141. Nahen napsu nora kampah, ngumbar hawa tanpa budi, sengsem kasmaran wanodya, tan émut trapsilèng krami, tilar waskitèng kapti, dupi wus lenggah ngaluhur, nguja mubaling branta, suthik mirengna papali, nir tuladha sumimpang saking pranata. 142. Kayungyun mring kasulistyan, nyanyaput nering pangreti, ical waspaosing driya, kineluh liring pawèstri, supè walering margi, tan maèlu pager ayu, pakèwed tan kadarbya, winada nora malangi, lenging cipta mung juga tinurutana. 143. Rinungrum gampil arentah, lir lembu dipun patrapi, cinongok ing cungurira, kadi tyang bodho katali, babandan dèn adili, pindha kukila kapulut, babaya tan uninga, léna linepas jemparing, lamun kena panèn mamala antaka. 144. Poma-poma élingana, kang dadi walering margi, ngombéya ing belikira, ywa nglurug sanès parigi, myang liyan gampil mélik, ngandelken kuwasa-nipun, wenang mundhut babana, kalebet minta pawèstri, garwa yoga tan pinétang waton bisa. 145. Cacat menggahing pangarsa, lamun remen luru warih, kasengesem mring sendhanging lyan, ngasag-asag sapinanggih, raos èwed wus sepi, rongèhing manah kadlarung, parwi dasih ingalap, sinengguh dadya upeti, yèn mangkana ical prabawaning praja. 146. Becik lamun tinahena, atataki sawatawis, marema ingkang kadarbya, ywa malang tumolèh margi, tyas meleng ning nyawiji, muncar wibawaning prabu, sinuyudan kawula, pinitaya dipun aji, temah lulus sempulur kuncaranira. Aji Pameleng 06 Mar 2010 Leave a Comment by wayang in Kitab & Kidung Tegesipun aji = ratu, pameleng = pasamaden; mengku pikajeng : tandaning sedya ingkang luhur piyambak. Dene empaning pandamelan wau winastan manekung, pujabrata, mesu budi, mesu cipta, ngeningaken utawi angluhuraken paningal, matiraga lan sasaminipun. Papan ingkang kangge nindakaken wau panepen, panekungan, pamujan, pamurcitan, pamursitan, pahoman, paheningan lan sanes-sanesipun. Dene wedharing kawruh winastan daiwan, dawan, tirtaamerta, tirtakamandhanu, tirtanirwala, mahosadi, kawasanan, kawaspadan, kawicaksanaan, sastracetha, utawi sastrajendrayuningr at pangruwating diyu lan sapanunggalanipun. Menggah pigunanipun kawruh lan pandamel wau, perlu kangge sarananing panembah murid manggih kawilujengan, margi saged anindakaken dhateng sawarnaning pandamel sae, punapadene kangge sarana duk kita darbe sedya nunuwun kanugrahaning gesang kita pribadi (Pangeran), inggih nunuwun bab punapa kemawon ingkang limrah kenging linampahan saking pandamel kita ingkang boten tilar murwat. Wondene purwanipun ing jagad teka wonten kawruh pasamaden, bilih miturut saking tembung-tembungipun , sanyata kathah ingkang nagngge basa Sansekrit; yen makaten tetela manawi wimbaning kawruh pasamaden wau saking tumitising kawicaksananipun bangsa Indhu ing jaman kina makina, ingkang sampun boten kasumerepan petang ewoning taun. Bokmanawi kemawon papantaranipun kalihan nalika bangsa Indhu amurwani iyasa candhi dalah reca-recanipun. Dene kawruh wau ing sakawit inggih namung kangge bangsa Indhu, boten nawang bangsa Indhu ingkang agami punapa kemawon, katamtokaken mesthi ngrasuk pasamaden. Awit inggih namung kawruh pasamaden punika ingkang dados mukaning saliring kawruh sajagad, lan ugi dados pangajenging piwulan agami. Ing ngalami lami bangsa Indhu sami lumeber dhateng ing Tanah Jawi lan sanes sanesipun, serta sami anggelaraken agaminipun tuwin kawruh sanes sanesipun; makaten ugi kawruh pasamaden inggih boten kantun. Kawruh pamasaden wonten ing Tanah Jawi saget ngrembaka tuwuhipun, margi bangsa Jawi tan pilih drajad sami remen puruita lan saged nandangaken dating pangolahing kawruh punika, awit kawruh wau saget nocoki kalihan dhadhasaring pamanahipun titiyang Jawi, mila kalayan gampil rumasukipun wonten ing balung sungsuming titiyang Jawi. Kasembuh malih saking kathahing bangsa Indhu kados sinuntak sami angajawi, nedya anggelar agami Jawi lan kawruh kawicaksananipun. Bebasan sakedeping netra, bangsa Jawi ing sa’indhengipun maratah sampun sami angrasuk agami Indhu, lan ugi sampun sami saget ngraosaken kabegjan, kamulyan, kawilujengan lan sasaminipun, margi saking wohing kawruh pandamel wau. Ing wusana katungka dhatengipun titiyang bangsa Arab sami lumebet ing Tanah jawi, ingkang ugi ambekta kawruh lan agaminipun Mohammad, kasebut agami Islam, temah nyunyuda tumangkaring agami Indhu, sebab lajeng wonten ingkang angrasuk agami Islam. Namung kemawon wedharing agami Islam boten andarbeni kawruh pasamaden, kados kasebut ing nginggil. Sareng golonganipun tiyang Islam sampun saget ngendhih Nagari, inggih punika adeging Karaton Bintara (Demak), ing ngriku lajeng angawisi kalayan kenceng, titiyang Jawi boten kenging anindakaken kawruh pasamaden, mekaten ugi sami kinen nilar agaminipun lami, serta kedah santun angrasuk agami Islam. Ananging boten ta manawi bangsa Jawi lajeng anut purun santun agami Islam sadaya, purunipun wau namung margi saking ajrih paukuman wisesaning Nata, dados Islam-ipun wau namung wonten ing lahir kemawon, utawi Islam pangaran-aran, yen batosipun taksih angrungkepi agamipun lami. Milo bab kawruh pasamaden inggih taksih lajeng katindakaken, ananging pamulang pamedharing kawruh pasamaden wau, ingkang karan nama wejangan (wijang-wijang) sarana lampah dhedhemitan, katindakaken ing wanci ndalu sasampunipun jam 12, ugi papaning pamejang boten kenging kaubah wangon, kadosta ing ara-ara, ing wana, ing lepen lan sasaminipun ing papan ingkang sepen. Pamejangipun srana bisikan boten kenging kapireng ngasanes, sanadyan suket godhong, kewan tuwin bangsanipun gegremetan kutu-kutu walangataga ugi boten kenging miring, yen miring lajeng malih dados manungsa. Mila linggihipun Kyai Guru ajeng-ajengan aben bathuk kaliyan pun murid, serta sanget pamantos-mantosipun Kyai Guru, pun murid boten kenging nularaken wewejanganipun (kawruhipun) dhateng tiyang sanes, bilih dereng angsal palilah Guru, yen nerak bade angsal wilalat manggih sapudendhaning Pangeran. Panindak ingkang mekaten punika, purwanipun namung tetep kangge panjagi, supados pamulanging kawruh pasamaden boten katupiksan dhateng pamarintahing agami Islam. Sebab yen ngantos kasumerepan, tamtu manggih pidana. Dumuginipun ing jaman samangke, sanadyan Nagari sampun boten angarubiru dhateng wontenipun wewejangan kawruh pasamaden, nanging panindaking wejangan wau taksih kalestantunaken sarana dhedhemitan kados kawursita ing nginggil. Mila lajeng angsal paparab saking panyedaning titiyang ingkang boten remen, utami tiyang ingkang anglampahi sarengating agami Islam, bilih wontening wejangan kawruh pasamaden wau lajeng kawastan ilmu klenik. Purwo saking tembung klenik, lajeng angandhakaken tembung abangan lan putihan. Ingkang kasebut abangan punika tiyang ingkang boten nindakaken saraking agami Islam, dene putihan mastani tiyang Jawi ingkang teluh manjing agami Islam sarta anglampahi sadaya sarak sarengating agami Islam wau, inggih punika ingkang kasebut nama santri. Mila santri karan putihan, margi miturut panganggenipun titiyang agami Islam, bilih santri punika sarwo-sarwi langkung resik utawi suci tinimbang kaliyan titiyang ingkang boten angrasuk agami Islam. Mangsuli wontening kawruh pasamaden anggenipun sanget winados, menggah ingkang dados sababipun kapretalakaken ing nginggil. Dene yen saleresipun ingkang nama wados-wados wau pancen boten wonten; dados inggih kenging-kenging kemawon kawulangaken dhateng sok tiyanga, boten mawang nem sepuh, serta kenging kawejangaken ing sawanci-wancinipun, uger tiyang wau pancen ambetahaken kawruh pasamaden kasebat. Sebab wontenipun sadaya punika supados kasumerepan dhateng ingakathah, langkung-langkung kawruh pasamaden punika ingkang sanyata dados mukaning sadaya kawruh. Mila wajib sinebar dados seserepaning tiyang nem sepuh wadarin ing saindengipun, tanpa nawang andhap inggiling darajadipun. Amarengi wahyaning mangsakala, wusana wonten kaelokaning lalampahan ingkang boten kanyana-nyana; ing pawingkingipun bab kawruh pasamaden wau lajeng muncul katampen dhateng tiyang Islam, margi yakin bilih kawruh pasamaden wau, pancen musthikaning gagayuhan ingkang saged andhatengaken ing kawilujengan, kamulyan, katentreman, lan sasaminipun. Mila kawruh wau dening tiyang ingkang sampun suluh papadhanging raosipun inggih punika Seh Sitijenar, ingkang ugi dados pramugarining agami Islam apangkat Wali, lajeng kadhapuk ing ndalem serat karanganipun, ingkang lajeng winastan daim, wirid saking tembung daiwan kasebut ing nginggil. Punapadene lajeng kaewoaken dados saperanganing panembah, sarana dipun wewahi tembungipun, lajeng mungel : salat daim (salat – basa arab, daim saking daiwan basa Sansekrit). Milanipun dipun wewahi basa arab, namung kawigatosan kangge mikekahaken kapitadosanipun murid-muridipun ingkang sampun sami necep agami Islam. Punapadene tembung salat lajeng kapilah kalih prakawis. Sapisan salat 5 wekdal, kasebut salat sarengat, ateges panembah lahir. Kaping kalih salat daim, punika panembahing batos; mangertosipun : anekadaken manunggaling pribadinipun, utawi kasebut loroning atunggil. Kitab karanganipun Seh Sitijenar wau lajeng kangge paugeraning piwulang. Sareng sampun angsal kawigatosaning ngakathah, ing ngriku salat limang wekdal lan sarak agami sanes-sanesipun lajeng kasuwak boten kawulangaken babar pisan. Ingkang pinindeng namung mumuruk tumindaking salat daim kemawon. Mila titiyang Jawi ingkang suwau manjing agami Islam, langkung-langkung ingkang dereng, lajeng sami ambyuk maguru dhateng Seh Sitijenar, margi piwulangipun langkung gampil, terang lan nyata. Wondene purwanipun Seh Sitijenar kaserenan kawruh pasamaden, ingkang mijeni Kyai Ageng Pengging, sebab Seh Sitijenar punika mitradarmanipun Kyai Ageng Pengging. Kawruh asamaden, dening Seh Sitijenar lajeng katularaken Raden Watiswara, inggih Pangeran Panggung, ingkang ugi apangkat Wali. Lajeng tunimbal dhateng Sunan Geseng, inggih Ki Cakrajaya, tiyang asal saking Pagelen, ingkang kacarios saderengipun dados Wali, Ki Cakrajaya wau pandamelanipun anderes nitis gendhis. Salajengipun sumrambah kawiridaken dhateng ingakatah. Makaten ugi sakabat-sakabatipun Seh Sitijenar ingkang sampun kabuka raosipun, dening Seh Sitijenar kinen sami madeg paguron amiridaken kawruh pasamaden wau. Sangsaya dangu sangsaya ngrebda, anyuremaken panguwaosing para Wali, anggenipun amencaraken piwulang agami Islam. Yen kalajeng-lajeng masjid saestu badhe suwung. Ngawekani sampun ngantos wonten kadadosan ingkang makaten, temah Kyai Ageng Pengging tuwin Seh Sitijenar sasekabatipun ingkang sami pinejahan katigas jangganipun dening para Wali, saking dhawuhipun Sultan Demak. Makaten ugi Pangeran Panggung boten kantun, kapidana kalebetaken ing brama gesang-gesangan wonten samadyaning alun-alun Demak, kangge pangewan-ewan murih titiyang sami ajrih, lajeng sami mantuni utawi nglepeh piwulangipun Seh Sitijenar. Kacariyos sariranipun Pangeran Panggung boten tumawa dening mawerdining Hyang Brama, lajeng oncat medal saking salebeting latu murub, nilar nagari Demak. Kanjeng Sultan Bintara tuwin para Wali sami kablerengen kaprabawan katiyasaning Pangeran Panggung, temah kamitenggengen kadi tugu sinukarta. Sareng sampun sawatawis tebih tindakipun Sang Pangeran, Kanjeng Sultan tuwin para Wali saweg sami enget bilih Pangeran Panggung kalis saking pidana, temah sami rumaos kawon angsal sihing Pangeran. Katungka unjuking wadyabala, atur uninga bilih Sunan Geseng, inggih Ki Cakrajaya, kesah anututi lampahipun Pangeran Panggung. Ing ngriku Kanjeng Sultan katetangi dukanipun, temah dhawahing bendu, para sakabat tuwin murid-muridipun Seh Sitijenar ingkang kapikut lajeng sami pinejahan. Ingkang boten kacepeng sami lumajar pados gesang. Para sakabatipun Seh Sitijenar ingkang taksih wilujeng kakantunanipun ingkang sami pejah, ugi taksih sami madeg paguron nglestantunaken pencaring kawruh pasamaden, nanging mawi sislintru tinutupan wuwulang sarengating agami Islam, murih boten ka’arubiru dening para Wali pramugarining praja. Dene piwulangipun kados ing ngandhap punika : Pamulanging kawruh pasamaden ingkang lajeng karan salat daim, karangkepan wuwulang salat limang wekdal tuwin rukuning Islam sanes- sanesipun malih. Wewejanganipun salat daim wau lajeng winastan wiridan naksobandiyah, dene panindaking piwulang kawastan tafakur. Saweneh wonten ingkang pamulangipun ing saderengipun para murid nampi wiridan salat daim, langkung rumiyin kalatih lampah dhidhikiran lan maos ayat-ayat. Wiwit punika wuwulangan pasamaden lajeng wonten wanrni kalih, inggih punika : 1. Piwulang pasamaden wiwiridan saking para sekabatipun Seh Sitijenar, ingkang sarana tinutupan utawi aling-aling sarak rukuning agami Islam. Wuwulangan wau dumuginipun ing jaman samangke sampun mleset saking jejer ing sakawit, mila para guru samangke, ingkang sami miridaken kawruh pasamaden, ingkang dipun santuni nama naksobandiyah utawi satariyah, nginten bilih kawruh wau wiwiridan saking ngulami ing Jabalkuber (Mekah). Salajengipun para Kyai guru wau, amastani guru klenik dhateng para ingkang sami miridaken kawruh pasamaden miturut wawaton Jawi pipiridan saking Seh Sitijenar. Punapadene para Kyai guru wau nyukani paparab nama Kiniyai, pikajengipun : guru ingkang mulangaken ilmuning setan. Dene nama Kyai, punika guru ingkang mulangaken ilmuning para nabi. 2. Piwulang pasamaden miturut Jawi, wiji saking Kyai Ageng Pengging, ingkang kapencaraken dening Seh Sitijenar (ingkang ing samangke karan klenik), punika ing sakawit, ingkang dados purwaning piwulang, dumunung wonten panggulawenthahing wawatekan 5 prakawis, kados ing ngandhap punika : 1. Setya tuhu utawi temen lan jujur. 2. Santosa, adil paramarta, tanggeljawab boten lewerweh. 3. Leres ing samubarang damel, sabar welas asih ing sasami, boten ngunggul-unggulaken dhirinipun, tebih saking watak panganiaya. 4. Pinter saliring kawruh, langkung-langkung pinter ngecani manahing sasami-sami, punapadene pinter angereh kamurkaning manah pribadi, boten anguthuh melik anggendhong lali, margi saking dayaning mas picis rajabrana. 5. Susila anor-raga, tansah nganggeni tatakrami, maweh rereseping paningal tuwin sengseming pamiharsa, dhateng ingkang sami kataman. Lampah limang prakawis wau kedah linampahan winantu ing pujabrata anandangaken ulah samadi, inggih amesu cipta angeningaken pranawaning paningal. Awit saking makaten punika mila tumrap panindaking agami Jawi (Buda), bab kawruh pasamaden tuwin lampah limang prakawis wau kedah kawulangaken dhateng sadaya titiyang enem sepuh boten pilih andhap inggiling darajatipun. Mila makaten, sebab musthikaning kawruh tuwin luhur-luhuring kamanungsan, punika bilih tetep samadinipun, kuwasa anindakaken lampah 5 prakawis kados kawursita ing nginggil. Temah kita manggen ing sasananing katrenteman, dene wontening katentreman mahanani harja kerta lan kamardikan kita sami. Yen boten makaten, ngantos sabujading jagad, kita badhe nandhang papa cintraka, kagiles dening rodha jantraning jagad, margi kacidraning manah kita pribadi. Bab kawruh pasamaden ingkang lajeng karan wiridan naksobandiyah lan satariyah, ingkang ing nguni wiwiridan saking Seh Sitijenar, sampun ka’andharaken ing nginggil, namung kemawon tumandangipun boten kawedharaken. Ing riki namung badhe anggelaraken lampah umandanging samadi sacara Jawi, ingkang dereng kacarobosan agami sanes, inggih punika makaten : Para nupiksa, mugi sampun kalintu panampi, bilih samadi punika angicalaken rahsaning gesang utawi nyawanipun (gesangipun) medal saking badan wadhag. Panampi makaten punika, purwanipun mirid saking cariyos lalampahanipun Sri Kresna ing Dwarawati, utawi Sang Arjuna yen angraga-suksma. Mugi kawuninganana, bilih cariyos makaten punika tetep namung kangge pasemon utawi pralambang. Ing samangke wiwit wedharaken lampahing samadi makaten : tembung samadi = sarasa – rasa tunggal – maligining rasa – rasa jati – rasa nalika dereng makarti. Dene makartining rasa jalaran saking panggulawenthah utawi piwulang, punapadene pangalaman-pangalam an ingkang tinampen utawi kasandhang ing sadinten-dintenipun . Inggih makartining rasa punika ingkang kawastanan pikir. Saking dayaning panggulawenthah, piwulang tuwin pangalaman-pangalam an wau, pikir lajeng gadhah panganggep awon lan sae, temah anuwuhaken tatacara, pamacak lan sanes-sanesipun ingkang lajeng dados pakulinan. Punapa panganggep awon sae, ingkang sampun dados tata-cara margi sampun dados pakulinan punika, yen awon inggih awon sayektos, yen sae inggih sae temenan, punika dereng tamtu, jer punika namung pakulinaning panganggep. Dene panganggep, boten yekti, tetep namung ngenggeni pakulinaning tata-cara, dados inggih dede kajaten utawi kasunyatan. Menggah pikajenganipun samadi ing riki, boten wonten sanes namung badhe nyumerepi kajaten, dene sarananipun boten wonten malih kajawi nyumerepi utawi anyilahaken panganggep saking makartining rasa, kasebut sirnaning papan lan tulis. Inggih ing riku punika jumenenging rasa jati kang nyata, kang yekti, kang weruh tanpa tuduh. Wondene kasembadanipun kedah angendelaken ing saniskara, sarana angereh solahing anggota (badan). Mangrehing anggota wau ingkang langkung pikantuk kalihan sareyan malumah, saha sidhakep utawi kalurusaken mangandhap, epek-epek kiwa tengen tumempel ing pupu kiwa tengen, suku ingkang lurus, dalamakan suku ingkang tengen katumpangaken ing dalamakan suku kiwa, mila lajeng kasebut sidhakep suku (saluku) tunggal. Punapadene angendelna ebahing netra (mripat), inggih punika ingkang kawastanan meleng. Lampah makaten wau ingkang kuwasa ngendelaken osiking cipta (panggagas), tuwin amuntu ilining rahsa, dene pancering paningal kasipatna amandeng pucuking grana medal saking sa’antawising netra kakalih, inggih punika ing papasu, dene pamandengipun kedah kalayan angeremaken netra kakalih pisan. Sasampunipun lajeng nata lebet wedaling napas (ambegan) makaten : panariking napas saking puser kasengkakna minggah anglangkungi cethak ingga dumugi ing suhunan (utek = embun-embunan) , sarta mawi kaendelna ing sawatawis dangunipun. Sumengkanipun napas wau kadosdene darbe raos angangkat punapa-punapa, dene temenipun ingkang kados kita angkat, punika ilining rahsa ingkang kita pepet saking sumengkaning napas wau, menawi sampun kraos awrat panyangginipun napas, inggih lajeng ka’edhakna kalayan alon-alon. Inggih patrap ingkang makaten punika ingkang kawastanan sastracetha. Tegesipun cetha = empaning kawruh, cetha = antebing swara cethak, inggih cethaking tutuk kita punika. Mila winastan makaten, awit duk kita mangreh sumengkaning napas anglangkungi dhadha lajeng minggah malih anglangkungi cethak ingga dumugi suhunan. Menawi napas kita dipun ereh, dados namung manut lampahing napas piyambak, tamtu boten saget dumugi ing suhunan, margi saweg dumugi ing cethak lajeng sampun medhak malih. Punapadene ugi winastan daiwan (dawan), pikajengipun : mangreh lebet wedaling napas ingkang panjang lan sareh, sarwi mocapaken mantra sarana kabatos kemawon, inggih punika mungel `hu’ kasarengan kalihan lumebeting napas, inggih panariking napas saking puser, minggah dumugi ing suhunan. Lajeng `ya’, kasarengan kalihan wedaling napas, inggih medhaking napas saking suhunan dumugi ing puser, minggah mandhaping napas wau anglangkungi dhadha lan cethak. Dene, anggenipun kawastanan sastracetha, margi nalika mocapaken mantra sastra kakalih : hu – ya, wedaling swara ingkang namung kabatos wau, ugi kawistara saking dayaning cethak. (Ungeling mantra utawi panebut kakalih : hu – ya, ing wiridan naksobandiyah kaewahan dados mungel, hu – Allah, panebutipun ugi kasarengan lampahing napas. Dene ing wiridan satariyah, panebut wau mungel : hailah – haillolah, nanging tanpa angereh lampahing napas). Menggah lebet medaling napas kados kasebut ing nginggil, sa’angkatanipun namung kuwasa angambali rambah kaping tiga, mila makaten, awit napas kita sampun boten kadugi manawi kinen anandangana malih, jalaran sampun menggeh-menggeh. Dene manawi sampun sareh, inggih lajeng ka’angkatana malih, makaten salajengipun ngantos marambah-rambah sakuwawinipun, margi saya kuwawi dangu, sangsaya langkung prayogi sanget. Dene sa’angkataning pandamel wau kawastan : tripandurat, tegesipun tri = tiga, pandu = suci, rat = jagad – badan – enggen, suraosipun : kaping tiga napas kita saget tumameng ing ngabyantaraning ingkang Maha suci manggen ing salebeting suhunan (ingkang dipun suwuni). Inggih punika ingkang kabasakaken paworing kawula Gusti, tegesipun : manawi napas kita sumengka, kita jumeneng gusti, yen tumedhak, wangsul dados kawula. Bab punika para nupiksa sampun kalintu tampi ! Menggah ingkang dipun wastani kawula gusti punika dede napas kita, nanging dayaning cipta kita. Dados ulah samadi punika, pokokipun kita kedah amanjangaken panjing wijiling napas (lebet wedaling napas), kalihan angeningaken (ambeningaken) paningal, sebab paningal punika kadadosan saking rahsa. Wondene patraping samadi kados kasebut ing nginggil wau, ugi kenging karancagaken, uger kita tansah lumintu tanpa pedhot mangeh panjing wijiling napas, kalihan lenggah, lumampah, utawi nyambutdamel inggih kedah boten kenging tilar mangreh lebet wedaling napas wau, ingkang sarana mocapaken mantra mungel : hu – ya, kados ingkang kajarwa ing nginggil. Kajawi punika, wirid saking tembung daiwan punika ugi taksih darbe maksud sanesipun malih, inggih punika ateges panjang tanpa ujung, utawi ateges langgeng. Dene pikajengipun amastani bilih wontening napas kita punika sanyata wahananing gesang kita ingkang langgeng, inggih wontening ambegan kita. Dene ambegan punika, sanyata wontening angin ingkang tansah mlebet medal tanpa kendel, ingkang sasarengan kalihan keketeg panglampahing rah (roh). Bilih kakalih wau kendel boten makarti nama pejah, inggih risaking badan wadhag wangsul dados babakalan malih. Mila sayogyanipun lampahing napas inggih ambegan kita ingkang tansah mlebet medal tanpa kendel, kedah kapanjang-panjangan a lampahipun, murih panjanga ugi umur kita, temah saget awet wonten ing donya tutug panyawangipun dhateng anak, putu, buyut, canggah, wareng, ingkang babranahan. Wontenipun andharan ing nginggil, mratelakaken bilih kawruh pasamaden punika sanyata langkung ageng pigunanipun, mila lajeng sinebut sastrajendrayuningr at pangruwating diyu. Tegesipun sastra = empaning kawruh, jendra = saking panggarbaning tembung harja endra. Tegesipun harja = raharja, endra = ratu – dewa, yu = rahayu – wilujeng, ningrat = jagad – enggen – badan. Suraosipun : Musthikaning kawruh ingkang kuwasa amartani ing karahayon, kaharjan, katentreman lan sapatunggalipun. Dene tegesesipun pangruwating diyu = amalihaken diyu; dene diyu = danawa – raksasa – asura – buta, punika kangge pasemoning piawon, penyakit, rereget, babaya, pepeteng, kabodhohan lan sanesipun. Dados diyu punika kosokwangsulipun dewa, engkang ateges pinter, sae, wilujeng lan sapanunggilipun. Mengku suraos amastani ingkang saget anyirnakaken saliring piawon tuwin samubarang babaya pekewed. Mangertosipun, sinten ingkang tansah ajeg lumintu anandangaken ulah samadi, punika bilih ing suwaunipun tiyang awon, lajeng sirna piawonipun, malih dados tiyang sae lampahipun. Tiyang sakit sirna sakitipun, dados saras, tiyang murka daksiya lajeng narimah sabar, welasasih. Tiyang goroh lajeng dados temen. Tiyang bodho dados pinter. Tiyang pinter dados pinter sanget. Makaten ugi tiyang golongan sudra dados waesia, waesia dados satriya, satriya dados brahmana, brahmana sumengka pangawak braja asarira bathara. Ajisaka 06 Mar 2010 Leave a Comment by wayang in Kitab & Kidung Sebuah Perenungan tentang Sosok Ajisaka Karena kehendak Allah jugalah terjadinya manusia, hewan, pepohonan, kutu walang ataga, yang kesemuanya itu terjadi serta hidup dan dapat dilihat secara nyata wujudnya (ana rupa-wujude). Atas kehendak Allah tersebut yang luluh pada diri manusia, menyebabkan manusia memiliki keluhuran, keimanan, bawa laksana, welas asih, keadilan, ketulusan, eling lan waspada. Kesemuanya itu memberikan manusia kemuliaan (kamulyan) dan kesejahteraan (karahayon). Rasa tersebut juga menghubungkan kehidupan manusia dengan Allah Sang Maha Pencipta. Ca-ra-ka sendiri pengertiannya adalah memuliakan Allah. Sebab tanpa ada bawana seisinya, apalagi tanpa adanya manusia, tentu tidak akan ada sebutan Asma Allah. Tanpa adanya caraka, tentu pula Hana-Ne tidak akan disebut Hana. Sementara makna Da-ta-sa-wa-la dapat dijelaskan maknanya sebagai berikut. Adanya yang ada (anane dumadi) sumber asalnya adalah Satu, yaitu Dzat Allah. Dari yang kasar dan halus (agal lan alus), wingit (penuh misteri) dan gha’ib, pasti pada dirinya melekat setidaknya secercah Dzat Allah (kadunungan sapletheking Dzat Allah). Artinya, pancaran kun fayakun itu tidak hanya mencipta bawana seisinya, namun terus-menerus memancarkan kasih, mencermati dan meliputi terhadap seluruh kehidupan (ngesihi, nyamadi lan nglimputi sakabehing dumadi). Allah menciptakan bawana seisinya, khususnya dalam menciptakan manusia, bukan tanpa rencana, namun dengan keinginan dan tujuan yang nyata dan pasti. Titah Allah tidak dapat diingkari dari apa yang sudah ditetapkan menjadi kodrat (pepesthen). Demikian juga seluruh makhluk hidup di dunia (saobah-mosiking dumadi) pasti terkena keterbatasan dan pembatasan (wates lan winates), seperti halnya sakit dan kematian. Namun selain itu, juga melekat dalam dirinya (kadunungan) kelebihan satu dari yang lain, saling ketergantungan, lebih melebihi (punjul-pinunjulan) dan saling hidup-menghidupi (urip-inguripan). Baik dalam rupa, wujud, warna dan sosoknya (balegere dumadi), manusia dapat dikatakan sempurna tiada yang melebihi (kasampurnaning manungsa). Terciptanya manusia yang ditakdirkan (pinesthi) menjadi Wali Allah, menandakan bahwa hanya sosok manusia sajalah yang mampu menjadi Warangka Dalem Yang Maha Esa (wakil Tuhan di dunia). Kelahiran manusia dalam wujud raga-fisik dan bentuk badan itu merupakan sari-patining bawana. Maka, menjadi keniscayaan jika manusia mampu menggunakan dayanya guna mengungkap rahasia alam. Kelahiran hidup manusia, merupakan wujud dari sukma, yang dalam proses mengada dan menjadi (being and becoming) terbentuk dari sari-pati terpancarnya Dzat Allah (dumadi saka sari-pati pletheking Dzat Allah). Oleh sebab itu, manusia mampu mengkaji dan menelusuri, menggali dan mencari serta meyakini dan mengimani adanya Allah (nguladi, ngupadi, ngyakini lan ngimani marang kasunyataning Allah), sebab sukma sejati manusia itu berasal dari Sana (sabab suksma sajatining manungsa asale saka Kana). Selanjutnya Pa-dha-ja-ya-nya, maknanya bahwa sawenehing kang dumadi atau apa pun dan siapa pun tidak akan dapat hidup sendiri, sebab ia akan senantiasa menjalani hidup dan kehidupan bersama, sebagaimana keniscayaan fitrahnya, bahwa: panguripaning dumadi tansah wor-ingaworan -dalam kehidupan manusia selalu saling pengaruh mempengaruhi— selain juga punya ketergantungan satu sama lain. Begitu juga hidup manusia, bahwa perangkat badaning manungsa tidak mungkin secara parsial dapat hidup sendiri-sendiri. Artinya, ana raga tanpa sukma/nyawa tidak mungkin bisa hidup, tetapi ana sukma tanpa raga juga tidak bisa dikatakan hidup, karena tidak bisa bernafas. Jika seluruh anggota badan makarti semua, baru disebut urip kang sejati. Daya hidup (sang gesang) akan melekat (built-in) pada setiap diri-pribadi seseorang, yaitu rupa, wujud berikut segala tingkah-lakunya. Dapat dikatakan daya hidup akan luluh pada dirinya (sing kadunungan). Semua yang berwujud dan hidup pasti bakal tarik- enarik, saling bersinergi (daya-dinayan), sehingga menimbulkan daya-daya, seperti: daya adem-panas, positif-negatif, luhur-asor, padhang-peteng, dan kesemuanya itu senantiasa berputar silih berganti (cakra manggilingan). Semua inti dari interaksi tersebut ada pada diri manusia, di mana inti tadi sebenarnya telah terserap dari badan manusia sendiri. Maka dapat disimpulkan, bahwa obah-mosiking jagat/alam, juga terjadi pada obah-mosiking manungsa secara pribadi. Di mana ketika terjadi gonjang-ganjinging jagat/ alam, kejadian pada manusia juga demikian adanya. Ketika manusia bertingkah-laku angkara-murka, merusak dan sebagainya, jagat/alam juga berada dalam ancaman bahaya, misalnya musibah banjir, lahar, tanah longsor, banyaknya kecelakaan dan sebagainya. Makanya, manusia harus selalu ingat akan kewajiban pokoknya, yaitu: Hamemayu-Hayuning Bawana. Artinya, kanthi adhedhasar sarana sastra jendra hayuningrat pangruwating diyu sebetulnya manusia dapat nyidhem atau menghindari kerusakan alam semesta, selain juga bisa nyirep dahuruning praja (memadamkan kerusuhan negara). Ikatan manusia dengan Allah Swt., berupa keyakinan dan kepercayaan yang diwujudkan dalam panembah lan pangesti seperti ditulis dalam tuntunan kalam, yang disebut agama, mewajibkan manusia manembah (sembahyang, samadi) hanya tertuju kepada Yang Satu, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Ketika manusia manembah melalui sembah rasa, harus dengan seluruh sukma (roh, moral) kita, bukan badan raga yang penuh dengan kotoran (nafsu duniawi). Sebetulnya sembah raga itu hanya sarengating lahir, agar supaya umat manusia taat dan manembah marang Gusti Kang Murbeng Dumadi. Manusia itu paling dipercaya ngembani asmaning Allah, maka manusia harus menduduki rasa kemanusiaannya. Untuk itu, manusia harus bisa menempatkan diri pada citra keTuhanannya. Allah telah menciptakan apa saja untuk manusia, jagat sak isine, tinggal bagaimana manusia bekti marang Allah Kang Maha Esa. Tergantung manusianya, seberapa besar tanggung jawabnya marang Kang Maha Kuasa, sebab bawana beserta seluruh isinya adalah menjadi tanggung jawab manusia. Yang terakhir, Ma-ga-ba-tha-nga dapat dijelaskan maknanya, kurang-lebih sebagai berikut. Manungsa kang kalenggahan wahyuning Allah, manungsa kang manekung ing Allah Kang Maha Esa dadi daya cahyaning Allah lan rasaning Allah luluh pada sukma manusia. Jagat (alam) tergantung pada sejarah umat manusia yang disebut awal dan akhir, juga menjadikannya jantraning manungsa. Hakikatnya gelaring alam/jagat itu, juga gelaring manungsa. Jadi di dunia ini ora bakal ana lelakon, ora ana samubarang kalir, kalau tidak ada gerak kridhaning manungsa. Setelah ada manusia, sakabehing wewadi, sakabehing kang siningit lan sinengker wus kabukak wadine –semua telah jelas, semua telah menjadi nyata. Wis ora dadi wadi, amerga wis tinarbuka; Wis ora ana wingit, amerga wis kawiyak; Wis ora ana angker, amerga wis kawuryan. Artinya, kalau semua sudah kamanungsan/konangan —kalau semua telah menjadi kenyataan— berarti tugas kewajiban manusia di dunia telah selesai. Sudah sampai pada perjanjian pribadining manungsa dan sudah titi mangsa harus pulang marang pangayuning Pangeran. Dari tidak ada menjadi ada (ora ana dadi ana) menjadi tidak ada lagi (ora ana maneh). Artinya, sakabehing dumadi yen wis tumekaning wates kodrate, mesti bakal mulih marang mula-mulanira lan sirna. Awal-akhire, artinya sangkan paraning dumadi wis khatam/tamat. Kalau umat manusia sudah tidak ada lagi -kang dadi asmaning Allah-juga tidak akan disebut (kaweca), ana. Demikianlah, kurang lebih hasil perenungan saya selama ini dalam menggali makna filosofis yang terkandung dalam ajaran Aji Saka: “Ha-na-ca-ra-ka”. Betapa pun kita mengagungkan ke-adiluhung-an karya sastra Jawa, seperti Serat Wulangreh, Serat Wedhatama, atau pun filsafat Ha-na-ca-ra-ka, apabila tanpa penghayatan dan meresapi nilai-nilai substansial yang terkandung di dalamnya serta usaha mengembangkannya, tentulah tidak akan bermakna bagi kehidupan sastra Jawa masa kini dan masa depan, apalagi terhadap budaya Indonesia Baru yang harus kita bangun. Sastra Jawa mengandung wulang-wuruk kejawen, yang jika dilakukan penelitian lebih suntuk akan bisa digali ajaran kehidupan yang mampu memberi pencerahan pikir dan rasa untuk direnungkan di malam hari. Kesemuanya itu seakan meneguhkan makna peninggalan Aji Saka yang diungkapkan Sri Susuhunan Paku Buwono IX dalam tembang Kinanthi: “… Nora kurang wulang-wuruk, tumrape wong tanah Jawi. Laku-lakuning ngagesang, lamun gelem anglakoni. Tegese aksara Jawa iku guru kang sejati”. Babad Alas Nangka Dhoyong 06 Mar 2010 Leave a Comment by wayang in Kitab & Kidung Babad Crita Lesan Dumadine Kutha ‘Wonosari’ Wiwitaning carita ing wewengkon Sumingkar (saikine wilayah Sambi Pitu, Gunungkidul). Sumingkar iki miturut gotheking crita iki minangka Kutha Praja Kabupaten Gunungkidul wektu iku; rikala Sultan Hamengkubuwana I madeg ratu ing Kraton Ngayogyakarta. Sumingkar cedhak karo tembung ‘sumingkir’. Mirid saka kahanan lan sejarahe masyarakat sakiwatengen Sambi Pitu, wong-wong ing wewengkon iki minangka playon saka Majapahit, wong-wong kang ‘sumingkir’ ing alas Gunungkidul biyene. Crita lesane wong-wong kana nerangake manawa Brawijaya pungkasan keplayu tekan alas Gunungkidul, ngulandara ing sawetara papan lan mbukaki alas-alas dumadi desa-desa sarta ninggalake maneka kabudayan. Brawijaya pungkasan moksa ing Guwa Bribin, Semanu, jalaran rikala disuwun malik ngrasuk Islam dening Sunan Kalijaga ora kersa. Kaya dene masyarakat kang sumebar manggon luwih dhisik ing Rongkop, Semanu, Karangmojo, Ngawen, Nglipar, Sambi Pitu, saperangan Pathuk, uga Panggang, wong-wong iki wis dumunung ing sajembaring alas Gunungkidul sadurunge kedaden Palihan Nagari (Prajanjen Giyanti) ing Surakarta. Kabukti kanthi ananing maneka warna kabudayan kang gregete nuduhake semangat Jawa Asli-Hindhu-Buda-praIslam, kaya ta: tledhek, rasulan, cing nggoling, babad alas, reyog, petilasan Hindhu, petilasan Buda, lsp. kang tansah diuri-uri tekane saiki. Crita iki uga minangka bukti stereotip ‘babad’ kaya kang dumadi ing desantaraning pulo Jawa lumrahe; kepara ing nusa-antara. Ing Sumingkar Adipati Wiranagara madeg dadi adipati. Piyambake kagungan garwa cacahe loro, sing siji wanita Sumingkar, sing siji garwa triman saka Sultan. Ateges, garwa sing siji saka kraton Ngayogyakarta. Wus dadi kalumrahan yen para adipati pikantuk bebungah awujud apa wae saka ratune, bisa kalungguhan, kalebu garwa triman. Angkahe warna-warna: kanggo lintu tandang gawe, kanggo nerusake trahing kusuma, minangka tandha panguwasaning raja utawa kosok balene; teluke panggedhe ing dhaerah-dhaerah marang Nagaragung. Duk semana, rikala Adipati Wiranagara sowan ing Kraton Ngayogyakarta, piyambake oleh prentah saka Kanjeng Sultan supaya mindhah Kutha Praja Kabupaten Gunungkidul wektu iku kang dumunung ing Sumingkar (Sambi Pitu) menyang Alas Nangka Dhoyong, kang penere ing Kutha Praja Kabupaten Gunungkidul ing wektu iki. Kutha praja kabupaten Gunungkidul prelu dipindhah amarga miturut tata jagading keblat papat, kurang pener manengah. Dadi, rinasa dening Sultan kurang mangaribawani tumrap wewengkon kabupaten Gunungkidul liyane. Mangkono alesan ing crita rakyat dikandhakake. Sawuse kondur saka Kraton Ngayogyakarta, Adipati Wiranagara nimbali kabeh pangembating praja ing Sumingkar supaya sowan ing pendhapa kabupaten. Demang Wanapawira, yaiku Demang Piyaman (wilayah Piyaman tekane Nglipar saiki), durung katon sowan ing pendhapa kabupaten. Para pangembating praja padha duwe beda penggalihan babagan durung sowane Demang Wanapawira. Wekasane, Demang Wanapawira tumeka sowan. Rangga Puspawilaga, sawijining rangga asal Siraman, matur marang Adipati Wiranagara supaya Demang Wanapawira diparingi ukuman marga telat anggone sowan. Rangga siji iki pancen wong kang gumunggung, seneng tumindak culika. Ananging usul mau ora ditanduki dening Sang Adipati. Adipati Wiranagara paring dhawuh marang Demang Wanapawira supaya ngayahi jejibahan mbabad Alas Nangka Dhoyong kanggo mangun kutha praja Kabupaten Gunungkidul, kaya dene kang tinitahake Sultan Hamengkubuwana. Demang Wanapawira siyaga mundhi dhawuh. Rangga Puspawilaga ora sarujuk yen Demang Wanapawira kang pinilih ngemban titahe Sultan iku. Angkahe, dheweke kang madeg duta. Rangga Puspawilaga ndhisiki metu saka pasewakan marga ora narima kahanan iku. Ing kademangan Piyaman, cinarita ana sawijining perewangan kanthi nama Mbok Nitisari, kawentar jejuluk Nyi Niti. Nyi Niti dimangerteni dening wong-wong ing sakiwatengening Piyaman, kepara ing sawetara wewengkon Gunungkidul wektu iku, minangka perewangan; wong kang linuwih, mligine gayut karo roh alus lan lelembat. Nyi Niti duwe garwa inaran Ki Niti. Nyi Niti satemene mbakyune Demang Wanapawira. Nyi Niti lan Demang Wanapawira iki kalebu keturunane wong-wong playon saka Majapahit jaman semana. Tekane Piyaman, Demang Wanapawira marahake babagan apa kang tinitahake marang piyambake: mbukak Alas Nangka Dhoyong didadekake kutha praja. Demang Wanapawira nyuwun pretimbangan marang kangmboke. Satemene, sawuse ngrungu titah iku Mbok Niti rumangsa yen iku titah kang abot sanggane. Sakehing wong kang dumunung ing wewengkon Gunungkidul wektu iku wus priksa yen Alas Nangka Dhoyong iku alas kang gawat kaliwat, punjere jim lelembut, lan omahe dhanyang Nyi Gadhung Mlathi. Nanging, Mbok Niti saguh nyengkuyung lan ngrewangi Demang Wanapawira. Mbok Niti ndhawuhi Demang Wanapawira: sadurunge ngayahi babad alas supaya nglakoni sesuci lan ngadani slametan. Upacara iki syarat kang wus ditindakake para leluwure kawit biyen lan minangka sarana supaya manungsa bisa nyawiji lan nguwasani alam, kalebu roh-roh kang manggon ing alas wingit Nangka Dhoyong. Dene Nyi Niti bakal nyoba ‘rembugan’ karo Nyi Gadhung Mlathi; dhanyange Alas Nangka Dhoyong! Demang Wanapawira, dirowangi Nyi Niti, semadi ing sangisoring wit ringin putih kang eyub, yaiku wit ringin kang mapan ing tengahing Alas Nangka Dhoyong. Nyi Gadhung Mlathi mapan ing wit iku (dhanyang panguwasa Alas Nangka Dhoyong). Demang Wanapawira lan Nyi Niti wus rila yen mengkone dimangsa Nyi Gadhung Mlathi uger titah mbukak alas dadi kutha praja bisa kasembadan. Ana sawenehing banaspati kang ngreridhu Demang Wanapawira lan Nyi Niti kang lagi samadi, nanging bisa ditelukake. Nyi Gadhung Mlati marani saklorone. Dumadi peperangan rame antarane Nyi Gadhung Mlathi lan Nyi Niti. Marga ora ana kang kasoran, mula padha ngadani pirembagan. Nyi Gadhung Mlati menehi palilah alase bisa dibukak didadekke kutha praja kanthi sarat: digawekke sajen Mahesa Lawung. Uwit panggone Nyi Gadhung Mlathi ora pikantuk ditegor lan Gadhung Mlati diwenehi panguripan dumadi dhanyang penunggu; yaiku roh kang njaga masyarakat mengkone. Nanging, Nyi Gadhung Mlati njaluk supaya digawekke sesajen saben taune minangka wujud panjagane masyarakat sing bakal ngenggoni alas iku mengkone. Nyi Niti nyarujuki panjaluke Nyi Gadhung Mlathi. Dene Nyi Gadhung Mlathi banjur mrentah para lelembut supaya nyengkuyung ngewangi pagawean mbukak alas supaya gancar anggone nandangi. Sawuse nyekel rembug karo Gadhung Mlathi, Demang Wanapawira sowan ing ngarsane Adipati Wiranegara kanggo nyuwun panyengkuyung manawa enggal dilaksanakake babad alas. Demang Wanapawira lan Nyi Niti ngumpulke rakyat Piyaman lan sakiwatengene banjur gawe sesajen. Rakyat Paliyan dicritakake uga melu ngrewangi mbabad alas. Dene masyarakat Paliyan rewang-rewang mbabad alas iki marga wus kulina ngayahi mbabad alas; yaiku mbabad Alas Giring rikala semana, sadurunge adage Kraton Mataram. Rakyat Piyaman lan Paliyan gotong-royong mbukak alas. Rangga Puspawilaga rumangsa lingsem lan meri marang tandang gawene Wanapawira. Pakaryan mbabad Alas Nangka Dhoyong rampung. Alas wus dumadi kutha praja. Demang Wanapawira kasil ngayahi titahing ratu lan nunggu bebungah saka Sultane. Pasar dibukak dening Adipati Wiranegara kanggo ngembangake lan ngrembakakake ajuning kutha. Pasar Nangka Dhoyong, tengere pasar iku, mapan ing wilayah Seneng lan minangka pasar kang rame banget. Adipati Wiranegara ngalembana Wanapawira kang bisa malik alas gung mijil kutha. Kacarita, ana sawijining putri saka Kepanjen Semanu (putra-putrine Panji Harjadipura) aran Rara Sudarmi ditutake Mbok Tuminah teka ing Pasar Seneng. Angkahe Sang Putri kanggo nonton lan ngrasakake kahanan pasar anyar kang lagi wae dibukak. Tekane Rara sudarmi ing Pasar Seneng bareng karo jumedhule Puspayuda, putrane Rangga Puspawilaga. Weruh Rara Sudarmi, Puspayuda rena marang dheweke. Puspayuda banjur nggodha Rara Sudarmi. Rara Sudarmi ora sudi. Banjur, dumadi padudon rame. Demang Wanapawira kang kepeneran uga ana ing Pasar Seneng ngleremke loro-lorone. Kaya dene Puspayuda, mangerteni Rara Sudarmi kang sulistya, ing manahe Demang Wanapawira sajatine uga tuwuh rasa tresna marang Rara Sudarmi. Puspayuda banget murkane marang Demang Wanapawira. Puspayuda ngelek-elek lan nantang Demang Wanapawira. Ananging ora dumadi pasulayan. Demang Wanapawira nglilih Rara Sudarmi lan Mbok Tuminah supaya enggal sumingkir saka pasar. Dene Puspayuda bali ing Siraman, banjur matur marang bapane: nyuwun supaya dilamarake Rara Sudarmi ing Kepanjen Semanu. Rara Sudarmi lan Mbok Tuminah mampir ing daleme Nyi Niti. Ing crita iki diterangake yen Nyi Niti iku satemene isih kaprenah sadulur karo Rara Sudarmi, yaiku sadulur adoh saka ramane, Panji Harjadipura. Rara Sudarmi nyuwun pitulungan marang Ki Niti lan Nyi Niti prakara kang lagi wae ditemahi ing Pasar Seneng: dheweke bakal dicidrani Puspayuda, putrane Rangga Puspawilaga. Ora watara suwe, Demang Wanapawira tumekeng kana lan tansaya gedhe krentege marang Rara Sudarmi meruhi Rara Sudarmi prapta ing omahe mbakyune. Ing jroning manah, Demang Wanapawira ngersakke Rara Sudarmi. Candhaking pangangkah, kanyata Mbok Nitisari njodhokake Demang Wanapawira klawan Rara Sudarmi. Cekaking carita, Demang Wanapawira lan Rara Sudarmi padha prajanji disekseni Ki Niti dan Mbok Nitisari. Rangga Harjadipura ing Kepanjen Semanu nampa praptane Rangga Puspawilaga kang duwe maksud nglamar Rara Sudarmi kanggo putrane, Puspayuda. Panji Harjadipura nulak kanthi alus marga akeh pawongan wus nglamar Rara Sudarmi. Praptane Puspawilaga kesaru tekane Demang Wanapawira, Ki Niti, lan Mbok Niti kang tindak Semanu kanggo ndherekke Rara Sudarmi lan Mbok Tuminah. Mrangguli kasunyatan iku Rangga Puspawilaga ngelek-elek lan murka marang Demang Wanapawira: geneya Demang Wanapawira tansah munggel pangangkahe. Rangga Puspawilaga banjur oncat saka Semanu. Sawuse Panji Harjadipura diaturi kedadeyan kang ditemahi Rara Sudarmi, piyambake nyrengeni putrane marga ora pantes lan ngisinake sawijining putri panji lelungan ing pasar tanpa lilah. Ananging, Mbok Tuminah lan Demang Wanapawira nyritakake kedadeyan sanyatane lan wewatekane Puspayuda marang Panji Harjadipura. Saengga, Harjadipura lerem dukane. Wewangunan ing Kutha Praja tilase Alas Nangka Dhoyong tansaya akeh, rame, lan ngancik rampung. Sanajan mangkono, marga rasa kuciwane kang rumangsa tansah dialang-alangi Wanapawira, Rangga Puspawilaga ngirim ‘para jago’ sarta sakehing bala kanggo merjaya Demang Wanapawira apa dene Nyi Niti. Upaya iku tansah ora kasil. Mriksani lan mireng trekahe Rangga Puspawilaga kang kaya mangkono, Adipati Wiranegara ngawasi tindak-tanduke Rangga Puspawilaga. Samantara, Kutha Praja wus dumadi lan bakal diresmekake dening Sultan Hamengkubuwana I. Kanggo mahargya acara,Panji Harjadipura usul diadani sayembara njemparing, kanggo golek jodho tumrape Rara Sudarmi, uger akeh para punggawa sarta pawongan kang nglamar Rara Sudarmi. Sayembara njemparing bakal kaleksanan kanggo ngramekake peresmian kutha praja Gunungkidul kang anyar. Adipati Wiranegara sepisan maneh ngalembana Demang Wanapawira marga bisa mangun kutha praja kang asri lan endah. Adipati Wiranegara nglapurake karyane Demang Wanapawira marang Sultan Hamengkubuwana lumantar Patih Danureja. Alas Nangka Dhoyong malih dadi kutha kang asri. Rakyat padha remen lan muji Demang Wanapawira. Mangerteni kahanan iki, Rangga Puspawilaga panas tambah panas atine lan irine. Marga wus peteng pikire, Rangga Puspawilaga minta sraya Maling Aguna (sawijining tokoh saka wewengkon Bantul) lan sagrombolan jago liyane supaya merjaya Adipati Wiranegara, Demang Wanapawira, Nyi Niti, lan Panji Harjadipura kanthi maksud madeg Adipati Gunungkidul lan musna kabeh wong-wong kang dianggep mungsuh. Panji Harjadipura meruhi rencana ala iku banjur lapuran marang Patih Danureja. Patih Danureja ngutus Raden Mas Baskara kanggo nggulung komplotane Puspawilaga. Peresmian kutha kabupaten ing tilase Alas Nangka Dhoyong kalaksanan. Sadurunge gawe ontran-ontran, Maling Aguna lan balane ditangkep. Sayembara njemparing kawiwitan. Puspawilaga melu sayembara. Demang Wanapawira menang ing sayembara. Sultan Hamengkubuwana I maringi tetenger Kutha Nangka Dhoyong kanthi njupuk nama saka ‘Wanapawira’ digabungke nama ‘Nitisari’, dumadi ‘Wanasari’. Saiki lumrah kaserat ‘Wonosari’. Ana maneh sawetara panemu yen nama kutha praja Gunungkidul kang dumadi saka mbabad alas iki asal saka ‘Wana’ kang ateges ‘alas’, lan tembung ‘asri’ kang marga gotheking pocapan dadi ‘sari’ ateges ‘endah’. Minangka sesulih, Demang Wanapawira diangkat dadi adipati kanthi gelar Adipati Wiranegara II. Panji Harjadipura diangkat dadi patih panitipraja Kabupaten Gunungkidul. Ing wekasan, Wanapawira lan Rara Sudarmi nyawiji. Mangkono Wanapawira, (‘Wana’ memper ‘wono’ ateges ‘alas’, ‘pawira’ ateges ‘wong lanang-kendel-prajurit’)], bisa ‘mbabad’ samubarang kadurakan kang ana ing sakiwatengene, kepara kang tumanem jero ing manahe, dhewe. Yaiku ‘alas rowe’ ing atine. Tamtu wae sinengkuyung ‘ngelmu’ lan ‘sadulur’ kang bisa ndadekake piyambake ‘tukang babad’, kang satemene. Sumber crita iki saka crita lesan (waca: crita rakyat) kang ‘sawetara’ isih ngrembaka ing wewengkon Gunungkidul sisih lor-kulon. Katuturake dening Sastra Suwarna, mantan Kadhus Piyaman I-Gunungkidul, kanthi owah-owahan kang rinasa prelu kanggo panulisan. Ana maneh sawetara carangan kang ‘uga’ isih ngrembaka ing wewengkon Karangmojo-Ponjong-Semanu babagan dumadine Kutha Wonosari Kabupaten Gunungkidul; kang surasane rada beda ‘kepentingan’ karo crita lesan versi iki. Utawa versi babad sing ateges ‘buku, naskah’, kang ‘sumimpen rapet’ ing jeroning Kraton Ngayogyakarta. Babad Cirebon (1/3) 06 Mar 2010 Leave a Comment by wayang in Kitab & Kidung DANDANGGULA Pan Sinegeg wau hingkang banting diri ingkang kocap ingkang para Oliya woes prapta hing Goenoeng Cerme sampun musti hing pangestu tanpaliyan dinungnung kapti anging Allah tangala tarkinning pandulor Sultan Demak dadya ika peteng ribet hing wengi kaliwat dening tingkah anjandung mratuwa. Sunan Jati tan samar lamonning ingkang mantu anjangdung mastaka adan mijos kadikane luwih becikking tuwu ja mati sahid angulatti pati apa pan iku kang bagus lan ning mau pan wus ana manusa yen ora nahurra. Sultan Demak ing kalangkunging sapanigan tan kang kataturan kalangkung dedet imanne dupi dangu pakemut yen moliya ana amawi pindo ping telu ujar babar bener luput adan wijilling aturran langkung kasuhunan hing rama andawuhi kula darma lumampah. Sampunira ingkang sami tarki pan awangun tanajul paningal tumurun sing Gunung Cerme prapta hing susukunipun bani bala sikep ngebekti ana hing tanah Jawa marmane hing ngaku sakabehe kakasih Hingyang wusti narima iman islame dening ajallawangajan. Sigra luwaran ya punika nuli Sunan Jati hing panatukkira sarta wali kabeh ika pan sami rawuh pan sadaya lumampah aris warna-warna kaisanira lunta lampah sampun pinayungan dening mega ya Sang Jati uning binarissan dening teja lan kukuwungan. Sunan Kali niti kuda lumping ginentanan reme swaranira sarta samuride kabeh dadi uparyara anut angebeki hing marganeng ngapit asring wane kang sepak wane larad-larud Sunan Bonang lampahira Ngentiring angin Leler kadi sisilir Susulur rampak-kampak. Sunan Kudus angentir ring wari lagelurran kaja sangkar katapak hing banjir bena banyune Sunan Giri rumasuk hing sapancorongeng Yang rawi Syeh Katim lumempat kadi kilat mabur niber alepas sing paran Syeh Mulana Magrib anitihi keris meber hing ngawang-ngawang. Syeh Maja gung amendemming bumi ya Syeh Bentong ingkang awor lan mega Sultan Demak lampanya lon lumiring hing Sinuhun lampa liri hing ngiring dening lampah bala wurahham ngebeki madya gung sampun prapta hing pakud yan wau wonten ingkang winuwus mali. Gedeng Tegal gubung sira matur alon hing Jeng Suhunan Jati karsanira wau ngideppenna Sindangkasi masimogu munggiya Jeng Sinuhun amaringi idin Jeng Gusti Sunan Jati patarossan hing Pati Kerring wau sapira baya ta sira hing rempuge iku Dalem Sindangkasih matur kang dinukking sabda. Inggih rempag yaktos Sidangkasih dereng idep wau gama Islam mengga balane sakabeh Jeng Sunan mala sampun wus maringi idin sireki amangkat Ki Gedeng Tegal gubug mintar sampun samaptaning wong ayuda wus angrasuk sakaprabonningajurit sinigeg hing lampahira. K A M A L Akocap hing Masjid besar para wali riset denging arah mangkat jumah wus adan Sang Datukkafi Syeh Katim nyekel cin wus tampi mawacanipun Sunan Jati sakala eca-eca gennya linggih Sunan Kali wus tampa yen Sunan Purba. Akutbah kang sarta imamma mangka enggal Sunan Kali maos kutbah mangka enggal lalagon kutbahe kadi wong agodungn kakawin marmane kaya puituniku Sunan Kali uninga yen bakale den pojokke setelah katam kutbah. Pangeran Makdum memberi ikamat Sunan Kali sampun imam amaos fatehah kadi panggalekking dangdang ngelak anggalek galajem gosti tan nan liyan mali amung Pangeran ngami-ami kenang ngapa iki bae kenang ngapa. Sunan Kali wis uninga hing sakarep teging ngati mangka aningsat kang sinjang dumadi emmase kesti sampuning salam nuli kamat mali arya Makdum Sunan Kali anabda parangsa ta hing sasepi sesepi Syeh Majagung diko jogjana Imbang. Pandingin duk musawara wus kamotting para wali ana jalma murakabah hing liyan masingupeni ca bawaning liyan mungkin mangkana Pangeran Makdun lunta hung salattira luhur asad ya muparid sampun bada asalam majemuhan. Sunan Kudus angandika pinasti tan dugi iki sasanga mali sampurno Sunan Bonang anambungi sabda sumang kina makin tan nan luhung saestu Sunan Giri ngandika Akeh-akeh jaman akir Ya manungsa kang luhung Ya owah-owah. Sunan Jati angandika kari angko jaman akir laksanane ora nan angandika Sunan Kali ilanga pisan mangkin mangsa anaha kang punjul saking wali sasanga aneng nusa Jawa iki Sunan Jati dumuluring hing Syeh Mulana tampi saking dukking tingal Pangeran Kajaksan mangkin kandikane ela dala angopenni hing liyanning sarta karsaning widi jan dikamangke kalangsur hing wali sanganga mankin kang katela nama wali iku ora. Hidepe bawaning liyan kala ning salat sayakti Ikram miraj lan munajad sami amangkin tubadil Pangeran Makdum adi wus tampi karananipun anarima hing candah kula nuhun inggih tedakaken pan inggih jasad kauloa. Darma lumampah hing karsa mingga tumurunning ngasil boten darbeni karkat hung sagunging para wali kang mawa luta mangkin yen Pangeran hing Makdum wurung daja oliya amungia Mukmin utami risedenging abukar wali sahasta. Kocapa Suhunan Purba hing purta tebing alinggih tan liyan hing ngarsanira amung Mulana Magrib tuhu ingkang pracayaning Sinuhun hing kinadawu anyepengi katandan sing akokuman pasti Pangeran Kajaksan sakahommira. Ingkang ngukummi hinh kana hing karsane Sunan Jati tan jumeneng kukum rajam rehing laipping nagari beda lan panapri Demak Bonang Gresik Kudus genggenging Panagara prandene tan den tapaki mung warninig kukumman hingkang den tapak dupi hing Cerbon nagara yen dosa satengah mati kaya maling lan wong ala mung den belok kinunci yen dosa iku pati matenni padane makluk tinelassan pinatennan wong Kajaksan kang duweni gih Mulana Magrib ku imammira. Ika sadeng makumpullan ana hing Made sakundi Pangeran hing Karangkendal Gedeng Panguragan istri miwah Jeng Sunan Kali kang reka kuta pikuku hing Cerbon panagara mangkana nabda Sunan Kali kita diddel kula kang bandawasan. Kula pendemmi emas sinangling laksana luwi Jalma mara jalma pejah Singamara singamati Yen ana musuh sakti Saking kidul den sareju Jaganan aja weja Pon tan nana giri rusik ya hing musuh sirna sampurna Salamet sira. Sabda Arya Karangkendal gih kula anyanggemi kuta hing ngeler punika dadar kula pendemi candana wulung wangi peteng ribut buana yen ana musuh nekanni saking ngeler den sarejo saponnana. Pon tan nana baya teka hing musuh sirna sajati salamet rahayu sira nabda Gedeng Rara Muning kula anyanggemi kita kilen kula bangun emas ingkang kinarya warni kodok amandemmi bumi laksana teguh rahayu tan pasah. Yen nana musuh tumeka sing kulon guna asakti den sreju sangganen rampak pon tan nana giri rusit hung musuh ku sirna di salamet sira rahayu Sunan Jati ngandika Isun ingkang anyanggupi Kuta wetan banguning wesi wasana. Purasani pinendeman hing bumi laksana luwi tegu ya tan kena owah yen ana musuh nekaning saking wetan yakti iku cangkolana den sareju tan ana durga baya salamet sira sajati besuk uga reba hing kuta kang papat. Lawan kang karya wus sirna sakarna dengging kuta iki pakarepane wong papat ingsun darma angrempugi siji Syeh Datuk Kapi kapindo mas Ayu rangkung kaping telu Siti Bagdad kaping patte iku maringkang Pangeran Panjunan iku si wongge ana. Sunan Kali mangkyan ngandika Sunan Jati dela maning kaping do pinolar putra sareng cep hing ngangling abus potusan saking angaturi atur putra Jeng Sunan Demak dadapur ngaturi uning inggih Pangeran Pasareyan wus sumalah dalah sampun kaulessan menggantu gusti ngariki enggal kesah Sunan Purba hing ngiring hing Sunan Kali ika lakuning wali. Tan nagangu nulya rawu maring nagari Demak Ratu nyawa anyungkemi krona bangetingpadane Jeng Suhunan. Sapinten baya kaula rumihin tuwan nyanggemi kaken hinen kang hubaya kulopun makaten malih angandika Sunan Jati aja nangis kaji Ratu lakinira tan seda pok delengen iku urip sareng layon musik sarwi angandika. Rayi aja nangis sira pan si kakang ora mati tan lawas tinemu uga kalawan si raka maning balik yen sira nangis hing wong tuwa naenutu besuk tan panggih pisan kalawan si kakang toli Suhunan Demak ngandika maring Suhunan. Girikadaton punika tuwan tinggali Sunan Jati tebeng nyoba karamate mala mayit sirna kinubur tumuli mangkana Suhunan Ratu gewuya mantu babahita kalawan Suhunan Kali nabda hidung sisilir paparahu mancung lastari lumarap. Mangkana nitihi palwa meh kiren dan Sunan Kali malah miring kang palwa ana bancana nilihi nabda kidung sisilir miring-miring paparahu baita alit wonowottan pinan ngantennaken toli Syeh Lemahbang wong sajati wahessi ala ana wong binajang kara pinangantenaken toli. Malesse nungang titiyan keremming prau denneprih enggal ical tumuli kang tumut niti parahu lampahira wus prapta hing Cerbon wali sakalih kang kapungkur watek Sangyang binabaran. P A N G K U R Kocap Gedeng Susukan sad ja nipun purwane andingini lakune wong Tegal guso ya enggon lumakuhing prang seja nira Sindangkasih kan jinujug dalem digja wus uningnga den arah hing idep Muslim. Mangka dalem digja sira sinewaka sagongging para Mantri dalame digja mangke maewus lah sira den prayetna hing tekane musuh mosset aja cenguk sedenge babarana banteng ulu Sindangkasih. Iling wawakidding wong kuna hing bedahe iki balabar waring dadi rimbagan kang estu bedahing praja kita jaitan ganti wedaling waring sing datun nemba matur kang tinita hing sabda pakonning gusti. Sumangga jiyad Sang Nata Mantri pitu saragep atampi kang warring sampun ning ngulor binakta hing pawates san hing watesse sampun pinanjer luhur kababar kubenging praja tampinge wus kinemitti. Tan nadangu praptanira Gedeng Susukan sabalanira ngiring anuju Prawata sampun warring sampun kalembak datan angsak wau dateng marginipun Gedeng Susukan tan bisa amiyak balabar waring lir kuta wesi ika pan ategu keker hing waring wing Sindangkasih kalang kung gumentur swaranira yen Susukan amimpes hin jayanipun wong Susukan mere saja monongtonalaju hari. Munggu Purba wicaksanan melehaken ingkang sanggup angidepi kocappa salajuhipun Gedeng Tegalgubug sira moiwa ingkang saka wula bala nipun kang waring sampun winiyak larutte wong Sindangkasih. Lumajeng Sang Dalem Digja pankalangkung wau giris hing gali sidakep emutte ulun bedahe kang wasiyat nulya muja hing Dewa nuhun pitulung kumpuling garwa santana arah ambles maring bumi. Muwa kang subawa putra sigra musuh kang subawa prapti Sangyang Dalem sirandulu hing musuh ora bisa ya pedekkan wara Dalem samya tumut Putri loro kang kacandak nama Raros lawan Riris. Kacandak sakalihora wau dateng Tegalgubug sami ana guru swaranipun aja tambu besuk ana bumi jebug ya hing Sidangkasih iku apesse kang watek jaya duriyat ting wong lino ewih. Dumadi salin paparab nganggo ambek bidakwalaka nuli tan paji nganak putu darmane kang kelingan mung samono iku hing wawangsis ipun wong Tegalgubug miharsa agung gegetunning ngati. Sigra mangkat wangsulliran Tegalgubug hing sabalaniki wong Susukan ngiring sampun lampanya duduluran wong Sindangkasih sakabih tan nana kantun den kerid arsa ngaturena maing Kanjeng Susuhunan Jati. Tenga wengi alalampah sarta sira den gege lampah neki Sunan Jati kang jina ejug ya Sang Putri kang sapasang angreb hing Gubug sawah tanna dangu kaslir daya mingetan gumanten asmara guling. Gedeng Tegal orang kangkat Putri roro ika wus den karoni ingkang pinara hing wuyung ora kangkat langgana sampun tutug hing ngadep pinangku lulut sakoro sang ngadi warna pan samya gegetun ning kaptin. Wonten carita winarna Sunan Jati kalawan Sunan Kali Tebeng hing waringin pitu sinare hing Gunung Jati punika Pangeran Majagung saja ingkang nuwunnu sajati. Katelah pala langounnan ya winangun kali kasaru kang prapti Gedeng Susukan umatur nuhun duka sampeyan gih kaula angsal damel supaya karebut purwanipun Dalem Digja pejah kaulena pademmi. Raja dunnya kula jara mala angsal kula Putri kakali inggih ingkang bade katur dateng ngayun sampeyan wasanane hing marga wonten kang rebut inggih yaktos Gedeng Tegalgubug awon begal margi. Kanjeng Susuhunan ngandika aja matur sira pangucap ngisis cela hing wing padading makluk bok sira kawalessan najan Tegalgubug make iku den wehaken mangko uga maring isun ngalap rahi. Layen gede gawenira Dalem digja kongsi sira jarahi sun ganjar sira satuhu sun jenengaken sira Pati umyang matur nuhun kang liningan wau tan dangu praptanira Gedeng Tegalgubug mangkin Nembah ngaturri boyongan Jeng Sinuhun ngandika hing saiki ya si Gedeng Tegalgubug sun jenengaken sira Pati Rusu ana dening Putri iku roro iku sun tarima nanging kanggo sun paparing. Maring sira raben nana mung kaula bala hing Sidangkasih sing sakahe isun pundut daja ha angabde amat isun muwa anak putu kang dadi Ratu Pati Rusa matur nembah kator sumangga wondening. Paparing kasuhun pisan Sunan Jati angandika sarwi gumujeng tenganne iku ambeler kenang ngapa ngaturaken pepesan kosong ya iku Pati Rusu ara tampa Sunan Kali mimiringi. Henggal sampun apamitan tekang marga ika mangkan pikir yen dewekke babarujul putri hing gubug sawah sigra wangsul tumanduk maring Sinuhun satus sewu nuhun marga sapura Sinuhun Gusti. Putri paparing sampeyan sampuning kula nuhun inggih katurmalih hing Sinuhun Sunan Purba nandika Pati Rusu isun tampi aejar luput ya sapisan ujar ingwang tan ana ujar kakalih. Lawan isun angapura ingkang luput anjimah hing Sang Putri lan samangke wus lulus dumadi rabinira matur nuhun inggih sang Pati Rusu dumadya hing pamit sira kapungkur Sunan Jati. Tumuli sang Pati Sumyang matur nembah nuhun palamarta ugi bebendu dalem sasuhun Putri ingkang satunggak kula kaehun pedahe hing wau nipun sakalih angsal kula nuhunaken waris wiji. Ngandika Sunan Prabu kenang ngapa hinmg maune ora muni hing sadurunge iku mau dak wenehaken nesak sok jaluken dewek sira iku suka atine iku iya maring sira isun idin. Pamit enggal Pati Sumyang sigra waole mala pinanggi hing marga wau den bellik Pati Rusu mandega sun tuturi ora karsa Sinuhun Putri siji iku baya pinaringaken ning mami. Sang Pati Rusu garjita ora suka isun den jaluk iki kasingane sira iku sing maune ya wis salah dora cana supaya mungguh Yang Ngagung ora kilap ingkang ala kalawan ingkat acik. Kalesan Pati Sumyang sigra mantuk tur sarwi madingcing sareng lamining tumuwu Pati Rusu kekesahan ing Mataram nembe dateng wonten Mudu congkewak balik karasa ana durjana nekani. Maring tuhu wisma nira sareng malebet hing wisma anemoni Pati Sumyang babarujul mangka enggal jarangang jogol banting binanting samya asureng tuja tinuja sira Pati Rusu kasuliring. Kasaleyo saerung tiba mangka Pati Sumyang sareng ningali musuhe tiba arubu linggar hing candakira iku ina musuh lawan kangwis rubuh lepas katilar kang yuda. Pati Rusu enggal tangi ngucap dening kanihaya kiyong ngiki sun puja hing Yang Widi ajana kiyong tumuwu ana hing sawah kita lan pumali sakehe wong Tegalgubug jojodon lawan wong Susukan aturung tumedak ngakir. KINANTI Wonten kocapa winuwus kang wau lagya alinggih wonten hing Ardi Amparan sakawula warga sami wau samya wirahos kalayan kang abdi neki. Sigra ngandika Sinuhun maring ingkang abdi sami Gedeng Panderes san ingkang cepeng gendis hing nagari saking lahang gendis jawa wus datan nana kang kali. Dupi mangke tanem tuwu, pala wija tuwin pari undikaning teja punika Kuwu Dipati kanti lan Gedeng Dawuhan baktine Kuwu Dipati. Yen ambedo eng hing banyu pyambake kang dumadi antru hing banju kudu ega matok patang puluh bengi saumuring wong sasawah kaduga den samber dening gelap teka ora pasah duga kapendeming siti. Lah iku ing purwanipun Kyai Kuwu Dipati darbe sapa poma-poma anak putu hing sawuri aja pada anganggowa kulambi kadut pumali. Embok ora kaya isun nuli tan antara lami putra Sinuhun kang nama Pangeran Jaya kalanaiki karsane kesah adagang nyabrang tiwa-tiwa dadi. Nilad putu sabrang wau adagange mring di endi angambangaken baita sigra alayar tumuli. Dugi maja ning laut katampeking angin dade dumanja kerem baita Pangeran satitik maning karungkeb kang palma nira tan dangu kombak aminggir. Pangeran langkung gegetun kang ibu Nyai Rara Jati sabdane aja gagabah wong dadi duriyat wali ora kena laku dagang drawaka kaduli-duli. Kudu nganggamanah sukur aja tiru-tiru kadi putra Sabrang wus lumahar Pangeran eng ngetting kapti dadi kang dunya den hina prasami dipun buwangi. Telas dipun rawur-rawur dadi babali amiskin kapiluyu angumbara milu lawan wong birahi karem byangan aneng guwa anitihi kuda lumping. Angigel lumaju-lumaju tur mawi den kulintingi ana kang sawane genta tarebangan siyang latri pohal pahil munggang arga tumurun gunung colak-calik. Sareng manjing guwa siyuk Pangeran kasadah dening walirang upas tan gagap kasirep dangu tan eling kantos telas hing sadino Pangeran dereng anglilir. Prasami den gotong mantuk Nyi Rara Jati anangis sambat-sambat anaking wang keneng ngapa maning iki ya Allah Tuwan Pangeran nulya Pangeran anglilir. Ing ngentuing ibu nipun kenang ngapa gumalidig anak puton Waliyullah ora kena angunggahi gunung Cerme bok dan kaya rama-rama dika Wali. Pangeran dumadi emut jaran lumping den buwangi trebange den buwang-buwang gentane dipun goceki dadi ababalik agaman lampah ekas lampah santri. Diyang dalu rabang rubung salat ngaos lawan dikir nunten numaking wong dagang penejane tumut kaji kang praone nengah lautan kabiyar kagawang angin. Prau katung kebing banyu akeh bandega kang mati Pangeran nitihi bahan aneng laut nuli minggir kantos kawan dasa dina tan weruh talata minggir. Den sara dening wong prahu katur maring Nyai Rara Jati kang ibu sanget karuna kenag ngapa dikasihi mancalo sing kadang dika polahe sabagi-bagi. Daja balahine agung bok ta anak putu Wali ing Cerbon bok ora kongang kesah kaji dipun eling mapan rama jengandika hing Cerbon wangun masigit. Kang minangko kajinipun wong pekiruna hing riki dika aja ilok murka aja akeh pohal pahit gugen nana tapak yasa rama ramandika wali. Tumuli Pangeran emut akulima hing masigit angramihaken Jumurah maos kutbah angimami hing salami-lami nira sareng hing kana tumuli. Pangeran kutbah ne gugur geger hing wong sa masigit yen putra Dalem atiwas waktu iku Sunan Jati siweg kesah datang Pajang hing kono dadi ariri. Gugatti Pangeran Makdum peki Abdullah Mujahid hing Astana Palakaran lawan Pangeran Darajat kalawan Tuwan Syeh Katim. Saking Kalijaga kumpul sami amirahos tejar Syeh Datukafi Kewedan hing manah dados atari matur hing Pangeran Drajat sapinten baja puniki. Pangeran Drajat umatur hing wong salah dan pinilih najan putra hing Nalendra kukum ora pilih kasih ya duku bae kokuman amung si sabar rumihin. Sami ngantosa hing rawee ipun kang lungguk Narpati aja kurang taha krama najan ga sampunnu wakil nanging prayoga ngantosan sapira tala hing mangkin. ASMARANDANA Yata kampo ingkang sami mirahos ingkang kukuman tan nancara hing lamine sarawu he Jeng Suhunan saking nagari Pajang Syeh Datukkafi umatur yen putra dalem Kalana. Tiwas gugur gennya wangil gugating para Ngulama anengge wonten takjire annunten Kanjeng Suhunan ngumpullaken kang para Pangeran gegedenipun kang aneng Cerbon nagara. Pangeran Drajat wus prapti miwah Jeng Tanda Pangeran Luwung salawe Pangeran Ugyannapora Pangeran Sidangbarang miwah Jeng Pangeran Parung Pangeran Hing Kedungsoka. Pangeran Pase sumanding miwa ika Raja Cempa lana Pangeran Sindanglampre Pangeran hing Cerbon girang Kyai Gede Kedokan Gedeng Jati Gedeng Sembung miwah kang para Ariya. Pandeleg gan Wandu kaji Jugusatru Kandurun Pencattanda Andamur Ander sadaya pinatarossan tan kangkat anglangkungana. Angandika Suhunan Jati dateng Pangeran Ugyanna mara metok kena age dinar ingkang kira-kira sabobotte si Kalana wuring sira timbangan iku nuli para ngedumena. Maring saking pekir miskin nuli ika si Kalana prasmya buwangen age maring gonning kang simpar ika hing Sagraherang wangen patang puluh dalu lawan uwis arya ana. Para Pangeran lumiring kalakuwanning jumahat endahing wong cilik bae kon njekel kutbah Jumah dugiya akir jaman duriyakajana melu hing laku imam lan kutbah. La miarsa sagunging ingkang sami hing ngayunan wus anut hina sakarsane ingkang amandita Raja hing cerbon Waliyullah hing tita muslika ipun sampun laksana sadaya. Wus tutug sapangandikaning wau Jeng Suhunan Prabu sadaya kula wargane miyarsa konjeming kesma miyarsa kang pangandika samya wedi asihipun lir lata kada wuhan warsa. LADRANG Risedenging panylongkang utama siji siji ingkang waraga, dening dad jatining Wali ya Syeh Bentong hing kamu sirna sumala. Sunan jati Sunan Kali anjenegi hing layoning Ohya Karangguyammi guriyangging Pandita Sekar Dwija. Sunan Jati lalurme saking dingin sami kesah mring ngetan lan Jeng Sunan Kali dateng Gresik amanggih adining tinggal. Hing sedane Sunan Giri pinang kaning Wali Jawa, sirna panetek abecik wus minulya pinangka Gresik Astana. Ginandikaken ingkang putra Sunan giri kang paparab Raden Akbar ing ngistrenan Panembahan Ratu aneng Girigaja hing luntahe Sunan jati Sunan Kali mring Surabaya lampah ningid kang sinajang kapti Sunan Ampeldenta mangkana kukilan. Kokok beluk nama Sang Duda wus prapti bakta surat sampun mapag hing lampahe Wali kali angatoraken serat punika. Dereng winaos ingkang serat punika wus uninga hing sawirasaning tulis Wali kali sampun aniti iku kilan. Malah prapta dalem Surapringga pati pinunjungan dening Sunan Ampeldenta mapan sampun wedi asih ing Suhunan. Mala lami hing hana wau amungkin wangun yasa babalongan kineduk tengah wengi dereng number paninjiling medal wulan. Pan katinggal bicak-bicak ingkang siti pangarjito Sunan Jati kang murugi Sareng pedek katingal rareng sapasang. Wus cikangking hing ngasta kanan lan kiri sampun mentas kang Balong kabeking wari sampun pajar aremme ingkang jamahat. Baya subuh Sunan Ampel amedeki dereng lisan wus wruh Jeng Sunan Jati bareng kang den sambat dening asta kiwa. Sinungaken wau dateng Sunan Ori Ampeldenta langkung suka hing manahe langkung nuhun kaula hing Ampeldenta. Pan Si Beluk punika katuring Gusti Sunan Purba wus narima malah pamit Sunan Jati Sunan Kali kaduluran. Hing karsane Sunan Ampel ika taklim dadya bakta kukila lawan bareng siji duk binadi oloyoli kang ning umah. Pinaparak wau dateng Sunan Kali kaki Bicak krananipun saking wari kahalape si Bicak kebeking toya. Wonten mali gantiyan kang pinadika Suhunan Jagapati ing Kudus nagara tuhu Oliya pugal ya tur dusta, tanpa liyan kang medeki. Arya Jipang ika kang katimabalan temah ingkang mejahi maha Sultan hing Demak rehing salah hing tekad sampun kawas kita dening Oliya Allah Saking Kudus nagari. Iya kupur Demak besuk mati deng sira estu sira dumadi bawahing parentah ana hing nagara Demak Arya Jipang anangupi pan sampun pamitan sigra kesah hing giring. Wadyabala samapta gagamanira ing wanci tengah wengi praptane hing Demak ana barangkot nekani kagila-gila tan kena den musuhi lah hing kana sumalahe Sultan Demak benca jaya mineki dening Arya Jipang wong sakadatong bubar. Burak sami ngunsi urip wane susupan sarpin bubar angngili apa maning Pangeran Rajanagara maring warna aningkir muwa Ruta Jawa sarta putra titiga Pangeran Agung duk maksi titiga warsa, Pangeran Wirya nengi. Yuswanipun satahun lan pitung wulan Pangeran Ruju mangkin yuswa tigang wulan tanopen ingkang garwa Sultan Demak agung ningkir Putra Suhunan Purba Ratu Ajukang linuwi. Kisah tebah saking Demak malah saja mantuking Gunung Jati kocap Sunan Purba lan Sunan Kalijaga sakalihe angrawuhi maring nagara kang layon sampun binecik. Binecik-binecik den nira Sang Arya Jipang ali kali anjenengi muwa Sunan Bonang Sunan Kudus hing rika kang layon wus pinetekking rolassaripa pada anduming waris. Sakukume Raja Barana sang Nata anging datan kawaris warni karajahan ika pinaringenna maring Arya Jipang nenggih wus hing ngistrennan Arya Jipang dumadi. Dalem Tumenggung pangaraning wisesa aneng Demak nagari rempaging Oliya samana duking karsa Sunan Jati ora salib Kang mantu Sultan dingin kinarsa sahid. Wus pariyat ingkang tata pranata ning agama kang muslim watek Sunan Purba mantuk maring Cerbon kali putra wanoja, Ratu Pangayu Dewi. Ingkang rangda Kanjeng Sultan, ing Demak puniki lawan nraja wawarisan dunya brana ika lan gamelan sukati gamelan kawaris hing Cerbon iki hing kukum mula mangkana waja sawiji. Ingkang nama Pangeran Agung binakta Maring Cerbon nagari katela kang nama Pangeran Cerbon ika dupi kang sawiji mali Pangeran Wirya pinupu ika dening. Gedeng Demang anang Losari kang parnan sangeting kinasihi katela Pangeran Losari ingkang nama Pangeran Ruju ana hing kang arana uwa Pangeran Rajan egaris. Kali kang ibu Ratu Mas Nyawa wonten gantining gurit Kanjeng Sunan Bonang mantuk ing Karamatullah Sunan Jati Sunan Kali wus aneng kana muwa Syeh Jagapati. Sampun sirna sumala hing kang aseda pinetek gunabecik ana kang kinarsa dening Wali titiga putra Sunan Bonang nami Pangeran Dipa ing ngistrenan sayakti. Pan jumeneng Panembahan Ratu ing Bonang anika panata gami ing sapraja Bonang tan nana langganaha ing ngarsane sangatbecik tita wisesa dino elunrang deng Hyang Widi. DANDANGGULA Wonten malih kang kocapong gurit mangka wong sabrang ngaja kang nama Tu Bagus Pase nengge babaktanipun. Waja gagaman hing sangunging prajurit kawan dasa duking sajan nipun arsa ngayomi wong jawa ing ngilmune hing ngamale kang sayakti maring Cerbon nagara. Mangka ana karamate Sang Jati sarawuhe wong Agung sing sabrang dadi sirna pijangkowe andap asor tumungkul daja sira wekas badami sasahat ngemumana dateng Ratu Ayu randaning Sultan ning Demak kang Sinuhun dening kang osiking ngati nuten naros kang putra. Ratu Ayu masi mingkung nuli dangu-dangu anderek hing karsa kang rama hing kandikane nabda wau hing Tubagus anakda bawa isun iki amba ngamal jariyah suka laki maring bawa mas kawine anak wadon mati sahid Tubagus wus narima. Rama ingiku ela angobuli ing pinangkahe ingkang putra rama mas kawine sakandikane inggih rama ing mau sampun nira sinaksenan dening Suhunan Kalijaga lan Pangeran Makdum Tubagus wus aningka jatukrama ika sedeng amutrani istri suteja warna. Pinarab Ratu Wanawati langkung sihe wau kang rama Pangeran Tubagus Pase mala ing salaminipun Ratubagus lajar aprapti kesa dateng karana titinjo praptanipun yen kala rawuh hing sabrang kacarita manuk pasek ika ngiring yen wus nrawuh hing Jawa. Manuk Pase asanak badani lan kokobeluk Ki Dudaraga malah sami bamine mangkana duking temu wonten malih kang kocap maning Pangeran ning kajaksan Syeh Mulana guru tebengira mamariksa wong kataton tan bisa aba ananing hing waringin pitu panta. Sampuning atra pariksade ki pan dumeter dawuh Sang Saliyullah dumugi maring sedah ya tan ganti araweh Sunan Jati lan Sunan Kali ambeciki kang seda wus sirna kinukur ana hing lalangan kormat lah ing kono marmanya Sunan Jati ajenengken kang nama. Tanda Wari ika kang gantosi ing cepenge Pangeran Kajaksan Mulana Magrib tandane malah wis kasuhur hing sapraja Kajaksan Pati kumolko ing Pangeran Kajaksan pangrantun lan anjenengaken nama Janapura cekelane-cekelane wangun picis timah ingkang kinarya. Ingnganggite kang Sunan Jati lahip praja ing Cerbon nika cepeng mikrab hari roro Sunan Jati kalihipun Sunan Kali hing pramilaning Sunan Bulki jaika sakaliji saewung kesah maring praja liyan Arya Makdum wau kang ngimami ing wahu lawang Pangeran. Ratubagus yen wonten kalaning anang Cerbon nenggih lamon lajar ya ta Sang Makdum adewek wonten sanes dinapur putra Sultan Demak kang yakti jalu nama Pangeran Rajanagara agung Ing salamining agesang Tansah masi angarah rusaking Wali Kang ning Kudus nagara. Ing sanggek hing ngamales puli ingkang rama sulta Demak yata recep pangikete ika ta Sang Tandajupu kang sinawitan linen hing sih pinanji janjinira sira Tandajupu aja kapalang sasanakan maring isun remanggana ambek pati yen besuk estu ugo. Sumerene Sunan Kudus yakti sun wenehi sira panguwasa apa dudune iku aja Jipang ing Demak luwi amasesa ing ngarat bayane sun tanggung ing ngadosa nganingaya sabab Sunan Kudus amimiti nganihaya mring liyan. Tandajupu sakedap angingsir cipta nirange lawan Pamajikan ningali upah upahe ketun sapuluh ewu lawan janji wisesa kening ing sakus nagaraTandajupu sanggup. Sunan Kudus wus uninga saingere panakawan anisip nanging tan sedi ing manah wus uninga ajale pribadi tan ningali wau panakawan anging yang Purba karsane sadenging salat subuh. Tandajupu prapta manjing anuduking Suhunan siweg parlu subuh tan pasah ingkang gagaman keris tugel kaduga Syeh Jagapari asalam ming salat tiro. Angandika Sunan Jagapati yen sira rep anguntapena patinisun sayektine iki lo keris isun sudukena iga kang keri tan kelak isun pejah dening keris isun upama sira prajaya lan gagaman liyan saking keris iki ingsun mangsa matiya. Sigra nubruk pada aglis Tandajupu tabat sruh karuna sumangga kaula suhun Sunan Kudus aris mangsuli aja samono sira tulekena sanggup pon karep pira priyangga ora liyan iku karsaning Yang Wido sira darma lumapah. Tandajupu matur nuhun gusti boten sanggem kula nguntapena dumateng hing sumerenne Gusti kula Sinuhun sampun kringgit hing sajroning gali sapinten nraka kula murtad dateng guru lahere mangsa wontena ing ngukum bantosse ta kados pundi kukume hing ngakerat. Sunan Kudus angandika malih iya luput iku ujar ira balik sira yen mangkono mogoking ujar isun ora sida sira mateni maring sun wus nyata naraka ing besuk sabab lakunira bantah maring gugu wong duraka iku pasti duraka maring Allah. Lah ing kono sigra mampenni Tandajupu hing duhung Suhunan sigra linaksanan age iga wekas sing pungkur sampun sirna wapating Wali udan angin diwuhan ketug lawan lindu silaking teteru mangkat ya pinetek bun ecik pan sirane hing Bersoci Astana Surya Ngalam. Sasampuning Randajupu dadi ing ngasrahan jeneng kautaman Dalem Pati ing jenenge Wisesa aneng Kudus ing pagaman durga mandi nan kumidep pira miring kang prentah wahu Rajanagara aneng Kudus ika kang angresti lewi kina puja ing agama besar. MEGATRUH Pan mangkana hing Demak Dalem Tumenggung amiarsa Sang Wali sumerena dipun Tandajupu kang mateni Tumenggung Demak asolat. Sad yang rejek mring sang Maha Pati Kudus ing wayah tengah wengi kadya lampah duking wau hing Kudus aloking jalmi lamon tatkan barangkot. Malah sirna pejah sangapati Kudus Arya Rajanagara mring Praja Pajang lumayu angaengsi gesang nusupini Sunan Pajang duking enggon. Pan mangkana kang jaya Pati hing Kudus ika pitata saking Tumenggung Demak adawu nama Papati gaganti neng Pati kang sirna papan. Wonten malih carita kocaping tutur Ratu Madapa duk dingin tatapa ana ing Gunung Ajar Sukarsa mangkidi salawe tahun ing mangko. Wus agenep salawe mangkana ayun ing saja angluwari mangkana kuliyang runtu den alap ika tumuli dinahar dumaja bobot. Tekeng waktu babar teja warnanipun istri tur pinarabi Tanuran Gagang Rahayu elus salam eting ngaurip arupatur aman corong. Kapirsa wau dening Raja Lahut ing Jakerta Narpati mangka sinengkeran sampun arah binadeya kening ingkang putra ya Sang Katong. Ingkang nama Pangeran Jakerta Talutur malah wus aneng wuri Jakerta ika Sang Ratu Tanuran Gagang sarehing kang ngibu tan kangkat mogok hing karsane wau Raja Lahut marmaning kinawuri mamareking maring kabul hing panedana dingin kang ngibu maring Yang Manon. Asring malah sang Raja Lahut arawuh tunduk hing Cerbon nenggih punapa dening Sinuhun nunten Arya Sibangkingkin kali putra jalu anom. Lah ing kana sedaning putra Sinuhun Jati ingkang nama Jayakelana kinubur ing Epung parna pinuji narungtun tanpa gagantos. Ki Syeh Katini Syeh Agungrimang ya mantuk hing adamme lan maning Pangeran kajoyorang agung Pangeran Drajat lalis Pan mangkana duking enggon. Ki Syeh kantiyam sinare Kalijaga wau Syeh Agung Rimang ana ing Etuk Pasareyannipun Pangeran Kajoran menggih Kamalaka duking enggon. Agung Gegeden samya sumeren sampun lir pagebug nitisi karangkendal kangrumuhun sami seda kinarossi gegeden sok liyaning wong. Yen sedane maksi jumeneng Sinuhun saenggon enggon dapeni ora ngebon akumpul kang wapat sami winanggon. Kumpul ana hing Gunung Jati lainantun kang satemene hing jalmi ragane Sinuhun Yuyut anaha kocaping gurit kang tuhu Suhunan Katong. Malah karsa amanggiyakan kang putu sami putu kang nami Pangeran Cerbon kaliyanipun nama Ratu Wanawati Tubagus putrane wadon. Mapan ika sami dereng balegipun saksi Susuhunan Kali lawan Pangeran Makdum Tubagus agosti angling ana pikukuninging Manon. Amba ningkahaken kang wulang ngum Sang Ratu Wanawati maksi wuwojang tinemu maring wayah rama tinggi kang nama Pangeran Cerbon. Mas kawin duwe anak yatim tumuwu Sunan Jati angabuli anarimakaken isun paningkahe putu istri kang sing anak wadon. Ingkang maring putu sing jalu maskawin anduweni anak lanang ingkang tulus dadi yatim mangka mami anging si kana pitumon. Ya sampingi andua Suhunan sampun watek bala lan santri maca amiri sampun tutug sinaksening wargi ajining kangken Suhunan Katong. Muwa Dalem Raja Lahut aneng riku Ratu Winahun nenggih Raja Pajajaran kumpul anaksesni ingkang kawin lucu titingalaning wong. Wantu penganten kasemening umuripun Pangeran Cerbon duganing yuswa jekjek gangsal nahun Ratu Wanawati dugi yuswa tigang nahun mangko. Duk samono pranataning Masjid Agung imam kang siti ganti Sunan Kali Sunan Ratu Pangeran ing Makdum maksi akamat cekalaning wong Syeh Datuk Kafi ika waman aksanau Kapindo Modin Jati Lebe Juiman ping telu Buyut Panjunan lan maning Sunan Panggung namaning wong Pangeran Janapura kaping nemipun kang ada tengete maring wawacan lami tumuwu mangkana Suhunan Jati anetepi hing Sapening gon. Duk kang serat cacangkokhika muwus he Sunan Sebangkingkin lahu putu nira iku lunga kaji sira mati anakira pan samono. Iya mati lawan karsaning Yang Ngagung mula Muchamad Kapil hing besuk jumeneng Ratu lawan wasiyate Kanjeng Nabi samono ungeling godong. Kang sinurat kang godong sampun ginulung cinakotaken mingglis mring cangkeme Naga duhung sigra akeris tumuli amiber lir kaja elong. Pan lumrap abure kadya andaru hing wayah tengah wengi wus prapta panaja nipun mara ing Banten nagari gegering wong sakadaton. Agung alok hing jana mastani andaru dawuh ing Sibangkingkin Sunan Banten kagum-kagum dupi winaspada keris sang Naga anyokot godong. Pinariksa godonge akhisi kurup tulis akonna kaji Sunan wis tampa hing kalbu yen erat saking kang jagi hing Cerbon Sinuhun katong. Sunan Banten ika wis wangun wawang sul Tulise salaka adi Lan tulis kancan murub Hing sacacangkoking tulis Kang duhung mesat aganitos. M I J I L Lingsir wengi sang duhung aprapti dateng Sunan Katong tiningalang kalangkung baguse angandika Suhunan jati budening kumaki niana kang takabur. Pira lawase kita hing ngahurip marentah bala wong mangsa teka hing duriyat kabeh gon wisesa hing bala lit ora liwat benjing amung sangang turun. Wus angandika samana atoli Sang Suhunan Katong dan sidakep hing siti sumare alelemek punika ronning rudamala siji akrengulu watu. Kang muoes taka ngetan ngujurre baris dadi mungguh kulon kadya salat hing ngupamane wanci sahur Suhunan Jati wapat anjegjegi umur satus punjul. Rong puluh tahun mangkana nenggi Sunan Kali gatos wawara hing sanak wargane kabeh lamon ika Suhunan Jati sumala hing ardi gen kentaki kang luhung. Mangkat gumuruh kang jagat asisip kayon pada rontog sasatowan pada muni kabeh kad ja toya anmbur atrih kang swara gumuruh gangi ketug lawan lindu. Sila karikil pada gumatik Bumi anggerem anggembor yasang Gunung jumegus swarane ya gumen jrang kumandanging langit Srangenge amuni gumarangsang nguwung. Lir ta dening panangising Ejin jajahan alok pan gumuruh ika ing tasbeke malaikat ika medaki saking ngara hing langit maring puncaking Gunung. Ing kang wayah linajar reken age kKesah kaji binaktani pasangu lang janji mampir sajan jujug. Dateng Mesis aminta kasih pan Sultan hing kono maring rayat iku satemene tuturra kanda kang sejakti lawan iki bukti tanda rama lan Sinuhun. Ingkang aneng godong kang tanta aking lahiku ing kono pinto kena ing tanpa ngandelle Sultan Mesis hing Sireki minta apa aparing pusaka ning luhung. Pangeran Muchamad atampi pitung kasseng gantos pan anembah sigra mit mangke sarta godong kang tanpa lum aking binakta akaji kocapa hing pungkur. Gih Pangeran Muchamad atampi ganta tahun mangko wau Sunan Banten sumeren dadi manggung ika angantosi ingkang kesah kaji ingkang ngadeg Ratu. Kocap dalem Jajaketra talu turu kang jumeneng ngadeg marpati diparagab maring ingkang warna Ratu. Tunuran gagang mamaning Putri arsa sapaturan nunten miyos agni sing bagane maha dalem wis wandane aguling kalawan Sang Putri gyuwane satuhu. Mangkana ngucapa lah iki Sang Putri ayu tanpo dono mung cuwane tan guna gantine saban asa isung guling medal saking parji agni ingkang murub. Ing marmane Tanuran gagang kasesi cipta kaning uwong tan takanggung tan kacipta salirre teba dinum kapanta rabi pareng Dalem maji hing Cerbon tumanduk. Maring yuyut Sinuhuning Jati nama Arya Cerbon nembe umur sadasa jejege Ratu Gagang tumut angiring ika sasiswan ning pedekkana lit tan wruh. Kinare menan ing kana dening Pangeran ning Cerbon Sinuhunaken punika sukane Dalem Jaketra dadi hing Cerbon pinundut. S I N O M Kocap malih Sultan Demak kang putra Sultan Demak dingin ana wartane yen ika karsane amales puli kang rama duk dingin sedane dening Tumenggung Demak dereng samapta wis kawarta maring Tumenggung ing Demak. Tumenggung Demak alanglang wataraning tengah wengi mrajaya ing kanin binedil sumala mangka nuli Tumenggung Demak kang nuju kang putra Sultan Demak kang mangke ingkang dumadi Panembahan Madiyun duk pinang arah. Dening sang Tumenggung Demak ayun malih pinejahi supanten kasusu bubar Panembahan ingkang ngili maring Pajang dumadi kawula bala kajuput kagawa maring Demak la hing kono purwa kaning Ki Tumenggung mas huri yen anjalok etang. Singa-singa hing nagara binarang kot pinalu hing marmane Sunan hing Pajang darbe sembara hing mangkin sapa ingkang nguntapi ing Tumenggung Demak iku pasti pada kang nagari lawan alas Mataram geneng nagara. Malah agung para Nata Bupati manca nagari tanopen kang bidak nrama kang sami agenging agati hika kang saja angarah ing patine Dalem Tumenggung supayane Dalem Demak sato mara sato mati jalma mara jalma mati tanpa sala. Guna telu lan tragnyana upas tan nana mandeni ingkang samya angarah ana wadag ana demit lir ing demit upasi yen wadag subawang nglurug prandene ora nana kang nemu dalaning pati engganira Tumenggung bawa ing Demak. Ana dening kabisanira Sinapati maring alit maring sanak maring liyan jar dingine olih idin saking Suhunan Kali marmane ika Sang Ratu abawa kaduluran sahinggake kang pinambabrih ya wong Cerbon malah asring so bawa sanja lan ta mahune pisan. Dalem Jaketra kang nelir pan samono lamon den gawaha nendra mangka pinonta pininta deng Riya Cerbon nulya glis sinungaken pang mangkana lamon ayun kinarepi. Sunan Mataram angling gih boten kenging hing ngingu samademing wontena mumulu mata balasi samaptanana lamon dinuking saja. Sunan Kali angandika wong mamaceni yen ora kalawan dosa aloing si dollen tumuli ming juragan Walandi ingkang arep layar iku mangka sapakoning Wali Ratu Gagang ing ngedol dening Raja Walanda. Tinuku bedil titiga ageng mariyem warnining bedil ingkang sajambangan bolonge duk winastani pun sapujagat iki wau hing paparabipun tetep aneng Mataram dupi kang alit Satonimi wastanira ika kang pinagari gena. Hing Cerbon ika nagara dupi si Pameleng kang nami si Hamuk wastaning sandawa kang ing ngaturaken sandawa kang ing ngaturaken dening maring Jaketra puri milaning binagi telu sabab Tanuren Gagang wong tetelu kang miraosi kaga duwan Tanuran Gagang kang nama. Binakta nusa Walanda ganti gumanti metetti sang Raja bangsa Walanda supaya kacuwan dening namala metu geni Raja ngakal diwasa wastaning papantan Inggris dupi medal geni hing ngusapan karam. Pukang wulang atemahan tawa kadi saporanti dadi kena jakagawa turun teleren anitis marena ika wonten sing ning sapanta Inggris tumurun turun ming ngakir mangsa ika iku puwa kaning duking dingin panedane Ratu Madapa. ASMARADANA Wrnanen kang kesah kaji wus tutug ing saja nira pecapen sapamedeke ana hing Mesir nagara sampun atra kang kanda sarta srat wusing ngatur dateng Kanjeng maha Sultan. Ana hing nagara Mesir nutug gonira pracaya kabuktening srat godong dening tanpa aking ika hing ngandel lamon ika Sayid Bulkika kang wangun narmane oliyah Allah. Malah sampun pinaringi ika Pangeran Mochamad kang Pusaka rasukane Rasulullah dingin nira lan kinarilan dadya Jeneng Sultan bawa Ratu ana hing Banteng nagara. Sampun ning lami tumuli dinulurang hing pamitan malah wus layar lampahe duk aneng tengah sagara mangka ana susulan wajir saking Mesir muwus Sultan Jawa Tuwan wakap. Amba pinutus hing Gusti ambakta punaing Rasukan kang mungel wau pawewe lamon suka iku Tuwan lini ronan kalawan Rasukan Pusaka Ratu Banisrail mapan tunggal. Punika luluhur aji Sultan kaji ika nabda he wajir iku samono manura hing kanjeng rama isun kalimat pisan anuhunaken bebendu prakara iki Rasukan. Idep-idep rama paring maring ngisun kaureipan tekang anak putu kabeh telung kanjeng rama ika mapan agung pusaka ora babeh baju sang Wajir wau pamitan. Dupi matur ika maring Sultan Mesir yen Rasukan dados boten lilane panuhune putra Tuwan hing paparing punika bab prakawis inggih baju boten suka kalintonan mangkana Sultan ning Mesir kalangkung nalangsa nira kantaka sira Sang Katong anulya wonten kang swara he Sultan Mesir dan sira aja ta hing gegetun pan iku pakarepan nira. Mangkana Sultan ning Mesir mapan Sultan benjing pasti alaye jaluk pusaka kalawan rong prakarane besuk uga kang rasukan balik maning hing benjang ing duriyat tira besuk tinembe maning kagema. Jeneke Rasukan Nabi ana hing Banten nagara pitung turunan watese toli balik maring ngarab Banten sirna parentah apes kajara ing dudu wus tutuh ujiring swara. Sultan Mesir wonge aglis suka rila asrah manah kocap Sultan Banten lire wus rawuh nagara nira kali sobawanira pepacara ingkang langkung adi aeng sarta nira. Gawok ingkang nganingah wahu dateng Gusti Sultan kawula liwat sukane agung wong sanak asanja anungsung ing purwaka sarwi angucap bagja Sang Prabu Jumeneng Sultan kang nama. Dupi ana memelingi hing prahu kapal ana swara abane kadi kidung ing gamelan ika pribasa nira Sultan Banten aja tungkul anunggoni maring gesang. Kita hing ngurip punika hing ngulantan dening bala tinemu lan panyakit kabeh wus sing lara ing ngolatan dening pati ta sira anak putu nira jumeneng Ratu tedak pitu tuli rusak. Parentahe maring ngalit karana ana kanag mawa agawe karusakane pan anak putu kang darma anglakoni mangkana wong tuwa kang murwa mangun kaceda ning wong Talaga. Ratu Madapa kang mandi pandeo ene maring Dewa sakala saking mantepe ya iku pan sirn nira kapusakan gaib musna wikan enggen puruggipun pan tunggaling kang Pusaka. Keris Naga musna gaib tanpa paran iku tanda duriyat Sinuhun Katong tan pajowa watek walaka ya ika kala samana mula aja girang-girang ……….. sira dakaburing manah. Sultan Banten ka konngsi pitung dalu pitung dina tan karsa dahar go elinge sangeting kang tan winulat medaling lesu lupa lumampah kadi tan kadug ambakta sariranira. Lami-lami ika toli languning kidung swara den niket rinakete di namet cipta gamel lan Denggung Rujung paparabe Wonten ganti ning carita aneng Cerbon nagara Tubagus Pase Agung ningali jalma sumala. Sunan Panggung ingkang nami sumala ora kajamak ngadeg mentang mengkang kelek nyekel biti lati kadya greget bramatya mata mandelik maringut kang mrigali sami heran. Den prawasa kadi wesi keker kukuh ora kena den nalapi hing majite werengkeng wangkeng tan kena silih ganti manungsa kang sami arsa anjungjung supaya mayit tan kena. Kalisani kang sami mambrih pinetek kaliyu parna dan Sang Tubagus Pase ngandika lamon anaha Suhunan Kalijaga tan wande isun matur supaya aneng Mataram. Cep kendel kang wau angling rawuh Sunan Kalijaga enggal ngandika wiyose boking ngapa wongsumala kang bener aja mangkana-mangkana ala dinulu mangkana majid kaya saban. Sidakep sare meremi wus sinocekaken ika pina tak anang hing kono nulya Syeh Datuk Sirna pinetek Gunung Jati wetan pan kala nurongtun Modin Jati pan sumala. Ora lawas iku mati Pangeran Tandawariga tumuli ika ginantos kaponakane Pangeran tandawariga daja kang jenengan Tandajupu kinanjeneng nama Pangeran. Purwane Badiman dadi acepang kanimat Jomuah pasarog wedi Ki Lebe Juriman lan panta kadar innallaha Syeh Kadam cekel Cis Kadamjumunu kalawan Kadamjalila. Pada marbot lan Ketib lan panta sabatur rira wong patangpuluh bature wondening jana pura ika wis mari cekel adan Buyut Panjunan wus mantun sumawonan werutanda. Sunan Kali ika nuli ora karsa ngimana amung Ratu Bagus Pase lawan Pangeran Makdum ika silih ganti ing kana watek Patih ya wis saewung Pati Keling Patih Kering. K I N A N T I Pangaran Cerbon duk umur telulas lan pitung sasi ika metengaken Emban ingkang nama Adumanis asal Talaga punika Pangeran Makdum aturing. Sunan Kali lah punika sadiwegi kahasrih jomenenga sembahan sanajana dereng dugi ingkale tahun lima las langipe badbelas musim. Kandi dening sampun lurud punika sala sanunggil tetangerin baleg yuswa atawa tumuli ngimpi sarta kurud sarta kelar wus puputra kakali. Mih ngajengan tetalu Sunan Kali tan rempagi dumadi dereng kaangkat ganta dina ika toli Pangeran Cerbon sumala sinare wonten kamuning. Katela luning pamuwus Pangeran Sedangkamuning tilar garwa duk garbana ika Ratu Wanawati ingkang bobot sangang wulan ganta dina noleya lahir. Putra jala jatma jalu kang ibu sumeren dening wewedi kabaya-baya prayayi yuswa sawengi kang ibu tumoli tilar kang putra salamet hurip. Kang pinaraban tumuwu Pangeran Agung duk nami ya iku kang winawayang sesembahan hing andasi dupi ingkang sing Ampiyan pinarabkan ingkang mami. Pangeran Sukagung iku kang den pupu dening Gedeng Wandahaji ika iung Gebang mengko nagari Pangeran Wirasutaka kaelun ingkang mastani. Pangeran Gebang tumulus kinasiyan hing samantri ana ing Gebang kang prenah dupi lamining ngalami Sunan Kali pancawagawa kalawan kang garwa nyai. Udiolun wastanipun nalika Suhunan Kali tatamuwan wong Mataram Sunan Kali animbali hing garwa kon susuguwa angunduana cicipir. Kang garwa wada angasruh anata kacang cicipir nembe mandur wingi enjang apane kang den unduhi Sunan Kali miyos unduhi teka ora den turuti. Bae hing sapakon nisun sigra kesah Nyai Undi lang kung dening gawokira aningali wo cicipir kacang atub kaya rebah aglis nyunyuguhi Nyai. Sedeng tatamo wus mantuk ana wong ngeber ngampiri ambakta sinjang akatah Nyai Undi ngasi-yasi maring Sunan Kalijaga malampa den welas sasih. Tinambassaken sasampur Sunan Kali Andaya karamating Insan kamil tan dangu jinising arta anulya aglis bayari. Ing sare gining sasampur wis sampurna den picisi Nyai Undi mesem nabda punika satunggal nabda sinjang bade tapi kula sampun kapambeng paparing Sunan Kali nabda assruh wong apa ta sira iki. enjar-enjor yen rarasan ing mave ujare siji nurutana napsu nira mangsa wis sewt siji. Yen sira samono iku pinasti tan bareng maning lawan isun sira pisah sarwi kesah kali ecis mring ngetan hing purugira kang garwa tininggal kari. Tan lami kang garwa lampus ganta dina angemassi sirane hing Kalijaga kocap Ratu Bagus mangkin kesah layar lampahira dupi kang sami ngimami. Hing Cerbon Masigit Agung Pangeran Makdum Kabir Pangeran Agung duk yuswa padbelas tahun tumuli Pangeran Makdum sumala sinare hing Makdum adi. Mangka imame sareju Pangeran Agung pribadi naban-naban salat Jumuah ya kutbah ya ngimami juru komat Syeh Badiman sorog wedi para santri. Lami-lamining tumuwuh ganta sasih ika tolih ana Mrebot jaruman purwa sing wetan angabdi hing Pangeran Ageng mala salamine kinadasi Pangeran Agung den yakti Ki Jaruman timbalana Ing salat Jumuah ngimami. Malaka lampah tinudu Marbot Jaruman pinardi aturegi nuhun pisan inggih tan bisa ngimami pinaksan sigrah kalampah Jaruman ika wus takbir. Wus takbir mulya dangu ora muni ura ngecap ngadep sarira lis tosan ora na ketung katoli ora rukuk ora maca dupi hing ngati kalanti. Pangeran Ageng agupuh anjuluri angimami wus lunta kang salat iki sampun bakda ika tolih marbot ginuga tan kena alot wangkeng kadi wesi. Pendah Jumuah masih nunggu Arya Ageng angimami tumuli sakala ika marbot rukuk sujud mgiring bakda nolih pinrasila katrapan kuhummian yakti. Matur marbot kalangkung nuhun duka dalem andawuhi syarat kukum kasangga saking wau ga punapi atur kawula tan bisa arandene sumangga pati. Pangeran ageng agupuh animbali wangun geni ning alun-alun mangkana sing lohor teka hing magrib marbot ing ngobong punika arandene waluya jati. Kang geni asedeng surut Ki Marbot katinggal maksi jisime jati waluya Ratubagus amarengi wau rawuh saking sabrang sareng pinariksa geni. Maido mmaring kang putu kenang ngapa baya kiyai iku mama yuyut tira sira tumang lawan geni den gelis sira secaha sira wani maring Wali. Bok sira tan weruh kacung iku si Kaki Sunan Kali mung kari kuwan Oliya ning negara Jawa iki tan nana roro titiga si kaki kaguming ngati. P A N G K U R Pangeran Agung anabda saestuning lepat kula kaki karanten sawahunipun nami Marbot Juruman ngabdi lami dateng kaula puniku ing wengi Jumuah nyupena wonten raga anjateni. Marbot Juruman punika ken ngimami dalah kalampah mangkin sareng atakbirpunika kendel tanpa wangenan gih kaole kalampah suloan imamipun dupi wus bakda ginuga prandene lir tugu wesi. Kadodoran rukuk salam sareng pendake hing Jumuah malih rukuk sujud saoteh makmum dateng ing salat kula hina soteh kaula dening sawahe punika boteno kersa kaula paksa ngimami. Inggih nuhun palamarta mama yuyut kaula boten uning lamon uninga hing tembung kula tolih mangkana sampuning ngangken kaula yuyut Sinuhun Sunan Kali wus anyeber nahap yaiku purwaning. Yen ana wong slat Jumuah yen tan bener iku kukuman pasti lan ana carita kawuwus ana marbot kang dumadya angunggahi hing sabawa aluhung dadi Wali tur utama murud sigra Sunan Kali. Sareng lan Tubagus ikaiwa bala andadekaken mangkin sesembahan hing tumuwu malah wus hing ngestrenan Pangeran Agung ya Cerbon pan wis mashur Panembahan Ratu ika ana hing Cerbon nagari. Mangka Sunan Kalijaga salirane sing Cerbon nulya mampir maring Gebang kang dinuju hing yuyut Kanjeng Suhunan sing ngampiyan nenggeh wave jenengipun Pangeran Prawirasuta hing manco jinujung Adi. Katela Dalem mring Gebang sampun lunta lampahe lastari mapan mangkana hing laku anurut wayah Suhunan inmgkang saking putra Demang kang wulangan Pangeran Wiryarayana hing mangkone wus linerih. Ing kukuman arempagan serta bidak bandu aneng Losari Pangeran ika tumuwuh jumeneng sesenibahan Panembahan Losari duk masuhur sampuning kadya mangkana Ratubagus hing salami. Sampuna sekeca hing manah ingkang kantun sakarsa-karsa pribadi hing layar rawuhing laku sabab wus karumasa amakili hing sasirnane Sinuhun wus kagem dewek dening kang wayah Panembahan Aji. Hing smangke samantukira Sunan Kali maring Cerbon asakit prenah anang Dalem Agung panganglune mustaka kang tutunggu santri wali wulangun Ki Memek lan Ki Cengal dupi Panembahan Haji. Tan karsa anglinggi ana Dalem Agung kalampah asipat malih menggihing kilen winangun purasparek hing kana emeh dadi siji lawan dalem Agung lan reka idering kuta sami ambane paragi. Kuta gedeng Pakiringan ya kajawi saking kitakilening adi pangetaning kuta nurut pinggir kikisik mangkana salin bawa hinmg kana siptage Ratu beda dingin kang Suhunan wantuning Wali sajati. Salamining tan curiga maring muduh dening wedos pribadi yen ana kang ngarah luput koijahe Pati Kalang mangkana Sunan Kali sangeting panganglu wapat mangka panakawan kang tunggu ngaturi uning. Dateng Panembahan Nata inggih Gusti Yuyut Dalem punika lalis dupi Panembahan rawuh amriksa layon tan nana hing genahe mau mung kari rurub dumadi kang pineteka iku rurub tatambah sepi. Sinare wetaning mikrab Masjid Agung kang rurub sampun lastari pinetek ana hing riku kang tembe wewehan kutaning mikrab ingkang manjongol muncul jajantung dadi katenga dingine ana hing pinggir. Tutuge sinerat malem Kamis sasih Jumalawah, tanggal 30 tahun Be Hijrah puniki nyerat angsale Surengrana, puniki wawaosan sejarah Wali, saking wiwitan dugi ing wekasan, dumugi dateng Sultan Kasepuhan, Kanoman Penembahan, Kacarbonan nuli tutuge, teka ing akire pisan. Babad Cirebon (2/3) 06 Mar 2010 Leave a Comment by wayang in Kitab & Kidung DANDANGGULA Warnanen inkang winuri-wuri Jeng Suhunan Jati ingkang tadak ingkang mrena aneng Cerbon sinerat saking luhur martabate agung kang Wali ya Syeh Wali Akbar sinebet Sinuhun duk gagarwa jajaka lara Nyi Mas Babadan gabug boka mutrani takdir Allah tanggala. Dupi garwa ingkang amutrani Nyai Rarapi putranira Syeh Datuk kapi namane kakalih putranipun kang satunggal den paparabi. Pangeran Jakalan kang sinebat Pangeran Sedanglautan kang sirane hing Mundu lan Ibuneki Rarapi pon ning kana boya wonten tadakaning wuri dupi kang mrenah hing tedakanira punika kang miyos saking Pajajaran wau. Kawunganten ingkang mutrani istri ingkang namne senebut Ratu winaon kang krama wong Agung Sabrang Pangeran Atsangin marenah hing putranira. Ratu winaonika angadeni Pangeran Sebangkingkin ika kang mrenah ka Sultanan kulon hing Banten Prajanipun dupi garwa Sinuhun Jati ingkang saking Mahostikta putra Tepas nenggung istri nami Ratu Ayu ingkang krami wong agung saking Sabrang Ratubagus Pase kang pranami amarena agung prasutanira ika Jeng Ratu Ayu anggadeni ika kang nami Pangeran P)asareyan iku kang niro eruh wiwinihing ka Sultanan ingkang ana hing Cerbon ika turuning Sarip Hidayatullah. Ika syid Syeh Akbar kang dadi kang jumeneg Ratu hing pakujan iya dening pangangkate wong somas iya iku kula warga Panjunan yakti Jeng Pangeran Panjunan purwa kala rawuh kalih rayi Rara Bagdad apa dening kang rayi Syeh Datuk Kapi sarta kawula bala. Angrong atus sawidak siki punjul nenem balanya kang tiga ya jejeg domas jumlahe punjul siji ing ngitung maring Jeng Pangeran dadi samya golong Jamah maring Jang Sinuhun sarupaning kula warga agung alit sadaya den imponi denira Jeng Suhunan. Den mumuli hing ngageng kang ngati sinung nama gegeden sadaya waneh kapatiyan mangke maneh ingkang Tumenggung ana ingkang lunggung Dipati pon kawula warga panjunan kang riyung hing sajenggere Suhunan ngadegaken agama Islam Pakungwati menggeh duk ing ngistrenan Jeng Sinuhun duk jumeneng Narpati hing ngistrenan anang Cerbon Girang wilayat panjunan muleh aken tuwu tahayu amangunaken ika sapuri dalem Agung pakudyan miwah pintu-pintu kantaning pintu sayastra kilu garba kita Dalem Pakungwati pangrengganing Panjunan. Dupi kita Cerbon kang ngubengi saking gotaka kasoneyan ngulon mengku Palosaren alunta mung ngaliripun pakiringan ngetan dumugi gotaka Jagabayan natas ngetanipun miminggir Kali Pabeyan ngidul tepung kuta nagara Pakungwati pangrenggan ning wong Demak. Apa dening hing pasang pasuting lemah duwur ngalun nalun miwah pasar miwah sabandare ingkang suka malebu hing katandan miwa marga-margi punika Sultan Demak ngabakti hing Guru amangunaken kang gadang Astana geng tukang asal Majapahit Raden Sepet agunia. Guna karya kuta samaptaning kenek kipun limang atus sawidak sing Demak amuleh Cerbon salanggahe Sinuhun malah ika Putri ngadanti ingkang nami Ratu Nyawa katur hing Sinuhun kinarya mantu punika pinanggih yaken kalayan putra Cerbon nami Pangeran Pasareyan. Lami-lamining ajatukrami nuli hika miyosaken putra nenem katahe putrane sawiji hing namanipun Raden Kastriyan kang nami agarwa ing Ptaja Tuban ping kalihe iku hing Losari jumeneng Panembahan Losari Ratu kakadiyasa. S I N O M Ya iku kang langkung guna kacarita ukur ruku beras saelas kinarya gajah sakandange dadi tarkadang kayu jati den tyekap babar pisan kaliogane wau dumadi pun ukiran karsane kang mangun guna. Aja salah samya ingkang jeneng Pangeran Losari dudu kang den petek ana hing palosaren sayakti dupi ingkang sinare hing palosaren kang saestu pan kulawarga Panjunan kang dingi dipun wastani Pangeran Beken santananing Panjunan. Dingine awangun karya ababak tanah Losari iya iku kang amurwa mila kasebut nami Pangeran Losari mashur anut namaning yasa nami Pangeran Losari dupi wapat Pangeran Reken punika. Dupi lininggihyan hing Panembahan Losari ingkang wayah Susunan ingkang jumeneng Losari meng sapanjeneng lalis tan luntah mantrtaning Ratu kaping telune putra hing Pasareyan kang nami Pangeran Dipati Cerbon kang sawarga. Sadangkamuning teleran Raja Wali Sunan jati ingkang tumuwu marena ana hing Cerbon nagari wiwini mantra Kaji aneng Cerbon gelaripun kaping patipun putra Pasareyan ingkang istri nami Ratu Mas kang akrama aneng Tuban. Ping limane Ratu Mas kang akrama Tubagus adi nagara mangke jajahan Banten tunggil kulo wargi Panjunan hing ngrasri kaping nem kang putra iku Pasareyan kang nama. Pangeran waruju adi pan mangkana jumeneng Pangeran Sadakajeman Sindangkamuning punika ginadang linggih Narpati sasirnane Jeng Susunan mila alungguh Dipati sampuni ika akrami putranipun Ratu Ayu ingkang namining wanodya nami Ratu Wanawati apuputra titiga nenggeh kang nama. Ratu Sewu kang wanodya dupi kang jaler anami Pangeran Mas iya ika ingkang atampi nagari saking kang yuyut Aji jeneng Panembahan Ratu ing Cerbon sabab ika kang rama Sidangkamuning sumerene rumihin swarga Suhunann. Apa dene ingkang eyang wau Pangeran Pasareyan pon inggih seda rumiyin swargane Sunan Jati pramila tampi mring yuyut kang wino iri duriyat hing nagara Pakungwati kuta Cerbon masih genggeng manggeng barkah. Dupi kang raya Panembahan kang nami Pangeran Manis dupi raka sing ngampeyan punika sinung lilinggih hing Gebang Ratu kakadi sinebut hing namanipun Jeng Arya Wirasuta tambak prawira matawis sinung cangkok Jawa gunung Pagebangan. Lan Dramayu kinen siba hing gebang nyangkoka maring Jeng Pangeran Wirasuta dugiya salami-lami cinarita hing gurit Kanjeng Panembahan Ratu Hing Cerbon mangku reja Sasirnane Sunan Jati Angsal krama Putri sing nagara Pajang. Putrinipun Sultan Pajang nenggeh ikang akakasih Ratu Mas Gulamporaras Prameswari Pakungwati Panembahan Pakungwati pon nenem hing putrinipun nenggeh ingkang anama Pangeran Sedangbalimbing lan Pangeran Arya Kidul kang laksana. Laksana andikep macan dipun kempit kdi kucing lan malih putra nata ingkang kasebat hinmg nami Pangeran Wiri nagari lan istri ingkang winalangan Ratu Ranamanggala katela namaning laki krana iku Pangeran Ranamanggala putraning Sedanggaruda. Sendanggaruda iku putraning Pangeran Ageng kaputran hing Ratu Ayu putraning Sunan jati kang laki Ratubagus Pase wau ketang tunggal teleran ping limane putra Aji Panembahan ratu kang wina yang harja. Lininggihaken ning nama Kanjeng Pangeran Dipati Carbon ingkang Sedanggayam mila lininggih Dipati krana bade nyuluri Panembahan sirnanipun supados takdirullah datan kena hing ngowahi enggal-enggal somala he Sedanggayam. Tilar putra kalih nunggal ingkang istri Ratu Putri ingkang jaler Pangeran Putra ya iku kang gadang benjing nyuluri salinggihing heyang Panembahan Ratu nenggih dupi putra pamekas Panembahan Ratu nenggih istri Ratu Aingawaningyun kang nama. K I N A N T I Awit Panembahan ratu hing Carbon anyanyuluri wilayat yuyut suhunan martabati saking dingin duk wangsite wali inkang nabda hing Ki Karawang becik. Geweneng wates lah iku sing Karawang ngulon dadi Ki Mas banten amurbaha sing Karawang ngetan dadi Ki Mas Carbon Misesaha Pusakaning Raja wali. Lah iku marmitanipun Panembahan Pakungwati sumuhud datan langgana hing Banten mangkana ugi. Panembahana Surasowan tan seja langganeng wisik ora kaya kapisandung wong Mataram ngaru kapti kumudu sanusa Jawa kinen tiba hing Matawis wong Cerbon wong Banten ika den pardi hing saban warsi. Sesebaning para Ratu naban Mulud ming Matawis Sunan Mataram amburak pala karta Raja wali kang jeneng Ratu punika yen boten idin Matawis. Dupi Cerbon seja anut aseba dateng Matawis estuning manah sukuran tan nan liyan kang kahesti anging Sunan Kalijaga kang ngahubi hing Matawis. Mangkana pangidepipun Panembahan Pakungwati marmaning salamet lenggah sirna ingkang girirusit barkah hing manah sukuran Yang Widi kang anduluri. Dupi Banten datan hanut hing palakarta Matawis atilan manah sukuran kaduga dipun perangi wadya bala sing Mataram aprang ya hing Banten nagari. Lah iku marmitanipun Panembahan Banten lalis kaetang seda hing rana mila katela hing nami Panembahan Sedangrana dupi kang putra lumari. Nani Pangeran Kanantun paladra lunta kaji maring Baitullah yaika besuk abalike saking Mekah nuli ngadeg Sultan angsal idin saking Ngarbi. Dupi samangke atumpur hing Banten tan nana Aji wonten malih kang kocap hing nagara Banakeling santrine ya Syeh Lemahbang andabeni mana sulit. Sadyane angaru biru maring Ratu Pakungwati nenggeh ika kang paparab Datuk parduk sugi sakti ategu nala wikrama sampun satata dedemit. Mulane sadya angaru dumeh gurune alalis wong Carbong kang amrajaya, seja mangke angayono dennya jajal tanpa rowang ngediraken raga sakti. Hestu tegor gumaludung, tan nana braja nedasi pareng nalika samana Panembahan Pakungwati karsa ngujung hing Astana upacara dipun wangking. Marapit miwah panglonjor iku kacarita kongsi pupucuking upacara wus nganjik ana hing margi bebeneran Wringin Jembrak. Panembahan dereng mijil ora ganti datubarul angadeg amalangkerik angadangi upacara aneng tengah-tengah margi gegering kawula bala yen ana digja ngranohi. Siningkeraken tanpurun ya si wong nadya ngayoni pacek wesi malang dalan wangkeng kadi tungga wesi gegering kawula bala yen ana digja ngranohi. Para kapetengan umyung alok lamon nemu kardi umrengging geger genturan kapiarsa hing Sang Aji apariksa ana apa ing ngarep pating barigi. Kajineman aturipun wonten tiyang malang mungkir angngambengi lampah nata siningkir tan arso ningkir pateng janget kadi tosan wangkeng pacek wonten siti. Panembahan adan ngulung ngakeng duhung wus tinampi dening Lura Kapetengan tan na dangu ika nuli duhung masih wawarangka sinudukaken tumuli. Hing jasmanine Datukpardun mati ngadeg tanpa kaning opyak lamon nyata pejah dan tinampakaken aglis Lebe Yusup kang kinarsa amulasare kang mayit. Panembahan lusita sampun dateng Astana lastari akocap ika kurnapa kinubur witaning margi tan suwe diragenak ana hing marga kadi duk uni datan ana bentinipun kalayan jaman Susunan. Yen nuju riyaya kecil anna hing masjid nagara dupi hing masjid riyayagungnge ana hing Masjid Astana masjid astana punika kancuhe Ki Marbot Gusa. Lawan Ki Pangulu Karawis dupi Kanjeng Panembahan yen nuju wulan sapar re sami bubar seba ngetan hing nagara Mataram acaos hing niplal Mulud ana hing Praja Mataram bakda iplal nuli pamit nabam tahun pan mangkana narima sukur hing Manon datan ana kara-kara rahayu hing ngagesang lampah pangiwa lastantun tenem tuwuh pasawahan apa sata Sunan Jati mari winori-nori hing lampah wong sasawah sakarepe tan den pardi hing pajegnya mangko salamet arja panen pada atur-atur samulung-mulunging bala. Wong babakti tan den pardi den umbarena hing bala opra den petel magawe saeling-elinging bala kang pada tur den pupu wong dagang ora den beya. Sakarep-karep ping ngalit yen gegel maring bandara ora den pardi akehe ora na dangdan dadalan dangdan kali tan nana kuta Cerbon masin kemput pangrengganing Sultan Demak. Kandeling kuta kadugi kena den go jaja raunan ngerap hing luhur kutane saketeng hing Jagabayan madep maring Astana ingkang yuyut Jeng Sinuhun dupi pintu Kasuneyan. Ika ingkang angadepi maring Mundu Jeng Pangeran Sedanglaut Astanane boborotan kulon trusan kang maring Kalijaga pamalaten Grenjeng Hetuk Ki Gedeng Kagok santana. Wetan lor boboratan ning wong dagang parau teka sakamya-kamya lakune durung ana cuke beya kang aran wong mardika tan ana pinarding Ratu mung sakolure priyangga. Amung ingkang aran abdi pangunungan dipun tata saban tahun pakmite saban tahun bakti nira tan den pasti agengnya istu Ratu Adil lullah. Wawateking Raja Wali ora meting pengasilan apa satekane dewek dagang maning yen iyaha jajaluk lagi ora amung kang den ruru-ruru babakti maring Yang Sukma. Lumu sisip pasa mending tobate langkung nasuka sarta lawan bratapane atiwa-tiwa kang Eyang Susunan Waliyullah Kanjeng Panembahan Ratu remaning Karamatullah. Boya karsa nalikuri hing rerkan Padaleman ya sote mageng kadaton lan amengku upacara pangrengganing kula wadya sing Pajajaran gumulung. Saking sabrang kunta wiri angurip-urip wong Jawa Carbon kang tembe mrintese lami-lami saya harja lakuning kauripan sakadar-kadar ing riku jumeneng kang panaraga. P A N G K U R Melar kreta hing pakudyan pagunungan para Kuwu kabeh ngabdi katiti amating Ratu dupi Dalem Kuningan waktu iku amogolle maring Ratu tan karsa lamon ngabdiya seja angratu pribadi. Anggepe jalma Kuningan iya soteh mau duk sunan Jati kita seba maring guru dudu seba ngawula dupi iki pan wus sirna Buru misun apa gawe kita seba ming Carbon den tita ngabdi. Kawarta dateng pakujan wong Kuningan mangkana kang pamilih adan pinutusan gupuh Kyai Patih Rudamada kang kinarsa mitutur rana ujar kang alus hing sirnaning Pajajaran sapa ingkang anyo eluri. Kon isep yen Carbon ingkang dadi sulur hing pakuwan saiki piyambake kudu manut kartaning wong pakudyan ya ta Pati Rurdamada hintar sampun dumugi datang Kuningan dawuhaken timbalan Haji. Dupi sahuring Kajenar Pajajaran sampun merad alalis tan wonten pitungkasipun lampahing Karajahan angajawi idep kita wong ngaruru samangke guru wis asirna apane kang den bakteni. Dan ki Patih Rudamada bebet Panjunan tan kena myarsa angling pedes swara nulya timbul ing ngaji dadak sara menyat ngandak-nyandak Arya Kuningan den dubruk ora kayane Ki Arya washita hing suraweri. Anyebrak lan jalan sutra temah lumpuh Rudamada gumuling wus pinanjara sadalu panjarane wis kalapa dupi dalu den wengkang punang galugu Rudamada bisa medal sadya nigas jangganeki. Arya Kumining tan kaya jaka sutra hing luhur angahubi kang pasukane wong riku dadya ingkang anendra jroning jala musna datan kadulu daya Pati Rudamada atur uning maring gusti. Wangsul hing Carbon asigra matur atra saula datan kadulu nunten Panembahan Ratu matus Pangulunira Ki Peki Abdullah sigra lumaku pon lampah mangkana uga campule tan angsal kardi. Sampuning kadya mangkana Panembahan karsa miyambeki kalih tetekeng lumaku mangking ruruku lumampah riri jati panakawan pada nusul keras tangginas lumajar pandene boya nututi. Hebating kawula bala dening gusti wus katemu alinggih kaliyan Ki arya iku pareng dedel wiguna Panembahan malempat anjong den buru sigra tinawuran jala malempat bumi agonjing. Ki Arya kajengkang-jengkang bawanipun kang bumi agunjing jalanipun den tawur Panembahan malepat dupi ngidek bumi miring dadya iku kajronkong krungkeb Ki Arya pamawaning bumi miring. Singa bumi kang kadedekan tapakipun Gusti ingkang Pakungwati kudu bae miring nungkul jala sutra tan guna ngalor ngidul tawuring jala alusud kasele kajengkang-jengkang krungkebe kang anjalami. Digulon ngetan akiteran dangu dangu jala mretel amrotoli sareng kang jala wis rempuk Arya Kamuning nembah inggih sampeyan nyata suluring Ratu dede malele Pandita kang amurba awak aking. Kuring gegebal sampeyan pan sumukud sembah angabdi lahir batin samprakawis tereh Guru inggih nyata Wali Raja duwa prakara jala sutra inggih pupus lah iku marganing daja Kuningan idep angabdi. Papak raja Panembahan kang aminda suhud pawisik dupi Talaga kehesru Kapetakan pon dapake Sinuhun Sindangkasih iya tunggal Ki Gedeng Susukan kalih. Gedeng Tegalgul tunggal tunggal idin saking Suhunan Jati dupi ika Raja Galuh saestu tunggalira Gedeng Sura miwah punika Anjum Nyai Gedeng Panguragan pon idin Sunan Jati. Sakatiking Tapakira iku abdi amatira Narpati kang kamilik sumpahipun yen laga wa asumpah Ratu iku abdi amat iya iku milu wilalating sumpah hing harjaning milu mukti. Kongang lamoni den nedola hing Gusitne sakarsane aniti lawan kongang dipun rungrum dening pagustenira kang lelegan tanpa soma punika taliti. Lunta hing satedak tedak dating Ratu pasti amiris angajaba lamon sampun den pardika kaken nita caca wadon lalurining ngamat iku punggel lamin abdi lanang rabi mardika kang yakti. M I J I L Ya warnanen anjenggering Pakungwati dennya raton-raton ya hing dunya ku wis adate kudu warna-warna kumelip ika Kyai Pali teka mikir sentung. Waktu bebet sabrang tansah mikir manah ngilo-ngilo Ratu Sabrang pada dagang kabeh dupi Gusti kita ing riki korap-koru rijiki adan sigra matur. Dateng Panembahan prayogi yen mangking prayogi samangko kawula ngintar ken padagang gede badi tulung gesang hing Aji atilad tatangi sabrang lumrah Ratu. Sam olih padagang ing mangken ngriki dagang uwos nyabrangaken uwos sagedene agung rijiki angelar bati Panembahan Aji dadya sira gupuh. Beras hing wong Carbon den epaki karunge wis awon kampil beral andamping pinggir kikisik kawarna yen yakti padaganging Ratu. Nama Palidada wusing dadi baita cu mahosora kaya iku ana kekere cadong-cadong batok sawiji basane yen ngemis kanggo amumuluk. Ki Palidada sahurnya ambengis he sidi lalocok beras uwis aneng karung genahe ana adat yen di dodol maning kekere pon masimaredeng anjaluk. Ki Palidada sewot tumuli sejane anabok dadi kerjeng tangane tan suwe sja jejek sukune dumadi ngingkrang datang kenging mudun ika wau. Palidada anjirit den tulungi muliyi den gotong katur sira Panembahan priksane kekerehe ana hing ngendi lan rupane maning kayapa rupane iku. Ya ta matur ingkang pinariksani kere belang kokop suku tangan sami belang kabeh Panembahan angandika riri la iki Ki Pali gotongen den gupuh. Tekakena maring lepenjagi kon tobat kon panor lan gawaha bras ingkang akeh sapuluh karung babakti mami yata abdi-abdi tandang gupuh-gupuh. Ki Pali den gotong aglis sarta lawan uwos ya sapuluh karung wus mintar kabeh anjunjung maring lepenjagi mring sang meha yakti Wiku Wali Agung. Ki Palidada tobat anangis nuhun gesang ingong kang pinuji aris wansukane iya sira sun apurani sareng sabda Wali ingkang iku. Adan waras Palidada kadi duk mau dadya nor suhun sembah lan pangabektine wos sapuluh karung binakti Sang Wali mangsuli hing prakara iku. Beras pirang pirang sira gotongi maring arsaningngong sadya nira gawe apa mrene Palidada nembah lingnya ris inggih punika bakti nipun Gusti Parabu. Kanjeng Panembahan ing Pakungwati kang katur samangko dateng paduka Pandita Gede barkah sampeyan ingkang kapundi mungginya paganti lahir batosipun. Sang Wiku angandika aris lah iku hing mangko sun tarimah hing kabecikane Gusti nira ananging saiki gotongana balik beras ira iku. Suning kene boya anambrih kang para samono manga kaya Gustimu mrene nuli saja drawaka hing ngati dupi isun beli yasoteh hing wau. Ngemis beras mung sabatok cilik go tambah layop ora isun ngarah akeh-akeh ya wis pada gawanana balik ya ta ganti-ganti kang sinabdan wangsul. Pan wus katur hing Panembahan Aji ya ta jeng Sang Katong andaring ngendangu kandikane atema aning kana angking ya wis prakaraning dagang iku wurung. Aja sido wurung ngena gelas kita aneng Carbon ora kena dagang guna gawe iya iku ingkang dadi wangsit eyang Sunan Kali aja salah tangguh. Mangsanaha wali ingkang nisip mangsanaha goroh mangsa pitna sabarang gawene ya ta Palidada tumuli murungaken kardi beras diun udung. Kampil ingkang aneng pinggir kikisik den nusung den dodol den balaburaken hing balane kabeh kawalatran sagunging mantri sami asukati hing sihe Sang Prabu. Para Buyun samya nakseni ken anak putu Carbon tang kongan dagang wangsit luluhure ya luluhure sang Raja wali kumudu sajati ana rimah sukur. D U R M A Ku harjaning Carbon watek Ratu Oliyah tandah hing sawengi-wengi hing masjid sowara hing tilawat parnujinya gumuru swarane puji kala samana Masjid Agung nunggeling. Durung ana empere angeringanan mura ngarep lan wuri mawi pataka harja parunggu sarta alancip apa kaya dat hing pataka hing masjid. Ora kaya jadeng prang saking Mataram kang nama Ki Gedeng Enis naban tigang warsa kinarsa langlang jagad kinarsa mamariksani maring Nalendra kang kabawa Matawis. Pinariksa banggi wonten durga baya kulilip nyalawadi biliana Raja bala Raja kang lirwa maring purbaning Matawis kala samana ika Ki Gedeng Enis. Duk pariksa hing Carbon amanggih harja sarjuning puji masjid hing dalu kawangwang dene teka bargama hing Carbon ngundak-kundaki inggih mankenya jumeneng kutub maning. Anuruni Sang Jati sun cacak coba ya ta hing mangsa wengi Gedeng Enis marendah andalahi ku baruwang hing luhur pataka Masjid yen mangko tawa lah yen nyata Kutub maning. Panakawan datan langgana hing karsa kalayan lampah demit tan nana uninga durga andala baruwang ya ta abdi sami sapa ngakuba hing masjid panas atis. Dadya bubar tan nana purun ngahuba sirep kang samimuji Gedeng Enis nyana yen dudu Kutub Hingyang Gedeng Enis wus lastari lampanya kesah anjaja panagari. Ora kaya hing Carbon sanget sangsaya Masjid dipun tan kenging dipun geni salat Jeng Panembahan susah Popoyan datang Jeng Nyai Pangngalangalang istri guna wit urip Adam ika Nyai Tegal pangalangalang nabda la ya iki gawene wong tuwa do emadak masi ana Nini-nini kari siji Jeng Panembahan wus katingal bruwang mandi ya ana hing pataka masjid katingal sabda Yang Nini-nini ujarisun apa la ika si banuana endah si Nyai ngabili wong wis tuwa ora owel yen mati. Panembahan kang ngawas wau tuminggal saking jabaning masjid aja melu hebang si Nyai mengko kebang manjing hing jara Masigit. Jeng Panembahan ngandika iya becik pan si Nyai manjingnga masjid pujangga manira kang neng Jawi ngawasakon bruwang kang ana ing pataka mangkana enggal Jeng Nyai pangalangalang lumebet asusuci. Banyu wulu anducekaken salira saking cadas sing jisim sampun sinampurna ingkang susuci badan nunten malebet tumuli wonten ning Bangsal. Masjid Agung asuci abrebresik kang nama tinja kaliwat hing tinja ingkang kari mungguh kang babasan manuk mabur kang sarta kurungan orana kari hing tengah-tengah hing masjid denya nunci. Pan aseru swarane ingkang adan asruh amemelingi ambeledug awiyat pamrasane kang meningi ingkang kawengan swarane iku Jeng Nyai. Pareng anjit kang swara munclski bruwang kang aneng pataka masjid mesat hing gagana sumembur hing ngawiyat muksa ilang ingkang mandi sirna sampurna waluka kadi uni. Kacarita baro ewang ingkang sumebar mumerep pada manjing maring Guwa Upas Guwa Dalem ika tunggal bangsa mandi lamon lalis ya makumpulan maring sarwaning mandi. Wus asirna sing dunya sampun apinda maring kaanan latip teges kang babasan ora mati kewala salin nagara kang latip Jeng Panembahan andarengen hing kapti. Tumon wau sinare Pangalangalang Nyai Dalem Pakungwati dening si wanodya sina tata Oliyah rumasuk badan rokani oraga sukma karu-ru istri lecih. M E G A T R U H Malanipun kauni hing pungkuripun kubure Nyai Pakungwati ana hing masjid Agung dudu kubur kaya pranti yaktine punika enggon. Enggon sirna mungguh pameradanipun rong prakara denya eling ila-ila duk Sinuhun ngukun Syeh Lemahbang dingin wanten upata kamanton. Ika yen wis tedak sanga anak putu kaselang hing budi wani kebo bule timbuk rayu telung prakarane maning emut duk dingin wirahos. Wirahose Sunan Kalijaga muwus dening kobaring Masjid hing sapungkure Sinuhun kaya-kaya amenangi Panembahan duk migatos. Patang prakara lamon wissa ingkang mau ya bok anaha malih pantar ingkang kaya iku nuli sapa kang nulangi reh si Nyai sampun maot. Ya wis ora nana ingkang dadi tunggul tumbali wong Pakungwati casse Panembahan Ratu Gusti Allah ngawikani hing karsane Ratu Carbon. Lami-lami ana sumulur arawuh maja Jeng Wali pawestri Nyai Gede Pancuran rawuh putra nipun Sunan Teigading ngumbara rawuh hing Carbon. Pan Kalangkung minuli salenggahipun dening Ratu Pakungwati Kanjeng Panembahan Ratu angabekti puji bakti dumateng Jeng Istri kahot. Dening Nyai Gede Pancuran sepuh tur lampah Wali singgih tereh hing Wali kang makbul salaming linggih wasi hing praja datanna enggon. Mula-mula aneng Tuban hing dalemipun hing Depok kang den wastani Pancuran pramilanipun katelah nama Jeng Nyai Gedeng Pancuran hing kono. Nunten pinda hing Japara kan sinebut depoke karangkamuning lami-lami pinda nipun hing madura milakoni Nyai Gedeng Sampang Boya roro. Nulya pinda ing kajonga pinggir laut mila katela kang nami Gedeng Kajongan kang lihu nunten ngumbara ana hing Pakungwati namaning gon. Minulya-mulya dening panembahan Ratu mila katela kang nami susulure kang wus lampus mila dipun wuri-wuri kinarya tumbaling Carbon. Saputrane sami dadalem hing riku karang ingkang den wastane Karang Pasardawa hulu jaba kuta lor kang nami karanggetas gatining wong. Dipun karja ing panah kang dadi langun dening Ratu Pajungwati marmaning kaja puniku tengane hing Carbon dadi kalilip bancana wadon. Iya iku kang nama Nyai Gedeng Dempul ya angaru anak putu den niruti seja araraton akumpul hing desa Bakung prawani adir-adir kang balo wong. Saoli-oli wong tatanggane akumpul babarissab Sawatiwis umbul-umbul waring muncul Ngirupi bala winuri Geger gentur ing wong Carbon. Ya Ki patih hing Carbon kalangkung rengu reh ika kang dadi Patih ing waktu samono iku Patih Rudamada sakti dados ban nemban ning Ratu Panembahan Pakungwati mila rengu hing borojot. Bebet Pajunan mau Nyi gedeng Dempul cuplak andeng-andeng iki pramila Ki Patih mau wus linggar anglurug maring Bakung gogombol den tinjo. Pan den tinjo nyata orana dinemu pansamya bubar nyingkir ming alas Junti anglarut dupi iku den lurugi hing Junti tinemu kosong. Lincak-lincak bala Dempul genya larut raraton ika ana hing Kandangur dupi krungu dening Patih Pakungwati Rudamada dan tininjo. Ika maring kangdangur pantinemu suwung tegane pada babalik hing ujung tanala iku pada parangsawatawi tan dangu pad amboros. L A D R A N G Gennya bubar angili pada aningid hing guwa-guwa sakedap akempal maning yen kurang sangu iku pada bebegah sing gampang katungkul iku den ambil angraraja dadi geger tepis wiring ya hing Carbon pada ngiliake nyipar. Singlar saking prenahe angungsi puri ya hing Carbon kuta Carbon masi kikib ratu Carbon kang hing ngungsi hung ngauban. Patih Rudamada miwah Mantri-mantri amancalang lie amburuh kidang kancil akeh kena kang kari masih akatah. Ingkang kena wus den asrahaken maring Ki Katandan kinen lamong kang rawati hing panjara sinebut goning panjara. Durung ana benteng durung ana bui duk samana pan durung ana Walandi mung sinebut kang nyekel kanda wariga. Pajaksane hing kajaksan pan alinggih putu nira Ki Rudamada kang nami Jaksa Sumirat kang andarma wacana. Jan purwaning desa kajaksan sayakti putra wayah Panjunan Caruban kali putra wayah Ki Arya Menger Kajaksan. Arya Menger kakange mau Jeng Nyai Nyai Pangalang ika ingkang wus sirna lalis Arya Menger kuwi ramane Pangeran. Ya Pangeran Palalanon kuwi cuwan ya kasilib akeh nyana yen Palangon sinenggi lamon iku ugyan Pangeran panjunan. Kalesanyata Palalangon kang sayakti wong Kajaksan ingkang duwe tunggal jati krana Pangeran Palalangon iku nyata. Ya putraning Pangeran ingkang nami Arya Menger dupi dunane kang asri Pangeran Panjunan kardi pakirnan. Wringin pitu kang linangawan ningsih dukan emah kasosetapan banting diri dupi sumala mantuk Ardi Amparan. Dan warnanen wargane iya Nyi Dempul ingkang amsi wangun geger hing nagari saya dangu saya katah amarambah. Kocap kena sapuluh mangka ngunculi sewu mana wesa kena satus amonculi sewu mana wesa dadi jalma pan sadela. Endas merang tinygel ika anuli dan sinebar dadi bala wus barketi kawalahen polahe Ki Rudamada. Daja matur popoyan hing Kanjeng Gusti Panembahan amit asih ahubing Nini-nini mau Nyai Gedeng Pancuran. Kang dadalem hing Pasar dawa anenggi angandika Nyi Gedeng Pancuran aris putu nisun den pracaya ing Allah. Ya si Nyai mengko kang makseni sidik sapa-sapa tawelak maring Yang Widi tangtu hing mengko ana kisabing Allah tangalah. Aja susah den lurunggi den perangi ila-ila hing Carbon perangnga dadi temahane ora-uru tambuhing seja. Hing sandenge wong Carbon perang tan dadi mangsa sida wus ila-ila hing wali mung salelebon hing bodo ngalatak. Amantangub karuwan kang den ungsi titenana embok si Nyai akitib dening anak putu sing amenangana. Menangana perange wong Pakungwati dugi binjang teka maring jaman akir yen mengkono bae yen perang prayuna. Ya ta marem Panembahan ingkang pikir muwa ika ki Rudamada Patih samya seja Pracaya ming Nyi Pancuran. Samya eca-eca hing aryo puri ora lawas bala Dempel sugih wani seja bedah kuta Carbon den jujuga. Ambel sura diksura pating padigdig edir pada atimbul bojana kulit sugih baris iku kang bala cicip tan. Mila angka sumeja angaroboki pareng praptahing marga bebaneran ning sokalila Karanggetan kasasmata. Kang pangaru kang bala ciciptan sami pulih merang sakeng braja wesi sami getas marepel estoning tanpa aguna. Ingkang bayu lesu kade den lolosi angganira liren gelar aneng siti adan tandang Ki Rudamada sawakca. Bala Dempul prasani dipun keriggi ming ngayunan kinen tobata prasami sira iku aja ilok gawe dora. Maring Ratu lah iku marganing dadi suka lila atining wong kang anjilib sirna purna tan nana durha rancana. Gedeng Dempul hing ngapura hing jati sami bubar mantuk maring prenah lami datan arsa sulaya kersaning Nata. Ya wis ten tre orana kuna-uni sirna baya durbala ngaubing Wali Wali Carbon ingkang wus polipuring. P U C U N G Wantu-wantu hing ngagesang kudu nemu ingkang kasusahanganta sapira lawase patang puluh wolu tahun iku ana. Cocobaning pekir hangula kaum Masjid agung kabarpuncaki ingkang katunan geni saking sabrang kidul sing walahar. Geger kaum pan samya rinebut-rebut Ki Lebe Duliman tandang ngunjukaken kocor Marbot Kamjah sabature ngerab toya. Modin Husup sabature pada nawur aken lemah ika mambrih ming geni matine pan katujung para Lebe sing padedesan. Panembahan dumulur ika sarejo yen kawangun limas mengkamewahan empere sakubengi dadi surambinira. Lan pintune kamewahan bata mempur kinanea kang mungal lan malih paimamame pan ginatra dunjung hadi tanpa talaga. Miwah jajantung tanpa pisang ingkang mungup darapona daja hing ngadining sasangkalane bata mungal-mangil mangupkang sasmita. Ya wus jengger pulih sya wu-wu abagus luntane alempah kawuri-wuri jatine tapaken para Wali kang sasanga. Menuri wuri dening anak putu arjaning pakudyan tilase hing luluhure ingkang sampun sirna sampurna sukasma. Bab hing seseban ming Mataram maski laku mejang naban warsa naban murud pan sakehe para Ratu Nusa Jawa hing Mataram. Pan mangkana adate hing naban tahun salamining gesang ora nana hing cutake sumambah karaharjan hing Mataram. Pramilane hing Carbon tuhu rahayu krana tumarimah manah sukur sagedene beda Banten kaselang tumpur sakada. Sabab kirang hing manah sukuran nipun ya wai waspada ngisab hing napsu samini spa sukur winales guna waluya. Sapa kurang sukure winales tumpes ora nan liyan metu sing ngawakee dewek Gusti Allah pan ora anganihaya. Sahalame jeneng Panembahan ratu seba ming Matram ora nan arung anane mulus mujur kang basa prasetya waktya. Sunan Mataram pan tan nana ngaru biru dennya nganggep anak Mas Carbon labda karyane Hing Mataram katarima jar samaja. Ra kurang ora luwih dennya ngulun mila katarima dumadi ing salamete satuwuhi anak Mas Carbon raharja. Sakarsane sabarange kang winangun boten nana tilar Sunan Mataram rempagi mangkana kang dadi slameting lampah mungguh yang widi karsane singnga asta lahir batin tan beda. DANDANGGULA Awong dening kang rinembangan nyuluri Panembahan nu iku kang wayah kang wus kasebut namane Pangeran putra Sunu putranipun Pangeran Dipati ingkang Sedanggayam ingkang den angkat lungguh deneing Suhunan Mataram kkrana waktu samono ngadeging Ngaji kudu saking Mataram. Ingkang ngadekaken lilinggih haji Hajir Mataram ingkang anama Pakunagara jenenge ingkang ngistren Ratu Carbon ingkang nama winuri Panembahan Girilaya kang mangke tumuwuh sinakoli mangku reja pon katiti sebane dateng Matawis kadi kang sampun seda. Papatihe Panembahan mangkin Kang nama Ki patih Suminingrat ya iku estu putrane Ki Rudamada mau winuri-nuri ing Tunggaksemi mulane pinaraban Suminingrat wau ramaning Jaksa Sumirat tunggal bronjot Panjunan ingkang gaganti hing linggihe Sang Nata. Ya Sang Nata anyar hing Pakungwati Pangulune nama Ki Jalila ingkang mangen bargamane wakil tulaking Ratu aneng Carbon nata gami pusakaning Waliyullah maring anak putu hing Carbon nagara jimat atumbaling nusajawa kendung kikib kuta Carbon waluya. Waktu iku ya mati akikib kuta Carbon masih naroja adi tuwu sakubenge tan ana durga ngaru kadya gelare kang rumihin Jawa Gunung kaporba katiti angulun sinakala tiwa-tiwa nagara gung Mataram pon anglilam ing Carbon yen gaweya. Andel-andel sinaroja Pati Seminingrat lan Jakasumirat Kanti tanda warigane miwa kang naminipun Kyai Kanduruwan pan tunggil baranjo ating Panjunan wandudayi nupun mangka taliti Kuningan Arya Salingsingan kang pinangka dadi anjeneng pandelengan. Dupi ingkang dadi Tadamui iku branjotting karangkendal Ki Gusti parna putune kang dadi mantunipun Gedeng kodokkan Abdulkapi Abdulkapi kang saja dingin mantunipun Ki Pati Keling duk kuna pan karuru wong becik ngupadeni Haji pramila winuri lenggah. Awon dening ingkang hing angken linggih Arya Jagasatru ya ika Dipati Ukur kang ngenem tur dadi marasepuh krana Putri Ukur kang nami Jeng Nyai Mas Kirana den garwa punika dening Kanjeng Panembahan malah mijosaken putra kakalih Pangeran Anom kang seda. Lan maliye Pangeran Masa Pakungwati ana dene garwa Panembahan kang suwanengge asalle saking sabrang kang metu saking panagara Surati nami Nyai Rara Kreta ingkang amurwa dusun nama desa Karangdawa malah Nyai Rara Kreta amutrani Pangeran Sepuh aja. Mangkana Panembahan Geri nenggi agung putrane ingkang estu Raja Sunu sami kasukan kramat boya kenging den nina hing sapadaning tuwu atena walat. Ya mulane karuru desi najen aja ja maning yen tumeka lagi niyat ora bee saking pangaru larut ya Sinuhun ingkang angahiebi hargjaning kapurata hing sawaktu iku jar si nembe tidak lima kaya-kaya samono mengke muraking adening kuta reja. S I N O M Panembahan Girilaya ang Ruru hing Pakungwati pranata mati adilad alam Panembahan lalis masi apembek Wali tanpa drawaka hing napsu ora budi sudagar pramila masih asepi durung ana cina lawan Walanda. Masih sakadar wong Jawa Wong Sunda wong sabrang pekir wong Arab Mandita agama ingkang den gugoni kang minulka hing ngurip prakara agama Rasul ora ngajeni dunya dagang sudagar kakeri kang ketengan lakuning agama Allah. Asli teks pada halaman 123 tidak ada Krana iku kakullah tunggal ulam ning jaladri amupuwa beya maning layen karsaha. Ora nana pupun pasar ora nana pajeg urip soteh wong pagunungan saking karepe pribadi babakti hing Gusti tan pinardi hing Sang Ratu lan ora winatesan wus apa dudune titi ning sedekah sakerep-karep prijangga. Mangkana maning kang bala sakarep-karepe ngabi ngajeni bandaranira bab den pardi estu bentan ana dangdan margi duduk kali wong saking gunung tumurun bakti karya lan susukane pribadi tumandange tan den priyat dening Raja. Kadi lakuning sideka genturan ingkang bakti anglangkungi saking priyat gennya pada angajeni hing Gustine prasami angraksa salinggihipun lumu yen kasorama dening sapantare ngabdi balanjane sadina cicik barekat. Masih lumampah banaja ingkang den arani picis timah tipis bolong tengah awawi dipun sunduki ricik teka satitik pusaka Kanjeng Sinuhun siji rorone ana wong tembaga gagawaning wong dagang sing kasabrangan masih sarwaning samending wong Carbon mapan masih langka gedong umahepun naramba umah Jawa payon sirap payon welit durung ana wong cilik kuta karang. Masih kikis lawan dadangajaba kuntaning Haji kuta Carbon pan waluya sakubengi durung rigrig pusaka Sunan Jati Pangeran Panjunan wau hing prakaraming karta mung den wates ambrikuti turun lima nuli den tema anggagar. Dening karsaning priyangga asajen sangge sejen sipta kaligane iku benjing anak putu prasami anyayanak maring satru saneke temen ningkang prasami den pitambuho pamawane wong kopencut daaring dunya. Pada demen malar barang kang ora langgeng kamilik temahe adadi upas anaepes harjaning Haji beda duk jaman dingin ungkara Kanjeng Sinuhun ora amalar dunya nanging dunyane angrobi rijekene sing dunya rawuh ngakerat. Panembahan Girilaya wus sipta ana kang marik kagungan niyat kadunyan nanging tan anglaksanani panasi kundalining kutub prawantuning wus katah tatamu kang dede Wali sabotene angngukad ding kaenakan. Putra garwa saking sunda hing karsane mambrih sugi asipta hing kabangkaran putra warga sing surat adat sabrang aja mambrih sudagar padagang laut nyung nyeng sagongeng kula Wangsadipa Wangsakarti den nya anggelar saja abrangan sinang. Ya si wantu Panembahan sarosane wong sawiji apa maning wus abenggang kalawan sobawa Wali membering-membering meminggir kagumris benaning laku lan Panembahan Awal dupi Panembahan mangkin sabawang sumilir harjaning kiwa. K I N A N T I Hing waktu samono iku kusonya Banten kang dingin mralalu kisah ming Ngarab nani Sangeren Kanari minggah haji sina kangsal idine Raja hing Ngarbi. Sultan Mekah paring wahyu lamon Pangeran Kanari la yen jumenenga Sultan ana hing Banten nagari serta sinunggan Radukan Pusakane nabi Brahim. Pramila samantukipun ika Pangeran Kanari meperkaken kula warga ngistreni angangkat diri pyambeke jumeneng Sultan ana hing Banten Nagari. Tan kaya Mataran rengngu ora narima hing Jawi yen ana anana Sultan kang sanes saking matawis dadya rika malurungan seja ngimper Banten Aji. Wong Banten degeng hing wuruk duga prang salami-lami Banten layan Mataram lawas-lawas ika nuli ana panyapi walanda kang nama Kapitan Murgil. Ingkang bisa ngurus-urus wong perang dumadi mari sabab Banten den pariyat deng Murgil kinen nyahisi petugur aneng Mataram naban taun ganti-ganti. Dropan tulusa angratu aja na sawiji-wiji dupi Mataran den priyat kine narimah dumadi Sultan ning bala Sultan Banten nyaosi pakemit. La iku matganing urus Banten kalayan matawis ora kaya wusing kreta walanda minta upahing angarta prang neda kongang adodok aneng batawi. Sunan Mataram dumulur Sultan Banten angrempugi lah iku awiting ana Walanda aneng Batawi pan den nidep tuwa-tuwa dening para Ratu Jawi. Lan jumeneng Gubenur iku amiponi hing Batawi lir kamandi sumelap Ratu Jawa durung ngarti hing gatrane samana yen akir dadi kamandi. Asli teks pada halaman 129 ora nana Masjid Agung Banten iku nalika binangun nenggih angleresi babad jaman sewu limang atus nenggih tigang dasa kalih warsa punika kadining pelhing. Dupi mula-mulanipun Walanda aneng Batawi wau ingkang pranama Murgel nenggeh angleresi babad jaman kalih nira sewu limang atus warsi punjul tigang dasa tahun. Punika adining peling dupi Carbon duk samana masih Panembahan Giri nasi katiting ming ngetan sukuran manah lumiring. Lan ning Carbon masih harju durung kaslapan Walandi durung ana wong pantinan kuta Carbon masih kikib ngubenggi saharja pura tengreme wong Pakungwati. Babad Cirebon (3/3) 06 Mar 2010 Leave a Comment by wayang in Kitab & Kidung A S M A R A DA N A Warnanen wong Pakungwati Panembahan Girilaya naban tahun sesebane hing ngarsa Sunan Mataram naban mangkati ngetan wulan sapar layen rawuh tanggal ping nem Rabiulawal. Nuju unining Sakati sabab hing Praja Mataram hing tanggal ping nemunene Sekati dugi hing Iplal kempeling para Raja kang seba ana hing riku bada Iplal sanya bubar. Beda aneng Pakungwati hing Banten unining Tabal Sukati tanggal wolune duga maring Iplal ira kokong ngang sing Mataram aja ngungkulan harju dumateng piyambakira. Banten sabane wus mari wus kapohung dening arsa patugur naban tahune prikati Mugel Jaketra lunta kaja mangkana dupi Carbon masih nungkul sina tat hing Bupaca. Satata lawan Kadiri Madiyun lan Banyumas Demak lawan Pajange Madura Sampang curiga sebahe hing Mataram titip awak piyambekipun jumeneng Ratu ampilan. Warnanen wong Pakungwati Panembahan Girilaya yen beba ngetan dinerek dening kalodahan nira Ki Arya Salingsingngan miwah Ki Dipati Ukur punapa dening lulura. Ingkang nama Tandumohi miwah Kaki kadurowan hing Gebang Wanduhajine ingkang nama Sutajaya dederek hing Mataram niniteni Gusti nipun larane wong angawula. Hing pamondokan Matawis ora na ngajeni pisan yen marek maring Sunane anglepo ana hing lemah konjem-konjem ana ing lemah ika ingkang dadi rengu manahe Ki Salingsingan. Muwa ika Ki Dipati Ukur umatur hing Panembahan kulipun duriyat kulon anak putu Rasullullah nemba hing wong Mataram anak putu kaya isun tunggal asal ka Galuwan. Moning ngapa sampun lumiring pangalataking Mataram kula Gusti kang tanggo hing banggane wong Mataram Gusti atas kaula Gusti sampun tumut-tumut barkahe luluhur Nata. Saestu Sang Raja Wali tangtune ngaobe barkah Panembahan adan linge aja geru yin rarasan bok ana kang miharsa tema dangdang muli kuntul pitenahe wong Mataram. Mulane isun ngabekti ya maring Sunan Mataram bok iki pada katambon mengkoyen sami asowan hing ngarsane Suhunan sun dudokaken tuhu jatine ingkang sun sembah. Amung aja adu linggih lan isun den kapiarta yen ana babisin ingngong ya ta kang para Lulurah ngartos wangsiting Nata miyos aneng pangangkilan. Sunan Mataram wus linggih ana singgasana mubyar kinubeng sakaprabone hing ngajap sagunging Nata sami konjeming lemah lir pitik atumon ulung rarasi para Nalendra. Panembahan Pakungwati tan tebah Lulurah ira ana katingal mancorong hing tinggaling salingsingan Nata Ukur pon mulat Tandamuhi pin dulu tengene Sunan Mataram. Ana linggih kursi gading komara nelohi jagat pinayung kadi Srengenge ajeng ngenging para Lulurah kawengan teja prana pareng bubar hing ngalungguh sami dateng pamondokan. Panembahan Pakungwati arising kandikanira la kaki paran was paos para Lulurah aturan inggih Gusti punika punapa kadi andaru nembe kaula karengan rupaning kang adi luwis. Panembahan angandika bok kai ora angratu kang katon ya ika Eyang Suhunan Kalijaga Boktan idep jati iku Jatine ingkang sun sembah. Urub-urub hing Yang Widi murub mancur Rasulullah insan kamil jati reka ingkang pangawak teja mageng araga sukma apa dudune luluhur Sunan Jati munggeng kramat la iku margane ngarti wis iking Gusti Panembahan dennya sukuran ngolosod hing sampar lebu Mataram anut inggeking mala sampun sedeng sami mantuk mring Pakungwati nagara. P A N G K U R Lami-lami ning ngagesang kudu bae ingrung nganing ngaurip Carbon katekanan musuh ring wong atas Maruta Ki Dipati Ganden hing paparabipun wong kalang wong angluluntang mangan kodok mangan babi. Sadina-dina genturan ya apesta manjer pangetokan babi lakok eneng agawe rusuh maring isene desa rarampasi singa cabar ya den roud duduwene den parusa ora nganggo sukane maning. Yen den po ika tukaran perang buru singa cabar ya kambil ora nyang kirangi hukum ngalahakn nagara ora mikir hing palakartining Ratu Panembahan Girilaya ora den deleng Narpati. Den anggep wong ngamandika Mila Dipati Ganden tan den tata kering amepes bawaning Ratu kang Patih Seminingrat saoli-oli anyabili maring musuh malah akeh kawat gata wong Carbon akekang mati. Kulawarga kaparungan akeh tatu angadang sura wiri wong Caikherang ageru grandaka kapunggungan Ratu Mendik apopoyan ning Sang Ratu Penembahan Adillullah den gondel sakti nulungngi. Kranane ika wong kalang ora kena den gawe beres urip den tundung tan gelem mamprung den rampek anglulungka datan kena den gawe sanak angutus gelar kadi camera kera tan ngaji bener satitik. Ngaluntang sakamya-kamya duduwening akeh den paksa wani sinemdu dadi agelut paten-paten brawasa lalon-lalon anglalu ataker marus angrebuti baranging liyan tan etang dipun pentungi. Dipun perang males merang ora kena dipun aru-aruhi yen den aru anggep lampus ya ta Kanjeng Panembahan karsa tumon hing jalma kang kaya iku kalih Panguli Jalila hing ngiring sagung santri angangge sarwaning petak patang puluh punika ingkang santri miyosipun saking datun kang sarta atakbiran Allahu Akbar rempug wong oatang puluh adi sabik-sabilullah sabille wong Pakungwati. Takbiran kaya Riyaya rame rempug swaraning hing wong santri angiring Pagustenipun miyos ming jawi kita beneraning Tedeng pan sigra katemu Dipati Ganden tumingan hing polahira wong santri. Ingkang sami atakbiran suka bungah dumado milu muni amuji puji Yang Ngagung karenan tanpa sesa dadi milu sainggeking Sang Ratu den kon muni shadat sakabeh wong pada ngiring. Den Islamaken sadaya Dipati Genden sako ela wargi wong Kalang wus pada anut mungalape Sang Nata den dodo kaken hing Pakalangan iku akumpul dadi sadesa Pakalangan iku yakti. Pan titiyang selam anyar yasanipun Kanjeng Panembahan Giri layan mila-mila nipun ywan kasebat jawa Pakalangan angabdi maring Sang Ratu kongang lamon den edola ping pitu sadinamangkin. Katampun Ki Jalali la yen ika sinengge kang abdi milik Pakalangan ika ikusabad ika wong Kalang ikang pada teka nagara ming ratu gawe kalakuwan gagam angalasaken nagari dupi sunda pagunungan sinengge abdi kasiyaning Haji krana nalika duk mau ratu ingkang tumeka amerangi maring nagarane iku marmanipun ketang seda lawan Pakalangan mangkin. Lawan aja gawee lo kan nadyan gunung pon beda-beda ugi yen wangkid gunung prakuwon yen iku abdi amat krana iku Islame pinrang nging Ratu Islam soteh karana kala perange dening Sang Ngaji. Yen si wong Gunung Prajangan ku mardika krana Islame dingin ora karana pinukul perang dening Sang Nata estu iku suhud dewek maring Ratu mula tan sinengge amat den nira wong Pakungwati. Dupi Jawa Kapetakan tungal layan Pakalangan kahabdi krana alame Sinuhun iku Pangeran Petak sabalane pada gawe rusuh-rusuh kaya Pakalangan uga tan nana beda sademi. Mila Kiyai Jalita Pangulune nagara Pakungwati ngukumi yen ika dusun kang aran kapetakan Pakalangan tunggal bae habdi mamluk kamilik Sang Nata Hing nagara Pakungwati. M I J I L Lami-lami hing solah maranti sabaee wong Carbon hing Mataram saban hing-hing Mulude datan ginggang Ki tandomohi Pandelengan mangkin Arya Jagasatru. Para Lulurah Arya Salingsingan mangkin den nya amigatos Malangsumirang murung hing nitine yen ning wetan aniningali wong ngajar juri aneng alun-alun. Pada ngagem tohok tur aniti kuda pada angrok tumbak tinumbak tan pasa kulite ana ingkang baksa amawikepeng pedang paris atangkis sarawuk. Pedang pinedang tanana ingkang kanin wane kangsarogsog balang binalang ngaken ninggeke sinuraken dipun kapoki gamelannya asri pinatut lan bedug. Warna-warna dennya ngawi ragi jogeding asosog wan ingkang tandaknya angulur sabagi-bagi dennya mambri kasukaning Ngaji bala sili hatur. Atur-atur hing manca Bupati dumateng Sang Katong ing Mataram kalangkung sukan amingali ingkang para abdi atur pangupaksi maring Sangaprabu. Singa nagara pada metoni tontonan ning kono ya wong Carbon den niri gawe meton nana tontonan kang maring Kanjeng sri Bupati wong Carbon sasdu. Matur yen boten wonten minangkani Grago tiyang bodo boten wonte kanga tiyasa joged pangawi raga boten bangkit hing kasakten malih yen nit yasaha tahu. Wong Mataran kudu bae ngiri maring anak Carbon Arya Jagasatru wuwusi lan iki kentasa bedil kang ageng pribadi kinarsakna amanggul sarta nyuled ya ta wong Matawis pada kamisosot he wong wong Carbon pugas hing ang kowe ya ta sinukan dening Sang Ngaji yen nyuleda bedil sapujagat iku. Arya Pandelengan tandas aglis Salingsingan gatos angiseni obat sasedenge den enali pasek tumuli piyambake manjing sarta enal iku. Nuli Arya Jagasatu gasik Nata Ukan gatos ngangkat bedil dipun panggul dewek Tandamohi ingkang mulad bedil jumegun agonjeng kadi jagat lindu Jagasatru wangkeng datan mosik kukuh eh lir papatik hing bedil Sapujagat kekere ora mundur ora gumingsir lir wong manggul epring tan katon wratipun. Pandelegan kang kabiyas dening obat kadi pelu hing janjana tan kruwan tibane ora suwe jaragenek nyanding hing ngarep ping bedil bada masi watu Wong Mataram iku nembe uning Laksanainya Carbon Ujar satepak katut bebede ora kena den ina urip Lan iku gegebring saktine kayeku. Manda dene Bandarane yen uwis nemor gawe katon ika gadang punjul saking papake Carbon kudu den prayekani bok manawi dadi kamandi hing besuk. Yen wis samono gatrane kahaksi dening tingaling wong aja katungkul nononton saktine kudu anyangkirang hing ngakir. Coconteging Aji maring kangkad ye kun Di ana ratu kang dadi sakti gelare samono tangtu iku gelare samono aja kerup rupane aking kadya bibit uwi kaligane muncul. Ela iku marmitane dadi Panembahan Carbon den patroli hing pamondokane den talikti hing raina wengi dateng wong Matawis den titeni dudu. Ya sangune isi sega aking den korek den tinjo den taliktik bok ana isine kanutane den galusoari katetaning kancing den wewer usung. Ya iku ngenese wong Pakungwati dipun notok kaya ya angrasa den ina prajane Arya Ki Dipati Ukur. Katuwone dening luwi-luwi Tan den daleng uwong Makaten ugi hing saciptane Wandu Haji Gebang kang nami Sutajaya dingin mana winaringrut. Wong Carbon pada rengating ati den gawe samono ya ingkali wong bresi tan duwe manah digjaya tejaden serik won serya sayakti teka den lulupud. Ya wong setya ika teka den pracekani ka ta loroding wong carbon sedeng mantuke ing grage angngadati hing naban warsi bada Iplal mulih dateng praja nipun. D U R M A Rakaya Ki Dipati Ukur hing wuntat ngari aminangkani kiwuling ngaguna matek aji limunan malebeting dateng puri aneng Mataram tan nana ingkang uning. Malah gedang semangka hing dalem puri den dahar ingkang isi kulite waloh eya geger ring wong jro pura tumon gedang pada masih wutuh tan kaya isine musna gaib. Mangkana uga semangka kang pada musna isine hanging kang masih kulite waluya gawoke wong Mataram dening tembe ameningi kadi mangkana oreg sadalem puri. Nuli ika Tandamuhi matek limunan lumebeting jro puri menangi Sunan ika diweg tuturas emase dipun contengi apu madu pat Sunan kaget ningali. Aningali emas kaligane ana coconteng ingkang putih pikir ana baya iki ana durbiksa baya belis saking ngendi ngaru maring wang dubilah den tebih. Enggal sira ingkang dakar winasuhan nanging yen uwis aking kaligane ana maning cocondeng pedak Susunan dangu mimikiri dereng kamanah ingkang ngasung wigani. Nuli ana Ki Arya Salingsingan muja alimunan den wisikik manjing hing kadat yan amenengi kang Susunan diweg dahar den ladosi para parekan Ki Salingsingan aglis. Manyungkur hing kumise Kanjeng Suhunan kumise kang sasisih ya ta sang parekan kaget ningali Susunan kumisi ilang sasisih mancep ngujiwat Suhunan maskitani. Angandika kuwe mesem mulat maring wang apa kuwe sarasmi maring raganingwang dupi mangke den usap kumis kari sisih adan Suhunan mundut adining carmin. Amratelakake kumise kang ilang ngilo kakaco yakti nyata kumis ilang nyata Sunan ngandika sapa ingkang wani-wani hing kumis ingwang den cukur kari siji. Nuli ana swarga uni sabda nyauri hing Sang Ngaji swara nya enya anu nyokuran Sunan Mataram nimbali Papatih ira apariksa lahiki. Ya kumisku ilang sasisih kelangan teka ana nyahuri swarane kang mun ya aning artine apa Ki Patih matur wotsari artosing basa aning punika kami. Gih punika basa tiyang Carbon Sunda lah iku marmitaning Susunan Mataram nyereg yen Carbon ala pada undangana gelislakune nyetan sugih rancana demit. Wus katulap yen dadi musuh hing nata wani amanjing puri ora lan dadalan nyukur kumissing Nata ora layan den badami sasaha si pakurwati. Ya Ki Patih matur nuhun duka Sang Nata anak Mas carbon mangkin pan sampun kalilan mantuk dateng nagaranya pandugi kang masih hari rowangan nira ngalindeng digja demit. Boten kados tan kasasmata hing tinggal saking pundi marganing ingklang kacepenga Susunan angandika lah lurugana tumuli Carbon den kena babandane mariki. Lah iku marmitaning dadi cela Carbon lawan Mantawis mantingka lurugan Pangeran Purobaya kang tumanduk anglurugi aneng pakudyan sarta para prajurit duga maring Carbon ika masanggrahan mungguh kiduling kali kang mangke katelan Paronggol namanira enggal Kyai Tandamuhi kang lumantinga hing gelar sing Matawis. Kacarita Tandamuhi kang laksana tumanding hing praweri Pangeran Purobaya anyuduk tinadahan Tandamuhi dadi kalih pinindo dadya papat anggambing-ngambing. Di ping telu dadi wolu ingkang raha sigra kinen malesi dupi lumaksana tandamuhi sumeja anyuduk hing ciwakan mangka ning ababa kudaburak ika dumadi. Ya Pangeran Purobaya dawah hing lemah narimah kawon jurit bubar sarta bala wansuli maring Mataram atur uning hing Sang Aji yen Carbon mapan tan kena den gagampil ya satepak kekere karo wadyanira tan kena den gagampi;kadi uler timah panas bawaning setan punika wong Pakungwati osugi guna setan katong ngadohi. M E G A T R U H Yen sinuduk dadi akeh kaya lelembut yata Sunann Matawis ngutus sejen wira pamuk niroban bala braketi gumodug parane ngulon. Iya iku Tumenggung sing Pasir Kidul kang guna prawiwa sakti Pangeran nang Selatelu sumeja anjajal maring kutaning nagara carbon. Durung teka maring prawatesan Pakung nembe duga ambeneri tugu mangangkang katemu Nata Ukur kang ngadepi atanding wira kammacon. Ingkang bala Mataram kundur katumpu pada mulakipun dening pangaruhe Nata Ukur kenang ubang-ubeng dadi polahe amider panon. Ubang-ubeng tan karuhan lampahipun amemegeli kang ati nyata ika Nata Ukur anulak musuh Matawis tan kadugi datang Carbon. Apopoyan wau hing bandaranipun yen kadi musuh iblis abdi dalem alalaku boten katik dugi-dugi pijer kapuyangan kapanan. Estunipun amusuh pan dede musuh kadi prang lan dedemit tan kantenan gelaripun ya ta Susunan Matawis angutus hing sejen wong. Sena pati suwanggi sabrang punjul kait lan dukun gentiri wong Mataram kang angri yung lumurug hing Pakungwati seja ngempes anak Carbon. Ing ngiring ing bala pirang-pirang umbul wong Carbon tan nedang-eding Panembahan ora weruh yen piyambake den lurugi angeca-eca kemawon. Ana soteh kang seja nulaking musuh Ki Arya Wanduhaji hing gebang bronjot kang mau Sutajaya angadepi saking Losari kemawon. Saking sabrang kulon hing kali duk rawuh para musuh sing Matawis pang rahose remek-rempuh pada rusak den amukir tur sajatine baloklok. Sutajaya tan kesah-kesah angambek mung ngadeg nang sabrang kali amatek hing ngaji nipun tuju lajaran ngenani bala Mataram wuslorad. Iya mulak pangrasene ana kang ngamuk nanging tan kruwan kang wero kadi wawayangan nempuk amepes nyawa prasami kandur ingkang bala katong. Mila kocap ing Gebang laksananipun anulan musuh Matawis matur hing bandaranipun yen Carbon kadi dedemit uwong soteh dede wong. Ulur-ulur tali barat hing lelembut tan kenging den kanta jalmi dados mesa dede musuh memeri amese pitik sumanggeng karsa Sang Katong. Ya ta Sunan Mataram kalangkung bendu angraus durga kalilip apa maning wuwuh imbuh akeh sinangarya serik kang kapentas hing Matahok. Pan wis ana kang aserik hing Mataram iya anamprung manca maring Pakungwati agolong ana hing carbon dura tanggon anggon. Mila sami pralalu manca anunut maring Ratu Pakungwati kang sabar krana Hyang Agung rembesipun Raja Wali Kutubing nagara Carbon. L A D R A N G Pakungwati lami-lamining ngaurip kudu ana bancana isining lahir ora liyan ya Ki Buyut Alas urang. Ya tedaking Dempul kang dingin maranti angka-angka ingkang umbul-umbul waring pada raraton awanguna si karaharja. Ya sakait lawan Ki Buyut kang nami Ki Supataka pon turuning hamet wani mung cirine dening tan huning hing daya kurang waspada hing gaibe dumadi guragapan mengke yen anemu sandi puharane dadi kaya-kaya bocah. Ya ta geger genturaning Pakungwati alad-alad Patih Seminingrat aglis anglurug hing alas Bakung sinikara. Sawatana prange Ki Buyut ningkir leber mapan ming kapetaken den tungtik dening Kyai Patih Carbon Seminingrat. Hing Patakan aprange sawata wis sigra bubar angajab samargi-margi angrurongseb hing laku padang raraja. Angararaja kanggo sangu ning madigdig ingrarampas singa ing dalam kapanggih ya den rebut wani hing tingkahira. Buyut Urang sabatute sala hepti seja nyelang Carbon pusaka kujang. Moyang Panjunan katitipaken nasri mring Suhunan apa benere wong titip yen wis lawan ya kudu angolehena. Ya ta tan gelem ngolihaken positip yen wis lawas benere wong ananagi yen matungteng iya kudu penerang ngana. Ya ta sira saya angrempagi sanak-sanak warga Panjunan kang sami amarenca hing kulon angriyung teka. Siji loro sing Kandangur sing Junti miwa ika saking Singaraja malih sing Dramaju sing Ciasem sing Karawang. Ya sing Pontang sing Tanara asing akeh malih sing Jepura ika katilas awani maring Ratu Carbon seja salah cipta. Seja ngangkat Buyut Urang ngadeg Aji ora kaya Ki Patih Semi naliktik pareng wengi anjejem guna wikara. Buyut Urang lsgi turu dipun godi langkung katrap sisirepe patih Resmi ya wong domas bature Ki Buyut Urang. Kena kabeh iku pada tinangsuli tampa sesa binakta ya hing ana ing Pecattanda ana hing Kendal Kajaksan. Ku wong domas wis pinanjara den Patih Seminingrat sadaya malebet sami. Wong domas bature kaki Buyut Urang den beloki nang Katandan patut dening oli patang puluh wengi nuli ika den aerus dening pajaksaning Ratu Carbon ana hing Kendal Kajaksan. Den kukumi mau ingkang mamaten iya pada den esrahaken ning Judi ya medaling pamanggahan pinatenan. Dupi iku kang rarajah rarampasi dipun wedal lakeng ning pasapon pinrih den gitika anuli ika den buwang. Dupi mau kang pada garumbyung pitik kang kagebah ora kalawan pamih ku karsane Ratu Carbon den mahappa. Ya wus sirna rasa rusiting nagari kabar kahan luluhur Sang Raja wali aneng Carbon mapan masih tedak lima. Sidem kayon kang reka-eka pan nyilib pulih hardha waluya abecik ati embuh besoke saikine ya wis kreta. P U C U N G Tan warnanen hing Mataram Ratu Agung dumatenging dede manah dumatenging Ratu Carbon reh patusan ping tiga tan antuk karya. Kaserenging napsu kaliputing bandu asraya Walanda Kapitan Hetal jenenge pinroh kena babandane sang Narendra. Anak mas Carbon aja ora kajuput maring ngrasa ning wang tau rasa sira mangko yen campole iku sobat dudu lanang. Yata ika Kapitan layar minmg laut amargi sagara wus kadungkap maring Carbon lampahira tangginas ya enggal papta. Wong Carbon kapengel tan ana ngaru hing waktu samana tan nana Walanda tumon aja maning umah-umah hing nagara. Durung ana ana Walanda jeneking Pakung wong Jawa aringas maring Walanda katemben iya iku durung bisa hing katanya. Durung ngarti terang ing kata malayu den ajak tabeyan Panembahan dereng ngartos ya tan suwe adining pangalpuka. Panembahan nurut bae ing sacatur ring Walanda bisa katiga putra anderek Pangeran Sepuh Pangeran Anom sada. Kawa naha Panembahan lampahipun lan Kapiten Hetal angrasa yen olih gawe pan wis katur hing ngarsane kang Suhunan. Ingkang bau Panembahan pan tinangsul dumadi pratanda arrah babadan semune inkang putra kaliye ngartos sing reka. Yen kang rama angsal dukaning Ratu Agung hing Mataram dereng ngartos ing dosane nuli kinarsa kinung-kinung dateng pasowan. Ginunem repit seja pinambrih lampus hing pada nayaka malah wis ranpung guneme boya rempug yen den pejahana ganal. Ya karan bebeting Bantang bilih metu budine rakasa hing ngarab pan datan suwe ya puhara dadi wisahing Suhunan. Ding sejane seja demit ambrih lampus seja guna digdya baruwang ingkang jinawe kula warga Carbon wus dumuging kana. Ingkang Gusti Panembahan sanget nganglu miyosing pasowan den muleh-muleh den gotong den aji-aji binakta hing pamondokan. Tanna dangu Panembahan nuli larut gurnita yen seda den mulya-mulya sinareh den Astana ana hing Giri Malaya. Mila sinebut hing wuri ing nama nipun Kanjeng Panembahan Girilaya sinambate guring jana yen Mas Carbon wus seda. Sarta karsane Susunan lamon la iku putra Panembahan tan suka mantuking Carbon den kukuhi kekel ana hing Mataram. Kang den arah drapona aja na sumulur darapon dumpura raja ana Ratu Carbon bilas ilang hing Carbon akundang setan. Angrobohi karaton laku angaru annyotengi dakar nyukur kumis lah samangko rasakena dengda wisasating nata. Ana rengi waktu samono pihibur perang Trunajaja seja bedah Matarame putra Carbon loro pan katimpal-timpal. Greg pating bilunglung larag-lurug maring ngedi ora putra Carbon kalbesate hing nagara Kediri pan wirandungan. Pirang-pirang hing Carbon tahun asuwung katuwagan Nata durung ana sumulure durung ana kang mikir ngangkat Raharja. Ya sing waktu Panembahan ika larut duk ing babad jaman hing sewu limang atuse pujul wulung puluh papat lumampah duha maringalu anembelas tahun tembe ana karsa. Sulta Banten pasiyane apotosan ametuk kang putra ika kang kablesat hing Kadiri lampah harju kinen ngamitena saking Sunan Matarame ya ta Tubagus ingkang prasami mapagi. Kesah maring Mataram ika anuhun lilane Suhunan lamon ika putra Carbon kang kakalih kasuhun kahamitena. Kang karsaken ana hing banten salimur tunggil tunggil melas sanggine ing Banten bae munggih munggiya wontena idin Suhunan. Ya tan Sunan Mataram suka dumulur maring penenada hing wong Banten kang samono kon malaksak dewek maring pangngumbaran. Den salaksah aneng Kadiri tinemu dan sigra binakta maring Banten sakaliye rena-rena Sulatan Banten adurran. DANDANGGULA Kanjeng Sultan Banten tumulur asih rempug lawan Morgel Jakertra seja ngankat Ratu Carbon Mugel Batawi darbe wawani angadegaken Sultan krana Banten iku angsal idin saking Mekah lawan angsal Pusaka Rasukan Ibrahim pramila kinawenang. Pangeran saking Carbon kakalih mapan sampun ya jumeneng Sultan hing Banten den intrenane nuli kinarsa mantuk maring Carbon dupun katiri Walanda sing Jaketra ingkang naminipun anengge kapitan Karang lan Raja Gowa Bima kang prasami kinen angraksa ha Sultan. Embok ana panusul sing Matawis ya ta Sultan sakoro wus harja alinggih ana ing Carbon babading jaman sewu nem atus hing Carbon mimiti ika jumeneng Sultan Walanda kang tunggu mimiti ana Walanda iya iku Kapitan Karang rumakseng Gusti hing sajenggering wibawa. Sajejeging amaro nagari Kasepuhan lalawan Kanoman iya tatkala samono Sultan Anom kang mangun Kroton piyambek amurwa puri sangkane tumuruna maring anak putu dadi ana Padaleman loro eneng jroning kuta Pakungwati ya tatkala samana. Loro soteh kukume sawiji pramilane yen kukum hum sarengan Jumah he ya bareng bae ana hing Masjid Agung Panggulu hing Kanoman Gilir Jumah atuwin Riyadin sapa hing fitri sapa hing alkoh mangana maning unine Sukati sapa Mulud lan sapa Riyaya kalih katong roroning tunggal ingkang linggih Ratu Kapitayan duk samana hing Kasepuhan nami Ki Arya Nadin asale wong palekat. Para Gusti duk samono musi durung ngartos dumateng rarasan malayu marinaning gawe jurubasaning wuswus ingkang nami Ki Arya Celli iya iku kawitan ming ana Tumenggung aneng nagara Pakungwati ingkang nginger ala beciking nagari Sultan suksara pracaya. Yumenggung ika kait lan Walandi Kapitan karang lan Raja Gowa Raja Bima ture mula kaduga lebur kut a Carbon den burak dadi den gawe bentengira anang pinggir laut sirnaning pusaka kuta timbul benteng wawangunaning Walandi anjaga jaga Sultan. Lah iku waktuning carub urip akeh Walanda akeh wong Cina nunut suka hing Sang Katong sinukan sami kumpul umah-umah hing pinggir kali sakuloning pabeyan ngadepaken dutu ambanjeng pacinan dalang pada gawe Kalanteng sabagi-bagi acaket lan sabandar. Pabeyan pamicisan dadi kumerab sakuling bangsa-bangsa pawalandan Kapitanne ya Kapten karang wau Kapitan Cina den arani Kapten Burwe kawitan ingkang pada laku makoda wane pranakan cacalang ingkang den wuri-wuri jagane bok ana aprang. S I N O M Kawarnaha ingkang kadang kang metu kang saking ngapti Pangeran Kusumajaya dennya karem maring supi tanopen anak rabi umah bale burang abur tan ngtang sandang pangan hing bratapaning tur gempih mila dumadi ing barang sacipta nira. Bisa ngambah awang-awang lan bisa mencala putri kinawenang sejan rupa lampah sakedap dumugi maring prenah kang pinrih wus ora sangketing laku karemenipun wayang dada lang kang wignya adi kang sinengge hing sugul paesan tunggal. Datan pegat anglambayang mangka ika anarengi leledang maring nagara kapareng Sultan kakalih diweg aniningali benteng anyar winangngun Pangeran Sumajaya Kandikane ya iki Kang ginawe menggung waji kudiran. Natkala nabda mangkana lari ngijoggaken ecis hing kuta Bentang ahobah oreg lir bumi ginonjing semune manci maringkang rayi dumeh kadyeku campur budi Walanda gawe benteng pasang bedil ya ta Sultan sakalih asruh ngandika. Sampun makaten kang raka lumayan bade madosi tiyang bodo drapon ulap ningali benteng puniki dupi jeng raka serik boten remen ning puniku jandika nyingkir kewala hing parnah gen kang sepi dan Pangeran Sumajaya wus ayimpar. Aguling hing Karjuwanan atmane sampun dumadi ratu topong Baladewa hing pesisir kidul nengih ika ana hing bumi Cidamar gennya ang Batu nama Sunan Prawata tur balampun gagaib gumlar asrih pada sadela. Ya ta Gupenur Jaketra kaget tumon giri rusit dadi samnya pada apyak saradadu anglurugi pirang-pirang prajurit saking Jaketra kumebul kaligane kang prajurit pada potol endase tanpa karana. Mangkana lawan mangkana gawokipun wong Batawi nembe tumon lampah perang amorotoli pribadi akeh pada sasiri anglurug pada angandu sagena-gena pada geris pada marotoli pirang-pirang Sradadu Jawa Walanda. Danggome geger genturan Moggel Betawi angarti yen pisaniki kudowa anak Carbon ken nyabili maring Cidamar ambrih jimat pamunakih lurug ya ta wong Carbon dangdan sarta prajurit Walandi Kapitan Muris kalawan Kumendur ajag. Lan Mantri Astraditaya Sultan Loro pan lumiring anglurug maring Cidamar pasir kidul den purugi ora manggih dangending Cidamar amanggih suwung gawoke wong Walanda ra manggih itu ini erane kang mau apa durbiksa. Datan wruha ika atma atmane kang mangngun guling ana hing gon kajuwanan parengika den lurugi dateng kadang pribadi dumadi enggal awungu kana atma muksa ilang mangsup hing ragane atang. Sultan loro sing Carbon wus ngarti uga lamon punika kang raka Sumanjaya den nadeling ngangken wiratama nira ngesemi wong Pakungwati anrorag-orag rayi aja katungkul anggugu kula reja Walanda kawas kita angumandi para gusti hing rupane asengaja. Sengaja campur koripan angramekaken nagari anganjarakening yasa amburak yasa kang dingin kuta Carbon wus bresi kagantening benteng ngipun ringa-ringa hing Jagat wera ingkang dipun pambrih nanging salirga gaib dadi atebah. Tut satitik musna ira guriyang hing Pakungwati katiyen dening Walandi hing Carbon buncari tebeh ilang sagunging mandi cama kapupuna hing dudu mila Kanjeng Pangeran Sumajaya asung wangsit supadosa para Gusti saja nemaha. Henda ilang hing guriyang sok remaja hing ngaurip kang aran sagula wenta ingkang manis ingkang gurih anglalu sada lali maring mantraning luluhur tewaju hing kaldunya kal akerat kang kakeri lah iku prabawa Pulung yun mintar. K I N A N T I Hing Carbon sawaktu iku mari seba hing Matawis mung asrah patugun jalma saban tahun gilir ganti atilad wong Banten pura patogur hing naban warsi. Pon tunggal parigelipun Tuwan Morgel hing Batawi Sunan Mataram narimahwus ora kauni-uni apa maning hing Mataram lagi ibur durung mari. Perang Tronajaya nipun seja ambedah Matawis pramila aneng mataram tan pati ngungseda jawi rada repeh hing wisaya data kadi wingi uni. Carbon tentrem dening estu den jaga dening Walandi kang nama Kapitan Karang ingkang dipun katahani dening pambrih hing Mataram wedi mring telik Batawi. Mila kauripan nipun Walanda den katelingi dening Sultan loro pada sing Kasepuhan wong limang atus nyuosi sakarepe wong Walanda wong sewu ingkang ngupadeni sarta kinawenang dagang mambrih untung hing nagari. Sakarepe cari untung ora ana ingkang den sangketi anggolang bala makida hing nagara Pakungwati apa duduni wong cina mung ora den gawe telik. Cina amung cari untung ora jaga lunggu Aji mangkana ika wong Kaja wong Bugis lan wong Sarani sakarep angulan dara ora angraksa Narpati tami lamining tumuwuh kadang dalem kang anami. Pangeran Emas amolar maring kang raka Sangaji amode sanungi anjang kaoripan hing nagari. Kang raka Kendal tan pasung bawaning tan mandarbeni kawasa ngadegna pangkat ngajaba Banten kang wis olikokongang sing Mekah dupi kita Pkungwati Bara-bara kita tuwu samene ngulat ngulat ngendi aja agawe ungkara bok temah tan makenaki wis esak-esak kreta aja akeh pokal-pakil Pangeran Mas duk rengu adan angitar priyangga surat recep hing Batawi den dala hing pendi anyar den tutupi cowet siji. Den dempul lir wada majum sapa jana isi tulis den cocol lawan tampelang wong siji intere demit dumugi maring Jaketralampahe anumpal keli. Hing kana salaminipun ana hing tanah Batawi tanama kang piduliya angrantun anang umaning tukang sayur hing Jakerta tatamane sang Morgil. Malah rerewang nyanyapu nyiram kebun kunti wiri sing kene marganing bisa katemu lawan sang Morgil tatkala Gupenur leledang sore-sore niningali. Maring sasayuran nipun patusan Carbon agasik angaturaken kang surat Morgel Gupenur sampun tampi surat kaharti sadaya adan sang Morgel Batawi. Ika sang Morgel Batawi lawan Sultan Banten puri yen ana kadang pakud ya neda ajang hing ngaurip Sultan Banten mapan rempog pisan lamon den duluri pan sinungan ajangipun sing Kasepohan pinardi maringana ajang gesang limolas desa mangkin sing Kanoman mangkana limolas desa pinardi. Wandening jenengan nipun di sone ika nguruni lalaerine Panembahan lah iku marganing dadi hing Carbon Ratu tiga duk babading Jaman Kali hing sewu nem atus punjul telulas tahun jejegi ya ta sang Morgel Jakerta angintar tulis kang maring Carbon hing Kapitan Karang surat angkataning Aja. Panembahan sampun lungguh Ratu Mandita ngajasi angreh telung puluh desa pigegeling wargi-wargi Kasepuhan lan Kanoman Wus marem kang lagi runtik. Salat Jumah gilir telu hing nagara Pakungwati panjaksane pan titiga karatone mapan nganpil maring praja Kasepuwan dening ana titik runtik. Ming Kanoman ana rengu rengating mana wawangi tur ta iku Sri Kanomam tunggal saya ya babibi wus karsaning Allah uga cawenga kagiri-giri. Pecat mati dennya rengu naging datan dadi rusit hing aturing nagara lumari anuli dadi harjane kang panagara salameting gira rusit. ASMARANDANA Lami lamining ngaurip pada ngintar kahungguhan kang dadi cager akire aja geseh hing sulur kang gadang nyuluran ingkang rama lamon lampus sinungan dingin pratanda. Nama Pangeran Dipati anang praja Kasepuhan Jamaludin kang gadane sumulura ingkang rama benjang yen wus seda hing linggih winangun tangtu talitih Nalendra dipa. Dupi hing Kanoman wasis bawan ning sanget memeleng wantu kanjyaran lungguhe anoman wong anyar mela beda wong Kasepuhan lalorining datu agung sing ngalem Susunan mula. Wong Kanoman sanget pikir kawangun cager hing manah ingkang sengge sawadine sadurung-durung ngilina Sultan anom asadya abadami lan Gupenur miwah Sultan Banten pura. Panuhune ingkang siwi den udanga nama Sultan kacagerna namane bae nanging ngora mela praja pom masi nang Kanoman dadi Pati lungguhipun mung namane bae Sultan darapan enaking ngati hing wuri aja memelang Morgel Jakerta anderek salarsaning Nata dumulur maring kadang Carbon Kanoman kang sunu kinawenang nami Sultan Sultan Carbon ingkang Ariya Mandurareja hing ngadunane eca hing manah cagen ring wuri sumulur sirna rasa mana melang. Jeng Panembahan pon pikir wangun cager maring putra den asri nenggeh namane Pangeran Dipati ana hing sri Panembahan mangkana Ratu hing Pakung dennya angraksa turunan. Ing Kasepuhan kang siwi ika iku ingkang nama jeng Pageran karerange rayinipun Jeng Pangeran Dipati Kasepuhan lan Jeng Pangeran Tumenggung lan Pangeran Natasurya. Kajalan ingkang nami Pangeran Jawikarta kalawan Jenga Pangerane Suryadiningrat kang naina Jeng Pangeran Suryanata dupu warga istri nipun punika ingkang paparab. Ratu Raja Yupawestri iku putra Kasepuhan dupi putra Sultan anom estung jengger hing wibawa krana putra Kanoman akeh sinongan lulunggah Kadipaten sumarambah. Iku Pangeran Dipati Madangda miwah Pangeran nama Dipati Kedaton Jeng Dipati Rajaputra Lan Dipati Awangga Lan Jeng Pangeran Ratu Lan Dipati Pringgabaya. Miwah Pangeran Dipati Rawamenggaka ika lawan Dipati Kaprabon lan Dipati Rajakusuma kang istri nama Jeng Ratu Arya Kidul Lan Jeng Ratu Arya Wetan. Ratu arya Kulon malih lan Ratu Aryu Paengah miwah Ratu Arya Elor lan Ratu Arya Kancana lan Ratu Arya Kendra lan Ratu Mas Kiranahayu lan Ratu Mas Najiyah. Ratu Mas Rara Pawestri lah iku putra Kanoman kumerab serta gelare para Gusti hing Pakungja marena ingkang tedakan ingkang ngasa ya sinebutaken nama Raradenan. Sasuka-suka ning ngati hing Carbon sakarsa-karsa tanana durga angampo cacangkok-cacangkok ira wangun sakarsa-karsa Tumenggung pasitenipun tanopen Tumenggung nagara. Riniyung Punggawa Mantri katak wus tanpa wangenan hing ngadi-jadi Sang Katong anjalana mangku reja sakariping sewaka Sang Ratu tan nampik ulun ingkang ngolah niti praja. Anopen yuda nagari Sang Ratu ngumbar langenan kang maring sakukubane amburu kidang menjangan anjaja wana wasa ing ngiring sakul paburu muwa ingkang paninggaran. Kesel anjajaring rusit nuli angumbara langenan dumateng pagunungane wani ming sangjang Talaga ana kalane yasa babalongan adi langun ana hing sakarsanira. Ing sumber hing Linggarjati waneh samudran wangunan nawang gambir layane kesel angula daratan ameng-ameng paprahu konting hing maja lautan. Keseling maja jaladri ming daratan angadu macan den edune lawan wong hing Karangkeng wong kang nama Ki Taru lan Ki Wukur kang pada angaji timbul aji girang sing Karang. Ginawe bakti remening pangameng-ngameng Nata duk samana dodolane wong cilik tarung lan macan lan banteng dadar tapa lan den una sikalaku dening kartane Sang Nata. P A N G K U R Satuwhe hing ngagesang kudu bae ana rungsebing bresih ana ingkang rusuh-rusuh wong raraton ning kana hing Gunung Galunggung paja-paja Ratu bebresatan saking wetan ngulilip laku momori. Momori hing Karajahan apinda-pinda Ratu ngirupi alit ya ta wong carbon anglurug Mantri ingkang pranama Sarajaya kalawan Ki Jayengsatru Astrajaya ya pon kesah Anglurug sing Pakungwati. Kanoman lan Kasepuhan samya lurug pan samya ganti gumanti dumateng Gunung Galunggung pintening lami nira graya-graya lan akeh ingkang kasambut marmane ika walanda enggal pada anulungi. Ingkang para kinapitan Kapitan Ros kalawan Kapitan Muris Kapten Cina mapan melu Kapiten Burwe ika Kapitan Hongge lan Saradadu nipun miwah kang paranakan den luruggaken ajurit. Pirang-pirang tambur ika saradadu Walanda anggunturi angelar pabantu-bantu wis pirang-pirang wulan gennya gelar angluru ya hing Galunggung lawas-lawas kawatgata rurusit Galunggung lari. Bubar lurude mingetan wusing kreta tan nana uni-uni ora kaya hing dumuwu kudu bae kakenan rusiting Kanoman kapitena ya hing dudu Papatih hing Kasepuhan kang nama Ki Arya Nadin. Ngajab lubering Kanoman darapona jengger dadi sawiji mila pitnahe matur maring Likman Walanda yen wong Kanoman nyimpen wong Bugis hing kidul kanggo angremek walanda ajan hing Pakungwati. Lah iku marmine Sultan Sultan Anom den benteng sawatawis katiti tan wruhing harju ya ta ika kang putra ingkang nama Dipati Pringgabaya rengu anusul dateng kang rama hing benteng dipun lebeti. Hing ngadangan hing Wanlanda kudu meksa akeh Walanda kemit kang den adu kumbang kondur ya lan sampun kepandak kalih rama hing benteng sigra matur nuhun idene jeng rama pun topi hamba kula srik. Kula tumpes pun Walanda ingkang rama girap-girap aja Kyai den eman ming anak putu aja murwa marah aja sira darma mimiti hing dudu temahe nak putu benjang kang rusak darma lakoni. Ana dene diri ningwang Allah uga ingkang angudaneni karanane anak putu bok ora kaya sira aAlung den ngati sukure maring Yang Agung jugala awet harja nunggu pusaka kang dinging. Adipati Pringgabaya sireping rengu pituturan kang sajati pareng Walanda angruru kateranganing lumampah Bugisnyata ana hing pasisir kidul sateh Bugis umah-umah ora edang ora keding. Nyata dudu sisipena Duduminang sraya ngramek Walanda lah iku marmitanipun Sultan Anom luwaran saking benteng salamet alungguh RATU Walanda neda sapura Jeng Sultan angapunteni. Liknan Pandemhir kang nama ………………………. saenggu ati ………………………. kang wau Sultan Badridin mula ………. ingkang kula Kanoman iya iku Sultan Gusti iya tunggal kang nama Sultan Badridin. Dupi aneng kasepuwaning kang nama Abdulmakarim Samsudin ingkang mula nipun ingkang anama Sultan Kasepuhn ingksng jeneng Sultan iku genipun jumeneng sultan amungan rolikur warsi. Anuli ika sumala ajejegi yuswane hing ngauripa sangang dasa kalih tahun sumulur dateng putra ingkang wau Pangeran Dipati tangtu hing ngestrena jumeneng Sultan nami Sultan Jamaludin. Aneng praja Kasepuhan wong ngagung ahli suluk hing Hyang Widi kasengseming dera sugul murakaba hing sukma anirna lir awujud cengeng ing tawaju hing supi kapangeranan madep hing jamalullahi. Kang kacarita lok salat maring Mekah ingkang badan rokani ya iku kang neroh laku mila meled kang kramat. Gunung Linggarjati den nawe dumulur marek maring Lawangsanga wong mahat aren andamping. Padati tuku kang lahang salir parekan paa atumbas gendis sawuring tutug alangun gunung kinarsa lunga geblar tebih kadi panggenane mau malah ana kang kagawandeng ngitaring gunung balik. M I J I L Warnanen kadanging Jamaludin kang nen angolosod ingkang nami Pangeran Rerangen nuhun ajang adining ngurip ming raka ngasyasih ngalap manah luntur. Yen dalu sumonggon memeteki anguling aneng sor kumlsepa hing jogan rakane iya denining sanget aminta kasih hing raka prakawis ajangnging tumuwah. Durung bae dipun katrlungi hing panor samono dennya ngalpuka hing sihe kadange sarya beciking hing Walandi oran nan kadi Jeng Pangeran iku. Pramilane den rojon hing Walandi sejane samonoden pirowang hing sagedene dening tetor ingkang nami Martanus samsuri Ingkang junjung-junjung. Ya mangkana tetor amedeki hing ngadi Sang Katong hing Kasepuhan pang pinanggih ajek jejeging adayok Walandi Sultan Jamaludin mangihi tatamu risedenge eca alinggih. Pangeran apanor amedek hing ngayunane rakane ngaturaken sekar kakalih Sri Campaka putih ature punika. Pepetetan kaola tembening sekar ameng loro gegel dateng raka sakaliye kang senungal bada raka istri kang senungal raka Aji punika kang katur. Pareng tinampen kang sekar kakalih denira Sang Katong ya ta Walanda surak sakabeh nabda dalah iku wong sajati hing waong awawargi atut sasadulur. Mesti olih ajang ngaurip maro salis katon atas tunggil sagedene ya tu Sultan tan tangkat sulit damulur kang dadi rampunging tatamu. Lah iku marmane sinakolih karerengen maro kula balakang saking rakane angsal pacaca aning jalmi rong laksa amali hing sakaprabon nipun. Pan malulu sing Kasepuhan kang prih lulunggu samoo Pangeran Arya Carbon jenenge nanging sacitak Ratu lilinggih aneng Pakungwati jar karo sadulur. Kalih Kanjeng Sultan Jamaludin pareng sakadaton mungguh kuloni padawenane pakoncara pinter hing ngabasuki prakara kang lair ika estu punjul. Wit ning akal alan budi raspati ora nana loro amung Arya Carbon kang den gawe pangeraning kang para Gusti wadining Aji hing sawaktu iku. Jejeg papat Ratu Pakungwati Kesepuhan maro Kacerbonan pon iku rayine hing Kanoman kasekawan maring Panembahan dadi papat umbul Ratu. Kacerbonan kang anyar dumadi wadanangin Katong rehing pinter hing Kupeni margane dadine tinari-tari dingin mabarang panri iya maring iku. Wantu-wnatu Ratu anyar dadi gelar pandum ming wong singa cina kang sugih den rampek den gedekkaken ingkang ati kinarya punggawi winagun Tumenggung. Ambrih gede tomboke angngapti hing karsa Sang Katong Pangeran Arya Carbon akale ya kadunga wangun Sunyaragi pinangkaning dai iya saking ngiku. Pangrojonge cina sugih-sugih duk waktu samono ili-ili yan ya saking rembang akeh cina sugih ingkang angili kranawetan lagi nagarane ibur. Perang Trunajaya durung uwis akeh cina lolos pada sira anggambangaken kapele pan den usungi hing Carbon angngub. Pareng dipun imponi dening Arya Carbon tangtu dadi gedene atine rurubahe kagiri-giri apa karsa Aji tangtune jumureceng. Duk binangun iku Sunyaragi duk babad jamane sewu nem atus wolu likur Bujangga nyarsa obah bumi Kacarbonan Aji hing sagelaripun. Wangun saradadu sarageni sang keping bala wong asu paburu uluk latune ora lawas ika tumuli Panembahan Aji dugi ajalipun. Ya smulur ingkang putra nami Dipati samono wus angadeg Panembahan linggihe apa ingkang rama wus lalis angreh ajang mangkin desa telung puluh. Panembahan alinggih wawasi bartapane kahot maring bangsa arab rumakete Sayid-sayid akeh madeki pan den wuri-wuri minule hing riku. Remening tapa angulangi salir napsu sanggeh pamor ya hing lampah hig manah sukurane tenatren hing pakaryaning ali tan katah den pikir bala gung nganggur. Ademing karya tan nana matari Panembahan gone beda kaji Kacarbonan sahure panas gawene karananing akeh kang dipikir gelaring tumuwuh. D U R M A Ra lawas prawantu olaking dunya kundu ana kulilip gegering pinggiran kulon ana hing desa Conggilis ana gurusit wong bang nyarak Syeh Yusup ingkang nami. Araraton rinu bunhing kawula bala den tanggung pati urip marmaning dumadya oreggingbala wita kasuhur arep numpasi maring Walanda sangkane den perangi den lurugi saking Carbon sing Jakerta para Kapitan sami gelar malurungan ming Conggilis aperang sawatara akeh mati umbul-umbulan wong Carbon ambantoni. Mantri ingkang anama Astraditaya Perwajaya lan malih oraming anggas ara muwa Kumendur Ajar sarta saradadu pati bala Makasar Kapitan Ros Bali. Saking Banten pon bantu mangkana uga malah sing Banten rusid ana pinangngeran ingkang seda hing rana lah iku marganing dadi Morgel Jakerta wirang daja ngebruki amiyambeki kalawan para Kapitan Syeh Yusup wus kacandak ka benteng anang Batawi pan sineratan arak lan uyuh anjing. Malah sira Syeh Yusup pejah jro pancana waktu samana dadi kasuhur Walanda nutug dennya pirowang maring Ratu Nusa Jawi kawilang bisa anginger karta bumi. Mila kangge paugeran hing sak Jawa aminahing rurusit palanglang bancana mila waktu samana ngupadeni hing nagari. Rempag-rempug maring putusing kukuman amor milu ngukumi tan arsa katilar krana yen ana durga rurusit ika kanggo hing lah iku carat yen ning akire ngumandi. Ora lawas Sultan Gusti ing Kanoman Badridin kang ngemasi sumuluring putra wau ingkang anama sultan Carbon Manduraji samangke dadya Sultan Anom Nurudin. Sultan Kalirudin tunggil punika sumuluring Rama Ji hing praja Kanoman dennya amangku reja karta tana una-uni geng alit sukakakang bawa Pakungwati. Sultan Kalirudin nenggeh puputra nami Pangeran Gsti lan Pangeran Kresna lan Pangeran Wisnuntara kang istri Ratu Dipati lan Ratu Wijaya lawan Ratu Martasari. Salamine Kalirudin Mangkureja ligan tahun tumuli seda tilar dunnya sumulur ingkang putra kang nembe ing yurmaneke kalilas timur dumaja kang paman amakili ingkang anama Jeng Pangeran Dipati. Jeng Pangeran Dipati Rajakusuma ingkang ngolah titi yatnaning nagara angreh kagelar mulya karta hing saguna gati raharja pura hing Kanoman bawa Aji. Ora lawas Jeng Sultan hing Kasepuhan ingkang nama Jamaludin seda tilar dunya sumulur dateng putra wus hingistren ngadeg Aji anama Sultan Raja Tajulngaripin. Alim Kitab limpad maring basa Arab nit yasa ngangit kadis Kitab cara Ngarab angaceki sapraja Pakungwati tana ngirib hing kala hing basa sagujiya logawi remen angintar Kalimah hing Ngilmu rasa hing cecelaningsupi hening hing Pangeran Rububiyah Yang Sukma acager wisik sajati duweting Bengat kang srih pinusti pasti. Angelaraken amangguron hing iktikad mila kasuhur dadi Guru Ratu mulya Wakil mutlaking Allah hing sagara Pakungwati ora liyan nanging Pajulngaripin. Anggongon ni warangi apiking lampah ambeningaken ati kang abangsa sukma kapangerananing Hyang singa Pandita kang luwih pan minaketan hing asil kang sajati. Kaji Abdulmuchyi Panembahan Karang Ki emas Saparwadi lan Kyai Amyah pan sur kang sena wita karana jatining wisik kimalaspa Ki Gunung Cinde malih. Sutruping lampah karuyaning manah Hing esir kang sajati Rasaning itikad Kasuciyaning manah Winuri hing jati salir Kang sinungkeman hingbangsa Guru Aji. M E G A T R U H Tan anatara lamine wau sang ratu Kacarbonan kang nami Arya Carbon seda sampun sumulur dateng kang siwi kang raket kaliyan Petor. Petor ingkang nama Korneli Jonglut kang ngangkat diri Narpati hing Kacarbonan kang sunu dumadi bisa anami perhangkatan Sultan Carbon. Sultan Carbon martawijaya alungguh Djuluri rama kang lalis Dadi munda namanipun Dupeh ramane mung olih Asenggi bae Sang Katong. Namging masih nama Pangeran duk mau dupi kawuri kang siwi sumulur tur jeneng Ratu pangkating kulit putih ingkang rumewang marono wit ningakal budi pon kadi hing maukukuh ing yuda negari bai jawa kang dera punjul yatnaning sujana jawi angintar krama Sang Katong. Angundaki Pajaksane hing sawaktu iku putraning pragata Aji Kacarbonan sila rampung bubuntasaning pradong di rampunge ana hing kono. Mila kocap wadaning Ratu gemet kang budi pikir hing pada repaning kungguh tan kewran hing ganal repit awon pened kawaspaos ing prakara kalangenan katan tiru pramila so Sunyaragi menda hing natkala iku tan pati kaisik isik antenge aneng Kadaton. Tana lami hing karta bawaning Ratu nuli Sultan Carbon sumulur maring sadulur kang mangke den angkat malih hing pranami Sultan Carbon. Sultan salir pangritaning Pakung lah iku duk jamaning Adiwijaya atiru rama aremaning rasmi kalangenan hing kalangan. Sampurnaning Sunyaragi waktu iku kang anggemeti sahadi kapuratining kalangun pan winangun angundaki hing sapa kikirnan Carbon ra nama kang mantari saking iku atila hing Maespati endah parawatan kosong. Raduwe mas inten dipalalu sok duweya umah becik ingkang prayoga kadulur hing sasamaning ngaurip hing pada-pada ning Katong. Karemane malih yen lampah paburu kidang manjangan ana hing alas sakukuban nipun dadi kasengseming ati yan sampun angulah buruan. Ya kadung alas Sumedang den rangkus den buru kang isi rungsi pangeran Sumedang mumbul dumateng Morgel Batawi ora trimah wong Carbon. Gennya buru dudu sakukuban nipun Sultan Carbon dipun panggil hing pradataning Gupenur pimrasila amangsuli yen ika kabara Carbon. Tetengere beling kang ngetap ping kayuyu Sumedang ngukuhi endita tetangeripun wong Sumedang ora Bangkit gawe katrangngan ning kono. Ing pramila Morgel mutus ya ika estu Carbon ingkang kaduweni Marmane sawaktu iku Sumedang kureh dening Kacarbonan duk samono. Tanna lawas Sultan Anom wapat sampun sumulur datang kang siwi kang anembe umur sapule ingistren madeg Narpati wus jumeneng Sultan Anom. Sultan anom Abukeridin papat abipun reh hing masih timur dadi den wakili hing Tumenggung Kyai Baudengda wakil kang gaib kulo bala wong. Ya mulane den sakili Ki Tumenggung krana drapon ngampil yeng mengko sedeng pinundut aja angel-angel maning aja degeng aja alot. Krana mau duk kang rama wakil Ratu maring Pangeran dumadi pareng sadenge pinundut alot datan kena gampil lah iku kang winingatos ya harjaning Kaniman sangsaya wuwuh pakarta saya gampil adilullah kang den luru prakara ning agama nabi kang winuri-nuri hing wong. Ramane kang asalat sarta asum iku hing Kanoman yakti ngaceku ibadah ipun gelar-gelar laku santri nyaji sembahyang tan coto. L A D R A N G Ora lawas nuli Panembahan lalis mapan ika sumulur dateng kang siwi wus hing ngistrenan jumeneng Panembahan Raja. Anglalurekaken maring kang yudi pan mangkana kapanditan kang den goni sabar tawakal suka lila ing manah. Tan na lawas Sultan Sepuh lalis mapan ika sumulur datan kang siwi hing ngestrenan inggih punika Seltan Sena. Kang paparab Kanjeng Sultan Jenidin kang anggelar ameng-amengan ripangih eman mangun dikir ingkang sarta kadam. Pirang-pirang kadam manusa penilih dadabusan kaluriyane wong supi pan amurih lampahe Syeh Abduljelan. Ingkang supi amangeng badan rabani nora liyan iya ngelmu rasa maning wis lungguwe aneng praja Kasepuhan. Kang den gugoni punika kang supi kajatiyan hing rasa wesesa batin mula datan sumangganing barjamoat. Supi iku kararepane ming sepi mengko medal parameyaneng ripangi andadar raken ing lampah hingk Wali yan. Ra lawas Sultan Carbon ingkang nami Adiwijaya seba kasihure dening mung kang mantu boya gadah putra lanang. Inggih punika Sultyan Carbon ingkang nami Abukayat kang brangasaning kapti datan kena wong salah ya pinejahan. Salah satitik ya nuli pinaten akekula bala kang kadengda pati nanging ora sa ukum lawan pradata. Lah iku dadine kang ciri waneyi ming Nalendra marmane dadi den basmi kinendangaken lan ora ya sinuluran iku punggel Kacarbonan tan anuli ora lawas. Panembahan mapan lalis pang mangkana punggal ora sinuluran ra lawan Sultan Sena angemasi sinuluran dening putra ingkang nami Sultan Sepuh Matangaji kang anglar. Ingkang depok aneng dudun mangaji senggi seja babak laku maha yakti ora kaya ora lali dening jaman. Dadi migel hing ngakal lir pindah kagingsir pan mangkana akeh abdi den pateni tanpo dosa bawaning gingsir kang akal. Ing marmane hing Kraton den adegi nami Sultan langgih rayine dipun subun naminipun Sultan Muda. Dupi wau Matangajo dipun serik disampurna kaken lawan mati Sahid ingging ranipun layan pradata dinulu. Ra lawas hing Kanoman mapan inggih winursita Sultan Keridin ngemasi sumulur ingkang putra wus ing ngistrena. Kang paparab Abutayib Umam Mudin waktu ika obahing dorujamani akeh ewong raton ganti mrawasa. Ing Kasepuhan Sultan Muda duk lalis kasuluran dening kang putra hing ngasrih Sultan Joharudin anenggeh ingkang paparab. Ingkang nembe umuripun sadasa warsi rekening ika masih timur den wakili dening Kyai Jayadirja wakil Nata. Lawas-lawas ibure nagara dening Tingarengan ana kang brandal cilik sirep ika kapupu tan nalawas. Sultan Imamudin Kanoman angemasi tilar dunnya sumulur datang kang siwi hing ngistrenan alinggih aneng Kanoman kang sinebut namane Sultan Kamarudin duk saman masih iburing nagari dening akeh wong raraton babarandal. Barandal rangin panyeleke anggunturi duga harta ngobar praja Pakungwati sengge pada amuri raja Kanoman. Jumenga Sulta aneng Pakungwati mangka guna hing walanda anduluri marmanipun Pangeran Raja Kanoman. Iya saking pakengdangan katuran mulih hing Pakungja den istreni madeg Aji pan den paneyi sapanjeneng kewala. Namanipun Sultan Carbon amet nami nipun nama Jeng Sultan Abukeridin waktu iku ana maning Kacarbonan. Pan asele sing Kanoman kang angguntosi dupi bala den bagi telu duk lagi ijrah sewu rangngatus padlikur warsa. P U C U N G Ora lawas wong agung Prasman arawuh dennya amet guna nagara Carbon praja teluya kinen iku sebaha. Asebaha hing dewek ke kang angratu emaban-embanira ingat-ingatan sing Carbon ingkang nama Kyai Nata Nagara. Ingkang nama Raden Dipati kang mangku Tumenggung titiga Kasepuhan Kanoman Kacrbonan seba hing kiyambekira ora lawas wong agung inggris arawuh mapan emban-embang kekendangan saking Carbon ingkang nama Kyai Mangkunagara. Duking jaman sewu pitung atus patang puluh wasa punjul siji benere ijarah sewu rong atus wolu likur ya. Lah iku wong Inggris ingkang asanggup anggolang nagara Sultan mruka hing bagusi amuktiya kariya guling lan dahar. Sultan tetelu anarimah hing paciyun tan ngasta nagara anampeni paseyane kang anggolong kang tungtu maring Sang Nata. Ora lawas Sultan enggal sampun seda tilar dunnya punggel tan risulure kari loro jenengeng kang nama Sultan gantos telung tahun ya mangkana sultan Sepuh Jaharudin seda sumulur maring rayine ing ngistrenan samana nama Sultan. Apeparab sultan samsudin puniku hing waktu samana Sang Ratu kari namane parentahe Walanda ingkang anggolang. Nrimah sukur genting-genting ora putus barkahe Susunan kapinundi hing ngaube hing ngauban kang neng karamatullah. Kang winuri-wuri dening anak putu kang manah sukuran rahayu hing salungguhe ya salamet wong badami hing ngagesang. Yen catula hing badami lan laku tantu pada kebat kendang saking negarane sarta ora winuri-wuri suluran. Ya mulane Sultan Banten waktu iku lebak galintungan bondan oran ana ratune iya sakinmg cantula sabda mring Walanda. Tanalawas nuli ana rusuh-rusuh wong raraton nama bagus Serit hing jenenge ngangkat perang ngaloyong laku berandal. Sengge neda prasudan gawening Ratu nanging amudusta amiet singgih araraton ora pira lawase tumuli kena. Kapupu hing harja sirna wis kukum malah lami karta hing Carbon salir tumuwuhe mundak untung pangngupa jiwaning tanda. Golang praja lan sarwaning kang tinandur ora lawas ika yasa Wali binurake masjid agung den dandani dadi anyar. Dadi tuduh yen dadi anyaring tuwuh anyar hing nagara duk samono hing babade jaman kalih sewu pitung atus suwidak. Nenem tahun Jim awal wurining iku lawas-lawas Sultan Sepuh Samsudin sumeren babad sewu pitung atus pitung dasa. Punjul loro ora tumunten sinulur banta kalih warsa sumulur datang putrane hing ngitrenan jumeneng nama Sultan. Gantos wulung tahun Sultan Anom larut sumuluring putra hing tahun iku hing ngistren nami Sultan ana hing praja Kanoman. Duk babading jaman Kalih nedeng sewu pitung atus lawan wulung puluh hing jejege kawruhan yen genting tan nana pegat. Barkah hing sukuring abadami laku becik lawan ala ana rungu di rungu bawaning kang basa kaselang hing purba Purba nagara wong Walanda kang ngukup Hing sanusa Jawa. TAMAT by wayang in Kitab & Kidung Pembukaan : Amenangi jaman edan ewuh aya ing pambudi Melu edan nora tahan yen tan melu anglakoni boya kaduman melik Kaliren wekasanipun Dilalah karsa Allah Begja-begjane kang lali luwih begja kang eling lawan waspada” (pupuh 7, Sent Kalatidha) Terjemahan : Mengalami jaman gila sukar sulit (dalam) akal ikhtiar Turut gila tidak tahan kalau tak turut menjalaninya tidak kebagian milik kelaparanlah akhirnya Takdir kehendak Allah sebahagia-bahagianya yang lupa lebih berbahagia yang sadar serta waspada”. - Syair jaman edan, dimana manusia kehilangan dasar sikap dan perilaku yang benar. - Di dalam Serat Kalatidha, Sabda Pranawa Jati Ki pujangga melihat kesusahan yang terjadi pada jaman itu . . . Rajanya utama, patihnya pandai dan menteri-menterinya mencita-citakan kesejahteraan rakyat serta semua pegawai-pegawainya cakap. Akan tetapi banyak kesukaran-kesukaran menimpa negeri; orang bingung, resah dan sedih pilu, serta dipenuhi rasa kuatir dan takut. Banyak orang pandai dan berbudi luhur jatuh dari kedudukannya. Banyak pula yang sengaja menempuh jalan salah . . . harga diri turun . . . akhlak merosot. Pada waktu-waktu seperti itu berbahagialah mereka yang sadar/ingat dan waspada. - Menghadapi jaman seperti itu Ki Ronggowarsito memberikan petuah-petuahnya, yaitu yang dapat disebut sebagai empat pedoman hidup. I. Tawakal marang Hyang Gusti - Pedoman yang pertama; yaitu kepercayaan iman dan pengharapan kepada Tuhan. - Pedoman inilah yang menjadi dasar hidup, perilaku dan karya manusia. 1. “Mupus papasthening takdir, puluh-puluh anglakoni kaelokan” (pupuh 6, Kalatidha). Arti : Menyadari ketentuan takdir, apa boleh buat (harus) mengalami keajaiban. Manusia hidup harus menerima keputusan Tuhan. 2. “Dialah karsa Allah, begja-begjane kang lali, luwih becik eling lawan waspada” (pupuh 7, Kalatidha) Arti : - Memanglah kehendak Allah, sebahagia-babagianya yang lupa, lebih bahagia yang sadar ingat dan waspada. - Manusia harus selalu menggantungkan diri kepada kehendak (karsa) Allah. - Karsa atau kehendak Allah itu seperti yang tersirat dalam ajaran agama, kitab suci, hukum-hukum alam, adat istiadat dan ajaran leluhur. 3. Muhung mahasing ngasepi, supaya antuk parimirmaning Hyang suksma. (pupuh 8, Kalatidha) Arti: Sebaiknya hanya menjauhkan diri dari keduniawian, supaya mendapat kasih sayang Tuhan. - Di kala ingin mendekatkan jiwa pada Tuhan, memang pikiran dan nafsu harus terlepas dari hal keduniawian. - Supayantuk: Supaya dilimpahi Parimirmaning Hyang suksma; Kasih sayang Tuhan. 4. Saking mangunah prapti, Pangeran paring pitulung. (pupuh 9, Kalatidha) Arti : Pertolongan datang dari Tuhan, Tuhan melimpahkan pertolongan. - Hanya Dia, Puji sekalian alam, Gembala yang baik, yang dapat menolong manusia dalam kesusahannya. - Mangunah : Pertolongan Tuhan Prapti : Datang. 5. Kanthi awas lawan eling, kang kaesthi antuka parmaning suksma. (pupuh 10, Kalatidha) Arti: Disertai dasar/awas dan ingat, bertujuan mendapatkan kasih sayang Tuhan. 6. Ya Allah ya Rasululah kang sifat murah lan asih. (pupuh 11, Kalatidha) Arti : Ya Allah ya nabi yang pemurah dan pengasih. 7. Badharing sapudendha, antuk mayar sawatawis, borong angga suwarga mesti martaya. (pupuh 12, Kalatidha) Arti (Untuk) urungnya siksaan (Tuhan), mendapat keringanan sekedarnya, (sang pujangga) berserah diri (memohon) sorga berisi kelanggengan. - Pengakuan kepercayaan bahwa pada Tuhanlah letak kesalamatan manusia. Pupuh-pupuh tambahan: 8. Setyakenang naya atoh pati, yeka palayaraning atapa, gunung wesi wasitane tan kedap ing pan dulu ning dumadi dadining bumi, akasa mwang; riya sasania paptanipun, jatining purba wisesa, tan ana lara pati kalawan urip, uripe tansah tungga”. (pupuh 88, Nitisruti) Arti: Bersumpahlah diri dengan niat memakai tuntunan (akan) mempertaruhkan nyawa, yaitulah laku orang bertapa di (atas) gunung besi (peperangan) menurut bunyi petuah. Tak akan salah pandangannya terhadap segala makhluk dan terjadinya bumi dan langit serta segala isinya. Sekaliannya itu sifat Tuhan; tak ada mati, hiduppun tiada, hidupnya sudah satu dengan yang Maha suci. - Karya sastra Nitisruti ditulis oleh Pangeran di Karangayam (Pajang), pada tahun saka atau 1591 M. - Mengenai tekad untuk mengenal Tuhan dan rahasiaNya. - Mengenal kekuasaan di balik ciptaan-Nya, karena sudah bersatu dengan Gusti-Nya. 9. Sinaranan mesu budya, dadya sarananing urip, ambengkas harda rubeda, binudi kalayan titi, sumingkir panggawe dudu, dimene katarbuka, kakenan gaibing widi. (Dari serat Pranawajati) Arti: Syaratnya ialah memusatkan jiwa, itulah jalannya di dalam hidup, menindas angkara yang mengganggu, diusahakan dengan teliti, tersingkirkanlah perbuatan salah, supaya terbukalah mengetahui rahasia Tuhan. - Serat Pranawajati ditulis oleh Ki R.anggawarsita - Pupuh ini menjelaskan jalan kebatinan untuk mencapai (rahasia) Tuhan. 10. Pamanggone aneng pangesthi rahayu, angayomi ing tyas wening, heninging ati kang suwung, nanging sejatine isi, isine cipta kang yektos”. (Dari serat Sabda Jati) Arti: Tempatnya ialah di dalam cita-cita sejahtera, meliputi hati yang terang, hati yang suci kosong, tapi sesungguhnya berisi, isinya cipta sejati. 11. Demikianlah orang yang dikasihi Tuhan, yang selalu mencari-Nya untuk memuaskan dahaga batin. Ia akan berbahagia dan merasa tentram sejahtera; sadar akan arti hidup maupun tujuan hidup manusia. Pembawaannya rela, jujur dan sabar; pasrah, sumarah lan nanima, berbudi luhur dan teguh dihati. II. Eling lawan Waspada - Pedoman yang kedua; yaitu sikap hidup yang selalu sadar-ingat dan waspada. - Pedoman inilah yang menjaga manusia hingga tidak terjerumus ke dalam lembah kehinaan dan malapetaka. Pupuh-pupuh : 1. Dilalah karsa Allah, begja-begjane kang lali luwih becik kang eling lawan waspada. (Pupuh 1, Kalatidha) Arti : akdir kehendak Allah, sebahagia-bahagianya yang lupa, lebih bahagia yang sadar / ingat dan waspada. 2. Yen kang uning marang sejatining kawruh, kewuhan sajroning ati, yen tan niru nora arus, uripe kaesi-esi, yen niruwa dadi asor. (Pupuh 8, Sabda Jati) Arti: Bagi yang tidak mengetahui ilmu sejati bimbanglah di dalam hatinya, kalau tidak meniru (perbuatan salah) tidak pantas, hidupnya diejek-ejek, kalau meniru (hidupnya} menjadi rendah. 3. Nora ngandel marang gaibing Hyang Agung, anggelar sekalir-kalir, kalamun temen tinemu, kabegjane anekani, kamurahaning Hyang Monon”. (Pupuh 9, Sabda Jati) Arti : Tidak percaya kepada gaib Tuhan, yang membentangkan seluruh alam, kalau benar-benar usahanya, mestilah tercapai cita-citanya, kebabagiaannya datang, itulah kemurahan Tuhan. - Serat Sabda Jati adalah juga ditulis oleh pujangga Ki Ranggawarsita. - Pupuh 8 membicarakan keragu-raguan hati karena melihat banyak orang menganggap perbuatan salah sebagai sesuatu yang wajar. - Akan tetapi bagi yang sadar/ingat dan waspada, tuntunan Tuhan akan datang membawa kebahagiaan batin. 4. Mangka kanthining tumuwuh, salami mung awas eling, eling lukitaning alam, dadi wiryaning dumadi, supadi nir ing Sangsaya, yeku pangreksaning urip. (Pupuh 83, Wedhatama) Arti : Untuk kawan hidup, selamanya hanyalah awas dan ingat ingat akan sasmita alam, menjadi selamatlah hidupnya, supaya bebas dari kesukaran, itulah yang menjaga kesejahteraan hidup. 5. Dene awas tegesipun, weruh warananing urip, miwah wisesaning Tunggal, kang atunggil rina wengi, kang makitun ing sakarsa, gumelar ngalam sekalir. (Pupuh 86, Wedhatama) Arti : Adapun awas artinya, tahu akan tabir di dalam hidup, dan kekuasaan Hyang Maha Tunggal, yang bersatu dengan dirinya siang malam, yang meliputi segala kehendak, disegenap alam seluruhnya. - Wedhatama ditulis oleh Pangeran Mangkunegara IV. 6. Demikianlah sikap hidup yang berdasarkan “Eling lawan waspada”; yaitu selalu mengingat kehendak Tuhan sehingga tetap waspada dalam berbuat; untuk tidak mendatangkan celaka. Kehendak Tuhan mendapat dicari/ditemukan di dalam hukum alam, wahyu jatmika yang tertulis dalam kitab suci maupun karya sastra, adat-istiadat, nasehat leluhur/orang tua dan cita-cita masyarakat. 7. Eling” juga berarti selalu mengingat perbuatan yang telah dilakukan, baik maupun buruk, agar “waspada” dalam berbuat. Berkat sikap “eling lawan waspada” ini, terasalah ada kepastian dalam langkah-langkah hidup. III. Rame ing gawe. - Pedoman hidup yang ketiga, yaitu hidup manusia yang dihiasi daya-upaya dan kerja keras. - Menggantungkan diri pada wasesa dan karsa Hyang Gusti adalah sama dengan menerima takdir. Karena siapakah yang dapat meriolak kehendak Nya? 1. Ada tertulis: Tidak ada sahabat yang melebihi (ilmu) pengetahuan Tidak ada musuh yang berbahaya dan pada nafsu jahat dalam hati sendiri Tidak ada cinta melebihi cinta orang tua kepada anak-anaknya Tidak ada kekuatan yang menyamai nasib, karena kekuatan nasib tidak tertahan oleh siapapun”. (Ayat 5, Bagian II Kitab Nitiyastra). 2. Tetapi apakah kekuatiran atau ketakutan akan nasib menjadi akhir dan pada usaha atau daya upaya manusia? Berhentikah manusia berupaya apabila kegagalan menghampiri kerjanya? 3. …. Karana riwayat muni, ikhtiar iku yekti, pamilihe reh rahayu, sinambi budi daya, kanthi awas lawan eling, kang kaesthi antuka parmaning suksma. (Pupuh 10, Kalatidha) Arti : …. Karena cerita orang tua mengatakan, ikhtiar itu sungguh-sungguh, pemilih jalan keselamatan, sambil berdaya upaya disertai awas dan ingat, yang dimaksudkan mendapat kasih sayang Tuhan. - Menerima takdir sebagai keputusan terakhir, tidak berarti mengesampingkan ikhtiar sebagai permulaan daripada usaha. 4. Kuneng lingnya Ramadayapati, angandika Sri Rama Wijaya, heh bebakal sira kiye, gampang kalawan ewuh, apan aria ingkang akardi, yen waniya ing gampang, wediya ing kewuh, sabarang nora tumeka, yen antepen gampang ewuh dadi siji, ing purwa nora ana. (Tembang Dandanggula, Serat Rama) Arti : Haria sehabis haturnya Ramadayapati (Hanoman), bersabdalah Sri Rama : Hai, kau itu dalam permulaan melakukan kewajiban, ada gampang dan ada sukar, itu adalah (Tuhan) yang membuat. Kalau berani akan gampang; takut akan yang sukar, segala sesuatu tidak akan tercapai. Bila kau perteguh hatimu, gampang dan sukar menjadi satu, (itu) tidak ada, tidak dikenal dalam permulaan (usaha). 5. Demikianlah, takdir yang akan datang kelak tidak seharusnya menghentikan usaha manusia. Niat yang tidak baik adalah niat “mencari yang mudah, menghindari yang sukar”. Semua kesukaran atau tugas harus dihadapi dengan keteguhan hati. “Rame ing gawe” dan “Rawe-rawe rantas malang-malang putung” adalah semangat usaha yang lahir dari keteguhan hati itu. Catatan: Pupuh ke empat adalah cuplikan dari serat Rama, yang ditulis oleh Ki Yosadipura. (1729 – 1801 M) IV. Mawasdiri: - Pedoman hidup yang keempat, yaitu perihal mempelajari pribadi dan jiwa sendiri; yang merupakan tugas semua mamusia hidup. Pupuh-pupuh: 1. Wis tua arep apa, muhung mahasing ngasepi, supayantuk parimirmaning Hyang Suksma. (Pupuh 8, Kalatidha) Arti : Sudah tim mau apa, sebaiknya hanya menjauhkan diri dari keduniawian, supaya mendapat/kasih sayang Tuhan. - Nasehat agar tingkat orang yang telah berumur menunjukkan martabat. 2. Jinejer neng wedhatama, mrih tan kemba kembenganing pambudi, sanadyan ta tuwa pikun, yen tan mikani rasa, yekti sepi asepi lir sepah samun, samangsaning pakumpulan, gonyak-ganyuk ngliling semi. (Pupuh 2, Pangkur, Wedhatama) Arti: Ajarannya termuat dalam Wedhatama, agar supaya tak kendor hasrat usahanya memberi nasehat, (sebab) meskipun sudah tua bangka, kalau tak ketahuan kebatinan, tentulah sepi hambar bagaikan tak berjiwa, pada waktu di dalam pergaulan, kurang adat memalukan. 3. …. Pangeran Mangkubumi ing pambekanipun. Kang tinulad lan tinuri-luri, lahir prapteng batos, kadi nguni ing lelampahane, eyang tuwan kan jeng senopati, karem mawas diri, mrih sampurneng kawruh.Kawruh marang wekasing dumadi, dadining lalakon, datan samar purwa wasanane, saking dahat waskitaning galih, yeku ing ngaurip, ran manungsa punjul. (Dari babad Giyanti) Arti : ….Pangeran Mangkubumi budi pekertinya. Yang ditiru dan dijunjung tinggi, lahir sampai batin, seperti dahulu sejarahnya, nenek tuan kanjeng senopati gemar mawas diri untuk kesempumaan ilmunya. Ilmu tentang kesudahan hidup, jadinya lelakon, tidak ragu akan asal dan kesudahannya (hidup), karena amat waspada di dalam hatinya, itulah hidup, disebut manusia lebih (dari sesamanya). - Babad Giyanti ditulis oleh pujangga Yasadipura I. Isinya memberi contoh tentang seseorang yang selalu mawas diri, yaitu Panembahan Senopati. 4. Mawas diri adalah usaha meneropong diri sendiri dan dengan penuh keberanian mengubah pribadinya. Maka inilah asal dan akhir dari pada keteguhan lahir dan batin. 5. Laku lahir lawan batin, yen sampun gumolong, janma guna utama arane, dene sampun amengku mengkoni, kang cinipta dadi, kang sinedya rawuh”. (Dari babad Giyanti) Arti : Amalan lahir dan batin, bilamana sudah bersatu dalam dirinya, yang demikian itu disebut manusia pandai dan utama, karena ia sudah menguasai dan meliputi, maka yang dimaksudkan tercapai, yang dicita-citakan terkabul. 6. Nadyan silih prang ngideri bumi, mungsuhira ewon, lamun angger mantep ing idhepe, pasrah kumandel marang Hyang Widi, gaman samya ngisis, dadya teguh timbul).” (Tembung Mijil, Dari babad Giyanti) Arti : Meski sekalipun perang mengitari jagad, musuhnya ribuan, tetapi asal anda tetap di dalam hati, berserah diri percaya kepada Tuhan, semua senjata tersingkirkan, menjadi teguh kebal. 7. Demikianlah ajaran Ki Ranggawarsita, yaitu mengenai empat pedoman hidup. Begitulah orang yang menggantungkan dirinya kepada kekuasaan Tuhan dan menerima tuntunan-Nya. Ia akan memiliki kepercayaan pada diri sendiri, tetapi tanpa disertai kesombongan maupun keangkaraan. Cita-cita kemasyarakatan. 1. Ki pujangga Ranggawarsito mencita-citakan pula datangnya jaman Kalasuba, yaitu jaman pemerintahan Ratu Adil Herucakra. Karena itu beliau merupakan seorang penyambung lidah rakyatnya, yang menciptakan masyarakat “panjang punjung tata karta raharja” …. “gemah ripah loh jinawi” ….loh subur kang sarwa tinandur” dimana “wong cilik bakal gumuyu. 2. Tiga hal yang pantas diperjuangkan, untuk menegakkan pemerintahan Ratu Adil; yaitu: Bila semua meninggalkan perbuatan buruk, bila ada persatuan dan bila hadir pemimpin-pemimpin negara yang tidak tercela lahir batinnya. 3. Dengarlah! 4. Ninggal marang pakarti tan yukti, teteg tata ngastuti parentah, tansah saregep ing gawe, ngandhap lan luhur jumbuh, oaya ana cengil-cengil, tut runtut golong karsa, sakehing tumuwuh, wantune wus katarbuka, tyase wong sapraya kabeh mung haryanti, titi mring reh utama. (Dari Serat Sabdapranawa) Arti : Meninggalkan perbuatan buruk, tetap teratur tunduk perintah, selalu rajin bekerja, bawahan dan atasan cocok-sesuai tak ada persengketaan, seia sekata bersatu kemauan, dari segala makhluk, sebab telah terbukalah, tujuan orang seluruh negara hanyalah kesejahteraan, faham akan arti ulah keutamaan. 5. Ngarataning mring saidenging bumi, kehing para manggalaningpraya, nora kewuhan nundukake, pakarti agal lembut, pulih kadi duk jaman nguni, tyase wong sanagara, teteg teguh, tanggon sabarang sinedya, datan pisan nguciwa ing lahir batin, kang kesthi mung reh tama. (Tembang Dandanggula, Serat Sabdapranawa) Arti: Merata keseluruh dunia; sebanyak-banyak pemimpin negara tak kesukaran menjalankan perbuatan kasar-halus; kembalilah seperti dahulu kala, tujuan orang seluruh negara, tetap berani sungguh, boleh dipercaya segala maksudnya, tak sekali-kali tercela lahir batinnya, yang dituju hanyalah selamat sejahtera. 6. Demikianlah yang dicita-citakan pujangga agung Ranggawarsita. Ajaran Sri Rama 06 Mar 2010 Leave a Comment by wayang in Kitab & Kidung Berdasarkan “Serat Rama” atau Ramayana Kakawin, yang disadur oleh pujangga Yasadipura I dan diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia oleh Kamajaya. BARATA BERTAKHTA SEBAGAI RAJA AYODYANEGARA MELAKSANAKAN AMANAT DAN AJARAN SANG BIJAKSANA RAMAWIJAYA “Ketahuilah adinda, bahwa raja yang memimpin negara adalah pemimpin masyarakat dan sekaligus rakyatnya. Raja berkewajiban pula menjaga seluruh dunia. Pedoman sebagai pegangan raja menjalankan kebijaksanaan adalah sebagai berikut: 1. Perhatikan dan ikutilah ajaran-ajaran kesatriaan. Peganglah sebagai pedoman kitab-kitab suci dan ikutilah perintah dalam kitab-kitab agama. Dengan berbuat demikian, niscaya akan datang kebahagiaan kepadamu. 2. Peliharalah rumah-rumah Dewa (agama), yang suci, rumah-rumah sakit dan tanah milik bangunan suci. 3. Peliharalah biara-biara dan perhatikanlah tempat-tempat suci dan rumah pedewaan. Jalan, pasanggrahan, air mancur, telaga, empang, tambak, pasar, jembatan dan segala apapun juga yang dapat membawa kesejahteraan rakyat, itu wajib adinda selenggarakan. 4. Pertanian wajib dikerjakan oleh raja dengan penuh perhatian terus-menerus. Dari pertanian ini datanglah segala macam bahan pangan yang sangat penting untuk negara. 5. Perbesarlah jumlah emas (harta) untuk biaya yang menuju kearah terjaminnya kebahagiaan. Adinda dapat mengeluarkan emas dan harta sesuka hatimu, asal saja untuk kebahagiaan rakyatmu. Ini berarti, bahwa dengan menjalankan darma (amal perbuatan), adinda juga membawa kebahagiaan untuk orang lain agar mengecap kenikmatan bersama. 6. Raja yang dihormati rakyat ialah raja yang tahu suka duka rakyatnya dengan sempurna dan terus menerus, begitu pula usahanya untuk mendengarkan kesusahan yang diderita oleh seluruh rakyat di negaranya. Sebab inilah kewajiban abadi seorang raja. 7. Tolonglah setiap orang diantara rakyatmu yang mengajukan keluh kesahnya dan janganlah diam. Adinda tidak boleh menghina siapapun juga, bahkan terhadap seseorang yang rendah sekalipun. Jangan menghina mereka yang minta pertolongan. 8. Cobalah untuk menjalankan kebijaksanaan pemerintahan yang baik, wahai adinda. Pertajamlah hatimu dan jadikanlah hal ini sebagian dari kebijaksanaanmu. 9. Susunlah rencanamu untuk waktu yang akan datang guna memelihara dunia dan menjamin berlangsungnya keamanan dan ketertiban. 10. Periksalah angkatan perangmu dan berilah latihan kepada tentaramu dan perhatikantah tentang kemahirannya. Siapa diantara mereka yang memperlihatkan kecakapan yang lebih dari yang lain, ia wajib dinaikkan pangkatnya. Sebaliknya yang memperlihatkan kekurangannya, wajib dilatih lebih mendalam. 11. Latihlah gajah, kereta perang, begitu pula kuda dan siapkanlah itu untuk menyerang. 12. Masukkanlah musuhmu dalam perangkap dan binasakanlah mereka itu dengan tali pemukulmu, sehingga mereka itu binasa seperti air yang mengering. Seranglah musuhmu dengan segala jalan dan segala perhitungan. Janganlah kamu tunda pembasmian orang-orang jahat. 13. Pahlawan yang dikatakan tidak ada bandingannya ialah apabila ia memiliki kekuatan seperti singa yang ditakuti dan apabila ia membunuh musuh dengan tepat. 14. Jauhkanlah dirimu dari orang-orang yang mempunyai perangai jahat, karena mereka itu menimbulkan kerusakan dan menyebabkan negara menjadi mundur. Bila adinda bersama mereka, maka pegawai yang baik menjauhimu, sedangkan teman-temanmu makin jauh dan musuhmulah yang dekat kepadamu. 15. Seorang pegawai itu buruk apabila ia acuh. Dengan demikian ia tak tahu hormat dan melanggar sopan santun. Ia dapat diumpamakan sebagai kambing yang takut dan hormat kepada pohon yang miring, ia dengan gembira memanjatnya dan dengan seenaknya serta tidak ragu-ragu berlari-lari diatas batangnya. Pegawai jahat niscaya akan kelihatan dan jangan menaruh kepercayaan kepadanya. 16. Perhatikanlah gerak-genik mereka yang mengabdi kepadamu sebagai pegawal. Selidikilah tentang kepandaiannya dan kesetiaan mereka terhadap kamu. Apabila ia bertabiat baik dan memiliki sifat-sifat baik, ia harus kamu hargai, sekalipun ia masuk keturunan rendah. Lebih utama apabila kamu terima seorang dan keturunan baik-baik. 17. Perhatikan dan selidikilah sikap segala pegawaimu apakah mereka itu berpengetahuan dan tahu tentang kenegaraan dan pemerintahan, patuh dan berkelakuan baik, apakah tidak bohong dan berbakti serta taat dalam pengabdiannya kepadamu, kepada negara, dan apakah mereka tidak jahat?. Dalam hal ini adinda harus mengetahui apa yang buruk dan apa yang baik. Adinda dapat mencegah mereka dari perbuatan yang menyesatkan. 18. Setiap orang pegawal wajib tahu tentang kepegawaiannya dan ia harus setia kepada pemerintahnya. Begitu pula ia harus tahu tentang pekerjaannya dan tidak segan untuk membuat pekerjaan baik. 19. Janganlah lekas-lekas memberi hadiah kepada pegawai, sebelum adinda menyelidikinya. Apabila adinda memberi sesuatu kepadanya, berikanlah kepadanya lebih dahulu suatu tugas, sehingga mencapai hasil. Jika terbukti, bahwa ia tetap pendiriannya untuk mengabdikan dirinya kepadamu, ini berarti bahwa adinda disegani dan rakyatmu mencintaimu sebagai manikam yang sakti dan membawa kebahagiaan. 20. Apabila adinda tahu sungguh-sungguh yang adinda kerjakan, dapat dikatakan adinda memiliki pepengetahuan yang sempurna seperti Dewa-dewa. Siapa yang tahu tentang kepandaian, ialah yang disebut serba tahu. 21. Bebaskanlah diri dari hawa nafsu dan kedengkian. Jauhkanlah darimu dari kecemburuan dan bersihkanlah dirimu. Dengan jalan itu adinda akan di segani. Ketahuilah, bahwa raja yang memperlihatkan keangkuhan akan kehilangan kewibawaannya karena ditinggalkan oleh wahyunya. 22. Angkara murka wajib diberantas; demikian pula perbuatan tercela haus dibasmi. 23. Kekayaan lahiriah, harta, benda dan pangkat tidak boleh menimbulkan kemabukan lupa daratan. Semua itu boleh mendatangkan kesenangan yang terbatas. 24. Ajaran kitab-kitab Sastra harus dijalankan dengan tidak henti-hentinya. Sekalipun itu sukar dilaksanakan, namun setiap orang harus mentaatinya. Bilamana banyak orang taat dan tahu akan ajaran kitab-kitab suci serta berpegang kepadanya, maka mereka akan melahirkan pedoman kebenaran. 25. Tunjukkanlah keikhlasan hatimu apabila memberi hadiah kepada orang-orang brahmana dan pendeta yang terkemuka. 26. Cobalah selalu tenang dan berbelas kasihan dan janganlah menunjukkan ketakutan kepada apa dan siapa yang adinda takuti. 27. Jangan berdusta, sebab dusta menyebabkan kejahatan. Dengan demikian adinda akan menghadapi malapetaka dan akan dicela. 28. Apabila adinda mencela seseorang, kerjakan sendiri yang tepat dan janganlah adinda terlalu dikuasai oleh hawa nafsu. Sabda raja harus sesuai dengan perbuatannya. Perjudian dan perbuatan hina jangan adinda kerjakan. 29. Basmilah kemabukan pikiran yang angkuh; hilangkanlah itu dari hatimu, sebab keangkuhan itu mencemarkan dan menyuramkan penglihatan. 30. Kesaktian dan kepandaian menyebabkan kebahagiaan dan kenikmatan. Untuk memiliki kedua hal itu bukanlah ringan. Orang-orang baik yang berpengetahuan dan faham tentang kitab-kitab ini patut adinda hargai. Apabila adinda memiliki beberapa macam kepandaian, pastilah rakyat mencintaimu. Jauhilah perbuatan mengadu domba dan pujian yang menyesatkan. 31. Apabila sesuatu kejahatan telah jelas bentuknya, bertindaklah apabila perbuatan itu memang salah, Binasakanlah orang yang berdosa. Akan tetapi selidikilah hal ini dengan sungguh-sungguh. Sebaliknya apabila ia berjasa, berikan kepadanya hadiah dan kepuasan. Inilah hak raja untuk memberi anugerah atau memberi hukuman. 32. Ada lima macam bahaya yang sungguh mengancam ialah: 1. Apabila ada pegawai yang dalam menunaikan tugas di daerah menderita karena terik matahari. 2. Adanya sejumlah banyak pencuri; 3. Apabila kekacauan dan kejahatan merajalela; 4. Adanya orang-orang yang menjadi dan dijadikan “anak emas” pembesar. Kejadian seperti itu dapat dianggap sebagai kejahatan; dan 5. Keangkara-murkaan raja. Lima macam bahaya itu harus dibasmi atau dicegah sebelum timbul dan merajalela 33. Ketahuilah adinda Barata, bahwa raja dapat diumpamakan batara Surya yang memanasi dunia oleh sifatnya. Demikianlah halnya dengan seorang raja yang membinasakan orang jahat. Bulan memberikan rasa cinta dan disegani oleh seluruh dunia Begitulah juga hendaknya perbuatan raja dalam memperhatikan dan memelihara rakyatnya. 34. Sebagai raja adinda dapat disamakan dengan sebuah bukit, sedangkan rakyatmu diumpamakan pohon- pohonan yang tumbuh di lerengnya. Pohon-pohon itu hidup dan dijamin hidupnya oleh bukit. 35. Adindaku Barata yang tercinta, itulah sesama kewajiban adinda sebagai raja yang berusaha menjaga keselamatan dunia yang bahagia. Adinda wajib mempertinggi perhatian kepada orang lain dan menaruh belas kasihan kepada rakyatmu, dan seluruh kesukaran duniapun harus adinda perhatikan. Demikianlah nasihat wejangan sang bijaksana Ramabadra kepada adinda Barata yang direstuinya duduk di atas takhta Ayodyanegara sebagai raja memimpin tampuk pemerintahan, memimpin masyarakat dan rakyatnya. Setelah bersembah sujud dengan khidmat kepada Rama dan Sinta, dan setelah satria Laksmana menyembah Barata, maka dengan ijin dan restu serta puji jaya-jaya dan kakandanya sang Ramawijaya, Barata dengan segenap pengiringnya turun dan bukit Citrakuta, kemudian berangkatlah meninggalkan hutan menuju ke ibukota Ayodya. Kewajiban sebagai raja telah menantinya. Dengan merayakan “terompah sang Rama” dan menerapkan ajaran sang bijaksana, maka aman sentosa sejahteralah Ayodyanegara dibawah pemerintahan raja Barata. Aji Pamasa by wayang in Kitab & Kidung Wedharing wyata mirid gempilaning piwucal Aji Pamasa DHANDHANGGULA 1. Mangkya nenggih sastradu nayadhi, tinilingna walering darana, ywa sisip ing pangertiné, janma kudu mituhu, pratélané sapta pracèki, lamun dipun upaya kinemat ing kalbu, samubarang kang linakya, sarwi mapan nora badhé damel tuni, suka tentreming rahsa. 2. Kang ginelar wyataning suyati, tlatènana kang pitung prakara, amrih dadi lantarané, datan gampil kinelun kalulun ing wawatak nisthip, linepat king deksura tinebih panyaru, tan damel pilalaning lyan, kosok-wangsul wèh ayem dasih sadyèki, temah manggih raharja. 3. Apa baya kang pitung prakawis, sinirika cidra lan pitenah, yèku warah kapisané, kaping kalih puniku, dyan sentana ywa dèn alingi, sagung tumindak lupa winastanan luput, ping tiga ywa mawang kadang, pangadilan jinejegna kanthi titi, tan pilih-pilih janma. 4. Catur angger ugering prarepi, tan mélik mèt artaning punggawa, dalah mundhut putrèstriné, dé kaping gangsalipun, aywa nganti anglalarangi, olah pangupajiwa sasamining manu, songgarunggi mring kawula, dèn ugemi pitutur kaping sat niki, pinuntua ing driya. 5. Kang wusana pitutur saptèki, lamun ngambah margining utama, udinen mrih lestariné, nora gampil kayungyun, kapiluyu lampah basiwit, tan remen cacaketan klayan watak margu, sirik cengil pasulayan, anebihi gegelah regeding bumi, nging pedak kautaman. 6. Mangkya kiyé gelaring pangerti, paugeran kang pitung prakara, istingarah munpangaté, piguna mring kang ngluru, dadya tales tanduking karti, prenah prandéné laras salir tindakipun, mahanani kasudibyan, temah kalis watak umbag klawan edir, sinantun paramarta. 7. Pradikané wawaler pratami, kang sinebat cidra lan pitenah, winedhar wiyar tebané, suka serep ing semu, seserepan wiraos prati, damel padhanging prana nebihken bebendu, nuntun mring lempenging lana, istingarah kang tinuju tan nalisir, nalusur woting darma. 8. Pracékané janma luhur kaki, datan arsa guna pasang kala, njijiret sapapadhané, tan bungah lamun nemu, siku dhendha nlikung sasami, nora ngungalken jaja yèn asanès lesu, datan asurak susuka dupi miyat panandhanging sapadhèki, luluh welas nalangsa. 9. Tembung cidra sinawung punagi, ngandhar-andhar winuwus nglengkara, péndah madu mamanisé, nging sapawingkingipun, nggémbol upas kang niniwasi, nukulaken panandhang tuwin tilar latu, raos bentèr nguntar-untar, wisayané karaos awrat ngantebi, lir kanteban antaka. 10. Ywan wus wani nglairken prajangji, poma-poma dipun tetepana, netes sagung pangucapé, nora lèmèr ing wuwus, nguwus-uwus tan ana dadi, tetembungan dèn arah jumbuh kang sinaguh, tumapak ing lalampahan, datan lumpuh karana kaot sinanggi, wèh sengsem mring tyasing lyan. 11. Lamun sumanggem tanduking gati, dipun éling niyat kang utama, pinurih saged rampungé, tékad kang wus pinuntu, aywa wudhar tanpa pangaji, wawataking satriya sirik colong playu, datan ngucirèng ngayuda, andhepipis ndhelik winengku raos jrih, nilaraken palagan. 12. Panjangka kang dadya lenging ati, antepana minangka ubaya, pinétang utang èstinè, lamun maksih linuru, kaanggepa dèrèng nglunasi, siyang-ratri tan kendhat nggènipun dhedheku, nunuwun Hyang Murbèng Suksma, istingarah gung pangajab temah dadi, tan cidra ing ubaya. 13. Jejering titah sawantah kaki, mokal lamun kalis ing sasanggan, kang wus dadi pepesthèné, milaur urip iku, amituhu kanthi taliti, tegen rigen pralaga tlatèn miwah tekun, tan bosenan nora wegah, angugemi pakaryan kanthi permati, teguh maring bebahan. 14. Lamun sirik watak ngadi-adi, tlunyar-tlunyur miwah lèlèmèran, dhemenyar pepénginané, tan kablithuk pandulu, gampil sengsem kang katon èdi, nanging mugen manunggal genah kang tinuju, nering laku nora léngah, istingarah andika manggih basuki, linepat saking papa. 15. Kénging winastanan cidra ugi, karem donya wah malih pangwasa, nanging mamak wawatesé, tan darbya raos rigung, kanthi nranyak ngrabasa gahi, nyahak wewenanging lyan kécalan pakéwuh, kang dèn bujung pakareman, watanira suker tan béda wewerri, buteng ribeng krodhanya. 16. Paran nggènira nyepeng sumangi, setya tuhu bekti mring Hyang Murba, ywa cidra gung pepecehé, prancana tan dèn ugung, temah ndadra misésa wathi, tundhonipun nalangsa nalisir king wangsu, tilar salir manah sonta, kusung-kusung kemrungsung kécalan santi, angulari papaka. 17. Dipun tlatèn samya angulari, murih dadya manuswa bisama, ywa gampil mupus tekadé, ywan rumpil lampahipun, upayanen kanthi sasmreti, saswih maring Hyang Murba tumus sanggya manu, tebih saking tutur cidra, nging maujud datan mandheg katamarti, satemah pinitaya. 18. Menggah tuduh ingkang gung utami, kanthi wijang kawrat sastracetha, tumètès kadya kusaré, rinumpaka ing tembung, basagita adi wigati, susmaya prabaning Hyang abyor cahya kitu, kang anecep wurukira, dhépé-dhépé gilig ing prana maniwi, kasmala binirata. 19. Poma éling swawi dipun luri, pranahara jatining manuswa, titah sawantah jejeré, cidra mring karsèng Ulun, iku teges nggénjah papati, apesé ngemping lara nyanyadhang bebendu, datan uwal king cintaka, ngundhuh wusa wisaya dadya mangangi, gesang datan piguna. 20. Sasing janmi swawi angupadi, dimèn pana tuduhing Hyang Suksma, aywa mblasar tumindaké, tan kéragan mring napsu, temah dyusdha niyak wastuti, nginger-inger wawaler mamada sastradu, leheng meleng mring pranamya, angulati bebener ingkang nayadhi, tumus dugèng dalaha. 21. Mangkya cidra tumraping akrami, jalu gini datan ana béda, kénging winastan pracoré, lampahnya pindha margu, undhuhané mrawata wèsdhi, basan pranamèng kapi wruh rukem kayungyun, lupa upasing walika, ngindhik-indhik pamrihé damel papati, mamanisé wisasa. 22. Wanti-wanti peceh parahati, pisan cidra angèl anguwalna, kumudu kang kapindhoné, katri wus kadi wuru, temah wasa nering prajangji, sengkeraning pralaga datan ana wèstu, parnoh sagung tindakira, kang dèn uja tan liya dityasmaraji, rongèh tansah walisah. 23. Wawaler tumrap sanggya pawèstri, ngumbar gujeng kucah liring nétra, adol ati sapa baé, dhadasar badan lugu, dupèh èdi ngelam-elami, kasukan kang binujung atilar pakéwuh, tan mangabisatya mring raka, lamun limpé ngaluyur ramban taruni, angrarantam pracéka. 24. Pan wus dadi sasakiding parwi, cegah hawa tahen ring prancana, rumaket-raket sasambé, was maring kakung tuhu, abiwadha setya hastuti, dyatmika neng nayadhi nging sirik salingkuh, tutura angarah-arah, ririh raras sinuprih katon mrak-ati, tansah saswih ring garwa. 25. Nora béda waler ingkang sami, tumrap priya kang wus balé wisma, burusa lair batiné, asisipat memengku, lubèr ing sih sarwi ngayomi, dadya gapiting braya ywa mingkuh pakéwuh, pantang pepes batosira, lamun manggya kèh sambé-kalaning margi, jroning gesang punika. 26. Dipun èmut ma nenem puniki, dhihin mantep ing pamilihira, ping kalih madhep atiné, katri marem mring jatu, kaping paté mawang ring rabi, pinindhakna wawadhah ringkih kaotipun, kalima mangabiwadha, garwanira dèn papanken rowang padmi, kanem mardawèng budya. 27. Poma-poma kenceng dèn cepengi, traping laku minongka manggala, catur wala pepindhané, sona ing setyanipun, myang turangga cukat ing karti, dwipangga datan kéguh saguh kang ginayuh, brekiti ing sregepira, siyang-ratri makarya tan wènten sepi, swawi dipun tuladha. 28. Aywa pisan cidra ing prajangji, tilar garwa kapéncut ing liya, awit awon pinanggihé, manah gampil kayungyun, kasulistyan aniniwasi, adhakan dadya tuman angèl mantunipun, lamun dipun turutana, amengangah ngangah-angah saya ndadi, becik dèn singkirana. 29. Kakaroné kasengsem tataki, tuhu bekti nggigilut wiyata, murih dadi lantarané, tentrem ing brayatipun, tumus harja miwah basuki, sumrambah tedhak-turun sapawingkingipun, sadaya samya pinerdya, dimèn pana warahing luluhur yekti, temah kalis rubéda. 30. Sabanjuré winedhar sastradi, apan baya winastan pitenah, nyarwètèh kedaling lambé, ngrarakit tembung lunyu, amemada sarta ngadili, ngumbar panyatur ala kèh panacadipun, alaning liyan dèn andhar, kaya-kaya beciké tan ana sami, klayan dhiri pribadya. 31. Tyang kang remen mbèbèrken wawadi, lir karaba muleg ing akasa, anguwus-uwus wuwusé, basda winewah bumbu, pamurihé saya wigati, sanès kinarya lalap uraping panyatur, nukulken wijining tikbra, dyan pracara ukara datanpa bukti, iku watak katbuta. 32. Tembung sisip sinusup kasisip, murih bisa sasap ing sasama, samakéyan sasolahé, kudu unggul binuru, nora ngétang katala sami, lumuh lamun prawadha kalindhih ing semu, mangungsir mrih kasumbaga, ancik-ancik kunarpanirèng sasami, jail lampah candhala. 33. Amemada sisiping sasami, nora béda gandaning kusana, lir bathang ingkang wus lungsé, bacin lamun dèn ambu, anderbala mbabar wewerri, parandéné si punggung pambeg wah kumingsun, kadi hakim kusalanya, angadili sapa-sapa ingkang wèsdhi, kasereng lir katwara. 34. Dipun émut ywan namung sawiji, ingkang yasa sanggyaning prarepa, tuwin jumeneng hakimé, tan liya mung Hyang Agung, kang kagungan gung kasugatin, misésa palimirma miwah paring bendu, dé manuswa iku sapa, kumawani kumlungkung ngadil-adili, tumanduk ring papadha. 35. Poma bisa mapanaken lathi, datan lèmèr ngumbar-umbar kata, kanthi permati empané, wit kasunyatanipun, ilat iku lir wisa mandi, dhahat karya sangsaya punapi kasumbung, lamun kalintu trepira, ing kawurya pranama adamel tuni, katiwang ing papaka. 36. Èmperipun kendhali turanggi, dipun trapken jroning cangkemira, sanadyan alit wujudé, ywan pinekak satuhu, temah gampil dèn kemudhèni, tumrah badan sakojur tan liya mung manut, makaten lidhah sanyata, dyan mujudken pérangan badan kang lengit, nging misésa mring janma. 37. Kadi latu nyalat wreksa langking, dyan sapletik bisa ngambra-ambra, temah mbesmi alas gedhé, makantar urubipun, ngalad-alad ambilaèni, ilat iku tan béda kadya hagni tuhu, lir jagading kadurakan, kang dumunung jro jiwa-raganirèki, dadya sangarakalya. 38. Angrèh sato teka langkung gampil, buron wana peksi raja-kaya, dalasan saisining wé, saged kadamel lulut, tan mangkono ilatirèki, nyata kalangkung lungit ywan kinarya tutut, pindha krodhaning denawa, nyembur wisa wisaya aniniwasi, surata siya-siya. 39. Klawan ilat padha muji Gusti, ngidung dhikir ing sawayah-wayah, kadi brahmana anggepé, kaya-kaya manekung, angèmperi panatagami, nging klawan lidhah ugi nyupatani manu, mijil king tutuk sajuga, ipat-ipat punapa déné wastuti, muspra datanpa guna. 40. Jihwa pindha landheping bedhami, lamun linga muwus ngayawara, pasulayan undhuhané, nyebar wijining tatu, datan mokal wawalar ndadi, nora gampil pineper kalamun katrucut, andhatengaken braminta, saraga gung ngebeki jro tyasirèki, lengka kang rinaosna. 41. Lir kusara mrentul wanci énjing, sumberipun saking alam raya, sung seger tanem-tuwuhé, watak asih tan sengkung, dadya daya ingkang nguripi, makaten imbanipun lidhah ingkang wèstu, nètèsken sarkara soba, sarasati binawa amangastuti, ngenut pangrèhing suksma. 42. Nadyan namung pérangan kang lengit, lamun mogèl mobah jroning latha, ananawur sarawa gé, kang dados panènipun, sakelangkung anggigirisi, waged dados kabegjan kalamun pituhu, nanging kosok-wangsulira, amangangi kalamun nyenyebar branti, pramila kang bisama. 43. Kang wasisdha tansah angulati, mring bebener wucaling bremana, sinartan manah kang sarjé, kasantyan kang dèn bujung, mekak hawa laksita juti, lidhah dipun kendhali tutur tan kalantur, sumimpang sagung pitenah, awiwéka mrih dadya harjaning janmi, yèku manuswa tama. 44. Salir wawengkaning janma singgih, tinalesken wisiking Hyang Suksma, kang kaajab mung bahagé, rurumpakaning wuwus, was winawas kanthi premati, leget mring kautaman priyatna ing tembung, wèh sarsa maring sasama, sèstu soba suka wicaga ring dasih, dharaka pramusita. 45. Pan wus langkep lingkabing pramodi, menggah warah cidra lan pitenah, dipun ening panampiné, lebetna manjing kalbu, dimèn menep jro sarasati, dadya daya paraya salir dhasdhi langut, langet langkananing lana, leng lumingling ngluluri pranamya dhani, ngulari rèh sampurna. 46. Mangkya dungkap warah kaping kalih, ywa ngalingi luputing sentana, awit ageng durakané, babasan ngingu-ingu, pringga dhusdha mutawatosi, walagang nggènnya lumung ywan datan kapugut, ngreregedi janaloka, wusna anjrah sulurnya angririsaki, wohira gung rudita. 47. Lumingkabing wawaler puniki, wus winedhar déning pramudika, tilingna kanthi luménggé, resepna kang satuhu, temah dadya daya basuki, ukara rinumpaka jroning sekar Pangkur, prihé sami pinungkurna, sagung trékah kang cengkah klayan prarepi, swawi dipun gatosna. P A N G K U R 48. Murih harjaning puraya, poma-poma wicaga dèn ugemi, cepengana ingkang wastu, langkana tan wrin godha, upayanen paugeran priha tan wur, lumèng prabaning nagara, sumrambah kawula dasih. 49. Ywan pramoda dadya wasa, wit tan lengkep manira angluluri, dadya ura jroning dhatu, paraha sanagara, temah sisah lamun katala wus kusup, angèl dipun dandosana, jugar wigar kang kawuri. 50. Lamun ginadhuh wisésa, aywa gampil atilar silastuti, sanadyan tumrah ing bandhu, pakeken datan lirwa, nora ngugung dupèh sentananing ratu, dhusdha pinaring papaka, dharaka manggih astuti. 51. Kang wasisdha angrèh praja, gegebengan pradika gegyan adi, ywa parasama ring manu, linenggahna sapadha, siningkirna sagung dhasdhi angriridhu, murih kalis king dhuskarta, satemah lulus basuki. 52. Pirengwa dipun landhepna, piyarsakna gung pasambating kasi, kalamun datan pakantuk, kaadilan kang santya, sanadyanta dudu tuturasing ratu, ywan gesangipun kastura, tikbranira dipun sanggi. 53. Tumarah para sentana, kang gumendhung morang kèhing kintaki, kang dadya ugering dhatu, remen anunggyangtaya, amikara dupèh maksih tedhak luhur, aywa mangu pinidana, ngetrepi jejeging adil. 54. Aywa pisan darbé sedya, angalingi klepataning sentani, lampahnya aywa dèn ugung, niyak sagung prarepa, saya ndadi dhumateng wisésa wuru, nora idhep mring dadalan, muksapada kang linari. 55. Masiya maksih sudara, nanging remen miyala sasing janmi, becik tinerapan siku, dinendha sawatara, ingkang murwat klayan kalepatanipun, pamurih rèh jinejegna, ywa nganti amémérangi. 56. Nilep lepating sentana, paribasa babathang dèn kemuli, sanadyanta nganti brukut, wus datan kawistara, mongka sutra ingkang kinarya salimut, tetep dugi titi mangsa, kinuswa gandaning pati. 57. Aja dupèh kadang raja, tandang-tanduk sarwi ngéwan-éwani, panganggepipun kalantur, kascar-yan kalenggahan, kasyang asih kibir edir lawan umuk, apracara sagendhingnya, tyang alit tan ana wani. 58. Awasna pamawasira, wirahsané bebener duk inguni, basan badrak badan kramu, langking tan ana rega, nora bener kalamun tan dèn paèlu, sinikara siya-siya, kawuri amamalati. 59. Prayojana ingkang prama, nora gingsir kalindhih sagung pamrih, ngudi cantya aji mumpung, sentana dadya bala, tan nayuti sanadyanta tindak luput, binari asuka-suka, tundhoné angundhuh tuni. 60. Aywa wuru mring sarkara, mamanisé wisésa pinracadi, dupèh lelenggah ngaluhur, sanak kadang dèn uja, pinaringan wengan awawatak diyu, kethaha mring donya brana, prana winengku ing moksil. 61. Pan wus jamaking manuswa, lamun mukti padatan dadya lali, mring pangwasa kapiluyu, ical landheping rahsa, andrawili kasukan ingkang kabujung, mring dasih suka andaha, trékahnya anjurbalani. 62. Suka-suka parisuka, ngajak-ajak tingkahipun nyrambahi, dhateng sanak-kadangipun, jinarken ngambra-ambra, lamun lepat sengadi datan anahu, kupiya ywa kawistara, pinurih tiningal èdi. 63. Nggagadhang éndrasangsara, mring sentana mirah nggènnya andani, sinarujuk dyana luput, lumuh pènget myang warah, wit misésa datan wènten tembung klintu, samudaya kaleresna, tyang andèh tan ana wani. 64. Lamun kaladuk énaka, mangka murba wewenang angrèh kasi, tedhak turun dipun ugung, acongkak sosongaran, angandelken maksih dharahing ngaluhur, andé sangsaraning praja, anjuk risaking nagari. 65. Poma dipun waspadakna, ywan amengku wisésa nyakrawati, aywa kalulun ing napsu, tyas ura nir waskitha, kang satiti mulat sisiping tumanduk, nadyanta alit kéwala, bisa akarya papaki. 66. Kalamun dadi pramuka, pinitaya mangrèh jantraning nagri, andurasa labetipun, mélik dèn anjuk tebya, sung ancuta mring bebener datan indung, sirik nyilibken piala, pracékaning sentanèki. 67. Bangkit nahen sagung hawa, kaadilan tan kendhat dipun udi, tumrah kawula sadarum, tan ana béda-béda, wus samesthi kang lepat pinaring bendu, dadya pangungsèn sanyata, tumrap kang sami andasih. 68. Becik lamun paramarta, sung apura kawula ingkang lali, niyak gegebengan luhur, wus mratobat sanyata, nanging baya aywa kalimput ing semu, katalya ing panggraita, lampah dora datan maksi. 69. Mangkana traping trapsila, samektakna manah kadya udadi, nalar mulur tan kalantur, dyan loma pangapura, aywa mamang matrapi ingkang kalintu, pinta-pinta paneraknya, kadang kawula pan sami. 70. Utana lestari begja, titis mawas gelitaning prakawis, nora nilarken papacuh, ambuburu angkara, dupèh lagya ginadhuhan sendhang madu, mring asanès siya-siya, lepating kadang siningid. 71. Angunguja karsèng driya, catur wengis tumanduk ing sasami, basan tatanem gugrumbul, kemarung bobondhotan, undhuhané prahara gung sakelang-kung, waris sentana dèn uja, tan ana nohan nuhoni. 72. Kèh tyang sudra ananantya, tinilingna pasambat kawlasarsi, nora luwèh mring panglawung, dupèh sanès sentana, iku dudu wawantuning pangrèh luhur, luput winastan waskitha, kekeling kang dipunnèni. 73. Urip muspra nir sarkara, kakarèné tan liya sarwi rungsit, nglangut nenga namu-namu, ical jatining rahsa, dadya linglung nunjang palang kadé diyu, risak sakèhing ukara, wus tan wènten silastuti. 74. Latah remen andurkara, kibir edir jubriya sagung janmi, mring bebecik tan anaur, malah mamales ala, kosok-wangsul mring sanak-kadang sadarum, panyaruwé tan pinanggya, jinarken amurang tatir. 75. Makaten kababarira, ywan kaandhar pepeceh kang kaping dwi, andungkap warah katelu, yèku amawang kadang, nora béda klayan piwucal karuhun, menggah lengkeping ukara, sinekar Asmaradani. ASMARADANA 76. Tanasing janma utami, ingkang tumrah gesangira, mring pakeken datan andor, ngugemi sagung wiyata, winedhar sang twijara, mahnani gancaring laku, linepat salir rencana. 77. Aywa nganti atatawing, ngandelken kadang sentana, dupèh maksih dharah dhéwé, nanging pasemoning nitya, tan kénging pinitaya, rongèh jlalatan ing semu, tan pantes sinung kawiryan. 78. Dyan kadang lamun tan becik, nora untung rinaketan, bisa dadi kajalomprong, angajak-ajak sangsara, tiwas tuwas wuntatnya, wasna kaduwung ing kalbu, nanantya datan piguna. 79. Ruruh rentahing andani, pinaringken ring sasama, kang amiji karsèng Katong, tuturasing kretiyasa, pantes dèn pedakana, tulakang dadya babayu, kukuwating anggyanira. 80. Saking pasemon wus kèksi, wawantuning taluwanwa, remen narajang papakon, polah-tingkah sarawéyan, tan jetmika ing budya, gumuyu rasan sarwa sru, raos lingsem datan darbya. 81. Boten wurung tumut isin, winirang lampah dursila, nir kretyawan datan kalok, kèmbèt awoning sentana, murang kèhing pranata, kawurya tilar talutuh, temah angundhuh cintraka. 82. Alelengis sarwi rukmi, busana mawa lengkawa, pambeg ladak lumuh anor, rumaos trahing kusuma, pantes sinudarsana, iku wateké wong kumprung, kapengkok nora sembada. 83. Lamun ngrentahken paparing, kukucah gung kamirahan, jroning tyas adil kang dumon, nora mawang béda-béda, dharah punapi liya, piniji ingkang tuwajuh, bangkit angéntasken karya. 84. Lumingling sagung kajatin, datan kalèntu garjita, patitis salir pepunton, nora kawuh ing pangrasa, tulya kujanapapa, sung kawiryan maring bandhu, mongka lengka twasanira. 85. Dyan sanès darbé kawanin, tangginas ngrampungi karya, lumrah pinaring pambombong, sokur bagé linubèran, sarna donya sosoba, swawara asih sawegung, kadang konang binucala. 86. Ywa karya tyasing lyan kanin, wit paparing tan warata, pilih-pilih ingkang kanon, singa celak kang kadrasa, tebih nora tinenga, iku patrapé wong pengung, ngembrah dadi taluwanwa. 87. Sumimpanga king durniti, dumarusa myang diggama, bubujeng pamurih kalok, kakadang dinadya bala, asanès winiruda, daridya undhuhanipun, pawingking manggih katala. 88. Kalamun datan sawawi, bisa mengku saniskara, manah rupak nora kamot, teges sanès trah ngawirya, becik lamun rumasa, ngembat wisésa tan saguh, milaur mundur kéwala. 89. Dipun émut aja dumi, lagya darbé pangawasa, dériti marang sakèhing wong, nanging sanak-kadangira, dèn papanken ing ngarsa, mongka tan pengkuh ing kéwuh, makarya nora kawaba. 90. Tilingna ning ing kawathi, patitis pamawasira, gatosna ingkang sayektos, lamun paparing wisésa, aywa mawang sentana, kawanin suba tan sengkung, iku dinadya pramoda. 91. Kathah-kathahipun janmi, twasa kalimput dureta, wuru dhumateng pangwaos, mumpung maksih amisésa, morang sakèhing tata, sanak-kadang mitra-karuh, linenggahken papan éca. 92. Boten lingsem ing durniti, jirèh ingangkat kretyawan, lenggah twijara tyang parnoh, pandhir dinadya pangarsa, pingging sinuba dwija, ngangsu kawruh mring tyang blilu, mung krana maksih sentana. 93. Lagya kalampah samangkin, ing jaman kala katwara, mundhak-mundhak ing pakéwoh, néréndra nir ring sudarsa, bucal lampah tatakya, rèh praja déning babandhu, tilar warahing pujangga. 94. Darbéning lyan dèn talappi, kasereng nunten kawirya, sareng sentana sapunton, sarujuk jajarah samya, daruti semunira, tan béda bebegal lamun, naracak miwah ngrabasa. 95. Èwon-èwoning wong drengki, guyub ngambah durniminta, sugal diksura dèn soroh, sakadang cepeng wisésa, praja dadya puwara, garwakara sugih galu, kang nandhang wong sanagara. 96. Ywan wus kukumpul nyawiji, dundum brana duratmaka, béda apa tiyang awon, suka-suka sagendhingnya, nétra kawuh tan menga, suthik wruh roganing manu, tinengen mung kasukannya. 97. Dudu patraping wong singgih, mirungga maring sentana, mawang kadang lamun andon, suka dalajat pangkatnya, tanpa panitipriksa, kang winiyat dupèh bandhu, sanadyan sisipat dura. 98. Lamun mangsa kala dugi, jugar tataning puraya, gesang saraga wah kasor, drasa kaleban kasmala, kawurya dadya ura, ririsak datarpa duwus, katala katiwang marga. 99. Mring sasama gardhawari, aywa pilih-pilih jalma, sadaya titahing Manon, datan remen karya pringga, nging pinurih énaka, kasaénan amemengku, kawaba nandukken dardya. 100. Lamun becik mring sawiji, mongka gething dhateng liya, iku winih ingkang awon, remen anyelir sentana, mring asanès durcara, raos mèri ingkang thukul, tulakang panèn kasmala. 101. Nandukna bebener ugi, boten kénging kawa-kawa, tan mingkuh saking wawaton, miling-miling dupèh mitra, lilingen kang prakara, linimbang-limbang satuhu, kanthi lungiting pangrasa. 102. Nadyan tedhaking acedhis, nanging bener pratikelnya, pantes kalamun linakon, kosok wangsul dyan sentana, nging kasingsal ing budya, tinurut temah kalintu, nyimpang margining utama. 103. Mlarat donya datan pasti, asor ing bubudènira, makatena tiyang kalok, tan wastu luhur ing nala, becik lamun saranta, tinaliti kanthi turut, patitis pamawasira. 104. Pétanana kang priyatni, pundi titiyang pranamya, pratingkahipun tan parnoh, paraya anteng garjita, prayoga purugana, nora krana maksih bandhu, nging pradana pangawruhnya. 105. Miyat sudraning sasami, marma manah tinarbuka, thukul welas tan pitakon, maksih kèmbèt apa liya, iku nora prayoga, becik legawa tutulung, lila mardawa ing budya. 106. Wageda dadya palupi, jumbuh turasing ngawirya, nuhoni jejeging pakon, papakeming puruhita, janma paramatatya, madhangi kang puru-puru, ngruwat sanggyaning piroga. 107. Lakon jaman kalasrenggi, trékahé tiyang candhala, kadi réwanda saranggon, gendhon rukon tindak dhusta, tan ana jrih duraka, ywan lepat tutup tinutup, pinurih tan kawistara. 108. Wus sinerat jro pepesthi, tekané jaman drubiksa, nora maèlu piawon, sanak kadang dalah yoga, wuru kayungyun arta, wengis mamalak ing pémut, suthik nilingken wasita. 109. Mengker mangsa danawa ji, maksih tilar wawantunya, tan gampil luntur winasoh, santun ingkang baureksa, tindakira tan béda, srakah kethaha lestantun, ngungumbar saliting hawa. 110. Saking iring wétan semi, muncar-muncar poladannya, nging paéka kang dèn gémbol, ngimpun-impun sanggya mitra, sarana suka purba, cinegah lumawan sampun, ngogak-ogak pangu-wasa. 111. Kinarya kudhung agami, mangka wawaton dèn prusa, iku nyanyadhang pakéwoh, kang nunggil winastan bala, béda dèn anggep mala, temah puraya tan wèstu, dredah bangsa padha bangsa. 112. Tyang pengung mangrèh nagari, tindakipun dumarusa, nora jejeg mring wawaton, wit tan jajag rèh waskitha, mung bubujung hartaka, kaleng-gahan miwah dhatu, tilar waspaosing prana. 113. Pasemonnya ladak edir, mangathik kadang myang mitra, lirwa wisiking Hyang Manon, supé harjaning kawula, remen lamun pinuja, pangiring samya anglulu, pamrih antuk kang dèn sedya. 114. Pungkasing jaman dériti, lamun bénjang ana janma, mijil saking jro wewengkon, sudarpa asidikara, wadana ning susmaya, tan mawang kadang satuhu, adil tuwin paramarta. 115. Tyang kang mlarat datan langking, sugih tan mangéran bandha, migati mring sakèhing wong, suthik nenengen sudara, adil sagung prakara, tebih mélik cegah napsu, mungkul mring Hyang Widi-wasa. 116. Wus tan kapéncut ing daging, alus sakelangkung lembat, agal donya datan kamot, sasat Pangéran maraga, ngrucat salir angkara, jro riribed sonya tuhu, pupuja ngéntasi karya. 117. Meleng gilig kang dèn udi, harjaning rastala samya, datan kasengsem pambombong, kang damel rupaking jangka, nora mangathik jana, priha tindak tan kalintu, lepat boten kawistara. 118. Dungkap pungkasing wigati, wawarah mangrèh puraya, mirid karsaning Hyang Katong, sinambet wedharing weca, gelaring tanah Jawa, dyan mung samrica binubut, pantang lamun dèn badala. 119. Sinuprih tan morang margi, uwal saking lenging widya, suka pémut mring kang mirong, nyinyingkur aji pamasa, angedirken pangwasa, jinugag lingkabing wahyu, sambet wyataning twijara. 120. Piwucal catur puniki, prakawis mèt donya brana, kalayan angudi wadon, gegaran wenang misésa, tan luput ginayuha, mring panguwaos gumendhung, sapa wani mancasana. 121. Asring dadya ciri wanci, ingkang lagya amisésa, pongah awawatak rimong, nubruk buron ingkang ringkya, minongka tatadhahnya, makaten tyang alit iku, dèn mangsa nora suwala. 122. Menggah lengkeping kintaki, kacetha pupuh lajengnya, rinumpaka sekar Sinom, dyan kawedhar sakadarnya, manut gaduking nala, paripaos timun wungkuk, kinarya imbet kéwala. S I N O M 123. Wus dadi jamaking janma, jro jaman mengeng puniki, ngasil-asil donya brana, raos lingsem wus kawuri, tebih tataning nagri, mring gebyar samya kayungyun, tur ginadhuh wisésa, saya wantun nerak margi, kang dèn bujung tan liya mung kasukannya. 124. Raos tuwuk tan kadarbya, sasat genthong ingkang ciri, masiya dipun grujuga, toya sablumbang saari, panggah datanpa isi, ngowos-owos maksih suwung, tangèh lamun marema, antuk leksa kurang kethi, puluh-puluh iku wataking drubiksa. 125. Becik wantuning walika, anguntal mangsanirèki, sapisan tumunten néndra, tan mosik nganti sasasi, kadya lampah tataki, nenedha sacekapipun, nora kaladuk hawa, ngangah-angah jroning budi, béda janma ingkang wuru mring pangwasa. 126. Mangiwut tatandho arta, bikut gènira nalapi, wus ical éwuhing rahsa, prawira datan kadarbi, mamak dhumateng gahi, waton antuk kang dèn bujung, dyan ngrebat uriping lyan, tegel tan èwed papati, welasarsa wus tebih saking pangrasa. 127. Tyang alit kadamel tumbal, dadya wadaling durniti, ringkih dipun kaniaya, kinarya ompaking wisdhi, pangadhuh tan praduli, nganung-anung aji pum-pung, murba gunging wisésa, kang badal dipun sirnani, songar dupèh tan ana wantun mamada. 128. Remen angalap ruruba, punapa déné upeti, mundhut lebon king punggawa, wah malih kawula sami, pangarem-arem mili, temah gesang tansah kogung, kecèh wang paribasa, tan nenga gegesing dasih, kang tinengen karemenaning pribadya. 129. Urip dadi salah kaprah, akarya ngungun ing ati, élok lamun rinasakna, nora barès malah mukti, nasar antuk astuti, kang jujur nandhang kalantur, blaka manggih antaka, resik winada tan wasis, puluh-puluh wus dugi lengkeping jangka. 130. Pawingking ngundhuh dahana, ingkang ngririsak nagari, karya uraning pranata, tumus gesangirèng dasih, bebener dèn tebihi, wusna samya andon napsu, lupa rèhing prawira, bubujung mulading kapti, praja jugar kawula buyar wuntatnya. 131. Ywan lepat gènnya mranata, musna lestarining nagri, wengkon samya ambalila, crah adredah rebat mukti, tilar tepaning sami, padha bangsa samya campuh, mangsah prang mumungsuhan, tan ènget raos manunggil, lamun kadhung kaduwung datan piguna. 132. Ical kuncaraning praja, puwara kasub jinawi, surem madyaning buwana, tan pinétang nagara ji, rinèmèh jro papaki, masgul wit datan pinunjul, gung asor dalajatnya, kondhang bangsa ingkang wengis, nora idhep tataning janma utama. 133. Prihatos lamun uninga, trékahing umat puniki, téga roga-ning sasama, béda gama dèn cengili, séjé bangsa sinengit, kadya wawantuning diyu, jro liliwunging wana, bubujeng buron kang ringkih, pinrawasa dèn gaglag kanthi kethaha. 134. Tebih saking asih darma, welas-arsa pan wus sepi, tan éman patining liya, dingkik-diningkik sasami, sak-serik saya ndadi, miruda padhaning manu, tyang mursid sampun sirna, saking lebeting nagari, kang tinengen duraka klayan dursila. 135. Tangané padha candhala, narajang sagung papali, agahan karem mring donya, kala jiret dèn pasangi, samya ngarah papati, panguwasa soroh napsu, munasika kawula, hakim remen wang upeti, pra pangarsa mutusi sukèng tyasira. 136. Angger-angger sinélakan, tinekuk-tekuk sakarsi, miturut kang asung arta, wus supé jejeging adil, babasan grumbul eri, ngrèrèndhèt ambancang laku, kemarung pindhanira, mitra tegel angapusi, wus tan ana kang kénging dipun pracaya. 137. Aja pasrah marang kanca, punapa déné pawèstri, ngalèyèh ing pangkonira, tan jejeg kedaling lathi, langkung kathah mapali, mantu lumawan si biyung, anak lanang tan bektya, marang bapa mamancahi, dugèng jangka jaman babaya cintraka. 138. Kalakyan ing jaman ika, tyang sugih remen ngapusi, kang mlarat tan pinracaya, dora cidra salir janmi, wawaler dèn campahi, nenedha tangèh atuwuk, padharan tansah luwya, sisimpen datan gadhahi, nyebar wiji tangèh angundhuh wohira. 139. Ngombéya maksih dahaga, tatamba panggah sakit, linipur saya dhuhkita, dèn nepken mubal andadi, éwuhaya ing budi, sinabarna dadya gugup, arsa aso kang sayah, langkung kesel kang pinanggih, lamun léna sungkawa nora kuwawa. 140. Atatandho rajabrana, asalipun king durniti, takeran sami dèn suda, traju ginanjel tan wèsti, watu timbangan cicir, kabèh pokal tangèh lugu, temahan kénging walat, ipat-ipating Hyang Widi, tan sempulur ginawa dugèng pralaya. 141. Nahen napsu nora kampah, ngumbar hawa tanpa budi, sengsem kasmaran wanodya, tan émut trapsilèng krami, tilar waskitèng kapti, dupi wus lenggah ngaluhur, nguja mubaling branta, suthik mirengna papali, nir tuladha sumimpang saking pranata. 142. Kayungyun mring kasulistyan, nyanyaput nering pangreti, ical waspaosing driya, kineluh liring pawèstri, supè walering margi, tan maèlu pager ayu, pakèwed tan kadarbya, winada nora malangi, lenging cipta mung juga tinurutana. 143. Rinungrum gampil arentah, lir lembu dipun patrapi, cinongok ing cungurira, kadi tyang bodho katali, babandan dèn adili, pindha kukila kapulut, babaya tan uninga, léna linepas jemparing, lamun kena panèn mamala antaka. 144. Poma-poma élingana, kang dadi walering margi, ngombéya ing belikira, ywa nglurug sanès parigi, myang liyan gampil mélik, ngandelken kuwasa-nipun, wenang mundhut babana, kalebet minta pawèstri, garwa yoga tan pinétang waton bisa. 145. Cacat menggahing pangarsa, lamun remen luru warih, kasengesem mring sendhanging lyan, ngasag-asag sapinanggih, raos èwed wus sepi, rongèhing manah kadlarung, parwi dasih ingalap, sinengguh dadya upeti, yèn mangkana ical prabawaning praja. 146. Becik lamun tinahena, atataki sawatawis, marema ingkang kadarbya, ywa malang tumolèh margi, tyas meleng ning nyawiji, muncar wibawaning prabu, sinuyudan kawula, pinitaya dipun aji, temah lulus sempulur kuncaranira. Aji Pameleng 06 Mar 2010 Leave a Comment by wayang in Kitab & Kidung Tegesipun aji = ratu, pameleng = pasamaden; mengku pikajeng : tandaning sedya ingkang luhur piyambak. Dene empaning pandamelan wau winastan manekung, pujabrata, mesu budi, mesu cipta, ngeningaken utawi angluhuraken paningal, matiraga lan sasaminipun. Papan ingkang kangge nindakaken wau panepen, panekungan, pamujan, pamurcitan, pamursitan, pahoman, paheningan lan sanes-sanesipun. Dene wedharing kawruh winastan daiwan, dawan, tirtaamerta, tirtakamandhanu, tirtanirwala, mahosadi, kawasanan, kawaspadan, kawicaksanaan, sastracetha, utawi sastrajendrayuningr at pangruwating diyu lan sapanunggalanipun. Menggah pigunanipun kawruh lan pandamel wau, perlu kangge sarananing panembah murid manggih kawilujengan, margi saged anindakaken dhateng sawarnaning pandamel sae, punapadene kangge sarana duk kita darbe sedya nunuwun kanugrahaning gesang kita pribadi (Pangeran), inggih nunuwun bab punapa kemawon ingkang limrah kenging linampahan saking pandamel kita ingkang boten tilar murwat. Wondene purwanipun ing jagad teka wonten kawruh pasamaden, bilih miturut saking tembung-tembungipun , sanyata kathah ingkang nagngge basa Sansekrit; yen makaten tetela manawi wimbaning kawruh pasamaden wau saking tumitising kawicaksananipun bangsa Indhu ing jaman kina makina, ingkang sampun boten kasumerepan petang ewoning taun. Bokmanawi kemawon papantaranipun kalihan nalika bangsa Indhu amurwani iyasa candhi dalah reca-recanipun. Dene kawruh wau ing sakawit inggih namung kangge bangsa Indhu, boten nawang bangsa Indhu ingkang agami punapa kemawon, katamtokaken mesthi ngrasuk pasamaden. Awit inggih namung kawruh pasamaden punika ingkang dados mukaning saliring kawruh sajagad, lan ugi dados pangajenging piwulan agami. Ing ngalami lami bangsa Indhu sami lumeber dhateng ing Tanah Jawi lan sanes sanesipun, serta sami anggelaraken agaminipun tuwin kawruh sanes sanesipun; makaten ugi kawruh pasamaden inggih boten kantun. Kawruh pamasaden wonten ing Tanah Jawi saget ngrembaka tuwuhipun, margi bangsa Jawi tan pilih drajad sami remen puruita lan saged nandangaken dating pangolahing kawruh punika, awit kawruh wau saget nocoki kalihan dhadhasaring pamanahipun titiyang Jawi, mila kalayan gampil rumasukipun wonten ing balung sungsuming titiyang Jawi. Kasembuh malih saking kathahing bangsa Indhu kados sinuntak sami angajawi, nedya anggelar agami Jawi lan kawruh kawicaksananipun. Bebasan sakedeping netra, bangsa Jawi ing sa’indhengipun maratah sampun sami angrasuk agami Indhu, lan ugi sampun sami saget ngraosaken kabegjan, kamulyan, kawilujengan lan sasaminipun, margi saking wohing kawruh pandamel wau. Ing wusana katungka dhatengipun titiyang bangsa Arab sami lumebet ing Tanah jawi, ingkang ugi ambekta kawruh lan agaminipun Mohammad, kasebut agami Islam, temah nyunyuda tumangkaring agami Indhu, sebab lajeng wonten ingkang angrasuk agami Islam. Namung kemawon wedharing agami Islam boten andarbeni kawruh pasamaden, kados kasebut ing nginggil. Sareng golonganipun tiyang Islam sampun saget ngendhih Nagari, inggih punika adeging Karaton Bintara (Demak), ing ngriku lajeng angawisi kalayan kenceng, titiyang Jawi boten kenging anindakaken kawruh pasamaden, mekaten ugi sami kinen nilar agaminipun lami, serta kedah santun angrasuk agami Islam. Ananging boten ta manawi bangsa Jawi lajeng anut purun santun agami Islam sadaya, purunipun wau namung margi saking ajrih paukuman wisesaning Nata, dados Islam-ipun wau namung wonten ing lahir kemawon, utawi Islam pangaran-aran, yen batosipun taksih angrungkepi agamipun lami. Milo bab kawruh pasamaden inggih taksih lajeng katindakaken, ananging pamulang pamedharing kawruh pasamaden wau, ingkang karan nama wejangan (wijang-wijang) sarana lampah dhedhemitan, katindakaken ing wanci ndalu sasampunipun jam 12, ugi papaning pamejang boten kenging kaubah wangon, kadosta ing ara-ara, ing wana, ing lepen lan sasaminipun ing papan ingkang sepen. Pamejangipun srana bisikan boten kenging kapireng ngasanes, sanadyan suket godhong, kewan tuwin bangsanipun gegremetan kutu-kutu walangataga ugi boten kenging miring, yen miring lajeng malih dados manungsa. Mila linggihipun Kyai Guru ajeng-ajengan aben bathuk kaliyan pun murid, serta sanget pamantos-mantosipun Kyai Guru, pun murid boten kenging nularaken wewejanganipun (kawruhipun) dhateng tiyang sanes, bilih dereng angsal palilah Guru, yen nerak bade angsal wilalat manggih sapudendhaning Pangeran. Panindak ingkang mekaten punika, purwanipun namung tetep kangge panjagi, supados pamulanging kawruh pasamaden boten katupiksan dhateng pamarintahing agami Islam. Sebab yen ngantos kasumerepan, tamtu manggih pidana. Dumuginipun ing jaman samangke, sanadyan Nagari sampun boten angarubiru dhateng wontenipun wewejangan kawruh pasamaden, nanging panindaking wejangan wau taksih kalestantunaken sarana dhedhemitan kados kawursita ing nginggil. Mila lajeng angsal paparab saking panyedaning titiyang ingkang boten remen, utami tiyang ingkang anglampahi sarengating agami Islam, bilih wontening wejangan kawruh pasamaden wau lajeng kawastan ilmu klenik. Purwo saking tembung klenik, lajeng angandhakaken tembung abangan lan putihan. Ingkang kasebut abangan punika tiyang ingkang boten nindakaken saraking agami Islam, dene putihan mastani tiyang Jawi ingkang teluh manjing agami Islam sarta anglampahi sadaya sarak sarengating agami Islam wau, inggih punika ingkang kasebut nama santri. Mila santri karan putihan, margi miturut panganggenipun titiyang agami Islam, bilih santri punika sarwo-sarwi langkung resik utawi suci tinimbang kaliyan titiyang ingkang boten angrasuk agami Islam. Mangsuli wontening kawruh pasamaden anggenipun sanget winados, menggah ingkang dados sababipun kapretalakaken ing nginggil. Dene yen saleresipun ingkang nama wados-wados wau pancen boten wonten; dados inggih kenging-kenging kemawon kawulangaken dhateng sok tiyanga, boten mawang nem sepuh, serta kenging kawejangaken ing sawanci-wancinipun, uger tiyang wau pancen ambetahaken kawruh pasamaden kasebat. Sebab wontenipun sadaya punika supados kasumerepan dhateng ingakathah, langkung-langkung kawruh pasamaden punika ingkang sanyata dados mukaning sadaya kawruh. Mila wajib sinebar dados seserepaning tiyang nem sepuh wadarin ing saindengipun, tanpa nawang andhap inggiling darajadipun. Amarengi wahyaning mangsakala, wusana wonten kaelokaning lalampahan ingkang boten kanyana-nyana; ing pawingkingipun bab kawruh pasamaden wau lajeng muncul katampen dhateng tiyang Islam, margi yakin bilih kawruh pasamaden wau, pancen musthikaning gagayuhan ingkang saged andhatengaken ing kawilujengan, kamulyan, katentreman, lan sasaminipun. Mila kawruh wau dening tiyang ingkang sampun suluh papadhanging raosipun inggih punika Seh Sitijenar, ingkang ugi dados pramugarining agami Islam apangkat Wali, lajeng kadhapuk ing ndalem serat karanganipun, ingkang lajeng winastan daim, wirid saking tembung daiwan kasebut ing nginggil. Punapadene lajeng kaewoaken dados saperanganing panembah, sarana dipun wewahi tembungipun, lajeng mungel : salat daim (salat – basa arab, daim saking daiwan basa Sansekrit). Milanipun dipun wewahi basa arab, namung kawigatosan kangge mikekahaken kapitadosanipun murid-muridipun ingkang sampun sami necep agami Islam. Punapadene tembung salat lajeng kapilah kalih prakawis. Sapisan salat 5 wekdal, kasebut salat sarengat, ateges panembah lahir. Kaping kalih salat daim, punika panembahing batos; mangertosipun : anekadaken manunggaling pribadinipun, utawi kasebut loroning atunggil. Kitab karanganipun Seh Sitijenar wau lajeng kangge paugeraning piwulang. Sareng sampun angsal kawigatosaning ngakathah, ing ngriku salat limang wekdal lan sarak agami sanes-sanesipun lajeng kasuwak boten kawulangaken babar pisan. Ingkang pinindeng namung mumuruk tumindaking salat daim kemawon. Mila titiyang Jawi ingkang suwau manjing agami Islam, langkung-langkung ingkang dereng, lajeng sami ambyuk maguru dhateng Seh Sitijenar, margi piwulangipun langkung gampil, terang lan nyata. Wondene purwanipun Seh Sitijenar kaserenan kawruh pasamaden, ingkang mijeni Kyai Ageng Pengging, sebab Seh Sitijenar punika mitradarmanipun Kyai Ageng Pengging. Kawruh asamaden, dening Seh Sitijenar lajeng katularaken Raden Watiswara, inggih Pangeran Panggung, ingkang ugi apangkat Wali. Lajeng tunimbal dhateng Sunan Geseng, inggih Ki Cakrajaya, tiyang asal saking Pagelen, ingkang kacarios saderengipun dados Wali, Ki Cakrajaya wau pandamelanipun anderes nitis gendhis. Salajengipun sumrambah kawiridaken dhateng ingakatah. Makaten ugi sakabat-sakabatipun Seh Sitijenar ingkang sampun kabuka raosipun, dening Seh Sitijenar kinen sami madeg paguron amiridaken kawruh pasamaden wau. Sangsaya dangu sangsaya ngrebda, anyuremaken panguwaosing para Wali, anggenipun amencaraken piwulang agami Islam. Yen kalajeng-lajeng masjid saestu badhe suwung. Ngawekani sampun ngantos wonten kadadosan ingkang makaten, temah Kyai Ageng Pengging tuwin Seh Sitijenar sasekabatipun ingkang sami pinejahan katigas jangganipun dening para Wali, saking dhawuhipun Sultan Demak. Makaten ugi Pangeran Panggung boten kantun, kapidana kalebetaken ing brama gesang-gesangan wonten samadyaning alun-alun Demak, kangge pangewan-ewan murih titiyang sami ajrih, lajeng sami mantuni utawi nglepeh piwulangipun Seh Sitijenar. Kacariyos sariranipun Pangeran Panggung boten tumawa dening mawerdining Hyang Brama, lajeng oncat medal saking salebeting latu murub, nilar nagari Demak. Kanjeng Sultan Bintara tuwin para Wali sami kablerengen kaprabawan katiyasaning Pangeran Panggung, temah kamitenggengen kadi tugu sinukarta. Sareng sampun sawatawis tebih tindakipun Sang Pangeran, Kanjeng Sultan tuwin para Wali saweg sami enget bilih Pangeran Panggung kalis saking pidana, temah sami rumaos kawon angsal sihing Pangeran. Katungka unjuking wadyabala, atur uninga bilih Sunan Geseng, inggih Ki Cakrajaya, kesah anututi lampahipun Pangeran Panggung. Ing ngriku Kanjeng Sultan katetangi dukanipun, temah dhawahing bendu, para sakabat tuwin murid-muridipun Seh Sitijenar ingkang kapikut lajeng sami pinejahan. Ingkang boten kacepeng sami lumajar pados gesang. Para sakabatipun Seh Sitijenar ingkang taksih wilujeng kakantunanipun ingkang sami pejah, ugi taksih sami madeg paguron nglestantunaken pencaring kawruh pasamaden, nanging mawi sislintru tinutupan wuwulang sarengating agami Islam, murih boten ka’arubiru dening para Wali pramugarining praja. Dene piwulangipun kados ing ngandhap punika : Pamulanging kawruh pasamaden ingkang lajeng karan salat daim, karangkepan wuwulang salat limang wekdal tuwin rukuning Islam sanes- sanesipun malih. Wewejanganipun salat daim wau lajeng winastan wiridan naksobandiyah, dene panindaking piwulang kawastan tafakur. Saweneh wonten ingkang pamulangipun ing saderengipun para murid nampi wiridan salat daim, langkung rumiyin kalatih lampah dhidhikiran lan maos ayat-ayat. Wiwit punika wuwulangan pasamaden lajeng wonten wanrni kalih, inggih punika : 1. Piwulang pasamaden wiwiridan saking para sekabatipun Seh Sitijenar, ingkang sarana tinutupan utawi aling-aling sarak rukuning agami Islam. Wuwulangan wau dumuginipun ing jaman samangke sampun mleset saking jejer ing sakawit, mila para guru samangke, ingkang sami miridaken kawruh pasamaden, ingkang dipun santuni nama naksobandiyah utawi satariyah, nginten bilih kawruh wau wiwiridan saking ngulami ing Jabalkuber (Mekah). Salajengipun para Kyai guru wau, amastani guru klenik dhateng para ingkang sami miridaken kawruh pasamaden miturut wawaton Jawi pipiridan saking Seh Sitijenar. Punapadene para Kyai guru wau nyukani paparab nama Kiniyai, pikajengipun : guru ingkang mulangaken ilmuning setan. Dene nama Kyai, punika guru ingkang mulangaken ilmuning para nabi. 2. Piwulang pasamaden miturut Jawi, wiji saking Kyai Ageng Pengging, ingkang kapencaraken dening Seh Sitijenar (ingkang ing samangke karan klenik), punika ing sakawit, ingkang dados purwaning piwulang, dumunung wonten panggulawenthahing wawatekan 5 prakawis, kados ing ngandhap punika : 1. Setya tuhu utawi temen lan jujur. 2. Santosa, adil paramarta, tanggeljawab boten lewerweh. 3. Leres ing samubarang damel, sabar welas asih ing sasami, boten ngunggul-unggulaken dhirinipun, tebih saking watak panganiaya. 4. Pinter saliring kawruh, langkung-langkung pinter ngecani manahing sasami-sami, punapadene pinter angereh kamurkaning manah pribadi, boten anguthuh melik anggendhong lali, margi saking dayaning mas picis rajabrana. 5. Susila anor-raga, tansah nganggeni tatakrami, maweh rereseping paningal tuwin sengseming pamiharsa, dhateng ingkang sami kataman. Lampah limang prakawis wau kedah linampahan winantu ing pujabrata anandangaken ulah samadi, inggih amesu cipta angeningaken pranawaning paningal. Awit saking makaten punika mila tumrap panindaking agami Jawi (Buda), bab kawruh pasamaden tuwin lampah limang prakawis wau kedah kawulangaken dhateng sadaya titiyang enem sepuh boten pilih andhap inggiling darajatipun. Mila makaten, sebab musthikaning kawruh tuwin luhur-luhuring kamanungsan, punika bilih tetep samadinipun, kuwasa anindakaken lampah 5 prakawis kados kawursita ing nginggil. Temah kita manggen ing sasananing katrenteman, dene wontening katentreman mahanani harja kerta lan kamardikan kita sami. Yen boten makaten, ngantos sabujading jagad, kita badhe nandhang papa cintraka, kagiles dening rodha jantraning jagad, margi kacidraning manah kita pribadi. Bab kawruh pasamaden ingkang lajeng karan wiridan naksobandiyah lan satariyah, ingkang ing nguni wiwiridan saking Seh Sitijenar, sampun ka’andharaken ing nginggil, namung kemawon tumandangipun boten kawedharaken. Ing riki namung badhe anggelaraken lampah umandanging samadi sacara Jawi, ingkang dereng kacarobosan agami sanes, inggih punika makaten : Para nupiksa, mugi sampun kalintu panampi, bilih samadi punika angicalaken rahsaning gesang utawi nyawanipun (gesangipun) medal saking badan wadhag. Panampi makaten punika, purwanipun mirid saking cariyos lalampahanipun Sri Kresna ing Dwarawati, utawi Sang Arjuna yen angraga-suksma. Mugi kawuninganana, bilih cariyos makaten punika tetep namung kangge pasemon utawi pralambang. Ing samangke wiwit wedharaken lampahing samadi makaten : tembung samadi = sarasa – rasa tunggal – maligining rasa – rasa jati – rasa nalika dereng makarti. Dene makartining rasa jalaran saking panggulawenthah utawi piwulang, punapadene pangalaman-pangalam an ingkang tinampen utawi kasandhang ing sadinten-dintenipun . Inggih makartining rasa punika ingkang kawastanan pikir. Saking dayaning panggulawenthah, piwulang tuwin pangalaman-pangalam an wau, pikir lajeng gadhah panganggep awon lan sae, temah anuwuhaken tatacara, pamacak lan sanes-sanesipun ingkang lajeng dados pakulinan. Punapa panganggep awon sae, ingkang sampun dados tata-cara margi sampun dados pakulinan punika, yen awon inggih awon sayektos, yen sae inggih sae temenan, punika dereng tamtu, jer punika namung pakulinaning panganggep. Dene panganggep, boten yekti, tetep namung ngenggeni pakulinaning tata-cara, dados inggih dede kajaten utawi kasunyatan. Menggah pikajenganipun samadi ing riki, boten wonten sanes namung badhe nyumerepi kajaten, dene sarananipun boten wonten malih kajawi nyumerepi utawi anyilahaken panganggep saking makartining rasa, kasebut sirnaning papan lan tulis. Inggih ing riku punika jumenenging rasa jati kang nyata, kang yekti, kang weruh tanpa tuduh. Wondene kasembadanipun kedah angendelaken ing saniskara, sarana angereh solahing anggota (badan). Mangrehing anggota wau ingkang langkung pikantuk kalihan sareyan malumah, saha sidhakep utawi kalurusaken mangandhap, epek-epek kiwa tengen tumempel ing pupu kiwa tengen, suku ingkang lurus, dalamakan suku ingkang tengen katumpangaken ing dalamakan suku kiwa, mila lajeng kasebut sidhakep suku (saluku) tunggal. Punapadene angendelna ebahing netra (mripat), inggih punika ingkang kawastanan meleng. Lampah makaten wau ingkang kuwasa ngendelaken osiking cipta (panggagas), tuwin amuntu ilining rahsa, dene pancering paningal kasipatna amandeng pucuking grana medal saking sa’antawising netra kakalih, inggih punika ing papasu, dene pamandengipun kedah kalayan angeremaken netra kakalih pisan. Sasampunipun lajeng nata lebet wedaling napas (ambegan) makaten : panariking napas saking puser kasengkakna minggah anglangkungi cethak ingga dumugi ing suhunan (utek = embun-embunan) , sarta mawi kaendelna ing sawatawis dangunipun. Sumengkanipun napas wau kadosdene darbe raos angangkat punapa-punapa, dene temenipun ingkang kados kita angkat, punika ilining rahsa ingkang kita pepet saking sumengkaning napas wau, menawi sampun kraos awrat panyangginipun napas, inggih lajeng ka’edhakna kalayan alon-alon. Inggih patrap ingkang makaten punika ingkang kawastanan sastracetha. Tegesipun cetha = empaning kawruh, cetha = antebing swara cethak, inggih cethaking tutuk kita punika. Mila winastan makaten, awit duk kita mangreh sumengkaning napas anglangkungi dhadha lajeng minggah malih anglangkungi cethak ingga dumugi suhunan. Menawi napas kita dipun ereh, dados namung manut lampahing napas piyambak, tamtu boten saget dumugi ing suhunan, margi saweg dumugi ing cethak lajeng sampun medhak malih. Punapadene ugi winastan daiwan (dawan), pikajengipun : mangreh lebet wedaling napas ingkang panjang lan sareh, sarwi mocapaken mantra sarana kabatos kemawon, inggih punika mungel `hu’ kasarengan kalihan lumebeting napas, inggih panariking napas saking puser, minggah dumugi ing suhunan. Lajeng `ya’, kasarengan kalihan wedaling napas, inggih medhaking napas saking suhunan dumugi ing puser, minggah mandhaping napas wau anglangkungi dhadha lan cethak. Dene, anggenipun kawastanan sastracetha, margi nalika mocapaken mantra sastra kakalih : hu – ya, wedaling swara ingkang namung kabatos wau, ugi kawistara saking dayaning cethak. (Ungeling mantra utawi panebut kakalih : hu – ya, ing wiridan naksobandiyah kaewahan dados mungel, hu – Allah, panebutipun ugi kasarengan lampahing napas. Dene ing wiridan satariyah, panebut wau mungel : hailah – haillolah, nanging tanpa angereh lampahing napas). Menggah lebet medaling napas kados kasebut ing nginggil, sa’angkatanipun namung kuwasa angambali rambah kaping tiga, mila makaten, awit napas kita sampun boten kadugi manawi kinen anandangana malih, jalaran sampun menggeh-menggeh. Dene manawi sampun sareh, inggih lajeng ka’angkatana malih, makaten salajengipun ngantos marambah-rambah sakuwawinipun, margi saya kuwawi dangu, sangsaya langkung prayogi sanget. Dene sa’angkataning pandamel wau kawastan : tripandurat, tegesipun tri = tiga, pandu = suci, rat = jagad – badan – enggen, suraosipun : kaping tiga napas kita saget tumameng ing ngabyantaraning ingkang Maha suci manggen ing salebeting suhunan (ingkang dipun suwuni). Inggih punika ingkang kabasakaken paworing kawula Gusti, tegesipun : manawi napas kita sumengka, kita jumeneng gusti, yen tumedhak, wangsul dados kawula. Bab punika para nupiksa sampun kalintu tampi ! Menggah ingkang dipun wastani kawula gusti punika dede napas kita, nanging dayaning cipta kita. Dados ulah samadi punika, pokokipun kita kedah amanjangaken panjing wijiling napas (lebet wedaling napas), kalihan angeningaken (ambeningaken) paningal, sebab paningal punika kadadosan saking rahsa. Wondene patraping samadi kados kasebut ing nginggil wau, ugi kenging karancagaken, uger kita tansah lumintu tanpa pedhot mangeh panjing wijiling napas, kalihan lenggah, lumampah, utawi nyambutdamel inggih kedah boten kenging tilar mangreh lebet wedaling napas wau, ingkang sarana mocapaken mantra mungel : hu – ya, kados ingkang kajarwa ing nginggil. Kajawi punika, wirid saking tembung daiwan punika ugi taksih darbe maksud sanesipun malih, inggih punika ateges panjang tanpa ujung, utawi ateges langgeng. Dene pikajengipun amastani bilih wontening napas kita punika sanyata wahananing gesang kita ingkang langgeng, inggih wontening ambegan kita. Dene ambegan punika, sanyata wontening angin ingkang tansah mlebet medal tanpa kendel, ingkang sasarengan kalihan keketeg panglampahing rah (roh). Bilih kakalih wau kendel boten makarti nama pejah, inggih risaking badan wadhag wangsul dados babakalan malih. Mila sayogyanipun lampahing napas inggih ambegan kita ingkang tansah mlebet medal tanpa kendel, kedah kapanjang-panjangan a lampahipun, murih panjanga ugi umur kita, temah saget awet wonten ing donya tutug panyawangipun dhateng anak, putu, buyut, canggah, wareng, ingkang babranahan. Wontenipun andharan ing nginggil, mratelakaken bilih kawruh pasamaden punika sanyata langkung ageng pigunanipun, mila lajeng sinebut sastrajendrayuningr at pangruwating diyu. Tegesipun sastra = empaning kawruh, jendra = saking panggarbaning tembung harja endra. Tegesipun harja = raharja, endra = ratu – dewa, yu = rahayu – wilujeng, ningrat = jagad – enggen – badan. Suraosipun : Musthikaning kawruh ingkang kuwasa amartani ing karahayon, kaharjan, katentreman lan sapatunggalipun. Dene tegesesipun pangruwating diyu = amalihaken diyu; dene diyu = danawa – raksasa – asura – buta, punika kangge pasemoning piawon, penyakit, rereget, babaya, pepeteng, kabodhohan lan sanesipun. Dados diyu punika kosokwangsulipun dewa, engkang ateges pinter, sae, wilujeng lan sapanunggilipun. Mengku suraos amastani ingkang saget anyirnakaken saliring piawon tuwin samubarang babaya pekewed. Mangertosipun, sinten ingkang tansah ajeg lumintu anandangaken ulah samadi, punika bilih ing suwaunipun tiyang awon, lajeng sirna piawonipun, malih dados tiyang sae lampahipun. Tiyang sakit sirna sakitipun, dados saras, tiyang murka daksiya lajeng narimah sabar, welasasih. Tiyang goroh lajeng dados temen. Tiyang bodho dados pinter. Tiyang pinter dados pinter sanget. Makaten ugi tiyang golongan sudra dados waesia, waesia dados satriya, satriya dados brahmana, brahmana sumengka pangawak braja asarira bathara. Ajisaka by wayang in Kitab & Kidung Sebuah Perenungan tentang Sosok Ajisaka Karena kehendak Allah jugalah terjadinya manusia, hewan, pepohonan, kutu walang ataga, yang kesemuanya itu terjadi serta hidup dan dapat dilihat secara nyata wujudnya (ana rupa-wujude). Atas kehendak Allah tersebut yang luluh pada diri manusia, menyebabkan manusia memiliki keluhuran, keimanan, bawa laksana, welas asih, keadilan, ketulusan, eling lan waspada. Kesemuanya itu memberikan manusia kemuliaan (kamulyan) dan kesejahteraan (karahayon). Rasa tersebut juga menghubungkan kehidupan manusia dengan Allah Sang Maha Pencipta. Ca-ra-ka sendiri pengertiannya adalah memuliakan Allah. Sebab tanpa ada bawana seisinya, apalagi tanpa adanya manusia, tentu tidak akan ada sebutan Asma Allah. Tanpa adanya caraka, tentu pula Hana-Ne tidak akan disebut Hana. Sementara makna Da-ta-sa-wa-la dapat dijelaskan maknanya sebagai berikut. Adanya yang ada (anane dumadi) sumber asalnya adalah Satu, yaitu Dzat Allah. Dari yang kasar dan halus (agal lan alus), wingit (penuh misteri) dan gha’ib, pasti pada dirinya melekat setidaknya secercah Dzat Allah (kadunungan sapletheking Dzat Allah). Artinya, pancaran kun fayakun itu tidak hanya mencipta bawana seisinya, namun terus-menerus memancarkan kasih, mencermati dan meliputi terhadap seluruh kehidupan (ngesihi, nyamadi lan nglimputi sakabehing dumadi). Allah menciptakan bawana seisinya, khususnya dalam menciptakan manusia, bukan tanpa rencana, namun dengan keinginan dan tujuan yang nyata dan pasti. Titah Allah tidak dapat diingkari dari apa yang sudah ditetapkan menjadi kodrat (pepesthen). Demikian juga seluruh makhluk hidup di dunia (saobah-mosiking dumadi) pasti terkena keterbatasan dan pembatasan (wates lan winates), seperti halnya sakit dan kematian. Namun selain itu, juga melekat dalam dirinya (kadunungan) kelebihan satu dari yang lain, saling ketergantungan, lebih melebihi (punjul-pinunjulan) dan saling hidup-menghidupi (urip-inguripan). Baik dalam rupa, wujud, warna dan sosoknya (balegere dumadi), manusia dapat dikatakan sempurna tiada yang melebihi (kasampurnaning manungsa). Terciptanya manusia yang ditakdirkan (pinesthi) menjadi Wali Allah, menandakan bahwa hanya sosok manusia sajalah yang mampu menjadi Warangka Dalem Yang Maha Esa (wakil Tuhan di dunia). Kelahiran manusia dalam wujud raga-fisik dan bentuk badan itu merupakan sari-patining bawana. Maka, menjadi keniscayaan jika manusia mampu menggunakan dayanya guna mengungkap rahasia alam. Kelahiran hidup manusia, merupakan wujud dari sukma, yang dalam proses mengada dan menjadi (being and becoming) terbentuk dari sari-pati terpancarnya Dzat Allah (dumadi saka sari-pati pletheking Dzat Allah). Oleh sebab itu, manusia mampu mengkaji dan menelusuri, menggali dan mencari serta meyakini dan mengimani adanya Allah (nguladi, ngupadi, ngyakini lan ngimani marang kasunyataning Allah), sebab sukma sejati manusia itu berasal dari Sana (sabab suksma sajatining manungsa asale saka Kana). Selanjutnya Pa-dha-ja-ya-nya, maknanya bahwa sawenehing kang dumadi atau apa pun dan siapa pun tidak akan dapat hidup sendiri, sebab ia akan senantiasa menjalani hidup dan kehidupan bersama, sebagaimana keniscayaan fitrahnya, bahwa: panguripaning dumadi tansah wor-ingaworan -dalam kehidupan manusia selalu saling pengaruh mempengaruhi— selain juga punya ketergantungan satu sama lain. Begitu juga hidup manusia, bahwa perangkat badaning manungsa tidak mungkin secara parsial dapat hidup sendiri-sendiri. Artinya, ana raga tanpa sukma/nyawa tidak mungkin bisa hidup, tetapi ana sukma tanpa raga juga tidak bisa dikatakan hidup, karena tidak bisa bernafas. Jika seluruh anggota badan makarti semua, baru disebut urip kang sejati. Daya hidup (sang gesang) akan melekat (built-in) pada setiap diri-pribadi seseorang, yaitu rupa, wujud berikut segala tingkah-lakunya. Dapat dikatakan daya hidup akan luluh pada dirinya (sing kadunungan). Semua yang berwujud dan hidup pasti bakal tarik- enarik, saling bersinergi (daya-dinayan), sehingga menimbulkan daya-daya, seperti: daya adem-panas, positif-negatif, luhur-asor, padhang-peteng, dan kesemuanya itu senantiasa berputar silih berganti (cakra manggilingan). Semua inti dari interaksi tersebut ada pada diri manusia, di mana inti tadi sebenarnya telah terserap dari badan manusia sendiri. Maka dapat disimpulkan, bahwa obah-mosiking jagat/alam, juga terjadi pada obah-mosiking manungsa secara pribadi. Di mana ketika terjadi gonjang-ganjinging jagat/ alam, kejadian pada manusia juga demikian adanya. Ketika manusia bertingkah-laku angkara-murka, merusak dan sebagainya, jagat/alam juga berada dalam ancaman bahaya, misalnya musibah banjir, lahar, tanah longsor, banyaknya kecelakaan dan sebagainya. Makanya, manusia harus selalu ingat akan kewajiban pokoknya, yaitu: Hamemayu-Hayuning Bawana. Artinya, kanthi adhedhasar sarana sastra jendra hayuningrat pangruwating diyu sebetulnya manusia dapat nyidhem atau menghindari kerusakan alam semesta, selain juga bisa nyirep dahuruning praja (memadamkan kerusuhan negara). Ikatan manusia dengan Allah Swt., berupa keyakinan dan kepercayaan yang diwujudkan dalam panembah lan pangesti seperti ditulis dalam tuntunan kalam, yang disebut agama, mewajibkan manusia manembah (sembahyang, samadi) hanya tertuju kepada Yang Satu, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Ketika manusia manembah melalui sembah rasa, harus dengan seluruh sukma (roh, moral) kita, bukan badan raga yang penuh dengan kotoran (nafsu duniawi). Sebetulnya sembah raga itu hanya sarengating lahir, agar supaya umat manusia taat dan manembah marang Gusti Kang Murbeng Dumadi. Manusia itu paling dipercaya ngembani asmaning Allah, maka manusia harus menduduki rasa kemanusiaannya. Untuk itu, manusia harus bisa menempatkan diri pada citra keTuhanannya. Allah telah menciptakan apa saja untuk manusia, jagat sak isine, tinggal bagaimana manusia bekti marang Allah Kang Maha Esa. Tergantung manusianya, seberapa besar tanggung jawabnya marang Kang Maha Kuasa, sebab bawana beserta seluruh isinya adalah menjadi tanggung jawab manusia. Yang terakhir, Ma-ga-ba-tha-nga dapat dijelaskan maknanya, kurang-lebih sebagai berikut. Manungsa kang kalenggahan wahyuning Allah, manungsa kang manekung ing Allah Kang Maha Esa dadi daya cahyaning Allah lan rasaning Allah luluh pada sukma manusia. Jagat (alam) tergantung pada sejarah umat manusia yang disebut awal dan akhir, juga menjadikannya jantraning manungsa. Hakikatnya gelaring alam/jagat itu, juga gelaring manungsa. Jadi di dunia ini ora bakal ana lelakon, ora ana samubarang kalir, kalau tidak ada gerak kridhaning manungsa. Setelah ada manusia, sakabehing wewadi, sakabehing kang siningit lan sinengker wus kabukak wadine –semua telah jelas, semua telah menjadi nyata. Wis ora dadi wadi, amerga wis tinarbuka; Wis ora ana wingit, amerga wis kawiyak; Wis ora ana angker, amerga wis kawuryan. Artinya, kalau semua sudah kamanungsan/konangan —kalau semua telah menjadi kenyataan— berarti tugas kewajiban manusia di dunia telah selesai. Sudah sampai pada perjanjian pribadining manungsa dan sudah titi mangsa harus pulang marang pangayuning Pangeran. Dari tidak ada menjadi ada (ora ana dadi ana) menjadi tidak ada lagi (ora ana maneh). Artinya, sakabehing dumadi yen wis tumekaning wates kodrate, mesti bakal mulih marang mula-mulanira lan sirna. Awal-akhire, artinya sangkan paraning dumadi wis khatam/tamat. Kalau umat manusia sudah tidak ada lagi -kang dadi asmaning Allah-juga tidak akan disebut (kaweca), ana. Demikianlah, kurang lebih hasil perenungan saya selama ini dalam menggali makna filosofis yang terkandung dalam ajaran Aji Saka: “Ha-na-ca-ra-ka”. Betapa pun kita mengagungkan ke-adiluhung-an karya sastra Jawa, seperti Serat Wulangreh, Serat Wedhatama, atau pun filsafat Ha-na-ca-ra-ka, apabila tanpa penghayatan dan meresapi nilai-nilai substansial yang terkandung di dalamnya serta usaha mengembangkannya, tentulah tidak akan bermakna bagi kehidupan sastra Jawa masa kini dan masa depan, apalagi terhadap budaya Indonesia Baru yang harus kita bangun. Sastra Jawa mengandung wulang-wuruk kejawen, yang jika dilakukan penelitian lebih suntuk akan bisa digali ajaran kehidupan yang mampu memberi pencerahan pikir dan rasa untuk direnungkan di malam hari. Kesemuanya itu seakan meneguhkan makna peninggalan Aji Saka yang diungkapkan Sri Susuhunan Paku Buwono IX dalam tembang Kinanthi: “… Nora kurang wulang-wuruk, tumrape wong tanah Jawi. Laku-lakuning ngagesang, lamun gelem anglakoni. Tegese aksara Jawa iku guru kang sejati”. Babad Alas Nangka Dhoyong by wayang in Kitab & Kidung Babad Crita Lesan Dumadine Kutha ‘Wonosari’ Wiwitaning carita ing wewengkon Sumingkar (saikine wilayah Sambi Pitu, Gunungkidul). Sumingkar iki miturut gotheking crita iki minangka Kutha Praja Kabupaten Gunungkidul wektu iku; rikala Sultan Hamengkubuwana I madeg ratu ing Kraton Ngayogyakarta. Sumingkar cedhak karo tembung ‘sumingkir’. Mirid saka kahanan lan sejarahe masyarakat sakiwatengen Sambi Pitu, wong-wong ing wewengkon iki minangka playon saka Majapahit, wong-wong kang ‘sumingkir’ ing alas Gunungkidul biyene. Crita lesane wong-wong kana nerangake manawa Brawijaya pungkasan keplayu tekan alas Gunungkidul, ngulandara ing sawetara papan lan mbukaki alas-alas dumadi desa-desa sarta ninggalake maneka kabudayan. Brawijaya pungkasan moksa ing Guwa Bribin, Semanu, jalaran rikala disuwun malik ngrasuk Islam dening Sunan Kalijaga ora kersa. Kaya dene masyarakat kang sumebar manggon luwih dhisik ing Rongkop, Semanu, Karangmojo, Ngawen, Nglipar, Sambi Pitu, saperangan Pathuk, uga Panggang, wong-wong iki wis dumunung ing sajembaring alas Gunungkidul sadurunge kedaden Palihan Nagari (Prajanjen Giyanti) ing Surakarta. Kabukti kanthi ananing maneka warna kabudayan kang gregete nuduhake semangat Jawa Asli-Hindhu-Buda-praIslam, kaya ta: tledhek, rasulan, cing nggoling, babad alas, reyog, petilasan Hindhu, petilasan Buda, lsp. kang tansah diuri-uri tekane saiki. Crita iki uga minangka bukti stereotip ‘babad’ kaya kang dumadi ing desantaraning pulo Jawa lumrahe; kepara ing nusa-antara. Ing Sumingkar Adipati Wiranagara madeg dadi adipati. Piyambake kagungan garwa cacahe loro, sing siji wanita Sumingkar, sing siji garwa triman saka Sultan. Ateges, garwa sing siji saka kraton Ngayogyakarta. Wus dadi kalumrahan yen para adipati pikantuk bebungah awujud apa wae saka ratune, bisa kalungguhan, kalebu garwa triman. Angkahe warna-warna: kanggo lintu tandang gawe, kanggo nerusake trahing kusuma, minangka tandha panguwasaning raja utawa kosok balene; teluke panggedhe ing dhaerah-dhaerah marang Nagaragung. Duk semana, rikala Adipati Wiranagara sowan ing Kraton Ngayogyakarta, piyambake oleh prentah saka Kanjeng Sultan supaya mindhah Kutha Praja Kabupaten Gunungkidul wektu iku kang dumunung ing Sumingkar (Sambi Pitu) menyang Alas Nangka Dhoyong, kang penere ing Kutha Praja Kabupaten Gunungkidul ing wektu iki. Kutha praja kabupaten Gunungkidul prelu dipindhah amarga miturut tata jagading keblat papat, kurang pener manengah. Dadi, rinasa dening Sultan kurang mangaribawani tumrap wewengkon kabupaten Gunungkidul liyane. Mangkono alesan ing crita rakyat dikandhakake. Sawuse kondur saka Kraton Ngayogyakarta, Adipati Wiranagara nimbali kabeh pangembating praja ing Sumingkar supaya sowan ing pendhapa kabupaten. Demang Wanapawira, yaiku Demang Piyaman (wilayah Piyaman tekane Nglipar saiki), durung katon sowan ing pendhapa kabupaten. Para pangembating praja padha duwe beda penggalihan babagan durung sowane Demang Wanapawira. Wekasane, Demang Wanapawira tumeka sowan. Rangga Puspawilaga, sawijining rangga asal Siraman, matur marang Adipati Wiranagara supaya Demang Wanapawira diparingi ukuman marga telat anggone sowan. Rangga siji iki pancen wong kang gumunggung, seneng tumindak culika. Ananging usul mau ora ditanduki dening Sang Adipati. Adipati Wiranagara paring dhawuh marang Demang Wanapawira supaya ngayahi jejibahan mbabad Alas Nangka Dhoyong kanggo mangun kutha praja Kabupaten Gunungkidul, kaya dene kang tinitahake Sultan Hamengkubuwana. Demang Wanapawira siyaga mundhi dhawuh. Rangga Puspawilaga ora sarujuk yen Demang Wanapawira kang pinilih ngemban titahe Sultan iku. Angkahe, dheweke kang madeg duta. Rangga Puspawilaga ndhisiki metu saka pasewakan marga ora narima kahanan iku. Ing kademangan Piyaman, cinarita ana sawijining perewangan kanthi nama Mbok Nitisari, kawentar jejuluk Nyi Niti. Nyi Niti dimangerteni dening wong-wong ing sakiwatengening Piyaman, kepara ing sawetara wewengkon Gunungkidul wektu iku, minangka perewangan; wong kang linuwih, mligine gayut karo roh alus lan lelembat. Nyi Niti duwe garwa inaran Ki Niti. Nyi Niti satemene mbakyune Demang Wanapawira. Nyi Niti lan Demang Wanapawira iki kalebu keturunane wong-wong playon saka Majapahit jaman semana. Tekane Piyaman, Demang Wanapawira marahake babagan apa kang tinitahake marang piyambake: mbukak Alas Nangka Dhoyong didadekake kutha praja. Demang Wanapawira nyuwun pretimbangan marang kangmboke. Satemene, sawuse ngrungu titah iku Mbok Niti rumangsa yen iku titah kang abot sanggane. Sakehing wong kang dumunung ing wewengkon Gunungkidul wektu iku wus priksa yen Alas Nangka Dhoyong iku alas kang gawat kaliwat, punjere jim lelembut, lan omahe dhanyang Nyi Gadhung Mlathi. Nanging, Mbok Niti saguh nyengkuyung lan ngrewangi Demang Wanapawira. Mbok Niti ndhawuhi Demang Wanapawira: sadurunge ngayahi babad alas supaya nglakoni sesuci lan ngadani slametan. Upacara iki syarat kang wus ditindakake para leluwure kawit biyen lan minangka sarana supaya manungsa bisa nyawiji lan nguwasani alam, kalebu roh-roh kang manggon ing alas wingit Nangka Dhoyong. Dene Nyi Niti bakal nyoba ‘rembugan’ karo Nyi Gadhung Mlathi; dhanyange Alas Nangka Dhoyong! Demang Wanapawira, dirowangi Nyi Niti, semadi ing sangisoring wit ringin putih kang eyub, yaiku wit ringin kang mapan ing tengahing Alas Nangka Dhoyong. Nyi Gadhung Mlathi mapan ing wit iku (dhanyang panguwasa Alas Nangka Dhoyong). Demang Wanapawira lan Nyi Niti wus rila yen mengkone dimangsa Nyi Gadhung Mlathi uger titah mbukak alas dadi kutha praja bisa kasembadan. Ana sawenehing banaspati kang ngreridhu Demang Wanapawira lan Nyi Niti kang lagi samadi, nanging bisa ditelukake. Nyi Gadhung Mlati marani saklorone. Dumadi peperangan rame antarane Nyi Gadhung Mlathi lan Nyi Niti. Marga ora ana kang kasoran, mula padha ngadani pirembagan. Nyi Gadhung Mlati menehi palilah alase bisa dibukak didadekke kutha praja kanthi sarat: digawekke sajen Mahesa Lawung. Uwit panggone Nyi Gadhung Mlathi ora pikantuk ditegor lan Gadhung Mlati diwenehi panguripan dumadi dhanyang penunggu; yaiku roh kang njaga masyarakat mengkone. Nanging, Nyi Gadhung Mlati njaluk supaya digawekke sesajen saben taune minangka wujud panjagane masyarakat sing bakal ngenggoni alas iku mengkone. Nyi Niti nyarujuki panjaluke Nyi Gadhung Mlathi. Dene Nyi Gadhung Mlathi banjur mrentah para lelembut supaya nyengkuyung ngewangi pagawean mbukak alas supaya gancar anggone nandangi. Sawuse nyekel rembug karo Gadhung Mlathi, Demang Wanapawira sowan ing ngarsane Adipati Wiranegara kanggo nyuwun panyengkuyung manawa enggal dilaksanakake babad alas. Demang Wanapawira lan Nyi Niti ngumpulke rakyat Piyaman lan sakiwatengene banjur gawe sesajen. Rakyat Paliyan dicritakake uga melu ngrewangi mbabad alas. Dene masyarakat Paliyan rewang-rewang mbabad alas iki marga wus kulina ngayahi mbabad alas; yaiku mbabad Alas Giring rikala semana, sadurunge adage Kraton Mataram. Rakyat Piyaman lan Paliyan gotong-royong mbukak alas. Rangga Puspawilaga rumangsa lingsem lan meri marang tandang gawene Wanapawira. Pakaryan mbabad Alas Nangka Dhoyong rampung. Alas wus dumadi kutha praja. Demang Wanapawira kasil ngayahi titahing ratu lan nunggu bebungah saka Sultane. Pasar dibukak dening Adipati Wiranegara kanggo ngembangake lan ngrembakakake ajuning kutha. Pasar Nangka Dhoyong, tengere pasar iku, mapan ing wilayah Seneng lan minangka pasar kang rame banget. Adipati Wiranegara ngalembana Wanapawira kang bisa malik alas gung mijil kutha. Kacarita, ana sawijining putri saka Kepanjen Semanu (putra-putrine Panji Harjadipura) aran Rara Sudarmi ditutake Mbok Tuminah teka ing Pasar Seneng. Angkahe Sang Putri kanggo nonton lan ngrasakake kahanan pasar anyar kang lagi wae dibukak. Tekane Rara sudarmi ing Pasar Seneng bareng karo jumedhule Puspayuda, putrane Rangga Puspawilaga. Weruh Rara Sudarmi, Puspayuda rena marang dheweke. Puspayuda banjur nggodha Rara Sudarmi. Rara Sudarmi ora sudi. Banjur, dumadi padudon rame. Demang Wanapawira kang kepeneran uga ana ing Pasar Seneng ngleremke loro-lorone. Kaya dene Puspayuda, mangerteni Rara Sudarmi kang sulistya, ing manahe Demang Wanapawira sajatine uga tuwuh rasa tresna marang Rara Sudarmi. Puspayuda banget murkane marang Demang Wanapawira. Puspayuda ngelek-elek lan nantang Demang Wanapawira. Ananging ora dumadi pasulayan. Demang Wanapawira nglilih Rara Sudarmi lan Mbok Tuminah supaya enggal sumingkir saka pasar. Dene Puspayuda bali ing Siraman, banjur matur marang bapane: nyuwun supaya dilamarake Rara Sudarmi ing Kepanjen Semanu. Rara Sudarmi lan Mbok Tuminah mampir ing daleme Nyi Niti. Ing crita iki diterangake yen Nyi Niti iku satemene isih kaprenah sadulur karo Rara Sudarmi, yaiku sadulur adoh saka ramane, Panji Harjadipura. Rara Sudarmi nyuwun pitulungan marang Ki Niti lan Nyi Niti prakara kang lagi wae ditemahi ing Pasar Seneng: dheweke bakal dicidrani Puspayuda, putrane Rangga Puspawilaga. Ora watara suwe, Demang Wanapawira tumekeng kana lan tansaya gedhe krentege marang Rara Sudarmi meruhi Rara Sudarmi prapta ing omahe mbakyune. Ing jroning manah, Demang Wanapawira ngersakke Rara Sudarmi. Candhaking pangangkah, kanyata Mbok Nitisari njodhokake Demang Wanapawira klawan Rara Sudarmi. Cekaking carita, Demang Wanapawira lan Rara Sudarmi padha prajanji disekseni Ki Niti dan Mbok Nitisari. Rangga Harjadipura ing Kepanjen Semanu nampa praptane Rangga Puspawilaga kang duwe maksud nglamar Rara Sudarmi kanggo putrane, Puspayuda. Panji Harjadipura nulak kanthi alus marga akeh pawongan wus nglamar Rara Sudarmi. Praptane Puspawilaga kesaru tekane Demang Wanapawira, Ki Niti, lan Mbok Niti kang tindak Semanu kanggo ndherekke Rara Sudarmi lan Mbok Tuminah. Mrangguli kasunyatan iku Rangga Puspawilaga ngelek-elek lan murka marang Demang Wanapawira: geneya Demang Wanapawira tansah munggel pangangkahe. Rangga Puspawilaga banjur oncat saka Semanu. Sawuse Panji Harjadipura diaturi kedadeyan kang ditemahi Rara Sudarmi, piyambake nyrengeni putrane marga ora pantes lan ngisinake sawijining putri panji lelungan ing pasar tanpa lilah. Ananging, Mbok Tuminah lan Demang Wanapawira nyritakake kedadeyan sanyatane lan wewatekane Puspayuda marang Panji Harjadipura. Saengga, Harjadipura lerem dukane. Wewangunan ing Kutha Praja tilase Alas Nangka Dhoyong tansaya akeh, rame, lan ngancik rampung. Sanajan mangkono, marga rasa kuciwane kang rumangsa tansah dialang-alangi Wanapawira, Rangga Puspawilaga ngirim ‘para jago’ sarta sakehing bala kanggo merjaya Demang Wanapawira apa dene Nyi Niti. Upaya iku tansah ora kasil. Mriksani lan mireng trekahe Rangga Puspawilaga kang kaya mangkono, Adipati Wiranegara ngawasi tindak-tanduke Rangga Puspawilaga. Samantara, Kutha Praja wus dumadi lan bakal diresmekake dening Sultan Hamengkubuwana I. Kanggo mahargya acara,Panji Harjadipura usul diadani sayembara njemparing, kanggo golek jodho tumrape Rara Sudarmi, uger akeh para punggawa sarta pawongan kang nglamar Rara Sudarmi. Sayembara njemparing bakal kaleksanan kanggo ngramekake peresmian kutha praja Gunungkidul kang anyar. Adipati Wiranegara sepisan maneh ngalembana Demang Wanapawira marga bisa mangun kutha praja kang asri lan endah. Adipati Wiranegara nglapurake karyane Demang Wanapawira marang Sultan Hamengkubuwana lumantar Patih Danureja. Alas Nangka Dhoyong malih dadi kutha kang asri. Rakyat padha remen lan muji Demang Wanapawira. Mangerteni kahanan iki, Rangga Puspawilaga panas tambah panas atine lan irine. Marga wus peteng pikire, Rangga Puspawilaga minta sraya Maling Aguna (sawijining tokoh saka wewengkon Bantul) lan sagrombolan jago liyane supaya merjaya Adipati Wiranegara, Demang Wanapawira, Nyi Niti, lan Panji Harjadipura kanthi maksud madeg Adipati Gunungkidul lan musna kabeh wong-wong kang dianggep mungsuh. Panji Harjadipura meruhi rencana ala iku banjur lapuran marang Patih Danureja. Patih Danureja ngutus Raden Mas Baskara kanggo nggulung komplotane Puspawilaga. Peresmian kutha kabupaten ing tilase Alas Nangka Dhoyong kalaksanan. Sadurunge gawe ontran-ontran, Maling Aguna lan balane ditangkep. Sayembara njemparing kawiwitan. Puspawilaga melu sayembara. Demang Wanapawira menang ing sayembara. Sultan Hamengkubuwana I maringi tetenger Kutha Nangka Dhoyong kanthi njupuk nama saka ‘Wanapawira’ digabungke nama ‘Nitisari’, dumadi ‘Wanasari’. Saiki lumrah kaserat ‘Wonosari’. Ana maneh sawetara panemu yen nama kutha praja Gunungkidul kang dumadi saka mbabad alas iki asal saka ‘Wana’ kang ateges ‘alas’, lan tembung ‘asri’ kang marga gotheking pocapan dadi ‘sari’ ateges ‘endah’. Minangka sesulih, Demang Wanapawira diangkat dadi adipati kanthi gelar Adipati Wiranegara II. Panji Harjadipura diangkat dadi patih panitipraja Kabupaten Gunungkidul. Ing wekasan, Wanapawira lan Rara Sudarmi nyawiji. Mangkono Wanapawira, (‘Wana’ memper ‘wono’ ateges ‘alas’, ‘pawira’ ateges ‘wong lanang-kendel-prajurit’)], bisa ‘mbabad’ samubarang kadurakan kang ana ing sakiwatengene, kepara kang tumanem jero ing manahe, dhewe. Yaiku ‘alas rowe’ ing atine. Tamtu wae sinengkuyung ‘ngelmu’ lan ‘sadulur’ kang bisa ndadekake piyambake ‘tukang babad’, kang satemene. Sumber crita iki saka crita lesan (waca: crita rakyat) kang ‘sawetara’ isih ngrembaka ing wewengkon Gunungkidul sisih lor-kulon. Katuturake dening Sastra Suwarna, mantan Kadhus Piyaman I-Gunungkidul, kanthi owah-owahan kang rinasa prelu kanggo panulisan. Ana maneh sawetara carangan kang ‘uga’ isih ngrembaka ing wewengkon Karangmojo-Ponjong-Semanu babagan dumadine Kutha Wonosari Kabupaten Gunungkidul; kang surasane rada beda ‘kepentingan’ karo crita lesan versi iki. Utawa versi babad sing ateges ‘buku, naskah’, kang ‘sumimpen rapet’ ing jeroning Kraton Ngayogyakarta. Babad Cirebon (1/3) by wayang in Kitab & Kidung DANDANGGULA Pan Sinegeg wau hingkang banting diri ingkang kocap ingkang para Oliya woes prapta hing Goenoeng Cerme sampun musti hing pangestu tanpaliyan dinungnung kapti anging Allah tangala tarkinning pandulor Sultan Demak dadya ika peteng ribet hing wengi kaliwat dening tingkah anjandung mratuwa. Sunan Jati tan samar lamonning ingkang mantu anjangdung mastaka adan mijos kadikane luwih becikking tuwu ja mati sahid angulatti pati apa pan iku kang bagus lan ning mau pan wus ana manusa yen ora nahurra. Sultan Demak ing kalangkunging sapanigan tan kang kataturan kalangkung dedet imanne dupi dangu pakemut yen moliya ana amawi pindo ping telu ujar babar bener luput adan wijilling aturran langkung kasuhunan hing rama andawuhi kula darma lumampah. Sampunira ingkang sami tarki pan awangun tanajul paningal tumurun sing Gunung Cerme prapta hing susukunipun bani bala sikep ngebekti ana hing tanah Jawa marmane hing ngaku sakabehe kakasih Hingyang wusti narima iman islame dening ajallawangajan. Sigra luwaran ya punika nuli Sunan Jati hing panatukkira sarta wali kabeh ika pan sami rawuh pan sadaya lumampah aris warna-warna kaisanira lunta lampah sampun pinayungan dening mega ya Sang Jati uning binarissan dening teja lan kukuwungan. Sunan Kali niti kuda lumping ginentanan reme swaranira sarta samuride kabeh dadi uparyara anut angebeki hing marganeng ngapit asring wane kang sepak wane larad-larud Sunan Bonang lampahira Ngentiring angin Leler kadi sisilir Susulur rampak-kampak. Sunan Kudus angentir ring wari lagelurran kaja sangkar katapak hing banjir bena banyune Sunan Giri rumasuk hing sapancorongeng Yang rawi Syeh Katim lumempat kadi kilat mabur niber alepas sing paran Syeh Mulana Magrib anitihi keris meber hing ngawang-ngawang. Syeh Maja gung amendemming bumi ya Syeh Bentong ingkang awor lan mega Sultan Demak lampanya lon lumiring hing Sinuhun lampa liri hing ngiring dening lampah bala wurahham ngebeki madya gung sampun prapta hing pakud yan wau wonten ingkang winuwus mali. Gedeng Tegal gubung sira matur alon hing Jeng Suhunan Jati karsanira wau ngideppenna Sindangkasi masimogu munggiya Jeng Sinuhun amaringi idin Jeng Gusti Sunan Jati patarossan hing Pati Kerring wau sapira baya ta sira hing rempuge iku Dalem Sindangkasih matur kang dinukking sabda. Inggih rempag yaktos Sidangkasih dereng idep wau gama Islam mengga balane sakabeh Jeng Sunan mala sampun wus maringi idin sireki amangkat Ki Gedeng Tegal gubug mintar sampun samaptaning wong ayuda wus angrasuk sakaprabonningajurit sinigeg hing lampahira. K A M A L Akocap hing Masjid besar para wali riset denging arah mangkat jumah wus adan Sang Datukkafi Syeh Katim nyekel cin wus tampi mawacanipun Sunan Jati sakala eca-eca gennya linggih Sunan Kali wus tampa yen Sunan Purba. Akutbah kang sarta imamma mangka enggal Sunan Kali maos kutbah mangka enggal lalagon kutbahe kadi wong agodungn kakawin marmane kaya puituniku Sunan Kali uninga yen bakale den pojokke setelah katam kutbah. Pangeran Makdum memberi ikamat Sunan Kali sampun imam amaos fatehah kadi panggalekking dangdang ngelak anggalek galajem gosti tan nan liyan mali amung Pangeran ngami-ami kenang ngapa iki bae kenang ngapa. Sunan Kali wis uninga hing sakarep teging ngati mangka aningsat kang sinjang dumadi emmase kesti sampuning salam nuli kamat mali arya Makdum Sunan Kali anabda parangsa ta hing sasepi sesepi Syeh Majagung diko jogjana Imbang. Pandingin duk musawara wus kamotting para wali ana jalma murakabah hing liyan masingupeni ca bawaning liyan mungkin mangkana Pangeran Makdun lunta hung salattira luhur asad ya muparid sampun bada asalam majemuhan. Sunan Kudus angandika pinasti tan dugi iki sasanga mali sampurno Sunan Bonang anambungi sabda sumang kina makin tan nan luhung saestu Sunan Giri ngandika Akeh-akeh jaman akir Ya manungsa kang luhung Ya owah-owah. Sunan Jati angandika kari angko jaman akir laksanane ora nan angandika Sunan Kali ilanga pisan mangkin mangsa anaha kang punjul saking wali sasanga aneng nusa Jawa iki Sunan Jati dumuluring hing Syeh Mulana tampi saking dukking tingal Pangeran Kajaksan mangkin kandikane ela dala angopenni hing liyanning sarta karsaning widi jan dikamangke kalangsur hing wali sanganga mankin kang katela nama wali iku ora. Hidepe bawaning liyan kala ning salat sayakti Ikram miraj lan munajad sami amangkin tubadil Pangeran Makdum adi wus tampi karananipun anarima hing candah kula nuhun inggih tedakaken pan inggih jasad kauloa. Darma lumampah hing karsa mingga tumurunning ngasil boten darbeni karkat hung sagunging para wali kang mawa luta mangkin yen Pangeran hing Makdum wurung daja oliya amungia Mukmin utami risedenging abukar wali sahasta. Kocapa Suhunan Purba hing purta tebing alinggih tan liyan hing ngarsanira amung Mulana Magrib tuhu ingkang pracayaning Sinuhun hing kinadawu anyepengi katandan sing akokuman pasti Pangeran Kajaksan sakahommira. Ingkang ngukummi hinh kana hing karsane Sunan Jati tan jumeneng kukum rajam rehing laipping nagari beda lan panapri Demak Bonang Gresik Kudus genggenging Panagara prandene tan den tapaki mung warninig kukumman hingkang den tapak dupi hing Cerbon nagara yen dosa satengah mati kaya maling lan wong ala mung den belok kinunci yen dosa iku pati matenni padane makluk tinelassan pinatennan wong Kajaksan kang duweni gih Mulana Magrib ku imammira. Ika sadeng makumpullan ana hing Made sakundi Pangeran hing Karangkendal Gedeng Panguragan istri miwah Jeng Sunan Kali kang reka kuta pikuku hing Cerbon panagara mangkana nabda Sunan Kali kita diddel kula kang bandawasan. Kula pendemmi emas sinangling laksana luwi Jalma mara jalma pejah Singamara singamati Yen ana musuh sakti Saking kidul den sareju Jaganan aja weja Pon tan nana giri rusik ya hing musuh sirna sampurna Salamet sira. Sabda Arya Karangkendal gih kula anyanggemi kuta hing ngeler punika dadar kula pendemi candana wulung wangi peteng ribut buana yen ana musuh nekanni saking ngeler den sarejo saponnana. Pon tan nana baya teka hing musuh sirna sajati salamet rahayu sira nabda Gedeng Rara Muning kula anyanggemi kita kilen kula bangun emas ingkang kinarya warni kodok amandemmi bumi laksana teguh rahayu tan pasah. Yen nana musuh tumeka sing kulon guna asakti den sreju sangganen rampak pon tan nana giri rusit hung musuh ku sirna di salamet sira rahayu Sunan Jati ngandika Isun ingkang anyanggupi Kuta wetan banguning wesi wasana. Purasani pinendeman hing bumi laksana luwi tegu ya tan kena owah yen ana musuh nekaning saking wetan yakti iku cangkolana den sareju tan ana durga baya salamet sira sajati besuk uga reba hing kuta kang papat. Lawan kang karya wus sirna sakarna dengging kuta iki pakarepane wong papat ingsun darma angrempugi siji Syeh Datuk Kapi kapindo mas Ayu rangkung kaping telu Siti Bagdad kaping patte iku maringkang Pangeran Panjunan iku si wongge ana. Sunan Kali mangkyan ngandika Sunan Jati dela maning kaping do pinolar putra sareng cep hing ngangling abus potusan saking angaturi atur putra Jeng Sunan Demak dadapur ngaturi uning inggih Pangeran Pasareyan wus sumalah dalah sampun kaulessan menggantu gusti ngariki enggal kesah Sunan Purba hing ngiring hing Sunan Kali ika lakuning wali. Tan nagangu nulya rawu maring nagari Demak Ratu nyawa anyungkemi krona bangetingpadane Jeng Suhunan. Sapinten baya kaula rumihin tuwan nyanggemi kaken hinen kang hubaya kulopun makaten malih angandika Sunan Jati aja nangis kaji Ratu lakinira tan seda pok delengen iku urip sareng layon musik sarwi angandika. Rayi aja nangis sira pan si kakang ora mati tan lawas tinemu uga kalawan si raka maning balik yen sira nangis hing wong tuwa naenutu besuk tan panggih pisan kalawan si kakang toli Suhunan Demak ngandika maring Suhunan. Girikadaton punika tuwan tinggali Sunan Jati tebeng nyoba karamate mala mayit sirna kinubur tumuli mangkana Suhunan Ratu gewuya mantu babahita kalawan Suhunan Kali nabda hidung sisilir paparahu mancung lastari lumarap. Mangkana nitihi palwa meh kiren dan Sunan Kali malah miring kang palwa ana bancana nilihi nabda kidung sisilir miring-miring paparahu baita alit wonowottan pinan ngantennaken toli Syeh Lemahbang wong sajati wahessi ala ana wong binajang kara pinangantenaken toli. Malesse nungang titiyan keremming prau denneprih enggal ical tumuli kang tumut niti parahu lampahira wus prapta hing Cerbon wali sakalih kang kapungkur watek Sangyang binabaran. P A N G K U R Kocap Gedeng Susukan sad ja nipun purwane andingini lakune wong Tegal guso ya enggon lumakuhing prang seja nira Sindangkasih kan jinujug dalem digja wus uningnga den arah hing idep Muslim. Mangka dalem digja sira sinewaka sagongging para Mantri dalame digja mangke maewus lah sira den prayetna hing tekane musuh mosset aja cenguk sedenge babarana banteng ulu Sindangkasih. Iling wawakidding wong kuna hing bedahe iki balabar waring dadi rimbagan kang estu bedahing praja kita jaitan ganti wedaling waring sing datun nemba matur kang tinita hing sabda pakonning gusti. Sumangga jiyad Sang Nata Mantri pitu saragep atampi kang warring sampun ning ngulor binakta hing pawates san hing watesse sampun pinanjer luhur kababar kubenging praja tampinge wus kinemitti. Tan nadangu praptanira Gedeng Susukan sabalanira ngiring anuju Prawata sampun warring sampun kalembak datan angsak wau dateng marginipun Gedeng Susukan tan bisa amiyak balabar waring lir kuta wesi ika pan ategu keker hing waring wing Sindangkasih kalang kung gumentur swaranira yen Susukan amimpes hin jayanipun wong Susukan mere saja monongtonalaju hari. Munggu Purba wicaksanan melehaken ingkang sanggup angidepi kocappa salajuhipun Gedeng Tegalgubug sira moiwa ingkang saka wula bala nipun kang waring sampun winiyak larutte wong Sindangkasih. Lumajeng Sang Dalem Digja pankalangkung wau giris hing gali sidakep emutte ulun bedahe kang wasiyat nulya muja hing Dewa nuhun pitulung kumpuling garwa santana arah ambles maring bumi. Muwa kang subawa putra sigra musuh kang subawa prapti Sangyang Dalem sirandulu hing musuh ora bisa ya pedekkan wara Dalem samya tumut Putri loro kang kacandak nama Raros lawan Riris. Kacandak sakalihora wau dateng Tegalgubug sami ana guru swaranipun aja tambu besuk ana bumi jebug ya hing Sidangkasih iku apesse kang watek jaya duriyat ting wong lino ewih. Dumadi salin paparab nganggo ambek bidakwalaka nuli tan paji nganak putu darmane kang kelingan mung samono iku hing wawangsis ipun wong Tegalgubug miharsa agung gegetunning ngati. Sigra mangkat wangsulliran Tegalgubug hing sabalaniki wong Susukan ngiring sampun lampanya duduluran wong Sindangkasih sakabih tan nana kantun den kerid arsa ngaturena maing Kanjeng Susuhunan Jati. Tenga wengi alalampah sarta sira den gege lampah neki Sunan Jati kang jina ejug ya Sang Putri kang sapasang angreb hing Gubug sawah tanna dangu kaslir daya mingetan gumanten asmara guling. Gedeng Tegal orang kangkat Putri roro ika wus den karoni ingkang pinara hing wuyung ora kangkat langgana sampun tutug hing ngadep pinangku lulut sakoro sang ngadi warna pan samya gegetun ning kaptin. Wonten carita winarna Sunan Jati kalawan Sunan Kali Tebeng hing waringin pitu sinare hing Gunung Jati punika Pangeran Majagung saja ingkang nuwunnu sajati. Katelah pala langounnan ya winangun kali kasaru kang prapti Gedeng Susukan umatur nuhun duka sampeyan gih kaula angsal damel supaya karebut purwanipun Dalem Digja pejah kaulena pademmi. Raja dunnya kula jara mala angsal kula Putri kakali inggih ingkang bade katur dateng ngayun sampeyan wasanane hing marga wonten kang rebut inggih yaktos Gedeng Tegalgubug awon begal margi. Kanjeng Susuhunan ngandika aja matur sira pangucap ngisis cela hing wing padading makluk bok sira kawalessan najan Tegalgubug make iku den wehaken mangko uga maring isun ngalap rahi. Layen gede gawenira Dalem digja kongsi sira jarahi sun ganjar sira satuhu sun jenengaken sira Pati umyang matur nuhun kang liningan wau tan dangu praptanira Gedeng Tegalgubug mangkin Nembah ngaturri boyongan Jeng Sinuhun ngandika hing saiki ya si Gedeng Tegalgubug sun jenengaken sira Pati Rusu ana dening Putri iku roro iku sun tarima nanging kanggo sun paparing. Maring sira raben nana mung kaula bala hing Sidangkasih sing sakahe isun pundut daja ha angabde amat isun muwa anak putu kang dadi Ratu Pati Rusa matur nembah kator sumangga wondening. Paparing kasuhun pisan Sunan Jati angandika sarwi gumujeng tenganne iku ambeler kenang ngapa ngaturaken pepesan kosong ya iku Pati Rusu ara tampa Sunan Kali mimiringi. Henggal sampun apamitan tekang marga ika mangkan pikir yen dewekke babarujul putri hing gubug sawah sigra wangsul tumanduk maring Sinuhun satus sewu nuhun marga sapura Sinuhun Gusti. Putri paparing sampeyan sampuning kula nuhun inggih katurmalih hing Sinuhun Sunan Purba nandika Pati Rusu isun tampi aejar luput ya sapisan ujar ingwang tan ana ujar kakalih. Lawan isun angapura ingkang luput anjimah hing Sang Putri lan samangke wus lulus dumadi rabinira matur nuhun inggih sang Pati Rusu dumadya hing pamit sira kapungkur Sunan Jati. Tumuli sang Pati Sumyang matur nembah nuhun palamarta ugi bebendu dalem sasuhun Putri ingkang satunggak kula kaehun pedahe hing wau nipun sakalih angsal kula nuhunaken waris wiji. Ngandika Sunan Prabu kenang ngapa hinmg maune ora muni hing sadurunge iku mau dak wenehaken nesak sok jaluken dewek sira iku suka atine iku iya maring sira isun idin. Pamit enggal Pati Sumyang sigra waole mala pinanggi hing marga wau den bellik Pati Rusu mandega sun tuturi ora karsa Sinuhun Putri siji iku baya pinaringaken ning mami. Sang Pati Rusu garjita ora suka isun den jaluk iki kasingane sira iku sing maune ya wis salah dora cana supaya mungguh Yang Ngagung ora kilap ingkang ala kalawan ingkat acik. Kalesan Pati Sumyang sigra mantuk tur sarwi madingcing sareng lamining tumuwu Pati Rusu kekesahan ing Mataram nembe dateng wonten Mudu congkewak balik karasa ana durjana nekani. Maring tuhu wisma nira sareng malebet hing wisma anemoni Pati Sumyang babarujul mangka enggal jarangang jogol banting binanting samya asureng tuja tinuja sira Pati Rusu kasuliring. Kasaleyo saerung tiba mangka Pati Sumyang sareng ningali musuhe tiba arubu linggar hing candakira iku ina musuh lawan kangwis rubuh lepas katilar kang yuda. Pati Rusu enggal tangi ngucap dening kanihaya kiyong ngiki sun puja hing Yang Widi ajana kiyong tumuwu ana hing sawah kita lan pumali sakehe wong Tegalgubug jojodon lawan wong Susukan aturung tumedak ngakir. KINANTI Wonten kocapa winuwus kang wau lagya alinggih wonten hing Ardi Amparan sakawula warga sami wau samya wirahos kalayan kang abdi neki. Sigra ngandika Sinuhun maring ingkang abdi sami Gedeng Panderes san ingkang cepeng gendis hing nagari saking lahang gendis jawa wus datan nana kang kali. Dupi mangke tanem tuwu, pala wija tuwin pari undikaning teja punika Kuwu Dipati kanti lan Gedeng Dawuhan baktine Kuwu Dipati. Yen ambedo eng hing banyu pyambake kang dumadi antru hing banju kudu ega matok patang puluh bengi saumuring wong sasawah kaduga den samber dening gelap teka ora pasah duga kapendeming siti. Lah iku ing purwanipun Kyai Kuwu Dipati darbe sapa poma-poma anak putu hing sawuri aja pada anganggowa kulambi kadut pumali. Embok ora kaya isun nuli tan antara lami putra Sinuhun kang nama Pangeran Jaya kalanaiki karsane kesah adagang nyabrang tiwa-tiwa dadi. Nilad putu sabrang wau adagange mring di endi angambangaken baita sigra alayar tumuli. Dugi maja ning laut katampeking angin dade dumanja kerem baita Pangeran satitik maning karungkeb kang palma nira tan dangu kombak aminggir. Pangeran langkung gegetun kang ibu Nyai Rara Jati sabdane aja gagabah wong dadi duriyat wali ora kena laku dagang drawaka kaduli-duli. Kudu nganggamanah sukur aja tiru-tiru kadi putra Sabrang wus lumahar Pangeran eng ngetting kapti dadi kang dunya den hina prasami dipun buwangi. Telas dipun rawur-rawur dadi babali amiskin kapiluyu angumbara milu lawan wong birahi karem byangan aneng guwa anitihi kuda lumping. Angigel lumaju-lumaju tur mawi den kulintingi ana kang sawane genta tarebangan siyang latri pohal pahil munggang arga tumurun gunung colak-calik. Sareng manjing guwa siyuk Pangeran kasadah dening walirang upas tan gagap kasirep dangu tan eling kantos telas hing sadino Pangeran dereng anglilir. Prasami den gotong mantuk Nyi Rara Jati anangis sambat-sambat anaking wang keneng ngapa maning iki ya Allah Tuwan Pangeran nulya Pangeran anglilir. Ing ngentuing ibu nipun kenang ngapa gumalidig anak puton Waliyullah ora kena angunggahi gunung Cerme bok dan kaya rama-rama dika Wali. Pangeran dumadi emut jaran lumping den buwangi trebange den buwang-buwang gentane dipun goceki dadi ababalik agaman lampah ekas lampah santri. Diyang dalu rabang rubung salat ngaos lawan dikir nunten numaking wong dagang penejane tumut kaji kang praone nengah lautan kabiyar kagawang angin. Prau katung kebing banyu akeh bandega kang mati Pangeran nitihi bahan aneng laut nuli minggir kantos kawan dasa dina tan weruh talata minggir. Den sara dening wong prahu katur maring Nyai Rara Jati kang ibu sanget karuna kenag ngapa dikasihi mancalo sing kadang dika polahe sabagi-bagi. Daja balahine agung bok ta anak putu Wali ing Cerbon bok ora kongang kesah kaji dipun eling mapan rama jengandika hing Cerbon wangun masigit. Kang minangko kajinipun wong pekiruna hing riki dika aja ilok murka aja akeh pohal pahit gugen nana tapak yasa rama ramandika wali. Tumuli Pangeran emut akulima hing masigit angramihaken Jumurah maos kutbah angimami hing salami-lami nira sareng hing kana tumuli. Pangeran kutbah ne gugur geger hing wong sa masigit yen putra Dalem atiwas waktu iku Sunan Jati siweg kesah datang Pajang hing kono dadi ariri. Gugatti Pangeran Makdum peki Abdullah Mujahid hing Astana Palakaran lawan Pangeran Darajat kalawan Tuwan Syeh Katim. Saking Kalijaga kumpul sami amirahos tejar Syeh Datukafi Kewedan hing manah dados atari matur hing Pangeran Drajat sapinten baja puniki. Pangeran Drajat umatur hing wong salah dan pinilih najan putra hing Nalendra kukum ora pilih kasih ya duku bae kokuman amung si sabar rumihin. Sami ngantosa hing rawee ipun kang lungguk Narpati aja kurang taha krama najan ga sampunnu wakil nanging prayoga ngantosan sapira tala hing mangkin. ASMARANDANA Yata kampo ingkang sami mirahos ingkang kukuman tan nancara hing lamine sarawu he Jeng Suhunan saking nagari Pajang Syeh Datukkafi umatur yen putra dalem Kalana. Tiwas gugur gennya wangil gugating para Ngulama anengge wonten takjire annunten Kanjeng Suhunan ngumpullaken kang para Pangeran gegedenipun kang aneng Cerbon nagara. Pangeran Drajat wus prapti miwah Jeng Tanda Pangeran Luwung salawe Pangeran Ugyannapora Pangeran Sidangbarang miwah Jeng Pangeran Parung Pangeran Hing Kedungsoka. Pangeran Pase sumanding miwa ika Raja Cempa lana Pangeran Sindanglampre Pangeran hing Cerbon girang Kyai Gede Kedokan Gedeng Jati Gedeng Sembung miwah kang para Ariya. Pandeleg gan Wandu kaji Jugusatru Kandurun Pencattanda Andamur Ander sadaya pinatarossan tan kangkat anglangkungana. Angandika Suhunan Jati dateng Pangeran Ugyanna mara metok kena age dinar ingkang kira-kira sabobotte si Kalana wuring sira timbangan iku nuli para ngedumena. Maring saking pekir miskin nuli ika si Kalana prasmya buwangen age maring gonning kang simpar ika hing Sagraherang wangen patang puluh dalu lawan uwis arya ana. Para Pangeran lumiring kalakuwanning jumahat endahing wong cilik bae kon njekel kutbah Jumah dugiya akir jaman duriyakajana melu hing laku imam lan kutbah. La miarsa sagunging ingkang sami hing ngayunan wus anut hina sakarsane ingkang amandita Raja hing cerbon Waliyullah hing tita muslika ipun sampun laksana sadaya. Wus tutug sapangandikaning wau Jeng Suhunan Prabu sadaya kula wargane miyarsa konjeming kesma miyarsa kang pangandika samya wedi asihipun lir lata kada wuhan warsa. LADRANG Risedenging panylongkang utama siji siji ingkang waraga, dening dad jatining Wali ya Syeh Bentong hing kamu sirna sumala. Sunan jati Sunan Kali anjenegi hing layoning Ohya Karangguyammi guriyangging Pandita Sekar Dwija. Sunan Jati lalurme saking dingin sami kesah mring ngetan lan Jeng Sunan Kali dateng Gresik amanggih adining tinggal. Hing sedane Sunan Giri pinang kaning Wali Jawa, sirna panetek abecik wus minulya pinangka Gresik Astana. Ginandikaken ingkang putra Sunan giri kang paparab Raden Akbar ing ngistrenan Panembahan Ratu aneng Girigaja hing luntahe Sunan jati Sunan Kali mring Surabaya lampah ningid kang sinajang kapti Sunan Ampeldenta mangkana kukilan. Kokok beluk nama Sang Duda wus prapti bakta surat sampun mapag hing lampahe Wali kali angatoraken serat punika. Dereng winaos ingkang serat punika wus uninga hing sawirasaning tulis Wali kali sampun aniti iku kilan. Malah prapta dalem Surapringga pati pinunjungan dening Sunan Ampeldenta mapan sampun wedi asih ing Suhunan. Mala lami hing hana wau amungkin wangun yasa babalongan kineduk tengah wengi dereng number paninjiling medal wulan. Pan katinggal bicak-bicak ingkang siti pangarjito Sunan Jati kang murugi Sareng pedek katingal rareng sapasang. Wus cikangking hing ngasta kanan lan kiri sampun mentas kang Balong kabeking wari sampun pajar aremme ingkang jamahat. Baya subuh Sunan Ampel amedeki dereng lisan wus wruh Jeng Sunan Jati bareng kang den sambat dening asta kiwa. Sinungaken wau dateng Sunan Ori Ampeldenta langkung suka hing manahe langkung nuhun kaula hing Ampeldenta. Pan Si Beluk punika katuring Gusti Sunan Purba wus narima malah pamit Sunan Jati Sunan Kali kaduluran. Hing karsane Sunan Ampel ika taklim dadya bakta kukila lawan bareng siji duk binadi oloyoli kang ning umah. Pinaparak wau dateng Sunan Kali kaki Bicak krananipun saking wari kahalape si Bicak kebeking toya. Wonten mali gantiyan kang pinadika Suhunan Jagapati ing Kudus nagara tuhu Oliya pugal ya tur dusta, tanpa liyan kang medeki. Arya Jipang ika kang katimabalan temah ingkang mejahi maha Sultan hing Demak rehing salah hing tekad sampun kawas kita dening Oliya Allah Saking Kudus nagari. Iya kupur Demak besuk mati deng sira estu sira dumadi bawahing parentah ana hing nagara Demak Arya Jipang anangupi pan sampun pamitan sigra kesah hing giring. Wadyabala samapta gagamanira ing wanci tengah wengi praptane hing Demak ana barangkot nekani kagila-gila tan kena den musuhi lah hing kana sumalahe Sultan Demak benca jaya mineki dening Arya Jipang wong sakadatong bubar. Burak sami ngunsi urip wane susupan sarpin bubar angngili apa maning Pangeran Rajanagara maring warna aningkir muwa Ruta Jawa sarta putra titiga Pangeran Agung duk maksi titiga warsa, Pangeran Wirya nengi. Yuswanipun satahun lan pitung wulan Pangeran Ruju mangkin yuswa tigang wulan tanopen ingkang garwa Sultan Demak agung ningkir Putra Suhunan Purba Ratu Ajukang linuwi. Kisah tebah saking Demak malah saja mantuking Gunung Jati kocap Sunan Purba lan Sunan Kalijaga sakalihe angrawuhi maring nagara kang layon sampun binecik. Binecik-binecik den nira Sang Arya Jipang ali kali anjenengi muwa Sunan Bonang Sunan Kudus hing rika kang layon wus pinetekking rolassaripa pada anduming waris. Sakukume Raja Barana sang Nata anging datan kawaris warni karajahan ika pinaringenna maring Arya Jipang nenggih wus hing ngistrennan Arya Jipang dumadi. Dalem Tumenggung pangaraning wisesa aneng Demak nagari rempaging Oliya samana duking karsa Sunan Jati ora salib Kang mantu Sultan dingin kinarsa sahid. Wus pariyat ingkang tata pranata ning agama kang muslim watek Sunan Purba mantuk maring Cerbon kali putra wanoja, Ratu Pangayu Dewi. Ingkang rangda Kanjeng Sultan, ing Demak puniki lawan nraja wawarisan dunya brana ika lan gamelan sukati gamelan kawaris hing Cerbon iki hing kukum mula mangkana waja sawiji. Ingkang nama Pangeran Agung binakta Maring Cerbon nagari katela kang nama Pangeran Cerbon ika dupi kang sawiji mali Pangeran Wirya pinupu ika dening. Gedeng Demang anang Losari kang parnan sangeting kinasihi katela Pangeran Losari ingkang nama Pangeran Ruju ana hing kang arana uwa Pangeran Rajan egaris. Kali kang ibu Ratu Mas Nyawa wonten gantining gurit Kanjeng Sunan Bonang mantuk ing Karamatullah Sunan Jati Sunan Kali wus aneng kana muwa Syeh Jagapati. Sampun sirna sumala hing kang aseda pinetek gunabecik ana kang kinarsa dening Wali titiga putra Sunan Bonang nami Pangeran Dipa ing ngistrenan sayakti. Pan jumeneng Panembahan Ratu ing Bonang anika panata gami ing sapraja Bonang tan nana langganaha ing ngarsane sangatbecik tita wisesa dino elunrang deng Hyang Widi. DANDANGGULA Wonten malih kang kocapong gurit mangka wong sabrang ngaja kang nama Tu Bagus Pase nengge babaktanipun. Waja gagaman hing sangunging prajurit kawan dasa duking sajan nipun arsa ngayomi wong jawa ing ngilmune hing ngamale kang sayakti maring Cerbon nagara. Mangka ana karamate Sang Jati sarawuhe wong Agung sing sabrang dadi sirna pijangkowe andap asor tumungkul daja sira wekas badami sasahat ngemumana dateng Ratu Ayu randaning Sultan ning Demak kang Sinuhun dening kang osiking ngati nuten naros kang putra. Ratu Ayu masi mingkung nuli dangu-dangu anderek hing karsa kang rama hing kandikane nabda wau hing Tubagus anakda bawa isun iki amba ngamal jariyah suka laki maring bawa mas kawine anak wadon mati sahid Tubagus wus narima. Rama ingiku ela angobuli ing pinangkahe ingkang putra rama mas kawine sakandikane inggih rama ing mau sampun nira sinaksenan dening Suhunan Kalijaga lan Pangeran Makdum Tubagus wus aningka jatukrama ika sedeng amutrani istri suteja warna. Pinarab Ratu Wanawati langkung sihe wau kang rama Pangeran Tubagus Pase mala ing salaminipun Ratubagus lajar aprapti kesa dateng karana titinjo praptanipun yen kala rawuh hing sabrang kacarita manuk pasek ika ngiring yen wus nrawuh hing Jawa. Manuk Pase asanak badani lan kokobeluk Ki Dudaraga malah sami bamine mangkana duking temu wonten malih kang kocap maning Pangeran ning kajaksan Syeh Mulana guru tebengira mamariksa wong kataton tan bisa aba ananing hing waringin pitu panta. Sampuning atra pariksade ki pan dumeter dawuh Sang Saliyullah dumugi maring sedah ya tan ganti araweh Sunan Jati lan Sunan Kali ambeciki kang seda wus sirna kinukur ana hing lalangan kormat lah ing kono marmanya Sunan Jati ajenengken kang nama. Tanda Wari ika kang gantosi ing cepenge Pangeran Kajaksan Mulana Magrib tandane malah wis kasuhur hing sapraja Kajaksan Pati kumolko ing Pangeran Kajaksan pangrantun lan anjenengaken nama Janapura cekelane-cekelane wangun picis timah ingkang kinarya. Ingnganggite kang Sunan Jati lahip praja ing Cerbon nika cepeng mikrab hari roro Sunan Jati kalihipun Sunan Kali hing pramilaning Sunan Bulki jaika sakaliji saewung kesah maring praja liyan Arya Makdum wau kang ngimami ing wahu lawang Pangeran. Ratubagus yen wonten kalaning anang Cerbon nenggih lamon lajar ya ta Sang Makdum adewek wonten sanes dinapur putra Sultan Demak kang yakti jalu nama Pangeran Rajanagara agung Ing salamining agesang Tansah masi angarah rusaking Wali Kang ning Kudus nagara. Ing sanggek hing ngamales puli ingkang rama sulta Demak yata recep pangikete ika ta Sang Tandajupu kang sinawitan linen hing sih pinanji janjinira sira Tandajupu aja kapalang sasanakan maring isun remanggana ambek pati yen besuk estu ugo. Sumerene Sunan Kudus yakti sun wenehi sira panguwasa apa dudune iku aja Jipang ing Demak luwi amasesa ing ngarat bayane sun tanggung ing ngadosa nganingaya sabab Sunan Kudus amimiti nganihaya mring liyan. Tandajupu sakedap angingsir cipta nirange lawan Pamajikan ningali upah upahe ketun sapuluh ewu lawan janji wisesa kening ing sakus nagaraTandajupu sanggup. Sunan Kudus wus uninga saingere panakawan anisip nanging tan sedi ing manah wus uninga ajale pribadi tan ningali wau panakawan anging yang Purba karsane sadenging salat subuh. Tandajupu prapta manjing anuduking Suhunan siweg parlu subuh tan pasah ingkang gagaman keris tugel kaduga Syeh Jagapari asalam ming salat tiro. Angandika Sunan Jagapati yen sira rep anguntapena patinisun sayektine iki lo keris isun sudukena iga kang keri tan kelak isun pejah dening keris isun upama sira prajaya lan gagaman liyan saking keris iki ingsun mangsa matiya. Sigra nubruk pada aglis Tandajupu tabat sruh karuna sumangga kaula suhun Sunan Kudus aris mangsuli aja samono sira tulekena sanggup pon karep pira priyangga ora liyan iku karsaning Yang Wido sira darma lumapah. Tandajupu matur nuhun gusti boten sanggem kula nguntapena dumateng hing sumerenne Gusti kula Sinuhun sampun kringgit hing sajroning gali sapinten nraka kula murtad dateng guru lahere mangsa wontena ing ngukum bantosse ta kados pundi kukume hing ngakerat. Sunan Kudus angandika malih iya luput iku ujar ira balik sira yen mangkono mogoking ujar isun ora sida sira mateni maring sun wus nyata naraka ing besuk sabab lakunira bantah maring gugu wong duraka iku pasti duraka maring Allah. Lah ing kono sigra mampenni Tandajupu hing duhung Suhunan sigra linaksanan age iga wekas sing pungkur sampun sirna wapating Wali udan angin diwuhan ketug lawan lindu silaking teteru mangkat ya pinetek bun ecik pan sirane hing Bersoci Astana Surya Ngalam. Sasampuning Randajupu dadi ing ngasrahan jeneng kautaman Dalem Pati ing jenenge Wisesa aneng Kudus ing pagaman durga mandi nan kumidep pira miring kang prentah wahu Rajanagara aneng Kudus ika kang angresti lewi kina puja ing agama besar. MEGATRUH Pan mangkana hing Demak Dalem Tumenggung amiarsa Sang Wali sumerena dipun Tandajupu kang mateni Tumenggung Demak asolat. Sad yang rejek mring sang Maha Pati Kudus ing wayah tengah wengi kadya lampah duking wau hing Kudus aloking jalmi lamon tatkan barangkot. Malah sirna pejah sangapati Kudus Arya Rajanagara mring Praja Pajang lumayu angaengsi gesang nusupini Sunan Pajang duking enggon. Pan mangkana kang jaya Pati hing Kudus ika pitata saking Tumenggung Demak adawu nama Papati gaganti neng Pati kang sirna papan. Wonten malih carita kocaping tutur Ratu Madapa duk dingin tatapa ana ing Gunung Ajar Sukarsa mangkidi salawe tahun ing mangko. Wus agenep salawe mangkana ayun ing saja angluwari mangkana kuliyang runtu den alap ika tumuli dinahar dumaja bobot. Tekeng waktu babar teja warnanipun istri tur pinarabi Tanuran Gagang Rahayu elus salam eting ngaurip arupatur aman corong. Kapirsa wau dening Raja Lahut ing Jakerta Narpati mangka sinengkeran sampun arah binadeya kening ingkang putra ya Sang Katong. Ingkang nama Pangeran Jakerta Talutur malah wus aneng wuri Jakerta ika Sang Ratu Tanuran Gagang sarehing kang ngibu tan kangkat mogok hing karsane wau Raja Lahut marmaning kinawuri mamareking maring kabul hing panedana dingin kang ngibu maring Yang Manon. Asring malah sang Raja Lahut arawuh tunduk hing Cerbon nenggih punapa dening Sinuhun nunten Arya Sibangkingkin kali putra jalu anom. Lah ing kana sedaning putra Sinuhun Jati ingkang nama Jayakelana kinubur ing Epung parna pinuji narungtun tanpa gagantos. Ki Syeh Katini Syeh Agungrimang ya mantuk hing adamme lan maning Pangeran kajoyorang agung Pangeran Drajat lalis Pan mangkana duking enggon. Ki Syeh kantiyam sinare Kalijaga wau Syeh Agung Rimang ana ing Etuk Pasareyannipun Pangeran Kajoran menggih Kamalaka duking enggon. Agung Gegeden samya sumeren sampun lir pagebug nitisi karangkendal kangrumuhun sami seda kinarossi gegeden sok liyaning wong. Yen sedane maksi jumeneng Sinuhun saenggon enggon dapeni ora ngebon akumpul kang wapat sami winanggon. Kumpul ana hing Gunung Jati lainantun kang satemene hing jalmi ragane Sinuhun Yuyut anaha kocaping gurit kang tuhu Suhunan Katong. Malah karsa amanggiyakan kang putu sami putu kang nami Pangeran Cerbon kaliyanipun nama Ratu Wanawati Tubagus putrane wadon. Mapan ika sami dereng balegipun saksi Susuhunan Kali lawan Pangeran Makdum Tubagus agosti angling ana pikukuninging Manon. Amba ningkahaken kang wulang ngum Sang Ratu Wanawati maksi wuwojang tinemu maring wayah rama tinggi kang nama Pangeran Cerbon. Mas kawin duwe anak yatim tumuwu Sunan Jati angabuli anarimakaken isun paningkahe putu istri kang sing anak wadon. Ingkang maring putu sing jalu maskawin anduweni anak lanang ingkang tulus dadi yatim mangka mami anging si kana pitumon. Ya sampingi andua Suhunan sampun watek bala lan santri maca amiri sampun tutug sinaksening wargi ajining kangken Suhunan Katong. Muwa Dalem Raja Lahut aneng riku Ratu Winahun nenggih Raja Pajajaran kumpul anaksesni ingkang kawin lucu titingalaning wong. Wantu penganten kasemening umuripun Pangeran Cerbon duganing yuswa jekjek gangsal nahun Ratu Wanawati dugi yuswa tigang nahun mangko. Duk samono pranataning Masjid Agung imam kang siti ganti Sunan Kali Sunan Ratu Pangeran ing Makdum maksi akamat cekalaning wong Syeh Datuk Kafi ika waman aksanau Kapindo Modin Jati Lebe Juiman ping telu Buyut Panjunan lan maning Sunan Panggung namaning wong Pangeran Janapura kaping nemipun kang ada tengete maring wawacan lami tumuwu mangkana Suhunan Jati anetepi hing Sapening gon. Duk kang serat cacangkokhika muwus he Sunan Sebangkingkin lahu putu nira iku lunga kaji sira mati anakira pan samono. Iya mati lawan karsaning Yang Ngagung mula Muchamad Kapil hing besuk jumeneng Ratu lawan wasiyate Kanjeng Nabi samono ungeling godong. Kang sinurat kang godong sampun ginulung cinakotaken mingglis mring cangkeme Naga duhung sigra akeris tumuli amiber lir kaja elong. Pan lumrap abure kadya andaru hing wayah tengah wengi wus prapta panaja nipun mara ing Banten nagari gegering wong sakadaton. Agung alok hing jana mastani andaru dawuh ing Sibangkingkin Sunan Banten kagum-kagum dupi winaspada keris sang Naga anyokot godong. Pinariksa godonge akhisi kurup tulis akonna kaji Sunan wis tampa hing kalbu yen erat saking kang jagi hing Cerbon Sinuhun katong. Sunan Banten ika wis wangun wawang sul Tulise salaka adi Lan tulis kancan murub Hing sacacangkoking tulis Kang duhung mesat aganitos. M I J I L Lingsir wengi sang duhung aprapti dateng Sunan Katong tiningalang kalangkung baguse angandika Suhunan jati budening kumaki niana kang takabur. Pira lawase kita hing ngahurip marentah bala wong mangsa teka hing duriyat kabeh gon wisesa hing bala lit ora liwat benjing amung sangang turun. Wus angandika samana atoli Sang Suhunan Katong dan sidakep hing siti sumare alelemek punika ronning rudamala siji akrengulu watu. Kang muoes taka ngetan ngujurre baris dadi mungguh kulon kadya salat hing ngupamane wanci sahur Suhunan Jati wapat anjegjegi umur satus punjul. Rong puluh tahun mangkana nenggi Sunan Kali gatos wawara hing sanak wargane kabeh lamon ika Suhunan Jati sumala hing ardi gen kentaki kang luhung. Mangkat gumuruh kang jagat asisip kayon pada rontog sasatowan pada muni kabeh kad ja toya anmbur atrih kang swara gumuruh gangi ketug lawan lindu. Sila karikil pada gumatik Bumi anggerem anggembor yasang Gunung jumegus swarane ya gumen jrang kumandanging langit Srangenge amuni gumarangsang nguwung. Lir ta dening panangising Ejin jajahan alok pan gumuruh ika ing tasbeke malaikat ika medaki saking ngara hing langit maring puncaking Gunung. Ing kang wayah linajar reken age kKesah kaji binaktani pasangu lang janji mampir sajan jujug. Dateng Mesis aminta kasih pan Sultan hing kono maring rayat iku satemene tuturra kanda kang sejakti lawan iki bukti tanda rama lan Sinuhun. Ingkang aneng godong kang tanta aking lahiku ing kono pinto kena ing tanpa ngandelle Sultan Mesis hing Sireki minta apa aparing pusaka ning luhung. Pangeran Muchamad atampi pitung kasseng gantos pan anembah sigra mit mangke sarta godong kang tanpa lum aking binakta akaji kocapa hing pungkur. Gih Pangeran Muchamad atampi ganta tahun mangko wau Sunan Banten sumeren dadi manggung ika angantosi ingkang kesah kaji ingkang ngadeg Ratu. Kocap dalem Jajaketra talu turu kang jumeneng ngadeg marpati diparagab maring ingkang warna Ratu. Tunuran gagang mamaning Putri arsa sapaturan nunten miyos agni sing bagane maha dalem wis wandane aguling kalawan Sang Putri gyuwane satuhu. Mangkana ngucapa lah iki Sang Putri ayu tanpo dono mung cuwane tan guna gantine saban asa isung guling medal saking parji agni ingkang murub. Ing marmane Tanuran gagang kasesi cipta kaning uwong tan takanggung tan kacipta salirre teba dinum kapanta rabi pareng Dalem maji hing Cerbon tumanduk. Maring yuyut Sinuhuning Jati nama Arya Cerbon nembe umur sadasa jejege Ratu Gagang tumut angiring ika sasiswan ning pedekkana lit tan wruh. Kinare menan ing kana dening Pangeran ning Cerbon Sinuhunaken punika sukane Dalem Jaketra dadi hing Cerbon pinundut. S I N O M Kocap malih Sultan Demak kang putra Sultan Demak dingin ana wartane yen ika karsane amales puli kang rama duk dingin sedane dening Tumenggung Demak dereng samapta wis kawarta maring Tumenggung ing Demak. Tumenggung Demak alanglang wataraning tengah wengi mrajaya ing kanin binedil sumala mangka nuli Tumenggung Demak kang nuju kang putra Sultan Demak kang mangke ingkang dumadi Panembahan Madiyun duk pinang arah. Dening sang Tumenggung Demak ayun malih pinejahi supanten kasusu bubar Panembahan ingkang ngili maring Pajang dumadi kawula bala kajuput kagawa maring Demak la hing kono purwa kaning Ki Tumenggung mas huri yen anjalok etang. Singa-singa hing nagara binarang kot pinalu hing marmane Sunan hing Pajang darbe sembara hing mangkin sapa ingkang nguntapi ing Tumenggung Demak iku pasti pada kang nagari lawan alas Mataram geneng nagara. Malah agung para Nata Bupati manca nagari tanopen kang bidak nrama kang sami agenging agati hika kang saja angarah ing patine Dalem Tumenggung supayane Dalem Demak sato mara sato mati jalma mara jalma mati tanpa sala. Guna telu lan tragnyana upas tan nana mandeni ingkang samya angarah ana wadag ana demit lir ing demit upasi yen wadag subawang nglurug prandene ora nana kang nemu dalaning pati engganira Tumenggung bawa ing Demak. Ana dening kabisanira Sinapati maring alit maring sanak maring liyan jar dingine olih idin saking Suhunan Kali marmane ika Sang Ratu abawa kaduluran sahinggake kang pinambabrih ya wong Cerbon malah asring so bawa sanja lan ta mahune pisan. Dalem Jaketra kang nelir pan samono lamon den gawaha nendra mangka pinonta pininta deng Riya Cerbon nulya glis sinungaken pang mangkana lamon ayun kinarepi. Sunan Mataram angling gih boten kenging hing ngingu samademing wontena mumulu mata balasi samaptanana lamon dinuking saja. Sunan Kali angandika wong mamaceni yen ora kalawan dosa aloing si dollen tumuli ming juragan Walandi ingkang arep layar iku mangka sapakoning Wali Ratu Gagang ing ngedol dening Raja Walanda. Tinuku bedil titiga ageng mariyem warnining bedil ingkang sajambangan bolonge duk winastani pun sapujagat iki wau hing paparabipun tetep aneng Mataram dupi kang alit Satonimi wastanira ika kang pinagari gena. Hing Cerbon ika nagara dupi si Pameleng kang nami si Hamuk wastaning sandawa kang ing ngaturaken sandawa kang ing ngaturaken dening maring Jaketra puri milaning binagi telu sabab Tanuren Gagang wong tetelu kang miraosi kaga duwan Tanuran Gagang kang nama. Binakta nusa Walanda ganti gumanti metetti sang Raja bangsa Walanda supaya kacuwan dening namala metu geni Raja ngakal diwasa wastaning papantan Inggris dupi medal geni hing ngusapan karam. Pukang wulang atemahan tawa kadi saporanti dadi kena jakagawa turun teleren anitis marena ika wonten sing ning sapanta Inggris tumurun turun ming ngakir mangsa ika iku puwa kaning duking dingin panedane Ratu Madapa. ASMARADANA Wrnanen kang kesah kaji wus tutug ing saja nira pecapen sapamedeke ana hing Mesir nagara sampun atra kang kanda sarta srat wusing ngatur dateng Kanjeng maha Sultan. Ana hing nagara Mesir nutug gonira pracaya kabuktening srat godong dening tanpa aking ika hing ngandel lamon ika Sayid Bulkika kang wangun narmane oliyah Allah. Malah sampun pinaringi ika Pangeran Mochamad kang Pusaka rasukane Rasulullah dingin nira lan kinarilan dadya Jeneng Sultan bawa Ratu ana hing Banteng nagara. Sampun ning lami tumuli dinulurang hing pamitan malah wus layar lampahe duk aneng tengah sagara mangka ana susulan wajir saking Mesir muwus Sultan Jawa Tuwan wakap. Amba pinutus hing Gusti ambakta punaing Rasukan kang mungel wau pawewe lamon suka iku Tuwan lini ronan kalawan Rasukan Pusaka Ratu Banisrail mapan tunggal. Punika luluhur aji Sultan kaji ika nabda he wajir iku samono manura hing kanjeng rama isun kalimat pisan anuhunaken bebendu prakara iki Rasukan. Idep-idep rama paring maring ngisun kaureipan tekang anak putu kabeh telung kanjeng rama ika mapan agung pusaka ora babeh baju sang Wajir wau pamitan. Dupi matur ika maring Sultan Mesir yen Rasukan dados boten lilane panuhune putra Tuwan hing paparing punika bab prakawis inggih baju boten suka kalintonan mangkana Sultan ning Mesir kalangkung nalangsa nira kantaka sira Sang Katong anulya wonten kang swara he Sultan Mesir dan sira aja ta hing gegetun pan iku pakarepan nira. Mangkana Sultan ning Mesir mapan Sultan benjing pasti alaye jaluk pusaka kalawan rong prakarane besuk uga kang rasukan balik maning hing benjang ing duriyat tira besuk tinembe maning kagema. Jeneke Rasukan Nabi ana hing Banten nagara pitung turunan watese toli balik maring ngarab Banten sirna parentah apes kajara ing dudu wus tutuh ujiring swara. Sultan Mesir wonge aglis suka rila asrah manah kocap Sultan Banten lire wus rawuh nagara nira kali sobawanira pepacara ingkang langkung adi aeng sarta nira. Gawok ingkang nganingah wahu dateng Gusti Sultan kawula liwat sukane agung wong sanak asanja anungsung ing purwaka sarwi angucap bagja Sang Prabu Jumeneng Sultan kang nama. Dupi ana memelingi hing prahu kapal ana swara abane kadi kidung ing gamelan ika pribasa nira Sultan Banten aja tungkul anunggoni maring gesang. Kita hing ngurip punika hing ngulantan dening bala tinemu lan panyakit kabeh wus sing lara ing ngolatan dening pati ta sira anak putu nira jumeneng Ratu tedak pitu tuli rusak. Parentahe maring ngalit karana ana kanag mawa agawe karusakane pan anak putu kang darma anglakoni mangkana wong tuwa kang murwa mangun kaceda ning wong Talaga. Ratu Madapa kang mandi pandeo ene maring Dewa sakala saking mantepe ya iku pan sirn nira kapusakan gaib musna wikan enggen puruggipun pan tunggaling kang Pusaka. Keris Naga musna gaib tanpa paran iku tanda duriyat Sinuhun Katong tan pajowa watek walaka ya ika kala samana mula aja girang-girang ……….. sira dakaburing manah. Sultan Banten ka konngsi pitung dalu pitung dina tan karsa dahar go elinge sangeting kang tan winulat medaling lesu lupa lumampah kadi tan kadug ambakta sariranira. Lami-lami ika toli languning kidung swara den niket rinakete di namet cipta gamel lan Denggung Rujung paparabe Wonten ganti ning carita aneng Cerbon nagara Tubagus Pase Agung ningali jalma sumala. Sunan Panggung ingkang nami sumala ora kajamak ngadeg mentang mengkang kelek nyekel biti lati kadya greget bramatya mata mandelik maringut kang mrigali sami heran. Den prawasa kadi wesi keker kukuh ora kena den nalapi hing majite werengkeng wangkeng tan kena silih ganti manungsa kang sami arsa anjungjung supaya mayit tan kena. Kalisani kang sami mambrih pinetek kaliyu parna dan Sang Tubagus Pase ngandika lamon anaha Suhunan Kalijaga tan wande isun matur supaya aneng Mataram. Cep kendel kang wau angling rawuh Sunan Kalijaga enggal ngandika wiyose boking ngapa wongsumala kang bener aja mangkana-mangkana ala dinulu mangkana majid kaya saban. Sidakep sare meremi wus sinocekaken ika pina tak anang hing kono nulya Syeh Datuk Sirna pinetek Gunung Jati wetan pan kala nurongtun Modin Jati pan sumala. Ora lawas iku mati Pangeran Tandawariga tumuli ika ginantos kaponakane Pangeran tandawariga daja kang jenengan Tandajupu kinanjeneng nama Pangeran. Purwane Badiman dadi acepang kanimat Jomuah pasarog wedi Ki Lebe Juriman lan panta kadar innallaha Syeh Kadam cekel Cis Kadamjumunu kalawan Kadamjalila. Pada marbot lan Ketib lan panta sabatur rira wong patangpuluh bature wondening jana pura ika wis mari cekel adan Buyut Panjunan wus mantun sumawonan werutanda. Sunan Kali ika nuli ora karsa ngimana amung Ratu Bagus Pase lawan Pangeran Makdum ika silih ganti ing kana watek Patih ya wis saewung Pati Keling Patih Kering. K I N A N T I Pangaran Cerbon duk umur telulas lan pitung sasi ika metengaken Emban ingkang nama Adumanis asal Talaga punika Pangeran Makdum aturing. Sunan Kali lah punika sadiwegi kahasrih jomenenga sembahan sanajana dereng dugi ingkale tahun lima las langipe badbelas musim. Kandi dening sampun lurud punika sala sanunggil tetangerin baleg yuswa atawa tumuli ngimpi sarta kurud sarta kelar wus puputra kakali. Mih ngajengan tetalu Sunan Kali tan rempagi dumadi dereng kaangkat ganta dina ika toli Pangeran Cerbon sumala sinare wonten kamuning. Katela luning pamuwus Pangeran Sedangkamuning tilar garwa duk garbana ika Ratu Wanawati ingkang bobot sangang wulan ganta dina noleya lahir. Putra jala jatma jalu kang ibu sumeren dening wewedi kabaya-baya prayayi yuswa sawengi kang ibu tumoli tilar kang putra salamet hurip. Kang pinaraban tumuwu Pangeran Agung duk nami ya iku kang winawayang sesembahan hing andasi dupi ingkang sing Ampiyan pinarabkan ingkang mami. Pangeran Sukagung iku kang den pupu dening Gedeng Wandahaji ika iung Gebang mengko nagari Pangeran Wirasutaka kaelun ingkang mastani. Pangeran Gebang tumulus kinasiyan hing samantri ana ing Gebang kang prenah dupi lamining ngalami Sunan Kali pancawagawa kalawan kang garwa nyai. Udiolun wastanipun nalika Suhunan Kali tatamuwan wong Mataram Sunan Kali animbali hing garwa kon susuguwa angunduana cicipir. Kang garwa wada angasruh anata kacang cicipir nembe mandur wingi enjang apane kang den unduhi Sunan Kali miyos unduhi teka ora den turuti. Bae hing sapakon nisun sigra kesah Nyai Undi lang kung dening gawokira aningali wo cicipir kacang atub kaya rebah aglis nyunyuguhi Nyai. Sedeng tatamo wus mantuk ana wong ngeber ngampiri ambakta sinjang akatah Nyai Undi ngasi-yasi maring Sunan Kalijaga malampa den welas sasih. Tinambassaken sasampur Sunan Kali Andaya karamating Insan kamil tan dangu jinising arta anulya aglis bayari. Ing sare gining sasampur wis sampurna den picisi Nyai Undi mesem nabda punika satunggal nabda sinjang bade tapi kula sampun kapambeng paparing Sunan Kali nabda assruh wong apa ta sira iki. enjar-enjor yen rarasan ing mave ujare siji nurutana napsu nira mangsa wis sewt siji. Yen sira samono iku pinasti tan bareng maning lawan isun sira pisah sarwi kesah kali ecis mring ngetan hing purugira kang garwa tininggal kari. Tan lami kang garwa lampus ganta dina angemassi sirane hing Kalijaga kocap Ratu Bagus mangkin kesah layar lampahira dupi kang sami ngimami. Hing Cerbon Masigit Agung Pangeran Makdum Kabir Pangeran Agung duk yuswa padbelas tahun tumuli Pangeran Makdum sumala sinare hing Makdum adi. Mangka imame sareju Pangeran Agung pribadi naban-naban salat Jumuah ya kutbah ya ngimami juru komat Syeh Badiman sorog wedi para santri. Lami-lamining tumuwuh ganta sasih ika tolih ana Mrebot jaruman purwa sing wetan angabdi hing Pangeran Ageng mala salamine kinadasi Pangeran Agung den yakti Ki Jaruman timbalana Ing salat Jumuah ngimami. Malaka lampah tinudu Marbot Jaruman pinardi aturegi nuhun pisan inggih tan bisa ngimami pinaksan sigrah kalampah Jaruman ika wus takbir. Wus takbir mulya dangu ora muni ura ngecap ngadep sarira lis tosan ora na ketung katoli ora rukuk ora maca dupi hing ngati kalanti. Pangeran Ageng agupuh anjuluri angimami wus lunta kang salat iki sampun bakda ika tolih marbot ginuga tan kena alot wangkeng kadi wesi. Pendah Jumuah masih nunggu Arya Ageng angimami tumuli sakala ika marbot rukuk sujud mgiring bakda nolih pinrasila katrapan kuhummian yakti. Matur marbot kalangkung nuhun duka dalem andawuhi syarat kukum kasangga saking wau ga punapi atur kawula tan bisa arandene sumangga pati. Pangeran ageng agupuh animbali wangun geni ning alun-alun mangkana sing lohor teka hing magrib marbot ing ngobong punika arandene waluya jati. Kang geni asedeng surut Ki Marbot katinggal maksi jisime jati waluya Ratubagus amarengi wau rawuh saking sabrang sareng pinariksa geni. Maido mmaring kang putu kenang ngapa baya kiyai iku mama yuyut tira sira tumang lawan geni den gelis sira secaha sira wani maring Wali. Bok sira tan weruh kacung iku si Kaki Sunan Kali mung kari kuwan Oliya ning negara Jawa iki tan nana roro titiga si kaki kaguming ngati. P A N G K U R Pangeran Agung anabda saestuning lepat kula kaki karanten sawahunipun nami Marbot Juruman ngabdi lami dateng kaula puniku ing wengi Jumuah nyupena wonten raga anjateni. Marbot Juruman punika ken ngimami dalah kalampah mangkin sareng atakbirpunika kendel tanpa wangenan gih kaole kalampah suloan imamipun dupi wus bakda ginuga prandene lir tugu wesi. Kadodoran rukuk salam sareng pendake hing Jumuah malih rukuk sujud saoteh makmum dateng ing salat kula hina soteh kaula dening sawahe punika boteno kersa kaula paksa ngimami. Inggih nuhun palamarta mama yuyut kaula boten uning lamon uninga hing tembung kula tolih mangkana sampuning ngangken kaula yuyut Sinuhun Sunan Kali wus anyeber nahap yaiku purwaning. Yen ana wong slat Jumuah yen tan bener iku kukuman pasti lan ana carita kawuwus ana marbot kang dumadya angunggahi hing sabawa aluhung dadi Wali tur utama murud sigra Sunan Kali. Sareng lan Tubagus ikaiwa bala andadekaken mangkin sesembahan hing tumuwu malah wus hing ngestrenan Pangeran Agung ya Cerbon pan wis mashur Panembahan Ratu ika ana hing Cerbon nagari. Mangka Sunan Kalijaga salirane sing Cerbon nulya mampir maring Gebang kang dinuju hing yuyut Kanjeng Suhunan sing ngampiyan nenggeh wave jenengipun Pangeran Prawirasuta hing manco jinujung Adi. Katela Dalem mring Gebang sampun lunta lampahe lastari mapan mangkana hing laku anurut wayah Suhunan inmgkang saking putra Demang kang wulangan Pangeran Wiryarayana hing mangkone wus linerih. Ing kukuman arempagan serta bidak bandu aneng Losari Pangeran ika tumuwuh jumeneng sesenibahan Panembahan Losari duk masuhur sampuning kadya mangkana Ratubagus hing salami. Sampuna sekeca hing manah ingkang kantun sakarsa-karsa pribadi hing layar rawuhing laku sabab wus karumasa amakili hing sasirnane Sinuhun wus kagem dewek dening kang wayah Panembahan Aji. Hing smangke samantukira Sunan Kali maring Cerbon asakit prenah anang Dalem Agung panganglune mustaka kang tutunggu santri wali wulangun Ki Memek lan Ki Cengal dupi Panembahan Haji. Tan karsa anglinggi ana Dalem Agung kalampah asipat malih menggihing kilen winangun purasparek hing kana emeh dadi siji lawan dalem Agung lan reka idering kuta sami ambane paragi. Kuta gedeng Pakiringan ya kajawi saking kitakilening adi pangetaning kuta nurut pinggir kikisik mangkana salin bawa hinmg kana siptage Ratu beda dingin kang Suhunan wantuning Wali sajati. Salamining tan curiga maring muduh dening wedos pribadi yen ana kang ngarah luput koijahe Pati Kalang mangkana Sunan Kali sangeting panganglu wapat mangka panakawan kang tunggu ngaturi uning. Dateng Panembahan Nata inggih Gusti Yuyut Dalem punika lalis dupi Panembahan rawuh amriksa layon tan nana hing genahe mau mung kari rurub dumadi kang pineteka iku rurub tatambah sepi. Sinare wetaning mikrab Masjid Agung kang rurub sampun lastari pinetek ana hing riku kang tembe wewehan kutaning mikrab ingkang manjongol muncul jajantung dadi katenga dingine ana hing pinggir. Tutuge sinerat malem Kamis sasih Jumalawah, tanggal 30 tahun Be Hijrah puniki nyerat angsale Surengrana, puniki wawaosan sejarah Wali, saking wiwitan dugi ing wekasan, dumugi dateng Sultan Kasepuhan, Kanoman Penembahan, Kacarbonan nuli tutuge, teka ing akire pisan. Babad Cirebon (2/3) by wayang in Kitab & Kidung DANDANGGULA Warnanen inkang winuri-wuri Jeng Suhunan Jati ingkang tadak ingkang mrena aneng Cerbon sinerat saking luhur martabate agung kang Wali ya Syeh Wali Akbar sinebet Sinuhun duk gagarwa jajaka lara Nyi Mas Babadan gabug boka mutrani takdir Allah tanggala. Dupi garwa ingkang amutrani Nyai Rarapi putranira Syeh Datuk kapi namane kakalih putranipun kang satunggal den paparabi. Pangeran Jakalan kang sinebat Pangeran Sedanglautan kang sirane hing Mundu lan Ibuneki Rarapi pon ning kana boya wonten tadakaning wuri dupi kang mrenah hing tedakanira punika kang miyos saking Pajajaran wau. Kawunganten ingkang mutrani istri ingkang namne senebut Ratu winaon kang krama wong Agung Sabrang Pangeran Atsangin marenah hing putranira. Ratu winaonika angadeni Pangeran Sebangkingkin ika kang mrenah ka Sultanan kulon hing Banten Prajanipun dupi garwa Sinuhun Jati ingkang saking Mahostikta putra Tepas nenggung istri nami Ratu Ayu ingkang krami wong agung saking Sabrang Ratubagus Pase kang pranami amarena agung prasutanira ika Jeng Ratu Ayu anggadeni ika kang nami Pangeran P)asareyan iku kang niro eruh wiwinihing ka Sultanan ingkang ana hing Cerbon ika turuning Sarip Hidayatullah. Ika syid Syeh Akbar kang dadi kang jumeneg Ratu hing pakujan iya dening pangangkate wong somas iya iku kula warga Panjunan yakti Jeng Pangeran Panjunan purwa kala rawuh kalih rayi Rara Bagdad apa dening kang rayi Syeh Datuk Kapi sarta kawula bala. Angrong atus sawidak siki punjul nenem balanya kang tiga ya jejeg domas jumlahe punjul siji ing ngitung maring Jeng Pangeran dadi samya golong Jamah maring Jang Sinuhun sarupaning kula warga agung alit sadaya den imponi denira Jeng Suhunan. Den mumuli hing ngageng kang ngati sinung nama gegeden sadaya waneh kapatiyan mangke maneh ingkang Tumenggung ana ingkang lunggung Dipati pon kawula warga panjunan kang riyung hing sajenggere Suhunan ngadegaken agama Islam Pakungwati menggeh duk ing ngistrenan Jeng Sinuhun duk jumeneng Narpati hing ngistrenan anang Cerbon Girang wilayat panjunan muleh aken tuwu tahayu amangunaken ika sapuri dalem Agung pakudyan miwah pintu-pintu kantaning pintu sayastra kilu garba kita Dalem Pakungwati pangrengganing Panjunan. Dupi kita Cerbon kang ngubengi saking gotaka kasoneyan ngulon mengku Palosaren alunta mung ngaliripun pakiringan ngetan dumugi gotaka Jagabayan natas ngetanipun miminggir Kali Pabeyan ngidul tepung kuta nagara Pakungwati pangrenggan ning wong Demak. Apa dening hing pasang pasuting lemah duwur ngalun nalun miwah pasar miwah sabandare ingkang suka malebu hing katandan miwa marga-margi punika Sultan Demak ngabakti hing Guru amangunaken kang gadang Astana geng tukang asal Majapahit Raden Sepet agunia. Guna karya kuta samaptaning kenek kipun limang atus sawidak sing Demak amuleh Cerbon salanggahe Sinuhun malah ika Putri ngadanti ingkang nami Ratu Nyawa katur hing Sinuhun kinarya mantu punika pinanggih yaken kalayan putra Cerbon nami Pangeran Pasareyan. Lami-lamining ajatukrami nuli hika miyosaken putra nenem katahe putrane sawiji hing namanipun Raden Kastriyan kang nami agarwa ing Ptaja Tuban ping kalihe iku hing Losari jumeneng Panembahan Losari Ratu kakadiyasa. S I N O M Ya iku kang langkung guna kacarita ukur ruku beras saelas kinarya gajah sakandange dadi tarkadang kayu jati den tyekap babar pisan kaliogane wau dumadi pun ukiran karsane kang mangun guna. Aja salah samya ingkang jeneng Pangeran Losari dudu kang den petek ana hing palosaren sayakti dupi ingkang sinare hing palosaren kang saestu pan kulawarga Panjunan kang dingi dipun wastani Pangeran Beken santananing Panjunan. Dingine awangun karya ababak tanah Losari iya iku kang amurwa mila kasebut nami Pangeran Losari mashur anut namaning yasa nami Pangeran Losari dupi wapat Pangeran Reken punika. Dupi lininggihyan hing Panembahan Losari ingkang wayah Susunan ingkang jumeneng Losari meng sapanjeneng lalis tan luntah mantrtaning Ratu kaping telune putra hing Pasareyan kang nami Pangeran Dipati Cerbon kang sawarga. Sadangkamuning teleran Raja Wali Sunan jati ingkang tumuwu marena ana hing Cerbon nagari wiwini mantra Kaji aneng Cerbon gelaripun kaping patipun putra Pasareyan ingkang istri nami Ratu Mas kang akrama aneng Tuban. Ping limane Ratu Mas kang akrama Tubagus adi nagara mangke jajahan Banten tunggil kulo wargi Panjunan hing ngrasri kaping nem kang putra iku Pasareyan kang nama. Pangeran waruju adi pan mangkana jumeneng Pangeran Sadakajeman Sindangkamuning punika ginadang linggih Narpati sasirnane Jeng Susunan mila alungguh Dipati sampuni ika akrami putranipun Ratu Ayu ingkang namining wanodya nami Ratu Wanawati apuputra titiga nenggeh kang nama. Ratu Sewu kang wanodya dupi kang jaler anami Pangeran Mas iya ika ingkang atampi nagari saking kang yuyut Aji jeneng Panembahan Ratu ing Cerbon sabab ika kang rama Sidangkamuning sumerene rumihin swarga Suhunann. Apa dene ingkang eyang wau Pangeran Pasareyan pon inggih seda rumiyin swargane Sunan Jati pramila tampi mring yuyut kang wino iri duriyat hing nagara Pakungwati kuta Cerbon masih genggeng manggeng barkah. Dupi kang raya Panembahan kang nami Pangeran Manis dupi raka sing ngampeyan punika sinung lilinggih hing Gebang Ratu kakadi sinebut hing namanipun Jeng Arya Wirasuta tambak prawira matawis sinung cangkok Jawa gunung Pagebangan. Lan Dramayu kinen siba hing gebang nyangkoka maring Jeng Pangeran Wirasuta dugiya salami-lami cinarita hing gurit Kanjeng Panembahan Ratu Hing Cerbon mangku reja Sasirnane Sunan Jati Angsal krama Putri sing nagara Pajang. Putrinipun Sultan Pajang nenggeh ikang akakasih Ratu Mas Gulamporaras Prameswari Pakungwati Panembahan Pakungwati pon nenem hing putrinipun nenggeh ingkang anama Pangeran Sedangbalimbing lan Pangeran Arya Kidul kang laksana. Laksana andikep macan dipun kempit kdi kucing lan malih putra nata ingkang kasebat hinmg nami Pangeran Wiri nagari lan istri ingkang winalangan Ratu Ranamanggala katela namaning laki krana iku Pangeran Ranamanggala putraning Sedanggaruda. Sendanggaruda iku putraning Pangeran Ageng kaputran hing Ratu Ayu putraning Sunan jati kang laki Ratubagus Pase wau ketang tunggal teleran ping limane putra Aji Panembahan ratu kang wina yang harja. Lininggihaken ning nama Kanjeng Pangeran Dipati Carbon ingkang Sedanggayam mila lininggih Dipati krana bade nyuluri Panembahan sirnanipun supados takdirullah datan kena hing ngowahi enggal-enggal somala he Sedanggayam. Tilar putra kalih nunggal ingkang istri Ratu Putri ingkang jaler Pangeran Putra ya iku kang gadang benjing nyuluri salinggihing heyang Panembahan Ratu nenggih dupi putra pamekas Panembahan Ratu nenggih istri Ratu Aingawaningyun kang nama. K I N A N T I Awit Panembahan ratu hing Carbon anyanyuluri wilayat yuyut suhunan martabati saking dingin duk wangsite wali inkang nabda hing Ki Karawang becik. Geweneng wates lah iku sing Karawang ngulon dadi Ki Mas banten amurbaha sing Karawang ngetan dadi Ki Mas Carbon Misesaha Pusakaning Raja wali. Lah iku marmitanipun Panembahan Pakungwati sumuhud datan langgana hing Banten mangkana ugi. Panembahana Surasowan tan seja langganeng wisik ora kaya kapisandung wong Mataram ngaru kapti kumudu sanusa Jawa kinen tiba hing Matawis wong Cerbon wong Banten ika den pardi hing saban warsi. Sesebaning para Ratu naban Mulud ming Matawis Sunan Mataram amburak pala karta Raja wali kang jeneng Ratu punika yen boten idin Matawis. Dupi Cerbon seja anut aseba dateng Matawis estuning manah sukuran tan nan liyan kang kahesti anging Sunan Kalijaga kang ngahubi hing Matawis. Mangkana pangidepipun Panembahan Pakungwati marmaning salamet lenggah sirna ingkang girirusit barkah hing manah sukuran Yang Widi kang anduluri. Dupi Banten datan hanut hing palakarta Matawis atilan manah sukuran kaduga dipun perangi wadya bala sing Mataram aprang ya hing Banten nagari. Lah iku marmitanipun Panembahan Banten lalis kaetang seda hing rana mila katela hing nami Panembahan Sedangrana dupi kang putra lumari. Nani Pangeran Kanantun paladra lunta kaji maring Baitullah yaika besuk abalike saking Mekah nuli ngadeg Sultan angsal idin saking Ngarbi. Dupi samangke atumpur hing Banten tan nana Aji wonten malih kang kocap hing nagara Banakeling santrine ya Syeh Lemahbang andabeni mana sulit. Sadyane angaru biru maring Ratu Pakungwati nenggeh ika kang paparab Datuk parduk sugi sakti ategu nala wikrama sampun satata dedemit. Mulane sadya angaru dumeh gurune alalis wong Carbong kang amrajaya, seja mangke angayono dennya jajal tanpa rowang ngediraken raga sakti. Hestu tegor gumaludung, tan nana braja nedasi pareng nalika samana Panembahan Pakungwati karsa ngujung hing Astana upacara dipun wangking. Marapit miwah panglonjor iku kacarita kongsi pupucuking upacara wus nganjik ana hing margi bebeneran Wringin Jembrak. Panembahan dereng mijil ora ganti datubarul angadeg amalangkerik angadangi upacara aneng tengah-tengah margi gegering kawula bala yen ana digja ngranohi. Siningkeraken tanpurun ya si wong nadya ngayoni pacek wesi malang dalan wangkeng kadi tungga wesi gegering kawula bala yen ana digja ngranohi. Para kapetengan umyung alok lamon nemu kardi umrengging geger genturan kapiarsa hing Sang Aji apariksa ana apa ing ngarep pating barigi. Kajineman aturipun wonten tiyang malang mungkir angngambengi lampah nata siningkir tan arso ningkir pateng janget kadi tosan wangkeng pacek wonten siti. Panembahan adan ngulung ngakeng duhung wus tinampi dening Lura Kapetengan tan na dangu ika nuli duhung masih wawarangka sinudukaken tumuli. Hing jasmanine Datukpardun mati ngadeg tanpa kaning opyak lamon nyata pejah dan tinampakaken aglis Lebe Yusup kang kinarsa amulasare kang mayit. Panembahan lusita sampun dateng Astana lastari akocap ika kurnapa kinubur witaning margi tan suwe diragenak ana hing marga kadi duk uni datan ana bentinipun kalayan jaman Susunan. Yen nuju riyaya kecil anna hing masjid nagara dupi hing masjid riyayagungnge ana hing Masjid Astana masjid astana punika kancuhe Ki Marbot Gusa. Lawan Ki Pangulu Karawis dupi Kanjeng Panembahan yen nuju wulan sapar re sami bubar seba ngetan hing nagara Mataram acaos hing niplal Mulud ana hing Praja Mataram bakda iplal nuli pamit nabam tahun pan mangkana narima sukur hing Manon datan ana kara-kara rahayu hing ngagesang lampah pangiwa lastantun tenem tuwuh pasawahan apa sata Sunan Jati mari winori-nori hing lampah wong sasawah sakarepe tan den pardi hing pajegnya mangko salamet arja panen pada atur-atur samulung-mulunging bala. Wong babakti tan den pardi den umbarena hing bala opra den petel magawe saeling-elinging bala kang pada tur den pupu wong dagang ora den beya. Sakarep-karep ping ngalit yen gegel maring bandara ora den pardi akehe ora na dangdan dadalan dangdan kali tan nana kuta Cerbon masin kemput pangrengganing Sultan Demak. Kandeling kuta kadugi kena den go jaja raunan ngerap hing luhur kutane saketeng hing Jagabayan madep maring Astana ingkang yuyut Jeng Sinuhun dupi pintu Kasuneyan. Ika ingkang angadepi maring Mundu Jeng Pangeran Sedanglaut Astanane boborotan kulon trusan kang maring Kalijaga pamalaten Grenjeng Hetuk Ki Gedeng Kagok santana. Wetan lor boboratan ning wong dagang parau teka sakamya-kamya lakune durung ana cuke beya kang aran wong mardika tan ana pinarding Ratu mung sakolure priyangga. Amung ingkang aran abdi pangunungan dipun tata saban tahun pakmite saban tahun bakti nira tan den pasti agengnya istu Ratu Adil lullah. Wawateking Raja Wali ora meting pengasilan apa satekane dewek dagang maning yen iyaha jajaluk lagi ora amung kang den ruru-ruru babakti maring Yang Sukma. Lumu sisip pasa mending tobate langkung nasuka sarta lawan bratapane atiwa-tiwa kang Eyang Susunan Waliyullah Kanjeng Panembahan Ratu remaning Karamatullah. Boya karsa nalikuri hing rerkan Padaleman ya sote mageng kadaton lan amengku upacara pangrengganing kula wadya sing Pajajaran gumulung. Saking sabrang kunta wiri angurip-urip wong Jawa Carbon kang tembe mrintese lami-lami saya harja lakuning kauripan sakadar-kadar ing riku jumeneng kang panaraga. P A N G K U R Melar kreta hing pakudyan pagunungan para Kuwu kabeh ngabdi katiti amating Ratu dupi Dalem Kuningan waktu iku amogolle maring Ratu tan karsa lamon ngabdiya seja angratu pribadi. Anggepe jalma Kuningan iya soteh mau duk sunan Jati kita seba maring guru dudu seba ngawula dupi iki pan wus sirna Buru misun apa gawe kita seba ming Carbon den tita ngabdi. Kawarta dateng pakujan wong Kuningan mangkana kang pamilih adan pinutusan gupuh Kyai Patih Rudamada kang kinarsa mitutur rana ujar kang alus hing sirnaning Pajajaran sapa ingkang anyo eluri. Kon isep yen Carbon ingkang dadi sulur hing pakuwan saiki piyambake kudu manut kartaning wong pakudyan ya ta Pati Rurdamada hintar sampun dumugi datang Kuningan dawuhaken timbalan Haji. Dupi sahuring Kajenar Pajajaran sampun merad alalis tan wonten pitungkasipun lampahing Karajahan angajawi idep kita wong ngaruru samangke guru wis asirna apane kang den bakteni. Dan ki Patih Rudamada bebet Panjunan tan kena myarsa angling pedes swara nulya timbul ing ngaji dadak sara menyat ngandak-nyandak Arya Kuningan den dubruk ora kayane Ki Arya washita hing suraweri. Anyebrak lan jalan sutra temah lumpuh Rudamada gumuling wus pinanjara sadalu panjarane wis kalapa dupi dalu den wengkang punang galugu Rudamada bisa medal sadya nigas jangganeki. Arya Kumining tan kaya jaka sutra hing luhur angahubi kang pasukane wong riku dadya ingkang anendra jroning jala musna datan kadulu daya Pati Rudamada atur uning maring gusti. Wangsul hing Carbon asigra matur atra saula datan kadulu nunten Panembahan Ratu matus Pangulunira Ki Peki Abdullah sigra lumaku pon lampah mangkana uga campule tan angsal kardi. Sampuning kadya mangkana Panembahan karsa miyambeki kalih tetekeng lumaku mangking ruruku lumampah riri jati panakawan pada nusul keras tangginas lumajar pandene boya nututi. Hebating kawula bala dening gusti wus katemu alinggih kaliyan Ki arya iku pareng dedel wiguna Panembahan malempat anjong den buru sigra tinawuran jala malempat bumi agonjing. Ki Arya kajengkang-jengkang bawanipun kang bumi agunjing jalanipun den tawur Panembahan malepat dupi ngidek bumi miring dadya iku kajronkong krungkeb Ki Arya pamawaning bumi miring. Singa bumi kang kadedekan tapakipun Gusti ingkang Pakungwati kudu bae miring nungkul jala sutra tan guna ngalor ngidul tawuring jala alusud kasele kajengkang-jengkang krungkebe kang anjalami. Digulon ngetan akiteran dangu dangu jala mretel amrotoli sareng kang jala wis rempuk Arya Kamuning nembah inggih sampeyan nyata suluring Ratu dede malele Pandita kang amurba awak aking. Kuring gegebal sampeyan pan sumukud sembah angabdi lahir batin samprakawis tereh Guru inggih nyata Wali Raja duwa prakara jala sutra inggih pupus lah iku marganing daja Kuningan idep angabdi. Papak raja Panembahan kang aminda suhud pawisik dupi Talaga kehesru Kapetakan pon dapake Sinuhun Sindangkasih iya tunggal Ki Gedeng Susukan kalih. Gedeng Tegalgul tunggal tunggal idin saking Suhunan Jati dupi ika Raja Galuh saestu tunggalira Gedeng Sura miwah punika Anjum Nyai Gedeng Panguragan pon idin Sunan Jati. Sakatiking Tapakira iku abdi amatira Narpati kang kamilik sumpahipun yen laga wa asumpah Ratu iku abdi amat iya iku milu wilalating sumpah hing harjaning milu mukti. Kongang lamoni den nedola hing Gusitne sakarsane aniti lawan kongang dipun rungrum dening pagustenira kang lelegan tanpa soma punika taliti. Lunta hing satedak tedak dating Ratu pasti amiris angajaba lamon sampun den pardika kaken nita caca wadon lalurining ngamat iku punggel lamin abdi lanang rabi mardika kang yakti. M I J I L Ya warnanen anjenggering Pakungwati dennya raton-raton ya hing dunya ku wis adate kudu warna-warna kumelip ika Kyai Pali teka mikir sentung. Waktu bebet sabrang tansah mikir manah ngilo-ngilo Ratu Sabrang pada dagang kabeh dupi Gusti kita ing riki korap-koru rijiki adan sigra matur. Dateng Panembahan prayogi yen mangking prayogi samangko kawula ngintar ken padagang gede badi tulung gesang hing Aji atilad tatangi sabrang lumrah Ratu. Sam olih padagang ing mangken ngriki dagang uwos nyabrangaken uwos sagedene agung rijiki angelar bati Panembahan Aji dadya sira gupuh. Beras hing wong Carbon den epaki karunge wis awon kampil beral andamping pinggir kikisik kawarna yen yakti padaganging Ratu. Nama Palidada wusing dadi baita cu mahosora kaya iku ana kekere cadong-cadong batok sawiji basane yen ngemis kanggo amumuluk. Ki Palidada sahurnya ambengis he sidi lalocok beras uwis aneng karung genahe ana adat yen di dodol maning kekere pon masimaredeng anjaluk. Ki Palidada sewot tumuli sejane anabok dadi kerjeng tangane tan suwe sja jejek sukune dumadi ngingkrang datang kenging mudun ika wau. Palidada anjirit den tulungi muliyi den gotong katur sira Panembahan priksane kekerehe ana hing ngendi lan rupane maning kayapa rupane iku. Ya ta matur ingkang pinariksani kere belang kokop suku tangan sami belang kabeh Panembahan angandika riri la iki Ki Pali gotongen den gupuh. Tekakena maring lepenjagi kon tobat kon panor lan gawaha bras ingkang akeh sapuluh karung babakti mami yata abdi-abdi tandang gupuh-gupuh. Ki Pali den gotong aglis sarta lawan uwos ya sapuluh karung wus mintar kabeh anjunjung maring lepenjagi mring sang meha yakti Wiku Wali Agung. Ki Palidada tobat anangis nuhun gesang ingong kang pinuji aris wansukane iya sira sun apurani sareng sabda Wali ingkang iku. Adan waras Palidada kadi duk mau dadya nor suhun sembah lan pangabektine wos sapuluh karung binakti Sang Wali mangsuli hing prakara iku. Beras pirang pirang sira gotongi maring arsaningngong sadya nira gawe apa mrene Palidada nembah lingnya ris inggih punika bakti nipun Gusti Parabu. Kanjeng Panembahan ing Pakungwati kang katur samangko dateng paduka Pandita Gede barkah sampeyan ingkang kapundi mungginya paganti lahir batosipun. Sang Wiku angandika aris lah iku hing mangko sun tarimah hing kabecikane Gusti nira ananging saiki gotongana balik beras ira iku. Suning kene boya anambrih kang para samono manga kaya Gustimu mrene nuli saja drawaka hing ngati dupi isun beli yasoteh hing wau. Ngemis beras mung sabatok cilik go tambah layop ora isun ngarah akeh-akeh ya wis pada gawanana balik ya ta ganti-ganti kang sinabdan wangsul. Pan wus katur hing Panembahan Aji ya ta jeng Sang Katong andaring ngendangu kandikane atema aning kana angking ya wis prakaraning dagang iku wurung. Aja sido wurung ngena gelas kita aneng Carbon ora kena dagang guna gawe iya iku ingkang dadi wangsit eyang Sunan Kali aja salah tangguh. Mangsanaha wali ingkang nisip mangsanaha goroh mangsa pitna sabarang gawene ya ta Palidada tumuli murungaken kardi beras diun udung. Kampil ingkang aneng pinggir kikisik den nusung den dodol den balaburaken hing balane kabeh kawalatran sagunging mantri sami asukati hing sihe Sang Prabu. Para Buyun samya nakseni ken anak putu Carbon tang kongan dagang wangsit luluhure ya luluhure sang Raja wali kumudu sajati ana rimah sukur. D U R M A Ku harjaning Carbon watek Ratu Oliyah tandah hing sawengi-wengi hing masjid sowara hing tilawat parnujinya gumuru swarane puji kala samana Masjid Agung nunggeling. Durung ana empere angeringanan mura ngarep lan wuri mawi pataka harja parunggu sarta alancip apa kaya dat hing pataka hing masjid. Ora kaya jadeng prang saking Mataram kang nama Ki Gedeng Enis naban tigang warsa kinarsa langlang jagad kinarsa mamariksani maring Nalendra kang kabawa Matawis. Pinariksa banggi wonten durga baya kulilip nyalawadi biliana Raja bala Raja kang lirwa maring purbaning Matawis kala samana ika Ki Gedeng Enis. Duk pariksa hing Carbon amanggih harja sarjuning puji masjid hing dalu kawangwang dene teka bargama hing Carbon ngundak-kundaki inggih mankenya jumeneng kutub maning. Anuruni Sang Jati sun cacak coba ya ta hing mangsa wengi Gedeng Enis marendah andalahi ku baruwang hing luhur pataka Masjid yen mangko tawa lah yen nyata Kutub maning. Panakawan datan langgana hing karsa kalayan lampah demit tan nana uninga durga andala baruwang ya ta abdi sami sapa ngakuba hing masjid panas atis. Dadya bubar tan nana purun ngahuba sirep kang samimuji Gedeng Enis nyana yen dudu Kutub Hingyang Gedeng Enis wus lastari lampanya kesah anjaja panagari. Ora kaya hing Carbon sanget sangsaya Masjid dipun tan kenging dipun geni salat Jeng Panembahan susah Popoyan datang Jeng Nyai Pangngalangalang istri guna wit urip Adam ika Nyai Tegal pangalangalang nabda la ya iki gawene wong tuwa do emadak masi ana Nini-nini kari siji Jeng Panembahan wus katingal bruwang mandi ya ana hing pataka masjid katingal sabda Yang Nini-nini ujarisun apa la ika si banuana endah si Nyai ngabili wong wis tuwa ora owel yen mati. Panembahan kang ngawas wau tuminggal saking jabaning masjid aja melu hebang si Nyai mengko kebang manjing hing jara Masigit. Jeng Panembahan ngandika iya becik pan si Nyai manjingnga masjid pujangga manira kang neng Jawi ngawasakon bruwang kang ana ing pataka mangkana enggal Jeng Nyai pangalangalang lumebet asusuci. Banyu wulu anducekaken salira saking cadas sing jisim sampun sinampurna ingkang susuci badan nunten malebet tumuli wonten ning Bangsal. Masjid Agung asuci abrebresik kang nama tinja kaliwat hing tinja ingkang kari mungguh kang babasan manuk mabur kang sarta kurungan orana kari hing tengah-tengah hing masjid denya nunci. Pan aseru swarane ingkang adan asruh amemelingi ambeledug awiyat pamrasane kang meningi ingkang kawengan swarane iku Jeng Nyai. Pareng anjit kang swara munclski bruwang kang aneng pataka masjid mesat hing gagana sumembur hing ngawiyat muksa ilang ingkang mandi sirna sampurna waluka kadi uni. Kacarita baro ewang ingkang sumebar mumerep pada manjing maring Guwa Upas Guwa Dalem ika tunggal bangsa mandi lamon lalis ya makumpulan maring sarwaning mandi. Wus asirna sing dunya sampun apinda maring kaanan latip teges kang babasan ora mati kewala salin nagara kang latip Jeng Panembahan andarengen hing kapti. Tumon wau sinare Pangalangalang Nyai Dalem Pakungwati dening si wanodya sina tata Oliyah rumasuk badan rokani oraga sukma karu-ru istri lecih. M E G A T R U H Malanipun kauni hing pungkuripun kubure Nyai Pakungwati ana hing masjid Agung dudu kubur kaya pranti yaktine punika enggon. Enggon sirna mungguh pameradanipun rong prakara denya eling ila-ila duk Sinuhun ngukun Syeh Lemahbang dingin wanten upata kamanton. Ika yen wis tedak sanga anak putu kaselang hing budi wani kebo bule timbuk rayu telung prakarane maning emut duk dingin wirahos. Wirahose Sunan Kalijaga muwus dening kobaring Masjid hing sapungkure Sinuhun kaya-kaya amenangi Panembahan duk migatos. Patang prakara lamon wissa ingkang mau ya bok anaha malih pantar ingkang kaya iku nuli sapa kang nulangi reh si Nyai sampun maot. Ya wis ora nana ingkang dadi tunggul tumbali wong Pakungwati casse Panembahan Ratu Gusti Allah ngawikani hing karsane Ratu Carbon. Lami-lami ana sumulur arawuh maja Jeng Wali pawestri Nyai Gede Pancuran rawuh putra nipun Sunan Teigading ngumbara rawuh hing Carbon. Pan Kalangkung minuli salenggahipun dening Ratu Pakungwati Kanjeng Panembahan Ratu angabekti puji bakti dumateng Jeng Istri kahot. Dening Nyai Gede Pancuran sepuh tur lampah Wali singgih tereh hing Wali kang makbul salaming linggih wasi hing praja datanna enggon. Mula-mula aneng Tuban hing dalemipun hing Depok kang den wastani Pancuran pramilanipun katelah nama Jeng Nyai Gedeng Pancuran hing kono. Nunten pinda hing Japara kan sinebut depoke karangkamuning lami-lami pinda nipun hing madura milakoni Nyai Gedeng Sampang Boya roro. Nulya pinda ing kajonga pinggir laut mila katela kang nami Gedeng Kajongan kang lihu nunten ngumbara ana hing Pakungwati namaning gon. Minulya-mulya dening panembahan Ratu mila katela kang nami susulure kang wus lampus mila dipun wuri-wuri kinarya tumbaling Carbon. Saputrane sami dadalem hing riku karang ingkang den wastane Karang Pasardawa hulu jaba kuta lor kang nami karanggetas gatining wong. Dipun karja ing panah kang dadi langun dening Ratu Pajungwati marmaning kaja puniku tengane hing Carbon dadi kalilip bancana wadon. Iya iku kang nama Nyai Gedeng Dempul ya angaru anak putu den niruti seja araraton akumpul hing desa Bakung prawani adir-adir kang balo wong. Saoli-oli wong tatanggane akumpul babarissab Sawatiwis umbul-umbul waring muncul Ngirupi bala winuri Geger gentur ing wong Carbon. Ya Ki patih hing Carbon kalangkung rengu reh ika kang dadi Patih ing waktu samono iku Patih Rudamada sakti dados ban nemban ning Ratu Panembahan Pakungwati mila rengu hing borojot. Bebet Pajunan mau Nyi gedeng Dempul cuplak andeng-andeng iki pramila Ki Patih mau wus linggar anglurug maring Bakung gogombol den tinjo. Pan den tinjo nyata orana dinemu pansamya bubar nyingkir ming alas Junti anglarut dupi iku den lurugi hing Junti tinemu kosong. Lincak-lincak bala Dempul genya larut raraton ika ana hing Kandangur dupi krungu dening Patih Pakungwati Rudamada dan tininjo. Ika maring kangdangur pantinemu suwung tegane pada babalik hing ujung tanala iku pada parangsawatawi tan dangu pad amboros. L A D R A N G Gennya bubar angili pada aningid hing guwa-guwa sakedap akempal maning yen kurang sangu iku pada bebegah sing gampang katungkul iku den ambil angraraja dadi geger tepis wiring ya hing Carbon pada ngiliake nyipar. Singlar saking prenahe angungsi puri ya hing Carbon kuta Carbon masi kikib ratu Carbon kang hing ngungsi hung ngauban. Patih Rudamada miwah Mantri-mantri amancalang lie amburuh kidang kancil akeh kena kang kari masih akatah. Ingkang kena wus den asrahaken maring Ki Katandan kinen lamong kang rawati hing panjara sinebut goning panjara. Durung ana benteng durung ana bui duk samana pan durung ana Walandi mung sinebut kang nyekel kanda wariga. Pajaksane hing kajaksan pan alinggih putu nira Ki Rudamada kang nami Jaksa Sumirat kang andarma wacana. Jan purwaning desa kajaksan sayakti putra wayah Panjunan Caruban kali putra wayah Ki Arya Menger Kajaksan. Arya Menger kakange mau Jeng Nyai Nyai Pangalang ika ingkang wus sirna lalis Arya Menger kuwi ramane Pangeran. Ya Pangeran Palalanon kuwi cuwan ya kasilib akeh nyana yen Palangon sinenggi lamon iku ugyan Pangeran panjunan. Kalesanyata Palalangon kang sayakti wong Kajaksan ingkang duwe tunggal jati krana Pangeran Palalangon iku nyata. Ya putraning Pangeran ingkang nami Arya Menger dupi dunane kang asri Pangeran Panjunan kardi pakirnan. Wringin pitu kang linangawan ningsih dukan emah kasosetapan banting diri dupi sumala mantuk Ardi Amparan. Dan warnanen wargane iya Nyi Dempul ingkang amsi wangun geger hing nagari saya dangu saya katah amarambah. Kocap kena sapuluh mangka ngunculi sewu mana wesa kena satus amonculi sewu mana wesa dadi jalma pan sadela. Endas merang tinygel ika anuli dan sinebar dadi bala wus barketi kawalahen polahe Ki Rudamada. Daja matur popoyan hing Kanjeng Gusti Panembahan amit asih ahubing Nini-nini mau Nyai Gedeng Pancuran. Kang dadalem hing Pasar dawa anenggi angandika Nyi Gedeng Pancuran aris putu nisun den pracaya ing Allah. Ya si Nyai mengko kang makseni sidik sapa-sapa tawelak maring Yang Widi tangtu hing mengko ana kisabing Allah tangalah. Aja susah den lurunggi den perangi ila-ila hing Carbon perangnga dadi temahane ora-uru tambuhing seja. Hing sandenge wong Carbon perang tan dadi mangsa sida wus ila-ila hing wali mung salelebon hing bodo ngalatak. Amantangub karuwan kang den ungsi titenana embok si Nyai akitib dening anak putu sing amenangana. Menangana perange wong Pakungwati dugi binjang teka maring jaman akir yen mengkono bae yen perang prayuna. Ya ta marem Panembahan ingkang pikir muwa ika ki Rudamada Patih samya seja Pracaya ming Nyi Pancuran. Samya eca-eca hing aryo puri ora lawas bala Dempel sugih wani seja bedah kuta Carbon den jujuga. Ambel sura diksura pating padigdig edir pada atimbul bojana kulit sugih baris iku kang bala cicip tan. Mila angka sumeja angaroboki pareng praptahing marga bebaneran ning sokalila Karanggetan kasasmata. Kang pangaru kang bala ciciptan sami pulih merang sakeng braja wesi sami getas marepel estoning tanpa aguna. Ingkang bayu lesu kade den lolosi angganira liren gelar aneng siti adan tandang Ki Rudamada sawakca. Bala Dempul prasani dipun keriggi ming ngayunan kinen tobata prasami sira iku aja ilok gawe dora. Maring Ratu lah iku marganing dadi suka lila atining wong kang anjilib sirna purna tan nana durha rancana. Gedeng Dempul hing ngapura hing jati sami bubar mantuk maring prenah lami datan arsa sulaya kersaning Nata. Ya wis ten tre orana kuna-uni sirna baya durbala ngaubing Wali Wali Carbon ingkang wus polipuring. P U C U N G Wantu-wantu hing ngagesang kudu nemu ingkang kasusahanganta sapira lawase patang puluh wolu tahun iku ana. Cocobaning pekir hangula kaum Masjid agung kabarpuncaki ingkang katunan geni saking sabrang kidul sing walahar. Geger kaum pan samya rinebut-rebut Ki Lebe Duliman tandang ngunjukaken kocor Marbot Kamjah sabature ngerab toya. Modin Husup sabature pada nawur aken lemah ika mambrih ming geni matine pan katujung para Lebe sing padedesan. Panembahan dumulur ika sarejo yen kawangun limas mengkamewahan empere sakubengi dadi surambinira. Lan pintune kamewahan bata mempur kinanea kang mungal lan malih paimamame pan ginatra dunjung hadi tanpa talaga. Miwah jajantung tanpa pisang ingkang mungup darapona daja hing ngadining sasangkalane bata mungal-mangil mangupkang sasmita. Ya wus jengger pulih sya wu-wu abagus luntane alempah kawuri-wuri jatine tapaken para Wali kang sasanga. Menuri wuri dening anak putu arjaning pakudyan tilase hing luluhure ingkang sampun sirna sampurna sukasma. Bab hing seseban ming Mataram maski laku mejang naban warsa naban murud pan sakehe para Ratu Nusa Jawa hing Mataram. Pan mangkana adate hing naban tahun salamining gesang ora nana hing cutake sumambah karaharjan hing Mataram. Pramilane hing Carbon tuhu rahayu krana tumarimah manah sukur sagedene beda Banten kaselang tumpur sakada. Sabab kirang hing manah sukuran nipun ya wai waspada ngisab hing napsu samini spa sukur winales guna waluya. Sapa kurang sukure winales tumpes ora nan liyan metu sing ngawakee dewek Gusti Allah pan ora anganihaya. Sahalame jeneng Panembahan ratu seba ming Matram ora nan arung anane mulus mujur kang basa prasetya waktya. Sunan Mataram pan tan nana ngaru biru dennya nganggep anak Mas Carbon labda karyane Hing Mataram katarima jar samaja. Ra kurang ora luwih dennya ngulun mila katarima dumadi ing salamete satuwuhi anak Mas Carbon raharja. Sakarsane sabarange kang winangun boten nana tilar Sunan Mataram rempagi mangkana kang dadi slameting lampah mungguh yang widi karsane singnga asta lahir batin tan beda. DANDANGGULA Awong dening kang rinembangan nyuluri Panembahan nu iku kang wayah kang wus kasebut namane Pangeran putra Sunu putranipun Pangeran Dipati ingkang Sedanggayam ingkang den angkat lungguh deneing Suhunan Mataram kkrana waktu samono ngadeging Ngaji kudu saking Mataram. Ingkang ngadekaken lilinggih haji Hajir Mataram ingkang anama Pakunagara jenenge ingkang ngistren Ratu Carbon ingkang nama winuri Panembahan Girilaya kang mangke tumuwuh sinakoli mangku reja pon katiti sebane dateng Matawis kadi kang sampun seda. Papatihe Panembahan mangkin Kang nama Ki patih Suminingrat ya iku estu putrane Ki Rudamada mau winuri-nuri ing Tunggaksemi mulane pinaraban Suminingrat wau ramaning Jaksa Sumirat tunggal bronjot Panjunan ingkang gaganti hing linggihe Sang Nata. Ya Sang Nata anyar hing Pakungwati Pangulune nama Ki Jalila ingkang mangen bargamane wakil tulaking Ratu aneng Carbon nata gami pusakaning Waliyullah maring anak putu hing Carbon nagara jimat atumbaling nusajawa kendung kikib kuta Carbon waluya. Waktu iku ya mati akikib kuta Carbon masih naroja adi tuwu sakubenge tan ana durga ngaru kadya gelare kang rumihin Jawa Gunung kaporba katiti angulun sinakala tiwa-tiwa nagara gung Mataram pon anglilam ing Carbon yen gaweya. Andel-andel sinaroja Pati Seminingrat lan Jakasumirat Kanti tanda warigane miwa kang naminipun Kyai Kanduruwan pan tunggil baranjo ating Panjunan wandudayi nupun mangka taliti Kuningan Arya Salingsingan kang pinangka dadi anjeneng pandelengan. Dupi ingkang dadi Tadamui iku branjotting karangkendal Ki Gusti parna putune kang dadi mantunipun Gedeng kodokkan Abdulkapi Abdulkapi kang saja dingin mantunipun Ki Pati Keling duk kuna pan karuru wong becik ngupadeni Haji pramila winuri lenggah. Awon dening ingkang hing angken linggih Arya Jagasatru ya ika Dipati Ukur kang ngenem tur dadi marasepuh krana Putri Ukur kang nami Jeng Nyai Mas Kirana den garwa punika dening Kanjeng Panembahan malah mijosaken putra kakalih Pangeran Anom kang seda. Lan maliye Pangeran Masa Pakungwati ana dene garwa Panembahan kang suwanengge asalle saking sabrang kang metu saking panagara Surati nami Nyai Rara Kreta ingkang amurwa dusun nama desa Karangdawa malah Nyai Rara Kreta amutrani Pangeran Sepuh aja. Mangkana Panembahan Geri nenggi agung putrane ingkang estu Raja Sunu sami kasukan kramat boya kenging den nina hing sapadaning tuwu atena walat. Ya mulane karuru desi najen aja ja maning yen tumeka lagi niyat ora bee saking pangaru larut ya Sinuhun ingkang angahiebi hargjaning kapurata hing sawaktu iku jar si nembe tidak lima kaya-kaya samono mengke muraking adening kuta reja. S I N O M Panembahan Girilaya ang Ruru hing Pakungwati pranata mati adilad alam Panembahan lalis masi apembek Wali tanpa drawaka hing napsu ora budi sudagar pramila masih asepi durung ana cina lawan Walanda. Masih sakadar wong Jawa Wong Sunda wong sabrang pekir wong Arab Mandita agama ingkang den gugoni kang minulka hing ngurip prakara agama Rasul ora ngajeni dunya dagang sudagar kakeri kang ketengan lakuning agama Allah. Asli teks pada halaman 123 tidak ada Krana iku kakullah tunggal ulam ning jaladri amupuwa beya maning layen karsaha. Ora nana pupun pasar ora nana pajeg urip soteh wong pagunungan saking karepe pribadi babakti hing Gusti tan pinardi hing Sang Ratu lan ora winatesan wus apa dudune titi ning sedekah sakerep-karep prijangga. Mangkana maning kang bala sakarep-karepe ngabi ngajeni bandaranira bab den pardi estu bentan ana dangdan margi duduk kali wong saking gunung tumurun bakti karya lan susukane pribadi tumandange tan den priyat dening Raja. Kadi lakuning sideka genturan ingkang bakti anglangkungi saking priyat gennya pada angajeni hing Gustine prasami angraksa salinggihipun lumu yen kasorama dening sapantare ngabdi balanjane sadina cicik barekat. Masih lumampah banaja ingkang den arani picis timah tipis bolong tengah awawi dipun sunduki ricik teka satitik pusaka Kanjeng Sinuhun siji rorone ana wong tembaga gagawaning wong dagang sing kasabrangan masih sarwaning samending wong Carbon mapan masih langka gedong umahepun naramba umah Jawa payon sirap payon welit durung ana wong cilik kuta karang. Masih kikis lawan dadangajaba kuntaning Haji kuta Carbon pan waluya sakubengi durung rigrig pusaka Sunan Jati Pangeran Panjunan wau hing prakaraming karta mung den wates ambrikuti turun lima nuli den tema anggagar. Dening karsaning priyangga asajen sangge sejen sipta kaligane iku benjing anak putu prasami anyayanak maring satru saneke temen ningkang prasami den pitambuho pamawane wong kopencut daaring dunya. Pada demen malar barang kang ora langgeng kamilik temahe adadi upas anaepes harjaning Haji beda duk jaman dingin ungkara Kanjeng Sinuhun ora amalar dunya nanging dunyane angrobi rijekene sing dunya rawuh ngakerat. Panembahan Girilaya wus sipta ana kang marik kagungan niyat kadunyan nanging tan anglaksanani panasi kundalining kutub prawantuning wus katah tatamu kang dede Wali sabotene angngukad ding kaenakan. Putra garwa saking sunda hing karsane mambrih sugi asipta hing kabangkaran putra warga sing surat adat sabrang aja mambrih sudagar padagang laut nyung nyeng sagongeng kula Wangsadipa Wangsakarti den nya anggelar saja abrangan sinang. Ya si wantu Panembahan sarosane wong sawiji apa maning wus abenggang kalawan sobawa Wali membering-membering meminggir kagumris benaning laku lan Panembahan Awal dupi Panembahan mangkin sabawang sumilir harjaning kiwa. K I N A N T I Hing waktu samono iku kusonya Banten kang dingin mralalu kisah ming Ngarab nani Sangeren Kanari minggah haji sina kangsal idine Raja hing Ngarbi. Sultan Mekah paring wahyu lamon Pangeran Kanari la yen jumenenga Sultan ana hing Banten nagari serta sinunggan Radukan Pusakane nabi Brahim. Pramila samantukipun ika Pangeran Kanari meperkaken kula warga ngistreni angangkat diri pyambeke jumeneng Sultan ana hing Banten Nagari. Tan kaya Mataran rengngu ora narima hing Jawi yen ana anana Sultan kang sanes saking matawis dadya rika malurungan seja ngimper Banten Aji. Wong Banten degeng hing wuruk duga prang salami-lami Banten layan Mataram lawas-lawas ika nuli ana panyapi walanda kang nama Kapitan Murgil. Ingkang bisa ngurus-urus wong perang dumadi mari sabab Banten den pariyat deng Murgil kinen nyahisi petugur aneng Mataram naban taun ganti-ganti. Dropan tulusa angratu aja na sawiji-wiji dupi Mataran den priyat kine narimah dumadi Sultan ning bala Sultan Banten nyaosi pakemit. La iku matganing urus Banten kalayan matawis ora kaya wusing kreta walanda minta upahing angarta prang neda kongang adodok aneng batawi. Sunan Mataram dumulur Sultan Banten angrempugi lah iku awiting ana Walanda aneng Batawi pan den nidep tuwa-tuwa dening para Ratu Jawi. Lan jumeneng Gubenur iku amiponi hing Batawi lir kamandi sumelap Ratu Jawa durung ngarti hing gatrane samana yen akir dadi kamandi. Asli teks pada halaman 129 ora nana Masjid Agung Banten iku nalika binangun nenggih angleresi babad jaman sewu limang atus nenggih tigang dasa kalih warsa punika kadining pelhing. Dupi mula-mulanipun Walanda aneng Batawi wau ingkang pranama Murgel nenggeh angleresi babad jaman kalih nira sewu limang atus warsi punjul tigang dasa tahun. Punika adining peling dupi Carbon duk samana masih Panembahan Giri nasi katiting ming ngetan sukuran manah lumiring. Lan ning Carbon masih harju durung kaslapan Walandi durung ana wong pantinan kuta Carbon masih kikib ngubenggi saharja pura tengreme wong Pakungwati. Babad Cirebon (3/3) by wayang in Kitab & Kidung A S M A R A DA N A Warnanen wong Pakungwati Panembahan Girilaya naban tahun sesebane hing ngarsa Sunan Mataram naban mangkati ngetan wulan sapar layen rawuh tanggal ping nem Rabiulawal. Nuju unining Sakati sabab hing Praja Mataram hing tanggal ping nemunene Sekati dugi hing Iplal kempeling para Raja kang seba ana hing riku bada Iplal sanya bubar. Beda aneng Pakungwati hing Banten unining Tabal Sukati tanggal wolune duga maring Iplal ira kokong ngang sing Mataram aja ngungkulan harju dumateng piyambakira. Banten sabane wus mari wus kapohung dening arsa patugur naban tahune prikati Mugel Jaketra lunta kaja mangkana dupi Carbon masih nungkul sina tat hing Bupaca. Satata lawan Kadiri Madiyun lan Banyumas Demak lawan Pajange Madura Sampang curiga sebahe hing Mataram titip awak piyambekipun jumeneng Ratu ampilan. Warnanen wong Pakungwati Panembahan Girilaya yen beba ngetan dinerek dening kalodahan nira Ki Arya Salingsingngan miwah Ki Dipati Ukur punapa dening lulura. Ingkang nama Tandumohi miwah Kaki kadurowan hing Gebang Wanduhajine ingkang nama Sutajaya dederek hing Mataram niniteni Gusti nipun larane wong angawula. Hing pamondokan Matawis ora na ngajeni pisan yen marek maring Sunane anglepo ana hing lemah konjem-konjem ana ing lemah ika ingkang dadi rengu manahe Ki Salingsingan. Muwa ika Ki Dipati Ukur umatur hing Panembahan kulipun duriyat kulon anak putu Rasullullah nemba hing wong Mataram anak putu kaya isun tunggal asal ka Galuwan. Moning ngapa sampun lumiring pangalataking Mataram kula Gusti kang tanggo hing banggane wong Mataram Gusti atas kaula Gusti sampun tumut-tumut barkahe luluhur Nata. Saestu Sang Raja Wali tangtune ngaobe barkah Panembahan adan linge aja geru yin rarasan bok ana kang miharsa tema dangdang muli kuntul pitenahe wong Mataram. Mulane isun ngabekti ya maring Sunan Mataram bok iki pada katambon mengkoyen sami asowan hing ngarsane Suhunan sun dudokaken tuhu jatine ingkang sun sembah. Amung aja adu linggih lan isun den kapiarta yen ana babisin ingngong ya ta kang para Lulurah ngartos wangsiting Nata miyos aneng pangangkilan. Sunan Mataram wus linggih ana singgasana mubyar kinubeng sakaprabone hing ngajap sagunging Nata sami konjeming lemah lir pitik atumon ulung rarasi para Nalendra. Panembahan Pakungwati tan tebah Lulurah ira ana katingal mancorong hing tinggaling salingsingan Nata Ukur pon mulat Tandamuhi pin dulu tengene Sunan Mataram. Ana linggih kursi gading komara nelohi jagat pinayung kadi Srengenge ajeng ngenging para Lulurah kawengan teja prana pareng bubar hing ngalungguh sami dateng pamondokan. Panembahan Pakungwati arising kandikanira la kaki paran was paos para Lulurah aturan inggih Gusti punika punapa kadi andaru nembe kaula karengan rupaning kang adi luwis. Panembahan angandika bok kai ora angratu kang katon ya ika Eyang Suhunan Kalijaga Boktan idep jati iku Jatine ingkang sun sembah. Urub-urub hing Yang Widi murub mancur Rasulullah insan kamil jati reka ingkang pangawak teja mageng araga sukma apa dudune luluhur Sunan Jati munggeng kramat la iku margane ngarti wis iking Gusti Panembahan dennya sukuran ngolosod hing sampar lebu Mataram anut inggeking mala sampun sedeng sami mantuk mring Pakungwati nagara. P A N G K U R Lami-lami ning ngagesang kudu bae ingrung nganing ngaurip Carbon katekanan musuh ring wong atas Maruta Ki Dipati Ganden hing paparabipun wong kalang wong angluluntang mangan kodok mangan babi. Sadina-dina genturan ya apesta manjer pangetokan babi lakok eneng agawe rusuh maring isene desa rarampasi singa cabar ya den roud duduwene den parusa ora nganggo sukane maning. Yen den po ika tukaran perang buru singa cabar ya kambil ora nyang kirangi hukum ngalahakn nagara ora mikir hing palakartining Ratu Panembahan Girilaya ora den deleng Narpati. Den anggep wong ngamandika Mila Dipati Ganden tan den tata kering amepes bawaning Ratu kang Patih Seminingrat saoli-oli anyabili maring musuh malah akeh kawat gata wong Carbon akekang mati. Kulawarga kaparungan akeh tatu angadang sura wiri wong Caikherang ageru grandaka kapunggungan Ratu Mendik apopoyan ning Sang Ratu Penembahan Adillullah den gondel sakti nulungngi. Kranane ika wong kalang ora kena den gawe beres urip den tundung tan gelem mamprung den rampek anglulungka datan kena den gawe sanak angutus gelar kadi camera kera tan ngaji bener satitik. Ngaluntang sakamya-kamya duduwening akeh den paksa wani sinemdu dadi agelut paten-paten brawasa lalon-lalon anglalu ataker marus angrebuti baranging liyan tan etang dipun pentungi. Dipun perang males merang ora kena dipun aru-aruhi yen den aru anggep lampus ya ta Kanjeng Panembahan karsa tumon hing jalma kang kaya iku kalih Panguli Jalila hing ngiring sagung santri angangge sarwaning petak patang puluh punika ingkang santri miyosipun saking datun kang sarta atakbiran Allahu Akbar rempug wong oatang puluh adi sabik-sabilullah sabille wong Pakungwati. Takbiran kaya Riyaya rame rempug swaraning hing wong santri angiring Pagustenipun miyos ming jawi kita beneraning Tedeng pan sigra katemu Dipati Ganden tumingan hing polahira wong santri. Ingkang sami atakbiran suka bungah dumado milu muni amuji puji Yang Ngagung karenan tanpa sesa dadi milu sainggeking Sang Ratu den kon muni shadat sakabeh wong pada ngiring. Den Islamaken sadaya Dipati Genden sako ela wargi wong Kalang wus pada anut mungalape Sang Nata den dodo kaken hing Pakalangan iku akumpul dadi sadesa Pakalangan iku yakti. Pan titiyang selam anyar yasanipun Kanjeng Panembahan Giri layan mila-mila nipun ywan kasebat jawa Pakalangan angabdi maring Sang Ratu kongang lamon den edola ping pitu sadinamangkin. Katampun Ki Jalali la yen ika sinengge kang abdi milik Pakalangan ika ikusabad ika wong Kalang ikang pada teka nagara ming ratu gawe kalakuwan gagam angalasaken nagari dupi sunda pagunungan sinengge abdi kasiyaning Haji krana nalika duk mau ratu ingkang tumeka amerangi maring nagarane iku marmanipun ketang seda lawan Pakalangan mangkin. Lawan aja gawee lo kan nadyan gunung pon beda-beda ugi yen wangkid gunung prakuwon yen iku abdi amat krana iku Islame pinrang nging Ratu Islam soteh karana kala perange dening Sang Ngaji. Yen si wong Gunung Prajangan ku mardika krana Islame dingin ora karana pinukul perang dening Sang Nata estu iku suhud dewek maring Ratu mula tan sinengge amat den nira wong Pakungwati. Dupi Jawa Kapetakan tungal layan Pakalangan kahabdi krana alame Sinuhun iku Pangeran Petak sabalane pada gawe rusuh-rusuh kaya Pakalangan uga tan nana beda sademi. Mila Kiyai Jalita Pangulune nagara Pakungwati ngukumi yen ika dusun kang aran kapetakan Pakalangan tunggal bae habdi mamluk kamilik Sang Nata Hing nagara Pakungwati. M I J I L Lami-lami hing solah maranti sabaee wong Carbon hing Mataram saban hing-hing Mulude datan ginggang Ki tandomohi Pandelengan mangkin Arya Jagasatru. Para Lulurah Arya Salingsingan mangkin den nya amigatos Malangsumirang murung hing nitine yen ning wetan aniningali wong ngajar juri aneng alun-alun. Pada ngagem tohok tur aniti kuda pada angrok tumbak tinumbak tan pasa kulite ana ingkang baksa amawikepeng pedang paris atangkis sarawuk. Pedang pinedang tanana ingkang kanin wane kangsarogsog balang binalang ngaken ninggeke sinuraken dipun kapoki gamelannya asri pinatut lan bedug. Warna-warna dennya ngawi ragi jogeding asosog wan ingkang tandaknya angulur sabagi-bagi dennya mambri kasukaning Ngaji bala sili hatur. Atur-atur hing manca Bupati dumateng Sang Katong ing Mataram kalangkung sukan amingali ingkang para abdi atur pangupaksi maring Sangaprabu. Singa nagara pada metoni tontonan ning kono ya wong Carbon den niri gawe meton nana tontonan kang maring Kanjeng sri Bupati wong Carbon sasdu. Matur yen boten wonten minangkani Grago tiyang bodo boten wonte kanga tiyasa joged pangawi raga boten bangkit hing kasakten malih yen nit yasaha tahu. Wong Mataran kudu bae ngiri maring anak Carbon Arya Jagasatru wuwusi lan iki kentasa bedil kang ageng pribadi kinarsakna amanggul sarta nyuled ya ta wong Matawis pada kamisosot he wong wong Carbon pugas hing ang kowe ya ta sinukan dening Sang Ngaji yen nyuleda bedil sapujagat iku. Arya Pandelengan tandas aglis Salingsingan gatos angiseni obat sasedenge den enali pasek tumuli piyambake manjing sarta enal iku. Nuli Arya Jagasatu gasik Nata Ukan gatos ngangkat bedil dipun panggul dewek Tandamohi ingkang mulad bedil jumegun agonjeng kadi jagat lindu Jagasatru wangkeng datan mosik kukuh eh lir papatik hing bedil Sapujagat kekere ora mundur ora gumingsir lir wong manggul epring tan katon wratipun. Pandelegan kang kabiyas dening obat kadi pelu hing janjana tan kruwan tibane ora suwe jaragenek nyanding hing ngarep ping bedil bada masi watu Wong Mataram iku nembe uning Laksanainya Carbon Ujar satepak katut bebede ora kena den ina urip Lan iku gegebring saktine kayeku. Manda dene Bandarane yen uwis nemor gawe katon ika gadang punjul saking papake Carbon kudu den prayekani bok manawi dadi kamandi hing besuk. Yen wis samono gatrane kahaksi dening tingaling wong aja katungkul nononton saktine kudu anyangkirang hing ngakir. Coconteging Aji maring kangkad ye kun Di ana ratu kang dadi sakti gelare samono tangtu iku gelare samono aja kerup rupane aking kadya bibit uwi kaligane muncul. Ela iku marmitane dadi Panembahan Carbon den patroli hing pamondokane den talikti hing raina wengi dateng wong Matawis den titeni dudu. Ya sangune isi sega aking den korek den tinjo den taliktik bok ana isine kanutane den galusoari katetaning kancing den wewer usung. Ya iku ngenese wong Pakungwati dipun notok kaya ya angrasa den ina prajane Arya Ki Dipati Ukur. Katuwone dening luwi-luwi Tan den daleng uwong Makaten ugi hing saciptane Wandu Haji Gebang kang nami Sutajaya dingin mana winaringrut. Wong Carbon pada rengating ati den gawe samono ya ingkali wong bresi tan duwe manah digjaya tejaden serik won serya sayakti teka den lulupud. Ya wong setya ika teka den pracekani ka ta loroding wong carbon sedeng mantuke ing grage angngadati hing naban warsi bada Iplal mulih dateng praja nipun. D U R M A Rakaya Ki Dipati Ukur hing wuntat ngari aminangkani kiwuling ngaguna matek aji limunan malebeting dateng puri aneng Mataram tan nana ingkang uning. Malah gedang semangka hing dalem puri den dahar ingkang isi kulite waloh eya geger ring wong jro pura tumon gedang pada masih wutuh tan kaya isine musna gaib. Mangkana uga semangka kang pada musna isine hanging kang masih kulite waluya gawoke wong Mataram dening tembe ameningi kadi mangkana oreg sadalem puri. Nuli ika Tandamuhi matek limunan lumebeting jro puri menangi Sunan ika diweg tuturas emase dipun contengi apu madu pat Sunan kaget ningali. Aningali emas kaligane ana coconteng ingkang putih pikir ana baya iki ana durbiksa baya belis saking ngendi ngaru maring wang dubilah den tebih. Enggal sira ingkang dakar winasuhan nanging yen uwis aking kaligane ana maning cocondeng pedak Susunan dangu mimikiri dereng kamanah ingkang ngasung wigani. Nuli ana Ki Arya Salingsingan muja alimunan den wisikik manjing hing kadat yan amenengi kang Susunan diweg dahar den ladosi para parekan Ki Salingsingan aglis. Manyungkur hing kumise Kanjeng Suhunan kumise kang sasisih ya ta sang parekan kaget ningali Susunan kumisi ilang sasisih mancep ngujiwat Suhunan maskitani. Angandika kuwe mesem mulat maring wang apa kuwe sarasmi maring raganingwang dupi mangke den usap kumis kari sisih adan Suhunan mundut adining carmin. Amratelakake kumise kang ilang ngilo kakaco yakti nyata kumis ilang nyata Sunan ngandika sapa ingkang wani-wani hing kumis ingwang den cukur kari siji. Nuli ana swarga uni sabda nyauri hing Sang Ngaji swara nya enya anu nyokuran Sunan Mataram nimbali Papatih ira apariksa lahiki. Ya kumisku ilang sasisih kelangan teka ana nyahuri swarane kang mun ya aning artine apa Ki Patih matur wotsari artosing basa aning punika kami. Gih punika basa tiyang Carbon Sunda lah iku marmitaning Susunan Mataram nyereg yen Carbon ala pada undangana gelislakune nyetan sugih rancana demit. Wus katulap yen dadi musuh hing nata wani amanjing puri ora lan dadalan nyukur kumissing Nata ora layan den badami sasaha si pakurwati. Ya Ki Patih matur nuhun duka Sang Nata anak Mas carbon mangkin pan sampun kalilan mantuk dateng nagaranya pandugi kang masih hari rowangan nira ngalindeng digja demit. Boten kados tan kasasmata hing tinggal saking pundi marganing ingklang kacepenga Susunan angandika lah lurugana tumuli Carbon den kena babandane mariki. Lah iku marmitaning dadi cela Carbon lawan Mantawis mantingka lurugan Pangeran Purobaya kang tumanduk anglurugi aneng pakudyan sarta para prajurit duga maring Carbon ika masanggrahan mungguh kiduling kali kang mangke katelan Paronggol namanira enggal Kyai Tandamuhi kang lumantinga hing gelar sing Matawis. Kacarita Tandamuhi kang laksana tumanding hing praweri Pangeran Purobaya anyuduk tinadahan Tandamuhi dadi kalih pinindo dadya papat anggambing-ngambing. Di ping telu dadi wolu ingkang raha sigra kinen malesi dupi lumaksana tandamuhi sumeja anyuduk hing ciwakan mangka ning ababa kudaburak ika dumadi. Ya Pangeran Purobaya dawah hing lemah narimah kawon jurit bubar sarta bala wansuli maring Mataram atur uning hing Sang Aji yen Carbon mapan tan kena den gagampil ya satepak kekere karo wadyanira tan kena den gagampi;kadi uler timah panas bawaning setan punika wong Pakungwati osugi guna setan katong ngadohi. M E G A T R U H Yen sinuduk dadi akeh kaya lelembut yata Sunann Matawis ngutus sejen wira pamuk niroban bala braketi gumodug parane ngulon. Iya iku Tumenggung sing Pasir Kidul kang guna prawiwa sakti Pangeran nang Selatelu sumeja anjajal maring kutaning nagara carbon. Durung teka maring prawatesan Pakung nembe duga ambeneri tugu mangangkang katemu Nata Ukur kang ngadepi atanding wira kammacon. Ingkang bala Mataram kundur katumpu pada mulakipun dening pangaruhe Nata Ukur kenang ubang-ubeng dadi polahe amider panon. Ubang-ubeng tan karuhan lampahipun amemegeli kang ati nyata ika Nata Ukur anulak musuh Matawis tan kadugi datang Carbon. Apopoyan wau hing bandaranipun yen kadi musuh iblis abdi dalem alalaku boten katik dugi-dugi pijer kapuyangan kapanan. Estunipun amusuh pan dede musuh kadi prang lan dedemit tan kantenan gelaripun ya ta Susunan Matawis angutus hing sejen wong. Sena pati suwanggi sabrang punjul kait lan dukun gentiri wong Mataram kang angri yung lumurug hing Pakungwati seja ngempes anak Carbon. Ing ngiring ing bala pirang-pirang umbul wong Carbon tan nedang-eding Panembahan ora weruh yen piyambake den lurugi angeca-eca kemawon. Ana soteh kang seja nulaking musuh Ki Arya Wanduhaji hing gebang bronjot kang mau Sutajaya angadepi saking Losari kemawon. Saking sabrang kulon hing kali duk rawuh para musuh sing Matawis pang rahose remek-rempuh pada rusak den amukir tur sajatine baloklok. Sutajaya tan kesah-kesah angambek mung ngadeg nang sabrang kali amatek hing ngaji nipun tuju lajaran ngenani bala Mataram wuslorad. Iya mulak pangrasene ana kang ngamuk nanging tan kruwan kang wero kadi wawayangan nempuk amepes nyawa prasami kandur ingkang bala katong. Mila kocap ing Gebang laksananipun anulan musuh Matawis matur hing bandaranipun yen Carbon kadi dedemit uwong soteh dede wong. Ulur-ulur tali barat hing lelembut tan kenging den kanta jalmi dados mesa dede musuh memeri amese pitik sumanggeng karsa Sang Katong. Ya ta Sunan Mataram kalangkung bendu angraus durga kalilip apa maning wuwuh imbuh akeh sinangarya serik kang kapentas hing Matahok. Pan wis ana kang aserik hing Mataram iya anamprung manca maring Pakungwati agolong ana hing carbon dura tanggon anggon. Mila sami pralalu manca anunut maring Ratu Pakungwati kang sabar krana Hyang Agung rembesipun Raja Wali Kutubing nagara Carbon. L A D R A N G Pakungwati lami-lamining ngaurip kudu ana bancana isining lahir ora liyan ya Ki Buyut Alas urang. Ya tedaking Dempul kang dingin maranti angka-angka ingkang umbul-umbul waring pada raraton awanguna si karaharja. Ya sakait lawan Ki Buyut kang nami Ki Supataka pon turuning hamet wani mung cirine dening tan huning hing daya kurang waspada hing gaibe dumadi guragapan mengke yen anemu sandi puharane dadi kaya-kaya bocah. Ya ta geger genturaning Pakungwati alad-alad Patih Seminingrat aglis anglurug hing alas Bakung sinikara. Sawatana prange Ki Buyut ningkir leber mapan ming kapetaken den tungtik dening Kyai Patih Carbon Seminingrat. Hing Patakan aprange sawata wis sigra bubar angajab samargi-margi angrurongseb hing laku padang raraja. Angararaja kanggo sangu ning madigdig ingrarampas singa ing dalam kapanggih ya den rebut wani hing tingkahira. Buyut Urang sabatute sala hepti seja nyelang Carbon pusaka kujang. Moyang Panjunan katitipaken nasri mring Suhunan apa benere wong titip yen wis lawan ya kudu angolehena. Ya ta tan gelem ngolihaken positip yen wis lawas benere wong ananagi yen matungteng iya kudu penerang ngana. Ya ta sira saya angrempagi sanak-sanak warga Panjunan kang sami amarenca hing kulon angriyung teka. Siji loro sing Kandangur sing Junti miwa ika saking Singaraja malih sing Dramaju sing Ciasem sing Karawang. Ya sing Pontang sing Tanara asing akeh malih sing Jepura ika katilas awani maring Ratu Carbon seja salah cipta. Seja ngangkat Buyut Urang ngadeg Aji ora kaya Ki Patih Semi naliktik pareng wengi anjejem guna wikara. Buyut Urang lsgi turu dipun godi langkung katrap sisirepe patih Resmi ya wong domas bature Ki Buyut Urang. Kena kabeh iku pada tinangsuli tampa sesa binakta ya hing ana ing Pecattanda ana hing Kendal Kajaksan. Ku wong domas wis pinanjara den Patih Seminingrat sadaya malebet sami. Wong domas bature kaki Buyut Urang den beloki nang Katandan patut dening oli patang puluh wengi nuli ika den aerus dening pajaksaning Ratu Carbon ana hing Kendal Kajaksan. Den kukumi mau ingkang mamaten iya pada den esrahaken ning Judi ya medaling pamanggahan pinatenan. Dupi iku kang rarajah rarampasi dipun wedal lakeng ning pasapon pinrih den gitika anuli ika den buwang. Dupi mau kang pada garumbyung pitik kang kagebah ora kalawan pamih ku karsane Ratu Carbon den mahappa. Ya wus sirna rasa rusiting nagari kabar kahan luluhur Sang Raja wali aneng Carbon mapan masih tedak lima. Sidem kayon kang reka-eka pan nyilib pulih hardha waluya abecik ati embuh besoke saikine ya wis kreta. P U C U N G Tan warnanen hing Mataram Ratu Agung dumatenging dede manah dumatenging Ratu Carbon reh patusan ping tiga tan antuk karya. Kaserenging napsu kaliputing bandu asraya Walanda Kapitan Hetal jenenge pinroh kena babandane sang Narendra. Anak mas Carbon aja ora kajuput maring ngrasa ning wang tau rasa sira mangko yen campole iku sobat dudu lanang. Yata ika Kapitan layar minmg laut amargi sagara wus kadungkap maring Carbon lampahira tangginas ya enggal papta. Wong Carbon kapengel tan ana ngaru hing waktu samana tan nana Walanda tumon aja maning umah-umah hing nagara. Durung ana ana Walanda jeneking Pakung wong Jawa aringas maring Walanda katemben iya iku durung bisa hing katanya. Durung ngarti terang ing kata malayu den ajak tabeyan Panembahan dereng ngartos ya tan suwe adining pangalpuka. Panembahan nurut bae ing sacatur ring Walanda bisa katiga putra anderek Pangeran Sepuh Pangeran Anom sada. Kawa naha Panembahan lampahipun lan Kapiten Hetal angrasa yen olih gawe pan wis katur hing ngarsane kang Suhunan. Ingkang bau Panembahan pan tinangsul dumadi pratanda arrah babadan semune inkang putra kaliye ngartos sing reka. Yen kang rama angsal dukaning Ratu Agung hing Mataram dereng ngartos ing dosane nuli kinarsa kinung-kinung dateng pasowan. Ginunem repit seja pinambrih lampus hing pada nayaka malah wis ranpung guneme boya rempug yen den pejahana ganal. Ya karan bebeting Bantang bilih metu budine rakasa hing ngarab pan datan suwe ya puhara dadi wisahing Suhunan. Ding sejane seja demit ambrih lampus seja guna digdya baruwang ingkang jinawe kula warga Carbon wus dumuging kana. Ingkang Gusti Panembahan sanget nganglu miyosing pasowan den muleh-muleh den gotong den aji-aji binakta hing pamondokan. Tanna dangu Panembahan nuli larut gurnita yen seda den mulya-mulya sinareh den Astana ana hing Giri Malaya. Mila sinebut hing wuri ing nama nipun Kanjeng Panembahan Girilaya sinambate guring jana yen Mas Carbon wus seda. Sarta karsane Susunan lamon la iku putra Panembahan tan suka mantuking Carbon den kukuhi kekel ana hing Mataram. Kang den arah drapona aja na sumulur darapon dumpura raja ana Ratu Carbon bilas ilang hing Carbon akundang setan. Angrobohi karaton laku angaru annyotengi dakar nyukur kumis lah samangko rasakena dengda wisasating nata. Ana rengi waktu samono pihibur perang Trunajaja seja bedah Matarame putra Carbon loro pan katimpal-timpal. Greg pating bilunglung larag-lurug maring ngedi ora putra Carbon kalbesate hing nagara Kediri pan wirandungan. Pirang-pirang hing Carbon tahun asuwung katuwagan Nata durung ana sumulure durung ana kang mikir ngangkat Raharja. Ya sing waktu Panembahan ika larut duk ing babad jaman hing sewu limang atuse pujul wulung puluh papat lumampah duha maringalu anembelas tahun tembe ana karsa. Sulta Banten pasiyane apotosan ametuk kang putra ika kang kablesat hing Kadiri lampah harju kinen ngamitena saking Sunan Matarame ya ta Tubagus ingkang prasami mapagi. Kesah maring Mataram ika anuhun lilane Suhunan lamon ika putra Carbon kang kakalih kasuhun kahamitena. Kang karsaken ana hing banten salimur tunggil tunggil melas sanggine ing Banten bae munggih munggiya wontena idin Suhunan. Ya tan Sunan Mataram suka dumulur maring penenada hing wong Banten kang samono kon malaksak dewek maring pangngumbaran. Den salaksah aneng Kadiri tinemu dan sigra binakta maring Banten sakaliye rena-rena Sulatan Banten adurran. DANDANGGULA Kanjeng Sultan Banten tumulur asih rempug lawan Morgel Jakertra seja ngankat Ratu Carbon Mugel Batawi darbe wawani angadegaken Sultan krana Banten iku angsal idin saking Mekah lawan angsal Pusaka Rasukan Ibrahim pramila kinawenang. Pangeran saking Carbon kakalih mapan sampun ya jumeneng Sultan hing Banten den intrenane nuli kinarsa mantuk maring Carbon dupun katiri Walanda sing Jaketra ingkang naminipun anengge kapitan Karang lan Raja Gowa Bima kang prasami kinen angraksa ha Sultan. Embok ana panusul sing Matawis ya ta Sultan sakoro wus harja alinggih ana ing Carbon babading jaman sewu nem atus hing Carbon mimiti ika jumeneng Sultan Walanda kang tunggu mimiti ana Walanda iya iku Kapitan Karang rumakseng Gusti hing sajenggering wibawa. Sajejeging amaro nagari Kasepuhan lalawan Kanoman iya tatkala samono Sultan Anom kang mangun Kroton piyambek amurwa puri sangkane tumuruna maring anak putu dadi ana Padaleman loro eneng jroning kuta Pakungwati ya tatkala samana. Loro soteh kukume sawiji pramilane yen kukum hum sarengan Jumah he ya bareng bae ana hing Masjid Agung Panggulu hing Kanoman Gilir Jumah atuwin Riyadin sapa hing fitri sapa hing alkoh mangana maning unine Sukati sapa Mulud lan sapa Riyaya kalih katong roroning tunggal ingkang linggih Ratu Kapitayan duk samana hing Kasepuhan nami Ki Arya Nadin asale wong palekat. Para Gusti duk samono musi durung ngartos dumateng rarasan malayu marinaning gawe jurubasaning wuswus ingkang nami Ki Arya Celli iya iku kawitan ming ana Tumenggung aneng nagara Pakungwati ingkang nginger ala beciking nagari Sultan suksara pracaya. Yumenggung ika kait lan Walandi Kapitan karang lan Raja Gowa Raja Bima ture mula kaduga lebur kut a Carbon den burak dadi den gawe bentengira anang pinggir laut sirnaning pusaka kuta timbul benteng wawangunaning Walandi anjaga jaga Sultan. Lah iku waktuning carub urip akeh Walanda akeh wong Cina nunut suka hing Sang Katong sinukan sami kumpul umah-umah hing pinggir kali sakuloning pabeyan ngadepaken dutu ambanjeng pacinan dalang pada gawe Kalanteng sabagi-bagi acaket lan sabandar. Pabeyan pamicisan dadi kumerab sakuling bangsa-bangsa pawalandan Kapitanne ya Kapten karang wau Kapitan Cina den arani Kapten Burwe kawitan ingkang pada laku makoda wane pranakan cacalang ingkang den wuri-wuri jagane bok ana aprang. S I N O M Kawarnaha ingkang kadang kang metu kang saking ngapti Pangeran Kusumajaya dennya karem maring supi tanopen anak rabi umah bale burang abur tan ngtang sandang pangan hing bratapaning tur gempih mila dumadi ing barang sacipta nira. Bisa ngambah awang-awang lan bisa mencala putri kinawenang sejan rupa lampah sakedap dumugi maring prenah kang pinrih wus ora sangketing laku karemenipun wayang dada lang kang wignya adi kang sinengge hing sugul paesan tunggal. Datan pegat anglambayang mangka ika anarengi leledang maring nagara kapareng Sultan kakalih diweg aniningali benteng anyar winangngun Pangeran Sumajaya Kandikane ya iki Kang ginawe menggung waji kudiran. Natkala nabda mangkana lari ngijoggaken ecis hing kuta Bentang ahobah oreg lir bumi ginonjing semune manci maringkang rayi dumeh kadyeku campur budi Walanda gawe benteng pasang bedil ya ta Sultan sakalih asruh ngandika. Sampun makaten kang raka lumayan bade madosi tiyang bodo drapon ulap ningali benteng puniki dupi jeng raka serik boten remen ning puniku jandika nyingkir kewala hing parnah gen kang sepi dan Pangeran Sumajaya wus ayimpar. Aguling hing Karjuwanan atmane sampun dumadi ratu topong Baladewa hing pesisir kidul nengih ika ana hing bumi Cidamar gennya ang Batu nama Sunan Prawata tur balampun gagaib gumlar asrih pada sadela. Ya ta Gupenur Jaketra kaget tumon giri rusit dadi samnya pada apyak saradadu anglurugi pirang-pirang prajurit saking Jaketra kumebul kaligane kang prajurit pada potol endase tanpa karana. Mangkana lawan mangkana gawokipun wong Batawi nembe tumon lampah perang amorotoli pribadi akeh pada sasiri anglurug pada angandu sagena-gena pada geris pada marotoli pirang-pirang Sradadu Jawa Walanda. Danggome geger genturan Moggel Betawi angarti yen pisaniki kudowa anak Carbon ken nyabili maring Cidamar ambrih jimat pamunakih lurug ya ta wong Carbon dangdan sarta prajurit Walandi Kapitan Muris kalawan Kumendur ajag. Lan Mantri Astraditaya Sultan Loro pan lumiring anglurug maring Cidamar pasir kidul den purugi ora manggih dangending Cidamar amanggih suwung gawoke wong Walanda ra manggih itu ini erane kang mau apa durbiksa. Datan wruha ika atma atmane kang mangngun guling ana hing gon kajuwanan parengika den lurugi dateng kadang pribadi dumadi enggal awungu kana atma muksa ilang mangsup hing ragane atang. Sultan loro sing Carbon wus ngarti uga lamon punika kang raka Sumanjaya den nadeling ngangken wiratama nira ngesemi wong Pakungwati anrorag-orag rayi aja katungkul anggugu kula reja Walanda kawas kita angumandi para gusti hing rupane asengaja. Sengaja campur koripan angramekaken nagari anganjarakening yasa amburak yasa kang dingin kuta Carbon wus bresi kagantening benteng ngipun ringa-ringa hing Jagat wera ingkang dipun pambrih nanging salirga gaib dadi atebah. Tut satitik musna ira guriyang hing Pakungwati katiyen dening Walandi hing Carbon buncari tebeh ilang sagunging mandi cama kapupuna hing dudu mila Kanjeng Pangeran Sumajaya asung wangsit supadosa para Gusti saja nemaha. Henda ilang hing guriyang sok remaja hing ngaurip kang aran sagula wenta ingkang manis ingkang gurih anglalu sada lali maring mantraning luluhur tewaju hing kaldunya kal akerat kang kakeri lah iku prabawa Pulung yun mintar. K I N A N T I Hing Carbon sawaktu iku mari seba hing Matawis mung asrah patugun jalma saban tahun gilir ganti atilad wong Banten pura patogur hing naban warsi. Pon tunggal parigelipun Tuwan Morgel hing Batawi Sunan Mataram narimahwus ora kauni-uni apa maning hing Mataram lagi ibur durung mari. Perang Tronajaya nipun seja ambedah Matawis pramila aneng mataram tan pati ngungseda jawi rada repeh hing wisaya data kadi wingi uni. Carbon tentrem dening estu den jaga dening Walandi kang nama Kapitan Karang ingkang dipun katahani dening pambrih hing Mataram wedi mring telik Batawi. Mila kauripan nipun Walanda den katelingi dening Sultan loro pada sing Kasepuhan wong limang atus nyuosi sakarepe wong Walanda wong sewu ingkang ngupadeni sarta kinawenang dagang mambrih untung hing nagari. Sakarepe cari untung ora ana ingkang den sangketi anggolang bala makida hing nagara Pakungwati apa duduni wong cina mung ora den gawe telik. Cina amung cari untung ora jaga lunggu Aji mangkana ika wong Kaja wong Bugis lan wong Sarani sakarep angulan dara ora angraksa Narpati tami lamining tumuwuh kadang dalem kang anami. Pangeran Emas amolar maring kang raka Sangaji amode sanungi anjang kaoripan hing nagari. Kang raka Kendal tan pasung bawaning tan mandarbeni kawasa ngadegna pangkat ngajaba Banten kang wis olikokongang sing Mekah dupi kita Pkungwati Bara-bara kita tuwu samene ngulat ngulat ngendi aja agawe ungkara bok temah tan makenaki wis esak-esak kreta aja akeh pokal-pakil Pangeran Mas duk rengu adan angitar priyangga surat recep hing Batawi den dala hing pendi anyar den tutupi cowet siji. Den dempul lir wada majum sapa jana isi tulis den cocol lawan tampelang wong siji intere demit dumugi maring Jaketralampahe anumpal keli. Hing kana salaminipun ana hing tanah Batawi tanama kang piduliya angrantun anang umaning tukang sayur hing Jakerta tatamane sang Morgil. Malah rerewang nyanyapu nyiram kebun kunti wiri sing kene marganing bisa katemu lawan sang Morgil tatkala Gupenur leledang sore-sore niningali. Maring sasayuran nipun patusan Carbon agasik angaturaken kang surat Morgel Gupenur sampun tampi surat kaharti sadaya adan sang Morgel Batawi. Ika sang Morgel Batawi lawan Sultan Banten puri yen ana kadang pakud ya neda ajang hing ngaurip Sultan Banten mapan rempog pisan lamon den duluri pan sinungan ajangipun sing Kasepohan pinardi maringana ajang gesang limolas desa mangkin sing Kanoman mangkana limolas desa pinardi. Wandening jenengan nipun di sone ika nguruni lalaerine Panembahan lah iku marganing dadi hing Carbon Ratu tiga duk babading Jaman Kali hing sewu nem atus punjul telulas tahun jejegi ya ta sang Morgel Jakerta angintar tulis kang maring Carbon hing Kapitan Karang surat angkataning Aja. Panembahan sampun lungguh Ratu Mandita ngajasi angreh telung puluh desa pigegeling wargi-wargi Kasepuhan lan Kanoman Wus marem kang lagi runtik. Salat Jumah gilir telu hing nagara Pakungwati panjaksane pan titiga karatone mapan nganpil maring praja Kasepuwan dening ana titik runtik. Ming Kanoman ana rengu rengating mana wawangi tur ta iku Sri Kanomam tunggal saya ya babibi wus karsaning Allah uga cawenga kagiri-giri. Pecat mati dennya rengu naging datan dadi rusit hing aturing nagara lumari anuli dadi harjane kang panagara salameting gira rusit. ASMARANDANA Lami lamining ngaurip pada ngintar kahungguhan kang dadi cager akire aja geseh hing sulur kang gadang nyuluran ingkang rama lamon lampus sinungan dingin pratanda. Nama Pangeran Dipati anang praja Kasepuhan Jamaludin kang gadane sumulura ingkang rama benjang yen wus seda hing linggih winangun tangtu talitih Nalendra dipa. Dupi hing Kanoman wasis bawan ning sanget memeleng wantu kanjyaran lungguhe anoman wong anyar mela beda wong Kasepuhan lalorining datu agung sing ngalem Susunan mula. Wong Kanoman sanget pikir kawangun cager hing manah ingkang sengge sawadine sadurung-durung ngilina Sultan anom asadya abadami lan Gupenur miwah Sultan Banten pura. Panuhune ingkang siwi den udanga nama Sultan kacagerna namane bae nanging ngora mela praja pom masi nang Kanoman dadi Pati lungguhipun mung namane bae Sultan darapan enaking ngati hing wuri aja memelang Morgel Jakerta anderek salarsaning Nata dumulur maring kadang Carbon Kanoman kang sunu kinawenang nami Sultan Sultan Carbon ingkang Ariya Mandurareja hing ngadunane eca hing manah cagen ring wuri sumulur sirna rasa mana melang. Jeng Panembahan pon pikir wangun cager maring putra den asri nenggeh namane Pangeran Dipati ana hing sri Panembahan mangkana Ratu hing Pakung dennya angraksa turunan. Ing Kasepuhan kang siwi ika iku ingkang nama jeng Pageran karerange rayinipun Jeng Pangeran Dipati Kasepuhan lan Jeng Pangeran Tumenggung lan Pangeran Natasurya. Kajalan ingkang nami Pangeran Jawikarta kalawan Jenga Pangerane Suryadiningrat kang naina Jeng Pangeran Suryanata dupu warga istri nipun punika ingkang paparab. Ratu Raja Yupawestri iku putra Kasepuhan dupi putra Sultan anom estung jengger hing wibawa krana putra Kanoman akeh sinongan lulunggah Kadipaten sumarambah. Iku Pangeran Dipati Madangda miwah Pangeran nama Dipati Kedaton Jeng Dipati Rajaputra Lan Dipati Awangga Lan Jeng Pangeran Ratu Lan Dipati Pringgabaya. Miwah Pangeran Dipati Rawamenggaka ika lawan Dipati Kaprabon lan Dipati Rajakusuma kang istri nama Jeng Ratu Arya Kidul Lan Jeng Ratu Arya Wetan. Ratu arya Kulon malih lan Ratu Aryu Paengah miwah Ratu Arya Elor lan Ratu Arya Kancana lan Ratu Arya Kendra lan Ratu Mas Kiranahayu lan Ratu Mas Najiyah. Ratu Mas Rara Pawestri lah iku putra Kanoman kumerab serta gelare para Gusti hing Pakungja marena ingkang tedakan ingkang ngasa ya sinebutaken nama Raradenan. Sasuka-suka ning ngati hing Carbon sakarsa-karsa tanana durga angampo cacangkok-cacangkok ira wangun sakarsa-karsa Tumenggung pasitenipun tanopen Tumenggung nagara. Riniyung Punggawa Mantri katak wus tanpa wangenan hing ngadi-jadi Sang Katong anjalana mangku reja sakariping sewaka Sang Ratu tan nampik ulun ingkang ngolah niti praja. Anopen yuda nagari Sang Ratu ngumbar langenan kang maring sakukubane amburu kidang menjangan anjaja wana wasa ing ngiring sakul paburu muwa ingkang paninggaran. Kesel anjajaring rusit nuli angumbara langenan dumateng pagunungane wani ming sangjang Talaga ana kalane yasa babalongan adi langun ana hing sakarsanira. Ing sumber hing Linggarjati waneh samudran wangunan nawang gambir layane kesel angula daratan ameng-ameng paprahu konting hing maja lautan. Keseling maja jaladri ming daratan angadu macan den edune lawan wong hing Karangkeng wong kang nama Ki Taru lan Ki Wukur kang pada angaji timbul aji girang sing Karang. Ginawe bakti remening pangameng-ngameng Nata duk samana dodolane wong cilik tarung lan macan lan banteng dadar tapa lan den una sikalaku dening kartane Sang Nata. P A N G K U R Satuwhe hing ngagesang kudu bae ana rungsebing bresih ana ingkang rusuh-rusuh wong raraton ning kana hing Gunung Galunggung paja-paja Ratu bebresatan saking wetan ngulilip laku momori. Momori hing Karajahan apinda-pinda Ratu ngirupi alit ya ta wong carbon anglurug Mantri ingkang pranama Sarajaya kalawan Ki Jayengsatru Astrajaya ya pon kesah Anglurug sing Pakungwati. Kanoman lan Kasepuhan samya lurug pan samya ganti gumanti dumateng Gunung Galunggung pintening lami nira graya-graya lan akeh ingkang kasambut marmane ika walanda enggal pada anulungi. Ingkang para kinapitan Kapitan Ros kalawan Kapitan Muris Kapten Cina mapan melu Kapiten Burwe ika Kapitan Hongge lan Saradadu nipun miwah kang paranakan den luruggaken ajurit. Pirang-pirang tambur ika saradadu Walanda anggunturi angelar pabantu-bantu wis pirang-pirang wulan gennya gelar angluru ya hing Galunggung lawas-lawas kawatgata rurusit Galunggung lari. Bubar lurude mingetan wusing kreta tan nana uni-uni ora kaya hing dumuwu kudu bae kakenan rusiting Kanoman kapitena ya hing dudu Papatih hing Kasepuhan kang nama Ki Arya Nadin. Ngajab lubering Kanoman darapona jengger dadi sawiji mila pitnahe matur maring Likman Walanda yen wong Kanoman nyimpen wong Bugis hing kidul kanggo angremek walanda ajan hing Pakungwati. Lah iku marmine Sultan Sultan Anom den benteng sawatawis katiti tan wruhing harju ya ta ika kang putra ingkang nama Dipati Pringgabaya rengu anusul dateng kang rama hing benteng dipun lebeti. Hing ngadangan hing Wanlanda kudu meksa akeh Walanda kemit kang den adu kumbang kondur ya lan sampun kepandak kalih rama hing benteng sigra matur nuhun idene jeng rama pun topi hamba kula srik. Kula tumpes pun Walanda ingkang rama girap-girap aja Kyai den eman ming anak putu aja murwa marah aja sira darma mimiti hing dudu temahe nak putu benjang kang rusak darma lakoni. Ana dene diri ningwang Allah uga ingkang angudaneni karanane anak putu bok ora kaya sira aAlung den ngati sukure maring Yang Agung jugala awet harja nunggu pusaka kang dinging. Adipati Pringgabaya sireping rengu pituturan kang sajati pareng Walanda angruru kateranganing lumampah Bugisnyata ana hing pasisir kidul sateh Bugis umah-umah ora edang ora keding. Nyata dudu sisipena Duduminang sraya ngramek Walanda lah iku marmitanipun Sultan Anom luwaran saking benteng salamet alungguh RATU Walanda neda sapura Jeng Sultan angapunteni. Liknan Pandemhir kang nama ………………………. saenggu ati ………………………. kang wau Sultan Badridin mula ………. ingkang kula Kanoman iya iku Sultan Gusti iya tunggal kang nama Sultan Badridin. Dupi aneng kasepuwaning kang nama Abdulmakarim Samsudin ingkang mula nipun ingkang anama Sultan Kasepuhn ingksng jeneng Sultan iku genipun jumeneng sultan amungan rolikur warsi. Anuli ika sumala ajejegi yuswane hing ngauripa sangang dasa kalih tahun sumulur dateng putra ingkang wau Pangeran Dipati tangtu hing ngestrena jumeneng Sultan nami Sultan Jamaludin. Aneng praja Kasepuhan wong ngagung ahli suluk hing Hyang Widi kasengseming dera sugul murakaba hing sukma anirna lir awujud cengeng ing tawaju hing supi kapangeranan madep hing jamalullahi. Kang kacarita lok salat maring Mekah ingkang badan rokani ya iku kang neroh laku mila meled kang kramat. Gunung Linggarjati den nawe dumulur marek maring Lawangsanga wong mahat aren andamping. Padati tuku kang lahang salir parekan paa atumbas gendis sawuring tutug alangun gunung kinarsa lunga geblar tebih kadi panggenane mau malah ana kang kagawandeng ngitaring gunung balik. M I J I L Warnanen kadanging Jamaludin kang nen angolosod ingkang nami Pangeran Rerangen nuhun ajang adining ngurip ming raka ngasyasih ngalap manah luntur. Yen dalu sumonggon memeteki anguling aneng sor kumlsepa hing jogan rakane iya denining sanget aminta kasih hing raka prakawis ajangnging tumuwah. Durung bae dipun katrlungi hing panor samono dennya ngalpuka hing sihe kadange sarya beciking hing Walandi oran nan kadi Jeng Pangeran iku. Pramilane den rojon hing Walandi sejane samonoden pirowang hing sagedene dening tetor ingkang nami Martanus samsuri Ingkang junjung-junjung. Ya mangkana tetor amedeki hing ngadi Sang Katong hing Kasepuhan pang pinanggih ajek jejeging adayok Walandi Sultan Jamaludin mangihi tatamu risedenge eca alinggih. Pangeran apanor amedek hing ngayunane rakane ngaturaken sekar kakalih Sri Campaka putih ature punika. Pepetetan kaola tembening sekar ameng loro gegel dateng raka sakaliye kang senungal bada raka istri kang senungal raka Aji punika kang katur. Pareng tinampen kang sekar kakalih denira Sang Katong ya ta Walanda surak sakabeh nabda dalah iku wong sajati hing waong awawargi atut sasadulur. Mesti olih ajang ngaurip maro salis katon atas tunggil sagedene ya tu Sultan tan tangkat sulit damulur kang dadi rampunging tatamu. Lah iku marmane sinakolih karerengen maro kula balakang saking rakane angsal pacaca aning jalmi rong laksa amali hing sakaprabon nipun. Pan malulu sing Kasepuhan kang prih lulunggu samoo Pangeran Arya Carbon jenenge nanging sacitak Ratu lilinggih aneng Pakungwati jar karo sadulur. Kalih Kanjeng Sultan Jamaludin pareng sakadaton mungguh kuloni padawenane pakoncara pinter hing ngabasuki prakara kang lair ika estu punjul. Wit ning akal alan budi raspati ora nana loro amung Arya Carbon kang den gawe pangeraning kang para Gusti wadining Aji hing sawaktu iku. Jejeg papat Ratu Pakungwati Kesepuhan maro Kacerbonan pon iku rayine hing Kanoman kasekawan maring Panembahan dadi papat umbul Ratu. Kacerbonan kang anyar dumadi wadanangin Katong rehing pinter hing Kupeni margane dadine tinari-tari dingin mabarang panri iya maring iku. Wantu-wnatu Ratu anyar dadi gelar pandum ming wong singa cina kang sugih den rampek den gedekkaken ingkang ati kinarya punggawi winagun Tumenggung. Ambrih gede tomboke angngapti hing karsa Sang Katong Pangeran Arya Carbon akale ya kadunga wangun Sunyaragi pinangkaning dai iya saking ngiku. Pangrojonge cina sugih-sugih duk waktu samono ili-ili yan ya saking rembang akeh cina sugih ingkang angili kranawetan lagi nagarane ibur. Perang Trunajaya durung uwis akeh cina lolos pada sira anggambangaken kapele pan den usungi hing Carbon angngub. Pareng dipun imponi dening Arya Carbon tangtu dadi gedene atine rurubahe kagiri-giri apa karsa Aji tangtune jumureceng. Duk binangun iku Sunyaragi duk babad jamane sewu nem atus wolu likur Bujangga nyarsa obah bumi Kacarbonan Aji hing sagelaripun. Wangun saradadu sarageni sang keping bala wong asu paburu uluk latune ora lawas ika tumuli Panembahan Aji dugi ajalipun. Ya smulur ingkang putra nami Dipati samono wus angadeg Panembahan linggihe apa ingkang rama wus lalis angreh ajang mangkin desa telung puluh. Panembahan alinggih wawasi bartapane kahot maring bangsa arab rumakete Sayid-sayid akeh madeki pan den wuri-wuri minule hing riku. Remening tapa angulangi salir napsu sanggeh pamor ya hing lampah hig manah sukurane tenatren hing pakaryaning ali tan katah den pikir bala gung nganggur. Ademing karya tan nana matari Panembahan gone beda kaji Kacarbonan sahure panas gawene karananing akeh kang dipikir gelaring tumuwuh. D U R M A Ra lawas prawantu olaking dunya kundu ana kulilip gegering pinggiran kulon ana hing desa Conggilis ana gurusit wong bang nyarak Syeh Yusup ingkang nami. Araraton rinu bunhing kawula bala den tanggung pati urip marmaning dumadya oreggingbala wita kasuhur arep numpasi maring Walanda sangkane den perangi den lurugi saking Carbon sing Jakerta para Kapitan sami gelar malurungan ming Conggilis aperang sawatara akeh mati umbul-umbulan wong Carbon ambantoni. Mantri ingkang anama Astraditaya Perwajaya lan malih oraming anggas ara muwa Kumendur Ajar sarta saradadu pati bala Makasar Kapitan Ros Bali. Saking Banten pon bantu mangkana uga malah sing Banten rusid ana pinangngeran ingkang seda hing rana lah iku marganing dadi Morgel Jakerta wirang daja ngebruki amiyambeki kalawan para Kapitan Syeh Yusup wus kacandak ka benteng anang Batawi pan sineratan arak lan uyuh anjing. Malah sira Syeh Yusup pejah jro pancana waktu samana dadi kasuhur Walanda nutug dennya pirowang maring Ratu Nusa Jawi kawilang bisa anginger karta bumi. Mila kangge paugeran hing sak Jawa aminahing rurusit palanglang bancana mila waktu samana ngupadeni hing nagari. Rempag-rempug maring putusing kukuman amor milu ngukumi tan arsa katilar krana yen ana durga rurusit ika kanggo hing lah iku carat yen ning akire ngumandi. Ora lawas Sultan Gusti ing Kanoman Badridin kang ngemasi sumuluring putra wau ingkang anama sultan Carbon Manduraji samangke dadya Sultan Anom Nurudin. Sultan Kalirudin tunggil punika sumuluring Rama Ji hing praja Kanoman dennya amangku reja karta tana una-uni geng alit sukakakang bawa Pakungwati. Sultan Kalirudin nenggeh puputra nami Pangeran Gsti lan Pangeran Kresna lan Pangeran Wisnuntara kang istri Ratu Dipati lan Ratu Wijaya lawan Ratu Martasari. Salamine Kalirudin Mangkureja ligan tahun tumuli seda tilar dunnya sumulur ingkang putra kang nembe ing yurmaneke kalilas timur dumaja kang paman amakili ingkang anama Jeng Pangeran Dipati. Jeng Pangeran Dipati Rajakusuma ingkang ngolah titi yatnaning nagara angreh kagelar mulya karta hing saguna gati raharja pura hing Kanoman bawa Aji. Ora lawas Jeng Sultan hing Kasepuhan ingkang nama Jamaludin seda tilar dunya sumulur dateng putra wus hingistren ngadeg Aji anama Sultan Raja Tajulngaripin. Alim Kitab limpad maring basa Arab nit yasa ngangit kadis Kitab cara Ngarab angaceki sapraja Pakungwati tana ngirib hing kala hing basa sagujiya logawi remen angintar Kalimah hing Ngilmu rasa hing cecelaningsupi hening hing Pangeran Rububiyah Yang Sukma acager wisik sajati duweting Bengat kang srih pinusti pasti. Angelaraken amangguron hing iktikad mila kasuhur dadi Guru Ratu mulya Wakil mutlaking Allah hing sagara Pakungwati ora liyan nanging Pajulngaripin. Anggongon ni warangi apiking lampah ambeningaken ati kang abangsa sukma kapangerananing Hyang singa Pandita kang luwih pan minaketan hing asil kang sajati. Kaji Abdulmuchyi Panembahan Karang Ki emas Saparwadi lan Kyai Amyah pan sur kang sena wita karana jatining wisik kimalaspa Ki Gunung Cinde malih. Sutruping lampah karuyaning manah Hing esir kang sajati Rasaning itikad Kasuciyaning manah Winuri hing jati salir Kang sinungkeman hingbangsa Guru Aji. M E G A T R U H Tan anatara lamine wau sang ratu Kacarbonan kang nami Arya Carbon seda sampun sumulur dateng kang siwi kang raket kaliyan Petor. Petor ingkang nama Korneli Jonglut kang ngangkat diri Narpati hing Kacarbonan kang sunu dumadi bisa anami perhangkatan Sultan Carbon. Sultan Carbon martawijaya alungguh Djuluri rama kang lalis Dadi munda namanipun Dupeh ramane mung olih Asenggi bae Sang Katong. Namging masih nama Pangeran duk mau dupi kawuri kang siwi sumulur tur jeneng Ratu pangkating kulit putih ingkang rumewang marono wit ningakal budi pon kadi hing maukukuh ing yuda negari bai jawa kang dera punjul yatnaning sujana jawi angintar krama Sang Katong. Angundaki Pajaksane hing sawaktu iku putraning pragata Aji Kacarbonan sila rampung bubuntasaning pradong di rampunge ana hing kono. Mila kocap wadaning Ratu gemet kang budi pikir hing pada repaning kungguh tan kewran hing ganal repit awon pened kawaspaos ing prakara kalangenan katan tiru pramila so Sunyaragi menda hing natkala iku tan pati kaisik isik antenge aneng Kadaton. Tana lami hing karta bawaning Ratu nuli Sultan Carbon sumulur maring sadulur kang mangke den angkat malih hing pranami Sultan Carbon. Sultan salir pangritaning Pakung lah iku duk jamaning Adiwijaya atiru rama aremaning rasmi kalangenan hing kalangan. Sampurnaning Sunyaragi waktu iku kang anggemeti sahadi kapuratining kalangun pan winangun angundaki hing sapa kikirnan Carbon ra nama kang mantari saking iku atila hing Maespati endah parawatan kosong. Raduwe mas inten dipalalu sok duweya umah becik ingkang prayoga kadulur hing sasamaning ngaurip hing pada-pada ning Katong. Karemane malih yen lampah paburu kidang manjangan ana hing alas sakukuban nipun dadi kasengseming ati yan sampun angulah buruan. Ya kadung alas Sumedang den rangkus den buru kang isi rungsi pangeran Sumedang mumbul dumateng Morgel Batawi ora trimah wong Carbon. Gennya buru dudu sakukuban nipun Sultan Carbon dipun panggil hing pradataning Gupenur pimrasila amangsuli yen ika kabara Carbon. Tetengere beling kang ngetap ping kayuyu Sumedang ngukuhi endita tetangeripun wong Sumedang ora Bangkit gawe katrangngan ning kono. Ing pramila Morgel mutus ya ika estu Carbon ingkang kaduweni Marmane sawaktu iku Sumedang kureh dening Kacarbonan duk samono. Tanna lawas Sultan Anom wapat sampun sumulur datang kang siwi kang anembe umur sapule ingistren madeg Narpati wus jumeneng Sultan Anom. Sultan anom Abukeridin papat abipun reh hing masih timur dadi den wakili hing Tumenggung Kyai Baudengda wakil kang gaib kulo bala wong. Ya mulane den sakili Ki Tumenggung krana drapon ngampil yeng mengko sedeng pinundut aja angel-angel maning aja degeng aja alot. Krana mau duk kang rama wakil Ratu maring Pangeran dumadi pareng sadenge pinundut alot datan kena gampil lah iku kang winingatos ya harjaning Kaniman sangsaya wuwuh pakarta saya gampil adilullah kang den luru prakara ning agama nabi kang winuri-nuri hing wong. Ramane kang asalat sarta asum iku hing Kanoman yakti ngaceku ibadah ipun gelar-gelar laku santri nyaji sembahyang tan coto. L A D R A N G Ora lawas nuli Panembahan lalis mapan ika sumulur dateng kang siwi wus hing ngistrenan jumeneng Panembahan Raja. Anglalurekaken maring kang yudi pan mangkana kapanditan kang den goni sabar tawakal suka lila ing manah. Tan na lawas Sultan Sepuh lalis mapan ika sumulur datan kang siwi hing ngestrenan inggih punika Seltan Sena. Kang paparab Kanjeng Sultan Jenidin kang anggelar ameng-amengan ripangih eman mangun dikir ingkang sarta kadam. Pirang-pirang kadam manusa penilih dadabusan kaluriyane wong supi pan amurih lampahe Syeh Abduljelan. Ingkang supi amangeng badan rabani nora liyan iya ngelmu rasa maning wis lungguwe aneng praja Kasepuhan. Kang den gugoni punika kang supi kajatiyan hing rasa wesesa batin mula datan sumangganing barjamoat. Supi iku kararepane ming sepi mengko medal parameyaneng ripangi andadar raken ing lampah hingk Wali yan. Ra lawas Sultan Carbon ingkang nami Adiwijaya seba kasihure dening mung kang mantu boya gadah putra lanang. Inggih punika Sultyan Carbon ingkang nami Abukayat kang brangasaning kapti datan kena wong salah ya pinejahan. Salah satitik ya nuli pinaten akekula bala kang kadengda pati nanging ora sa ukum lawan pradata. Lah iku dadine kang ciri waneyi ming Nalendra marmane dadi den basmi kinendangaken lan ora ya sinuluran iku punggel Kacarbonan tan anuli ora lawas. Panembahan mapan lalis pang mangkana punggal ora sinuluran ra lawan Sultan Sena angemasi sinuluran dening putra ingkang nami Sultan Sepuh Matangaji kang anglar. Ingkang depok aneng dudun mangaji senggi seja babak laku maha yakti ora kaya ora lali dening jaman. Dadi migel hing ngakal lir pindah kagingsir pan mangkana akeh abdi den pateni tanpo dosa bawaning gingsir kang akal. Ing marmane hing Kraton den adegi nami Sultan langgih rayine dipun subun naminipun Sultan Muda. Dupi wau Matangajo dipun serik disampurna kaken lawan mati Sahid ingging ranipun layan pradata dinulu. Ra lawas hing Kanoman mapan inggih winursita Sultan Keridin ngemasi sumulur ingkang putra wus ing ngistrena. Kang paparab Abutayib Umam Mudin waktu ika obahing dorujamani akeh ewong raton ganti mrawasa. Ing Kasepuhan Sultan Muda duk lalis kasuluran dening kang putra hing ngasrih Sultan Joharudin anenggeh ingkang paparab. Ingkang nembe umuripun sadasa warsi rekening ika masih timur den wakili dening Kyai Jayadirja wakil Nata. Lawas-lawas ibure nagara dening Tingarengan ana kang brandal cilik sirep ika kapupu tan nalawas. Sultan Imamudin Kanoman angemasi tilar dunnya sumulur datang kang siwi hing ngistrenan alinggih aneng Kanoman kang sinebut namane Sultan Kamarudin duk saman masih iburing nagari dening akeh wong raraton babarandal. Barandal rangin panyeleke anggunturi duga harta ngobar praja Pakungwati sengge pada amuri raja Kanoman. Jumenga Sulta aneng Pakungwati mangka guna hing walanda anduluri marmanipun Pangeran Raja Kanoman. Iya saking pakengdangan katuran mulih hing Pakungja den istreni madeg Aji pan den paneyi sapanjeneng kewala. Namanipun Sultan Carbon amet nami nipun nama Jeng Sultan Abukeridin waktu iku ana maning Kacarbonan. Pan asele sing Kanoman kang angguntosi dupi bala den bagi telu duk lagi ijrah sewu rangngatus padlikur warsa. P U C U N G Ora lawas wong agung Prasman arawuh dennya amet guna nagara Carbon praja teluya kinen iku sebaha. Asebaha hing dewek ke kang angratu emaban-embanira ingat-ingatan sing Carbon ingkang nama Kyai Nata Nagara. Ingkang nama Raden Dipati kang mangku Tumenggung titiga Kasepuhan Kanoman Kacrbonan seba hing kiyambekira ora lawas wong agung inggris arawuh mapan emban-embang kekendangan saking Carbon ingkang nama Kyai Mangkunagara. Duking jaman sewu pitung atus patang puluh wasa punjul siji benere ijarah sewu rong atus wolu likur ya. Lah iku wong Inggris ingkang asanggup anggolang nagara Sultan mruka hing bagusi amuktiya kariya guling lan dahar. Sultan tetelu anarimah hing paciyun tan ngasta nagara anampeni paseyane kang anggolong kang tungtu maring Sang Nata. Ora lawas Sultan enggal sampun seda tilar dunnya punggel tan risulure kari loro jenengeng kang nama Sultan gantos telung tahun ya mangkana sultan Sepuh Jaharudin seda sumulur maring rayine ing ngistrenan samana nama Sultan. Apeparab sultan samsudin puniku hing waktu samana Sang Ratu kari namane parentahe Walanda ingkang anggolang. Nrimah sukur genting-genting ora putus barkahe Susunan kapinundi hing ngaube hing ngauban kang neng karamatullah. Kang winuri-wuri dening anak putu kang manah sukuran rahayu hing salungguhe ya salamet wong badami hing ngagesang. Yen catula hing badami lan laku tantu pada kebat kendang saking negarane sarta ora winuri-wuri suluran. Ya mulane Sultan Banten waktu iku lebak galintungan bondan oran ana ratune iya sakinmg cantula sabda mring Walanda. Tanalawas nuli ana rusuh-rusuh wong raraton nama bagus Serit hing jenenge ngangkat perang ngaloyong laku berandal. Sengge neda prasudan gawening Ratu nanging amudusta amiet singgih araraton ora pira lawase tumuli kena. Kapupu hing harja sirna wis kukum malah lami karta hing Carbon salir tumuwuhe mundak untung pangngupa jiwaning tanda. Golang praja lan sarwaning kang tinandur ora lawas ika yasa Wali binurake masjid agung den dandani dadi anyar. Dadi tuduh yen dadi anyaring tuwuh anyar hing nagara duk samono hing babade jaman kalih sewu pitung atus suwidak. Nenem tahun Jim awal wurining iku lawas-lawas Sultan Sepuh Samsudin sumeren babad sewu pitung atus pitung dasa. Punjul loro ora tumunten sinulur banta kalih warsa sumulur datang putrane hing ngitrenan jumeneng nama Sultan. Gantos wulung tahun Sultan Anom larut sumuluring putra hing tahun iku hing ngistren nami Sultan ana hing praja Kanoman. Duk babading jaman Kalih nedeng sewu pitung atus lawan wulung puluh hing jejege kawruhan yen genting tan nana pegat. Barkah hing sukuring abadami laku becik lawan ala ana rungu di rungu bawaning kang basa kaselang hing purba Purba nagara wong Walanda kang ngukup Hing sanusa Jawa. TAMAT

1 komentar:

insidewinme mengatakan...

kita menghendaki kebangkitan yang benar dan berdiri di atas pencampakan semua akidah, pemikiran atau sistem yang tidak terpancar dari Islam. Kita pun menghendaki kebangkitan yang tegak di atas pelepasan segala hal yang menyalahi Islam sejak dari akarnya. Semua itu tidak akan pernah tercapai, sebagaimana telah saya tunjukkan, kecuali dengan melanjutkan kehidupan Islam dan mengubah negeri dari dar al-kufr menjadi Dar al-Islam.