tedjaya. Diberdayakan oleh Blogger.

Ajaran_Falsafah_Wayang_dan_Kitab Kidung_terlengkap

WordLinx - Get Paid To Click

wayang Falsafah WayangKitab & Kidung
Berasal dari kata Asto atau Hasto yang artinya delapan, kemudian Baroto yang artinya laku atau perbuatan. Jadi ASTHA BRATA atau Hasto Broto berati delapan laku atau delapan perbuatan. ASTHA BRATA terdapat dalam Sarga XXIV dari wejangan Ramayana kepada Gunawan Wibisono, juga Sri Kresna kepada Arjuna. Diterangkan bahwa seseorang yang ditakdirkan untuk menjadi pemimpin atau raja adalah dalam jiwanya terdapat delapan macam sifat kedewasaan atau delapan macam watak-watak delapan dewa. Kewajiban seorang pemimpin harus selalu mencerminkan sifat dan sikap:

1. Dewa Surya atau Watak Matahari
Menghisap air dengan sifat panas secara perlahan serta memberi sarana hidup. Pemimpin harus selalu mencerminkan sifat dan sikap semangat kehidupan dan energi untuk mencapai tujuan dengan didasari pikiran yang matang dan teliti serta pertimbangan baik buruknya juga kesabaran dan kehati-hatian.


2. Dewa Chandra atau Watak Bulan
Yang memberi kesenangan dan penerangan dengan sinarnya yang lembut. Seorang pemimpin bertindak halus dengan penuh kasih sayang dengan tidak meninggalkan kedewasaannya.

3. Dewa Yama atau Watak Bintang
Yang indah dan terang sebagai perhiasan dan yang menjadi pedoman dan bertanggung jawab atas keamanan anak buah, wilayah kekuasaannya.

4. Dewa Bayu atau Watak Angin
Yang mengisi tiap ruang kosong. Pemimpin mengetahui dan menanggapi keadaan negeri dan seluruh rakyat secara teliti.

5. Dewa Indra atau Watak Mendung
Yang menakutkan (berwibawa) tetapi kemudian memberikan manfaat dan menghidupkan, maka pemimpin harus berwibawa murah hati dan dalam tindakannya bermanfaat bagi anak buahnya.

6. Dewa Agni atau Watak Api
Yang mempunyai sifat tegak, dapat membakar dan membinasakan lawan. Pemimpin harus berani dan tegas serta adil, mempunyai prinsip sendiri, tegak dengan berpijak pada kebenaran dan kesucian hati.

7. Dewa Baruna atau Watak Samudra
Sebagai simbol kekuatan yang mengikat. Pemimpin harus mampu menggunakan kekuatan dan kekuasaannya untuk menjaga keseluruhan dan keutuhan rakyat serta melindungi rakyat dari segala kekuatan lain yang mengganggu ketentraman dan keamanan secara luas dan merata.

8. Dewa Kuwera atau Watak Kekayaan atau Watak Bumi
Yang sentosa, makmur dengan kesucian rohani dan jasmani. Pemimpin harus mampu mengendalikan dirinya karena harus memperhatikan rakyat, yang memerlukan bantuan yang mencerminkan sentosa budi pekertinya dan kejujuran terhadap kenyataan yang ada.
Sumber Penulisan : BUKU WYATA PRAJA, STPDN untuk Angkatan XIII Tahun 2005

Babad Nitik

by wayang in Kitab & Kidung
Naskah asli Babad Nitik tersimpan di Perpustakaan (Widyabudaya) keraton Yogyakarta. Babad ini ditulis di atas kertas berukuran folio, dengan tinda hitam, berhuruf Jawa dengan bahasa Jawa Bercampur Kawi, digubah dalam bentuk tembang macapat. Penulisnya tidak diketahui, tetapi diterangkan bahwa ditulis atas perintah Sultan Hamengku Buwono VII. Waktu penulisannya disebutkan dengan Sengkalan “Resi nembah ngesthi tunggal” (1867 Jw/1936 M).
Babad Nitik (Sultan Agung) yang seluruhnya terdiri dari tiga puluh lima pupuh tembang itu berisikan pengalaman Sultan Agung sejak masih menjadi putera mahkota, pelantikannya sebagai Sultan dan masa pemerintahannya yang berpusat di keraton Kerto. Diceritakan bahwa sewaktu masih menjadi putera mahkota, beliau mengadakan perjalanan ke seluruh Jawa, Asia Tenggara, Timur Tengah, bahkan ke dasar laut dan alam kedewataan. Semua perjalanan itu dilaksanakan secara gaib.

Seperti kita ketahui pada zaman dahulu keyakinan yang hidup dalam masyarakat kita bahwa raja itu bukan manusia biasa, melainkan manusia dewa yang memiliki kelebihan-kelebihan dari manusia biasa. Pada zaman Sultan Agung berkuasa, agama Islam sedang berkembang pesat di atas dasar budaya Jawa sebelum itu. Seorang raja yang berwibawa dan berpredikat “Gung Binathara” adalah raja yang berkualitas manusia-dewa sekaligus Khalifatullah. Dalam babad tersebut diceritakan bahwa Sultan Agung pergi ke Mekkah untuk minta pengakuan sebagai Khalifatullah. Perjalanan putera mahkota Mataram (sebelum dinobatkan) ke seluruh Nusantara dan Asia Tenggara dalam rangka “nitik” atau menjajagi keadaan daerah yang dikunjungi tersebut, dalam upaya pengembangan kekuasaan kelak jika telah memegang tampuk pemerintahan. Rupanya dengan alasan itulah maka babad ini dinamakan Babad Nitik.
Sang putera mahkota Mataram yang bergelar Pangeran Adipati itu selalu mampu menundukkan negara-negara yang dikunjungi dengan kesaktiannya sendiri. Kemudian raja dan rakyat dari negara yang sudah tunduk itu bersedia masuk Islam. Cerita ini mirip dengan hikayat Amir Hamzah (di Jawa terkenal dengan nama Wong Agung Menak) dalam menyebar atau mengembangkan Islam. Hal ini untuk membuktikan atau menunjukkan bahwa Sultan Agung adalah Khalifatullah.
Di samping itu Babad Nitik juga berisi hal-hal yang berbau mistik, seperti: Sulatan Agung kawin dengan Dewi Ratu Kidul. Begitu juga Sultan dapat terbang ke Kadewataan (Surga) dan bertemu dengan tokoh-tokoh dari dunia pewayangan, yakni Pandawa yang dipandang sebagai leluhur. Pergi ke Mekkah hanya dalam beberapa menit dan sebagainya. Hal itu semuanya untuk menunjukkan bahwa beliau berkualitas Raja-Dewa-Khalifatullah. Biasanya Babad memang diwarnai oleh hal-hal yang berbau mistik seperti itu.
Babad Nitik juga sebenarnya banyak berisi informasi kebudayaan dan kesejarahan. Akan tetapi informasi kesejarahan yang terdapat dalam babad harus diuji betul-betul kebenarannya, dengan cara membandingkan dengan sumber-sumber lain sebab dalam babad banyak sekali hal-hal yang bersifat fiktif.
Beberapa informasi yang dapat dipertimbangkan untuk dikaji lebih jauh sebagai data sejarah dan kebudayaan, diantaranya:
1. Tentang sifat seorang raja yang baik adalah: (a) pandai memikat para prajurit dengan penghasilan yang cukup, dan tidak menyakiti hatinya; (b) tidak membuat sakit hati rakyat; (c) bijaksana, hati-hati, cepat dalam mengambil keputusan; (d) pandai mendidik rakyat; (e) selalu waspada terhadap tingkah laku rakyatnya; (f) bertanggung jawab; (g) berbudi halus dan luhur; (h) taat beragama dan beribadah; (i) sabar berdasarkan kearifan huum; (k) teguh pendirian; (l) dapat mengelakkan segala godaan; dan (m) menyebarluaskan agama.
2. Sebagai seorang seniman, beliau menciptakan: (a) tari serimpi; (b) menyempurnakan gamelan dengan menambah instrumen bedug dan saron ricikan; (c) menciptakan gending Andong-andong, Madubrata, Kodok Ngore dan Monggang; dan (d) menciptakan Wayang Gedhog dalam cerita siklus Panji.
3. Sultan Agung naik tahta tahun 1617. Dalam catatan sejarah, Sultan Agung naik tahta pada tahun 1613, tetapi menurut Babad Nitik baru tahun 1617 karena pada waktu Prabu Hanyakrawati (Raja Mataram II) mangkat belitu tidak ada di tempat dan tidak diketahui sedang berada di mana. Oleh karena itu diangkatlah adiknya yang bernama Pangeran Martopuro. Baru pada tahun 1617 beliau muncul. Pangeran Martopuro turun tahta, lalu pergi ke Bagelen, tidak lama mangkat dan dimakamkan di bukit Sela Bagelen.
4. Semasa pemerintahannya, beberapa kali ganti pejabat tinggi: (a) Patih: Tumenggung Mandaraka (1617-1623), Tumenggung Singaranu (1623-1645); (b) Pengulu: Wanatara (1617-1619), Pangeran Kepodang (1619-1620), Kyai Serang (1620-1622), Ahmad Kategan (1622-1645); (c) Jaksa: Juru Mayemditi (1617-1623), Kyai Mas Sutamarta (1623-1645).
5. Sultan Agung memugar makam Tembayat. Pada tahun 1620 Sultan Agung memugar pemakaman Tembayat (Kabupaten Klaten) di mana terdapat makam Pangeran Pandanaran yang telah mengajar Ilmu Paramawidya kepada Sultan Agung dan menjadikan daerah Tembayat bebas pajak (perdikan).
6. Membangun pemakaman Imagiri. Sultan Agung membangun pemakaman untuk dirinya di bukit Girilaya, sebelah utara-timur Imagiri. Sewaktu pembangunan makam belum selesai Pangeran Juminah (pamannya) meninggal di tempat itu dan dimakamkan di tempat itu juga. Kemudian Sultan Agung membangun pemakaman Imagiri seperti yang masih ada sampai sekarang.
7. Sultan Agung tidak gagal menyerang Kumpeni. Hasil utamanya adalah semangat juang yang terus berkobar.
8. Keraton Sultan Agung di Kerto menjadi model. Sultan Agung setelah naik tahta memindahkan keratonnya ke Kerta (sebelah selatan Yogyakarta), keraton itu bagus tetapi tidak berpagar benteng, melainkan hanya berpagar korden dari kain sutera karena Sultan merasa tidak perlu, tidak ada orang yang berani mengganggu keraton raja yang sakti itu.
Kiranya Keraton Kerto inilah yang menjadi model Keraton Surakarta dan Yogyakarta yang masih ada hingga sekarang ini, kecuali bentengnya.
Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1991. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara II. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Serat Salokatama

wayang Kitab & Kidung
Naskah Serat Salokatama dikarang oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ariya Mangku Nagara IV pada 1799 Jawa atau 1870 M. Serat Salokatama dikarang dalam bentuk tembang mijil, seluruhnya ada 31 “pada” (bait), sudah pernah diterbitkan oleh Nurhipkolep Jakarta 1953 dengan huruf Jawa.
Saloka berarti perumpamaan atau ceritera sedang tama berarti utama atau baik. Salokatama berarti perumpamaan atau ceritera yang utama atau yang baik. Ini terungkap pada bait terakhir dari tembang tersebut yang berbunyi: Itij panawunging ruwiyadi yang artinya: telah selesai uraian ceritera yang baik.

Isi Serat Salokatama
Adapun intisari isi Serat Salokatama selengkapnya seperti pemaparan berikut ini.
Yang dilihat oleh pengarang adalah sesuatu yang tidak pada tempatnya dan selalu mengganggu pikirannya. Umumnya orang yang punya kemauan sering tidak mawas diri, berbuat tak terkendali dan akhirnya mendapatkan “nistha”. Orang muda suka menonjolkan dirinya agar orang lain takut dan menghargai. Mereka tidak tahu bahwa perbuatannya itu banyak yang menertawakan, membuat orang lain tidak senang dan musuhnya menjadi bersyukur karenanya. Tampaknya seperti seorang pemberani, tingkah lakunya dibuat-buat, sehingga tampak seperti seorang jahil atau penjahat. Kelak ika mereka telah berhenti dari perbuatan itu, orang tetap tidak percaya bahwa mereka orang baik-baik.
Andai kata orang hidup itu dua kali, tidak ada orang takut mati serta tak ada orang yang kecewa. Tetapi karena hidup hanya satu kali, banyak yang kecewa hidupnya, sehingga kadang-kadang ingin bunuh diri. Tetapi bunuh diri sebenarnya lebih sengsar, makamnya tidak boleh dicampur dengan leluhur dan orang banyak. Orang yang membunuh orang dosanya amat besar, tetapi masih lebih besar dosa orang yang bunuh diri, sehingga “nistha” melebihi matinya lutung atau kera.
Membersihkan dosa tidak ada cara lain kecuali minta maaf kepada semua yang disakiti hatinya. Jika lebih tua dan lebih tinggi berbaktilah. Jika lebih muda tetapi lebih tinggi, dengan salam takzim dan bahasa yang halus. Semuanya adalah usaha untuk menghilangkan kemarahan. Jika malu dengan berkata langsung, tulislah surat yang manis. Kemudian minta maaf dan bertobat kepada Tuhan. Juga jangan lupa menghormati leluhur agar tidak mendapatkan dosa dari padanya.
memang orang berbuat baik itu berat, berbeda dengan orang yang akan berbuat jelek selalu lebih mudah.
Umumnya orang di dunia ini, baik yang tinggi maupun yang rendah martabatnya tidak suka mengalah meskipun bukan berarti kalah yang sebenarnya. Dan lagi pada umumnya orang jika dipuji dan didukung pendapatnya akan suka hatinya serta jauh dari sakit hati.
Umumnya orang yang tidak tahu akan budi baik, jika ada sesuatu hal yang diceriterakan yang buruk dahulu, sebabnya memang tidak sampai pemikirannya.
Jika kita ingin mendapatkan kemuliaan agar terlaksana kita harus berani rendah hati, minta pertolongan dan doa restu.
Jika suatu ketika cita-cita kita gagal, jangan terkejut dan lalu menyalahkan dirinya sendiri sejadi-jadinya. Mohonlah petunjuk kepada Tuhan, rasakan apa kekurangan kita. Karena Manusia ini semuanya kekasih Tuhan, Jika mempunyai cita-cita, mohonlah kepada Tuhan, pasti akan dikabulkan. Jika belum berhasil, barangkali memang belum waktunya.
Ibaratnya buah durian muda jika dipanjat sukar memetiknya, dan jika sudah dipetik tidak dapat dimakan, padahal usahanya mati-matian. Lain halnya jika sedikit demi sedikit, sabar menunggu, jika sudah waktunya akan jatuh sendiri, mudah memetiknya dan enak dimakan.
Demikian juga orang mencari kemuliaan, Jika terlalu dipaksakan kadang-kadang sampai kehabisan akal, segala jalan ditempuh dan tidak segan-segan menggunakan cara yang tidak baik, misalnya dengan menggunakan magis. Jika berhasil, umumnya kurang baik, tidak tahan lama dan tidak lestari. Ini persamaannya seperti memetik durian muda tadi.
Lain halnya dengan orang yang berusaha dengan jalan yang baik. Pada malam hari selalu memohon kepada Tuhan. Sehari-harinya tingkah lakunya baik, rajin, jujur, rendah hati, bicara manis, patuh pada atasan, cinta kepada sesama. Umumnya yang melaksanakan seperti itu, sudah selayaknya jika yang dicita-citakan berhasil. Hal itu anugerah nyata dari Tuhan. Kehidupanya selamat tidak dirundung kesusahan dan kadang-kadang dapat menurun ke anak-cucu.
Ibarat ingin memetik buah durian yang masak di pohon, jika mempunyai cita-cita harus ada usahanya tidak cukup hanya dipikir saja. Tuhan tidak akan mengabulkan bagi yang tidak berusaha.
Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1993. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara V. Jakarta: Depdikbud.

Serat Salokatama

wayang Kitab & Kidung
Naskah Serat Salokatama dikarang oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ariya Mangku Nagara IV pada 1799 Jawa atau 1870 M. Serat Salokatama dikarang dalam bentuk tembang mijil, seluruhnya ada 31 “pada” (bait), sudah pernah diterbitkan oleh Nurhipkolep Jakarta 1953 dengan huruf Jawa.
Saloka berarti perumpamaan atau ceritera sedang tama berarti utama atau baik. Salokatama berarti perumpamaan atau ceritera yang utama atau yang baik. Ini terungkap pada bait terakhir dari tembang tersebut yang berbunyi: Itij panawunging ruwiyadi yang artinya: telah selesai uraian ceritera yang baik.

Isi Serat Salokatama
Adapun intisari isi Serat Salokatama selengkapnya seperti pemaparan berikut ini.
Yang dilihat oleh pengarang adalah sesuatu yang tidak pada tempatnya dan selalu mengganggu pikirannya. Umumnya orang yang punya kemauan sering tidak mawas diri, berbuat tak terkendali dan akhirnya mendapatkan “nistha”. Orang muda suka menonjolkan dirinya agar orang lain takut dan menghargai. Mereka tidak tahu bahwa perbuatannya itu banyak yang menertawakan, membuat orang lain tidak senang dan musuhnya menjadi bersyukur karenanya. Tampaknya seperti seorang pemberani, tingkah lakunya dibuat-buat, sehingga tampak seperti seorang jahil atau penjahat. Kelak ika mereka telah berhenti dari perbuatan itu, orang tetap tidak percaya bahwa mereka orang baik-baik.
Andai kata orang hidup itu dua kali, tidak ada orang takut mati serta tak ada orang yang kecewa. Tetapi karena hidup hanya satu kali, banyak yang kecewa hidupnya, sehingga kadang-kadang ingin bunuh diri. Tetapi bunuh diri sebenarnya lebih sengsar, makamnya tidak boleh dicampur dengan leluhur dan orang banyak. Orang yang membunuh orang dosanya amat besar, tetapi masih lebih besar dosa orang yang bunuh diri, sehingga “nistha” melebihi matinya lutung atau kera.
Membersihkan dosa tidak ada cara lain kecuali minta maaf kepada semua yang disakiti hatinya. Jika lebih tua dan lebih tinggi berbaktilah. Jika lebih muda tetapi lebih tinggi, dengan salam takzim dan bahasa yang halus. Semuanya adalah usaha untuk menghilangkan kemarahan. Jika malu dengan berkata langsung, tulislah surat yang manis. Kemudian minta maaf dan bertobat kepada Tuhan. Juga jangan lupa menghormati leluhur agar tidak mendapatkan dosa dari padanya.
memang orang berbuat baik itu berat, berbeda dengan orang yang akan berbuat jelek selalu lebih mudah.
Umumnya orang di dunia ini, baik yang tinggi maupun yang rendah martabatnya tidak suka mengalah meskipun bukan berarti kalah yang sebenarnya. Dan lagi pada umumnya orang jika dipuji dan didukung pendapatnya akan suka hatinya serta jauh dari sakit hati.
Umumnya orang yang tidak tahu akan budi baik, jika ada sesuatu hal yang diceriterakan yang buruk dahulu, sebabnya memang tidak sampai pemikirannya.
Jika kita ingin mendapatkan kemuliaan agar terlaksana kita harus berani rendah hati, minta pertolongan dan doa restu.
Jika suatu ketika cita-cita kita gagal, jangan terkejut dan lalu menyalahkan dirinya sendiri sejadi-jadinya. Mohonlah petunjuk kepada Tuhan, rasakan apa kekurangan kita. Karena Manusia ini semuanya kekasih Tuhan, Jika mempunyai cita-cita, mohonlah kepada Tuhan, pasti akan dikabulkan. Jika belum berhasil, barangkali memang belum waktunya.
Ibaratnya buah durian muda jika dipanjat sukar memetiknya, dan jika sudah dipetik tidak dapat dimakan, padahal usahanya mati-matian. Lain halnya jika sedikit demi sedikit, sabar menunggu, jika sudah waktunya akan jatuh sendiri, mudah memetiknya dan enak dimakan.
Demikian juga orang mencari kemuliaan, Jika terlalu dipaksakan kadang-kadang sampai kehabisan akal, segala jalan ditempuh dan tidak segan-segan menggunakan cara yang tidak baik, misalnya dengan menggunakan magis. Jika berhasil, umumnya kurang baik, tidak tahan lama dan tidak lestari. Ini persamaannya seperti memetik durian muda tadi.
Lain halnya dengan orang yang berusaha dengan jalan yang baik. Pada malam hari selalu memohon kepada Tuhan. Sehari-harinya tingkah lakunya baik, rajin, jujur, rendah hati, bicara manis, patuh pada atasan, cinta kepada sesama. Umumnya yang melaksanakan seperti itu, sudah selayaknya jika yang dicita-citakan berhasil. Hal itu anugerah nyata dari Tuhan. Kehidupanya selamat tidak dirundung kesusahan dan kadang-kadang dapat menurun ke anak-cucu.
Ibarat ingin memetik buah durian yang masak di pohon, jika mempunyai cita-cita harus ada usahanya tidak cukup hanya dipikir saja. Tuhan tidak akan mengabulkan bagi yang tidak berusaha.
Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1993. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara V. Jakarta: Depdikbud.

Serat Darmo Wasito

wayang Kitab & Kidung
Nenek moyang kita banyak memberikan ajaran-ajaran luhur yang tidak hanya diwariskan dalam tradisi lisan seperti ungkapan dan dongeng, tetapi ada pula yang dituangkan dalam karya tulis berbentuk “tembang macapat”. Ajaran-ajaran luhur tersebut pada zamannya banyak dikaji, dihayati dan diamalkan sebagai pedoman hidup. Salah satu dari karya tulis yang dituangkan dalam bentuk tembang macapat adalah Serat Darmo Wasito yang dikarang pada tahun 1878 M oleh KGPAA Mangku Negara IV. Serat Darmo Wasito terdiri dari: 12 pada (bait) Dhandhanggula, 10 pada Kinanthi, dan 20 pada Mijil. Sebagai catatan, serat ini pernah diterbitkan dalam huruf Jawa oleh Nurhopkelop Jakarta pada tahun 1953.

Isi Serat Darmo Wasito
Secara ringkas isi serat Darmo Wasito dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu:
1. Ajaran agar Hidup Sukses
Dalam Serat Darmo Wasito, apabila orang ingin hidup sukses, maka ia harus: (a) menikah, sebagai sarana untuk melestarikan kehidupan; (b) melaksanakan asthagina, yaitu: nut ing jaman kelakone (harus pandai menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi yang sedang dihadapi), rigen (pandai bekerja dengan efektif dan efisien), gemi (hemat), weruh etung (selalu penuh perhitungan dalam memanfaatkan penghasilannya untuk waktu sekarang, maupun yang akan datang), taberi tatanya (rajin bertanya sehingga pengetahuannya selalu bertambah), nyengah kayun (dapat mengendalikan diri sehingga tidak banyak berbuat kesalahan), dan nemen ing sedya (bila mempunyai niat harus dilakukan secara sungguh-sungguh); (c) jangan suka utang, sebab akan turun wibawanya; (d) jangan menjadi orang miskin, sebab orang miskin akan banyak mengalami kesusahan dan kurang dihargai dalam pergaulan; (e) jangan malas bekerja agar dijauhkan dari kesusahan; (f) melaksanakan sikap-sikap utama, yaitu: luruh (pandangan mata tidak liar dan hanya melihat seperlunya), trapsila (selalu bersikap sopan), mardawa (selalu ramah terhadap orang lain dan berbicara dengan lemah lembut); manut mring caraning bangsa (tindakan seharusnya selalu berwawasan kebangsaan dan tidak berdasarkan atas suku bangsanya sendiri), andhap asor (selalu bersikap rendah hati), meneng (tidak banyak berbicara atau mengobral bualan), prasaja (penampilan harus wajar dan tidak berlebih-lebihan), tepa selira (memiliki tenggang rasa yang tinggi), eling (selalu ingat akan baik-buruk, ingat kepada kedudukan, ingat kepada dirinya sebagai makhluk Tuhan), dan ulat batin (melakukan kegiatan pembinaan rohani agar mendapatkan jalan keutamaan); dan (g) melaksanakan catur upaya, yaitu: anirua kang becik (meniru hal-hal yang baik dan jauhkan yang buruk); nuruta ngguua kang nyata (percaya kepada kenyataan), dan miliha kang pakoleh (memilih hal-hal yang tepat dan menguntungkan).
2. Ajaran agar Menjadi Abdi (Negara) yang Baik
Untuk menjadi abdi (negara) yang baik, maka seseorang harus memiliki sifat-sifat, seperti: sregep (rajin dan tidak membuat kecewa yang memberi tugas), pethel (suka bekerja), tegen (ulet bekerja dan telaten sehingga membuat puas orang yang menyuruh), wekel (bekerja dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab), dan ngati-ati (bekerja secara berhati-hati).
3. Ajaran agar Menjadi Isteri yang Baik
Ajaran-ajaran dalam Serat Darmo Wasito untuk seorang isteri adalah: (1) agar menjadi seorang isteri yang dihargai dan dicintai oleh suaminya, maka ia harus: nurut (apa yang dikehendaki oleh suami dilakukan dengan penuh kesabaran dan dapat menyelesaikannya dengan baik), condhong (kehendak suami harus didukung, merawat apa kesukaannya dan tidak membicarakan kejelekannya di muka umum), reksa (menjaga segala milik suami dan tahu jumlah serta rinciannya), nastiti (tahu asal muasal sebuah barang dan kegunaannya serta dapat menggunakan dengan baik nafkah yang diberikan oleh suami), nyimpen wadi (pandai menyimpan rahasia suami dan keluarga); (2) agar dapat berhasil dalam hidup berumah tangga, seorang isteri hendaknya bersikap: berhati-hati dalam segala hal, mengenal sifat-sifat keluarga dan famili sehingga dapat menyesuaikan diri, mengerti acara suami sehari-hari dan dapat membantu jika diperlukan, jika memberi saran atau mengemukakan pendapat harus mencari waktu yang tepat, paham akan tugasnya sebagai seorang isteri, jangan menggunakan atau memanfaatkan barang-barang milik suami tanpa seizinnya, pandai merawat barang-barang milik suami, dan meskipun suami memberi keleluasaan, tetapi tetap melakukan segala hal sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1995. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara VI. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Serat Makutha Raja

wayang Kitab & Kidung
Para cendekiawan pada zaman dahulu menyadari bahwa seorang pemimpin, mulai dari tataran yang terendah sampai yang tertinggi, harus memiliki kemampuan memimpin yang baik. Di antara para cendekiawan pada waktu itu yang memperhatikan masalah kepemimpinan ini ialah Pangeran Buminata dari Keraton Yogyakarta. Ia berhasil membuat kitab yang diberi judul Makutha Raja, untuk memberi tuntunan kepada para pemimpin, terutama raja agar dapat menjadi pemimpin yang baik dan disenangi oleh rakyatnya.
Isi Serat
Secara ringkas Serat Makutha Raja berisi tentang bagaimana sikap yang seharusnya dilakukan oleh seorang pemimpin/raja. Dalam serat ini seseorang yang sedang memegang kendali kepemimpinan diibaratkan sebagai orang yang sedang mengendalikan kuda. Kuda, walaupun hanya seekor binatang, ternyata harus didekati dengan cara-cara tertentu agar dapat dengan mudah dinaiki dan dikendalikan.

Oleh karena kekhasan sifat yang dimiliki oleh seekor kuda ini, maka Pangeran Buminata mengibaratkannya lagi dengan seorang gadis. Sulitnya membuka tali kekang kuda adalah sama dengan sulitnya mendekati seorang gadis. Untuk mendekati seorang gadis, tentunya diperlukan budi yang halus, kata-kata yang manis dan lembut agar mau menerima dengan senang hati. Apabila pendekatan dilakukan dengan cara yang kasar dan tergesa-gesa, maka kemungkinan besar si gadis akan menolak.
Apabila hal ini diterapkan untuk menaklukkan seekor kuda, maka seseorang harus menggunakan akalnya dan harus memperhatikan saat yang tepat untuk mendekati kuda itu. Ia pun sebaiknya menguasai hal ikhwal tentang piranti tali kekang yang digunakan sebagai sarana menaklukkan kuda. Dalam konteks ini, pengertian memahami tali kekang kuda bukanlah tali kekang yang sebenarnya, melainkan memahami segala permasalahan kuda, termasuk faktor dalam atau faktor kejiwaan dari kuda itu.
Sebagai ilustrasi yang lebih konkret, dalam Serat Makutha Raja juga dikemukakan cara-cara mengatasi kebinalan seekor kuda secara bijaksana yang dilakukan oleh Pangeran Mangkubumi dan Syekh Janah Katib. Pangeran Mangkubumi menggunakan cara yang disebut anyana mandra. Dengan cara ini si penunggang kuda selain harus waspada dan berhati-hati, juga dituntut untuk bersikap luwes. Luwes dalam pengertian ini ialah menuruti kehendak kuda. Jika kuda meronta, si penunggang kuda hendaknya bersikap bijaksana sehingga kuda tunduk secara perlahan-lahan dan mengikuti segala perintah si penunggang. Sedangkan, Syekh Janah Katib menggunakan cara yang disebut anyana sanga. Cara yang digunakan oleh Syekh Janah Katib ini lebih mengarah ke jalan makrifat.
Dalam Serat Makutha Raja juga dikisahkan cerita tentang Mas Ketib Anom yang menerapkan ajaran “mengendalikan kuda secara arif, luwes dan lemah lembut” untuk memecahkan masalah kerajaan. Waktu itu, pada masa pemerintahan Sunan Paku Buwana terjadi suatu peristiwa yang berkaitan dengan Kyai Cebolek atau Kyai Haji Ahmat Muntamangkin. Kyai Cebolek dianggap telah salah menafsirkan inti dari cerita “Bimasuci” yang mengakibatkan keresahan di kalangan ulama kerajaan. Mereka (para ulama) kemudian melaporkan hal ini kepada Raden Demang Urawan (seorang punggawa keraton). Dan, sebagai seorang bawahan Raden Demang Urawan lalu meneruskan laporan itu kepada raja.
Menanggapi laporan itu, raja memutuskan bahwa Kyai Cebolek tidak bersalah. Ia hanya dianggap salah menafsirkan makna tamsil dalam cerita “Bimasuci”. Keputusan raja yang menganggap Kyai Cebolek tidak bersalah itu mendapat sanggahan dari seorang ulama Kudus, yakni Mas Ketib Anom. Sanggahan ulama itu sempat sejenak menggegerkan istana. Namun, Mas Ketib Anom menegaskan bahwa keberaniannya menyanggah keputusan raja adalah semata dilakukan demi kewibawaan raja sendiri.
Sebagai jalan keluar mengatasi permasalahan ini, Mas Ketib Anom mengusulkan agar Kyai Cebolek atau Kyai Haji Ahmat Muntamangkin tidak dihukum secara fisik, melainkan diberi kesempatan untuk mengubah sikapnya. Menurut Mas Ketib Anom, hukuman fisik tidak ada gunanya, baik bagi yang bersangkutan maupun bagi khalayak umum. Sebagai contoh, dikemukakan pemberian hukuman kepada Syeh Siti Jenar (hukuman pancung), Pangeran Panggung di Pajang (bakar) dan terhadap Kyai Amongraga (dibuang ke laut). Semuanya itu ternyata tidak bermanfaat karena yang dihukum hanya fisik, sedangkan ideologi yang dianut tetap lestari. Tampak di sini bahwa Mas Ketib Anom dengan bijaksana telah menerapkan ajaran “mengendalikan kuda secara arif, luwes dan lemah lembut”.
Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1992. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara IV. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Serat Chentini

wayang Kitab & Kidung
Ing ngandhap punika ka-aturaken tetedhakan purwakanipun Serat Centhini, sinawung ing sekar Sinom
1. Sri Narpatmaja Sudibya, talatahingnusma Jawi, Surakarta Hadiningrat, hagnya ring kang wadu Carik,
Sutrasna kang kinanthi, mangunreh cariteng dangu, sanggyaning kawruh Jawa, hingimpun tumrap
kakawin, mrih tan kemba karya dhangan kang miyarsa.

2. Lajere kang cinarita, laksananing Jayengresmi, ya She Adi Amongrogo, atmajeng njeng Sunan Giri,
kontap janma linuwih, Oliya Wali Mujedub, peparenganing jaman, njeng Sultan Agung Matawis,
tinengeran Serat Suluk tambangraras.
3. Karsaning Sang Narpatmaja, babon pangawikan jawi, jinereng dadya carita, sampating karsa marengi,
Nemlikur Saptu Paing, lek Mukharam je warseku, mrakeh Hyang Surenggana, Bathara Yama Dewari,
amawulu wogan su-ajag sumengka.
4. Panca-sudaning Satriya, wibawa lakuning geni, windu adi mangsa sapta, sangkala angkaning warsi,
paksa suci sabda ji ( 1742 ) ingkang pinurwa ing kidung, duk Keraton Majalengka, Sri Brawijaya
mungkasi, wonten Maolana saking nagri Jedah.
5. Panengran She walilanang, praptanira tanah jawi, kang jinujug Ngampeldenta, pinanggih sang maha
resi, areraosan ngelmi, sarak sarengat njeng rosul, nanging tan ngantya lam, linggar saking
Ngampelgadhing, ngidul ngetan anjog Nagri Belambangan.
Serat Centini
Serat Centhini, sebagaimana kita tahu, ditulis oleh sejumlah pujangga di lingkungan Keraton Surakarta
yang diketuai oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amengkunagara III, putra mahkota Sunan
Pakubuwana IV. Karya yang terkenal dengan sebutan Serat Centhini atau Suluk Tambangraras-
Amongraga ini ditulis pada tahun 1742 dalam penanggalan Jawa, atau 1814 dalam tahun Masehi. Karya
ini boleh dikatakan sebagai semacam ensiklopedi mengenai dunia dalam masyarakat Jawa.
Sebagaimana tercermin dalam bait-bait awal, serat ini ditulis memang dengan ambisi sebagai perangkum
baboning pangawikan Jawi, atau katakanlah semacam database pengetahuan Jawa. Jumlah
keseluruhan serat ini adalah 12 jilid. Aspek-aspek ngelmu yang dicakup dalam serat ini meliputi
persoalan agama, kebatinan, kekebalan, dunia keris, kerawitan dan tari, tata cara membangun rumah,
pertanian, primbon atau horoskop, soal makanan dan minuman, adat istiadat, cerita-cerita kuna
mengenai tanah Jawa dan lain-lainnya.
Yang ingin ditunjukkan dalam tulisan ini adalah bagaimana Islam menjadi elemen pokok yang mendasari
seluruh kisah dalam buku ini, tetapi ia telah mengalami “pembacaan” ulang melalui optik pribumi yang
sudah tentu berlainan dengan Islam standar. Islam tidak lagi tampil sebagai “teks besar” yang
“membentuk” kembali kebudayaan setempat sesuai dengan kanon ortodokasi yang standar. Sebaliknya,
dalam Serat Centhini, kita melihat justru kejawaan bertindak secara leluasa untuk “membaca kembali”
Islam dalam konteks setempat, tanpa ada semacam kekikukan dan kecemasan karena “menyeleweng”
dari kanon resmi. Nada yang begitu menonjol di sana adalah sikap yang wajar dalam melihat hubungan
antara Islam dan kejawaan, meskipun yang terakhir ini sedang melakukan suatu tindakan “resistensi”.
Penolakan tampil dalam nada yang “subtil”, dan sama sekali tidak mengesankan adanya “heroisme”
dalam mempertahankan kebudayaan Jawa dari penetrasi luar.
Barangkali, Serat Centhini bisa kita anggap sebagai cerminan dari suatu periode di mana hubungan
antara Islam dan kejawaan masih berlangsung dalam watak yang saling mengakomodasikan, dan tidak
terjadi kontestasi antara keduanya secara keras dan blatant. Sebagaimana kita tahu, dalam
perkembangan pasca-kemerdekaan, identitas kejawaan makin mengalami “politisasi” dalam menghadapi
naiknya kekuatan Islam yang cenderung “puritan” dalam kancah politik. Dalam konteks semacam ini,
antara kedua identitas ini (Islam dan Jawa), terdapat hubungan yang tegang dan penuh prasangka.
Ketegangan ini terus berlanjut hingga dalam pemerintahan Orba.
Serat disusun berdasarkan kisah perjalanan putra-putri Sunan Giri setelah dikalahkan oleh Pangeran
Pekik dari Surabaya, ipar Sultan Agung dari Kerajaan Mataram. Kisah dimulai setelah tiga putra Sunan
Giri berpencar meninggalkan tanah mereka untuk melakukan perkelanaan, karena kekuasaan Giri telah
dihancurkan oleh Mataram. Mereka adalah Jayengresmi, Jayengraga, dan seorang putri bernama
Rancangkapti. Dengan diikuti oleh dua santri, Gathak dan Gathuk, Jayengresmi melakukan “perjalanan
spiritual” ke sekitar keraton Majapahit, Blitar, Gamprang, hutan Lodhaya, Tuban, Bojanagara, hutan
Bagor, Gambiralaya, Gunung Pandhan, desa Dhandher, Kasanga, Sela, Gubug Merapi, Gunung
Prawata, Demak, Gunung Muria, Pekalongan, Gunung Panegaran, Gunung Mandhalawangi, Tanah
Pasundan, Bogor, bekas keraton Pajajaran, Gunung Salak, dan kemudian tiba di Karang. Dalam
perjalanan ini, Jayengresmi seperti mengalami “pendewasaan spiritual”, karena bertemu dengan
sejumlah guru, tokoh-tokoh gaib dalam mitos Jawa kuna, dan sejumlah juru kunci makam-makam
keramat di tanah Jawi. Dalam pertemuan dengan tokoh-tokoh itu, dia belajar mengenai segala macam
pengetahuan dalam khazanah kebudayaan Jawa, mulai dari candi, alamat bunyi burung gagak dan
prenjak, khasiat burung pelatuk, petunjuk pembuatan kain lurik, pilihan waktu bersanggama, perhitungan
tanggal, hingga ke kisah Syeh Siti Jenar.
Jayengsari dan Rancangkapti berkelana dengan diiringi oleh santri Buras ke Sidacerma, Pasuruhan,
Ranu Grati, Banyubiru, kaki Gunung Tengger, Malang, Baung, Singasari, Sanggariti, Tumpang, Kidhal,
Pasrepan, Tasari, Gunung Brama, Ngadisari, Klakah, Kandhangan, Argapura, Gunung Rawun,
Banyuwangi, terus ke Pekalongan, Gunung Perau, Dieng, sampai ke Sokayasa di kaki Gunung Bisma
Banyumas. Dalam perjalanan itu, mereka berdua mendapatkan pengetahuan mengenai adat-istiadat
tanah Jawi, syariat para nabi, kisah Sri Sadana, pengetahuan mengenai wudlu, shalat, pengetahuan
(yang terkesan agak bertakik-takik dan njlimet) mengenai dzat Allah, sifat, asma dan afngal-Nya, sifat
dua puluh, Hadis Markum, perhitungan selamatan orang meninggal dunia, serta perwatakan Kurawa dan
Pandawa.
Melihat luasnya daerah serta lingkup pengetahuan yang dipelajari ketiga putra-putri Giri itu, tampak sekali
ambisi penggubah kisah dalam Serat Centhini ini untuk “menerangkan” secara menyeluruh “dunia dalam”
orang Jawa. Dengan demikian, serat ini juga bisa digunakan sebagai titik masuk untuk mengetahui
bagaimana dunia Jawa “plausible” dan bermakna buat orang-orang Jawa sendiri. Sekaligus juga adalah
bagaimana Islam “bermakna” dalam konteks tatanan kosmik mereka.
Melihat jenis-jenis pengetahuan yang dipelajari oleh ketiga putra-putri Giri tersebut, tampak dengan jelas
unsur-unsur Islam yang “ortodoks” bercampur baur dengan mitos-mitos di tanah Jawa. Ajaran Islam yang
ortodoks mengenai sifat Allah yang dua puluh, misalnya, diterima begitu saja, tanpa harus membebani
para penggubah ini untuk mempertentangkan ortodoksi itu dengan mitos-mitos dalam khazanah
kebudayaan Jawa. Dua-duanya disandingkan begitu saja secara “sinkretik”, seolah antara alam
“monoteisme” dengan “paganisme”/”animisme” Jawa tidak terdapat pertentangan yang merisaukan.
Seperti telah dikemukakan di atas, dalam serat ini, Islam memang tidak dipandang semata-mata sebagai
unsur eksternal yang “membebani” unsur lokal, bahkan pertentangan (katakan saja) weltanschauung
antara kedua dunia itu (Islam dan Jawa) sama sekali tidak dipersoalkan. Begitu saja diandaikan bahwa
keduanya commensurable dan saling bisa bertukar tempat. Tetapi, anehnya, dengan cara seperti inilah
Jawa (sebagaimana ditampilkan oleh serat ini) melakukan “resistensi” (atau “domestifikasi”, dalam istilah
Benda) atas Islam. Penggubah serat ini seolah-olah tidak mau tahu bahwa Islam sebagaimana tampil
dalam korpus standar membawa sejumlah “efek ikonoklastik” atas kepercayaan setempat.
Pasca-Centhini: Jawa “baru”?
Bagaimana orang-orang Jawa pada periode-katakan saja-”pasca-Centhini” memahami hubungan antara
Islam dan kejawaan? Adakah perubahan yang mendasar dalam pandangan-pandangan yang
sebelumnya bernada sinkretis itu? Sebuah kesaksian kontemporer dari keluarga Jawa sebagaimana
dituturkan oleh Hersri, layak dikutip di sini (saya ambil dari tulisan Hersri Between the Bars yang dimuat
dalam buku Silenced Voices suntingan John H McGlynn yang terbit baru-baru ini). Cerita Hersri ini
mewakili semacam corak yang umum dalam keluarga Jawa dari kelas bawah. Cerita ini terjadi di tahun
1947/1948.
Hersri adalah orang yang tumbuh dalam keluarga abangan dan tidak mengenal “kesetiaan” yang fanatik
terhadap agama-agama resmi. Sikap yang longgar ini tercermin dalam jawabannya ketika suatu ketika ia
ditanya oleh gurunya di kelas, “Apa agamamu?” Ia kebingungan, karena di rumah tidak pernah
memperoleh pengajaran mengenai kesetiaan yang eksklusif terhadap agama tertentu. Kakaknya yang
sulung dikirim oleh ayahnya ke Sekolah Katolik di Muntilan, bukan dengan kesadaran mendalam agar
anaknya belajar agama itu. Tetapi, Sekolah Katolik di daerahnya lebih menerapkan disiplin yang keras
ketimbang sekolah lain, sehingga dengan demikian ayahnya berharap agar kakaknya yang ndablek itu
bisa dijinakkan. Kakaknya yang lain belajar di Sekolah Taman Siswa. Sementara kakaknya yang nomor
tiga dikirim ke Sekolah Muhammadiyah, juga bukan dengan alasan agar belajar Islam dengan baik, tetapi
karena kakaknya yang satu ini tidak diterima baik di sekolah umum atau Protestan. Bapaknya sendiri
selalu berkata bahwa semua agama adalah baik, dan sering ikut dalam acara selamatan desa yang
biasanya juga menggunakan sejumlah ritual Islam (seperti tahlil, misalnya). Tetapi ia tidak pernah
menjadi Muslim. Terhadap pertanyaan yang membingungkan dari gurunya itu, Hersri akhirnya menjawab,
“Saya mengikuti semua agama yang ada.” Seluruh murid di kelasnya tertawa.
Apakah ini cerminan dari sinkretisme seperti yang disebut di muka? Boleh jadi. Tetapi sikap permisif
secara “teologis” ini lama-lama makin pudar, karena proses yang lain juga sedang berlangsung, yaitu apa
yang sering disebut sebagai “santri-isasi” orang Jawa. Saya pernah mendengar cerita seorang jemaat
Gereja Kristen di kawasan Pulo Mas mengenai proses “baru” yang sedang berlangsung dalam
masyarakat Jawa itu. Dahulu, cerita si jemaat ini, jika ada jenazah di desanya (di Madiun), sudah menjadi
adat yang lazim bahwa seluruh warga desa dari agama apa pun akan mengurusnya. Sekarang, setelah
sejumlah fatwa MUI dikeluarkan mengenai larangan orang Islam terlibat dalam ritual agama lain
(termasuk seremoni kematian, tentunya), pelan-pelan orang makin sadar akan “identitasnya” sebagai
orang Muslim atau Kristen atau yang lain. Orang Jawa makin menyadari bahwa ada gejala lain yang
muncul ke permukaan: gejala untuk menganggap sikap “permisif” secara teologis sebagai hal yang tidak
lagi wajar.
Proses ini, tampaknya sudah berlangsung sejak lama, meskipun resonansinya baru tampak dengan
“keras” akhir-akhir ini. GWJ Drewes (dalam artikel berjudul Indonesia: Mysticism and Activism, yang
dimuat dalam buku suntingan Gustave von Grunebaum, Unity and Variety in Muslim Civilization, [1955]),
pernah mengemukakan pengamatannya di tahun 50-an mengenai proses Islamisasi di tanah Jawa. Ia
mengatakan bahwa,
[T]he Islamization of Indonesia is still in progress, not only in the sense that Islam is still spreading among
pagan tribes, but also in that peoples who went over to Islam centuries ago are living up more and more
to the standard of Muslim orthodoxy.
Kecenderungan yang kita lihat akhir-akhir ini tampaknya memang makin cenderung membenarkan apa
yang dikatakan oleh Drewes itu. Tetapi semacam caveat tetap harus dikemukakan di sini. Jika
kecenderungan makin “ortodoks” di kalangan masyarakat Jawa seperti dikemukakan oleh Drewes itu
benar-benar terjadi, maka harus pula dipertimbangkan kenyataan bahwa dalam pemilu tahun lalu, partai-
partai Islam mengalami kekalahan yang dramatis. PDI-P yang mempunyai basis luas di kalangan
masyarakat Jawa yang abangan, memperoleh suara yang besar.
Apakah yang bisa kita simpulkan dari perkembangan baru ini? Tampaknya memang Jawa-Serat-Centhini
belum menunjukkan tanda-tanda kepudaran, bahkan mungkin semacam resiliensi baru mulai
dikembangkan. Meskipun perkembangan-perkembangan baru yang menuju ke arah Jawa-pasca-
Centhini juga mulai memperlihatkan gejalanya.
============
Pethikan “Centhini” pupuh 37. Dhandhanggula, gatra 37 – 49 37 duk uripe neng dunya puniki sadina dina
pan wis sakarat miwah sawengi wengine manggung sakaratipun melek turu sakarat ugi mila ngaran
sakarat wong neng dunya iku dene ta ing salaminya urip iku neng dunya tan pegat dening layar segara
rahmat 39. Ing tepine graitanen ugi dene wus aran iku sagara tanpa tepi supradene kaya na tepinipun
ngengkol temen basa puniki kepriye yen kenaa kinira ing kalbu dinuga duga watara saking kira kira
mapan datan keni kajaba kang wus wikan 40. Ing tepining ingkang jalanidhi. sagara rahmat kang tanpa
ombak nanging gumleger alune samun lamun kadulu sawangane resik tur wening mila kang sami layar
tan nganggo parau nyana tan na pakewuhnya yen tinrajang telenge keh parang curi mila arang kang
prapta 42. Mampan arang iya angrawuhi ing warnane ya sagara rahmat tur sadina sawengine wong
aneng dunya iku alalangen aneng jaladri jroning sagara rahmat prandene arang wruh saking kalingan ing
tingal kalimput ing pancabayaning ngaurip mila arang waspada 43. Yen arsa layar maring jaladri sagara
rahmat mawia palwa sarta lawan kamudhine pandoman sampun kantun myang layare dipun abecik
miwah sanguning marga ywa kirang den agung yen tan mangkono tan prapta ing tepine iya sagara
rahmati pan mundhak akangelan 44. Baitane pan eninging galih kemudhine pan anteping tekat sucining
kalbu layare pandomanipun iku pituduhe guru sayekti sangune ngelmu rasa lakune parau kalawabn
murahing Edat yen tumeka aneng tepining jaladri uga sagara rahmat (badhe kalajengaken menawi taksih
wonten ingkang ngersaaken..) Kapethik saking “serat centhini latin 1 Yasandalem kanjeng Gusti
Pangeran Adipati Anom Amangkurat III (Ingkang Sinuhun Paku Buwana V) jumeneng ing Surakarta (
1820 – - 1823 M) kalatinaken miturut aslinipun dening Karkana Kamajaya, Penerbit yayasan Centhini,
Yogyakarta, 1991

Serat Chentini

wayang Kitab & Kidung
Ing ngandhap punika ka-aturaken tetedhakan purwakanipun Serat Centhini, sinawung ing sekar Sinom
1. Sri Narpatmaja Sudibya, talatahingnusma Jawi, Surakarta Hadiningrat, hagnya ring kang wadu Carik,
Sutrasna kang kinanthi, mangunreh cariteng dangu, sanggyaning kawruh Jawa, hingimpun tumrap
kakawin, mrih tan kemba karya dhangan kang miyarsa.

2. Lajere kang cinarita, laksananing Jayengresmi, ya She Adi Amongrogo, atmajeng njeng Sunan Giri,
kontap janma linuwih, Oliya Wali Mujedub, peparenganing jaman, njeng Sultan Agung Matawis,
tinengeran Serat Suluk tambangraras.
3. Karsaning Sang Narpatmaja, babon pangawikan jawi, jinereng dadya carita, sampating karsa marengi,
Nemlikur Saptu Paing, lek Mukharam je warseku, mrakeh Hyang Surenggana, Bathara Yama Dewari,
amawulu wogan su-ajag sumengka.
4. Panca-sudaning Satriya, wibawa lakuning geni, windu adi mangsa sapta, sangkala angkaning warsi,
paksa suci sabda ji ( 1742 ) ingkang pinurwa ing kidung, duk Keraton Majalengka, Sri Brawijaya
mungkasi, wonten Maolana saking nagri Jedah.
5. Panengran She walilanang, praptanira tanah jawi, kang jinujug Ngampeldenta, pinanggih sang maha
resi, areraosan ngelmi, sarak sarengat njeng rosul, nanging tan ngantya lam, linggar saking
Ngampelgadhing, ngidul ngetan anjog Nagri Belambangan.
Serat Centini
Serat Centhini, sebagaimana kita tahu, ditulis oleh sejumlah pujangga di lingkungan Keraton Surakarta
yang diketuai oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amengkunagara III, putra mahkota Sunan
Pakubuwana IV. Karya yang terkenal dengan sebutan Serat Centhini atau Suluk Tambangraras-
Amongraga ini ditulis pada tahun 1742 dalam penanggalan Jawa, atau 1814 dalam tahun Masehi. Karya
ini boleh dikatakan sebagai semacam ensiklopedi mengenai dunia dalam masyarakat Jawa.
Sebagaimana tercermin dalam bait-bait awal, serat ini ditulis memang dengan ambisi sebagai perangkum
baboning pangawikan Jawi, atau katakanlah semacam database pengetahuan Jawa. Jumlah
keseluruhan serat ini adalah 12 jilid. Aspek-aspek ngelmu yang dicakup dalam serat ini meliputi
persoalan agama, kebatinan, kekebalan, dunia keris, kerawitan dan tari, tata cara membangun rumah,
pertanian, primbon atau horoskop, soal makanan dan minuman, adat istiadat, cerita-cerita kuna
mengenai tanah Jawa dan lain-lainnya.
Yang ingin ditunjukkan dalam tulisan ini adalah bagaimana Islam menjadi elemen pokok yang mendasari
seluruh kisah dalam buku ini, tetapi ia telah mengalami “pembacaan” ulang melalui optik pribumi yang
sudah tentu berlainan dengan Islam standar. Islam tidak lagi tampil sebagai “teks besar” yang
“membentuk” kembali kebudayaan setempat sesuai dengan kanon ortodokasi yang standar. Sebaliknya,
dalam Serat Centhini, kita melihat justru kejawaan bertindak secara leluasa untuk “membaca kembali”
Islam dalam konteks setempat, tanpa ada semacam kekikukan dan kecemasan karena “menyeleweng”
dari kanon resmi. Nada yang begitu menonjol di sana adalah sikap yang wajar dalam melihat hubungan
antara Islam dan kejawaan, meskipun yang terakhir ini sedang melakukan suatu tindakan “resistensi”.
Penolakan tampil dalam nada yang “subtil”, dan sama sekali tidak mengesankan adanya “heroisme”
dalam mempertahankan kebudayaan Jawa dari penetrasi luar.
Barangkali, Serat Centhini bisa kita anggap sebagai cerminan dari suatu periode di mana hubungan
antara Islam dan kejawaan masih berlangsung dalam watak yang saling mengakomodasikan, dan tidak
terjadi kontestasi antara keduanya secara keras dan blatant. Sebagaimana kita tahu, dalam
perkembangan pasca-kemerdekaan, identitas kejawaan makin mengalami “politisasi” dalam menghadapi
naiknya kekuatan Islam yang cenderung “puritan” dalam kancah politik. Dalam konteks semacam ini,
antara kedua identitas ini (Islam dan Jawa), terdapat hubungan yang tegang dan penuh prasangka.
Ketegangan ini terus berlanjut hingga dalam pemerintahan Orba.
Serat disusun berdasarkan kisah perjalanan putra-putri Sunan Giri setelah dikalahkan oleh Pangeran
Pekik dari Surabaya, ipar Sultan Agung dari Kerajaan Mataram. Kisah dimulai setelah tiga putra Sunan
Giri berpencar meninggalkan tanah mereka untuk melakukan perkelanaan, karena kekuasaan Giri telah
dihancurkan oleh Mataram. Mereka adalah Jayengresmi, Jayengraga, dan seorang putri bernama
Rancangkapti. Dengan diikuti oleh dua santri, Gathak dan Gathuk, Jayengresmi melakukan “perjalanan
spiritual” ke sekitar keraton Majapahit, Blitar, Gamprang, hutan Lodhaya, Tuban, Bojanagara, hutan
Bagor, Gambiralaya, Gunung Pandhan, desa Dhandher, Kasanga, Sela, Gubug Merapi, Gunung
Prawata, Demak, Gunung Muria, Pekalongan, Gunung Panegaran, Gunung Mandhalawangi, Tanah
Pasundan, Bogor, bekas keraton Pajajaran, Gunung Salak, dan kemudian tiba di Karang. Dalam
perjalanan ini, Jayengresmi seperti mengalami “pendewasaan spiritual”, karena bertemu dengan
sejumlah guru, tokoh-tokoh gaib dalam mitos Jawa kuna, dan sejumlah juru kunci makam-makam
keramat di tanah Jawi. Dalam pertemuan dengan tokoh-tokoh itu, dia belajar mengenai segala macam
pengetahuan dalam khazanah kebudayaan Jawa, mulai dari candi, alamat bunyi burung gagak dan
prenjak, khasiat burung pelatuk, petunjuk pembuatan kain lurik, pilihan waktu bersanggama, perhitungan
tanggal, hingga ke kisah Syeh Siti Jenar.
Jayengsari dan Rancangkapti berkelana dengan diiringi oleh santri Buras ke Sidacerma, Pasuruhan,
Ranu Grati, Banyubiru, kaki Gunung Tengger, Malang, Baung, Singasari, Sanggariti, Tumpang, Kidhal,
Pasrepan, Tasari, Gunung Brama, Ngadisari, Klakah, Kandhangan, Argapura, Gunung Rawun,
Banyuwangi, terus ke Pekalongan, Gunung Perau, Dieng, sampai ke Sokayasa di kaki Gunung Bisma
Banyumas. Dalam perjalanan itu, mereka berdua mendapatkan pengetahuan mengenai adat-istiadat
tanah Jawi, syariat para nabi, kisah Sri Sadana, pengetahuan mengenai wudlu, shalat, pengetahuan
(yang terkesan agak bertakik-takik dan njlimet) mengenai dzat Allah, sifat, asma dan afngal-Nya, sifat
dua puluh, Hadis Markum, perhitungan selamatan orang meninggal dunia, serta perwatakan Kurawa dan
Pandawa.
Melihat luasnya daerah serta lingkup pengetahuan yang dipelajari ketiga putra-putri Giri itu, tampak sekali
ambisi penggubah kisah dalam Serat Centhini ini untuk “menerangkan” secara menyeluruh “dunia dalam”
orang Jawa. Dengan demikian, serat ini juga bisa digunakan sebagai titik masuk untuk mengetahui
bagaimana dunia Jawa “plausible” dan bermakna buat orang-orang Jawa sendiri. Sekaligus juga adalah
bagaimana Islam “bermakna” dalam konteks tatanan kosmik mereka.
Melihat jenis-jenis pengetahuan yang dipelajari oleh ketiga putra-putri Giri tersebut, tampak dengan jelas
unsur-unsur Islam yang “ortodoks” bercampur baur dengan mitos-mitos di tanah Jawa. Ajaran Islam yang
ortodoks mengenai sifat Allah yang dua puluh, misalnya, diterima begitu saja, tanpa harus membebani
para penggubah ini untuk mempertentangkan ortodoksi itu dengan mitos-mitos dalam khazanah
kebudayaan Jawa. Dua-duanya disandingkan begitu saja secara “sinkretik”, seolah antara alam
“monoteisme” dengan “paganisme”/”animisme” Jawa tidak terdapat pertentangan yang merisaukan.
Seperti telah dikemukakan di atas, dalam serat ini, Islam memang tidak dipandang semata-mata sebagai
unsur eksternal yang “membebani” unsur lokal, bahkan pertentangan (katakan saja) weltanschauung
antara kedua dunia itu (Islam dan Jawa) sama sekali tidak dipersoalkan. Begitu saja diandaikan bahwa
keduanya commensurable dan saling bisa bertukar tempat. Tetapi, anehnya, dengan cara seperti inilah
Jawa (sebagaimana ditampilkan oleh serat ini) melakukan “resistensi” (atau “domestifikasi”, dalam istilah
Benda) atas Islam. Penggubah serat ini seolah-olah tidak mau tahu bahwa Islam sebagaimana tampil
dalam korpus standar membawa sejumlah “efek ikonoklastik” atas kepercayaan setempat.
Pasca-Centhini: Jawa “baru”?
Bagaimana orang-orang Jawa pada periode-katakan saja-”pasca-Centhini” memahami hubungan antara
Islam dan kejawaan? Adakah perubahan yang mendasar dalam pandangan-pandangan yang
sebelumnya bernada sinkretis itu? Sebuah kesaksian kontemporer dari keluarga Jawa sebagaimana
dituturkan oleh Hersri, layak dikutip di sini (saya ambil dari tulisan Hersri Between the Bars yang dimuat
dalam buku Silenced Voices suntingan John H McGlynn yang terbit baru-baru ini). Cerita Hersri ini
mewakili semacam corak yang umum dalam keluarga Jawa dari kelas bawah. Cerita ini terjadi di tahun
1947/1948.
Hersri adalah orang yang tumbuh dalam keluarga abangan dan tidak mengenal “kesetiaan” yang fanatik
terhadap agama-agama resmi. Sikap yang longgar ini tercermin dalam jawabannya ketika suatu ketika ia
ditanya oleh gurunya di kelas, “Apa agamamu?” Ia kebingungan, karena di rumah tidak pernah
memperoleh pengajaran mengenai kesetiaan yang eksklusif terhadap agama tertentu. Kakaknya yang
sulung dikirim oleh ayahnya ke Sekolah Katolik di Muntilan, bukan dengan kesadaran mendalam agar
anaknya belajar agama itu. Tetapi, Sekolah Katolik di daerahnya lebih menerapkan disiplin yang keras
ketimbang sekolah lain, sehingga dengan demikian ayahnya berharap agar kakaknya yang ndablek itu
bisa dijinakkan. Kakaknya yang lain belajar di Sekolah Taman Siswa. Sementara kakaknya yang nomor
tiga dikirim ke Sekolah Muhammadiyah, juga bukan dengan alasan agar belajar Islam dengan baik, tetapi
karena kakaknya yang satu ini tidak diterima baik di sekolah umum atau Protestan. Bapaknya sendiri
selalu berkata bahwa semua agama adalah baik, dan sering ikut dalam acara selamatan desa yang
biasanya juga menggunakan sejumlah ritual Islam (seperti tahlil, misalnya). Tetapi ia tidak pernah
menjadi Muslim. Terhadap pertanyaan yang membingungkan dari gurunya itu, Hersri akhirnya menjawab,
“Saya mengikuti semua agama yang ada.” Seluruh murid di kelasnya tertawa.
Apakah ini cerminan dari sinkretisme seperti yang disebut di muka? Boleh jadi. Tetapi sikap permisif
secara “teologis” ini lama-lama makin pudar, karena proses yang lain juga sedang berlangsung, yaitu apa
yang sering disebut sebagai “santri-isasi” orang Jawa. Saya pernah mendengar cerita seorang jemaat
Gereja Kristen di kawasan Pulo Mas mengenai proses “baru” yang sedang berlangsung dalam
masyarakat Jawa itu. Dahulu, cerita si jemaat ini, jika ada jenazah di desanya (di Madiun), sudah menjadi
adat yang lazim bahwa seluruh warga desa dari agama apa pun akan mengurusnya. Sekarang, setelah
sejumlah fatwa MUI dikeluarkan mengenai larangan orang Islam terlibat dalam ritual agama lain
(termasuk seremoni kematian, tentunya), pelan-pelan orang makin sadar akan “identitasnya” sebagai
orang Muslim atau Kristen atau yang lain. Orang Jawa makin menyadari bahwa ada gejala lain yang
muncul ke permukaan: gejala untuk menganggap sikap “permisif” secara teologis sebagai hal yang tidak
lagi wajar.
Proses ini, tampaknya sudah berlangsung sejak lama, meskipun resonansinya baru tampak dengan
“keras” akhir-akhir ini. GWJ Drewes (dalam artikel berjudul Indonesia: Mysticism and Activism, yang
dimuat dalam buku suntingan Gustave von Grunebaum, Unity and Variety in Muslim Civilization, [1955]),
pernah mengemukakan pengamatannya di tahun 50-an mengenai proses Islamisasi di tanah Jawa. Ia
mengatakan bahwa,
[T]he Islamization of Indonesia is still in progress, not only in the sense that Islam is still spreading among
pagan tribes, but also in that peoples who went over to Islam centuries ago are living up more and more
to the standard of Muslim orthodoxy.
Kecenderungan yang kita lihat akhir-akhir ini tampaknya memang makin cenderung membenarkan apa
yang dikatakan oleh Drewes itu. Tetapi semacam caveat tetap harus dikemukakan di sini. Jika
kecenderungan makin “ortodoks” di kalangan masyarakat Jawa seperti dikemukakan oleh Drewes itu
benar-benar terjadi, maka harus pula dipertimbangkan kenyataan bahwa dalam pemilu tahun lalu, partai-
partai Islam mengalami kekalahan yang dramatis. PDI-P yang mempunyai basis luas di kalangan
masyarakat Jawa yang abangan, memperoleh suara yang besar.
Apakah yang bisa kita simpulkan dari perkembangan baru ini? Tampaknya memang Jawa-Serat-Centhini
belum menunjukkan tanda-tanda kepudaran, bahkan mungkin semacam resiliensi baru mulai
dikembangkan. Meskipun perkembangan-perkembangan baru yang menuju ke arah Jawa-pasca-
Centhini juga mulai memperlihatkan gejalanya.
============
Pethikan “Centhini” pupuh 37. Dhandhanggula, gatra 37 – 49 37 duk uripe neng dunya puniki sadina dina
pan wis sakarat miwah sawengi wengine manggung sakaratipun melek turu sakarat ugi mila ngaran
sakarat wong neng dunya iku dene ta ing salaminya urip iku neng dunya tan pegat dening layar segara
rahmat 39. Ing tepine graitanen ugi dene wus aran iku sagara tanpa tepi supradene kaya na tepinipun
ngengkol temen basa puniki kepriye yen kenaa kinira ing kalbu dinuga duga watara saking kira kira
mapan datan keni kajaba kang wus wikan 40. Ing tepining ingkang jalanidhi. sagara rahmat kang tanpa
ombak nanging gumleger alune samun lamun kadulu sawangane resik tur wening mila kang sami layar
tan nganggo parau nyana tan na pakewuhnya yen tinrajang telenge keh parang curi mila arang kang
prapta 42. Mampan arang iya angrawuhi ing warnane ya sagara rahmat tur sadina sawengine wong
aneng dunya iku alalangen aneng jaladri jroning sagara rahmat prandene arang wruh saking kalingan ing
tingal kalimput ing pancabayaning ngaurip mila arang waspada 43. Yen arsa layar maring jaladri sagara
rahmat mawia palwa sarta lawan kamudhine pandoman sampun kantun myang layare dipun abecik
miwah sanguning marga ywa kirang den agung yen tan mangkono tan prapta ing tepine iya sagara
rahmati pan mundhak akangelan 44. Baitane pan eninging galih kemudhine pan anteping tekat sucining
kalbu layare pandomanipun iku pituduhe guru sayekti sangune ngelmu rasa lakune parau kalawabn
murahing Edat yen tumeka aneng tepining jaladri uga sagara rahmat (badhe kalajengaken menawi taksih
wonten ingkang ngersaaken..) Kapethik saking “serat centhini latin 1 Yasandalem kanjeng Gusti
Pangeran Adipati Anom Amangkurat III (Ingkang Sinuhun Paku Buwana V) jumeneng ing Surakarta (
1820 – - 1823 M) kalatinaken miturut aslinipun dening Karkana Kamajaya, Penerbit yayasan Centhini,
Yogyakarta, 1991

Kitab Pararaton : Kitab Para Datu / Kisah Ken Angrok

wayang Kitab & Kidung
Tuhan, Pencipta, Pelindung dan Pengakhir Alam,
Semoga tak ada halangan,
Sudjudku sesempurna sempurnanya.
I. Demikian inilah kisah Ken Angrok. Asal mulanja, ia didjadikan manusia: Adalah seorang anak janda di Jiput, bertingkah laku tak baik, memutus – mutus tali kekang kesusilaan, menjadi gangguan Hyang yang bersifat gaib; pergilah ia dari Jiput, mengungsi ke daerah Bulalak.
Nama yang dipertuan di Bulalak itu: Mpu Tapawangkeng, ia sedang membuat pintu gerbang asramanya, dimintai seekor kambing merah jantan oleh roh pintu.
Kata Tapawangkèng: “Tak akan berhasil berpusing kepala, akhirnya ini akan menjebabkan diriku jatuh kedalam dosa, kalau sampai terjadi aku membunuh manusia, tak akan ada yang dapat menyelesaikan permintaan korban kambing merah itu.”
Kemudian orang yang memutus mutus tali kekang kesusilaan tadi berkata, sanggup mejadi korban pintu Mpu Tapawangkeng, sungguh ia bersedia dijadikan korban, agar ini dapat menjadi lantaran untuk dapat kembali ke surga dewa Wisnu dan menjelma lagi didalam kelahiran mulia, ke alam tengah lagi, demikianlah permintaannya.
Demikianlah ketika ia direstui oleh Mpu Tapawangkeng, agar dapat menjelma, disetujui inti sari kematiannya, akan menikmati tujuh daerah.
Sesudah mati, maka ia dijadikan korban oleh Mpu Tapawangkeng.
Selesai itu, ia terbang ke surga Wisnu, dan tidak bolak inti perjanjian yang dijadikan korban, ia meminta untuk dijelmakan di sebelah timur Kawi.
Dewa Brahma melihat lihat siapa akan dijadikan temanya bersepasang. Sesudah demikian itu, adalah mempelai baru, sedang cinta mencintai, yang laki laki bernama Gajahpara, yang perempuan bernama Ken Endok, mereka ini bercocok tanam.
Ken Endok pergi ke sawah, mengirim suaminya, yalah: si Gadjahpara; nama sawah tempat ia: mengirim : Ayuga; desa Ken Endok bernama Pangkur.
Dewa Brahma turun kesitu, bertemu dengan Ken Endok, pertemuan mereka kedua ini terdjadi di ladang Lalaten; dewa Brahma mengenakan perjanjian kepada isteri itu: “Jangan kamu bertemu dengan lakimu lagi, kalau kamu bertemu dengan suamimu, ia akan mati, lagi pula akan tercampur anakku itu, nama anakku itu: Ken Angrok, dialah yang kelak akan memerintah tanah Jawa”.
Dewa Brahma lalu menghilang. Ken Endok lalu ke sawah, berjumpa dengan Gajahpara.
Kata Ken Endok: “Kakak Gajahpara, hendaknyalah maklumi, saya ditemani didalam pertemuan oleh Hyang yang tidak tampak di ladang Lalateng, pesan beliau kepadaku: jangan tidur dengan lakimu lagi, akan matilah lakimu, kalau ia memaksa tidur dengan kamu, dan akan tercampurlah anakku itu.
Lalu pulanglah Gajahpara, sesampainya di rumah Ken Endok diajak tidur, akan ditemani didalam pertemuan lagi. Ken Endok segan terhadap Gajahpara. “Wahai, kakak Gajahpara putuslah perkawinanku dengan kakak, saya takut kepada perkataan Sang Hyang.
Ia tidak mengijinkan aku berkumpul dengan kakak lagi.”
Kata Gadjahpara: “Adik, bagaimana ini, apa yang harus kuperbuat, nah tak berkeberatan saya, kalau saya harus bercerai dengan kamu; adapun harta benda pembawaanmu kembali kepadamu lagi, adik, harta benda milikku kembali pula kepadaku lagi”.
Sesudah itu Ken Endok pulang ke Pangkur di seberang utara, dan Gajahpara tetap bertempat tinggal di Campara di seberang selatan.
Belum genap sepekan kemudian matilah Gajahpara.
Kata orang yang mempercakapkan: “Luar biasa panas anak didalam kandungan itu, belum seberapa lama perceraian orang tua laki laki perempuan sudah diikuti, orang tua laki laki segera meninggal dunia”.
Akhirnja sesudah genap bulannya, lahirlah seorang anak laki-laki, dibuang di kuburan kanak kanak oleh Ken Endok. Selanjutnya ada seorang pencuri, bernama Lembong, tersesat di kuburan anak anak itu, melihat benda bernyala, didatangi oleh Lembong, mendengar anak menangis, setelah didekati oleh Lembong itu, nyatalah yang menyala itu anak yang menangis tadi, diambil diambin dan dibawa pulang diaku anak oleh Lembong.
Ken Endok mendengar, bahwa Lembong memungut seorang anak, teman Lembonglah yang memberitakan itu dengan menyebut nyebut anak, yang didapatinya di kuburan kanak kanak, tampak bernyala pada waktu malam hari.
Lalu Ken Endok datang kepadanya, sungguhlah itu anaknya sendiri.
Kata Ken Endok: “Kakak Lembong, kiranya tuan tidak tahu tentang anak yang tuan dapat itu, itu adalah anak saya, kakak, jika kakak ingin tahu riwayatnya, demikianlah: Dewa Brahma bertemu dengan saya, jangan tuan tidak memuliakan anak itu, karena dapat diumpamakan, anak itu beribu dua berayah satu, demikian persamaannya.”
Lembong beserta keluarganya semakin cinta dan senang, lambat laun anak itu akhirnya menjadi besar, dibawa pergi mencuri oleh Lembong.
Setelah mencapai usia sebaya dengan anak gembala, Ken Angrok bertempat tinggal di Pangkur.
Habislah harta benda Ken Endok dan harta benda Lembong, habis dibuat taruhan oleh Ken Angrok.
Kemudian ia menjadi anak gembala pada yang dipertuan di Lebak, menggembalakan sepasang kerbau, lama kelamaan kerbau yang digembalakan itu hilang, kerbau sepasang diberi harga delapan ribu oleh yang dipertuan di Lebak, Ken Angrok sekarang dimarahi oleh orang tua laki laki dan perempuan, kedua duanya: “Nah buyung, kami berdua mau menjadi hamba tanggungan, asal kamu tidak pergi saja, kami sajalah yang akan menjalani, menjadi budak tanggungan pada yang dipertuan di Lebak”.
Akhirnya tidak dihiraukan, Ken Angrok pergi, kedua orang tuanya ditinggalkan di Campara dan di Pangkur.
Lalu Ken Angrok pergi mencari perlindungan di Kapundungan;
Orang yang diungsi dan dimintai tempat berlindung tak menaruh belas kasihan.
Ada seorang penjudi permainan Saji berasal dari Karuman, bernama Bango Samparan, kalah bertaruhan dengan seorang bandar judi di Karuman, ditagih tak dapat membayar uang, Bango Samparan itu pergi dari Karuman, berjiarah ke tempat keramat Rabut Jalu, mendengar kata dari angkasa, disuruh pulang ke Karuman lagi. “Kami mempunyai anak yang akan dapat menyelesaikan hutangmu ia bernama Ken Angrok.”
Pergilah Bango Samparan dari Rabut Jalu, berjalan pada waktu malam, akhirnya menjumpai seorang anak, dicocokkan oleh Bango Samparan dengan petunjuk Hyang, sungguhlah itu Ken Angrok, dibawa puIang ke Karuman, diaku anak oleh Bango Samparan.
Dia itu lalu ketempat berjudi, bandar judi ditemui oleh Bango Samparan dilawan berjudi, kalahlah bandar itu, kembali kekalahan Bango Samparan, memang betul petunjuk Hyang itu, Bango Samparan pulang, Ken Angrok dibawa pulang oleh Bango Samparan.
Bango Samparan berbayuh dua orang bersaudara, Genuk Buntu nama istri tuanja. dan Tirtaya nama isteri mudanja.
Adapun nama anak anaknya dari isteri muda, yalah Panji Bawuk, anak tengah Panji Kuncang, adiknya ini Panji Kunal dan Panji Kenengkung, bungsu seorang anak perempuan bernama Cucu Puranti.
Ken Angrok diambil anak oleh Genuk Buntu. Lama ia berada di Karuman, tidak dapat sehati dengan semua para Panji itu, Ken Angrok berkehendak pergi dari Karuman.
Lalu ia ke Kapundungan bertermu dengan seorang anak gembala anak tuwan Sahaja, kepala desa tertua di Sagenggeng, bernama Tuwan Tita; ia bersahabat karib dengan Ken Angrok.
Tuwan Tita dan Ken Angrok sangat cinta mencinta, selanjutnya Ken Angrok bertermpat tinggal pada Tuwan Sahaja, tak pernah berpisahlah Ken Angrok dan Tuwan Sahaja itu, mereka ingin tahu tentang bentuk huruf huruf, pergilah ke seorang guru di Sagenggeng, sangat ingin menjadi murid, minta diajar sastera.
Mereka diberi pelajaran tentang bentuk bentuk bentuk dan penggunaan pengetahuan tentang huruf huruf hidup dan huruf huruf mati, semua perobahan huruf, juga diajar tentang sengkalan, perincian hari tengah bulan, bulan, tahun Saka, hari enam, hari lima, hari tujuh, hari tiga, hari dua, hari sembilan, nama nama minggu.
Ken Angrok dan Tuwan Tita kedua duanya pandai diajar pengetahuan oleh Guru.
Ada tanaman guru, menjadi hiasan halaman, berupa pohon jambu, yang ditanamnya sendiri.
Buahnya sangat lebat, sungguh padat karena sedang musimnya, dijaga baik tak ada yang diijinkan memetik, tak ada yang berani mengambil buah jambu itu.
Kata guru: “Jika sudah masak jambu itu, petiklah”. Ken Angrok sangat ingin, melihat buah jambu itu, sangat dikenang kenangkan buah jambu tadi.
Setelah malam tiba waktu orang tidur sedang nyenyak nyenyaknya, Ken Angrok tidur, kini keluarlah kelelawar dari ubun ubun Ken Angrok, berbondong bondong tak ada putusnya, semalam malaman makan buah jambu sang guru.
Pada waktu paginya buah jambu tampak berserak serak di halaman, diambil oleh pengiring guru.
Ketika guru melihat buah jambu rusak berserakan di halaman itu, maka rnendjadi susah.
Kata guru kepada murid murid: “Apakah sebabnya maka jambu itu rusak.” Menjawablah pengiring guru: “Tuanku rusaklah itu, karena bekas kelelawar makan jambu itu”.
Kemudian guru mengambil duri rotan untuk mengurung jambunya dan dijaga semalam malaman.
Ken Angrok tidur lagi diatas balai balai sebelah selatan, dekat tempat daun ilalang kering, di tempat ini guru biasanya menganyam atap.
Menurut penglihatan, guru melihat kelelawar penuh sesak berbondong bondong, keluar dari ubun ubun Ken Angrok, semuanya makan buah jambu guru, bingunglah hati guru itu, merasa tak berdaya mengusir kelelawar yang banyak dan memakan jambunya, marahlah guru itu, Ken Angrok diusir oleh guru, kira kira pada waktu tengah malam guru rnengusirnya.
Ken Angrok terperanjat, bangun terhuyung huyung, lalu keluar, pergi tidur di tempat ilalang di luar.
Ketika guru menengoknya keluar, ia melihat ada benda menyala di tengah ilalang, guru terperanjat mengira kebakaran, setelah diperiksa yang tampak menyala itu adalah Ken Angrok, ia disuruh bangun, dan pulang, diajak tidur di dalam rumah lagi, menurutlah Ken Angrok pergi tidur di ruang tengah lagi.
Pagi paginya ia disuruh mengambil buah jambu oleh guru, Ken Angrok senang. katanya : “Aku mengharap semoga aku menjadi orang, aku akan membalas budi kepada guru.”
Lama kelamaan Ken Angrok telah menjadi dewasa, menggembala dengan Tuwan Tita, membuat pondok, bertempat di sebelah timur Sagenggeng, di ladang Sanja, dijadikan tempatnya untuk menghadang orang yang lalu lintas di jalan, dengan Tuwan Titalah temannya.
Adalah seorang penyadap enau di hutan orang Kapundungan, mempunyai seorang anak perempuan cantik, ikut serta pergi ke hutan, dipegang oleh Ken Angrok, ditemani didalam pertemuan didalam hutan, hutan itu bernama Adiyuga. Makin lama makin berbuat rusuhlah Ken Angrok, kemudian ia memperkosa orang yang melalui jalan, hal ini diberitakan sampai di negara Daha, bahwasanya Ken Angrok berbuat rusuh itu, maka ia ditindak untuk dilenyapkan oleh penguasa daerah yang berpangkat akuwu, bernama Tunggul Ametung.
Pergilah Ken Angrok dari Sagenggêng, mengungsi ke tempat keramat. Rabut Gorontol. “Semoga tergenang didalam air, orang yang akan melenyapkan saya” kutuk Ken Angrok, semoga keluar air dan tidak ada, sehingga terdjadilah tahun tak ada kesukaran di Jawa.”
Ia pergi dari Rabut Gorontol, mengungsi ke Wayang, ladang di Sukamanggala.
Ada seorang pemikat burung pitpit, ia memperkosa orang yang sedang rnemanggil manggil burung itu, lalu menuju ke tempat keramat Rabut Katu.
Ia heran, melihat tumbuh tumbuhan katu sebesar beringin, dari situ lari mengungsi ke Jun Watu, daerah orang sempurna, mengungsi ke Lulumbang, bertempat tinggal pada penduduk desa, keturunan golongan tentara, bernana Gagak Uget.
Lamalah ia bertempat tinggal disitu, memerkosa orang yang sedang rnelalui jalan.
Ia lalu pergi ke Kapundungan, mencuri di Pamalantenan, ketahuanlah ia, dikejar dikepung, tak tahu kemana ia akan mengungsi, ia memanjat pohon tal, di tepi sungai, setelah siang, diketahui, bahwasanya ia memanjat pohon tal itu, ditunggu orang Kepundungan dibawah, sambil dipukulkan canang, Pohon tal itu ditebang oleh orang-orang yang mengejarnya.
Sekarang hi menangis, menyebut nyebut Sang Pentjipta Kebaikan atas dirinya, akhirnya ia mendengar sabda dari angkasa, ia disuruh memotong daun tal, untuk didjadikan sayapnya kiri kanan, agar supaya dapat melayang ke seberang timur, mustahil ia akan mati, lalu ia memotong daun tal mendapat dua helai, dijadikan sayapnya kiri kanan, ia melayang keseberang timur, dan mengungsi ke Nagamasa, diikuti dikejar, mengungsilah ia kedaerah Oran masih juga dikejar diburu, lari mengungsi ke daerah Kapundungan, yang dipertuan di daerah Kapundungan didapatinya sedang bertanam, Ken Angrok ditutupi dengan cara diaku anak oleh yang dipertuan itu.
Anak yang dipertuan di daerah itu sedang bertanam, banyaknya enam orang, kebetulan yang seoarang sedang pergi mengeringkan empangan, tinggal 1ima orang; yang sedang pergi itu diganti menanam oleh ken Angrok, datanglah yang mengejarnya, seraya berkata kepada penguasa daerah: “Wahai, tuan kepala daerah, ada seorang perusuh yang kami kejar, tadi mengungsi kemari.” meanjawablah penguasa daerah itu: “Tuan tuan, kami tidak sungguh bohong kami tuan, ia tidak disini; anak kami enam orang, yang sedang bertanam ini genap enam orang, hitunglah sendiri saja, jika lebih dari enam orang tentu ada orang lain disini”
Kata orang-orang yang mengejar: “Memang sungguh, anak penguasa daerah enam orang, betul juga yang bertanam itu ada enam orang.” Segera pergilah yang mengejar.
Kata penguasa daerah kepada ken Angrok: “Pergilah kamu, buyung, jangan jangan kembali yang mengejar kamu, kalau kalau ada yang membicarakan kata kataku tadi, akan sia sia kamu berlindung kepadaku, pergilah mengungsi ke hutan”. Maka kata ken Angrok: “Semoga berhenti lagilah yang mengejar, itulah sebabnya maka Ken Angrok bersembunyi di dalam hutan, Patangtangan nama hutan itu.
Selanjutnya ia mengungsi ke Ano, pergi ke hutan Terwag. ia semakin merusuh.
Adalah seorang kepala lingkungan daerah Luki akan melakukan pekerjaan membajak tanah, berangkatlah ia membajak ladang, mempesiapkan. tanahnya untuk ditanami kacang, membawa nasi untuk anak yang menggembalakan lembu kepala Lingkungan itu, dimasukkin kedalam tabung bambu, diletakkan diatas onggokan; sangat asyiklah kepala Lingkungan itu, selalu membajak ladang kacang saja, maka dirunduk diambil dan dicari nasinya oleh Ken Angrok, tiap tiap hari terdjadi demikian itu, kepala Lingkungan bingunglah, karena tiap tiap hari kehilangan nasi untuk anak gembalanya, kata kepala Lingkungan: “Apakah sebabnya maka nasi itu hilang”.
Sekarang nasi anak gembala kepala Lingkungan di tempat membajak itu diintai, dengan bersembunyi, anak gembalanya disuruh membajak, tak lama kemudian Ken Angrok datang dari dalam hutan, maksud Ken Angrok akan mengambil nasi, ditegor oleh kepala lingkungan: “Terangnya, kamulah, buyung, yang nengambil nasi anak gembalaku tiap tiap hari itu,”
Ken Angrok menjawab: “Betullah tuan kepala lingkungan, saya inilah yang mengambil nasi anak gembala tuan tiap-tiap hari, karena saya lapar, tak ada yang kumakan..”
Kata kepala Lingkungan: “Nah buyung. datanglah ke asramaku, kalau kamu lapar, mintalah nasi tiap tiap hari, memang saya tiap tiap hari mengharap ada tamu datang”.
Lalu Ken Angrok diajak pergi ke rumah tempat tinggal kepala lingkungan itu, dijamu dengan nasi dan lauk pauk.
Kata kepala lingkungan kepada isterinya: “Nini batari, saya berpesan kepadamu, kalau Ken Angrok datang kemari, meskipun saya tak ada di rumah juga, lekas lekas terima sebagai keluarga, kasihanilah ia”
diceriterakan, Ken Angrok tiap tiap hari datang, seperginya dari situ menuju ke Lulumbang, ke banjar Kocapet.
Ada seorang kepala lingkungan daerah Turyantapada, ia pulang dari Kebalon, bernama Mpu Palot, ia adalah tukang emas, berguru kepada kepala desa tertua di Kebalon yang seakan akan sudah berbadankan kepandaian membuat barang barang emas dengan sesempurna sesempurnanya,
sungguh ia telah sempurna tak bercacad, Mpu Palot pulang dari Kebalon, membawa beban seberat lima tahil, berhenti di Lulumbang, Mpu Palot itu takut akan pulang sendirian ke Turyantapada, karena ada orang dikhabarkan melakukan perkosaan di jalan, bernama Ken Angrok.
Mpu Palot tidak melihat orang lain, ia berjumpa dengan Ken Angrok di tempat beristirahat.
Kata ken Angrok kepada Mpu Palot: ,,Wahai, akan pergi kemanakah tuanku ini,”
Kata Mpu, menjawabnya: “Saya sedang bepergian dari Kebalon, buyung, akan pulang ke Turyantapada, saya takut di jalan, memikir mikir ada orang yang melakukan perkosaan dijalan, bernama Ken Angrok”.
Tersenyumlah Ken Angrok: “Nah Tuan, anaknda ini akan menghantarkan pulang tuan, anaknda nanti yang akan melawan kalau sampai terdjadi berjumpa dengan orang yang bernama ken Angrok itu, laju sajalah tuan pulang ke Turyantapada, jangan khawatir.”
Mpu di Tuyantapada itu merasa berhutang budi mendengar kesanggupan Ken Angrok. Setelah datang di Turyantapada, Ken Angrok diajar ilmu kepandaian membuat barang barang emas, lekas pandai, tak kalah kalau kesaktiannya dibandingkan dengan Mpu Palot, selanjutnya Ken Angrok diaku anak oleh Mpu Palot, itulah sebabnya asrama Turyantapada dinamakan daerah Bapa.
Demikianlah Ken Angrok mengaku ayah kepada Mpu Palot, karena masih ada kekurangan Mpu Palot itu, maka Ken Angrok disuruhi pergi ke Kebalon oleh Mpu Palot, disuruh menyempurnakan kepandaiaan membuat barang barang emas pada orang tertua di Kebalon, agar dapat menyelesaikan bahan yang ditinggalkan oleh bapak kepala lingkungan. Ken Angrok berangkat menuju ke Kebalon, tidak dipercaya Ken Angrok itu oleh penduduk di Kebalon.
Ken Angrok lalu marah : “Semoga ada lobang di tempat orang yang hidup menepi ini,”
Ken Angrok menikam, orang lari mengungsi kepada kepala desa tertua di Kebalon, dipanggil berkumpul petapa petapa yang berada di Kebalon semua, para guru Hyang, sampai pada para punta, semuanya keluar, membawa pukul perunggu, bersama sama mengejar dan memukul Ken Angrok dengan pukulan perunggu itu, maksud para petapa itu akan memperlihatkan kehendaknya untuk membunuh Ken Angrok.
Segera mendengar suara dari angkasa: “Jangan kamu bunuh orang itu, wahai para petapa, anak itu adalah anakku, masih jauh tugasnya di alam tengah ini.” Demikan1ah suara dari angkasa, terdengar oleh para petapa.
Maka ditolong Ken Angrok, bangun seperti sedia kala.
Ken Angrok lalu mengenakan kutuk: “Semoga tak ada petapa di sebelah timur Kawi yang tidak sempurna kepandaianya membuat benda-benda emas”.
Ken Angrok pergi dari Kebalon, mengungsi ke Turyantapada, ke daerah lingkungan Bapa; sempurnalah kepandaiannya tentang emas.
Ken Angrok pergi dari lingkungan Bapa menuju ke daerah desa Tugaran, Kepala tertua di Tugaran tidak menaruh belas digangguilah orang Tugaran oleh Ken Angrok, arca penjaga pintu gerbangnya didukung diletakkan di daerah lingkungan Bapa, kemudian dijumpai anak perempuan kepala tertua di Tugaran itu, sedang menanam kacang di sawah kering.
Gadis ini lalu ditemani didalam pertemuan oleh Ken Angrok, lama kelamaan tanaman kacang menghasilkan berkampit kampit; inilah sebabnya pula maka kacang Tugaran benihnya mengkilat besar dan gurih.
Ia pergi dari Tugaran pulang ke daerah Bapa lagi.
Kata ken Angrok: “Kalau saja kelak menjadi orang, saya akan memberi perak kepada yang dipertuan di daerah Bapa ini. Di kota Daha dikabarkan tentang Ken Angrok, bahwa ia merusuh dan bersembunyi di Turyantapada, dan Daha,
Diadakan tindakan untuk melenyapkannya, ia dicari oleh orang orang Daha, pergilah dari daerah Bapa menuju ke gunung Pustaka.
Ia pergi dari situ, mengungsi ke Limbehan, kepala tertua di Limbehan menaruh belas kasihanlah dimintai perlindungan oleh Ken Angrok itu, akhirnya Ken Angrok berjiarah ke tempat keramat Rabut Gunung Panitikan.
Kepadanya turun petunjuk dewa, disuruh pergi ke Rabut Gunung Lejar pada hari Rebo Wage, minggu Wariga pertama, para dewa bermusyawarah berrapat;
Demikian ini kata seorang nenek kebayan di Panitikan: “Saya akan membantu menyembunyikan kamu, buyung, agar supaya tak ada yang akan tahu, saya akan menyapu di Gunung Lejar pada waktu semua dewa dewa bermusyawarah.” Demikian kata nenek kebayan di Panitikan itu.
Ken Angrok lari menuju ke Gunung Lejar, hari Rebo Wage, minggu Wariga pertama tiba, ia pergi ke tempat musyawarah.
Ia bersembunyi di tempat sampah ditimbuni dengan semak belukar oleh nenek kebayan Panitikan.
Lalu berbunyilah suara tujuh nada, guntur, petir, gempa guruh, kilat, taufan, angin ribut, hujan bukan masanya, tak ada selatnya sinar dan cahaya, maka demikian itu ia mendengar suara tak ada hentinya, berdengung dengung bergemuruh. Adapun inti musyawarah para dewa: “Yang rnemperkokoh nusa Jawa, daerah manalah mestinya.”
Demikianlah kata para dewa, saling mengemukakan pembicaraan: “Siapakah yang pantas menjadi raja di pulau Jawa,” demikian pertanyaan para dewa semua.
Menjawablah dewa Guru: “Ketahuilah dewa dewa semua, adalah anakku, seorang manusia yang lahir dari orang Pangkur, itulah yang memperkokoh tanah Jawa.”
Kini keluarlah Ken Angrok dari tempat sampah, dilihat, oleh para dewa; semua dewa menjetujui, ia direstui bernama nobatan Batara Guru, demikian itu pujian dari dewa dewa, yang bersorak sorai riuh rendah. Diberi petunjuklah Ken Angrok agar mengaku ayah kepada seorang brahmana yang bernama Sang Hyang Lohgawe. dia ini baru saja dari Jambudipa, disuruh menemuinya di Taloka. Itulah asal mulanja ada brahmana di sebelah timur Kawi.
Pada waktu ia menuju ke Jawa, tidak berperahu. hanya menginjak rumput kekatang tiga potong, setelah mendarat dari air, lalu menuju ke daerah Taloka, dang Hyang Lohgawe berkeliling mencari Ken Angrok.
Kata Dang Hyang Lohgawe: “Ada seorang anak, panjang tangannya melampaui lutut, tulis tangan kanannya cakera dan yang kiri sangka, bernana Ken Angrok. Ia tampak pada waktu aku memuja, ia adalah penjelmaan Dewa Wisnu, pemberitahuannya dahulu di Jambudwipa, demikian: “Wahai Dang Hyang Lohgawe, hentikan kamu memuja arca Wisnu, aku telah tak ada disini, aku telah menjelma pada orang di Jawa, hendaknya kamu mengikuti aku di tempat perjudian.”
Tak lama kemudian Ken Angrok didapati di tempat perjudian, diamat amati dengan baik baik, betul ia adalah orang yang tampak pada Dang Hyang Lohgawe sewaktu ia memuja.
Maka ia ditanyai. Kata Dang Hyang Lohgawe: “Tentu buyunglah yang bernama Ken Angrok, adapun sebabnya aku tahu kepadamu, karena kamu tampak padaku pada waktu aku memuja”.
Menjawablah Ken Angrok: “Betul tuan, anaknda bernama Ken Angrok.”
Dipeluklah ia oleh brahmana itu. Kata Dang Hyang Lohgawe: “Kamu saya aku anak, buyung, kutemani pada waktu kesusahan dan kuasuh kemana saja kamu pergi.”
Ken Angrok pergi dari Taloka, menuju ke Tumapel, ikut pula brahmana itu.
Setelah ia datang di Tumapel, tibalah saat yang sangat tepat, ia sangat ingin menghamba pada akuwu. kepala daerah di Tumapel yang bernama Tunggul Ametung.
Dijumpainya dia itu, sedang dihadap oleh hamba hambanya, Kata Tunggul Ametung: “Selamatlah tuanku brahmana, dimana tempat asal tuan, saya baru kali ini melihat tuan.”
Menjawablah Dang Hyang Lohgawe: Tuan Sang Akuwu, saya baru saja datang dari seberang, saja ini sangat ingin menghamba kepada sang akuwu”.
Menjawablah Tunggul Ametung: “Nah, senanglah saya, kalau tuan Dang Hyang dapat bertempat tinggal dengan tenteram pada anaknda ini”. Demikianlah kata Tunggul Ametung.
Lamalah Ken Angrok menghamba kepada Tunggul Ametung yang berpangkat akuwu di Tumapel itu,
Kemudian adalah seorang pujangga, pemeluk agama Budha, menganut aliran Mahayana, bertapa di ladang orang Panawijen, bernama Mpu Purwa.
Ia mempunyai seorang anak perempuan tunggal, pada waktu ia belum menjadi pendeta Mahayana.
Anak perempuan itu luar biasa cantik moleknja bernama Ken Dedes. Dikabarkan, bahwa ia ayu, tak ada yang menyamai kecantikannya itu, termasyur di sebelah timur Kawi sampai Tumapel.
Tunggul Ametung mendengar itu, lalu datang di Panawijen, langsung menuju ke desa Mpu Purwa, bertemu dengan Ken Dedes; Tunggul Ametung sangat senang melihat gads cantik itu.
Kebetulan Mpu Purwa tak ada di pertapaannya, sekarang Ken Dedes sekonyong konyong dilarikan oleh Tunggu1 Ametung.
Setelah Mpu Purwa pulang dari bepergian, ia tidak rnenjumpai anaknya, sudah dilarikan oleh Akuwu di Tumapel; ia tidak tahu soal yang sebenarnya, maka Mpu Purwa menjatuhkan serapah yang tidak baik: “Nah, semoga yang melarikan anakku tidak lanjut mengenyam kenikmatan, semoga ia ditusuk keris dan diambil isterinya, demikian juga orang orang di Panawidjen ini, semoga menjadi kering tempat mereka mengambil air, semoga tak keluar air kolamnya ini, dosanya: mereka tak mau memberitahu, bahwa anakku dilarikan orang dengan paksaan.
Demikian kata Mpu Purwa: ,,Adapun anakku yang menyebabkan gairat dan bercahaya terang, kutukku kepadanya, hanya: semoga ia mendapat keselamatan dan kebahagiaan besar.”
Demikian kutuk pendeta Mahayana di Panawidjen.
Setelah datang di Tumapel, ken Dedes ditemani seperaduar oleh Tunggul Ametung, Tunggul Ametung tak terhingga cinta kasihnya, baharu saja Ken Dedes menampakkan gejala gejala mengandung, Tunggul Ametung pergi bersenang senang, bercengkerama berserta isterinya ke taman Boboji;
Ken Dedes turun dari kereta kebetulan disebabkan karena nasib, tersingkap betisnya, terbuka sampai rahasianya, lalu kelihatan bernyala oleh Ken Angrok, terpesona ia melihat, tambahan pula kecantikannya memang sempurna, tak ada yang menyamai kecantikannya itu, jatuh cintalah Ken Angrok, tak tahu apa yang akan diperbuat.
Setelah Tunggul Ametung pulang dari bercengkerama itu, Ken Angrok memberitahu kepada Dang Hyang Lohgawe, berkata: “Bapa Dang Hyang, ada seorang perempuan bernyala rahasianya, tanda perempuan yang bagaimanakah demikian itu, tanda buruk atau tanda baikkah itu”.
Dang Hyang menjawab: ” Siapa itu, buyung”.
Kata Ken Angrok: ” Bapa, memang ada seorang perempuan, yang kelihatan rahasianya oleh hamba”.
Kata Dang Hyang: “Jika ada perempuan yang demikian, buyung, perempuan itu namanya: Nawiswari, ia adalah perempuan yang paling utama, buyung, berdosa, jika memperisteri perempuan itu, akan menjadi maharaja.”
Ke Angrok diam, akhirnya berkata: “Bapa Dang Hyang, perempuan yang bernyala rahasianya itu yalah isteri sang akuwu di Tumapel, jika demikian akuwu, saya akan bunuh dan saya ambil isterinya, tentu ia akan mati, itu kalau tuan mengijinkan.”
Jawab Dang Hyang: ” Ya, tentu matilah, buyung, Tunggul Ametung olehmu, hanya saja tidak pantas memberi ijin itu kepadamu, itu bukan tindakan seorang pendeta, batasnya adalah kehendakmu sendiri.”
Kata Ken Angrok: “Jika demikian, Bapa, hamba memohon diri kepada tuan.”
Sang Brahmana menjawab: “Akan kemana kamu buyung?”
Ken Angrok menjawab: ” Hamba pergi ke Karuman, ada seorang penjudi yang mengaku anak kepada hamba bernama Bango Samparan, ia cinta kepada hamba, dialah yang akan hamba mintai pertimbangan, mungkin ia akan menyetujuinya.”
Kata Dang Hyang: “Baiklah kalau demikian, kamu jangan tinggal terlalu lama di Karuman, buyung.”
Kata Ken Angrok: “Apakah perlunya hamba lama disana.”
Ken Angrok pergi dari Tumapel, sedatangnya Karuman, bertemu dengan Bango Samparan. “Kamu ini keluar dari mana, lama tidak datang kepadaku, seperti didalam impian saja bertemu dengan kamu ini, lama betul kamu pergi.”
Ken Angrok menjawab: “Hamba berada di Tumapel, Bapa, menghamba pada sang akuwu. Adapun sebabnya hamba datang kepada tuan, adalah seorang isteri akuwu, turun dari kereta, tersingkap rahasianya, kelihatan bernyala oleh hamba.
Ada seorang brahmana yang baru saja datang di Jawa, bernama Dang Hyang Lohgawe, ia mengaku anak kepada hamba, hamba bertanya kepadanya: “Apakah nama seorang perempuan yang menyala rahasianya itu.”
Kata Sang Brahmana: “Itu yang disebut seorang perempuan ardana reswari, sungguh baik tanda itu, karena siapa saja yang memperisterinya, akan dapat menjadi maharaja.”
Bapa Bango, hamba ingin menjadi raja, Tunggul Ametung akan hamba bunuh, isterinya akan hamba ambil, agar supaya anaknda menjadi raja, hamba minta persetujuan Bapa Dang Hyang,
Kata Dang Hyang: “Buyung Angrok, tidak dapat seorang brahmana memberi persetujuan kepada orang yang mengambil isteri orang lain, adapun batasnya kehendakmu sendiri.”
Itulah sebabnya hamba pergi ke Bapa Bango, untuk meminta ijin kepada bapa, sang akuwu akan hamba bunuh dengan rahasia, tentu akuwu mati oleh hamba.”
Menjawablah Bango Samparan: “Nah, baiklah kalau demikian, saya memberi ijin, bahwa kamu akan menusuk keris kepada Tunggul Ametung dan mengambil isterinya itu, tetapi hanya saja, buyung Angrok, akuwu itu sakti, mungkin tidak dapat luka, jika kamu tusuk keris yang kurang bertuah.
Saya ada seorang teman, seorang pandai keris di Lulumbang, bernama Mpu Gandring, keris buatannya bertuah, tak ada orang sakti terhadap buatannya, tak perlu dua kali ditusukkan, hendaknyalah kamu menyuruh membuat keris kepadanya, jikalau keris ini sudah selesai dengan itulah hendaknya kamu membunuh Tunggul Ametung secara rahasia.”
Demikian pesan Bango Samparan kepada Ken Angrok.
kata Ken Angrok: “Hamba memohon diri, Bapa, akan pergi ke Lulumbang.”
Ia pergi dari Karuman, lalu ke Lulumbang, bertemu dengan Gandring yang sedang bekerja di tempat membuat keris. Ken Angrok datang lalu bertanya: “Tuankah barangkali yang bernama Gandring itu, hendaknyalah hamba dibuatkan sebilah keris yang dapat selesai didalam waktu lima bulan, akan datang keperluan yang harus hamba lakukan.”
Kata Mpu Gandring: “Jangan lima bulan itu, kalau kamu menginginkan yang baik, kira – kira setahun baru selesai, akan baik dan matang tempaannya,”
Ken Angrok berkata: “Nah, biar bagaimana mengasahnya, hanya saja, hendaknya selesai didalam lima bulan.”
Ken Angrok pergi dari Lulumbang, ke Tumapel bertemu dengan Dang Hyang Lohgawe yang bertanya kepada Ken Angrok: “Apakah sebabnya kamu lama di Tumapel itu.”
Sesudah genap lima bulan, ia ingat kepada perjanjiannya, bahwa ia menyuruh membuatkan keris kepada Mpu Gandring.
Pergilah ia ke Lulumbang, bertemu dengan Mpu Gandring yang sedang mengasah dan memotong motong keris pesanan Ken Angrok.
Kata Ken Angrok: “Manakah pesanan hamba kepada tuan Gandring.”
Menjawablah Gandring itu: “Yang sedang saya asah ini, buyung Angrok.”
Keris diminta untuk dilihat oleh Ken Angrok.
Katanya dengan agak marah: “Ah tak ada gunanya aku menyuruh kepada tuan Gandring ini, bukankah belum selesai diasah keris ini, memang celaka, inikah rupanya yang tuan kerjakan selama lima bulan itu.”
Menjadi panas hati Ken Angrok, akhirnya ditusukkan kepada Gandring keris buatan Gandring itu.
Lalu diletakkan pada lumpang batu tempat air asahan, lumpang berbelah menjadi dua, diletakkan pada landasan penempa, juga ini berbelah menjadi dua.
Kini Gandring berkata: “Buyung Angrok, kelak kamu akan mati oleh keris itu, anak cucumu akan mati karena keris itu juga, tujuh orang raja akan mati karena keris itu.”
Sesudah Gandring berkata demikian lalu meninggal.
Sekarang Ken Angrok tampak menyesal karena Gandring meninggal itu, kata Ken Angrok: “Kalau aku menjadi orang, semoga kemulianku melimpah, juga kepada anak cucu pandai keris di Lulumbang.”
Lalu pulanglah Ken Angrok ke Tumapel.
Ada seorang kekasih Tunggul Ametung, bernama Kebo Hijo, bersahabat dengan Ken Angrok, cinta mencintai.
Pada waktu itu Kebo Hijo melihat bahwa Ken Angrok menyisip keris baru, berhulu kayu cangkring masih berduri, belum diberi perekat, masih kasar, senanglah Kebo Hijo melihat itu.
Ia berkata kepada Ken Angrok: ” Wahai kakak, saya pinjam keris itu.”
Diberikan oleh Ken Angrok, terus dipakai oleh Kebo Hijo, karena senang memakai melihatnya itu.
Lamalah keris Ken Angrok dipakai oleh Kebo Hijo, tidak orang Tumapel yang tidak pernah melihat Kebo Hijo menyisip keris baru dipinggangnya.
Tak lama kemudian keris itu dicuri oleh Ken Angrok dan dapat diambil oleh yang mencuri itu.
Selanjutnya Ken Angrok pada waktu malam hari pergi kedalam rumah akuwu, saat itu baik, sedang sunyi dan orang orang tidur, kebetulan juga disertai nasib baik , ia menuju ke peraduan Tunggul Ametung, tidak terhalang perjalanannya, ditusuklah Tunggul Ametung oleh Ken Angrok, tembus jantung Tunggul Ametung, mati seketika itu juga. Keris buatan Gandring ditinggalkan dengan sengaja.
Sekarang sesudah pagi pagi keris yang tertanam didada Tunggul Ametung diamat amati orang, dan oleh orang yang tahu keris itu dikenal keris Kebo Hijo yang biasa dipakai tiap tiap hari kerja.
Kata orang Tumapel semua: “Terangnya Kebo Hijolah yang membunuh Tunggul Ametung dengan secara rahasia, karena memang nyata kerisnya masih tertanam didada sang akuwu di Tumapel.
Kini Kebo Hijo ditangkap oleh keluarga Tunggul Ametung, ditusuk dengan keris buatan Gandring, meninggallah Kebo Hijo.
Kebo Hijo mempunyai seorang anak, bernama Mahisa Randi, sedih karena ayahnya meninggal, Ken Angrok menaruh belas kasihan kepadanya, kemana mana anak ini dibawa, karena Ken Angrok luar biasa kasih sayangnya terhadap Mahisa Randi.
Selanjutnya Dewa memang telah menghendaki, bahwasanya Ken Angrok memang sungguh sungguh menjadi jodoh Ken Dedes, lamalah sudah mereka saling hendak menghendaki, tak ada orang Tumapel yang berani membicarakan semua tingkah laku Ken Angrok, demikian juga semua keluarga Tunggul Ametung diam, tak ada yang berani mengucap apa apa, akhirnya Ken Angrok kawin dengan Ken Dedes.
Pada waktu ditinggalkan oleh Tunggul Ametung, dia ini telah mengandung tiga bulan, lalu dicampuri oleh Ken Angrok.
Ken Angrok dan Ken Dedes sangat cinta mencintai. Telah lama perkawinannya.
Setelah genap bulannya Ken Dedes melahirkan seorang anak laki laki, lahir dari ayah Tunggul Ametung, diberi nama Sang Anusapati dan nama kepanjangannya kepanjiannya Sang Apanji Anengah.
Setelah lama perkawinan Ken Angrok dan Ken Dedes itu, maka Ken Dedes dari Ken Angrok melahirkan anak laki laki, bernama Mahisa Wonga Teleng, dan adik Mahisa Wonga Teleng bernama Sang Apanji Saprang, adik panji Saprang juga laki laki bernama Agnibaya, adik Agnibaya perempuan bernama Dewi Rimbu, Ken Angrok dan Ken Dedes mempunyai empat orang anak.
Ken Angrok mempunyai isteri muda bernama Ken Umang, ia melahirkan anak laki laki bernama panji Tohjaya, adik panji Tohjaya, bernama Twan Wregola, adik Twan Wregola perempuan bernama Dewi Rambi.
Banyaknya anak semua ada 9 orang, laki laki 7 orang, perempuan 2 orang.
Sudah dikuasailah sebelah timur Kawi, bahkan seluruh daerah sebelah timur Kawi itu, semua takut terhadap Ken Angrok, mulailah Ken Angrok menampakkan keinginannya untuk menjadi raja, orang orang Tumapel semua senang, kalau Ken Angrok menjadi raja itu.
Kebetulan disertai kehendak nasib, raja Daha, yalah raja Dandhang Gendis, berkata kepada para bujangga yang berada di seluruh wilayah Daha, katanya: “Wahai, tuan tuan bujangga pemeluk agama Siwa dan agama Budha, apakah sebabnya tuan tuan tidak menyembah kepada kami, bukanlah kami ini semata mata Batara Guru.”
Menjawablah para bujangga di seluruh daerah negara Daha: “Tuanku, semenjak jaman dahulu kala tak ada bujangga yang menyembah raja.” demikianlah kata bujangga semua.
Kata Raja Dandhang Gendis: “Nah, jika semenjak dahulu kala tak ada yang menyembah, sekarang ini hendaknyalah kami tuan sembah, jika tuan tuan tidak tahu kesaktian kami, sekarang akan kami beri buktinya.”
Kini Raja Dandhang Gendis mendirikan tombak, batang tombak itu dipancangkan kedalam tanah, ia duduk di ujung tombak, seraya berkata: “Nah, tuan tuan bujangga, lihatlah kesaktian kami.”
Ia tampak berlengan empat, bermata tiga, semata mata Batara Guru perwujudannya, para bujangga di seluruh daerah Daha diperintahkan menyembah, semua tidak ada yang mau, bahkan menentang dan mencari perlindungan ke Tumapel, menghamba kepada Ken Angrok.
Itulah asal mulanya Tumapel tak mau tahu negara Daha.
Tak lama sesudah itu Ken Angrok direstui menjadi raja di Tumapel, negaranya bernama Singasari, nama nobatannya Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi, disaksikan oleh para bujangga pemeluk agama Siwa dan Budha yang berasal dari Daha, terutama Dang Hyang Lohgawe, ia diangkat menjadi pendeta istana, adapun mereka yang menaruh belas kasihan kepada Ken Angrok, dahulu sewaktu ia sedang menderita, semua dipanggil, diberi perlindungan dan diberi belas balasan atas budi jasanya, misalnya Bango Samparan, tidak perlu dikatakan tentang kepala lingkungan Turyantapada, dan anak anak pandai besi Lulumbang yang bernama Mpu Gandring, seratus pandai besi di Lulumbang itu diberi hak istimewa di dalam lingkungan batas jejak bajak beliung cangkulnya.
Adapun anak Kebo Hijo disamakan haknya dengan anak Mpu Gandring.
Anak laki laki Dang Hyang Lohgawe, bernama Wangbang Sadang, lahir dari ibu pemeluk agama Wisnu, dikawinkan dengan anak Bapa Bango yang bernama Cucu Puranti, demikianlah inti keutamaan Sang Amurwabumi. Sangat berhasillah negara Singasari, sempurna tak ada halangan.
Telah lama terdengar berita, bahwa Ken Angrok sudah menjadi raja, diberitahulah raja Dandhang Gendis, bahwa Ken Angrok bermaksud akan menyerang Daha.
Kata Raja Dandhang Gendis: “Siapakah yang akan mengalahkan negara kami ini, barangkali baru kalah, kalau Batara Guru turun dari angkasa, mungkin baru kalah.”
Diberi tahulah Ken Angrok, bahwa raja Dandhang Gedis berkata demikian.
Kata Sang Amurwabumi: “Wahai, para bujangga pemeluk Siwa dan Budha, restuilah kami mengambil nama nobatan Batara Guru.”
Demikianlah asal mulanya ia bernama nobatan Batara Guru, direstui oleh bujangga brahmana dan resi.
Selanjutnya ia lalu pergi menyerang Daha. Raja Dandhang Gendis mendengar, bahwa Sang Amurwabumi di Tumapel datang menyerang Daha, Dandhang Gendis berkata: “Kami akan kalah, karena Ken Angrok sedang dilindungi Dewa.”
Sekarang tentara Tumapel bertempur melawan tentara Daha, berperang disebelah utara Ganter, bertemu sama sama berani, bunuh membunuh, terdesaklah tentara Daha.
Adik Raja Dandhang Gendis gugur sebagai pahlawan, ia bernama Mahisa Walungan, bersama sama dengan menterinya yang perwira, bernama Gubar Baleman.
Adapun sebabnya itu gugur, karena diserang bersama sama oleh tentara Tumapel, yang berperang laksana banjir dari gunung.
Sekarang tentara Daha terpaksa lari, karena yang menjadi inti kekuatan perang telah kalah. Maka tentara Daha bubar seperti lebah, lari terbirit birit meninggalkan musuh seperti kambing, mencabut semua payung payungnya, tak ada yang mengadakan perlawanan lagi.
Maka Raja Dandhang Gendis mundur dari pertempuran, mengungsi ke alam dewa, bergantung gantung di angkasa, beserta dengan kuda, pengiring kuda, pembawa payung, dan pembawa tempat sirih, tempat air minum, tikar, semuanya naik ke angkasa. Sungguh kalah Daha oleh Ken Angrok.
Dan adik adik Sang Dandhang Gendis, yalah: Dewi Amisam, Dewi Hasin, dan Dewi Paja diberi tahu, bahwa raja Dandhang Gendis kalah berperang, dan terdengar, ia telah di alam dewa, bergantung gantung di angkasa, maka tuan dewi ketiga tiganya itu menghilang bersama sama dengan istananya juga.
Sesudah Ken Angrok menang terhadap musuh, lalu pulang ke Tumapel, dikuasailah tanah Jawa olehnya, ia sebagai raja telah berhasil mengalahkan Daha pada tahun saka : 1144.
Lama kelamaan ada berita, bahwa sang Anusapati, anak tunggal Tunggul Ametung bertanya tanya kepada pengasuhnya.
“Hamba takut terhadap ayah tuan”, demikian kata pengasuh itu: “Lebih baik tuan berbicara dengan ibu tuan”.
Karena tidak mendapat keterangan, Nusapati bertanya kepada ibunya: “Ibu, hamba bertanya kepada tuan, bagaimanakah jelasnya ini?” Kalau ayah melihat hamba, berbeda pandangannya dengan kalau ia melihat anak anak ibu muda, semakin berbeda pandangan ayah itu.”
Sungguh sudah datang saat Sang Amurwabumi. Jawab Ken Dedes: “Rupa rupanya telah ada rasa tidak percaya, nah, kalau buyung ingin tahu, ayahmu itu bernama Tunggul Ametung, pada waktu ia meninggal, saya telah mengandung tiga bulan, lalu saya diambil oleh Sang Amurwabumi.:
Kata Nusapati: “Jadi terangnya, ibu, Sang Amurwabumi itu bukan ayah hamba, lalu bagaimana tentang meninggalnya ayah itu?” “Sang Amurwabumi buyung yang membunuhnya.”
Diamlah Ken Dedes, tampak merasa membuat kesalahan karena memberi tahu soal yang sebenarnya kepada anaknya.
Kata Nusapati: “Ibu, ayah mempunyai keris buatan Gandring. itu hamba pinta, ibu.”
Diberikan oleh Ken Dedes. Sang Anusapati memohon diri pulang ke tempat tinggalnya.
Adalah seorang hambanya berpangkat pengalasan di Batil, dipanggil oleh Nusapati, disuruh membunuh Ken Angrok, diberi keris buatan Gandring, agar supaya dipakainya untuk membunuh Sang Amurwabumi, orang di Batil itu disanggupi akan diberi upah oleh Nusapati.
Berangkatlah orang Batil masuk kedalam istana, dijumpai Sang Amurwabumi sedang bersantap, ditusuk dengan segera oleh orang Batil. Waktu ia dicidera, yalah: Pada hari Kamis Pon, minggu Landhep, saat ia sedang makan, pada waktu senjakala, matahari telah terbenam, orang telah menyiapkan pelita pada tempatnya.
Sesudah Sang Amurwabumi mati, maka larilah orang Batil, mencari perlindungan pada Sang Anusapati, kata orang Batil: “Sudah wafatlah ayah tuan oleh hamba.” Segera orang Batil ditusuk oleh Nusapati.
Kata orang Tumapel: “Ah, Batara diamuk oleh pengalasan di Batil, Sang Amurwabumi wafat pada tahun saka 1168, dicandikan di Kagenengan.
Sesudah demikian, sang Anusapati mengganti menjadi raja, ia menjadi raja pada tahun Saka 1170.
Lama kelamaan diberitakan kepada Raden Tohjaya, anak Ken Angrok dari isteri muda, sehingga ia mendengar segala tindakan Anusapati, yang mengupahkan pembunuhan Sang Amurwabumi kepada orang Batil.
Sang Apanji Tohjaya tidak senang tentang kematian ayahnya itu, meikir mikir mencari cara untuk membalas, agar supaya ia dapat membunuh Anusapati.
Anusapati tahu, bahwasanya ia sedang direncana oleh Panji Tohjaya, berhati hatilah Sang Anusapati, tempat tidurnya dikelilingi kolam, dan pintunya selalu dijaga orang, sentosa dan teratur.
Setelah lama kemudian Sang Apanji Tohjaya datang menghadap dengan membawa ayam jantan pada Batara Anuspati.
Kata Apanji Tohjaya: “Kakak, ada keris ayah buatan Gandring, itu hamba pinta dari tuan.”
Sungguh sudah tiba saat Batara Anuspati. Diberikan keris buatan Gandring oleh Sang Anusapati, diterima oleh Apanji Tohjaya, disisipkan dipinggangnya, lalu kerisnya yang dipakai semula, diberikan kepada hambanya.
Kata Apanji Tohjaya: “Baiklah, kakak mari kita menyiapkan ayam jantan untuk segera kita ajukan di gelanggang.”
Menjawablah Sang Adipati: “Baiklah, adik.” Selanjutnya ia menyuruh kepada hamba pemelihara ayam mengambil ayam jantan, kata Anusapati: “Nah, adik mari mari kita sabung segera.”, “Baiklah” kata Apanji Tohjaya.
Mereka bersama sama memasang taji sendiri – sendiri, telah sebanding, Sang Anusapati asyik sekali.
Sungguh telah datang saat berakhirnya, lupa diri, karena selalu asyik menyabung ayamnya, ditusuk keris oleh Apanji Tohjaya.
Sang Anusapati wafat pada tahun Saka 1171, dicandikan di Kidal.
III. Apanji Tohjaya menjadi raja di Tumapel.
Sang Anusapati mempunyai seorang anak laki laki bernama Ranggawuni, hubungan keluarganya dengan Apanji Tohjaya adalah kemenakan.
Mahisa Wonga Teleng, saudara Apanji Tohjaya, sama ayah lain ibu, mempunyai anak laku laki, yalah: Mahisa Campaka, hubungan keluarganya dengan Apanji Tohjaya adalah kemenakan juga.
Pada waktu Apanji Tohjaya duduk diatas tahta, disaksikan oleh orang banyak, dihadap oleh menteri menteri, semua terutama Pranaraja, Ranggawuni beserta Kebo Campak juga menghadap.
Kata Apanji Tohjaya: “Wahai, menteri menteri semua, terutama Pranaraja, lihatlah kemenakanku ini, luar biasa bagus dan tampan badannya. Bagaimana rupa musuhku diluar Tumapel ini, kalau dibandingkan dengan orang dua itu, bagaimanakah mereka, wahai Pranaraja.”
Pranaraja menjawab sambil menyembah: “Betul tuanku, seperti titah tuanku itu, bagus rupanya dan sama sama berani mereka berdua, hanya saja tuanku, mereka dapat diumpamakan sebagai bisul di pusat perut tak urung akan menyebabkan mati akhirnya.”
Paduka batara itu lalu diam, sembah Pranaraja makin terasa, Apanji Tohjaya menjadi marah, lalu ia memanggil Lembu Ampal, diberi perintah untuk melenyapkan kedua bangsawan itu.
Kata Apanji Tohjaya kepada Lembu Ampal: “Jika kamu tidak berhasil melenyapkan dua orang kesatriya itu, kamulah yang akan kulenyapkan.”
Pada waktu Apanji Tohjaya, memberi perintah kepada Lembu Ampal melenyapkan dua bangsawan itu, ada seorang brahmana yang sedang melakukan upacara agama sebagai pendeta istana untuk Apanji Tohjaya. Dang Hyang itu mendengar, bahwa kedua bangsawan itu disuruh melenyapkan. Sang Brahmana menaruh belas kasihan kepada dua bangsawan, lalu memberi tahu: “Lembu Ampal diberi perintah untuk melenyapkan tuan berdua, kalau tuan kalian dapat lepas dari Lembu Ampal ini, maka Lembu Ampallah yang akan dilenyapkan oleh Seri Maharaja.”
Kedua bangsawan itu berkata: “Wahai Dang Hyang, bukanlah kami tidak berdosa.”
Sang Brahmana menjawab: “Lebih baik tuan bersembunyi dahulu.”
Karena masih dibimbangkan, kalau kalau brahmana itu bohong, maka kedua bangsawan itu pergi ke Apanji Patipati.
Kata bangsawan itu: “Panji Patipati, kami bersembunyi di dalam rumahmu, kami mengira, bahwa kami akan dilenyapkan oleh Batara, kalau memang akan terjadi kami dilenyapkan itu, kami tidak ada dosa.”
Setelah itu maka Apanji Patipati mencoba mendengar dengarkan: “Tuan, memang betul, tuan akan dilenyapkan, Lembu Ampal lah yang mendapat tugas.”
Keduanya makin baik cara bersembunyi, dicari, kedua duanya tak dapat diketemukan.
Didengar dengarkan, kemana gerangan mereka pergi, tak juga dapat terdengar.
Maka Lembu Ampal didakwa bersekutu dengan kedua bangsawan itu oleh Batara. Sekarang Lembu Ampal ditindak untuk dilenyapkan, larilah ia, bersembunyi di dalam rumah tetangga Apanji Patipati.
Lembu Ampal mendengar, bahwa kedua bangsawan berada di tempat tinggal Apanji Pati Pati.
Lembu Ampal pergi menghadap kedua bangsawan, kata Lembu Ampal kepada kedua bangsawan itu: “Hamba berlindung kepada tuan hamba, dosa hamba: disuruh melenyapkan tuan oleh Batara. Sekarang hamba minta disumpah, kalau tuan tidak percaya, agar supaya hamba dapat menghamba paduka tuan dengan tenteram.”
Setelah disumpah dua hari kemudian Lembu Ampal menghadap kepada kedua bangsawan itu: “Bagaimanakah akhirnya tuan, tak ada habis habisnya terus menerus bersembunyi ini, sebaiknya hamba akan menusuk orang Rajasa, nanti kalau mereka sedang pergi kesungai.”
Pada waktu sore Lembu Ampal menusuk orang Rajasa, ketika orang berteriak, ia lari kepada orang Sinelir.
Kata orang Rajasa: “Orang Sinelir menusuk orang Rajasa. Kata orang Sinelir: “Orang Rajasa menusuk orang Sinelir.”
Akhirnya orang orang Rajasa dan orang orang Sinelir itu berkelahi, bunuh membunuh sangat ramainya, dipisah orang dari istana, tidak mau memperhatikan. Apanji Tohjaya marah, dari kedua golongan ada yang dihukum mati.
Lembu Ampal mendengar, bahwa dari kedua belah pihak ada yang dilenyapkan, maka Lembu Ampal pergi ke Orang Rajasa.
Kata Lembu Ampal: “Kalau kamu ada yang akan dilenyapkan hendaknyalah kamu mengungsi kepada kedua bangsawan, karena kedua bangsawan itu masih ada.”
Orang orang Rajasa menyatakan kesanggupannya: “Nah, bawalah kami hamba hamba ini menghadapnya, wahai Lembu Ampal.”
Maka ketua orang Rajasa dibawa menghadap kepada kedua bangsawan.
Kata orang Rajasa itu: “Tuanku, hendaknyalah tuan lindungi hamba hamba Rajasa ini, apa saja yang menjadi tuan titah, hendaknyalah hamba tuan sumpah, kalau kalau tidak sungguh sungguh kami menghamba ini, kalau tidak jujur penghambaan kami ini.”
Demikian pula orang Sinelir, dipanggilah ketuanya, sama kesanggupannya dengan orang Rajasa, selanjutnya kedua belah pihak telah didamaikan dan telah disumpah semua, lalu dipesan: “Nanti sore hendaknya kamu datang kemari, dan bawalah temanmu masing masing, hendaknyalah kamu memberontak meluka lukai di dalam istana.”
Orang Sinelir dan orang Rajasa bersama sama memohon diri.
Setelah sore hari orang orang dari kedua belah pihak datang membawa teman temannya, bersama sama menghadap kepada kedua bangsawan, mereka keduanya saling mengucap selamat datang, lalu berangkat menyerbu kedalam istana.
Apanji Tohjaya sangat terperanjat, lari terpisah, sekali gus kena tombak. Sesudah huru hara berhenti, ia dicari oleh hamba hambanya, diusung dan dibawa lari ke Katanglumbang. Orang yang mengusung lepas cawatnya, tampak belakangnya.
Kata Apanji Tohjaya kepada orang yang memikul itu: “Perbaikilah cawatmu, karena tampak belakangmu.”
Adapun sebabnya ia tidak lama menjadi raja itu, karena pantat itu.
Setelah datang di Lumbangkatang, wafatlah ia, lalu dicandikan di Katanglumbang, ia wafat pada tahun Saka 1172.
IV. Kemudian Ranggawuni menjadi raja, ia dengan Mahisa Campaka dapat diumpamakan seperti dua ular naga didalam satu liang.
Ranggawuni bernama nobatan Wisnuwardana, demikanlah namanya sebagai raja, Mahisa Campaka menjadi Ratu Angabhaya, bernama nobatan Batara Narasinga. Sangat rukunlah mereka, tak pernah berpisah.
Batara Wisnuwardana mendirikan benteng di Canggu sebelah utara pada tahun Saka 1193.
Ia berangkat menyerang Mahibit, untuk melenyapkan Sang Lingganing Pati. Adapun sebabnya Mahibit kalah, karena kemasukkan orang yang bernama Mahisa Bungalan.
Sri Ranggawuni menjadi raja lamanya 14 tahun, ia wafat pada tahun 1194, dicandikan di Jajagu.
Mahisa Campaka wafat, dicandikan di Kumeper, sebagian abunya dicandikan di Wudi Kuncir.
V. Sri Ranggawuni meninggalkan seorang anak laki laki, bernama Sri Kertanegara, Mahisa Campaka meninggalkan seorang anak laki laki juga, bernama Raden Wijaya. Kertanegara menjadi Raja, bernama nobatan Batara Siwabuda.
Adalah seorang hambanya, keturunan orang tertua di Nangka, bernama Banyak Wide, diberi sebutan Arya Wiraraja, rupa rupanya tidak dipercaya, dijatuhkan, disuruh menjadi Adipati di Sungeneb, bertempat tinggal di Madura sebelah timur.
Ada Patihnya, pada waktu ia baru saja naik keatas tahta kerajaan, bernama Mpu Raganata, ini selalu memberi nasehat untuk keselamatan raja, ia tidak dihiraukan oleh Sri Kertanegara, karenanya itu Mpu Raganata lalu meletakkan jabatan tak lagi menjadi Patih, diganti oleh Kebo Tengah Sang Apanji Aragani.
Mpu Raganata lalu menjadi Adiyaksa di Tumapel.
Sri Kertanegara pada waktu memerintah, melenyapkan seorang kelana bernama Baya. Sesudah kelana itu mati, ia memberi perintah kepada hamba rakyatnya, untuk pergi menyerang Melayu.
Apanji Aragani menghantarkan, sampai di Tuban ia kembali, sedatangnya di Tumapel Sang Apanji Aragani mempersembahkan makanan tiap tiap hari, raja Kertanegara bersenang senang.
Ada perselisihannya dengan raja Jaya Katong, raja di Daha, ini menjadi musuh raja Kertanegara, karena lengah terhadap usaha musuh yang sedang mencari kesempatan dan ketepatan waktu, ia tidak memikir kesalahannya.
Banyak Wide berumur 40 tahun pada peristiwa penyerangan Melayu itu, ia berteman dengan raja Jaya Katong, Banyak Wide yang bergelar Arya Wiraraja itu dari Madura, mengadakan hubungan dan berkirim utusan.
Demikian juga raja Jaya Katong berkirim utusan ke Madura. Wiraraja berkirim surat kepada raja Jaya Katong, bunyi surat: “Tuanku, patik baginda bersembah kepada paduka raja, jika paduka raja bermaksud akan berburu di tanah lapang lama, hendaknyalah paduka raja sekarang pergi berburu, ketepatan dan kesempatan adalah baik sekali, tak ada bahaya, tak ada harimau, tak ada banteng, dan ularnya, durinya, ada harimau, tetapi tak bergigi.”
Patih tua Raganata itu yang dinamakan harimau tak bergigi, karena sudah tua.
Sekarang raja Jaya Katong berangkat menyerang Tumapel. Tentaranya yang datang dari sebelah utara Tumapel terdiri dari orang orang yang tidak baik, bendera dan bunyi bunyian penuh, rusaklah daerah sebelah utara Tumapel, mereka yang melawan banyak yang menderita luka. Tentara Daha yang melalui jalan utara itu berhenti di Memeling.
Batara Siwa Buda senantiasa minum minuman keras, diberi tahu bahwa diserang dari Daha, ia tidak percaya, selalu mengucapkan kata: “Bagaimana dapat raja Jaya Katong demikian terhadap kami, bukanlah ia telah baik dengan kami.”
Setelah orang membawa yang menderita luka, barulah ia percaya.
Sekarang Raden Wijaya ditunjuk untuk berperang melawan tentara yang datang dari sebelah utara Tumapel, disertai oleh para arya terkemuka: Banyak Kapuk, Rangga Lawe, Pedang Sora, Dangdi Gajah Pangon, anak Wiraraja yang bernama Nambi, Peteng dan Wirot, semua prajurit baik, melawan tentara Daha di bagian utara itu, dikejar diburu oleh Raden Wijaya.
Kemudian turunlah tentara besar besar dari Daha yang datang dari tepi sungai Aksa, menuju ke Lawor, mereka ini tak diperbolehkan membikin gaduh, tidak membawa bendera, apalagi bunyi bunyian, sedatangnya di Sidabawana langsung menuju Singasari.
Yang menjadi prajurit utama dari tentara Daha sebelah selatan ini, yalah: Patih Daha Kebo Mundarang, Pudot dan Bowong.
Ketika Batara Siwa Buda sedang minum minuman keras bersama sama dengan patih, maka pada waktu itu ia dikalahkan, semua gugur, Kebo Tengah yang melakukan pembalasan, meninggal di Manguntur.
VI. Raden Wijaya yang diceritakan ke utara tersebut diberi tahu, bahwa Batara Siwa Buda wafat, karena tentara Daha turun dari selatan, patih tua juga telah gugur, semua mengikuti jejak batara.
Segera Raden Wijaya kembali, beserta hamba hambanya, berlari lari ke Tumapel, melakukan pembalasan, tidak berhasil, bahkan terbalik, dikejar, diburu oleh Kebo Mundarang, Raden Wijaya naik keatas, mengungsi di Sawah Miring, maksud Kebo Mundarang akan menusuknya dengan tombak, Raden Wijaya menyepak tanah bekas di tenggala, dada Kebo Mundarang sampai mulanya penuh lumpur, ia mundur sambil berkata: “Aduh, memang sungguh dewalah tuanku ini.”
Sekarang Raden Wijaya membagi bagi cawat kain ikat berwarna merah, diberikan kepada hamba hambanya, masing masing orang mendapat sehelai, ia bertekad untuk mengamuk.
Yang mendapat bagian, yalah: Sora, Rangga Lawe, Pedang, Dangdi dan Gajah Sora, segera menyerang, banyak orang Daha yang mati.
Kata Sora: “Sekarang ini, tuan, hendaknyalah menyerang, sekarang baik kesempatan dan saatnya.”
Raden Wijaya lekas lekas menyerang, semakin banyak orang Daha yang mati, mereka lalu mundur, diliputi malam, akhirnya berkubu.
Pada waktu sunyi orang telah tidur, dikejar dan diamuk lagi oleh Raden Wijaya, sekarang orang orang Daha bubar, banyak yang tertusuk oleh tombak temannya sendiri, repotlah orang prang Daha itu larinya.
Batara Siwa Buda mempunyai dua orang anak perempuan, mereka ini akan dikawinkan dengan Raden Wijaya, demikianlah maksud Batara Siwa Buda itu, kedua duanya ditawan oleh orang Daha, puteri yang muda berpisah dengan puteri yang tua, tidak menjadi satu arah larinya, berhubung dengan kerepotan orang Daha, disebabkan Raden Wijaya mengamuk itu.
Pada waktu malam tampak api unggun orang Daha bernyala dan oleh Raden Wijaya, yang segera dikenal, bahwa itu adalah puteri yang tua. Lekas lekaslah diambil oleh Raden Wijaya, lalu berkata: “Nah, Sora, marilah mendesak mengamuk lagi, agar dapat bertemu dengan puteri muda.”
Sora berkata: “Janganlah tuan, bukankah adik tuan yang tua sudah tuan temukan, berapakah jumlah hamba tuanku sekarang ini.”
Jawab Raden Wijaya: “Justru karena itu.”
Maka Sora berkata lagi: “Lebih baik tuanku mundur saja, karena kalau memaksa mengamuk, seandainya berhasil itu baik, kalau adik tuanku yang muda dapat ditemukan, kalau tidak dapat ditemukan, kita akan seperti anai anai menyentuh pelita.”
Sekarang mereka mundur, puteri bangsawan didukung, semalam malaman mereka berjalan ke utara, keesokan harinya dikejar oleh orang Daha, terkejar disebelah selatan Talaga Pager.
Orang orangnya ganti berganti tinggal dibelakang, untuk berperang, menghentikan orang Daha.
Gajah Pagon kena tombak tembus pahanya, tetapi masih dapat berjalan.
Kata Raden Wijaya: “Gajah Pagon, masih dapatkah kamu berjalan, kalau tidak dapat, mari kita bersama sama mengamuk.” “masih dapatlah hamba, tuanku, hanya saja hendaknya perlahan lahan.”
Orang orang Daha tidak begitu giat mengejarnya, kemudian mereka kembali di Talaga Pager.
Raden Wijaya masuk belukar, keluar belukar seperti ayam hutan, dan hamba hambanya yang mengiring semua, ganti berganti mendukung puteri bangsawan.
Akhirnya hamba hambanya bermusyawarah, membicarakan tentang keadaan Raden Wijaya.
Setelah putus pembicaraannya, semuanya bersama sama berkata: “Tuanku, sembah hamba hamba tuanku semua ini, bagaimana akhir tuanku yang masuk belukar dan keluar belukar seperti ayam hutan itu, pendapat hamba semua, lebih baik tuanku pergi ke Madura Timur, hendaknyalah tuanku mengungsi kepada Wiraraja, dengan pengharapan agar ia dapat dimintai bantuan, mustahil ia tidak menaruh belas kasihan, bukankah ia dapat menjadi besar itu karena ayah tuanku almarhum yang menjadi lantarannya.”
Kata Raden: “Itu baik, kalau ia menaruh belas kasihan, kalau tidak, saya akan sangat malu.”
Jawab Sora, Rangga Lawe dan Nambi serentak dengan suara bersama: “Bagaimana dapat Wiraraja melengos terhadap tuanku.”
Itulah sebabnya Raden Wijaya menurut kata kata hambanya. Mereka keluar dari dalam hutan, datang di Pandakan, menuju ke orang tertua di Pandakan, bernama Macankuping.
Raden Wijaya minta diberi kelapa muda, setelah diberi, diminum airnya, ketika dibelah, ternyata berisi nasi putih. Heranlah yang melihat itu.
Kata orang: “Ajaib benar, memang belum pernah ada kelapa muda berisi nasi.”
Gajah Pagon tak dapat berjalan lagi, kata Raden Wijaya: “Orang tua di Pandakan, saya menitipkan satu orang, Gajah Pagon ini tidak dapat berjalan, hendaknyalah ia tinggal di tempatmu.”
Kata orang Pandakan: ” Aduh, tuanku. itu akan tidak baik kalau sampai terjadi Gajah Pagon didapati disini, mustahil akan ada hamba yang menyetujui di Pandakan, kehendak hamba, biarlah ia berada di dalam pondok di hutan saja, di ladang tempat orang menyabit ilalang, di tengah tengahnya setelah dibersihkan, dibuatkan sebuah dangau, sunyi, tad ada seorang hamba yang mengetahui, hamba di Pandakan nanti yang akan memberi makan tiap tiap hari.”
Gajah Pagon lalu ditinggalkan, Raden Wijaya selanjutnya menuju ke Datar, pada waktu malam hari. Sesampainya di Datar, lalu naik perahu.
Tentara Daha lalu kembali pulang. Puteri yang muda masih terus ditawan, dibawa ke Daha, dipersembahkan kepada raja Jaya Katong.
Ia senang diberi tahu tentang Batara Siwa Buda wafat.
Raden Wijaya menyeberang ke Utara, turun di daerah perbatasan Sungeneb, bermalam di tengah tengah sawah yang baru saja habis disikat, pematangnya tipis.
Sora lalu berbaring meniarap, Raden Wijaya dan puteri bangsawan itu duduk diatasnya.
Pagi harinya melanjutkan perjalanannya ke Sungeneb, beristirahat di dalam sebuah balai panjang. hamba hamba disuruh melihat lihat, kalau kalau Wiraraja sedang duduk dihadap hamba hambanya.
Kembalilah mereka yang disuruh itu, memang Wiraraja sedang dihadap.
Berangkatlah raden Wijaya menuju tempat Wiraraja dihadap, terperanjatlah Wiraraja melihat Raden itu, Wiraraja turun, lalu masuk kedalam rumah, bubarlah yang menghadap.
Terhenti hati Raden Wijaya, berkata kepada Sora dan Ranggalawe: “nah, apakah kataku, saya sangat malu, lebih baik aku mati pada waktu aku mengamuk dahulu itu.”
Maka ia kembali ke balai panjang, kemudian Wiraraja datang menghadap, berbondong bondong dengan seisi rumah, terutama isterinya, bersama sama membawa sirih dan pinang.
Kata Ranggalawe: “Nah, tuanku, bukankah itu Wiraraja yang datang menghadap kemari.” Maka senanglah hati Raden Wijaya.
Isteri Adipati mempersembahkan sirih kepada Raden Wijaya.
Wiraraja itu meminta, agar Raden Wijaya masuk di perumahan Adipati. Sang puteri bangsawan naik kereta, isteri Wiraraja semua berjalan kaki, mengiring puteri bangsawan itu, dan Wiraraja mengiring Raden Wijaya.
Setelah datang di rumah tempat Wiraraja tidur. Raden Wijaya dihadap didalam balai nomor dua sebelah luar, ia menceriterakan riwayat bagaimana sang batara yang gugur ditengah tengah minum minuman keras itu meninggal dunia, juga menceriterakan bagaimana ia mengamuk orang Daha.
Berkatalah Wiraraja: “Sekarang ini, apakah yang menjadi kehendak tuan.”
Raden Wijaya menjawab: “Saya minta persekutuanmu, jika sekiranya ada belas kasihanmu.”
Sembah Wiraraja: “Janganlah tuanku khawatir, hanya saja hendaknya tuan bertindak perlahan lahan.”
Selanjutnya Wiraraja mempersembahkan kain, sabuk dan kain bawah, semuanya dibawa oleh isteri isterinya, terutama isteri pertamanya.
Kata Raden: “Bapa Wiraraja, sangat besar hutangku kepadamu, jika tercapailah tujuanku, akan kubagi menjadi dua tanah Jawa nanti, hendaknyalah kamu menikmati seperduanya, saya seperdua.”
Kata Wiraraja: “bagaimana saja, tuanku, asal tuanku dapat menjadi raja saja.”
Demikianlah janji Raden Wijaya kepada Wiraraja.
Luar biasa pelayanan Wiraraja terhadap Raden Wijaya, tiap tiap hari mempersembahkan makanan, tak usah dikatakan tentang ia mempersembahkan minuman keras.
Lamalah Raden Wijaya bertempat tinggal di Sungeneb. Disitu Arya Wiraraja berkata: “Tuanku hamba mengambil muslihat, hendaknya tuanku pergi menghamba kepada raja Jaya Katong, hendaknyalah tuan seakan akan minta maaf dengan kata kata yang mengandung arti tunduk, kalau sekiranya raja Jaya Katong tak berkeberatan, tuan menghamba itu, hendaknyalah tuan lekas lekas pindah bertempat tinggal di Daha, kalau rupanya sudah dipercaya, hendaknyalah tuan memohon hutan orang Terik kepada raja Jaya Katong, hendaknyalah tuan membuat desa disitu, hamba hamba Maduralah yang akan menebang hutan untuk dijadikan desa, tempat hamba hamba Madura yang menghadap tuanku dekat.
Adapun maksud tuanku menghamba itu, agar supaya tuan dapat melihat lihat orang orang raja Jaya Katong, siapa yang setia, yang berani, yang penakut, yang pandai, terutama juga hendaknyalah tuan ketahui sifat sifat Kebo Mundarang, sesudah itu semua dapat diukur, hendaknyalah tuanku memohon diri pindah ke hutan orang Terik yang sudah dirubah menjadi desa oleh hamba hamba Madura itu, masih ada perlunya lagi, yalah: “Jika ada hamba hamba tuanku yang berasal dari Tumapel ingin kembali menghamba lagi kepada tuan, hendaknyalah tuan terima, meskipun hamba hamba dari Daha juga, jika mereka ingin mencari perlindungan kepada tuan, hendaknyalah tuan lindungi, jika semua itu sudah, maka tentara Daha tentu terkuasai oleh tuanku. Sekarang hamba akan berkirim surat kepada raja Jaya Katong.”
Berangkatlah orang yang disuruh mengantarkan surat, menyeberang ke selatan, menghadap raja Jaya Katong, mempersembahkan surat itu.
Adapun bunyi surat: “Tuanku, patik baginda memberi tahu, bahwa cucu paduka baginda mohon ampun, ingin takluk kepada paduka baginda, hendaknyalah paduka baginda maklum, terserah apakah itu diperkenankan atau tidak diperkenankan oleh paduka tuan.”
Kata Raja Jaya Katong: “Mengapa kami tidak senang, kalau buyung Arsa Wijaya akan menghamba kepada kami.”
Selanjutnya disuruh kembalilah utusan itu untuk menyampaikan kata katanya.
Setelah utusan datang lalu menyampaikan perintah.
Surat telah dibaca dimuka Raden Wijaya dan dimuka dimuka Wiraraja.
Wiraraja senang.
Segera Raden Wijaya kembali ke Pulau Jawa, diiring oleh hamba hambanya, dihantarkan oleh orang orang Madura, dan Wiraraja juga menghantarkan kembali di Terung.
Setelah datang di Daha, ia dengan tenteram dapat menghadap raja Jaya Katong, sangat dicintai.
Ketika ia datang di Daha, kebetulan tepat pada hari raya Galungan, hamba hambanya disuruh oleh raja untuk mengambil bagian didalam pertandingan, menteri menteri Daha sangat heran, karena orang orang itu baik semua, terutama Sora, Rangga Lawe, Nambi, Pedang dan Dangdi, mereka bersama sama lari ketempat pertandingan di Manguntur negara Daha.
Bergantilah menteri menteri Daha lari, diantaranya yang merupakan perjurit utama, yalah: Panglet, Mahisa Rubuh dan Patih Kebo Mundarang, mereka ketiga tiganya kalah cepat larinya dengan Rangga Lawe dan Sora.
Lama kelamaan Raja Jaya Katong mengadakan pertandingan tusuk menusuk, “Puteraku Arsa Wijaya, hendaknyalah kamu ikut bermain tusuk menusuk, kami ingin melihat, menteri menteri kamilah yang akan menjadi lawanmu.”
Jawab Raden Wijaya: “Baiklah tuanku.”
Bertandinglah mereka tusuk menusuk itu, riuh rendah suara bunyi bunyian, orang yang melihat penuh tak ada selatnya, orang orang raja Jaya Katong sering kali terpaksa lari.
Kata raja Jaya Katong: “Pintalah buyung Arsa Wijaya, jangan ikut serta, siapakah yang berani melawan tuannya.”
Raden Wijaya berhenti, kini sepadanlah pertandingan tusuk menusuk itu, kejar mengejar, kemudian Sora menuju ke arah Kebo Mundarang, Rangga Lawe menuju Panglet dan Nambi menuju ke Mahisa Rubuh, akhirnya terpaksa lari menteri menteri Daha itu menghadapi orang orang Raden Wijaya, tak ada yang mengadakan pembalasan, lalu bubar.
Sekarang Raden Wijaya telah melihat, bahwa menteri menteri Daha dikalahkan oleh orang orangnya.
Lalu ia berkirim surat kepada Wiraraja, selanjutnya Wiraraja menyampaikan pesan, agar Raden Wijaya memohon hutan orang Terik.
Raja Jaya Katong memperkenankan. Inilah asal usul orang mendirikan desa di hutan orang Terik.
Ketika desa sedang dibuat oleh orang orang Madura, ada orang yang lapar karena kurang bekalnya pada waktu ia menebang hutan, ia makan buah maja, merasa pahit, semua dibuanglah buah maja yang diambilnya itu, terkenal ada buah maja pahit rasanya, tempat itu lalu diberi nama Majapahit.
Raden Wijaya telah dapat memperhitungkan keadaan Daha. Majapahit telah berupa desa. Orang orang Wiraraja yang mengadakan hubungan dengan Daha, beristirahat di Majapahit.
Wiraraja berkirim pesan kepada Raden Wijaya, bagaimana caranya memohon diri kepada raja Jaya Katong.
Sekarang Raden Wijaya meminta ijin pindah ke Majapahit.
Raja Jaya Katong memperkenankannya, lengah karena rasa sayang dan karena kepandaian Raden Wijaya menghamba itu, seperti sungguh sungguh.
Setelah Raden Wijaya pindah ke Majapahit, lalu memberi tahu kepada Wiraraja, bahwa menteri menteri Daha telah dapat dikuasai olehnya dan oleh hamba hambanya semua.
Raden Wijaya mengajak Wiraraja menyerang Daha, Wiraraja menahan, berkata kepada utusannya: “Jangan tergesa gesa, masih ada muslihat saya lagi, hendaknyalah kamu wahai utusan, bersembah kepada tuanmu, saya ini berteman dengan raja Tatar, itu akan kutawari puteri bangsawan, hendaknyalah kamu utusan, pulang ke Majapahit sekarang.
Sepergimu saya akan berkirim surat ke Tatar. Ada perahuku, itu akan saya suruh ikut serta ke Tatar, agar supaya menyampaikan ajakan menyerang Daha.
Jika raja Daha telah kalah, maka seluruh pulau Jawa tak ada yang menyamai, itu nanti dapat dimiliki oleh raja Tatar, demikian itu penipuanku terhadap raja Tatar. Hendaknyalah kamu memberi tahu kepada Sang Pangeran, bahwasanya ini agar supaya raja itu mau ikut serta mengalahkan Daha.”
Utusan pulang kembali ke Majapahit, Raden Wijaya senang diberi tahu semua pesan Wiraraja itu.
Sesudah utusan kembali, Wiraraja lalu berkirim utusan ke Tatar. Wiraraja pindah ke Majapahit, seisi rumah dan membawa tentara dari Madura, yalah semua orang Madura yang baik dibawa beserta senjatanya.
Setelah utusan datang dari Tatar, lalu menyerang Daha.
Tentara Tatar keluar dari sebelah utara, tentara Madura dan Majapahit keluar dari timur, Raja Katong bingung, tak tahu mana yang harus dijaga.
Kemudian diserang dengan hebat dari utara oleh tentara Tatar.
Kebo Mundarang, Panglet dan Mahisa Rubuh menjaga tentara dari timur. Panglet mati oleh Sora, Kebo rubuh mati oleh Nambi, Kebo Mundarang bertemu dengan Rangga Lawe, terpaksa larilah Kebo Mundarang, dapat dikejar di lembah Trinipati, akhirnya mati oleh Rangga Lawe, Kebo Mundarang berpesan kepada Rangga Lawe: “Wahai Rangga Lawe, saya mempunyai seorang anak perempuan, hendaknyalah itu diambil oleh Ki Sora sebagai anugerah atas keberaniannya.”
Raja Jaya Katong yang bertempur ke Utara, bersenjatakan perisai, diserang bersama sama oleh orang orang Tatar, akhirnya tertangkap dan dipenjara oleh orang Tatar.
Raden Wijaya lekas lekas masuk kedalam istana Daha, untuk melarikan puteri bangsawan yang muda, lalu dibawa ke Majapahit, sedatangnya di Majapahit orang orang Tatar datang untuk meminta puteri puteri bangsawan, karena Wiraraja telah menyanggupkan itu, jika Daha telah kalah, akan memberikan dua orang puteri bangsawan yang berasal dari Tumapel, kedua duanya semua.
Maka bingunglah para menteri semua, mencari cari kesanggupan lain,
Sora berkata: “Nah, saya saja yang akan mengamuk bilamana orang orang Tatar datang kemari.”
Arya Wiraraja menjawab: “Sesungguhnya, wahai buyung Sora, masih ada muslihatku lagi.”
Maka dicari dicarilah kesanggupan kesanggupan. Itulah yang dimusyawarahkan oleh menteri menteri.
Sora menyatakan kesanggupannya: ” Tak seberapa kalau saya mengamuk orang orang Tatar.”
Pada waktu sore hari, waktu matahari sudah condong ke barat, orang orang Tatar datang meminta puteri puteri bangsawan.
Wiraraja menjawab: “Wahai, orang orang Tatar semua, janganlah kamu kalian tergesa gesa, puteri puteri raja itu sedang sedih, karena telah cemas melihat tentara tentara pada waktu Tumapel kalah, lebih lebih ketika Daha kalah, sangat takut melihat segala yang serba tajam. Besok pagi saja mereka akan diserahkan kepada kamu, ditempatkan kedalam kotak, diusung, dihias dengan kain kain, dihantarkan ke perahumu, sebabnya mereka ditempatkan didalam peti itu, karena mereka segan melihat barang barang yang tajam, dan yang menerimanya puteri puteri bangsawan itu, hendaknyalah jangan orang Tatar yang jelek, tetapi orang orang yang bagus jangan membawa teman, karena janji puteri puteri bangsawan itu, kalau sampai terjadi melihat yang serba tajam, meskipun sudah tiba diatas perahu, mereka akan terjun kedalam air, bukankah akan sia sia saja, bahwasanya kalian telah mempertaruhkan jiwa itu, jika puteri puteri bangsawan ini sampai terjadi terjun kedalam air.”
Percayalah orang orang Tatar, ditipu itu. Kata seorang Tatar: “Sangat betul perkataan tuan.”
Sesudah datang saat perjanjian menyerahkan puteri puteri bangsawan itu, orang orang Tatar datang berbondong bondong meminta puteri puteri bangsawan, semua tak ada yang membawa senjata tajam.
Setelah mereka masuk kedalam pintu Bayangkara, orang orang Tatar itu ditutupi pintu, dikunci dari luar dan dari dalam, Sora telah menyisipkan keris pada pahanya.
Sekonyong konyong orang orang Tatar diamuk oleh Sora, habis, mati semua.
Ranggalawe mengamuk kepada mereka yang berada di luar balai tempat orang menghadap, dikejar sampai ketempat kemana saja mereka lari, kemuara Canggu, diikuti dan dibunuh.
Kira kira sepuluh hari kemudian, mereka yang pergi berperang, datang dari Malayu, mendapat dua orang puteri, yang seorang dikawin oleh Raden Wijaya, yalah yang bernama Raden Dara Pethak, adapun yang tua bernama Dara Jingga, kawin dengan seorang Dewa, melahirkan seorang anak laki laki menjadi raja di Malayu, bernama Tuhan Janaka, nama nobatannya: Sri Warmadewa alias Raja Mantrolot.
Peristiwa Malayu dan Tumapel itu bersamaan waktunya pada tahun Saka: Pendeta Sembilan Bersamadi atau 1197.
Raja Katong naik diatas tahta kerajaan di Daha pada tahun Saka: Ular Muka Dara Tunggal atau 1198.
Setelah Raka Katong datang di Junggaluh ia mengarang kidung: Wukir Polaman, selesai mengarang kidung ia wafat.
VII. Sekarang Raden Wijaya menjadi raja pada tahun Saka: Rasa Rupa Dua Bulan atau 1216. Kemudian ia mempunyai seorang anak laki laki dari Dara Pethak, nama kesatriyannya: Raden Kalagemet. Adapun dua orang anak perempuan Batara Siwa Buda, yang dibayang bayangkan kepada orang Tatar, keduanya itu juga dikawin oleh Raden Wijaya, yang tua menjadi ratu di Kahuripan, yang muda menjadi ratu di Daha.
Nama nobatan Raden Wijaya pada waktu menjadi raja: Sri Kertarajasa.
Didalam tahun pemerintahannya ia mendapat penyakit bisul berbengkak.
Ia wafat di Antapura, wafat pada tahun 1257.
VIII. Raden Kalagemet menggantikannya menjadi raja, nama nobatannya: Batara Jayanagara. Sri Siwa Buda dicandikan di Tumapel, nama resmi candi: Purwa Patapan. Berdiri candi itu berselat 17 tahun dengan peristiwa Ranggalawe.
Ranggalawe akan dijadikan patih, tetapi urung, itulah sebabnya maka ia mengadakan pemberontakan di Tuban, dan mengadakan perserikatan dengan kawan kawannya.
Telah terjadi orang orang Tuban di gunung sebelah utara dimasukkan didalam perserikatannya , mereka itu semua menaruh perhatian kepada Ranggalawe.
Nama orang orang yang menyetujuinya, yalah: Panji Marajaya, Ra Jaran Waha, Ra Arya Sidi, Ra Lintang, Ra Tosan, Ra Galatik, Ra Tati, mereka itu teman teman Ranggalawe pada waktu berontak.
Adapun sebabnya ia pergi dari Majapahit itu, merebut kedudukan, Mahapati menjalankan fitnah dengan bahan kata kata Ranggalawe: “Jangan banyak bicara, didalam kitab Partayadnya ada tempat untuk penakut penakut.”
Setelah terdengar, bahwa Ranggalawe berontak, Mahapatih-lah yang memberi memberi tahu hal itu, maka raja Jayanagara marah, semua teman teman Ranggalawe didalam pemberontakan itu mati, hanya Ra Gelatik yang masih hidup, karena ia disuruh berbalik hati.
Peristiwa Ranggalawe itu pada tahun saka: Kuda Bumi Sayap Orang, atau 1217.
Wiraraja memohon diri untuk bertempat tinggal di Lamajang, yang luasnya tiga daerah juru, karena Raden Wijaya telah berjanji akan membagi dua Pulau Jawa, dan akan menganugerahkan daerah lembah Lumajang sebelah selatan dan utara beserta daerah tiga juru.
Telah lama itu dinikmati oleh Wiraraja, Nambi masih menjadi patih, Sora menjadi Demung dan Tipar menjadi Tumenggung.
Tumenggung pada waktu itu lebih rendah dari pada Demung.
Wiraraja tidak kembali ke Majapahit, ia tidak mau menghamba. Setelah berselat tiga tahun dari peristiwa Ranggalawe maka terjadilah peristiwa Sora.
Sora difitnah oleh Mahapati, dan Sora ini dapat dilenyapkan, dibunuh oleh Kebo Mundarang, pada tahun saka: Baba Tangan Orang atau 1222.
Juga Nambi difitnah oleh Mahapati, jasa jasa perangnya tidak diperhatikan, pada waktu ia melihat saat yang tepat dan baik, ia memohon diri untuk meninjau Wiraraja yang menderita sakit. Sri Jayanagara memberi ijin, hanya saja tidak diperkenankan pergi lama lama.
Nambi tak datang kembali, menetap di Lembah, mendirikan benteng, menyiapkan tentara.
Wiraraja meninggal dunia.
Sri Jayanagara menjadi raja, lamanya dua tahun.
Ada peristiwa gunung meletus, yalah gunung Lungge pada tahun saka: Api Api Tangan Satu atau : 1233.
Selanjutnya terjadi peristiwa Juru Demung, berselat dua tahun dengan peristiwa Sora.
Juru Demung mati pada tahun saka: Keinginan Sifat Sayap Orang, atau: 1235.
Lalu terjadi peristiwa Gajah Biru pada tahun saka: Rasa Sifat Sayap Orang atau: 1236.
Selanjutnya terjadi peristiwa Mandana, Jayanagara berangkat sendiri untuk melenyapkan orang orang Mandana.
Sesudah itu ia pergi ke timur untuk melenyapkan Nambi.
Nambi diberi tahu, bahwa Juru Demung sudah mati, demikian pula patih pengasuh, Tumenggung Jaran Lejong, menteri menteri pemberani semua sudah mati, gugur di medan perang.
Nambi berkata: “Kakak Samara, Ki Derpana, Ki Teguh, Paman Jaran Bangkal, Ki Wirot, Ra Windan, Ra Jangkung, jika dibanding banding, orang orang disebelah timur ini, tak akan kalah, apalagi setelah mereka sudah rusak itu, siapa lagi yang menjadi teras orang orang sebelah barat, apakah Jabung Terewes, Lembu Peteng atau Ikal Ikalan Bang, saja tak akan gentar, biar selaksa semacam itu didepan dan dibelakang, akan kuhadapi pula seperti perang di Bubat.”
Setelah orang orang Majapahit datang, dan Nambi pergi ke selatan, maka Ganding rusak, piyagamnya dapat dirampas, Nambi dikejar kejar dan didesak, Derpana, Samara, Wirot Made, Windan, Jangkung mulai bertindak, terutama Nambi, ia mengadakan serangan pertama tama. seakan akan tercabutlah orang orang Majapahit, tak ada yang mengadakan perlawanan.
Jabung Terewes, Lembu Peteng dan Ikal Ikalan Bang lalu bersama sama menyerang Nambi, Nambi gugur, demikian pula teman teman Nambi yang menyerang tadi gugur semua, patahlah perlawanan di Rabut Buhayabang, orang orang disebelah timur itu mencabut payung kebesarannya, daerah Lumajang kalah pada tahun saka: Ular Menggigit Bulan, atau: 1238.
Peristiwa Wagal dan Mandana itu bersamaan waktunya.
Berselat dua tahun Peristiwa Wagal dengan peristiwa Lasem. Semi dibunuh, ia mati dibawah pohon kapuk, pada tahun saka: Bukan Kitab Suci Sayap Orang, atau: 1240.
Sesudah itu terjadi peristiwa Ra Kuti. Ada dua golongan Darmaputra Raja, mereka ini dahulunya adalah pejabat pejabat yang diberi anugerah raja, banyaknya tujuh orang, bernama: Kuti, Ra Pangsa, Ra Wedeng, Ra Yuyu, Ra Tanca dan Ra Banyak.
Ra Kuti dan Ra Semi dibunuh, karena difitnah oleh Mahapati, akhirnya Mahapati diketahui melakukan fitnahan, ia ditangkap, dan dibunuh seperti seekor babi hutan, dosanya akan pergi sendiri ke Bedander. Ia pergi pada waktu malam, tak ada orang tahu, hanya orang orang Bayangkara mengiringkannya, semua yang kebetulan mendapat giliran menjaga pada waktu raja pergi itu, banyaknya 15 orang, pada waktu itu Gajah Mada menjadi Kepala Bayangkara dan kebetulan juga sedang menerima giliran menjaga, itulah sebabnya ia mengiring raja pada waktu raja pergi dengan menyamar itu. Lamalah raja tinggal di Bedander.
Adalah seorang pejabat, ia memohon ijin akan pulang kerumahnya, tidak diperbolehkan oleh Gajah Mada, karena jumlah orang yang mengiring raja hanya sedikit, ia memaksa akan pulang, lalu ditusuk oleh Gajah Mada, maksud ia menusuk itu, yalah: “jangan jangan ia nanti memberi tahu, bahwa raja bertempat tinggal dirumah kepala desa Bedander, sehingga Ra Kuti, sehingga Ra Kuti dapat mengetahuinya.
Kira kira lima hari kemudiannya Gajah Mada memohon ijin untuk pergi ke Majapahit.
Sedatangnya di Majapahit, Gajah Mada ditanyai oleh para Amanca Negara tentang tempat raja, ia mengatakan, bahwa raja telah diambil oleh teman teman Kuti.
Orang orang yang diberi tahu semuanya menangis, Gajah Mada berkata: “Janganlah menangis, apakah tuan tuan tidak ingin menghamba kepada Ra Kuti.”
Menjawablah yang diajak berbicara itu: “Apakah kata tuan itu, Ra Kuti bukan tuan kami.”
Akhirnya Gajah Mada memberi tahu bahwa raja berada di Bedander, Gajah Mada lalu mengadakan persetujuan dengan para menteri, mereka semua sanggup membunuh Ra Kuti, dan Ra Kuti mati dibunuh.
Raja pulang dari Bedander, kepala desa ditinggalkan, selanjutnya ia menjadi orang yang terkenal pada waktu itu.
Sesudah raja pulang, maka Gajah Mada tak lagi menjadi Kepala orang orang Bayangkara, dua bulan lamanya ia mendapat cuti dibebaskan dari kewajiban, ia dipindah menjadi Patih di Kahuripan, dua tahun lamanya menjadi patih itu.
Sang Arya Tilam, patih di Daha meninggal dunia, Gajah Mada menggantinya, ditempatkan menjadi patih di Daha, patih Mangkubumi Sang Arya Tadah menyetujui, ialah yang menyokong Gajah Mada menjadi patih di Daha itu.
Raja Jayanagara mempunyai dua orang saudara perempuan, lain ibu, mereka tak diperbolehkan kawin dengan orang lain, akan diambil sendiri.
Pada waktu itu tak ada kesatriya di Majapahit, tiap tiap kesatriya yang tampak lalu dilenyapkan, jangan jangan ada yang mengingini adiknya itu, itulah sebabnya maka kesatriya kesatriya bersembunyi tidak keluar.
Isteri Tanca menyiarkan berita, bahwa ia diperlakukan tidak baik oleh raja.
Tanca dituntut oleh Gajah Mada. Kebetulan raja Jayanegara menderita sakit bengkak, tak dapat pergi keluar, Tanca mendapat perintah untuk melakukan pembedahan dengan taji, ia menghadap didekat tempat tidur. Raja ditusuk oleh Tanca dengan taji sekali dua kali, tidak makan tajinya, lalu raja diminta agar supaya meletakkan jimatnya, ia meletakkan jimatnya didekat tempat tidur, ditusuk oleh Tanca, tajinya makan, diteruskan ditusuk oleh Tanca, sehingga mati ditempat tidur itu.
Tanca segera dibunuh oleh Gajah Mada, matilah Tanca.
Berselat sembilan tahunlah peristiwa Kuti dan peristiwa Tanca itu, pada tahun saka: Abu Unsur memukul Raja atau: 1250.
Raja dicandikan di Kapopongan, nama resmi candi itu: Srenggapura, arcanya di Antawulan.
Pada waktu itu para kesatriya menginjakkan kaki di Majapahit lagi.
Raden Cakradara dipilih pada sayembara menjadi suami seri ratu di Kahuripan.
Raden Kuda Merta kawin dengan seri ratu di Daha.
Raden Kuda Merta menjadi raja di Wengker, Sri Paduka Prameswara di Pamotan, nama nobatannya: Sri Wijayarajasa.
Adalah anak Raden Cakradara, menjadi raja di Tumapel, nama nobatannya Sri Kertawardana.
IX. Sri Ratu di kahuripan menjadi raja pada tahun saka: Sunyi Keinginan Sayap Bumi, atau: 1250.
Seri Ratu di Kahuripan itu mempunyai tiga orang anak, yalah: Batara Prabu, panggilannya Seri Hayam Wuruk, Raden tetep, sebutannya jika ia bermain kedok: Dalang Tritaraju, jika ia bermain wayang dan melawak: Gagak Ketawang, di kalangan pemeluk agama Siwa: Mpu Janeswara, nama nobatannya Seri Rajasa Nagara, sebagai Prabu: Seri Baginda Sang Hyang Wekasing Suka.
Adiknya perempuan kawin dengan raden Larang, yang juga disebut Baginda di Matahun, tidak mempunyai anak, adiknya yang bungsu, yalah: Seri ratu di Pajang, kawin dengan Raden Sumana, yang juga disebut Baginda di Paguhan, ini adalah saudara sepupu Seri Ratu di Kahuripan. Isteri Baginda di Gundal, dicandikan di Sajabung, nama resmi candi itu: Bajra Jina Parimita Pura.
Selanjutnya terjadi peristiwa Sadeng.
Tadah yang menjadi patih Mangkubumi menderita sakit, sering sekonyong konyong tak berkuasa menghadap, memajukan permohonan kehadapan Paduka batara untuk diijinkan berhenti, tidak dikabulkan oleh Seri Ratu di Kahuripan, Sang Arya Tadah kembali pulang, memanggil Gajah Mada, mengadakan pembicaraan di ruang tengah, Gajah Mada diminta menjadi Patih di Majapahit, meskipun tidak berpangkat Mangkubumi: “Saya akan membantu didalam soal soal yang luar biasa,”
Gajah Mada berkata: ” Anaknda tidak sanggup jika menjadi patih sekarang ini, jika sudah kembali dari Sadeng, hamba mau menjadi patih, itupun jika tuan suka memaafkan segala kekurangan kemampuan anaknda ini.”
“Nah, buyung, saya akan membantu didalam segala kesukaran, dan didalam soal soal yang luar biasa.”
Sekarang besarlah hati Gajah Mada, mendengar kesanggupan sang Arya Tadah itu. kini ia berangkat ke Sadeng.
Para menteri araraman dibohongi, juga patih Mangkubumi juga kena tipu, bahwasanya Kembar telah lebih dahulu mengepung Sadeng.
Mangkubumi marah, memberi perintah kepada menteri luar, banyak mereka yang berangkat lima satuan, dikepalai oleh bekel, masing masing satuan terdiri dari lima orang.
Kembar dijumpai didalam hutan, mereka berdiri diatas pohon yang roboh, berayun ayun seperti orang naik kuda sambil melambai lambaikan cambuk kepada mereka yang menyuruh agar Kembar kembali dan tidak melanjutkan perjalanan.
Disampaikanlah pesan dari para menteri semua, terutama juga dari gusti patih Mangkubumi, menyuruh agar Kembar kembali, karena dikhabarkan mendahului mengepung orang orang Sadeng.
Dicambuklah muka orang yang menyuruh kembali, tidak kena karena berlindung dibalik pohon, Kembar lalu berkata: “Tidak ada orang yang diindahkan oleh Kembar ini, didalam perang saja tidak mau mengindahkan tuanmu itu.”
Pergilah yang mendapat perintah untuk menyuruh kembali tadi, dan memberi tahu semua yang dikatakan oleh Kembar.
Gajah Mada diam, merasa sangat diperolok olok, orang orang Sadeng dikepung, Tuhan Waruju seorang Dewa Putera dari Pamelekahan, jikalau membunyikan cambuk, terdengar di ruang angkasa, terperanjat orang Majapahit.
Segera Sang Sinuhun tadi datang, mengalahkan Sadeng.
Peristiwa Tanca dan Sadeng itu berselat tiga tahun, pada tahun saka: Tindakan Unsur Lihat Daging, atau: 1256.
Setelah Kembar kembali dari Sadeng, lalu menjadi bekel araman, Gajah Mada menjadi Angabehi, Jaran Baya, Jalu, Demang Bucang, Gagak Nunge, Jenar dan Arya Rahu mendapat pangkat, Lembu Peteng menjadi Tumenggung.
Gajah Mada menjadi patih Mangkubumi, tidak mau mengambil istirahat, Gajah Mada berkata: “Jika pulau pulau diluar Majapahit sudah kalah, saya akan istirahat, nanti kalau sudah kalah Gurun, Seran, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, barulah saya menikmati masa istirahat.”
Pada waktu itu para menteri sedang lengkap duduk menghadap di balai penghadapan.
Kembar memperolok olok Gajah Mada dengan menyebut kesalahan kesalahan dan kekurangan kekurangannya, dan menumpahkan telempak, Ra banyak ikut serta menambah mengemukakan celaan celaan.
Jabung Terewes, Lembu Peteng tertawa. lalu Gajah Mada turun mengadukan soal itu kehadapan batara di Koripan, baginda marah, kemarahan dan penghinaan ini disampaikan kepada Arya Tadah.
Dosa Kembar telah banyak, Warak dilenyapkan, tak dikatakan pada Kembar, mereka mati semua.
X. Selanjutnya terjadi peristiwa orang orang Sunda di Bubat.
Seri Baginda Prabu mengingini puteri Sunda. Patih Madu mendapat perintah menyampaikan permintaan kepada orang Sunda, orang Sunda tidak berkeberatan mengadakan pertalian perkawinan.
Raja Sunda datang di Majapahit, yalah Sang Baginda Maharaja, tetapi ia tidak mempersembahkan puterinya.
Orang Sunda bertekad berperang, itulah sikap yang telah mendapat sepakat, karena Patih Majapahit keberatan jika perkawinan dilakukan dengan perayaan resmi, kehendaknya yalah agar puteri Sunda itu dijadikan persembahan.
Orang Sunda tidak setuju. Gajah Mada melaporkan sikap orang orang Sunda.
Baginda di Wengker menyatakan kesanggupan: “jangan khawatir, kakak Baginda, sayalah yang akan melawan berperang.”
Gajah Mada memberitahu tentang sikap orang Sunda. Lalu orang Majapahit berkumpul, mengepung orang Sunda.
Orang Sunda akan mempersembahkan puteri raja, tetapi tidak diperkenankan oleh bangsawan bangsawannya, mereka ini sanggup gugur dimedan perang di Bubat, tak akan menyerah, akan mempertaruhkan darahnya.
Kesanggupan bangsawan bangsawan itu mengalirkan darah, para terkemuka pada fihak Sunda yang bersemangat, yalah: Larang Agung, Tuhan Sohan, Tuhan Gempong, Panji Melong, orang orang dari Tobong Barang, Rangga Cahot, Tuhan Usus, Tuhan Sohan, Orang Pangulu, Orang Saja, Rangga Kaweni, Orang Siring, Satrajali, Jagadsaja, semua rakyat Sunda bersorak.
Bercampur dengan bunyi bende, keriuhan sorak tadi seperti guruh.
Sang Prabu Maharaja telah mendahului gugur, jatuh bersama sama dengan Tuhan Usus.
Seri Baginda Parameswara menuju ke Bubat, ia tidak tahu bahwa orang orang Sunda masih banyak yang belum gugur, bangsawan bangsawan, mereka yang terkemuka lalu menyerang, orang Majapahit rusak.
Adapun yang mengadakan perlawanan dan melakukan pembalasan, yalah: Arya Sentong, Patih Gowi, Patih Marga Lewih, Patih Teteg, dan Jaran Baya.
Semua menteri araman itu berperang dengan naik kuda, terdesaklah orang Sunda, lalu mengadakan serangan ke selatan dan ke barat, menuju tempat Gajah Mada, masing masing orang Sunda yang tiba dimuka kereta, gugur, darah seperti lautan, bangkai seperti gunung, hancurlah orang orang Sunda, tak ada yang ketinggalan, pada tahun saka: Sembilan Kuda Sayap Bumi, atau: 1279.
Peristiwa Sunda itu bersama sama dengan peristiwa Dompo.
Sekarang Gajah Mada menikmati masa istirahat, sebelas tahun ia menjadi Mangkubumi.
Berhubung dengan puteri Sunda itu mati, maka Batara Prabu lalu kawin dengan anak perempuan Baginda Prameswara, yalah: Paduka Sori, dari perkawinan itu lahirlah seorang anak perempuan, yalah Seri Ratu di Lasem Sang Ayu, dari perkawinannya dengan isteri lain, lahirlah baginda di Wirabumi, yang diambil menjadi anak angkat Seri Ratu di Daha.
Seri ratu di Pajang mempunyai tiga orang anak: Seri Baginda Hyang Wisesa, nama kesatriyannya Raden Gagak Sali, namanya sebagai Raja Aji Wikrama, kawin dengan Seri Ratu di Lasem yalah: Sang Ayu, lalu mempunyai seorang anak, yalah: Seri Baginda Wekasing Suka, anak yang kedua perempuan, yalah: Seri Ratu di Lasem Sang Alemu, kawin dengan baginda di Wirabumi, adapun anak yang ketiga juga perempuan, menjadi Seri ratu di Kahuripan.
Ada lagi anak Baginda di Tumapel, nama kesatriyannya Raden Sotor, menjadi hino di Koripan, lalu pindah menjadi hino di Daha, selanjutnya menjadi hino di Majapahit, ini mempunyai seorang anak laki laki, yalah: Raden Sumirat, kawin dengan Seri Ratu di Kahuripan dan menjadi raja dengan sebutan Baginda di Pandan Salas.
Lalu terjadi peristiwa upacara selamatan roh nenek moyang yang dinamakan Srada Agung, pada tahun saka: Empat Ular Dua Tunggal, atau: 1284.
Sang Patih Gajah Mada wafat pada tahun saka: Langit Muka Mata Bulan, atau 1290, tiga tahun lamanya tak ada yang mengganti menjadi patih.
Gajah Enggon menjadi patih pada tahun saka: Sifat Sembilan Sayap Orang, atau: 1293.
Seri Ratu di Daha wafat, dicandikan di Adilangu, nama resmi candi itu Gunung Purwawisesa.
Seri Ratu di kahuripan wafat, dicandikan di Panggih, nama resmi candinya Gunung Pantarapura.
Selanjutnya terjadi peristiwa gunung baru pada tahun saka: Ular Liang Telinga Orang, atau: 1208.
Lalu terjadi peristiwa gunung meletus, pada minggu Madasia, tahun saka: Pendeta Sunyi Sifat Tunggal, atau: 1307.
Baginda di Tumapel wafat, ia wafat di Suniyalaya pada tahun saka: Gajah Sunyi Tindakan Ekor, atau” 1308, dicandikan di Japan, nama resmi candi itu Sarwa Jaya Purwa.
Baginda Hyang Wisesa mempunyai anak,
(1) Seri Baginda di Tumapel
(2) Perempuan, yalah: Seri Ratu Prabu-stri, yang lalu
mempunyai nama nobatan: Dewi Suhita
(3) Bungsu laki laki, yalah: Baginda di Tumapel alias Sri
Kerta Rajasa
Baginda di Pandan Salas mempunyai anak
(1) Baginda di Koripan, alias Baginda Hyang Prameswara,
nama nobatannya Aji Ratna Pangkaja, kawin dengan
Seri Ratu Prabu-stri, tidak berputera
(2) Perempuan, Sang ratu Ratu di Mataram, yang kawin
dengan Baginda Hyang Wisesa
(3) Perempuan, Sang ratu di Lasem, yang kawin dengan
Baginda di Tumapel
(4) Perempuan lagi, Sang Ratu di Matahun.
Baginda di Tumapel mempunyai anak laki laki, menjadi raja di Wengker, kawin dengan Seri ratu di Matahun, anak kedua menjadi raja di Paguhan, anak ketiga lahir dari isteri muda, perempuan, yalah: Seri Ratu di Jagaraga, kawin dengan Baginda Parameswara, tidak beranak, anak kelima, yalah: Sang ratu di Pajang, juga kawin dengan Baginda di Paguhan, jadi dibayuh sama sama saudara, tidak mempunyai anak.
Baginda di Keling kawin dengan Seri ratu di Kembang Jenar.
Anak laki laki Baginda di Wengker, yalah Baginda di Kabalan.
Baginda di Paguhan mempunyai anak dari isteri kelahiran golongan kesatriya, perempuan yalah: Sang ratu di Singapura, kawin dengan Baginda di Pandan Salas.
Baginda Prameswara di Pamotan, wafat pada tahun saka: Langit Rupa Menggigit Bulan, atau: 1310, ia dicandikan di Manyar, nama resmi candinya Wisnu Bawana Pura.
Seri ratu di Matahun wafat, dicandikan di Tiga Wangi, nama resmi candi itu Kusuma Pura.
Paduka Sori wafat.
Sang ratu di Pajang wafat, dicandikan di Embul, nama resmi candi Girindra Pura.
Baginda di Paguhan wafat, dicandikan di Lobencal, nama resmi candi Parwa Tiga Pura.
Baginda Hyang Wekasing Suka, wafat pada tahun saka: Bumi Rupa Ayah Ibu, atau 1311.
XI. Baginda Hyang Wisesa dinobatkan menjadi raja.
Lalu terjadi peristiwa gunung meletus didalam minggu Prangbakat, pada tahun saka: Muka Orang Tindakan Ular, atau : 1317.
Selanjutnya Gajah Enggon meninggal dunia pada tahun saka: Sunyi Sayap Tindakan Orang, atau: 1320. ia menjadi patih 27 tahun lamanya.
Baginda Hyang Wekasing Suka mengangkat Gajah Manguri menjadi patih.
Baginda Hyang Wekasing Suka wafat, ia wafat di Indra Bawana, pada tahun saka: Orang Mata Api Bulan, atau 1321, dicandikan di Tanjung, nama resmi candi Parama Suka Pura.
Baginda Hyang Wisesa menjadi pendeta pada tahun saka: Mata Sayap api Bulan, atau: 1322.
XII. Seri Ratu Batara Isteri dinobatkan menjadi Raja.
Sang ratu di Lasem wafat di Kawidyadaren, dicandikan di Pabangan, nama resmi candi: Laksmi Pura.
Sang Ratu di Kahuripan wafat.
Sang Ratu di Lasem yalah Sang ratu Gemuk wafat.
Baginda di Pandan Salas wafat, dicandikan di Jinggan, nama resmi candi Sri Wisnu Pura.
Baginda Hyang Wisesa bercekcok dengan Baginda Wirabumi, mereka segan bersama sama berbicara, saling diam mendiamkan, akhirnya berpisah sampai itu terjadi pada tahun saka 1323.
Tiga tahun kemudian lalu terjadi lagi huru hara. Kedua duanya mengumpulkan orang orangnya, Baginda di Tumapel dan baginda Hyang Prameswara diminta datang. “Siapakah yang harus kami ikuti.” maka terjadilah perang malang.
Ia masgul dan bertekad akan pergi.
Baginda “jangan tergesa gesa pergi, sayalah yang akan melawan.”
Baginda Hyang Wisnu menurut dan mengumpulkan orang orangnya lagi, dihulubalangi oleh Baginda di Tumapel. di daha diambil oleh baginda Hyang Wisesa, dibawa keatas perahu, dikejar oleh Raden Gajah yang mempunyai nama nobatan Ratu Angabaya, baginda Narapati.
Terkejar didalam perahu, dibunuh, dipenggal kepalanya, dibawa ke Majapahit, dicandikan di Lung, nama resmi candinya Gorisa, pada tahun saka: Ular Sifat Menggigit Bulan, atau: 1328, pada tahun itu terjadi huru hara ini.
Empat tahun kemudiannya Gajah Manguri meninggal dunia pada tahun saka: Sayap Sifat Tindakan Orang, atau : 1332.
Gajah Lembaga menjadi patih, lamanya 12 tahun.
Selanjutnya terjadi peristiwa gunung meletus didalam minggu Julung Pujut, pada tahun saka: Tindakan Kitab Suci Sifat Orang, atau: 1343.
Gajah Lembana meninggal dunia pada tahun saka: Api Api Tindakan Bumi, atau: 1335.
Tuhan Kanaka menjadi patih lamanya 3 tahun.
Seri Ratu di Daha wafat, Seri Ratu di Matahun wafat, Seri Ratu di Mataram wafat.
Selanjutnya terjadi masa kekurangan makan yang sangat lama pada tahun saka: Ular Jaman Menggigit Orang, atau : 1348.
Baginda di Tumapel wafat pada tahun saka: Sembilan Jaman Tindakan Orang, atau: 1349, dicandikan di Lokerep, nama candinya Asmarasaba.
Baginda di Wengker wafat, dicandikan di Sumengka.
XIII. Tuhan Kanaka meninggal dunia pada tahun saka: Sayap Luka Sifat Orang, atau : 1363. Tujuh belas tahun lamanya menjadi patih.
Seri ratu di Lasem wafat di Jinggan.
Baginda di Pandan Salas wafat.
Raden Jagulu, Raden Gajah dilenyapkan, karena dianggap melakukan dosa, yalah: memenggal kepala Baginda di Wirabumi, pada tahun saka: Unsur Memanah Telur Tunggal, atau: 1355.
Seri Ratu di Daha menjadi raja pada tahun saka: Sembilan lima api bulan, atau 1359.
Baginda Parameswara wafat, ia wafat di Wisnu Bawana, pada tahun saka: Ular Golongan Api Bulan, atau tahun: 1359, dicandikan di Singajaya.
Baginda Keling wafat, dicandikan di Apa Apa.
Seri Ratu Prabu-stri wafat pada tahun saka: Sembilan Rasa Api Bulan, atau: 1369, dicandikan di Singajaya.
XIV. Lalu Baginda Tumapel mengganti menjadi raja.
Baginda di Paguhan melenyapkan orang orang di Tidung Galating, dan ini dilaporkan ke Majapahit.
Lalu terjadi gempa bumi pada tahun saka: Sayap Golongan Menggigit Bulan, atau: 1372.
Baginda di Paguhan wafat di Canggu, dicandikan di Sabyantara.
Baginda Hyang wafat, dicandikan di Puri.
Baginda di Jagaraga wafat.
Seri Ratu di Kabalan wafat, dicandikan di Pajang Wafat, dicandikan menjadi satu di Sabyantara.
Lalu terjadi gunung meletus didalam minggu Kuningan, pada tahun saka: Belut Pendeta Menggigit Bulan, atau: 1373.
Baginda Prabu wafat pada tahun saka: Api Gunung Tindakan Ekor, atau: 1373, nama resmi candinya Kerta Wijaya Pura.
XV. Baginda di Pamotan menjadi raja di Pamotan menjadi raja di Keling, Kahuripan, nama nobatannya Sri Rajasawardana.
Sang Sinagara, dicandikan di Sepang pada tahun saka: Keinginan Kuda menggigit Orang, atau: 1375.
XVI. Tiga tahun lamanya tidak ada raja.
XVII. Lalu Baginda di Wengker menjadi raja, nama nobatannya Baginda Hyang Purwa Wisesa, pada tahun saka: Pendeta Tujuh Api Menggigit Bulan, atau: 1378.
Lalu terjadi peristiwa gunung meletus didalam minggu Landep, pada tahun saka: Empat Ular Tiga Pohon, atau: 1384.
Baginda di Daha wafat pada tahun saka: Golongan Pendeta Api Tunggal, atau: 1386.
Baginda Hyang Purwa Wisesa wafat, dicandikan di Puri, pada tahun saka: Pendeta Ular Api Bulan, atau: 1388.
Lalu Baginda di Jagaraga wafat.
XVIII. Baginda di Pandan Salas menjadi raja di Tumapel, lalu menjadi Baginda Prabu pada tahun saka: Pendeta Ular Tindakan Tunggal, atau: 1388.
Ia menjadi Prabu dua tahun lamanya. Selanjutnya pergi dari istana.
Anak anak sang Sinaraga yalah: Baginda di Kahuripan, Baginda di Mataram, baginda di Pamotan dan yang bungsu yalah: baginda Kertabumi, ini adalah paman baginda yang wafat didalam kedatuan pada tahun saka: Sunyi Tidak Jaman Orang, atau: 1400.
Lalu terjadi peristiwa gunung meletus, didalam minggu Watu Gunung pada tahun saka: Tindakan Angkasa Laut Ekor, atau: 1403.
Demikian itulah kitab tentang para datu.
Selesai ditulis di Itcasada di desa Sela Penek, pada tahun saka: Keinginginan Sifat Angin Orang, atau: 1535.
Diselesaikan ditulis hari Pahing, Sabtu, minggu Warigadyan, tanggal dua, tengah bulan menghitam, bulan kedua.
Semoga ini diterima baik oleh yang berkenan membaca, banyak kekurangan dan kelebihan huruf hurufnya, sukar dinikmati, tak terkatakan berapa banyaknya memang rusak, memang ini adalah hasil dari kebodohan yang meluap luap berhubung baharu saja belajar.
Semoga panjang umur, mudah mudahan demikian hendaknya, demikianlah, semoga selamat bahagia, juga sipenulis ini.

Salahsatunggaling Falsafah Kuno Hanacaraka

wayang Kitab & Kidung
Pustaka Wedha Sasangka Kababar Dening : Kanjeng Gusti Bendara Raden Adjeng Dhenok Surjaningsih (Ngeksiganda Nagri 1643) Rinukti Saha Rinumpaka Dening : Sesanggawirja Sengkalaning Tjandra Sapta Rasa Malebeng Pertiwi Utawi Wiwaraning Tjepuri Hesthining Djagad (Tahun Masehi 1967 utawi Tahun Saka 1988) Wedha Ageng Surasa.

Karangan Angka 1 saking :
Wirid Wedha Tjarita lan Djangka :
Bagijan Kaping Kalih, Ngagem Tjarios :
ARGA BAWERA
Punapa ta tegesipun Arga Bawera ?
Arga sami kalijan giri, prawata, prabata, ardi, redi, gunung.
Bawera sami kalijan djembar, omber, kobet, mboten tjupet, mboten kaling-kalingan, tanpa wangenan, tanpa wates.
Dados Arga Bawera ateges : Gunung kang djembar omber, mboten kaling-kalingan, padhang trawangan.
Suraosipun: Pralampampitaning kawitjaksananipun Sang Lokaprana, ingkang tuhu limpad, bontos, djembar, omber, tanpa wangenan, sarwi padhang datan kewran nembus sagung aling-aling (warana).
Dumunung ing puntjaking Arga ingkang Bawera, panggenan ingkang inggil pijambak, limrahipun sok kawastanan : Guruloka. Tumrap blegering manungsa dumunung wonten ing sirah (mustaka).
Katjarijos Sang Prabu Brawidjaja ingkang kaping II inggih Raden Djaka Lawung, ingkang sakelangkung lingsem ing penggalih, sebab sanget kaesi-esi dening ingkang garwa Dewi Retna Sekar dalah ingkang rama marasepuh Adipati Tjiung Gupita, sesampunipun masrahaken pusaraning pradja Madjapait dhateng ingkang raji Pangeran Anom Minak Pijungan, ingkang ladjeng adjedjuluk Prabu Brawidjaja ingkang kaping III. Ladjeng djengkar saking kedhaton, tindakipun mendhem kula, nimpal keli, tanpa kendel tumoleh, ngener mangidul, kesupen dhateng ingkang katilar, nering karsa sumedija nindakake dhawuhing ingkang ibu swargi. Ing sakmargi-margi tansah ngawuningani alam gumelar ingkang sarwi elok, edi, asri, nengsemaken. Penggalihipun Sang Prabu kasengsem sanget, kadudut, kapiluja pirsa kawontenan mekaten wau punika.
Ing salebeting kalbu rumaos kagigah, binuka saja kentjeng sedijanipun. Thukuling raos ladjeng tansah kagungan tresna ing sesamining tumitah, mboten mbedak-ambedakaken; malah saja ngrembaka, ing wasana mahanani santosaning penggalih anggonipun badhe mangudi dhateng kaluhuran. Saja malih menawi emut nalika taksih wonten ing salebeting kedhaton, tansah dipun tjampahi, dipun tjamah dening ingkang garwa punapa dene dipun sepelekaken. Inggih ing salebeting kawontenan punika Sang Prabu rumaos, bilih penggalihipun kirang santosa, mijar-mijur, gampil kapikut tuwin kapikat dening pakartining pantja drija ingkang damelipun namung adjak-adjak risak thok kemawon. Pramila sadaja kala wau ladjeng anambahi santosaning penggalih, kentjeng sedijaning tijas; ingkang mekaten kala wau andjalari tindaking Sang Prabu saja mantep, madhep, terus tanpa kendel, tan ngetang tansajaning marga, mboten kepengin dhahar, ngundjuk punapa dene sare, ngantos sariranipun katingal kera aking persasat namung kantun gagra kusika.
Benter soroting Hijang Bagaskara ing wantji tengange lan asreping hawa ing wantji abijoring Sang Kartika, babar pisan mboten karaos, ing salebeting tyas namun tansah kumedah-kedah inggal saged mangertosi punapa sedjatosipun ingkang dinawuhaken rama ibunipun swargi kok wanter sanget.
Mboten kepetang pinten dangunipun anggenipun tindak nilar kedhaton, sampun dumugi ing pinggiring bengawan Brantas ingkang sisih ler. Ing papan ngriku Sang Prabu sumedija aso sawatawis, kedjawi kalijan ngentosi tuntasing riwe sarta sajahing sarira, ing salebeting ngaso kala wau, Sang Prabu emut dhateng panguwuhing garwa dalasan mara-sepuh, ingkang kalih-kalihipun sampun sami kaperdjaja, bab anggenipun tansah damel sisiping rembag, ing wusana nuwuhaken risaking kawontenan. Wekasan Sang Prabu ladjeng ngupadi palenggahan ingkang prajogi, inggih punika sendhe-sendhe ing kadjeng ageng sapinggiring bengawan Brantas kala wau. Amargi kenging siliring Hijang Samirana, sarira keraos seger, ngantos mboten kraos lijer-lijer, wekasan ngantos sare kepatos.
Ing wusana tengah-tengahing sare Sang Prabu njumpena kados-kados rinawuhan ingkang rama kanthi paring dhawuh mekaten: “Ngger Djaka Lawung putraningsun pribadi, kaja ing wektu dina samengko, sira wus karasa lan ngrumangsani sekabehaning kaluputanmu, dhek nalika sira ngasta pusaraning pradja Madjapait. Kaja nalika ingsun bakal surud wus paring uninga marang sira, jen sira kudu wasis djumeneng dadi pengembaning negara Madjapait. Ora kena mbedak-mbedakake marang sidji lan sidjining kawula, paribasane mban tjinde mban siladan, lan tansah kudu tresna lahir trusing batin tumrap marang sekabehaning para kawula. Kudu wani sengsem marang tumindak kautaman, ninggal marang sekabehaning tumindak kelahiran, ja ing alam kanisthan. Nanging djebul kosokbaline, sira lena marang sekabehing piwelingingsun apadene piweling ibunira. Wekasan sira mung tansah ngumbar hardaning kamurkan, ora kersa sumungkem dalasan manembah ing ngersaning Hijang Bagas Puruwa, malah ngungkurake. Wekasan sira gampang kapikut marang bebudjukane si Adipati Tjiung Gupita lan anake si Retna Sekar. Sira tansah kelu marang gebijaring kadonjan, datan kersa ngemuti jen ta kahanane djagad raja mangkene tansah owah lan gingsir. Mengertija ngger, jen sira ana ing sadjeroning lali, kuwi kang ana kabeh mung marang nistha, jen sira dumunung ana ing sakdjerone eling, kabeh kuwi mau sedjatine dalan kang tumudju marang kaluhuran. Mula saka kuwi jen pantjen ing wektu dina iki sira wus wiwit binuka rasanira, elinga marang djedjering djagad, ja djagad gedhe kang den arani djagad raja, utawa ja djagadira pribadi kang den arani bawana setra. Lan jen pantjen sira njata-njata temen sumedija tumindak kang tumudju marang kaluhuran djati, pirsa marang asal mulanira, weruh marang sedjatine djiwangga, mara noleha mangidul, delengen ing puntjaking gunung Ardjuna kae, sira sedjatine ja wus dumunung ing kana.”
Sinareng Sang Prabu noleh mangidul, ladjeng anedija mirsani puntjaking redi Ardjuna, katingal tjahja manther saksada lanang ngantos sundhul ngawijat. Dene Sang Prabu rumaos kados-kados sampun lenggah dumunung ing puntjaking Arga Ardjuna ngriku. Sareng Sang Prabu mirsani kanan kering, tjetha sanget bilih arga punika ingkang winastanan arga bawera. Ing sisih ler katingal pradja Madjapait kanthi wela-wela, ing sisih wetan katingal pareden bebandjengan, sisih kidul katingal pesabinan idjem rojo-rojo. Saja kraos wonten ing puntjaking redi kasebat. Wosipun saged amirsani kanthi tjetha wela-wela lan mboten kaling-kalingan punapa-punapa, inggih punika kang den wastani tanpa warana.
Ing saladjengipun ingkang rama paring dhawuh malih, mekaten: “Mangertija ngger, jen sedjatine ing putjuking gunung Ardjuna kana kae, papane ramanira dhek djaman kala semana mesu brata, mangesthi ing Hijang Bagas Puruwa, mudja lan mudji akanthi nindakake talak brata, datan sare, datan dhahar, mung tansah mindeng madijaning Guwa Laja, njenjuwun supaja bisa pinaringan turun kang ing tembe saged gumanti kepraboning pradja Madjapait, jen wus tumeka titi wantji ramanira kundur ana ing Hindrabawana. Awit wus sawatara warsa anggeningsun palakrama kelawan ibunira, nanging meksa isih durung pinaringan turun. Kang mengkono mau rama rumaos ketjalan lari tumrap pamangkuning negara, jen ta tumeka kukuting angganingsun isih durung pinaringan putra. Ja sanadijan abot dikaja apa, djer kanggo kamuljaning putra wajah, mula ramanira ja ora kagungan pangresula, djer kuwi wus dadi kuwadjibane ramanira pribadi.
Apadene lelakone ibunira, dhek nalikane ingsun tinggal ana ing kedhaton, sakperlu andjaga keputren, lan isen-isening kraton kabeh, ing wusana marga saka pokale si Darmawangsa, ibunira djengkar lolos saka keputren, parane mangulon, perlu ngupaja anane si Handaja Pati, ja kuwi warangka dalem ing Madjapait, kang ing wektu semana lagi ingsun utus mbedah tanah Djawa Tengah, perlu jasa pelabuhan ing Semarang. Dene tindake ibunira kalunta-lunta, nusup-nusup angajam wana, munggah gunung medhun djurang, nganti tumeka ing lelengkehing gunung Lawu sisih wetan.
Mangertia ngger, merga saja anggone nusup-nusup mau ilang sipating prameswarining Naga Binathara, malah kaja wus ilang trap-susilaning wanodija kang andana warih, pada bae karo wong tjilik kang datan kambah ing wulang wuruk.
Kahanan kang mangkono mau kabeh disangga dening ibunira kanthi sabar nrima, sareh pikoleh, datan asesambat utawa angresula, kang ana mung emut, lan ateges ora lali marang kaluhuran lan emut jen ing djagad gumelar mono asipat owah miwah gingsir, malah penjungkeme tumrap Hijang Bagas Puruwa ditemeni, ora nglirwakake, rumaos ibunira, kaja wus utjul saka blengguning kanisthan. Sakbandjure ibunira tansah emut marang ingsun, ija ramaneki pribadi, kang lagi mesu brata kanggo keperluane negara lan kawula. Mulane sanadijan abot dikaja ngapa ibunira datan wigih nanggulangi rubedaning salira, djer kuwi kenaa kanggo panebusing putra wajah ing mbesuke.
Nanging bareng sire dhewe ngger, banget anggenira nglirwakake piwelingingsun, apadene piwelinge ibunira kang tansah nandhang papa tjintraka. Djebul tibame marang sira kosok balen banget. Dupeh sira wus darbe panguwasa, dupeh sira wus adarbe wenang tumrap negara lan kawula, ing wekasan mung anduweni sipat adigang, adigung adiguna, lali marang laku kautaman, ngumbar hardaning kamurkan, nggugu sakarepe dhewe, gampang kelu marang gebijaring djagad gumelar, suthik marang tetulung, adoh marang pamesu brata, ninggalake marang djedjering wong tuwa, apa rumangsanira dupeh wong atuwanira wus padha sirna. Ing satemah nampa pawelehing Hijang Sasangka Djati, sira ingatasing Nalendra Gung mung ditjamah dening garwanira tedhaking sudra. Rumangsanira wus kinadjenan lan kineringan dening sakpadha-pdha, lali jen kuwi mono kabeh mung dumunung ing alam kanisthan. Mula jen tjetha-tjetha sira wus ngrumangsani kabeh kaluputanira kanthi rasa kang djudjur, mara sawangen kae ing putjuking gunung. Wis ja ngger samene bae, adja kongsi sira lali maneh sekabehing piwelingingsun iki, jen pantjen sira kepengin muljakake turun-turunira kabeh nganti tumeka pungkasaning djaman.”
Sakrampungipun dhawuhipun ingkang rama, Djaka Lawung inggih Prabu Brawidjaja ingkang kaping kalih, sampun rumaos lenggah wonten ing putjuking redi Ardjuna madjeng mangaler. Nanging sanget andadosaken kedjoting penggalih, sareng mirsani sariranipun ageng inggil, asta dalasan ampejanipun sarwi ageng kebak rikma, kenakanipun pandjang-pandjang, rikma gimbal, djenggot miwah rawisipun pandjang. Persasat denawa (raseksa) ingkang anggegirisi. Rumaos ngagem agem-ageman sarwi pethak, kados pangagemaning para pandhita. Ing salebeting penggalih sanget lingsem dhateng Hijang Bagaskara, dene ingatasing putra Nalendra kok ladjeng saged mawujud denawa ingkang anggegirisi sanget.
Mekaten kala wau kawontenanipun Sang Prabu Brawidjaja, ingkang nembe tapa njingkiri papan keramenan, nanging kados-kados klentu marginipun, awit anggenipun gantos wewudjudanipun anggegirisi. Punika sedaja nelakaken, bilih satunggaling djanma ingkang nembe tumindak nilar dhateng kaluhuran, tansah ngumbar hardaning kamurkan, wusana ladjeng tebat dhateng Hijang Bagas Puruwa. Senadijan tata lahiripun sampun miwiti pamesu bratanipun, namung saking dajaning kamurkan ingkang babar pisan dereng uwal saking kuwandhanipun, ateges taksih kelet kumanthil, wusana saged mahanani wewudjudan ingkang anggegirisi kala wau.
Inggih mekaten punika tumindaking sebagian ageng para djanma manungsa, ingkang namung tansah ngumbar hardaning kanepson, pepenginan, angkara murka, gampil kapikut ing gebijaring djagad gumelar, ingkang mboten aseli, mboten sedjati, ingkang ateges sedaja kala wau palsu.
Pramila Djaka Lawung saja kentjeng anggenipun badhe nindakaken pamesu bratanipun, mboten badhe kundur jen dereng angsal wangsiting Hijang Sasangka Djati.
Katjarios sesampunipun Djaka Lawung radi dangu anggenipun mesu raga wonten ing putjuking redi Ardjuna, ing satunggaling wekdal, ing tengah dalu, nalika Djaka Lawung nembe nindakaken pakarjaning pasemeden, wusana mboten kanthi kanjana-njana lan mboten kagraita, wonten satunggaling peksi emprit mentjok ing bau kiwaning Djaka Lawung. Ing salebeting anggalih Djaka Lawung ngungun ketjampuran kaget, kok wonten kedadosan ingkang nganeh-anehi. Ingatasing peksi emprit ing wantji tengah dalu, kok mentjok ing pundhak kiwanipun. Punika genah sanes sabaenipun peksi, mesthi badhe wonten kedadosan-kedadosan ingkang elok. Ing salebeting tijas Djaka Lawung anggraita: “Iki kok ndadak ana kedadean aneh maneh, ingatase manuk emprit ing wajah bengi kathik tengah wengi sisan, wani mentjok ing bau kiwaku, iki genah ana apa-apa kaja dene pengalaman kang uwis-uwis”. Wusana pepuntening batos ladjeng kepengin ndangu dhateng pun emprit kala wau. Dhawuhipun mekaten: “E, emprit iki kok elek banget, ingatase kowe mung asipat manuk, kok wani mentjok ing bauku kang kiwa, kang sedjatine aku iki lagi nengah-nengahi pakarjaning pasemeden. Apa kowe ja bisa tata djanma, mara terangna kang tjetha”.
Peksi emprit: “E, kowe lali ngger karo aku, nanging ja wus sakmesthine, lha wong njatane aku saiki saling wewudjudan. Mangertia ngger, sedjatine aku iki rak ja wong ngatuwamu dhewe ta. Elinga dhek djaman kala samana, nalikane ibumu keplaju-plaju nganti tekan ing sakngisoring gunung Lawu kang kapara rada sisih lor, ing kono ibumu rak mampir ana ing sawidjining omahing mbok randha, kang aran mbok Saraagi ta. Dene djalarane ibumu nganti keplaju kuwi mung merga saka pokale si Darmawangsa. Mula ngger, kowe ngugua karo omongku, sedjatine kowe rak wus tak jasakake kedhaton kang gedhe banget ana ing tengah-tengahe Bengawan Brantas, ja kuwi nalikane kowe ngaso bijen kae. Aku mung andjaga murih kepenakmu ing tembe mburi, mula tak djaluk kanthi banget kowe inggala andjegur ing bengawan Brantas kana, mengko ndak papag. Perlune kowe bisa djumeneng Nata Binathara kang ing pungkasane bakal bisa andhepani djagad, dadi ratu kadjen keringan”.
Djaka Lawung: “Mengko ta dhisik, kuwi nalare keprije, ingatase kowe ki manuk, lha kok bisa tata djanma kathik ngaku wong tuwaku pisan, mara terangna kang tjetha”.
Emprit: “We lha, rupane kowe isih durung mudheng wae marang kandhaku, aku rak wis omong ta, jen aku iki sedjatine rak ja ibumu dhewe kang wus swargi, ja saiki iki aku awudjud emprit kang dadi jitmane ibumu. Mulane adja kesuwen mengko mundhak selak ora karu-karuan kedadeane. Wis ja, mung welingku bae inggal tindakna, andjegura ing tengahing bengawan Brantas, aku wus sumadija ing kana. Aku tak budhal andhisiki”.
Djaka Lawung: “Ija,, mengko inggal-inggal taklakonane.”.
Katjarios Prabu Brawidjaja I ingkang sampun swargi, sampun dumunung wonten ing Hasta Warana, papan ingkang wijar, omber lan bawera. Mboten kewran mirsani kawontenan ingkang mekaten kala wau. Djalaran priksa sedaja kawontenan ingkang sampun lan ingkang dereng kedadosan. Nering penggalih dereng saged negakaken dhateng ingkang putra. Pramila pandjenenganipun sanalika tumurun njelaki ingkang putra, kanthi paring sabda mekaten: “Ngger Djaka Lawung, teka kebangeten temen, durung sepira suwene ingsun paring dhawuh marang sira, poma di poma sing ngati-ati, djebul lagi kena omonge si emprit bae wis kelu, kepikut, tandha jekti jen sira durung mumpuni anggonira nindakake pamesu bratanira. Isih gampang ginodha dening sapa bae, kang ateges sira durung anduweni prajitna, ja kuwi durung nganggo wewaton PANTJA WEDHA. Mangertija ngger, jen sedjatine kang awudjud emprit iki mau dudu wong atuwamu, nanging kuwi jitmane si Djaja Katiwang. Elinga dhek nalikane sira isih djedjaka, dhemen ambebedhag, sira rak wus tau tate djemparing ajam wana kang wusana bisa kena, ing kono getihe si ajam wana nganti amber ambalabar, bisane sat marga sira dhewe kang nambak. Ing sakwise bandjur ana swara, ngaku jen sedjatine kuwi jitmane si Djaja Katiwang. Nganti sira ngojak-ojak tekan sakwetane bengawan Madijun. Mula ngger adja sira gampang utawa kelu marang gebjaring kahanan, kuwi mono mung wudjud pengitjuk-itjuk, supaja sira lena, ing wekasan badhar pamesunira. Wis ja ngger, sing ngati-ati, Rama bakal kundur.”
Sakontjating ramanipun saking panduluning pamesu bratanipun Djaka Lawung, ing wusana ladjeng gumregah wungu saking anggenipun mesu raga, ing salebeting tijas namung tansah angrumaosi, bilih tumindakipun taksih tansah dereng tumata, dereng titis, tandha jekti taksih gampil ginodha ing kawontenan sanes, ingkang sedajanipun namung badhe andjelemprengaken kemawon. Ingkang mekaten wau ing salebeting penggalih sanget matur nuwun dhateng ingkang rama dene kok tansah kadjangkung, kapirsanan, anggenipun tansah tumindak kirang leres wau. Ugi ngrumaosi bilih anggenipun talak brata dereng sampurna, lan kedah saja dipun prajitnani, sageda anggenipun mesu brata inggal katarimah ing Djawata, sarta sedaja kalepatanipun inggala saged kalebur sadaja. Ing wusana nering tjipta menawi sedaja sampun sami resik, wusana badhe djumeneng Nalendra Pandhita ingkang sidik ing kawruhing budhi.
Sesampunipun Djaka Lawung saja mantep, madhep anggenipun sumedija nindakaken pamesubratanipun, awit rumaos saja padhang, saja terwatja, saja gamblang lampahing kawontenan ing Djagad gumelar punika. Nering sedija mboten badhe keguh utawi kelu sarta kepintjut dhateng gebijaring kawontenan, sarta mboten balereng mirsani soroting Hijang Bagaskara, namung tansah kondjem ing bantala, sumungkem wonten ngersaning Hijang Bagas Puruwa, nindakaken sedaja dhawuhing rama ibu ingkang njata-njata tumudju dhateng kaluhuran djati. Wekasan sanget andadosaken kedjoting penggalih, dene sareng mirsani angganipun, pulih duk ing nguni, kados nalikanipun dereng wudjud denawa, inggih punika wudjud Djaka Lawung ingkang bagus ing rupi.
Ewahing rerupen kala wau mertandhani, bilih dajaning angkara murka ingkang tumumplek ing angganipun Djaka Lawung sampun sirna sedajanipun, ingkang wonten namung sutji, resik, padhang suminar, amargi sedija ingkang sampun kawetja wau. Inggih mekaten punika wohing lampah ingkang tumudju dhateng kaluhuran djati, mboten maelu dhateng kelahiran. Wudjuding satrija anggambaraken sipating kautaman, dene wudjuding denawa anggambaraken sipating Angkara Murka.
Mangkana ta wau, bawane Nalendra kang sampun gentur tapane, mahanani tjahja gumebjar ing saknginggiling redi Ardjuna, lir soroting Hijang Tjandra ingkang badhe midjil saking lengkehing bawana. Sumilak sumamburat ngebaki dirgantara. Kathah ingkang samia arerepen, kathah ingkang samia amemuhun, mratjihnani wonten ndaru ingkang lumengser saking gedhong kaendran, andhawahi redi Ardjuna. Gotheking ngakathah sami suka-suka pari suka, bilih badhe wonten Pandhita Nalendra, ingkang badhe adamel kuntjarining negari miwah kawula.
Tjahja saja dangu saja katingal sirna, wekasan sirna babar pisan.
Sinten ta ingkang nampi pulunging pandhita ?
Sak sirnaning tjahja, ingkang lagija teteki ing putjuking arga Ardjuna, inggih Prabu Brawidjaja kaping II ugi peparab Djaka Lawung, karawuhan satunggaling begawan ingkang sampun ketingal sepuh, ketingal mesem gumudjeng, sedaja polahipun tansah adamel renaning sanes. Glomah-glameh pangandikanipun, nanging mranani, mertandhani begawan ingkang pantjen sampun kawisudha bontos ing kawruh budhi menggah ngelmu dalasan lakunipun. Ing wusana begawan sepuh ladjeng ngendika : “Ngger Djaka Lawung, ingsun rawuh ngger, mara prajogakna lenggahira, adja sira kleru ing panampa lan uga sira adja kagungan raos adjrih, ingsun mene ja Ejangira dhewe djare. Kira-kira sira lali marang ingsun, awit ja mangkene kuwi kahanan ing donja, bisane mung tansah gawe lali, nanging arang-arang bisa gawe eling. Mula rawuhingsun iki kepengin gawe eling marang sira. Mangertia ngger jen ingsun iki sedjatine ja Hijang Bagas Puruwa kang bakal paring wangsit marang djeneng sira, kang lagija teteki sak perlu njuwun ngapura sekabehing kaluputanira. Miturut tata lahir kaja-kaja ora tinemu ing akal jen ta ingsun ing wektu dina samengko bisa wawan sabda kelawan djeneng sira. Mangertia ngger, kedjaba ingsun iki ja Hijang Bagas Puruwa, nanging ja emuta, nalikane sira isih ana ing sakdjeroning kandhungane ibunira, ingsun ja wus ana ing kono ngger, adjedjuluk Begawan Manik Sidhi, mula ingsun iki ja kena diarani Begawan Manik Sidhi.
Elinga nalika isih djumeneng ana ing sadjeroning kandhungan, sira wikan, waskitha, witjaksana, djalaran durung ketaman ing kahanan kelahiran, ja kahanan kang tansah gawe lalinira wau. Sira wis bisa mangerteni marang sekabehing kahanan kang sira lakoni ing mbesuke, lan sira ja wus mangerteni asal mulanira kabeh, nanging bareng sira wus mijos saka guwa garbane ibunira, bandjur salin slaga, awit anggonira mojos mau metu sawidjining marga kang ala dinulu, ja kuwi kang aran Marga Sara Ina. Bareng sira wus wiwit lelumban ing madijaning djagad gumelar, apa maneh marang asalira, marang marganira kang lagi diliwati bae wis kesupen kabeh. Mula ngger, poma dipoma tansah elinga marang mula bukanira, marganira lan sakpanunggale, kanggo gegondhelan aja sira kongsi gampang ketaman bebendune ejangira dhewe, ja kuwi ingsun iki, djalaran babar pisan sira nglalekake, dadi kang tjetha sakiki ja ngger, jen ingsun iki sedjatine ja djeneng sira pribadi nalikane sira isih lenggah ing madijaning kesutjen, ja alam purwaka. Tjethane jen ingsun iki ja sira, ateges ingsun sumimpen ana ing sira, ateges ingsun sumingid ana ing sira, ateges ingsun njamadi marang sira, ateges ingsun nguripi marang sira, ateges ingsun kang agawe kekuatan marang sira, lan ateges pribadiningsun, ja pribadinira.
Mula saka kuwi ngger, elinga sira marang ingsun, uga ingsun tansah makarti tumrap sira. Jen sira lali, ateges datan maelu marang ingsun, ingsun mesthi bae ora saged tumindak, djalaran katutup dening pakartining kuwadhaganira. Dene kuwadhaganira dipandhegani si Lokaprana, ja kuwi kang tansah ngaling-ngalingi sira, jen ta sira kepengin emut marang ingsun. Kang mangkono mau jen sira wus widjang-widjang panampanira, kaja samubarang lir wus ora bakal tumpang suh ja senadijan ngenani djagad gumelar apadene ngenani bawana setranira dhewe, kanggo saiki ja kanggo ing mbesuke, jen sira wus tumeka ing djandji bisaa bali, kaja dene Tapaking Garuda Jeksa kang sinamber gelap, sirna sakpandurat lir katijup ing maruta sakethi.. Semene dhisik ngger, poma tansah EMUT.”
Djaka Lawung: “Kandjeng Ejang Begawan, sareng ingkang wajah nampi wedjangan sawatawis saking pandjenenganipun Ejang, kados siniram toja gesang raosing manah, kenging kawastanan, kalis saking sedaja rubeda. Pramila namung sagung pangaksami ingkang tansah kula suwun, kersaa Ejang paring sih kawelasan dhateng djasat kula, ingkang namung tansah katutup ing warananing gumelar, nilar dhawuhing rama ibu. Punapa dene sareng Ejang andhawuhaken, bilih inggih Ejang punika djasat kula, nalika kula taksih wonten ing guwa garbaning ibu, nindakaken tapa, kenging kawastanan mboten tumama ing bentjana, mboten ketaman gebijaring kelahiran ing wusana sareng kula midjil saking wewengkoning ibu ing wekasan kula tumindak mboten sakmesthinipun, ingkang ateges namung tansah ngumbar ubaling pantjadrija, kesupen dhateng duk asal kula, lan dhateng pundi purug kula ing bendjingipun.”
Begawan Manik Sidhi: “Wis ora maido ngger, apa maneh sira kang pantjen durung titi wantji ngawruhi sedjatining kahanan, ja kahanan ing nalika semana apa dene kahanan ing mbesuke, selagine para djanma kang ngrumangsani wus bontos mungguh ing kawruh sangkan paraning dumadi bae isih akeh kang padha nglenggana, amarga pantjen durung pinareng lan antuk wangsiting Hijang Sasangka Djati. Maknane ja saka pepadange dhewe kang ateges pribadi, ja kang den arani gurunira sedjati. Ja amarga saka kahanan kang mangkono mau ingsun kepara wani rawuh andhisiki ana ngersanira, djer kabeh mau wus katata, katiti lan ora ana barang kang luput saka sedijane, sakuger kabeh ditindakake kanthi temen-temen lan djudjur. Mula saka kuwi ngger, pamundhutingsun, adja sira gampang mitajani marang rembuge sapa bae, kang nyata-nyata durung bisa minangkani, apa ta sedjatine kang diarani Guru Sedjati kuwi. Mangka ing wektu dina saiki, kaja sira wus bisa wawan sabda karo Guru Sedjati, ora lija ja ingsun pribadi iki, ateges ja pribadinira dhewe. Kanggo kagambarake dhek nalikane sira isih djumeneng ing sadjeroning guwa garbaning ibunira.”
Djaka Lawung: “Saja padhang raosing manah kula Ejang sareng tampi dhawuh punika wau. Kepareng ingkang wajah ladjeng njuwun priksa kados pundi ing saknjataning gumelar punika, lan kados pundi tumrap ing wekdal sakpunika, punapa inggih namung kedah mekaten kemawon, ingatasing kula punika anggadhahi kuwadjiban mengku negari dalasan sak-isinipun, ingkang ing wekdal sapunika kula pasrahaken dhateng dimas Minak Pijungan. Awit saksirnaning rama ibu ingkang sampun swargi, paring piweling, menawi bendjingipun negari Madjapait punika badhe angalami kawontenan ingkang sakelangkung awrat sanggenipun, ingkang wosipun supados kula waspada sedaja tindak tanduk kula.”
Begawan Manik Sidhi: “Ngger, bener banget pitakenira iku. Mula ngger sedjatine dhek nalikane sira isih djumeneng ana ing guwa garbaning ibunira, kabeh mau wus kawetja, tandha jektine ingsun ing wektu dina iki bisa anggelar sakabehing kahananira dhek samana, wong sedjatine sira ing kala samana ja ingsun iki, dadi kabeh iki wus katata lan katiti, marga saka kawitjaksanira ing dhek djaman kala sama, ja ateges kawitjaksananingsun ing sak-iki iki. Bab pangembataning pradja sedjatine ora kepareng sira aturake tumrap marang ingsun, djalaran tundone bandjur tumudju marang gebijaring kelahiran. Ewa semono jen pantjen temen-temen kabeh iku mau ora mung kanggo keperluanira dhewe, kaja dhek nalikane sira isih ngasta pusaraning pradja, Ejang ija mrajogakake. Mangertia ngger, anggenira nindakake tapa brata seprana-seprene kae kudu katudjokake marang kabeh para kawula, utawa ing besuk jen wus tumeka redjaning djaman. Mula saka kuwi ngger piwelingingsun, sakpungkuringsun iki mengko, sira kepareng nilar putjuking gunung Ardjuna kene, lan andjudjuga ing sadjeroning dhatulaja Madjapait, nemonana adinira si Minak Pijungan. Sira wadjib mendha-mendha kaja wong miskin kang panggaweane mung andjedjaluk. Ing wusana kanggo mangerteni lan andjadjagi sepira saktemene penggalihe adinira lan keprije pangrengkuhe. Jen pantjen adinira apik tengkepe lan pangrengkuhe marang sira lan mangerteni sedjatine sira kuwi sapa, wusana bandjur mundhuta pamit, dene bab ruwet rentenging negara tetep pasrahna marang adinira. Nanging jen pangrengkuh kuwi mau nganggo tjara kang deksura, dakwenang utawa munasika, kersaa sira bandjur gawe ontran-ontran. Mundhuta siti sak-gegem, bandjur sabdanen dadi kentjana. Ing kono sira bandjur njenjuwun marang Hijang Bagas Puruwa, supaja pengagem tjara Nelendra, kaja nalikane sira djumeneng bijen. Jen Minak Pijungan wus ngrumangsani kaluputane, negara apa dene isen-isene kabeh pasrahna, nanging mawa perdjandjen, adja kongsi negara kapasrahake marang putrane Minak Pijungan, awit putrane Minak Pijungan ora anduweni wenang mangku negara Madjapait, dene kang wenang ja putranira dhewe. Bab srah-srahaning pradja ngenteni jen putranira wus midjil saka garwanira padmi.”
Djaka Lawung: “Nalaripun kados pundi Ejang, djalaran ngantos wekdal sapunika ingkang wajah dereng anggadhahi garwa utami padmi.”
Begawan Manik Sidhi: “Ngene ngger, jen sira wus masrahake negara marang adinira, sira kudu djengkar saka kedhaton, lakunira ngidul terus mangulan bener. Jen sira wus tumeka ing sakwetane gunung Lawu, ing kono sira bakal mirsani ana sela gedhe nanging rata, lan ing kono ana tjarakan Djawa, tinggalane Ejangira dhewe kang aran Begawan utawa Empu Galihan. Ja marga anggonira bisa matja tjaraka mau, ateges sira wus mangerteni marang asal mulanira apa dene marang paranira. Sakwise sira bandjur djumeneng ana ing sak tjedhaking sela kono, dadi Pandhita Nalendra adjedjuluk Begawan Dwiasmara. Tetekia kongsi djangkep sapta warsa lan adja sira kundur jen durung pepanggihan karo Pandhita Wanodija kang asma Resi Trembini. Ja Resi Trembini kuwi kang bakal dadi garwanira. Dene asma kang saktemene ja kuwi Dewi Lawung Wati Sri Wardani. Ja ing kono sira bakal kagungan putra kakung gumanti keprabon Madjapait, kang aran Raden Prijangga Lawung. Dene Dewi Lawungwati Sri Wardani kuwi putri saka negara Djenggala kang kebhedhah dening Djaja Katiwang dhek djaman kala samana. Nanging mangertija jen Dewi Lawungwati Sriwardani kuwi juswane kira-kira ja wus sepuh, nanging ja ing kono si Prijangga Lawung bakal mretapa, tjalon djumeneng nata Madjapait Prabu Hajam Wuruk, ja Prabu Brawidjaja Kalamurti Tjakrabuwana kang kaping IV.”
Djaka Lawung: “Sesampunipun mekaten ladjeng kados pundi Ejang, punapa ingkang wajah tetep wonten pertapan ?”
Begawan Manik Sidhi: “We lha ora ngger, sira lan garwanira kudu wani tumindak kaja dene kawula tjilik, idhep-idhep mirsani keprije sedjatine kahanan negara kuwi, sira kudu laku tetanen, ngupakara tanem tuwuh, utawa kasile bandjur diedol menjang negara. Anggone ngedol ana ing sadjerone pasar, ja garwanira sing nggendhong, lha sira dewe sing njunggi, sarta ana ing dalemira kudu tlaten ngopeni sato iwen, upamane pitik, bebek, menthog lan lija-lijane. Dadi tjekak tjukupe kudu bisa urip kaja dene wong tani kae. Ing kono babar pisan sira ora kepareng ngatonanke jen sira mono sedjatine Nalendra. Jen ing wajah bengi sing wadjib mulang-muruk bab tjarakan Djawa marang sapa bae, utawa kabeh ija uga bab kawruh sangkan paraning dumadi. Djer mengko kena kanggo pantjadan sira djumeneng nalendra kang witjaksana ambek adil paramarta, asih ing sesamaning dumadi. Bisa angrasakake keprije dadi kawula kuwi, dadi ora mung waton paring dhawuh thok bae.”
Saka panuwune Ejang, sira adhedhukuh ing pedhukuhan kang diarani Madjalangu, kang ora adoh saka Talok Langu, ja kuwi ngger sedjatine kang aran Negara Madjapait, asal saka padhukuhan kang sira dunungi mau. Dene madja ateges manunggaling djagad, pait tegese paekaning tumitah kang tjidra. Dadi ing mbesuke Negaranira bakal rusak marga saka pokale turunira dhewe, nanging ing titi mangsa kala bakal mudjudake Negara kang bisa agawe manunggaling djagad, kaloka kadjana prija, kondhang ing Bawana mantja. Ja ing kono negaranira bakal dadi negara gedhe kang katelu lan anduweni tjahja kang sumorot madhanigi ngawijat.
Ing sakwise mamgkono sira kudu wani nandur empon-empon tolaking wong sak Negara, dene papan kang betjik ing tlatah wetan, ja kuwi ing sakwetane Semeru. Ing kana sira bakal kagungan garwa ampejan asma Dewi Wiraksini Prabawulan.
Wus samene bae ngger piwelingingsun, lan inggal ajatana adja kongsi katalompen, lan sakpungkuringsun terus tindaka mlebu marang dhatulaja.”
Djaka Lawung: “Sanget kapundhi dhawuh pengandikanipun Ejang lan ingkang wajah namung tansah njuwun tambahing pangestu, pinaringan kijat lan emut, sarta mboten badhe tumpang suh anggen kula nindakaken”.
Sakpandurat Begawan Manik Sidhi sampun mboten katingal ing pandulu, mlebet ing madijaning Guwalajanipun Djaka Lawung. Saja adamel teguh sedijaning Djaka Lawung anggenipun badhe nindhakaken pakarjan utami kalawau.
Wekasan Djaka Lawung ugi mandhap saking petapan redi Ardjuna, terus ngener dhateng kedhaton negari Madjapait, Kanthi mengagem ingkang sarwa rompang-ramping, tumindak kados dene tijang ngemis, terus mandjing ing salebeting dhatulaja. Kaleresan Sang Nalendra inggih Minak Pijungan pinudju lenggah ingadhep andher para abdi dalem seba tjaos, ngendikan bab anggenipun ngasta pusaraning pradja. Ketingal rena ing penggalih, katandha anggenipun ngendika kinanthenan gudjeng ingkang renjah, adamel renaning para ingkang sami seba tjaos.
Dereng dangu anggenipun sami imbal watjana, katungka sowanipun abdi dalem djagi, ngaturi uninga bilih ing srambining dhatulaja wonten satunggaling tijang ngemis ingkang kepengin mundjuk atur ing ngersaning nata. Sang Nalendra marengaken supados tijang ngemis wau sowan ing ngarsa nata. Sareng sampun katingal sowan, sanget andadosaken dukaning ingkang Sinuhun, teka wudjudipun tijang ngemis kemawon udjug-udjug wantun lenggah ing kursi andjadjari ingkang Sinuhun. Sang Nata ladjeng utusan abdidalem supados tijang ngemis kalarak medal pinaringan pidana sakmurwatipun. Nanging sareng tijang ngemis badhe kalarak ladjeng njirnani, ing wusana adamel ontran-ontan, mundhut siti sakgegem, pinudja dados kentjana. Wusana Sang Prabu kepareng nimbali tijang ngemis wau, sanget kedjotipun malih, bilih sirna wudjuding tijang ngemis, nanging gantos wudjud ingkang raka, inggih Sang Prabu Brawidjaja kaping II, ngagem busana kanalendran.
Dhawuhipun Sang Prabu (Brawidjaja II): “Jaji Prabu, durung sapira lawase sira ngasta pusaraning pradja djumeneng nata wus tumindak sija marang sakpadha-padhaning tumitah. Ja kebeneran iku kang mandjilma djenengingsun pribadi, upamane wong ngemis temenan, kira-kira ja sira patrapi paukuman, senadijan wong ngemis iku tanpa dosa lan perkara, mung marga saka wani lungguh kursi djadjar sira. Kang mengkono mau jaji, andadekna ing pangeling-elingira ing salawas-lawase”.
Minak Pijungan: “Dhuh kakangmas, pantjen ingkang raji kirang waspada, mertandhani bilih ingkang raji dereng saged djumeneng nata gung binathara, ingkang mekaten kala wau prajoginipun sedaja panguwaosing ratu kula kunduraken ing ngersa paduka kakangmas. Dene sedaja kalepatanipun ingkang raji,kersaa paring gunging pangaksami”.
Sang Prabu: “Wus ora dadi ngapa jaji, jen tumindakingsun iku sedjatine kanggo andjadjagi penggalihira, wus kuwat apa durung djumeneng Nalendra, nanging sepisan iki ora dadi baja pengapaa, muga-muga ing sateruse adja kongsi sira ambaleni maneh tumindak kang keleru mau. Dene bab pradja tetap ingsun pasrahake marang sira. Nanging poma dipoma, adja kongsi dipasrahake sapa bae jen ingsun durung kundur, djalaran mangertia jaji, jen kang andarbeni wenang nglengser keprabon ing mbesuke dudu saka turasira, nanging midjil saka turasingsun”.
Minak Pijungan: “Nuwun dhawuh sendika kakangmas. Sedaja badhe kula estokaken, ladjeng kakangmas badhe ngersakaken djengkar negari malih punika nalaripun kados pundi, sarta tindakipun dhateng pundi utawi pinten warsa dangunipun ?”.
Sang Prabu: “Bab djengkaringsun sira ora perlu mangerteni, kabeh mau dadi reregemaningsun. Wus jaji, karia slamet basuki tumeka ing besuke”.
Sang Prabu Brawidjaja kaping II inggih Djaka Lawung kanthi mengagem tjara limrah terus ontjat saking dhatulaja, tindakipun ngener redi Lawu ingkang sisih wetan.
mboten Katjarios tindakipun ing samadijaning marga Djaka Lawung andhedherek dhawuhipun Begawan Manik Sidhi, terus andjedjak ing papan ingkang sampun kapratelakaken dening Begawan Manik Sidhi kasebat, inggih punika njata wonten ing lelengkehing redi Lawu ingkang sisih wetan, katingal sela ageng wradin. Inggal-inggal Djaka Lawung minggah dhateng sela kala wau, sareng sampun dumugi ing nginggil, pranjata wonten seratanipun Djawa Kina, inggih punika ingkang sinebat Tjarakan Djawa.
Djaka Lawung sakelangkung ngunguning penggalih mirsani tjarakan Djawa kala wau kalijan ngumandika, iki bandjur keprije tjarane aku bisa matja. mboten dangu Begawan Manik Sidhi sampun katingal rawuh ing ngersaning sinatrija, ladjeng paring pitedah bab pemaosing tjarakan Djawa wau, dhawuhira: “Ngger Djaka Lawung, tumungkula ngger, lan rungokna dhawuhingsun tumrap pematjaning tjarakan iki:
“Hingsun Nitahake Tjahja Rasa Karsa”
“Dumadi Titising Sarira Wandija Laksana”
“Pantya Dhawuhing Djagad Jekti Ngawidji”
“Marmane Gantya Binuka Thukul ing Ngakasa”
Kuwi ngono anggambarake kahanan ingsun apadene sira dhek djaman kala samana, sakdurunge mawudjud kaja ngene ini. Mungguh keterangane mangkene:
Hingsun kuwi katjekak Ha, tegese ana, wudjud, wiwitan, ja kuwi kang den sebut Hijang Bagas Puruwa, lenggahe ana ing alam Puruwa, ya alam Wasana, kena diarani Sirna nanging Neka, utawa datan kena kinaja ngapa.
Nitahake, jen katjekak Na tegese, ndhawuhake, njabda, nganakake, andjumenengake, mudjudake. Dadi Hijang Bagas Puruwa wus andhawuhake.
Tjahja, jen katjekak Tja tegese, Sorot, pepadhang, sunar kang tanpa wewajangan. Ja kuwi tjahjaning Hijang Bagas Puruwa pribadi.
Rasa, jen katjekak Ra tegese, ja rasane Hijang Bagas Puruwa pribadi kang wus kadhawuhake utawa katitahake.
Karsa, jen katjekak Ka tegese karep, ja karepe (karsane) Hijang Bagas Puruwa dhewe (pribadi).
Dadi: HA, NA, TJA, RA, KA, tegese, Hijang Bagas Puruwa wus aparing dhawuh marang tjahja, rasa lan karsane pribadi, kang supaja tumitis utawa tumurun, tegese turun saka pribadine Hijang Bagas Puruwa dhewe. Dene Hijang Bagas Puruwa kuwi kena diarani Sang Hijang Huna, tegese Swara, Pangandika kang tanpa lesan. Dene lesan ing kene ateges piranti. Bandjur sakteruse :
Dumadi, jen katjekak Da,tegese wis dadi, mawudjud, gatra wis ana, nanging wudjud utawa gatra kang isih samar. Tegese ora bisa dipirsani nganggo pirantining pantjadrija.
Titising, jen ditjekak Ta, tegese tetesing sabda, dhawuh, pangadika mau.
Sarira, jen ditjekak Sa, tegese Sarining Rasa, ja rasane Hijang Bagas Puruwa kasebut.
Wandija, jen katjekak Wa, tegesa wahana kang winadi, utawa wola-wali (ora mung sepisan), dadi wahana kang winadi kuwi sedjatine ja kang diarani ora mung sepisan kuwi.
Laksana, jen katjekak La, tegese tumindak utawa ditindakake, lumaris, lumaku, makarti. Ja marga pakarti, tumindak lan laku mau, bandjur bisa mawudjud wela-wela.
Dadi: DA, TA, SA, WA, LA, tegese Ana Tetesing Rasa Kang Wola-Wali Pakartine, tjetha jen kabeh kuwi ora mung sepisan gawe, kang ateges marambah-rambah nganti kena diarani datan ana pedhote, utawa langgeng, tetep, adjeg, kaja dene getere djedjantungira.
Pantya, jen katjekak Pa, tegese papan, wadhah, panggonan, bolongan, guwa, utawi sipat.
Dhawuhing, jen katjekak Dha, tegese perintahe, pakone, kongkonane, utusane.
Djagad, jen katjekak Dja, tegese djagad, bumi, bawana, kelaswara, tijambita, wewengkon, ringkese diarani panguwasa.
Jekti, jen katjekak Ja, tegese sajekti, sedjati, temenan, ora goroh, sampurna, pepak, djangkep ora kurang.
Ngawidji, jen katjekak Nga, tegese manunggal, kumpul, ora pisah, samad sinamadan, limput linimputan.
Dadi: PA, DHA, DJA, JA, NJA, anduweni teges: Wadhah Kanggo Papane Dhawuh Kang Wus Manunggal Kalawan Bumi, tegese wadhah lan isine ora bisa pisah, utawa sing andhawuhi lan sing diparingi dhawuh wus njawidji (manunggal).
Marmane, jen katjekak Ma, tegese mulane, sanjatane, akibate, kedadeane.
Gantya, jen katjekak Ga, tegese ganti, berobah, ewah sipate, owah wewudjudane, owah kahanane.
Binuka, jen katjekak Ba, tegese kabukak, menga, diweruhi, kaweruhan, katon, mangerti, karasa, kasat ing mata.
Thukul ing, jen katjekak Tha, tegese wutuh, semi, modot, berobah saka asale, pindhah saka papane.
Ngakasa, jen katjekak Nga, tegese ngawijat, dirgantara, awang-awang, ndhuwur, ngantariksa.
Dadi: MA, GA, BA, THA, NGA anduweni teges: Mulane Bandjur Owah Wewudjudane lan Bandjur Thukul Ing Awang-awang, tegese ana nanging durung kasat mata, ja pirantine si pantjadrija.
Semene ngger, luhuring tilarane ejangira dhewe ja Empu Galihan, anggone paring tetilaran marang putra wajahe, kedjaba bakal kena kanggo sesambungane pangandikan tumrap sidji lan sidjine, djebul ngemu surasa nalika sira isih ana ing djaman ketentreman, ja djaman kang wiwitan. Kawruh iku mau sedjatine durung tutug, djalaran kedjaba ana aksara Djawa, uga ana sandhangan, tegese sakwise sira bleger awudjud kaja saiki iki bisa njandhang, ngrasakake. Dadi sandhangan dudu panggango, nanging Rasane. Tjatjahe sandhangan iku mau ana 12 idji, dene aksarane ana 20, mulane aksara Djawa iku kabeh ana 32. Telu ateges asalira, rasaning bapa, rasaning bijung lan titising Hijang Djagad Pratingkah, dene loro kuwi tegese wadhah lan isine.
Kawruh kang kaja mangkene iki sebarna marang kabeh para kawula, kareben padha mangerti marang asale dhewe-dhewe,
kang ateges ora gampang ngumbar hardaning kamurkan. Kaja wus tjukup samene ngger piwelingingsun bab tilarane ejangira Empu Galihan, wus ngger karia basuki”.
Saknalika Begawan Manik Sidhi enja saking pandulu, dene Djaka Lawung saja mantep, madhep lan rumaos rena sanget panggalihipun, dene wonten kedadosan ingkang saged maringi pepadhang ngantos dumugi sakputra wajahipun sedaja bendjing ugi badhe sanget mangertosi, ingkang ateges mboten itjal larinipun.
Pamesubratanipun kaladjengaken terus ngantos pinten-pinten warsa. Ing ngriku Djaka Lawung djumeneng Pandhita Nalendra, adjedjuluk Pandhita Dwiasmara, ugi Pandhita Katong.
mboten karontje kawontenanipun Sang Pandhita, anudju ing satunggaling dinten, Sang Pandhita lenggah ing srambining Sanggar Palanggatan, ingadhep sedaja para tjantrik, ingkang karembag inggih namun tambahing kawruh budhi, ingkang tumudju dhateng kaluhuran djati. Dereng dangu anggenipun sami asung pangandika, katungka aturipun tjantrik, bilih ing ndjawi wonten satunggaling wanodija ingkang kepengin sowan ing ngarsa resi. Sang Pandhita ugi ladjeng marengaken.
Sesampuning wanodija sowan, Sang Pandhita mundhut priksa: “Sampejan saking pundi mbakju, dene nami sampejan sinten, kok keraja-raja tekan padhepokan ngriki, napa baja wonten perlu.”
Wanodija: “Inggih Sang Pandhita, kula punika asal saking negari Djenggala, ladjeng kepladjeng nalika negari Djenggala binedhah dening Ratu Angkara, ingkang nama Prabu Djaja Katiwang. Sampun dangu anggen kula ngumbara kalunta-lunta, perlu ngangsu kawruh Kejaten, inggih kawruh kasunjatan. Ing wusana salebeting kula ngumbara tanpa prana, mireng rawat-rawat bakul sinambi wara, bilih ing ngriki wonten pandhita kang sidik, asma Pandhita Dwiasmara, punapa inggih pandjenengan Sang Pandhita ? Dene peparab Kula Resi Lawung Wati, nami kula pijambak Lawung Wati Sri Wardani, putra ratu ing Djenggala duk samanten.”
Sareng Sang Pandhita mireng aturipun wanodija kala wau, saknalika emut dhateng dhawuhing Begawan Manik Sidhi, menawi wanodija punika njata-njata tjalon garwanipun, pramila mboten saranta Sang Pandhita ladjeng aparing dhawuh kanthi trang terwatja: “Diadjeng, kaja wus tumeka ing titi wantji, jen sira bakal dadi tetimbanganingsun. Awit Hijang Bagas Puruwa wus paring uninga marang djeneng ingsun, jen sedjatine ja sira kuwi kang pantes ingsun garwa kinarja sarana margane ingsun adarbe turun tjalon gumanti keprabon ing negara Madjapait. Mula dhiadjeng, adja kongsi sira andarbeni pangira-ira kang ora bener, awit kabeh mau kaja wus kinarsakake mring Djawata, dadi jen pantjen sira kepengin njuwita ing padhepokan kene, kaja ja wus prajoga banget, malah sakwise iki sira bakal ingsun bojong tindak anjedhaki pradja, sakperlu mirsani kahananing negara, awit negara ing wektu dina samengko ingsun pasrahake marang adhiningsun si Minak Pijungan. Ing kana ingsun bakal andjudjug ing padhepokan Madjalangu lan ingsun wadjib agawe karang kitri, laku tetanen, sira mengkono uga dhiadjeng.”
Wanodija: “Dhuh sang Pandhita, sanget andadosaken ngradatosing manah kula sareng nampi dhawuh pandjenengan ingkang kados mekaten punika. mboten kanjana-njana menawi kula badhe kedhawahan pulung ingkang tanpa upami agengipun, bebasan lumpuh kang saged lumaris. Sang pandhita, menawi pantjen Sang Pandhita sudi dhateng djasat kula, badhe anggarwa dhateng kula, punapa mboten getun ing pawingkingipun, awit Sang Pandhita katingal taksih mudha, ing mangka kula sampun sepuh kados mekaten wudjudipun, Sang Pandhita. Punapa malih sareng kula mireng, bilih Sang Pandhita punika Nalendra ing Madjapait, punapa inggih pantes menawi kula angrenggani keputren, kinarja garwa prameswari.”
Sang Pandhita: “Wis ta dhiadjeng adja sira kakehan ing pangudasmara, djer kabeh kuwi wus kinarsakake ing Djawata, dadi ingsun apadene sira mung kari nindakake.”
mboten katjarios Sang Pandhita kalijan Dewi Lawung Wati Sriwardani sampun sami sih-sinisihan, lir saklimrahing djanma, ing wusana sang Dewi sampun katingal anggarbini timur.
Ing salebeting anggarbini kala wau, Sang Dewi sanget anggenipun kagungan pepinginan dhahar ulam ajam sawung, ingkang ulesipun wiring kuning tjampur wido djengger lan sukunipun pethak memplak. Panuwunipun dhateng ingkang garwa mboten kenging kaampah, kumetjer ngiler. Sang Pandhita mboten kirang weweka, sedaja panjuwunipun ingkang garwa inggal kaupadi, wekasan pikantuk satunggiling sawung tjeples ingkang dados panjuwunipun ingkang garwa.
Sawung ladjeng kapragat, ulamipun kadhahar sedaja kanthi nikmating raos.
Inggih sawung punika sedjatosipun ingkang badhe djumeneng wonten ing guwa garbaning Sang Dewi, ingkang ing tembe badhe mijos kakung tjalon gumantos Kepraboning negari Madjapait, adjedjuluk Raden Prijangga Lawung.
Sang Pandhita ingkang tansah emut dhateng dhawuhing Begawan Manik Sidhi, sesampuning ingkang garwa anggarbini sawatawis tjandra, ladjeng kabojong dhateng padhepokan ing Madja Langu ing satjelakipun Negari Talek Langu, ing sisih ler kilenipun. Wonten ing padhepokan ngriku, Sang Pandhita inggal mbangun teki, jasa dalem sakmurwatipun, nindakaken tetanen, nginguh sato iwen, ingkang wosipun sedaja wau sami tumut amiturut dhawuhing Begawan Manik Sidhi.
mboten katjarios Sang Dewi sampun ambabaraken putra kakung, bagus ing warni, kimplah-kimplah pindha tojaning tlaga Arga Sonja. Djabang baji senadijan saweg juswa 2 warsa, namung sampun katingal pamering ngaluhur, pantjen inggih trahing kesuma dhasar tedhaking mara tapa.
Sang Bagus pinaringan asma Raden Prijangga Lawung. Kotjapa sareng Raden Prijangga Lawung sampun djangkep juswa 17 warsa, saja tjetha pamoripun, gumebijar mentjorong, mertandhani tjalon Nalendra Binathara. Remenipun namung tansah ulah kridaning dedamel, tetes, merak ati, ngabekti dhateng rama ibu, lembah manah, nanging kendel, datan adjrih dhateng punapa kemawon. Landheping panggraitanipun ngedab-edabi, persasat pirsa dhateng sedaja kawontenan, senadijan dereng winarah nanging dipun tresnani dhateng kantja-kantjanipun ing kiwa tengening padhepokan ngriku. Remen weweh dhateng sesami, asih lan andhap asor, ngertos dhateng susila, mboten ngluhur-ngluhuraken, tindakipun sami kemawon kalijan lare padhusunan, persasat mboten mantra-mantra menawi punika sedjatosipun putraning Nalendra.
Ing wantji senggang ingkang rama kepareng nimbali ingkang putra, dhawuhipun: “Ngger Prijangga Lawung, sira ingsun paringi pirsa ngger, nanging adja kaget atinira, lan bandjur adja kegedhen ing rumangsa. Mengkene ngger, sedjatine wong atuwanira iku ja ingsun iki dudu kawula tani kang mengkene iki. Ingsun sedjatine Nalendra Madjapait. Kala samana nalika rama isih djumeneng, akeh banget penggodhane. Mula rama bandjur kepengin gesang kaja dene kawula ing nganti seprene. Dene negara ingsun pasrahake marang pamanira dhewe, ja kuwi si Pangeran Anom Minak Pijungan lan sakiki djumeneng Nalendra adjedjuluk Prabu Brawidjaja Kalamurti Tjakra Buwana kang kaping III. Dene ingsun wus paring dhawuh marang pamanira, adja kongsi negara dipasrahake marang sapa bae, jen ingsun durung kundur ngedhaton. Ing wusana wektu dina samengko kaja wus tumeka titi wantji ingsun andjabel panguwasane Minak Pijungan, djalaran ingsun wus rumangsa kagungan putra kang wenang nglenggahi dhamparing keprabon, ja kuwi sira ngger. Jen ingsun waspadakake, kaja sira wus andungkap diwasa, kaja wus pantes jen ta ngrenggani negara Madjapait. Mangertia ngger, sedjatine ibunira iku putri saka Djenggala, dadi wus pantes jen djumeneng prameswarining Nata. Mula sira ja wus wenang banget nglintir keprabon. Mula saka kuwi ngger, poma dipoma tansah sumungkema ing ejangira kang wus swargi, kang bakal andjangkung pangastanira djumeneng Nata ing pradja Madjapait.”
Raden Prijangga Lawung: “Kandjeng Rama sesembahan kula, sanget ing pamundhi dhawuhipun rama, ingkang putra namung andhedherek sedaja dhawuh, mboten badhe ambadal kersa. Sedaja namung tansah sumarah ing ngarsa rama dalasan ibu, ingkang kula bekteni lahir trusing batos, inggih wakiling Hijang Bagas Puruwa.”
Sang Pandhita lega sanget ing penggalihipun, dene ingkang putra tansah andherek dhawuning rama.
Sang Pandhita paring dhawuh malih: “Nanging mangertia ngger, jen djumenengira dadi nalendra kuwi kudu ngenteni jen sira wus juswa 25 warsa, dadi kurang 8 warsa. Ing sadjeroning 8 warsa mau, kang 7 warsa anggonen ngulandara, lelana kang sakperlu ngudi kawruh budhi kang sedjati, anggladhi marang katijasaning sariranira, kudu wani pait getir, makarja kang abot, nindakake talak brata, pirsa marang kasengsaraning kawula, pirsa marang kawula kang dhemen nindakake djubrija, tjidra, durdjana lan kudu wani nanggulangi. Adja sira kundur jen sira durung ngleksanani pamundhute rama. Awit sira wadjib sudjana marang kedadean ing tembe mburi, emut marang anak turunira, andjaga katentremane djagad sak isine kabeh. Jen kurang sakwarsa djandji sira wus bisa ngleksanani pamundhute rama, sira kepareng kundur. Ing kono sira ingsun sengkakake ngaluhur djumeneng Adipati Anom. Dene bab jasa kraton ora perlu bojong menjang Talok Langu, tjukup padhukuhan kene bae kanggo kraton. Katimbang ngusir si Minak Pijungan mesakake, aluwung ingsun kang ngalah. Wis ngger djengkara saka kene, ingsun tunggu ing padhepokan kongsi sakrawuhira ngger. Ora liwat rama mung bisa paring pudja-pudji pangestu, rahaju, widada ing saklawas-lawase.”
Raden Prijangga Lawung: “mboten langkung rama, ingkang putra namung njuwun tambahaing pangestu, tinebihna ing rubeda, tjinelakna ing karahajon. Sampun rama, sembah sungkem kundjuk ing ngersa rama miwah ibu.”
Raden Prijangga Lawung nilar padhepokan sumedia nindakaken dhawuhing rama, dene Sang Pandhita miwah garwa sami nengga ingkang putra kanthi raos prihatos, sarta tansah njenjuwun ing Djawata, sageda ingkang putra tansah pinajungan karahajon.
ral and Intangible Heritage of Humanity
Top of Form
Bottom of Form
Kekawin Sutasoma

by wayang in Kitab & Kidung
Karya Empu Tantular Ah naranya: vijil nin bdyu sanke sarlra, ah sabdanya, muksa rik sarlra, candrarüpa ikan sarlra ri muksa nin bdyu rin sarlra, saumyalilan ahënin ikan sarlra vëkasan, sdnta-candra naran ikd, sdnta-smrti naran vaneh. Ri hana nin smrti-sürya sdnta-candra dadi tak advaya-jndna. Patëmu nin advaya mvan advaya-jndna, ya tandadyakën Divarüpa, (b 42) avd sadd-kdla, ahënin nir-dvarana kadi te ja nin manik, apadan rahina sadd, sugandha tan gavai-gavai, surüpa tan gavai-gavai; surasa tan gavai-gavai sira katon denta. Ikan am ah yatikd sinangah sak hyan advaya naran ira, bapa sira de bhatdra hyan Buddha. Ikan jndna vruh tan vikalpa humidëk nir-dkdra, yatika sinangah san hyan advaya-jndna naran ira. San hyan advayajndna sira ta devï bhardlï Prajndpdramitd naran ira, sira ta ibu de bhatdra hyan Buddha. San hyan Divarüpa sira ta bhatdra hyan Buddha naran ira. Metre sragdhara Srï Bajrajndna sünyatmaka parama sirdnindya rin rat visesa, lila suddhdpratisthên hrdaya jayajayankën mahd-svarga-loka, eka-cchattrên sarïranhuripi sahana nin bhür bhuvah svah prakïrna, sdksat candrarka pürnadbhuta ri vijil iran sanka rin boddhi-citta. Singih yan siddha-yogïsvara vekas ira san sdtmya Idvan Bhatdra, sarva-jnamürti sünyaganal alit inucap musti nin dharma-tattva. Tantular, Sutasoma Kakavin 38.1—42.4. 38. Metre praharsinï 1. Satvendröraga tika mukya Hastivaktra, bhakty arianjali ri sira n narêndra-putra, kapvaminta vinarah in mahopadesa, dvaranun tuten in a-cintya-sünya-dharma. 2. Apan kveh i manah i san mahati-yogi, wanten nirmala-bhava moksakan ginön tvas, len tan tyaga pëjah anun yathêsta-dharma, panlingan nrpa-suta nasta mankya mülya. 3. Sansiptan lëvih ikanan paratra-marga, sankên moksaka ri hidëp patik nararya, dü bhagyadhika panucapta sadhu rin rat, adya nvaii majara masaksya san rësindra. 4. Sirigih linta parama-moksa-marga dibya, de nih rat kunan ika san mahati-vidvan, tan moksahga juga visesa-dharma-marga, matyasin saparaga nin kabodhisattvan. 5. Pöh nin sastra tëkap i san visesa-sadhu, yadyan panlëha suka yan parartha donya, durrlaksmyathava sugihêki tan vikalpa, mon matyahuripa lamun jagad-dhitartha. 6. Nhih têkan parama-nirasrayêki gönën, rin jfianadhika vëkas in maha-visesa, tan svargabhyudaya kitan panekacitta, yêkande sasar ikanan paratra-marga. 7. Toh ndyanun vivitan ike linanta manko, vidyadi-krama ginëlar tëkap Bhatara, dharmadharma tuvuh ikan samasta-bhümi, mati mvan mahurip aneka srsti nin wan. 8. Püja yoga japa samadhi dana punya, len têkah brata suci paksa Bhairavatva, salvirnyêii asubha-subha pravrtti rin rat, jnanavesa milu tumut punarbhavêka. 39. Metre sikharini 1. Kunan san wan nissreyasa sira tatan siddhi rin ulah, ndatan püja tan yoga rinëgëp iran nisbhava sada, luput sankên bhava-krama pati hurip tan panavara, apan saksat sankan paran ika sira-cintya-bhavana. 2. Sirêkadrëvya jnana tiga hurip in bhümi sahana, banun bhayên way tan milu banu sirên duhka suka len, gunanekalit tan lëga masëk in alvadbhuta tëmën, göh tan mopëk yan mafijih in ahët ikasüksma sumilib. 3. Kalïnanyêvëh san vinuvus i vuvus nin wan amuvus, apan rakvêki tan vënaii inubhayan pan sira mucap, siranon tan katon sira juga manon pan sira manon, adoh tan düra nke sira ta maparëk tan kaparëkan. 4. Yateka pinrih nin viku ri tëka nin dharma kapatin, savan kris sah sankên sarunan inunus tan kahavaran, tëkap nin trinyarok rva pinasah irên jnana vimala, vidagdhaninkab roma salaya tinut nin nirupama. 5. A-cintyanumpak rin taya matapakan bhaskara vulan, ika lvir san llnadhika sama lavan moksa-karana, nda sansiptan sin solaha juga lamun nirmala sada, prasiddhamor in tan hana kaluput in vahya-vibhava. 40. Metre 1. Nahan lin Jina-mürti majar i kadibyan in patipati, mvan tan moksaka-marga kempen i vuvus niran pavacana, ndan san Samajavaktra naga-pati satva-natha karuna, bhakty ananjali jöh niramalaku sih nirêki tulusa. 2. De nin yoga samadhi tan hana ri san nir-asraya-yati, nis tan marga visesa rakva ri hidëp patik nrpa-suta, siddhan yoga yan arddha liii nira nir-asrayêki kahidëp, nëm kvehnyadhika rin sivatva ya rënön mahottama tëmën, 3. Pratyahara naranya kalapan in indriyêka vinalat, sankên artha jugêka rakva makamarga buddhi vimala, nyan dhyanadhika dhïra yoga humidëp sva-sadhya mapagëh, nir-byamoha taman kasambi rin ulah prapanca satata. 4. Pranayama naranya bayu vinatëk marêii hulu tënah, sarva-dvara minëb tëkapnya tinut in visesa katëmu, omkara pranavêki murigu ri dalëm tvas arddha ya kasök, vet nin tattva Sivatva dharana naranya yoga saphala. 5. Len tan tarka naranya yoga gaganöpama n manah ava, hhih tan vak-dhara rakva len ika sakêrikan avanavan, mvan tan jnana vikalpa tarja malilan vi-sadhya pinëlën, nis-sandeha samadhi yoga panaranya moksa-karana. 6. Tandvan asta-gunan kapangiha tëkapnya rakva rumuhun, drsyadrsya vasitva rih bhuvana Rudra-mürti sa-kala, yekan bvat i manah nira n parama-santikarya nipuna, kempër yan rusit in jitêndriya juran niii ambëk ahajön. 7. Yapvan dhïra manah katungën ikanan sva-citta mabënër, tan kevö tëkap in trikaya vala siddhi sarva-karana, kevëh nin tri-gunatmakarddha ya huvus kasimpën amatëh, nka rakvan sira sünya-rüpa paramartha-tattva kahidëp. 41. Metre sardülavikrïdita 1. Nahan tinkah ikah Sivatva ri sira n Saiva-sva-paksadhika, bheda mvan Jina-tattva têki ri sira n Bauddhaprameyêh jagat, san hyan Hadvaya-yoga-sandhi pinakesti dvara san bhiksuka, arn ah sabda nikan sva-bayu ri dalëm kantha prasiddhafihayu. 2. Rep prapta n ravi soma denya sumaput rin deha suddhakrti, mvan tan Hadvaya-citta divya mapageh ftkanê manah nirnaya, pöh nin rvanupamati-sïghra ri vijil hyah Buddha tan kavaran, sünyakara divanga nir-mala siran nirbana nir-laksana. 3. Apan tan siva tan Mahesvara sira n tan Brahma tan Kesava, tan san hyah paramesthi Rudra tuduhën düran kavastvêrika, singih yan Paramartha-Buddha tëmahan san siddha-yogisvara, iccha nora kasansayaganal alit tan matra matrên jagat. 4. Nahan hetu bhatara Buddha kahidëp putraprameyên jagat, san hyah Hadvaya rama tattva nira de san panditanhayvani, Prajnaparimitêbu tan sah i sëdën nin yoga sanusmrti, tan ragodaya bhinna rakva kalavan hyah Durmukhên atmaja. 5. Mahka sïla nirêh mahayana vëkas nih Bodhisattvan laku, vet nih tattva visesa tan huniha rih Hastesvaranindita, yavat preksaka rakva tavat ikanah nissreyasêvëh pinet, nahan hetu ni sah Sivatva makadat muhsy amrihên sünyata. 42. Metre vasantatilaka 1. Sahsipta têki bapa sah Gajavaktrarüpa, mvah naga-raja karuhun vara-sattva-natha, prih hayva tan dugadugê vuvus in kadi hvah, Buddhopadesa tëka rih Siva-tattva-yoga. 2. Apan tivas juga sira h muni Bauddha-paksa, yan tan vruh ih parama-tattva-Sivatva-marga, mahka h munindra sah apaksa sivatva-yoga, yan tan vruh ih parama-tattva Jinatva-manda. 3. Na de nirahucapakën vacanöpadesa, tan lambalamba tuhu yan Jina-mürti saksat, Durvaktra naga-pati satva-pati pranamya, bhakty ati-bhakti manadah vacanati-guhya. 4. Sampun matêki ya kinon ira bhiksva vikva, yan ksetra sindhu giri sohgvanan ih mayoga, hhih tan pakarvana tapo-vana hayva mahka, yan mahkanêki gati sah viku Bauddha-paksa.

Babad Caringan

wayang Kitab & Kidung
Sebelas Sarasilah dan Babad Caringin
Dengan rakhmat Tuhan Yang Maha Esa dan Atas nama Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang Semoga para leluhur memperoleh keselamatan dan anugerah dan semoga kami pantas untuk mengemban segala warisannya
Sarasilah Caringin
Ini adalah trah dan sarasilah para leluhur di kawasan Caringin yang sejarahnya telah mewarnai corak kehidupan di tempat ini dan kehadirannya dirasakan melalui pengucapan nama penuh hormat serta diketahui melalui segala petilasan peninggalan mereka Berbagai tokoh dan nama keturunan telah hadir di Caringin baik ulama maupun prajurit, orang saleh maupun jawara dari trah Kalijaga dan Ngampel Denta, juga dari darah agung Siliwangi dan tidak ketinggalan pula para pahlawan perkasa dari Mataram disertai dengan banyak para tokoh dari wetan lainnya Mereka semua telah meninggalkan jejaknya di Bumi Caringin yaitu jejak dan tapak yang pantas dipelihara dan diikuti Demikianlah kini akan diuraikan secara rapi berurutan para nenek moyang yang dahulu telah membuat sejarah di kecamatan ini.

Dari trah Kalijaga datanglah Eyang Sapujagad, yaitu Kyai Langlangbuwana yang menikah dengan Setiyadiningsih atau Hadityaningsih yaitu putri yang di petilasan Cileungsi disebut Kembang Cempaka Putih dan pada petilasan Babakan diberi gelar Dewi Kembang Kuning maka kedua suami istri inilah yang telah menurunkan Kyai Elang Bangalan yang telah datang dan seterusnya menetap di daerah Lemah Duhur.
Kemudian daripada itu Elang Bangalanpun menurunkan empat orang anak yang tertua adalah Arya Sancang di Garut-Pameungpeuk diikuti oleh Eyang Badigul Jaya Pancawati, Ayah Ursi Pancawati dan Eyang Ragil Pancawati maka ketiga anak yang lebih muda itu turut menjadi cikal bakal Caringin serta meninggalkan kenangan di Pasir Karamat yang diluhurkan.
Anak tertua Eyang Badigul Jaya adalah Ayah Iming, yaitu Kyai Haji Sulaiman yang makamnya masih dapat ditemukan di Kebun Tajur Anak yang kedua dinamakan Umaenah, yaitu istri Eyang Ranggawulung atau Rangga Agung maka suaminya itulah yang menjadi leluhur di Cimande-Tarik Kolot Anak yang ketiga dinamakan Romiah yang dinikahi oleh Eyang Buyut Umang, yaitu sebagaimana ia disebut di Caringin, karena di Cinagara ia disebut Aki Degle adapun Eyang Buyut Umang itu adalah putra Ki Kastiwa, cucu Ki Kaswita, cicit Suwita, dan turunan pahlawan Jaka Sembung, yaitu suami Roijah gelar Bajing Ireng sedangkan Eyang Buyut Umang sendiri juga telah menurunkan dua orang anak, yaitu Aki Eming yang dipusarakan di makam Gede di Tonggoh dan Aki yang dipusarakan di Cipopokol Hilir, Pasir Muncang Selanjutnya, anak keempat Badigul Jaya adalah Samsiah, yang menikah dengan Aki Kartijan dan anak kelima adalah Amsiah yang menikah dengan Bayureksa yang disebut juga Reksabuwana, yaitu putra Radyaksa, cucu Jayadiningrat dari Mataram ialah pahlawan perkasa yang petilasannya terdapat di Tanjakan Ciherang maka Bayureksa dan Amsiah menurunkan Ki Ranggagading dan Ki Kumpi yang kedua-duanya dimakamkan di kawasan Cigintung-Caringin Akhirnya, anak kelima Aki Badigul Jaya adalah ibu Esah, yang menikah dengan Aki Bangala yaitu putra Aki Jepra atau Ki Kartaran, dan cucu Aki Kahir, tokoh dunia persilatan.
Selanjutnya, dari trah Raden Rakhmatullah Sunan Ngampel Denta diturunkanlah Ki Karmagada yang menurunkan Ki Karmajaya, yaitu ayahanda Ki Kartawirya yang berasal dari Jampang-Surade dan telah datang ke Lemah Duhur, untuk menetap di Legok Antrem adapun Ki Kartawirya itu disebut pula Haji Akbar ia menurunkan Marunda dan Marunda menurunkan Murtani dan seterusnya Murtani menurunkan Pitung, jago silat dari Rawa Belong.
Diriwayatkan pula bahwa Ki Kartawirya memiliki istri bernama Nyi Antrem yang namanya telah diabadikan dalam nama Legok Antrem sasaka kami Maka Nyi Antrem itu pun berasal dari satu keturunan dengan suaminya sebab leluhurnya, yaitu Sekh Japarudin, juga berasal dari trah Ngampel Denta Sekh Japarudin menurunkan Ki Kartaji dan Ki Kartaji menurunkan Aji Tapak Ireng selanjutnya Aji Tapak Ireng menurunkan lima orang anak Pertama adalah Aji Wisa Ireng yang juga disebut Haji Aleman Kedua Aji Wisa Kuning, ketiga mbah Ambani, keempat Ki Anom dan kelima ibu Ucu yang diperistri oleh Ayah Haji Abdul Somad, leluhur di Cimande-Tarik Kolot Keluarga dan turunan inilah yang menjadi asal-usul masyarakat di Curuk Dengdeng maka dari Aji Wisa Irenglah ibu Antrem diturunkan ke dunia yaitu ibu Antrem yang telah dipusarakan di kawasan Legok Antrem.
Adapun Ki Karmagada juga menurunkan anak lelaki adik Ki Karmajaya yang kemudian menurunkan Ki Jaka Kadir, yaitu tokoh yang dipusarakan di Leuweung Ki Maun, yang terletak di atas Legok Antrem Seterusnya Ki Jaka Kadir menurunkan Ki Jaka Bledek, leluhur kampung Bendungan di Kampung Tajur Demikianlah itu tentang para leluhur dan pendahulu yaitu mereka semua yang berasal dari trah Ngampel Denta.
Seterusnya sebagaimana diriwayatkan oleh mereka yang mengerti sejarah mengalir pula darah leluhur Siliwangi pada diri para leluhur di Caringin mewarnai jalan kehidupan masyarakat dan memancarkan kesejatian rasa membangkitkan kesucian sikap dan menaikkan kebajikan laku Maka inilah keluarga para jawara yang menghubungkan Siliwangi dan Caringin menghubungkan masa lalu dan masa kini serta mengarahkan masa depan.
Sang Ratu Jaya Dewata Prabu Siliwangi menikah dengan Nyi Ratu Subangkarancang dan menurunkan tiga orang anak, yaitu dua orang lelaki dan seorang wanita anak yang tertua adalah Pangeran Arya Santang, Panembahan Cakrabuwana anak yang kedua adalah Nyi Rara Santang ibunda Syarif Hidayatulah dan anak yang ketiga adalah Kian Santang atau Prabu Sagara atau Sunan Rakhmat Suci di gunung Godog yang disebut Sekh Kuncung Putih di Cibadak-Pangasahan maka ia itulah leluhur seorang tokoh bernama Elang Sutawinata.
Adapun Elang Sutawinata yang disebut di atas menurunkan tujuh orang anak pertama adalah Jaka Sembung yang menikah dengan Roijah gelar Bajing Ireng kedua adalah Jaya Perkosa yang menjadi patih Prabu Geusan Ulun di Sumedang Larang seorang istrinya bernama Mulantri dan salah seorang anaknya pernah hadir di Caringin yaitu yang disebut Aki Palasara, disebut Aki Kabayan, disebut Ki Jambrong yang memiliki petilasan di Kebon Tajur, di atas Legok Antrem, lalu di Legok Jambrong dan juga memiliki petilasan di Legok Batang, di kawasan Citaman, di desa Tangkil Selanjutnya anak ketiga Elang Sutawinata adalah Aki Kahir yang nama-nama dan petilasan-petilasannya akan diuraikan di bawah anak keempat adalah Eyang Ranggawulung leluhur di Tarik Kolot anak kelima Aki Dato di Bantar Jati dan Pondok Pinang anak keenam Sekh Sake di petilasan di Citeureup dan anak ketujuh Pangeran Papag yang menikah dengan Sari(w)uni, putri Ki Hambali.
Sembilan nama dan sembilan petilasan dimiliki anak ketiga Elang Sutawinata Aki Kahir di Bogor-Tanah Sareal, Sekh Majagung di Cirebon Pangeran Jayasakti di Batu Tulis, Gentar Bumi di Pelabuhan Ratu Aki Euneur di Pangasahan, Cikidang, Cipetir dan Eyang Kartasinga-Wirasinga di Tarik Kolot Aki Dalem Macan di Citeureup, Eyang Pasareyan di Cidahu, Cibening, Ciampea dan yang kesembilan dan terakhir adalah Ki Jambrong di Cirebon.
Maka Aki Kahir menurunkan anak lelaki bernama Ki Kartaran yang berganti sebutan menjadi Ki Jepra sekembalinya dari pertempuran di Tegal Jepara ia dipusarakan pada dua petilasan di dua tempat sebuah di Kebun Raya Bogor dan sebuah lagi berupa makam putih di Cimande Hilir Ia menurunkan empat orang anak, seorang lelaki dan tiga orang wanita yang tertua adalah Aki Bangala yang menikah dengan uwak Esah yang kedua dalah Nini Sarinem di Ciherang-Limus Nunggal disebut Sri Asih di Cirebon dan Nini Sarem di Cileungsi suaminya adalah Kyai Ajiwijaya dari Plered-Purwakarta yang ketiga adalah Nini Sayem di Ciherang-Limus Nunggal yang menikah dengan Ki Puspa dari Cirebon yaitu tokoh yang dihubungkan dengan Kuda Puspagati dari petilasan Pasir Kuda di Lemah Duhur dan yang keempat adalah Nini Sarimpen di Garut yaitu istri Banaspati, seorang panglima Panembahan Sabakingkin dari Banten.
Selanjutnya dikisahkan pula bahwa Rangga Wulung, anak keempat Elang Sutawinata menurunkan lima orang anak yang masing-masing disebut sebagai berikut:
Aki Ondang, Aki Buyut, Aki Anom, Aki Suma dan Aki Ace dan diriwayatkan pula bahwa ketika Eyang Rangga Wulung memasuki Caringin ia diiringi oleh Ajengan Kuningan dan Ki Age yang keduanya dimakamkan di Kebun Tajur, di sebelah atas Legok Antrem Kemudian daripada itu berniatlah kami kini untuk mengurutkan garis keturunan Arifin yaitu seorang rekan pengawas di Bina Kertajaga Siliwangi Anom baik dari garis ayahnya maupun dari garis ibundanya.
Para leluhur dari pihak ibunya adalah sebagai berikut:
Elang Sutawinata menurunkan Ranggawulung, yang menurunkan Ki Ace, yang kemudian menurunkan Ayah Haji Abdul Somad, yang kemudian menurunkan Haji Ajid, yang menurunkan Hajjah Kuraisin, istri Ki Lurah Uji, yang menurunkan ibu Enen, anak angkat Haji Atap, istri bapak Ubeh Subandi.
Sedangkan para leluhur dari pihak ayahnya adalah sebagai berikut:
Elang Sutawinata menurunkan Aki Kahir, yang menurunkan Ki Jepra, yang kemudian menurunkan Nini Sayem di Limus Nunggal Selanjutnya Nini Sayem menurunkan Ki Rasiun, yang menurunkan Ki Sarian, yang menurunkan Ki Jaian dan Ki Jaiin Seterusnya Ki Jaiin menurunkan Ki Haji Muat yang menurunkan Ki Kaeji Haji Akhmali, yang dahulu memiliki Legok Antrem dan juga mendirikan persatuan pencak silat Hibar Karuhun Maka Haji Akhmali itu dahululah yang membawa pengaruh Tarik Kolot ke sekitar desa Cikalang dan dia adalah ayah Ki Haji Barnas, bapak Ubeh Subandi dan adik-adiknya Selanjutnya, dari Cikalang di desa Caringin kami mengalihkan uraian ke pemakaman tua di desa Cinagara, yang terletak dibawah pohon rindang di situ disemayamkan Mbah Dalem Cinagara dan Mbah Dalem Asihan, istrinya Seseorang meriwayatkan kepada kami tentang Mbah Dalem yang dikatakan berasal dari Jawa Timur dan disebut dengan nama Eyang Adeg Daha tetapi seseorang lainnya mengisahkan silsilah Mbah Dalem sebagai berikut:
Dari trah Brawijaya, melalui trah Kalijaga diturunkan Raden Tresna yang disebut juga Pandewulung dari Kudus Ia menurunkan Sekh Japarudin dari Mataram yang menurunkan Sekh Sekh Abdul Muhi dari Pamijahan yang selanjutnya menurunkan Sekh Mohammad Abdul Sobirin, yaitu Mbah Dalem Cinagara pepunden masyarakat di Dukuh Kawung.
Demikianlah itu Sarasilah Caringin sebagaimana telah diuraikan oleh Ki Jumanta dari Cikodok, yang sangat tekun mendalami sejarah sekarang diurutkan pula nama-nama tempat dan desa tempat para Karuhun di pusarakan dalam damai.
Di Lemah Duhur dan Pancawati:
Eyang Kartasinga, Ki Sarian dan Ki Rasiun di Tarik Kolot.
Eyang Ranggawulung dan putra-putranya, beserta ayah Haji Abdul Somad di Tarik Kolot.
Eyang Badigul Jaya, ayah Ursi dan Eyang Ragil di Pancawati.
Eyang Rasiyem di Legok Mahmud.
Aki Anyar dan Nini Siti Mastiyah di Tanjakan Saodah.
Pangeran Jayakarta, putra Wijayakrama, yang memiliki petilasan di Pulo Gadung, berputra Eyang.
Sagiri, yang petilasannya terdapat di Bojong Katon.
Eyang Bangalan di Cikodok, Kampung Legok.
Ki Jaka Kadir dan Ki Jaka Bledek di Legok Antrem.
Nyi Antrem dan Ki Kartawirya di Legok Jambrong.
Ajengan Kuningan, Haji Sulaiman ayah Iming, uwak Esah anak Badigul Jaya, Aki Age, Setyawati Kusumah dari Mataram dan Ki Jambrong anak Jaya Perkosa, semuanya di Kebun Tanjur.
Di Cimahi Jaya:
Tidak ada yang tercatat telah dipusarakan di tempat ini.
Di Pancawati:
Aki Ariyam dan Ki Suwita di Legok Nyenang.
Di Ciherang Pondok:
Nini Amsiah di tengah kawasan desa.
Haji Abdul Kohar atau Mbah Ageng di perbatasan Ciawi.
Nini Sarinem di Blitung-Cikeretek.
Hadikusuma, putra Tubagus Gelondong di Cibolang.
Di Muara Jaya:
Batara Kresna, Aki Arya Kusuma di Rawayan.
Adipati Wirasembada di Kampung Nyenang, dan mbah Muhi.
Di Pasir Muncang:
Aki Wirakerta dari Kuningan, Nini Antri, putri Ki Anyar, cucu Sekh Asnawi di Cipopokol Girang.
Aki Aliyun di Cipopokol Hilir.
Suryadiningrat, cucu Sekh Malik Ibrahim di Ciburial.
Di Cinagara:
Raden Suryapadang di Kampung Curuk Kalong.
Mbah Dalem Cinagara dan Mbah Dalem Asihan di Dukuh Kawung.
Di Tangkil:
Aki Degel, Haji Muid, dan Ni Jabon, istri Suryadiningrat di Kampung Loji.
Nini Rasa dan Ki Jambrong di Legok Batong, yang juga disebut Aki Palasara.
Di Pasir Buncir:
Batara Karang atau Pangeran Jayataruna dari Ponorogo.
Di Ciderum:
Bango Samparan dari Ponorogo, kakak dalang Asmorondono, dan Ki Kastiwa.
Di Caringin:
Galuh Pakuan atau Walasungsang atau Cakrabuwana; Ki Kartaji; Aji Tapak Ireng; Aji Wisa Ireng, dan Aji
Wisa Kuning di Kampung Curuk Dendeng.
Ki Umang, Aki Ranggading, dan Ki Kumpi di Cigintung.
Di Cimande Hilir:
Reksabuwana atau Bayureksa di tanjakan Ciberang, dan Eyang Bangala.
Demikianlah selesai kami urutkan
sarasilah, nama tokoh dan petilasan di Caringin
Babad Caringin
Ucapkanlah Asma Yang Maha Agung di Pasir Karamat kagumilah alam pada batu besar di Pancawati hormatilah peninggalan yang sangat tua di Pasir Kuda bersemadilah pada goa dengan air terjun di jurang Citaman pergilah menapak tilas kelima tempat Siliwangi di sepanjang Cisalada hingga ke Curuk Merot pelajarilah warisan Cimande pada guru yang rendah hati Kunjungilah Bumi Kawastu untuk merundingkan perjuangan datanglah ke Legok Antrem untuk mempererat persaudaraan dan dengarkanlah dengan teliti isi kisah babad Caringin yaitu Caringin Kurung dari masa lalu dan Caringin Kurung dari masa yang akan datang Kemudian dengan tekad membaja dan semangat membantu negara bersama-sama mengucapkan manggala, sebagaimana telah disusun di Sasaka Antrem:
“Kertajaga Bumi Kawastu, Mugi rahayu di Legok Antrem, Mugi jaya di Tegal Laga, Mejangkeun teras hibar Karuhun”
Semoga semua rela menata dengan jujur, Semoga memperoleh harta rohani dalam bejana budi pekerti yang mendatangkan ketentraman, yang mendatangkan kesejahteraan.
Inilah riwayat babad Caringin, babad yang telah disampaikan dari yang tua kepada yang muda:
Dari ketinggian di Sasaka Jati Pasir Karamat memandang ke bumi Pakuan memohon dan memperoleh terang batin: “Surya Padang Caang Narawangan” menghargai dengan hormat Bukit Baduga di Rancamaya menyaksikan dengan kagum Mandala Keratuan di Batu Tulis melayangkan pikiran ke Watu Gigilang, yang kini terletak di negeri Banten meneliti perjalanan sejarah di dataran yang berada di antara kedua gunung.
Di sini pernah terjadi gejolak dan gemuruh peperangan ketika terdengar kabar berlangsungnya perang antara Pajajaran dan Banten juga ketika kemudian tentara Banten meliwati daerah menuju Cikundul untuk menyerbu Begitu pula para prajurit, perwira dan tokoh-tokoh persilatan yang turut mengalami api perubahan jaman dan bergantinya masa; seterusnya menanamkan ciri dan corak keperkasaan ketika bermukim di Caringin membanggakan keberanian dan kejantanan di samping ketakwaan dan kesalehan yaitu semangat keprajuritan sebagaimana terkandung dalam sasmita-kata:
“Bojong Katon Pasir Bedil Lemah Duhur Pangapungan Pancawati Denda”
Ratusan tahun yang lalu berdiri sebuah tangsi tentara Mataram yaitu di tempat yang sekarang disebut Pasar Caringin yaitu pada jalan yang menuju ke Maseng, Pasir Bogor, lalu Cihideung dan Kota Bogor Jauh sebelum jalan mulai menanjak dan berbelok-belok di situlah bersemayam Tumenggung Wiranegara pemimpin pasukan dari wetan yang gagah perkasa yang sedang berusaha keras menahan pengaruh dari kota di utara sebagai perwira Mataram dan sebagai kusuma bangsa sebagai tokoh perjuangan yang tak lelah berkarya.
Kapan dan bagaimana para perwira Mataram tiba tentunya ditanyakan peristiwanya oleh banyak orang walaupun benar dan tidaknya itu masih sulit ditentukan tetapi beberapa bukti menunjukkannya sebagai kemungkinan.
Pada tahun 1628 dan 1629 tentara Mataram dan Sunda datang menyerbu kedudukan Belanda di Negeri Betawi pada kedua peristiwa itu mereka akhirnya dipukul mundur Karena kalahnya persenjataan dan terbakarnya gudang-gudang makanan ingin kembali ke timur jalan laut terhalang armada kompeni maka terpaksa mengambil jalan darat di sepanjang pegunungan tengah pada peristiwa itulah mereka meninggalkan nama dan bekas.
Rawa Bangke tempat gugurnya ribuan pasukan Matraman tempat mereka bermukim beberapa lama Ragunan yang bukan tidak mungkin berasal dari nama Wiragunan lalu adanya beberapa makam dan petilasan Kuno di Caringin seperti Bayurekso-Reksobuwono di tanjakan Ciherang ia di pusarakan dan ia disebut sebagai anak Radyaksa, cucu Jayadiningrat dari Kartasura.
Kembali kepada periwayatan babad Caringin Kurung katanya tangsi tentara Mataram itu dikurung tembok dan di dalamnya ditanam pohon Caringin atau Beringin yang dengan demikian melahirkan nama Caringin Kurung Menurut kisahnya tempat itu pernah digadaikan kepada Belanda yang menolak untuk menyerahkan kembali ketika hendak ditebus karena itu muncul sengketa yang berkepanjangan yang akhirnya pecah menjadi suatu pertempuran panjang.
Semua kekuatan pribumi baik yang gaib maupun nyata dikerahkan untuk merebut Caringin Kurung dan mengembalikan hak Wiranegara dari kampung Gembrong di belakang Maseng Arya Wiryakusuma membantu juga Suryakancana yang di luhurkan di kabupatian Bogor di Pasir Muncang-Muara Jaya tegak berdiri Batara Kresna Ki Kartaji, Aji Tapak Ireng dan Aji Wisa Ireng di Curuk Dengdeng tidak ketinggalan pula Galuh Pakuan yang dihadirkan untuk memperkuat seluruh pasukan-pasukan pribumi Jaka Kadir dan Jaka Bledek menahan jalan di Legok Antrem Eyang Bangala di Cimande Hilir, Ranggawulung di Pancawati serta Aki Ranggagading dan Ki Kumpi di Cigintung-Caringin hanya satu tokoh pribumi memilih untuk memihak Belanda yaitu Hadikusuma, putra Tubagus Gelondong, di Cikeretek-Cibolang Dalam adu senjata di hibar Caringin pada medan laga di bumi Pakuan itu karena kehendak Yang Maha Kuasa pasukan pribumi tak berhasil mencapai maksudnya Bersama dengan perjalanan waktu yang mengikis dunia kebendaan lenyap pula tempat dilingkup tembok dimana terdapat pohon beringin itu tetapi rupanya tetap dikenang lalu dilontarkan ke masa depan dijadikan ramalan melalui kata-kata orang tua :
“Lamun geus ngadeg Caringin Kurung, didieu bakal rame, didieu bakal makmur”
Demikianlah babad Caringin Kurung menurut penuturan Ki Jumanta benar tidaknya kiranya hanyalah Tuhan yang mengetahui tetapi satu hal saja hendaknya jangan dilupakan oleh para pewaris ini adalah tanah perjuangan, tanah keperwiraan dan tanah keperkasaan Ini adalah tanah orang yang beribadah, bekerja keras dan membangun kemuliaan Karena itu bangkitlah untuk Caringin, untuk tanah air dan untuk masa depan.

Ajaran Ranggawarsita

wayang Kitab & Kidung
Pembukaan :
Amenangi jaman edan
ewuh aya ing pambudi
Melu edan nora tahan
yen tan melu anglakoni
boya kaduman melik
Kaliren wekasanipun
Dilalah karsa Allah
Begja-begjane kang lali
luwih begja kang eling lawan waspada”
(pupuh 7, Sent Kalatidha)

Terjemahan :
Mengalami jaman gila
sukar sulit (dalam) akal ikhtiar
Turut gila tidak tahan
kalau tak turut menjalaninya
tidak kebagian milik
kelaparanlah akhirnya
Takdir kehendak Allah
sebahagia-bahagianya yang lupa
lebih berbahagia yang sadar serta waspada”.
- Syair jaman edan, dimana manusia kehilangan dasar sikap dan perilaku yang benar.
- Di dalam Serat Kalatidha, Sabda Pranawa Jati Ki pujangga melihat kesusahan yang terjadi pada jaman itu . . .
Rajanya utama, patihnya pandai dan menteri-menterinya mencita-citakan kesejahteraan rakyat serta semua pegawai-pegawainya cakap. Akan tetapi banyak kesukaran-kesukaran menimpa negeri; orang bingung, resah dan sedih pilu, serta dipenuhi rasa kuatir dan takut. Banyak orang pandai dan berbudi luhur jatuh dari kedudukannya. Banyak pula yang sengaja menempuh jalan salah . . . harga diri turun . . . akhlak merosot. Pada waktu-waktu seperti itu berbahagialah mereka yang sadar/ingat dan waspada.
- Menghadapi jaman seperti itu Ki Ronggowarsito memberikan petuah-petuahnya, yaitu yang dapat disebut sebagai empat pedoman hidup.
I. Tawakal marang Hyang Gusti
- Pedoman yang pertama; yaitu kepercayaan iman dan pengharapan kepada Tuhan.
- Pedoman inilah yang menjadi dasar hidup, perilaku dan karya manusia.
1. “Mupus papasthening takdir, puluh-puluh anglakoni kaelokan”
(pupuh 6, Kalatidha).
Arti :
Menyadari ketentuan takdir, apa boleh buat (harus) mengalami keajaiban. Manusia hidup harus menerima keputusan Tuhan.
2. “Dialah karsa Allah, begja-begjane kang lali, luwih becik eling lawan waspada”
(pupuh 7, Kalatidha)
Arti :
- Memanglah kehendak Allah, sebahagia-babagianya yang lupa, lebih bahagia yang sadar ingat dan waspada.
- Manusia harus selalu menggantungkan diri kepada kehendak (karsa) Allah.
- Karsa atau kehendak Allah itu seperti yang tersirat dalam ajaran agama, kitab suci, hukum-hukum alam, adat istiadat dan ajaran leluhur.
3. Muhung mahasing ngasepi, supaya antuk parimirmaning Hyang suksma.
(pupuh 8, Kalatidha)
Arti:
Sebaiknya hanya menjauhkan diri dari keduniawian, supaya mendapat kasih sayang Tuhan.
- Di kala ingin mendekatkan jiwa pada Tuhan, memang pikiran dan nafsu harus terlepas dari hal keduniawian.
- Supayantuk: Supaya dilimpahi Parimirmaning Hyang suksma; Kasih sayang Tuhan.
4. Saking mangunah prapti, Pangeran paring pitulung.
(pupuh 9, Kalatidha)
Arti :
Pertolongan datang dari Tuhan, Tuhan melimpahkan pertolongan.
- Hanya Dia, Puji sekalian alam, Gembala yang baik, yang dapat menolong manusia dalam kesusahannya.
- Mangunah : Pertolongan Tuhan
Prapti : Datang.
5. Kanthi awas lawan eling, kang kaesthi antuka parmaning suksma.
(pupuh 10, Kalatidha)
Arti:
Disertai dasar/awas dan ingat, bertujuan mendapatkan kasih sayang Tuhan.
6. Ya Allah ya Rasululah kang sifat murah lan asih.
(pupuh 11, Kalatidha)
Arti :
Ya Allah ya nabi yang pemurah dan pengasih.
7. Badharing sapudendha, antuk mayar sawatawis, borong angga suwarga mesti martaya.
(pupuh 12, Kalatidha)
Arti
(Untuk) urungnya siksaan (Tuhan), mendapat keringanan sekedarnya, (sang pujangga) berserah diri (memohon) sorga berisi kelanggengan.
- Pengakuan kepercayaan bahwa pada Tuhanlah letak kesalamatan manusia.
Pupuh-pupuh tambahan:
8. Setyakenang naya atoh pati, yeka palayaraning atapa, gunung wesi wasitane tan kedap ing pan dulu ning dumadi dadining bumi, akasa mwang; riya sasania paptanipun, jatining purba wisesa, tan ana lara pati kalawan urip, uripe tansah tungga”.
(pupuh 88, Nitisruti)
Arti:
Bersumpahlah diri dengan niat memakai tuntunan (akan) mempertaruhkan nyawa, yaitulah laku orang bertapa di (atas) gunung besi (peperangan) menurut bunyi petuah. Tak akan salah pandangannya terhadap segala makhluk dan terjadinya bumi dan langit serta segala isinya. Sekaliannya itu sifat Tuhan; tak ada mati, hiduppun tiada, hidupnya sudah satu dengan yang Maha suci.
- Karya sastra Nitisruti ditulis oleh Pangeran di Karangayam (Pajang), pada tahun saka atau 1591 M.
- Mengenai tekad untuk mengenal Tuhan dan rahasiaNya.
- Mengenal kekuasaan di balik ciptaan-Nya, karena sudah bersatu dengan Gusti-Nya.
9. Sinaranan mesu budya, dadya sarananing urip, ambengkas harda rubeda, binudi kalayan titi, sumingkir panggawe dudu, dimene katarbuka, kakenan gaibing widi.
(Dari serat Pranawajati)
Arti:
Syaratnya ialah memusatkan jiwa, itulah jalannya di dalam hidup, menindas angkara yang mengganggu, diusahakan dengan teliti, tersingkirkanlah perbuatan salah, supaya terbukalah mengetahui rahasia Tuhan.
- Serat Pranawajati ditulis oleh Ki R.anggawarsita
- Pupuh ini menjelaskan jalan kebatinan untuk mencapai (rahasia) Tuhan.
10. Pamanggone aneng pangesthi rahayu, angayomi ing tyas wening, heninging ati kang suwung, nanging sejatine isi, isine cipta kang yektos”.
(Dari serat Sabda Jati)
Arti:
Tempatnya ialah di dalam cita-cita sejahtera, meliputi hati yang terang, hati yang suci kosong, tapi sesungguhnya berisi, isinya cipta sejati.
11. Demikianlah orang yang dikasihi Tuhan, yang selalu mencari-Nya untuk memuaskan dahaga batin. Ia akan berbahagia dan merasa tentram sejahtera; sadar akan arti hidup maupun tujuan hidup manusia. Pembawaannya rela, jujur dan sabar; pasrah, sumarah lan nanima, berbudi luhur dan teguh dihati.
II. Eling lawan Waspada
- Pedoman yang kedua; yaitu sikap hidup yang selalu sadar-ingat dan waspada.
- Pedoman inilah yang menjaga manusia hingga tidak terjerumus ke dalam lembah kehinaan dan malapetaka.
Pupuh-pupuh :
1. Dilalah karsa Allah, begja-begjane kang lali luwih becik kang eling lawan waspada.
(Pupuh 1, Kalatidha)
Arti :
akdir kehendak Allah, sebahagia-bahagianya yang lupa, lebih bahagia yang sadar / ingat dan waspada.
2. Yen kang uning marang sejatining kawruh, kewuhan sajroning ati, yen tan niru nora arus, uripe kaesi-esi, yen niruwa dadi asor.
(Pupuh 8, Sabda Jati)
Arti:
Bagi yang tidak mengetahui ilmu sejati bimbanglah di dalam hatinya, kalau tidak meniru (perbuatan salah) tidak pantas, hidupnya diejek-ejek, kalau meniru (hidupnya} menjadi rendah.
3. Nora ngandel marang gaibing Hyang Agung, anggelar sekalir-kalir, kalamun temen tinemu, kabegjane anekani, kamurahaning Hyang Monon”.
(Pupuh 9, Sabda Jati)
Arti :
Tidak percaya kepada gaib Tuhan, yang membentangkan seluruh alam, kalau benar-benar usahanya, mestilah tercapai cita-citanya, kebabagiaannya datang, itulah kemurahan Tuhan.
- Serat Sabda Jati adalah juga ditulis oleh pujangga Ki Ranggawarsita.
- Pupuh 8 membicarakan keragu-raguan hati karena melihat banyak orang menganggap perbuatan salah sebagai sesuatu yang wajar.
- Akan tetapi bagi yang sadar/ingat dan waspada, tuntunan Tuhan akan datang membawa kebahagiaan batin.
4. Mangka kanthining tumuwuh, salami mung awas eling, eling lukitaning alam, dadi wiryaning dumadi, supadi nir ing Sangsaya, yeku pangreksaning urip.
(Pupuh 83, Wedhatama)
Arti :
Untuk kawan hidup, selamanya hanyalah awas dan ingat ingat akan sasmita alam, menjadi selamatlah hidupnya, supaya bebas dari kesukaran, itulah yang menjaga kesejahteraan hidup.
5. Dene awas tegesipun, weruh warananing urip, miwah wisesaning Tunggal, kang atunggil rina wengi, kang makitun ing sakarsa, gumelar ngalam sekalir.
(Pupuh 86, Wedhatama)
Arti :
Adapun awas artinya, tahu akan tabir di dalam hidup, dan kekuasaan Hyang Maha Tunggal, yang bersatu dengan dirinya siang malam, yang meliputi segala kehendak, disegenap alam seluruhnya.
- Wedhatama ditulis oleh Pangeran Mangkunegara IV.
6. Demikianlah sikap hidup yang berdasarkan “Eling lawan waspada”; yaitu selalu mengingat kehendak Tuhan sehingga tetap waspada dalam berbuat; untuk tidak mendatangkan celaka. Kehendak Tuhan mendapat dicari/ditemukan di dalam hukum alam, wahyu jatmika yang tertulis dalam kitab suci maupun karya sastra, adat-istiadat, nasehat leluhur/orang tua dan cita-cita masyarakat.
7. Eling” juga berarti selalu mengingat perbuatan yang telah dilakukan, baik maupun buruk, agar “waspada” dalam berbuat. Berkat sikap “eling lawan waspada” ini, terasalah ada kepastian dalam langkah-langkah hidup.
III. Rame ing gawe.
- Pedoman hidup yang ketiga, yaitu hidup manusia yang dihiasi daya-upaya dan kerja keras.
- Menggantungkan diri pada wasesa dan karsa Hyang Gusti adalah sama dengan menerima takdir.
Karena siapakah yang dapat meriolak kehendak Nya?
1. Ada tertulis:
Tidak ada sahabat yang melebihi (ilmu) pengetahuan Tidak ada musuh yang berbahaya dan pada nafsu jahat dalam hati sendiri Tidak ada cinta melebihi cinta orang tua kepada anak-anaknya Tidak ada kekuatan yang menyamai nasib, karena kekuatan nasib tidak tertahan oleh siapapun”.
(Ayat 5, Bagian II Kitab Nitiyastra).
2. Tetapi apakah kekuatiran atau ketakutan akan nasib menjadi akhir dan pada usaha atau daya upaya manusia? Berhentikah manusia berupaya apabila kegagalan menghampiri kerjanya?
3. …. Karana riwayat muni, ikhtiar iku yekti, pamilihe reh rahayu, sinambi budi daya, kanthi awas lawan eling, kang kaesthi antuka parmaning suksma.
(Pupuh 10, Kalatidha)
Arti :
…. Karena cerita orang tua mengatakan, ikhtiar itu sungguh-sungguh, pemilih jalan keselamatan, sambil berdaya upaya disertai awas dan ingat, yang dimaksudkan mendapat kasih sayang Tuhan.
- Menerima takdir sebagai keputusan terakhir, tidak berarti mengesampingkan ikhtiar sebagai permulaan daripada usaha.
4. Kuneng lingnya Ramadayapati, angandika Sri Rama Wijaya, heh bebakal sira kiye, gampang kalawan ewuh, apan aria ingkang akardi, yen waniya ing gampang, wediya ing kewuh, sabarang nora tumeka, yen antepen gampang ewuh dadi siji, ing purwa nora ana.
(Tembang Dandanggula, Serat Rama)
Arti :
Haria sehabis haturnya Ramadayapati (Hanoman), bersabdalah Sri Rama : Hai, kau itu dalam permulaan melakukan kewajiban, ada gampang dan ada sukar, itu adalah (Tuhan) yang membuat. Kalau berani akan gampang; takut akan yang sukar, segala sesuatu tidak akan tercapai. Bila kau perteguh hatimu, gampang dan sukar menjadi satu, (itu) tidak ada, tidak dikenal dalam permulaan (usaha).
5. Demikianlah, takdir yang akan datang kelak tidak seharusnya menghentikan usaha manusia. Niat yang tidak baik adalah niat “mencari yang mudah, menghindari yang sukar”. Semua kesukaran atau tugas harus dihadapi dengan keteguhan hati. “Rame ing gawe” dan “Rawe-rawe rantas malang-malang putung” adalah semangat usaha yang lahir dari keteguhan hati itu.
Catatan:
Pupuh ke empat adalah cuplikan dari serat Rama, yang ditulis oleh Ki Yosadipura.
(1729 – 1801 M)
IV. Mawasdiri:
- Pedoman hidup yang keempat, yaitu perihal mempelajari pribadi dan jiwa sendiri; yang merupakan tugas semua mamusia hidup.
Pupuh-pupuh:
1. Wis tua arep apa, muhung mahasing ngasepi, supayantuk parimirmaning Hyang Suksma.
(Pupuh 8, Kalatidha)
Arti :
Sudah tim mau apa, sebaiknya hanya menjauhkan diri dari keduniawian, supaya mendapat/kasih sayang Tuhan.
- Nasehat agar tingkat orang yang telah berumur menunjukkan martabat.
2. Jinejer neng wedhatama, mrih tan kemba kembenganing pambudi, sanadyan ta tuwa pikun, yen tan mikani rasa, yekti sepi asepi lir sepah samun, samangsaning pakumpulan, gonyak-ganyuk ngliling semi.
(Pupuh 2, Pangkur, Wedhatama)
Arti:
Ajarannya termuat dalam Wedhatama, agar supaya tak kendor hasrat usahanya memberi nasehat, (sebab) meskipun sudah tua bangka, kalau tak ketahuan kebatinan, tentulah sepi hambar bagaikan tak berjiwa, pada waktu di dalam pergaulan, kurang adat memalukan.
3. …. Pangeran Mangkubumi ing pambekanipun. Kang tinulad lan tinuri-luri, lahir prapteng batos, kadi nguni ing lelampahane, eyang tuwan kan jeng senopati, karem mawas diri, mrih sampurneng kawruh.Kawruh marang wekasing dumadi, dadining lalakon, datan samar purwa wasanane, saking dahat waskitaning galih, yeku ing ngaurip, ran manungsa punjul.
(Dari babad Giyanti)
Arti :
….Pangeran Mangkubumi budi pekertinya. Yang ditiru dan dijunjung tinggi, lahir sampai batin, seperti dahulu sejarahnya, nenek tuan kanjeng senopati gemar mawas diri untuk kesempumaan ilmunya. Ilmu tentang kesudahan hidup, jadinya lelakon, tidak ragu akan asal dan kesudahannya (hidup), karena amat waspada di dalam hatinya, itulah hidup, disebut manusia lebih (dari sesamanya).
- Babad Giyanti ditulis oleh pujangga Yasadipura I. Isinya memberi contoh tentang seseorang yang selalu mawas diri, yaitu Panembahan Senopati.
4. Mawas diri adalah usaha meneropong diri sendiri dan dengan penuh keberanian mengubah pribadinya. Maka inilah asal dan akhir dari pada keteguhan lahir dan batin.
5. Laku lahir lawan batin, yen sampun gumolong, janma guna utama arane, dene sampun amengku mengkoni, kang cinipta dadi, kang sinedya rawuh”.
(Dari babad Giyanti)
Arti :
Amalan lahir dan batin, bilamana sudah bersatu dalam dirinya, yang demikian itu disebut manusia pandai dan utama, karena ia sudah menguasai dan meliputi, maka yang dimaksudkan tercapai, yang dicita-citakan terkabul.
6. Nadyan silih prang ngideri bumi, mungsuhira ewon, lamun angger mantep ing idhepe, pasrah kumandel marang Hyang Widi, gaman samya ngisis, dadya teguh timbul).”
(Tembung Mijil, Dari babad Giyanti)
Arti :
Meski sekalipun perang mengitari jagad, musuhnya ribuan, tetapi asal anda tetap di dalam hati, berserah diri percaya kepada Tuhan, semua senjata tersingkirkan, menjadi teguh kebal.
7. Demikianlah ajaran Ki Ranggawarsita, yaitu mengenai empat pedoman hidup. Begitulah orang yang menggantungkan dirinya kepada kekuasaan Tuhan dan menerima tuntunan-Nya. Ia akan memiliki kepercayaan pada diri sendiri, tetapi tanpa disertai kesombongan maupun keangkaraan.
Cita-cita kemasyarakatan.
1. Ki pujangga Ranggawarsito mencita-citakan pula datangnya jaman Kalasuba, yaitu jaman pemerintahan Ratu Adil Herucakra. Karena itu beliau merupakan seorang penyambung lidah rakyatnya, yang menciptakan masyarakat “panjang punjung tata karta raharja” …. “gemah ripah loh jinawi” ….loh subur kang sarwa tinandur” dimana “wong cilik bakal gumuyu.
2. Tiga hal yang pantas diperjuangkan, untuk menegakkan pemerintahan Ratu Adil; yaitu: Bila semua meninggalkan perbuatan buruk, bila ada persatuan dan bila hadir pemimpin-pemimpin negara yang tidak tercela lahir batinnya.
3. Dengarlah!
4. Ninggal marang pakarti tan yukti, teteg tata ngastuti parentah, tansah saregep ing gawe, ngandhap lan luhur jumbuh, oaya ana cengil-cengil, tut runtut golong karsa, sakehing tumuwuh, wantune wus katarbuka, tyase wong sapraya kabeh mung haryanti, titi mring reh utama.
(Dari Serat Sabdapranawa)
Arti :
Meninggalkan perbuatan buruk, tetap teratur tunduk perintah, selalu rajin bekerja, bawahan dan atasan cocok-sesuai tak ada persengketaan, seia sekata bersatu kemauan, dari segala makhluk, sebab telah terbukalah, tujuan orang seluruh negara hanyalah kesejahteraan, faham akan arti ulah keutamaan.
5. Ngarataning mring saidenging bumi, kehing para manggalaningpraya, nora kewuhan nundukake, pakarti agal lembut, pulih kadi duk jaman nguni, tyase wong sanagara, teteg teguh, tanggon sabarang sinedya, datan pisan nguciwa ing lahir batin, kang kesthi mung reh tama.
(Tembang Dandanggula, Serat Sabdapranawa)
Arti:
Merata keseluruh dunia; sebanyak-banyak pemimpin negara tak kesukaran menjalankan perbuatan kasar-halus; kembalilah seperti dahulu kala, tujuan orang seluruh negara, tetap berani sungguh, boleh dipercaya segala maksudnya, tak sekali-kali tercela lahir batinnya, yang dituju hanyalah selamat sejahtera.
6. Demikianlah yang dicita-citakan pujangga agung Ranggawarsita.

Ajaran Sri Rama

wayang Kitab & Kidung
Berdasarkan “Serat Rama” atau Ramayana Kakawin, yang disadur oleh pujangga Yasadipura I dan diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia oleh Kamajaya.
BARATA BERTAKHTA SEBAGAI
RAJA AYODYANEGARA
MELAKSANAKAN AMANAT DAN
AJARAN SANG BIJAKSANA RAMAWIJAYA

“Ketahuilah adinda, bahwa raja yang memimpin negara adalah pemimpin masyarakat dan sekaligus rakyatnya. Raja berkewajiban pula menjaga seluruh dunia.
Pedoman sebagai pegangan raja menjalankan kebijaksanaan adalah sebagai berikut:
1. Perhatikan dan ikutilah ajaran-ajaran kesatriaan. Peganglah sebagai pedoman kitab-kitab suci dan ikutilah perintah dalam kitab-kitab agama. Dengan berbuat demikian, niscaya akan datang kebahagiaan kepadamu.
2. Peliharalah rumah-rumah Dewa (agama), yang suci, rumah-rumah sakit dan tanah milik bangunan suci.
3. Peliharalah biara-biara dan perhatikanlah tempat-tempat suci dan rumah pedewaan. Jalan, pasanggrahan, air mancur, telaga, empang, tambak, pasar, jembatan dan segala apapun juga yang dapat membawa kesejahteraan rakyat, itu wajib adinda selenggarakan.
4. Pertanian wajib dikerjakan oleh raja dengan penuh perhatian terus-menerus. Dari pertanian ini datanglah segala macam bahan pangan yang sangat penting untuk negara.
5. Perbesarlah jumlah emas (harta) untuk biaya yang menuju kearah terjaminnya kebahagiaan. Adinda dapat mengeluarkan emas dan harta sesuka hatimu, asal saja untuk kebahagiaan rakyatmu. Ini berarti, bahwa dengan menjalankan darma (amal perbuatan), adinda juga membawa kebahagiaan untuk orang lain agar mengecap kenikmatan bersama.
6. Raja yang dihormati rakyat ialah raja yang tahu suka duka rakyatnya dengan sempurna dan terus menerus, begitu pula usahanya untuk mendengarkan kesusahan yang diderita oleh seluruh rakyat di negaranya. Sebab inilah kewajiban abadi seorang raja.
7. Tolonglah setiap orang diantara rakyatmu yang mengajukan keluh kesahnya dan janganlah diam. Adinda tidak boleh menghina siapapun juga, bahkan terhadap seseorang yang rendah sekalipun. Jangan menghina mereka yang minta pertolongan.
8. Cobalah untuk menjalankan kebijaksanaan pemerintahan yang baik, wahai adinda. Pertajamlah hatimu dan jadikanlah hal ini sebagian dari kebijaksanaanmu.
9. Susunlah rencanamu untuk waktu yang akan datang guna memelihara dunia dan menjamin berlangsungnya keamanan dan ketertiban.
10. Periksalah angkatan perangmu dan berilah latihan kepada tentaramu dan perhatikantah tentang kemahirannya. Siapa diantara mereka yang memperlihatkan kecakapan yang lebih dari yang lain, ia wajib dinaikkan pangkatnya. Sebaliknya yang memperlihatkan kekurangannya, wajib dilatih lebih mendalam.
11. Latihlah gajah, kereta perang, begitu pula kuda dan siapkanlah itu untuk menyerang.
12. Masukkanlah musuhmu dalam perangkap dan binasakanlah mereka itu dengan tali pemukulmu, sehingga mereka itu binasa seperti air yang mengering. Seranglah musuhmu dengan segala jalan dan segala perhitungan. Janganlah kamu tunda pembasmian orang-orang jahat.
13. Pahlawan yang dikatakan tidak ada bandingannya ialah apabila ia memiliki kekuatan seperti singa yang ditakuti dan apabila ia membunuh musuh dengan tepat.
14. Jauhkanlah dirimu dari orang-orang yang mempunyai perangai jahat, karena mereka itu menimbulkan kerusakan dan menyebabkan negara menjadi mundur. Bila adinda bersama mereka, maka pegawai yang baik menjauhimu, sedangkan teman-temanmu makin jauh dan musuhmulah yang dekat kepadamu.
15. Seorang pegawai itu buruk apabila ia acuh. Dengan demikian ia tak tahu hormat dan melanggar sopan santun. Ia dapat diumpamakan sebagai kambing yang takut dan hormat kepada pohon yang miring, ia dengan gembira memanjatnya dan dengan seenaknya serta tidak ragu-ragu berlari-lari diatas batangnya. Pegawai jahat niscaya akan kelihatan dan jangan menaruh kepercayaan kepadanya.
16. Perhatikanlah gerak-genik mereka yang mengabdi kepadamu sebagai pegawal. Selidikilah tentang kepandaiannya dan kesetiaan mereka terhadap kamu. Apabila ia bertabiat baik dan memiliki sifat-sifat baik, ia harus kamu hargai, sekalipun ia masuk keturunan rendah. Lebih utama apabila kamu terima seorang dan keturunan baik-baik.
17. Perhatikan dan selidikilah sikap segala pegawaimu apakah mereka itu berpengetahuan dan tahu tentang kenegaraan dan pemerintahan, patuh dan berkelakuan baik, apakah tidak bohong dan berbakti serta taat dalam pengabdiannya kepadamu, kepada negara, dan apakah mereka tidak jahat?. Dalam hal ini adinda harus mengetahui apa yang buruk dan apa yang baik. Adinda dapat mencegah mereka dari perbuatan yang menyesatkan.
18. Setiap orang pegawal wajib tahu tentang kepegawaiannya dan ia harus setia kepada pemerintahnya. Begitu pula ia harus tahu tentang pekerjaannya dan tidak segan untuk membuat pekerjaan baik.
19. Janganlah lekas-lekas memberi hadiah kepada pegawai, sebelum adinda menyelidikinya. Apabila adinda memberi sesuatu kepadanya, berikanlah kepadanya lebih dahulu suatu tugas, sehingga mencapai hasil. Jika terbukti, bahwa ia tetap pendiriannya untuk mengabdikan dirinya kepadamu, ini berarti bahwa adinda disegani dan rakyatmu mencintaimu sebagai manikam yang sakti dan membawa kebahagiaan.
20. Apabila adinda tahu sungguh-sungguh yang adinda kerjakan, dapat dikatakan adinda memiliki pepengetahuan yang sempurna seperti Dewa-dewa. Siapa yang tahu tentang kepandaian, ialah yang disebut serba tahu.
21. Bebaskanlah diri dari hawa nafsu dan kedengkian. Jauhkanlah darimu dari kecemburuan dan bersihkanlah dirimu. Dengan jalan itu adinda akan di segani. Ketahuilah, bahwa raja yang memperlihatkan keangkuhan akan kehilangan kewibawaannya karena ditinggalkan oleh wahyunya.
22. Angkara murka wajib diberantas; demikian pula perbuatan tercela haus dibasmi.
23. Kekayaan lahiriah, harta, benda dan pangkat tidak boleh menimbulkan kemabukan lupa daratan. Semua itu boleh mendatangkan kesenangan yang terbatas.
24. Ajaran kitab-kitab Sastra harus dijalankan dengan tidak henti-hentinya. Sekalipun itu sukar dilaksanakan, namun setiap orang harus mentaatinya. Bilamana banyak orang taat dan tahu akan ajaran kitab-kitab suci serta berpegang kepadanya, maka mereka akan melahirkan pedoman kebenaran.
25. Tunjukkanlah keikhlasan hatimu apabila memberi hadiah kepada orang-orang brahmana dan pendeta yang terkemuka.
26. Cobalah selalu tenang dan berbelas kasihan dan janganlah menunjukkan ketakutan kepada apa dan siapa yang adinda takuti.
27. Jangan berdusta, sebab dusta menyebabkan kejahatan. Dengan demikian adinda akan menghadapi malapetaka dan akan dicela.
28. Apabila adinda mencela seseorang, kerjakan sendiri yang tepat dan janganlah adinda terlalu dikuasai oleh hawa nafsu. Sabda raja harus sesuai dengan perbuatannya. Perjudian dan perbuatan hina jangan adinda kerjakan.
29. Basmilah kemabukan pikiran yang angkuh; hilangkanlah itu dari hatimu, sebab keangkuhan itu mencemarkan dan menyuramkan penglihatan.
30. Kesaktian dan kepandaian menyebabkan kebahagiaan dan kenikmatan. Untuk memiliki kedua hal itu bukanlah ringan. Orang-orang baik yang berpengetahuan dan faham tentang kitab-kitab ini patut adinda hargai. Apabila adinda memiliki beberapa macam kepandaian, pastilah rakyat mencintaimu.
Jauhilah perbuatan mengadu domba dan pujian yang menyesatkan.
31. Apabila sesuatu kejahatan telah jelas bentuknya, bertindaklah apabila perbuatan itu memang salah, Binasakanlah orang yang berdosa. Akan tetapi selidikilah hal ini dengan sungguh-sungguh. Sebaliknya apabila ia berjasa, berikan kepadanya hadiah dan kepuasan. Inilah hak raja untuk memberi anugerah atau memberi hukuman.
32. Ada lima macam bahaya yang sungguh mengancam ialah:
1. Apabila ada pegawai yang dalam menunaikan tugas di daerah menderita karena terik matahari.
2. Adanya sejumlah banyak pencuri;
3. Apabila kekacauan dan kejahatan merajalela;
4. Adanya orang-orang yang menjadi dan dijadikan “anak emas” pembesar. Kejadian seperti itu dapat dianggap sebagai kejahatan; dan
5. Keangkara-murkaan raja.
Lima macam bahaya itu harus dibasmi atau dicegah sebelum timbul dan merajalela
33. Ketahuilah adinda Barata, bahwa raja dapat diumpamakan batara Surya yang memanasi dunia oleh sifatnya. Demikianlah halnya dengan seorang raja yang membinasakan orang jahat. Bulan memberikan rasa cinta dan disegani oleh seluruh dunia Begitulah juga hendaknya perbuatan raja dalam memperhatikan dan memelihara rakyatnya.
34. Sebagai raja adinda dapat disamakan dengan sebuah bukit, sedangkan rakyatmu diumpamakan pohon- pohonan yang tumbuh di lerengnya. Pohon-pohon itu hidup dan dijamin hidupnya oleh bukit.
35. Adindaku Barata yang tercinta, itulah sesama kewajiban adinda sebagai raja yang berusaha menjaga keselamatan dunia yang bahagia. Adinda wajib mempertinggi perhatian kepada orang lain dan menaruh belas kasihan kepada rakyatmu, dan seluruh kesukaran duniapun harus adinda perhatikan.
Demikianlah nasihat wejangan sang bijaksana Ramabadra kepada adinda Barata yang direstuinya duduk di atas takhta Ayodyanegara sebagai raja memimpin tampuk pemerintahan, memimpin masyarakat dan rakyatnya.
Setelah bersembah sujud dengan khidmat kepada Rama dan Sinta, dan setelah satria Laksmana menyembah Barata, maka dengan ijin dan restu serta puji jaya-jaya dan kakandanya sang Ramawijaya, Barata dengan segenap pengiringnya turun dan bukit Citrakuta, kemudian berangkatlah meninggalkan hutan menuju ke ibukota Ayodya.
Kewajiban sebagai raja telah menantinya. Dengan merayakan “terompah sang Rama” dan menerapkan ajaran sang bijaksana, maka aman sentosa sejahteralah Ayodyanegara dibawah pemerintahan raja Barata.

Aji Pamasa

wayang Kitab & Kidung
Wedharing wyata mirid gempilaning piwucal
Aji Pamasa
DHANDHANGGULA
1. Mangkya nenggih sastradu nayadhi, tinilingna walering darana, ywa sisip ing pangertiné, janma kudu mituhu, pratélané sapta pracèki, lamun dipun upaya kinemat ing kalbu, samubarang kang linakya, sarwi mapan nora badhé damel tuni, suka tentreming rahsa.
2. Kang ginelar wyataning suyati, tlatènana kang pitung prakara, amrih dadi lantarané, datan gampil kinelun kalulun ing wawatak nisthip, linepat king deksura tinebih panyaru, tan damel pilalaning lyan, kosok-wangsul wèh ayem dasih sadyèki, temah manggih raharja.

3. Apa baya kang pitung prakawis, sinirika cidra lan pitenah, yèku warah kapisané, kaping kalih puniku, dyan sentana ywa dèn alingi, sagung tumindak lupa winastanan luput, ping tiga ywa mawang kadang, pangadilan jinejegna kanthi titi, tan pilih-pilih janma.
4. Catur angger ugering prarepi, tan mélik mèt artaning punggawa, dalah mundhut putrèstriné, dé kaping gangsalipun, aywa nganti anglalarangi, olah pangupajiwa sasamining manu, songgarunggi mring kawula, dèn ugemi pitutur kaping sat niki, pinuntua ing driya.
5. Kang wusana pitutur saptèki, lamun ngambah margining utama, udinen mrih lestariné, nora gampil kayungyun, kapiluyu lampah basiwit, tan remen cacaketan klayan watak margu, sirik cengil pasulayan, anebihi gegelah regeding bumi, nging pedak kautaman.
6. Mangkya kiyé gelaring pangerti, paugeran kang pitung prakara, istingarah munpangaté, piguna mring kang ngluru, dadya tales tanduking karti, prenah prandéné laras salir tindakipun, mahanani kasudibyan, temah kalis watak umbag klawan edir, sinantun paramarta.
7. Pradikané wawaler pratami, kang sinebat cidra lan pitenah, winedhar wiyar tebané, suka serep ing semu, seserepan wiraos prati, damel padhanging prana nebihken bebendu, nuntun mring lempenging lana, istingarah kang tinuju tan nalisir, nalusur woting darma.
8. Pracékané janma luhur kaki, datan arsa guna pasang kala, njijiret sapapadhané, tan bungah lamun nemu, siku dhendha nlikung sasami, nora ngungalken jaja yèn asanès lesu, datan asurak susuka dupi miyat panandhanging sapadhèki, luluh welas nalangsa.
9. Tembung cidra sinawung punagi, ngandhar-andhar winuwus nglengkara, péndah madu mamanisé, nging sapawingkingipun, nggémbol upas kang niniwasi, nukulaken panandhang tuwin tilar latu, raos bentèr nguntar-untar, wisayané karaos awrat ngantebi, lir kanteban antaka.
10. Ywan wus wani nglairken prajangji, poma-poma dipun tetepana, netes sagung pangucapé, nora lèmèr ing wuwus, nguwus-uwus tan ana dadi, tetembungan dèn arah jumbuh kang sinaguh, tumapak ing lalampahan, datan lumpuh karana kaot sinanggi, wèh sengsem mring tyasing lyan.
11. Lamun sumanggem tanduking gati, dipun éling niyat kang utama, pinurih saged rampungé, tékad kang wus pinuntu, aywa wudhar tanpa pangaji, wawataking satriya sirik colong playu, datan ngucirèng ngayuda, andhepipis ndhelik winengku raos jrih, nilaraken palagan.
12. Panjangka kang dadya lenging ati, antepana minangka ubaya, pinétang utang èstinè, lamun maksih linuru, kaanggepa dèrèng nglunasi, siyang-ratri tan kendhat nggènipun dhedheku, nunuwun Hyang Murbèng Suksma, istingarah gung pangajab temah dadi, tan cidra ing ubaya.
13. Jejering titah sawantah kaki, mokal lamun kalis ing sasanggan, kang wus dadi pepesthèné, milaur urip iku, amituhu kanthi taliti, tegen rigen pralaga tlatèn miwah tekun, tan bosenan nora wegah, angugemi pakaryan kanthi permati, teguh maring bebahan.
14. Lamun sirik watak ngadi-adi, tlunyar-tlunyur miwah lèlèmèran, dhemenyar pepénginané, tan kablithuk pandulu, gampil sengsem kang katon èdi, nanging mugen manunggal genah kang tinuju, nering laku nora léngah, istingarah andika manggih basuki, linepat saking papa.
15. Kénging winastanan cidra ugi, karem donya wah malih pangwasa, nanging mamak wawatesé, tan darbya raos rigung, kanthi nranyak ngrabasa gahi, nyahak wewenanging lyan kécalan pakéwuh, kang dèn bujung pakareman, watanira suker tan béda wewerri, buteng ribeng krodhanya.
16. Paran nggènira nyepeng sumangi, setya tuhu bekti mring Hyang Murba, ywa cidra gung pepecehé, prancana tan dèn ugung, temah ndadra misésa wathi, tundhonipun nalangsa nalisir king wangsu, tilar salir manah sonta, kusung-kusung kemrungsung kécalan santi, angulari papaka.
17. Dipun tlatèn samya angulari, murih dadya manuswa bisama, ywa gampil mupus tekadé, ywan rumpil lampahipun, upayanen kanthi sasmreti, saswih maring Hyang Murba tumus sanggya manu, tebih saking tutur cidra, nging maujud datan mandheg katamarti, satemah pinitaya.
18. Menggah tuduh ingkang gung utami, kanthi wijang kawrat sastracetha, tumètès kadya kusaré, rinumpaka ing tembung, basagita adi wigati, susmaya prabaning Hyang abyor cahya kitu, kang anecep wurukira, dhépé-dhépé gilig ing prana maniwi, kasmala binirata.
19. Poma éling swawi dipun luri, pranahara jatining manuswa, titah sawantah jejeré, cidra mring karsèng Ulun, iku teges nggénjah papati, apesé ngemping lara nyanyadhang bebendu, datan uwal king cintaka, ngundhuh wusa wisaya dadya mangangi, gesang datan piguna.
20. Sasing janmi swawi angupadi, dimèn pana tuduhing Hyang Suksma, aywa mblasar tumindaké, tan kéragan mring napsu, temah dyusdha niyak wastuti, nginger-inger wawaler mamada sastradu, leheng meleng mring pranamya, angulati bebener ingkang nayadhi, tumus dugèng dalaha.
21. Mangkya cidra tumraping akrami, jalu gini datan ana béda, kénging winastan pracoré, lampahnya pindha margu, undhuhané mrawata wèsdhi, basan pranamèng kapi wruh rukem kayungyun, lupa upasing walika, ngindhik-indhik pamrihé damel papati, mamanisé wisasa.
22. Wanti-wanti peceh parahati, pisan cidra angèl anguwalna, kumudu kang kapindhoné, katri wus kadi wuru, temah wasa nering prajangji, sengkeraning pralaga datan ana wèstu, parnoh sagung tindakira, kang dèn uja tan liya dityasmaraji, rongèh tansah walisah.
23. Wawaler tumrap sanggya pawèstri, ngumbar gujeng kucah liring nétra, adol ati sapa baé, dhadasar badan lugu, dupèh èdi ngelam-elami, kasukan kang binujung atilar pakéwuh, tan mangabisatya mring raka, lamun limpé ngaluyur ramban taruni, angrarantam pracéka.
24. Pan wus dadi sasakiding parwi, cegah hawa tahen ring prancana, rumaket-raket sasambé, was maring kakung tuhu, abiwadha setya hastuti, dyatmika neng nayadhi nging sirik salingkuh, tutura angarah-arah, ririh raras sinuprih katon mrak-ati, tansah saswih ring garwa.
25. Nora béda waler ingkang sami, tumrap priya kang wus balé wisma, burusa lair batiné, asisipat memengku, lubèr ing sih sarwi ngayomi, dadya gapiting braya ywa mingkuh pakéwuh, pantang pepes batosira, lamun manggya kèh sambé-kalaning margi, jroning gesang punika.
26. Dipun èmut ma nenem puniki, dhihin mantep ing pamilihira, ping kalih madhep atiné, katri marem mring jatu, kaping paté mawang ring rabi, pinindhakna wawadhah ringkih kaotipun, kalima mangabiwadha, garwanira dèn papanken rowang padmi, kanem mardawèng budya.
27. Poma-poma kenceng dèn cepengi, traping laku minongka manggala, catur wala pepindhané, sona ing setyanipun, myang turangga cukat ing karti, dwipangga datan kéguh saguh kang ginayuh, brekiti ing sregepira, siyang-ratri makarya tan wènten sepi, swawi dipun tuladha.
28. Aywa pisan cidra ing prajangji, tilar garwa kapéncut ing liya, awit awon pinanggihé, manah gampil kayungyun, kasulistyan aniniwasi, adhakan dadya tuman angèl mantunipun, lamun dipun turutana, amengangah ngangah-angah saya ndadi, becik dèn singkirana.
29. Kakaroné kasengsem tataki, tuhu bekti nggigilut wiyata, murih dadi lantarané, tentrem ing brayatipun, tumus harja miwah basuki, sumrambah tedhak-turun sapawingkingipun, sadaya samya pinerdya, dimèn pana warahing luluhur yekti, temah kalis rubéda.
30. Sabanjuré winedhar sastradi, apan baya winastan pitenah, nyarwètèh kedaling lambé, ngrarakit tembung lunyu, amemada sarta ngadili, ngumbar panyatur ala kèh panacadipun, alaning liyan dèn andhar, kaya-kaya beciké tan ana sami, klayan dhiri pribadya.
31. Tyang kang remen mbèbèrken wawadi, lir karaba muleg ing akasa, anguwus-uwus wuwusé, basda winewah bumbu, pamurihé saya wigati, sanès kinarya lalap uraping panyatur, nukulken wijining tikbra, dyan pracara ukara datanpa bukti, iku watak katbuta.
32. Tembung sisip sinusup kasisip, murih bisa sasap ing sasama, samakéyan sasolahé, kudu unggul binuru, nora ngétang katala sami, lumuh lamun prawadha kalindhih ing semu, mangungsir mrih kasumbaga, ancik-ancik kunarpanirèng sasami, jail lampah candhala.
33. Amemada sisiping sasami, nora béda gandaning kusana, lir bathang ingkang wus lungsé, bacin lamun dèn ambu, anderbala mbabar wewerri, parandéné si punggung pambeg wah kumingsun, kadi hakim kusalanya, angadili sapa-sapa ingkang wèsdhi, kasereng lir katwara.
34. Dipun émut ywan namung sawiji, ingkang yasa sanggyaning prarepa, tuwin jumeneng hakimé, tan liya mung Hyang Agung, kang kagungan gung kasugatin, misésa palimirma miwah paring bendu, dé manuswa iku sapa, kumawani kumlungkung ngadil-adili, tumanduk ring papadha.
35. Poma bisa mapanaken lathi, datan lèmèr ngumbar-umbar kata, kanthi permati empané, wit kasunyatanipun, ilat iku lir wisa mandi, dhahat karya sangsaya punapi kasumbung, lamun kalintu trepira, ing kawurya pranama adamel tuni, katiwang ing papaka.
36. Èmperipun kendhali turanggi, dipun trapken jroning cangkemira, sanadyan alit wujudé, ywan pinekak satuhu, temah gampil dèn kemudhèni, tumrah badan sakojur tan liya mung manut, makaten lidhah sanyata, dyan mujudken pérangan badan kang lengit, nging misésa mring janma.
37. Kadi latu nyalat wreksa langking, dyan sapletik bisa ngambra-ambra, temah mbesmi alas gedhé, makantar urubipun, ngalad-alad ambilaèni, ilat iku tan béda kadya hagni tuhu, lir jagading kadurakan, kang dumunung jro jiwa-raganirèki, dadya sangarakalya.
38. Angrèh sato teka langkung gampil, buron wana peksi raja-kaya, dalasan saisining wé, saged kadamel lulut, tan mangkono ilatirèki, nyata kalangkung lungit ywan kinarya tutut, pindha krodhaning denawa, nyembur wisa wisaya aniniwasi, surata siya-siya.
39. Klawan ilat padha muji Gusti, ngidung dhikir ing sawayah-wayah, kadi brahmana anggepé, kaya-kaya manekung, angèmperi panatagami, nging klawan lidhah ugi nyupatani manu, mijil king tutuk sajuga, ipat-ipat punapa déné wastuti, muspra datanpa guna.
40. Jihwa pindha landheping bedhami, lamun linga muwus ngayawara, pasulayan undhuhané, nyebar wijining tatu, datan mokal wawalar ndadi, nora gampil pineper kalamun katrucut, andhatengaken braminta, saraga gung ngebeki jro tyasirèki, lengka kang rinaosna.
41. Lir kusara mrentul wanci énjing, sumberipun saking alam raya, sung seger tanem-tuwuhé, watak asih tan sengkung, dadya daya ingkang nguripi, makaten imbanipun lidhah ingkang wèstu, nètèsken sarkara soba, sarasati binawa amangastuti, ngenut pangrèhing suksma.
42. Nadyan namung pérangan kang lengit, lamun mogèl mobah jroning latha, ananawur sarawa gé, kang dados panènipun, sakelangkung anggigirisi, waged dados kabegjan kalamun pituhu, nanging kosok-wangsulira, amangangi kalamun nyenyebar branti, pramila kang bisama.
43. Kang wasisdha tansah angulati, mring bebener wucaling bremana, sinartan manah kang sarjé, kasantyan kang dèn bujung, mekak hawa laksita juti, lidhah dipun kendhali tutur tan kalantur, sumimpang sagung pitenah, awiwéka mrih dadya harjaning janmi, yèku manuswa tama.
44. Salir wawengkaning janma singgih, tinalesken wisiking Hyang Suksma, kang kaajab mung bahagé, rurumpakaning wuwus, was winawas kanthi premati, leget mring kautaman priyatna ing tembung, wèh sarsa maring sasama, sèstu soba suka wicaga ring dasih, dharaka pramusita.
45. Pan wus langkep lingkabing pramodi, menggah warah cidra lan pitenah, dipun ening panampiné, lebetna manjing kalbu, dimèn menep jro sarasati, dadya daya paraya salir dhasdhi langut, langet langkananing lana, leng lumingling ngluluri pranamya dhani, ngulari rèh sampurna.
46. Mangkya dungkap warah kaping kalih, ywa ngalingi luputing sentana, awit ageng durakané, babasan ngingu-ingu, pringga dhusdha mutawatosi, walagang nggènnya lumung ywan datan kapugut, ngreregedi janaloka, wusna anjrah sulurnya angririsaki, wohira gung rudita.
47. Lumingkabing wawaler puniki, wus winedhar déning pramudika, tilingna kanthi luménggé, resepna kang satuhu, temah dadya daya basuki, ukara rinumpaka jroning sekar Pangkur, prihé sami pinungkurna, sagung trékah kang cengkah klayan prarepi, swawi dipun gatosna.
P A N G K U R
48. Murih harjaning puraya, poma-poma wicaga dèn ugemi, cepengana ingkang wastu, langkana tan wrin godha, upayanen paugeran priha tan wur, lumèng prabaning nagara, sumrambah kawula dasih.
49. Ywan pramoda dadya wasa, wit tan lengkep manira angluluri, dadya ura jroning dhatu, paraha sanagara, temah sisah lamun katala wus kusup, angèl dipun dandosana, jugar wigar kang kawuri.
50. Lamun ginadhuh wisésa, aywa gampil atilar silastuti, sanadyan tumrah ing bandhu, pakeken datan lirwa, nora ngugung dupèh sentananing ratu, dhusdha pinaring papaka, dharaka manggih astuti.
51. Kang wasisdha angrèh praja, gegebengan pradika gegyan adi, ywa parasama ring manu, linenggahna sapadha, siningkirna sagung dhasdhi angriridhu, murih kalis king dhuskarta, satemah lulus basuki.
52. Pirengwa dipun landhepna, piyarsakna gung pasambating kasi, kalamun datan pakantuk, kaadilan kang santya, sanadyanta dudu tuturasing ratu, ywan gesangipun kastura, tikbranira dipun sanggi.
53. Tumarah para sentana, kang gumendhung morang kèhing kintaki, kang dadya ugering dhatu, remen anunggyangtaya, amikara dupèh maksih tedhak luhur, aywa mangu pinidana, ngetrepi jejeging adil.
54. Aywa pisan darbé sedya, angalingi klepataning sentani, lampahnya aywa dèn ugung, niyak sagung prarepa, saya ndadi dhumateng wisésa wuru, nora idhep mring dadalan, muksapada kang linari.
55. Masiya maksih sudara, nanging remen miyala sasing janmi, becik tinerapan siku, dinendha sawatara, ingkang murwat klayan kalepatanipun, pamurih rèh jinejegna, ywa nganti amémérangi.
56. Nilep lepating sentana, paribasa babathang dèn kemuli, sanadyanta nganti brukut, wus datan kawistara, mongka sutra ingkang kinarya salimut, tetep dugi titi mangsa, kinuswa gandaning pati.
57. Aja dupèh kadang raja, tandang-tanduk sarwi ngéwan-éwani, panganggepipun kalantur, kascar-yan kalenggahan, kasyang asih kibir edir lawan umuk, apracara sagendhingnya, tyang alit tan ana wani.
58. Awasna pamawasira, wirahsané bebener duk inguni, basan badrak badan kramu, langking tan ana rega, nora bener kalamun tan dèn paèlu, sinikara siya-siya, kawuri amamalati.
59. Prayojana ingkang prama, nora gingsir kalindhih sagung pamrih, ngudi cantya aji mumpung, sentana dadya bala, tan nayuti sanadyanta tindak luput, binari asuka-suka, tundhoné angundhuh tuni.
60. Aywa wuru mring sarkara, mamanisé wisésa pinracadi, dupèh lelenggah ngaluhur, sanak kadang dèn uja, pinaringan wengan awawatak diyu, kethaha mring donya brana, prana winengku ing moksil.
61. Pan wus jamaking manuswa, lamun mukti padatan dadya lali, mring pangwasa kapiluyu, ical landheping rahsa, andrawili kasukan ingkang kabujung, mring dasih suka andaha, trékahnya anjurbalani.
62. Suka-suka parisuka, ngajak-ajak tingkahipun nyrambahi, dhateng sanak-kadangipun, jinarken ngambra-ambra, lamun lepat sengadi datan anahu, kupiya ywa kawistara, pinurih tiningal èdi.
63. Nggagadhang éndrasangsara, mring sentana mirah nggènnya andani, sinarujuk dyana luput, lumuh pènget myang warah, wit misésa datan wènten tembung klintu, samudaya kaleresna, tyang andèh tan ana wani.
64. Lamun kaladuk énaka, mangka murba wewenang angrèh kasi, tedhak turun dipun ugung, acongkak sosongaran, angandelken maksih dharahing ngaluhur, andé sangsaraning praja, anjuk risaking nagari.
65. Poma dipun waspadakna, ywan amengku wisésa nyakrawati, aywa kalulun ing napsu, tyas ura nir waskitha, kang satiti mulat sisiping tumanduk, nadyanta alit kéwala, bisa akarya papaki.
66. Kalamun dadi pramuka, pinitaya mangrèh jantraning nagri, andurasa labetipun, mélik dèn anjuk tebya, sung ancuta mring bebener datan indung, sirik nyilibken piala, pracékaning sentanèki.
67. Bangkit nahen sagung hawa, kaadilan tan kendhat dipun udi, tumrah kawula sadarum, tan ana béda-béda, wus samesthi kang lepat pinaring bendu, dadya pangungsèn sanyata, tumrap kang sami andasih.
68. Becik lamun paramarta, sung apura kawula ingkang lali, niyak gegebengan luhur, wus mratobat sanyata, nanging baya aywa kalimput ing semu, katalya ing panggraita, lampah dora datan maksi.
69. Mangkana traping trapsila, samektakna manah kadya udadi, nalar mulur tan kalantur, dyan loma pangapura, aywa mamang matrapi ingkang kalintu, pinta-pinta paneraknya, kadang kawula pan sami.
70. Utana lestari begja, titis mawas gelitaning prakawis, nora nilarken papacuh, ambuburu angkara, dupèh lagya ginadhuhan sendhang madu, mring asanès siya-siya, lepating kadang siningid.
71. Angunguja karsèng driya, catur wengis tumanduk ing sasami, basan tatanem gugrumbul, kemarung bobondhotan, undhuhané prahara gung sakelang-kung, waris sentana dèn uja, tan ana nohan nuhoni.
72. Kèh tyang sudra ananantya, tinilingna pasambat kawlasarsi, nora luwèh mring panglawung, dupèh sanès sentana, iku dudu wawantuning pangrèh luhur, luput winastan waskitha, kekeling kang dipunnèni.
73. Urip muspra nir sarkara, kakarèné tan liya sarwi rungsit, nglangut nenga namu-namu, ical jatining rahsa, dadya linglung nunjang palang kadé diyu, risak sakèhing ukara, wus tan wènten silastuti.
74. Latah remen andurkara, kibir edir jubriya sagung janmi, mring bebecik tan anaur, malah mamales ala, kosok-wangsul mring sanak-kadang sadarum, panyaruwé tan pinanggya, jinarken amurang tatir.
75. Makaten kababarira, ywan kaandhar pepeceh kang kaping dwi, andungkap warah katelu, yèku amawang kadang, nora béda klayan piwucal karuhun, menggah lengkeping ukara, sinekar Asmaradani.
ASMARADANA
76. Tanasing janma utami, ingkang tumrah gesangira, mring pakeken datan andor, ngugemi sagung wiyata, winedhar sang twijara, mahnani gancaring laku, linepat salir rencana.
77. Aywa nganti atatawing, ngandelken kadang sentana, dupèh maksih dharah dhéwé, nanging pasemoning nitya, tan kénging pinitaya, rongèh jlalatan ing semu, tan pantes sinung kawiryan.
78. Dyan kadang lamun tan becik, nora untung rinaketan, bisa dadi kajalomprong, angajak-ajak sangsara, tiwas tuwas wuntatnya, wasna kaduwung ing kalbu, nanantya datan piguna.
79. Ruruh rentahing andani, pinaringken ring sasama, kang amiji karsèng Katong, tuturasing kretiyasa, pantes dèn pedakana, tulakang dadya babayu, kukuwating anggyanira.
80. Saking pasemon wus kèksi, wawantuning taluwanwa, remen narajang papakon, polah-tingkah sarawéyan, tan jetmika ing budya, gumuyu rasan sarwa sru, raos lingsem datan darbya.
81. Boten wurung tumut isin, winirang lampah dursila, nir kretyawan datan kalok, kèmbèt awoning sentana, murang kèhing pranata, kawurya tilar talutuh, temah angundhuh cintraka.
82. Alelengis sarwi rukmi, busana mawa lengkawa, pambeg ladak lumuh anor, rumaos trahing kusuma, pantes sinudarsana, iku wateké wong kumprung, kapengkok nora sembada.
83. Lamun ngrentahken paparing, kukucah gung kamirahan, jroning tyas adil kang dumon, nora mawang béda-béda, dharah punapi liya, piniji ingkang tuwajuh, bangkit angéntasken karya.
84. Lumingling sagung kajatin, datan kalèntu garjita, patitis salir pepunton, nora kawuh ing pangrasa, tulya kujanapapa, sung kawiryan maring bandhu, mongka lengka twasanira.
85. Dyan sanès darbé kawanin, tangginas ngrampungi karya, lumrah pinaring pambombong, sokur bagé linubèran, sarna donya sosoba, swawara asih sawegung, kadang konang binucala.
86. Ywa karya tyasing lyan kanin, wit paparing tan warata, pilih-pilih ingkang kanon, singa celak kang kadrasa, tebih nora tinenga, iku patrapé wong pengung, ngembrah dadi taluwanwa.
87. Sumimpanga king durniti, dumarusa myang diggama, bubujeng pamurih kalok, kakadang dinadya bala, asanès winiruda, daridya undhuhanipun, pawingking manggih katala.
88. Kalamun datan sawawi, bisa mengku saniskara, manah rupak nora kamot, teges sanès trah ngawirya, becik lamun rumasa, ngembat wisésa tan saguh, milaur mundur kéwala.
89. Dipun émut aja dumi, lagya darbé pangawasa, dériti marang sakèhing wong, nanging sanak-kadangira, dèn papanken ing ngarsa, mongka tan pengkuh ing kéwuh, makarya nora kawaba.
90. Tilingna ning ing kawathi, patitis pamawasira, gatosna ingkang sayektos, lamun paparing wisésa, aywa mawang sentana, kawanin suba tan sengkung, iku dinadya pramoda.
91. Kathah-kathahipun janmi, twasa kalimput dureta, wuru dhumateng pangwaos, mumpung maksih amisésa, morang sakèhing tata, sanak-kadang mitra-karuh, linenggahken papan éca.
92. Boten lingsem ing durniti, jirèh ingangkat kretyawan, lenggah twijara tyang parnoh, pandhir dinadya pangarsa, pingging sinuba dwija, ngangsu kawruh mring tyang blilu, mung krana maksih sentana.
93. Lagya kalampah samangkin, ing jaman kala katwara, mundhak-mundhak ing pakéwoh, néréndra nir ring sudarsa, bucal lampah tatakya, rèh praja déning babandhu, tilar warahing pujangga.
94. Darbéning lyan dèn talappi, kasereng nunten kawirya, sareng sentana sapunton, sarujuk jajarah samya, daruti semunira, tan béda bebegal lamun, naracak miwah ngrabasa.
95. Èwon-èwoning wong drengki, guyub ngambah durniminta, sugal diksura dèn soroh, sakadang cepeng wisésa, praja dadya puwara, garwakara sugih galu, kang nandhang wong sanagara.
96. Ywan wus kukumpul nyawiji, dundum brana duratmaka, béda apa tiyang awon, suka-suka sagendhingnya, nétra kawuh tan menga, suthik wruh roganing manu, tinengen mung kasukannya.
97. Dudu patraping wong singgih, mirungga maring sentana, mawang kadang lamun andon, suka dalajat pangkatnya, tanpa panitipriksa, kang winiyat dupèh bandhu, sanadyan sisipat dura.
98. Lamun mangsa kala dugi, jugar tataning puraya, gesang saraga wah kasor, drasa kaleban kasmala, kawurya dadya ura, ririsak datarpa duwus, katala katiwang marga.
99. Mring sasama gardhawari, aywa pilih-pilih jalma, sadaya titahing Manon, datan remen karya pringga, nging pinurih énaka, kasaénan amemengku, kawaba nandukken dardya.
100. Lamun becik mring sawiji, mongka gething dhateng liya, iku winih ingkang awon, remen anyelir sentana, mring asanès durcara, raos mèri ingkang thukul, tulakang panèn kasmala.
101. Nandukna bebener ugi, boten kénging kawa-kawa, tan mingkuh saking wawaton, miling-miling dupèh mitra, lilingen kang prakara, linimbang-limbang satuhu, kanthi lungiting pangrasa.
102. Nadyan tedhaking acedhis, nanging bener pratikelnya, pantes kalamun linakon, kosok wangsul dyan sentana, nging kasingsal ing budya, tinurut temah kalintu, nyimpang margining utama.
103. Mlarat donya datan pasti, asor ing bubudènira, makatena tiyang kalok, tan wastu luhur ing nala, becik lamun saranta, tinaliti kanthi turut, patitis pamawasira.
104. Pétanana kang priyatni, pundi titiyang pranamya, pratingkahipun tan parnoh, paraya anteng garjita, prayoga purugana, nora krana maksih bandhu, nging pradana pangawruhnya.
105. Miyat sudraning sasami, marma manah tinarbuka, thukul welas tan pitakon, maksih kèmbèt apa liya, iku nora prayoga, becik legawa tutulung, lila mardawa ing budya.
106. Wageda dadya palupi, jumbuh turasing ngawirya, nuhoni jejeging pakon, papakeming puruhita, janma paramatatya, madhangi kang puru-puru, ngruwat sanggyaning piroga.
107. Lakon jaman kalasrenggi, trékahé tiyang candhala, kadi réwanda saranggon, gendhon rukon tindak dhusta, tan ana jrih duraka, ywan lepat tutup tinutup, pinurih tan kawistara.
108. Wus sinerat jro pepesthi, tekané jaman drubiksa, nora maèlu piawon, sanak kadang dalah yoga, wuru kayungyun arta, wengis mamalak ing pémut, suthik nilingken wasita.
109. Mengker mangsa danawa ji, maksih tilar wawantunya, tan gampil luntur winasoh, santun ingkang baureksa, tindakira tan béda, srakah kethaha lestantun, ngungumbar saliting hawa.
110. Saking iring wétan semi, muncar-muncar poladannya, nging paéka kang dèn gémbol, ngimpun-impun sanggya mitra, sarana suka purba, cinegah lumawan sampun, ngogak-ogak pangu-wasa.
111. Kinarya kudhung agami, mangka wawaton dèn prusa, iku nyanyadhang pakéwoh, kang nunggil winastan bala, béda dèn anggep mala, temah puraya tan wèstu, dredah bangsa padha bangsa.
112. Tyang pengung mangrèh nagari, tindakipun dumarusa, nora jejeg mring wawaton, wit tan jajag rèh waskitha, mung bubujung hartaka, kaleng-gahan miwah dhatu, tilar waspaosing prana.
113. Pasemonnya ladak edir, mangathik kadang myang mitra, lirwa wisiking Hyang Manon, supé harjaning kawula, remen lamun pinuja, pangiring samya anglulu, pamrih antuk kang dèn sedya.
114. Pungkasing jaman dériti, lamun bénjang ana janma, mijil saking jro wewengkon, sudarpa asidikara, wadana ning susmaya, tan mawang kadang satuhu, adil tuwin paramarta.
115. Tyang kang mlarat datan langking, sugih tan mangéran bandha, migati mring sakèhing wong, suthik nenengen sudara, adil sagung prakara, tebih mélik cegah napsu, mungkul mring Hyang Widi-wasa.
116. Wus tan kapéncut ing daging, alus sakelangkung lembat, agal donya datan kamot, sasat Pangéran maraga, ngrucat salir angkara, jro riribed sonya tuhu, pupuja ngéntasi karya.
117. Meleng gilig kang dèn udi, harjaning rastala samya, datan kasengsem pambombong, kang damel rupaking jangka, nora mangathik jana, priha tindak tan kalintu, lepat boten kawistara.
118. Dungkap pungkasing wigati, wawarah mangrèh puraya, mirid karsaning Hyang Katong, sinambet wedharing weca, gelaring tanah Jawa, dyan mung samrica binubut, pantang lamun dèn badala.
119. Sinuprih tan morang margi, uwal saking lenging widya, suka pémut mring kang mirong, nyinyingkur aji pamasa, angedirken pangwasa, jinugag lingkabing wahyu, sambet wyataning twijara.
120. Piwucal catur puniki, prakawis mèt donya brana, kalayan angudi wadon, gegaran wenang misésa, tan luput ginayuha, mring panguwaos gumendhung, sapa wani mancasana.
121. Asring dadya ciri wanci, ingkang lagya amisésa, pongah awawatak rimong, nubruk buron ingkang ringkya, minongka tatadhahnya, makaten tyang alit iku, dèn mangsa nora suwala.
122. Menggah lengkeping kintaki, kacetha pupuh lajengnya, rinumpaka sekar Sinom, dyan kawedhar sakadarnya, manut gaduking nala, paripaos timun wungkuk, kinarya imbet kéwala.
S I N O M
123. Wus dadi jamaking janma, jro jaman mengeng puniki, ngasil-asil donya brana, raos lingsem wus kawuri, tebih tataning nagri, mring gebyar samya kayungyun, tur ginadhuh wisésa, saya wantun nerak margi, kang dèn bujung tan liya mung kasukannya.
124. Raos tuwuk tan kadarbya, sasat genthong ingkang ciri, masiya dipun grujuga, toya sablumbang saari, panggah datanpa isi, ngowos-owos maksih suwung, tangèh lamun marema, antuk leksa kurang kethi, puluh-puluh iku wataking drubiksa.
125. Becik wantuning walika, anguntal mangsanirèki, sapisan tumunten néndra, tan mosik nganti sasasi, kadya lampah tataki, nenedha sacekapipun, nora kaladuk hawa, ngangah-angah jroning budi, béda janma ingkang wuru mring pangwasa.
126. Mangiwut tatandho arta, bikut gènira nalapi, wus ical éwuhing rahsa, prawira datan kadarbi, mamak dhumateng gahi, waton antuk kang dèn bujung, dyan ngrebat uriping lyan, tegel tan èwed papati, welasarsa wus tebih saking pangrasa.
127. Tyang alit kadamel tumbal, dadya wadaling durniti, ringkih dipun kaniaya, kinarya ompaking wisdhi, pangadhuh tan praduli, nganung-anung aji pum-pung, murba gunging wisésa, kang badal dipun sirnani, songar dupèh tan ana wantun mamada.
128. Remen angalap ruruba, punapa déné upeti, mundhut lebon king punggawa, wah malih kawula sami, pangarem-arem mili, temah gesang tansah kogung, kecèh wang paribasa, tan nenga gegesing dasih, kang tinengen karemenaning pribadya.
129. Urip dadi salah kaprah, akarya ngungun ing ati, élok lamun rinasakna, nora barès malah mukti, nasar antuk astuti, kang jujur nandhang kalantur, blaka manggih antaka, resik winada tan wasis, puluh-puluh wus dugi lengkeping jangka.
130. Pawingking ngundhuh dahana, ingkang ngririsak nagari, karya uraning pranata, tumus gesangirèng dasih, bebener dèn tebihi, wusna samya andon napsu, lupa rèhing prawira, bubujung mulading kapti, praja jugar kawula buyar wuntatnya.
131. Ywan lepat gènnya mranata, musna lestarining nagri, wengkon samya ambalila, crah adredah rebat mukti, tilar tepaning sami, padha bangsa samya campuh, mangsah prang mumungsuhan, tan ènget raos manunggil, lamun kadhung kaduwung datan piguna.
132. Ical kuncaraning praja, puwara kasub jinawi, surem madyaning buwana, tan pinétang nagara ji, rinèmèh jro papaki, masgul wit datan pinunjul, gung asor dalajatnya, kondhang bangsa ingkang wengis, nora idhep tataning janma utama.
133. Prihatos lamun uninga, trékahing umat puniki, téga roga-ning sasama, béda gama dèn cengili, séjé bangsa sinengit, kadya wawantuning diyu, jro liliwunging wana, bubujeng buron kang ringkih, pinrawasa dèn gaglag kanthi kethaha.
134. Tebih saking asih darma, welas-arsa pan wus sepi, tan éman patining liya, dingkik-diningkik sasami, sak-serik saya ndadi, miruda padhaning manu, tyang mursid sampun sirna, saking lebeting nagari, kang tinengen duraka klayan dursila.
135. Tangané padha candhala, narajang sagung papali, agahan karem mring donya, kala jiret dèn pasangi, samya ngarah papati, panguwasa soroh napsu, munasika kawula, hakim remen wang upeti, pra pangarsa mutusi sukèng tyasira.
136. Angger-angger sinélakan, tinekuk-tekuk sakarsi, miturut kang asung arta, wus supé jejeging adil, babasan grumbul eri, ngrèrèndhèt ambancang laku, kemarung pindhanira, mitra tegel angapusi, wus tan ana kang kénging dipun pracaya.
137. Aja pasrah marang kanca, punapa déné pawèstri, ngalèyèh ing pangkonira, tan jejeg kedaling lathi, langkung kathah mapali, mantu lumawan si biyung, anak lanang tan bektya, marang bapa mamancahi, dugèng jangka jaman babaya cintraka.
138. Kalakyan ing jaman ika, tyang sugih remen ngapusi, kang mlarat tan pinracaya, dora cidra salir janmi, wawaler dèn campahi, nenedha tangèh atuwuk, padharan tansah luwya, sisimpen datan gadhahi, nyebar wiji tangèh angundhuh wohira.
139. Ngombéya maksih dahaga, tatamba panggah sakit, linipur saya dhuhkita, dèn nepken mubal andadi, éwuhaya ing budi, sinabarna dadya gugup, arsa aso kang sayah, langkung kesel kang pinanggih, lamun léna sungkawa nora kuwawa.
140. Atatandho rajabrana, asalipun king durniti, takeran sami dèn suda, traju ginanjel tan wèsti, watu timbangan cicir, kabèh pokal tangèh lugu, temahan kénging walat, ipat-ipating Hyang Widi, tan sempulur ginawa dugèng pralaya.
141. Nahen napsu nora kampah, ngumbar hawa tanpa budi, sengsem kasmaran wanodya, tan émut trapsilèng krami, tilar waskitèng kapti, dupi wus lenggah ngaluhur, nguja mubaling branta, suthik mirengna papali, nir tuladha sumimpang saking pranata.
142. Kayungyun mring kasulistyan, nyanyaput nering pangreti, ical waspaosing driya, kineluh liring pawèstri, supè walering margi, tan maèlu pager ayu, pakèwed tan kadarbya, winada nora malangi, lenging cipta mung juga tinurutana.
143. Rinungrum gampil arentah, lir lembu dipun patrapi, cinongok ing cungurira, kadi tyang bodho katali, babandan dèn adili, pindha kukila kapulut, babaya tan uninga, léna linepas jemparing, lamun kena panèn mamala antaka.
144. Poma-poma élingana, kang dadi walering margi, ngombéya ing belikira, ywa nglurug sanès parigi, myang liyan gampil mélik, ngandelken kuwasa-nipun, wenang mundhut babana, kalebet minta pawèstri, garwa yoga tan pinétang waton bisa.
145. Cacat menggahing pangarsa, lamun remen luru warih, kasengesem mring sendhanging lyan, ngasag-asag sapinanggih, raos èwed wus sepi, rongèhing manah kadlarung, parwi dasih ingalap, sinengguh dadya upeti, yèn mangkana ical prabawaning praja.
146. Becik lamun tinahena, atataki sawatawis, marema ingkang kadarbya, ywa malang tumolèh margi, tyas meleng ning nyawiji, muncar wibawaning prabu, sinuyudan kawula, pinitaya dipun aji, temah lulus sempulur kuncaranira.

Aji Pameleng

wayang Kitab & Kidung
Tegesipun aji = ratu, pameleng = pasamaden; mengku pikajeng : tandaning sedya ingkang luhur piyambak. Dene empaning pandamelan wau winastan manekung, pujabrata, mesu budi, mesu cipta, ngeningaken utawi angluhuraken paningal, matiraga lan sasaminipun.
Papan ingkang kangge nindakaken wau panepen, panekungan, pamujan, pamurcitan, pamursitan, pahoman, paheningan lan sanes-sanesipun. Dene wedharing kawruh winastan daiwan, dawan, tirtaamerta, tirtakamandhanu, tirtanirwala, mahosadi, kawasanan, kawaspadan, kawicaksanaan, sastracetha, utawi sastrajendrayuningr at pangruwating diyu lan sapanunggalanipun.

Menggah pigunanipun kawruh lan pandamel wau, perlu kangge sarananing panembah murid manggih kawilujengan, margi saged anindakaken dhateng sawarnaning pandamel sae, punapadene kangge sarana duk kita darbe sedya nunuwun kanugrahaning gesang kita pribadi (Pangeran), inggih nunuwun bab punapa kemawon ingkang limrah kenging linampahan saking pandamel kita ingkang boten tilar murwat.
Wondene purwanipun ing jagad teka wonten kawruh pasamaden, bilih miturut saking tembung-tembungipun , sanyata kathah ingkang nagngge basa Sansekrit; yen makaten tetela manawi wimbaning kawruh pasamaden wau saking tumitising kawicaksananipun bangsa Indhu ing jaman kina makina, ingkang sampun boten kasumerepan petang ewoning taun. Bokmanawi kemawon papantaranipun kalihan nalika bangsa Indhu amurwani iyasa candhi dalah reca-recanipun. Dene kawruh wau ing sakawit inggih namung kangge bangsa Indhu, boten nawang bangsa Indhu ingkang agami punapa kemawon, katamtokaken mesthi ngrasuk pasamaden. Awit inggih namung kawruh pasamaden punika ingkang dados mukaning saliring kawruh sajagad, lan ugi dados pangajenging piwulan agami.
Ing ngalami lami bangsa Indhu sami lumeber dhateng ing Tanah Jawi lan sanes sanesipun, serta sami anggelaraken agaminipun tuwin kawruh sanes sanesipun; makaten ugi kawruh pasamaden inggih boten kantun. Kawruh pamasaden wonten ing Tanah Jawi saget ngrembaka tuwuhipun, margi bangsa Jawi tan pilih drajad sami remen puruita lan saged nandangaken dating pangolahing kawruh punika, awit kawruh wau saget nocoki kalihan dhadhasaring pamanahipun titiyang Jawi, mila kalayan gampil rumasukipun wonten ing balung sungsuming titiyang Jawi. Kasembuh malih saking kathahing bangsa Indhu kados sinuntak sami angajawi, nedya anggelar agami Jawi lan kawruh kawicaksananipun. Bebasan sakedeping netra, bangsa Jawi ing sa’indhengipun maratah sampun sami angrasuk agami Indhu, lan ugi sampun sami saget ngraosaken kabegjan, kamulyan, kawilujengan lan sasaminipun, margi saking wohing kawruh pandamel wau.
Ing wusana katungka dhatengipun titiyang bangsa Arab sami lumebet ing Tanah jawi, ingkang ugi ambekta kawruh lan agaminipun Mohammad, kasebut agami Islam, temah nyunyuda tumangkaring agami Indhu, sebab lajeng wonten ingkang angrasuk agami Islam. Namung kemawon wedharing agami Islam boten andarbeni kawruh pasamaden, kados kasebut ing nginggil.
Sareng golonganipun tiyang Islam sampun saget ngendhih Nagari, inggih punika adeging Karaton Bintara (Demak), ing ngriku lajeng angawisi kalayan kenceng, titiyang Jawi boten kenging anindakaken kawruh pasamaden, mekaten ugi sami kinen nilar agaminipun lami, serta kedah santun angrasuk agami Islam.
Ananging boten ta manawi bangsa Jawi lajeng anut purun santun agami Islam sadaya, purunipun wau namung margi saking ajrih paukuman wisesaning Nata, dados Islam-ipun wau namung wonten ing lahir kemawon, utawi Islam pangaran-aran, yen batosipun taksih angrungkepi agamipun lami. Milo bab kawruh pasamaden inggih taksih lajeng katindakaken, ananging pamulang pamedharing kawruh pasamaden wau, ingkang karan nama wejangan (wijang-wijang) sarana lampah dhedhemitan, katindakaken ing wanci ndalu sasampunipun jam 12, ugi papaning pamejang boten kenging kaubah wangon, kadosta ing ara-ara, ing wana, ing lepen lan sasaminipun ing papan ingkang sepen. Pamejangipun srana bisikan boten kenging kapireng ngasanes, sanadyan suket godhong, kewan tuwin bangsanipun gegremetan kutu-kutu walangataga ugi boten kenging miring, yen miring lajeng malih dados manungsa. Mila linggihipun Kyai Guru ajeng-ajengan aben bathuk kaliyan pun murid, serta sanget pamantos-mantosipun Kyai Guru, pun murid boten kenging nularaken wewejanganipun (kawruhipun) dhateng tiyang sanes, bilih dereng angsal palilah Guru, yen nerak bade angsal wilalat manggih sapudendhaning Pangeran. Panindak ingkang mekaten punika, purwanipun namung tetep kangge panjagi, supados pamulanging kawruh pasamaden boten katupiksan dhateng pamarintahing agami Islam. Sebab yen ngantos kasumerepan, tamtu manggih pidana.
Dumuginipun ing jaman samangke, sanadyan Nagari sampun boten angarubiru dhateng wontenipun wewejangan kawruh pasamaden, nanging panindaking wejangan wau taksih kalestantunaken sarana dhedhemitan kados kawursita ing nginggil. Mila lajeng angsal paparab saking panyedaning titiyang ingkang boten remen, utami tiyang ingkang anglampahi sarengating agami Islam, bilih wontening wejangan kawruh pasamaden wau lajeng kawastan ilmu klenik. Purwo saking tembung klenik, lajeng angandhakaken tembung abangan lan putihan. Ingkang kasebut abangan punika tiyang ingkang boten nindakaken saraking agami Islam, dene putihan mastani tiyang Jawi ingkang teluh manjing agami Islam sarta anglampahi sadaya sarak sarengating agami Islam wau, inggih punika ingkang kasebut nama santri. Mila santri karan putihan, margi miturut panganggenipun titiyang agami Islam, bilih santri punika sarwo-sarwi langkung resik utawi suci tinimbang kaliyan titiyang ingkang boten angrasuk agami Islam.
Mangsuli wontening kawruh pasamaden anggenipun sanget winados, menggah ingkang dados sababipun kapretalakaken ing nginggil. Dene yen saleresipun ingkang nama wados-wados wau pancen boten wonten; dados inggih kenging-kenging kemawon kawulangaken dhateng sok tiyanga, boten mawang nem sepuh, serta kenging kawejangaken ing sawanci-wancinipun, uger tiyang wau pancen ambetahaken kawruh pasamaden kasebat. Sebab wontenipun sadaya punika supados kasumerepan dhateng ingakathah, langkung-langkung kawruh pasamaden punika ingkang sanyata dados mukaning sadaya kawruh. Mila wajib sinebar dados seserepaning tiyang nem sepuh wadarin ing saindengipun, tanpa nawang andhap inggiling darajadipun.
Amarengi wahyaning mangsakala, wusana wonten kaelokaning lalampahan ingkang boten kanyana-nyana; ing pawingkingipun bab kawruh pasamaden wau lajeng muncul katampen dhateng tiyang Islam, margi yakin bilih kawruh pasamaden wau, pancen musthikaning gagayuhan ingkang saged andhatengaken ing kawilujengan, kamulyan, katentreman, lan sasaminipun. Mila kawruh wau dening tiyang ingkang sampun suluh papadhanging raosipun inggih punika Seh Sitijenar, ingkang ugi dados pramugarining agami Islam apangkat Wali, lajeng kadhapuk ing ndalem serat karanganipun, ingkang lajeng winastan daim, wirid saking tembung daiwan kasebut ing nginggil. Punapadene lajeng kaewoaken dados saperanganing panembah, sarana dipun wewahi tembungipun, lajeng mungel : salat daim (salat – basa arab, daim saking daiwan basa Sansekrit). Milanipun dipun wewahi basa arab, namung kawigatosan kangge mikekahaken kapitadosanipun murid-muridipun ingkang sampun sami necep agami Islam. Punapadene tembung salat lajeng kapilah kalih prakawis. Sapisan salat 5 wekdal, kasebut salat sarengat, ateges panembah lahir. Kaping kalih salat daim, punika panembahing batos; mangertosipun : anekadaken manunggaling pribadinipun, utawi kasebut loroning atunggil.
Kitab karanganipun Seh Sitijenar wau lajeng kangge paugeraning piwulang. Sareng sampun angsal kawigatosaning ngakathah, ing ngriku salat limang wekdal lan sarak agami sanes-sanesipun lajeng kasuwak boten kawulangaken babar pisan. Ingkang pinindeng namung mumuruk tumindaking salat daim kemawon. Mila titiyang Jawi ingkang suwau manjing agami Islam, langkung-langkung ingkang dereng, lajeng sami ambyuk maguru dhateng Seh Sitijenar, margi piwulangipun langkung gampil, terang lan nyata.
Wondene purwanipun Seh Sitijenar kaserenan kawruh pasamaden, ingkang mijeni Kyai Ageng Pengging, sebab Seh Sitijenar punika mitradarmanipun Kyai Ageng Pengging. Kawruh asamaden, dening Seh Sitijenar lajeng katularaken Raden Watiswara, inggih Pangeran Panggung, ingkang ugi apangkat Wali. Lajeng tunimbal dhateng Sunan Geseng, inggih Ki Cakrajaya, tiyang asal saking Pagelen, ingkang kacarios saderengipun dados Wali, Ki Cakrajaya wau pandamelanipun anderes nitis gendhis. Salajengipun sumrambah kawiridaken dhateng ingakatah. Makaten ugi sakabat-sakabatipun Seh Sitijenar ingkang sampun kabuka raosipun, dening Seh Sitijenar kinen sami madeg paguron amiridaken kawruh pasamaden wau. Sangsaya dangu sangsaya ngrebda, anyuremaken panguwaosing para Wali, anggenipun amencaraken piwulang agami Islam. Yen kalajeng-lajeng masjid saestu badhe suwung.
Ngawekani sampun ngantos wonten kadadosan ingkang makaten, temah Kyai Ageng Pengging tuwin Seh Sitijenar sasekabatipun ingkang sami pinejahan katigas jangganipun dening para Wali, saking dhawuhipun Sultan Demak. Makaten ugi Pangeran Panggung boten kantun, kapidana kalebetaken ing brama gesang-gesangan wonten samadyaning alun-alun Demak, kangge pangewan-ewan murih titiyang sami ajrih, lajeng sami mantuni utawi nglepeh piwulangipun Seh Sitijenar.
Kacariyos sariranipun Pangeran Panggung boten tumawa dening mawerdining Hyang Brama, lajeng oncat medal saking salebeting latu murub, nilar nagari Demak. Kanjeng Sultan Bintara tuwin para Wali sami kablerengen kaprabawan katiyasaning Pangeran Panggung, temah kamitenggengen kadi tugu sinukarta. Sareng sampun sawatawis tebih tindakipun Sang Pangeran, Kanjeng Sultan tuwin para Wali saweg sami enget bilih Pangeran Panggung kalis saking pidana, temah sami rumaos kawon angsal sihing Pangeran. Katungka unjuking wadyabala, atur uninga bilih Sunan Geseng, inggih Ki Cakrajaya, kesah anututi lampahipun Pangeran Panggung. Ing ngriku Kanjeng Sultan katetangi dukanipun, temah dhawahing bendu, para sakabat tuwin murid-muridipun Seh Sitijenar ingkang kapikut lajeng sami pinejahan. Ingkang boten kacepeng sami lumajar pados gesang.
Para sakabatipun Seh Sitijenar ingkang taksih wilujeng kakantunanipun ingkang sami pejah, ugi taksih sami madeg paguron nglestantunaken pencaring kawruh pasamaden, nanging mawi sislintru tinutupan wuwulang sarengating agami Islam, murih boten ka’arubiru dening para Wali pramugarining praja. Dene piwulangipun kados ing ngandhap punika :
Pamulanging kawruh pasamaden ingkang lajeng karan salat daim, karangkepan wuwulang salat limang wekdal tuwin rukuning Islam sanes- sanesipun malih. Wewejanganipun salat daim wau lajeng winastan wiridan naksobandiyah, dene panindaking piwulang kawastan tafakur. Saweneh wonten ingkang pamulangipun ing saderengipun para murid nampi wiridan salat daim, langkung rumiyin kalatih lampah dhidhikiran lan maos ayat-ayat. Wiwit punika wuwulangan pasamaden
lajeng wonten wanrni kalih, inggih punika :
1. Piwulang pasamaden wiwiridan saking para sekabatipun Seh Sitijenar, ingkang sarana tinutupan utawi aling-aling sarak rukuning agami Islam. Wuwulangan wau dumuginipun ing jaman samangke sampun mleset saking jejer ing sakawit, mila para guru samangke, ingkang sami miridaken kawruh pasamaden, ingkang dipun santuni nama naksobandiyah utawi satariyah, nginten bilih kawruh wau wiwiridan saking ngulami ing Jabalkuber (Mekah). Salajengipun para Kyai guru wau, amastani guru klenik dhateng para ingkang sami miridaken kawruh pasamaden miturut wawaton Jawi pipiridan saking Seh Sitijenar. Punapadene para Kyai guru wau nyukani paparab nama Kiniyai, pikajengipun : guru ingkang mulangaken ilmuning setan. Dene nama Kyai, punika guru ingkang mulangaken ilmuning para nabi.
2. Piwulang pasamaden miturut Jawi, wiji saking Kyai Ageng Pengging, ingkang kapencaraken dening Seh Sitijenar (ingkang ing samangke karan klenik), punika ing sakawit, ingkang dados purwaning piwulang, dumunung wonten panggulawenthahing wawatekan 5 prakawis, kados ing ngandhap punika :
1. Setya tuhu utawi temen lan jujur.
2. Santosa, adil paramarta, tanggeljawab boten lewerweh.
3. Leres ing samubarang damel, sabar welas asih ing sasami, boten ngunggul-unggulaken dhirinipun, tebih saking watak panganiaya.
4. Pinter saliring kawruh, langkung-langkung pinter ngecani manahing sasami-sami, punapadene pinter angereh kamurkaning manah pribadi, boten anguthuh melik anggendhong lali, margi saking dayaning mas picis rajabrana.
5. Susila anor-raga, tansah nganggeni tatakrami, maweh rereseping paningal tuwin sengseming pamiharsa, dhateng ingkang sami kataman.
Lampah limang prakawis wau kedah linampahan winantu ing pujabrata anandangaken ulah samadi, inggih amesu cipta angeningaken pranawaning paningal. Awit saking makaten punika mila tumrap panindaking agami Jawi (Buda), bab kawruh pasamaden tuwin lampah limang prakawis wau kedah kawulangaken dhateng sadaya titiyang enem sepuh boten pilih andhap inggiling darajatipun. Mila makaten, sebab musthikaning kawruh tuwin luhur-luhuring kamanungsan, punika bilih tetep samadinipun, kuwasa anindakaken lampah 5 prakawis kados kawursita ing nginggil. Temah kita manggen ing sasananing katrenteman, dene wontening katentreman mahanani harja kerta lan kamardikan kita sami. Yen boten makaten, ngantos sabujading jagad, kita badhe nandhang papa cintraka, kagiles dening rodha jantraning jagad, margi kacidraning manah kita pribadi.
Bab kawruh pasamaden ingkang lajeng karan wiridan naksobandiyah lan satariyah, ingkang ing nguni wiwiridan saking Seh Sitijenar, sampun ka’andharaken ing nginggil, namung kemawon tumandangipun boten kawedharaken. Ing riki namung badhe anggelaraken lampah umandanging samadi sacara Jawi, ingkang dereng kacarobosan agami sanes, inggih punika makaten :
Para nupiksa, mugi sampun kalintu panampi, bilih samadi punika angicalaken rahsaning gesang utawi nyawanipun (gesangipun) medal saking badan wadhag. Panampi makaten punika, purwanipun mirid saking cariyos lalampahanipun Sri Kresna ing Dwarawati, utawi Sang Arjuna yen angraga-suksma. Mugi kawuninganana, bilih cariyos makaten punika tetep namung kangge pasemon utawi pralambang.
Ing samangke wiwit wedharaken lampahing samadi makaten : tembung samadi = sarasa – rasa tunggal – maligining rasa – rasa jati – rasa nalika dereng makarti. Dene makartining rasa jalaran saking panggulawenthah utawi piwulang, punapadene pangalaman-pangalam an ingkang tinampen utawi kasandhang ing sadinten-dintenipun . Inggih makartining rasa punika ingkang kawastanan pikir. Saking dayaning panggulawenthah, piwulang tuwin pangalaman-pangalam an wau, pikir lajeng gadhah panganggep awon lan sae, temah anuwuhaken tatacara, pamacak lan sanes-sanesipun ingkang lajeng dados pakulinan. Punapa panganggep awon sae, ingkang sampun dados tata-cara margi sampun dados pakulinan punika, yen awon inggih awon sayektos, yen sae inggih sae temenan, punika dereng tamtu, jer punika namung pakulinaning panganggep. Dene panganggep, boten yekti, tetep namung ngenggeni pakulinaning tata-cara, dados inggih dede kajaten utawi kasunyatan. Menggah pikajenganipun samadi ing riki, boten wonten sanes namung badhe nyumerepi kajaten, dene sarananipun boten wonten malih kajawi nyumerepi utawi anyilahaken panganggep saking makartining rasa, kasebut sirnaning papan lan tulis. Inggih ing riku punika jumenenging rasa jati kang nyata, kang yekti, kang weruh tanpa tuduh. Wondene kasembadanipun kedah angendelaken ing saniskara, sarana angereh solahing anggota (badan). Mangrehing anggota wau ingkang langkung pikantuk kalihan sareyan malumah, saha sidhakep utawi kalurusaken mangandhap, epek-epek kiwa tengen tumempel ing pupu kiwa tengen, suku ingkang lurus, dalamakan suku ingkang tengen katumpangaken ing dalamakan suku kiwa, mila lajeng kasebut sidhakep suku (saluku) tunggal. Punapadene angendelna ebahing netra (mripat), inggih punika ingkang kawastanan meleng. Lampah makaten wau ingkang kuwasa ngendelaken osiking cipta (panggagas), tuwin amuntu ilining rahsa, dene pancering paningal kasipatna amandeng pucuking grana medal saking sa’antawising netra kakalih, inggih punika ing papasu, dene pamandengipun kedah kalayan angeremaken netra kakalih pisan.
Sasampunipun lajeng nata lebet wedaling napas (ambegan) makaten : panariking napas saking puser kasengkakna minggah anglangkungi cethak ingga dumugi ing suhunan (utek = embun-embunan) , sarta mawi kaendelna ing sawatawis dangunipun. Sumengkanipun napas wau kadosdene darbe raos angangkat punapa-punapa, dene temenipun ingkang kados kita angkat, punika ilining rahsa ingkang kita pepet saking sumengkaning napas wau, menawi sampun kraos awrat panyangginipun napas, inggih lajeng ka’edhakna kalayan alon-alon. Inggih patrap ingkang makaten punika ingkang kawastanan sastracetha. Tegesipun cetha = empaning kawruh, cetha = antebing swara cethak, inggih cethaking tutuk kita punika. Mila winastan makaten, awit duk kita mangreh sumengkaning napas anglangkungi dhadha lajeng minggah malih anglangkungi cethak ingga dumugi suhunan. Menawi napas kita dipun ereh, dados namung manut lampahing napas piyambak, tamtu boten saget dumugi ing suhunan, margi saweg dumugi ing cethak lajeng sampun medhak malih. Punapadene ugi winastan daiwan (dawan), pikajengipun : mangreh lebet wedaling napas ingkang panjang lan sareh, sarwi mocapaken mantra sarana kabatos kemawon, inggih punika mungel `hu’ kasarengan kalihan lumebeting napas, inggih panariking napas saking puser, minggah dumugi ing suhunan. Lajeng `ya’, kasarengan kalihan wedaling napas, inggih medhaking napas saking suhunan dumugi ing puser, minggah mandhaping napas wau anglangkungi dhadha lan cethak. Dene, anggenipun kawastanan sastracetha, margi nalika mocapaken mantra sastra kakalih : hu – ya, wedaling swara ingkang namung kabatos wau, ugi kawistara saking dayaning cethak. (Ungeling mantra utawi panebut kakalih : hu – ya, ing wiridan naksobandiyah kaewahan dados mungel, hu – Allah, panebutipun ugi kasarengan lampahing napas. Dene ing wiridan satariyah, panebut wau mungel : hailah – haillolah, nanging tanpa angereh lampahing napas).
Menggah lebet medaling napas kados kasebut ing nginggil, sa’angkatanipun namung kuwasa angambali rambah kaping tiga, mila makaten, awit napas kita sampun boten kadugi manawi kinen anandangana malih, jalaran sampun menggeh-menggeh. Dene manawi sampun sareh, inggih lajeng ka’angkatana malih, makaten salajengipun ngantos marambah-rambah sakuwawinipun, margi saya kuwawi dangu, sangsaya langkung prayogi sanget. Dene sa’angkataning pandamel wau kawastan : tripandurat, tegesipun tri = tiga, pandu = suci, rat = jagad – badan – enggen, suraosipun : kaping tiga napas kita saget tumameng ing ngabyantaraning ingkang Maha suci manggen ing salebeting suhunan (ingkang dipun suwuni). Inggih punika ingkang kabasakaken paworing kawula Gusti, tegesipun : manawi napas kita sumengka, kita jumeneng gusti, yen tumedhak, wangsul dados kawula. Bab punika para nupiksa sampun kalintu tampi ! Menggah ingkang dipun wastani kawula gusti punika dede napas kita, nanging dayaning cipta kita. Dados ulah samadi punika, pokokipun kita kedah amanjangaken panjing wijiling napas (lebet wedaling napas), kalihan angeningaken (ambeningaken) paningal, sebab paningal punika kadadosan saking rahsa.
Wondene patraping samadi kados kasebut ing nginggil wau, ugi kenging karancagaken, uger kita tansah lumintu tanpa pedhot mangeh panjing wijiling napas, kalihan lenggah, lumampah, utawi nyambutdamel inggih kedah boten kenging tilar mangreh lebet wedaling napas wau, ingkang sarana mocapaken mantra mungel : hu – ya, kados ingkang kajarwa ing nginggil.
Kajawi punika, wirid saking tembung daiwan punika ugi taksih darbe maksud sanesipun malih, inggih punika ateges panjang tanpa ujung, utawi ateges langgeng. Dene pikajengipun amastani bilih wontening napas kita punika sanyata wahananing gesang kita ingkang langgeng, inggih wontening ambegan kita. Dene ambegan punika, sanyata wontening angin ingkang tansah mlebet medal tanpa kendel, ingkang sasarengan kalihan keketeg panglampahing rah (roh). Bilih kakalih wau kendel boten makarti nama pejah, inggih risaking badan wadhag wangsul dados babakalan malih. Mila sayogyanipun lampahing napas inggih ambegan kita ingkang tansah mlebet medal tanpa kendel, kedah kapanjang-panjangan a lampahipun, murih panjanga ugi umur kita, temah saget awet wonten ing donya tutug panyawangipun dhateng anak, putu, buyut, canggah, wareng, ingkang babranahan.
Wontenipun andharan ing nginggil, mratelakaken bilih kawruh pasamaden punika sanyata langkung ageng pigunanipun, mila lajeng sinebut sastrajendrayuningr at pangruwating diyu. Tegesipun sastra = empaning kawruh, jendra = saking panggarbaning tembung harja endra. Tegesipun harja = raharja, endra = ratu – dewa, yu = rahayu – wilujeng, ningrat = jagad – enggen – badan. Suraosipun : Musthikaning kawruh ingkang kuwasa amartani ing karahayon, kaharjan, katentreman lan sapatunggalipun. Dene tegesesipun pangruwating diyu = amalihaken diyu; dene diyu = danawa – raksasa – asura – buta, punika kangge pasemoning piawon, penyakit, rereget, babaya, pepeteng, kabodhohan lan sanesipun. Dados diyu punika kosokwangsulipun dewa, engkang ateges pinter, sae, wilujeng lan sapanunggilipun. Mengku suraos amastani ingkang saget anyirnakaken saliring piawon tuwin samubarang babaya pekewed. Mangertosipun, sinten ingkang tansah ajeg lumintu anandangaken ulah samadi, punika bilih ing suwaunipun tiyang awon, lajeng sirna piawonipun, malih dados tiyang sae lampahipun. Tiyang sakit sirna sakitipun, dados saras, tiyang murka daksiya lajeng narimah sabar, welasasih. Tiyang goroh lajeng dados temen. Tiyang bodho dados pinter. Tiyang pinter dados pinter sanget. Makaten ugi tiyang golongan sudra dados waesia, waesia dados satriya, satriya dados brahmana, brahmana sumengka pangawak braja asarira bathara.

Ajisaka

wayang Kitab & Kidung
Sebuah Perenungan tentang Sosok Ajisaka
Karena kehendak Allah jugalah terjadinya manusia, hewan, pepohonan, kutu walang ataga, yang kesemuanya itu terjadi serta hidup dan dapat dilihat secara nyata wujudnya (ana rupa-wujude). Atas kehendak Allah tersebut yang luluh pada diri manusia, menyebabkan manusia memiliki keluhuran, keimanan, bawa laksana,
welas asih, keadilan, ketulusan, eling lan waspada. Kesemuanya itu memberikan manusia kemuliaan (kamulyan) dan kesejahteraan (karahayon). Rasa tersebut juga menghubungkan kehidupan manusia dengan Allah Sang Maha Pencipta.
Ca-ra-ka sendiri pengertiannya adalah memuliakan Allah. Sebab tanpa ada bawana seisinya, apalagi tanpa adanya manusia, tentu tidak akan ada sebutan Asma Allah. Tanpa adanya caraka, tentu pula Hana-Ne tidak akan disebut Hana. Sementara makna Da-ta-sa-wa-la dapat dijelaskan maknanya sebagai berikut. Adanya yang ada (anane dumadi) sumber asalnya adalah Satu, yaitu Dzat Allah. Dari yang kasar dan halus (agal lan alus), wingit (penuh misteri) dan gha’ib, pasti pada dirinya melekat setidaknya secercah Dzat Allah (kadunungan sapletheking Dzat Allah). Artinya, pancaran kun fayakun itu tidak hanya mencipta bawana seisinya, namun terus-menerus memancarkan kasih, mencermati dan meliputi terhadap seluruh kehidupan (ngesihi, nyamadi lan nglimputi sakabehing dumadi).
Allah menciptakan bawana seisinya, khususnya dalam menciptakan manusia, bukan tanpa rencana, namun dengan keinginan dan tujuan yang nyata dan pasti. Titah Allah tidak dapat diingkari dari apa yang sudah ditetapkan menjadi kodrat (pepesthen). Demikian juga seluruh makhluk hidup di dunia (saobah-mosiking dumadi) pasti terkena keterbatasan dan pembatasan (wates lan winates), seperti halnya sakit dan kematian. Namun selain itu, juga melekat dalam dirinya (kadunungan) kelebihan satu dari yang lain, saling ketergantungan, lebih melebihi (punjul-pinunjulan) dan saling hidup-menghidupi (urip-inguripan).
Baik dalam rupa, wujud, warna dan sosoknya (balegere dumadi), manusia dapat dikatakan sempurna tiada yang melebihi (kasampurnaning manungsa). Terciptanya manusia yang ditakdirkan (pinesthi) menjadi Wali Allah, menandakan bahwa hanya sosok manusia sajalah yang mampu menjadi Warangka Dalem Yang Maha Esa (wakil Tuhan di dunia). Kelahiran manusia dalam wujud raga-fisik dan bentuk badan itu merupakan sari-patining bawana. Maka, menjadi keniscayaan jika manusia mampu menggunakan dayanya guna mengungkap rahasia alam.
Kelahiran hidup manusia, merupakan wujud dari sukma, yang dalam proses mengada dan menjadi (being and becoming) terbentuk dari sari-pati terpancarnya Dzat Allah (dumadi saka sari-pati pletheking Dzat Allah). Oleh sebab itu, manusia mampu mengkaji dan menelusuri, menggali dan mencari serta meyakini dan mengimani adanya Allah (nguladi, ngupadi, ngyakini lan ngimani marang kasunyataning Allah), sebab sukma sejati manusia itu berasal dari Sana (sabab suksma sajatining manungsa asale saka Kana). Selanjutnya Pa-dha-ja-ya-nya, maknanya bahwa sawenehing kang dumadi atau apa pun dan siapa pun tidak akan dapat hidup sendiri, sebab ia akan senantiasa menjalani hidup dan kehidupan bersama, sebagaimana keniscayaan
fitrahnya, bahwa: panguripaning dumadi tansah wor-ingaworan -dalam kehidupan manusia selalu saling pengaruh mempengaruhi— selain juga punya ketergantungan satu sama lain. Begitu juga hidup manusia, bahwa perangkat badaning manungsa tidak mungkin secara parsial dapat hidup sendiri-sendiri. Artinya, ana raga tanpa sukma/nyawa tidak mungkin bisa hidup, tetapi ana sukma tanpa raga juga tidak bisa dikatakan hidup, karena tidak bisa bernafas.
Jika seluruh anggota badan makarti semua, baru disebut urip kang sejati. Daya hidup (sang gesang) akan melekat (built-in) pada setiap diri-pribadi seseorang, yaitu rupa, wujud berikut segala tingkah-lakunya. Dapat dikatakan daya hidup akan luluh pada dirinya (sing kadunungan). Semua yang berwujud dan hidup pasti bakal tarik- enarik, saling bersinergi (daya-dinayan), sehingga menimbulkan daya-daya, seperti: daya
adem-panas, positif-negatif, luhur-asor, padhang-peteng, dan kesemuanya itu senantiasa berputar silih berganti (cakra manggilingan).
Semua inti dari interaksi tersebut ada pada diri manusia, di mana inti tadi sebenarnya telah terserap dari badan manusia sendiri. Maka dapat disimpulkan, bahwa obah-mosiking jagat/alam, juga terjadi pada obah-mosiking manungsa secara pribadi. Di mana ketika terjadi gonjang-ganjinging jagat/ alam, kejadian pada manusia juga demikian adanya. Ketika manusia bertingkah-laku angkara-murka, merusak dan sebagainya, jagat/alam juga berada dalam ancaman bahaya, misalnya musibah banjir, lahar, tanah longsor, banyaknya kecelakaan dan sebagainya.
Makanya, manusia harus selalu ingat akan kewajiban pokoknya, yaitu: Hamemayu-Hayuning Bawana. Artinya, kanthi adhedhasar sarana sastra jendra hayuningrat pangruwating diyu sebetulnya manusia dapat nyidhem atau menghindari kerusakan alam semesta, selain juga bisa nyirep dahuruning praja (memadamkan kerusuhan negara).
Ikatan manusia dengan Allah Swt., berupa keyakinan dan kepercayaan yang diwujudkan dalam panembah lan pangesti seperti ditulis dalam tuntunan kalam, yang disebut agama, mewajibkan manusia manembah (sembahyang, samadi) hanya tertuju kepada Yang Satu, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Ketika manusia manembah melalui sembah rasa, harus dengan seluruh sukma (roh, moral) kita, bukan badan raga yang penuh dengan kotoran (nafsu duniawi). Sebetulnya sembah raga itu hanya sarengating lahir, agar supaya umat manusia taat dan manembah marang Gusti Kang Murbeng Dumadi.
Manusia itu paling dipercaya ngembani asmaning Allah, maka manusia harus menduduki rasa kemanusiaannya. Untuk itu, manusia harus bisa menempatkan diri pada citra keTuhanannya. Allah telah menciptakan apa saja untuk manusia, jagat sak isine, tinggal bagaimana manusia bekti marang Allah Kang Maha Esa. Tergantung manusianya, seberapa besar tanggung jawabnya marang Kang Maha Kuasa, sebab bawana beserta seluruh isinya adalah menjadi tanggung jawab manusia.
Yang terakhir, Ma-ga-ba-tha-nga dapat dijelaskan maknanya, kurang-lebih sebagai berikut. Manungsa kang kalenggahan wahyuning Allah, manungsa kang manekung ing Allah Kang Maha Esa dadi daya cahyaning Allah lan rasaning Allah luluh pada sukma manusia. Jagat (alam) tergantung pada sejarah umat manusia yang disebut awal dan akhir, juga menjadikannya jantraning manungsa. Hakikatnya gelaring alam/jagat itu, juga gelaring manungsa. Jadi di dunia ini ora bakal ana lelakon, ora ana samubarang kalir, kalau tidak ada gerak kridhaning manungsa.
Setelah ada manusia, sakabehing wewadi, sakabehing kang siningit lan sinengker wus kabukak wadine –semua telah jelas, semua telah menjadi nyata.
Wis ora dadi wadi, amerga wis tinarbuka;
Wis ora ana wingit, amerga wis kawiyak;
Wis ora ana angker, amerga wis kawuryan.
Artinya, kalau semua sudah kamanungsan/konangan —kalau semua telah menjadi kenyataan— berarti tugas kewajiban manusia di dunia telah selesai. Sudah sampai pada perjanjian pribadining manungsa dan sudah titi mangsa harus pulang marang pangayuning Pangeran. Dari tidak ada menjadi ada (ora ana dadi ana) menjadi tidak ada lagi (ora ana maneh). Artinya, sakabehing dumadi yen wis tumekaning wates kodrate, mesti bakal mulih marang mula-mulanira lan sirna. Awal-akhire, artinya sangkan paraning dumadi wis khatam/tamat. Kalau umat manusia sudah tidak ada lagi -kang dadi asmaning Allah-juga tidak akan disebut (kaweca), ana.
Demikianlah, kurang lebih hasil perenungan saya selama ini dalam menggali makna filosofis yang terkandung dalam ajaran Aji Saka: “Ha-na-ca-ra-ka”. Betapa pun kita mengagungkan ke-adiluhung-an karya sastra Jawa, seperti Serat Wulangreh, Serat Wedhatama, atau pun filsafat Ha-na-ca-ra-ka, apabila tanpa penghayatan dan meresapi nilai-nilai substansial yang terkandung di dalamnya serta usaha mengembangkannya, tentulah tidak akan bermakna bagi kehidupan sastra Jawa masa kini dan masa depan, apalagi terhadap budaya Indonesia Baru yang harus kita bangun.
Sastra Jawa mengandung wulang-wuruk kejawen, yang jika dilakukan penelitian lebih suntuk akan bisa digali ajaran kehidupan yang mampu memberi pencerahan pikir dan rasa untuk direnungkan di malam hari. Kesemuanya itu seakan meneguhkan makna peninggalan Aji Saka yang diungkapkan Sri Susuhunan Paku Buwono IX dalam tembang Kinanthi: “… Nora kurang wulang-wuruk, tumrape wong tanah Jawi. Laku-lakuning ngagesang, lamun gelem anglakoni. Tegese aksara Jawa iku guru kang sejati”.

Babad Alas Nangka Dhoyong

wayang Kitab & Kidung
Babad Crita Lesan
Dumadine Kutha ‘Wonosari’
Wiwitaning carita ing wewengkon Sumingkar (saikine wilayah Sambi Pitu, Gunungkidul). Sumingkar iki miturut gotheking crita iki minangka Kutha Praja Kabupaten Gunungkidul wektu iku; rikala Sultan Hamengkubuwana I madeg ratu ing Kraton Ngayogyakarta. Sumingkar cedhak karo tembung ‘sumingkir’. Mirid saka kahanan lan sejarahe masyarakat sakiwatengen Sambi Pitu, wong-wong ing wewengkon iki minangka playon saka Majapahit, wong-wong kang ‘sumingkir’ ing alas Gunungkidul biyene. Crita lesane wong-wong kana nerangake manawa Brawijaya pungkasan keplayu tekan alas Gunungkidul, ngulandara ing sawetara papan lan mbukaki alas-alas dumadi desa-desa sarta ninggalake maneka kabudayan. Brawijaya pungkasan moksa ing Guwa Bribin, Semanu, jalaran rikala disuwun malik ngrasuk Islam dening Sunan Kalijaga ora kersa. Kaya dene masyarakat kang sumebar manggon luwih dhisik ing Rongkop, Semanu, Karangmojo, Ngawen, Nglipar, Sambi Pitu, saperangan Pathuk, uga Panggang, wong-wong iki wis dumunung ing sajembaring alas Gunungkidul sadurunge kedaden Palihan Nagari (Prajanjen Giyanti) ing Surakarta. Kabukti kanthi ananing maneka warna kabudayan kang gregete nuduhake semangat Jawa Asli-Hindhu-Buda-praIslam, kaya ta: tledhek, rasulan, cing nggoling, babad alas, reyog, petilasan Hindhu, petilasan Buda, lsp. kang tansah diuri-uri tekane saiki. Crita iki uga minangka bukti stereotip ‘babad’ kaya kang dumadi ing desantaraning pulo Jawa lumrahe; kepara ing nusa-antara.
Ing Sumingkar Adipati Wiranagara madeg dadi adipati. Piyambake kagungan garwa cacahe loro, sing siji wanita Sumingkar, sing siji garwa triman saka Sultan. Ateges, garwa sing siji saka kraton Ngayogyakarta. Wus dadi kalumrahan yen para adipati pikantuk bebungah awujud apa wae saka ratune, bisa kalungguhan, kalebu garwa triman. Angkahe warna-warna: kanggo lintu tandang gawe, kanggo nerusake trahing kusuma, minangka tandha panguwasaning raja utawa kosok balene; teluke panggedhe ing dhaerah-dhaerah marang Nagaragung. Duk semana, rikala Adipati Wiranagara sowan ing Kraton Ngayogyakarta, piyambake oleh prentah saka Kanjeng Sultan supaya mindhah Kutha Praja Kabupaten Gunungkidul wektu iku kang dumunung ing Sumingkar (Sambi Pitu) menyang Alas Nangka Dhoyong, kang penere ing Kutha Praja Kabupaten Gunungkidul ing wektu iki. Kutha praja kabupaten Gunungkidul prelu dipindhah amarga miturut tata jagading keblat papat, kurang pener manengah. Dadi, rinasa dening Sultan kurang mangaribawani tumrap wewengkon kabupaten Gunungkidul liyane. Mangkono alesan ing crita rakyat dikandhakake. Sawuse kondur saka Kraton Ngayogyakarta, Adipati Wiranagara nimbali kabeh pangembating praja ing Sumingkar supaya sowan ing pendhapa kabupaten.
Demang Wanapawira, yaiku Demang Piyaman (wilayah Piyaman tekane Nglipar saiki), durung katon sowan ing pendhapa kabupaten. Para pangembating praja padha duwe beda penggalihan babagan durung sowane Demang Wanapawira. Wekasane, Demang Wanapawira tumeka sowan. Rangga Puspawilaga, sawijining rangga asal Siraman, matur marang Adipati Wiranagara supaya Demang Wanapawira diparingi ukuman marga telat anggone sowan. Rangga siji iki pancen wong kang gumunggung, seneng tumindak culika. Ananging usul mau ora ditanduki dening Sang Adipati. Adipati Wiranagara paring dhawuh marang Demang Wanapawira supaya ngayahi jejibahan mbabad Alas Nangka Dhoyong kanggo mangun kutha praja Kabupaten Gunungkidul, kaya dene kang tinitahake Sultan Hamengkubuwana. Demang Wanapawira siyaga mundhi dhawuh. Rangga Puspawilaga ora sarujuk yen Demang Wanapawira kang pinilih ngemban titahe Sultan iku. Angkahe, dheweke kang madeg duta. Rangga Puspawilaga ndhisiki metu saka pasewakan marga ora narima kahanan iku.
Ing kademangan Piyaman, cinarita ana sawijining perewangan kanthi nama Mbok Nitisari, kawentar jejuluk Nyi Niti. Nyi Niti dimangerteni dening wong-wong ing sakiwatengening Piyaman, kepara ing sawetara wewengkon Gunungkidul wektu iku, minangka perewangan; wong kang linuwih, mligine gayut karo roh alus lan lelembat. Nyi Niti duwe garwa inaran Ki Niti. Nyi Niti satemene mbakyune Demang Wanapawira. Nyi Niti lan Demang Wanapawira iki kalebu keturunane wong-wong playon saka Majapahit jaman semana. Tekane Piyaman, Demang Wanapawira marahake babagan apa kang tinitahake marang piyambake: mbukak Alas Nangka Dhoyong didadekake kutha praja. Demang Wanapawira nyuwun pretimbangan marang kangmboke. Satemene, sawuse ngrungu titah iku Mbok Niti rumangsa yen iku titah kang abot sanggane. Sakehing wong kang dumunung ing wewengkon Gunungkidul wektu iku wus priksa yen Alas Nangka Dhoyong iku alas kang gawat kaliwat, punjere jim lelembut, lan omahe dhanyang Nyi Gadhung Mlathi. Nanging, Mbok Niti saguh nyengkuyung lan ngrewangi Demang Wanapawira. Mbok Niti ndhawuhi Demang Wanapawira: sadurunge ngayahi babad alas supaya nglakoni sesuci lan ngadani slametan. Upacara iki syarat kang wus ditindakake para leluwure kawit biyen lan minangka sarana supaya manungsa bisa nyawiji lan nguwasani alam, kalebu roh-roh kang manggon ing alas wingit Nangka Dhoyong. Dene Nyi Niti bakal nyoba ‘rembugan’ karo Nyi Gadhung Mlathi; dhanyange Alas Nangka Dhoyong!
Demang Wanapawira, dirowangi Nyi Niti, semadi ing sangisoring wit ringin putih kang eyub, yaiku wit ringin kang mapan ing tengahing Alas Nangka Dhoyong. Nyi Gadhung Mlathi mapan ing wit iku (dhanyang panguwasa Alas Nangka Dhoyong). Demang Wanapawira lan Nyi Niti wus rila yen mengkone dimangsa Nyi Gadhung Mlathi uger titah mbukak alas dadi kutha praja bisa kasembadan. Ana sawenehing banaspati kang ngreridhu Demang Wanapawira lan Nyi Niti kang lagi samadi, nanging bisa ditelukake. Nyi Gadhung Mlati marani saklorone. Dumadi peperangan rame antarane Nyi Gadhung Mlathi lan Nyi Niti. Marga ora ana kang kasoran, mula padha ngadani pirembagan. Nyi Gadhung Mlati menehi palilah alase bisa dibukak didadekke kutha praja kanthi sarat: digawekke sajen Mahesa Lawung. Uwit panggone Nyi Gadhung Mlathi ora pikantuk ditegor lan Gadhung Mlati diwenehi panguripan dumadi dhanyang penunggu; yaiku roh kang njaga masyarakat mengkone. Nanging, Nyi Gadhung Mlati njaluk supaya digawekke sesajen saben taune minangka wujud panjagane masyarakat sing bakal ngenggoni alas iku mengkone. Nyi Niti nyarujuki panjaluke Nyi Gadhung Mlathi. Dene Nyi Gadhung Mlathi banjur mrentah para lelembut supaya nyengkuyung ngewangi pagawean mbukak alas supaya gancar anggone nandangi.
Sawuse nyekel rembug karo Gadhung Mlathi, Demang Wanapawira sowan ing ngarsane Adipati Wiranegara kanggo nyuwun panyengkuyung manawa enggal dilaksanakake babad alas. Demang Wanapawira lan Nyi Niti ngumpulke rakyat Piyaman lan sakiwatengene banjur gawe sesajen. Rakyat Paliyan dicritakake uga melu ngrewangi mbabad alas. Dene masyarakat Paliyan rewang-rewang mbabad alas iki marga wus kulina ngayahi mbabad alas; yaiku mbabad Alas Giring rikala semana, sadurunge adage Kraton Mataram. Rakyat Piyaman lan Paliyan gotong-royong mbukak alas. Rangga Puspawilaga rumangsa lingsem lan meri marang tandang gawene Wanapawira. Pakaryan mbabad Alas Nangka Dhoyong rampung. Alas wus dumadi kutha praja. Demang Wanapawira kasil ngayahi titahing ratu lan nunggu bebungah saka Sultane.
Pasar dibukak dening Adipati Wiranegara kanggo ngembangake lan ngrembakakake ajuning kutha. Pasar Nangka Dhoyong, tengere pasar iku, mapan ing wilayah Seneng lan minangka pasar kang rame banget. Adipati Wiranegara ngalembana Wanapawira kang bisa malik alas gung mijil kutha. Kacarita, ana sawijining putri saka Kepanjen Semanu (putra-putrine Panji Harjadipura) aran Rara Sudarmi ditutake Mbok Tuminah teka ing Pasar Seneng. Angkahe Sang Putri kanggo nonton lan ngrasakake kahanan pasar anyar kang lagi wae dibukak. Tekane Rara sudarmi ing Pasar Seneng bareng karo jumedhule Puspayuda, putrane Rangga Puspawilaga. Weruh Rara Sudarmi, Puspayuda rena marang dheweke. Puspayuda banjur nggodha Rara Sudarmi. Rara Sudarmi ora sudi. Banjur, dumadi padudon rame. Demang Wanapawira kang kepeneran uga ana ing Pasar Seneng ngleremke loro-lorone. Kaya dene Puspayuda, mangerteni Rara Sudarmi kang sulistya, ing manahe Demang Wanapawira sajatine uga tuwuh rasa tresna marang Rara Sudarmi. Puspayuda banget murkane marang Demang Wanapawira. Puspayuda ngelek-elek lan nantang Demang Wanapawira. Ananging ora dumadi pasulayan. Demang Wanapawira nglilih Rara Sudarmi lan Mbok Tuminah supaya enggal sumingkir saka pasar. Dene Puspayuda bali ing Siraman, banjur matur marang bapane: nyuwun supaya dilamarake Rara Sudarmi ing Kepanjen Semanu.
Rara Sudarmi lan Mbok Tuminah mampir ing daleme Nyi Niti. Ing crita iki diterangake yen Nyi Niti iku satemene isih kaprenah sadulur karo Rara Sudarmi, yaiku sadulur adoh saka ramane, Panji Harjadipura. Rara Sudarmi nyuwun pitulungan marang Ki Niti lan Nyi Niti prakara kang lagi wae ditemahi ing Pasar Seneng: dheweke bakal dicidrani Puspayuda, putrane Rangga Puspawilaga. Ora watara suwe, Demang Wanapawira tumekeng kana lan tansaya gedhe krentege marang Rara Sudarmi meruhi Rara Sudarmi prapta ing omahe mbakyune. Ing jroning manah, Demang Wanapawira ngersakke Rara Sudarmi. Candhaking pangangkah, kanyata Mbok Nitisari njodhokake Demang Wanapawira klawan Rara Sudarmi. Cekaking carita, Demang Wanapawira lan Rara Sudarmi padha prajanji disekseni Ki Niti dan Mbok Nitisari.
Rangga Harjadipura ing Kepanjen Semanu nampa praptane Rangga Puspawilaga kang duwe maksud nglamar Rara Sudarmi kanggo putrane, Puspayuda. Panji Harjadipura nulak kanthi alus marga akeh pawongan wus nglamar Rara Sudarmi. Praptane Puspawilaga kesaru tekane Demang Wanapawira, Ki Niti, lan Mbok Niti kang tindak Semanu kanggo ndherekke Rara Sudarmi lan Mbok Tuminah. Mrangguli kasunyatan iku Rangga Puspawilaga ngelek-elek lan murka marang Demang Wanapawira: geneya Demang Wanapawira tansah munggel pangangkahe. Rangga Puspawilaga banjur oncat saka Semanu. Sawuse Panji Harjadipura diaturi kedadeyan kang ditemahi Rara Sudarmi, piyambake nyrengeni putrane marga ora pantes lan ngisinake sawijining putri panji lelungan ing pasar tanpa lilah. Ananging, Mbok Tuminah lan Demang Wanapawira nyritakake kedadeyan sanyatane lan wewatekane Puspayuda marang Panji Harjadipura. Saengga, Harjadipura lerem dukane.
Wewangunan ing Kutha Praja tilase Alas Nangka Dhoyong tansaya akeh, rame, lan ngancik rampung. Sanajan mangkono, marga rasa kuciwane kang rumangsa tansah dialang-alangi Wanapawira, Rangga Puspawilaga ngirim ‘para jago’ sarta sakehing bala kanggo merjaya Demang Wanapawira apa dene Nyi Niti. Upaya iku tansah ora kasil. Mriksani lan mireng trekahe Rangga Puspawilaga kang kaya mangkono, Adipati Wiranegara ngawasi tindak-tanduke Rangga Puspawilaga. Samantara, Kutha Praja wus dumadi lan bakal diresmekake dening Sultan Hamengkubuwana I. Kanggo mahargya acara,Panji Harjadipura usul diadani sayembara njemparing, kanggo golek jodho tumrape Rara Sudarmi, uger akeh para punggawa sarta pawongan kang nglamar Rara Sudarmi. Sayembara njemparing bakal kaleksanan kanggo ngramekake peresmian kutha praja Gunungkidul kang anyar.
Adipati Wiranegara sepisan maneh ngalembana Demang Wanapawira marga bisa mangun kutha praja kang asri lan endah. Adipati Wiranegara nglapurake karyane Demang Wanapawira marang Sultan Hamengkubuwana lumantar Patih Danureja. Alas Nangka Dhoyong malih dadi kutha kang asri. Rakyat padha remen lan muji Demang Wanapawira. Mangerteni kahanan iki, Rangga Puspawilaga panas tambah panas atine lan irine. Marga wus peteng pikire, Rangga Puspawilaga minta sraya Maling Aguna (sawijining tokoh saka wewengkon Bantul) lan sagrombolan jago liyane supaya merjaya Adipati Wiranegara, Demang Wanapawira, Nyi Niti, lan Panji Harjadipura kanthi maksud madeg Adipati Gunungkidul lan musna kabeh wong-wong kang dianggep mungsuh. Panji Harjadipura meruhi rencana ala iku banjur lapuran marang Patih Danureja. Patih Danureja ngutus Raden Mas Baskara kanggo nggulung komplotane Puspawilaga.
Peresmian kutha kabupaten ing tilase Alas Nangka Dhoyong kalaksanan. Sadurunge gawe ontran-ontran, Maling Aguna lan balane ditangkep. Sayembara njemparing kawiwitan. Puspawilaga melu sayembara. Demang Wanapawira menang ing sayembara. Sultan Hamengkubuwana I maringi tetenger Kutha Nangka Dhoyong kanthi njupuk nama saka ‘Wanapawira’ digabungke nama ‘Nitisari’, dumadi ‘Wanasari’. Saiki lumrah kaserat ‘Wonosari’. Ana maneh sawetara panemu yen nama kutha praja Gunungkidul kang dumadi saka mbabad alas iki asal saka ‘Wana’ kang ateges ‘alas’, lan tembung ‘asri’ kang marga gotheking pocapan dadi ‘sari’ ateges ‘endah’. Minangka sesulih, Demang Wanapawira diangkat dadi adipati kanthi gelar Adipati Wiranegara II. Panji Harjadipura diangkat dadi patih panitipraja Kabupaten Gunungkidul. Ing wekasan, Wanapawira lan Rara Sudarmi nyawiji. Mangkono Wanapawira, (‘Wana’ memper ‘wono’ ateges ‘alas’, ‘pawira’ ateges ‘wong lanang-kendel-prajurit’)], bisa ‘mbabad’ samubarang kadurakan kang ana ing sakiwatengene, kepara kang tumanem jero ing manahe, dhewe. Yaiku ‘alas rowe’ ing atine. Tamtu wae sinengkuyung ‘ngelmu’ lan ‘sadulur’ kang bisa ndadekake piyambake ‘tukang babad’, kang satemene.
Sumber crita iki saka crita lesan (waca: crita rakyat) kang ‘sawetara’ isih ngrembaka ing wewengkon Gunungkidul sisih lor-kulon. Katuturake dening Sastra Suwarna, mantan Kadhus Piyaman I-Gunungkidul, kanthi owah-owahan kang rinasa prelu kanggo panulisan. Ana maneh sawetara carangan kang ‘uga’ isih ngrembaka ing wewengkon Karangmojo-Ponjong-Semanu babagan dumadine Kutha Wonosari Kabupaten Gunungkidul; kang surasane rada beda ‘kepentingan’ karo crita lesan versi iki. Utawa versi babad sing ateges ‘buku, naskah’, kang ‘sumimpen rapet’ ing jeroning Kraton Ngayogyakarta.

Babad Cirebon (1/3)

wayang Kitab & Kidung
DANDANGGULA
Pan Sinegeg wau hingkang banting diri
ingkang kocap ingkang para Oliya
woes prapta hing Goenoeng Cerme
sampun musti hing pangestu
tanpaliyan dinungnung kapti
anging Allah tangala
tarkinning pandulor
Sultan Demak dadya ika
peteng ribet hing wengi kaliwat dening
tingkah anjandung mratuwa.

Sunan Jati tan samar lamonning
ingkang mantu anjangdung mastaka
adan mijos kadikane
luwih becikking tuwu
ja mati sahid angulatti
pati apa pan iku kang bagus
lan ning mau pan wus ana
manusa yen ora nahurra.
Sultan Demak ing kalangkunging
sapanigan tan kang kataturan
kalangkung dedet imanne
dupi dangu pakemut
yen moliya ana amawi
pindo ping telu ujar
babar bener luput
adan wijilling aturran
langkung kasuhunan hing rama andawuhi
kula darma lumampah.
Sampunira ingkang sami tarki
pan awangun tanajul paningal
tumurun sing Gunung Cerme
prapta hing susukunipun
bani bala sikep ngebekti
ana hing tanah Jawa
marmane hing ngaku
sakabehe kakasih Hingyang
wusti narima iman islame dening
ajallawangajan.
Sigra luwaran ya punika nuli
Sunan Jati hing panatukkira
sarta wali kabeh
ika pan sami rawuh
pan sadaya lumampah aris
warna-warna kaisanira
lunta lampah sampun
pinayungan dening mega
ya Sang Jati uning binarissan dening
teja lan kukuwungan.
Sunan Kali niti kuda lumping
ginentanan reme swaranira
sarta samuride kabeh
dadi uparyara anut
angebeki hing marganeng ngapit
asring wane kang sepak
wane larad-larud
Sunan Bonang lampahira
Ngentiring angin
Leler kadi sisilir
Susulur rampak-kampak.
Sunan Kudus angentir ring wari
lagelurran kaja sangkar katapak
hing banjir bena banyune
Sunan Giri rumasuk
hing sapancorongeng Yang rawi
Syeh Katim lumempat
kadi kilat mabur
niber alepas sing paran
Syeh Mulana Magrib anitihi keris
meber hing ngawang-ngawang.
Syeh Maja gung amendemming bumi
ya Syeh Bentong ingkang awor lan mega
Sultan Demak lampanya lon
lumiring hing Sinuhun
lampa liri hing ngiring dening
lampah bala wurahham
ngebeki madya gung
sampun prapta hing pakud yan
wau wonten ingkang winuwus mali.
Gedeng Tegal gubung sira
matur alon hing Jeng Suhunan Jati
karsanira wau ngideppenna
Sindangkasi masimogu
munggiya Jeng Sinuhun
amaringi idin Jeng Gusti
Sunan Jati patarossan
hing Pati Kerring wau
sapira baya ta sira
hing rempuge iku Dalem Sindangkasih
matur kang dinukking sabda.
Inggih rempag yaktos Sidangkasih
dereng idep wau gama Islam
mengga balane sakabeh
Jeng Sunan mala sampun
wus maringi idin sireki
amangkat Ki Gedeng Tegal
gubug mintar sampun
samaptaning wong ayuda
wus angrasuk sakaprabonningajurit
sinigeg hing lampahira.
K A M A L
Akocap hing Masjid besar
para wali riset denging
arah mangkat jumah
wus adan Sang Datukkafi
Syeh Katim nyekel cin
wus tampi mawacanipun
Sunan Jati sakala
eca-eca gennya linggih
Sunan Kali wus tampa yen Sunan Purba.
Akutbah kang sarta imamma
mangka enggal Sunan Kali
maos kutbah mangka enggal
lalagon kutbahe kadi
wong agodungn kakawin
marmane kaya puituniku
Sunan Kali uninga
yen bakale den pojokke
setelah katam kutbah.
Pangeran Makdum memberi ikamat
Sunan Kali sampun imam
amaos fatehah kadi
panggalekking dangdang ngelak
anggalek galajem gosti
tan nan liyan mali
amung Pangeran ngami-ami
kenang ngapa iki bae kenang ngapa.
Sunan Kali wis uninga
hing sakarep teging ngati
mangka aningsat kang sinjang
dumadi emmase kesti
sampuning salam nuli
kamat mali arya Makdum
Sunan Kali anabda
parangsa ta hing sasepi sesepi Syeh Majagung diko jogjana
Imbang.
Pandingin duk musawara
wus kamotting para wali
ana jalma murakabah
hing liyan masingupeni
ca bawaning liyan mungkin mangkana Pangeran Makdun
lunta hung salattira
luhur asad ya muparid
sampun bada asalam majemuhan.
Sunan Kudus angandika
pinasti tan dugi iki
sasanga mali sampurno
Sunan Bonang anambungi
sabda sumang kina makin tan nan luhung saestu
Sunan Giri ngandika
Akeh-akeh jaman akir
Ya manungsa kang luhung
Ya owah-owah.
Sunan Jati angandika
kari angko jaman akir
laksanane ora nan angandika Sunan Kali
ilanga pisan mangkin
mangsa anaha kang punjul
saking wali sasanga
aneng nusa Jawa iki
Sunan Jati dumuluring hing Syeh Mulana
tampi saking dukking tingal
Pangeran Kajaksan mangkin
kandikane ela dala
angopenni hing liyanning
sarta karsaning widi
jan dikamangke kalangsur
hing wali sanganga mankin
kang katela nama wali iku ora.
Hidepe bawaning liyan kala ning salat sayakti
Ikram miraj lan munajad
sami amangkin tubadil
Pangeran Makdum adi wus tampi karananipun
anarima hing candah kula nuhun inggih
tedakaken pan inggih jasad kauloa.
Darma lumampah hing karsa
mingga tumurunning ngasil
boten darbeni karkat
hung sagunging para wali
kang mawa luta mangkin
yen Pangeran hing Makdum
wurung daja oliya
amungia Mukmin utami
risedenging abukar wali sahasta.
Kocapa Suhunan Purba
hing purta tebing alinggih
tan liyan hing ngarsanira
amung Mulana Magrib
tuhu ingkang pracayaning Sinuhun hing kinadawu
anyepengi katandan
sing akokuman pasti
Pangeran Kajaksan sakahommira.
Ingkang ngukummi hinh kana
hing karsane Sunan Jati
tan jumeneng kukum rajam
rehing laipping nagari
beda lan panapri Demak
Bonang Gresik Kudus
genggenging Panagara
prandene tan den tapaki
mung warninig kukumman hingkang den tapak
dupi hing Cerbon nagara
yen dosa satengah mati
kaya maling lan wong ala mung den belok kinunci yen dosa
iku pati
matenni padane makluk
tinelassan pinatennan
wong Kajaksan kang duweni gih Mulana Magrib ku
imammira.
Ika sadeng makumpullan
ana hing Made sakundi
Pangeran hing Karangkendal
Gedeng Panguragan istri
miwah Jeng Sunan Kali
kang reka kuta pikuku
hing Cerbon panagara mangkana nabda Sunan Kali
kita diddel kula kang bandawasan.
Kula pendemmi emas sinangling laksana luwi
Jalma mara jalma pejah
Singamara singamati
Yen ana musuh sakti
Saking kidul den sareju
Jaganan aja weja
Pon tan nana giri rusik ya hing musuh sirna sampurna
Salamet sira.
Sabda Arya Karangkendal
gih kula anyanggemi
kuta hing ngeler punika
dadar kula pendemi
candana wulung wangi
peteng ribut buana
yen ana musuh nekanni
saking ngeler den sarejo saponnana.
Pon tan nana baya teka
hing musuh sirna sajati
salamet rahayu sira nabda Gedeng Rara Muning
kula anyanggemi
kita kilen kula bangun
emas ingkang kinarya
warni kodok amandemmi
bumi laksana teguh rahayu tan pasah.
Yen nana musuh tumeka
sing kulon guna asakti
den sreju sangganen rampak
pon tan nana giri rusit
hung musuh ku sirna di
salamet sira rahayu
Sunan Jati ngandika
Isun ingkang anyanggupi
Kuta wetan banguning wesi wasana.
Purasani pinendeman
hing bumi laksana luwi
tegu ya tan kena owah
yen ana musuh nekaning
saking wetan yakti
iku cangkolana den sareju
tan ana durga baya
salamet sira sajati
besuk uga reba hing kuta kang papat.
Lawan kang karya wus sirna
sakarna dengging kuta iki
pakarepane wong papat
ingsun darma angrempugi
siji Syeh Datuk Kapi
kapindo mas Ayu rangkung kaping telu Siti Bagdad kaping patte
iku maringkang Pangeran Panjunan iku si wongge ana.
Sunan Kali mangkyan ngandika
Sunan Jati dela maning
kaping do pinolar putra
sareng cep hing ngangling
abus potusan saking
angaturi atur
putra Jeng Sunan Demak
dadapur ngaturi uning
inggih Pangeran Pasareyan wus sumalah
dalah sampun kaulessan menggantu
gusti ngariki
enggal kesah Sunan Purba
hing ngiring hing Sunan Kali
ika lakuning wali.
Tan nagangu nulya rawu
maring nagari Demak
Ratu nyawa anyungkemi
krona bangetingpadane Jeng Suhunan.
Sapinten baya kaula
rumihin tuwan nyanggemi
kaken hinen kang hubaya kulopun makaten malih
angandika Sunan Jati
aja nangis kaji Ratu
lakinira tan seda pok delengen iku urip
sareng layon musik sarwi angandika.
Rayi aja nangis sira
pan si kakang ora mati
tan lawas tinemu uga
kalawan si raka maning
balik yen sira nangis
hing wong tuwa naenutu
besuk tan panggih pisan kalawan si kakang toli Suhunan Demak
ngandika maring Suhunan.
Girikadaton punika tuwan tinggali
Sunan Jati tebeng nyoba karamate mala mayit sirna kinubur
tumuli mangkana Suhunan Ratu gewuya mantu babahita
kalawan Suhunan Kali nabda hidung sisilir paparahu mancung
lastari lumarap.
Mangkana nitihi palwa meh kiren
dan Sunan Kali malah miring kang
palwa ana bancana nilihi nabda kidung sisilir
miring-miring paparahu
baita alit wonowottan pinan ngantennaken toli
Syeh Lemahbang wong sajati wahessi ala
ana wong binajang kara pinangantenaken toli.
Malesse nungang titiyan
keremming prau denneprih
enggal ical tumuli kang tumut niti parahu
lampahira wus prapta
hing Cerbon wali sakalih
kang kapungkur watek Sangyang binabaran.
P A N G K U R
Kocap Gedeng Susukan
sad ja nipun purwane andingini
lakune wong Tegal guso ya
enggon lumakuhing prang
seja nira Sindangkasih kan jinujug
dalem digja wus uningnga
den arah hing idep Muslim.
Mangka dalem digja sira
sinewaka sagongging para Mantri
dalame digja mangke maewus
lah sira den prayetna
hing tekane musuh mosset aja cenguk
sedenge babarana banteng ulu Sindangkasih.
Iling wawakidding wong kuna
hing bedahe iki balabar waring
dadi rimbagan kang estu
bedahing praja kita
jaitan ganti wedaling waring sing datun
nemba matur kang tinita
hing sabda pakonning gusti.
Sumangga jiyad Sang Nata
Mantri pitu saragep atampi
kang warring sampun ning ngulor
binakta hing pawates san hing watesse sampun pinanjer
luhur
kababar kubenging praja
tampinge wus kinemitti.
Tan nadangu praptanira
Gedeng Susukan
sabalanira ngiring
anuju Prawata sampun
warring sampun kalembak
datan angsak wau dateng marginipun
Gedeng Susukan tan bisa
amiyak balabar waring
lir kuta wesi ika
pan ategu keker hing waring
wing Sindangkasih kalang kung
gumentur swaranira
yen Susukan amimpes hin jayanipun
wong Susukan mere saja
monongtonalaju hari.
Munggu Purba wicaksanan
melehaken ingkang sanggup angidepi
kocappa salajuhipun
Gedeng Tegalgubug sira
moiwa ingkang saka wula bala nipun
kang waring sampun winiyak
larutte wong Sindangkasih.
Lumajeng Sang Dalem Digja
pankalangkung wau giris hing gali
sidakep emutte ulun
bedahe kang wasiyat
nulya muja hing Dewa nuhun pitulung
kumpuling garwa santana
arah ambles maring bumi.
Muwa kang subawa putra
sigra musuh kang subawa prapti
Sangyang Dalem sirandulu
hing musuh ora bisa ya
pedekkan wara Dalem samya tumut
Putri loro kang kacandak
nama Raros lawan Riris.
Kacandak sakalihora
wau dateng Tegalgubug sami
ana guru swaranipun
aja tambu besuk ana
bumi jebug ya hing Sidangkasih iku
apesse kang watek jaya
duriyat ting wong lino ewih.
Dumadi salin paparab
nganggo ambek bidakwalaka nuli
tan paji nganak putu
darmane kang kelingan
mung samono iku hing wawangsis ipun
wong Tegalgubug miharsa
agung gegetunning ngati.
Sigra mangkat wangsulliran
Tegalgubug hing sabalaniki
wong Susukan ngiring sampun
lampanya duduluran
wong Sindangkasih sakabih tan nana kantun
den kerid arsa ngaturena
maing Kanjeng Susuhunan Jati.
Tenga wengi alalampah
sarta sira den gege lampah neki
Sunan Jati kang jina ejug
ya Sang Putri kang sapasang
angreb hing Gubug sawah tanna dangu
kaslir daya mingetan
gumanten asmara guling.
Gedeng Tegal orang kangkat
Putri roro ika wus den karoni
ingkang pinara hing wuyung
ora kangkat langgana
sampun tutug hing ngadep pinangku lulut
sakoro sang ngadi warna
pan samya gegetun ning kaptin.
Wonten carita winarna
Sunan Jati kalawan Sunan Kali
Tebeng hing waringin pitu
sinare hing Gunung Jati punika
Pangeran Majagung saja
ingkang nuwunnu sajati.
Katelah pala langounnan
ya winangun kali kasaru kang prapti
Gedeng Susukan umatur
nuhun duka sampeyan
gih kaula angsal damel supaya karebut
purwanipun Dalem Digja
pejah kaulena pademmi.
Raja dunnya kula jara
mala angsal kula Putri kakali
inggih ingkang bade katur
dateng ngayun sampeyan
wasanane hing marga wonten kang rebut
inggih yaktos
Gedeng Tegalgubug awon
begal margi.
Kanjeng Susuhunan ngandika
aja matur sira pangucap ngisis
cela hing wing padading makluk
bok sira kawalessan
najan Tegalgubug make iku
den wehaken mangko uga
maring isun ngalap rahi.
Layen gede gawenira
Dalem digja kongsi sira jarahi
sun ganjar sira satuhu
sun jenengaken sira
Pati umyang matur nuhun kang liningan wau
tan dangu praptanira
Gedeng Tegalgubug mangkin
Nembah ngaturri boyongan
Jeng Sinuhun ngandika hing saiki
ya si Gedeng Tegalgubug
sun jenengaken sira
Pati Rusu ana dening Putri iku
roro iku sun tarima
nanging kanggo sun paparing.
Maring sira raben nana
mung kaula bala hing Sidangkasih
sing sakahe isun pundut
daja ha angabde amat
isun muwa anak putu kang dadi Ratu
Pati Rusa matur nembah
kator sumangga wondening.
Paparing kasuhun pisan
Sunan Jati angandika sarwi
gumujeng tenganne iku ambeler kenang ngapa
ngaturaken pepesan kosong ya iku
Pati Rusu ara tampa
Sunan Kali mimiringi.
Henggal sampun apamitan
tekang marga ika mangkan pikir
yen dewekke babarujul
putri hing gubug sawah
sigra wangsul tumanduk maring Sinuhun
satus sewu nuhun marga
sapura Sinuhun Gusti.
Putri paparing sampeyan
sampuning kula nuhun inggih
katurmalih hing Sinuhun
Sunan Purba nandika
Pati Rusu isun tampi aejar luput
ya sapisan ujar ingwang
tan ana ujar kakalih.
Lawan isun angapura ingkang
luput anjimah hing Sang Putri
lan samangke wus lulus
dumadi rabinira
matur nuhun inggih sang Pati Rusu
dumadya hing pamit sira
kapungkur Sunan Jati.
Tumuli sang Pati Sumyang
matur nembah nuhun palamarta ugi
bebendu dalem sasuhun Putri ingkang satunggak
kula kaehun pedahe hing wau nipun
sakalih angsal kula
nuhunaken waris wiji.
Ngandika Sunan Prabu
kenang ngapa hinmg maune ora muni
hing sadurunge iku mau
dak wenehaken nesak
sok jaluken dewek sira iku
suka atine iku iya
maring sira isun idin.
Pamit enggal Pati Sumyang
sigra waole mala pinanggi
hing marga wau den bellik
Pati Rusu mandega
sun tuturi ora karsa Sinuhun
Putri siji iku baya
pinaringaken ning mami.
Sang Pati Rusu garjita
ora suka isun den jaluk iki
kasingane sira iku
sing maune ya wis salah
dora cana supaya mungguh Yang Ngagung
ora kilap ingkang ala
kalawan ingkat acik.
Kalesan Pati Sumyang
sigra mantuk tur sarwi madingcing
sareng lamining tumuwu
Pati Rusu kekesahan
ing Mataram nembe dateng wonten Mudu
congkewak balik karasa
ana durjana nekani.
Maring tuhu wisma nira
sareng malebet hing wisma anemoni
Pati Sumyang babarujul
mangka enggal jarangang
jogol banting binanting samya asureng
tuja tinuja sira
Pati Rusu kasuliring.
Kasaleyo saerung tiba mangka Pati Sumyang sareng ningali
musuhe tiba arubu
linggar hing candakira
iku ina musuh lawan kangwis rubuh
lepas katilar kang yuda.
Pati Rusu enggal tangi
ngucap dening kanihaya
kiyong ngiki sun puja hing Yang Widi
ajana kiyong tumuwu
ana hing sawah kita
lan pumali sakehe wong Tegalgubug
jojodon lawan wong Susukan aturung tumedak ngakir.
KINANTI
Wonten kocapa winuwus
kang wau lagya alinggih
wonten hing Ardi Amparan
sakawula warga sami
wau samya wirahos
kalayan kang abdi neki.
Sigra ngandika Sinuhun
maring ingkang abdi sami
Gedeng Panderes san ingkang
cepeng gendis hing nagari
saking lahang gendis jawa
wus datan nana kang kali.
Dupi mangke tanem tuwu, pala wija tuwin pari
undikaning teja
punika Kuwu Dipati
kanti lan Gedeng Dawuhan
baktine Kuwu Dipati.
Yen ambedo eng hing banyu
pyambake kang dumadi
antru hing banju kudu ega
matok patang puluh bengi
saumuring wong sasawah
kaduga den samber dening
gelap teka ora pasah duga kapendeming siti.
Lah iku ing purwanipun
Kyai Kuwu Dipati
darbe sapa poma-poma
anak putu hing sawuri
aja pada anganggowa
kulambi kadut pumali.
Embok ora kaya isun
nuli tan antara lami
putra Sinuhun kang nama
Pangeran Jaya kalanaiki
karsane kesah adagang
nyabrang tiwa-tiwa dadi.
Nilad putu sabrang wau
adagange mring di endi
angambangaken baita
sigra alayar tumuli.
Dugi maja ning laut
katampeking angin dade
dumanja kerem baita
Pangeran satitik maning
karungkeb kang palma nira
tan dangu kombak aminggir.
Pangeran langkung gegetun
kang ibu Nyai Rara Jati
sabdane aja gagabah
wong dadi duriyat wali
ora kena laku dagang
drawaka kaduli-duli.
Kudu nganggamanah sukur
aja tiru-tiru kadi
putra Sabrang wus lumahar
Pangeran eng ngetting kapti
dadi kang dunya den hina
prasami dipun buwangi.
Telas dipun rawur-rawur
dadi babali amiskin
kapiluyu angumbara
milu lawan wong birahi
karem byangan aneng guwa
anitihi kuda lumping.
Angigel lumaju-lumaju
tur mawi den kulintingi
ana kang sawane genta
tarebangan siyang latri
pohal pahil munggang arga
tumurun gunung colak-calik.
Sareng manjing guwa siyuk
Pangeran kasadah dening
walirang upas tan gagap
kasirep dangu tan eling
kantos telas hing sadino
Pangeran dereng anglilir.
Prasami den gotong mantuk
Nyi Rara Jati anangis
sambat-sambat anaking wang
keneng ngapa maning iki
ya Allah Tuwan Pangeran
nulya Pangeran anglilir.
Ing ngentuing ibu nipun
kenang ngapa gumalidig
anak puton Waliyullah
ora kena angunggahi
gunung Cerme bok dan kaya
rama-rama dika Wali.
Pangeran dumadi emut
jaran lumping den buwangi
trebange den buwang-buwang
gentane dipun goceki
dadi ababalik agaman
lampah ekas lampah santri.
Diyang dalu rabang rubung
salat ngaos lawan dikir
nunten numaking wong dagang
penejane tumut kaji
kang praone nengah lautan
kabiyar kagawang angin.
Prau katung kebing banyu
akeh bandega kang mati
Pangeran nitihi bahan
aneng laut nuli minggir
kantos kawan dasa dina
tan weruh talata minggir.
Den sara dening wong prahu
katur maring Nyai Rara Jati
kang ibu sanget karuna
kenag ngapa dikasihi
mancalo sing kadang dika
polahe sabagi-bagi.
Daja balahine agung
bok ta anak putu Wali
ing Cerbon bok ora kongang
kesah kaji dipun eling
mapan rama jengandika
hing Cerbon wangun masigit.
Kang minangko kajinipun
wong pekiruna hing riki
dika aja ilok murka
aja akeh pohal pahit
gugen nana tapak yasa
rama ramandika wali.
Tumuli Pangeran emut
akulima hing masigit
angramihaken Jumurah
maos kutbah angimami
hing salami-lami nira
sareng hing kana tumuli.
Pangeran kutbah ne gugur geger hing wong sa masigit
yen putra Dalem atiwas
waktu iku Sunan Jati
siweg kesah datang Pajang
hing kono dadi ariri.
Gugatti Pangeran Makdum
peki Abdullah Mujahid
hing Astana Palakaran
lawan Pangeran Darajat
kalawan Tuwan Syeh Katim.
Saking Kalijaga kumpul
sami amirahos tejar
Syeh Datukafi Kewedan
hing manah dados atari
matur hing Pangeran Drajat
sapinten baja puniki.
Pangeran Drajat umatur
hing wong salah dan pinilih
najan putra hing Nalendra
kukum ora pilih kasih
ya duku bae kokuman
amung si sabar rumihin.
Sami ngantosa hing rawee
ipun kang lungguk Narpati
aja kurang taha krama
najan ga sampunnu wakil
nanging prayoga ngantosan
sapira tala hing mangkin.
ASMARANDANA
Yata kampo ingkang sami
mirahos ingkang kukuman
tan nancara hing lamine
sarawu he Jeng Suhunan
saking nagari Pajang
Syeh Datukkafi umatur
yen putra dalem Kalana.
Tiwas gugur gennya wangil
gugating para Ngulama
anengge wonten takjire annunten Kanjeng Suhunan
ngumpullaken kang para
Pangeran gegedenipun
kang aneng Cerbon nagara.
Pangeran Drajat wus prapti
miwah Jeng Tanda
Pangeran Luwung salawe
Pangeran Ugyannapora
Pangeran Sidangbarang
miwah Jeng Pangeran Parung
Pangeran Hing Kedungsoka.
Pangeran Pase sumanding
miwa ika Raja Cempa
lana Pangeran Sindanglampre
Pangeran hing Cerbon girang
Kyai Gede Kedokan
Gedeng Jati Gedeng Sembung
miwah kang para Ariya.
Pandeleg gan Wandu kaji
Jugusatru Kandurun
Pencattanda Andamur Ander
sadaya pinatarossan
tan kangkat anglangkungana.
Angandika Suhunan Jati
dateng Pangeran Ugyanna
mara metok kena age
dinar ingkang kira-kira
sabobotte si Kalana
wuring sira timbangan iku
nuli para ngedumena.
Maring saking pekir miskin
nuli ika si Kalana
prasmya buwangen age
maring gonning kang simpar
ika hing Sagraherang
wangen patang puluh dalu
lawan uwis arya ana.
Para Pangeran lumiring
kalakuwanning jumahat
endahing wong cilik bae
kon njekel kutbah Jumah
dugiya akir jaman
duriyakajana melu
hing laku imam lan kutbah.
La miarsa sagunging
ingkang sami hing ngayunan
wus anut hina sakarsane
ingkang amandita Raja
hing cerbon Waliyullah
hing tita muslika ipun
sampun laksana sadaya.
Wus tutug sapangandikaning
wau Jeng Suhunan Prabu
sadaya kula wargane
miyarsa konjeming kesma
miyarsa kang pangandika
samya wedi asihipun
lir lata kada wuhan warsa.
LADRANG
Risedenging panylongkang utama siji siji
ingkang waraga, dening dad jatining Wali
ya Syeh Bentong hing kamu sirna sumala.
Sunan jati Sunan Kali anjenegi
hing layoning
Ohya Karangguyammi
guriyangging Pandita Sekar Dwija.
Sunan Jati lalurme saking dingin
sami kesah
mring ngetan lan Jeng Sunan Kali
dateng Gresik amanggih adining tinggal.
Hing sedane Sunan Giri pinang kaning
Wali Jawa, sirna panetek abecik
wus minulya pinangka Gresik Astana.
Ginandikaken ingkang putra Sunan giri
kang paparab Raden Akbar ing ngistrenan
Panembahan Ratu aneng Girigaja
hing luntahe Sunan jati Sunan Kali
mring Surabaya
lampah ningid kang sinajang kapti
Sunan Ampeldenta mangkana kukilan.
Kokok beluk nama Sang Duda wus prapti
bakta surat
sampun mapag hing lampahe
Wali kali angatoraken serat punika.
Dereng winaos ingkang serat punika
wus uninga
hing sawirasaning tulis
Wali kali sampun aniti iku kilan.
Malah prapta dalem Surapringga pati
pinunjungan
dening Sunan Ampeldenta
mapan sampun wedi asih ing Suhunan.
Mala lami hing hana wau amungkin
wangun yasa
babalongan kineduk tengah wengi
dereng number paninjiling medal wulan.
Pan katinggal bicak-bicak ingkang siti
pangarjito
Sunan Jati kang murugi
Sareng pedek katingal rareng sapasang.
Wus cikangking hing ngasta kanan lan kiri
sampun mentas
kang Balong kabeking wari
sampun pajar aremme ingkang jamahat.
Baya subuh Sunan Ampel amedeki
dereng lisan
wus wruh Jeng Sunan Jati
bareng kang den sambat dening asta kiwa.
Sinungaken wau dateng Sunan Ori
Ampeldenta
langkung suka hing manahe
langkung nuhun kaula hing Ampeldenta.
Pan Si Beluk punika katuring Gusti
Sunan Purba
wus narima malah pamit
Sunan Jati Sunan Kali kaduluran.
Hing karsane Sunan Ampel ika taklim
dadya bakta
kukila lawan bareng siji
duk binadi oloyoli kang ning umah.
Pinaparak wau dateng Sunan Kali
kaki Bicak
krananipun saking wari
kahalape si Bicak kebeking toya.
Wonten mali gantiyan kang pinadika
Suhunan Jagapati
ing Kudus nagara
tuhu Oliya pugal
ya tur dusta, tanpa liyan kang medeki.
Arya Jipang ika kang katimabalan
temah ingkang mejahi
maha Sultan hing Demak
rehing salah hing tekad
sampun kawas kita dening
Oliya Allah
Saking Kudus nagari.
Iya kupur Demak besuk mati deng sira
estu sira dumadi
bawahing parentah
ana hing nagara Demak
Arya Jipang anangupi
pan sampun pamitan
sigra kesah hing giring.
Wadyabala samapta gagamanira
ing wanci tengah wengi
praptane hing Demak
ana barangkot nekani
kagila-gila tan kena den musuhi
lah hing kana sumalahe Sultan Demak
benca jaya mineki
dening Arya Jipang
wong sakadatong bubar.
Burak sami ngunsi urip
wane susupan
sarpin bubar angngili
apa maning Pangeran Rajanagara
maring warna aningkir
muwa Ruta Jawa
sarta putra titiga
Pangeran Agung duk maksi
titiga warsa, Pangeran Wirya nengi.
Yuswanipun satahun lan pitung wulan
Pangeran Ruju mangkin
yuswa tigang wulan
tanopen ingkang garwa
Sultan Demak agung ningkir
Putra Suhunan Purba
Ratu Ajukang linuwi.
Kisah tebah saking Demak
malah saja mantuking Gunung Jati
kocap Sunan Purba
lan Sunan Kalijaga
sakalihe angrawuhi
maring nagara
kang layon sampun binecik.
Binecik-binecik den nira Sang Arya Jipang
ali kali anjenengi
muwa Sunan Bonang
Sunan Kudus hing rika
kang layon wus pinetekking
rolassaripa
pada anduming waris.
Sakukume Raja Barana sang Nata
anging datan kawaris warni karajahan
ika pinaringenna
maring Arya Jipang nenggih
wus hing ngistrennan
Arya Jipang dumadi.
Dalem Tumenggung pangaraning wisesa
aneng Demak nagari
rempaging Oliya
samana duking karsa
Sunan Jati ora salib
Kang mantu Sultan dingin kinarsa sahid.
Wus pariyat ingkang tata pranata
ning agama kang muslim
watek Sunan Purba
mantuk maring Cerbon kali
putra wanoja, Ratu Pangayu Dewi.
Ingkang rangda Kanjeng Sultan, ing Demak puniki
lawan nraja wawarisan
dunya brana ika
lan gamelan sukati gamelan
kawaris hing Cerbon iki
hing kukum mula
mangkana waja sawiji.
Ingkang nama Pangeran Agung binakta
Maring Cerbon nagari
katela kang nama
Pangeran Cerbon ika
dupi kang sawiji mali
Pangeran Wirya
pinupu ika dening.
Gedeng Demang anang Losari kang parnan
sangeting kinasihi
katela Pangeran Losari ingkang nama
Pangeran Ruju ana hing
kang arana uwa
Pangeran Rajan egaris.
Kali kang ibu Ratu Mas Nyawa
wonten gantining gurit
Kanjeng Sunan Bonang
mantuk ing Karamatullah
Sunan Jati Sunan Kali wus aneng kana
muwa Syeh Jagapati.
Sampun sirna sumala hing kang aseda
pinetek gunabecik
ana kang kinarsa
dening Wali titiga
putra Sunan Bonang nami
Pangeran Dipa
ing ngistrenan sayakti.
Pan jumeneng Panembahan Ratu ing Bonang
anika panata gami
ing sapraja Bonang
tan nana langganaha
ing ngarsane sangatbecik
tita wisesa dino elunrang deng Hyang Widi.
DANDANGGULA
Wonten malih kang kocapong gurit
mangka wong sabrang ngaja
kang nama Tu Bagus Pase
nengge babaktanipun.
Waja gagaman hing sangunging
prajurit kawan dasa
duking sajan nipun
arsa ngayomi wong jawa
ing ngilmune hing ngamale kang sayakti
maring Cerbon nagara.
Mangka ana karamate Sang Jati
sarawuhe wong Agung sing sabrang
dadi sirna pijangkowe
andap asor tumungkul
daja sira wekas badami
sasahat ngemumana
dateng Ratu Ayu
randaning Sultan ning Demak
kang Sinuhun dening kang osiking ngati
nuten naros kang putra.
Ratu Ayu masi mingkung nuli
dangu-dangu anderek hing karsa
kang rama hing kandikane
nabda wau hing Tubagus
anakda bawa isun iki
amba ngamal jariyah
suka laki maring bawa
mas kawine anak wadon mati sahid
Tubagus wus narima.
Rama ingiku ela angobuli
ing pinangkahe ingkang putra rama
mas kawine sakandikane
inggih rama ing mau
sampun nira sinaksenan dening
Suhunan Kalijaga
lan Pangeran Makdum
Tubagus wus aningka
jatukrama ika sedeng amutrani
istri suteja warna.
Pinarab Ratu Wanawati
langkung sihe wau kang rama
Pangeran Tubagus Pase
mala ing salaminipun
Ratubagus lajar aprapti
kesa dateng karana
titinjo praptanipun
yen kala rawuh hing sabrang
kacarita manuk pasek ika ngiring
yen wus nrawuh hing Jawa.
Manuk Pase asanak badani
lan kokobeluk Ki Dudaraga
malah sami bamine
mangkana duking temu
wonten malih kang kocap maning
Pangeran ning kajaksan
Syeh Mulana guru
tebengira mamariksa
wong kataton tan bisa aba ananing
hing waringin pitu panta.
Sampuning atra pariksade ki
pan dumeter dawuh Sang Saliyullah
dumugi maring sedah
ya tan ganti araweh
Sunan Jati lan Sunan Kali
ambeciki kang seda wus sirna kinukur
ana hing lalangan kormat
lah ing kono marmanya Sunan Jati
ajenengken kang nama.
Tanda Wari ika kang gantosi ing cepenge Pangeran Kajaksan
Mulana Magrib tandane
malah wis kasuhur
hing sapraja Kajaksan Pati
kumolko ing Pangeran
Kajaksan pangrantun
lan anjenengaken nama Janapura
cekelane-cekelane wangun picis
timah ingkang kinarya.
Ingnganggite kang Sunan Jati
lahip praja ing Cerbon nika
cepeng mikrab hari roro
Sunan Jati kalihipun
Sunan Kali hing pramilaning
Sunan Bulki jaika
sakaliji saewung
kesah maring praja liyan
Arya Makdum wau kang ngimami
ing wahu lawang Pangeran.
Ratubagus yen wonten kalaning
anang Cerbon nenggih lamon lajar
ya ta Sang Makdum adewek
wonten sanes dinapur
putra Sultan Demak kang yakti
jalu nama Pangeran
Rajanagara agung
Ing salamining agesang
Tansah masi angarah rusaking Wali
Kang ning Kudus nagara.
Ing sanggek hing ngamales puli
ingkang rama sulta Demak
yata recep pangikete
ika ta Sang Tandajupu
kang sinawitan linen hing sih
pinanji janjinira
sira Tandajupu
aja kapalang sasanakan
maring isun remanggana ambek pati
yen besuk estu ugo.
Sumerene Sunan Kudus yakti
sun wenehi sira panguwasa
apa dudune iku
aja Jipang ing Demak luwi
amasesa ing ngarat
bayane sun tanggung
ing ngadosa nganingaya
sabab Sunan Kudus amimiti
nganihaya mring liyan.
Tandajupu sakedap angingsir
cipta nirange lawan Pamajikan
ningali upah upahe
ketun sapuluh ewu
lawan janji wisesa kening
ing sakus nagaraTandajupu sanggup.
Sunan Kudus wus uninga
saingere panakawan anisip
nanging tan sedi ing manah
wus uninga ajale pribadi
tan ningali wau panakawan
anging yang Purba karsane
sadenging salat subuh.
Tandajupu prapta manjing
anuduking Suhunan
siweg parlu subuh
tan pasah ingkang gagaman
keris tugel kaduga Syeh Jagapari
asalam ming salat tiro.
Angandika Sunan Jagapati
yen sira rep anguntapena
patinisun sayektine
iki lo keris isun
sudukena iga kang keri
tan kelak isun pejah
dening keris isun
upama sira prajaya
lan gagaman liyan saking keris iki
ingsun mangsa matiya.
Sigra nubruk pada aglis
Tandajupu tabat sruh karuna
sumangga kaula suhun
Sunan Kudus aris mangsuli
aja samono sira
tulekena sanggup
pon karep pira priyangga
ora liyan iku karsaning Yang Wido
sira darma lumapah.
Tandajupu matur nuhun gusti
boten sanggem kula nguntapena
dumateng hing sumerenne
Gusti kula Sinuhun
sampun kringgit hing sajroning gali
sapinten nraka kula
murtad dateng guru
lahere mangsa wontena
ing ngukum
bantosse ta kados pundi
kukume hing ngakerat.
Sunan Kudus angandika malih
iya luput iku ujar ira
balik sira yen mangkono
mogoking ujar isun
ora sida sira mateni
maring sun wus nyata
naraka ing besuk
sabab lakunira bantah
maring gugu wong duraka iku pasti
duraka maring Allah.
Lah ing kono sigra mampenni
Tandajupu hing duhung Suhunan
sigra linaksanan age iga wekas sing pungkur
sampun sirna wapating Wali
udan angin diwuhan
ketug lawan lindu
silaking teteru mangkat
ya pinetek bun ecik pan sirane hing
Bersoci Astana Surya Ngalam.
Sasampuning Randajupu dadi
ing ngasrahan jeneng kautaman
Dalem Pati ing jenenge
Wisesa aneng Kudus
ing pagaman durga mandi
nan kumidep pira
miring kang prentah wahu Rajanagara
aneng Kudus ika kang angresti lewi
kina puja ing agama besar.
MEGATRUH
Pan mangkana hing Demak Dalem Tumenggung amiarsa
Sang Wali
sumerena dipun
Tandajupu kang mateni
Tumenggung Demak asolat.
Sad yang rejek mring sang Maha Pati Kudus
ing wayah tengah wengi
kadya lampah duking wau
hing Kudus aloking jalmi
lamon tatkan barangkot.
Malah sirna pejah sangapati Kudus
Arya Rajanagara
mring Praja Pajang lumayu
angaengsi gesang nusupini Sunan Pajang duking enggon.
Pan mangkana kang jaya Pati hing Kudus
ika pitata saking
Tumenggung Demak adawu
nama Papati gaganti
neng Pati kang sirna papan.
Wonten malih carita kocaping tutur
Ratu Madapa duk dingin
tatapa ana ing Gunung
Ajar Sukarsa mangkidi
salawe tahun ing mangko.
Wus agenep salawe mangkana ayun
ing saja angluwari
mangkana kuliyang runtu
den alap ika tumuli
dinahar dumaja bobot.
Tekeng waktu babar teja warnanipun
istri tur pinarabi
Tanuran Gagang Rahayu
elus salam eting ngaurip
arupatur aman corong.
Kapirsa wau dening Raja Lahut
ing Jakerta Narpati
mangka sinengkeran sampun
arah binadeya kening
ingkang putra ya Sang Katong.
Ingkang nama Pangeran Jakerta Talutur
malah wus aneng wuri
Jakerta ika Sang Ratu
Tanuran Gagang sarehing
kang ngibu tan kangkat mogok
hing karsane wau Raja Lahut
marmaning kinawuri mamareking maring kabul
hing panedana dingin
kang ngibu maring Yang Manon.
Asring malah sang Raja Lahut arawuh
tunduk hing Cerbon nenggih
punapa dening Sinuhun
nunten Arya Sibangkingkin
kali putra jalu anom.
Lah ing kana sedaning putra
Sinuhun Jati ingkang nama
Jayakelana kinubur
ing Epung parna pinuji
narungtun tanpa gagantos.
Ki Syeh Katini Syeh Agungrimang ya mantuk
hing adamme lan maning
Pangeran kajoyorang agung
Pangeran Drajat lalis
Pan mangkana duking enggon.
Ki Syeh kantiyam sinare Kalijaga wau
Syeh Agung Rimang ana ing
Etuk Pasareyannipun
Pangeran Kajoran menggih
Kamalaka duking enggon.
Agung Gegeden samya sumeren sampun
lir pagebug nitisi
karangkendal kangrumuhun
sami seda kinarossi
gegeden sok liyaning wong.
Yen sedane maksi jumeneng Sinuhun
saenggon enggon dapeni
ora ngebon akumpul
kang wapat sami winanggon.
Kumpul ana hing Gunung Jati lainantun
kang satemene hing jalmi
ragane Sinuhun Yuyut
anaha kocaping gurit
kang tuhu Suhunan Katong.
Malah karsa amanggiyakan kang putu
sami putu kang nami
Pangeran Cerbon kaliyanipun
nama Ratu Wanawati
Tubagus putrane wadon.
Mapan ika sami dereng balegipun
saksi Susuhunan Kali
lawan Pangeran Makdum
Tubagus agosti angling
ana pikukuninging Manon.
Amba ningkahaken kang wulang ngum
Sang Ratu Wanawati
maksi wuwojang tinemu
maring wayah rama tinggi
kang nama Pangeran Cerbon.
Mas kawin duwe anak yatim tumuwu
Sunan Jati angabuli
anarimakaken isun
paningkahe putu istri
kang sing anak wadon.
Ingkang maring putu sing jalu
maskawin anduweni
anak lanang ingkang tulus
dadi yatim mangka mami
anging si kana pitumon.
Ya sampingi andua Suhunan sampun
watek bala lan santri
maca amiri sampun
tutug sinaksening wargi
ajining kangken Suhunan Katong.
Muwa Dalem Raja Lahut aneng riku
Ratu Winahun nenggih
Raja Pajajaran kumpul
anaksesni ingkang kawin
lucu titingalaning wong.
Wantu penganten kasemening umuripun
Pangeran Cerbon duganing
yuswa jekjek gangsal nahun
Ratu Wanawati dugi
yuswa tigang nahun mangko.
Duk samono pranataning Masjid Agung
imam kang siti ganti
Sunan Kali Sunan Ratu
Pangeran ing Makdum maksi
akamat cekalaning wong
Syeh Datuk Kafi ika waman aksanau
Kapindo Modin Jati
Lebe Juiman ping telu
Buyut Panjunan lan maning
Sunan Panggung namaning wong
Pangeran Janapura kaping nemipun
kang ada tengete maring
wawacan lami tumuwu
mangkana Suhunan Jati
anetepi hing Sapening gon.
Duk kang serat cacangkokhika muwus
he Sunan Sebangkingkin
lahu putu nira iku
lunga kaji sira mati
anakira pan samono.
Iya mati lawan karsaning Yang Ngagung
mula Muchamad Kapil
hing besuk jumeneng Ratu
lawan wasiyate Kanjeng Nabi
samono ungeling godong.
Kang sinurat kang godong sampun ginulung
cinakotaken mingglis
mring cangkeme Naga duhung
sigra akeris tumuli
amiber lir kaja elong.
Pan lumrap abure kadya andaru
hing wayah tengah wengi
wus prapta panaja nipun
mara ing Banten nagari
gegering wong sakadaton.
Agung alok hing jana mastani andaru
dawuh ing Sibangkingkin
Sunan Banten kagum-kagum
dupi winaspada keris
sang Naga anyokot godong.
Pinariksa godonge akhisi kurup
tulis akonna kaji
Sunan wis tampa hing kalbu
yen erat saking kang jagi hing Cerbon Sinuhun katong.
Sunan Banten ika wis wangun wawang sul
Tulise salaka adi
Lan tulis kancan murub
Hing sacacangkoking tulis
Kang duhung mesat aganitos.
M I J I L
Lingsir wengi sang duhung aprapti
dateng Sunan Katong
tiningalang kalangkung baguse
angandika Suhunan jati
budening kumaki
niana kang takabur.
Pira lawase kita hing ngahurip
marentah bala wong mangsa teka hing duriyat kabeh
gon wisesa hing bala lit
ora liwat benjing amung
sangang turun.
Wus angandika samana atoli
Sang Suhunan Katong
dan sidakep hing siti sumare
alelemek punika ronning
rudamala siji
akrengulu watu.
Kang muoes taka ngetan ngujurre baris
dadi mungguh kulon
kadya salat hing ngupamane
wanci sahur Suhunan Jati
wapat anjegjegi
umur satus punjul.
Rong puluh tahun mangkana nenggi
Sunan Kali gatos
wawara hing sanak wargane kabeh
lamon ika Suhunan Jati
sumala hing ardi
gen kentaki kang luhung.
Mangkat gumuruh kang jagat asisip
kayon pada rontog
sasatowan pada muni kabeh
kad ja toya anmbur atrih
kang swara gumuruh gangi
ketug lawan lindu.
Sila karikil pada gumatik
Bumi anggerem anggembor
yasang Gunung jumegus swarane
ya gumen jrang kumandanging langit
Srangenge amuni
gumarangsang nguwung.
Lir ta dening panangising Ejin
jajahan alok
pan gumuruh ika ing tasbeke malaikat ika medaki
saking ngara hing langit
maring puncaking Gunung.
Ing kang wayah linajar reken age
kKesah kaji binaktani
pasangu lang janji
mampir sajan jujug.
Dateng Mesis aminta kasih
pan Sultan hing kono
maring rayat iku satemene
tuturra kanda kang sejakti
lawan iki bukti
tanda rama lan Sinuhun.
Ingkang aneng godong kang tanta aking
lahiku ing kono
pinto kena ing tanpa ngandelle
Sultan Mesis hing Sireki
minta apa aparing
pusaka ning luhung.
Pangeran Muchamad atampi
pitung kasseng gantos
pan anembah sigra mit mangke
sarta godong kang tanpa lum aking
binakta akaji
kocapa hing pungkur.
Gih Pangeran Muchamad atampi
ganta tahun mangko
wau Sunan Banten sumeren
dadi manggung ika angantosi
ingkang kesah kaji
ingkang ngadeg Ratu.
Kocap dalem Jajaketra talu turu
kang jumeneng ngadeg marpati
diparagab maring
ingkang warna Ratu.
Tunuran gagang mamaning Putri
arsa sapaturan
nunten miyos agni sing bagane
maha dalem wis wandane aguling
kalawan Sang Putri
gyuwane satuhu.
Mangkana ngucapa lah iki Sang Putri
ayu tanpo dono
mung cuwane tan guna gantine
saban asa isung guling
medal saking parji
agni ingkang murub.
Ing marmane Tanuran gagang kasesi
cipta kaning uwong
tan takanggung tan kacipta salirre
teba dinum kapanta rabi
pareng Dalem maji
hing Cerbon tumanduk.
Maring yuyut Sinuhuning Jati
nama Arya Cerbon
nembe umur sadasa jejege
Ratu Gagang tumut angiring
ika sasiswan ning
pedekkana lit tan wruh.
Kinare menan ing kana dening
Pangeran ning Cerbon
Sinuhunaken punika sukane
Dalem Jaketra dadi hing Cerbon pinundut.
S I N O M
Kocap malih Sultan Demak
kang putra Sultan Demak dingin
ana wartane yen ika karsane amales puli
kang rama duk dingin
sedane dening Tumenggung
Demak dereng samapta
wis kawarta maring Tumenggung ing Demak.
Tumenggung Demak alanglang
wataraning tengah wengi
mrajaya ing kanin binedil
sumala mangka nuli
Tumenggung Demak kang nuju
kang putra Sultan Demak
kang mangke ingkang dumadi
Panembahan Madiyun duk pinang arah.
Dening sang Tumenggung Demak
ayun malih pinejahi
supanten kasusu bubar
Panembahan ingkang ngili
maring Pajang dumadi
kawula bala kajuput
kagawa maring Demak
la hing kono purwa kaning
Ki Tumenggung mas huri yen anjalok etang.
Singa-singa hing nagara
binarang kot pinalu hing
marmane Sunan hing Pajang
darbe sembara hing mangkin
sapa ingkang nguntapi ing
Tumenggung Demak iku
pasti pada kang nagari
lawan alas Mataram geneng nagara.
Malah agung para Nata Bupati manca nagari
tanopen kang bidak nrama
kang sami agenging agati
hika kang saja angarah ing
patine Dalem Tumenggung
supayane Dalem Demak
sato mara sato mati
jalma mara jalma mati tanpa sala.
Guna telu lan tragnyana
upas tan nana mandeni
ingkang samya angarah
ana wadag ana demit
lir ing demit upasi
yen wadag subawang nglurug
prandene ora nana
kang nemu dalaning pati
engganira Tumenggung bawa ing Demak.
Ana dening kabisanira Sinapati maring alit
maring sanak maring liyan
jar dingine olih idin saking Suhunan Kali
marmane ika Sang Ratu
abawa kaduluran
sahinggake kang pinambabrih
ya wong Cerbon malah asring so bawa sanja
lan ta mahune pisan.
Dalem Jaketra kang nelir
pan samono lamon den gawaha nendra
mangka pinonta pininta
deng Riya Cerbon nulya glis
sinungaken pang mangkana
lamon ayun kinarepi.
Sunan Mataram angling
gih boten kenging hing ngingu
samademing wontena
mumulu mata balasi
samaptanana lamon dinuking saja.
Sunan Kali angandika wong mamaceni
yen ora kalawan dosa
aloing si dollen tumuli
ming juragan Walandi
ingkang arep layar iku
mangka sapakoning Wali
Ratu Gagang ing ngedol dening Raja Walanda.
Tinuku bedil titiga
ageng mariyem warnining
bedil ingkang sajambangan
bolonge duk winastani
pun sapujagat iki
wau hing paparabipun
tetep aneng Mataram
dupi kang alit Satonimi
wastanira ika kang pinagari gena.
Hing Cerbon ika nagara
dupi si Pameleng kang nami
si Hamuk wastaning sandawa
kang ing ngaturaken sandawa
kang ing ngaturaken dening
maring Jaketra puri
milaning binagi telu
sabab Tanuren Gagang
wong tetelu kang miraosi
kaga duwan Tanuran Gagang kang nama.
Binakta nusa Walanda
ganti gumanti metetti
sang Raja bangsa Walanda
supaya kacuwan dening
namala metu geni
Raja ngakal diwasa
wastaning papantan Inggris
dupi medal geni hing ngusapan karam.
Pukang wulang atemahan
tawa kadi saporanti
dadi kena jakagawa
turun teleren anitis
marena ika wonten sing ning
sapanta Inggris tumurun
turun ming ngakir mangsa
ika iku puwa kaning
duking dingin panedane Ratu Madapa.
ASMARADANA
Wrnanen kang kesah kaji
wus tutug ing saja nira
pecapen sapamedeke
ana hing Mesir nagara
sampun atra kang kanda
sarta srat wusing ngatur
dateng Kanjeng maha Sultan.
Ana hing nagara Mesir
nutug gonira pracaya
kabuktening srat godong
dening tanpa aking ika
hing ngandel lamon ika
Sayid Bulkika kang wangun
narmane oliyah Allah.
Malah sampun pinaringi
ika Pangeran Mochamad
kang Pusaka rasukane
Rasulullah dingin nira
lan kinarilan dadya
Jeneng Sultan bawa Ratu
ana hing Banteng nagara.
Sampun ning lami tumuli
dinulurang hing pamitan
malah wus layar lampahe
duk aneng tengah sagara
mangka ana susulan
wajir saking Mesir muwus
Sultan Jawa Tuwan wakap.
Amba pinutus hing Gusti
ambakta punaing Rasukan
kang mungel wau pawewe
lamon suka iku Tuwan
lini ronan kalawan
Rasukan Pusaka Ratu
Banisrail mapan tunggal.
Punika luluhur aji
Sultan kaji ika nabda
he wajir iku samono
manura hing kanjeng rama
isun kalimat pisan
anuhunaken bebendu
prakara iki Rasukan.
Idep-idep rama paring maring ngisun kaureipan
tekang anak putu kabeh
telung kanjeng rama ika
mapan agung pusaka
ora babeh baju
sang Wajir wau pamitan.
Dupi matur ika maring
Sultan Mesir yen Rasukan
dados boten lilane
panuhune putra Tuwan
hing paparing punika
bab prakawis inggih baju
boten suka kalintonan
mangkana Sultan ning Mesir kalangkung nalangsa nira
kantaka sira Sang Katong
anulya wonten kang swara
he Sultan Mesir dan sira
aja ta hing gegetun
pan iku pakarepan nira.
Mangkana Sultan ning Mesir
mapan Sultan benjing pasti
alaye jaluk pusaka
kalawan rong prakarane
besuk uga kang rasukan
balik maning hing benjang
ing duriyat tira besuk
tinembe maning kagema.
Jeneke Rasukan Nabi
ana hing Banten nagara
pitung turunan watese
toli balik maring ngarab
Banten sirna parentah
apes kajara ing dudu
wus tutuh ujiring swara.
Sultan Mesir wonge aglis
suka rila asrah manah
kocap Sultan Banten lire
wus rawuh nagara nira
kali sobawanira
pepacara ingkang langkung
adi aeng sarta nira.
Gawok ingkang nganingah
wahu dateng Gusti Sultan
kawula liwat sukane
agung wong sanak asanja
anungsung ing purwaka
sarwi angucap bagja Sang Prabu
Jumeneng Sultan kang nama.
Dupi ana memelingi
hing prahu kapal
ana swara abane
kadi kidung ing gamelan
ika pribasa nira
Sultan Banten aja tungkul
anunggoni maring gesang.
Kita hing ngurip punika
hing ngulantan dening bala
tinemu lan panyakit kabeh
wus sing lara ing ngolatan
dening pati ta sira
anak putu nira
jumeneng Ratu
tedak pitu tuli rusak.
Parentahe maring ngalit
karana ana kanag mawa
agawe karusakane
pan anak putu kang darma
anglakoni mangkana wong tuwa kang murwa mangun
kaceda ning
wong Talaga.
Ratu Madapa kang mandi
pandeo ene maring Dewa
sakala saking mantepe
ya iku pan sirn nira
kapusakan gaib musna
wikan enggen puruggipun
pan tunggaling kang Pusaka.
Keris Naga musna gaib
tanpa paran iku tanda
duriyat Sinuhun Katong
tan pajowa watek walaka
ya ika kala samana mula aja girang-girang ………..
sira dakaburing manah.
Sultan Banten ka konngsi
pitung dalu pitung dina
tan karsa dahar go elinge
sangeting kang tan winulat
medaling lesu lupa lumampah kadi tan kadug
ambakta sariranira.
Lami-lami ika toli
languning kidung swara
den niket rinakete
di namet cipta gamel lan
Denggung Rujung paparabe
Wonten ganti ning carita
aneng Cerbon nagara
Tubagus Pase Agung
ningali jalma sumala.
Sunan Panggung ingkang nami sumala ora kajamak
ngadeg mentang mengkang kelek
nyekel biti lati kadya
greget bramatya
mata mandelik maringut
kang mrigali sami heran.
Den prawasa kadi wesi
keker kukuh ora kena
den nalapi hing majite
werengkeng wangkeng tan kena
silih ganti manungsa
kang sami arsa anjungjung
supaya mayit tan kena.
Kalisani kang sami mambrih
pinetek kaliyu parna
dan Sang Tubagus Pase
ngandika lamon anaha
Suhunan Kalijaga
tan wande isun matur
supaya aneng Mataram.
Cep kendel kang wau angling
rawuh Sunan Kalijaga
enggal ngandika wiyose
boking ngapa wongsumala
kang bener aja mangkana-mangkana
ala dinulu mangkana majid kaya saban.
Sidakep sare meremi
wus sinocekaken ika
pina tak anang hing kono
nulya Syeh Datuk Sirna
pinetek Gunung Jati wetan
pan kala nurongtun
Modin Jati pan sumala.
Ora lawas iku mati
Pangeran Tandawariga
tumuli ika ginantos
kaponakane Pangeran
tandawariga daja
kang jenengan Tandajupu
kinanjeneng nama Pangeran.
Purwane Badiman dadi
acepang kanimat Jomuah
pasarog wedi Ki Lebe
Juriman lan panta kadar
innallaha Syeh Kadam
cekel Cis Kadamjumunu
kalawan Kadamjalila.
Pada marbot lan Ketib
lan panta sabatur rira
wong patangpuluh bature
wondening jana pura ika
wis mari cekel adan
Buyut Panjunan wus mantun
sumawonan werutanda.
Sunan Kali ika nuli
ora karsa ngimana
amung Ratu Bagus Pase
lawan Pangeran Makdum ika
silih ganti ing kana
watek Patih ya wis saewung
Pati Keling Patih Kering.
K I N A N T I
Pangaran Cerbon duk umur
telulas lan pitung sasi
ika metengaken Emban
ingkang nama Adumanis
asal Talaga punika
Pangeran Makdum aturing.
Sunan Kali lah punika
sadiwegi kahasrih jomenenga sembahan
sanajana dereng dugi
ingkale tahun lima las
langipe badbelas musim.
Kandi dening sampun lurud
punika sala sanunggil
tetangerin baleg yuswa
atawa tumuli ngimpi
sarta kurud sarta kelar
wus puputra kakali.
Mih ngajengan tetalu
Sunan Kali tan rempagi
dumadi dereng kaangkat
ganta dina ika toli
Pangeran Cerbon sumala
sinare wonten kamuning.
Katela luning pamuwus
Pangeran Sedangkamuning
tilar garwa duk garbana
ika Ratu Wanawati
ingkang bobot sangang wulan
ganta dina noleya lahir.
Putra jala jatma jalu
kang ibu sumeren dening
wewedi kabaya-baya
prayayi yuswa sawengi
kang ibu tumoli tilar
kang putra salamet hurip.
Kang pinaraban tumuwu
Pangeran Agung duk nami
ya iku kang winawayang
sesembahan hing andasi
dupi ingkang sing Ampiyan
pinarabkan ingkang mami.
Pangeran Sukagung
iku kang den pupu dening
Gedeng Wandahaji ika
iung Gebang mengko nagari
Pangeran Wirasutaka
kaelun ingkang mastani.
Pangeran Gebang tumulus
kinasiyan hing samantri
ana ing Gebang kang prenah
dupi lamining ngalami
Sunan Kali pancawagawa
kalawan kang garwa nyai.
Udiolun wastanipun
nalika Suhunan Kali
tatamuwan wong Mataram Sunan Kali animbali
hing garwa kon susuguwa
angunduana cicipir.
Kang garwa wada angasruh
anata kacang cicipir
nembe mandur wingi enjang
apane kang den unduhi
Sunan Kali miyos unduhi
teka ora den turuti.
Bae hing sapakon nisun
sigra kesah Nyai Undi
lang kung dening gawokira
aningali wo cicipir
kacang atub kaya rebah
aglis nyunyuguhi Nyai.
Sedeng tatamo wus mantuk
ana wong ngeber ngampiri
ambakta sinjang akatah
Nyai Undi ngasi-yasi
maring Sunan Kalijaga
malampa den welas sasih.
Tinambassaken sasampur
Sunan Kali Andaya
karamating Insan kamil
tan dangu jinising arta
anulya aglis bayari.
Ing sare gining sasampur
wis sampurna den picisi
Nyai Undi mesem nabda
punika satunggal nabda
sinjang bade tapi kula
sampun kapambeng paparing
Sunan Kali nabda assruh
wong apa ta sira iki.
enjar-enjor yen rarasan
ing mave ujare siji
nurutana napsu nira
mangsa wis sewt siji.
Yen sira samono iku
pinasti tan bareng maning
lawan isun sira pisah
sarwi kesah kali ecis
mring ngetan hing purugira
kang garwa tininggal kari.
Tan lami kang garwa lampus
ganta dina angemassi
sirane hing Kalijaga
kocap Ratu Bagus mangkin
kesah layar lampahira
dupi kang sami ngimami.
Hing Cerbon Masigit Agung
Pangeran Makdum Kabir
Pangeran Agung duk yuswa
padbelas tahun tumuli
Pangeran Makdum sumala
sinare hing Makdum adi.
Mangka imame sareju
Pangeran Agung pribadi
naban-naban salat Jumuah
ya kutbah ya ngimami
juru komat Syeh Badiman
sorog wedi para santri.
Lami-lamining tumuwuh
ganta sasih ika tolih
ana Mrebot jaruman
purwa sing wetan angabdi
hing Pangeran Ageng mala
salamine kinadasi
Pangeran Agung den yakti
Ki Jaruman timbalana
Ing salat Jumuah ngimami.
Malaka lampah tinudu
Marbot Jaruman pinardi
aturegi nuhun pisan
inggih tan bisa ngimami
pinaksan sigrah kalampah
Jaruman ika wus takbir.
Wus takbir mulya dangu
ora muni ura ngecap
ngadep sarira lis tosan
ora na ketung katoli
ora rukuk ora maca
dupi hing ngati kalanti.
Pangeran Ageng agupuh
anjuluri angimami
wus lunta kang salat iki
sampun bakda ika tolih
marbot ginuga tan kena
alot wangkeng kadi wesi.
Pendah Jumuah masih nunggu
Arya Ageng angimami
tumuli sakala ika
marbot rukuk sujud mgiring
bakda nolih pinrasila
katrapan kuhummian yakti.
Matur marbot kalangkung nuhun
duka dalem andawuhi
syarat kukum kasangga
saking wau ga punapi
atur kawula tan bisa
arandene sumangga pati.
Pangeran ageng agupuh
animbali wangun geni
ning alun-alun mangkana
sing lohor teka hing magrib
marbot ing ngobong punika
arandene waluya jati.
Kang geni asedeng surut
Ki Marbot katinggal maksi
jisime jati waluya
Ratubagus amarengi wau
rawuh saking sabrang
sareng pinariksa geni.
Maido mmaring kang putu
kenang ngapa baya kiyai
iku mama yuyut tira sira
tumang lawan geni
den gelis sira secaha
sira wani maring Wali.
Bok sira tan weruh kacung
iku si Kaki Sunan Kali
mung kari kuwan Oliya
ning negara Jawa iki
tan nana roro titiga
si kaki kaguming ngati.
P A N G K U R
Pangeran Agung anabda
saestuning lepat kula kaki
karanten sawahunipun
nami Marbot Juruman
ngabdi lami dateng kaula puniku
ing wengi Jumuah nyupena
wonten raga anjateni.
Marbot Juruman punika
ken ngimami dalah kalampah mangkin
sareng atakbirpunika
kendel tanpa wangenan
gih kaole kalampah suloan imamipun
dupi wus bakda ginuga
prandene lir tugu wesi.
Kadodoran rukuk salam
sareng pendake hing Jumuah malih
rukuk sujud saoteh makmum
dateng ing salat kula
hina soteh kaula dening sawahe
punika boteno kersa
kaula paksa ngimami.
Inggih nuhun palamarta
mama yuyut kaula boten uning
lamon uninga hing tembung
kula tolih mangkana
sampuning ngangken kaula yuyut Sinuhun
Sunan Kali wus anyeber
nahap yaiku purwaning.
Yen ana wong slat Jumuah
yen tan bener iku kukuman pasti
lan ana carita kawuwus
ana marbot kang dumadya
angunggahi hing sabawa aluhung
dadi Wali tur utama
murud sigra Sunan Kali.
Sareng lan Tubagus ikaiwa bala andadekaken mangkin
sesembahan hing tumuwu
malah wus hing ngestrenan
Pangeran Agung ya Cerbon pan wis mashur
Panembahan Ratu ika
ana hing Cerbon nagari.
Mangka Sunan Kalijaga
salirane sing Cerbon nulya mampir
maring Gebang kang dinuju
hing yuyut Kanjeng Suhunan
sing ngampiyan nenggeh wave jenengipun
Pangeran Prawirasuta
hing manco jinujung Adi.
Katela Dalem mring Gebang
sampun lunta lampahe lastari
mapan mangkana hing laku
anurut wayah Suhunan
inmgkang saking putra Demang kang wulangan
Pangeran Wiryarayana
hing mangkone wus linerih.
Ing kukuman arempagan
serta bidak bandu aneng Losari
Pangeran ika tumuwuh
jumeneng sesenibahan
Panembahan Losari duk masuhur
sampuning kadya mangkana
Ratubagus hing salami.
Sampuna sekeca hing manah
ingkang kantun sakarsa-karsa pribadi
hing layar rawuhing laku
sabab wus karumasa
amakili hing sasirnane Sinuhun
wus kagem dewek dening kang wayah
Panembahan Aji.
Hing smangke samantukira
Sunan Kali maring Cerbon asakit
prenah anang Dalem Agung
panganglune mustaka
kang tutunggu santri wali wulangun
Ki Memek lan Ki Cengal
dupi Panembahan Haji.
Tan karsa anglinggi ana
Dalem Agung kalampah asipat malih
menggihing kilen winangun
purasparek hing kana
emeh dadi siji lawan dalem Agung
lan reka idering kuta
sami ambane paragi.
Kuta gedeng Pakiringan
ya kajawi saking kitakilening adi
pangetaning kuta nurut
pinggir kikisik mangkana
salin bawa hinmg kana siptage Ratu
beda dingin kang Suhunan
wantuning Wali sajati.
Salamining tan curiga
maring muduh dening wedos pribadi
yen ana kang ngarah luput
koijahe Pati Kalang
mangkana Sunan Kali sangeting panganglu
wapat mangka panakawan
kang tunggu ngaturi uning.
Dateng Panembahan Nata
inggih Gusti Yuyut Dalem punika lalis
dupi Panembahan rawuh
amriksa layon tan nana
hing genahe mau mung kari rurub
dumadi kang pineteka
iku rurub tatambah sepi.
Sinare wetaning mikrab
Masjid Agung kang rurub sampun lastari
pinetek ana hing riku
kang tembe wewehan
kutaning mikrab ingkang manjongol muncul
jajantung dadi katenga
dingine ana hing pinggir.
Tutuge sinerat malem Kamis sasih Jumalawah, tanggal 30 tahun Be Hijrah puniki nyerat angsale Surengrana, puniki wawaosan sejarah Wali, saking wiwitan dugi ing wekasan, dumugi dateng Sultan Kasepuhan, Kanoman Penembahan, Kacarbonan nuli tutuge, teka ing akire pisan.

Babad Cirebon (2/3)

wayang Kitab & Kidung
DANDANGGULA
Warnanen inkang winuri-wuri
Jeng Suhunan Jati ingkang tadak
ingkang mrena aneng Cerbon
sinerat saking luhur
martabate agung kang Wali
ya Syeh Wali Akbar
sinebet Sinuhun
duk gagarwa jajaka lara
Nyi Mas Babadan gabug boka mutrani
takdir Allah tanggala.

Dupi garwa ingkang amutrani
Nyai Rarapi putranira
Syeh Datuk kapi namane
kakalih putranipun
kang satunggal den paparabi.
Pangeran Jakalan
kang sinebat
Pangeran Sedanglautan
kang sirane hing Mundu lan Ibuneki
Rarapi pon ning kana
boya wonten tadakaning wuri
dupi kang mrenah hing tedakanira
punika kang miyos
saking Pajajaran wau.
Kawunganten ingkang mutrani
istri ingkang namne senebut
Ratu winaon kang krama
wong Agung Sabrang Pangeran Atsangin
marenah hing putranira.
Ratu winaonika angadeni
Pangeran Sebangkingkin ika
kang mrenah ka Sultanan kulon
hing Banten Prajanipun
dupi garwa Sinuhun Jati
ingkang saking Mahostikta
putra Tepas nenggung
istri nami Ratu Ayu ingkang krami
wong agung saking Sabrang
Ratubagus Pase kang pranami
amarena agung prasutanira
ika Jeng Ratu Ayu
anggadeni ika kang nami
Pangeran P)asareyan
iku kang niro eruh
wiwinihing ka Sultanan
ingkang ana hing Cerbon ika turuning
Sarip Hidayatullah.
Ika syid Syeh Akbar kang dadi
kang jumeneg Ratu hing pakujan
iya dening pangangkate wong somas iya iku
kula warga Panjunan yakti
Jeng Pangeran Panjunan
purwa kala rawuh
kalih rayi Rara Bagdad
apa dening kang rayi Syeh Datuk Kapi
sarta kawula bala.
Angrong atus sawidak siki
punjul nenem balanya kang tiga
ya jejeg domas jumlahe
punjul siji ing ngitung
maring Jeng Pangeran dadi
samya golong Jamah
maring Jang Sinuhun
sarupaning kula warga
agung alit sadaya den imponi
denira Jeng Suhunan.
Den mumuli hing ngageng kang ngati
sinung nama gegeden sadaya
waneh kapatiyan mangke
maneh ingkang Tumenggung
ana ingkang lunggung Dipati
pon kawula warga
panjunan kang riyung
hing sajenggere Suhunan
ngadegaken agama Islam Pakungwati
menggeh duk ing ngistrenan
Jeng Sinuhun duk jumeneng Narpati
hing ngistrenan anang Cerbon Girang
wilayat panjunan muleh
aken tuwu tahayu
amangunaken ika sapuri
dalem Agung pakudyan
miwah pintu-pintu
kantaning pintu sayastra
kilu garba kita Dalem Pakungwati
pangrengganing Panjunan.
Dupi kita Cerbon kang ngubengi
saking gotaka kasoneyan
ngulon mengku Palosaren
alunta mung ngaliripun
pakiringan ngetan dumugi
gotaka Jagabayan
natas ngetanipun miminggir Kali Pabeyan
ngidul tepung kuta nagara Pakungwati
pangrenggan ning wong Demak.
Apa dening hing pasang pasuting
lemah duwur ngalun nalun miwah
pasar miwah sabandare
ingkang suka malebu
hing katandan miwa marga-margi
punika Sultan Demak
ngabakti hing Guru
amangunaken kang gadang
Astana geng tukang asal Majapahit
Raden Sepet agunia.
Guna karya kuta samaptaning
kenek kipun limang atus sawidak
sing Demak amuleh Cerbon
salanggahe Sinuhun
malah ika Putri ngadanti
ingkang nami Ratu Nyawa
katur hing Sinuhun
kinarya mantu punika
pinanggih yaken kalayan putra Cerbon nami
Pangeran Pasareyan.
Lami-lamining ajatukrami
nuli hika miyosaken putra
nenem katahe putrane
sawiji hing namanipun
Raden Kastriyan kang nami
agarwa ing Ptaja Tuban
ping kalihe iku
hing Losari jumeneng Panembahan Losari
Ratu kakadiyasa.
S I N O M
Ya iku kang langkung guna
kacarita ukur ruku beras saelas kinarya
gajah sakandange dadi
tarkadang kayu jati
den tyekap babar pisan
kaliogane wau dumadi
pun ukiran karsane kang mangun guna.
Aja salah samya ingkang
jeneng Pangeran Losari
dudu kang den petek ana
hing palosaren sayakti
dupi ingkang sinare hing
palosaren kang saestu
pan kulawarga Panjunan
kang dingi dipun wastani
Pangeran Beken santananing Panjunan.
Dingine awangun karya
ababak tanah Losari
iya iku kang amurwa
mila kasebut nami
Pangeran Losari mashur
anut namaning yasa
nami Pangeran Losari
dupi wapat Pangeran Reken punika.
Dupi lininggihyan
hing Panembahan Losari
ingkang wayah Susunan
ingkang jumeneng Losari
meng sapanjeneng lalis
tan luntah mantrtaning Ratu
kaping telune putra
hing Pasareyan kang nami
Pangeran Dipati Cerbon kang sawarga.
Sadangkamuning teleran
Raja Wali Sunan jati
ingkang tumuwu marena
ana hing Cerbon nagari
wiwini mantra Kaji
aneng Cerbon gelaripun
kaping patipun putra
Pasareyan ingkang istri
nami Ratu Mas kang akrama aneng Tuban.
Ping limane Ratu Mas kang akrama Tubagus adi
nagara mangke jajahan
Banten tunggil kulo wargi
Panjunan hing ngrasri
kaping nem kang putra iku
Pasareyan kang nama.
Pangeran waruju adi
pan mangkana jumeneng Pangeran Sadakajeman
Sindangkamuning punika
ginadang linggih Narpati
sasirnane Jeng Susunan
mila alungguh Dipati
sampuni ika akrami
putranipun Ratu Ayu
ingkang namining wanodya
nami Ratu Wanawati
apuputra titiga nenggeh kang nama.
Ratu Sewu kang wanodya
dupi kang jaler anami
Pangeran Mas iya ika
ingkang atampi nagari
saking kang yuyut Aji
jeneng Panembahan Ratu
ing Cerbon sabab ika
kang rama Sidangkamuning
sumerene rumihin swarga Suhunann.
Apa dene ingkang eyang
wau Pangeran Pasareyan
pon inggih seda rumiyin
swargane Sunan Jati
pramila tampi mring yuyut
kang wino iri duriyat
hing nagara Pakungwati
kuta Cerbon masih genggeng manggeng barkah.
Dupi kang raya Panembahan
kang nami Pangeran Manis
dupi raka sing ngampeyan
punika sinung lilinggih
hing Gebang Ratu kakadi
sinebut hing namanipun
Jeng Arya Wirasuta
tambak prawira matawis
sinung cangkok Jawa gunung Pagebangan.
Lan Dramayu kinen siba
hing gebang nyangkoka maring
Jeng Pangeran Wirasuta
dugiya salami-lami
cinarita hing gurit
Kanjeng Panembahan Ratu
Hing Cerbon mangku reja
Sasirnane Sunan Jati
Angsal krama Putri sing nagara Pajang.
Putrinipun Sultan Pajang nenggeh ikang akakasih
Ratu Mas Gulamporaras
Prameswari Pakungwati
Panembahan Pakungwati
pon nenem hing putrinipun
nenggeh ingkang anama
Pangeran Sedangbalimbing
lan Pangeran Arya Kidul kang laksana.
Laksana andikep macan
dipun kempit kdi kucing
lan malih putra nata
ingkang kasebat hinmg nami
Pangeran Wiri nagari
lan istri ingkang winalangan
Ratu Ranamanggala
katela namaning laki
krana iku Pangeran Ranamanggala
putraning Sedanggaruda.
Sendanggaruda iku putraning Pangeran Ageng kaputran
hing Ratu Ayu putraning
Sunan jati kang laki
Ratubagus Pase wau
ketang tunggal teleran
ping limane putra Aji
Panembahan ratu kang wina yang harja.
Lininggihaken ning nama
Kanjeng Pangeran Dipati
Carbon ingkang Sedanggayam
mila lininggih Dipati
krana bade nyuluri
Panembahan sirnanipun
supados takdirullah
datan kena hing ngowahi
enggal-enggal somala he Sedanggayam.
Tilar putra kalih nunggal
ingkang istri Ratu Putri ingkang jaler Pangeran Putra
ya iku kang gadang benjing
nyuluri salinggihing
heyang Panembahan Ratu nenggih
dupi putra pamekas
Panembahan Ratu nenggih
istri Ratu Aingawaningyun kang nama.
K I N A N T I
Awit Panembahan ratu
hing Carbon anyanyuluri
wilayat yuyut suhunan
martabati saking dingin
duk wangsite wali inkang
nabda hing Ki Karawang becik.
Geweneng wates lah iku sing Karawang ngulon dadi
Ki Mas banten amurbaha
sing Karawang ngetan dadi
Ki Mas Carbon Misesaha
Pusakaning Raja wali.
Lah iku marmitanipun
Panembahan Pakungwati
sumuhud datan langgana
hing Banten mangkana ugi.
Panembahana Surasowan
tan seja langganeng wisik
ora kaya kapisandung
wong Mataram ngaru kapti
kumudu sanusa Jawa
kinen tiba hing Matawis
wong Cerbon wong Banten ika
den pardi hing saban warsi.
Sesebaning para Ratu
naban Mulud ming Matawis
Sunan Mataram amburak
pala karta Raja wali
kang jeneng Ratu punika
yen boten idin Matawis.
Dupi Cerbon seja anut
aseba dateng Matawis
estuning manah sukuran
tan nan liyan kang kahesti
anging Sunan Kalijaga
kang ngahubi hing Matawis.
Mangkana pangidepipun
Panembahan Pakungwati
marmaning salamet lenggah
sirna ingkang girirusit
barkah hing manah sukuran
Yang Widi kang anduluri.
Dupi Banten datan hanut
hing palakarta Matawis
atilan manah sukuran
kaduga dipun perangi
wadya bala sing Mataram
aprang ya hing Banten nagari.
Lah iku marmitanipun
Panembahan Banten lalis
kaetang seda hing rana
mila katela hing nami
Panembahan Sedangrana
dupi kang putra lumari.
Nani Pangeran Kanantun
paladra lunta kaji
maring Baitullah yaika
besuk abalike saking
Mekah nuli ngadeg Sultan
angsal idin saking Ngarbi.
Dupi samangke atumpur
hing Banten tan nana Aji
wonten malih kang kocap
hing nagara Banakeling
santrine ya Syeh Lemahbang
andabeni mana sulit.
Sadyane angaru biru
maring Ratu Pakungwati
nenggeh ika kang paparab
Datuk parduk sugi sakti
ategu nala wikrama
sampun satata dedemit.
Mulane sadya angaru
dumeh gurune alalis
wong Carbong kang amrajaya, seja mangke angayono
dennya jajal tanpa rowang ngediraken raga sakti.
Hestu tegor gumaludung, tan nana braja nedasi
pareng nalika samana
Panembahan Pakungwati
karsa ngujung hing Astana
upacara dipun wangking.
Marapit miwah panglonjor
iku kacarita kongsi
pupucuking upacara
wus nganjik ana hing margi
bebeneran Wringin Jembrak.
Panembahan dereng mijil
ora ganti datubarul
angadeg amalangkerik
angadangi upacara
aneng tengah-tengah margi
gegering kawula bala
yen ana digja ngranohi.
Siningkeraken tanpurun
ya si wong nadya ngayoni
pacek wesi malang dalan
wangkeng kadi tungga wesi
gegering kawula bala
yen ana digja ngranohi.
Para kapetengan umyung
alok lamon nemu kardi
umrengging geger genturan
kapiarsa hing Sang Aji
apariksa ana apa
ing ngarep pating barigi.
Kajineman aturipun
wonten tiyang malang mungkir
angngambengi lampah nata
siningkir tan arso ningkir
pateng janget kadi tosan
wangkeng pacek wonten siti.
Panembahan adan ngulung
ngakeng duhung wus tinampi
dening Lura Kapetengan
tan na dangu ika nuli
duhung masih wawarangka
sinudukaken tumuli.
Hing jasmanine Datukpardun
mati ngadeg tanpa kaning
opyak lamon nyata pejah
dan tinampakaken aglis
Lebe Yusup kang kinarsa
amulasare kang mayit.
Panembahan lusita sampun
dateng Astana lastari
akocap ika kurnapa
kinubur witaning margi
tan suwe diragenak ana
hing marga kadi duk uni
datan ana bentinipun
kalayan jaman Susunan.
Yen nuju riyaya kecil
anna hing masjid nagara
dupi hing masjid riyayagungnge
ana hing Masjid Astana
masjid astana punika
kancuhe Ki Marbot Gusa.
Lawan Ki Pangulu Karawis
dupi Kanjeng Panembahan
yen nuju wulan sapar re
sami bubar seba ngetan
hing nagara Mataram
acaos hing niplal Mulud
ana hing Praja Mataram
bakda iplal nuli pamit
nabam tahun pan mangkana
narima sukur hing Manon
datan ana kara-kara
rahayu hing ngagesang
lampah pangiwa lastantun
tenem tuwuh pasawahan
apa sata Sunan Jati
mari winori-nori hing lampah
wong sasawah sakarepe
tan den pardi hing pajegnya
mangko salamet arja
panen pada atur-atur
samulung-mulunging bala.
Wong babakti tan den pardi
den umbarena hing bala
opra den petel magawe
saeling-elinging bala
kang pada tur den pupu
wong dagang ora den beya.
Sakarep-karep ping ngalit
yen gegel maring bandara
ora den pardi akehe
ora na dangdan dadalan
dangdan kali tan nana
kuta Cerbon masin kemput
pangrengganing Sultan Demak.
Kandeling kuta kadugi
kena den go jaja raunan
ngerap hing luhur kutane
saketeng hing Jagabayan
madep maring Astana
ingkang yuyut Jeng Sinuhun
dupi pintu Kasuneyan.
Ika ingkang angadepi
maring Mundu Jeng Pangeran
Sedanglaut Astanane
boborotan kulon trusan
kang maring Kalijaga
pamalaten Grenjeng Hetuk
Ki Gedeng Kagok santana.
Wetan lor boboratan ning
wong dagang parau teka
sakamya-kamya lakune
durung ana cuke beya
kang aran wong mardika
tan ana pinarding Ratu
mung sakolure priyangga.
Amung ingkang aran abdi
pangunungan dipun tata
saban tahun pakmite
saban tahun bakti nira
tan den pasti agengnya
istu Ratu Adil lullah.
Wawateking Raja Wali
ora meting pengasilan
apa satekane dewek
dagang maning yen iyaha
jajaluk lagi ora
amung kang den ruru-ruru
babakti maring Yang Sukma.
Lumu sisip pasa mending
tobate langkung nasuka
sarta lawan bratapane
atiwa-tiwa kang Eyang
Susunan Waliyullah
Kanjeng Panembahan Ratu
remaning Karamatullah.
Boya karsa nalikuri
hing rerkan Padaleman
ya sote mageng kadaton
lan amengku upacara
pangrengganing kula wadya
sing Pajajaran gumulung.
Saking sabrang kunta wiri
angurip-urip wong Jawa
Carbon kang tembe mrintese
lami-lami saya harja
lakuning kauripan
sakadar-kadar ing riku
jumeneng kang panaraga.
P A N G K U R
Melar kreta hing pakudyan
pagunungan para Kuwu kabeh ngabdi
katiti amating Ratu dupi Dalem Kuningan
waktu iku amogolle maring Ratu
tan karsa lamon ngabdiya seja angratu pribadi.
Anggepe jalma Kuningan
iya soteh mau duk sunan Jati
kita seba maring guru
dudu seba ngawula
dupi iki pan wus sirna
Buru misun apa gawe kita seba
ming Carbon den tita ngabdi.
Kawarta dateng pakujan
wong Kuningan mangkana kang pamilih
adan pinutusan gupuh
Kyai Patih Rudamada
kang kinarsa mitutur rana ujar kang alus
hing sirnaning Pajajaran
sapa ingkang anyo eluri.
Kon isep yen Carbon ingkang
dadi sulur hing pakuwan saiki
piyambake kudu manut
kartaning wong pakudyan
ya ta Pati Rurdamada hintar sampun
dumugi datang Kuningan
dawuhaken timbalan Haji.
Dupi sahuring Kajenar
Pajajaran sampun merad alalis
tan wonten pitungkasipun
lampahing Karajahan
angajawi idep kita wong ngaruru
samangke guru wis asirna
apane kang den bakteni.
Dan ki Patih Rudamada
bebet Panjunan tan kena myarsa angling
pedes swara nulya timbul
ing ngaji dadak sara
menyat ngandak-nyandak Arya Kuningan den dubruk
ora kayane Ki Arya washita hing suraweri.
Anyebrak lan jalan sutra
temah lumpuh Rudamada gumuling
wus pinanjara sadalu
panjarane wis kalapa
dupi dalu den wengkang punang galugu
Rudamada bisa medal
sadya nigas jangganeki.
Arya Kumining tan kaya
jaka sutra hing luhur angahubi
kang pasukane wong riku
dadya ingkang anendra
jroning jala musna datan kadulu
daya Pati Rudamada
atur uning maring gusti.
Wangsul hing Carbon asigra
matur atra saula datan kadulu
nunten Panembahan Ratu
matus Pangulunira
Ki Peki Abdullah sigra lumaku
pon lampah mangkana uga
campule tan angsal kardi.
Sampuning kadya mangkana
Panembahan karsa miyambeki
kalih tetekeng lumaku
mangking ruruku lumampah
riri jati panakawan pada nusul
keras tangginas lumajar pandene boya nututi.
Hebating kawula bala
dening gusti wus katemu alinggih kaliyan Ki arya iku
pareng dedel wiguna
Panembahan malempat anjong den buru
sigra tinawuran jala
malempat bumi agonjing.
Ki Arya kajengkang-jengkang
bawanipun kang bumi agunjing
jalanipun den tawur
Panembahan malepat
dupi ngidek bumi miring dadya iku
kajronkong krungkeb Ki Arya
pamawaning bumi miring.
Singa bumi kang kadedekan
tapakipun Gusti ingkang Pakungwati
kudu bae miring nungkul
jala sutra tan guna
ngalor ngidul tawuring jala alusud
kasele kajengkang-jengkang
krungkebe kang anjalami.
Digulon ngetan akiteran
dangu dangu jala mretel amrotoli
sareng kang jala wis rempuk
Arya Kamuning nembah
inggih sampeyan nyata suluring Ratu
dede malele Pandita
kang amurba awak aking.
Kuring gegebal sampeyan
pan sumukud sembah angabdi lahir batin
samprakawis tereh Guru inggih nyata Wali Raja
duwa prakara jala sutra inggih pupus
lah iku marganing daja
Kuningan idep angabdi.
Papak raja Panembahan
kang aminda suhud pawisik
dupi Talaga kehesru
Kapetakan pon dapake Sinuhun
Sindangkasih iya tunggal
Ki Gedeng Susukan kalih.
Gedeng Tegalgul tunggal
tunggal idin saking Suhunan Jati
dupi ika Raja Galuh
saestu tunggalira
Gedeng Sura miwah punika Anjum Nyai Gedeng
Panguragan
pon idin Sunan Jati.
Sakatiking Tapakira
iku abdi amatira Narpati
kang kamilik sumpahipun
yen laga wa asumpah
Ratu iku abdi amat iya iku
milu wilalating sumpah
hing harjaning milu mukti.
Kongang lamoni den nedola
hing Gusitne sakarsane aniti
lawan kongang dipun rungrum
dening pagustenira
kang lelegan tanpa soma
punika taliti.
Lunta hing satedak tedak
dating Ratu pasti amiris
angajaba lamon sampun
den pardika kaken nita
caca wadon lalurining ngamat iku
punggel lamin abdi lanang
rabi mardika kang yakti.
M I J I L
Ya warnanen anjenggering Pakungwati
dennya raton-raton
ya hing dunya ku wis adate
kudu warna-warna kumelip
ika Kyai Pali
teka mikir sentung.
Waktu bebet sabrang tansah mikir
manah ngilo-ngilo
Ratu Sabrang pada dagang kabeh
dupi Gusti kita ing riki
korap-koru rijiki
adan sigra matur.
Dateng Panembahan prayogi yen mangking
prayogi samangko
kawula ngintar
ken padagang gede
badi tulung gesang hing Aji
atilad tatangi
sabrang lumrah Ratu.
Sam olih padagang ing mangken
ngriki dagang uwos
nyabrangaken uwos sagedene
agung rijiki angelar bati
Panembahan Aji
dadya sira gupuh.
Beras hing wong Carbon den epaki
karunge wis awon
kampil beral andamping pinggir kikisik
kawarna yen yakti padaganging Ratu.
Nama Palidada wusing dadi
baita cu mahosora kaya iku ana kekere
cadong-cadong batok sawiji
basane yen ngemis kanggo amumuluk.
Ki Palidada sahurnya ambengis
he sidi lalocok beras uwis aneng karung genahe
ana adat yen di dodol maning
kekere pon masimaredeng anjaluk.
Ki Palidada sewot tumuli sejane anabok
dadi kerjeng tangane tan suwe
sja jejek sukune dumadi
ngingkrang datang kenging
mudun ika wau.
Palidada anjirit den tulungi
muliyi den gotong katur sira Panembahan priksane
kekerehe ana hing ngendi
lan rupane maning
kayapa rupane iku.
Ya ta matur ingkang pinariksani
kere belang kokop
suku tangan sami belang kabeh
Panembahan angandika riri
la iki Ki Pali
gotongen den gupuh.
Tekakena maring lepenjagi
kon tobat kon panor
lan gawaha bras ingkang akeh
sapuluh karung babakti mami
yata abdi-abdi tandang gupuh-gupuh.
Ki Pali den gotong aglis
sarta lawan uwos
ya sapuluh karung wus mintar kabeh
anjunjung maring lepenjagi
mring sang meha yakti
Wiku Wali Agung.
Ki Palidada tobat anangis
nuhun gesang ingong
kang pinuji aris wansukane
iya sira sun apurani
sareng sabda Wali
ingkang iku.
Adan waras Palidada kadi
duk mau dadya nor
suhun sembah lan pangabektine
wos sapuluh karung binakti
Sang Wali mangsuli
hing prakara iku.
Beras pirang pirang sira gotongi
maring arsaningngong sadya nira gawe apa mrene
Palidada nembah lingnya ris
inggih punika bakti
nipun Gusti Parabu.
Kanjeng Panembahan ing Pakungwati
kang katur samangko
dateng paduka Pandita Gede
barkah sampeyan ingkang kapundi
mungginya paganti
lahir batosipun.
Sang Wiku angandika aris
lah iku hing mangko
sun tarimah hing kabecikane
Gusti nira ananging saiki
gotongana balik
beras ira iku.
Suning kene boya anambrih
kang para samono
manga kaya Gustimu mrene
nuli saja drawaka hing ngati
dupi isun beli
yasoteh hing wau.
Ngemis beras mung sabatok cilik
go tambah layop
ora isun ngarah akeh-akeh
ya wis pada gawanana balik
ya ta ganti-ganti
kang sinabdan wangsul.
Pan wus katur hing Panembahan Aji
ya ta jeng Sang Katong
andaring ngendangu kandikane
atema aning kana angking
ya wis prakaraning
dagang iku wurung.
Aja sido wurung ngena gelas
kita aneng Carbon
ora kena dagang guna gawe
iya iku ingkang dadi wangsit
eyang Sunan Kali
aja salah tangguh.
Mangsanaha wali ingkang nisip
mangsanaha goroh
mangsa pitna sabarang gawene
ya ta Palidada tumuli
murungaken kardi
beras diun udung.
Kampil ingkang aneng pinggir kikisik
den nusung den dodol
den balaburaken hing balane kabeh
kawalatran sagunging mantri
sami asukati
hing sihe Sang Prabu.
Para Buyun samya nakseni
ken anak putu Carbon
tang kongan dagang wangsit luluhure
ya luluhure sang Raja wali
kumudu sajati
ana rimah sukur.
D U R M A
Ku harjaning Carbon watek Ratu Oliyah
tandah hing sawengi-wengi
hing masjid sowara hing tilawat parnujinya
gumuru swarane puji
kala samana Masjid Agung nunggeling.
Durung ana empere angeringanan
mura ngarep lan wuri
mawi pataka harja
parunggu sarta alancip
apa kaya dat
hing pataka hing masjid.
Ora kaya jadeng prang saking Mataram
kang nama Ki Gedeng Enis
naban tigang warsa
kinarsa langlang jagad
kinarsa mamariksani
maring Nalendra kang kabawa Matawis.
Pinariksa banggi wonten durga baya
kulilip nyalawadi
biliana Raja
bala Raja kang lirwa
maring purbaning Matawis
kala samana
ika Ki Gedeng Enis.
Duk pariksa hing Carbon amanggih harja
sarjuning puji masjid
hing dalu kawangwang
dene teka bargama
hing Carbon ngundak-kundaki
inggih mankenya
jumeneng kutub maning.
Anuruni Sang Jati sun cacak coba
ya ta hing mangsa wengi
Gedeng Enis marendah
andalahi ku baruwang
hing luhur pataka Masjid
yen mangko tawa
lah yen nyata Kutub maning.
Panakawan datan langgana hing karsa
kalayan lampah demit
tan nana uninga
durga andala baruwang
ya ta abdi sami
sapa ngakuba hing masjid panas atis.
Dadya bubar tan nana purun ngahuba
sirep kang samimuji
Gedeng Enis nyana
yen dudu Kutub Hingyang
Gedeng Enis wus lastari
lampanya kesah anjaja panagari.
Ora kaya hing Carbon sanget sangsaya
Masjid dipun tan kenging
dipun geni salat
Jeng Panembahan susah
Popoyan datang Jeng Nyai
Pangngalangalang
istri guna wit urip
Adam ika Nyai Tegal pangalangalang
nabda la ya iki
gawene wong tuwa
do emadak masi ana
Nini-nini kari siji
Jeng Panembahan
wus katingal bruwang mandi
ya ana hing pataka masjid katingal
sabda Yang Nini-nini
ujarisun apa
la ika si banuana endah si Nyai ngabili
wong wis tuwa
ora owel yen mati.
Panembahan kang ngawas wau tuminggal
saking jabaning masjid
aja melu hebang
si Nyai mengko kebang
manjing hing jara Masigit.
Jeng Panembahan ngandika iya becik
pan si Nyai manjingnga masjid pujangga
manira kang neng Jawi
ngawasakon bruwang
kang ana ing pataka
mangkana enggal Jeng Nyai
pangalangalang
lumebet asusuci.
Banyu wulu anducekaken salira
saking cadas sing jisim
sampun sinampurna
ingkang susuci badan
nunten malebet tumuli
wonten ning Bangsal.
Masjid Agung asuci
abrebresik kang nama tinja kaliwat
hing tinja ingkang kari
mungguh kang babasan
manuk mabur kang sarta
kurungan orana kari
hing tengah-tengah
hing masjid denya nunci.
Pan aseru swarane ingkang adan
asruh amemelingi
ambeledug awiyat
pamrasane kang meningi
ingkang kawengan
swarane iku Jeng Nyai.
Pareng anjit kang swara munclski bruwang
kang aneng pataka masjid
mesat hing gagana
sumembur hing ngawiyat
muksa ilang ingkang mandi
sirna sampurna
waluka kadi uni.
Kacarita baro ewang ingkang sumebar
mumerep pada manjing
maring Guwa Upas
Guwa Dalem ika tunggal
bangsa mandi lamon lalis ya makumpulan
maring sarwaning mandi.
Wus asirna sing dunya sampun apinda
maring kaanan latip
teges kang babasan
ora mati kewala
salin nagara kang latip
Jeng Panembahan
andarengen hing kapti.
Tumon wau sinare Pangalangalang
Nyai Dalem Pakungwati
dening si wanodya
sina tata Oliyah
rumasuk badan rokani
oraga sukma
karu-ru istri lecih.
M E G A T R U H
Malanipun kauni
hing pungkuripun
kubure Nyai Pakungwati
ana hing masjid Agung
dudu kubur kaya pranti
yaktine punika enggon.
Enggon sirna mungguh pameradanipun
rong prakara denya eling
ila-ila duk Sinuhun
ngukun Syeh Lemahbang dingin
wanten upata kamanton.
Ika yen wis tedak sanga anak putu
kaselang hing budi wani
kebo bule timbuk rayu
telung prakarane maning
emut duk dingin wirahos.
Wirahose Sunan Kalijaga muwus dening kobaring Masjid
hing sapungkure Sinuhun
kaya-kaya amenangi
Panembahan duk migatos.
Patang prakara lamon wissa ingkang mau
ya bok anaha malih
pantar ingkang kaya iku nuli sapa kang nulangi
reh si Nyai sampun maot.
Ya wis ora nana ingkang dadi tunggul
tumbali wong Pakungwati
casse Panembahan Ratu
Gusti Allah ngawikani hing karsane Ratu Carbon.
Lami-lami ana sumulur arawuh
maja Jeng Wali pawestri
Nyai Gede Pancuran rawuh
putra nipun Sunan Teigading
ngumbara rawuh hing Carbon.
Pan Kalangkung minuli salenggahipun
dening Ratu Pakungwati
Kanjeng Panembahan Ratu
angabekti puji bakti
dumateng Jeng Istri kahot.
Dening Nyai Gede Pancuran sepuh
tur lampah Wali singgih
tereh hing Wali kang makbul
salaming linggih wasi
hing praja datanna enggon.
Mula-mula aneng Tuban hing dalemipun
hing Depok kang den wastani
Pancuran pramilanipun
katelah nama Jeng Nyai
Gedeng Pancuran hing kono.
Nunten pinda hing Japara kan sinebut
depoke karangkamuning
lami-lami pinda nipun
hing madura milakoni
Nyai Gedeng Sampang Boya roro.
Nulya pinda ing kajonga pinggir laut
mila katela kang nami
Gedeng Kajongan kang lihu nunten ngumbara ana hing
Pakungwati namaning gon.
Minulya-mulya dening panembahan Ratu
mila katela kang nami
susulure kang wus lampus
mila dipun wuri-wuri
kinarya tumbaling Carbon.
Saputrane sami dadalem hing riku
karang ingkang den wastane
Karang Pasardawa hulu
jaba kuta lor kang nami
karanggetas gatining wong.
Dipun karja ing panah kang dadi langun
dening Ratu Pajungwati
marmaning kaja puniku
tengane hing Carbon dadi
kalilip bancana wadon.
Iya iku kang nama Nyai Gedeng Dempul
ya angaru anak putu den niruti
seja araraton akumpul
hing desa Bakung prawani
adir-adir kang balo wong.
Saoli-oli wong tatanggane akumpul babarissab
Sawatiwis umbul-umbul waring muncul
Ngirupi bala winuri
Geger gentur ing wong Carbon.
Ya Ki patih hing Carbon kalangkung rengu
reh ika kang dadi Patih
ing waktu samono iku
Patih Rudamada sakti
dados ban nemban ning Ratu Panembahan Pakungwati
mila rengu hing borojot.
Bebet Pajunan mau Nyi gedeng Dempul
cuplak andeng-andeng iki
pramila Ki Patih mau
wus linggar anglurug maring
Bakung gogombol den tinjo.
Pan den tinjo nyata orana dinemu
pansamya bubar nyingkir
ming alas Junti anglarut
dupi iku den lurugi
hing Junti tinemu kosong.
Lincak-lincak bala Dempul genya larut
raraton ika ana hing
Kandangur dupi krungu
dening Patih Pakungwati
Rudamada dan tininjo.
Ika maring kangdangur pantinemu suwung
tegane pada babalik
hing ujung tanala iku
pada parangsawatawi
tan dangu pad amboros.
L A D R A N G
Gennya bubar angili pada aningid
hing guwa-guwa
sakedap akempal maning
yen kurang sangu iku pada bebegah
sing gampang katungkul iku den ambil
angraraja dadi geger tepis wiring
ya hing Carbon pada ngiliake nyipar.
Singlar saking prenahe angungsi puri
ya hing Carbon kuta Carbon masi kikib
ratu Carbon kang hing ngungsi hung ngauban.
Patih Rudamada miwah Mantri-mantri
amancalang
lie amburuh kidang kancil
akeh kena kang kari masih akatah.
Ingkang kena wus den asrahaken maring
Ki Katandan
kinen lamong kang rawati
hing panjara sinebut goning panjara.
Durung ana benteng durung ana bui
duk samana
pan durung ana Walandi
mung sinebut kang nyekel kanda wariga.
Pajaksane hing kajaksan pan alinggih putu nira
Ki Rudamada kang nami
Jaksa Sumirat kang andarma wacana.
Jan purwaning desa kajaksan sayakti
putra wayah
Panjunan Caruban kali
putra wayah Ki Arya Menger Kajaksan.
Arya Menger kakange mau Jeng Nyai
Nyai Pangalang
ika ingkang wus sirna lalis
Arya Menger kuwi ramane Pangeran.
Ya Pangeran Palalanon kuwi cuwan
ya kasilib
akeh nyana
yen Palangon sinenggi
lamon iku ugyan Pangeran panjunan.
Kalesanyata Palalangon kang sayakti
wong Kajaksan
ingkang duwe tunggal jati
krana Pangeran Palalangon iku nyata.
Ya putraning Pangeran ingkang nami
Arya Menger
dupi dunane kang asri
Pangeran Panjunan kardi pakirnan.
Wringin pitu kang linangawan ningsih
dukan emah
kasosetapan banting diri
dupi sumala mantuk Ardi Amparan.
Dan warnanen wargane iya Nyi Dempul
ingkang amsi
wangun geger hing nagari
saya dangu saya katah amarambah.
Kocap kena sapuluh mangka ngunculi
sewu mana wesa
kena satus amonculi
sewu mana wesa dadi jalma pan sadela.
Endas merang tinygel ika anuli
dan sinebar
dadi bala wus barketi
kawalahen polahe Ki Rudamada.
Daja matur popoyan hing Kanjeng Gusti
Panembahan amit asih ahubing
Nini-nini mau Nyai Gedeng Pancuran.
Kang dadalem
hing Pasar dawa anenggi
angandika
Nyi Gedeng Pancuran aris
putu nisun den pracaya ing Allah.
Ya si Nyai mengko kang makseni sidik
sapa-sapa
tawelak maring Yang Widi
tangtu hing mengko ana kisabing Allah tangalah.
Aja susah den lurunggi den perangi ila-ila
hing Carbon perangnga dadi temahane
ora-uru tambuhing seja.
Hing sandenge wong Carbon perang tan dadi
mangsa sida wus ila-ila hing wali
mung salelebon hing bodo ngalatak.
Amantangub karuwan kang den ungsi titenana
embok si Nyai akitib
dening anak putu sing amenangana.
Menangana perange wong Pakungwati dugi binjang
teka maring jaman akir
yen mengkono bae yen perang prayuna.
Ya ta marem Panembahan ingkang pikir muwa ika
ki Rudamada Patih
samya seja Pracaya ming Nyi Pancuran.
Samya eca-eca hing aryo puri ora lawas
bala Dempel sugih wani
seja bedah kuta Carbon den jujuga.
Ambel sura diksura pating padigdig
edir pada atimbul bojana kulit
sugih baris iku kang bala cicip tan.
Mila angka sumeja angaroboki
pareng praptahing marga bebaneran ning
sokalila Karanggetan kasasmata.
Kang pangaru kang bala ciciptan sami pulih merang
sakeng braja wesi sami
getas marepel estoning tanpa aguna.
Ingkang bayu lesu kade den lolosi angganira
liren gelar aneng siti
adan tandang Ki Rudamada sawakca.
Bala Dempul prasani dipun keriggi
ming ngayunan kinen tobata
prasami sira iku aja ilok gawe dora.
Maring Ratu lah iku marganing dadi suka lila
atining wong kang anjilib
sirna purna tan nana durha rancana.
Gedeng Dempul hing ngapura hing jati sami bubar
mantuk maring prenah lami
datan arsa sulaya kersaning Nata.
Ya wis ten tre orana kuna-uni sirna baya
durbala ngaubing Wali
Wali Carbon ingkang wus polipuring.
P U C U N G
Wantu-wantu hing ngagesang kudu nemu ingkang
kasusahanganta
sapira lawase patang puluh wolu tahun iku ana.
Cocobaning pekir hangula kaum Masjid agung
kabarpuncaki ingkang katunan
geni saking sabrang kidul sing walahar.
Geger kaum pan samya rinebut-rebut
Ki Lebe Duliman
tandang ngunjukaken kocor
Marbot Kamjah sabature ngerab toya.
Modin Husup sabature pada nawur
aken lemah ika mambrih ming geni matine
pan katujung para Lebe sing padedesan.
Panembahan dumulur ika sarejo
yen kawangun limas
mengkamewahan empere
sakubengi dadi surambinira.
Lan pintune kamewahan bata mempur
kinanea kang mungal
lan malih paimamame
pan ginatra dunjung hadi tanpa talaga.
Miwah jajantung tanpa pisang ingkang mungup
darapona daja
hing ngadining sasangkalane
bata mungal-mangil mangupkang sasmita.
Ya wus jengger pulih sya wu-wu abagus
luntane alempah
kawuri-wuri jatine
tapaken para Wali kang sasanga.
Menuri wuri dening anak putu
arjaning pakudyan
tilase hing luluhure
ingkang sampun sirna sampurna sukasma.
Bab hing seseban ming Mataram maski laku
mejang naban warsa
naban murud pan sakehe
para Ratu Nusa Jawa hing Mataram.
Pan mangkana adate hing naban tahun
salamining gesang
ora nana hing cutake sumambah karaharjan hing Mataram.
Pramilane hing Carbon tuhu rahayu
krana tumarimah
manah sukur sagedene
beda Banten kaselang tumpur sakada.
Sabab kirang hing manah sukuran nipun
ya wai waspada ngisab hing napsu samini
spa sukur winales guna waluya.
Sapa kurang sukure winales tumpes ora nan liyan metu
sing ngawakee dewek
Gusti Allah pan ora anganihaya.
Sahalame jeneng Panembahan ratu
seba ming Matram
ora nan arung anane
mulus mujur kang basa prasetya waktya.
Sunan Mataram pan tan nana ngaru biru
dennya nganggep anak
Mas Carbon labda karyane
Hing Mataram katarima jar samaja.
Ra kurang ora luwih dennya ngulun
mila katarima
dumadi ing salamete
satuwuhi anak Mas
Carbon raharja.
Sakarsane sabarange kang winangun
boten nana tilar
Sunan Mataram rempagi
mangkana kang dadi slameting lampah
mungguh yang widi karsane
singnga asta lahir batin tan beda.
DANDANGGULA
Awong dening kang rinembangan nyuluri
Panembahan nu iku kang wayah
kang wus kasebut namane
Pangeran putra Sunu
putranipun Pangeran Dipati
ingkang Sedanggayam
ingkang den angkat lungguh
deneing Suhunan Mataram
kkrana waktu samono ngadeging Ngaji
kudu saking Mataram.
Ingkang ngadekaken lilinggih haji
Hajir Mataram ingkang anama
Pakunagara jenenge
ingkang ngistren Ratu
Carbon ingkang nama winuri
Panembahan Girilaya
kang mangke tumuwuh
sinakoli mangku reja
pon katiti sebane dateng Matawis
kadi kang sampun seda.
Papatihe Panembahan mangkin
Kang nama Ki patih Suminingrat
ya iku estu putrane
Ki Rudamada mau
winuri-nuri ing Tunggaksemi
mulane pinaraban
Suminingrat wau
ramaning Jaksa Sumirat
tunggal bronjot Panjunan ingkang gaganti
hing linggihe Sang Nata.
Ya Sang Nata anyar hing Pakungwati
Pangulune nama Ki Jalila
ingkang mangen bargamane
wakil tulaking Ratu
aneng Carbon nata gami
pusakaning Waliyullah
maring anak putu
hing Carbon nagara jimat
atumbaling nusajawa kendung kikib
kuta Carbon waluya.
Waktu iku ya mati akikib
kuta Carbon masih naroja
adi tuwu sakubenge
tan ana durga ngaru
kadya gelare kang rumihin
Jawa Gunung kaporba
katiti angulun
sinakala tiwa-tiwa
nagara gung Mataram pon anglilam
ing Carbon yen gaweya.
Andel-andel sinaroja Pati
Seminingrat lan Jakasumirat
Kanti tanda warigane
miwa kang naminipun
Kyai Kanduruwan pan tunggil
baranjo ating Panjunan
wandudayi nupun
mangka taliti Kuningan
Arya Salingsingan kang pinangka dadi
anjeneng pandelengan.
Dupi ingkang dadi Tadamui iku branjotting karangkendal
Ki Gusti parna putune
kang dadi mantunipun
Gedeng kodokkan Abdulkapi
Abdulkapi kang saja
dingin mantunipun
Ki Pati Keling duk kuna
pan karuru wong becik ngupadeni Haji
pramila winuri lenggah.
Awon dening ingkang hing angken linggih
Arya Jagasatru ya ika
Dipati Ukur kang ngenem
tur dadi marasepuh
krana Putri Ukur kang nami
Jeng Nyai Mas Kirana
den garwa punika
dening Kanjeng Panembahan
malah mijosaken putra kakalih
Pangeran Anom kang seda.
Lan maliye Pangeran Masa Pakungwati
ana dene garwa Panembahan
kang suwanengge asalle
saking sabrang kang metu
saking panagara Surati
nami Nyai Rara Kreta
ingkang amurwa dusun
nama desa Karangdawa
malah Nyai Rara Kreta amutrani
Pangeran Sepuh aja.
Mangkana Panembahan Geri nenggi
agung putrane
ingkang estu Raja Sunu
sami kasukan kramat
boya kenging den nina hing sapadaning
tuwu atena walat.
Ya mulane karuru desi najen
aja ja maning yen tumeka
lagi niyat ora bee
saking pangaru larut
ya Sinuhun ingkang angahiebi
hargjaning kapurata
hing sawaktu iku
jar si nembe tidak lima
kaya-kaya samono mengke muraking
adening kuta reja.
S I N O M
Panembahan Girilaya ang Ruru hing Pakungwati
pranata mati adilad
alam Panembahan lalis
masi apembek Wali
tanpa drawaka hing napsu
ora budi sudagar pramila masih asepi
durung ana cina lawan Walanda.
Masih sakadar wong Jawa
Wong Sunda wong sabrang pekir
wong Arab Mandita
agama ingkang den gugoni
kang minulka hing ngurip
prakara agama Rasul
ora ngajeni dunya
dagang sudagar kakeri
kang ketengan lakuning agama Allah.
Asli teks pada halaman 123 tidak ada
Krana iku kakullah
tunggal ulam ning jaladri
amupuwa beya maning layen karsaha.
Ora nana pupun pasar
ora nana pajeg urip soteh wong pagunungan
saking karepe pribadi
babakti hing Gusti
tan pinardi hing Sang Ratu
lan ora winatesan
wus apa dudune titi
ning sedekah sakerep-karep prijangga.
Mangkana maning kang bala
sakarep-karepe ngabi
ngajeni bandaranira
bab den pardi estu bentan ana dangdan margi
duduk kali wong saking gunung
tumurun bakti karya
lan susukane pribadi
tumandange tan den priyat dening Raja.
Kadi lakuning sideka genturan
ingkang bakti
anglangkungi saking priyat
gennya pada angajeni
hing Gustine prasami
angraksa salinggihipun lumu yen kasorama
dening sapantare ngabdi
balanjane sadina cicik barekat.
Masih lumampah banaja
ingkang den arani picis
timah tipis bolong tengah
awawi dipun sunduki
ricik teka satitik
pusaka Kanjeng Sinuhun
siji rorone ana
wong tembaga gagawaning
wong dagang sing kasabrangan
masih sarwaning samending
wong Carbon mapan masih
langka gedong umahepun
naramba umah Jawa payon sirap payon welit
durung ana wong cilik kuta karang.
Masih kikis lawan dadangajaba kuntaning Haji
kuta Carbon pan waluya
sakubengi durung rigrig
pusaka Sunan Jati
Pangeran Panjunan wau
hing prakaraming karta
mung den wates ambrikuti
turun lima nuli den tema anggagar.
Dening karsaning priyangga
asajen sangge sejen sipta
kaligane iku benjing
anak putu prasami
anyayanak maring satru
saneke temen ningkang
prasami den pitambuho
pamawane wong kopencut daaring dunya.
Pada demen malar barang
kang ora langgeng kamilik
temahe adadi upas
anaepes harjaning Haji
beda duk jaman dingin
ungkara Kanjeng Sinuhun
ora amalar dunya
nanging dunyane angrobi
rijekene sing dunya rawuh ngakerat.
Panembahan Girilaya
wus sipta ana kang marik
kagungan niyat kadunyan
nanging tan anglaksanani
panasi kundalining kutub
prawantuning wus katah tatamu
kang dede Wali
sabotene angngukad ding kaenakan.
Putra garwa saking sunda
hing karsane mambrih sugi
asipta hing kabangkaran
putra warga sing surat
adat sabrang aja mambrih
sudagar padagang laut
nyung nyeng sagongeng kula
Wangsadipa Wangsakarti
den nya anggelar saja abrangan sinang.
Ya si wantu Panembahan
sarosane wong sawiji
apa maning wus abenggang
kalawan sobawa Wali
membering-membering meminggir
kagumris benaning laku
lan Panembahan Awal
dupi Panembahan mangkin sabawang sumilir harjaning kiwa.
K I N A N T I
Hing waktu samono iku kusonya Banten kang dingin
mralalu kisah ming Ngarab
nani Sangeren Kanari
minggah haji sina kangsal
idine Raja hing Ngarbi.
Sultan Mekah paring wahyu
lamon Pangeran Kanari
la yen jumenenga Sultan
ana hing Banten nagari
serta sinunggan Radukan
Pusakane nabi Brahim.
Pramila samantukipun
ika Pangeran Kanari
meperkaken kula warga
ngistreni angangkat diri
pyambeke jumeneng Sultan
ana hing Banten Nagari.
Tan kaya Mataran rengngu
ora narima hing Jawi
yen ana anana Sultan
kang sanes saking matawis dadya rika malurungan
seja ngimper Banten Aji.
Wong Banten degeng hing wuruk
duga prang salami-lami
Banten layan Mataram
lawas-lawas ika nuli
ana panyapi walanda
kang nama Kapitan Murgil.
Ingkang bisa ngurus-urus
wong perang dumadi mari
sabab Banten den pariyat
deng Murgil kinen nyahisi
petugur aneng Mataram naban taun ganti-ganti.
Dropan tulusa angratu
aja na sawiji-wiji
dupi Mataran den priyat
kine narimah dumadi
Sultan ning bala Sultan
Banten nyaosi pakemit.
La iku matganing urus
Banten kalayan matawis
ora kaya wusing kreta
walanda minta upahing
angarta prang neda kongang
adodok aneng batawi.
Sunan Mataram dumulur
Sultan Banten angrempugi
lah iku awiting ana
Walanda aneng Batawi
pan den nidep tuwa-tuwa
dening para Ratu Jawi.
Lan jumeneng Gubenur iku
amiponi hing Batawi
lir kamandi sumelap
Ratu Jawa durung ngarti
hing gatrane samana
yen akir dadi kamandi.
Asli teks pada halaman 129 ora nana
Masjid Agung Banten iku
nalika binangun nenggih angleresi babad jaman
sewu limang atus nenggih
tigang dasa kalih warsa
punika kadining pelhing.
Dupi mula-mulanipun
Walanda aneng Batawi
wau ingkang pranama Murgel nenggeh angleresi
babad jaman kalih nira
sewu limang atus warsi
punjul tigang dasa tahun.
Punika adining peling
dupi Carbon duk samana
masih Panembahan Giri
nasi katiting ming ngetan
sukuran manah lumiring.
Lan ning Carbon masih harju
durung kaslapan Walandi
durung ana wong pantinan
kuta Carbon masih kikib
ngubenggi saharja pura
tengreme wong Pakungwati.

Babad Cirebon (3/3)

wayang Kitab & Kidung
A S M A R A DA N A
Warnanen wong Pakungwati
Panembahan Girilaya
naban tahun sesebane
hing ngarsa Sunan Mataram
naban mangkati ngetan
wulan sapar layen rawuh
tanggal ping nem Rabiulawal.

Nuju unining Sakati
sabab hing Praja Mataram
hing tanggal ping nemunene
Sekati dugi hing Iplal
kempeling para Raja
kang seba ana hing riku
bada Iplal sanya bubar.
Beda aneng Pakungwati
hing Banten unining Tabal
Sukati tanggal wolune duga maring Iplal ira
kokong ngang sing Mataram
aja ngungkulan harju
dumateng piyambakira.
Banten sabane wus mari
wus kapohung dening arsa
patugur naban tahune
prikati Mugel Jaketra
lunta kaja mangkana
dupi Carbon masih nungkul
sina tat hing Bupaca.
Satata lawan Kadiri
Madiyun lan Banyumas
Demak lawan Pajange
Madura Sampang curiga
sebahe hing Mataram
titip awak piyambekipun
jumeneng Ratu ampilan.
Warnanen wong Pakungwati
Panembahan Girilaya
yen beba ngetan dinerek
dening kalodahan nira
Ki Arya Salingsingngan
miwah Ki Dipati Ukur
punapa dening lulura.
Ingkang nama Tandumohi
miwah Kaki kadurowan
hing Gebang Wanduhajine ingkang nama Sutajaya
dederek hing Mataram niniteni Gusti nipun
larane wong angawula.
Hing pamondokan Matawis
ora na ngajeni pisan
yen marek maring Sunane
anglepo ana hing lemah
konjem-konjem ana ing lemah
ika ingkang dadi rengu
manahe Ki Salingsingan.
Muwa ika Ki Dipati
Ukur umatur hing Panembahan kulipun duriyat kulon
anak putu Rasullullah
nemba hing wong Mataram
anak putu kaya isun
tunggal asal ka Galuwan.
Moning ngapa sampun lumiring
pangalataking Mataram
kula Gusti kang tanggo
hing banggane wong Mataram
Gusti atas kaula
Gusti sampun tumut-tumut
barkahe luluhur Nata.
Saestu Sang Raja Wali
tangtune ngaobe barkah
Panembahan adan linge
aja geru yin rarasan
bok ana kang miharsa
tema dangdang muli kuntul
pitenahe wong Mataram.
Mulane isun ngabekti
ya maring Sunan Mataram
bok iki pada katambon
mengkoyen sami asowan
hing ngarsane Suhunan
sun dudokaken tuhu
jatine ingkang sun sembah.
Amung aja adu linggih
lan isun den kapiarta
yen ana babisin ingngong
ya ta kang para Lulurah
ngartos wangsiting Nata
miyos aneng pangangkilan.
Sunan Mataram wus linggih
ana singgasana mubyar
kinubeng sakaprabone hing ngajap sagunging Nata
sami konjeming lemah
lir pitik atumon ulung
rarasi para Nalendra.
Panembahan Pakungwati
tan tebah Lulurah ira
ana katingal mancorong
hing tinggaling salingsingan
Nata Ukur pon mulat
Tandamuhi pin dulu
tengene Sunan Mataram.
Ana linggih kursi gading
komara nelohi jagat
pinayung kadi Srengenge
ajeng ngenging para Lulurah
kawengan teja prana
pareng bubar hing ngalungguh
sami dateng pamondokan.
Panembahan Pakungwati arising kandikanira
la kaki paran was paos para Lulurah aturan
inggih Gusti punika
punapa kadi andaru
nembe kaula karengan
rupaning kang adi luwis.
Panembahan angandika
bok kai ora angratu
kang katon ya ika Eyang
Suhunan Kalijaga
Boktan idep jati iku
Jatine ingkang sun sembah.
Urub-urub hing Yang Widi
murub mancur Rasulullah
insan kamil jati reka ingkang pangawak teja
mageng araga sukma
apa dudune luluhur
Sunan Jati munggeng kramat
la iku margane ngarti
wis iking Gusti Panembahan
dennya sukuran ngolosod
hing sampar lebu Mataram
anut inggeking mala
sampun sedeng sami mantuk
mring Pakungwati nagara.
P A N G K U R
Lami-lami ning ngagesang
kudu bae ingrung nganing ngaurip
Carbon katekanan musuh
ring wong atas Maruta
Ki Dipati Ganden hing paparabipun
wong kalang wong angluluntang
mangan kodok mangan babi.
Sadina-dina genturan
ya apesta manjer pangetokan babi
lakok eneng agawe rusuh
maring isene desa
rarampasi singa cabar ya den roud
duduwene den parusa
ora nganggo sukane maning.
Yen den po ika tukaran
perang buru singa cabar ya kambil
ora nyang kirangi hukum ngalahakn nagara ora mikir hing
palakartining Ratu
Panembahan Girilaya
ora den deleng Narpati.
Den anggep wong ngamandika
Mila Dipati Ganden tan den tata kering
amepes bawaning Ratu
kang Patih Seminingrat
saoli-oli anyabili maring musuh
malah akeh kawat gata
wong Carbon akekang mati.
Kulawarga kaparungan
akeh tatu angadang sura wiri
wong Caikherang ageru
grandaka kapunggungan
Ratu Mendik apopoyan ning Sang Ratu
Penembahan Adillullah
den gondel sakti nulungngi.
Kranane ika wong kalang
ora kena den gawe beres urip
den tundung tan gelem mamprung
den rampek anglulungka
datan kena den gawe sanak angutus
gelar kadi camera kera
tan ngaji bener satitik.
Ngaluntang sakamya-kamya
duduwening akeh den paksa wani
sinemdu dadi agelut paten-paten brawasa
lalon-lalon anglalu ataker marus
angrebuti baranging liyan
tan etang dipun pentungi.
Dipun perang males merang ora kena dipun aru-aruhi
yen den aru anggep lampus
ya ta Kanjeng Panembahan
karsa tumon hing jalma kang kaya iku
kalih Panguli Jalila
hing ngiring sagung santri
angangge sarwaning petak
patang puluh punika ingkang santri
miyosipun saking datun
kang sarta atakbiran Allahu Akbar rempug wong oatang puluh
adi sabik-sabilullah
sabille wong Pakungwati.
Takbiran kaya Riyaya
rame rempug swaraning hing wong santri
angiring Pagustenipun
miyos ming jawi kita
beneraning Tedeng pan sigra katemu
Dipati Ganden tumingan
hing polahira wong santri.
Ingkang sami atakbiran
suka bungah dumado milu muni
amuji puji Yang Ngagung
karenan tanpa sesa
dadi milu sainggeking Sang Ratu
den kon muni shadat
sakabeh wong pada ngiring.
Den Islamaken sadaya
Dipati Genden sako ela wargi
wong Kalang wus pada anut
mungalape Sang Nata
den dodo kaken hing Pakalangan iku
akumpul dadi sadesa
Pakalangan iku yakti.
Pan titiyang selam anyar
yasanipun Kanjeng Panembahan Giri
layan mila-mila nipun ywan kasebat
jawa Pakalangan
angabdi maring Sang Ratu
kongang lamon den edola
ping pitu sadinamangkin.
Katampun Ki Jalali
la yen ika sinengge kang abdi milik
Pakalangan ika ikusabad ika wong Kalang
ikang pada teka nagara ming ratu
gawe kalakuwan gagam
angalasaken nagari
dupi sunda pagunungan
sinengge abdi kasiyaning Haji
krana nalika duk mau
ratu ingkang tumeka
amerangi maring nagarane iku
marmanipun ketang seda
lawan Pakalangan mangkin.
Lawan aja gawee lo kan
nadyan gunung pon beda-beda ugi
yen wangkid gunung prakuwon
yen iku abdi amat
krana iku Islame pinrang nging Ratu
Islam soteh karana kala perange dening Sang Ngaji.
Yen si wong Gunung Prajangan
ku mardika krana Islame dingin
ora karana pinukul perang dening Sang Nata
estu iku suhud dewek maring Ratu
mula tan sinengge amat den nira wong Pakungwati.
Dupi Jawa Kapetakan tungal layan Pakalangan kahabdi
krana alame Sinuhun iku Pangeran Petak
sabalane pada gawe rusuh-rusuh kaya Pakalangan uga
tan nana beda sademi.
Mila Kiyai Jalita
Pangulune nagara Pakungwati
ngukumi yen ika dusun
kang aran kapetakan
Pakalangan tunggal bae habdi mamluk kamilik Sang Nata
Hing nagara Pakungwati.
M I J I L
Lami-lami hing solah maranti
sabaee wong Carbon
hing Mataram saban hing-hing Mulude
datan ginggang Ki tandomohi Pandelengan mangkin
Arya Jagasatru.
Para Lulurah Arya Salingsingan mangkin
den nya amigatos
Malangsumirang murung hing nitine
yen ning wetan aniningali
wong ngajar juri aneng alun-alun.
Pada ngagem tohok tur aniti
kuda pada angrok
tumbak tinumbak tan pasa kulite
ana ingkang baksa amawikepeng pedang
paris atangkis sarawuk.
Pedang pinedang tanana ingkang kanin
wane kangsarogsog
balang binalang ngaken ninggeke
sinuraken dipun kapoki
gamelannya asri
pinatut lan bedug.
Warna-warna dennya ngawi ragi
jogeding asosog wan
ingkang tandaknya angulur sabagi-bagi dennya mambri
kasukaning Ngaji bala sili hatur.
Atur-atur hing manca Bupati
dumateng Sang Katong ing Mataram
kalangkung sukan
amingali ingkang para abdi
atur pangupaksi
maring Sangaprabu.
Singa nagara pada metoni
tontonan ning kono
ya wong Carbon den niri gawe
meton nana tontonan kang maring
Kanjeng sri Bupati wong Carbon sasdu.
Matur yen boten wonten minangkani
Grago tiyang bodo boten wonte kanga tiyasa
joged pangawi raga
boten bangkit hing kasakten malih
yen nit yasaha tahu.
Wong Mataran kudu bae ngiri
maring anak Carbon
Arya Jagasatru wuwusi
lan iki kentasa bedil
kang ageng pribadi
kinarsakna amanggul
sarta nyuled ya ta wong Matawis
pada kamisosot
he wong wong Carbon pugas hing ang kowe
ya ta sinukan dening Sang Ngaji
yen nyuleda bedil sapujagat iku.
Arya Pandelengan tandas aglis Salingsingan gatos
angiseni obat sasedenge
den enali pasek tumuli
piyambake manjing
sarta enal iku.
Nuli Arya Jagasatu gasik
Nata Ukan gatos
ngangkat bedil dipun panggul dewek Tandamohi ingkang
mulad bedil
jumegun agonjeng
kadi jagat lindu
Jagasatru wangkeng datan mosik kukuh
eh lir papatik hing bedil
Sapujagat kekere
ora mundur ora gumingsir
lir wong manggul epring
tan katon wratipun.
Pandelegan kang kabiyas dening
obat kadi pelu
hing janjana tan kruwan tibane
ora suwe jaragenek nyanding hing ngarep ping bedil
bada masi watu
Wong Mataram iku nembe uning
Laksanainya Carbon
Ujar satepak katut bebede ora kena den ina urip
Lan iku gegebring saktine kayeku.
Manda dene Bandarane yen uwis
nemor gawe katon
ika gadang punjul saking papake
Carbon kudu den prayekani
bok manawi dadi
kamandi hing besuk.
Yen wis samono gatrane kahaksi
dening tingaling wong
aja katungkul nononton saktine
kudu anyangkirang hing ngakir.
Coconteging Aji
maring kangkad ye kun
Di ana ratu kang dadi sakti
gelare samono
tangtu iku gelare samono
aja kerup rupane aking
kadya bibit uwi
kaligane muncul.
Ela iku marmitane dadi
Panembahan Carbon
den patroli hing pamondokane den talikti hing raina wengi
dateng wong Matawis den titeni dudu.
Ya sangune isi sega aking
den korek den tinjo
den taliktik bok ana isine
kanutane den galusoari
katetaning kancing den wewer usung.
Ya iku ngenese wong Pakungwati
dipun notok kaya
ya angrasa den ina prajane
Arya Ki Dipati Ukur.
Katuwone dening luwi-luwi
Tan den daleng uwong
Makaten ugi hing saciptane
Wandu Haji Gebang kang nami
Sutajaya dingin
mana winaringrut.
Wong Carbon pada rengating ati
den gawe samono
ya ingkali wong bresi tan duwe
manah digjaya tejaden serik
won serya sayakti teka den lulupud.
Ya wong setya ika teka den pracekani
ka ta loroding wong
carbon sedeng mantuke ing grage
angngadati hing naban warsi
bada Iplal mulih
dateng praja nipun.
D U R M A
Rakaya Ki Dipati Ukur hing wuntat
ngari aminangkani
kiwuling ngaguna
matek aji limunan
malebeting dateng puri
aneng Mataram
tan nana ingkang uning.
Malah gedang semangka hing dalem puri
den dahar ingkang isi
kulite waloh eya geger ring wong jro pura
tumon gedang pada masih
wutuh tan kaya
isine musna gaib.
Mangkana uga semangka kang pada musna
isine hanging kang masih
kulite waluya
gawoke wong Mataram
dening tembe ameningi
kadi mangkana
oreg sadalem puri.
Nuli ika Tandamuhi matek limunan
lumebeting jro puri
menangi Sunan
ika diweg tuturas
emase dipun contengi
apu madu pat Sunan kaget ningali.
Aningali emas kaligane ana
coconteng ingkang putih
pikir ana baya
iki ana durbiksa
baya belis saking ngendi ngaru maring wang
dubilah den tebih.
Enggal sira ingkang dakar winasuhan
nanging yen uwis aking kaligane ana
maning cocondeng pedak
Susunan dangu mimikiri
dereng kamanah
ingkang ngasung wigani.
Nuli ana Ki Arya Salingsingan muja alimunan den wisikik
manjing hing kadat yan
amenengi kang Susunan
diweg dahar den ladosi
para parekan
Ki Salingsingan aglis.
Manyungkur hing kumise Kanjeng Suhunan kumise kang sasisih
ya ta sang parekan
kaget ningali Susunan
kumisi ilang sasisih
mancep ngujiwat
Suhunan maskitani.
Angandika kuwe mesem mulat maring wang
apa kuwe sarasmi
maring raganingwang
dupi mangke den usap kumis kari sisih
adan Suhunan
mundut adining carmin.
Amratelakake kumise kang ilang
ngilo kakaco yakti
nyata kumis ilang
nyata Sunan ngandika
sapa ingkang wani-wani
hing kumis ingwang
den cukur kari siji.
Nuli ana swarga uni sabda
nyauri hing Sang Ngaji swara
nya enya anu nyokuran
Sunan Mataram nimbali
Papatih ira apariksa lahiki.
Ya kumisku ilang sasisih kelangan
teka ana nyahuri
swarane kang mun ya
aning artine apa
Ki Patih matur wotsari
artosing basa
aning punika kami.
Gih punika basa tiyang Carbon Sunda
lah iku marmitaning
Susunan Mataram
nyereg yen Carbon ala
pada undangana gelislakune nyetan
sugih rancana demit.
Wus katulap yen dadi musuh hing nata
wani amanjing puri
ora lan dadalan
nyukur kumissing Nata
ora layan den badami
sasaha si pakurwati.
Ya Ki Patih matur nuhun duka Sang Nata
anak Mas carbon mangkin
pan sampun kalilan
mantuk dateng nagaranya
pandugi kang masih hari
rowangan nira
ngalindeng digja demit.
Boten kados tan kasasmata hing tinggal
saking pundi marganing
ingklang kacepenga
Susunan angandika
lah lurugana tumuli
Carbon den kena babandane mariki.
Lah iku marmitaning dadi cela
Carbon lawan Mantawis
mantingka lurugan
Pangeran Purobaya
kang tumanduk anglurugi
aneng pakudyan
sarta para prajurit
duga maring Carbon ika masanggrahan
mungguh kiduling kali
kang mangke katelan
Paronggol namanira
enggal Kyai Tandamuhi
kang lumantinga
hing gelar sing Matawis.
Kacarita Tandamuhi kang laksana
tumanding hing praweri
Pangeran Purobaya
anyuduk tinadahan
Tandamuhi dadi kalih
pinindo dadya
papat anggambing-ngambing.
Di ping telu dadi wolu ingkang raha
sigra kinen malesi
dupi lumaksana
tandamuhi sumeja
anyuduk hing ciwakan mangka ning
ababa kudaburak ika dumadi.
Ya Pangeran Purobaya dawah hing lemah
narimah kawon jurit
bubar sarta bala
wansuli maring Mataram
atur uning hing Sang Aji
yen Carbon mapan
tan kena den gagampil
ya satepak kekere karo wadyanira
tan kena den gagampi;kadi uler timah
panas bawaning setan
punika wong Pakungwati
osugi guna
setan katong ngadohi.
M E G A T R U H
Yen sinuduk dadi akeh kaya lelembut
yata Sunann Matawis
ngutus sejen wira pamuk
niroban bala braketi
gumodug parane ngulon.
Iya iku Tumenggung sing Pasir Kidul
kang guna prawiwa sakti
Pangeran nang Selatelu
sumeja anjajal maring
kutaning nagara carbon.
Durung teka maring prawatesan Pakung
nembe duga ambeneri
tugu mangangkang katemu
Nata Ukur kang ngadepi
atanding wira kammacon.
Ingkang bala Mataram kundur katumpu
pada mulakipun dening
pangaruhe Nata Ukur
kenang ubang-ubeng dadi
polahe amider panon.
Ubang-ubeng tan karuhan lampahipun
amemegeli kang ati
nyata ika Nata Ukur
anulak musuh Matawis
tan kadugi datang Carbon.
Apopoyan wau hing bandaranipun
yen kadi musuh iblis
abdi dalem alalaku
boten katik dugi-dugi
pijer kapuyangan kapanan.
Estunipun amusuh pan dede musuh
kadi prang lan dedemit
tan kantenan gelaripun
ya ta Susunan Matawis
angutus hing sejen wong.
Sena pati suwanggi sabrang punjul
kait lan dukun gentiri
wong Mataram kang angri yung
lumurug hing Pakungwati
seja ngempes anak Carbon.
Ing ngiring ing bala pirang-pirang umbul
wong Carbon tan nedang-eding
Panembahan ora weruh
yen piyambake den lurugi
angeca-eca kemawon.
Ana soteh kang seja nulaking musuh
Ki Arya Wanduhaji
hing gebang bronjot kang mau
Sutajaya angadepi
saking Losari kemawon.
Saking sabrang kulon hing kali duk rawuh
para musuh sing Matawis
pang rahose remek-rempuh
pada rusak den amukir tur sajatine baloklok.
Sutajaya tan kesah-kesah angambek
mung ngadeg nang sabrang kali
amatek hing ngaji nipun
tuju lajaran ngenani
bala Mataram wuslorad.
Iya mulak pangrasene ana kang ngamuk
nanging tan kruwan kang wero
kadi wawayangan nempuk
amepes nyawa prasami
kandur ingkang bala katong.
Mila kocap ing Gebang laksananipun
anulan musuh Matawis
matur hing bandaranipun
yen Carbon kadi dedemit
uwong soteh dede wong.
Ulur-ulur tali barat hing lelembut
tan kenging den kanta jalmi dados mesa dede musuh
memeri amese pitik
sumanggeng karsa Sang Katong.
Ya ta Sunan Mataram kalangkung bendu
angraus durga kalilip
apa maning wuwuh imbuh
akeh sinangarya serik
kang kapentas hing Matahok.
Pan wis ana kang aserik
hing Mataram iya anamprung
manca maring Pakungwati
agolong ana hing carbon
dura tanggon anggon.
Mila sami pralalu manca anunut
maring Ratu Pakungwati
kang sabar krana Hyang Agung
rembesipun Raja Wali
Kutubing nagara Carbon.
L A D R A N G
Pakungwati lami-lamining ngaurip
kudu ana
bancana isining lahir
ora liyan ya Ki Buyut Alas urang.
Ya tedaking Dempul kang dingin maranti
angka-angka
ingkang umbul-umbul waring
pada raraton
awanguna si karaharja.
Ya sakait lawan Ki Buyut kang nami
Ki Supataka
pon turuning hamet wani
mung cirine dening tan huning hing daya
kurang waspada hing gaibe dumadi guragapan
mengke yen anemu sandi puharane dadi kaya-kaya bocah.
Ya ta geger genturaning Pakungwati
alad-alad
Patih Seminingrat aglis
anglurug hing alas Bakung sinikara.
Sawatana prange Ki Buyut ningkir
leber mapan
ming kapetaken den tungtik
dening Kyai Patih Carbon Seminingrat.
Hing Patakan aprange sawata wis
sigra bubar
angajab samargi-margi
angrurongseb hing laku padang raraja.
Angararaja kanggo sangu ning madigdig
ingrarampas
singa ing dalam kapanggih
ya den rebut wani hing tingkahira.
Buyut Urang sabatute sala hepti
seja nyelang Carbon pusaka kujang.
Moyang Panjunan
katitipaken nasri
mring Suhunan
apa benere wong titip
yen wis lawan ya kudu angolehena.
Ya ta tan gelem ngolihaken positip
yen wis lawas
benere wong ananagi
yen matungteng iya kudu penerang ngana.
Ya ta sira saya angrempagi
sanak-sanak
warga Panjunan kang sami
amarenca hing kulon angriyung teka.
Siji loro sing Kandangur sing Junti
miwa ika
saking Singaraja malih
sing Dramaju sing Ciasem sing Karawang.
Ya sing Pontang sing Tanara asing akeh malih
sing Jepura
ika katilas awani
maring Ratu Carbon
seja salah cipta.
Seja ngangkat Buyut Urang ngadeg Aji
ora kaya
Ki Patih Semi naliktik
pareng wengi anjejem guna wikara.
Buyut Urang lsgi turu dipun godi
langkung katrap
sisirepe patih Resmi
ya wong domas bature Ki Buyut Urang.
Kena kabeh iku pada tinangsuli
tampa sesa
binakta ya hing ana ing
Pecattanda
ana hing Kendal Kajaksan.
Ku wong domas wis pinanjara den Patih
Seminingrat
sadaya malebet sami.
Wong domas bature kaki
Buyut Urang den beloki nang Katandan
patut dening oli patang puluh wengi
nuli ika
den aerus dening pajaksaning
Ratu Carbon ana hing Kendal Kajaksan.
Den kukumi mau ingkang mamaten
iya pada den esrahaken ning Judi ya medaling
pamanggahan pinatenan.
Dupi iku kang rarajah rarampasi
dipun wedal
lakeng ning pasapon pinrih
den gitika anuli ika den buwang.
Dupi mau kang pada garumbyung pitik
kang kagebah
ora kalawan pamih
ku karsane Ratu Carbon den mahappa.
Ya wus sirna rasa rusiting nagari
kabar kahan
luluhur Sang Raja wali
aneng Carbon mapan masih tedak lima.
Sidem kayon kang reka-eka pan nyilib
pulih hardha
waluya abecik ati
embuh besoke saikine ya wis kreta.
P U C U N G
Tan warnanen hing Mataram Ratu Agung
dumatenging dede manah
dumatenging Ratu Carbon
reh patusan ping tiga tan antuk karya.
Kaserenging napsu kaliputing bandu
asraya Walanda
Kapitan Hetal jenenge pinroh kena babandane sang Narendra.
Anak mas Carbon aja ora kajuput
maring ngrasa ning wang
tau rasa sira mangko
yen campole iku sobat dudu lanang.
Yata ika Kapitan layar minmg laut
amargi sagara
wus kadungkap maring Carbon
lampahira tangginas ya enggal papta.
Wong Carbon kapengel tan ana ngaru
hing waktu samana
tan nana Walanda tumon
aja maning umah-umah hing nagara.
Durung ana ana Walanda jeneking Pakung
wong Jawa aringas
maring Walanda katemben
iya iku durung bisa hing katanya.
Durung ngarti terang ing kata malayu
den ajak tabeyan
Panembahan dereng ngartos
ya tan suwe adining pangalpuka.
Panembahan nurut bae ing sacatur
ring Walanda bisa
katiga putra anderek
Pangeran Sepuh Pangeran Anom sada.
Kawa naha Panembahan lampahipun
lan Kapiten Hetal
angrasa yen olih gawe pan wis katur hing ngarsane
kang Suhunan.
Ingkang bau Panembahan pan tinangsul
dumadi pratanda
arrah babadan semune
inkang putra kaliye ngartos sing reka.
Yen kang rama angsal dukaning Ratu
Agung hing Mataram
dereng ngartos ing dosane
nuli kinarsa kinung-kinung dateng pasowan.
Ginunem repit seja pinambrih lampus hing pada nayaka
malah wis ranpung guneme boya rempug yen den
pejahana ganal.
Ya karan bebeting Bantang bilih metu
budine rakasa
hing ngarab pan datan suwe
ya puhara dadi wisahing Suhunan.
Ding sejane seja demit ambrih lampus
seja guna digdya
baruwang ingkang jinawe
kula warga Carbon wus dumuging kana.
Ingkang Gusti Panembahan sanget nganglu
miyosing pasowan
den muleh-muleh den gotong
den aji-aji binakta hing pamondokan.
Tanna dangu Panembahan nuli larut
gurnita yen seda
den mulya-mulya sinareh
den Astana ana hing Giri Malaya.
Mila sinebut hing wuri ing nama nipun
Kanjeng Panembahan Girilaya sinambate
guring jana yen Mas Carbon wus seda.
Sarta karsane Susunan lamon la iku
putra Panembahan
tan suka mantuking Carbon
den kukuhi kekel ana hing Mataram.
Kang den arah drapona aja na sumulur
darapon dumpura
raja ana Ratu Carbon
bilas ilang hing Carbon akundang setan.
Angrobohi karaton laku angaru
annyotengi dakar
nyukur kumis lah samangko
rasakena dengda wisasating nata.
Ana rengi waktu samono pihibur
perang Trunajaja
seja bedah Matarame
putra Carbon loro pan katimpal-timpal.
Greg pating bilunglung larag-lurug
maring ngedi ora
putra Carbon kalbesate
hing nagara Kediri pan wirandungan.
Pirang-pirang hing Carbon tahun asuwung
katuwagan Nata
durung ana sumulure
durung ana kang mikir ngangkat Raharja.
Ya sing waktu Panembahan ika larut
duk ing babad jaman
hing sewu limang atuse
pujul wulung puluh papat lumampah
duha maringalu anembelas tahun
tembe ana karsa.
Sulta Banten pasiyane
apotosan ametuk kang putra ika
kang kablesat hing Kadiri lampah harju
kinen ngamitena saking Sunan Matarame
ya ta Tubagus ingkang prasami mapagi.
Kesah maring Mataram ika anuhun
lilane Suhunan lamon ika putra Carbon
kang kakalih
kasuhun kahamitena.
Kang karsaken ana hing banten salimur
tunggil tunggil melas
sanggine ing Banten bae
munggih munggiya wontena idin Suhunan.
Ya tan Sunan Mataram suka dumulur maring penenada
hing wong Banten kang samono
kon malaksak dewek maring pangngumbaran.
Den salaksah aneng Kadiri tinemu
dan sigra binakta
maring Banten sakaliye
rena-rena Sulatan Banten adurran.
DANDANGGULA
Kanjeng Sultan Banten tumulur asih
rempug lawan Morgel Jakertra
seja ngankat Ratu Carbon
Mugel Batawi darbe wawani
angadegaken Sultan
krana Banten iku
angsal idin saking Mekah
lawan angsal Pusaka Rasukan Ibrahim
pramila kinawenang.
Pangeran saking Carbon kakalih
mapan sampun ya jumeneng Sultan
hing Banten den intrenane
nuli kinarsa mantuk maring Carbon dupun katiri
Walanda sing Jaketra
ingkang naminipun
anengge kapitan Karang lan Raja Gowa Bima
kang prasami
kinen angraksa ha Sultan.
Embok ana panusul sing Matawis
ya ta Sultan sakoro wus harja
alinggih ana ing Carbon
babading jaman sewu
nem atus hing Carbon mimiti
ika jumeneng Sultan Walanda kang tunggu
mimiti ana Walanda
iya iku Kapitan Karang rumakseng Gusti
hing sajenggering wibawa.
Sajejeging amaro nagari
Kasepuhan lalawan Kanoman iya tatkala samono
Sultan Anom kang mangun
Kroton piyambek amurwa puri
sangkane tumuruna
maring anak putu
dadi ana Padaleman
loro eneng jroning kuta Pakungwati
ya tatkala samana.
Loro soteh kukume sawiji
pramilane yen kukum hum sarengan
Jumah he ya bareng bae
ana hing Masjid Agung
Panggulu hing Kanoman
Gilir Jumah atuwin Riyadin
sapa hing fitri sapa hing alkoh
mangana maning unine
Sukati sapa Mulud
lan sapa Riyaya kalih
katong roroning tunggal
ingkang linggih Ratu
Kapitayan duk samana
hing Kasepuhan nami Ki Arya Nadin
asale wong palekat.
Para Gusti duk samono musi
durung ngartos dumateng rarasan
malayu marinaning gawe
jurubasaning wuswus
ingkang nami Ki Arya Celli
iya iku kawitan
ming ana Tumenggung
aneng nagara Pakungwati
ingkang nginger ala beciking nagari
Sultan suksara pracaya.
Yumenggung ika kait lan Walandi
Kapitan karang lan Raja Gowa
Raja Bima ture
mula kaduga lebur kut
a Carbon den burak dadi
den gawe bentengira
anang pinggir laut
sirnaning pusaka kuta timbul benteng
wawangunaning Walandi
anjaga jaga Sultan.
Lah iku waktuning carub urip
akeh Walanda akeh wong Cina
nunut suka hing Sang Katong
sinukan sami kumpul
umah-umah hing pinggir kali
sakuloning pabeyan ngadepaken dutu
ambanjeng pacinan dalang
pada gawe Kalanteng sabagi-bagi
acaket lan sabandar.
Pabeyan pamicisan dadi
kumerab sakuling bangsa-bangsa
pawalandan Kapitanne
ya Kapten karang wau
Kapitan Cina den arani
Kapten Burwe kawitan
ingkang pada laku
makoda wane pranakan
cacalang ingkang den wuri-wuri
jagane bok ana aprang.
S I N O M
Kawarnaha ingkang kadang
kang metu kang saking ngapti
Pangeran Kusumajaya dennya karem maring supi
tanopen anak rabi
umah bale burang abur
tan ngtang sandang pangan
hing bratapaning tur gempih
mila dumadi ing barang sacipta nira.
Bisa ngambah awang-awang
lan bisa mencala putri
kinawenang sejan rupa
lampah sakedap dumugi
maring prenah kang pinrih
wus ora sangketing laku
karemenipun wayang
dada lang kang wignya adi
kang sinengge hing sugul paesan tunggal.
Datan pegat anglambayang
mangka ika anarengi
leledang maring nagara
kapareng Sultan kakalih
diweg aniningali
benteng anyar winangngun
Pangeran Sumajaya
Kandikane ya iki
Kang ginawe menggung waji kudiran.
Natkala nabda mangkana
lari ngijoggaken ecis
hing kuta Bentang ahobah
oreg lir bumi ginonjing
semune manci maringkang rayi dumeh kadyeku
campur budi Walanda
gawe benteng pasang bedil
ya ta Sultan sakalih asruh ngandika.
Sampun makaten kang raka
lumayan bade madosi
tiyang bodo drapon ulap
ningali benteng puniki
dupi jeng raka serik
boten remen ning puniku
jandika nyingkir kewala
hing parnah gen kang sepi
dan Pangeran Sumajaya wus ayimpar.
Aguling hing Karjuwanan
atmane sampun dumadi
ratu topong Baladewa
hing pesisir kidul nengih
ika ana hing bumi
Cidamar gennya ang Batu
nama Sunan Prawata
tur balampun gagaib
gumlar asrih pada sadela.
Ya ta Gupenur Jaketra
kaget tumon giri rusit
dadi samnya pada apyak
saradadu anglurugi
pirang-pirang prajurit
saking Jaketra kumebul
kaligane kang prajurit
pada potol endase tanpa karana.
Mangkana lawan mangkana
gawokipun wong Batawi
nembe tumon lampah perang
amorotoli pribadi
akeh pada sasiri
anglurug pada angandu
sagena-gena pada
geris pada marotoli
pirang-pirang Sradadu Jawa Walanda.
Danggome geger genturan
Moggel Betawi angarti
yen pisaniki kudowa anak Carbon ken nyabili
maring Cidamar ambrih
jimat pamunakih lurug
ya ta wong Carbon dangdan
sarta prajurit Walandi
Kapitan Muris kalawan Kumendur ajag.
Lan Mantri Astraditaya
Sultan Loro pan lumiring
anglurug maring Cidamar
pasir kidul den purugi
ora manggih dangending
Cidamar amanggih suwung
gawoke wong Walanda
ra manggih itu ini
erane kang mau apa durbiksa.
Datan wruha ika atma
atmane kang mangngun guling
ana hing gon kajuwanan
parengika den lurugi
dateng kadang pribadi
dumadi enggal awungu
kana atma muksa ilang
mangsup hing ragane atang.
Sultan loro sing Carbon wus ngarti uga
lamon punika kang raka
Sumanjaya den nadeling
ngangken wiratama nira
ngesemi wong Pakungwati
anrorag-orag rayi
aja katungkul anggugu kula reja Walanda
kawas kita angumandi
para gusti hing rupane asengaja.
Sengaja campur koripan
angramekaken nagari
anganjarakening yasa
amburak yasa kang dingin
kuta Carbon wus bresi
kagantening benteng ngipun
ringa-ringa hing Jagat
wera ingkang dipun pambrih
nanging salirga gaib dadi atebah.
Tut satitik musna ira
guriyang hing Pakungwati
katiyen dening Walandi
hing Carbon buncari tebeh
ilang sagunging mandi
cama kapupuna hing dudu mila Kanjeng Pangeran
Sumajaya asung wangsit
supadosa para Gusti saja nemaha.
Henda ilang hing guriyang
sok remaja hing ngaurip
kang aran sagula wenta
ingkang manis ingkang gurih
anglalu sada lali
maring mantraning luluhur
tewaju hing kaldunya
kal akerat kang kakeri
lah iku prabawa Pulung yun mintar.
K I N A N T I
Hing Carbon sawaktu iku
mari seba hing Matawis
mung asrah patugun jalma
saban tahun gilir ganti
atilad wong Banten pura
patogur hing naban warsi.
Pon tunggal parigelipun
Tuwan Morgel hing Batawi
Sunan Mataram narimahwus ora kauni-uni
apa maning hing Mataram
lagi ibur durung mari.
Perang Tronajaya nipun
seja ambedah Matawis
pramila aneng mataram
tan pati ngungseda jawi
rada repeh hing wisaya
data kadi wingi uni.
Carbon tentrem dening estu
den jaga dening Walandi
kang nama Kapitan Karang
ingkang dipun katahani
dening pambrih hing Mataram
wedi mring telik Batawi.
Mila kauripan nipun
Walanda den katelingi
dening Sultan loro pada
sing Kasepuhan wong limang atus nyuosi
sakarepe wong Walanda
wong sewu ingkang ngupadeni sarta kinawenang dagang
mambrih untung hing nagari.
Sakarepe cari untung
ora ana ingkang den sangketi
anggolang bala makida
hing nagara Pakungwati
apa duduni wong cina
mung ora den gawe telik.
Cina amung cari untung
ora jaga lunggu Aji
mangkana ika wong Kaja
wong Bugis lan wong Sarani
sakarep angulan dara
ora angraksa Narpati
tami lamining tumuwuh
kadang dalem kang anami.
Pangeran Emas amolar
maring kang raka Sangaji
amode sanungi anjang
kaoripan hing nagari.
Kang raka Kendal tan pasung
bawaning tan mandarbeni
kawasa ngadegna pangkat
ngajaba Banten kang wis
olikokongang sing Mekah
dupi kita Pkungwati
Bara-bara kita tuwu samene ngulat
ngulat ngendi aja agawe ungkara
bok temah tan makenaki
wis esak-esak kreta
aja akeh pokal-pakil
Pangeran Mas duk rengu
adan angitar priyangga
surat recep hing Batawi
den dala hing pendi anyar
den tutupi cowet siji.
Den dempul lir wada majum
sapa jana isi tulis
den cocol lawan tampelang
wong siji intere demit
dumugi maring Jaketralampahe anumpal keli.
Hing kana salaminipun
ana hing tanah Batawi
tanama kang piduliya
angrantun anang umaning
tukang sayur hing Jakerta
tatamane sang Morgil.
Malah rerewang nyanyapu
nyiram kebun kunti wiri
sing kene marganing bisa
katemu lawan sang Morgil
tatkala Gupenur leledang
sore-sore niningali.
Maring sasayuran nipun
patusan Carbon agasik
angaturaken kang surat
Morgel Gupenur sampun tampi
surat kaharti sadaya
adan sang Morgel Batawi.
Ika sang Morgel Batawi
lawan Sultan Banten puri
yen ana kadang pakud ya neda ajang hing ngaurip
Sultan Banten mapan rempog
pisan lamon den duluri
pan sinungan ajangipun
sing Kasepohan pinardi
maringana ajang gesang
limolas desa mangkin
sing Kanoman mangkana
limolas desa pinardi.
Wandening jenengan nipun
di sone ika nguruni
lalaerine Panembahan
lah iku marganing dadi
hing Carbon Ratu tiga
duk babading Jaman Kali
hing sewu nem atus punjul
telulas tahun jejegi ya ta sang Morgel Jakerta
angintar tulis kang maring
Carbon hing Kapitan Karang
surat angkataning Aja.
Panembahan sampun lungguh
Ratu Mandita ngajasi
angreh telung puluh desa
pigegeling wargi-wargi
Kasepuhan lan Kanoman
Wus marem kang lagi runtik.
Salat Jumah gilir telu
hing nagara Pakungwati
panjaksane pan titiga
karatone mapan nganpil
maring praja Kasepuwan
dening ana titik runtik.
Ming Kanoman ana rengu
rengating mana wawangi
tur ta iku Sri Kanomam
tunggal saya ya babibi
wus karsaning Allah uga
cawenga kagiri-giri.
Pecat mati dennya rengu
naging datan dadi rusit
hing aturing nagara
lumari anuli dadi
harjane kang panagara
salameting gira rusit.
ASMARANDANA
Lami lamining ngaurip
pada ngintar kahungguhan
kang dadi cager akire
aja geseh hing sulur
kang gadang nyuluran
ingkang rama lamon lampus
sinungan dingin pratanda.
Nama Pangeran Dipati
anang praja Kasepuhan
Jamaludin kang gadane
sumulura ingkang rama
benjang yen wus seda
hing linggih winangun tangtu
talitih Nalendra dipa.
Dupi hing Kanoman wasis
bawan ning sanget memeleng
wantu kanjyaran lungguhe
anoman wong anyar mela
beda wong Kasepuhan
lalorining datu agung
sing ngalem Susunan mula.
Wong Kanoman sanget pikir
kawangun cager hing manah
ingkang sengge sawadine
sadurung-durung ngilina
Sultan anom asadya
abadami lan Gupenur
miwah Sultan Banten pura.
Panuhune ingkang siwi
den udanga nama Sultan kacagerna namane bae
nanging ngora mela praja
pom masi nang Kanoman
dadi Pati lungguhipun
mung namane bae Sultan
darapan enaking ngati
hing wuri aja memelang
Morgel Jakerta anderek
salarsaning Nata
dumulur maring kadang
Carbon Kanoman kang sunu
kinawenang nami Sultan
Sultan Carbon ingkang
Ariya Mandurareja
hing ngadunane eca hing manah
cagen ring wuri sumulur
sirna rasa mana melang.
Jeng Panembahan pon pikir
wangun cager maring putra
den asri nenggeh namane
Pangeran Dipati ana
hing sri Panembahan
mangkana Ratu hing Pakung
dennya angraksa turunan.
Ing Kasepuhan kang siwi
ika iku ingkang nama
jeng Pageran karerange
rayinipun Jeng Pangeran
Dipati Kasepuhan
lan Jeng Pangeran Tumenggung
lan Pangeran Natasurya.
Kajalan ingkang nami
Pangeran Jawikarta
kalawan Jenga Pangerane
Suryadiningrat kang naina
Jeng Pangeran Suryanata
dupu warga istri nipun
punika ingkang paparab.
Ratu Raja Yupawestri
iku putra Kasepuhan
dupi putra Sultan anom
estung jengger hing wibawa
krana putra Kanoman
akeh sinongan lulunggah
Kadipaten sumarambah.
Iku Pangeran Dipati
Madangda miwah Pangeran nama Dipati Kedaton
Jeng Dipati Rajaputra
Lan Dipati Awangga
Lan Jeng Pangeran Ratu
Lan Dipati Pringgabaya.
Miwah Pangeran Dipati
Rawamenggaka ika
lawan Dipati Kaprabon
lan Dipati Rajakusuma kang istri nama
Jeng Ratu Arya Kidul
Lan Jeng Ratu Arya Wetan.
Ratu arya Kulon malih
lan Ratu Aryu Paengah
miwah Ratu Arya Elor
lan Ratu Arya Kancana
lan Ratu Arya Kendra
lan Ratu Mas Kiranahayu
lan Ratu Mas Najiyah.
Ratu Mas Rara Pawestri
lah iku putra Kanoman
kumerab serta gelare
para Gusti hing Pakungja marena ingkang tedakan
ingkang ngasa ya sinebutaken nama Raradenan.
Sasuka-suka ning ngati
hing Carbon sakarsa-karsa
tanana durga angampo
cacangkok-cacangkok ira
wangun sakarsa-karsa Tumenggung pasitenipun
tanopen Tumenggung nagara.
Riniyung Punggawa Mantri
katak wus tanpa wangenan
hing ngadi-jadi Sang Katong
anjalana mangku reja
sakariping sewaka
Sang Ratu tan nampik ulun
ingkang ngolah niti praja.
Anopen yuda nagari Sang Ratu ngumbar langenan
kang maring sakukubane
amburu kidang menjangan
anjaja wana wasa
ing ngiring sakul paburu
muwa ingkang paninggaran.
Kesel anjajaring rusit
nuli angumbara langenan
dumateng pagunungane
wani ming sangjang Talaga
ana kalane yasa
babalongan adi langun
ana hing sakarsanira.
Ing sumber hing Linggarjati
waneh samudran wangunan
nawang gambir layane
kesel angula daratan
ameng-ameng paprahu
konting hing maja lautan.
Keseling maja jaladri
ming daratan angadu macan
den edune lawan wong
hing Karangkeng wong kang nama
Ki Taru lan Ki Wukur
kang pada angaji timbul
aji girang sing Karang.
Ginawe bakti remening
pangameng-ngameng Nata
duk samana dodolane
wong cilik tarung lan macan
lan banteng dadar tapa
lan den una sikalaku
dening kartane Sang Nata.
P A N G K U R
Satuwhe hing ngagesang
kudu bae ana rungsebing bresih
ana ingkang rusuh-rusuh
wong raraton ning kana
hing Gunung Galunggung paja-paja Ratu
bebresatan saking wetan
ngulilip laku momori.
Momori hing Karajahan
apinda-pinda Ratu ngirupi alit
ya ta wong carbon anglurug
Mantri ingkang pranama
Sarajaya kalawan Ki Jayengsatru
Astrajaya ya pon kesah
Anglurug sing Pakungwati.
Kanoman lan Kasepuhan
samya lurug pan samya ganti gumanti
dumateng Gunung Galunggung
pintening lami nira
graya-graya lan akeh ingkang kasambut
marmane ika walanda
enggal pada anulungi.
Ingkang para kinapitan
Kapitan Ros kalawan Kapitan Muris
Kapten Cina mapan melu
Kapiten Burwe ika
Kapitan Hongge lan Saradadu nipun miwah kang paranakan
den luruggaken ajurit.
Pirang-pirang tambur ika
saradadu Walanda anggunturi
angelar pabantu-bantu wis pirang-pirang wulan
gennya gelar angluru ya hing Galunggung
lawas-lawas kawatgata
rurusit Galunggung lari.
Bubar lurude mingetan
wusing kreta tan nana uni-uni
ora kaya hing dumuwu
kudu bae kakenan
rusiting Kanoman
kapitena ya hing dudu
Papatih hing Kasepuhan
kang nama Ki Arya Nadin.
Ngajab lubering Kanoman
darapona jengger dadi sawiji
mila pitnahe matur
maring Likman Walanda
yen wong Kanoman nyimpen wong Bugis hing kidul
kanggo angremek walanda
ajan hing Pakungwati.
Lah iku marmine Sultan
Sultan Anom den benteng sawatawis
katiti tan wruhing harju
ya ta ika kang putra
ingkang nama Dipati Pringgabaya rengu
anusul dateng kang rama
hing benteng dipun lebeti.
Hing ngadangan hing Wanlanda
kudu meksa akeh Walanda kemit
kang den adu kumbang kondur
ya lan sampun kepandak
kalih rama hing benteng sigra matur
nuhun idene jeng rama
pun topi hamba kula srik.
Kula tumpes pun Walanda
ingkang rama girap-girap aja Kyai
den eman ming anak putu
aja murwa marah
aja sira darma mimiti hing dudu temahe nak putu benjang
kang rusak darma lakoni.
Ana dene diri ningwang
Allah uga ingkang angudaneni
karanane anak putu bok ora kaya sira
aAlung den ngati sukure maring Yang Agung
jugala awet harja
nunggu pusaka kang dinging.
Adipati Pringgabaya
sireping rengu pituturan kang sajati
pareng Walanda angruru
kateranganing lumampah
Bugisnyata ana hing pasisir kidul
sateh Bugis umah-umah
ora edang ora keding.
Nyata dudu sisipena
Duduminang sraya ngramek Walanda
lah iku marmitanipun Sultan
Anom luwaran
saking benteng salamet alungguh RATU Walanda neda sapura
Jeng Sultan angapunteni.
Liknan Pandemhir kang nama
………………………. saenggu ati
………………………. kang wau
Sultan Badridin mula ……….
ingkang kula Kanoman iya iku Sultan Gusti iya tunggal
kang nama Sultan Badridin.
Dupi aneng kasepuwaning kang nama Abdulmakarim
Samsudin
ingkang mula nipun
ingkang anama Sultan
Kasepuhn ingksng jeneng Sultan iku
genipun jumeneng sultan
amungan rolikur warsi.
Anuli ika sumala
ajejegi yuswane hing ngauripa sangang dasa kalih tahun
sumulur dateng putra ingkang wau Pangeran Dipati tangtu
hing ngestrena jumeneng Sultan
nami Sultan Jamaludin.
Aneng praja Kasepuhan
wong ngagung ahli suluk hing Hyang Widi
kasengseming dera sugul murakaba hing sukma
anirna lir awujud cengeng ing tawaju
hing supi kapangeranan madep hing jamalullahi.
Kang kacarita lok salat
maring Mekah ingkang badan rokani
ya iku kang neroh laku
mila meled kang kramat.
Gunung Linggarjati den nawe dumulur
marek maring Lawangsanga
wong mahat aren andamping.
Padati tuku kang lahang
salir parekan paa atumbas gendis
sawuring tutug alangun
gunung kinarsa lunga
geblar tebih kadi panggenane mau
malah ana kang kagawandeng ngitaring gunung balik.
M I J I L
Warnanen kadanging Jamaludin
kang nen angolosod
ingkang nami Pangeran Rerangen nuhun ajang adining
ngurip
ming raka ngasyasih
ngalap manah luntur.
Yen dalu sumonggon memeteki
anguling aneng sor
kumlsepa hing jogan rakane
iya denining sanget aminta kasih
hing raka prakawis
ajangnging tumuwah.
Durung bae dipun katrlungi
hing panor samono
dennya ngalpuka hing sihe kadange
sarya beciking hing Walandi
oran nan kadi Jeng Pangeran iku.
Pramilane den rojon hing Walandi
sejane samonoden pirowang hing sagedene
dening tetor ingkang nami
Martanus samsuri
Ingkang junjung-junjung.
Ya mangkana tetor amedeki
hing ngadi Sang Katong hing Kasepuhan pang pinanggih ajek
jejeging adayok Walandi
Sultan Jamaludin
mangihi tatamu
risedenge eca alinggih.
Pangeran apanor
amedek hing ngayunane rakane
ngaturaken sekar kakalih
Sri Campaka putih
ature punika.
Pepetetan kaola tembening
sekar ameng loro
gegel dateng raka sakaliye
kang senungal bada raka istri
kang senungal raka Aji
punika kang katur.
Pareng tinampen kang sekar kakalih
denira Sang Katong
ya ta Walanda surak sakabeh
nabda dalah iku wong sajati
hing waong awawargi
atut sasadulur.
Mesti olih ajang ngaurip
maro salis katon
atas tunggil sagedene
ya tu Sultan tan tangkat sulit
damulur kang dadi rampunging tatamu.
Lah iku marmane sinakolih
karerengen maro
kula balakang saking rakane
angsal pacaca aning jalmi
rong laksa amali
hing sakaprabon nipun.
Pan malulu sing Kasepuhan kang prih
lulunggu samoo
Pangeran Arya Carbon jenenge
nanging sacitak Ratu lilinggih
aneng Pakungwati
jar karo sadulur.
Kalih Kanjeng Sultan Jamaludin
pareng sakadaton mungguh kuloni padawenane
pakoncara pinter hing ngabasuki
prakara kang lair
ika estu punjul.
Wit ning akal alan budi raspati
ora nana loro
amung Arya Carbon kang den gawe
pangeraning kang para Gusti
wadining Aji
hing sawaktu iku.
Jejeg papat Ratu Pakungwati
Kesepuhan maro
Kacerbonan pon iku rayine
hing Kanoman kasekawan maring
Panembahan dadi
papat umbul Ratu.
Kacerbonan kang anyar dumadi
wadanangin Katong
rehing pinter hing Kupeni margane
dadine tinari-tari dingin
mabarang panri
iya maring iku.
Wantu-wnatu Ratu anyar dadi
gelar pandum ming wong
singa cina kang sugih den rampek
den gedekkaken ingkang ati
kinarya punggawi
winagun Tumenggung.
Ambrih gede tomboke angngapti
hing karsa Sang Katong
Pangeran Arya Carbon akale
ya kadunga wangun Sunyaragi
pinangkaning dai
iya saking ngiku.
Pangrojonge cina sugih-sugih
duk waktu samono
ili-ili yan ya saking rembang akeh
cina sugih ingkang angili
kranawetan lagi
nagarane ibur.
Perang Trunajaya durung uwis
akeh cina lolos
pada sira anggambangaken kapele
pan den usungi
hing Carbon angngub.
Pareng dipun imponi
dening Arya Carbon
tangtu dadi gedene atine
rurubahe
kagiri-giri
apa karsa Aji tangtune jumureceng.
Duk binangun iku Sunyaragi
duk babad jamane
sewu nem atus wolu likur
Bujangga nyarsa obah bumi
Kacarbonan Aji
hing sagelaripun.
Wangun saradadu sarageni
sang keping bala wong
asu paburu uluk latune
ora lawas ika tumuli
Panembahan Aji
dugi ajalipun.
Ya smulur ingkang putra nami
Dipati samono
wus angadeg Panembahan linggihe
apa ingkang rama wus lalis
angreh ajang mangkin
desa telung puluh.
Panembahan alinggih wawasi
bartapane kahot
maring bangsa arab rumakete
Sayid-sayid akeh madeki
pan den wuri-wuri
minule hing riku.
Remening tapa angulangi salir
napsu sanggeh pamor
ya hing lampah hig manah sukurane tenatren
hing pakaryaning ali
tan katah den pikir
bala gung nganggur.
Ademing karya tan nana matari
Panembahan gone
beda kaji Kacarbonan sahure
panas gawene karananing
akeh kang dipikir
gelaring tumuwuh.
D U R M A
Ra lawas prawantu olaking dunya
kundu ana kulilip
gegering pinggiran
kulon ana hing desa
Conggilis ana gurusit
wong bang nyarak Syeh Yusup ingkang nami.
Araraton rinu bunhing kawula bala
den tanggung pati urip
marmaning dumadya
oreggingbala wita
kasuhur arep numpasi
maring Walanda
sangkane den perangi
den lurugi saking Carbon sing Jakerta
para Kapitan sami
gelar malurungan
ming Conggilis aperang
sawatara akeh mati
umbul-umbulan
wong Carbon ambantoni.
Mantri ingkang anama Astraditaya
Perwajaya lan malih
oraming anggas ara muwa Kumendur Ajar
sarta saradadu pati
bala Makasar Kapitan Ros Bali.
Saking Banten pon bantu mangkana uga
malah sing Banten rusid
ana pinangngeran ingkang seda hing rana
lah iku marganing dadi
Morgel Jakerta
wirang daja ngebruki
amiyambeki kalawan para Kapitan
Syeh Yusup wus kacandak
ka benteng anang Batawi pan sineratan arak lan uyuh anjing.
Malah sira Syeh Yusup pejah jro pancana
waktu samana dadi
kasuhur Walanda
nutug dennya pirowang
maring Ratu Nusa Jawi kawilang bisa
anginger karta bumi.
Mila kangge paugeran hing sak Jawa
aminahing rurusit
palanglang bancana
mila waktu samana
ngupadeni hing nagari.
Rempag-rempug maring putusing kukuman
amor milu ngukumi
tan arsa katilar
krana yen ana durga
rurusit ika kanggo hing
lah iku carat
yen ning akire ngumandi.
Ora lawas Sultan Gusti ing Kanoman
Badridin kang ngemasi
sumuluring putra
wau ingkang anama
sultan Carbon Manduraji
samangke dadya
Sultan Anom Nurudin.
Sultan Kalirudin tunggil punika
sumuluring Rama Ji
hing praja Kanoman
dennya amangku reja
karta tana una-uni
geng alit sukakakang bawa Pakungwati.
Sultan Kalirudin nenggeh puputra
nami Pangeran Gsti
lan Pangeran Kresna
lan Pangeran Wisnuntara
kang istri Ratu Dipati
lan Ratu Wijaya
lawan Ratu Martasari.
Salamine Kalirudin Mangkureja
ligan tahun tumuli
seda tilar dunnya
sumulur ingkang putra
kang nembe ing yurmaneke
kalilas timur dumaja
kang paman amakili
ingkang anama
Jeng Pangeran Dipati.
Jeng Pangeran Dipati Rajakusuma ingkang ngolah
titi yatnaning nagara
angreh kagelar mulya
karta hing saguna gati
raharja pura
hing Kanoman bawa Aji.
Ora lawas Jeng Sultan hing Kasepuhan
ingkang nama Jamaludin
seda tilar dunya
sumulur dateng putra
wus hingistren ngadeg Aji anama Sultan
Raja Tajulngaripin.
Alim Kitab limpad maring basa Arab
nit yasa ngangit kadis
Kitab cara Ngarab
angaceki sapraja
Pakungwati tana ngirib
hing kala hing basa
sagujiya logawi
remen angintar Kalimah hing Ngilmu rasa
hing cecelaningsupi
hening hing Pangeran
Rububiyah Yang Sukma
acager wisik sajati
duweting Bengat
kang srih pinusti pasti.
Angelaraken amangguron hing iktikad
mila kasuhur dadi
Guru Ratu mulya
Wakil mutlaking Allah
hing sagara Pakungwati
ora liyan
nanging Pajulngaripin.
Anggongon ni warangi apiking lampah
ambeningaken ati
kang abangsa sukma
kapangerananing Hyang singa Pandita kang luwih
pan minaketan
hing asil kang sajati.
Kaji Abdulmuchyi
Panembahan Karang
Ki emas Saparwadi
lan Kyai Amyah
pan sur kang sena wita
karana jatining wisik kimalaspa
Ki Gunung Cinde malih.
Sutruping lampah karuyaning manah
Hing esir kang sajati
Rasaning itikad
Kasuciyaning manah
Winuri hing jati salir
Kang sinungkeman hingbangsa Guru Aji.
M E G A T R U H
Tan anatara lamine wau sang ratu
Kacarbonan kang nami
Arya Carbon seda sampun
sumulur dateng kang siwi
kang raket kaliyan Petor.
Petor ingkang nama Korneli Jonglut
kang ngangkat diri Narpati
hing Kacarbonan kang sunu
dumadi bisa anami
perhangkatan Sultan Carbon.
Sultan Carbon martawijaya alungguh
Djuluri rama kang lalis
Dadi munda namanipun
Dupeh ramane mung olih
Asenggi bae Sang Katong.
Namging masih nama Pangeran duk mau
dupi kawuri kang siwi
sumulur tur jeneng Ratu
pangkating kulit putih
ingkang rumewang marono
wit ningakal budi pon kadi hing maukukuh ing yuda negari
bai jawa kang dera punjul
yatnaning sujana jawi
angintar krama Sang Katong.
Angundaki Pajaksane hing sawaktu iku
putraning pragata Aji
Kacarbonan sila rampung
bubuntasaning pradong di
rampunge ana hing kono.
Mila kocap wadaning Ratu
gemet kang budi pikir
hing pada repaning kungguh
tan kewran hing ganal repit
awon pened kawaspaos
ing prakara kalangenan katan tiru
pramila so Sunyaragi
menda hing natkala iku
tan pati kaisik isik antenge aneng Kadaton.
Tana lami hing karta bawaning Ratu
nuli Sultan Carbon
sumulur maring sadulur kang mangke den angkat malih
hing pranami Sultan Carbon.
Sultan salir pangritaning Pakung
lah iku duk jamaning
Adiwijaya atiru
rama aremaning rasmi
kalangenan hing kalangan.
Sampurnaning Sunyaragi waktu iku
kang anggemeti sahadi
kapuratining kalangun
pan winangun angundaki
hing sapa kikirnan Carbon
ra nama kang mantari saking iku
atila hing Maespati
endah parawatan kosong.
Raduwe mas inten dipalalu
sok duweya umah becik
ingkang prayoga kadulur
hing sasamaning ngaurip
hing pada-pada ning Katong.
Karemane malih yen lampah paburu
kidang manjangan ana hing
alas sakukuban nipun
dadi kasengseming ati
yan sampun angulah buruan.
Ya kadung alas Sumedang den rangkus
den buru kang isi rungsi
pangeran Sumedang mumbul
dumateng Morgel Batawi
ora trimah wong Carbon.
Gennya buru dudu sakukuban nipun
Sultan Carbon dipun panggil
hing pradataning Gupenur pimrasila amangsuli
yen ika kabara Carbon.
Tetengere beling kang ngetap ping kayuyu Sumedang
ngukuhi
endita tetangeripun
wong Sumedang ora Bangkit
gawe katrangngan ning kono.
Ing pramila Morgel mutus ya ika estu
Carbon ingkang kaduweni
Marmane sawaktu iku
Sumedang kureh dening Kacarbonan duk samono.
Tanna lawas Sultan Anom wapat sampun
sumulur datang kang siwi
kang anembe umur sapule
ingistren madeg Narpati
wus jumeneng Sultan Anom.
Sultan anom Abukeridin papat abipun
reh hing masih timur dadi
den wakili hing Tumenggung
Kyai Baudengda wakil
kang gaib kulo bala wong.
Ya mulane den sakili Ki Tumenggung
krana drapon ngampil
yeng mengko sedeng pinundut
aja angel-angel maning
aja degeng aja alot.
Krana mau duk kang rama wakil Ratu
maring Pangeran dumadi
pareng sadenge pinundut
alot datan kena gampil
lah iku kang winingatos
ya harjaning Kaniman sangsaya wuwuh
pakarta saya gampil
adilullah kang den luru
prakara ning agama nabi
kang winuri-nuri hing wong.
Ramane kang asalat sarta asum
iku hing Kanoman yakti
ngaceku ibadah ipun
gelar-gelar laku santri
nyaji sembahyang tan coto.
L A D R A N G
Ora lawas nuli Panembahan lalis
mapan ika sumulur dateng kang siwi
wus hing ngistrenan
jumeneng Panembahan Raja.
Anglalurekaken maring kang yudi
pan mangkana
kapanditan kang den goni
sabar tawakal suka lila ing manah.
Tan na lawas Sultan Sepuh lalis
mapan ika
sumulur datan kang siwi
hing ngestrenan inggih punika Seltan Sena.
Kang paparab Kanjeng Sultan Jenidin
kang anggelar ameng-amengan ripangih
eman mangun dikir ingkang sarta kadam.
Pirang-pirang kadam manusa penilih
dadabusan kaluriyane wong supi
pan amurih lampahe Syeh Abduljelan.
Ingkang supi amangeng badan rabani
nora liyan iya ngelmu rasa maning
wis lungguwe aneng praja Kasepuhan.
Kang den gugoni punika kang supi
kajatiyan hing rasa wesesa batin
mula datan sumangganing barjamoat.
Supi iku kararepane ming sepi
mengko medal parameyaneng ripangi
andadar raken ing lampah hingk Wali yan.
Ra lawas Sultan Carbon ingkang nami
Adiwijaya seba kasihure dening
mung kang mantu boya gadah putra lanang.
Inggih punika Sultyan Carbon ingkang nami Abukayat
kang brangasaning kapti
datan kena wong salah ya pinejahan.
Salah satitik ya nuli pinaten akekula
bala kang kadengda pati
nanging ora sa ukum lawan pradata.
Lah iku dadine kang ciri waneyi
ming Nalendra marmane dadi den basmi
kinendangaken lan ora ya sinuluran
iku punggel Kacarbonan tan anuli ora lawas.
Panembahan mapan lalis
pang mangkana punggal ora sinuluran
ra lawan Sultan Sena angemasi
sinuluran dening putra ingkang nami
Sultan Sepuh Matangaji kang anglar.
Ingkang depok aneng dudun mangaji
senggi seja
babak laku maha yakti
ora kaya ora lali dening jaman.
Dadi migel hing ngakal lir pindah kagingsir
pan mangkana
akeh abdi den pateni
tanpo dosa bawaning gingsir kang akal.
Ing marmane hing Kraton den adegi
nami Sultan
langgih rayine
dipun subun naminipun Sultan Muda.
Dupi wau Matangajo dipun serik
disampurna kaken lawan mati Sahid
ingging ranipun layan pradata dinulu.
Ra lawas hing Kanoman mapan inggih
winursita Sultan Keridin ngemasi
sumulur ingkang putra wus ing ngistrena.
Kang paparab Abutayib Umam Mudin
waktu ika obahing dorujamani
akeh ewong raton ganti mrawasa.
Ing Kasepuhan Sultan Muda duk lalis
kasuluran dening kang putra hing ngasrih
Sultan Joharudin anenggeh ingkang paparab.
Ingkang nembe umuripun sadasa warsi
rekening ika masih timur den wakili
dening Kyai Jayadirja wakil Nata.
Lawas-lawas ibure nagara dening
Tingarengan ana kang brandal cilik
sirep ika kapupu tan nalawas.
Sultan Imamudin Kanoman angemasi tilar dunnya
sumulur datang kang siwi
hing ngistrenan alinggih aneng Kanoman
kang sinebut namane Sultan Kamarudin
duk saman masih iburing nagari
dening akeh wong raraton babarandal.
Barandal rangin panyeleke anggunturi
duga harta ngobar praja Pakungwati
sengge pada amuri raja Kanoman.
Jumenga Sulta aneng Pakungwati
mangka guna hing walanda anduluri
marmanipun Pangeran Raja Kanoman.
Iya saking pakengdangan katuran mulih
hing Pakungja den istreni madeg Aji
pan den paneyi sapanjeneng kewala.
Namanipun Sultan Carbon amet nami nipun nama
Jeng Sultan Abukeridin
waktu iku ana maning Kacarbonan.
Pan asele sing Kanoman kang angguntosi
dupi bala den bagi telu duk lagi
ijrah sewu rangngatus padlikur warsa.
P U C U N G
Ora lawas wong agung Prasman arawuh
dennya amet guna
nagara Carbon
praja teluya kinen iku sebaha.
Asebaha hing dewek ke kang angratu
emaban-embanira
ingat-ingatan sing Carbon
ingkang nama Kyai Nata Nagara.
Ingkang nama Raden Dipati kang mangku
Tumenggung titiga
Kasepuhan Kanoman
Kacrbonan seba hing kiyambekira
ora lawas wong agung inggris arawuh
mapan emban-embang kekendangan saking Carbon
ingkang nama Kyai Mangkunagara.
Duking jaman sewu pitung atus
patang puluh wasa
punjul siji benere
ijarah sewu rong atus wolu likur ya.
Lah iku wong Inggris ingkang asanggup
anggolang nagara
Sultan mruka hing bagusi
amuktiya kariya guling lan dahar.
Sultan tetelu anarimah hing paciyun
tan ngasta nagara
anampeni paseyane
kang anggolong kang tungtu maring Sang Nata.
Ora lawas Sultan enggal sampun
seda tilar dunnya
punggel tan risulure
kari loro jenengeng kang nama Sultan
gantos telung tahun ya mangkana sultan Sepuh
Jaharudin seda
sumulur maring rayine
ing ngistrenan samana nama Sultan.
Apeparab sultan samsudin puniku
hing waktu samana
Sang Ratu kari namane
parentahe Walanda ingkang anggolang.
Nrimah sukur genting-genting ora putus
barkahe Susunan
kapinundi hing ngaube
hing ngauban kang neng karamatullah.
Kang winuri-wuri dening anak putu
kang manah sukuran
rahayu hing salungguhe
ya salamet wong badami hing ngagesang.
Yen catula hing badami lan laku
tantu pada kebat
kendang saking negarane
sarta ora winuri-wuri suluran.
Ya mulane Sultan Banten waktu iku
lebak galintungan
bondan oran ana ratune
iya sakinmg cantula sabda mring Walanda.
Tanalawas nuli ana rusuh-rusuh
wong raraton
nama bagus Serit hing jenenge
ngangkat perang ngaloyong laku berandal.
Sengge neda prasudan gawening Ratu nanging amudusta
amiet singgih araraton
ora pira lawase tumuli kena.
Kapupu hing harja sirna wis kukum
malah lami karta hing Carbon salir tumuwuhe
mundak untung pangngupa jiwaning tanda.
Golang praja lan sarwaning kang tinandur
ora lawas ika
yasa Wali binurake
masjid agung den dandani dadi anyar.
Dadi tuduh yen dadi anyaring tuwuh
anyar hing nagara
duk samono hing babade
jaman kalih sewu pitung atus suwidak.
Nenem tahun Jim awal wurining iku
lawas-lawas Sultan
Sepuh Samsudin sumeren
babad sewu pitung atus pitung dasa.
Punjul loro ora tumunten sinulur
banta kalih warsa
sumulur datang putrane
hing ngitrenan jumeneng nama Sultan.
Gantos wulung tahun Sultan Anom larut
sumuluring putra
hing tahun iku hing ngistren
nami Sultan ana hing praja Kanoman.
Duk babading jaman Kalih nedeng sewu
pitung atus lawan
wulung puluh hing jejege
kawruhan yen genting tan nana pegat.
Barkah hing sukuring abadami laku
becik lawan ala ana rungu di rungu
bawaning kang basa kaselang hing purba
Purba nagara wong Walanda kang ngukup
Hing sanusa Jawa.
TAMAT

0 komentar:

 
2012 djayaloved_afifa | Blogger Templates | Powered by Blogger.com Supported By My Free Template
Template by: Tukang Toko Online